Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Pembuatan makalah ini dilatar belakangi sebagai pemenuhan nilai tugas Kelompok 1
mata kuliah Pengantar Kesehatan Reproduksi dan sebagai pemahaman materi pembelajaran
Pendahuluan Kesehatan Reproduksi
1.2. TUJUAN
1.2.1 Mahasiswa mampu mengidentifikasi mengenai latar belakang kesehatan reproduksi
1.2.2 Mahasiswa mampu mengidentifikasi mengenai tujuan kebijkan dan strategi kesehatan
reproduksi
1.2.3 Mahasiswa mampu mengidentifikasi mengenai ruang lingkup kesehatan reproduksi
1.2.4 Mahasiswa mampu mengidentifikasi mengenai pendekatan siklus hidup
1.2.5 Mahasiswa mampu mengidentifikasi mengenai landasan hukum dan dan peraturan yang
mendukung

BAB II
ISI
2.1. LATAR BELAKANG KESEHATAN REPRODUKSI
Kesehatan Reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi
tersebut dalam Konferensi Internasional tentang Kependidikan dan Pembangunan (International
Conference on Population and Development, ICPD), di Kairo, Mesir, pada tahun 1994. Sekitar
180 negara berpartisipasi dalam Konferensi tersebut. Hal penting dalam Konferensi tersebut
adalah disepakatinya perubahan pradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan
pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas/keluarga
berencana menjadi pendekatan yang terfokus pada kesehatan reproduksi serta upaya pemenuhan
hak-hak reproduksi. Perubahan paradigma ini menempatkan manusia menjadi subyek, berbeda
dari sebelumnya yang menempatkan manusia sebagai obyek.
Dengan demikian, upaya pengendalian penduduk perlu mempertimbangkan pemenuhan
kebutuhan kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita sepanjang siklus hidup, termasuk hak-hak
reproduksi. Terkandung juga didalamnya isu kesetaraan jender, martabat dan pemberdayaan
wanita, serta tanggung jawab pria dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. Dengan
pendekatan ini diharapkan bahwa dalam menjaga kestabilan pertumbuhan penduduk dunia,
kebutuhan serta hak reproduksi pria dan wanita sepanjang siklus kehidupan mendapat perhatian
khusus. Kestabilan pertumbuhan penduduk akan dapat dicapai secara lebih baik bila kebutuhan
kesehatan reproduksi terpenuhi dan hak reproduksi dihargai.
ICPD tahun 1994 tersebut bertegas dalam Konferensi Sedunia IV tentang Wanita pada
tahun 1995 di Beijing, Cina, ICPD + 5, di Haque, pada tahun 1999, dan Beijing + 5, di New
York, pada tahun 2000. Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam
kesepakatan global tersebut telah menindak lanjuti dengan mengadakan Lokakarya Nasional
Kesehatan Reproduksi pada bulan Mei 1996 di Jakarta yang melibatkan seluruh sektor terkait,
LSM termasuk organisasi wanita, organisasi profesi, universitas dan NGO serta lembaga donor.
Ditingkat internasional tersebut telah disepakati definisi kesehatan reproduksi adalah
suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari
penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi
dan prosesnya. Karenanya setiap individu mempunyai hak untuk mengatur jumlah keluarganya,

kapan mempunyai anak, dan memperoleh penjelasan yang lengkap tentang cara-cara kontrasepsi,
sehingga dapat memilih cara yang tepat dan disukai. Selain itu, hak untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan reproduksi lainnya, seperti pelayanan atenatal, persalinan, nifas dan
pelayanan bagi bayi baru lahir, kesehatan remaja dan lain-lain, perlu dijamin.
Rendahnya pemenuhan hak-hak reproduksi dapat diketahui dengan masih tingginya
Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Bawah Lima
Tahun (AKBalita). Masalah kesehatan reproduksi perempuan, termasuk perencanaan kehamilan
dan persalinan yang aman secara medis juga harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya
kaum perempuan saja karena hal ini akan berdampak luas dan menyangkut berbagai aspek
kehidupan yang menjadi tolok ukur dalam pelayanan kesehatan.
(Azwar, A. 2007. Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Depertemen Kesehatan RI)
(Azwar, A. 2008. Pedoman Kesehatan Reproduksi Tingkat Pelayanan Intergratif di Tingkat
Pelayanan Dasar. Jakarta : Depertemen Kesehatan RI)

2.2. TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI KESEHATAN REPRODUKSI


Dalam rangka mencapai tujuan kesehatan reproduksi perlu disusun kebijakan dan strategi
umum yang dapat memayungi pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi
Indonesia. upaya penanganan kesehatan reproduksi diarahkan untuk peningkatan kualitas hidup
manusia
Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di Indonesia ini diharapkan dapat
menjadi pedoman pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi di Indonesia. Hal
ini merupakan salah satu rekomendasi dari pertemuan-pertemuan Komisi Kesehatan Reproduksi
yang telah berlangsung sejak tahun 1999. Penyusunan dokumen ini telah melibatkan secarabersama-sama dari seluruh komponen kesehatan reproduksi baik lintas program maupun lintas
sektor.

2.2.1 Kebijakan Umum Kesehatan Reproduksi


Kebijakan umum kesehatan reproduksi diantara yaitu :
1. Mengutamakan kepentingan klien dengan memperhatikan hak reproduksi, kesetaraan dan
keadilan jender.
2. Menggunakan pendekatan siklus kehidupan dalam menangani malah kesehatan
reproduksi.
3. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan reproduksi secara proaktif.
4. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pelayanan kesehatan reproduksi
berkualitas.
2.2.2 Strategi Umum
1. Meningkatkan upaya advokasi dan komitmen politis di tiap tingkat administrasi untuk
menciptakan suasana yang mendukung dalam pelaksanaan program kesehatan
reproduksi.
2. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu yang merata dan sesuai dengan
kewenangan di tiap tingkat pelayanan.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dengan memperhatikan kepuasan
klien.
4. Mengenbangkan upaya kesehatan reproduksi dengan prioritas sesuai dengan masalah
spesifik daerah, minimal meliputi paket PKRE, sebagai bagian dari proses desentralisasi.
5. Menerapkan program keshatan reproduksi melalui keterlibatan program, sector dan pihak
terkait, termasuk organisasi profesi, agen donor, LSM dan masyarakat.
6. Meningkatkan kesetaraan dan keadilan jender, termasuk meningkatkan hak perempuan
dalam kesehatan reproduksi.
7. Meningkatkan penelitian dan pengumpulan data berwawasan jender yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi dalam rangka mendukung kebijaksanaan program dan
peningkatan kualitas pelayanan.
(Azwar, A. 2007. Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Depertemen Kesehatan RI)

2.2.3

Kebijakan dan Strategi Komponen


2.2.3.1 Kebijakan Kesehatan Ibu dan Anak

1. Setiap ibu menjalani kehamilan dan persalinan dengan sehat dan selamat serta
bayi lahir sehat
2. Setiap anak hidup sehat, tumbuh dan berkembang secara optimal

2.2.3.2 Strategi Kesehatan ibu dan anak


1. Pemberdayaan perempuan,suami dan keluarga
Peningkatan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas

bayi dan balita (health seeking care)


Penggunaan buku KIA
Konsep SIAGA (siap, Antar,Jaga)
Penyediaan dana, transportasi, donor darah untuk keadaan darurat
Peningkatan penggunaan ASI eksklusif

2. Pemberdayaan Masyarakat
3.

Kerjasama lintas sektor, mitra lain termasuk pemerintah daerah dan lembaga
legislatif.
Advokasi dan sosialisasi ke semua stakeholders
Mendorong adanya komitmen, dukungan, peraturan, dan kontribusi

pembiayaan dari berbagai pihak terkait.


Peningkatan keterlibatan LSM, organisasi profesi, swasta, dan sebagainya.

4. Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak secara
terpadu dengan komponen KR lain.
Pelayanan antenatal
Pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan neonatal esensial.
Penanganan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal
Pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi
pascakeguguran
Manajemen terpadu Bayi Muda dan Balita sakit
Pembinaan tumbuh kembang anak
Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dan pemenuhan kelengkapan

sarananya
Mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas pelayanan2

2.2.3.3 Kebijakan Keluarga Berencana

1. Memaksimalkan akses dan kualitas pelayaan KB


2. Mengintegrasikan pelayanan Keluarga Berencana dengan pelayanan lain dalam
3.
4.
5.
6.
7.

komponen kesehatan reproduksi


Jaminan pelayanan KB bagi orang miskin
Terlaksananya mekanisme operasional pelayanan
Meningkatnya peran serta LSM, swasta dan organisasi profesi
Tersedianya informasi tentang program KB bagi remaja
Terjadinya pemanfaatan data untuk pelayanan

2.2.3.4 Strategi Keluarga Berencana


1. Prinsip integrasi artinya dalam pelaksanaanya tidak hanya bernuansa demografis
tapi juga mengarah pada upaya meningkatkan kesehatan reproduksi yang dalam
pelaksanaanya harus memperhatikan hak-hak reproduksi serta kesetaraan dan
2.

keadilan gender
Prinsip Desentralisasi, kebijakan pelayanan program keluarga berencana perlu
menyesuaikan dengan perubahan lingkungan institusi daerah dengan UU No. 22

tahun 1999 dan PP No. 25 tahun 2000


3. Prinsip pemberdayaan, dengan ditingkatkannya kualitas kepemimpinan dan
kapasitas pengelola dan pelaksana program nasioanal KB dengan memberdayakan
institusi masyarakat, keluarga dan individu dalam rangka meningkatkan
4.

kemandirian.
Prinsip kemitraan, meliputi koordinasi dalam rangka kemitraan yang tulus dan
setara

serta

meningkatkan

partisipasi

aktif

masyarakat

dan

kerjasama

internasional
5. Prinsip segmentasi sasaran, meliputi keberpihakan pada keluarga rentan,
perhatian khusus pada segmen tertentu berdasarkan ciri-ciri demografis, sosial,
budaya dan ekonomi dan keseimbangan dalam memfokuskan partisipasi dan
pelayanan menurut gender

2.2.3.5

Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS

1. Penanggulagan dilaksanakan dengan memutuskan mata rantai penularan yang


terjadi melalui hubungan seks yang tidak terlindungi, penggunaan jarum suntik

tidak steril pada pengguna Napza suntik, penularan dari ibu yang hamil dengan
HIV (+) ke anak/bayi
2. Kerjasama lintas sektoral dengan melibatkan organisasi profesi, masyarakat
bisnis, LSM, organisasi berbasis masyarakat, pemuka agama, keluarga dan para
Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)
3. Setiap orang mempunyai hak untuk memperoleh informasi yang benar tentang
HIV/AIDS
4. Setiap ODHA dilindungi kerahasiaannya
5. Kesetaraan gender dalam pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS
6. Adanya hak memperoleh pelayananan pengobatan perawatan dan dukungan tanpa
diskriminasi bagi ODHA
7. Pemerintah berkewajiban memberi kemudahan untuk pelayanan pengobatan,
perawatan dan dukungan terhadap ODHA dan mengintegrasikan ke dalam sistem
kesehatan yang telah tersedia.
8. Prosedur untuk diagnosis HIV harus dilakukan dengan sukarela dan didahului
dengan memberikan informasi yang benar, pre dan post test konseling.
9. Setiap darah yang ditransfusikan, serta produk darah dan jaringan transplan harus
bebas dari HIV

2.2.3.6 Strategi Pencegahan dan penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS


1. Pelaksanaan mengikuti azas-azas desentrasasi sedangkan pemerintah pusat hanya
menetapkan kebijakan nasional
2. Koordinasi dan penggerakan

di

bentuk

KPA

di

pusat

dan

di

daerah/kabupaten/kota, pelaksanaan Program melalui jejaring (networking) yang


sudah dibentuk di masing-masing sektor terkait
3. Surveilans dilakukan melalui laporan kasus AIDS, surveilans sentinel HIV, SSP
dan surveilans IMS
4. Setiap prosedur kodekteran tetap memperhatikan universalprecaution atau
kewaspadaan universal.
5. Melengkapi PP-UU menjamin perlindungan ODHA
6. Pembiayaan pencegahan dan penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS terutama
akan akan menggunakan sumber-sumber dalam negri. Pemerintah, mengupayakan
Bantuan Luar Negeri.

7. Melakukan monitoring dan evaluasi program dilakukan berkala, terintegrasi


dengan menggunakan indikator-indikator pencapaian dalam periode tahunan
maupun lima tahuanan.

2.2.3.7 Kebijakan Kesehatan Reproduksi Remaja


1. Pemerintah, masyarakat termasuk remaja wajib menciptakan lingkungan yang
kondusif agar remaja dapat berprilaku hidup sehat untuk menjamin kesehatan
reproduksinya
2. Setiap remaja mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pelayanan
kesehatan reproduksi remaja yang berkualitas termasuk pelayanan informasi
dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender
3. Upaya kesehatan reproduksi remaja harus memberikan manfaat yang sebesar
besarnya untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan remaja dengan disertai
upaya pendidikan kesehatan reproduksi yang seimbang
4. Upaya pendidikan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui jalur
pendidikan formal maupun nonformal, dengan memberdayakan para tenaga
pendidik dan pengelola pendidikan pada sistem pendidikan yang ada
5. Upaya kesehatan remaja harus dilaksanakan secara terkoordinasi

dan

berkesinambungan melalui prinsip kemitraan dengan pihak-pihak terkait serta


harus mampu membangkitkan dan mendorong keterlibatan dan kemandirian
remaja.

2.2.3.8 Strategi Kesehatan Reproduksi Remaja


1. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja disesuaikan dengan kebutuhan proses
tumbuh kembang remaja dengan menekankan pada upaya promotif dan preventif
yaitu penundaan usia perkawinan muda dan pencegahan seks pranikah
2. Pelaksanaan pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan terpadu lintas
program dan lintas sektor dengan melibatkan sektor swasta serta LSM, yang
disesuaikan dengan peran dan kompetensi masing-masing sektor sebagaimana
yang telah dirumuskan di dalam Pokja Nasional Komisi Kesehatan Reproduksi

3. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan melalui pola intervensi di


sekolah mencakup sekolah formal dan non formal dan di luar sekolah dengan
memakai pendekatan pendidik sebaya atau peer conselor
4. Pemberian pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui penerapan Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan
Reproduksi Integratif di tingkat pelayanan dasar yang bercirikan peduli remaja
dengan melibatkan remaja dalam kegiatan secara penuh.
5. Pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui integrasi materi
KRR ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembangkan kegiatan
ekstrakurikuler seperti : bimbingan dan konseling, Pendidikan Keterampilan
Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah.
6. Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja di luar sekolah
dapat diterapkan melalui berbagai kelompok remaja yang ada di masyarakat
seperti karang taruna, Saka Bhakti Husada (SBH), kelompok anak jalanan di
rumah singgah, kelompok remaja mesjid/gereja, kelompok Bina Keluarga Remaja
Kebijakan Depkes dalam Kesehatan Reproduksi Remaja
Adapun kebijakan Departemen Kesehatan dalam KRR adalah sebagai berikut :
1. Pembinaan KRR meliputi remaja awal, remaja tengah, remaja akhir
2. Pembinaan KRR dilaksanakan terpadu lintas program dan lintas sektoral
3. Pembinaan KRR dilaksanakan melalui jaringan pelayanan upaya kesehatan dasar
dan rujukannya
4. Pembinaan KRR dilakukan pada 4 daerah tangkapan, yaitu rumah, sekolah,
masyarakat, dan semua pelayanan kesehatan
5. Peningkatan peran serta orang tua, unsur potensial keluarga, serta remaja sendiri.

2.2.3.9 Kebijakan Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut


1. Meningkatkan dan memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan reproduksi usia lanjut dan menjalin kemitraan
dengan LSM, dunia usaha secara berkesinambungan.
2. Meningkatkan koordinasi dan integrasi dengan LP/LS di pusat maupun daerah
yang mendukung upaya kesehatan reproduksi usia lanjut

3. Membangun serta mengembangkan sistem jaminan dan bantuan sosial agar usia
lanjut dapat mengakses pelayanan kesehatan reproduksi
4. Meningkatkan dan memantapkan peran kelembagaan dalam kesehatan reproduksi
yang mendukung peningkatan kualitas hidup usia lanjut

2.2.3.10 Strategi Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut


1. Melakukan advokasi, sosialisasi untuk membangun kemitraan dalam upaya
kesehatan reproduksi usia lanjut baik di pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
2. Memantapkan kemitraan dan jejaring kerja dengan LP/LS, LSM dan dunia usaha
untuk dapat meningkatkan upaya kesehatan reproduksi usia lanjut yang optimal
3. Mendorong dan menumbuhkankembangkan partisipasi dan peran serta keluarga
dan masyarakat dalam pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut dalam bentuk
pendataan, mobilisasi sasaran dan pemanfaatan pelayanan.
4. Penigkatan profesionalisme dan kinerja tenaga serta penerapan kendali mutu
pelayanan melalui pendidikan/pelatihan, pengembangan standar pelayanan dll.
5. Membangun sistem pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut melalui pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan serta melakukan pelayanan pro aktif dengan
mendekatkan pelayanan kepada sasaran.
6. Melakukan survei/penelitian untuk mengetahui

permasalahan

kesehatan

reproduksi usia lanjut.


2.2.3.11 Kebijakan Pemberdayaan Perempuan
1. Peningkatan kualitas hidup perempuan
2. Pengarusutamaan gender
3. Penguatan pranata dan kelembagaan pemberdayaan perempuan

2.2.3.12 Strategi pemberdayaan perempuan


1. Peningkatan pendidikan perempuan dan penghapusan buta huruf perempuan

2. Peningkatan peran serta suami dan masyarakat dalam kesehatan reproduksi


3. Peningkatan akses perempuan terhadap perekonomian dan peringanan beban
ekonomi keluarga
4. Perlindungan perempuan dan peningkatan hak azasi perempuan
5. Peningkatan penanganan masalah sosial dan lingkungan perempuan
6. Penyadaran dalam masyarakat
7. Pengembangan sistem informasi gender
8. Penyebarluasan pengarusutamaan gender di semua tingkat pemerintah
9. Pembaharuan dan pengembangan hukum dan peraturan perundang-undangan
yang sensitif gender dan memberikan perlindungan terhadap perempuan.
10. Penghapusan kekerasan terhadap perempuan dengan Zero Tolerance Policy
11. Advokasi, sosialisasi, fasilitasi dan mediasi PUG dan KHP
12. Pengembangan sistem penghargaan.
2.3. RUANG LINGKUP KESEHATAN REPRODUKSI
Menurut Depkes RI (2001) ruang lingkup kesehatan reproduksi sebenarnya sangat luas,
sesuai dengan definisi yang tertera di atas, karena mencakup keseluruhan kehidupan
manusia sejak lahir hingga mati. Dalam uraian tentang ruang lingkup kesehatan
reproduksi yang lebih rinci digunakan pendekatan siklus hidup (life-cycle approach),
sehingga diperoleh komponen pelayanan yang nyata dan dapat dilaksanakan.
Untuk kepentingan Indonesia saat ini, secara nasional telah disepakati ada empat
komponen prioritas kesehatan reproduksi, yaitu :
1. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir
2. Keluarga Berencana
3. Kesehatan Reproduksi Remaja
4. Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular Seksual, termasuk HIV/AIDS.
Secara lebih luas, ruang lingkup kespro meliputi :
1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2. Keluarga Berencana
3. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi ( ISR ), trmasuk PMS-HIV / AIDS
4. Pencegahan dan penangulangan komplikasi aborsi
5. Kesehatan Reproduksi Remaja

6. Pencegahan dan Penanganan Infertilitas


7. Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis
8. Berbagi aspek Kesehatan Reproduksi lain misalnya kanker serviks, mutilasi genetalia, fistula dll.
Dalam penerapannya di pelayanan kesehatan, komponen kespro yang masih menjadi
masalah di Indonesia adalah ( PKRE) Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial, terdiri
dari:
1. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir
2. Keluarga Berencana
3. Kesehatan Reproduksi Remaja
4. Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi ( ISR ), trmasuk PMSHIV / AIDS
5. Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK) ditambah Kesehatan
Reproduksi Usia Lanjut
2.4.

PENDEKATAN SIKLUS HIDUP


Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup kesehatan reproduksi
adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan
penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar-fase
kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase
kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tak ditangani dengan baik maka hal ini dapat
berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya. Dalam pendekatan siklus hidup ini
dikenal lima tahap, yaitu :
1. Konsepsi
2. Bayi dan anak
3. Remaja
4. Usia subur
5. Usia lanjut

Berikut digambarkan pendekatan siklus hidup kesehatan reproduksi, untuk laki-laki


dan perempuan dengan memperhatikan hak reproduksi perorangan. Perempuan mempunyai
kebutuhan khusus dibandingkan laki-laki karena kodratnya untuk haid, hamil, melahirkan,
menyusui, dan mengalami menopause, sehingga memerlukan pemeliharaan kesehatan yang
lebih intensif selama hidupnya. Ini berarti bahwa pada masa-masa kritis, seperti pada saat
kehamilan, terutama sekitar persalinan, diperlukan perhatian khusus terhadap perempuan

2.5.

LANDASAN HUKUM DAN PERATURAN YANG MENDUKUNG

2.5.1 Landasan Hukum Kesehatan Reproduksi


Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Bab VI mengenai upaya kesehatan
Paragraf 2
Bagian Keenam
Kesehatan Reproduksi

Pasal 71
(1) Kesehatan reproduksi merupakan keadaaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara
utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan
sistem, fungsi, dan proses reproduksi laki-laki dan perempuan.
(2) Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud ayat 1 meliputi :
a. Saat sebelum hamil, hamil, melahirkan, dan sesudah melahirkan;
b. Pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, dan kesehatan seksual; dan
c. Kesehatan sistem reproduksi
(3) Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksudkan pada ayat 2 dilaksanakan melalui
kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Pasal 72
Setiap orang berhak :
a. Menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman serta bebas dari
paksaan dan/ atau kekerasan dengan pasangan yang sah.
b. Menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan, dan/ atau
kekerasan yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia
sesuai norma agama.
c. Menentukan swndiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat secara medis serta
tidak bertentangan dengan norma agama.
d. Memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang
benar dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pasal 73
Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan
reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana.

Pasal 74
(1) Setiap pelayanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/
atau rehabilitatif, termasuk reproduksi dengan bantuan dilakukan secara aman dan sehat
dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas, khususnya reproduksi perempuan.
(2) Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat 1
dilakukan dengan tidak bertentangan dengan nilai agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Ketentuan mengenai reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dikecualikan berdasarkan :
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam nyawa ibu dan/ atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/
atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi
tersebut hiduo diluar kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/ atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca
tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan media dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat 2 dan ayat 3 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat dilakukan :
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung hari pertama haid terakhir,
kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki
sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 ayat 2 dan ayat 3 yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang
undangan.

2.5.2 Peraturan yang mendukung


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no.61 tahun 2014
tentang
Kesehatan Reproduksi
BAB I

Ketentuan Umum ; Pasal 1, 2, dan 3

BAB II

Tanggung Jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah ; Pasal 4, 5, 6, dan 7

BAB III

Pelayanan Kesehatan Ibu ;


Bagian Kesatu

: Umum ; Pasal 8, 9, dan 10

Bagian Kedua

: Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja : Pasal 11 dan


12

Bagian Ketiga

: Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Hamil,


Persalinan, dan Sesudah Melahirkan ; Pasal 13, 14, 15,
16, 17, dan 18

Bagian Keempat

: Pelayanan Pengaturan Kehamilan, Kontrasepsi, dan


Kesehatan Seksual ; pasal 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26,
27, 28, dan 29

Bagian Kelima
BAB IV

: Pelayanan Kesehatan Sistem Reproduksi ; pasal 30

Indikasi Kedaruratan Medis dan Perkosaan Sebagai Pengecualian Atas Larangan


Aborsi
Bagian Kesatu
: Umum ; Pasal 31
Bagian Kedua

: Indikasi Kedaruratan Medis : Pasal 32 dan 33

Bagian Ketiga : Indikasi Perkosaan ; Pasal 34


Bagian Keempat

: Penyelenggaran Aborsi ; Pasal 35, 36, 37, 38, dan 39

BAB V

Reproduksi Dengan Bantuan Atau Kehamilan Diluar Cara Alamiah ; Pasal 40,
41, 42, 43, 45, dan 46

BAB VI

Pendanaan ; Pasal 47

BAB VII

Pembinaan dan Pengawasan

BAB VIII

Bagian Kesatu

: Pembinaan ; Pasal 48 dan 49

Bagian Kedua

: Pengawasan : Pasal 50 dan 51

Kete ntuan Penutup ; Pasal 52

(PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NO. 61 TAHUN 2014)

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

3.1.1 Kesehatan Reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi
tersebut dalam Konferensi Internasional tentang Kependidikan dan Pembangunan
(International Conference on Population and Development, ICPD), di Kairo, Mesir, pada
tahun 1994.
31.2 Dalam rangka mencapai tujuan kesehatan reproduksi perlu disusun kebijakan dan strategi
umum yang dapat memayungi pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi
Indonesia. upaya penanganan kesehatan reproduksi diarahkan untuk peningkatan kualitas
hidup manusia
Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di Indonesia ini diharapkan dapat
menjadi pedoman pelaksanaan upaya seluruh komponen kesehatan reproduksi di
Indonesia. Hal ini merupakan salah satu rekomendasi dari pertemuan-pertemuan Komisi
Kesehatan Reproduksi yang telah berlangsung sejak tahun 1999. Penyusunan dokumen ini
telah melibatkan secara-bersama-sama dari seluruh komponen kesehatan reproduksi baik
lintas program maupun lintas sektor.
3.1.3 Menurut Depkes RI (2001) ruang lingkup kesehatan reproduksi sebenarnya sangat luas,
sesuai dengan definisi yang tertera di atas, karena mencakup keseluruhan kehidupan
manusia sejak lahir hingga mati. Dalam uraian tentang ruang lingkup kesehatan
reproduksi yang lebih rinci digunakan pendekatan siklus hidup (life-cycle approach),
sehingga diperoleh komponen pelayanan yang nyata dan dapat dilaksanakan.
3.1.4 Pendekatan yang diterapkan dalam menguraikan ruang lingkup kesehatan reproduksi
adalah pendekatan siklus hidup, yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan
penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar-fase
kehidupan tersebut. Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase
kehidupan dapat diperkirakan, yang bila tak ditangani dengan baik maka hal ini dapat
berakibat buruk pada masa kehidupan selanjutnya
3.1.5 Landasan

hukum kesehatan reproduksi adalah Undang- Undang Republik Indonesia

Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Bab VI mengenai upaya kesehatan

Paragraf 2, Bagian Keenam, Kesehatan Reproduksi dan peraturan yang mendukung adalah

Peraturan PemerintahRepublik Indonesia no.61 tahun 2014, Tentang, Kesehatan


Reproduksi