Anda di halaman 1dari 5

Nama : CITRA OKTASARI

Nim

: 06101281320002

Sejarah Perkembangan Media atau Media Pembelajaran

Sejarah Perkembangan Media


Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar
(teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya model,
objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkrit, motivasi
belajar serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar. Namun karena terlalu
memusatkan perhatian pada alat Bantu visual kurang memperhatikan aspek
disain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya. Jadi,
dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual
untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita
kenal dengan audio visual atau audio visual aids (AVA) .
Bermacam peralatan dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan
pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan pendengaran untuk
menghindari verbalisme yang masih mengkin terjadi kalau hanya digunakan alat
bantu visual semata. Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan
pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam sebuah kerucut
yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar Dale cone of
experience).
Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu
atau media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara
mudah. Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu memberikan
gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses
perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati, dan
mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa.
Semakin konkret siswa mempelajari bahan pengajaran, contohnya melalui

pengalaman langsung, maka semakin banyak pengalaman yang diperolehnya.


Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya
mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan
diperoleh siswa .
Edgar Dale memandang bahwa nilai media pembelajaran diklasifikasikan
berdasarkan nilai pengalaman. Menurutnya, pengalaman itu mempunyai dua
belas (12) tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah pengalaman yang
paling konkret. Sedangkan yang paling rendah adalah yang paling abstrak,
diantaranya :
Direct Purposeful Experiences : Pengalaman yang diperoleh dari
kontak langsung dengan lingkungan, obyek, binatang, manusia,
dan sebagainya, dengan cara perbuatan langsung.
Contrived Experiences : Pengalaman yang diperoleh dari kontak
melalui model, benda tiruan, atau simulasi.
Dramatized Experiences : Pengalaman yang diperoleh melalui
prmainan, sandiwara boneka, permainan peran, drama soial
Demonstration : Pengalaman yang idperoleh dari pertunjukan
Study Trips : Pengalaman yang diperoleh melalui karya wisata
Exhibition : Pengalaman yang diperoleh melalui
pameranEducational
Television : Pengalaman yang diperoleh melalui televisi
pendidikan
Motion Pictures : Pengalaman yang diperoleh melalui gambar,
film hidup, bioskop
Still Pictures : Pengalaman yang diperoleh melalui gambar mati,
slide, fotografi

Radio and Recording : Pengalaman yang diperoleh melalui


siaran radio atau rekaman suara
Visual Symbol : Pengalaman yang diperoleh melalui simbol
yang dapat dilihat seperti grafik, bagan, diagram
Verbal Symbol : Pengalaman yang diperoleh melalui penuturan
kata-kata.
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu
audio visual, yang berguna sebagai penyalur pesan atau informasi belajar.
Pada tahun 1960-1965 orang-orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang
penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah-laku (behaviorism
theory) dari B.F Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam pembelajaran.
Dalam teorinya, mendidik adalah mengubah tingkah-laku siswa. Teori ini membantu dan
mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil
proses pembelajaran.
Pada tahun 1965-1970 , pendekatan system (system approach) mulai menampakkan
pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan system
ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran.
Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan
perhatian pada siswa. Ada dua ciri pendekatan sistem pengajraan, yaitu sebagai berikut :

Pendekatan sistem pengajaran mengarah ke proses belajar mengajar. Proses


belajar-mengajat adalahsuatu penataan yang memungkinkan guru dan siswa
berinteraksi satu sama lain.

Penggunaan metode khusus untk mendesain sistem pengajaran yang terdiri atas
prosedur sistemik perencanaan, perancangan, pelaksanaan, dan penilaian
keseluruhan proses belajar-mengajar
o

Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan


karakteristik siswa diarahkan kepada perubahan tingkah laku siswa
sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada dasarnya pendidik dan ahli
visual menyambut baik perubahan ini. Sehingga untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut, mulai dipakai berbagai format media. Dari

pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu
berbeda-beda, sebagian ada yang lebih cepat belajar melalui media
visual, sebagian audio, media cetak, dan sebagainya. Sehingga dari
sinilah lahir konsep media pembelajaran.

B. Pengertian Media Pembelajaran


Secara etimologis, kata media berasal dari bahasa Latin medius dan merupakan
bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Sedangkan madoe, yang artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan .
Sedangkan secara terminologi, menurut para ahli diantaranya :
Menurut Berlach dan Ely (1971) mengemukakan bahwa media dalam
proses pembelajaran cenderung diartikan alat-alat grafis, fotografis atau
elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali
informasi dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Menurut Heinich, dkk (1985), media pembelajaran adalah media-media
yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran
atau mengandung maksud-maksud pembelajaran.
Martin dan Briggs (1986) mengatakan bahwa media pembelajaran
mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi
dengan si-belajar. Hal ini bisa berupa perangkat keras dan perangkat
lunak yang digunakan pada perangkat keras.
Menurut Hamalik (1994), media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran),
sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan si
belajar dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu.
Jadi, media pembelajaran adalah semua sumber yang dapat digunakan
dalam menyampaikan pesan, merangsang pikiran, minat, perhatian dan

perasaan anak didik sehingga pendidik dapat mendorong anak didik agar
dapat belajar, sehingga tujuan pembelajaran (perubahan prilaku atau
kompetensi ) dapat tercapai.