Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN

BAYI BARU LAHIR PATOLOGIS


( KEJANG PADA BBL )

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Agil Abdilah
Anis Setiyowati
Danang tri prastiyo
Ivo aga adinata
Wiji lestari

(11321001)
(11321004)
(11321005)
(11321019)
(11321039)

VI-A

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDIKIA MEDIKA
JOMBANG
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan terhadap kehadirat tuhan yang maha esa yang telah
memberi rahmat dan hidayahnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
tanpa adanya rintangan yang berarti.
Makalah ini penulis susun dengan tujuan:
1. Untuk melengkapi tugas mata kuliah Reproduksi II.
2. Dapat mengetahui lebih lanjut tentang Kejang Pada Bayi Baru Lahir.
Sesuai dengan tujuan penulis tersebut maka penulis akan menyelesaikan dengan
sebaik-baiknya meskipun masih banyak kekurangannya.Dan tidak lupa pula penulis
mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyak kepada:
1. Dosen pembimbing akademik stikes icme jombang.
2. Anita.kep.Ns selaku dosen mata kuliah Reproduksi II.
3. Semua pihak yang ikut serta berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Atas rahmat tuhan yang maha kuasa,penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca. Serta saran dan kritik penulis harapkan, karena penulis menyadari bahwa
makalah ini banyak kekurangannya dan masih belum sempurna.

Jombang, April 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kejang pada periode bayi (neonatus) merupakan keadaan darurat medis, karena
kejang dapat mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya bagi kelangsungan
hidup bayi atau dapat mengakibatkan sekuele di kemudian hari, disamping itu kejang
dapat merupakan tanda atau gejala dari satu masalah atau lebih. Kejang halus/subtle
seizure adalah jenis yang paling umum kejang yang terjadi dalam periode neonatal. Jenis
lain termasuk serangan klonic, tonik dan myoklonic. Serangan myoklonic
membawa prognosis terburuk dari segi jangka panjang hasil perkembangan saraf.
Ensefalopati iskemik Hipoksik adalah penyebab paling umum neonatal kejang.
Kejang merupakan gangguan neurologis yang lazim pada kelompok umur pediatric
dan terjadi dengan frekuensi 4-6 kasus/1000 anak. Kejang ini merupakan penyebab
yang paling sering untuk rujukan pada praktek neurologi anak. Adanya gangguan kejang
tidak merupakan diagnosis, tetapi gejala suatu gangguan sistem saraf sentral (SSS) yang
memerlukan pengamatan menyeluruh dan rencana manajemen. Penyakit ini juga menjadi
salah satu masalah sistem saraf pusat yang banyak terdapat pada neonatus. Kejadiannya
meliputi 0,5% dari semua neonatus baik cukup bulan maupun kurang bulan.
Angka kejadian kejang pada neonatus terjadi lebih tinggi pada bayi kurang bulan
(3,9%) pada bayi dengan usia kehamilan < 30 minggu. Di Amerika Serikat, angka
kejadian kejang pada neonatus belum jelas terdeteksi, diperkirakan sekitar 80-120
per 100.000 neonatus per tahun. Perbandingannya antara 1-5:1000 angka kelahiran.
Menurut SDKI 2002-2003 angka kematian pada neonatus di Indonesia menduduki angka
57% dari angka kematian bayi (AKB) sedangkan kematian neonatus yang diakibatkan
oleh kejang sekitar 10%.
Neonatus menghadapi risiko khusus terserang kejang karena penyakit metabolik,
toksik, struktural, dan infeksi lebih mungkin menjadi nampak selama waktu ini
daripada pada periode kehidupan lain kapanpun. Kejang neonatus tidak sama dengan
kejang pada anak atau orang dewasa karena konvulsi tonik klonik cenderung tidak terjadi
selama umur bulan pertama. Proses pertumbuhan akson dan tonjolan dendrit juga
mielinisasi tidak sempurna pada otak neonatus. Discharge kejang karenanya tidak dapat
dengan mudah dijalarkan ke seluruh otak neonatus untuk menimbulkan kejang
menyeluruh. Ada setidaknya empat tipe kejang yang dapat dikenali pada bayi baru lahir.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi

Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul masa neonatus atau dalam 28
hari sesudah lahir (Buku Kesehatan Anak). Menurut Brown (1974) kejang adalah suatu
aritma serebral.
Kejang adalah perubahan secara tiba-tiba fungsi neurology baik fungsi motorik
maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak (Buku Pelayanan
Obstetric Neonatal Emergensi Dasar).
Kejang pada neonatus adalah perubahan paroksismal fungsi neurologis (tingkah laku
dan atau fungsi motorik) akibat aktifitas yang terus menerus dari neuron diotak dan
terjadi dalam 28 hari pertama kehidupan pada bayi cukup bulan atau sampai usia
konsepsi 44 minggu pada bayi kurang bulan.
Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan proksimal dari fungsi neurologik
(misalnya perilaku, sensorik, motorik, dan fungsi autonom sistem syaraf yang terjadi
pada bayi berumur sampai dengan 28 hari. (Kosim, Soleh:2008)
Kejang adalah suatu kondisi dimana otot tubuh berkontraksi dan berelaksasi secara
cepat dan berulang, oleh karena abnormalitas sementara dari aktivitas elektrik di otak,
yaitu terjadi loncatan loncatan listrik karena bersinggungannya ion (+) dan ion (-) di
dalam sel otak.
Kejang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai.
Kejang yang terjadi pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi pada bayi baru lahir
sampai dengan usia 28 hari. Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang
merupakan suatu tanda adanya penyakit sistem saraf pusat (SSP), kelainan metabolik
atau penyakit lain. Kejang pada bayi baru lahir sering tidak dikenali karena berbeda
dengan kejang pada anak dan dewasa. Hal ini disebabkan karena ketidakmatangan
organisasi korteks pada bayi baru lahir. Kejang umum tonik klonik jarang pada bayi
baru lahir. Pada prinsipnya, setiap gerakan yang tidak biasa apabila berlangsung
berulang-ulang dan periodik,harus dipikirkan manifestasi kejang. Kejang yang berulang
menyebabkan berkurangnya oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak.
Kejang bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari gangguan saraf pusat,
lokal atau sistemik. Kejang ini merupakan gejala gangguan syaraf dan tanda penting
akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang tersebut, yang dapat mengakibatkan
gejala sisa yang menetap di kemudian hari. Bila penyebab tersebut diketahui harus
segera di obati. Hal yang paling penting dari

kejang pada bayi baru lahir adalah

mengenal kejangnya, mendiagnosis penyakit penyebabnya dan memberikan pertolongan

terarah, bukan hanya mencoba menanggulangi kejang tersebut dengan obat anti
konvulsan.
B. Klasifikasi Kejang
1. Kejang tonik
a) Umum
Terutama bermanifestasi pada neonatus kurang bulan (< 2500gram). Fleksi atau
ekstensi tonik pada ekstremitas bagian atas, leher atau batang tubuh dan berkaitan
dengan ekstensi tonus pada ekstremitas bagian bawah. Pada 85% kasus kejang
tonik tidak berkaitan dengan perubahan otonomis apapun seperti meningkatnya
detak jantung atau tekanan darah, atau kulit memerah.
b) Fokal
Terlihat dari postur asimetris dari salah satu ekstremitas atau batang tubuh atau
deviasi tonik kepala atau mata kepala atau mata. Sebagian besar kejang tonik
terjadi bersamaan dengan penyakit sistem syaraf pusat yang difus dan perdarahan
intraventrikular.
2. Kejang klonik
a) Fokal
Terdiri dari gerakan bergetar dari satu atau dua ekstremitas pada sisi unilateral
dengan atau tanpa adanya gerakan wajah. Gerakan ini pelan dan ritmik dengan
atau tanpa gerakan wajah. Gerakan ini pelan dan ritmik dengan frekuensi 1-4 kali
perdetik.
b) Multifokal
Kejang klonik pada BBL dapat mempunyai lebih dari satu focus ataumigrasi
terdiri dari gerakan dari satu ekstremitas yang kemudian secara acak pindah
keekstremitas lainnya. Bentuk kejang merupakan gerakan klonik salah satu atau
lebihanggota gerak yang berpindah-pindah atau terpisah secara teratur, misalnya
kejang klonik lengan kiri diikuti dengan kejang klonik tungkai bawah kanan.
Kadang-kadang karenakejang yang satu dengan kejang yang lain sering
bersinambungan, seolah-olah member kesan sebagai kejang umum. Bentuk
kejang ini biasanya terdapat pada gangguanmetabolik. Kejang ini lebih sering
dijumpai pada BCB dengan berat lebih 2500 gram.
3. Kejang mioklonik
a. Umum
Terlihat sangat jelas berupa fleksi masif pada kepala dan batangtubuh dengan
ekstensi atau fleksi pada ekstremitas. Kejang ini berkaitan dengan patologiSSP
yang difus
b. Fokal
Biasanya melibatkan otot fleksor pada ekstremitas
c. Multifokal

Terlihat sebagai gerakan kejutan yg tidak sinkron pd beberapa bagian tubuh.


C. Etiologi
1. Metabolik
a. Hipoglikemia
Bila kadar darah gula kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan dan
kurang dari 20 mg% pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Hipoglikemia
dapat dengan/tanpa gejala. Gejala dapat berupa serangan apnea, kejang sianosis,
minum lemah, biasanya terdapat pada bayi berat badan lahir rendah, bayi kembar
yang kecil, bayi dari ibu penderita diabetes melitus, asfiksia.
b. Hipokalsemia
Yaitu, keadaan kadar kalsium pada plasma kurang dari 8 mg/100 ml atau
kurang dari 8 mg/100 ml atau kurang dari 4 MEq/L. Gejala, tangis dengan nada
tinggi, tonus berkurang, kejang dan diantara dua serangan bayi dalam keadaan
baik.
c. Hipomagnesemia
Yaitu kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,2 mEg/l. biasanya terdapat
bersama-sama dengan hipokalsemia, hipoglikemia dan lain-lain. Gejala kejang
yang tidak dapat di atasi atau hipokalsemia yang tidak dapat sembuh dengan
pengobatan yang adekuat.
d. Hiponatremia dan hipernatremia
Hiponatremia adalah kadar Na dalam serum kurang dari 130 mEg/l. gejalanya
adalah kejang, tremor. Hipertremia, kadar Na dalam darah lebih dari 145 mEg/l.
Kejang yang biasanya disebabkan oleh karena trombosis vena atau adanya petekis
dalam otak.
e. Defisiensi pirodiksin dan dependensi piridoksin
Merupakan akibat kekurangan vitamin B6. gejalanya adalah kejang yang hebat
dan tidak hilang dengan pemberian obat anti kejang, kalsium, glukosa, dan lainlain. Pengobatan dengan memberikan 50 mg pirodiksin
f. Asfiksia
Suatu keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera setelah
lahir etiologi karena adanya gangguan pertukaran gas dan transfer O2 dari ibu ke
janin.

2. Perdarahan intrakranial
Dapat disebabkan oleh trauma lahir seperti asfiksia atau hipoksia, defisiensi
vitamin K, trombositopenia. Perdarahan dapat terjadi sub dural, sub aroknoid,
intraventrikulus dan intraserebral. Biasanya disertai hipoglikemia, hipokalsemia.
Diagnosis yang tepat sukar ditetapkan, fungsi lumbal dan offalmoskopi mungkin
dapat membantu diagnosis. Terapi : pemberian obat anti kejang dan perbaikan
gangguan metabolism bila ada.
3. Infeksi
Infeksi terjadi sekitar 5-10% dari seluruh penyebab kejang BBL, bakteri,
nonbakteri maupun kongenital dapat menyebabkan kejang BBL, biasanya terjadi
setelah minggu pertama kehidupan.Infeksi digolongkan menjadi
1. Infeksi akut
Infeksi bakteri atau virus pada SSP dengan atau tanpa keadaan sepsis dapat
mengakibatkan kejang, biasanya sering berhubungan dengan meningitis. Kuman
gramnegative sering mengakibatkan infeksi intrakranial dan sistemik pada BBL.
Bakteri yang sering ditemukan adalah group B streptococcus, Eschericia coli, Listeria
sp, Staphylococcus dan Pseudomonas species.
2. Infeksi kronik
Infeksi intrauterin yang berlangsung lama : toxoplasmosis, rubella, cytomegalo virus,
herpes (TORCH), treponema pallidum.
4. Genetik/kelainan bawaan
5. Penyebab lain
a. Polisikemia
Biasanya terdapat pada bayi berat lahir rendah, infufisiensi placenta,
transfuse dari bayi kembar yang satunya ke bayi kembar yang lain dengan kadar
hemoktrokit di atas 65%
b. Kejang idiopatik
Kejang pada BBL yang tidak diketahui penyebabnya, secara relatif sering
menunjukkan hasil yang baik. Tetapi pada kejang beulang yang lama, resisten
terhadap pengobatan atau kejang terulang sesudah pengobatan dihentikan
menunjukkan kemungkinan adanya kerusakan di otak.
Pada golongan idiopatik terdapat 2 hal yang perlu mendapat perhatian yaitu,
kejang BBL familial jinak dan kejang hari kelima
1. Kejang BBL familial jinak (Benign familial Neonatal seizures)

Kejang ini diturunkan secara autosomal dominan, pertama diketahui tahun


1964.Penanda genetik menunjukkan adanya mutasi pada kromosom 29q13.3 dan
8q.24. Kejang terjadi antara hari kedua dan hari kelima belas sesudah lahir, dan
kebanyakan(80%) dimulai pada hari kedua dan ketiga setelah lahir. Jenis kejang
biasanya klonik, sering berulang sampai beberapa puluh kali per hari tetapi
berhenti secara spontan setelah beberapa lama, biasanya serangan kejang berhenti
pada usia 6 bulan. Pada keadaan antara kejang bayi tampak normal. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan riwayat keluarga adayang pernah mengalami kejang.
Kelainan elektrografis yang spesifik berupa gelombang datar diikuti gelombang
bilateral spike dan slow Kejang dapat dihentikan dengan obat-obatan biasa dan
prognosis untuk perkembangan anak baik.
2. Kejang hari kelima (The Fifth day fits)
Kejang ini adalah kejang berulang antara hari ketiga dan ketujuh kehidupan,
paling sering terjadi pada hari ke 4 dan 5 (80-90%) berlangsung hingga 2 minggu
pada BCB dengan riwayat kelahiran normal dan tidak terdapat kelainan
neurologis pada beberapahari pertama kehidupan. Serangan kejang yang terjadi
dapat berbentuk klonik fokal ataumultifokal dan serangan apneu. Penyebabnya
masih merupakan misteri, meskipun kadar zinc pada cairan serebrospinal yang
rendah ditemukan pada beberapa kasus.
D. Patofisiologi
Dalam Buku Ajar Neonatologi, mekanisme dasar terjadinya kejang akibat loncatan
muatan listrik yang berlebihan dan sinkron pada otak atau depolarisasi otak yang
mengakibatkan gerakan yang berulang. Terjadinya depolarisasi pada syaraf akibat
masuknya natrium dan repolarisasi terjadi karena keluarnya kalium melalui membrane
sel. Untuk mempertahankan potensial membrane memerlukan energi yang berasal dari
ATP dan tergantung pada mekanisme pompa yaitu keluarnya Natrium dan masuknya
Kalium.
Dalam keadaan norma, membran sel neuron dapat dilalui oleh ion K, ion Na, dan
elektrolit seperti Cl. Konsentrasi K+ dalam sel neuron lebih tinggi daripada di luar sel,
sedangkan konsentrasi Na+ di dalam sel lebih rendah daripada di luar sel. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial membran.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 derajat celcius akan menyebabkan
metabolisme basal meningkat 10 15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Jadi

pada kenaikan suhu tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan
dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui
membran, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini
sedemikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
lainnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga terjadi kejang.

E. WOC
Gangguan metabolik:
Hipokalsemia.hipoglikemi
a

Perdarahan Intrakranial

Infeksi
Sub dural

Sub arachnoid

Bakteri

Metabolisme otak terganggu


Periventrikuler
Suplai oksigen tubuh

Spasme otot pernafasan

Tdak efektif jalan nafas

Robekan
vena
supervisialis

Bayi
kurang
bulan

Molase kepala
yang berlebihan
Darah terkumpul di
fosa superior

Trauma
/asfiksia

Menekan batang otak

Perdarahan

Muatan listrik

Kejang

Kejang Tonik

Umum

Kejang Klonik

Multifokal

Resiko cidera

Kejang mioklonik

Umum

Fokal

Fokal

Fokal
Gerakan dari 1
ekstremitas ke
ekstremitas
lain

Bayi kurang
bulan
Penyakit
SSP
Fleksi/ekste
nsi
ekstremitas

Gerakan bergatar
setengah
ekstremitas

Perdarahan
intra
ventrikuler

Kurang
pengetahuan

Resiko tinggi
injuri

Otot fluxort
ekstremitas

Fleksi
massif pada
kepala dan
batang tubuh

Multifokal

Gerakan
kejutan
yang tidak
seimbang

Ansietas

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi kejang pada bayi baru lahir dapat berupa:
1. Tremor
Hiperaktif
2. kejang-kejang
3. tiba-tiba menangis melengking
4. Tonus otot hilang disertai atau tidak dengan kehilangan kesadaran
5. gerakan yang tidak menentu (involuntary movements) nistagmus atau mata mengedipedip proksismal
6. gerakan seperti mengunyah dan menelan

Oleh karena itu Manifestasi klinik yang berbeda-beda dan bervariasi, sering kali
kejang pada bayi baru lahir tidak di kenali oleh yang belum berpengalaman. Dalam
prinsip, setiap gerakan yang tidak biasa pada bayi baru lahir apabila berangsur berulangulang dan periodik, harus dipikirkan kemungkinan Manifestasi kejang.

G. Penatalaksanaan (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal)


1.
Prinsip dasar tindakan mengatasi kejang pada bayi baru lahir sebagai berikut :
a. Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang-kejang (Misal : diazepam,

2.

fenobarbital, fenotin/dilantin)
b. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan resusitasi
c. Mencari faktor penyebab kejang
d. Mengobati penyebab kejang (mengobati hipoglikemia, hipokalsemia dan lain-lain)
Obat anti kejang (Buku Acuan Nasional Maternatal dan Neonatal, 2002)
a. Diazepam
Dosis 0,1-0,3 mg/kg BB IV disuntikan perlahan-lahan sampai kejang hilang atau
berhenti. Dapat diulangi pada kejang beruang, tetapi tidak dianjurkan untuk
digunakan pada dosis pemeliharaan
b. Fenobarbital
Dosis 5-10 mg/kg BB IV disuntikkan perlahan-lahan, jika kejang berlanjut lagi
dalam 5-10 menit. Fenitoin diberikan apabila kejang tidak dapat di berikan 4-7
mg/kg BB IV pada hari pertama di lanjutkan dengan dosis pemeliharaan 4-7 mg/kg
BB atau oral dalam 2 dosis.

3.

Penanganan kejang pada bayi baru lahir (Buku Acuan Nasional Maternal dan
Neonatal, 2002)
a. Bayi diletakkan dalam tempat yang hangat pastikan bahwa bayi tidak kedinginan.
Suhu dipertahankan 36,5C - 37C
b. Jalan nafas bayi dibersihkan dengan tindakan penghisap lendir di seputar mulut,
hidung sampai nasofaring
c. Bila bayi apnea dilakukan pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat bantu
balon dan sungkup, diberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter/menit
d. Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah perifer di tangan, kaki,
atau kepala. Bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu berpenyakit diabetes miletus
dilakukan pemasangan infus melalui vena umbilikostis
e. Bila infus sudah terpasang di beri obat anti kejang diazepam 0,5 mg/kg supositoria
IM setiap 2 menit sampai kejang teratasi, kemudian di tambah luminal
(fenobarbital 30 mg IM/IV)
f. Nilai kondisi bayi selama 15 menit. Perhatikan kelainan fisik yang ada

g. Bila kejang sudah teratasi, diberi cairan dextrose 10% dengan kecepatan 60 ml/kg
BB/hari
h. Dilakukan anamnesis

mengenai keadaan bayi untuk mencari faktor penyebab

kejang
1) Apakah kemungkinan bayi dilahirkan oleh ibu yang berpenyakit DM
2) Apakah kemungkinan bayi prematur
3) Apakah kemungkinan bayi mengalami asfiksia
4) Apakah kemungkinan ibu bayi mengidap/menggunakan narkotika
i. Bila sudah teratasi di ambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari
faktor penyebab kejang, misalnya :
1) Darah tepi
2) Elektrolit darah
3) Gula darah
4) Kimia darah (kalsium, magnesium)
j. Bila kecurigaan kearah pepsis dilakukan pemeriksaan fungsi lumbal
k. Obat diberikan sesuai dengan hasil penelitian ulang
l. Apabila kejang masih berulang, diazepam dapat diberikan lagi sampai 2 kali.

H. Pemeriksaan laboratorium
1.
Pemeriksaan darah dapat berupa: gula darah, elektrolit darah (terutama
kalsium dan magnesium), darah tepi, punksi lumbal, punksi subdural, kultur
2.
3.

darah, dan titer TORCH


EKG dan EEC
Pencitraaan
Pemeriksaan pencitraan dilakukan berdasarkan indikasi :

4.

USG kepala
Skintigrafi kepala (CT-scan Cranium)
MRI
Pemeriksaaan Lain
Foto Radiologi kepala
Uji tapis obat-obatan

BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
3.1 Data Subyektif
3.1.1. Biodata/Identifitas
Biodata bayi mencakup nama, tempat/tanggal lahir , umur, jenis kelamin.
Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama,
umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
3.1.2. Keluhan Utama

Pada bayi kejang, keluhan yang ibu utarakan antara lain bayinya tubuhnya gemetar,
gerakan tubuhnya lebih aktif dari biasanya, tidak terkendali, kejang-kejang, tiba-tiba
menangis melengking, bayi lemas/ tidak bergerak, mata berkedip terus menerus, mulut
mecucu, tubuh kaku
3.1.3. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan perjalanan penyakit (kejang) yang di alami bayi. Waktu permulaan kejang
dan berapa lama ibu mengamati tanda-tanda bayinya kejang sampai dibawa ke petugas
kesehatan.
3.1.4 Penyakit Riwayat Dahulu
Riwayat kejang sebelumnya apakah merupakan kejang berulang, trauma kepala,
radang selaput otak (meningitis), epilepsi, kelainan metabolisme seperti: hipoglikemia,
hipokalsemia, hipomagnesemia, hiponatremia, dan hypernatremia, hiperbilirubinemia, dan
kelainan metabolisme asam amino, perdarahan otak, dan infark serebri.
3.1.5

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Riwayat kehamilan: bayi yang kecil untuk masa kehamilan, bayi prematur, ibu

mengalami infeksi dari bakteri dan virus seperti TORCH, ibu yang tidak disuntik TT, ibu
menderita DM.
Riwayat persalinan: persalinan dengan tindakan (ektrasi cunam/ ekstrasi vakum),
persalinan presipitatus, persalinan presentasi bokong, pemotongan tali pusat yang tidak steril,
asfiksia, dan gawat janin.
Selain itu, bayi yang mengalami komplikasi perinatal seperti tetanus neonatorum,
trauma perdarahan intrakranial, dan trauma susunan saraf pusat juga beresiko mengalami
kejang.
3.1.6

Riwayat kesehatan keluarga.


Ibu terinfeksi TORCH, menderita penyakit Diabetus Mellitus
3.1.7 Pola kebiasaan
Pola minum bayi sehari normalnya 8-10 kali, pada bayi yang mengalami kelainan
akan lebih malas menyusu.
3.2 Data Obyektif.
3.2.1 Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : lemah-hiperaktif
Kesadaran
Suhu

: normal, apatis, somnolen, sopor, koma


:normal (36,5-37C), hipertermia (>37,5C), hipotermia (<36,5C).

Respirasi

: apnea, hiperpnea (> 60x/mnt)

Nadi

: nadi normal bayi (120-160), apakah nadi bayi teraba lemah,

ireguler, ataukah tidak teraba


3.2.2 Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung, mikrosefali
2. Muka
Rhisus sardonicus, pucat, gerakan otot-otot muka, asimetri wajah (sisi yang paresis tertinggal
bila anak menangis).
3. Mata
Deviasi bola mata secara horisontal, kedipan mata proksimal, kelopak mata berkedip-kedip,
gerakan cepat dari bola mata, nystagmus, dilatasi pupil.
4. Mulut
Cyanosis, strismus, lidah menunjukan gerakan menyeringai, gerakan terkejut-kejut pada
mulut dan pipi secara tiba-tiba menghisap, mengunyah, menelan, menguap.
5. Leher
Tanda-tanda kaku kuduk
6. Abdomen
Kekakuan otot pada abdomen, tanda-tanda infeksi pada tali pusat, jika terjadi sepsis perut
tampak buncit dan hepatosplenomegali
7. Ekstremitas
Pergerakan seperti berenang, mengayuh pada anggota gerak atas dan bawah, ekstensi lengan
dan tungkai, menyerupai sikap deserebasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah
dengan bentuk dekortikas, gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak
yang berulang dan terjadinya cepat, gerakan menyerupai refleks moro, tremor
3.2.3
1.

Reflek fisiologis terhadap bayi baru lahir normal


Mata

a. Berkedip atau reflek corneal


Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba-tiba atau pada pandel
atau obyek ke arah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka
menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.
b. Pupil

Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang
hidup.
c. Glabela
Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan
mata menutup dengan rapat.
2. Mulut dan tenggorokan
a. ROOTING REFLEX (refleks mencari puting)
Cara memunculkan: sentuhlah pipi atau ujung mulut bayi. Mulutnya akan
membuka dan kepalanya akan menengok ke arah sentuhan. Refleks ini sangat
membantu bayi dalam mencari payudara ibu atau botol susu
b. SUCK REFLEX (refleks menghisap)
Cara memunculkan: sentuhlah langit-langit mulut bayi dengan jari, maka bayi
akan mulai menghisap. Bayi prematur biasanya belum mempunyai kemampuan
menghisap dengan baik. Refleks ini belum muncul hingga usia janin 32 minggu dan
belum berkembang sempurna hingga usia janin 36 minggu.
c. Muntah
Stimulasi terhadap faring posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya
selang harus menyebabkan bayi mengalami reflek muntah, reflek ini harus menetap
sepanjang hidup.
d. Menguap
Respon spontan terhadap panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah
udara inspirasi, harus menetap sepanjang hidup.
e. Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar
harus menghilang pada usia 4 bulan.

f. Batuk
Iritasi membrane mukosa laring menyebabkan batuk, reflek ini harus terus ada
sepanjang hidup, biasanya ada setelah hari pertama lahir.
3. Ekstrimitas

a. GRASP REFLEX (refleks menggenggam)


Cara memunculkan: sentuhlah telapak tangan bayi dengan jari, maka dia akan
menggenggam jari kita. Refleks ini hanya muncul hingga usia 2 sampai 3 bulan dan
lebih kuat pada bayi prematur.
b. FOOT (refleks-refleks pada kaki)
BABINSKI: gores telapak kaki bagian luar dengan ujung jari, maka jari-jari
kakinya akan meregang dan ibu jari kaki dorsofleksi/menekuk ke arah telapak kaki.
Ini adalah refleks normal dan bertahan hingga usia 2 tahun. (2.) Gores telapak kaki
bagian dalam, maka jari-jari kaki akan fleksi/menekuk dan menggenggam jari
pemeriksa.
c. STEP/WALKING REFLEX (refleks melangkah)
Cara memunculkan: Bayi diberdirikan (dipegang pada kedua ketiaknya) dan
kakinya disentuhkan lantai atau meja, ia akan melakukan gerakan seperti melangkah.
d. Masa tubuh

MORO REFLEX (Startle Reflex)


o

Refleks ini terjadi jika bayi dikejutkan oleh suara keras bahkan oleh tangisnya
sendiri atau gerakan. Refleks ini dapat muncul hingga bayi berusia 6 bulan.

Cara memunculkan: dalam posisi supine/terlentang angkat dan topang


punggung dan kepala bayi dengan 1 tangan hingga posisi setengah duduk,
dengan cepat dan hati-hati lepaskan tangan sebentar. Kedua tangan dan
kakinya teregang, kepala tertarik ke belakang sekejap dan bayi menangis.

Startle
Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku
tangan tetap tergenggam.
TONIC NECK REFLEX (Tonus Leher Asimetrik)
o

Ketika kepala bayi dimirigkan ke kiri maka lengan kirinya akan meregang
lurus sementara siku lengan kanannya akan melipat. Hal ini bisa disebut
sebagai posisi "pagar". Perlu diwaspadai jika refleks ini tidak menghilang juga
ketika bayi berumur 6-7 bulan.

Neck righting
Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang
tubuh membalik ke arah tersebut dan diikuti dengan pelvis.
Inkurvasi batang tubuh (gallant)
Sentuhan pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan
panggul bergerak kearah sisi yang terstimulasi

3.2.4 Pemeriksaan laboratorium


1. Pemeriksaan darah dapat berupa: gula darah, elektrolit darah (terutama kalsium
dan magnesium), darah tepi, punksi lumbal, punksi subdural, kultur darah, dan
titer TORCH
2. EKG dan EEC
Pemeriksaan EEG pada kejang dapat membantu diagnosis kejang. Pada EEG yang
normal atau latar belakang dengan gelombang paku atau gelombang tajam
unifokal dapat diramalkna bayi akan normal dikemudian hari. Bayi dengan EEG
yang menunjukkan latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam

multifokal atau dengan burts supression atau bentuk isoelektrik mempunyai


prognosis yang tidak baik.
3. Pencitraaan
Pemeriksaan pencitraan dilakukan berdasarkan indikasi :
USG kepala
Sonografi kepala dilakukan jika dicurigai adanya perdarahan intrakranial
atau untraventrikuler.
Skintigrafi kepala (CT-scan Cranium)
Pemeriksaan ini lebih sensitif dibanding sonografi untuk mengetahui
kelainan parenkim otak
MRI
Pemeriksaan paling sensitif untuk mengetahui malformasi subtle yang
kadang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan CT-scan Cranium
4. Pemeriksaaan Lain
Foto Radiologi kepala, perlu dikerjakan apaabila pengukuran terdapat
lingkaran ya g lebih kecil atau lebih besar dari ukuran standar.
Uji tapis obat-obatan
3.3 Diagnosa
1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan,
aspirasi.
2. Resiko cidera berhubungan dengan kejang
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya
informasi perawatan rumah.
3.4 Intervensi Keperawatan
1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan spasme otot pernapasan,
aspirasi.
Intervensi :
NOC :
1.

Mempunyai jalan nafas yang paten

2.

Mengeluarkan sekresi secara efektif

3. Mempunyai irama dan frekuensi pernafasan dalam rentang yang normal


4.

Mempunyai fungsi paru dalam batas normal

5.

Mampu mendeskripsikan rencana untuk perawatan di rumah.

NIC :
1. mengkaji dan mendokumentasikan keefektifan pemberian oksigen dan
perawatan yang lain
2. rundingkan dengan ahli terapi pernafasan, sesuai dengan kebutuhan
3. konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan untuk perkusi dan atau
peralatan pendukung
4. berikan udara/ oksigen yang telah di humidifikasi sesuai dengan
kebijakan instruksi
5. tampilkan/ bantu dalam pemberian aerosol, nabulizer ultrasonik dan
perawatan paru lainya sesuai dengan kebijakan dan protokol institusi

2. Resiko cidera berhubungan dengan kejang

Intervensi :
NOC :
1. Mengidentifikasi resiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cedera
2. Pengendalian resiko akan ditunjukkan, di buktikan oleh indikator berikut ini:
(sebutkan nilainya 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, dan
konsisten)
3. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian resiko.
NIC :
1. Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan misalnya
perubahan status mental, tingkat keracunan, keletihan, usia, kematangan,
pengobatan, dan defisit motorik/sensorik

2. Periksa pasien apakah mengalami/ terkena konstriksi karena bekuan darah,


tersayat, luka bakar atau memar.
3. Pemantauan janin secara elektronik: intrapartum (NIC)

Lakukan pemantauan janin secara elektronik selama periode


intrapartum, sesuai dengan petunjuk lembaga

Amati riwayat obstetrik pasien untuk mendapatkan informasi yang


berkaitan, seperti usia kehamilan dan kontraidikasi lainya, misalnya
plasenta previa, insisi ulterus klasik, dan deformitas struktur pelvis
lainya.

Jelaskan kepada ibu dan orang yang mendukung, tentang alasan untuk
melakukan pemantauan secara elekronik dan juga informasi yang harus
diperhatikan

Tetap informasikan kepada dokter tentang perubahan yang terjadi pada


irama jantung janin, intervensi untuk pola yang tidak dapat diandalkan,
respons janin selanjutnya,kemajuan persalinan, dan respons ibu
terhadap persalinan.

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman, kurangnya


informasi perawatan rumah.
Intervensi :
NOC :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x24 jam psien mengetahui
tentang proses penyakit dengan indikator pasien dapat :
Familiar dengan nama penyakit
Mendeskripsikan proses penyakit
Mendeskripsikan faktor penyebab
Mendeskripsikan faktor resiko
Mendeskripsikan efek penyakit
Mendeskripsikan tanda dan gejala
Mendeskripsikan perjalanan penyakit
Mendeskripsikan tindakan untuk menurunkan progresifitas penyakit
Mendeskripsikan komplikasi
Mendeskripsikan tanda dan gejala dari komplikasi
Mendeskripsikan tindakan pencegahan untuk komplikasi

NIC :
TEACHING: PENGETAHUAN PROSES PENYAKIT
Definisi : membantu pasien memahami informasi yang berhubungan dengan
penyakit yang spesifik
Intervensi
Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit
yang spesifik
Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaiman hal ini berhubungan dengan
anatomi dan fisiologi
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
Gambarkan proses penyakit
Identifikasi kemungkinan penyebab dengan cara yang tepat
Sediakan informasi tentang kondisi pasien
Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan pasien
Sediakan pengukuran diagnostik yang tersedia
Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi
Gambarkan rasional rekomendasi manajemen terapi
Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
Eksplorasi kemungkinan sumber dukungan
Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pnccenter.co.id/index.php/id/read/26/perawatan-bayi-baru-lahir.html
M. Wilkinston Judith, 2006, Buku Saku Diagnosa Keperawatan dCengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC edisi 7, Jakarta : EGC
http://norasitinjak.blogspot.com/2013/09/kejang-pada-bbl.html

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan proksimal dari fungsi neurologik

(misalnya perilaku, sensorik, motorik, dan fungsi autonom sistem syaraf yang terjadi pada
bayi berumur sampai dengan 28 hari. Kejang dapat timbul sebagai suatu kondisi dimana otot
tubuh berkontraksi dan berelaksasi secara cepat dan berulang, oleh karena abnormalitas
sementara dari aktivitas elektrik di otak, yaitu terjadi loncatan loncatan listrik di dalam sel
otak. Manifestasi klinik kejang sangat bervariasi bahkan sangat sulit membedakan dengan
gerakan bayi itu sendiri. Meskipun demikian diagnosis yang cepat dan penanganan yang tepat
merupakan hal yang penting, karena pengenalan kondisi yang terlambat meskipun tertangani
akan dapat meninggalkan sekuel pada sistem syaraf.
4.2

Saran
Mengingat kejang merupakan tanda bahaya yang sering terjadi pada BBL dan dapat

mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup bayi maka
diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang baik agar sebagai bidan, kita dapat menangani
kejang pada BBL dalam praktik kebidanan kelak.