Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN

“ALOPESIA ANDROGENETIK”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

1. Anik mugi R 6. M boby F

2. Anis S 7. M khoirul

3. Deky Lery 8. Ryandi T.R.H

4. Iga dyah R.S 9. Satria H.P

5. Kurnia fatmawati 10. Sigit P

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

INSAN CENDEKIA MEDIKA

JOMBANG

2013
KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberi rahmat dan hidayahnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
tanpa adanya rintangan yang berarti.

Makalah ini penulis susun dengan tujuan:

1. Untuk melengkapi tugas mata kuliah Sistem Integumen.


2. Dapat mengetahui lebih lanjut tentang kelainan kulit.
Sesuai dengan tujuan penulis tersebut maka penulis akan menyelesaikan dengan sebaik-
baiknya meskipun masih banyak kekurangannya. Dan tidak lupa pula penulis mengucapkan
terimakasih yang sebanyak-banyak kepada:
1. Dosen pembimbing akademik STIKES ICME JOMBANG.
2. Dwi S. Kep., Ns., selaku dosen mata kuliah Sistem Integumen.
3. Semua pihak yang ikut serta berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca. Serta saran dan kritik penulis harapkan, karena penulis menyadari bahwa makalah
ini banyak kekurangannya dan masih belum sempurna.

Jombang, Desember 2013

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem integumen adalah suatu sistem yang vital bagi kehidupan seluruh manusia,
yang terletak pada organ tubuh terluar, melindungi bagian dalam tubuh, luas 1,5-2 m2,
berat 15 % BB, yang merupakan cermin kehidupan, dapat dilihat, diraba, dan hidup, sebagai
penampilan & kepribadian. apabila kulit kita mengalami gangguan, tentu saja ini akan
mempengaruhi dari sistem kerja lapisan kulit lainnya dan membuat penampilan yang
terkesan jelek. Salah satu dari penyakit yang menyerang sistem integumen yang disebabkan
oleh infeksi mikotik.
Alopesia atau kebotakan dapat terjadi setempat dan berbatas tegas, umumnya pada
kepala atau dapat juga mengenai daerah rambut lainnya, alopesia juga dapat juga terjadi
karena keturunan, pengaruh horman, dan life style, alopesia dapat disebabkan abnormalitas
batang rambut yang menyebabkan rambut mudah putus.
Adapun jenis-jenis alopesia sebagai berikut:
1. Alopesia androgenik
Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia
androtesticleas, male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah
bentuk umum kehilangan rambut pada laki-laki dan perempuan.
2. Alopesia areata
Kehilangan rambut yang cepat dan komplit sehingga terbentuk bercak satu atau
lebih, berupa bulatan atau oval, biasanya dikepala dan tempat berambut lain.
3. Alopesia prematur
Sering terjadi pada pria berumur dua puluhan dan disertai dermatitis seboroika
yang berat.
Sindrom alopesia androgenik mempunyai prevalensi yang tinggi akhir-akhir ini.
Alopesia androgenik merupakan tipe kebotakan yang paling banyak, sekitar 50-80% dialami
laki-laki kaukasia. Pada wanita sekitar 20-40% populasi. Banyak pria usia muda yang
mengalami penipisan rambut kronis dan menjadi botak sebelum masanya.
Angka kejadian pada laki-laki sekitar 50% dan pada perempuan biasanya terjadi usia
lebih dari 40 tahun. Dilaporkan 13% dari perempuan premenopause menderita alopesia
androgenik, namun, insidennya sangat meningkat setelah menopause. Menurut beberapa
penulis, 75% dari perempuan yang berumur lebih dari 65 tahun kemungkinan menderita
alopesia androgenik. Insiden tertinggi pada orang kulit putih, kedua di Asia dan Afrika-
Amerika, dan terendah pada penduduk asli Amerika dan Eskimo. Hampir semua pasien
memiliki onset sebelum usia 40 tahun, walaupun banyak pasien (baik laki-laki dan
perempuan) menunjukkan bukti gangguan pada usia 30 tahun.
Sehingga dari peryataan-peryataan diatas penulis tertarik mengangkat makalah yang
berjudul alopesia androgenik.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tentang konsep dasar alopesia androgenik dan asuhan
keperawatannya
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui konsep dasar penyakit alopesia androgenik


b. Mengetahui asuhan keperawatan penyakit alopesia androgenik
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan fisiologi


1. Anatomi Kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari
pengaruh lingkungan. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas
ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50-1,75 m2. Rata-rata tebal kulit
1-2 mm. Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki, dan paling tipis (0,5
mm) terdapat di bagian genetalia.
Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu:
a. Epidermis
Epidermis terbagi menjadi empat lapisan :

1) Lapisan basal atau stratum germinativum

2) Lapisan malpighi atau startum spinosum

3) Lapisan granula atau stratum granulosum

4) Lapisan tanduk atau stratum korneum

b. Dermis
Dermis atau korium merupakan lapisan di bawah epidermis dan di atas jaringan
subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang di lapisan atas terjalin rapat (pars
papillaris), sedangkan di bagian bawah terjalin lebih longgar (pars reticularis).
Lapisan pars reticularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar
keringat, dan kelenjar sebaseus.
c. Subkutan
Jaringan subkutan merupakn lapisan yang langsung di bawah dermis. Batas antara
jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang terbanyak adalah liposit
yang menghasilkan banyak lemak. Jaringan subkutan mengandung saraf,
pembuluh darah, dan limfe, kandung rambut, dan dilapisan atas jaringan subkutan
terdapat kelenjar keringat. Fungsi jaringan subkutan adalah penyekat panas,
bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan energi.
2. Anatomi Rambut
Rambut merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh tubuh
kecuali telapak tangan, telapak kaki, kuku, ujung zakar, permukaan dalam bibir-bibir
kemaluan wanita, dan bibir. Jenis rambut pada manusia pada garis besarnya dapat
digolongkan 2 jenis:
a. Rambut terminal, rambut kasar yang mengandung banyak pigmen. Terdapat di
kepala, alis, bulu mata, ketiak, dan genitalia eksterna. Rambut terminal diproduksi
oleh folikel-folikel rambut besar yang ada di lapisan subkutis. Secara umum
diameter rambut > 0,03 mm.
b. Rambut velus, rambut halus sedikit mengandung pigmen, terdapat 16drene di
seluruh tubuh. Rambut velus diproduksi oleh folikel-folike rambut yang sangat
kecil yang ada di lapisan dermis, diameternya < 0,03 mm. (Soepardiman, Lily.
2010; Kusumadewi, dkk; Olsen, E. A. 1994)

Rambut dapat dibedakan menjadi bagian-bagian sebagai berikut:

a. Folikel Rambut, yaitu suatu tonjolan epidermis ke dalam berupa tabung yang
meliputi:

1) Akar rambut (folliculus pili), yaitu bagian rambut yang tertanam secara
miring dalam kulit.

2) Umbi rambut (bulbus pili), yaitu pelebaran bagian terbawah akar rambut
(Kusumadewi, dkk; Brown, Robin Graham dan Tony Burns).

b. Batang Rambut, yaitu bagian rambut yang berada diatas permukaan kulit. Batang
rambut terdiri atas 3 bagian, yaitu kutikula (selaput rambut), korteks (kulit
rambut), dan medulla (sumsum rambut) (Soepardiman, Lily. 2010; Kusumadewi,
dkk; Pusponegoro, Erdina H.D. 2002).
c. Otot Penegak Rambut (muskulus arector pili), merupakan otot polos yang berasal
dari batas dermo-epidermis dan melekat di bagian bawah kandung rambut. Otot-
otot ini dipersarafi oleh saraf-saraf 17drenergic dan berperan untuk menegakkan
rambut bila kedinginan serta sewaktu mengalami tekanan emosional.
(Kusumadewi, dkk; Brown, Robin Graham dan Tony Burns)
3. Fisiologi Rambut
a. Pengaturan Suhu Badan
Dalam kondisi dingin, pori-pori rambut akan mengecil. Dalam kondisi panas,
maka kondisi tersebut berlaku sebaliknya (Kusumadewi, dkk; Ridwan, Muhammad).

b. Fungsi Sebagai Alat Perasa


Rambut memperbesar efek rangsang sentuhan terhadap kulit. Sentuhan
terhadap bulu mata menimbulkan reflex menutup kelopak mata (Kusumadewi, dkk).
B. Konsep dasar penyakit alopesia androgenetika

1. Pengertian
Alopesia ini timbul pada pria usia 30-40 tahun atau lebih, berupa keguguran rambut
bertahap dari bagian verteks dan frontal.garis rambut anterior berangsur masuk ke dalam
( mundur), sehingga dahi terlihat bertatmbah lebar. ( prof. Dr. Marwali Harahap,200 hal
164 ).
Alopesia atau kerontokan rambut dapat terjadi akibat banyak keadaan seperti infeksi
kulit kepala, pemakaian obat pewarna rambut, penambahan usia, pemakaian obat-obatan
dan perubahan kadar hormon androgen. Alopesia andrgogenetik dapat terjadi pada laki-
laki dan wanita. Meskipun kebotakan pola laki-laki lazim dijumpai, wanita dapat pula
mengalami kerontokan rambut dengan pola yang sama. Karena rambut merupakan
bagian tubuh yang sangat visible dan menjadi bagian dari citra tubuh serta harga diri
seseorang, kerontokan rambut dapat menimbulkan permasalahan emosional dan social
yang cukup serius bagi laki-laki maupun perempuan. (Smeltzer & Bare, 2001 hal : 1907)
Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia
androtesticleas, male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah bentuk
umum kehilangan rambut pada laki-laki dan perempuan.
Alopesia Androgenik adalah gangguan yang sangat umum yang mempengaruhi baik
laki-laki dan perempuan. Insiden ini umumnya dianggap lebih besar pada laki-laki
daripada perempuan, meskipun beberapa bukti menunjukkan bahwa perbedaan insiden
merupakan cerminan dari ekspresi berbeda pada pria dan wanita. Kebotakan pada laki-
laki (alopesia androgenik) dianggap normal pada laki-laki dewasa.
Jika di lihat dari pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa alopesia
androgenetik adalah suatu gangguan yang bersifat umum ditandai dengan hilangnya
rambut, dan dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan.
2. Etiologi
Mekanisme yang tepat untuk terjadinya alopesi androgenik ini belum jelas,tetapi
diduga alopesia ini disebabkan stimulasi hormon androgen terhadap folikel rambut yang
mempunyai predisposisi. Predisposisi ini dipengaruhi faktor genetik dan faktor
peningkatan usia. ( prof. Dr. Marwali Harahap, 2000 hal : 165 ).
Alopesia Androgenetik disebabkan oleh efek Hormon – hormon Androgenik yang
mempengaruhi pertumbuhan rambut kepala pada Pria dan Wanita yang rentan secara
Genetik.Folikel-folikel yang membentuk rambut terminal perlahan-lahan berubah
menjadi folikel yang mirip Velus.;pada tahap-tahap akhir ,folikel akhirnya menjadi
atropik,Alopesia Androgenetik diatur oleh satu Gen autosomal dominan,terbatas jenis
kelamin,yang dapat terekspresi tak lengkap akibat faktor-faktor poligenik yang
mengubahnya.
3. Patofisologi
Siklus pertumbuhan rambut yang normal terbagi atas 3 fase, yaitu :
Fase Anagen : sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru mendorong
sel-sel yang lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya antara 2-6 tahun.
Fase Katagen : masa peralihan yang di dahului oleh penebalan jaringan ikat di
sekitar folikel rambut. Bagian tengah akar rambut menyempit dan bagian di bawahnya
melebar dan mengalami pertandukan sehingga terbentuk gada (club). Masa peralihan
ini berlangsung 2-3 minggu.
Fase Telogen atau masa istirahat dimulai dengan memendeknya sel epitel dan
berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga rambut gada akan
terdorong keluar. Lama masa anagen adalah berkisar 1000 hari, sedang masa telogen
sekitar 100 hari sehingga perbandingan rambut anagen dan telogen berkisar antara
12:1. Jumlah folikel rambut pada kepala manusia sekitar 100.000. Jumlah rambut
rontok per hari 100 helai.
Hormon androgen dapat mempercepat pertumbuhan dan menebalkan rambut di
janggut, ketiak, dan suprapubis tetapi pada kulit kepala, hormon androgen menyebabkan
rambut vellus nonpigmented. Namun, perbedaan efek tersebut belum jelas.
Penyebab alopesia androgenik adalah percepatan konversi hormon testosteron
menjadi hormon turunannya yaitu Dihydrotestosteron (DHT). Konversi ini terjadi sesaat
setelah proses pubertas berakhir atau kisaran usia 20 tahun. Hormon DHT menghasilkan
enzim tipe II, 5-a reductase. Folikel yang terpapar oleh DHT menjadi lemah dan tidak
mampu menumbuhkan batang rambut (graft sehat). Mekanisme kebotakan disebabkan
singkatnya durasi anagen akibat terpapar DHT, memanjangnya durasi telogen, dan
mengecilnya folikel rambut. Fase anagen lebih pendek sedangkan fase telogen
memanjang, rasio anagen dengan telogen dari 12:1 menjadi 5:1. Akibatnya lebih banyak
rambut berada fase telogen, sehingga penderita mengalami peningkatan kerontokan
rambut. Daerah ini bervariasi pada individu, namun biasanya ditandai kebotakan pada
vertex. Wanita dengan alopesia androgenik umumnya dimulai perluasan dari bagian
pusat dan kemudian kehilangan rambut atas mahkota. Hal ini bertahap sehingga akhirnya
mengalami kebotakan.
Rambut laki-laki secara bertahap mulai menipis di daerah temporal. Sebagian besar
evolusi kebotakan berkembang sesuai dengan klasifikasi Norwood/Hamilton bagian
depan dan vertex menipis. Rambut wanita biasanya mulai menipis di puncak.
Secara umum, perempuan mempertahankan garis rambut bagian depan. Laki-laki dan
perempuan dengan kelainan alopesia androgenik, rambut terminal pigmennya lebih tipis,
lebih pendek, tak jelas dan akhirnya menjadi rambut vellus nonpigmented secara
bertahap.
4. Web Of Caution

stimulasi hormon androgen

hormon testosteron

Dihydrotestosteron (DHT)

enzim tipe II, 5-a reductase

faktor genetik Folikel Rambut lemah faktor peningkatan usia

folikel menjadi atropik

ALOPESIA ANDROGENETIK

Resiko Gangguan
Integritas kulit
Anagen memendek Telogen Memanjang

Rambut fase telogen meningkat

Kerontokan rambut meningkat

Kebotakan

Malu,menutup kepala Kurang pengetahuan

Gangguan citra
tubuh
Perubahan penampilan secara drastis

Ansietas
5. Manifestasi klinis
Adapun gejala klinis alofesia androgenik menurut hamilton:
Tipe I : rambut masih penuh
Tipe II : tampak pengurangan pada rambut pada kedua bagian temporal
Tipe III : Border line
Tipe IV : pengurangan rambut daerah frontotemporal
Tipe V : tipe IV yang menjadi lebih berat
Tipe VI : seluruh kelainan menjadi satu
Tipe VII : alopesia luas di batasi pita rambut jarang
Tipe VIII : alopesia frontotemporal menjadi satu dengan bagian vertex
6. Prognosis

Prognosis kebotakan (alopesia) tergantung penyebabnya. Namun, prognosis


androgenetik alopesia tidak diketahui. Pada umumnya lebih mudah rambut rontok daripada
rambut tumbuh.

7. Diagnosis banding
Alopesia Areata : Penyebabnya belum diketahui, namun sering dihubungkan dengan
adanya infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres emosional. Gejala klinis ditandai
adanya bercak dengan kerontokan rambut pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu
mata.(2,18)
Trikotilomania : Alopesia neurosis, rambut ditarik berulang kali sehingga putus.
Sering pada gadis yang mengalami depresi. Kulit kepala normal tanpa peradangan atau
parut.(2)
Tinea Kapitis : Kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies
dermatofita seperti T. rubrum, T. Mentagrophytes, M. gypseum. Gejala ini ditandai
dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang-kadang terjadi gambaran
klinis yang lebih berat, yang disebut kerion.(3,16,18)
Telogen Efluvium : adanya kerontokan rambut terlalu cepat dan terlalu banyak pada
folikel rambut yang normal. Kelainan ini terjadi karena adanya rangsangan yang
mempercepat fase anagen menjadi fase telogen. Keadaan ini terjadi pada
pascapartum,pascanatal, stress, pascafebris akut.
8. Komplikasi
Rambut rontok dapat menyebabkan gangguan kosmetik, mempengaruhi secara
psikologis (kecemasan) dan jarang monosymptomatic hypochondriasis. Kulit kepala
botak mudah terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), dan menimbulkan Multipel
Actinic Keratosis.

9. Penatalaksanaan
a. Medis

1) Preparat topikal minoksidil 2 % (Rogaine)


(Olsen, 1994 dalam Smeltzer & Bare, 2001 hal : 1908).
2) Preparat tropikal tretinoin
3) Transplantasi Rambut
4) Punch grafting
5) Sclep reduction atau pengurangan kulit kepala
( prof. Dr. Marwali Harahap,200 hal 165 )

10. Pemeriksaan penunjang


a. Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan testosteron perlu
dilakukan, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan kelebihan hormon
androgen dengan alopesia androgenik.
b. Biopsi jarang dibutuhkan untuk membuat diagnosis. Jika satu spesimen biopsi
diperoleh, itu umumnya dipotong melintang jika pola alopesia dicurigai.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN RAMBUT :


ALOPESIA ANDROGENETIKA

A. Pengkajian Keperawatan
1. Biodata
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
a. Kapan pasien pertama kali mengetahui masalah rambut ini?
b. Apa ada gejala yang lain?
c. Pada rambut bagian mana tempat pertama kali terkena?
d. Apakah terdapat kerontokan?
e. Apakah masalah tersebut menjadi bertambah parah pada waktu tertentu?
f. Apakah pasien dapat menjelaskan bagaimana kelainan tersebut berawal?
g. Obat-obatan apa yang anda gunakan?
4. Riwayat penyakit dahulu
Apakah masalah penyakit rambut yang dideritanya pernah terjadi sebelumnya?
5. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada diantara anggota keluarga anda yang mengalami masalah rambut seperti
ini?
6. Riwayat psikososial
7. Kebiasaan sehari-hari
8. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Pasien berada dalam ruangan dalam penerangan yang baik.
1) Catat warna rambut klien
2) Lesi yang abnormal
3) Mobilitas kondisi rambut
4) Gejala gatal-gatal
5) Kerontokan rambut
b. Palpasi
Dalam melakukan tindakan ini pemeriksa harus menggunakan sarung tangan.
Tindakan ini dimaksudkan untuk memeriksa:
1) Sibak rambut klien untuk melihat distribusi
2) Tekstur rambut
3) kerontokan

B. Diagnosa keperawatan
1. Kecemasan ( ansietas ) b.d Perubahan konsep diri
2. Gangguan konsep diri (body image) b.d perubahan penampilan fisik
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penyakit (alopesia androgenetik)
4. Kurang pengetahuan terhadap penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d
kurang pemajanan, kesalahan interpretasi, kurang informasi
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
perubahan konsep diri, - Koping kecemasan)
Setelah dilakukan asuhan · Gunakan pendekatan yang
selama ……………klien menenangkan
kecemasan teratasi dgn · Nyatakan dengan jelas harapan
kriteria hasil: terhadap pelaku pasien
v Klien mampu · Jelaskan semua prosedur dan apa yang
mengidentifikasi dan dirasakan selama prosedur
mengungkapkan gejala
· Temani pasien untuk memberikan
cemas keamanan dan mengurangi takut
v Mengidentifikasi,
· Berikan informasi faktual mengenai
mengungkapkan dan diagnosis, tindakan prognosis
menunjukkan tehnik
· Libatkan keluarga untuk mendampingi
untuk mengontol cemas klien
v Vital sign dalam batas · Instruksikan pada pasien untuk
normal menggunakan tehnik relaksasi
v Postur tubuh, ekspresi · Dengarkan dengan penuh perhatian
wajah, bahasa tubuh dan · Identifikasi tingkat kecemasan
tingkat aktivitas
· Bantu pasien mengenal situasi yang
menunjukkan menimbulkan kecemasan
berkurangnya kecemasan· Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
· Kelola pemberian obat anti
cemas:........
Gangguan citra tubuh b.d NOC : Citra tubuh Intervensi :
perubahan penampilan Kriteria Hasil : 1. pantau frekuensi pernyataan yang
• Kongruen antara realitas mengkritik diri
tubuh, ideal tubuh, dan 2. ajarkan keluarga pentingnya respon
wujud tubuh mereka terhadap peubahan tubuh
• Kepuasan terhadap 3. dengarkan pasien / keluarga secara
penampilan dan fungsi aktif
tubuh 4. beri dorongnan kepada pasien /
• Mengidentifikasi keluarga untuk mengungkapkan perasaan
kekuatan personal 5. berikan perawatan dengan cara yang
• Memelihara hubungan tidak menghakimi, peihara privasi.
social yang dekat dan
hubungan personal
Risiko gangguan integritas NOC : NIC : Pressure Management
kulit - Tissue Integrity : Skin § Anjurkan pasien untuk menggunakan
and Mucous Membranes pakaian yang longgar
Faktor-faktor risiko : - Status Nutrisi § Hindari kerutan padaa tempat tidur
Penyakit - Tissue Perfusion:perifer § Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
- Dialiysis Access dan kering
Integrity § Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali
Setelah dilakukan § Monitor kulit akan adanya kemerahan
tindakan keperawatan § Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
selama…. Gangguan derah yang tertekan
integritas kulit tidak § Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
terjadi dengan kriteria § Monitor status nutrisi pasien
hasil: § Memandikan pasien dengan sabun dan air
v Integritas kulit yang baik hangat
bisa dipertahankan § Gunakan pengkajian risiko untuk
v Melaporkan adanya memonitor faktor risiko pasien (Braden
gangguan sensasi atau Scale, Skala Norton)
nyeri pada daerah kulit § Inspeksi kulit terutama pada tulang-
yang mengalami tulang yang menonjol dan titik-titik
gangguan tekanan ketika merubah posisi pasien.
v Menunjukkan pemahaman § Jaga kebersihan alat tenun
dalam proses perbaikan § Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
kulit dan mencegah pemberian tinggi protein, mineral dan
terjadinya sedera berulang vitamin
v Mampu melindungi kulit § Monitor serum albumin dan transferin
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
v Status nutrisi adekuat
v Sensasi dan warna kulit
normal

Kurang Pengetahuan NOC: NIC :


Berhubungan dengan : v Kowlwdge : disease · Kaji tingkat pengetahuan pasien dan
keterbatasan kognitif, process keluarga
interpretasi terhadap v Kowledge : health · Jelaskan patofisiologi dari penyakit
informasi yang salah, Behavior dan bagaimana hal ini berhubungan
kurangnya keinginan untuk Setelah dilakukan dengan anatomi dan fisiologi, dengan
mencari informasi, tidak tindakan keperawatan cara yang tepat.
mengetahui sumber-sumber selama …. pasien · Gambarkan tanda dan gejala yang
informasi. menunjukkan biasa muncul pada penyakit, dengan cara
pengetahuan tentang yang tepat
proses penyakit dengan · Gambarkan proses penyakit, dengan
kriteria hasil: cara yang tepat
v Pasien dan keluarga · Identifikasi kemungkinan penyebab,
menyatakan pemahaman dengan cara yang tepat
tentang penyakit, kondisi,· Sediakan informasi pada pasien
prognosis dan program tentang kondisi, dengan cara yang tepat
pengobatan · Sediakan bagi keluarga informasi
v Pasien dan keluarga tentang kemajuan pasien dengan cara
mampu melaksanakan yang tepat
prosedur yang dijelaskan · Diskusikan pilihan terapi atau
secara benar penanganan
v Pasien dan keluarga · Dukung pasien untuk mengeksplorasi
mampu menjelaskan atau mendapatkan second opinion dengan
kembali apa yang cara yang tepat atau diindikasikan
dijelaskan perawat/tim · Eksplorasi kemungkinan sumber atau
kesehatan lainnya dukungan, dengan cara yang tepat
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Alopesia androgenetik (androgenetic alopecia) adalah bentuk umum kehilangan
rambut pada pria dan wanita. Pada pria, kebotakan rambut terjadi dalam pola yang jelas,
dimulai di atas kedua pelipis. Seiring waktu, garis rambut surut ke belakang untuk
membentuk pola huruf “M”. Rambut juga menipis di mahkota yang sering berkembang
menjadi kebotakan parsial atau lengkap.
Pola kerontokan rambut pada wanita berbeda dengan pada laki-laki. Pada wanita,
rambut menipis di seluruh kepala, dan garis rambut tidak surut. Alopesia androgenetik
pada wanita jarang yang mengarah pada kebotakan total.
Alopesia androgenetik dapat dimulai saat remaja dan meningkat risikonya dengan
usia. Lebih dari 50 persen pria di atas usia 50 tahun memiliki beberapa tingkat
kerontokan rambut. Pada wanita, kerontokan rambut paling mungkin terjadi setelah
menopause.
Istilah yang mungkin terkait dengan Alopesia Androgenetik :
 Kerontokan Rambut
 Alopesia Marginalis
 Kebotakan Pola Pria
 Alopesia Areata
B. SARAN
a. Diperlukan suatu pemahaman yang baik agar tidak salah dalam memahami tentang
alopesia androgenik, khususnya mengenai definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi
klinis, pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, diagnosa keperawatan, rencana
tindakan, penatalaksanaan medis, dari dermatitis seboroik.
b. Memberikan asuhan keperawatan kepada klien yang mengalami penyakit dermatitis
secara profesional
c. Memberikan pendidkan kesehatan kepada masyarakat tentang kebersihan diri dan
pola diet yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

http://ners-novriadi.blogspot.com/2012/08/alopesia-androgenetika_9.html

http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/alopesia-androgenetik-
_-951000103201

http://kamuskesehatan.com/arti/alopesia-androgenetik/