Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Topik

: Peran Keluarga terhadap Ibu dan Bayi

Sasaran

: Keluarga Pasien

Hari, tanggal : Jumat, 25 Desember 2015


Waktu

: Pukul 14.00 WIB

Tempat

: Ruang VK (Bersalin) R.S.U.D. dr. Soedarso Pontianak

A. PENGKAJIAN UMUM
1. Data Subjektif :
a. Keluarga mengatakan belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang
peran keluarga terhadap ibu dan bayi.
b. Keluarga mengatakan belum tau secara benar apa-apa saja yang dapat
dilakukan keluarga kepada ibu dan bayi.
2. Data Objektif :
a. Keluarga klien tampak masih bingung saat ditanya perawat mengenai
peran keluarga terhadap ibu dan bayi.
b. Keluarga selalu bertanya bagaimana cara memenuhi kebutuhan ibu dan
bayi didalam keluarga.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Defisiensi pengetahuan (peran keluarga terhadap ibu dan bayi)
berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
2. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan memenuhi kebutuhan ibu dan
bayi

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang peran keluarga
terhadap ibu dan bayi selama 1 x 1 jam, keluarga diharapkan dapat
mengetahui dan paham mengenai peran keluarga terhadap ibu dan bayi yang

baru lahir, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah disampaikan


kepada keluarga dirumah.
2. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah menerima penyuluhan kesehatan selama 1 x 1 jam, keluarga
klien dapat :
a. Memahami dan menyebutkan peran keluarga terhadap ibu
b. Memahami dan menyebutkan peran keluarga terhadap bayi yang baru
lahir
c. Memahami dan menyebutkan hal-hal yang dibutuhkan ibu dan bayi
D. MATERI PEMBELAJARAN
1. Pengertian Keluarga
2. Macam-macam Peran Keluarga terhadap Ibu dan Bayi
3. Macam-macam Peran Ayah terhadap Ibu dan Bayi
E. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. ALAT BANTU BELAJAR
1. Materi tentang Peran Keluarga terhadap Ibu dan Bayi dalam bentuk
Lembar Balik
2. Leaflet

G. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Waktu

Tahap

Kegiatan Perawat
Salam Terapeutik

Kegiatan Klien
Menjawab salam

Media

Komunikasi

perawat
Evaluasi / Validasi
10 menit

Orientasi

Menanggapi evaluasi /
validasi perawat

Menyampaikan tujuan

Mendengarkan tujuan

penyuluhan

disampaikannya
penyuluhan

Mengkondisikan klien
lebih santai dan
berkonsentrasi dalam
penyampaian materi

Klien menanggapi dan


mengikuti instruksi
perawat

Klien mendengarkan
30 menit

Kerja

Penyampaian Materi

dan menyimak

Lembar Balik

penyampaian materi
oleh perawat

Evaluasi

Klien menanggapi

Perawat menjawab

Klien bertanya tentang

pertanyaan klien

materi yang belum


dimengerti

20 menit

Terminasi

Mengevaluasi ulang
materi dan memberi
kesempatan klien
untuk menyimpulkan
keseluruhan dari
materi yang

Mendengarkan ulang
materi oleh perawat
dan memberikan
kesimpulan tentang

Leaflet

materi yang telah


disampaikan

disampaikan
Memberikan Leaflet

Menanggapi

fraktur

pemberian perawat
dengan baik

Salam Penutup

Menjawab salam

H. EVALUASI BELAJAR
1. Apa pengertian keluarga ?
2. Apa saja peran keluarga terhadap ibu dan bayi ?
3. Apa saja peran ayah terhadap ibu dan bayi ?
I. KUNCI JAWABAN
1. Keluarga adalah sekumpulan orang (rumah tangga) yang memiliki
hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya
fungsi-fungsi instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekspresif keluarga
bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan (Freud, 2003)
2. Dukungan sosial dari lingkungan di sekitar ibu, mempunyai peran yang
besar terhadap keberhasilan menyusui. Dukungan sosial itu berasal
dari lingkungan di sekitar ibu, selain suami, juga keluarga seperti nenek dan
keluarga lain yang sudah mempunyai pengalaman menyusui. Peran nenek si
bayi

biasanya

dominan

terhadap

ibu.

Konsultan

laktasi

harus

memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyusui


termasuk peran nenek. Pada keluarga besar, banyak pendapat yang kadangkadang membingungkan ibu, untuk itu kita harus secara hati-hati memberi
penjelasan yang bisa diterima ibu. Selain itu pengaruh media masa seperti
TV, majalah, buku-buku tentang ASI dan internet yang bisa diakses ibu /
ayah sangat membantu keluarga dalam proses menyusui.
3. Ayah harus ikut berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan,
mempunyai sikap yang positif, dan mempunyai pengetahuan yang luas
tentang keuntungan menyusui, ternyata sangat mendukung ibu. Kelekatan
ayah

dengan

bayi

dapat

ditingkatkan dengan cara ayah hadir pada proses persalinan dan


kontak lebih dekat dengan bayi selama masa neonatal. Ayah harus belajar
mengenali sinyal-sinyal yang dikeluarkan oleh bayi, banyak membaca, ikut
perkumpulan orang tua, belajar dari orang tua atau teman-temannya,
sehingga diharapkan ayah dapat berinteraksi lebih erat dengan bayinya.
Membuat jaringan (network) dengan keluarga lain yang mempunyai
pengalaman sebelumnya memungkinkan ayah bertukar pikiran dengan
mereka dan memahami pentingnya menyusui. Dari suatu penelitian,
dikatakan bahwa ibu yang lebih lama menyusui mempunyai hubungan
4

emosional yang baik dengan suami dan ibunya, dan lebih percaya diri,
dibandingkan dengan mereka yang cepat menyapih.
J. LAMPIRAN
1. Materi
2. Dokumentasi Penyuluhan
3. Leaflet

Lampiran 1
Peran Keluarga terhadap Ibu dan Bayi
Menurut Sarwono (2003) dukungan adalah suatu upaya yang diberikan
kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut
dalam melaksanakan kegiatan. Menurut Santoso (2001) dukungan yaitu suatu
usaha untuk menyokong sesuatu atau suatu dayaupaya untuk membawa sesuatu.
Bailon dan Maglaya dalam Sudiharto (2007) menyatakan, bahwa keluarga
adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah,
perkawinan atau adopsi. Mereka hidup dalam satu rumah tangga, melakukan
interaksi satu sama lain menurut peran masing-masing, serta menciptakan dan
mempertahankan suatu budaya. Keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari
dua orang atau lebih yang di rekat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta
tinggal bersama. Dukungan keluarga merupakan suatu proses yang terjadi
sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan berbeda-beda pada setiap
tahap siklus kehidupan (Friedman, 1998).
Sudiarto (2007), menyatakan setiap anggota keluarga mempunyai struktur
peran formal dan informal, misalnya ayah mempunyai peran formal sebagai
kepala keluarga dan pencari nafkah. Peran informal ayah adalah sebagai panutan
dan pelindung keluarga. Struktur keluarga meliputi kemampuan berkomunikasi,
kemampuan keluarga saling berbagi, kemampuan sistem pendukung di antara
anggota keluarga, kemampuan perawatan diri dan kemampuan menyelesaikan
masalah. Menurut Bugges dalam Friedman (1998) keluarga terdiri dari orangorang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi. Para
anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga,
atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga
tersebut sebagai rumah mereka. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi
satu sama lain dalam peran-peran sosial keluarga seperti suami isteri, ayah dan
ibu, anak laki-laki dan anak perempuan. Keluarga sama-sama menggunakan
kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri

unik tersendiri. Menurut Friedman (1998), tipe-tipe keluarga antara lain (1)
keluarga inti atau konjugal yaitu keluarga yang menikah, sebagai orang tua ayah
pemberi nafkah, keluarga inti terdiri dari suami, isteri dan anak mereka, baik anak
kandung maupun anak adopsi, (2) keluarga orientasi atau keluarga besar yaitu
keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan darah seperti kakek/nenek, bibi,
paman dan sepupu.
Friedman dalam Sudiharto (2007), menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga
antara lain adalah fungsi efektif, yaitufungsi internal keluarga untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih, serta saling
menerima dan mendukung. Menurut Friedman (2003) dukungan keluarga
merupakan bagian integral dari dukungan sosial. Dampak positif dari dukungan
keluarga adalah meningkatkan penyusuaian diri seseorang terhadap kejadiankejadian dalam kehidupan.
Baik keluarga inti maupun keluarga besar berfungsi sebagai sistem
pendukung bagi anggotanya. Caplan (1976) dalam Friedman (1998) menjelaskan
bahwa keluarga memiliki fungsi dukungan yaitu dukungan informasional,
dukungan penilaian, dukungan isntrumental dan dukungan emosional. Dukungan
informasional adalah keluarga berfungsi sebagai sebuah keluargadiseminator atau
penyebar informasi tentang semua informasi yang ada dalam kehidupan. Keluarga
berfungsi sebagai
pencari informasi yang berhubungan dengan masalah menyusui dari tenaga
kesehatan, dan melakukan konsultasi, serta mencari informasi dari media cetak
maupun sumber lain yang mendukung. Dukungan penilaian adalah jenis
dukungan dimana keluarga bertindak sebagai pembimbing dan bimbingan umpan
balik, memecahkan masalah dan sebagai sumber validator identitas anggota dalam
keluarga. Dukungan instrumental adalah bentuk
dukungan dimana keluarga sebagai sebuah sumber petolongan praktis dan
kongkrit untuk menyelesaikan masalah, dan dukungan emosional adalah bentuk
dukungan dimana keluarga sebagai sebuah tempat pemulihan yang aman dan

damai untuk beristirahat dan membantu secara psikologis untuk menstabilkan


emosi dan mengendalikan diri. Salah satu bentuknya adalah melalui pemberian
motivasi dan sebagai fasilitator serta mendengarkan seluruh keluhan-keluhan
anggota keluarga atau ibu terhadap masalah yang sedang dihadapinya (Caplan
dalam Friedman 1998).
Menurut Watson dalam Friedman (1998), salah satu bentuk dukungan
keluarga berupa pemberian bantuan dalam bentuk materi seperti pinjaman uang,
bantuan fisik berupa alat-alat atau lainnya yang mendukung dan membantu
menyelesaikan masalah. Dalam mengatasiketegangan kehadiran keluarga sangat
penting untuk mendorong ibu dalam meningkatkan kepercayaan diri dan
menstabilkan emosinya, serta memberikan motivasi yang besar terhadap ibu yang
menyusui.
Menurut Sudiharto (2007) dukungan keluarga mempunyai hubungan dengan
suksesnya pemberian ASI Eksklusif kepada bayi. Dukungan keluarga adalah
dukungan untuk memotivasi ibu memberikan ASI saja kepada bayinya sampai
usia 6 bulan, memberikan dukungan psikologis kepadaibu dan mempersiapkan
nutrisi yang seimbang kepada ibu. Menurut Roesli (2007), suami dan keluarga
dapat berperan aktif dalam pemberian ASI dengan cara memberikan dukungan
emosional atau bantuan praktis lainnya.

DOKUMENTASI PENDIDIKAN KESEHATAN


RUANG VK (BERSALIN) RSUD. dr. Soedarso Pontianak

10