Anda di halaman 1dari 12

I.

Pemeriksaan Makroskopis Urin


A. Alat dan bahan:
1. Urin
2. Tabung urinometer
3. Alat pemutar tabung urinometer/sentrifugasi
B. Langkah Kerja:
1. Siapkan alat dan bahan
2. Amati warna, kekeruhan, bau, buih dari urin
3. Kemudian menghitung berat jenis dengan cara masukkan urin ke dalam tabung
urinometer
4. Sentifuge selama 5 menit
5. Baca hasil berat jenis setinggi miniskus bawah
C. Tinjauan Teoritis :
Cara pengambilan sampel :
Urin spontan

: ditampung saat dikemihkan

Urin kateter

: diambil langsung dari kandung kemih/ keluar dari kateter

Urin Supra Pubik : diambil dengan pungsi lewat supra pubik ke dalam kandung kemih
Macam Sampel :
Urin pagi I

: untuk pemeriksaan rutin

Urin pagi II

: untuk melihat kemungkinan ada silinder dan unsur yang berasal dari ginjal

Urin sewaktu

: untuk screening, terlalu encer sehingga kurang memberikan informasi

Urin tapung

: untuk pemeriksaan kuantitatif

1. Jumlah urin
Tujuan : - menentukan ada atau tidaknya gangguan faal ginjal
- keseimbangan cairan badan
- menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif dan kualitatif urin.
.Cara mengukur jumlah urin :
- Urin 24 jam prod. dewasa 800-1300 ml
- Urin siang 12 jam dan urin malam 12 jam produksi urin siang 2 sampai 4 kali lebih banyak
daripada urin malam .
- Timed specimen pada sesuatu percobaan detil untuk jumlah absolut

- Urin sewaktu untuk protein


2. Warna
Warna urin tergantung besarnya dieresis dan zat pelarut di dalam urin, makin besar
dieresis, maka makin muda warna urin. Warna urin :

tidak berwarna
kuning muda
kuning
kuning tua
kuning bercampur merah

merah bercampur kuning


merah
coklat kuning bercampur hijau
putih seperti susu

Normal: kuning muda sampai kuning tua Warna urin disebabkan

adanya zat warna urochrom dan urobilin.

Kelainan warna :
Tak Patotogis : warna berasal dari makanan atau obat (pewarna)
Patologis : Seperti teh : bilirubin

Hijau
: biliverdin

Putih keruh
: pus

Putih susu : chillus

Merah
: darah (hemoglobin, porfirin, porfobilin, obat-obatan dan

diagnostika)

3. Kekeruhan
Jenis-jenis kekeruhan: - Jernih

- Agak keruh

- Keruh/sangat keruh
Kekeruhan dapat timbul :
a. Sejak dikemihkan :
- Urin mengandung kristal dalam jumlah besar. Kekeruhan ini dapat dihilangkan dengan

menambah asam encer.


- Urin mengandung bakteri dalam jumlah banyak, biasanya disertai unsure-unsur lain

dalam sedimen. Kekeruhan ini akan menetap.


- Unsur-unsur dalam sedimen bertambah (seperti eritrosit, leukosit, epitel)
- Chilus dan lemak : urin menyerupai susu encer. Adanya butir-butir lemak (lipuria)

secara mikroskopis
- Benda-benda koloid : urin tidak dapat dijernihkan dengan filtrasi/ sentrifugasi
b. Kekeruhan timbul sesudah dibiarkan :
- Nubecula
- Urat2 amorf dalam urin asam dan dingin keruh, endapan berwarna putih atau merah

jambu. Bila dipanasi, maka kekeruhan akan hilang


- Fosfat amorf dan karbonat mengendap pada urin lindi/basa.
Ciri: Fosfat larut bila dipanaskan sedangkan karbonat akan mengeluarkan gas

karbondioksida.
- Bakteri-bakteri dari luar tubuh (mungkin dari perkembangbiakan bakteri di penampung
yang kotor) bakteri tampak banyak disertai penambahan unsur-unsur sedimen

Normal: jika urin dibiarkan/didinginkan, lendir, sel-sel epitel dan lekosit yang lambat
laun mengendap.
4. Bau

Bau perlu diperhatikan adanya kemungkinan bau abnormal. Bau urin

normal oleh asam-asam organic yang mudah menguap.


Bau urin dari awal:
- Makanan: petai, jengkol, durian
- Obat-obatan: terpentin, menthol

- Bau amoniak: akibat perombakan bakteriil dari

ureum di dalam kantong

kencing pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet.

- Bau keton: mirip bau buah-buahan/ bunga setengah layu.

- Bau busuk: akibat perombakan zat-zat protein, misalnya pada carcinoma saluran

kemih
Bau urin setelah dibiarkan :

- Bau amoniak: urin yang dibiarkan tanpa pengawet.

- Bau busuk: akibat pembusukan urin yang mengandung banyak protein diluar
tubuh.
5. Buih
Pemeriksaan buih dapat membantu kecurigaan adanya abnormalitas urin.
Cara kerja :
- Masukkan 5 cc urin dalam tabung reaksi, kemudian kocok beberapa saat sampai keluar
buih.

- Amati warna dan waktu hilangnya buih tersebut.


Penilaian :
Normal
: Putih, jernih, dan cepat hilang
Abnormal
: Putih, jernih, waktu hilangnya buih lama atau bahkan tidak mau hilang.
Hal ini dikarenakan kemungkinan protein, dibuktikan lagi pada pemeriksaan protein urin.
6. Berat Jenis (BJ)
Cara pemeriksaan BJ :
- Tuangkan urin secukupnya ke dalam tabung urinometer
- Masukkan urinometer ke tabung untuk difiltrasi/sentrifugasi dan putar dengan ibu jari
dan telunjuk lalu baca pada tangkai urinometer setinggi meniskus bawah
Normal: - 1,016 1,022 (lazim: 1,016-1,022) pada urin 24 jam

- 1,003 1,030 pada urin sewaktu

Abnormal : - Jika lebih dari 1,030, kemungkinan glukosuria, dalam pemeriksaan


diagnostik rontgen untuk ginjal
- Bl jumlah urin sedikit, tapi harus cek BJ, maka harus ditambah
aquadestilata dan 2 angka terakhir dari pembacaan harus dikali 2.

Penilaian BJ sewaktu juga dapat memberi kesan terhadap faal pemekatan


ginjal. Urin sewaktu dengan BJ lebih dari 1,025 atau lebih tinggi, tanpa ada reduksi, tidak

terdapat protein, menunjukkan faal ginjal sangat baik.


Kelainan BJ : - BJ rendah disebabkan gagal ginjal

- BJ tinggi pada dehidrasi DM (urin encer, volume besar)

D. Hasil Pemeriksaan :
Sampel yang diambil : urin spontan (ditampung saat dikemihkan).
1. Jumlah urin : Diambil urin sewaktu. Jumlah urin yang ditampung secukupnya, sesuai

kebutuhan pemeriksaan.
2. Warna urin : Kuning muda (normal)
3. Kekeruhan : Jernih (normal)
4. Bau urin : bau amoniak (normal, karena dibiarkan tanpa pengawet)
5. Buih : putih, jernih, dan cepat hilang (normal)
6. Berat Jenis : 2,1 (normal, karena pada pemeriksaan protein tidak ditemukan adanya
protein dan pada pemeriksaan reduksi tidak ditemukan adanya glukosa. Meskipun lebih
tinggi dari normal, yaitu 1,003 1,030, tapi hasil ini menunjukkan faal ginjal sangat baik.)

II. Pemeriksaan Protein Urin

A. Alat dan bahan :


1. Urin jernih
2. Tabung reaksi
3. Lampu spiritus
4. Reagen : asam acetat 6%

B. Langkah Kerja :
1. siapkan alat dan bahan
2. masukkan urin kedalam tabung reaksi hingga dua pertiga penuh
3. miringkan dan panaskan bagian permukaan urin diatas lampu spirtus hingga mendidih
selama 30 detik
4. amati hasilnya dan bandingkan dengan bagian bawah yang tak dipanasi sebagai kontrol
negatif
5. apa bila terjadi kekeruhan, teteskan 3-5 tetes asam acetat 6%. Jika kekeruhan hilang
urin tidak mengandung protein, bila kekeruhan menetap kemungkinan protein positif

C. Tinjauan Teoritis :
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui adanya protein dalam urin.
Syarat pemeriksaan : Urin jernih dan sedikit asam. Apabila urin keruh, saringlah atau
tambahkan zat lain hingga urin jernih.
Metode pemeriksaan : Metode rebus dan metode sulfosalisilat. Pada pemeriksaan ini
digunakan metode rebus.
Interpretasi terhadap hasil pemeriksaan :

- Negatif (-) : tidak ada kekeruhan

- Positif + /1 +
: ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir,

kadar 0,01 0,05%


- Positif ++/2+
:kekeruhan mudah dilihat dan tampak butir-

butir dalam kekeruhan, kadar 0,05 0,2%


- Positif +++/3+
: urin jelas keruh &

berkeping-keping, kadar 0,2 0,5%


- Positif ++++/4+
: urin sangat keruh dan kekeruhan berkeping

kekeruhan itu

keping.
- Positif palsu
: kekeruhan yang timbul oleh obat yang dikeluarkan lewat
urin

- Negatif palsu

: urin terlalu encer

D. Hasil Pemeriksaan :

Setelah melakukan pemeriksaan protein urin dengan metode rebus sesuai


langkah-langkah yang ada, hasilnya:
Urin yang diperoleh jernih/ negatif (-), menandakan bahwa tidak terdapat protein dalam
sampel urin. Waktu yang dibutuhkan agar urin mendidih setelah penambahan 5 tetes
asam acetat 6 % adalah 4 menit 10 detik.

III. Pemeriksaan Glukosa Urin (dengan Benedict)

A. Alat dan bahan :


1. Urin yang telah dideproteinisasi
2. Tabung reaksi
3. Lampu spiritus
4. Penjepit tabung
5. Pipet tetes
6. Reagen : Benedict yang berisi cupri sulfat, trisodium sitrat, sodium carbonat.
B. Langkah Kerja :
1. siapkan alat dan bahan
2. masukkan 5 ml reagen benedict kedalam tabung reaksi
3. teteskan 5-8 tetes urin yang telah dideproteintasi
4. panaskan diatas spirtus selama 5 menit
5. angkat dan kocok tabung reaksi
6. Baca hasilnya
C. Tinjauan Teoritis :

Pemeriksaan ini disebut juga pemeriksaan reduksi, yang merupakan


penyaring untuk mengetahui adanya gula dalam urindan sifatnya semi kuantitaif. Pada
keadaan normal, karbohidrat diekskresi lewat urin dalam jumlah yang kecil ( kurang dari
50 mg/ml).

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan metode Benedict dan metode

Fehling. Pada pemeriksaan glukosa kali ini digunakan dengan metode benedict, karena

ada 4 kebaikan metode benedict, yaitu :


1. Macam reagen
2. Lebih sensitive dibandingkan metode Fehling
3. Semi kuantitatif
4. Bahan pemeriksaan sedikit

Prinsip metode Benedict : dengan pemanasan urin dalam suasana alkalis,


glukkosa akan mereduksi cupri sulfat dan terbentuk endapan cupri hidroksida yang

berwarna merah.

Interpretasi terhadap hasil penilaian :


- Negatif (-) : biru jernih atau kehijauan
- Positif + /1 + : hijau kekuningan, keruh, atau terdapat endapan kuning
(sesuai 0,5 1% glukosa)
- Positif ++/2+ : Filtrat kekuningan endapan kuning (1 1,5% glukosa)

- Positif +++/3+

3,5% glukosa)
- Positif ++++/4+
: Filtrat jernih, endapan merah bata (lebih dari 3,5% glukosa)
- Positif palsu : - Adanya obat, misalnya vitamin C
- Polisakarida lain yang dapat mereduksi reagen benedict, seperti fruktosa,

: Filtrat jingga atau lumpur keruh, terdapat endapan merah (2

galaktosa dan pentosa.


- Pemanasan terlalu lama.
- Negatif palsu: - Urin asam atau kreatinin yang tinggi dalam urin

- Pemanasan inadekuat
D. Hasil Pemeriksaan :

Setelah melakukan pemeriksaan glukosa urin menggunakan metode


benedict dengan mengikuti semua langkah kerja yang ada, maka hasilnya :
Urin yang telah dicampurkan dengan reagen benedict dan dipanaskan di atas api (spirtus),
memiliki warna biru yang jernih/ negatif (-), menunjukkan bahwa sampel urin tidak

mengandung glukosa.

IV. Pemeriksaan Indikator Universal

A. Alat dan Bahan :


1. Urin yang telah di deproteinisasi
2. Pita indicator universal
3. Tabung indicator universal
B. Langkah Kerja:
1. Siapkan alat dan bahan
2. Celupkan pita indicator universal hingga semuanya terendam oleh urin
3. Sesuaikan warna pada pita indicator universal terhadap tabung indicator universal
4. Jika warnanya sama, maka hasilnya positif sesuai dengan keterangan yang ada pada
tabung indicator universal.

C. Hasil Pemeriksaan

1. Urobilinogen : Negatif (-)

2. Glukosa: Negatif (-)

3. Bilirubin
: Negatif (-)

4. Ketones: Negatif (-)

5. Spez-Gew
: Negatif (-)

6. Blood : Negatif (-)

7. pH
:6

8. Protein trace : Negatif (-)

9. Nitrit : Negatif (-)

10. Leukosit
: Negatif (-)

11. Asam absorpsi: Negatif (-)

V. Pemeriksaan Mikroskopis (Sedimen Urin)

A. Alat dan Bahan :


1. Urin yang telah disentrifuge
2. Objek glass
3. Deck glass
4. Pipet tetes

B. Langkah Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan
2. Buang filtrat pada urin yang telah disentrifuge. Sisakan 0.5 ml, lalu kocok dengan hatihati agar sedimen larut dan tercampur dengan rata.
3. Teteskan urin tersebut menggunakan pipet tetes ke atas object glass.
4. Tutup dengan deck glass secara hati-hati agar tidak ada gelembung udara
5. Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali.

C. Hasil Pemeriksaan :

1. Sel darah dan epitel : Negatif (-)

2. Silinder
: Negatif (-)

3. Bakteri dan jamur : Negatif (-)

4. Protozoa
: Negatif (-)

5. Kristal
: Negatif (-)

LAPORAN PRAKTIKUM
PATOLOGI KLINIK PEMERIKSAAN URIN

Disusun Oleh :

1.
2.
3.
4.
5.

Deny EkaSaputra
Muthia Khanza AB
Muhammad Yudhi Surya Chandra
Ali Subekti
Agustina Br Pakpahan

Kelompok 7
(G1A113135)
(G1A113136)
(G1A113137)
(G1A113138)
(G1A113139)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

TAHUN AJARAN 2013/2014