Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

FISIKA LINGKUNGAN
PENANGGULANGAN DAN MITGASI BENCANA
BANJIR DAN BENCANA AIR LAINNYA

Disusun Oleh :
Kelompok 1
Aziz Eko P
Bara Wahyu R
Devara Ega F
Diani Galih S
Hanin Fatihatul Y

M0214011
M0212021
M0212025
M0212028
M0212040

Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret Surakarta
2015

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Menurut (Hidayati, 2005) bencana adalah keadaan yang mengangu kehidupan
sosial ekonomi masyarakat yang disebabkan oleh gejala alam atau perbuatan
manusia. Bencana dapat terjadi melalui suatu proses yang panjang atau situasi
tertentu dalam waktu yang sangat cepat tanpa adanya tanda-tanda. Dampak dari
bencana dapat bervariasi, tergantung pada kondisi dan kerentaan lingkungan dan
masyarakat.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penyebab bencana dapat dibagi
menjadi dua, yakni : alam dan manusia. Secara alami bencana akan selalu terjadi di
muka bumi, misal tsunami, gempa bumi, gunung meletus, jatuhnya benda-benda
dari langit ke bumi (misalkan meteor), tidak adanya hujan pada suatu lokasi dalam
waktu yang relatif lama sehingga menimbulkan bencana kekeringan, atau
sebaliknya curah hujan yang sangat tinggi di suatu lokasi menimbulkan bencana
banjir dan tanah longsor (Sjarief, 2010).
Salah satu bencana yang hampir terjadi setiap tahun di Indonesia adalah Banjir.
Menurut (Yulaelawati, 2008) banjir adalah peristiwa meluapnya aliran sungai
akibat air melebihi kapasitas tampungan sungai sehingga meluap dan menggenangi
dataran atau daerah yang lebih rendah di sekitarnya. Menurut data statistik yang
diambil dari situs (http://dibi.bnpb.go.id/), mengenai distribusi tipe bencana dan
korban jiwa pada tahun 1815 hingga tahun 2015, banjir menempati urutan pertama
dengan 5.600 peristiwa dan jumlah korban jiwa dibawah 34.000 orang. Selain itu,
banjir juga merupakan bencana alam yang mempunyai tingkat frekuensi terjadinya
bencana sebesar 34 % disusul oleh bencana angin kencang.
Karena banjir termasuk bencana yang hampir setiap tahun melanda Indonesia,
maka dari itu diperlukan suatu langkah untuk penanggulangan dan mitigasi
bencananya. Hal tersebut diperlukan untuk menngurangi resiko dan dampak dari
bencana ini. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai apa saja jenis banjir,
bagaimana penanggulangan bencana banjir, dan bagaimana mitigasi yang harus

dilakukan ketika terjadi banjir. Maka dibuatlah sebuah makalah dengan judul
Penanggulangan dan Mitigasi Bencana Banjir dan Bencana Air Lainnya.
2. Tujuan
a. Mengetahui jenis-jenis bencana banjir
b. Mengetahui penanggulangan bencana banjir
c. Mengetahui mitigasi yang dilakukan ketika bencana banjir melanda

PEMBAHASAN
1. Pengertian Bencana Banjir
Menurut Undang-undang No.24 Tahun 2007, bencana didefisnisikan sebagai
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat. Bencana dapat disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut (Simajuntak, 2014) banjir merupakan fenomena alam yang biasa
terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh alirasn sungai dan saat ini
sepertinya sudah menjadi langganan bagi beberapa daerah dan kota besar di
Indonesia ketika musim penghujan tiba. Banjir pada hakikatnya hanyalah salah satu
outputdari pengelolan DAS yang tidak tepat. Banjir bisa disebabkan oleh beberapa
hal yaitu curah hujan yang sangat tinggi, karakteristik DAS, penyempitan saluran
drainase dan perubahan penggunaan lahan.
Sementara itu, menurut (Gultom, 2012) banjir dapat didefinisikan sebagai
tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air yang melebihi kapasistas
pembuangan air disuatu wilayah dan dapat menimbulkan kerugian fisik, sosial, dan
ekonomi. Banjir dapat dikatakan sebagai salah satu bencana yang paling banyak
memakan korban jiwa apabila mengacu pada tabel 1.1 berikut
Tabel 1.1 Bencana Alam yang Terjadi di Indonesia (1998-2003)
Jenis

Jumlah Kejadian

Korban Jiwa

Banjir

302

1066

Longsor

245

645

Gempa Bumi

38

306

Gunung Berapi

16

Angin Topan

46

Jumlah

647

2022
(Sumardi, 2009)

Apabila mengacu pada tabel 1.1 bahwa benca banjir dadn longsor mencapai
85%, hal ini menunjukkan bahwa becana alam di Indonesia dalam kurun waktu
1998-2003 sebenarnya adalah bencana alam yang dapat diantisipasi oleh manusia.
Bencana banjir dan longsor merupakan jenis bencana alam yang bukan murni akibat
fenomena alam, namun bencana yang terjadi akibat campur tangan manusia.
Agar mampu memahami dengan baik makna dari banjir, (Yulaelawati, 2008)
memberikan gambaran mengenai derah penguasaan sungai. Di dalam suatu
ekosistem sungai terdapat bagian-bagian yang tidak terpisahkan satu dengan yang
lainnya, yanki palung sungai yang selalu tergenang oleh air sungai, dataran banjir
yang akan tergenang apabila sungai meluap, dan bantaran sungai. Gambar 1.1 akan
mendiskripsikan bagian-bagian yang telah disebutkan diatas

Gambar 1.1 Daerah Penguasaan Sungai


Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai
dihitung dari tepi sungai sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Fungsi dari
bantaran sungai adalah sebagai tempat mengalirnya sebagian debit sungai pada saat
banjir. Jadi, secara alami bantaran sungai akan tergenang oleh aliran sungai saat
banjir tiba. Oleh karenanya, dilarang mendirikan hunian atau sebagai tempat
membuang sampah pada daerah ini. Sementara, garis sempadan sungai (GS) adalah
garis batas luar pengamanan sungai.
Apabila daerah bantaran sungai dijadikan sebagai tempat hunian penduduk
suatu daerah, maka akan berdampak daerah tersebut akan selalu digenangi oleh air
ketika banjir melanda. Tetapi, bila tetap ingin didirikan hunian pada daerah tersebut

maka tipe rumah yang harus dibangun merupakan tipe rumah panggung. Gambar
1.2 mengilustrasikan bagaimana daerah bantaran sungai yang tergenang ketika
dilanda banjir

Gambar 1.2 Skema bantaran sungai yang tergenang oleh banjir


2. Jenis-jenis Bencana Banjir
Sebenarnya, UU Nomor 24 tahun 2007 selain mendefinisikan pengertian dari
bencana, juga menyebutkan beberapa pengertian dari bencana alam, bencana non
alam, dan bencana sosial. Dari lingkup bencana alam, terdapat definisi dari dua
buah jenis banjir, yakni banjir dan banjir bandang. Banjir adalah terendamnya suatu
daerah karena volume air yang meningkat. Sementara, banjir bandang adalah banjir
yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan
terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.
(Paripurno, 2013) dalam Modul Pengenalan Banjir, menyebutkan terdapat tiga
jenis banjir disertai dengan bagaimana penyebab terjadinya banjir tersebut. Jenis
banjir yang disebutkan yakni: Banjir kilat, Banjir luapan sungai, dan banjir pantai.
a. Banjir Kilat
Banjir kilat adalah banjir yang terjadi hanya dalam waktu delapan
jam setelah hujan lebat mulai turun. Biasanya jenis banjir ini sering
dihubungkan dengan banyaknya awan kumulus, kilat dan petir yang keras,
badai tropis atau cuaca dingin.Umumnya banjir kilat diakibatkan oleh
meluapnya air hujan yang sangat deras. Namun, selain hal tersebut juga
dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti: bendungan yang gagal menahan

debit air yang meningkat, es yang tiba-tiba meleleh, dan berbagai perubahan
besar dibagian hulu sungai.

b. Banjir Luapan Sungai


Banjir luapan sungai adalah banjir yang terjadi dengan proses yang
cukup lama, walaupun terkadang proses tersebut tidak diperhatikan,
sehingga datangnya banjir terasa mendadak dan mengejutkan. Banjir tipe
ini biasanya bertipe musiman atau tahunan, dan mampu berlangsung sangat
lama. Penyebab utamanya adalah kelongsoran di daerah yang biasanya
mampu menahan kelebihan debit air.

c. Banjir Pantai
Banjir pantai biasanya dikaitkan dengan terjadinya badai tropis.
Banjir yang membawa bencana dari luapan air hujan sering bertambah
parah karena badai yang dipicu angin kencang di sepanjang pantai. Hal ini
mengakibatkan air garam akan membanjiri daratan karena dampak
perpaduan gelombang pasang.
Pada gambar 2.1 (a), 2.1 (b), dan 2.1 (c) berikut, akan ditunjukkan ilustrasi
dari ketiga jenis banjir yang telah disebutkan diatas, berikut merupakan ilustrasi
dari banjir kilat, banjir luapan, dan banjir pantai:

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.1 (a) Banjir Kilat, (b) Banjir luapan sungai (c) Banjir pantai

Gambar 2.1 (a) merupakan peristiwa banjir kilat yang terjadi di Malaysia
pada tahun 2007 silam yang diambil dari citizen journalism (cy.my). Sementara,
gambar 2.1 (b) diambil dari warta (viva.news.com) yang memberitakan peristiwa
meluapnya sungai Bengawan Solo pada tahun 2009 dan setidaknya menggenangi
7 kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terlewati oleh aliran sungai
tersebut. Terakhir, pada gambar 2.1 (c) merupakan gambaran dari mulai surutnya
banjir air laut yang terjadi di pinggiran pantai kota Bandar Lampung diambil dari
warta (lampung. Antaranews.com).
Selain ketiga jenis banjir yang telah disebutkan diatas, salah satu banjir yang
sering terjadi di Indonesia adalah Banjir Bandang. Banjir bandang (flash flood)
adakah penggenangan akibat limpasan keluar alur sungai karena debit sungai yang
membesar tiba-tiba melampaui kapasitas aliran, terjadi dengan cepat melanda
daeraah-daerah rendah permukaan bumi, di lembah sungai-sungai dan cekungancekungan dan biasanya membawa material sampah (debris) dalam alirannya. Banjir
bandang bisa berlangsung cepat (biasanya kurag dari enam jam) dan mempunyai
tinggi permukaan gelombang banjir berkisar 3 hingga 6 meter dengan membawa
material sampah hasil dari sapuannya di sepanjang lajurnya (Mulyanto, 2012).
Apabila dihubungkan dengan klasifikasi banjir menurut (Paripurno, 2013),
banjir bandang dapat dikategorikan sebagai jenis banjir tipe kilat. Karena dapat
terjadi dengan waktu yang singkat dan juga disertai membawa material-material
sampah atau debris. Untuk mengetahui ilustrasi dari banjir bandang, akan
ditunjukkan melalui gambar 2.2 sebagai berikut

Gambar 2.2 Peristiwa Banjir Bandang

Gambar 2.2 diatas merupakan salah satu peristiwa banjir bandang yang
terjadi di Negara Iran pada tahun 2015 ini. Dikutip dari warta berita online
(http://internasional.republika.co.id/) banjir ini disebabkan karena hujan lebat yang
turun di daerah pegunungan sebelah utara negara tersebut.
Selain itu, dampak dari meningkatnya curah hujan di kawasan selatan
Indonesia adalah ancaman banjir lahar dari gunung Merapi. Banjir lahar
mempunyai dampak yang merusak. Karakteristik aliran lahar yang melaju cepat
dengan tenaga besar karena gunung Merapi termasuk dalam gunung api tipe strato
volcano yang mempunyai lereng curam (Daryono, 2012).
Kombinasi aliran material vulkanik seperti abu gunung api, kerikil, kerakal,
dan bongkahan batu dengan lereng curam menjadikan aliran banjir lahar juga
dikendalikan oleh percepatan gaya gravitasi bumi. Selain itu, banjir ini juga
mempunyai bongkahan batu yang besar yang terangkut dengan aliran akibat aliran
lahar mempunyai berat jenis yang sama dengan bongkahan batu tersebut. Gambar
2.3 berikut menggambarkan tentang dampak dari banjir lahar yang terjadi di kaki
gunung Merapi, tepatnya berada di daerah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Gambar 2.3 Peristiwa Banjir Lahar Merapi di Kabupaten Magelang

(Daryono, 2012)
Secara umum, faktor terjadinya bencana banjir sama seperti terjadinya bencana
pada umumnya. Bencana dapat dibagi menjadi dua buah faktor, yakni bencana
akibat faktor alam sendiri, dan bencana akibat ulah manusia. Bencana akibat alam
disebabkan oleh adanya fenomena alam yang dikenal sebagai bencana alam. Akan

tetapi, pada faktanya, manusia tetap berkontribusi paling besar dengan terjadinya
bencana alam yang sering terjadi saat ini.
Sementara itu, bencana akibat ulah tangan manusia diakibatkan oleh adanya
ulah manusia yang membuat perubahan situasi alam yang ada saat ini. Salah satu
contohnya adalah pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Pemenuhan kebutuhan
hidup manusia ini bermacam-macam bentuknya, mulai dari melakukan penebangan
hutan secara liar, mendirikan pemukiman di daerah bantaran sungai, perusakan
kawasan hutan mangrove di daerah tepian pantai, dan menjadikan aliran sungai
sebagai tempat pembuangan sampah (Sundar, 2007).
Ilustrasi dari bencana yang disebabkan oleh ulah manusia akan ditunjukkan
melalui Gambar 2.3 (a), (b), dan (c) sebagai berikut

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.3 (a) Penebangan hutan (b) Pemukiman kumuh (c) Membuang sampah
tidak pada tempatnya
Gambar 2.3 (a) merupakan gambar dari penebangan hutan di hutan Amazon,
Amerika selatan yang diambil dari situs (pemanasanglobal.net). Gambar 2.3 (b)
merupakan gambar pemukiman kumuh di bantaran sungai Ciliwung Jakarta yang
diambil dari situs (lensaindonesia.com). Sementara, gambar 2.3 (c) merupakan
gambar dari menumpuknya sampah yang menumpuk di suatu Daerah Aliran Sungai
(DAS) yang diambil dari situs (leuserantara.com). Hal-hal seperti inilah yang
menyebabkan bencana banjir.
3. Penanggulangan Bencana Banjir Secara Umum
Menurut (BAPPENAS, 2008) penanggulangan bencana banjir dilakukan secara
bertahap, dari pencegahan sebelum banjir (prevention), penanganan saat banjir

(response/intervention), dan pemulihan setelah banjir (recovery). Secara


menyeluruh, tindakan tersebut digambarkan dalam suatu siklus penanggulangan
banjir yang berkesinambungan. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan ditunjukkan
oleh tabel 2 sebagai berikut
Tabel 1.2 Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam Siklus Penangulangan
Banjir

Penanggulangan banjir harus dimulai dari upaya melakukan pengkajian sebagai


masukan untuk upaya prevention sebelum ada bencana banjir lagi. Pencegahan
dapat berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah
aliran sungai sampai wilayah dataran banjir, sementara non-fisiknya berupa
pengolahan tata guna lahan sampai peringatan dini bencana banjir.
Setelah dilakukan tahap pencegahan, maka selanjutnya dilakukan upaya
response pada saat banjir terjadi. Tindakan penanganan yang dilakukan diantaranya
adalah pemberitahuan dan penyebaran informasi tentang prakiraan banjir, tanggap
darurat, bantuan perlengkapan logistik penanganan banjir, dan perlawanan terhadap
banjir.
Pemulihan setelah banjir dilaksanakan secepat mungkin agar kondisi dapat
segera kembali normal. Tindakan pemulihan, dilaksanakan mulai dari bantuaan

pemenuhan kebutuhan hidup, perbaikan sarana-prasarana, rehabilitasi dan adaptasi


kondisi fisik maupun non-fisik, penilaian kerugian, asuransi bencana banjir, dan
pengkajian cepat penyebab banjir.
4. Mitigasi Bencana Banjir
Menurut (Ciottone, 2006), mitigasi adalah segala sesuatu yang meliputi jenis
yang luas dari perhitungan yang dilakukan sebelum suatu kejadian terjadi yang
mana akan mencegah korban sakit, cidera, dan meninggal serta mengurangi sekecilkecilnya dampak kehilangan harta benda. Rencana mitigasi pada umumnya
meliputi : kemampuan untuk memelihara fungsi, desain bangunan, lokasi bangunan
di luar dari zona bahaya, kemampuan esensial bangunan, proteksi dari bagian dari
suatu bangunan, asuransi, edukasi publik, peringatan, dan evakuasi.
Mitigasi dilaksanakan sebelum, sesudah, dan sebelum terjadinya suatu bencana.
Untuk bencana banjir sendiri, salah satu tindakan mitigasi bencana banjir adalah
melakukan peringatan dini bencana banjir. Salah satu contoh apabila tidak ada
peringatan dini banjir, maka semua daerah yang dilalui aliran banjir akan memakan
kerugian yang besar. Pada daerah hulu, dapat dilakukan beberapa cara peringatan
dini, seperti: menempatkan pengukur hujan di hulu dengan akses komunikasi ke
wilayah hilirnya, melakukan identifikasi jenis material yang terbawa arus banjir,
dan melihat dan mengamati kondisi awan dan lamanya hujan (Paimin, 2009).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2006 tentang
Pedoman umum mitigasi bencana menjelaskan tentang langkah-langkah yang
dilakukan dalam mitigasi bencana banjir seperti: pengawasan penggunaan lahan,
pembangunan infrastruktur yang kedap air, pengerukan dan pembangunan sudetan
sungai, pembuatan tembok pemecah ombak, pembersihan sedimen, pembuatan
saluran drainase, pelatihan pertanian yang sesuai dengan daerah banjir, dan juga
menyiapkan persiapan evakuasi bencana banjir.
Sementara (KEMENKES, 2014) melalui buku panduannya memberikan
beberapa langkah yang haru dilakukan pada saat sebelum, ketika, dan setelah banjir

terjadi. Gambar 2.4 berikut merupakan buku panduan yang dibuat Kemenkes
sebagai buku panduan ketika terjadi bencana banjir

Gambar 2.4 Buku Panduan Kesiapan Bencana Banjir


Dari buku tersebut, didapatkan beberapa langkah mitigasi yang dilakukan
ketika banjir melanda yakni :
1. Mematikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk
mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.
2. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih
memungkinkan untuk diseberangi.
3. Menghindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus
banjir.
4. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.
5. Jika air terus meninggi, menghubungi instansi yang terkait dengan
penanggulangan bencana.

KESIMPULAN
1. Jenis-jenis banjir yang ada saat ini menurut beberapa ahli mungkin dapat terjadi
perbedaan dalam menggolongkannya. Akan tetapi, secara garis besarnya jenis
banjir dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni: Banjir Kilat, Banjir Luapan Sungai,
dan Banjir Pantai. Ketiga jenis banjir tersebut dapat mewakili beberapa jenis
banjir yang lain, seperti: Banjir Bandang dan Banjir Lahar Merapi yang dapat
dikategorikan sebagai jenis banjir kilat. Karena terjadinya dapat sangat cepat
sekali.

2. Penanggulangan banjir dapat dibagi kedalam tiga tahapan utama, yakni:


Pencegahan (prevention) sebelum banjir, Penanganan (response) ketika banjir
melanda, dan Pemulihan (recovery) setelah banjir. Hal-hal ini wajib dilaksanakan
agar masyarakat mampu menghadapi keadaan yang ada ketika bencana banjir
melanda
3. Mitigasi yang harus dilaksanakan ketika banjir melanda dapat dilakukan dengan
beberapa cara yang mudah, seperti: memutus setiap aliran listrik, menyelamatkan
barang berharga, dan segera melakukan pengungsian ketika sudah terlihat ada
potensi terjadi banjir. Hal tersebut harus dilaksanakan agar meminimalisir
jatuhnya korban jiwa yang berjatuhan dan kerusakan yang ditimbulkan akibat
bencana banjir.

Daftar Pustaka
Sumber buku :
BAPPENAS. (2008, 11 23). Files. Retrieved from BAPPENAS Web Site:
http://www.bappenas.go.id/files/5913/4986/1931/2kebijakanpenanggulangan-banjir-di-indonesia__20081123002641__1.pdf
Ciottone, G. R. (2006). Disaster Medicine. Philadelphia: Mosby. Inc.
Daryono. (2012, 1 10). Bahaya Banjir Lahar. Retrieved from Pusat Studi Bencana
Bogor Agricultural University: http://psb.ipb.ac.id/index.php/news/92bahaya-banjir-lahar
Gultom, A. (2012, Unknown Unknown). //repository.usu.ac.id/. Retrieved from
USU Institutional Repository:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33906/4/Chapter%20II.pd
f
Hidayati, D. (2005). Panduan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat. KOMUNIKA,
65.
KEMENKES. (2014, Mei 28). Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan.
Retrieved from Panduan Masyarakat Menghadapi Bencana Banjir:
http://www.penanggulangankrisis.depkes.go.id/panduan-masyarakatmengahadapi-bencana-longsor
Mulyanto. (2012). Petunjuk Tindakan dan Sistem Mitigasi Banjir Bandang .
Semarang: Kementrian PU.
Paimin. (2009). Teknik Mitigasi Bencana Banjir dan Tanah Longsor. Bogor:
Tropenbos International Indonesia Progamme.
Paripurno, E. T. (2013). Modul Manajemen Bencana Pengenalan Banjir Untuk
Penanggulangan Bencana. Papua: KIPRA.
Simajuntak, E. (2014). PELUANG INVESTASI INFRASTRUKTUR BIDANG
PEKERJAAN UMUM. Jakarta: Dinas Pekerjaan Umum.
Sjarief, R. (2010). Tata Ruang Air. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Sumardi. (2009). Geografi 2 : Lingkungan FIsik dan Sosial. Jakarta: CV Putra
Nugraha.
Sundar, I. (2007). Disaster Management. India: Sarup and Sons.
Yulaelawati, E. (2008). Mencerdasi Bencana. Jakarta: Gramedia.

Sumber Undang-Undang :
UU No. 27 Tahun 2007 tentang Mitigasi Bencana
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2006 tentang Pedoman Umum
Mitigasi Bencana
Sumber Berita Online:
(cy.my).
(viva.news.com)
(lampung. Antaranews.com)
(pemanasanglobal.net)
(lensaindonesia.com)
(leuserantara.com).