Anda di halaman 1dari 9

A.

Tentang Jurgen Habermas


Jurgen Habermas adalah tokoh terkemuka dalam sebuah aliran filsafat, yang
sejak beberapa dekade terakhir, semakin berpengaruh dalam dunia filsafat maupun
ilmu-ilmu sosial, yaitu filsafat kritis. Terkadang pandangannya digunakan dalam
istilah teori kritis. Habermas melukiskan teori kritis sebagai metodologi yang
berdiri dalam ketegangan dialektis, antara filsafat dengan ilmu. Teori kritis hendak
menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis untuk menemukan kondisikondisi yang bersifat transendental, yang melampaui data empris.
Dengan ekplorasi kritisnya, tampak nantinya Habermas melakukan suatu
kritik ideologi dan ilmu melalui kritik pengetahuan. Pengetahuan, ilmu, dan
teknologi, merupakan tiga hal yang saling berhubungan dalam praksis kehidupan
manusia. Pengetahuan merupakan aktivitas, proses, kemampuan, serta bentuk
kesadaran manusia, sedangkan ilmu sebagai satu pengetahuan yang direfleksikan
secara metodis. Jika ilmu dan pengetahuan membeku menjadi suatu delusi atau
kesadaran palsu yang merintangi praksis sosial manusia untuk merealisasikan
kebaikan, kebenaran, kebahagiaan dan kebebasannya, maka keduanya telah
berubah menjadi ideologis. Teori kritis Habermas ingin membebaskan sekaligus
menyembuhkan masyarakat yang mendekam dalam kungkungan ideologi
melalui kritik ideologi.
Dalam hubungannya dengan masyarakat industri maju, seperti saat ini, teori
kiritis ideology mengemban tugas untuk membuka kedok ideologis dari
positivisme, yang dalam konteks ini, tidak hanya dimaknai sebagai pandangan
positivisme dalam ilmu, melainkan jauh lebih luas lagi, positivisme sebagai cara
berpikir atau rasio yang menjangkit kesadaran masyarakat industri maju. Teori
kritis Habermas merupakan usaha rekonstruksi teori kritis madzhab Frankfurt
yang diilhami oleh teori kritis Karl Marx, yang telah mengalami kebuntuan. Tanpa
meninggalkan keprihatinan para pendahulunya untuk melakukan perubahan
struktur berpikir praksis secara radikal, Habermas merumuskan keprihatinan
tersebut dalam konsep teori kritis yang baru dan dapat dikatakan orisinal. Hal ini
tampak dalam dimensi proses perubahan, tempat Habermas menempuh jalan yang
berbeda dari pendahulunya dengan menempuh cara yang tidak revolusioner atau
kekerasan. Akan tetapi, melalui jalan transformasi sosial, dengan dialog-dialog
emansipatoris, dengan metode komunikasi, bukan melalui metode dominasi.
Aliran pemikiran kritis ini mulai berkembang sekitar tahun dua puluhan.
Tokoh-tokohnya antara lain Georg Lukacs, Karl Korsch, Ernst Bloch, Antonio
Gramsci dan seterusnya. Salah satu aliran dalam pemikiran kritis adalah Teori
Kritis Masyarakat. Teori Kritis ini dikembangkan sejak tahun 30-an oleh tokohtokoh yang semula bekerja di Institut fur Sozialforschung pada Universitas
Frankfurt. Mereka itu adalah Marx Horkheimer, Theodor W. Adorno dan Herbert

Marcuse serta anggota-anggota lainnya. Kelompok ini kemudian dikenal dengan


sebutan Mazhab Frankfurt2. Jugern Habermas adalah pewaris dan pembaharu
Teori Kritis. Meskipun ia sendiri tidak lagi dapat dikatakan termasuk Mazhab
Frankfurt, arah penelitian Habermas justru membuat subur gaya pemikiran
Frankfurt itu bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Uraian singkat
ini akan mencoba menelusuri perkembangan pemikirannya.
B. Perkumbangan Pemikiran Jurgen Habermas
Titik tolak pemikiran J. Habermas adalah pada faham Horkheimer dan
Adrono. Dalam pemikiran Habermas, Teori Kritiss dirumuskan sebagai sebuah
filsafat empiris sejarah dengan maksud praktis. Empiris dan ilmiah, tetapi tidak
dikembalikan kepada ilmu-ilmu empiris-analitis; filsafat di sini berarti refleksi
kritis bukan dalam arti menetapkan prinsip-prinsip dasar; historis tanpa jatuh ke
dalam historisistik; kemudian praktis, dalam arti terarah pada tindakan politis
emansipatoris.
Perkembangan filsafat sosial sejak Marx sudah disibukkan dengan usaha
mempertautkan teori dan praksis. Masalahnya adalah bagaimana pengetahuan
tentang masyarakat dan sejarah bukan hanya sebuah kontemplasi, melainkan
mendorong praksis perubahan sosial. Praksis ini bukanlah tingkah laku buta
atas naluri belaka, melainkan tindakan dasar manusia sebagai mahluk sosial.
Dengan demikian praksis diterangi oleh kesadaran rasional, karenanya bersifat
emansipatoris.
Habermas dalam eseinya, Labor and Interaction: Remarks on Hegels Jena
Philosophy of Min, mengatakan bahwa Hegel memahami praksis bukan hanya
sebagai kerja, melainkan juga komunikasi. Karena praksis dilandasi
kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan menaklukan alam
dengan kerja, melainkan juga dalam interaksi intersubjektif dengan bahasa
sehari-hari. Jadi seperti halnya kerja membuat orang berdistansi dari alamnya,
bahasa memungkinkan distansi dari persepsilangsung, sehingga baik kerja
maupun bahasa berhubungan tidak hanya dengan praksis, tetapi juga dengan
rasionalitas.
Habermas memperlihatkan kelemahan para pendahulunya, karena tidak hanya
mengandaikan praksis sebagai kerja, yang disebutnya tindakan rasional
bertujuan, melainkan juga rasionalisi sebagai penaklukan, kekuasaan, atau apa
yang disebutnya rasio yang berpusat pada subjek. Modenisasi kapitalis berjalan
timpang karena mengutamakan rasionalisasi dalam bidang subsistem-subsistem
tindakan rasional-bertujuan, dan mengesampingkan rasionalisasi di bidang
kerangka-kerja institusional atau komunikasi. Rasionalisasi praksis komunikasi
ini adalah dasar khas teori sosial Habermas.

Habermas menerima asumsi Marx bahwa sejarah berjalan menurut logika


perkembangan tertentu, hanya ia tidak setuju bahwa teknologi dan ekonomi
menjadi motor perkembangan sejarah. Apa yang oleh Marx disebut cara produksi
masyarakat, menurutnya justru dimungkinkan oleh proses belajar dimensi praktismoral masyarakat itu, yakni prinsip-prinsip organisasinya. Jadi, kapitalisme
adalah sebuah kasus dalam evolusi sosial; dan dalam kasus itu, prinsip organisasi
kapitalis memungkinkan ekonomi dan teknologi mengatur interaksi sosial. Karena
kapitalisme hanyalah sebuah kasus, peranan teknologi dan ekonomi tidak bisa
diuniversalkan untuk segala zaman dan segala bentuk formasi sosial.
Dengan asumsi bahwa masyarakat pada hakekatnya bersifat komunikatif,
Habermas kemudian mengganti paradigma produksi dari materialisme sejarah itu
dengan paradigma komunikasi. Jadi sebagai ganti peranan cara-cara produksi, ia
mengutamakan peranan struktur-struktur komunikasi sosial dalam perubahan
masyarakat10. Struktur-struktur komunikasi ini, menurut Habermas lebih hakiki
untuk masyarakat daripada cara-cara produksi, sebab cara-cara produksi yang juga
melibatkan proses belajar berdimensi teknis itu diatur oleh struktur-struktur
komunikasi.
Rasionalisasi kekuasaan pada gilirannya mengangkat isu demokrasi dalam arti
bentuk-bentuk komunikasi umum dan publik yang bebas dan terjamin
secarainstitusional. Dalam pandangan Habermas, hanya kekuasaan yang
ditentukan oleh diskusi publik yang kritis merupakan kekuasaan yang
dirasionalisasikan. Dalam politik modern hanya model pragmatislah yang
berkaitan dengan demokrasi. Dalam model pragmatis ini, pemisahan ketat fungsi
tenaga ahli dan politikus diganti dengan interaksi kritis. Model ini
memungkinkan adanya komunikasi timbal balik di antara para ahli dan para
politikus, yang pada gilirannya memungkinkan para ahli itu memberikan nasihat
ilmiah untuk para pengambil keputusan, dan para politikus berbincang dengan
para ilmuwan menurut kebutuhan-kebutuhan praktis. Komunikasi macam ini
dilukiskan sebagai komunikasi yang tidak didasari atas legitimasi kekuasaan
ideologis, melainkan sebuah diskusi informatif ilmiah. Unsur interaksi kritis
dalam politik inilah yang dilihat Habermas sebagai kemungkinan nyata bagi
rasionalisasi kekuasaan dalam masyarakat dewasa ini11. Rasionalisasi yang
demikian disebutnya dengan rasionalisasi praktis-etis, yang dalam pengertian
klasiknya --dalam pikiran Aristoteles-- politik berhubungan dengan etika: ajaran
tentang hidup yang baik dan adil dalam polis atau masyarakat.

C. Rasio Komunikatif
Habermas berpendapat bahwa kritik hanya akan maju dengan landasan rasio
komunmikatif yang dimengerti sebagai praksis komunikasi atau tindakan
komunikatif. Ditegaskan olehnya, bahwa masyarakat pada hakekatnya
komunikatif dan yang menentukan perubahan sosial bukanlah semata-mata
perkembangan kekuatan-kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses
belajar dalam dimensi praktis-etis..
Dalam rasio komunikatif, sikap mengobjektifkan yang membuat subjek
pengetahuan memandang dirinya sebagai entitas-entitas di dunia luar tidak lagi
istimewa. Hubungan ambivalaen subjek kepada dirinya (memandang diri sebagai
subjektivitas yang bebas sekaligus objektifikasi diri yang memperbudak)
dihancurkan oleh intersubjektivitas. Rasio tersebut tidak berasimilasi dengan
kekuasaan. Singkatnya , rasio yang berpusat pada subyek, termasuk
pencampuradukan (amalgama) pengetahuan dan kekuasaan, dapat dihancurkan
dengan intersubjektivitas rasio komunikatif.
Atas dasar paradigma baru itu, Habermas ingin mempertahankan isi normatif
yang terdapat dalam modernitas dan pencerahan kultural. Isi normatif modernitas
adalah apa yang disebutnya rasionalisasi dunia-kehidupan dengan dasar rasio
komunikatif. Dunia kehidupan terdiri dari kebudayaan, masyarakat dan
kepribadian. Rasionalisasi dunia-kehidupan ini dimungkinkan lewat tindakan
komunikatif.
Rasionalisasi akan menghasilkan tiga segi. Peertama, reproduksi kultural yang
menjamin bahwa dalam situasi-situasi baru yang muncul, tetap ada kelangsungan
tradisi dan kohenrensi pengetahuan yang memadai untuk kebutuhan konsensus
dalam praktek sehari-hari. Kedua, integrasi sosial yang menjamin bahwa dalam
situasi-situasi yang baru, koordinasi tindakan tetap terpelihara dengan sarana
hubungan antarpribadi yang diatur secara legitim dan kekonstanan identitasidentitas kelompok tetap ada. Ketiga, sosialisasi yang menjamin bahwa dalam
siatuasi-situasi baru, perolehan kemampuan umum untuk bertindak bagi generasi
mendatang tetap terjamin dan penyelarasan sejarah hidup individu dan bentuk
kehidupan kolektif tetap terpelihara15. Ketiga segi ini memastikan bahwa situasisituasi baru dapat dihubungkan dengan apa yang ada di dunia ini melalui tindakan
komunikatif.
Di dalam komuniksi itu, para partisan melakukan komunikasi yang
memuaskan. Para partisan ingin membuat lawan bicaranya memahami
makksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebutnya kalim-klaim
kesahihan (validity of clims). Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan
akan diterima tanpa paksaan sebagai hasil konsensus.

Dalam bukunya The Theory of Communicative Action, Habermas menyebut


empat macam klaim. Kalau ada kesepakatan tentang dunia alamiah dan objektif,
berarti mencapai klaim kebenaran (truth). Kalau ada kesepakatan tentang
pelaksanaan norma-norma dalam dunia sosial, berarti mencapai klaim ketepatan
(rightness). Kalau ada kesepakatan tentang kesesuaian antara dunia batiniah dan
ekspresi seseorang, berarti mencapai klaim autentisitas atau kejujuran
(sincerety). Akhirnya, kalau mencapai kesepakatan atas klaim-klaim di atas secara
keseluruhan, berarti mencapai klaimkomprehensibilitas (comprehensibility).
Setiap komunikasi yang efektif harus mencapai klaim keempat ini, dan mereka
yang mampu melakukannya disebut memiliki kompe-tensi komunikatif.
Masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat
revolusi dengan kekerasan, akan tetapi dengan memberikan argumentasi.
Habermas lalu membedakan dua macam argumentasi: perbincangan atau
diskursus (discourse) dan kritik. Dilakukan perbincangan jika mengandaikan
kemungkinan untuk mencapai konsensus. Meskipun dimaksudkan untuk
konsensus, komunikasi juga bisa terganggu, sehingga tak perlu mengandaikan
konsesnsus. Dalam hal ini Habermas mengedepankan kritik. Bentuk kritik itu
dibaginya menjadi dua: kritik estetis dan kritik terapeutis. Kritik estetis, kalau
yang dipersoalkan adalah norma-norma sosial yang dianggap objektif. Kalau
diskursus praktis mengandaikan objektivitas norma-norma, kritik dalam arti ini
adalah mempersoalkan kesesuaiannya dengan penghayatan dunia batiniah. Sedang
kritik terapeutis adalah kalau itu dimaksudkan untuk menyingkapkan penipuandiri masing-masing pihak yang berkomunikasi.
D. Public Sphere
Dalam bukunya, Transformasi Struktural Ranah Publik, Habermas
mengembangkan konsepnya yang berpengaruh, tentang ranah publik. Karya
Habermas ini sangat kaya dan memberi dampak besar pada berbagai disiplin ilmu.
Buku ini juga menerima berbagai kritik yang rinci, membuka wawasan, serta
mendorong munculnya diskusi-diskusi yang sangat produktif, antara lain tentang
demokrasi liberal, masyarakat sipil, kehidupan publik, dan perubahan-perubahan
sosial pada abad ke-20.
Dalam buku itu, dengan menggeneralisasi perkembangan-perkembangan di
Inggris, Perancis, dan Jerman pada penghujung abad ke-18 dan ke-19, Habermas
pertama membuat sketsa sebuah model yang disebutnya ranah publik borjuis.
Ia kemudian juga menganalisis kemunduran ranah publik ini pada abad ke-20.
Ranah publik borjuis, yang mulai muncul pada sekitar tahun 1700 dalam
penafsiran Habermas, adalah berfungsi untuk memperantarai keprihatinan privat

individu dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan keluarga, yang dihadapkan dengan
tuntutan-tuntutan dan keprihatinan dari kehidupan sosial dan publik.
Ini mencakup fungsi menengahi kontradiksi antara kaum borjuis dan citoyen
(kalau boleh menggunakan istilah yang dikembangkan oleh Hegel dan Marx
awal), mengatasi kepentingan-kepentingan dan opini privat, guna menemukan
kepentingan-kepentingan bersama, dan untuk mencapai konsensus yang bersifat
sosial.
Ranah publik di sini terdiri dari organ-organ informasi dan perdebatan politik,
seperti suratkabar dan jurnal. Serta institusi diskusi politik, seperti parlemen, klub
politik, salonsalon sastra, majelis publik, tempat minum dan kedai kopi, balai
pertemuan, dan ruang-ruang publik lain, di mana diskusi sosio-politik
berlangsung. Konsep ranah publik yang diangkat Habermas ini adalah ruang bagi
diskusi kritis, terbuka bagi semua orang. Pada ranah publik ini, warga privat
(private people) berkumpul untuk membentuk sebuah publik, di mana nalar
publik tersebut akan bekerja sebagai pengawas terhadap kekuasaan negara. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah, individu dan kelompok dapat membentuk opini
publik, memberikan ekspresi langsung terhadap kebutuhan dan kepentingan
mereka, seraya mempengaruhi praktik politik. Ranah publik borjuis
memungkinkan terbentuknya area aktivitas opini publik, yang menentang
kekuasaan negara yang opresif, serta kepentingan-kepentingan kuat yang
membentuk masyarakat borjuis.
Prinsip-prinsip ranah publik melibatkan suatu diskusi terbuka tentang semua
isu yang menjadi keprihatinan umum, di mana argumentasi-argumentasi diskursif
(bersifat informal, dan tidak ketat diarahkan ke topik tertentu) digunakan untuk
menentukan kepentingan umum bersama. Ranah publik dengan demikian
mengandaikan adanya kebebasan berbicara dan berkumpul, pers bebas, dan hak
untuk secara bebas berpartisipasi dalam perdebatan politik dan pengambilan
keputusan.
Sesudah terjadinya revolusi-revolusi demokratis, Habermas menyarankan,
agar ranah publik borjuis ini dilembagakan dalam aturan konstitusional, yang
menjamin hak-hak politik secara meluas. Serta, mendirikan sistem yudisial untuk
menengahi klaim-klaim antara berbagai individu atau berbagai kelompok, atau
antara individu dan kelompok dan negara. Dalam konsep Habermas, media dan
ranah publik berfungsi di luar sistem politis-kelembagaan yang aktual. Fungsi
media dan ranah publik ini sebagai tempat diskusi, dan bukan sebagai lokasi bagi
organisasi, perjuangan, dan transformasi politik.
Dalam bukunya itu, Habermas juga mengkontraskan berbagai bentuk ranah
publik borjuis. Mulai dari ranah publik yang bersifat partisipatoris dan aktif di era
heroik demokrasi liberal, sampai dengan bentuk-bentuk ranah publik yang lebih

privat dari pengamat politik dalam masyarakat industri birokratis. Pada


masyarakat semacam itu, kalangan media dan elite mengontrol ranah publik.
Sesudah menyatakan gagasan tentang ranah publik borjuis, opini publik, dan
publisitas, Habermas menganalisis struktur sosial, fungsi-fungsi politis, dan
konsep serta ideologi ranah publik. Kemudian, Habermas menggambarkan
transformasi sosial-struktural ranah publik, perubahan-perubahan dan fungsi
publiknya, serta pergeseran-pergeseran dalam konsep opini publik dalam tiga bab
penyimpulan.
Dua tema utama dari buku Habermas itu mencakup analisis kelahiran historis
ranah publik borjuis, yang diikuti dengan ulasan tentang perubahan struktural
ranah publik di era kontemporer. Habermas menganalisis kemerosotan ranah
publik itu pada abad ke-20 Yaitu, dengan bangkitnya kapitalisme negara, industri
budaya, dan posisi yang semakin kuat di pihak perusahaan ekonomi dan bisnis
besar dalam kehidupan publik. Dalam ulasannya ini, ekonomi besar dan
organisasi pemerintah telah mengambil alih ruang publik, di mana warga negara
hanya diberi kepuasan untuk menjadi konsumen bagi barang, layanan,
administrasi politik, dan pertunjukan publik.
Menurut Habermas, berbagai faktor akhirnya mengakibatkan kemerosotan
ranah publik. Salah satu faktor itu adalah pertumbuhan media massa komersial,
yang mengubah publik menjadi konsumen yang pasif. Mereka menjadi tenggelam
dalam isu-isu yang bersifat privat, ketimbang isu-isu yang menyangkut untuk
kebaikan bersama dan partisipasi demokratis. Faktor lain, adalah munculnya
negara kesejahteraan, yang menyatukan negara dan masyarakat sebegitu
mendalam, sehingga ranah publik menjadi tertekan habis. Negara mulai
memainkan peran yang lebih fundamental dalam kehidupan sehari-hari dan
lingkungan aktivitas privat, sehingga mengikis perbedaan antara negara dan
masyarakat sipil, serta antara ranah publik dan privat.
Faktor-faktor ini juga mengubah ranah publik menjadi sebuah situs bagi
kontestasi atas sumber-sumber negara, yang lebih ditujukan untuk kepentingan
diri sendiri, ketimbang menjadi ruang bagi pengembangan konsensus rasional
yang mendahulukan kepentingan publik. Menurut analisis Habermas, dalam ranah
publik borjuis, opini publik dibentuk oleh konsensus dan perdebatan politik.
Sedangkan dalam ranah publik yang sudah merosot kualitasnya di kapitalisme
negara kesejahteraan (welfare state capitalism), opini publik diatur oleh para elite
politik, ekonomi, dan media, yang mengelola opini publik sebagai bagian dari
manajemen sistem dan kontrol sosial. Jadi, pada tahapan yang lebih awal dari
perkembangan borjuis, opini publik dibentuk dalam debat politik terbuka,
berkaitan dengan kepentingan umum bersama, dalam upaya membentuk sebuah
konsensus yang menghargai kepentingan umum. Sebaliknya, dalam tahapan

kapitalisme kontemporer, opini publik dibentuk oleh kalangan elite yang dominan,
dan dengan demikian sebagian besar mewakili kepentingan privat partikular
mereka. Tidak ada lagi konsensus rasional di antara para individu dan kelompok,
demi kepentingan artikulasi kebaikan bersama, yang dijadikan sebagai norma.
Sebaliknya, yang terjadi adalah pertarungan di antara berbagai kelompok untuk
memajukan kepentingan privat mereka sendiri, dan inilah yang menjadi ciri
panggung politik kontemporer.
Karena itu, Habermas menjabarkan transisi dari ranah publik liberal, yang
berasal dari Pencerahan (Enlightenment) serta revolusi Amerika dan Perancis, ke
ranah publik yang didominasi media di era masa sekarang, yang disebutnya
kapitalisme negara kesejahteraan dan demokrasi massa.
Transformasi historis ini, sebagaimana bisa kira catat, didasarkan pada analisis
Horkheimer dan Adorno tentang industri budaya. Yakni, kondisi di mana
perusahaan-perusahaan raksasa mengambil alih ranah publik, dan mengubah
ranah publik itu dari ranah perdebatan rasional menjadi ranah konsumsi yang
manipulatif dan pasifitas.
Dalam transformasi ini, opini publik bergeser dari konsensus rasional yang
muncul dari debat, diskusi, dan refleksi, menjadi opini yang direkayasa lewat
jajak pendapat atau pakar media. Jadi, perdebatan rasional dan konsensus telah
digantikan oleh diskusi yang diatur dan manipulasi lewat mekanisme periklanan
dan badan-badan konsultasi politik.
Bagi Habermas, fungsi media dengan demikian telah diubah dari
memfasilitasi wacana dan perdebatan rasional dalam ranah publik, menjadi
membentuk, mengkonstruksi, dan membatasi wacana publik ke tema-tema yang
disahkan dan disetujui oleh perusahaan-perusahaan media. Maka, salinghubungan antara ranah debat publik dan partisipasi individu sudah patah, dan
berubah bentuk ke dalam lingkungan aktivitas informasi politik atau pertunjukan
publik. Dalam lingkungan semacam itu, warga-konsumen menyerap dan
mencernakan hiburan dan informasi secara pasif. Warga negar, dengan demikian
sekadar menjadi penonton pertunjukan dan wacana media, yang membentuk opini
publik, dan menurunkan derajat konsumen/warganegara itu menjadi sekadar
obyek bagi berita, informasi, dan urusan-urusan publik.
Dalam magnum opusnya, The Theory of Communicative Action (1981),
Habermas mengeritik proses modernisasi sepihak, yang dipimpin oleh kekuatankekuatan rasionalisasi ekonomi dan administratif. Habermas memandang,
intervensi yang semakin meningkat dari sistem formal terhadap kehidupan kita
sehari-hari, itu sejalan dengan pertumbuhan negara kesejahteraan, kapitalisme
korporat, dan budaya konsumsi massa.

Kecenderungan yang semakin kuat ini telah memberi pembenaran bagi


perluasan area kehidupan publik, dan menundukkan mereka di bawah logika
pukul rata tentang efisiensi dan kontrol. Partai-partai politik, yang diregulerkan,
dan kelompok-kelompok kepentingan telah menjadi pengganti dari demokrasi
partisipatoris. Masyarakat pun semakin diatur pada tingkatan yang jauh dari
masukan warga negara. Akibatnya, batas-batas antara publik dan privat, antara
individu dan masyarakat, serta antara sistem dan dunia kehidupan, semakin
memudar.
Proyek Habermas tentang ranah publik itu menggunakan berbagai disiplin
ilmu, termasuk filsafat, teori sosial, ekonomi, dan sejarah, dan dengan demikian
merintis gaya Institut untuk Riset Sosial, dalam menghasilkan teori sosial
supradisiplin. Pandangan historis proyek ini lalu menjadi landasan bagi proyekproyek yang dilakukan Institut tersebut, untuk pengembangan teori kritis era
kontemporer.
Aspirasi politik Habermas telah memposisikannya sebagai pengkritik atas
kemerosotan demokrasi di masa sekarang, dan imbauan bagi pembaruan
demokrasi. Ini adalah tema-tema yang tetap bersifat sentral dalam pemikiran
Habermas.
Kehidupan publik demokratis hanya berkembang subur, manakala institusiinstitusi memungkinkan warga negara, untuk memperdebatkan masalah-masalah
yang menjadi kepentingan publik. Habermas menggambarkan jenis ideal dari
-situasi bicara ideal- (ideal speech situation), adalah ketika para aktor secara
setara dibekali dengan kapasitas wacana, mengakui persamaan sosial dasar antara
satu dengan yang lain, dan pembicaraan mereka tidak terdistorsi oleh ideologi
atau salah pengenalan (misrecognition).
Habermas optimistis tentang kemungkinan menghidupkan kembali ranah
publik. Ia melihat harapan bagi masa depan di era baru komunitas politik, yang
melampaui negara-bangsa yang berbasis pada kesamaan etnik dan budaya,
menuju ke arah negara yang berdasarkan pada hak-hak setara dan kewajiban
warga negara yang melekat secara hukum.
Teori diskursif tentang demokrasi ini mensyaratkan komunitas politik, yang
secara
kolektif
dapat
merumuskan
kehendak
politiknya,
dan
mengimplementasikan kehendak politik itu menjadi kebijakan di tingkatan sistem
legislatif. Sistem politik ini mensyaratkan sebuah ranah publik aktivis, di mana
hal-hal yang menjadi kepentingan bersama dan isu-isu politik dapat didiskusikan,
dan kekuatan opini publik dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.