Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU BEDAH

TUGAS

FAKULTAS KEDOKTERAN

APRIL 2016

UNIVERSITAS HASANUDDIN

FIMOSIS DAN PARAFIMOSIS

DISUSUN OLEH:
MUHAMAD HAKIMI BIN KASUAHDI
C 111 11 822
PEMBIMBING SUPERVISOR:
Dr. Khoirul Kholis, Sp.U

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU ANESTESI, PERAWATAN INTENSIF DAN MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik)
ke proksimal sampai ke korona glandis. Preputium penis merupakan lipatan kulit yang
menutupi glans penis. Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan
tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia dan
pertumbuhan terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan
lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis. 1,2
Di Jepang, fimosis ditemukan pada 88% bayi yang berusia 1 hingga 3 bulan dan 35% pada
balita berusia 3 tahun. Insidens fimosis adalah sebesar 8% pada usia 6 sampai 7 tahun dan 1%
pada laki-laki usia 16 sampai 18 tahun. Beberapa penelitian mengatakan kejadian Phimosis
saat lahir hanya 4% bayi yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga
kepala penis terlihat utuh. Selanjutnya secara perlahan terjadi desquamasi sehingga
perlekatan itu berkurang. Sampai umur 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh.
Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun, 10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan
masih ada 1% yang bertahan hingga umur 16-17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada
sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai dewasa bila tidak ditangani.1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Penis

Gambar 1. Anatomi penis

Penis terdiri dari corpus penis, glans penis, sulcus coronal glans penis, dan preputium.
Preputium penis merupakan lipatan kulit seperti kerudung yang menutupi glans penis.
Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke
belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan
faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans
penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans
penis.3-6
Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2 batang korpus
kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah disebut korpus spongiosa.
Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica albuginea,
satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang
disebut fascia buck.1-7
Korpus kavernosa terdiri dari gelembung-gelembung yang disebut sinusoid. Dinding dalam
atau endothel sangat berperan untuk bereaksi kimiawi untuk menghasilkan ereksi. Ini
diperdarahi oleh arteriol yang disebut arteria helicina. Seluruh sinusoid diliputi otot polos
yang disebut trabekel. Selanjutnya sinusoid berhubungan dengan venula (sistem pembuluh

balik) yang mengumpulkan darah menjadi suatu pleksus vena lalu akhirnya mengalirkan
darah kembali melalui vena dorsalis profunda dan kembali ke tubuh.4,5
Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis dan simpatis) dan
syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan parasimpatis berasal dari
hipotalamus menuju ke penis melalui medulla spinalis (sumsum tulang belakang). Khusus
syaraf otonom parasimpatis ke luar dari medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada
kolumna vertebralis di S2-4. Sebaliknya syaraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis
melalui segmen Th 11 sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan simpatis menyatu menjadi
nervus kavernosa. Syaraf ini memasuki penis pada pangkalnya dan mempersyarafi otot- otot
polos Syaraf somatis terutama yang bersifat sensoris yakni yang membawa impuls (rangsang)
dari penis misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu rabaan pada badan penis dan kepala
penis (glans), membentuk nervus dorsalis penis yang menyatu dengan syaraf-syaraf lain yang
membentuk nervus pudendus. Syaraf ini juga berlanjut ke kolumna vertebralis (sumsum
tulang belakang) melalui kolumna vertebralis S2-4. Stimulasi dari penis atau dari otak secara
sendiri atau bersama sama melalui syaraf-syaraf di atas akan menghasilkan ereksi penis.1-7
Vaskularisasi untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi arteria penis
communis yang bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni ke korpus kavernosa
kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteria kavernosa atau arteria penis profundus yang
ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus spongiosum. Arteria memasuki korpus
kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi arteriol-arteriol helicina yang bentuknya berkelokkelok pada saat penis lembek atau tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol-arteriol helicina
mengalami relaksasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah bertambah besar
dan cepat kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga lakunar atau sinusoid. Rongga
sinusoid membesar sehingga terjadilah ereksi. Sebaliknya darah yang mengalir dari sinusoid
ke luar melalui satu pleksus yang terletak di bawah tunica albugenia. Bila sinusoid dan
trabekel tadi mengembang karena berkumpulnya darah di seluruh korpus kavernosa, maka
vena-vena di sekitarnya menjadi tertekan. Vena-vena di bawah tunica albuginea ini
bergabung membentuk vena dorsalis profunda lalu ke luar dari Corpora Cavernosa pada
rongga penis ke sistem vena yang besar.1-7

2.2 Definisi Fimosis


Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik)
ke proksimal sampai ke korona glandis. Pada fimosis, preputium melekat pada bagian glans
dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran kencing, sehingga bayi dan anak menjadi
kesulitan dan rasa kesakitan pada saat buang air kecil. 1-5

2.3 Klasifikasi Fimosis2-4


a.
Fimosis kongenital (fimosis fisiologis, fimosis palsu, pseudo phimosis) timbul sejak
lahir. Fimosis ini bukan disebabkan oleh kelainan anatomi melainkan karena adanya faktor
perlengketan antara kulit pada penis bagian depan dengan glans penis sehingga muara pada
ujung kulit kemaluan seakan-akan terlihat sempit. Sebenarnya merupakan kondisi normal
pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans
penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia
serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel
dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit
preputium terpisah dari glans penis.

b.
Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul
kemudian setelah lahir. Fimosis Patologis didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk
menarik preputim setelah sebelumnya yang dapat ditarik kembali. Fimosis ini disebabkan
oleh sempitnya muara di ujung kulit kemaluan secara anatomis. Hal ini berkaitan dengan
kebersihan (higiene) yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada
fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat
bagian kulit preputium yang membuka.
Rickwood mendefinisikan fimosis patologis adalah kulit distal penis (preputium) yang kaku
dan tidak bisa ditarik, yang disebabkan oleh Balanitis Xerotica Obliterans (BXO).5

Fimosis Fisiologis

Fimosis Patologis

2.4 Patofisiologi
Fimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel antara preputium
bagian dalam dengan glans penis. Adhesi ini secara spontan akan hilang pada saat ereksi dan
retraksi preputium secara intermiten, jadi seiring dengan bertambahnya usia (masa puber)
phimosis fisiologis akan hilang. Higienitas yang buruk pada daerah sekitar penis dan adanya
balanitis atau balanophostitis berulang yang mengarah terbentuknya scar pada orificium
preputium, dapat mengakibatkan fimosis patologis. Retraksi preputium secara paksa juga
dapat mengakibatkan luka kecil pada orificio preputium yang dapat mengarah ke scar dan
berlanjut phimosis. Pada orang dewasa yang belum berkhitan memiliki resiko fimosis secara
sekunder karena kehilangan elastisitas kulit.3-7
Pada kasus fimosis lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga tidak bisa ditarik
mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang hanya tersisa lubang yang
sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini, akan terjadi fenomena balloning dimana
preputium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran urine yang tidak diimbangi
besarnya lubang di ujung prepusium. Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih, seperti
pada balloning maka sisa-sisa urin mudah terjebak di dalam preputium. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya infeksi.3-6
Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK yang akan
mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran-kotoran pada glans penis sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah glans penis dan prepusium (balanitis) yang
meninggalkan jaringan parut sehingga prepusium tidak dapat ditarik kebelakang.1-7
Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang memproduksi smegma. Cairan
ini berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan
prepusium dan glans penis yang membentuk semacam lembah di bawah korona glans penis
(bagian kepala penis yang berdiameter paling lebar). Di tempat ini terkumpul keringat,
debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila tidak terjadi fimosis, kotoran ini mudah
dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis, pembersihan tersebut sulit dilakukan karena
prepusium tidak bisa ditarik penuh ke belakang. Bila yang terjadi adalah perlekatan
prepusium dengan glans penis, debris dan sel mati yang terkumpul tersebut tidak bisa
dibersihkan.4
Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini terjadi peradangan
pada permukaan preputium dan glans penis. Terjadi pembengkakan kemerahan dan produksi
pus di antara glans penis dan prepusium. 5,6

2.5 Manisfestasi Klinis1-7


1.

Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin (balloning )

2.

Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai


buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan
oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi
oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.

3.

Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.

4.

Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan

5.

Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang memancar
dengan arah yang tidakdapat diduga

6.

Bisa juga disertai demam

7.

Iritasi pada penis.

2.6

Diagnosis1-7

Untuk menegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada
anamnesis didapatkan keluhan berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai buang air
kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih dan Biasanya bayi menangis dan
mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.
Pada pemeriksaan fisik kasus fimosis, dapat ditemukan kulit yang tidak dapat diretraksi
melewati gland penis. Pada fimosis fisiologis, bagian preputial orifice tidak ada luka dan
terlihat sehat, sedangkan pada fimosis patologis terdapat jaringan fibrus berwana putih yang
melingkar.5,6

2.7 Penatalaksanaan 4-6


Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,05-0,1%) dua kali sehari
selama 20-30 hari. Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak yang masih memakai
popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun.
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada penderita fimosis,
karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium sebagai fimosis
sekunder. Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak adalah
fimosis patologik. Pada kasus dengan komplikasi, seperti infeksi saluran kemih berulang atau
balloning kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera dilakukan tanpa
memperhitungkan usia pasien.

Prosedur Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada
bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah proksimal, kemudian
dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan kekanan sejajar sulcus coronarius.
1.

Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi

2.

Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril

3.

Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar.


Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan dipotong dan
daerah ventral

4.

Tunggu 3 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan


mencubitkan pinset

5.

Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang preputium,
lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde atau klem sampai
seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.

6.

Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal
dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral.
(Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal).

7.

Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kira-kira
sampai 1 sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat tali kendali. kulit
Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher.

8.

Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12).
Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju frenulum di
distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali
kendali )

9.

Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang disiapkan.

10.

Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak ada
di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari dorsal (jam 12), dengan
patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian ventral (jam 6).
Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan, selanjutnya jahitan dibuat
melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya

11.

Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang uretra
harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.

2.7

Komplikasi5

Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih

Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena infeksi
sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.

Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.

Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis.

Infeksi saluran kemih

2.8

Diagnosis Banding1-7

Parafimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus
koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan menimbulkan jeratan pada
penis dibelakang sulkus koronarius. Warna gland penis akan semakin berwarna pucat dan
bengkak. Seiring perjalanan waktu keadaan ini akan mengakibatkan nekrosis sel di gland
penis, warnanya akan menjadi biru atau hitam dan gland penis akan terasa keras saat di
palpasi.4,5,6

Gambar: Parafimosis

2.9

Prognosis

Prognosis dari fimosis akan semakin baik bila cepat didiagnosis dan ditangani.

BAB III
KESIMPULAN

Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik)
ke proksimal sampai ke korona glandis. Pada fimosis terjadi penyempitan pada ujung
prepusium. Kelainan ini menyebabkan bayi atau anak sulit berkemih, sehingga prepusium
menggelembung seperti balon. Hal ini dapat menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit
kencing, pancaran urine mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat
miksi, dan menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan
terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi
pada glans dan prepusium penis (balanopostitis).
Fimosis tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang di paksakan karena dapat
menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik pada ujung prepusium. fimosis yang disertai
dengan infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsis.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Basuki B Purnomo. Dasar-dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta: Sagung Seto; 2009.

2.

Santoso A. Fimosis dan Parafimosis. Tim Penyusun Panduan Penatalaksanaan


Pediatric Urologi di Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia; 2005.

3.

Sjamsuhidajat, R , Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin Lelaki. Buku-Ajar
Ilmu Bedah.Ed.2. Jakarta : EGC, 2004. p 801

4.

Tanagho, EA and McAninch, JW. Smiths General Urology. Sixteen edition. USA:
Appleton and Lange; 2004.

5.

Spilsbury K, Semmens JB, Wisniewski ZS, Holman CD. "Circumcision for phimosis
and other medical indications in Western Australian boys". Med. J. Aust. 178 (4):
1558;
2003.
Diunduh
dari
URL:
http://www.mja.com.au/public/issues/178_04_170203/spi10278_fm.html

6.

Hina Z, Ghory MD. Phimosis and Paraphimosis.


(http://emedicine.medscape.com/article/777539-overview)

7.

Brunicardi FC, et al. Schwartzs Principle of Surgery Eight Edition Volume 2. USA:
Mc Graw Hill.

Diunduh

dari

URL:

BAB I
PENDAHULUAN

Preputium penis merupakan lipatan kulit seperti kerudung yang menutupi glans penis.
Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke
belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan
faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans
penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans
penis
Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak
dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus
koronarius. Parafimosis yang di diagnosis secara klinis ini, dapat terjadi pada penis yang
belum disunat (disirkumsisi) atau telah disirkumsisi namun hasil sirkumsisinya kurang baik.

BAB II

DEFINISI PARAFIMOSIS
Parafimosis merupakan suatu kondisi dimana prepusium penis yang di retraksi sampai di
sulkus koronarium tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada
penis dibelakang sulkus koronarius3.

ETIOLOGI PARAFIMOSIS
Parafimosis dapat disebabkan oleh tindakan menarik prepusium ke proksimal yang biasanya
di lakukan pada saat bersenggama atau masturbasi atau sehabis pemasangan kateter tetapi
preputium tidak dikembalikan ketempat semula secepatnya3,4.

EPIDEMIOLOGI
Parafimosis yang di diagnosis secara klinis ini, dapat terjadi pada penis yang belum disunat
(disirkumsisi) atau telah disirkumsisi namun hasil sirkumsisinya kurang baik. Fimosis dan
parafimosis dapat terjadi pada laki-laki semua usia, namun kejadiannya tersering pada masa
bayi dan remaja.

PATOFISIOLOGI
Parafimosis atau pembengkakan yang sangat nyeri pada prepusium bagian distal dari
phimotic ring, terjadi bila prepusium tetap retraksi untuk waktu lama. Hal ini menyebabkan
terjadinya obstruksi vena dan bendungan pada glans penis yang sangat nyeri. Pembengkakan
dapat membuat penurunan prepusium yang meliputi glans penis menjadi sulit5.
Seiring waktu, gangguan aliran vena dan limfatik ke penis menjadi terbendung dan semakin
membengkak. Dengan berjalannya proses pembengkakan, suplai darah menjadi berkurang
dan dapat menyebabkan terjadinya infark/nekrosis penis, gangren, bahkan autoamputasi6.

DIAGNOSIS
i.

ANAMNESIS
Paraphimosis secara sederhana tampak sebagai glans penis yang membengkak dan
sangat nyeri pada pasien yang tidak menjalani sirkumsisi atau sirkumsisi parsial.
Pada bayi kemungkinan hanya tampak rewel. Adakalanya, paraphimosis
ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan oleh perawat dari pasien7.
Paraphimosis dapat ditemukan pada populasi berikut, sehingga perlu digali
melalui anamnesa5,6.
a. Anak kecil yang prepusiumnya diturunkan secara paksa atau lupa
dikembalikan ke posisi semula saat buang air atau mandi
b. Remaja atau pria dewasa yang mengalami paraphimosis saat melakukan
aktifitas seksual yang penuh semangat
c. Pria dengan balanoposthitis kronis
d. Pasien yang terpasang kateter dan orang yang merawatnya lupa untuk
mengembalikan prepusium ke posisi semula setelah pemasangan kateter atau
saat dibersihkan

ii.

PEMERIKSAAN FISIK
Parafimosis disebabkan oleh inflamasi kronis yang terjadi di bawah kulit
preputium yang menyebabkan kontraktur dari pembukaan preputium (fimosis) dan
pembentukan jeratan kulit ketika preputium diretraksi ke belakang glans. Jeratan
ini akan menyebabkan kongesti vena, menyebabkan pada pemeriksaan fisik
didapatkan edema dan pembesaran glas yang menyebabkan semakin
memburuknya keadaan. Pada proses perjalanan penyakit juga dapat ditemukan
oklusi arteri dan nekrosis dari glans3.

Gambar 4. Gambaran Klinis Parafimosis

KOMPLIKASI
Parafimosis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena retraksi prepusium yang terlalu
sempit di belakang glans penis ke sulkus glandularis dapat mengganggu perfusi permukaan
prepusium distal dari cincin konstriksi dan juga pada glans penis dengan risiko terjadinya
nekrosis2. Jika parafimosis tidak segera diterapi, hal ini dapat mengganggu aliran darah ke
ujung distal dari penis (penis tip). Pada kasus yang ekstrim, hal ini mungkin dapat
menyebabkan kerusakan atau cedera ujung penis, gangren maupun hilangnya ujung penis
(penis tip)7.

PENATALAKSANAAN
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat glans
selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium
dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil, dilakukan dorsum insisi pada
jeratan sehingga prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Walaupun demikian, setelah
parafimosis diatasi secara darurat, dimana edema dan proses inflamasi menghilang, pasien
dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi. Tindakan sirkumsisi dapat dilakukan secara
berencana dengan pemberian anestesi serta antibiotika oleh karena kondisi parafimosis
tersebut dapat berulang atau kambuh kembali3,4,8.

Gambar 5. Manual Reduction pada Parafimosis

PROGNOSIS
Prognosis dan outcome dari parafimosis akan semakin baik manakala kondisi penyakit ini
semakin dini dan cepat pula didiagnosis dan ditangani7.

BAB III
PENUTUP

Parafimosis merupakan kasus gawat darurat yang merupakan kondisi dimana kulit preputium
setelah ditarik ke belakang batang penis sampai di sulkus koronarius tidak dapat
dikembalikan ke posisi semula ke depan batang penis. Kulit preputium yang tidak bisa
kembali ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga menimbulkan bendungan aliran
darah yang disebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap
berjalan normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri. Jika dibiarkan
bagian penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang akhirnya bisa mengalami
nekrosis glans penis.
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat glans
selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium
dikembalikan pada tempatnya. Walaupun demikian, setelah parafimosis diatasi secara
darurat, selanjutnya diperlukan tindakan sirkumsisi secara berencana oleh karena kondisi
parafimosis tersebut dapat berulang atau kambuh kembali.

DAFTAR PUSTAKA

1. Qadrijati, I. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia. 2011. Simposium


Reproductive Health Women During the Life Cycle
2. Santoso, A,. Fimosis dan Parafimosis. 2005. Tim Penyusun Panduan Penatalaksanaan
Pediatric Urologi di Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia
3. Tanagho, EA and McAninch, JW. Smiths General Urology. Sixteen edition. 2004.
USA: Appleton and Lange.
4. Purnomo, Basuki B. Kelainan Penis dan Urethra. Dasar-dasar Urologi. Ed.2.
Jakarta : CV. Infomedika. 2003. p: 240
5. Wein. Penetrating Trauma to Penis. 2007. Wein: Campbell-Walsh Urology, 9th ed.
Sauders, An Imprint of Elsevier

6. Ghory, Hina Z. 2010. Phimosis and Paraphimosis.


www.medscape.com. (Accessed: May, 12th 2012)

Available

from

7. Anonimous, Paraphimosis. 2011. Available from www. nlm.nih.gov. Accessed: May,


12th 2012)
8. Sjamsuhidajat, R , Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin Lelaki. Buku-Ajar
Ilmu Bedah.Ed.2. Jakarta : EGC, 2004. p 801