Anda di halaman 1dari 16

LANSIA DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI

I.

Konsep Dasar
Kesadaran sesorang akan dunianya ditentukan oleh mekanisme neural yang
mengolah informasi yang diterima. Llangkah awal pada pengolahan ini adalah
transformasi energi stimulus menjadi potensial reseptor lalu menjadi potensial
aksi pad serabut saraf. Pola potensial aksi pada serabut saraf tertentu adalh kode
yang memberikan informasi mengenai dunia, meskipun seringkali kode yang
disampaikan berbeda dari apa yang ingin disampaikan.
Sistem sensori adalah bagian dari sistem saraf yang terdiri dari reseptor sensori
yang menerima rangsangan dari lingkungan eksternal maupun internal, jalur
neural yang yang menyalurkan informasi dari reseptor ke otak dan bagian otak
yang terutama bertugas mengolah informasi tersebut. Informasi yang diolah oleh
sistem sensori mungkin dapat menyadarkan kita tentang adanya stimulus, namun
bisa juga kita tidak menyadari adanya stimulus tertentu. Tanpa memperhatikan
apakah informasi tersebut menggugah kesadaran kita atau tidak, informasi
tersebut adalah informasi sensori. Bila informasi tersebut menggugah kesadaran
maka dapat pula disebut sebagai sensasi. Pemahaman mengenai sensasi disebut
dengan persepsi, sebagai contoh,merasakan nyeri adalah sensasi, namun
kesadaran bahwa gigi saya terasa sakit adalah persepsi.
Tampak bahwa sistem sensori beroperasi seperti peralatan listrik, misalnya bisa
dilihat banyak analogi antara sistem sensori pendengaran dengan telephone,
bedanya hanya pada hasil akhirnya. Pada telephone hasil akhirnya adalh suara
yang sama dari yang sebelumnya di ubah terlebih dahulu menjadi sinyal listrik,

sedangkan pada pendengaran hasil akhirnya adalah sesuatau yang kita anggap
sebagai suara.
Persepsi merupakan proses menerima, mengintegrasikan, mengklasifikasikan,
membedakan, dan memberikan pemahaman terhadap stimulasi yang datang.
Proses ini membantu manusia dalam menerima masukan melalui reseptor sensori
dan berespons dengan cara yang dapat memfasilitasi adaptasi mereka terhadap
lingkungan sekitar. Reseptor sensori memberikan informasi tentang dunia luar dan
bertindak sebagai mekanisme umpan balik yang akan memberitahu kepada kita
seberapa baik kita menyesuaikan diri.
Panca indera mungkin menjadi kurang efisien dengan proses penuaan, bahaya
bagi keselamatan, aktivitas, kehidupan sehari-hari (AKS) yang normal dan harga
diri secara keseluruhan. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi
2.

2006)

Meskipun semua lansia mengalami kehilangan sensorik dan sebagai akibatnya


berisiko mengalami deprivasi sensorik, namun tidak semua akan mengalami
deprivasi sensorik. Salah satu indra dapat mengganti indera dalam mengobservasi
dan menerjemahkan ransangan. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical bedah
edisi 8, 2001, hal: 179)

II.

Perubahan pada Lansia


a. Perubahan indera penglihatan
Deficit sensori (misalnya, perubahan penglihatan) dapat merupakan bagian
dari penyesuaian yang berkesinambungan yang datang pada usia lanjut,
perubahan penglihatan dapat mempengaruhi pemenuhan AKS pada lansia.
Perubahan indra penglihatan pada awalnya dimulai dengan terjadinya
awitan presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif. Ini karena sel-sel
baru terbentuk dipermukaan luar lensa mata, maka sel tengah yang tua
akan menumpuk dan menjadi kuning, kaku, padat dan berkabu. Jadi,
hanya bagian luar lensa yang masih elastic untuk berubah bentuk
(akomodasi) dan berfokus pada jarak jauh dan dekat. Karena lensa
menjadi kurang fleksibel, maka titik dekat fokus berpindah lebih jauh.
Kondisi ini disebut presbiopi, biasa bermula pada usia 40-an. (Smeltzer,
Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001 hal: 179-180)
Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot-otot siliaris menjadi
lebih lemah dan lebih kendur dan lensa kristalin mengalami sklerosis,
dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan pada
(penglihatan jarak dekat). Kondisi ini dapat dikoreksi dengan lensa seperti
kacamata jauh dekat (bifokal).
Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena sfinkter
pupil mengalami sklerosis. Miosis pupil ini dapat mempersempit lapangan
pandang seseorang dan memengaruhi penglihatan perifer pada tingkat
tertentu, tetapi tampaknya tidak benar-benar mengganggu kehidupan
sehari-hari.
Perubahan warna (misalnya ; menguning) dan meningkatnya kekruhan
lensa Kristal yang terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan katarak.
Katarak

menimbulkan

bebagai

tanda

dan

gejala

penuaan

yang

mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari. Penglihatan yang kabur


dan seperti terdapat suatu selaput diatas mata dalah suatu gejala umum,
yang mengakibatkan kesukaran dalam memfokuskan penglihatan dan
membaca. Kesukaran ini dapat dikoreksi untuk sementara dengan
penggunaan lensa. Selain itu lansia harus didorong untuk memakai lampu
yang terang dan tidak menyilaukan.katarak juga dapat mengakibatkan
gangguan dalam persepsikedalaman atau stereopsis, yang menyebabkan
masalah dalam menilai ketinggian, sedangkan perubahan terhadap persepsi
warna terjadi seiring dengan pembentukan katarak dan mengakibatkan
warna yang muncul tumpul dan tidak jelas,terutama warna-warna yang
muda misalnya biru, hijau, dan ungu. Penggunaan warna-warna terang
seperti kuning, oranye dan merah direkomendasikan untuk memudahkan
dalam membedakan warna. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan
gerontik edisi 2. 2006)
b. Perubahan indera pendengaran
Perubahan indra pendengaran pada lansia disebut presbikusis. Mhoon
menggambarkan fenomena tersebut sebagai suatu penyakit simetris
bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progreif lambat
terutama memengaruhi nada tinggi dan dihubngkan dengan penuaan.
Lansia sering tidak mampu mengikuti percakapan karena nada konsonan
frekuansi tinggi ( huruf f, s, th, ch, sh, b, t, p ) semua terdengar sama.
(Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 180).
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berbagai factor yang telah diteliti
adalah ; nutrisi, factor genetika, suara gaduh, hipertensi, stress emosional,
dan arteriosklerosis. Penurunan pendngaran terutama berupa komponen
konduksi yang berkaitan dengan presbikusis.

Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam


dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran,
batang otak atau jalur kortikal pendengaran) penyebab dari perubahan
konduksi tidak diketahui, tetapi masih mungkin berkaitan dengan
perubahan pada tulang telinga tengah, dalam bagian koklear atau didalam
tulang mastoid. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2.
2006).
Kehilangan pendengaran menyebabkan lansia berespon tidak sesuai
dengan yang diharapkan, tidak memahami percakapan, dan menghindari
interaksi social. Perilaku ini sering disalahkaprahkan sebagai kebingungan
atau senil. (Smeltzer, Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, hal:
180)l
III.

Perubahan normal pada system sensoris akibat penuaan.


Perubahan Normal yang berhubungan dengan penuaan Implikasi klinis
1. Penglihatan
Penurunan kemampuan akomodasi
konstruksi pupil senilis
Peningkatan kekeruhan lensa dengan perubahan warna menjadi
menguning
Hubungan usia dengan mata
Kornea, lensa, iris, aquous humormvitrous humor akan mengalami
perubahan seiring bertambahnya usia., karena bagian utama yang
mengalami perubahan / penurunan sensifitas yang bisa menyebabkan lensa
pada mata, produksi aquous humor juga mengalami penurunan tetapi tidak
terlalu terpengaruh terhadap keseimbangan dan tekanan intra okuler lensa
umum. Bertambahnya usia akan mempengaruhi fungsi organ pada mata
seseorang yang berusia 60 tahun, fungsi kerja pupil akan mengalami

penurunan 2/3 dari pupil orang dewasa atau muda, penurunan tersebut
meliputi ukuran-ukuran pupil dan kemampuan melihat dari jarak jauh.
Proses akomodasi merupakan kemampuan untuk melihat benda-bend dari
jarak dekat maupun jauh. Akomodasi merupakan hasil koordianasi atas
ciliary body dan otot-otot ins, apabial sesorang mengalami penurunan daya
akomodasi makaorang tersebut disebut presbiopi.
5 masalah yang muncul ada lansia :
a. Penurunan kemampuan penglihatan
b. ARMD ( agp- relaed macular degeneration )
c. glaucoma
d. Katarak
e. Entropion dan ekstropion
a. Penurunan kemampuan penglihatan
Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah
progesifitas dan pupil kekunningan pada lensa mata, menurunnya
vitous humor, perubahan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah
pada usia lanjut seperti : mata kabur, hubungan aktifitas sosial, dan
penampialan ADL, pada lansia yang berusia lebih dari 60 tahun lensa
mata akan semakin keruh, beberapa orang tidak mengalami atau
jarang

mengalami

penurunan

penglihatan

seirinng

dengan

bertambahnya usia.
b. ARMD ( Age- related macular degeneration )
ARMD terjadi pad usia 50-65 tahun dibeberapa kasus ini mengalami
peningkatan makula berada dibelakang lensa sedangkan makula
sendiri berfungsi untuk ketajaman penglihatan dan penglihatan warna,
kerusakan makula akan menyebabkan sesorang mengalami gangguan
pemusatna penglihatan.

Tanda dan gejala ARMD meliputi : penglihatan samara-samar dan


kadang-kadang menyebabkan pencitraan yang salah. Benda yang
dilihat tidak sesuai dengan kenyataan, saat melihat benda ukuran kecil
maka akan terlihat lebih kecil dan garis lurus akan terlihat bengkok
atau bahkan tidak teratur. Pada dasarnya orang yang ARMD akan
mengalami gangguan pemusatan penglihatan, peningkatan sensifitas
terhadap cahaya yang menyilaukan, cahaya redup dan warna yang
tidak mencolok. Dalam kondisi yang parah dia akan kehilangan
penglihatan secara

total.

Pendiagnosaan

dilakukan

oleh ahli

oftomologi dengan bantuan berupa test intravena fluorerensi


angiografy.

c. Glaukoma
Glaukoma dapat terjadi pada semua usia tapi resiko tinggi pada lansia
usia 60 tahun keatas, kerusakan akibat glaukoma sering tidak bisa
diobati namun dengan medikasi dan pembedahan mampu mengurangi
kerusakan pada mata akibat glaukoma. Glaukoma terjadi apabila ada
peningkatan tekanan intra okuler ( IOP ) pada kebanyakan orang
disebabkan oleh oleh peningkatan tekanan sebagai akibat adanya
hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata (cairan jernih
berisi O2, gula dan nutrisi), selain itu disebabkan kurang aliran darah
kedaerah vital jaringan nervous optikus, adanya kelemahan srtuktur
dari syaraf.
Populasi yang berbeda cenderung untuk menderita tipe glaukoma
yang berbeda pula pada suhu Afrika dan Asia lebih tinggi resikonnya

di bandinng orang kulit putih, glaukoma merupakan penyebab


pertama kebutuhan di Asia.
Tipe glaukoma ada 3 yaitu :
1) Primary open angle Gloueoma (glaukoma sudut terbuka)
2) Normal tenion glukoma (glaucoma bertekanan normal)
3) Angel clousure gloukoma (Glaukoma sudut tertutup)l
d. Katarak
Katarak adalah tertutupnya lensamata sehingga pencahayaan da
fokusing terganggu (retina) katarak terjadi pada semua umur namun
yang sering terjadi pada usia > 55 tahun. Tanda dan gejalanya berupa :
Bertanbahnya gangguan penglihatan, pada saat membaca / beraktifitas
memerlukan pencahayaan yang lebih, kelemahan melihat dimalam
hari, penglihatan ganda.
Penanganna yang tepat adalah pembenahan untuk memperbaiki lensa
mata yang rusak pembedahan dilakukan bila katarak sudah
mengganggu aktifitas namun bila tidak mengganngu tidak perlu
dilakukan pembedahan.l
e. Entropi dan eutropi
Entropi dan eutropi terjadi pada lansia, kondisi ini tida menyebabkan
gangguan penglihatan namun menyebabkan gangguan kenyamanan.
Entropi adalh kelopak mata yang terbuka lebar ini menyebabkan mata
memerah entropi terjadikarena adanya

kelemahan pada otot

konjungtifa.ektropi adalah penyempitan konjungtifa


2. Pendengaran
Penurunan fungsi sensorineural secara lambat
Kesukaran dalam membaca huruf-huruf yang kecil
Penyempitan lapangan pandang
Penglihatan yang kabur
Sensitifitas terhadap cahaya

Penurunan penglihatan pada malam hari


Kesukaran persepsi kedalaman
Kehilangan pendengaran secara bertahapl

Gangguan pendengaran terjadi pada usia 65 tahun (55%) > 80 tahun


mencapai 66% , gangguan pendengaran tidak hanya terjadi karena adanya
penambahan usia seperti gangguan pendengaran karena konsumsi obat.
Secara umum gangguan pendengaran ada 3 macam yaitu : gangguan
pendengaran konjungtiva, ganguan pendengaran sensori dan campuran
( konjungtiva dan campuran ).
Ganguan pendengaran konjungtiva terjadi karena adanya gangguan telinga
dibagian luar dan tengah, seseorang dapat terjadi tuli konduksi apabila
terjadi gangguan pada meatus acustivus eksternus, membran tympani /
ossiculas (maleus, incus, stapes) jika seseorang terjadi gangguan pada
organ salah satu tersebut maka seseorang mengalami gangguan
pendengaran konjungtiva, seseorang yang tuli konduksi berakibat
kemampuan mendengar bunyi hantaran udara terganggu dan hanya mampu
mendengar bunyi melalui hantaran tulang.
a. Tuli
Persepsi sensori terjadi apabila seseorang mengalami kelainan pada organ
korti, saraf VIII (Vestibulocochelaris N) pusat pendengaran otak, keadaan
pada seseorang yang tuli persepsi terjadi gangguan mendengar baik
melalui hantaran udara maupun tulang.
b. Tinnitus
Selain yang disebutkan diatas, gangguan pendengaran yang lain adalah
tinnitus, tinnitus merupakan gangguan pendengaran berupa ada suara di
telinga (suara nging). Tinitus terjadi karena adanya gangguan pendengaran

konduktif atau sensoris. Suara yang muncul seperti suara bising atau
segala sesuatu yang membikin tidak nyaman. Tinnitus bisa juga terjadi
karena adanya otoselorosis atau karena adanya ototxic obat yang
dikonsumsi seperti gentamisin atau aspirin (terlampir).
Tinnitus bukan merupakan sebuah penyakit namun sebuah gejala dari
adanya

gangguan

pendengaran

bagaimanapun

juga

kondisi

ini

memunculkan banyak masalah, tinnitus kadang tidak dirasakan dalam


lingkungan yang ramai namun akan sangat teras dilingkungan yang sepi.
Beberapa orang tinnitus dapat menyebabkan kecemasan besar suara musik
yang pelan adanya gaduhnya lingkungan dapat membantu mengalihkan
suara dengung ditelinga.
3. Perubahan Indera Perabaanl
Indera peraba memberikan pesan yang paling intim dan yang paling
mudah untuk diterjemahkan. Bila indera lain hilang, rabaan dapat
mengurangi perasaan terasing dan memberi perasaan sejahtera. (Smeltzer,
Suzanne C, buku ajar medical beda, edisi 8, 2001, hal: 180)
Kebutuhan untuk sentuhan efektif terus berlanjut sepanjang kehidupan dan
meningkat dengan usia. Banyak lansian lebih tertarik dalam sentuhan dan
sensasi taktil karena :

Mereka sudah kehilangan orang yang dicintai


Penampilan mereka tidak semenarik pada waktu dulu dan tidak

mengundang sentuhan dari orang lain


Sikap masyarakat umum terhadap lansia tidak mendorong untuk
melakukan kontak fisik dengan lansia.

Sentuhan dapat merupakan suatu alat untuk memberikan stimulus sensoris


atau menghilangkan rasa nyeri fisik dan psikologi.
Kulit adalah seperti suatu pakaian pelindung yang pas dan menutupi
seseorang berusia 70 tahun atau 80 tahun, kulit juga tidak akan sesuai
dengan tubuh orang tersebut. Kulit tersebut mungkin akan menjadi kendur
dan terlihat lebih longgar pada berbagai bagian tubuh. Namun, selama
kehidupan, sentuhan memberikan pengetahuan emosional dan sensual
tentang orang lain. (Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik
edisi 2. 2006)
4. Perubahan Indera Pengecapan
Ketika seseorang telah bertambah tua, jumlah total kuncup-kuncup
perasa pada lidah mengalami penurunan dan kuncup pada lidah juga
mengalami kerusakan, ini dapat menurunkan sensitivitas pada terhadap
rasa. Kuncup-kuncup perasa mengalami regenerasi sepanjang kehidupan
manusia, tetapi lansia mengalami suatu penurunan sensitivitas terhadap
rasa manis, asam, asin, dan pahit. Perubahan tersebut lebih dapat disadari
oleh beberapa orang dibanding yang lainnya.
Organ pengecap yang paling berperan adalah pada bagian depan, tepi dan
belakang, rasa manis dan asin berada pada bagian ujung lidah, asam
dibagian tepi sedang pahit dipangkal lidah. Fungsi pengecap akan berubah
seiring bertambahnya usia. Kerusakan fungsi pengecap akan menyebabkan
makan kurang bergairah terkadang seorang lansia perlu menambah jumlah
garam karena dia merasa bahwa maskannya kurang asin (padahal sudah
asin). Kenikmatan makan akan didukung oleh indra pembau, makan yang
dibau akan merangsang mukosa hidung untuk menghantar impuls ke otak

untuk menyimpulkan bahwa makan itu enak atau tidak. Ini juga akan
berpengaruh terhadap keinginan pemenuhan nutrisi.l
5. Perubahan Indera Penciuman
Penurunan yang paling tajam dalam sensasi penciuman terjadi selama usia
pertengahan, dan untuk sebagian orang, hal tersebut akan terus berkurang.
Kecepatan penurunan sensasi penciuman pada lansia bervariasi. Orang
bereaksi terhadap bau dengan cara berbeda, dan respon seseorang mungkin
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, etnik, dan pengalaman sebelumnya
tentang bau tersebut. Sensasi penciuman tidak secara serius dipengaruhi
oleh penuaan saja tetapi bisa terjadi oleh factor lain yang berhubungan
dengan usia. Penyebab lainnya juga dianggap sebagai pendukung untuk
terjadinya kehilangan kemampuan sensasi penciuman termasuk pilek,
influenza, merokok, obstruksi hidung, secret dari hidung, sinusitis kronis,
kebiasaan tertentu dengan bau/ aroma, epitaksis, alergi, penuaan serta
factor lingkungan.

IV.

Konsep Asuhan Keperawatan


1.
Pengkajian
Pengkajian pada lansia dengan gangguan penglihatan meliputi hal-hal
berikut ini.
a.
b.
c.
d.
e.

Ukuan pupil mengecil.


Pemakaian kacamata.
Penglihatan ganda.
Sakit pada mata seperti glaukoma dan katarak.
Mata kemerahan.

f.
g.
h.
i.

Mengeluh ketidaknyamanan terhadap cahaya terang (menyilaukan).


Kesulitan memasukkan benang ke jarum.
Permintaan untuk membacakan kalimat.
Kesulitan/kebergantungan dalam melakukan aktvitas pemenuhan

kebutuhan
j. sehari-hari (mandi, berpakaian, ke kamar kecil, makan, BAK/BAB,
serta berpindah.
Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan pada sistem pendengaran
meliputi hal-hal sebagai berikut ini:
1.
2.
3.
4.

Meminta untuk mengulang pembicaraan


Jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
Memalingkan kepala terhadap pembicraan
Kesulitan membedakan pembicaraan serta bunyi suara orang

lainyang parau atau bergumam.


5. Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama dengan
latar belakang yang bisisng, berdering / berdesis yang konstan.
6. Volume bicara meningkat
7. Sering merasa sedih, di tolak lingkungan, malu, menarik diri, bosan,
depresi, dan frustasi.
8. Ketergantungan dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan
sehari-hari (mandi, berpakaian, ke kamar kecil, makan, BAB/BAK,
2.

serta berpindah) .
Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan sensoris/persepsi pendengaran
Tujuan keperawatan :
Pendengaran konsentrasi
Upaya memproses informasi kemampuan komunikasi perilaku
keamanan: diri sendiri
Pengetahuan: keamanan diri-sendiri
Citra tubuh
Pelibatan sosial
Kesendirian
Kualitas kehidupan
Intervensi keperawatan :
1) Rujukan

2)
3)
4)
5)
6)

Pencapaian komunikasi: defisit pendengaran


Penyuluhan: kemampuan psikomotor
Manajemen lingkungan : keamanan
Pendidikan : keamanan diri-sendiri
Peningkatan citra tubuh peningkatan sosialisasi

b. Gangguan sensoris/persepsi: penglihatan


Tujuan keperawatan :
Penglihatan
Kemampuan berkomunikasi
Orientasi kognitif
Perawatan diri-sendiri: aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL)
Perawatan diri-sendiri: aktivitas kehidupan sehari-hari aktif
( IADL)
Pengendalian cemas
Tingkat mobilitas
Perilaku keamanan: diri sendiri
Pengetahuan: keamanan diri sendiri
Kualitas kehidupan
Intervensi keperawatan :
1) Rujukan
2) Peningkatan komunikasi: defisit penglihatan
3) Fasilitas proses pembelajaran
4) Penyuluhan: perawatan diri
5) Petunjuk antisipasi
6) Pengurangan kecemasan
7) Peningkatan olahraga
8) Manajamen lingkungan: keamanan
9) Penyuluhan: keamanan diri sendiri
c. Gangguan sensori/persepsi: kinestesia
Tujuan keperawatan :
Keseimbangan
Tingkat mobilitas
Perilaku aman : pencegahan jatuh
Pengetahuan: keamanan diri sendiri
Perawatan diri sendiri: aktivitas kehidupan sehrai-hari aktif (IADL)
Pengendalian ketakutan
Intervensi keperawatan :
1) Terapi olahraga: keseimbangan
2) Peningkatan olahraga
3) Pencegah jatuh
4) Penyuluhan: keamanan diri sendiri
5) Penyuluhan: perawatan diri sendiri
6) Dukungan emosional

7) Peningkatan keamanan sentuhan

d. Gangguan sensori/persepsi: taktil


Kesejahteraaan
Perilaku keamanan diri sendiri
Pengetahuan: keamanan diri sendiri
Intervensi keperawatan :
1) Manajemen lingkungan
2) Penyuluhan : keamanan
e. Gangguan sensori/persepsi: penciuman
Perilaku keamanan: lingkungan fisik rumah
Perilaku keamanan: diri sendiri
Status nutrisi
Intervensi keperawatan :
1) Manajemen lingkungan
2) Penyuluhan: kemanan diri sendiri
3) Konseling nutrisi
4) Manajemen konseling
f. Gangguan sensoris/persepsi : pengecapan
Status nutrisi
Kualitas kehidupan
Intervensi keperawatan :
1) Penyuluhan : modifikasi makanan
2) Peningkatan nafsu makan
3) Manajemen cairan

DAFTAR PUSTAKA
Jaime L Stockslager Liz Schaeffer(2007).Asuhan Keperawatan
Geriatrik.Jakarta:EGC
Soejono, C.H Setiati,S dan Wiwie (2000). Pedoman Pengolahan Kesehatan Pasien
Geriatri : Untuk Kedokteran dan Perawat. Jakarta : FKUI

Stanley, mickey and Beare, Patricia Gaulant (2006).Keperawatan Gerontik,Edisi


ke 2,Cetakan Pertama Jakarta : EGC
Suzanne, C. Smeltzer. (2001). Keperawatan medikal bedah, edisi 8. Jakarta : EGC