Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Saya mengucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ilmiah ini.
Makalah ilmiah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar saya dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata saya berharap semoga makalah ilmiah tentang Geometri Non Euclid
ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Medan, 24 November 2015


Penyusun
Nova Angreini Harahap
Ekstensi A 2014

DAFTAR ISI
1

Kata Pengantar.1
Daftar Isi..2
BAB I
Pendahuluan.3
BAB II
Pembahasan..7
BAB III
Penutup...36
Daftar Pustaka....37

BAB I
2

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Geometri berasal dari kata Latin Geometria Geo yang artinya tanah
dan metria yang artinya pengukuran. Berdasarkan sejarah Geometri tumbuh
jauh sebelum Masehi karena keperluan pengukuran tanah, di sekitar kawasan
sungai Nil setelah terjadi banjir, dalam bahasa Indonesia Geometri dapat
diartikan sebagai Ilmu Ukur (Moeharti, 1986: 1.2). Geometri didefinisikan juga
sebagai cabang Matematika yang mempelajari titik, garis, bidang dan bendabenda ruang serta sifat-sifatnya, ukuran-ukurannya dan hubungannya satu sama
lain.
Geometri dapat dipandang sebagai sistem deduktif yaitu suatu sistem
yang harus ada pengertian-pengertian pangkal, yaitu unsur-unsur dan relasirelasi yang tidak didefinisikan, kemudian definisi, selain definisi juga harus ada
relasi-relasi lain yang dapat dibuktikan dengan menggunakan definisi atau
postulat-postulat itu yang disebut dalil atau teorema. Proses untuk mendapatkan
atau menurunkan suatu dalil dari himpunan pangkal, definisi, dan postulat
inilah yang disebut deduksi. Dalam Geometri sebagai suatu sistem deduktif
himpunan postulat itu dapat dipandang sebagai aturan permainan (Moeharti,
1986: 1.3 1.4).
Geometri yang pertama-tama muncul sebagai suatu sistem deduktif
adalah Geometri dari Euclides. Kira-kira tahun 330 SM, Euclides menulis buku
sebanyak 13 buah. Dalam bukunya yang pertama Euclid menjelaskan mengenai
definisi, postulat, aksioma dan dalil (Moeharti, 1986: 1.9). Namun Geomerti
Euclid ini memiliki kelemahan, salah satu kelemahanya ada pada postulat
kelima dari Euclid yang terkenal dengan Postulat Parallel atau Postulat
Kesejajaran yang terlalu panjang sehingga merisaukan para matematikawan.

Sehingga beberapa matematikawan menganggap bahwa postulat kelima Euclid


bukan postulat dan dapat dibuktikan dengan keempat postulat yang lain. Usaha
untuk membuktikan postulat kelima ini berlangsung sejak Euclid masih hidup
sampai kira-kira tahun 1820. Tokoh yang berusaha membuktikan ini antara lain
Proclus dari Aleksandria (410 - 485) Girolamo Saccheri dari Italia (1607 1733), Karl Friedrich Gauss dari Jerman (1777 - 1855), Wolfgang (Farkas)
Bolyai dari Hongaria (1775 - 1856), dan anaknya Yanos Bolyai (1802 - 18060)
dan juga Nicolai Ivanoviteh Lobachevsky (1793 - 1856) (Moeharti, 1986: 1.13).
Menurut Moeharti (1986: 1.12), postulat kesejajaran kelima Euclid adalah
sebagai berikut:
Jika suatu garis lurus memotong dua garis lurus dan membuat sudutsudut dalam sepihak kurang dari dua sudut siku-siku, kedua garis itu jika
diperpanjang tak terbatas, akan bertemu dipihak tempat kedua sudut
dalam sepihak kurang dari sudut siku-siku

p
1

Gambar 1. Ilustrasi postulat ke lima Euclid


Pada gambar 1 garis c memotong garis a dan garis b yang
mengakibatkan sudut 1 dan sudut 2 kurang dari 180, garis a dan garis b akan
bepotongan pada pihak sudut yang kurang dari 180, yang pada gambar adalah
perpanjangan yang ke kanan.
Postulat kelima ini masih sukar diterima dan dipahami maka beberapa

matematikawan berusaha untuk membuktikan dan menggantikannya dengan


postulat yang ekuivalen. Salah satu postulat yang paling terkenal dan sederhana
adalah Aksioma Playfair oleh John Playfair yang bunyinya (Prenowitz, 1965:25)
Hanya ada satu garis sejajar (parallel) pada garis yang melalui titik bukan
pada garis tersebut
Matematikawan lain, yaitu Proclus yang menulis komentar dari The
Elements yang menyebutkan usaha pembuktian untuk menyimpulkan dari postulat
kelima. Proclus kemudian memberikan bukti sendiri, dan memberikan postulat
yang ekuivalen dengan postulat kesejajaran Jika suatu garis lurus memotong salah
satu dari dua garis parallel ia juga akan memotong yang lain, dan garis-garis lurus
yang parallel dengan suatu garis lurus yang sama, adalah parallel satu sama lain.
Sedangkan John Wallis menggantikan postulat kesejajaran Euclid dengan postulat
Wallis. John Wallis menyerah mencoba membuktikan dalil paralel dalam Geometri
Netral. Sebaliknya, ia mengusulkan sebuah postulat baru, yang ia merasa lebih
masuk akal daripada postulat kelima Euclid (Prenowitz, 1965:28).
Geometri Non Euclid timbul karena para matematikawan berusaha untuk
membuktikan postulat kelima dari Euclides. Sehingga Geometri Non Euclid masih
berdasarkan empat postulat pertama dari Euclides dan hanya berbeda pada
postulat kelimanya. Ada dua macam Geometri Non Euclid yang pertama adalah
ditemukan hampir bersamaan oleh 3 tokoh berlainan dan masing-masing bekerja
sendiri-sendiri. Tokoh-tokoh tersebut adalah Karl Friedrich Gauss dari Jerman,
Yonos Bolyai dari Hongaria, dan Nicolai Ivanovitch Lobachevsky dari Rusia,
Geometri ini disebut Geometri Lobachevsky. Geometri Non Euclid yang kedua
adalah Geometri yang diketemukan oleh G.F.B. Bernhard Riemann dari Jerman,
Geometri ini disebut Geometri Elliptik atau Geometri Riemann (Moeharti, 1986:
1.20).
Suatu

geometri

yang

dilengkapi
5

dengan

sistem

aksioma-aksioma

keterjadian, sistem aksioma-aksioma urutan, sistem aksioma kekongruenan (ruas


garis, sudut, segitiga) dan sistem aksioma-aksioma Archiemedes disebut dengan
Geometri Netral. Didalam geometri ini ada konsep kesejajaran dua garis; di dalam
geometri Netral ini, tidak disebut banyaknya garis yang melalui sebuah titik T
diluar sebuah garis lain yang dapat sejajar dengan garis ini. Kalau banyaknya garis
itu hanya satu, Geometri Netral itu dinamakan Geometri Euclide. Jika ada lebih
dari satu garis, Geometri Netral ini disebut Geometri Lobachevsky. Geometri
Lobachevsky adalah salah satu Geometri Non Euclide. Dari Geometri Euclid dapat
diambil sarinya berupa dua Geometri yang berlainan dalam dasar logikanya,
pengertian pangkalnya dan aksiomanya. Kedua Geometri itu adalah Geometri
Affine dan Geometri Absolut atau Geometri Netral. Geometri Affin yang
dikenalkan oleh Leonhard Euler dari Jerman, Geometri ini didasarkan pada postulat
I, II,dan V, sedangkan Geometri Absolute pertama kali diperkenalkan
oleh Y. Bolyai dari Hongaria. Geometri ini mendasarkan pada empat postulat
pertama dari Euclid dan meninggalkan postulat ke lima.

BAB II
6

PEMBAHASAN
A. Geometri Lobachevsky
Sekarang,

diperkenalkan

geometri

non-Euclides

dari

Bolyai,

dan

Lobachevsky, sebagai teori formal y ang mendasarkan pada beberapa postulat.


Teori ini dinamakan Geometri Lobachevsky untuk memudahkan dan menandai
karya Lobachevsky. Geometri Lobachevsky dapat digolongkan pada geometri
netral dengan memandang bahwa setiap segitiga jumlah besar sudutnya kurang dari
1800. Meskipun demikian, kita lebih suka mengikuti sejarah perkembangannya dan
mempelajarinya secara langsung dalam hubungannya dengan postulat kesejajaran
Euclides. Jadi, untuk menggolongkan pada geometri Lobachevsky hanyalah dengan
menerima semua postulat geometri Euclides dengan membuang postulat
kesejajarannya dan mengganti dengan postulat berikut ini :
Postulat Kesejajaran Lobachevsky
Paling tidak ada dua garis yang sejajar dengan suatu garis yang melalui suatu
titik di luar garis tersebut.
Jelaslah, geometri Lobachevsky merupakan jenis dari geometri netral.
Sebagai akibatnya, kita lanjutkan pelajaran geometri netral dengan memberikan
suatu batasan tambahan. Jadi, teorema-teorema pada geometri netral juga berlaku
pada geometri Lobachevsky dan juga dapat dipakai pada pembuktian-pembuktian
kita.
B. Teorema non-metrical
Teorema pertama geometri Lobachevsky merupakan teorema dasar yang
tidak melibatkan ide-ide metrical (sistim perhitungan dengan dasar angka 10)
seperti jarak, ketegak-lurusan, atau luas. Teorema tersebut mengenai kedudukan
atau sifat garis.
Teorema 6.1

Sebarang garis seluruhnya berada di dalam sudut tertentu.


Bukti :
Misalkan diketahui garis l. tentukan titik P di luar l. tentukan titik P diluar l.
Menurut postulat kesejajaran geometri Lobachevsky ada garis m dan n yang
melalui P dan sejajar l.
Garis m dan n membagi bidang itu menjadi 4 daerah, masing-masing
merupakan bagian dalam suatu sudut, yakni bagian dalam APB, APB.
APB, dengan P terletak diantara A dan A pada garis m dan diantara B dan
B pada garis n.
Misalkan Q adalah titik pada l. Karena l tidak memotong m atau n, berarti Q
tidak terletak pada m atau n.
Jadi Q berada pada salah satu dari 4 bagian dalam sudut di atas, misalnya
APB.
Sekarang, dimana letak l ?
Karena salah satu titiknya yaitu titik Q berada pada bagian dalam APB dan l
tidak memotong sisi-sisi sudutnya, yakni PA dan PB. Jadi jelaslah bahwa l
berada di dalam APB yang berarti garis l seluruhnya termuat di dalam
APB.
Teorema akibat
Ada tak berhingga garis yang sejajar dengan suatu garis yang melalui suatu titik di
luar garis itu.

Bukti :

Misalkan diketahui garis l dan titik P.


Gunakan teorema l dan misalkan R sebarang titik yang terletak di dalam daerah
APB (Gambar 4.1). Maka garis PR (kecuali titik P) seluruhnya termuat dalam
daerah APB dan APB dan tidak memotong garis l yang termuat dalam
APB. Jadi PR / / l.
Karena terdapat tak berhingga garis yang seperti PR, berarti teorema akibat
terbukti.
Sungguh menarik kalau kita bandingkan Teorema 6.1 di atas dengan situasi
dalam geometri Euclides (yang hanya sebagian garis dapat termuat dalam
daerah suatu sudut). Karena dalam geometri bidang Euclides sebuah garis yang
melalui titik dalam daerah sudut akan memotong sudut di dua titik atau satu
titik. Jadi hanya sebuah segmen garis saja yang bisa termuat dalam daerah
sudut, atau hanya sebuah sinar garis saja.

Teorema di atas menunjukkan perbedaan yang jelas antara geometri

Euclides

dan geometri Lobachevsky jika dipandang dari sifat-sifat nonmetrik. Hal ini
seharusnya tidaklah terlalu mengherankan, karena postulat kesejajaran Euclides
(dalam bentuk postulat Playfair) dan postulat kesejajaran Lobachevsky memang
berbeda sifat khusus grafiknya. Perhatikan, hasil yang tak terhindarkan pasti terjadi,
jika kita mengasumsikan postulat Lobachevsky.
C. Sanggahan
Anda mungkin keberatan bahwa Teorema 6.1 ternyata valid secara abstrak,
9

tetapi tidak sesuai dengan kenyataan fisiknya. Jadi, konklusi di atas memang secara
logis diperoleh dari postulat kesejajaran Lobachevsky, tetapi asumsi itu secara fisik
keliru. Jika anda membuat pernyataan demikian, berarti anda mulai mengikuti jejak
para ahli geometri non-Euclides. Karena jika mereka mulai mengembangkan teori
mereka, mereka pasti telah meragukan validitas empirik dari postulat kesejajaran
yang baru itu. Yang diperlukan bagi seseorang untuk berpikir secara matematis
adalah asumsi-asumsi (postulat-postulat) yang secara logis dapat menghasilkan
konklusi (teorema). Validitas argumen matematis tidak bergantung pada benar atau
salahnya asumsi dasar yang digunakannya.
Meskipun demikian, wajarlah kita memilih asumsi yang akan menimbulkan
kekeliruan jika diterapkan pada dunia nyata? Jawabnya sudah jelas, tetapi
kenyataannya hal ini merupakan pertanyaan yang sulit dan rumit yang tidak
mungkin dijawab dengan ya atau tidak saja. Harus ada beberapa penjelasan.
Pertama, ahli matematika seharusnya bebas memilih postulat dan
mempelajari konsekuensinya, bebas dari pertimbangan kegunaan praktisnya
maupun validitas empirisnya.
Kedua, proporsi matematika itu abstrak; untuk mengujinya secara empiris
kita harus menafsirkan istilah-istilah dasarnya. Meskipun tampaknya salah dalam
suatu interpretasi (penafsiran), mungkin menjadi benar dalam intepretasi yang lain.
Sebagai contoh, suatu postulat menjadi salah jika garis diinterpretasikan sebagai
tali yang tegang, mungkin jadi benar jika diinterpretasikan sebagai sinar lampu.
Akhirnya, janganlah kita lupa bahwa penentuan kebenaran empiris dari pernyataan
geometris bukanlah urusan kita sebagai ahli matematika sebab hal itu bukanlah
merupakan percobaan mental yang dapat disimpulkan secara santai. Hal itu
termasuk dalam bidang pengetahuan tentang percobaan dan penelitian yang
dilaksanakan oleh ahli fisika, astronom dan para peneliti, diketahui garis (secara
fisik) l dan titik P (secara fisik) di luar l, maka ada garis m (secara fisik) yang tidak
memotong l tetapi melalui P yang tidak terletak pada l? Bagaimana kita menguji
hal itu?
Untuk menentukan kebenaran pernyataan secara empiris, seringkali
10

merupakan masalah yang sulit, dan seringkali hanya memperoleh pendekatannya


saja atau kebenarannya secara statistik saja. Sebagai contoh yang klasik, perhatikan
postulat kesejajaran Euclides : postulat itu telah digunakan turun-temurun oleh para
ilmuwan dan insinyur; postulat tersebut telah mengalami pengujian waktu itu. Kita
merasa yakin bahwa itu merupakan fakta empiris.
Dengan proses berpikir yang sama kita yakin bahwa postulat kesejajaran
Lobachevsky secara empiris adalah salah. Marilah kita renungkan masalah ini
sebentar apa saja yang terlibat dalam pernyataan-pernyataan ini ? Adakah kita
menyatakan bahwa, jika diketahui garis (secara fisik) l dan titik P (secara fisik) di
luar l, maka ada garis m (secara fisik) yang tidak memotong l tetapi melalui P yang
tidak terletak pada l? Bagaimana kita menguji hal itu?
Akankah kita gunakan tali, garis-garis di papan tulis, atau sinar lampu? Ingat,
betapa lebih sulit lagi membuktikan secara empiris bahwa hanya ada satu garis
yang demikian? Misalkan ada satu garis yang memenuhi, yaitu garis m.

P
l
m
Apakah kita benar-benar tahu sifat-sifat fisiknya sehingga dapat menunjukkan
hanya ada satu garis seperti itu ?
Misalkan m a dalah garis (secara fisik) yang melalui P dan membentuk sudut yang
sangat kecil dengan m; dapatkah kita nyatakan bahwa secara fisik m pasti
memotong l?

11

Pernyataan tentang kebenaran empiris postulat kita memang sulit di jawab


dan akan dibahas lebih lanjut pada bab 8. Saat ini kita puas jika kita telah dapat
menghilangkan keraguan dan mempunyai secara empiris. Postulat kesejajaran
Euclides pasti benar dan postulat kesejajaran Lobachevsky pasti salah. Kita
harapkan hal ini cukup dengan menghilangkan perasaan bahwa geometri
lobachevsky hanyalah abstrak yang jauh dari dunia nyata.
D Jumlah sudut segitiga dalam geometri Lobachevsky
Teorema 1 menunjukkan bagaimana kedudukan atau sifat-sifat non metrical dalam
geometri non-Euclides tentu berbeda dengan geometri Euclides. Akan ditunjukkan
dalam Teorema 7.2 bagaimana sifat metrical, jumlah besar sudut dalam segitiga,
tentu berubah jika kita mengubah postulat kesejajarannya.
Kita awali dengan dua lemma yang valid dalam geometri netral. Kita
tangguhkan pengenalannya karena kedua lemma tersebut hanya digunakan untuk
menetapkan Teorema 7.2. Lemma 7.1 merupakan pengulangan kembali Teorema
Saccheri Legendre
Lemma 7.1.
Jumlah besar dua sudut dalam segitiga adalah kurang atau sama dengan besar
sudut luar yang tida bersisian dengan sudut tersebut.
Bukti :
Perhatikan D ABC. Menurut Teorema Sacheri-Legendre :
A + B + C < 1800.
Jika kedua ruas ketidaksamaan dikurangi dengan C diperoleh : A B + <
1800 - C. Lemma tersebut berlaku karena sudut luar C sama dengan 180 0 -
C.
Lemma 7.2
12

Misalkan diketahui garis l, titik P di luar l, titik Q pada l.


Misalkan diberikan sisi PQ. Maka ada titik R di l yang terletak satu pihak dengan
PQ, sehingga PQR sekecil yang kita inginkan.
P

lQR
Bukti :
Misalkan a adalah sudut yang kecil.
Akan kita tunjukkan bahwa ada titik R pada l yang terletak di sebelah kanan PQ
sedemikian hingga PRQ < a.
Pertama, kita bentuk barisan sudut-sudut :
PR1Q, PR2Q, ..,
yang setiap suku tidak lebih besar dari suku sebelumnya.
Perhatikan gambar berikut ini :

Misalkan R1 titik pada l dan berada di sebelah kanan sisi PQ sedemikian hingga
QR1 = PQ (Gambar 4.5).
Tarik PR1. Maka PQR1 adalah sama kaki dan QPR1 = PR1Q =
b1.
13

Misal besar sudut luar PQR1 di Q = b. Menurut Lemma 7.1


b1 + b1 = 2b1 < b,
berarti :
b1 <

1
2 b .(1)

Sekarang dibentuk segitiga baru dan diulang lagi argumen di atas. Perpanjang
QR1 melalui R1 ke R2, sedemikian hingga R1R2 = PR1.
Tarik PR2. Maka PR1R2 adalah samakaki dan R1PR2 = PR2R1
= PR2Q = b2
Jadi, sesuai dengan Lemma 6.1 b2 + b2 = 2b2 < b1
berarti :
b2 <

1
2 b1

sesuai dengan persamaan (1) diperoleh :


1 b2 < 2 2 b

Dengan melanjutkan proses di atas sebanyak n kali, maka akan diperoleh titik
Rn pada l dan di sebelah kanan sisi PQ sedemikian hingga :
bn = PRnQ <

1
n
2 b

Dengan memilih n cukup besar maka bisa diperoleh b

1
2n

demikian PRnQ < a. Jadi teorema berlaku untuk R = Rn.


Teorema 7.2
Ada sebuah segitiga dengan jumlah besar sudut kurang dari 1800.

14

< a. Dengan

Bukti :
Misalkan l suatu garis dan P di luar l. Kita buat garis m melalui P sejajar l
dengan cara biasa sebagai berikut :
Misal PQ l di Q, dan m PQ di P.
Menurut postulat kesejajaran Lobachevsky ada garis lain yaitu garis n yang
melalui P dan sejajar l. Salah satu sudut yang dibentuk n dengan PQ adalah
lancip.
Misalkan : X titik pada n sedemikian hingga QPX lancip
Y titik pada m dan n di sebelah kanan sisi PQ seperti X.
0

a = XPY. Maka QPX = 90 a

Sekarang gunakan Lemma 7.2. Misalkan R pada l dan berada di sebelah kanan
sisi PQ yang memuat X, sedemikian hingga PRQ < a.
Perhatikan PQR. Kita punya :
PQR = 900
QRP < a
RPQ < XPQ = 900 a
Jika dijumlahkan diperoleh :
PQR + QRP + RPQ < 900 + a + 900 a = 1800
Jadi PQR mempunyai jumlah besar sudut kurang dari 1800 dan teorema
terbukti.
P

l
Q

Urutan pembuktian di atas sungguh sangat sederhana. Untuk mengetahui lebih


dalam, perhatikan dulu situasi yang sama dalam geometri Euclides.
Misal : l dan m tegak lurus pada PQ di Q dan P.
R sebarang titik pada l, di sebelah kanan sisi PQ Jika R menjauhi PQ
sampai tak terhingga, maka QRP mendekati 00 dan QPR mendekati 900.
15

Dalam geometri Lobachevsky agak sedikit berbeda. Kita masih punya garis l
dan m tegak lurus pada PQ di Q dan P sedemikian hingga m / / l. Tetapi
sekarang (seperti pada pembuktian Teorema 2) ada garis lain PX yang sejajar l,
sedemikian hingga :
QPX < 900. Misalkan R sebarang titik pada l di sebelah kanan PQ seperti
X.
Jika R menjauhi PQ sampai tak terhingga, maka QRP mendekati
00 seperti pada geometri Euclides. Tetapi QPR tidak mendekati 900, karena
QPR selalu kurang dari QPX.
Jadi, jika R cukup jauh, PQR akan memiliki jumla besar sudut kurang dari
1800. Sebagai contoh, jika QPX = 890 kita hanya perlu menempatkan R
0

sedemikian hingga QRP < 1 .


P

.X
l
Q

Akhirnya, Anda mungkin menolak bahwa kita tidak akan dapat mendapatkan
QPR < QPX, yakni sinar PR terletak dalam QPX.
Perhatikan bahwa sinar PR dan sinar PX adalah berbeda dan keduanya
berada di dalam sudut yang dibentuk oleh sinar PQ dengan sinar yang lain.
Misalkan sinar PX terletak di dalam QPR, maka sinar PX akan memotong
QR dan sudah tentu memotong l. Karena hal ini tidak mungkin terjadi, berarti
sinar PR harus berada di dalam QPX.
Teorema berikut merupakan teorema yang penting, dan merupakan
konsekuensi langsung dari Teorema 7.2.

16

Teorema 7. 3
Jumlah besar sudut setiap segitiga kurang dari 1800.
Bukti :
Menurut akibat 2 teorema 6.6 (geometri netral) : Jika ada sebuah segitiga
yang jumlah besar sudutnya kurang dari 1800, maka setiap segitiga jumlah besar
sudutnya juga kurang dari 1800 (1)
Menurut Teorema 7.2 (geometri Lobachevsky) :
Ada sebuah segitiga yang jumlah besar sudutnya kurang dari 1800.
(2)
Berdasarkan (1) dan (2) maka jumlah besar sudut setiap segitiga kurang dari
1800.
Akibat 1 Teorema 7.3
Jumlah besar sudut-sudut dalam segiempat kurang dari 3600.
Akibat 2 Teorema 7.3
Tidak ada persegipanjang.

Meskipun Teorema 7.3 tersebut berbeda dengan teorema serupa pada


geometri Euclides, mungkin anda masih tetap berasumsi bahwa jumlah besar
sudut suatu segitiga itu konstan, seperti pada geometri Euclides. Hal ini tidak
mungkin pada geometri Lobachevsky, di mana jumlah besar sudut suatu
segitiga bervariasi antara 00 dan 1800.
E. Adakah segitiga-segitiga yang sebangun dalam geometri Lobachevsky?

17

Berikut ini akan ditunjukkan bahwa segitigasegitiga yang sebangun tidak ada dalam geometri Lobachevsky, tetapi yang ada
hanyalah segitiga-segitiga yang kongruen. Hal ini sesuai dengan teorema berikut
ini.
Teorema 7.4
Dua segitiga dikatakan kongruen jika sudut-sudut yang bersesuaian sama.
A
A

Bukti :
Andaikan teorema 4 salah. Berarti ada dua segitiga, misal ABC dan ABC
sedemikian hingga : A = A, B = B, C tetapi kedua segitiga tersebut
tidak kongruen. Jadi AB AB (Jika AB = AB tentu kedua segitiga tersebut
kongruen dengan sd-ss-sd).
Demikian pula jika AC AC dan BC BC.
Perhatikan tripel segmen AB, AC, BC dan AB, AC, BC. Salah satu
dari tripel segmen tersebut pasti terdiri atas dua segmen yang lebih besar dari dua
segmen yang bersesuaian dari tripel yang lain.
Akibatnya, kita dapat memisalkan AB > AB dan AC > AC. Selanjutnya
tentukan titik B pada AB dan C pada AC sedemikian hingga AB = AB dan
AB = AC
Jadi ABC kongruen ABB.
18

Akibatnya : BBC = B = B.
Berarti BBC adalah suplemen B dan BCC adalah suplemen C,
dengan demikian segiempat
BBCC mempunyai jumlah besar sudut sama dengan 3600 (bertentangan dengan
akibat 1 teorema 7.3).
Di sini telah kita lihat perbedaannya dengan geometri Euclides. Sesuai
dengan Teorema 7.4, dalam geometri Lobachevsky tidak ada teori tentang gambargambar sebangun yang didasarkan pada definisi biasa, karena jika dua segitiga
sebangun maka sudut-sudut yang bersesuaian sama, dan oleh karena itu kedua
segitiga pasti kongruen. Secara umum, dua gambar yang sebangun pasti kongruen,
dan juga mempunyai ukuran yang sama.
F. Teori Luas Lobachevsky
Ukuran luas dalam geometri Lobachevsky berbeda dengan geometri Euclides yang
menggunakan satuan luas persegi, karena persegi tidak ada dalam geometri
Lobachevsky. Untuk perhitungan besarnya luas dapat digunakan metode
perhitungan besarnya luas dapat digunakan metode perhitungan integral dan
metode pendekatan tertentu. Untuk penyederhanaan, kita batasi dengan luas
segitiga saja.
Tanpa memperhatikan bagaimana luas didefinisikan yang pasti luas
memiliki sifat-sifat berikut :
a) kepositifan:
Setiap segitiga ditentukan secara tunggal oleh bilangan positif yang dinamakan
luasnya.
b) invariansi terhadap kongruensi :

19

segitiga-segitiga yang kongruen memiliki luas yang sama.


c) sifat aditif (penambahan) :
Jika segitiga T dibelah menjadi segitiga T1 dan T2, maka luas T adalah jumlah
luas T1 dan T2.
Akibatnya, setiap pengukuran luas menentukan fungsi bernilai real yang
didefinisikan pada semua segitiga yang memenuhi sifat a), b), dan c). Hal ini
menunjukkan bahwa kita definisikan konsep pengukuran luas atau fungsi luas pada
segitiga yang mempunyai ketiga sifat tersebut, lepas dari proses pengukurannya.
Jadi kita tentuan definisi berikut.
Definisi 7.1
Perhatikan suatu fungsi yang memasangkan setiap segitiga dengan bilangan real
tertentu sedemikian hingga sifat a), b) dan c) terpenuhi. Fungsi tersebut dinamakan
fungsi luas atau ukuran luas (untuk segitiga). Jika adalah fungsi semacam itu dan
ABC adalah segitiga, maka (ABC) menyatakan suatu nilai yang dipasangkan oleh
dengan segitiga ABC, dan disebut luas atau ukuran segitiga ABC yang ditetapkan
oleh .
Sudah tentu definisi di atas tidak terbatas pada geometri Lobachevsky saja
tapi juga berlaku untuk sebarang geometri netral. Dalam geometri Euclides telah

kita kenal rumus luas segitiga (

1
a .t
2

) yang menghasilkan sebuah fungsi luas,

dengan memasangkan setiap segitiga dengan bilangan

1
2 x alas x tingginya.

Kita lanjutkan dengan mengamati sifat aditif c) dari fungsi luas, yang dapat
dikembangkan sampai sejumlah suku-suku yang berhingga.
Teorema 7.5 (Penjumlahan berhingga)
Misalkan sebuah segitiga dipecah menjadi suatu himpunan berhingga segitiga20

segitiga yang tidak saling menutupi 1, 2, , n. Maka fungsi luas nya :


() = (1) + (2) + . + (n).
Hasilnya akan sama pentingnya baik pada geometri Euclides maupun
geometri Lobachevsky. Kita kenalkan idea fungsi luas dalam geometri
Lobachevsky tanpa memberikan suatu contoh tertentu. Ada suatu contoh yang
hanya penting dan dikenal pada geometri Euclides, tetapi umumnya dinyatakan
dalam sudut-sudut segitiga. Secara formal kita nyatakan definisi berikut.
Definisi 7.2:
Defect ABC adalah 180 ( A + B + C). Di sini A, B, C,
diambil dari besar derajat dari sudut-sudut yang dimaksud. Jadi defect suatu
segitiga adalah bilangan real bukan bilangan derajat.
Defect suatu segitiga berlaku seperti pengukuran luas :
Teorema 7.6
Defect adalah fungsi luas pada segitiga.
Bukti :
Sesuai dengan Teorema 7.3, sifat a) berlaku, sifat b) juga memenuhi, karena
segitiga-segitiga yang kongruen mempunyai sudut-sudut yang bersesuaian sama,
sehingga jumlah sudutnya sama dan defectnya juga sama.
A

Untuk menyelidiki sifat c) misalkan diketahui ABC, dan D suatu titik


pada BC sedemikian hingga AD memecah ABC menjadi ABD, dan
ADC. Jumlah defect kedua segitiga ini adalah :
180 ( BAD + B + BDA) + 180 ( CAD + C + CDA).
Dengan menyusun kembali, dan memperhatikan bahwa BDA + CDA = 180,
21

kita dapatkan jumlah defect kedua segitiga tersebut adalah


180 - ( BAD + CAD + B + C). = 180 - ( BAC + B + C).
yang merupakan defect ABC.
Teorema di atas menunjukkan bahwa fungsi luas ada. Kita tentunya heran jika ada
fungsi luas yang lain, dan seberapa banyak variasinya. Metode pembuatan fungsi
luas yang baru akan diberikan pada teorema berikut, yang merupakan akibat
langsung dari definisi fungsi luas.
Teorema 7.7
Perkalian fungsi luas dengan bilangan positif juga menghasilkan fungsi luas.
Perkalian fungsi luas dengan bilangan positif mengakibatkan perubahan
satuan ukurannya (yakni : sebarang segitiga mempunyai ukuran 1), tetapi tidak
mengubah ratio ukuran segitiganya. Jika kita memakai satuan yang berbeda untuk
ukuran sudut dan mendefinisikan defec dengan cara alami, kita akan memperoleh
perkalian suatu defect dengan konstanta seperti yang kita definisikan semula.
Sebagai contoh, misalkan kita ubah satuan sudut dari derajat ke menit.
Maka hal tersebut akan menyebabkan dua macam peruahan :
(1) setiap ukuran sudut harus dikalikan dengan 60.
(2) angka kunci 180 harus diganti dengan 60 kali 180 atau 10800.
Jadi definisi yang tepat untuk defect adalah 60 kali defect yang kita definisikan
semula.
Sayangnya teorema terakhir tidak menjawab pertanyaan kita tentang
macam-macam fungsi luas yang mungkin. Kita bahas kemungkinan fungsi luas
yang bukan merupakan perkalian defect dengan suatu konstanta.
Kita mungkin merasa bahwa defect akan dibuang dan bukan merupakan fungsi luas
tertentu, sementara fungsi luas yang lain mungkin diperoleh secara tidak
22

proporsional terhadap defect. Jika hal itu yang terjadi, maka akan ada dua segitiga
yang mempunyai luas yang sama karena ditentukan oleh suatu fungsi luas tertentu,
dan mempunyai luas yang tidak sama oleh fungsi luas yang lain. Dalam praktiknya,
hal ini mungkin meresahkan : harga sebuah rumah yang bergantung pada sistem
ukuran yang digunakannya. Untungnya, hal seperti itu tidak pernah terjadi dalam
geometri Lobachevsky.
Contoh 7.1
Jika diketahui ABC dan PQR di dalam ABC, buktikan bahwa defect ABC
> defect PQR
Bukti : Buat Segitiga ABC

R
P

Q
B

Hubungkan titik A pada ABC dengan titik P


pada PQR.
Hubungkan titik A pada ABC
dengan titik Q pada PQR
Hubungkan titik B pada
ABC
dengan titik Q pada PQR
Hubungkan titik B pada
ABC
dengan titik R pada PQR
Hubungkan titik C pada ABC
dengan titik R pada PQR
Hubungkan titik C pada ABC
dengan titik P pada PQR

Berdasarkan Teorema
7.3
ABC : A3 + +
B1
Q2
BQR : B2 + +
Q3
R1
BCR : B3 + R2 +
C1
CPR : C2+ P4 +
R3
CPA : C3 + A1 +
P1

< 180
< 180
< 180
< 180
< 180

APQ : A2 + P2 + Q1 < 180


23

A123 + B123 + C123 + Q123 + R123+ P124 <


6.180
A + B + C + P124+ Q123 + R123 <
6.180
A + B + C < 6.180 ( P124+ Q123 + R123) A + B
+ C < 3.360 [(360- P3)+(360- Q4) +(360- R4)]
A + B + C < 3.360 3.360+ P3 + Q4 + R4
A + B + C < P3 + Q4 + R4
- (A + B + C) > 180 - (P3 + Q4 + R4)
Defect ABC > defect PQR . Terbukti
Teorema 7.8
Sebarang dua fungsi luas adalah proporsional. Buktinya tidak dibahas, karena
agak sulit dan memang merupakan bagian dari mata kuliah Analisis Real.
Jika kita lihat teorema 7.6 dan 7.8, sangat mungkin mendefinisikan luas segitiga
dengan menggunakan defectnya; dengan mengabaikan faktor proporsionalnya.
Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam geometri Euclides tiga-dimensi, jumlah
sudut segitiga bola adalah lebih besar dari 180 0, dan luas segitiga bola didefinisikan
sebagai kelebihannya, yakni jumlah derajat ukuran sudut-sudutnya dikurang 180.
Kita dapat menyimpulkan bahwa teorema 7.8 juga benar untuk geometri Euclides
dan diperlukan untuk memvalidasikan teori luas Euclides yang sudah kita kenal itu.
G. Garis-Garis Yang Sejajar Dan Sama Jaraknya
Dalam geometri Euclides, ciri penting dari dua garis yang sejajar adalah
bahwa kedua garis itu jaraknya sama di mana-mana. Hal itu tidak ada dalam
geometri Lobachevsky, sesuai dengan teorema berikut ini.
Teorema 7.9
Tidak ada dua garis sejajar yang jaraknya sama di mana-mana.

24

l
A

Bukti:
Akan kita tunjukkan bahwa untuk sebarang dua garis l dan l, maka tidak ada
tiga titik di l yang jaraknya sama dari titik di l. Misalkan A, B, dan C adalah
tiga titik berbeda pada l, dengan B di antara A dan C.
Dari A, B, dan C tarik garis tegaklurus ke l, yang masing-masing memotong l
di A, B dan C. Misalkan AA = BB = CC.
Dari AA = BB, AAB = BBA dan AB = BA Jadi : AAB
BBA. Akibatnya AB = BA
Karena BB = AA dan BA = AB maka ABB BAA.
Akibatnya :
AAB = BBA (1)
yang berarti sudut-sudut atas (summit) segiempat AABB adalah sama.
Dengan cara dan alasan yang sama, dapat pula diterapkan pada segiempat
CCBB, yang mengakibatkan :
CCB = BBC (2)
dengan menjumlahkan (1) dan (2) diperoleh :
AAB + CCB = BBA + BBC =
0

180 .
Jadi jumlah besar sudut dalam segiempat AACC adalah 360 0 yang
bertentangan dengan akibat 1 Teorema 6.3.
Dengan demikian pemisalan salah, dan yang benar adalah Teorema 7.9.
Kita simpulkan bagian ini dengan diskusi tentang jenis-jenis pasangan
garis-garis sejajar. Sesuai bukti teorema di atas: jika dua garis sejajar, maka
hanya ada dua hal yang mungkin :
25

(1) ada dua titik pada garis yang satu yang jaraknya sama
dari garis yang lain.
(2) tidak ada dua titik pada garis yang satu yang
jaraknya sama dari garis yang lain.
Masalah (1) terjadi jika dan hanya jika kedua garis itu punya garis
tegaklurus persekutuan. Dalam hal ini kedua garis tersebut memencar
(divergen) sampai tak berhingga baik di sebelah kiri maupun di sebelah kanan
garis tegaklurus persekuruannya.
Sedangkan (2) terjadi jika salah satu
garis tersebut
merupakan asimptot dari garis yang lain.
Teorema 7.10
Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi
sifat kesejajaran Euclides, maka ada sebuah persegipanjang.
Misalkan diketahui garis l dan titik P. PQ tegaklurus dengan l di Q. Pilih titik R
(yang berbeda dengan Q) yang terletak di l. Buatlah garis m yang tegaklurus
dengan l di R. Buatlah garis melalui P yang tegaklurus m di S. Maka kita
dapatkan segiempat PQRS dengan sudut Q, R, S yang masing-masing siku-siku.
Akan dibuktikan PQRS persegi panjang.
Bukti :
Karena PS dan l keduanya tegaklurus terhadap m, maka PS sejajar l (akibat 1
teorema 2 geometri netral).
Karena PS dan l memenuhi sifat kesejajaran Euclides, maka PS satu-satunya
garis yang melalui P yang sejajar l (akibat 3 teorema 2 geometri netral). PQ
tegaklurus l di Q dan PS sejajar l, maka PQ tegaklurus PS di P. Jadi segiempat
26

PQRS adalah persegipanjang.


Akibat Teorema 7.10
Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat
kesejajaran Euclides maka setiap segitiga jumlah sudutnya adalah 1800.
Bukti :
Menurut Teorema 7.10: jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi
sifat kesejajaran Euclides maka ada sebuah persegipanjang. Sedangkan menurut
Teorema 7.5: jika ada sebuah persegipanjang maka setiap segitiga jumlah
sudutnya adalah 1800.
Dengan menggunakan prinsip silogisma dapat disimpulkan bahwa :
Jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat kesejajaran
Euclides maka setiap segitiga jumlah sudutnya adalah 1800.
Sekarang, perhatikan implikasi dari sifat kesejajaran Lobachevsky berikut.
Teorema 7.11
Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat
kesejajaran Lobachevsky maka ada segitiga yang jumlah sudutnya kurang dari
1800.
Bukti :
Teorema ini sesungguhnya sesuai dengan teorema 2 yang telah dibuktikan. Jadi
bukti teorema ini juga bisa menggunakan bukti teorema tersebut.
Akibat teorema 7.11
Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat
kesejajaran Lobachevsky maka setiap segitiga jumlah sudutnya kurang dari 1800.
Bukti :
27

Menurut Teorema 7.11: Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan
sebuah titik yang memenuhi sifat kesejajaran Lobachevsky maka ada segitiga
yang jumlah sudutnya kurang dari 1800.
Menurut akibat 2 Teorema 7.6 : Jika ada sebuah segitiga yang jumlahnya
kurang dari 1800 maka setiap segitiga jumlah sudutnya kurang dari 1800.
Berdasarkan prinsip silogisme dapat disimpulkan bahwa :
Jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat kesejajaran
Lobachevsky maka setiap segitiga jumlah sudutnya kurang dari 1800.
Teorema 7.12
Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat
kesejajaran Lobachevsky maka setiap garis dan setiap titik luarnya tentu memenuhi
sifat kesejajaran Lobachevsky, yang berarti geometrinya adalah geometri Euclides.
Bukti :
Andaikan Teorema 7.12 salah. Berarti ada satu garis dan satu titik yang
memenuhi sifat kesejajaran Lobachevsky.
Menurut akibat Teorema 7.11, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang
memenuhi sifat kesejajaran Lobachevsky maka setiap segitiga jumlah sudutnya
kurang dari 1800.
Tetapi menurut akibat Teorema 7.10, jika ada sebuah garis dan sebuah titik
yang memenuhi sifat kesejajaran Euclides maka setiap segitiga jumlah
sudutnya adalah 1800.
Terjadi kontradiksi, maka pengandaian salah, berati teorema 7.12 benar.
Akibat 1 teorema 7.12
28

Dalam geometri netral, jika ada sebuah garis dan sebuah titik yang memenuhi sifat
kesejajaran Lobachevsky maka setiap garis dan setiap titik luarnya tentu memenuhi
sifat kesejajaran Lobachevsky, yang berarti geometrinya adalah geometri
Lobachevsky.
Bukti :
Misal diketahui garis l dan titik P memenuhi sifat kesejajaran Lobachevsky.
Misalkan l sebarang garis dan P sebarang titik yang tidak dapat memenuhi
sifat kesejajaran Lobachevsky. Berarti hal ini kontradiksi dengan teorema 7.12.
Akibat 2 teorema 7.12
Setiap geometri netral tentu merupakan geometri Euclides atau geometri
Lobachevsky.
Akibat 3 teorema 7.12
Suatu geometri netral merupakan geometri Euclides atau geometri Lobachevsky,
yang berarti jumlah sudut segitiganya adalah sama dengan atau kurang dari 1800.
Bukti :
Dalam geometri netral, misalkan ada sebuah seigita yang memiliki jumlah
sudut 1800. Maka geometri tersebut tidak mungkin merupakan geometri
Lobachevsky, dan oleh karena itu tentu merupakan geometri Euclides (menurut
akibat 2 teorema 7.12). Begitu pula dalam kasus yang lain.
Akibat 4 teorema 7.12
Suatu geometri netral yang memuat persegi panjang, tentu merupakan geometri
Euclides.
H. Pengenalan Geometri Elliptik

29

Geometri Non-Euclides memuat Geometri Hiperbolik dan Geometri


elliptik. Anda telah mempelajari Geometri Hiperbolik dari Gauss, Bolyai dan
Lobachevsky yang sering disebut dengan Geometri Lobachevsky, sedang Geometri
Elliptik yang akan Anda pelajari terkenal dengan Geometri Rieman..
Bernhard Riemann (1826 1866) dari Jerman dalam tahun 1854
membacakan disertasinya tentang penemuannya yang baru di Fakultas Filsafat
Gottingen. Ia mulai dengan asumsi : Garis-garis Euclides maupun dari Geometri
Hiperbolik. Postulat Kesejajaran dari Riemann ialah : Tidak ada garis-garis yang
sejajar dengan garis lain.
Jadi dua garis selalu berpotongan dan tidak ada dua garis sejajar. Untuk
mencari letak perbedaan utama teori Riemann dengan teori Euclides, maka kita
ingatkan bahwa garis tidak berhingga biasanya dipakai untuk membuktikan adanya
dua garis sejajar, yaitu suatu teorema dalam geometri Euclides sebagai berikut.
Teorema 7.13
Dua garis tegaklurus pada satu garis yang sama adalah sejajar.
Diketahui : garis itu l dan m yang tegaklurus pada n
Akan dibutikan l dan m sejajar.
Bukti :
l

n
a

b
c

30

b
c

Andaikan l dan m tidak sejajar, maka garis l dan m berpotongan di C


Pernyataan

Alasan

diperpanjan
g
suatu segmen boleh
diper-panjang dua
kali.
dengan AC = CA
dua titik menentukan
1
Dilukis CB
CA

ABC ABC

garis
s, sd,
s

ABC = ABC

unsur

yang

berkorespondensi
Jadi, ABC = 900
=
tegaklurus pada AB.
BC dan BC berimpit

ABC, BC dan BC
melalu
i
l titik pada
suatu garis hanya
ada l
garis
yang
tegaklurus
garis itu

Jadi, AC dan BC atau garis l dan m mempunyai titik C dan C yang berimpit.
Terdapat pertentangan dengan ketentuan, bahwa l dan m berlainan. Jadi
pengandaian salah, berarti l dan m sejajar.
Jika postulat Riemann harus berlaku, maka tentu ada yang salah dalam bukti
di atas yang menyebabkan hasil yang berbeda. Kiranya langkah ke-6 yang
menyebabkan itu. Dalam bukti ini Euclides secara diam-diam menggunakan prinsip
pemisahan
(separation principle), yaitu bahwa setiap garis membagi bidang dalam 2
setengah bidang (2 daerah), yang tidak mempunyai titik persekutuan. Jadi dalam
31

langkah pertama telah dianggap, bahwa C dan C berlainan.


Jika prinsip pemisahan tidak digunakan, maka C dan C dapat berimpit dan bukti
teorema di atas kurang benar. Jika prinsip pemisahan tetap digunakan, C dan C
harus berlainan. Kontradiksi dalam langkah 6 dapat dihilangkan, jika kita
meninggalkan prinsip, bahwa dua titik menentukan l garis dan memungkinkan dua
garis berpotongan pada dua titik. Hal ini menghasilkan teori baru.
Maka timbul 2 kemungkinan :
1) setiap 2 garis berpotongan pada 1 titik dan tidak ada garis yang
memisahkan suatu bidang (tidak menggunakan prinsip pemisahan)
2) setiap 2 garis berpotongan pada 2 titik dan setiap garis memisahkan bidang
(menggunakan prinsip pemisahan).
Euclides telah menggunakan prinsip, bahwa setiap 2 garis berpotongan pada 1
titik dan setiap garis memisahkan suatu bidang (menggunakan prinsip pemisahan).
Maka kemungkinan pertama menghasilkan Geometri Single elliptic dan
kemungkinan kedua menghasilkan Geometri double elliptic.
Kata elliptik dididasarkan atas Klasifikasi Geometri Proyektif. Geometri
Lobachevsky disebut Geometri Hiperbolik, mengingat bahwa melalui 1 titik diluar
suatu garis dapat dibuat 2 garis yang sejajar garis tersebut. Geometri Euclides
disebut Geometri Parabolik, mengingat bahwa hanya ada 1 garis yang sejajar garis
tersebut dan Geometri Riemann disebut Elliptik karena tidak ada garis yang dapat
dibuat sejajar garis tersebut.
Geometri

Riemann

berguna

sekali

dalam Matematika dan Fisika

Terapan (applied Mathematics and Physics) dan merupakan dasar matematik


dari teori relativitas dari Einstein.
Untuk dapat mudah memahami teorema-teorema berikut, maka sebagai model
dari geometri double elliptic ialah bola dan dari Geometri single elliptic suatu
setengah bola.
32

1. Dua garis berpotongan pada 2 titik; setiap garis memisahkan bidang


menjadi 2 setengah bidang.
2. Dua garis berpotongan pada 1 titik garis tidak memisahkan bidang menjadi
2 setengah bidang; 2 titik yang diametral dianggap sebagai 1 titik

Penyajian Geometri double elliptic


Euclides
Titik
titik pada bola S
garis
lingkaran besar bola S
bidang
bola S
segmen
busur dari suatu lingkaran
besar S
Jarak antara panjang busur terpendek
2
dari
lingkaran besar S yang
titik
melalui
kedua titik itu
Sudut
bola
antara 2 sudut
pada
(yang
dibentu
garis
k
oleh dua lingkaran
besar)
Ukuran sudut ukuran sudut pada bola

pada bola

Dapat dipahami, bahwa


urutan

tidak

pada

Geometri double elliptic, artinya [ABC] dapat sama dengan [BCA].

33

berlaku

Dalam Geometri Elliptic tetap berlaku, bahwa melalui satu titik pada suatu
garis hanya dapat dibuat 1 garis yang tegaklurus garis tersebut. Tetapi hal ini tidak
berlaku, jika titiknya di luar garis tersebut.
Untuk setiap garis l ada katub K sedemikian, hingga semua garis melalui K
tegaklurus pada 1 (gambarannya seperti semua meridian melalui kutub tegaklurus
pada ekuator atau khatulistiwa).
Sifat kutub. Misalkan l suatu garis. Maka ada suatu titik K, yang disebut
kutup dari l sedemikian, hingga :
a) setiap segmen yang menghubungkan K dengan suatu titik pada l tegak lurus
pada l.
b) K berjarak sama dari setiap titik pada l
Jarak K sampai sebarang titik pada l disebut jarak polar. Jarak polar suatu
kutub sampai garisnya adalah konstan, demikian pula panjang suatu garis.

Teorema-teorema dasar yang berlaku untuk Geometri Elliptic


Teorema 7.14
Dua garis yang tegaklurus pada suatu garis bertemu pada suatu titik.
Teorema 7.15
Semua garis yang tegak lurus pada suatu garis, berpotongan pada titik yang disebut
kutup dari garis itu dan sebaliknya setiap garis melalui kutub suatu garis tegaklurus
pada garis itu.
Teorema 7.16
Dalam sebarang segitiga ABC dengan C = 900, sudut A kurang dari sama dengan
atau lebih besar dari 900, tergantung dari segmen BC kurang dari, sama dengan atau
34

lebih besar dari jarak polar q.


Teorema 7.17
Jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga lebih besar dari 1800.
Teorema 7.18
Jumlah besar sudut-sudut suatu segiempat lebih besar dari 3600.
Teorema 7.19
Sudut-sudut puncak dari segiempat Saccheri sama dan tumpul.
Teorema 7.20
Dalam segiempat Lambert ABCD dengan A = B = C = 900, maka sudut
keempat D tumpul.
Teorema 7.21
Tidak ada persegi dalam Geometri Elliptic.
Teorema 7.22
Dua segitiga yang sebangun adalah kongruen. Teorema-teorema, di atas tidak
Kita buktikan disini, tetapi dapat kita yakini dengan menggunakan model.
Dalam geometri Hiperbolik luas suatu segitiga adalah kelipatan dari
defeknya. Maka dalam Geometri Elliptik luas suatu segitiga adalah kelipatan
konstan dari ekses (excess) nyata, yaitu :
= (A + B + C 180) atau
= (A + B + C )
tergantung dari satuan-satuan yang dipakai.

35

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Geometri Lobachevsky dapat digolongkan pada geometri
netral dengan memandang bahwa setiap segitiga jumlah
besar sudutnya kurang dari 1800.
2. Pada geometri Lobachevsky hanyalah dengan menerima
semua postulat geometri Euclides dengan membuang
postulat kesejajarannya dan mengganti dengan postulat
berikut ini :
Postulat Kesejajaran Lobachevsky
Paling tidak ada dua garis yang sejajar dengan suatu garis
yang melalui suatu titik di luar garis tersebut
3. Untuk dapat mudah memahami teorema-teorema berikut,
maka sebagai model dari geometri double elliptic ialah
bola dan dari Geometri single elliptic suatu setengah bola.

Dua garis berpotongan pada 2 titik; setiap garis


memisahkan bidang menjadi 2 setengah bidang.

Dua garis berpotongan pada 1 titik garis tidak


memisahkan bidang menjadi 2 setengah bidang; 2
titik yang diametral dianggap sebagai 1 titik

36

DAFTAR PUSTAKA

Coxeter, H. S. M. 1998. Non-Euclidean Geometry. Washington, D.C. The


Mathematical Association Of America.
Greeberg, Marvin Jay. 1993. Euclidean and Non-Euclidean Geometries. New
York: W.H. Freeman and Company.
Keedy, Mervin L. dkk.1967. Exploring Geometri. New York: Holt, Rinchart and
Winston, Inc.
Moeharti HW. 1986. Materi Pokok Sistem-Sistem Geometri. Jakarta: Kanika
Jakarta, Universitas Terbuka.
Prenowitz, W. Jordan, M. 1965. Basic Concepts of Geometry. Blaisdell Publishing
Company: Waltham, Manssachusetts. Toronto. London.
Rich, Barnett. 2005. Geometri. (Terjemah Irzam Harmein, S.T.): Jakarta:
Erlangga
Sova, Dawn B. 1999. How to Solve Word Problems in Geometry. New York:
McGraw-Hill.

37