Anda di halaman 1dari 7

PAPER

MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN


(Pola Pengolahan Tanah)

Oleh :

Dewi Ismiati

240110120100

Yusra Arizana

240110120104

Mutia Rizki

240110120126

Fathin Hanifati

240110120128

DEPARTEMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015
1. Continuous pattern, turn strip each end

(Sumber : Hunt, 2001)


Pola pongolahan tanah Continous pattern atau pola bersambung balik
merapat adalah suatu pola dimana arahnya selalu mengikuti atau bersambung
dengan pola sebelumnya dan berakhir di sisi sebaliknya.

Kelebihan dari jenis pola pengolahan tanah ini diantaranya :


-

Mudah dalam menanam.


Lebih cepat dan efisien dalam waktu.
Hasil lebih rapih.
Memudahkan operator.

2. Circoitous pattern, rounded corner


Pola ini diduga mempunyai efisiensi lahan yang sangat baik karena operasinya
dilakukan secara kontinyu. Pada kenyataannya, akan terbentuk area yang tidak
diolah berbentuk bulan sabit di setiap putarannya.

(Sumber : Hunt, 2001)


Pola kerja yang digunakan umumnya mengunakan pola circuitous rounded
corner. Traktor berjalan tegak lurus dengan alur bajakan. Gigi yang digunakan
adalah high 2 atau kelinci dua (istilah dari operator). Traktor pada kegiatan
penggaruan berjalan cukup cepat dengan kecepatan 1.16 1.39 m/s karena
penggaruan lebih ringan dari kegiatan pengolahan tanah sebelumnya (pembajakan
dan ripper). Kapasitas lapang dari hasil pengukuran diperoleh 1.23 ha/jam dengan
efisiensi 87.2 %, sedangkan dari data bagian mekanisasi kapasitas lapangnya
adalah 0.60 ha/jam 0.65 ha/jam.
3. Circuitous pattern, turn strip at corner diagonal

(Sumber : Hunt, 2001)


4. Headland pattern, from boundaries
Pembajakan dengan pola tepi dilakukan dari tepi membujur lahan, lemparan
hasil pembajakan ke arah luar lahan. Pembajakan kedua pada sisi lain pembajakan
pertama. Traktor diputar ke kiri dan membajak dari tepi lahan dengan arah
sebaliknya. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kiri sampai ke tengah
lahan. Pola ini juga cocok untuk lahan memanjang dan sempit. Diperlukan lahan
untuk berbelok (headland) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak
terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak
terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul).

(Sumber : Hunt, 2001)


5. Headland, from back furrow
Headland merupakan pengolahan tanah dilakukan dalam arah berlawanan
dengan arah putaran jarum jam. Pada sisi lahan yang panjang, bajak diturunkan
(dilakukan pengolahan tanah) di mulai dari sisi terluar lahan. Setelah traktor

sampai pada ujung lahan, bajak diangkat dan traktor melintasi sisi tersebut menuju
sisi panjang lahan yang lain (berseberangan) untuk pengolahan tanah berikutnya.
Demikian dilakukan seterusnya hingga seluruh lahan terolah dan pengolahan
tanah akan berakhir di bagian tengah lahan.

(Sumber : Hunt, 2001)


Berikut merupakan langkah langkah pola pengolahan dengan pola
Headland dari belakang galur :
1
2

Putaran keliling sebaiknya berlawanan arah dengan jarum jam.


Pada putaran pertama, pembajakan tanah dilakukan pada tepi petakan dan
diusahakan betul-betul rapat dengan pematang. Slice dilemparkan ke arah

kiri atau kearah tengah petakan.


Pada putaran kedua sampai keempat cara berbelok berpusing kearah lebih

dalam. Slice dilemparkan kearah kanan atau kearah pematang.


Pada putaran kelima dan selanjutnya cara berbelok biasa tidak seperti
putaran sebelumnya. Traktor meninggalkan petakan dengan metode back
furrow.

6. Circuitous pattern 270o, turn from boundaries or center


Pola ini biasanya dimulai dari titik tengah pada suatu lahan saat membajak.

(Sumber : Hunt, 2001)


7. Overlapping, alteration pattern

(Sumber : Hunt, 2001)

8. Straight alteration pattern

(Sumber : Hunt, 2001)


9. Circuitous pattern, square corners
Pola putaran ini dimulai pada bagian terluar dari lahan atau bagian pinggir dari
lahan menuju bagian tengah dari lahan, artinya ketika proses bajak dilakukan,
bajak akan mengolah tanah yang belum terolah secara memutar dimulai dari salah
satu sudut lahan. Pola pembajakan alternatif dan pola pembajakan memutar
dengan sudut persegi telah ditinggalkan karena kedua pola tersebut tidak dapat
dikombinasikan dengan bajak moldboard, berbeda dengan continous pattern yang
dapat dikombinasikan dengan dua bajak moldboard.

(Sumber : Hunt, 2001)

Referensi

Hunt,

Donnell.

Farm

Power

and

Machinery

Management: Tenth Edition. University of Illinois at UrbanaChampaign. 2001