Anda di halaman 1dari 26

TUGAS MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


CA CERVIKS

DISUSUN OLEH :
1. ACH. NUR FAJRI R.
2. MIRNA SISILIA
3. MEYLANI ARFIYANTI
4. NUERI NURHALIKAH
5. PRATNYA MARIA U.
6. AISYAH LAKSMI
7. SHABRINA KINANTI A.
8. DEWI UNTARI
9. ERNA SETYA DWI K.
10.INDAH AISSYIATUL F.

(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

TINGKAT II REGULER A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN


KESEHATAN SURABAYA
PRODI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SUTOPO
TAHUN AJARAN 2016/2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kanker serviks merupakan kanker tersering kedua di dunia pada perempuan namun
merupakan kanker yang sifatnya tersering terjadi di daerah berkembang. Pada tahun
2002prevalensi kasus kanker serviks di dunia mencapai 1,4 juta dengan 193/000 kasus baru
dan 273.000 kasus kematian. Dari data tersebut lebih dari 80% penderita berasal dari Asia
Aelatan, Sub-saharan Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari data WHO
menyatakan bahwa setiap tahunnya 230.000 perempuan meninggal akibat kanker serviks dan
190.000 penderita berasal dari negara berkembang (WHO, 2000).
Insiden kanker serviks bervariasi dari 10:10.000 dinegara barat sampai 40:100.000 di
negara berkembang. Tingginya angka penderita kanker serviks di negara berkembang
disebabkan oleh kurangnya program skrining dan fasilitas kesehatan yang berkualita, serta
tingginya prevalensi infeksi Human Papilloma Virus yang onkogenik.
Kanker serviks merupakan kanker tersering di Indonesia dengan perkiraan insidens
25-40: 100.000. Menurut data tahun 2000. Kanker serviks merupakan 28% dari seluruh
kanker yang diderita oleh perempuan dan 18% dari sleuruh kanker yang terjadi di Indonesia
dengan jumlah kasus baru sekitar 3256 kasus. Data tersebut diperkirakan bukan angka yang
sebenarnya dikarenakan masih banyak penderita yang tidak mau datang ke pelayanan
kesehatan untuk mengontrol penyakitnya.
Kanker serviks terjadi mulai dari dekade ke-2 kehidupan. Insidens puncak pada usia
45 tahun untuk kanker invasif dan 30 tahun untuk lesi prekanker. Di negara berkembang
seperti di negara Indonesia, puncak insidens kanker serviks terdapat pada usia 35-45 tahun.
Penurunan puncak insidens kanker serviks diperkirakan akibat adanya program skrinning
aktif yang bertujuan mendeteksi lesi prekanker sedini mungkin dari faktor risiko lain sepertui
perilaku seksual dan paritas.
Kanker serviks di Indonesia menjadi masalah besar dalam pelayanan kesehatan
karena kebanyakn pasien datang dalam stadiun yang lanjut. Hal itu diperkirakan akibat
program skrining yang sifatnya masih kurang. Schwartz et al menyatakan bahwa setengah
dari perempuan yang menderita kanker serviks belum pernah menjalani pap smear dan pasien
dengan kanker stadium lanjut baru mencari pertolongan medis setelah mengeluarkan sekret,
pendarahan pervagina atau nyeri yang sudah tidak tertahankan lagi oleh si penderita.
Symonds et al juga mengatakan bahwa progresi kanker serviks lebih dipengaruhi oleh
sifat biologis dari tumor tersebut daripada oleh keterlambatan diagnosis. Kanker pda stadium
lanjut mempunyai tingkat proliferasi yang lebih cepat dan waktu pembelahan yang lebih
singkat. Kanker serviks yang progesif terutama terjadi pada perempuan yang berusia lebih
tua.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana anatomi dan fisiologi rahim ?
2. Apa definisi dari Ca. Serviks?
3. Apa etiologi dari Ca. Serviks ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Ca. Serviks ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari Ca. Serviks ?
6. Bagimana WOC dari Ca. Serviks ?
7. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Ca. Serviks ?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari Ca. Serviks ?
9. Bagaimana komplikasi dari Ca. Serviks ?
10. Bagimana prognosis dari Ca. Serviks ?
11. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien Ca. Serviks ?
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan dan mengidentifikasi gangguan dalam sistem
Reproduksi, yaitu kanker Serviks.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana anatomi dan fisiologi rahim.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasiapa definisi dari Ca. Serviks.
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasiapa etiologi dari Ca. Serviks.
4. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana patofisiologi dari Ca. Serviks.
5. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana manifestasi klinis dari Ca. Serviks.
6. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana WOC dari Ca. Serviks.
7. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana pemeriksaan diagnostik dari Ca.
Serviks.
8. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana penatalaksanaan dari Ca. Serviks.
9. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana komplikasi dari Ca. Serviks.
10. Mahasiswa dapat mengidentifikasi bagaimana prognosis dari Ca. Serviks.

11. Mahasiswa dapat mengidentifikasibagaimana asuhan keperawatan pada klien Ca.


Serviks.

1.4. Manfaat
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang patofisiologi gangguan pada
sistem reproduksi : Ca. Serviks dalam tubuh manusia sehingga dapat bermanfaat bagi para
mahasiswa keperawatan dalam melakukan pemeriksaan dan tindakan keperawatan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi dan Fisiologi Rahim


Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pear, terletak dalam rongga panggul
kecil di antara kandung kemih dan anus, ototnya desebut miometrium dan selaput lendir yang
melapisi bagian dalamnya disebut endometrium. Peritonium menutupi sebagian besar
permukaan luar uterus, letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi
(meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Bagian
bawah bersambung dengan vagina dan bagian atasnya tuba uterin masuk ke dalamnya.
Ligamentum latum uteri dibentuk oleh dua lapisan peritoneum, di setiap sisi uterus terdapat
ovarium dan tuba uterina. Panjang uterus 5 8 cm dengan berat 30 60 gram (Verrals, Silvia,
2003).
Uterus terbagi atas 3 bagian yaitu :
1. Fundus : bagian lambung di atas muara tuba uterina
2. Badan uterus : melebar dari fundus ke serviks
3. Isthmus : terletak antara badan dan serviks
Bagian bawah yang sempit pada uterus disebut serviks. Rongga serviks bersambung dengan
rongga badan uterus melalui os interna (mulut interna) dan bersambung dengan rongga
vagina melalui os eksterna
Ligamentum teres uteri : ada dua buah kiri dan kanan. Berjalan melalui annulus inguinalis,
profundus ke kanalis iguinalis. Setiap ligamen panjangnya 10 12,5 cm, terdiri atas jaringan
ikat dan otot, berisi pembuluh darah dan ditutupi peritoneum. Peritoneum di antara kedua
uterus dan kandung kencing di depannya, membentuk kantong utero-vesikuler. Di bagian
belakang, peritoneum membungkus badan dan serviks uteri dan melebar ke bawah sampai
fornix posterior vagina, selanjutnya melipat ke depan rectum dan membentuk ruang retrivaginal.
Ligamentum latum uteri : Peritoneum yang menutupi uterus, di garis tengh badan uterus
melebar ke lateral membentuk ligamentum lebar, di dalamnya terdapat tuba uterin, ovarium
diikat pada bagian posterior ligamentum latum yang berisi darah dan saluran limfe untuk
uterus maupun ovarium.

Fungsi dari uterus adalah:


1. Setiap bulan, berfungsi dalam pengeluaran darah haid dengan ditandai
adanya perubahan dan pelepasan dari endometirum.
2. Selama kehamilan sebagai tempat implantasi, retensi

dan nutrisi konseptus.

3. Saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan


pembukaan serviks uterus, isikonsepsi dikeluarkan.
Ukuran uterus berbeda-beda tergantung pada usia,
pernah melahirkan atau
belum. Ukuran uteruspada anak- anak 2-3 cm, nuli para 6-8 cm dan multi para 8-9 cm.
Uterus terdiri atas dua bagian utama yaitu serviks dan korpus uteri.
a.

Serviks uteri

Serviks uteri merupakan bagian terbawah uterus, yang terdiri dari pars vaginalis dan pars
supravaginalis. Komponen utama dalam serviks uteri adalah otot polos, jalianan jaringan ikat
kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio
cervicis uteridengan lubang ostium uteri externum, yang dilapisi epitel skuamokolumnar
mukosa serviks, danostium uteri internum.
1. Korpus uteri
Korpus uteri terdiri dari: paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada
ligamentum
latum uteri di
intra abdomen,
tengah
lapisan
muskular / miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah
serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisanendometrium yang
melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat
pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intra abdomen mendatar dengan fleksi ke
anterior, fundus
uteri berada
di
atas vesica
urinaria.
Hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis ke dalam vagina disebut ostium uteri
eksternum. Isthmus adalah bagian uterus antar korpus dan serviks uteri, yang diliputi
olehperitoneum viserale. Isthmus, akan melebar selama kehamilan dan disebut segmen
bawah rahim.
Organ yang berbatasan dengan uterus adalah sebagai berikut:
1. Sebelah atas: rongga rahim berhubungan dengan tuba falopi
2. Sebelah bawah: berbatasan dengan saluran leher rahim (kanalis servikalis)

Dinding rahim terdiri atas tiga lapisan, yaitu:


1. Lapisan serosa (perimetrium) terletak paling luar
2. Lapisan otot (miometrium) terletak di tengah
3. Lapisan mukosa (endometrium) terletak paling dalam
Sikap dan letak uterus dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik karena
disokong dan dipertahankan oleh:
1. Tonus rahim sendiri
2. Tekanan intra abdominal
3. Otot-otot dasar panggul
4. Ligamentum-ligamentum
Fisiologi
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum, sesudah keluar
dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal
terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu,
uterus bertambah besar, tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar
sampai keluar pelvis, masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.
Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. Tetapi dalm
kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat
gangguan. Demikian pula dengan penyakit trofoblast, pada hakekatnya merupakan kegagalan
reproduksi. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan
berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama
kehamilan, berupa degenerasi hidrifik dari jonjot karion, sehingga menyerupai gelembung
yang disebut mola hidatidosa. Pada ummnya penderita mola hidatidosa akan menjadi baik
kembali, tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang
berupa karsinoma (Wiknjosastro, Hanifa, 2002).

2.2.

Definisi

Kanker leher rahim adalah kanker primer yang terjadi pada jaringan leher rahim
atau serviks.Sementara lesi prakanker, adalah kelainan pada epitel serviks akibat terjadinya
perubahan sel-sel epitel, namun kelainannya belum menembus lapisan basal.( Andrijono,
2007)

Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumor ganas yang tumbuh didalam leher
rahim atau cerviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker
serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun (Nanda.2007)
Karsinoma insitu pada serviks adalah keadaan di mana sel-sel neoplastik terdapat
pada seluruh lapisan epitel. Perubahan prakanker lain yang tidak sampai melibatka seluruh
lapisan epitel serviks disebut dysplasia.
Kanker serviks adalah perubahan sel-sel serviks dengan karakteristik histology.
Proses perubahan pertama menjadi tumor ini mulai terjadi pada sel-sel squamoculummar
junction. Kanker serviks ini terjadi paling sering pada usia 30 sampai 45 tahun, tetapi dapat
terjadi pada usia dini ,yaitu 18 tahun( Mitayani.2009)
2.3.

Etiologi

Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh satu
atau lebih virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi
menyebabkan kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually
transmitted disease). Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai
tiga puluhan, walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi
virus HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56 dimana HPV tipe
16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% kasus. Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan
perubahan sel-sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade
intraepithelial lesion/ LISDT) yang merupakan lesi.( FKUI.2008)
Factor lain yang berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas seksual
terlalu muda (<16 tahun), jumalah pasangan seksual yang tinggi (> 4 orang), adanya riwayat
infeksi berpapil (warts).Karena hubungannya erat dengan infeksi HPV, wanita yang mendapat
atau menggunakan penekan kekebalan (immunosuppressive) dan penderita HIV beresiko
menderita kanker serviks.Bahan karsinogenik spesifik dari temabakau dijumpai dalam lender
serviks wanita perokok.Bahan ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama
dengan infeksi HPV mencetuskan transformasi maligna. (M.Farid.2006)
2.4.

Patofisiologi

Pada perempuan saat remaja dan kehamilan pertama, terjadi metaplasia sel
skuamosa serviks. Bila pada saat ini terjadi infeksi HPV, maka akan terbentuk sel baru hasil
transformasi dengan partikel HPV tergabung dalam DNA sel. Bila hal ini berlanjut maka
terbentuklah lesi prekanker dan lebih lanjut menjadi kanker. Sebagian besar kasus displasia
sel servix sembuh dengan sendirinya, sementara hanya sekitar 10% yang berubah menjadi
displasia sedang dan berat.50% kasus displasia berat berubah menjadi karsinoma.Biasanya
waktu yang dibutuhkan suatu lesi displasia menjadi keganasan adalah 10-20 tahun.Kanker
leher rahim invasif berawal dari lesi displasia sel-sel leher rahim yang kemudian berkembang
menjadi displasia tingkat lanjut, karsinoma in-situ dan akhirnya kanker invasif. Penelitian

terakhir menunjukkan bahwa prekursor kanker adalah lesi displasia tingkat lanjut (highgrade dysplasia) yang sebagian kecilnya akan berubah menjadi kanker invasif dalam 10-15
tahun, sementara displasia tingkat rendah (low-grade dysplasia) mengalami regresi spontan.
(FKUI.2008)
Kanker insitu pada serviks adalah keadan dimana sel-sel neoplastik terjadi pada
seluruh lapisan epitel disebut dysplasia.Dysplasia serviks intraeptielal (CNI).CNI terbagi
menjadi tiga tingkat, yaitu tingkat satu ringan, tingkat dua sedang, tingkat tiga berat.Tidak
ada gejala spesifik pada kanker serviks, perdarahan merupakan gejala satu-satunya yang
nyata, tetapi gejala ini ditemukan pada tahap akhir pada tahap awal tidak.
Karsinoma serviks timbul dibatasi antar yang melapisi ektoserviks (portio) dan endoserviks
kanalis serviks yang disebut skuamo kolumnar junction (SCJ).
Tumor dapat tumbuh : (Mitayani,2009)

Eksofilik

Mulai dari arah SCJ keaearh lumen vagina sebagai massa proliferative yang mengalami
infeksi skunder dan nekrosis.

Endofilik

Mulai dari SCJ tumbuah kedalam stroma serviks dan cenderung infiltrative membentuk ulkus

Ulseratif

Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan pelvis dengan melibatkan
fornices vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal secara alami akan mengalami
metaplasi atau erosi akibat saling desak kedua jenis epitel yang melapisinya. Dengan
masuknya mutagen, portio yang erusif (metaplasia skuamos) yang semula faali berubah
menjadi patologik (diplatik-diskarotik) melalui tinggkatan NIS-I,II,III dan KIS untuk
akhirnya menjadi karsinoma invansive. Sekali menjadi mikroinvansive, proses keganasan
akan terus berjalan.
Tahap invansive ini akan terus berlanjut:

Tahap I dimana kanker hanya terbatas pada serviks saja tapi telah mengalami invasi
ke stroma serviks. Akibat invasi pada stoma serviks, yang dapat mengakibatkan
kerusakan pada struktur serviks. Kerusakan tersebut menyebabkan ulserasi yang
disertai dengan perdarahan spontan setelah coitus serta tejadi anemia. Selain itu,
ulserasi juga menyebabkan sekresi serviks yang berlebihan, sehingga timbul
keputihan yang berbau khas.

Tahap II

Tahap II sudah ada perluasan kanker kearah bawah serviks tapi tidak melibatkan dinding
panggul dan telah mengenai daerah vagina dan akan terjadi nekrosis pada vagina dan juga
akan adanya pengeluaran cairan vagina yang berbau busuk dan juga disertai pendarahan.

Tahapan III penyebaran ke vagina yang lebih luas dan juga mengalami penyebaran
pada dinding panggul.Pada tahap ini kanker meluas ke sistem perkemihan,
pencernaan, pernapasan, dan otak. Metastasis pada sistem perkemihan dapat
menyebabkan penyumbatan ureter atau penuhnya kandung kemih yang dapat
menyebabkan terjadinya gangguan eliminasi urine. Metastasis pada bagian
pencernaan dapat menyebabkan terbentuknya ulkus dan terjadinya perdarahan. Selain
itu, juga dapat terjadi peningkatan asam lambung yang merangsang mual dan muntah.
Metastasis pada sistem pernapasan menyebabkan gangguan pengembangan paru
sehingga terjadi gangguan pertukaran gas. Dan metastasis pada bagian otak
menyebabkan terjadinya kerusakan sistem saraf sehingga terjadi stoke dan kematian.

CNI biasanaya terjadi disambungan epitel skuamosa dengan epitel kolumnar dan
mukosa endoserviks, keadaan ini tidak dapat diketahui dengan cara panggul rutin, pap smear
dilaksanakan untuk mendeteksi perebuahan. Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan
dengan biyopsi kolposkop fungsinya mengarahkan tindakan biyopsy dengan mengambil
sample, biopsy kerucut harus dilakukan.
Stadium dini CNI dapat diangkat seluruhnya dengan biopsy kerucut atau
dibersihkan dengan laser kanker atau bedah beku, atau biasa juga disebut histerektomi bila
klien merencanakan untuk tidak punya anak.Kanker invasive dapat meluas sampai jaringan
ikat, pembuluh limfe dan vena.Vagina ligamentum kardinale. Endomentrum penanganan
yang dapat dilaksanakan yaitu radioterapi atau histerektomi radikal dengan mengangkat
uterus atau ovarium jika terkena kelenjar limfe aorta diperlukan kemoterapi.(Price, Sylvia A.
2006).
Kanker cervik merupakan kanker ginekologi yang pada tahap permulaan
menyerang pada bagian lining atau permukaan cervix.Kanker jenis ini tidak dengan segera
terbentuk menjadi sel yang bersifat ganas melainkan secara bertahap berubah hingga
akhirnya menjadi sel kanker.Tahap perkembangan ini yang kemudian disebut sebagai tahap
pre-kanker (pre-cancerous yaitu displasia, neoplasia intraepitel cervik atau CIN, dan lesi
squamosa intraepitel atau SIL) kanker cervik diawali dengan terbentuknya tumor yang
bersifat bulky (benjolan) yang berada pada vagina bagian atas kemudian tumor ini berubah
menjadi bersifat invasif serta membesar hingga memenuhi bagian bawah dari pelvis.Jika
invasinya kurang dari 5 mm maka dikategorikan sebagai karsinoma dengan invasi mikro
(microinvasif) dan jika lebih dari 5 mm atau melebar hingga lebih dari 7 mm maka disebut
sebagai tahap invasif.Pada tahap ini disebut juga tahap kanker dan membutuhkan evaluasi
tahap perkembangan kanker atau stage.Akhirnya, tumor tersebut berubah menjadi bersifat
destruktif dengan manifestasi ulcerasi hingga terjadi infeksi serta nekrosis jaringan.Infeksi
HPV yang berjenis oncogenik merupakan factor utama penyebab kanker cervik.HPV
merupakan virus tumor yang ber-DNA rantai ganda yang menyerang lapisan epitel basal pada

daerah transformasi cervik dimana sel-selnya sangat rapuh.HPV menginfeksi cervik ketika
trauma mikro terjadi atau erosi pada lapisan tersebut. Virus ini mampu menghindari deteksi
system imun dengan cara membatasi ekspresi gen dan replikasinyanya hanya pada lapisan
supra basal dan dapat tetap berada pada lokasi tersebut untuk jangka waktu yang lama.
(Sharma et al, 2007).
Pada umumnya screening awal (pap smear) mampu mengidentifikasi abnormalitas
namun pemeriksaan sebaiknya dilanjutkan melalui colposcopy, CT scan, atau MRI untuk
mendapatkan hasil yang definitive. Federation of Gynecology and Obstetrics memberikan
batasan mengenai tahapan-tahapan pada kanker cervik yang selanjutnya tahapan-tahapan ini
menjadi tahapan penting guna menentukan terapi yang cocok untuk penderita.
2.5.

Manifestasi Klinis

Kebanyakan sering asimtomatik. Saat terdapat rabas atau perdarahan yang tidak
teratur (Boughman.2000)
1. Rabas meningkat jumlahnya dan menjadi cair. Rabas ini berwarnagelap dan berbau
busuk karena nekrosis dan infeksi dari tumor
2. Perdarahan terjadi pada interval yang tidak teratur antara periode atau setelah
menopasu, cukup besar dibandingkan hanya bercak yang terdapat pada pakaian
dalam, dan biasanya terlihat setelah trauma ringan (hubungan seksual, douching, atu
defekasi)
3. Dengan berjalanya penyakit, perdarahan mungkin persisten dan meningkat.
4. Sejalan dengan berkembangnya kanker, jaringan disebelah luar serviks terserang,
termasuk kelenjar limfe anterior ke sacrum saraf yang terkena mengakibatkan nyeri
yang sangat pada pungung tungkai.

Tahap akhir: kurus ekstrem dan anemia, sering dengan demam akibat infeksi sekunder dan
abses pada massa yang mengalami ulserasi, dan membentuk fistula.
2.6.

WOC

2.7.

Stadium Ca. Serviks

Stadium Kanker Serviks menurut FIGO 2000


Stadium 0

Karsinoma insitu, karsinoma intra epineal

Stadium I

Karsinoma masih terbatas pada servks (penyebaran ke


korpus uteri)

Stadium Ia

Invansi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara


mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara langsung walau
dengan invansi yang sangat superficial dikelompokan
sevagai stadium Ib. kedalaman invansi ke stroma tidak
lebih dari 5 mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7 mm.

Stadium Ia1

Invansi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3


mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ia2

Invansi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi


kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ib

Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopik lebih dari


Ia

Stadium Ib1

Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm

Stadium Ib2

Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm

Stadium II

Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai sepertiga


bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai
dinding panggul.

Stadium IIa

Telah melibatkan
parametrium

Stadium IIb

Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai dinding


panggul

Stadium III

Telah melibatkan sepertiga bawah vagina atau adanya


perluasaan sampai dinding panggul. Kasus dengan
hidroneprosis atau ganguan fungsi ginjal dimasukan dalam
stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan oleh
sebab lain

Stadium IIIa

Keterlibatan sepertiga bawah vagina dan infiltrasi


parametrium belum mencapai dinding panggul

Stadium IIIb

Perluasan sampai dinding panggul


hidroneprosis atau ganguan fungsi ginjal

Stadium IV

Perluasan ke luar organ reproduktif

Stadium Iva

Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rectum

Stadium IVb

Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

2.8.

vagina

tapi

belum

melibatkan

atau

adanya

Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa cara memeriksakan kanker serviks, diantaranya:

Mendeteksi kanker serviks dengan Pap Smear

Pemeriksaan Pap Smear adalah satu cara pemeriksaan sel serviks yang dapat
mengetahui perubahan perkembangan sel rahim, sampai mengarah pada pertumbuhan sel
kanker tubuh lagi pada bagian atas vagina setelah dilakukan operasi pengangkatan rahim
(histerektomi).
Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya mereka yang
tinggi aktivitas seksualnya. Namun tidak menjadi kemungkinan juga wanita yang tidak
mengalami aktivitas seksualnya memeriksakan diri.

Biopsi

Bila pemeriksaan kolposkopi terlihat ada kelainan epitel atau kelainan pembuluh
darah maka harus dibuktikan dengan pemeriksaan patologi yaitu dengan melakuakan biopsi
(dengan biops target atau dengan loop electrical excision of the transformation zone (LETZ)
mengambil sedikit sayatan jaringan menggunakan alat loop tenaga listrik.

Konisasi

Bila pemeriksaan kolposkopi tidak akurat tetapi pada pemeriksaan pap smear
terdapat lesi prekanker maka diagnosis sebaiknya ditetapkan dengan pemeriksaan konisasi.
Konisasi adalah mengambil jaringan servikal dengan pembedahan kecil, serviks diambil
dengan bentuk irisan seperti kerucut.Irisan dapat dilakukan dengan pisau, kawat listrik/kauter,
atau dengan laser.Kadang memerlukan anestesi lokal.

IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker serviks sedini mungkin


dengan menggunakan asam asetat 3-5%. Alat ini begitu sederhana sebab saat
memeriksakannya tidak perlu ke laboratorium dan dapat dilakukan oleh bidan.

Mendiagnosis serviks dengan kolposkop

Koloskopi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat permukaan


serviks.Pemeriksaan ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar
permukaan serviks.Perbesarannya dari 10-40 kali dari ukuran normal.Ini dapat membantu
mengidentifikasi area permukaan serviks yang menunjukkan ketidaknormalan.

Vagina inflammation self test card

Vagina inflammation self test card adalah alat pendeteksian yang dapat
menjadi warning sign. Yang ditest dengan alat ini adalah tingkat keasaman (pH), test ini
cukup akurat, sebab pada umumnya apabila seorang wanita terkena infeksi, mioma, kista
bahkan kanker serviks, kadar pHnya tinggi. Dengan begitu maka melalui tets ini paling tidak
wanita dapat mengetahui kondisi vagina mereka secara kasar.

Schillentest

Cara kerja pemeriksaan ini adalah:


1. Serviks diolesi dengan larutan yodium
2. Sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat.
Sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.Jika terkena
karsinoma tidak berwarna

Kolpomikroskopi

Kolpomikroskopi adalah pemeriksaan yang bergabung dengan pap smear.


Kolpomikroskopi dapat melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200
kali.

Gineskopi

Gineskopi adalah teropong monocular, ringan, pembesaran 2.5x(lebihsederhana


dari kolposkopi)

2.9.

Penatalaksanaan

Terapi local

Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi biopsy, cauterasi, terapi
laser, konisasi, dan bedah buku.

Histerektomi

Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status anak, dan atau
keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan
nodus limfa para aurtik.

Pembedahan dan terapi radiasia.

Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker. Pembedahan ini dilakukan pada
kanker serviks invasive. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi
tumor serta mengecilkan tumor.

Radioterapi batang eksternala.

Terapi ini dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu
tegas.Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap
berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk
mencegah defekasi, karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)

Eksenterasi pelvica.

Penatalaksanaan ini dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang. Penatalaksanaan
ini dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung organ yang diangkat
ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya.

Terapi biologi

Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)

Kemoterapi

Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.


Terapi lain adalah terapi penunjang:

Terapi nutrisi

Asupan makanan, jenis makanan, makanan tambahan/suplementene, (beta-caro,


selenium, vitamin C, vitamin E, eicosap-entaenoic acid)

Manajemen penyakit (dukungan obat, penyembuhan tanpa obat melainkan dengan


aktivitas tertentu, radiasi, operasi bedah, perawatan tradisional dan konsultasi
psikologis)

Tindakan bergantung pada usia, paritas, tua kehamilan, dan stadium kanker :
1. Wanita relatif muda dan hamil tua dengan kanker stadium dini, dapat melahirkan janin
secara spontan
2. Dalam trimester I dijumpai kanker serviks, dilakukan abortus buatan, kemudian
diberikan pengobatan radiasi
3. Dalam trimester II kehamilan: segera lakukan histerektomi untuk mengeluarkan hasil
konsepsi, kemudian diberikan dosis penyinaran
4. Wanita yang masi relatif muda dan mendambakan anak dengan kanker serviks
dilakukan konisasi atau amputasi porsio kemudian dikontrol dengan baik. Bila anak
cukup maka dikerjakan histerektomi.

2.10.

Komplikasi

Pada lesi prakanker, mungkin akan menyebabkan kegagalan fungsi reproduksi


karena komplikasi pengobatan lesi prakanker. Pada kanker serviks stadium awal akan dapat
menyebabkan kegagalan fungsi reproduksi khususnya pada penderita usia muda karena
pengobatan pembedahan ataupun radiasi.

Kanker serviks stadium lanjut ataupun kanker serviks yang tumbuh lagi setelah
pengobatan dapat menyebabkan kematian pada penderitanya karena kegagalan
pengobatan.Pada stadium lanjut, kanker dapat menyebar (metastase) ke berbagai organ
lainnya sehingga dapat menyebabkan gangguan fungsi berbagai organ, seperti ginjal, paruparu, hati dan organ lainnya. (Hartati Nurwijaya, dkk, 2010)
Sedangkan menurut Wan Desen, 2011, komplikasi kanker serviks uteri adalah
sebagai berikut:
a)

Retensi uri

Pada waktu histerektomi total radikal mudah terjadi rudapaksa pleksus saraf dan pembuluh
darah kecil intrapelvis, hingga timbul gangguan sirkulasi darah, disuria, retensi uri. Biasanya
pasca operasi dipertahankan saluran urin lancer 5 7 hari, secara berkala dibuka 3 4 hari,
fungsi buli-buli biasanya dapat pulih.Pada retensi uri sekitar 80% dalam 3 minggu fungsi
buli-bulinya.
b)

Kista limfatik pelvis

Pasca pembersihan kelenjar limfe pelvis, drainase limfe tidak lancar, dapat terbentuk kista
limfatik retroperitoneal, umumnya pasien asimtomatik dan mengalami absorpsi spontan, bila
kista terlalu besar timbul rasa tak enak perut bawah, nyeri tungkai bawah, akumulasi cairan
kista dikeluarkan, gejala akan mereda.
c)

Sistitis radiasi dan rektitis radiasi

Pasca radiasi pelvis, pasien umumnya mengalami sistitis radiasi ataupun rektitis radiasi yang
bervariasi derajatnya.Gejala berupa rasa tak enak abdomen bawah, polakisura, disuria atau
hematuria, tenesmus, mukokezia, hematokezia.Bagi pasien dengan derajat ringan tak perlu
ditangani, bila derajat sedang ke atas umumnya diobati dengan anti radang, hemostatik,
antispasmodic, dll.Penting diketahui bahwa penyakit kanker bukanlah otomatis berakhir pada
kematian.Timbulnya ketakutan pada penderita kanker dan kanker serviks khususnya, karena
selama ini kanker belum ada obatnya.Namun sejalan dengan waktu dan penemuan baru di
bidang penelitian kanker, baik penemuan jenis perawatan dan bagaimana caranya sel-sel
kanker berkembang sudah diketahui.Kini banyak pasien kanker yang dapat bertahan hidup
dan bahkan bisa sembuh.
2.11.Prognosis
Faktor yang mempengaruhi prognosis banyak, seperti stadium klinis, tipe
patologi, metastasis kelenjar limfe, manipulasi operasi, dll.Semuanya dapat mempengaruhi
hasil terapi.Maka dalam terapi pasien kanker serviks uteri harus berpikir komprehensif,
melakukan pemeriksaan cermat, analisis terpadu barulah menetapkan rejimen terapi.Setelah
terapi masih harus periksa ulang berkala. (Wan Desen, 2011)

Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons
terhadap pengobatan, maka 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul
gejala. Pasien yang menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim) dan memiliki rasio
tinggi terjadinya kekambuhan harus terus diawasi karena walaupun setelah histerektomi total
masih dapat terjadi kekambuhan dalam 2 tahun sebesar 80%. Sehingga prognosis penyakit ini
tergantung dari stadium penyakit dan pengobatan yang dilakukan sedini mungkin. Khusus
kanker serviks, data rumah sakit di Indonesia mendapatkan bahwa lebih dari 70% penderita
kanker serviks datang berobat pada stadium tinggi atau lanjut sehingga angka kegagalan atau
tidak memuaskan pengobatan tinggi sehingga angka kematian tinggi. Jika tidak terdeteksi
lebih dini, maka kanker serviks akan berakibat fatal. Banyak kematian akibat kanker serviks
yang terjadi di seluruh dunia karena pada saat dilakukan skrining ditemukan penderita sudah
pada tahap stadium tinggi.
2.12. Pencegahan

Screening

Screening untuk memeriksa perubahan-perubahan leher rahim sebelum adanya


gejala-gejala adalah sangat penting.Screening dapat membantu dokter mencari sel-sel
abnormal sebelum kanker berkembang.Mencari dan merawat sel-sel abnormal dapat
mencegah kebanyakan kanker serviks. Screening juga dapat membantu mendeteksi kanker
secara dini, sehingga perawatan akan menjadi lebih efektif.
Untuk beberapa dekade yang lalu, jumlah wanita-wanita yang didiagnosis setiap tahun
dengan kanker serviks sudah menurun.Dokter-dokter percaya bahwa ini terutama disebabkan
oleh sukses dari screening.
1)

IVA

IVA yaitu singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat. Metode pemeriksaan dengan
mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada
kelainan seperti area berwarna putih.Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap
tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif
murah. Ini dapat dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan,
maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan.
2)

Pap smear

Metode tes Pap smear yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk
mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian sel-sel tersebut akan
dianalisa di laboratorium. Tes itu dapat memberi jawaban apakah ada infeksi, radang, atau
sel-sel abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes Pap smear
telah mengurangi jumlah kematian akibat kanker servix.
3)

Thin prep

Metode Thin prep lebih akurat dibanding Pap smear. Jika Pap smear hanya mengambil
sebagian dari sel-sel di serviks atau leher rahim, maka Thin prep akan memeriksa seluruh
bagian serviks atau leher rahim. Tentu hasilnya akan jauh lebih akurat dan tepat.

Kolposkopi

Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau
kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi
lensa pembesar untuk mengamati bagian yang terinfeksi. Tujuannya untuk menentukan
apakah ada lesi atau jaringan yang tidak normal pada serviks atau leher rahim. Jika ada yang
tidak normal, biopsi pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh dilakukan dan
pengobatan untuk kanker serviks segera dimulai .

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.Pengkajian
1. Identitas klien
Nama

Umur

Jenis kelamin

Alamat

:
Keluhan utama

Pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri intraservikal disertai dengan keputihan
meyerupai air, berbau, bahkan perdarahan.

Riwayat penyakit sekarang

Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada
stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti: perdarahan, keputihan dan rasa
nyeri intra servikal.

Riwayat penyakit dahulu

Data yang perlu dikaji adalah :


Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta
adanya tumor.Riwayat keluarga yang menderita kanker.

Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau
penyakit menular lain.

Riwayat psikososial

Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan bagaimana
pengetahuan
keluarga
tentang
penyakit
kanker
serviks.
Kanker
serviks sering dijumpai padakelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan
kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta
tingkat personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.
1. Pemeriksaan fisik
2. Inspeksi
Klien tampak kelelahan, rambut jarang, tubuh pasien kurus dan tampak sering ingin mual,
kulit pucat disebabkan karena anemia, mata cekung disebabkan karena kurang tidur, klien
tanpak meringis menahan kesakitan, klien mengalami keputihan, klien juga mengalami
pendarahan yang sering
3. Palpasi
Pada palpasi didapati nyeri pada abdomen dan nyeri pada punggung bawah

Pemeriksaan diagnostik
1. Mendeteksi kanker serviks dengan Pap Smear
2. Biopsi

3. Konisasi
4. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
5. Mendiagnosis serviks dengan kolposkop
6. Vagina inflammation self test card
7. Schillentest
8. Kolpomikroskopi
9. Gineskopi

3.2.Analisis data
No. Data

Etiologi

Masalah keperawatan

Ca serviks

Gangguan pola seksual

Pre-medikasi
1

DS:

Pasien mengatakan
merasa
sakit
ketika
Eksolitik
hubungan suami-istri
Terjadi perdarahan
setelah hubungan
yang
kemudian berlanjut menjadiDari

SCJ

kearah

lumen

perdarahan yang abnormal

vagina

DO: -

Massa proliferasi

Nekrosis jaringan

DS:

Ca serviks

Nyeri

Mengungkapkan
secara verbal atau isyarat
Menginfiltrasi jar. Sekitar

DO:
Menekan serabut saraf
Gerakan menghindari

nyeri
Perubahan
makan dan makan
-

nafsuNyeri

Perilaku ekspresif

Berfokus pada diri


sendiri
Pasca-medikasi
1

DS:

Ca serviks

Pengungkapan rasa
malu/ bersalah
Kemoterapi
Pengungkapan rasa

negative diri
Perubahan penampilan
DO:
permasalahan

MenyangkalHarga diri rendah

Gangguan konsep diri

Membesar-besarkan
permasalahan
Merasionalisasi
kegalalan diri
2

DS: -

Ca serviks

DO: -

Resiko tinggi infeksi

Pembedahan
3

DS:

Ca serviks

Ansietas

Pasien mengatakan
takut mati dan tidak mau
Pembedahan
mati

Tingkat kesembuhan
DO:

Pasien tampak gelisah

Bingung

TTV abnormal

DS:

Ca serviks

Klien mengatakan
mual dan ingin muntah
Kemoterapi
Tidak nafsu makan

Mual, muntah
DO:
habis

BB turun
Porsi makan tidak

Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang
kebutuhan tubuh

dari

Tampak kurus

3.3.Diagnosa keperawatan
Pre-medikasi
1. Gangguan pola seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan tentang respon
alternative terhadap perubahan kondisi kesehatan
2. Nyeri berhubungan dengan nekrosis jaringan pada serviks akibat penyakit kanker
serviks

Pasca-medikasi
1. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan dalam gaya hidup dan
penampilan akibat efek samping kemoterapi
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
3. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
dan muntah akibat dari efek samping kemoradiasi

3.4.Intervensi
Pre-medikasi
a. Gangguan pola seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan tentang respon
alternative terhadap perubahan kondisi kesehatan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam klien dan pasangan
dapat memahami bahwa seksualitas tidak hanya terbatas pada aktivitas fisik

Kriteria hasil:
-

Suami memberikan dukungan psikologis terhadap pengobatan istri

Suami sering mejaga istrinya di rumah sakit

Intervensi

Rasional

Ciptakan hubungan terapeutik atas dasarMempermudah asuhan keperawatan untuk


saling percaya dan saling menghargai,pasien
berikan privasi dan kepercayaan diri klien
Anjurkan klien untuk mengungkapkanMenggali masalah yang dihadapi klien
ketakutan dan menanyakan masalah
Diskusikan bentuk alternatif ekspresiMenyesuaikan rencana tindakan dengan
seksual yang dapat diterima pada klienkebutuhan klien
sesuai kebutuhan
Libatkan pasangan dalam diskusi

Akan meningkatkan motivasi klien dalam


proses penyembuhan

b. Nyeri berhubungan dengan nekrosis jaringan pada serviks akibat penyakit kanker
serviks
Tujuan: menghilangkan/mengurangi nyeri yang dirasakan klien dalam 2x24 jam
Kriteria hasil:
-

Nyeri hilang/berkurang

Intervensi

Rasional

Tanyakan pasien tentang nyeri, tentukanMembantu dalam evaluasi gejala nyeri


karaktersitik nyeri
kanker yang dapat melibatkan visera,
saraf atau jaringan tulang
Buat skala
intensitasnya

nyeri

0-10

Observasi tanda-tanda vital

rentang,Penggunaan skala rentang membantu


pasien
dalam
mengkaji tingkat nyeri
Untuk mengetahui Penurunan tekanan
darah : peningkatan nadi dan pernafasan

Kaji pernyataan verbal dan non verbal Ketidaksesuaian antara verbal dan non
nyeri pasien.
verbal menunjukan.derajat nyeri

Evaluasi keefektifan pemberian obat


Berikan tindakan
posisi, dll

kenyamanan,

Berikan lingkungan tenang.

Memberikan obat berdasarkan aturan.


ubahMeningkatkan relaksasi dan pengalihan
perhatian..
Penurunan stress, menghemat energy

KOLABORASI:
Berikan analgesik rutin s/d indikasi.

Mempertahankan kadar obat, menghindari


puncak periode nyeri