Anda di halaman 1dari 14

Peningkatan Kadar Eugenol pada Minyak Atsiri Cengkeh dengan

Metode Saponifikasi-Distilasi Vakum


BAB I
Pendahuluan
A. Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari proses saponifikasi
dan distilasi vakum untuk mengisolasi eugenol dalam minyak atsiri cengkeh dan
mendapatkan kondisi operasi optimum dari proses ini. Eugenol merupakan
senyawa yang banyak dipakai dalam industri parfum, penyedap, dan farmasi
sebagai pencuci hama dan pembius lokal. Minyak atsiri cengkeh yang kini banyak
dijual memiliki kadar eugenol atau kemurniannya 70%. Namun untuk industry
dibutuhkan minyak dengan kadar eugenol paling rendah 90%. Sehingga
diperlukan upaya yang efisien untuk memurnikannya, salah satunya dengan
proses saponifikasi-distilasi vakum. Rancangan percobaan proses saponifikasidistilasi vakum ini yaitu variasi normalitas NaOH dan suhu distilasi. Dengan
variasinya adalah NaOH 0,3 sampai 1,2 N. Sedangkan untuk suhu distilasinya
adalah (170, 195, 220)C. Prosedur penelitian ini yaitu diawali dengan
pencampuran minyak atsiri cengkeh 70% dengan NaOH dalam mixer, kemudian
setelah homogen didiamkan hingga terbentuk lapisan air dan Na-eugenol. Lapisan
air yang terbentuk dipisahkan dari Na-eugenol. Lalu untuk Na-eugenol
ditambahkan HCl sampai pH 3-4. Kemudian lapisan atas berupa eugenol 80%
dimasukkan ke labu distilasi dan lalu didistilasi dengan suhu sesuai variable dan
2
tekanan vakum 6 x 10 kPa . Dari hasil distilasi vakum didapat massa eugenol
terbesar pasa suhu distilasi 220C dengan berat 33,13 gram dan kadar 89,65%.
Kata Kunci: minyak atsiri cengkeh, eugenol, saponifikasi, distilasi

B. Latar Belakang
Minyak atsiri atau disebut juga dengan essential oils, ethereal oils atau
volatile oils adalah komoditi ekstrak alami dari jenis tumbuhan yang berasal dari
daun, bunga, kayu, biji-bijian bahkan putk bunga. Minyak atsiri merupakan suatu
minyak yang mudah menguap, biasanya terdiri dari senyawa organik yang
bergugus alcohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Beberapa contoh minyak
atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawing,
dan lain-lain (Firdaus, 2009). Setidaknya ada 150 jenis minyak atsiri yang selama
ini diperdagangkan di pasar internasional (Gunawan, 2009).
Cengkeh adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon
Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai
bumbu masakan pedas di negara-negara eropa, dan sebagai bahan utama
pembuatan rokok kretek khas Indonesia. Salah satu pemanfaatan cengkeh adalah
diambil minyaknya. Minyak cengkeh termasuk salah satu jenis minyak atsiri yang
terdapat di Indonesia dan merupakan komoditas ekspor. Minyak daun cengkeh
mudah diperoleh karena Indonesia merupakan penghasil rempah-rempah terbesar
1

di dunia (diantaranya cengkeh). Pada tahun 2000 kebutuhan minyak cengkeh


dunia mencapai 2080 ton dan Indonesia merupakan Negara terbesar dalam suplai
pemenuhan kebutuhan minyak cengkeh duniasebnyak 1317 ton atau 60%
kebutuhan dunia (Deperindag, 2001). Hal ini menjadikan kontinunitas usaha
penyulingan minyak cengkeh ini akan tetap terjaga dan mempunyai nilai bisnis
yang tinggi.
Minyak daun cengkeh hasil penyulingan dari petani mempunyai kadar
eugenol antara 70-80%, sedangkan untuk industri dibutuhkan minyak dengan
kadar eugenol paling rendah 90%. Saat ini minyak cengkeh dengan kadar eugenol
70% mempunyai kisaran harga Rp 150.000,- s.d. Rp 160.000,-/kg sedangkan
untuk minyak cengkeh dengan kadar eugenol 90% berharga mulai dari harga Rp
300.000,-/lt. Produk minyak cengkeh yang beredar di pasaran saat ini didominasi
dengan minyak cengkeh dengan kadar eugenol 70%. Oleh karena itu perlu
dilakukan tindakan lanjut untuk mendapatkan minyak cengkeh dengan kadar
eugenol minimal 90% sehingga memiliki nilai ekonomis dari yang tinggi. Metode
yang dipilih penulis untuk meningkakan kualitas dan kuantitas Minyak Daun
Cengkeh yaitu metode saponifikasi-distilasi vakum. Saponifikasi dimaksudkan
untuk mengisolasi kadar eugenol, sedangkan distilasi vakum bertujuan untuk
memisahkan minyak cengkeh dengan komponen lain berdasarkan titik didihnya
pada tekanan dibawah 1 atm.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kami simpulkan bahwa untuk
mendapatkan nilai jual minyak atsiri cengkeh yang lebih tinggi diperlukan upaya
peningkatan kadar eugenol dengan cara produksi yang lebih sederhana, kemurnian
produk lebih tinggi, dan lebih hemat energy. Tujuan dari penelitian ini adalah
mempelajari proses saponifikasi dan distilasi vakum, mengkaji pengaruh
normalitas NaOH (saponifikasi) dan suhu distilasi serta mendapatkan kondisi
optimum untuk mendapatkan kadar eugenol tertinggi dengan volume terbesar.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat diperoleh kadar eugenol yang
lebih tinggi dari minyak atsiri cengkeh, memberikan metode alternatif bagi
masayarakat dengan adanya pemurnian eugenol dari minyak atsiri cengkeh dan
dapat meningkatkan nilai ekonomi dari ukm minyak atsiri cengkeh.

BAB II
Tinjauan Pustaka
Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut minyak atsiri, misalnya
dalam bahasa Inggris disebut essential oils. Dalam bahasa Indonesia ada yang
menyebutnya minyak terbang, bahkan ada pula yang menyebut minyak kabur.
Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau minyak
terbang. Pengertian atau defenisi minyak atsiri yang ditulis dalam Encyclopedia of
Chemical Technology menyebutkan bahwa minyak atsiri merupakan senyawa
berwujud cairan, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun,
buah, dan biji maupun dari bunga dengan cara penyulingan dengan uap. Sifat-sifat
minyak atsiri tersusun bermacam-macam komponen senyawa yang memiliki bau
khas, umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak atsiri satu
dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dari macam dan intensitas bau
dari masing-masing komponen penyusunnya. Mempunyai rasa getir, kadang2

kadang berasa tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau justru
dingin ketika terasa di kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya. Dalam
keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah menguap pada suhu
kamar. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen
udara, sinar matahari (terutama gelombang ultra violet) dan panas, karena terdiri
dari berbagai macam komponen penyusun. Bersifat optis aktif dan memutar
bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik karena banyak komponen
penyusunnya memiliki atom C asimetrik, juga mempunyai indeks bias yang
tinggi. Pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air, dapat larut walaupun
kelarutannya sangat kecil, tetapi sangat mudah larut dalam pelarut organik.
Komponen minyak atsiri adalah senyawa yang bersifat kimia, fisika serta
mempunyai bau dan aroma yang khas, demikian pula peranannya sangat besar
sebagai obat. Komponen penyusun minyak atsiri dibagi menjadi beberapa
golongan sebagai berikut :
1. Minyak atsiri hidrokarbon
2. Minyak atsiri alcohol
3. Minyak atsiri fenol
4. Minyak atsiri eter fenol
5. Minyak atsiri oksida
6. Minyak atsiri ester
Menurut Gunawan dan Mulyani, minyak Atsiri umumnya diisolasi dengan
empat metode, yaitu metode destilasi (kering dan air), metode penyaringan,
metode pengepresan, dan metode enfleurage. Menurut Rochim Armando, minyak
Atsiri umumnya diisolasi dengan tiga metode yaitu metode penyulingan dengan
air, penyulingan dengan air uap dan penyulingan dengan uap. Dalam industri
farmasi minyak atsiri digunakan sebagai antibakteri, antifungi, antiseptik,
pengobatan lesi, antinyeri, dapat digunakan sangat luas dan spesifik, khususnya
dalam berbagai bidang industri. Banyak contoh kegunaan minyak atsiri, antara
lain dalam industri kosmetik (sabun, pasta gigi, sampo dan losion) dalam industri
makanan digunakan sebagai bahan penyedap atau penambah cita rasa dalam
industri parfum sebagai pewangi dalam berbagai produk minyak wangi, dalam
industri bahan pengawet bahkan digunakan pula sebagai insektisida. Oleh karena
itu, tidak heran jika minyak atsiri banyak diburu berbagai negara.
Minyak cengkeh atau minyak cengkih adalah minyak atsiri yang
dihasilkan dari penyulingan bagian tanaman cengkeh, terutama daun dan
bunga cengkeh. Seluruh bagian tanaman cengkeh mengandung minyak, namun
bunganya memiliki kandungan minyak yang paling banyak. Karena daun dan
ranting cengkeh juga menghasilkan minyak, keduanya pun menjadi penghasilan
sampingan bagi petani cengkeh yang memanen bunga cengkeh untuk rokok.
Mereka cukup mengumpulkan daun dan ranting yang runtuh di sekitar pohon dan
melakukan penyulingan sederhana untuk mendapatkan minyak cengkeh kasar.
Minyak cengkeh mengandung eugenol sebanyak 78-98 persen. Zat tersebut
dihasilkan dari kelenjar minyak yang terdapat pada permukaan badan bunga
cengkeh. Secara umum, daun dan ranting cengkeh mengandung eugenol dengan
konsentrasi lebih banyak dibandingkan bunga cengkeh. Pada minyak yang
dihasilkan dari daun cengkeh terdapat 82-88% eugenol, dan pada ranting
mencapai 90-95%. Dibandingkan minyak dari bunga cengkeh yang hanya
mengandung 60-90% eugenol, sisanya adalah eugenyl asetat, caryophyllene, dan

senyawa minor lainnya. Indonesia dan Madagaskar merupakan produsen utama


minyak cengkeh.
Eugenol (C10H12O2),
merupakan
turunan guaiakol yang
mendapat
tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil)fenol.
Ia dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol.
Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak . Sumber alaminya
dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol
sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya
menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkeh kering, sehingga sering menjadi
komponen untuk menyegarkan mulut.

Senyawa ini dipakai dalam industri parfum, penyedap, minyak atsiri,


dan farmasi sebagai penyuci hama dan pembius lokal. Ia juga mengjadi komponen
utama dalam rokok kretek. Dalam industri, eugenol dapat dipakai untuk
membuat vanilin. Campuran eugenol dengan seng oksida (ZnO) dipakai
dalam kedokteran gigi untuk aplikasi restorasi (prostodontika). Turunan-turunan
eugenol dimanfaatkan dalam industri parfum dan penyedap pula.
Saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan garam karbonil
(sejenis sabun) dan gliserol (alkohol). Alkali yang biasanya digunakan adalah
NaOH dan Na2CO3maupun KOH dan K2CO3. Ada dua produk yang dihasilkan
dalam proses ini yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi
kimia antara fatty acid dan alkali. Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari
lemak hewan dan nabati.
Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan
alkali membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak
hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut. Pada saat ini teknologi
sabun telah berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi
dapat diperoleh dengan mudah dipasaran seperti sabun mandi, sabun cuci baik
untuk pakaian maupun untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang
digunakan dalam industri. Kandungan zat-zat yang terdapat pada sabun juga
bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun. Larutan alkali yang digunakan
dalam pembuatan abun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang
biasa yang digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan
alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH).
Ada beberapa jenis minyak yang dipakai dalam pembuatan sabun, anatara
lain minyak zaitun (olive oil), minyak kelapa (coconut oil), minyak sawit (palm
oil), minyak kedelai (soybean oil) dan lain-lain. Masing-masing mempunyai

karakter dan fungsi yang berlainan. Selain dari minyak atau lemak dan NaOH
pada pembuatan sabun, jugadipergunakan bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
1) Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
2) Zat pewarna
3) Parfum, agar baunya wangi
4) Zat pemutih, misal natrium sulfat
Distilasi merupakan suatu teknik pemisahan campuran dalam fase cair
yang homogen dengan cara penguapan dan pengembunan, sehingga diperoleh
destilat (produk Distilasi) yang relatif lebih banyak mengandung komponen yang
lebih volatil (mudah menguap) dibanding larutan semula yang lebih sukar
menguap. Campuran dari masing-masing komponen dapat terpisahkan karena
adanya perbedaan titik didih diantara zat-zatnya (Wiratma,dkk, 2003). Pada
proses ini cairan berubah menjadi uap yang merupakan zat yang mempunyai titik
didih lebih rendah dari titik didih zat lainnya. Kemudian uap ini didinginkan
dalam kondensor yang di luarnya ada aliran air yang mengalir dari bawah ke atas
sehingga dapat mendinginkan uap. Pada pendinginan ini, uap mengembun
menjadi cairan murni yang disebut destilat.
Model ideal Distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.
Pemisahan senyawa dengan Distilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap
senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan
molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu
dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama
dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada
saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih.
Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan
mempunyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah
pada suhu kamar.
Secara umum, Distilasi dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu
Distilasi sederhana, Distilasi bertingkat (fraksional), Distilasi vakum, Distilasi
uap, dan lain sebagainya.
1. Distilasi sederhana
Adalah teknik pemisahan untuk memisahkan dua atau lebih komponen zat cair
yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Selain perbedaan titik didih, juga
perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah zat untuk menjadi gas.
Distilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer yang normal. Aplikasi distilasi
sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan alkohol.

Gambar 1. Distilasi Sederhana

2. Distilasi Bertingkat/Fraksionasi
Adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari suatu
larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya yang berdekatan. Distilasi ini juga
dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20C
dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari
Distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan
komponen-komponen dalam minyak mentah. Perbedaan Distilasi fraksionasi dan
distilasi sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi
pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap
kolomnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat
yang lebih dari kolom-kolom di bawahnya. Sehingga komponen yang memiliki
titik didih yang lebih tinggi akan tetap berada di bawah dan tidak bisa melewati
kolom-kolom fraksionasi tersebut sedangkan yang titik didihnya paling rendah
akan naik dan lolos dari kolom fraksinasi dan terpisah dari zat lainnya.

Gambar 2. Distilasi Fraksinasi


3. Distilasi azeotrop

Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen


yang sulit dipisahkan) biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang
dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan
tinggi. Selain itu campuran azeotrop dapat didistilasi dengan menggunakan
tambahan pelarut tertentu, misalnya penambahan benzena atau toluena untuk
memisahkan air. Air dan pelarut akan ditangkap oleh penangkap Dean-Stark. Air
akan tetap tinggal di dasar penangkap dan pelarut akan kembali ke campuran dan
memisahkan air lagi. Campuran azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum
Raoult.
4. Distilasi uap
Adalah teknik pemisahan zat cair yang tidak larut dalam air dan titik
didihnya cukup tinggi. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini
dengan suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap
atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat
mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa
campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak
larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air. Aplikasi dari
distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak
eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk
ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.
Gambar 3. Distilasi Uap

5. Distilasi Vakum
Adalah teknik pemisahan dua komponen atau lebih yang titik didihnya
sangat tinggi, metode yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan
permukaan lebih rendah dari 1 atm sehingga titik didihnya juga menjadi rendah,
dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk proses distilasinya tidak terlalu
tinggi. Distilasi vakum biasanya juga digunakan jika senyawa yang ingin
didistilasi tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau
mendekati titik didihnya. Metode distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut
dengan titik didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin, karena
komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi
tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai
penurun tekanan pada sistem distilasi ini
Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan operasinya 0,4 atm (300
mmHg absolut), untuk memisahkan fraksi fraksi yang tidak dapat dipisahkan

dengan destilasi atmosferik seperti gas oil berat, parafine destilate atau vakum
distilate yang masih terkandung di dalam long residu dari hasil destilasi
atmosferik. Proses distillasi dengan tekanan dibawah tekanan atmosfer. Distilasi
vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan
pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya atau
campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi ini tidak dapat
digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika kondensornya
menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak dapat
dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau
aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi ini.
Destilasi Vakum berfungsi Untuk menurunkan titik didih pada minyak berat atau
long residu sehingga menghasilkan produk produknya.

Gambar destilasi vakum

BAB III
Metodologi Penelitian
A. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah mixer, labu leher tiga, kondensor, kompor,
pompa vakum, thermometer, piknometer, beaker glass, timbangan, tabung reaksi,
refraktometer.
Bahan-bahan yang digunakan adalah minyak atsiri cengkeh 70%, larutan
NaOH, larutan HCl, dan aquades.
B. Metode
Dalam penelitian ini digunakan 2 variabel berubah yang diuji. Variabel
tersebut adalah normalitas NaOH dalam proses saponifikasi (0,3; 0,4; 0,5; 0,6;
0,7; 0,8; 0,9; 1; 1,1; 1,2) dan suhu disitilasi (170C, 195C, 220C). Dengan
variable tetap perbandingan volume minyak atsiri dengan volume NaOH yaitu
2
1:1,1 dan waktu distilasi 30 menit serta tekanan vakum 6 x 10 Pa .
Langkah-langkah percobaan dibagi dalam dua tahapan proses, yaitu proses
saponifikasi dan proses distilasi vakum. Dalam proses saponifikasi ini pemurnian
eugenol minyak atsiri cengkeh dimulai dengan mencampur minyak atsiri cengkeh
dengan NaOH sesuai dengan perbandingan yang ditetapkan. Setelah campuran
homogen, kemudian didiamkan selama satu hari himgga terbentuk dua lapisan
yaitu lapisan bawah yang berupa Na-eugenolat (aqueous layer) dengan lapisan
atas yang berupa senyawa organik (organic layer). Dipisahkan kedua lapisan itu,
lalu dihitung volume dan densitas aqueous layer dari tiap variable normalitas
NaOH. Kemudian dibuat grafik hubungan normalitas dengan volume aqueous
layer. Setelah itu dapat dilihat normalitas terbaik untuk dijadikan varabel tetap
pada proses selanjutnya. Setelah itu dilakukan proses distilasi vakum yaitu Naeugenolat yang didapat dari massa NaOH optimum pada tahap pertama
ditambahkan HCl sampai didapatkan pH 3-4. Kemudian dimasukkan ke dalam
labu leher tiga/ketel distilasi. Campuran ini dipanaskan dan pompa vakum
dihidupkan sesuai dengan kondisi operasi pada rancangan penelitian yang telah

ditentukan. Setelah temperature pada ketel disitilasi mencapai suhu yang


diinginkan, baru dihitung waktu ke nol dan kondisi operasi dijaga konstan.
Setelah dilakukan selama 30 menit didapatkan hasil berupa eugenol sebagai
distilat dan NaCl sebagai residu. Eugenol yang didapat dianalisa densitas dan
kadarnya dengan analisis Gas Kromatografi.
Data-data yang didapat berupa volume, densitas, dan kadar eugenol ini
diolah dengan menggunakan grafik. Grafik yang digunakan adalah grafik
hubungan kadar eugenol dengan suhu, hubungan volume dengan suhu dan
hubungan massa eugenol dengan suhu. Untuk menentukan suhu terbaik digunakan
grafik hubungan massa eugenol dengan suhu.

BAB IV
Hasil dan Pembahasan
Dari penelitian ini didapatkan hasil percobaan seperti pada table 1 dan 2
dibawah ini.

10

Pengaruh normalitas NaOH dalam proses saponifikasi dengan aqueous layer


Dari data table 1 dapat dilihat bahwa semakin tinggi kadar normalitas
NaOH, volume aqueous layer yang terbentuk semakin besar. Hal ini dikarenakan
belum habisnya salah satu reaktan (NaOH ataupun minyak daun cengkeh) untuk
bereaksi. Namun setelah penambahan NaOH dengan normalitas 0,8 N mulai
didapatkan volume aqueous layer yang cenderung konstan, dimana terlihat pada
gambar 1, grafik menunjukkan kurva mendatar yang stabil setelah melewati
konsentrasi 0,8 N. Hal tersebut dikarenakan telah habisnya reaktan untuk bereaksi
dan Na-eugenolat yang terbentuk sudah bias dikatakan maksimal. Dengan kata
lain, untuk penambahan konsentrasi NaOH diatas 0,8N tidak akan berpengaruh
secara signifikan terhadap terbentuknya Na-eugenolat.

Pengaruh suhu operasi distilasi vakum terhadap kadar eugenol pada distilat
Berdasarkan pada data percobaan pada table 2, dapat diketahui bahwa
kadar eugenol untuk suhu operasi terendah (170C) mampu menghasilkan kadar
eugenol sebesar 90,20%. Sedangkan untuk suhu operasi 220C menghasilkan
kadar eugenol 89,95%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kadar eugenol
tertinggi justru didapat pada suhu 195C. Hal ini dapat dijelaskan dengan
11

membandingkan kadar

caryophillene

yang terdapat pada variable 1,2, dan


3. Dimana untuk variable 1 (220C) terdapat caryophillene sebesar 3,27%
sedangkan untuk variable 2 (195C) dan 3 (170C) kadar caryophillene
masing-masing sebesar 2,09% dan 2,1%.
caryophillene
Kadar
yang lebih tinggi pada variable 1 ini
disebabkan karena pada suhu operasi yang lebih tinggi caryophillene akan
menguap lebih banyak sehingga akan mengurangi kemurnian eugenol. Seperti
diketahui bahwa boiling point untuk caryophillene adalah 264C pada
tekanan 1 atm sedangkan eugenol pada tekanan yang sama adalah 254C.
Sehingga berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa kadar eugenol yang
maksimal pada suhu distilasi 195C.

Jika melihat hasil tersebut secara keseluruhan, kadar eugenol yang dihasilkan pada
proses distilasi vakum tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan untuk tiap
variable suhu. Yang justru jelas perbedaannya adalah dilihat dari sisi volume yang
dihasilkan. Seperti dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Suhu
distilasi (C)
Gambar 3. Kurva hubungan suhu distilasi dengan volume distilat
Dari grafik dapat diketahui bahwa volume distilat eugenol semakin besar
dengan semakin meningkatnya suhu distilasi. Hal ini karena semakin
meningkatnya suhu maka laju penguapan distilat akan semakin besar. Sehingga

12

pada rentang waktu dan tekanan vakum yang sama akan didapatkan volume
distilat yang lebih besar pada suhu yang lebih tinggi.
Kondisi operasi untuk mendapatkan volume dan kadar eugenol optimum
Untuk mendapatkan hasil yang optimum, diperlukan suatu kondisi operasi
tertentu. Kondisi operasi tertentu untuk penelitian ini dibatasi pada normalitas
NaOH pada proses saponifikasi dan suhu distilasi pada proses distilasi vakum.
Sedangkan untuk hasil dibatasi pada volume dan kadar yang bias didapat setelah
minyak atsiri diproses melalui proses saponifikasi distilasi vakum. Pada proses
saponifikasi, seperti dijelaskan pada poin pertama dalam pembahasan ini,
normalitas NaOH yang paling baik adalah 0,8N. Karena pada normalitas tersebut
reaktan untuk bereaksi NaOH telah habis dan Na-eugenolat yang terbentuk sudah
bias dikatakan maksimal. Sehingga dengan penambahan NaOH selanjutnya, tidak
akan berpengaruh secara signifikan.
Proses saponifikasi dilanjutkan dengan proses distilasi vakum. Pada
proses ini, kondisi operasi terbaik dapat dilihat dengan melihat grafik dimana
didapatkan massa eugenol terbanyak. Massa eugenol ini didapatkan dari kadar
eugenol teranalisa dikalikan dengan massa larutan hasil distilasi. Hasil dari
percobaan dan perhitungan diketahui bahwa pada suhu 170C didapatkan massa
eugenol sebesar 8,58 gram, pada suhu 195C adalah 21,96 gram dan pada suhu
220C didapatkan massa sebesar 33,13 gram. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 4.

Sehingga dengan melihat grafik pada gambar 4 diatas dapat diketahui bahwa
massa eugenol tertinggi didapatkan pada suhu 220C. Dimana pada suhu tersebut
massa yang didapat sebesar 33,13 gram. Pada suhu ini juga didapatkan kadar yang
cukup tinggi yaitu sebesar 89,65%.
Selain dengan melihat grafik pada gambar 4, dapat dibandingkan densitas
minyak atsiri sesuai SNI 06-2387-2006 pada table 2 dengan data hasil percobaan
pada table 4. Dengan membandingkannya maka akan didapat variable 1 dan 2
yang memenuhi syarat, sedangkan variable 3 tidak memenuhinya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa dengan melihat data yang didapat berdasarkan percobaan,
2
kondisi operasi terbaik untuk operasi distilasi vakum pada tekanan 6 x 10 kPa
adalah pada suhu 220C.
13

BAB V
Penutup
Kesimpulan
Normalitas NaOH yang paling baik utnuk saponifikasi berdasarkan
percobaan adalah sebesar 0,8N. Pada normalitas NaOH tersebut semua reaktan
pada minyak daun cengkeh akan habis dan Na-eugenolat yang terbentuk bisa
dikatakan maksimal. Hal tersebut nampak dari grafik hubungan volume Naeugenolat (aqueous layer) dengan normalitas NaOH.
Suhu distilasi berpengaruh pada semakin meningkatnya kadar eugenol
pada distilat yang didapat namun akan menurun pada suhu dimana
caryophillene menguap semakin banyak. caryophillene ini akan
mengurangi kemurnian eugenol pada suhu yang lebih tinggi.
Volume distilat dipengaruhi suhu distilasi, dimana semakin tinggi suhu
distilasi, maka akan didapat volume distilat yang semakin besar. Hal ini
disebabkan karena dengan meningkatnya suhu, maka laju penguapan distilat akan
semakin besar. Sehingga pada rentang waktu dan tekanan vakum yang sama akan
didapatkan volume distilat yang lebih besar pada suhu yang lebih tinggi.
2
Kondisi operasi distilasi vakum pada tekanan vakum 6 x 10 kPa yang
terbaik pada percobaan dengan melihat hasil data percobaan adalah pada suhu
220C. Dimana pada suhu tersebut didapatkan kadar eugenol 89,65% dan volume
sebesar 35,5 ml. Pada volume dan kadar tersebut didapatkan massa eugenol
sebesar 33,13 gram.
Daftar Pustaka
Dhana, Adhen. 2015. Destilasi dibawah Tekanan (Vakum). Semarang: FMIPA
Universitas Negeri Semarang
Deperindag. 2010. Kebutuhan Minyak Cengkeh Dunia. Jakarta: Departemen
Perdagangan dan Perindustrian Indonesia
Firdaus,I. 2009. Analisis Total Minyak Atsiri. Jakarta: Penebar Swadaya
http://mtdp.blogspot.co.id/2015/01/distilasi-jenis-jenisnya.html (diakses pada 15
mei 2016 pukul 13.16)
http://rumahdukasi.blogspot.co.id/2015/03/saponifikasi-pembuatan-sabun.html
(diakses pada 14 mei 2016 pukul 16.15)
Lutfi, Machmud. Jati, Wisnu dan Aprilina Purbasari. 2013. Peningkatan Kadar
Eugenol pada Minyak Atsiri Cengkeh dengan Metode SaponifikasiDistilasi Vakum. Semarang: Universitas Dipenogoro
SNI 06-2387-2006. Minyak Daun Cengkih. Badan Standarisasi Nasional
Indonesia.

14