Anda di halaman 1dari 10

ACARA V.

PENGUJIAN MINYAK ATSIRI


A. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum acara V Pengujian Minyak Atsiri adalah :
1. Mempelajari pengujian berat jenis (densitas) minyak atsiri dan
mengetahui berapa berat jenisnya.
2. Mempelajari dan mengenai kelarutan minyak atsiri dalam alkohol.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Cengkih (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum),
dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering
beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkih adalah tanaman asli
Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negaranegara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia.
Pohon cengkih merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan
tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada
pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan
berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkih akan dipanen jika sudah
mencapai panjang 1,5-2 cm (Anonima, 2011).
Destilasi cengkeh bukan suatu masalah yang mudah, hasil
maupun sifat fisika kimia minyak cengkeh sebelum dilakukan destilasi
(utuh maupun ditumbuk), juga tipe alat / cara destilasi (destilasi air,
destilasi air dan uap, atau destilasi uap langsung). Bila cengkeh yang
didestilasi utuh maka gaya hidrodifusi memegang peranan penting, dan
fraksi pertamayang didestilasi khususnya eugenol (Anonimb, 2011).
Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam
menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Nilai berat jenis minyak
atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat
air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama
pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponenkomponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang
terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya.
Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar
dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi (Anonimc, 2007).

Minyak cengkeh merupakan hasil penyulingan serbuk bunga


cengkeh kering. Minyak atsiri jenis ini memiliki pasaran yang luas di
industri farmasi, penyedap masakan dan wewangian. Kandungan minyak
cengkeh adalah eugenol (90%), eugenil acetate, methyl n-hepthyl alcohol,
benzyl alcohol, methyl salicylate, methyl n-amyl carbinol, dan terpene
caryo-phyllene. Minyak tangkai cengkeh adalah minyak atsiri hasil
penyulingan tangkai kuntum cengkeh. Jenis ini jarang ditemukan di
Kecamatan Samigaluh. Jenis minyak cengkeh yang terakhir, minyak daun
cengkeh (clove leaf oil) adalah minyak atsiri hasil sulingan daun cengkeh
kering (umumnya yang sudah gugur) dan banyak ditemukan di lokasi
survai

di

Kecamatan

Samigaluh.

Minyak

daun

cengkeh

mulai

dikembangkan pada tahun 1960 yang digunakan untuk bahan baku obat,
pewangi sabun dan deterjen. Minyak daun cengkeh juga digunakan di
industri wewangian dengan ketetapan standar mutu tertentu yang lebih
ketat (Anonimd, 2007).
Bunga cengkeh kering mengandung minyak atsiri, fixed oil
(lemak), resin, tannin, protein, cellulosa, pentosan dan mineral.
Kandungan fixed oil di dalam bunga cengkeh berkisar antara 5 10 %
yang terdiri dari minyak lemak dan resin. Minyak lemak tersebut sebagian
besar terdiri dari asam lemak tidak jenuh (94% dari total asam lemak), dan
asam lemak tersebut sebagian besar terdiri dari asam stearat yaitu sekitar
89% dari total asam lemak jenuh. Komponen yang paling banyak adalah
minyak atsiri yang jumlahnya bervariasi.Tanaman cengkeh memiliki
kandungan minyak atsiri dalam bunga (10-20%), tangkai (5-10%) maupun
daun (1-4%). Kandungan utama minyak atsiri bunga cengkeh adalah
eugenol (70-80%) (Nurdjannah, 2004).
Cengkeh (Syzygium aromaticum

(L)

merupakan

lama

tanaman

rempah

yang sejak

Merr

&

digunakan

Perry)
dalam

industri rokok kretek, makanan, minuman dan obat obatan. Bagian


tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan di atas adalah
bunga,

tangkai

bunga dan

daun

cengkeh

(Nurdjannah, 2004).

Selanjutnya Meyer et al., (2008) menyatakan bahwa minyak cengkeh

yang diperoleh dari bunga, batang maupun daun dari tanaman


cengkeh

mampu

menghambat pertumbuhan

organisme,

termasuk

diantaranya mikroba, serangga, cacing dan tanaman pengganggu.


Salah satu bahan antibakteri alami yang jumlahnya melimpah,
mudah diperoleh serta dianggap memiliki kemampuan antibakteri yakni
minyak cengkeh.

Minyak cengkeh memiliki aktivitas biologi, antara

lain sifat antibakteri, antijamur, pemberantas serangga, dan antioksidan,


dan secara tradisional digunakan sebagai agen flavor dan bahan
antibakteri dalam pangan (Huang et al., 2002; Lee and Shibamoto,
2001).
Ayoola (2008) menyatakan bahwa senyawa yang terkandung
dalam minyak cengkeh antara lain eugenol, caryophyllene, eugenol
acetate

dan

terbanyak.

alpha-humelene,

dan eugenol

merupakan

senyawa

Lawless (1995) menyatakan bahwa ada tiga jenis minyak

cengkeh : (1) minyak kuncup cengkeh diperoleh dari kuncup bunga dari
S.aromaticum

mengandung 60-90% eugenol, eugenyl acetate, caryo-

phyllene dan unsur lainnya dalam jumlah sedikit; (2) minyak daun
cengkeh diperoleh dari daun S.aromaticum, mengandung 82-88%
eugenol dengan sedikit atau tidak ada sama sekali eugeyl acetate dan
unsur lainnya sedikit sekali; (3) minyak batang cengkeh diperoleh dari
ranting S.aromaticum, mengandung 90-95% eugenol dan unsur lainnya
sedikit.
Minyak

cengkeh

adalah ekstrak

tanaman,

mengandung

eugenol, ketika diuji pada beberapa jenis bakteri memiliki sifat


antibakteri dan memperlihatkan penghambatan pada L. monocytogenes,
Campylobacter jejuni, S.enteridis, E.coli dan S.aureus (Beuchat, 2000;
Cressy et al., 2003; Smith-Palmer et al., 1998). Selanjutnya ditambahkan
oleh Frosch et al., (2002) bahwa penelitian terbaru menunjukkan
aktivitas antibakteri minyak cengkeh dapat menghambat pertumbuhan
bakteri

patogen:

A.

actinomycetemcomitans,

P.

intermedia,

P.melaninogenica, P. gingivalis, C. gingivaiis and F. nucleatum. Juga


mampu menghambat pertumbuhan

Candida

albicans, Pseudomonas

aeruginosa, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus. Dilaporkan


oleh Smith et al., (1998 dan 2001) bahwa minyak cengkeh efektif
menghambat L. monocytogenes dan S. enteridis dalam TSB dan keju.
Selanjutnya Burt (2004) menyatakan bahwa kemampuan
minyak cengkeh dalam menghambat pertumbuhan bakteri disebabkan
adanya kandungan eugenol yang tinggi.
terpenting

sebagai

mampu masuk

antibakteri

ke

dalam

Karakteristik eugenol yang

yaitu sifat hydrophobicity.

lipopolisakarida yang

terdapat

Sifat ini
dalam

membran sel bakteri.


Tanaman cengkeh merupakan salah satu tanaman rempah
yang di-manfaatkan terutama dalam industri ro-kok. Selain itu cengkeh
dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan. Sejak tahun 1990-an
bagian-bagian da-ri tanaman cengkeh, yaitu daun, bunga dan gagangnya
telah dimanfaatkan pula sebagai bahan baku pestisida nabati un-tuk
pengendalian hama dan penyakit tanaman (Manohara et al., 1994)
Kom-posisi kimia lainnya dari daun ceng-keh belum diteliti
secara mendalam namun pada umumnya kandungannya lebih rendah
dibandingkan

minyak cengkeh

(Guenther,

1990).

Untuk membuat

minyak daun cengkeh biasa-nya digunakan daun-daun yang jatuh,


sehingga

harganya

jauh

lebih

murah bila

dibandingkan

bunga

cengkeh. Penggunaan bahan baku untuk pes-tisida nabati selain efektif


juga har-ganya perlu dipertimbangkan..
C. METODELOGI
1. Alat
a. Neraca analitik
b. Piknometer
2. Bahan
a. Sampel minyak cengkeh
b. Aquades
c. Alkohol
3. Cara Kerja
a. Bobot jenis
pikno kosong ditimbang (m)
Pikno kosong di isi dengan
minyak
cengkeh
kemudian
ditimbang (m1)

Pikno diisi dengan minyak


cengkeh kemudian ditimbang
(m2)
Menghitung berat jenis cengkeh
dengan cara =

b. Kelarutan dalam alkohol 70%


Memasukkan minyak cengkeh 1 ml
dalam tabung reaksi
Menambahkan alkohol 70% dalam
tabung reaksi sampai larutan bening

Menghitung perbandingan alkohol yang


digunakan dalam kelarutan

D. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil pengamatan
Tabel 5.1 Hasil Pengujian Minyak Atsiri Cengkeh.
Sampel
Pengujian
Hasil Uji
Bobot Jenis
1, 0315
Minyak Cengkeh
Kelarutan Dalam
1:1
Alkohol 70%
Sumber : Hasil Pengamatan
Analisis Hasil Pengamatan
Berat pikno kosong = 12,9838
Berat pikno + aquadest = 22, 1310
Berat pikno sampel = 22,4199
m2 m
m1 m
( pikno sampel ) piknokosong
= ( pikno aquadest ) piknokosong

Bobot Jenis =

22,4199 12,9838

= 22,1310 12,9838
9,4361

= 9,1472
= 1,0315
2. Pembahasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu minyak sangat
ditentukan oleh sifat dan senyawa kimia yang terkandung di
dalamnya. Sifat fisik seperti bobot jenis,indeks bias, putaran optik,
dan kelarutan dalam alkohol / etanol 70% dapat dijadikan kriteria
untuk menentukan kemurnian minyak. Apabila bobot jenis, indeks
bias, dan putaran optik menunjukkan angka yang tertinggi,
kemungkinan minyak cengkeh tersebut mengandung bahan-bahan lain
seperti mineral dan lemak. Apabila sifat itu menunjukkan angka yang
rendah,maka kemungkinan minyak tersebut mempunyai kadar
eugenol yang rendah (Rusli dkk., 1979). Di bawah ini adalah tabel
mengenai parameter mutu minyak atsiri bunga cengkeh berdasarkan
Standart Nasional Indonesi (SNI).

Prinsip dari pengukuran bobot jenis adalah membandingkan


antara kerapatan minyak pada suhu 250C terhadap kerapatan air pada
suhu yang sama. Bobot jenis ditentukan dengan menggunakan
piknometer. Piknometer sering digunakan dalam penetapan bobot
jenis karena selain praktis dan tepat penggunaannya juga hanya
menggunakan sejumlah kecil contoh minyak. Bobot jenis suatu
senyawa organik dipengaruhi oleh bobot molekul, polaritas, suhu, dan
tekanan (Guenther, 1987).
Praktikum acara V Pengujian Minyak Atsiri menggunakan
sampel minyak cengkeh dengan variabel pengamatan yang dilakukan
adalah menghitung bobot jenis dan kelarutan dalam alkohol 70%.
Pada hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa bobot minyak
atsiri cengkeh sebesar 1, 0315 sedangkan jika dibandingkan dengan
tabel SNI adalah sebesar 1,030 1,060. Hal ini berarti sifat fisik
minyak atsiri cengkeh yang digunakan dalam praktikum kali ini
bermutu baik. Penentuan bobot jenis minyak adalah salah satu cara
analisa yang dapat menggambarkan kemurnian minyak. Bobot jenis
merupakan salah satu indikator untuk menentukan adanya pemalsuan
minyak atsiri yang merupakan analisis untuk menggambarkan
kemurnian minyak. Penambahan dengan bahan pencampur lain yang
mempunyai bobot molekul besar dapat menaikkan bobot jenisnya
(Ketaren, 1985).
Minyak atsiri dapat larut dalam alkohol pada perbandingan
dan konsentrasi tertentu. Dengan demikian, jumlah dan konsentrasi

alkohol yang dibutuhkan untuk melarutkan sejumlah minyak atsiri


secara sempurna dapat diketahui,. Umumnya minyak atsiri yang
mengandung persenyawaan oxygenatedterpene lebih mudah larut
daripada yang mengandung terpen. Pencampuran bahan minyak
atsiri

dengan

bahan-bahan

lain

dapat

mempengaruhi

kelarutan (Ketaren, 1985).


Pada tabel 5.1 di atas dapat diketahui bahwa besarnya
perbandingan kelarutan dalam alkohol 70% adalah 1 : 1. Ini berarti
minyak atsiri cengkeh yang digunakan bermutu baik sekali karena
berdasarkan Standart Nasional Indonesia (SNI) kelarutan dalam
alkohol 70% sebesar 1 : 2. Semakin kecil pelarut yang digunakan
semakin semakin bagus kualitas minyak atsiri tersebut karena
kemampuan untuk larut pada pelarutnya tinggi.
E. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil acara V Pengujian Minyak Atsiri
adalah :
1. Praktikum acara V menggunakan sampel minyak cengkeh.
2. Bobot jenis ditentukan dengan menggunakan piknometer.
3. Variabel pengamatan yang dilakukan padda praktikum kali ini adalah
bobot jenis dan kelarutan dalam alkohol 70%.
4. Bobot minyak atsiri cengkeh sebesar 1, 0315.
5. Besarnya perbandingan kelarutan dalam alkohol 70% adalah 1 : 1 yang
minyak atsiri cengkeh yang digunakan bermutu baik sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Anonima, 2011. Cengkih. http://id.wikipedia.org. Diakses pada hari Kamis tanggal
22 Desember 2011 pada pukul 19.00 WIB.
______b, 2011. Isolasi Bunga Cengkeh. http://catatankimia.com. Diakses pada
hari Kamis tanggal 22 Desember 2011 pada pukul 19.00 WIB.
______c. 2007. Parameter Kualitas Minyak Atsiri. http://ferry-atsiri.blogspot.com.
Diakses pada hari Kamis tanggal 22 Desember 2011 pada pukul 19.00
WIB.
______d.2007. Usaha Penyulingan Minyak Daun Cengkeh. http://www.bi.go.id.
Diakses pada hari Kamis tanggal 22 Desember 2011 pada pukul 19.00
WIB.
Ayoola, G. A., F. M. Lawore., T. Adelowotan., I. E. Aibinu., E. Adenipekun.,
H. A. B. Coker and T. O. Odugbemi. 2008. Chemical Analysis and
Antimicrobial Activity of the Essential oil of Syzigium aromaticum
(clove). African Journal of Microbiology Research.(2) : 162-166.
Burt, S.

2004. Essential Oils: Their Antibacterial Properties and Potential


Applications in Foods - a Review. International Journal of Food
Microbiology (94), 223253.

Beuchat, L. R. 2000. Control of Foodborne Pathogens and Spoilage


Microorganisms by Naturally Occurring Antimicrobials. In C.
L.Wilson & S. Droby (Eds.), Microbial Food Contamination. Boca
Raton, FL: CRC Press. pp. 149169.
Corporation, New York. Nurdjannah N, S. Rusli dan A. Vianna, 1990. Pengaruh
bobot dan waktu penyulingan tangkai cengkeh terhadap mutu dan
rendemen minyak yang dihasilkan. Pemberitaan Littri. 15 (4) : 153 157.
Cressy, H. K., Jerrett, A. R., Osborne, C. M., & Bremer, P. J. 2003. A Novel
Method for the Reduction of Numbers of Listeria Monocytogenes
Cells by Freezing in Combination with an Essential Oil in
Bacteriological Media. Journal of Food Protection, 66, 390395.
Frosch, P. J. , J.D. Johansen, T. Menn, C. Pirker, S.C. Rastogi, K.E.
2002. Andersen, M. Bruze, A. Goossens, J. P. Lepoittevin, I. R. White
Vol. 47(5): 279-287, Nov 2002.
Guenther, E. 1987. The Essential Oils. Terjemahan. Ketaren, R.S. (1987). Minyak
Atsiri. Jilid I. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. hal 287-289.

Guenther, E., 1990. Minyak Atsiri. Jilid IV B. Penerjemah S. Ketaren. Universitas Indonesia. 851 hal.
Huang, Y., Ho, S. H., Lee, H. C., & Yap, Y. L. 2002. Insecticidal Properties
of Eugenol, Isoeugenol and Methyleugenol and Their Effects on
Nutrition of Sitophilus zeamais Motsch. (Coleoptera: Curculionidae)
and Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae). J. of
Stored Products Research, 38, 403412.
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Penerbit Balai
Pustaka. Hal. 28-29.
Lawlees, J. 1995. The Illustrated Encyclopaedia of Essential Oils, 1995,
ISBN 1-85230-661-0.
Manohara, D., D. Wahyuno dan Sukamto, 1994. Pengaruh tepung dan
minyak cengkeh terhadap Phy-tophthora, Rigidoporus dan Sclerotium. Prosiding Seminar Hasil Pene-litian dalam Rangka Pemanfaatan
Pestisida Nabati. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 1
2 Desember 1993. hal. 19-27.
Mayer, L. H. 1976.
Publishing.

Food Chemistry.

Modern

Asia

Edition.

Reinhead

Rusli, Sofyan; Nanan Nurjannah. 1979. The characteristic of some prospectives


essential oils in Indonesia/ Industrial Crops-Research Journal. v. 6(1),
1993: p. 31-37..
Smith-Palmer, A., Steward, J., & Fyfe, L. (1998). Antimicrobial Properties of
Plant Essential Oil and Essences Against Five Important Food-borne
Pathogens. Letters in Applied Microbiology (26) : 118122.