Anda di halaman 1dari 12

BRUCELLOSIS

Brucellosis merupakan penyakit hewan menular strategis yang mendapat


prioritas pengendalian dan/atau pemberantasan. Hal ini diatur dalam Surat
Keputusan Direktur Jendral Peternakan No. 59/Kpts/PD610/05/2007 tentang
Jenis-Jenis Penyakit Hewan Menular Yang Mendapat Prioritas Pengendalian Dan
Atau Pemberantasannya. Secara nasional, kebijakan pengendalian brucellosis
adalah dengan mengendalikan lalu lintas sapi dan melaksanakan vaksinasi di
daerah tertular berat (prevalensi >2%). Metode pemberantasan penyakit pada
ternak adalah dengan test and slaughter (uji dan potong) reaktor positif sesuai
dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 828/Kpts/OT.210/10/98
tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis)
pada ternak. Regulasi internasional mengenai brucellosis pada sapi, domba,
kambing, dan babi terdapat dalam Terrestrial Animal Health Code yang
diterbitkan oleh OIE (World Animal Health Organization (Alton, 2005)
Strategi pemberantasan berdasarkan tingkat kejadiannya yaitu apabila
prevalensi reaktor 2% dengan kategori tertular berat, maka metode
pemberantasannya dengan cara vaksinasi. Sedangkan pada daerah kategori
tertular rendah (prevalensi < 2%), ditetapkan dengan teknik uji dan potong
bersyarat (test and slaughter) (Abdul, 2004)
Abdul, A. R. M. 2004. Strategi pengendalian penyakit reproduksi menular untuk
meningkatkan efisiensi reproduksi sapi potong. Wartazoa Vol. 14 No. 3.
Usaha pencegahan dan pengendalian brucellosis sapi pada umumnya
terfokus pada pemberantasan penyakit dengan pengendalian populasi sapi bebas
dari agen penyakit. Oleh karena itu usaha Dinas Peternakan diarahkan pada
pencegahan berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah
penderita baru. Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif
(strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi brucellosis tinggi,

dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah keguguran. Vaksin B. abortus


S19 merupakan strain (galur) hidup yang sudah dilemahkan dan memiliki sifat
stabil, dan memberikan proteksi terhadap infeksi 70-80%. Standar dosis yang
dianjurkan pada sapi umur 3 - 12 bulan dengan jumlah hidup 4 - 12 X 10 10
CFU/ml. Penggunaan vaksin S19 umumnya diberikan pada anak sapi umur 4
bulan sampai 12 bulan. Vaksinasi pada anak sapi mempunyai resiko terhadap
adanya persisten antibodi yang terdeteksi dengan uji serologi sangat rendah
dibandingkan apabila diberikan pada sapi dewasa. Vaksinasi pada anak sapi akan
tahan terhadap penyakit selama tujuh tahun atau 5 kali kebuntingan. Pemberian
vaksin S19 pada masa pubertas dapat menimbulkan persisten antibodi sehingga
secara serologik menimbulkan reaksi positip palsu akan lebih lama. Sedangkan
efek

yang

mungkin

ditimbulkan

pasca

vaksinasi

kemungkinan

dapat

menimbulkan abortus terutama pada bunting akhir, disamping dapat menimbulkan


demam, nafsu makan menurun, agalaktia dan pembengkakan limfoglandulal.
Vaksinasi terhadap hewan terinfeksi tidak menimbulkan efek terhadap
penyakitnya tetapi mengurangi jumlah B.abortus yang dikeluarkan saat kelahiran
sehingga mengurangi penularan terhadap sapi lain. Vaksinasi dengan dosis encer,
dapat diberikan pada sapi dewasa.Penggunaan dosis ini hanya diberikan pada
kelompok hewan yang tertular berat(misalnya prevalensi > 10%) sebagai
alternatif dari pemotongan. Tidak dianjurkan pada kelompok yang berprevalensi
rendah (misalnya <1%). Pemberian vaksin S19 dalam bentuk kering beku
dilarutkan dalam 2ml/dosis dan didiamkan selama satu jam dalam termos es
sebelum diinjeksikan, terutama bila yang digunakan dosis encer. Tempat injeksi
umunya dipunggung bagian bahu secara subcutan. (Suryadi, 2002)
Suyadi. 2002. Manajemen dan teknologi reproduksi pada sapi. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya Malang
Vaksin S19 menyebabkan permanen antibodi sehingga menyebabkan
reaksi positif palsu pada uji serologis terhadap infeksi Brucella seperti RBT dan

CFT, sehingga tidak dapat dibedakan antara sapi yang divaksin dengan yang
terinfeksi. Oleh karena itu diperlukan vaksin yang mampu menghasilkan respon
kekebalan yang baik sehingga mengurangi penyebaran penyakit yang dapat
dibedakan dengan hewan yang mengalami infeksi. Vaksin yang telah
dikembangkan yaitu RB 51 hasil mutan kasar dari B. abortus virulen starin 2308
(S2308). Strain RB51 ini tidak memiliki rantai -0 pada LPS (lipopolysaccharida)
dari dinding sel B.abortus sehingga tidak mampu dideteksi dengan menggunakan
uji serologik standar untuk brucellosis (RBT dan CFT) atau tidak menimbulkan
reaksi positip palsu seperti halnya terjadi pasca vaksinasi dengan vaksin S 10.
Vaksin RB51 bersifat aman apabila diberikan pada sapi betina bunting. Hanya
saja vaksin RB 51 masih harus impor dan harganya relatif mahal daripada vaksin
S 19 yang sudah dapat diproduksi oleh Pusat Veteriner Farma. Vaksin RB51
diberikan pada sapi berumur 4-12 bulan secara sub cutan dengan dosis 1-3,4 x
1010 CFU, dianjurkan vaksinasi ulang pada 12 bulan berikutnya.Respon
kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin RB51 sama dengan yang ditimbulkan
oleh vaksin S19 dan vaksin RB51 ini tidak menimbulkan efek berupa arthritis,
anafilaksis dan anoreksia (Dirkeswan, 2004)
Dirkeswan, 2004. Paper: Kebijakan Pemerintah dalam Pemberantasan Bruselosis
di Indonesia khususnya P. Jawa. Jakarta, Departemen Pertanian.
Pada kambing dan domba, vaksinasi dilakukan menggunakan vaksin
Brucella melitensis strain Rev. 1, baik untuk B. Melitensis maupun B. ovis.
Sementara itu, belum ada produk vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi B.
suis pada babi dan B. canis pada anjing. Semua produk vaksin yang tersedia
merupakan vaksin hidup dan berpotensi menimbulkan aborsi bila diberikan pada
ternak bunting (Kurniawati dkk., 2012)

Kurniawati, U., P. Trisunuwati dan S. Wahyuni. 2012. Pengaruh Vaksinasi


Brucellosis Terhadap Efisiensi Reproduksi. Program Pasca Sarjana Universitas
Brawijaya. Malang.

ETIOLOGI
Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang bersifat zoonosis,
menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Brucellosis disebabkan oleh
bakteri genus Brucella. Brucella merupakan bakteri gram negatif berbentuk
batang dengan panjang 0,5 2,0 mikron dan lebar 0,4 0,8 mikron. Bakteri ini
non-motil, tidak berspora, dan bersifat aerob. Brucella merupakan parasit
intraseluler fakultatif. Pada lingkungan yang hangat dan lembab, seperti di
Indonesia,

bakteri

Brucella

dapat

bertahan

hingga

berbulan-bulan

di

lingkungan.Brucella memiliki 2 jenis antigen, yaitu antigen M dan antigen A.


Brucella mempunyai antigen bersama dengan beberapa bakteri lainnya seperti
Campylobacter fetus dan Yersinia enterocolobacter (Diaz et al., 2010)
Brucellosis ditularkan melalui ingesti bakteri yang terdapat dalam susu,
fetus abortus, membran fetus, dan cairan uterus atau kopulasi dan inseminasi
buatan. Pada sapi jantan, bakteri ini dapat ditemukan dalam semen yang
dihasilkan. Pada domba, brucellosis juga diketahui dapat ditularkan antar domba
jantan melalui kontak langsung. Infeksi biasanya tahan lama pada domba jantan
dan B. ovis akan diekskresikan dalam persentasi yang tinggi secara intermiten
selama kira-kira 4 tahun.
Brucellosis dapat ditularkan ke manusia melalui konsumsi susu segar dan
produk susu dari hewan yang terinfeksi atau kontak langsung dengan sekresi,
ekskresi, dan bagian tubuh hewan yang terinfeksi, seperti jaringan, darah, urin,
cairan vagina, fetus abortus, dan plasenta (Alton, 2005)

EPIDEMIOLOGI
Brucellosis tersebar secara luas di seluruh dunia. Sebagian besar negara
maju sudah berhasil mengendalikan penyakit pada ternak dan hewan kesayangan,
namun masih kesulitan mengeradikasi brucellosis pada populasi satwa liar.
Brucellosis pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1953. Sejak itu
reaktor brucellosis telah ditemukan secara luas di pulau-pulau besar di Indonesia,
seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Timor, kecuali Bali.
Pada tahun 2002, pulau Bali dinyatakan bebas historis penyakit brucellosis
melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 443/Kpts/TN.540/7/2002, sementara
pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinyatakan bebas penyakit
brucellosis melalui program pemberantasan dalam Keputusan Menteri Pertanian
No. 444/Kpts/TN.540/7/2002. Di tahun 2009, Provinsi Sumatera Barat, Riau,
Jambi, dan Kepulauan Riau dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi
dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2541/Kpts/PD.610/6/2009
dan pulau Kalimantan juga dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi
dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2540/Kpts/PD.610/6/2009.
(Departemen Pertanian, 2000)
GEJALA KLINIS
Gejala klinis pada sapi betina ditandai dengan adanya
aborsi. Infeksi juga dapat menyebabkan kelahiran pedet yang
lemah, retensi plasenta, dan penurunan produksi susu. Pada sapi
jantan, infeksi dapat terjadi pada vesikula, ampula, testis dan
epididimis. Testis juga dapat mengalami abses. Infeksi yang
menahun dapat mengakibatkan terjadinya arthritis (Sudibyo,
2011)
Infeksi brucellosis pada kambing dan infeksi B. melitensis
pada domba menyebabkan gejala yang mirip dengan sapi.

Namun, infeksi B. ovis menghasilkan gejala penyakit yang


spesifik untuk domba, hewan jantan akan menderita epididimitis
dan orchitis yang akan sangat mempengaruhi fertilitasnya. Pada
hewan betina, penyakit ini biasanya menyebabkan aborsi pada
kebuntingan umur 4 bulan. Selain itu dapat juga ditemukan
placentitis serta kematian perinatal. Pada pejantan, kelainan
pertama yang mungkin terdeteksi adalah penurunan kualitas
semen yang dihasilkan, dimana banyak terkandung sel-sel
radang dan mikroorganisme. Kambing jantan dapat menderita
arthritis dan orchitis (Sudibyo, 2011)
Gejala klinis brucellosis pada babi mirip dengan gejala
pada sapi dan kambing. Gejala yang umum muncul adalah
aborsi,

sterilitas

sementara

atau

permanen,

orchitis,

kepincangan, paralisis posterior, spondylities, dan terkadang


dapat juga terjadi metritis dan pembentukan abses pada
ekstrimitas atau bagian lain dari tubuh. Kejadian aborsi dapat
berkisar antara 0 80% dan dapat terjadi pada awal kebuntingan
sehingga tidak terdeteksi. Hewan yang demikian akan segera
kembali ke siklus estrusnya. Timbulnya sterilitas adalah umum
dan itu dapat menjadi satu-satunya gejala klinis yang timbul.
Oleh karena itu, bila ada sterilitas dalam sekelompok hewan
maka brucellosis akan menjadi kecurigaan utama (Sudibyo,
2011)

PATOLOGI ANATOMI
Pada sapi yang mengalami aborsi, fetus dapat tampak normal, mengalami
autolisis, atau oedema subkutan dan cairan serosanguineus dalam rongga
tubuhnya. Limpa dan/atau hati dapat mengalami pembesaran dan pada paru-paru
dapat ditemukan pneumonia dan pleuritis fibrous. Kejadian aborsi fetus pada
betina terinfeksi umumnya disertai dengan plasentitis, dimana kotiledon dapat
tampak merah, kuning, normal, atau nekrotik. Daerah interkotiledon dapat tampak
basah

dengan

penebalan

fokal.

Dapat

juga

ditemukan

eksudat

pada

permukaannya. Lesio purulen hingga granulomatosa dapat ditemukan pada


saluran reproduksi jantan maupun betina, kelenjar mamae, limfonodus
supramamari, jaringan limfoid lainnya, tulang, sendi, serta jaringan dan organ
lain. Endometritis ringan hingga berat dapat ditemukan setelah kejadian aborsi
dan pada hewan jantan dapat ditemukan epididimitis dan/atau orchitis unilateral
atau bilateral. Higroma juga dapat ditemukan pada sendi karpalis, lutut, tarsalis,
serta antara ligamentum nuchae dan os vertebrae thoracic pertama (Enright, 2005)
Sedangkan pada domba manifestasi utama penyakit pada jantan adalah
lesio pada epididimis, tunika dan testis. Pada betina utamanya terjadi placentitis
dan aborsi, selain itu dapat juga terjadi mortalitas perinatal pada anak domba.
Lesio dapat terbentuk dengan cepat. Pembesaran epididimis dapat bersifat
unilateral atau bilateral. Pembesaran lebih sering terjadi pada cauda epididimis
dibandingkan caput atau corpus dan lesio yang paling jelas adalah terbentuknya
spermatocele dengan berbagai ukuran yang mengandung cairan spermatik.
Seringkali tunika menebal dan menjadi fibrous serta mengalami pelekatan. Testis
dapat mengalami atropi fibrous, lesi yang demikian umumnya bersifat permanen.
Dalam beberapa kasus, lesionya bersifat sangat jelas, namun ada juga kasus-kasus
dimana bakterinya ada dalam semen dalam jangka waktu yang lama tanpa
menunjukkan gejala klinis. Karena tidak semua pejantan terinfeksi mempunyai
kelainan jelas pada jaringan scrotalnya dan tidak semua kasus epididimitis adalah

karena brucellosis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut (Sudibyo,


1995)
Pada kambing jantan dapat ditemukan epididimitis dan orchitis. Dapat
ditemukan pembesaran epididimis unilateral atau bilateral dengan bagian kauda
lebih sering mengalami kelainan dibandingkan kaput atau korpus. Dalam testis
dapat terjadi atrofi fibrous. Tunika vaginalis menebal dan fibrous dan dapat terjadi
perlekatan. Pada betina terinfeksi terkadang dapat ditemukan plasentitis (Sudibyo,
1995)

PENGUJIAN LABORATORIUM
Pada sapi bakteri dapat diidentifikasi dengan modified acid-fast staining
atau metode polymerase chain reaction (PCR). Selain itu dapat dilakukan kultur
bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif. Uji-uji lain yang dapat
digunakan adalah uji ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), complement
fixation, rivanol precipitiation, and acidified antigen procedure. Uji antigen
Brucella seperti rose bengal test dan buffered plate agglutination test, dan
complement fixation test, ELISA, atau fluorescence polarization assay adalah
beberapa uji yang cocok untuk screening penyakit pada kelompok ternak dan
hewan individual. Uji indirect ELISA atau milk ring test cocok untuk screening
dan memonitor brucellosis pada sapi perah, tetapi milk ring test kurang baik
hasilnya bila diaplikasikan pada kawanan ternak yang besar. Uji immunologis
lain, yaitu brucellin skin test,dapat digunakan untuk screening atau untuk
mengkonfirmasi reaktor serologis positif dalam kelompok ternak yang tidak
divaksinasi (Bundle et al., 1989)
Bakteri pada domba dan kambing dapat diidentifikasi dengan modified
acid-fast staining atau metode polymerase chain reaction (PCR). Selain itu,

pemeriksaan juga dapat dilakukan menggunakan teknik fluorescent antibody yang


bersifat sangat spesifik. Pemeriksaan mungkin harus dilakukan beberapa kali
karena bakteri diekskresikan secara intermiten. Bila dimungkinkan sebaiknya
dilakukan kultur bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif (Alton et
al., 2009)
Pengujian serologis yang umum digunakan untuk memeriksa kelompok
maupun individu ternak yang terserang B. melitensis adalah buffered Brucella
antigen test (BBAT) dan complement fixation test (CFT). Pengujian
menggunakan uji aglutinasi serum pada ruminansia kecil kurang dapat
diandalkan. Indirect enzyme-linked immunosorbent assay (I-ELISA) dan
fluorescence polarization assay (FPA) juga dapat digunakan untuk screening.
Brucellin allergic skin test juga dapat digunakan pada kelompok ternak yang tidak
divaksinasi dengan syarat preparat antigen yang digunakan terstandarisasi, murni
dan bebas lipopolisakarida (LPS). Dalam interpretasinya, hasil uji tersebut harus
dikaitkan dengan gejala klinis, sejarah, dan hasil pemeriksaan serologis dan kultur
bakteri. Untuk B. ovis, uji serologis yang umum digunakan adalah complement
fixation test (CFT). Selain uji tersebut dapat juga dilakukan uji agar gel
immunodiffusion (AGID), dan indirect enzyme-linked immunosorbent assay (IELISA) (Bundle et al., 1989)
Pada babi bakteri dapat diidentifikasi dengan modified acid-fast staining
atau metode polymerase chain reaction (PCR). Bila dimungkinkan sebaiknya
dilakukan kultur bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif. Uji
serologis yang umum digunakan adalah buffered Brucella antigen test (BBAT),
indirect dan competitive enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), Rose
Bengal test (RBT) complement fixation test (CFT), dan fluorescence polarization
assay (FPA). Selain itu, allergic skin test dan buffered plate agglutination test
(BPAT) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi pada kawanan ternak
(Alton et al., 2009)

PENGENDALIAN
Deteksi penyakit dan pencegahan sangat penting karena tidak ada
pengobatan efektif yang tersedia saat ini. Eradikasi sangat tergantung pada
pengujian dan pemusnahan reaktor. Penyakit ini telah dieradikasi di banyak
daerah melalui metode ini. Ternak harus diuji secara rutin hingga diperoleh hasil
negatif 2 atau 3 kali berturut-turut. Kelompok yang bebas penyakit harus
dilindungi. Risiko terbesar berasal dari hewan baru. Hewan baru sebaiknya pedet
yang sudah divaksinasi atau sapi dara. Jika ada penambahan sapi bunting atau
yang lainnya maka sapi-sapi tersebut harus berasal dari daerah yang bebas
brucellosis dan harus seronegatif. Sapi baru sebaiknya diisolasi minimal 30 hari
dan diuji sebelum digabungkan ke ternak yang lain (Departemen Pertanian, 2000)
Pada domba dan kambing kejadian penyakit dan penyebarannya dapat
dikurangi melalui pemeriksaan rutin pejantan sebelum memasuki musim kawin
dan pengafkiran pejantan yang memiliki kelainan pada alat reproduksinya. Karena
kerentanan bertambah seiring dengan bertambahnya umur, maka dianjurkan untuk
memelihara pejantan yang muda. Selain itu pejantan yang diketahui bebas
penyakit sebaiknya diisolasi dan dipisahkan dari pejantan tua yang mungkin
sudah terinfeksi. Karena infeksi pada betina hampir seluruhnya terjadi akibat
perkawinan dengan jantan terinfeksi, maka pelaksanaan program vaksinasi pada
jantan dapat secara efektif mengatasi keadaan ini. Penyakit ini dapat dieliminasi
dengan

mengafkir

kelompok

ternak.

Penggunaan

chlortetracycline

dan

streptomycin secara bersamaan dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi hal ini
tidak ekonomis dari segi biaya kecuali pada domba dengan nilai ekonomi tinggi.
Selain itu, meskipun infeksinya dapat dihilangkan, namun infertilitas akibat
penyakit mungkin takkan hilang (Putra, 2005)
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian. 2000. Pedoman surveilans dan monitoring brucellosis


pada sapi dan kerbau . Dirjen Produksi Peternakan . him . 1 - 38 .
Enright, F.M. 2005 . The pathogenesis and pathobiology of brucella infection in
domestic animals. In: Animal Brucellosis . NIELSON, K . and J .R. DUNCAN
(Eds .) . Boca Raton . Florida, CRC Press . pp . 301 - 320.
Alton, G.G . 2005 . Report on consultansy in animal
brucellosis . Bogor : Research Institute for Veterinary Science . pp . 1 - 3 .
Diaz, R., L.M. Jomes, D. Leons and J .B. Wilson. 2010 . Surface antigens of
smoth Brucella . J . Bacteriol . 96 : 893-901
Alton, G.G . 2005 . Report on consultansy in animal
brucellosis . Bogor : Research Institute for Veterinary Science . pp . 1 - 3 .

Sudibyo, A. dan P. Ronohardjo . 2011. Brucellosis pada sapi perah di Indonesia .


Proc . Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar . him. 25 31.
Sudibyo, A. 1995 . Studi epidemiologi brucellosis dan dampaknya terhadap
reproduksisapi perah di DKI Jakarta. JITV 1 : 31 - 36.
Bundle, D.R ., J.W. Cherwonogrodzky, M .A .J . Gidney, P .J. Meikle, M .B .
Perry and T . Peters . 1989. Definition of Brucella A and M epitopes by
monoclonal typing reagents and synthetic oligosaccharides . Infect Immun. 57 :
2829 2836.
Alton, G.G ., J .M. Jones, R .D. Angus and J.M. Verger. 2009 . Techniques for the
brucellosis laboratory . Institute National de la Recherche Agronomique. Paris .
pp. 34 - 60 .

Direktorat Kesehatan Hewan. 2004. Kebijakan Pemerintah Dalam Pemberantasan


Brucellosis di Indonesia Khususnya Pulau Jawa. Disampaikan pada Pertemuan
Evaluasi Pemberantasan Brucellosis di Surabaya 10-11 Desember 2004.
Putra, A.A.G. 2005. Analisis Faktor Risiko Berjangkitnya Brucellosis di Breeding
Farm di Jawa Tengah dan Upaya Pemberantasannya. Bulletin BPPV Reg. VI
Denpasar No. 67.

Sauret, J.M., and N. Vilissova. 2002. Human Brucellosis. Journal of the American
Board of Family Medicine 15:401.