Anda di halaman 1dari 105

Termodinamika (KF)

TERMODINAMIKA
Termodinamika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari transformasi dari pelbagai bentuk
energi, pembatasan-pembatasan dalam transformasi ini serta penggunaannya. Termodinamika
didasarkan atas dua postulat pokok yang dikenal sebagai hukum pertama dan hukum kedua.
Hukum pertama menyangkut masalah pertukaran energi, sedangkan hukum kedua membahas
arah dari pertukaran tersebut.
Bab ini berisi tentang konsep-konsep dasar termodinamika, kalor dan kerja, perumusan hukum
pertama termodinamika, fungsi entalpi, kapasitas kalor dan aplikasi hukum pertama
termodinamika (termokimia), serta kesetimbangan kimia.
A. KONSEP-KONSEP DASAR TERMODINAMIKA
1. Sistem dan Lingkungan
Sistem adalah sejumlah zat atau campuran zat-zat yang dipelajari sifat-sifat dan perilakunya.
Segala sesuatu di luar sistem disebut lingkungan. Suatu sistem terpisah dari lingkungannya
dengan batas-batas tertentu yang dapat nyata atau tidak nyata. Sebagai contoh, bila dalam botol
yang tertutup terdapat air yang terisi setengah, maka yang menjadi sistem adalah air. Sedangkan
dinding dan tutup botol merupakan batas-batas sistem dan segala yang berada disekeliling botol
adalah lingkungan.
Antara sistem dan lingkungan dapat terjadi pertukaran energi dan materi. Berdasarkan pertukaran
ini dapat dibedakan tiga jenis sistem, yaitu sistem tersekat, sistem tertutup, dan sistem terbuka.
Sistem tersekat merupakan sistem yang tidak dapat melakukan pertukaran materi maupun energi
dengan lingkungannya. Sistem tersekat memiliki jenis energi yang tetap. Contoh untuk sistem
tersekat adalah botol termos ideal.
Sistem tertutup adalah sistem yang hanya dapat melakukan pertukaran energi dengan
lingkungannya. Contoh untuk sistem tertutup ini adalah sejumlah gas dalam silinder tertutup.
Sistem terbuka adalah sistem yang dapat mempertukarkan materi dan energi dengan
lingkungannya. Akibatnya komposisi dari sistem terbuka tidak tetap (berubah). Contoh untuk
sistem terbuka ini adalah sejumlah zat-zat dalam wadah terbuka.
2. Keadaan sistem dan Fungsi keadaan
Keadaan sistem ditentukan oleh sejumlah parameter atau variabel, misalnya suhu, tekanan,
volume, massa dan konsentrasi. Variabel sistem dapat bersifat intensif, artinya tidak bergantung
pada ukuran sistem (tekanan, suhu, massa jenis, dan sebagai-nya), atau bersifat ekstensif yang
berarti bergantung pada ukuran sistem (massa, volume, energi, entropi, dan sebagainya).
Setiap besaran atau variabel yang hanya bergantung pada keadaan sistem dan tidak bergantung
pada bagaimana keadaan sistem itu tercapai, disebut fungsi keadaan. Fungsi keadaan, misalnya
suhu, tekanan, volume, energi dalam, entropi, dan lain-lain.
3. Kalor dan Kerja
Kalor dan kerja adalah dua konsep penting dalam termodinamika. Oleh karena itu pengertian
tentang kedua konsep ini harus dipahami dengan baik. Kalor, q, didefinisikan sebagai energi
yang dipindahkan melalui batas-batas sistem sebagai akibat langsung dan perbedaan temperatur
antara sistem dan lingkungannya. Menurut perjanjian, q dihitung positip bila kalor masuk sistem
dan negatip bila kalor ke luar dan sistem.
Kerja, w, adalah energi yang bukan kalor, yang dipertukarkan antara sistem dan lingkungannya

dalam suatu perubahan keadaan. Menurut perjanjian, w dihitung positip, bila lingkungan
melakukan kerja terhadap sistem (misalnya pada proses pemampatan gas), dan negatip bila
sistem melakukan kerja terhadap lingkungan (misalnya bila gas memuai terhadap tekanan
atmosfir).
Kerja memiliki berbagai bentuk (misalnya, kerja ekspansi, kerja listrik, kerja mekanik, kerja
permukaan, dan sebagainya). Salah satu bentuk kerja yang penting adalah kerja yang
berhubungan dengan perubahan volume sistem yang disebut kerja ekspansi. Kerja ini dapat
ditentukan sebagai berikut. Perhatikan sejumlah gas yang berada dalam sebuah silinder yang
dilengkapi dengan pengisap (lihat gambar.1).

Gambar 1. Proses ekspansi gas dalam sebuah silinder


Bila Penghisap bergerak sepanjang jarak dx terhadap tekanan luar p, maka kerja yang dilakukan
oleh gas adalah,
kerja = gaya x jarak
w = - p A dx... ..(1)
dimana A dx merupakan perubahan volume dV, sehingga
w = - p dV.....(2)
Tanda minus dalam persamaan (1) adalah sesuai dengan perjanjian bahwa kerja yang dilakukan
oleh gas dihitung negatip. Kerja yang dilakukan oleh gas bila volume berubah dan V1 ke V2
dapat mengintegrasikan persamaan (2), sehingga diperoleh persamaan berikut ini
w = - P V.. (3)
Untuk perubahan yang berlangsung secara reversibel, akan berlaku:
wrev = Dengan p adalah tekanan gas. Harga integral ini dapat dihitung bila persamaan keadaan dari gas
yang bersangkutan diketahui. Misalnya untuk gas ideal pada temperatur tetap,
wrev = = -nRT
wrev = - nRT ln (V2/V1)
B. PERUMUSAN HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA
Keseluruhan energi potensial dan energi kinetik zat-zat yang terdapat dalam suatu sistem, disebut
energi dalam, U. Energi dalam merupakan fungsi keadaan karena besarnya hanya bergantung
pada keadaan sistem. Bila dalam suatu perubahan sistem menyerap sejumlah (kecil) kalor, q,
dan melakukan kerja (kecil), w, maka sistem akan mengalami perubahan energi dalam, dU,
sebesar
dU = q + w...(7)

untuk perubahan yang besar pada suatu sistem dari keadaan 1 (energi dalam U1) ke keadaan 2
(energi dalam U2), maka akan terjadi perubahan energi dalam (U), sebesar
U = U2 - U1...(8)
sehingga diperoleh
U2 - U1 = q + w....(9)
U = q + w..(10)
Persamaan (10) merupakan bentuk matematik dari hukum pertama termodinamika. Menurut
ungkapan ini, energi suatu sistem dapat berubah melalui kalor dan kerja. Bila kerja yang
dilakukan oleh sistem hanya terbatas pada kerja ekspansi (misalnya pada kebanyakan reaksi
kimia), maka persamaan (10) dapat diubah menjadi
dU = q p dV... ..(11)
pada volume tetap, dV = 0, maka
dU = q..... (12)
atau untuk perubahan besar,
U = q...... (13)
Menurut persamaan (13) perubahan energi dalam adalah kalor yang diserap oleh sistem bila
proses berlangsung pada volume tetap.
1. Fungsi Entalpi dan Perubahan Entalpi
Kebanyakan reaksi-reaksi kimia dilakukan pada tekanan tetap yang sama dengan tekanan
atmosfir. Dalam hal ini, bila pada persamaan (11)
dU = q p dV diintegrasikan (dimana p ialah tekanan sistem) akan diperoleh
U2 U1 = q - p(V2 - V1)..(14)
dan karena p1 = p2 = p,
(U2 + p2V2) - (U1 + p1V1) = q (15)
oleh karena U, p dan V adalah fungsi keadaan, maka (U + pV) juga merupakan fungsi keadaan.
Fungsi ini disebut entalpi, H,
H=U+pV . Jadi, menurut persamaan (15),
H2 - H1 = q
H = q...(16)
Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa, kalor yang dipertukarkan antara sistem dan
lingkungan pada tekanan tetap besarnya sama dengan perubahan entalpi sistem.Mengingat
entalpi, H merupakan fungsi keadaan, maka perubahan entalpi, H, hanya bergantung pada
keadaan awal dan keadaan akhir sistem. Pada reaksi-reaksi kimia, H adalah kalor reaksi pada
tekanan tetap.
.
2. Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor suatu sistem didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan temperatur sistem sebanyak satu derajat. Secara matematik diungkapkan,
q
C = .(17)
dT

Karena q hanya bergantung pada jalannya perubahan, maka sistem mempunyai banyak hargaharga untuk kapasitas kalor. Dua diantaranya yang paling penting, yaitu kapasitas kalor pada
volume tetap (Cv) dan pada tekanan tetap (Cp).
Apabila kerja yang dapat dilakukan oleh sistem terbatas pada kerja ekspansi, maka
q = dU + pdV, sehingga persamaan (17) dapat diubah menjadi,
q = dU + p dV .(18)
dT
Pada volume tetap, C = Cv dan dV = 0, maka,
U
Cv = v (19)
T
Kapasitas kalor pada tekanan tetap dapat diturunkan sebagai berikut,
qp
Cp = = dU + p dV
dT dT
Pada p tetap,
dH = dU + pdV
dan H/T p = U/T p + p V/T p , sehingga
q H
Cv = p = p ...(20)
T T
Jadi, kapasitas kalor pada tekanan tetap adalah sama dengan penambahan entalpi sistem
perderajat kenaikan temperatur pada tekanan tetap. Baik kapasitas kalor pada volume tetap
maupun kapasitas kalor pada tekanan tetap biasanya dinyatakan per mol zat.
Pada umumnya kapasitas kalor merupakan fungsi dan temperatur, fungsi ini biasanya dinyatakan
secara empiris sebagai
Cp = a + bT + cT2 ...(21)
dengan a, b, c adalah tetapan.
C. APLIKASI HUKUM PERTAMA PADA REAKSI KIMIA (TERMOKIMIA)
Termokimia mempelajari efek panas yang terjadi baik dalam perubahan secara kimia (reaksi
kimia) maupun secera fisika (proses penguapan, peleburan, dsb.). Efek panas dapat bersifat
eksoterm, yaitu bila terjadi pelepasan kalor, dan endoterm, yaituu bila proses disertai dengan
penyerapan kalor. Jum!ah kalor yang bersangkutan dalam suatu reaksi bergantung pada jenis dan
jumlah zat-zat yang breaksi, pada keadaan fisik zat-zat pereaksi dan hasil reaksi, pada
temperatur dan pada tekanan (terutama pada reaksi gas). Oleh karena itu kalor reaksi dan suatu
reaksi hendaknya dinyatakan bersama-sama dengan persamaan reaksinya, dimana kondisikondisi reaksi tertera dengan jelas.
1. Kalor reaksi pada Volume Tetap dan pada Tekanan Tetap
Dalam termokimia ada dua kondisi khusus yang penting, yaitu volume tetap dan tekanan tetap,
oleh karena pada kedua kondisi ini kalor reaksi dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi
termodinamika tertentu. Bila reaksi dikerjakan pada volume tetap (misalnya dalam kalorimeter
bom), maka kalor reaksinya sama dengan perubahan energi dalam sistem, qp = U, sedangkan

pada tekanan tetap, kalor reaksi sama dengan perubahan entalpi, qv = H. Hubungan antara
kedua besaran ini dapat diturunkan sebagai berikut,
H= U+pV
dH =dU + d(pV) atau
H = U + (pV) .. (22)
Bila semua zat-zat pereaksi dan hasil reaksi sebagai cairan atau padatan, maka harga (pV)
sangat kecil (kecuali bila tekanan sangat tinggi) dibandingkan terhadap H atau U sehingga
dapat diabaikan, dalam hal ini H U. Dalam reaksi yang menyangkut gas, harga (pV)
bergantung pada perubahan jumlah mol gas yang terjadi dalam reaksi. Dengan pengandaian gas
bersifat ideal, (pV) = n(RT), sehingga persamaan (22) menjadi;
H = U + n(RT) (T tetap) ...(23)
dimana n = jumlah mol gas hash reaksi jumlah mol gas pereaksi. Persamaan ini berlaku
apabila sistem hanya dapat melakukan kerja volume.
2. Penentuan Kalor Reaksi Secara Eksperimen (Kalorimetri)
Hanya reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung dengan cepat dapat ditentukan kalor
reaksinya secara eksperimen, seperti reaksi pembakaran, reaksi penetralan dan reaksi pelarutan.
Penentuan ini biasanya menyangkut pengukuran perubahan suhu dari larutan atau dari air dalam
kalorimeter.

3. Perhitungan Kalor Reaksi


Reaksi kimia kebanyakan dikerjakan pada tekanan tetap, sehingga pada perhitungan ini hanya
diperhatikan entalpi reaksi, H.
Perhitungan kalor reaksi ini dapat dilaksanakan dengan cara;
1) Perhitungan dengan menggunakan Hukum Hess.
2) Perhitungan dan data Entalpi Pembentukan Standar.
3) Perkiraan Entalpi Reaksi dan data Energi Ikatan.
4. Kebergantungan Entalpi Reaksi pada temperatur.
Pada umumnya entapi reaksi merupakan fungsi dari temperatur dan tekanan. Karena pengaruh
tekanan cukup rumit, maka disini hanya akan diturunkan pengaruh temperatur pada H.
Perhatikan reaksi,
v1 A1 + v2 A2 v3 A3 + v4 A4
Perubahan entalpi reaksi diberikan oleh,
H = Hhasil reaksi Hpereaksi
H = vi Hi ...(24)
Perubahan H dengan temperatur diperoleh dengan cara mendeferensialkan persamaan (24)
terhadap temperatur pada tekanan tetap,
[(H)/T ]p = Cp.(25)
Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Kirchhoff. Persamaan (25) dapat diintegrasi apabila
Cp, sebagai fungsi temperatur diketahui. Kalau Cp, dapat dianggap tetap antara T1 dan T2,
misalnya kalau perbedaan antara kedua temperatur ini tidak besar, maka integrasi dan persamaan
(25) menghasilkan,
H2 - H1 = H (T2 T1) . (26)

Kalau Cp tidak dianggap tetap, maka


H2 - H1 = Cp dT (27)
untuk dapat memudahkan perhitungan H pada pelbagai temperatur, pada tekanan tetap,
sebaiknya terlebih dahulu ditentukan H = f(T). Hal ini dapat dilakukan dengan,
HT = Cp dT + I ..(28)
dengan I ialah tetapan integrasi.

RANGKUMAN
Termodinamika merupakan ilmu yang mengkaji hubungan energi dari segala bentuk, bersifat
mendasar untuk semua ilmu. Daerah termodinamika kimia ialah hubungan energi jenis-jenis
tertentu dengan sistem kimia. Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan hukum
pelestarian energi. Energi total suatu sistem adalah energi dalamnya, suatu fungsi keadaan. Suatu
perubahan energi dalam, U, dilaksanakan dengan transfer kalor ataupun perlakuan kerja.
Termokimia menangani pengukuran dan penafsiran perubahan kalor yang menyertai proses
kimia. Kebanyakan pengukuran semacam itu dilakukan dengan sebuah kalorimeter.
SOAL-SOAL LATIHAN
Petunjuk: pilih salah satu jawaban yang benar
1. Bagi suatu sistem pada volume tetap, U sama dengan
A. H
B. q
C. H + w
D. PV
E. q+w
2. Jika gas ideal dimuaikan ke dalam ruang hampa, maka besaran yang mempunyai nilai nol
ialah
A.w
B.q
C. U

D. H
E. S
3. Jika suatu proses berlangsung dalam sistem tersekat, maka yang tidak benar adalah
A. U =0
B. q = 0
C. w = 0
D. S = 0
E. H = 0
4. Diketahui:
HCl (aq) + NaOH (aq) NaCI (aq) + H20 (l), H = - 56 kJ
Jika 10 cm3 larutan HCl 0,25 M direaksikan dengan 20 cm3 larutan NaOH 0,15M, maka kalor
yang dihasilkan ialah
A. 56 J
B. 5,5x56J
C. 3x 56 J
D. 2,5 x 5,6 J
E. 0,5 x 56 J
5. Jika kalor penguapan air ialah, Hv= + 10,73 kkal/mol dan kalor pembekuan air ialah, Hf = 1,44 kkal/mol, maka kalor sublimasi es, Hs, dalam kkal/mol, adalah
A. 12,17
B. 9,30
C. + 1,44
D. + 9,30
E. +12,17
6. Sebanyak 2 x 1029 atom karbon bereaksi dengan hidrogen menghasilkan etuna
2 C (s) + H2 (g) C2H2 (g), H = + 54 kJ. Kalor yang diserap dalam reaksi ini ialah
A. 9 kJ
B. 10 kJ
C. 27 kJ
D. 36 kJ
E. 54 kJ
7. Pembakaran satu mol dengan oksigen dalam kalorimeter bom (volume tetap),
memberikan kalor sebanyak 393 kJ. Bagi reaksi ini
A. H = - 393 kJ
B. U = - 393 kJ
C. q = +393kJ
D. H = + 393 kJ
E. U = + 393 kJ
8. Dalam suatu proses sistem menyerap kalor 5100 J dan melakukan kerja 2800 J. Maka energi
dalam sistem ialah
A. 5100J
B. 2300 J

C. 7900 J
D.7900J
E.2300J
9. Untuk menaikkan suhu satu mol gas ideal (C = 3 kal/K.mol) dan 25 C hingga
125 C pada volume tetap, diperlukan kalor sebanyak
A. 100 kal
B. 200 kal
C. 300 kal
D. 450 kal
E. 600 kal
10. Suatu proses akan disertai dengan U = 0, jika
A. Proses tersebut berlangsung isoterm
B. Pada proses tersebut kalor yang dilepaskan sama dengan kerja yang dilakukan oleh
sistem.
C. Proses tersebut berlangsung dalam sistem tersekat
D. Proses tersebut berlangsung adiabatik
E. Pada proses tersebut entalpi sistem tidak berubah
Kunci Jawaban
1.B 2.A 3.E 4.D 5.E 6.A 7.B 8.B 9.C 10.C
HUKUM KEDUA DAN KETIGA TERMODINAMIKA
Pada umumnya perubahan yang teqadi di alam disertai dengan perubahan energi. Dalam proses
perubahan energi ini ada dua aspek penting, yaitu arah pemindahan energi dan pengubahan
energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Walaupun hukum pertama termodinamika menetapkan hubungan antara kalor yang diserap
dengan kerja yang dilakukan oleh sistem, tetapi hukum ini tidak menunjukkan batas-batas
mengenai sumber maupun arah aliran energi.
Hukum kedua termodinamika dirumuskan untuk menyatakan pembatasan-pembatasan yang
berhubungan dengan pengubahan kalor menjadi kerja, dan juga untuk menunjukkan arah
perubahan proses di alam. Dalam bentuknya yang paling umum, hukum kedua termodinamika
dirumuskan dengan mempergunakan suatu fungsi keadaan yang disebut entropi.
A. PROSES LINGKAR CARNOT
Proses lingkar ialah deretan perubahan yang dqalankan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya
sistem kembali lagi ke keadaan semula. Dari pengalaman diketahui bahwa mesin kalor yang
bekerja secara berkala menurut suatu proses lingkar hanya dapat mengubah sebagian dari kalor
yang diserap menjadi kerja, pengubahan ini hanya mungkin dengan adanya suatu perbedaan
temperatur.
Sadi Cannot (1824) berhasil menghitung kerja maksimum yang dapat diperoleh dan suatu mesin
yang bekerja secara reversibel. Pada mesin Carnot, sejumlah gas ideal menjalani suatu proses
lingkar yang terdiri atas empat langkah perubahan reversibel, yaitu ekspansi isotermal, ekspansi
adiabatik, pemampatan isotermal dan pemampatan adiabatik.

Gambar 2. Diagram proses lingkar Carnot


Kerja maksimum diungkapkan secara matematik adalah sebagai berikut ;
T1 T2
w = - q1 .....(29)
T1
dapat dilihat bahwa kerja yang dihasilkan dalam proses selalu lebih kecil dan kalor yang diserap.
B. FUNGSI ENTROPI DAN PERUBAHAN ENTROPI
Entropi adalah suatu fungsi keadaan yang secara matematis didefinisikan sebagai,
dS = qrev / T .. (30)
dalam ungkapan ini qrev ialah kalor yang dipertukarkan antara sistem dan lingkungan secara
reversibel. Karena dS merupakan diferensial total, maka perubahan entropi yang terjadi dalam
setiap proses atau reaksi diberikan oleh,
dS = S2 - S1 ..(31)
dengan S1 dan S2 berturut-turut ialah entropi sistem dalam keadaan awal dan akhir.
C. PERHITUNGAN PERUBAHAN ENTROPI
a. Pada proses fisis
1) Proses yang tidak disertai dengan pengubahan fasa.
2) Proses pengubahan fasa secara revorsibel
3) Proses pengubahan fasa secara tak-reversibel
b. Perubahan entropi pada reaksi kimia
D. PERUMUSAN HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA
Menurut hukum ini : Semua proses atau reaksi yang terjadi di alam semesta, selalu disertai
dengan peningkatan entropi. Jika Sas ialah perubahan entropi yang terjadi di alam semesta,
maka bagi setiap proses spontan berlaku, Sas > 0.
Dengan memandang alam semesta itu sebagai sistem dan lingkungan, maka dapat pula dikatakan
bahwa untuk semua proses spontan berlaku,
Ssistem + Slingkungan > 0 ...(32)
dengan Ssistem ialah perubahan entropi sistem dan Slingkungan ialah perubahan entropi
lingkungan.
1. Perubahan Entropi Sebagai Persyaratan Kesetimbangan
Telah diuraikan bahwa setiap proses yang berlangsung secara spontan dalam sistem tersekat
selalu disertai dengan peningkatan entropi. Bila entropi sistem mencapai harga yang maksimum,
maka entropi tidak akan dapat berubah lagi dan bila S = 0, keadaan ini akan tercapai apabila
proses berjalan reversibel atau apabila sistem mencapai kesetimbangan. Jadi bagi setiap
perubahan dalam sistem tersekat berlaku:
S 0 .(33)
dengan tanda > untuk proses spontan dan tanda = untuk reversibel dan sistem dalam
kesetimbangan.

2. Kebergantungan Entropi pada Temperatur


Entropi reaksi (S) bergantung pada suhu. Kebergantungan ini dapat diturunkan sebagai berikut:
A + B C + D
S = SC + SD - SA- SB
diferensiasi terhadap suhu pada tekanan tetap memberikan,
dS = qrev / T = dH / T = Cp dT / T
maka [S/T]p = Cp dT /T (34)
ungkapan di atas dapat diubah menjadi,
[ (S) /T]p = Cp /T......(35)
jika pada kurun suhu tertentu Cp , tidak banyak bergantung pada temperatur, sehingga dapat
dianggap tetap, maka persamaan (35) dapat diintegrasi menjadi,
S2 - S1 = Cp ln (T2/T1) . (36)
dengan S1 dan S2 berturut-turut ialah perubahan entropi pada suhu T1 dan T2.
E. HUKUM KETIGA TERMODINAMIKA
1. Entropi zat mumi pada titik not absolut
Perhatikan persamaan Planck-Boltzmann,
S = k lnW .. (37)
Entropi dapat dihubungkan dengan kekacauan atau ketidakteraturan sistem. Keadaan sistem
yang kacau ialah keadaan di mana partikel-partikel (molekul, atom atau ion)
tersusun secara tidak teratur. Makin kacau susunan keadaan sistem, makin besar kebolehjadian
keadaan sistem dan makin besar entropi. Oleh karena itu zat padat kristal pada umumnya
mempunyai entropi yang relatif rendah dibandingkan dengan cairan atau gas. Gas mempunyai
entropi yang paling tinggi karena keadaan sistem paling tidak teratur.
Diuraikan di atas bahwa makin kacau atau tidak teratur susunan molekul, makin tinggi harga W
dan entropi. Sebaliknya makin teratur susunan molekul sistem, makin rendah harga W dan
entropi. Kalau suatu zat murni didinginkan hingga dekat 0 K, semua gerakan translasi dan rotasi
terhenti dan molekul-molekul mengambil kedudukan tertentu dalam kisi kristal. Molekul hanya
memiliki energi vibrasi yang sama besar sehingga berada dalam keadaan kuantum tunggal.
Ditinjau dan kedudukan dan distribusi energi, penyusunan molekul-molekul dalam suatu kristal
yang sempurna pad 0 K hanya dapat dilaksanakan dengan satu cara. Dalam hal ini W = 1 dan ln
W = 0, sehingga menurut persamaan boltzmann S = 0. Jadi, entropi suatu kristal murni yang
sempurna ialah nol pada 0 K. Pernyataan ini terkenal sebagai Hukum Ketiga Temomedinamika.
Ungkapan matematik nya adalah
0
ST=0 == 0 .(38)
2. Perhitungan Entropi Mutlak
Entropi zat murni, pada temperatur T, dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dengan
menggunakan hukum ketiga termodinamika dan data termokimia dan dengan metoda mekanika
statistik dari data spektroskopi. Di sini hanya dibicarakan cara yang pertama.
Daripersamaan (34),
[S/T]p = Cp dT /T (p tetap) jika diintegrasi persamaan ini menghasilkan,
0T

ST = Cp d lnT .(39)
0
Secara eksperimen, kapasitas kalor Cp hanya dapat ditentukan hingga 15 K. Untuk memudahkan
ektrapolasi hingga 0 C biasanya dipergunakan hukum pangkat tiga Debye,
Cp = T3 ..(40)
Substitusi dari persamaan mi ke dalam persamaan (39) menghasilkan,
dS0 = T2 dT ( p tetap) .(41)
yang dapat diintegrasi dari temperatur 0 hingga T menjadi
dS = 1/3 T3 (42)
persamaan (42) mengungkapkan bahwa, pada temperatur rendah, entropi standar sama dengan
sepertiga harga Cp.
3. Fungsi Energi Bebas Helmholtz
Bagi suatu perubahan kecil yang berlangsung tak reversibel pada temperatur T berlaku:
dS > q/T atau q - TdS <0 .(43) kalau
sistem hanya dapat melakukan kerja volume, maka persamaan (43) dapat diubah menjadi dU +
pdV -TdS < 0 .(44) pada
volume tetap, dV = 0, sehingga dU - TdS < 0 atau d(U TS)T,p < 0
(45) fungsi U - TS, yang merupakan fungsi
keadaan, disebut energi bebas Helmholtz,A, A=U-TS
..(46) Bila persamaan
(46) dideferensiasi, diperoleh dA = dU - TdS - SdT bagi proses yang berjalan reversibel dan
isoterm, dA = W .
(47) jadi penurunan energi bebas helmholtz, - A, ialah kerja maksimum yang dapat dihasilkan
dan suatu proses yang dikerjakan secara isoterm. 4. Fungsi Energi Bebas Gibbs Kebanyakan
proses biasanya dikerjakan pada temperatur dan tekanan tetap. Pada kondisi ini, persamaan (44)
dapat ditulis dalam bentuk, d(U pV TS)T,p < 0
(48) besaran U + PV TS, yang
merupakan fungsi keadaan, disebut energi bebas Gibbs, G. G =U+PVTS =H -TS =A + PV
..(49) Jadi, suatu proses yang berlangsung pada
temperatur dan tekanan tetap disertai dengan penurunan energi bebar Gibbs, (dG)T,p < 0 (hanya
kerja volume) ...(50) Suatu persamaan penting
yang mengkaitkan H, S dan G dapat diturunkan sebagai berikut, G = H - T S
(51) RANGKUMAN Apakah
suatu reaksi kimia tertentu dapat terjadi secara sertamerta (spontan) atau tidak, tidak hanya
bergantung pada perubahan entalpi, H, tetapi juga pada temperatur dan perubahan entropi, S,
yang mengukur perubahan dalam derajat ketidakteraturan suatu sistem. Kecendrungan entropi
yang selalu mencapai harga maksimum yang dimungkinkan oleh energi dalam sistem. Hal ini
diungkapkan dalam hukum kedua termodinamika dan adanya harga positif dari entropi mutlak
dan semua zat nyata adalah suatu akibat dari hukum ketiga termodinamika. Dalam suatu proses
yang berlangsung pada temperatur dan tekanan konstan, komponen perubahan entalpi total yang
dihubungkan dengan perubahan dalam entropi sistem dianggap sebagai energi yang tak dapat
melakukan kerja yang berguna. Komponen sisanya, yang dianggap sebagal energi yang dapat
melakukan kerja yang berguna, adalah perubahan energi bebas Gibbs, G, dari sistem.
Perubahan ini dapat dihitung dan harga-harga energi bebas pembentukan standar dan pereaksi
dan produk. SOAL-SOAL LATIHAN Petunjuk : Pilih salah satu jawaban yang benar 1. Reaksi,

A (g) + B (g) 2 C (g), yang berlangsung pada T dan p tetap, merupakan reaksi endoterm.
Maka dapat dikatakan bahwa A. H>O, S > 0
B. H<o,s>0
C. H=0,S >0
D. H <0, S < 0 E. H>0,S = 0
2. Dan data : - entalpi sublimasi grafit = 725 kJ/mol
- energi disosiasi ikatan H-H = 436 kJ/mol
- entalpi pembentukan metana = - 76 kJ/mol
dapat dihitung energi ikatan rata-rata C-H sebesar
A. + 418 kJ/mol
B. 255 kJ/mol
C. + 255 kJ/mol
D. + 76 kJ/mol
E. 418 kJ!mol
3. Untuk proses spontan selalu berlaku
A. GO
C. HO
E. AH O
4. Jika suatu proses, pada I atm dan 500 K, disertai dengan penurunan entalpi sebesar 42 kJ dan
penurunan entropi sebesar 84 J/K, maka proses tersebut adalah
A. spontan
B. tidak spontan
C. adiabatis
D. reversibel
E. tidak reversibel
5. Pada reaksi, Na (g) + Cl (g) NaCl (s),
A. entropi berkurang, entalpi berkurang
B. entropi berkurang, entalpi meningkat
C. entropi berkurang, entalpi tetap
D. entropi meningkat, entalpi meningkat
E. entropi meningkat, entalpi berkurang
6. Jika entalpi penguapan dan entropi penguapan HCl berturut-turut ialah 16,15 kJ/mol dan 85,8
JK-1, pada 1 atm, maka titik didih normal HCl adalah
A. 188C
B. 5,3C
C. -34C
D. -85C
E. 110C
7. Jika bagi reaksi, A + 2 B , 3 C, S > 0, maka hal ini berarti
A. reaksi tersebut spontan C. produk C harus merupakan gas
B. reaksi tersebut endoterm D. G < 0 E. bukan salah satu jawaban di atas 8. Pada reaksi
manakah S < 0? A. 2 H20 (g) 2 H2 (g) + 02 (g) B. Na (s) + Cl2 (g) NaCl (s) C. H2O
(s) H20 (l) D. 2 NH3 (g) N2 (g) + CO2 (g) E. CaCO3 (s) CaO (s) + CO2 (g) 9. Suatu
proses yang dikerjakan pada suhu tetap 27 C disertai peningkatan entalpi sebesar 900 J.
Pernyataan bahwa S = 3 J/K hanya benarjika proses tersebut berlangsung A. tanpa ada kerja
yang dilakukan B. reversibel C. dalam sistem tersekat D. isobar E. reversibel dan isobar 10.

Suatu proses tidak akan terjadi jika A. G>O


B. SO
D. G=O
E. bukan salah satu jawaban di atas
Kunci Jawaban
l.A 2.A 3.B 4.D 5.A 6.D 7.E 8.B 9.E lO.E
KESETIMBANGAN KIMIA
Studi dari peristiwa kimia menyangkut tiga aspek penting, yaitu mengapa suatu reaksi dapat
berjalan pada kondisi tertentu, bagaimana dan dengan kecepatan apa reaksi berjalan dan
bilamana reaksi itu selesai. Suatu reaksi akan mencapai kesetimbangan apabila memiliki
kecepatan reaksi yang sama besar dalam kedua arah. Dalam hal ini rekasi masih berjalan terus,
sehingga konsentrasi hasil reaksi dan pereaksi tidak berubah dengan waktu.
Kesetimbangan kimia merupakan suatu kesetimbangan dinamik. Suatu aspek penting dalam
kesetimbangan kimia ialah kedudukan kesetimbangan. Kedudukan kesetimbangan menentukan
jumlah hasil reaksi yang dapat diperoleh dari suatu reaksi dan dinyatakan secara kuantitatif
dengan tetapan kesetimbangan.
1. Reaksi Kimia sebagai Sistem dengan Komposisi yang Berubah-ubah
a. Koordinat reaksi
Dalam sistem dimana terjadi reaksi kimia, komposisi selalu berubah-ubah oleh karena ada zat
yang berkurang (pereaksi). Pada setiap saat, jumlah mol dan tiap zat dalam campuran reaksi
bergantung pada jumlah reaksi yang terjadi
Perhatikan reaksi umum, va A + vb B vc C + vd D
dengan A dan B ialah zat-zat pereaksi, C dan D ialah zat-zat hasil reaksi, dan va, vb , vc dan vd
adalah koefisien stoikiometri. Bila va mol A bereaksi dengan vb mol B, maka akan terbentuk vc
mol C dan vd mol D.
b. Syarat bagi Kesetimbangan Kimia
Sistem berada dalam kesetimbangan, bila G = vi i = 0 . (52)
contoh reaksi,
N2 (g) + 3H2 (g) 2NH3 (g)
mencapai kesetimbangan pada T dan P tetap, kalau
G = 2 - 2 + 3 = 0
NH3 N2 H2
= potensial kimia
c. Isotermal Reaksi
Dalam raksi kimia yang dikerjakan pada p dan T tetap, energi bebas Gibbs ditentukan oleh
konsentrasi atau keaktifan zat-zat dalam campuran reaksi. Kaitan antara G reaksj dengan
keaktifan dapat diturunkan sebagai berikut.
Perhatikan kembali reaksi umum,
va A + vb B vc C + vd D
G = vc C + vd D - va A + vb B
karena i = io + RT ln vi, maka pada tekanan dan temperatur tetap,

vc vd va vb
G = G + RT ln {(aC aD )/( aA . aB)}. (53)
Persamaan ini terkenal sebagai reaksi isotermal vant Hoff yang menyatakan perubahan energi
bebas Gibbs, pada setiap saat, sebagai fungsi dan keaktifan zat-zat dalam reaksi, bila reaksi
berjalan pada T dan P tetap. G ialah perubahan energi babas Gibbs standar, yaitu harga G
pada ai, = 1.
Untuk reaksi antara gas-gas ideal, ai, = pi, sehingga persamaan (53) mengambil bentuk:
vc vd va vb
G = G + RT In {(pc pd ) / (pa pb)}... (54)
Dalam persamaan ini G ialah perubahan energi bebas Gibbs pada tekanan parsial dan semua
gas sama dengan 1 atm.
2. Tetapan Kesetimbangan
a. Pelbagai Bentuk Tetapan Kesetimbangan
Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa reaksi akan mencapai kesetimbangan, jika
G = vi i = 0
pada kondisi ini,
vc vd va vb
G = G + RT ln {(aC aD )/( aA . aB)} kesetimbangan = 0 atau
vc vd va vb
G = - RT ln {( aC aD )/( aA . aB)}kesetimbangan (55)
G hanya fungsi temperatur, jadi pada temperatur tetap harganya tetap. ini berarti bahwa pada
temperatur tetap, besaran dibelakang tanda ln dalam persamaan (55) juga tetap. Besaran ini
disebut tetapan kesetimbangan termodinamika, K.
vc vd va vb
K = {( aC aD )/( aA . aB)} (56)
Substitusi dari persamaan (56) ke dalam persamaan (55) memberikan suatu persamaan yang
mengkaitkan tetapan kesetimbangan dengan perubahan energi bebas Gibbs standar
G = - RT ln K .(57)
Persamaan ini dapat digunakan untuk menghitung tetapan kesetimbangan kalau G diketahui.
Untuk reaksi antara gas-gas ideal, persamaan (57) mengambil bentuk;
G = - RT ln Kp .(58)
dengan Kp ialah tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam tekanan parsial. Jika untuk gas
ideal,
pi =( ni / v ) RT, maka :
vi
Kp = Kc (RT) ...(59)
Dengan Kp ialah tetapan kesetimbangan, dinyatakan dalam konsentrasi molar. Tekanan parsial
suatu komponen dalam campuran gas ideal dapat dihubungkan dengan fraksi molnya melalui
hukum Dalton,
pi = xi p
Dengan p ialah tekanan total campuran gas. Jika persamaan ini disubstitusikan ke dalam
persamaan (56) diperoleh:
vi
Kp = Kx p ......(60)

Dengan Kx ialah tetapan kesetimbangan, dinyatakan dalam fraksi mol. K menjadi sama dengan
Kp kalau vi = 0.
3. Sifat-sifat Tetapan Kesetimbangan
Pada perhitungan kesetimbangan ada beberapa hal tentang tetapan kesetimbangan yang perlu
diperhatikan.
a. Dari pelbagai bentuk tetapan kesetimbangan yang dibahas di atas, hanya tetapan
kesetimbangan termodinamika, K, yang benar-benar merupakan
tetapan. K hanya bergantung pada temperetur dan tidak bergantung pada tekanan atau
konsentrasi. Kp atau Kc hanya merupakan tetapan pada sistem ideal.
b. Prinsip tetapan kesetimbangan hanya berlaku pada sistem dalam kesetimbangan.
c. Tetapan kesetimbangan bergantung pada temperatur. Kalau temperatur berubah, K akan
berubah pula.
d. Besarnya tetapan kesetimbangan menentukan sampai seberapa jauh reaksi telah berlangsung.
Harga K yang besar menunjukkan konsentrasi hasil reaksi yang lebih besar dari pada konsentrasi
pereaksi dalam sistem. Jadi K yang besar menguntungkan pembentukan hasil reaksi.
e. Besarnya tetapan kesetimbangan bergantung pada cara menuliskan reaksinya.
f. Tetapan kesetimbangan menyatakan secara kuantitatif pengaruh konsentrasi pereaksi dan hasil
reaksi terhadap tingkat selesai reaksi.
4. Pengaruh Temperatur terhadap Tetapan Kesetimbangan
Persamaan (57) dapat disusun ulang menjadi,
ln K = -G / RT
kalau persamaan inididiferensiasikan terhadap T pada tekanan tetap diperoleh,
d ln K = - 1 d( G) sehingga,
dT R RT
d ln K = H (p tetap) ..(61)
dT RT 2
untuk reaksi gas dan dengan pengandaian bahwa gas bersifat ideal, K = Kp, dan persamaan (61)
menjadi,
d ln Kp = H (p tetap) .....(62)
dT RT 2
Persamaan (61) dan (62) terkenal sebagai isobar reaksi vant Hoff. Kedua persamaan ini
digunakan untuk menghitung kesetimbangan sebagai fungsi dari temperatur. Pada selang
temperatur yang cukup kecil, H dapat dianggap tetap dan integrasi dari persamaan (62)
memberikan,
ln Kp = H + I (p tetap) .....(63)
RT
dengan I ialah tetapan integrasi yang dapat dievaluasi kalau harga Kp pada suatu temperatur
diketahui.
Persamaan (61) dapat pula diintegrasikan antara dua temperatur T1 dan T2. Hasilnya, dengan
pengandaian bahwa AH antara kedua temperatur mi bukan fungsi dan temperatur, ialah
ln K2 = H (T2 T1)... .....(64)
K1 R T1 T2

dengan K1 dan K2 masing-masing ialah harga Kp pada T1 dan T2. Persamaan ini digunakan
untuk menghitung H rata-rata antara T1 dan T2 atau untuk menghitung Kp pada T2 kalau
harganya pada T1 dan H diketahui.
5. Kesetimbangan pada Sistem Serbasama
a. Kesetimbangan dalam Fasa Gas
Sebagai contoh reaksi dalam fasa gas, perhatikan reaksi pembentukan amoniak dari nitrogen dan
hidrogen,
N2 (g) + 3/2H2 (g) NH3 (g)
tetapan kesetimbangan reaksi ini diberikan oleh,
a
K = NH3 ..(65)
a1/2 a3/2
N2 H2
Atau, karena untuk gas, keaktifan, ai, sama dengan fugasitas, fi
f
K = NH3 ..(66)
f1/2 f3/2
N2 H2
b. Kesetimbangan dalam Fasa Cair
Pembahasan ini terbatas pada reaksi antara zat-zat bukan elektrolit yang terlarut dalam pelarut
tertentu. Perhatikan reaksi umum,
va A + vb B vc C + vd D
vc vd va vb
K = {( aC aD )/( aA . aB)}
Evaluasi dari keaktifan dalam persamaan ini memerlukan pengetahuan tentang keadaan standar
yang digunakan. Oleh karena keaktifan merupakan ukuran dan selisih antara potensial kimia
dalam keadaan tertentu dan dalam keadaan standar.
Jika konsentrasi dinyatakan dalam mol per liter, ai = i Ci, dan persamaan (65) dapat diubah
menjadi,
K =K.Kc ....(67)
dengan Kc ialah tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam konsentrasi molar,
vc vd va vb
K = {( CC CD )/( CA . CB)}(68)
6. Kesetimbangan dalam Sistem Serbaneka
Sistem serbaneka (heterogen) ialah menyangkut fasa padat dan fasa gas. Perhatikan reaksi
penguraian kalsium karbonat,
CaCO3 (s) CaO (s) + CO2 (g)
Perubahan energi bebas reaksi mi diberikan oleh isoterm reaksi vant Hoff;
G = G + RT ln (aCaO. aCO2)/( aCaCO3) ..(69)
Seperti pada cairan, sebagai keadaan standar padatan diambil padatan murni pada tekanan 1 atm
dan temperatur percobaan. Jadi untuk padatan murni pada 1 atm, a = 1. pada umumnya pengaruh
tekanan terhadap keaktifan padatan dapat diabaikan sehingga keaktifan padatan sama dengan
satu pada semua tekanan. Karena dalam reaksi di atas CaO dan CaCO3 berada sebagai padatan
murni, aCaO = 1 dan aCaCO3 = 1, sehingga persamaan (69) dapat diubah menjadi,

G = G + RT ln aCO2 ... ..(70)


kesetimbangan akan tercapai jika AG = 0, jadi
G + RT ln ( aCO2 )kstb = 0 atau
G + RT ln ( aCO2 )kstb = - RT ln K (71)
dengan tetapan kesetimbangan K, diberikan sebagai tetapan kesetimbangan yang dinyatakan
dalam tekanan parsial. Karena tekanan gas dalam sistem biasanya rendah, keaktifan dapat
disamakan dengan tekanan, sehingga persamaan (72) berubah menjadi,
K = (pCO2)kstb ..(72)

RANGKUMAN
Perubahan kimia reversibel membentuk produk-produk yang dapat bertindak untuk
menghasilkan (kembali) produk aslinya. Suatu keadaan kesetimbangan kimia terjadi dalam suatu
sistem reversibel bila reaksi maju dan balik memiliki laju yang sama.
Kesetimbangan yang melibatkan hanya satu fasa homogen disebut kesetimbangan homogen.
Sedangkan kesetimbangan yang melibatkan dua atau lebih fasa yang berbeda adalah
kesetimbangan heterogen.
LATIHAN SOAL
Petunjuk: Pilih salah satu jawaban yang benar
1. Perhatikan lima buah reaksi, dalam keadaan standar, masing-masing dengan perubahan entalpi
yang tertera di bawah. Dalam hal manakah temperatur mempunyai pengaruh yang paling besar
terhadap tetapan kesetimbangan?
A. 20 kkal/mol
B. 10 kkal/mol
C. 0 kkal/mol
D. 10 kkal/mol
E. 15 kkal/mol
2. Kedudukan kesetimbangan dan suatu reaksi, pada temperatur tertentu, dapat
ditentukan dari harga
A. E D. S dan H
B. H E. Sdan E
C. S
3. Tetapan kesetimbangan untuk reaksi, A + B C + D Kc = 100. Jumlah mol B yang
harus dicampurkan pada 4 mol A untuk menghasilkan 2 mol C pada kesetimbangan
ialah
A. 1 mol D. 4 mol
B. 2 mol E. 5 mol
C. 3 mol

4. Bila tetapan kesetimbangan dari reaksi N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH3 (g) adalah Kp = K1,
maka tetapan kesetimbangan dari reaksi, 1/2 N2 (g) + 3/2 H2 (g) NH3 (g), adalah
A. 2K1 D. K12
B. K1 E. K1
C. 1/2 K1
5. Untuk reaksi kesetimbangan, 2 NO (g) + O2 (g) 2 NO2 (g) berlaku
A. Kx = Kp / p C. Kx = Kc
B. Kx = Kp p D. Kc= Kp . p E. Kc = Kp / RT
6. Pada temperatur, harga tetapan kesetimbangan dan reaksi 2 NO (g) + O2 (g) 2 NO2 (g)
sebesar 16, maka tetapan kesetimbangan dari reaksi NO (g) + 1/2 O2 (g) NO2 (g)
adalah
A. 1/16 B. 1/4 C.4 D. 8 E. 1/8
7. Jika tetapan kesetimbangan K suatu reaksi adalah K < 1, maka bagi reaksi tersebut berlaku A.
G > 1 B. H > 1 C. H < 1 D. G O
8. Suatu reaksi kesetimbangan A (g) B (g) + C (g)
Mempunyai harga Kp = 0,328 pada suhu 127 C. Harga Kc sama dengan
A. 1 x 10-2 D. 3,2x10-2
B. 2x10-2 E. 1,6x10-2
C. 4x10-2
9. Pada suatu temperatur, harga tetapan kesetimbangan dari reaksi
N2 (g) + 2 O2(g) 2NO2 (g) adalah 36, maka tetapan kesetimbangan dan reaksi
NO2 (g) N2 (g) + O2 (g) adalah
A. 1/36 B. 1/8 C. 1/6 D.6 E. 9
10. Suatu reaksi kimia mempunyai kalor reaksi, H = + a kal pada suhu T1 dengan tetapan
kesetimbangan K1. Bila suhu dinaikkan menjadi T2, tetapan kesetimbangan menjadi K2. Dalam
hal ini
A. K2 > K1
B. K2 < K1
C. K2 = K1
D. K2 = H/RT2
E. K2 = /RT22
Kunci Jawaban
l.A 2.D 3.D 4.E 5.B 6.B 7.E 8.A 9.C l0.D
</o,s>
Diposkan oleh aried di 21:03 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

elektrolisis (kimdas 2)
Elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia.
Komponen yang terpenting dari proses elektrolisis ini adalah elektroda dan elektrolit. Agar dapat
terjadi reaksi, ada beberapa reaksi yang membutuhkan arus listrik. Suatu reaksi membutuhkan
arus listrik untuk penguraian elektrolit menjadi ion-ionnya yang disebut elektrolisis. Kation
bermuatan positif bergerak menuju katoda (-) sedangkan anion bermuatan negatif akan bergerak

menuju anoda (+). Pada katoda akan terjadi reaksi reduksi dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi.
Rangkaian sel elektrolisis hampir menyerupai sel volta. Yang membedakan sel elektrolisis dari
sel volta adalah, pada sel elektrolisis, komponen voltmeter diganti dengan sumber arus
(umumnya baterai). Larutan atau lelehan yang ingin dielektrolisis, ditempatkan dalam suatu
wadah. Selanjutnya, elektroda dicelupkan ke dalam larutan maupun lelehan elektrolit yang ingin
dielektrolisis. Elektroda yang digunakan umumnya merupakan elektroda inert, seperti Grafit (C),
Platina (Pt), dan Emas (Au). Elektroda berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi. Reaksi
reduksi berlangsung di katoda, sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda. Kutub negatif
sumber arus mengarah pada katoda (sebab memerlukan elektron) dan kutub positif sumber arus
tentunya mengarah pada anoda. Akibatnya, katoda bermuatan negatif dan menarik kation-kation
yang akan tereduksi menjadi endapan logam. Sebaliknya, anoda bermuatan positif dan menarik
anion-anion yang akan teroksidasi menjadi gas. Terlihat jelas bahwa tujuan elektrolisis adalah
untuk mendapatkan endapan logam di katoda dan gas di anoda.
Elektrolitnya dapat berupa larutan berupa asam, basa, atau garam, dapat pula leburan garam
halida atau leburan oksida. Kombinasi antara elektrolit dan elektroda menghasilkan tiga kategori
penting elektrolisis.
Bagan reaksi sel elektrolisis : (dibuku)
Bagan Reaksi-reaksi Elektrolisis
Reaksi Pada Katode Reaksi pada Anode
- ion logam aktif (golongan IA, IIA, Al, dan Mn) yang tereduksi adalah air
2H2O + 2e 2OH- + H2
- kation lainnya yang tereduksi adalah kation itu sendiri
Lx+ (aq) + ne L (s)
- ion H+ dari asam direduksi menjadi gas hidrogen (H2)
2H+ + 2e H2
- jika yang dielektrolisis adalah leburan (cairan) elektrolit tanpa air, maka akan diperoleh logam
endapan pada permukaan katode (reaksi pada point 2)
- ion-ion yang mengandung atom dengna bilangan oksidasi maksimum, misalnya SO42- atau
NO3- yang teroksidasi adalah air
2H2O 4H+ + 4e + O2
- ion-ion halida (X-),dioksidasi menjadi halogen (X2)
2X- X2 + 2e
- ion OH- dari basa dioksidasi menjadi gas oksigen (O2)
4OH- 2H2O + 4e + O2
-pada proses penyepuhan dan pemurnian logam, maka yang dipakai sebagai anode adalah suatu
logam (buka Pt, C, Au), sehingga anode (logam) mengalami oksidasi dan larut
Hukum elektrolisis Faraday
Di awal abad ke-19, Faraday menyelidiki hubungan antara jumlah listrik yang mengalir dalam
sel dan kuantitas kimia yang berubah di elektroda saat elektrolisis. Ia merangkumkan hasil
pengamatannya dalam dua hukum di tahun 1833.
Hukum elektrolisis Faraday
Jumlah zat yang dihasilkan di elektroda sebanding dengan jumlah arus listrik yang melalui sel.
Bila sejumlah tertentu arus listrik melalui sel, jumlah mol zat yang berubah di elektroda adalah
konstan tidak bergantung jenis zat. Misalnya, kuantitas listrik yang diperlukan untuk

mengendapkan 1 mol logam monovalen adalah 96 485 C(Coulomb) tidak bergantung pada jenis
logamnya.
C (Coulomb) adalah satuan muatan listrik, dan 1 C adalah muatan yang dihasilkan bila arus 1 A
(Ampere) mengalir selama 1 s. Tetapan fundamental listrik adalah konstanta Faraday F, 9,65
x104 C, yang didefinisikan sebgai kuantitas listrik yang dibawa oleh 1 mol elektron.
Dimungkinkan untuk menghitung kuantitas mol perubahan kimia yang disebabkan oleh aliran
arus listrik yang tetap mengalir untuk rentang waktu tertentu.
(dibuku)
1 Faraday = 1 mol elektron = 6,02 x 1023 partikel elektron x 1,6 x 10-19 C/partikel electron.
1 Faraday = 96320 C (sering dibulatkan menjadi 96500 C untuk mempermudah perhitungan)
Hubungan antara Faraday dan Coulomb dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
F = Q/96500
Coulomb adalah satuan muatan listrik. Coulomb dapat diperoleh melalui perkalian arus listrik
(Ampere) dengan waktu (detik). Persamaan yang menunjukkan hubungan Coulomb, Ampere,
dan detik adalah sebagai berikut :
Q = i.t
Dengan demikian, hubungan antara Faraday, Ampere, dan detik adalah sebagai berikut :
W = (e.i.t)/96500
W = (e.Q)/96500
W = e.F
Jika arus listrik dialirkan ke dalam dua atau lebih sel elektrolisis, perbandingan massa zat yang
diendapkan sama dengan perbandingan massa ekivalennya.
W_a/W_b = e_a/e_b
Keterangan : (dibuku)
Dengan mengetahui besarnya Faraday pada reaksi elektrolisis, maka mol elektron yang
dibutuhkan pada reaksi elektrolisis dapat ditentukan. Selanjutnya, dengan memanfaatkan
koefisien reaksi pada masing-masing setengah reaksi di katoda dan anoda, kuantitas produk
elektrolisis dapat ditemukan.
Diposkan oleh aried di 20:59 0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Kamis, 20 Januari 2011


Laporan Akhir Kimia Dasar
ALAT-ALAT LABORATORIUM DAN FUNGSINYA PADA HASIL PENGAMATAN
Seperti yang telah kita ketahui, dalam melakukan suatu percobaan tentunya memerlukan alat-alat
praktikum. Adapun beberapa alat yang dapat kalian ketahui sebagai berikut dan akan di
lampirkan pada sebuah tabel.
No. Gambar Alat Fungsi
1.
Kaca Arloji

Bahan : kaca jenis soda kapur


Ukuran : 80 mm, 150 mm, diameter 76 cm, dan 150 cm
Fungsi : sebagai penutup gelas kimia saat dipanaskan, tempat menimbang dan mengeringkan.
2.
Corong
Bahan : plastik atau kaca
Ukuran : diameter 60 mm, 75 mm, 100 mm.
Fungsi : sebagai tempat kertas saring yang digunakan untuk membuat campuran ke dalam tabung
yang mulutnya kecil.
3.
Batang pengaduk
Bahan : kaca
Ukuran : 15 cm, 20 cm, 30 cm
Fungsi : untuk mengaduk larutan agar tetap homogen atau agar zat padat cepat larut
4.
Neraca digital
Bahan : logam atau kaca
Ukuran : ketelitian 0,01 gr sampai 0,1 mg
Fungsi : untuk menimbang bahan kimia dalam skala atau jumlah yang besar
5.

Oven

Bahan : logam
Ukuran : _
Fungsi : tempat untuk memanaskan atau mengeringkan suatu sampah
6.
Rak tabung
Bahan : kayu atau plastic
Ukuran : diameter tabung 15 mm, 20 tabung
Fungsi : untuk meletakkan tabung reaksi supaya tersusun rapi dan indah
7.

Labu Erlenmeyer
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk menyimpan dan memanaskan larutan, untuk menampung filtrate hasil
penyaringan, untuk menampung titran pada proses hasil titrasi, dapat pula digunakan untuk
meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung aquadest
8.
Pipet gondok
Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 1 ml, 2 ml, 5 ml, 10 ml, 25 ml
Fungsi : untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu secara tetap

9.
Kertas saring
Bahan : Kertas selulosa murni
Ukuran : 58x58 cm, dengan diameter 10 cm
Fungsi : untuk menyaring larutan yang bersifat heterogen
10.

Multimeter
Bahan : alat listrik
Ukuran : Fungsi : sebagai voltmeter dalam mengukur tegangan listrik
11.

Desikator
Bahan : kaca
Ukuran : Fungsi : 1. Tempat menyimpanan sampel yang harus bebas air
2. Untuk mengeringkan padatan

12.
Penjepit kayu
Bahan : kayu
Ukuran : Fungsi : untuk menjepit tabung reaksi saat dipanaskan

13.
Plat tetes
Bahan : porselen
Ukuran : 6 lubang dan 12 lubang
Fungsi : untuk menguji keasaman larutan, mereaksikan zat dalam jumlah kecil
14.

.
Kasa abses
Bahan : logam
Ukuran : 14x14 cm, 16x16 cm, 20x20 cm, 30x30 cm
Fungsi : sebagai alat pemanas atau pembakar api dan wadah yang dipanaskan
15.
Buret
Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml
Fungsi : untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu, biasanya digunakan untuk titrasi
16.
Kaki tiga
Bahan : besi
Ukuran : diameter 13 cm dan tinggi 15 cm
Fungsi : sebagai tungku atau penyangga wadah yang digunakan saat pemanasan
17.

Gelas ukur
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi
dalam jumlah besar
18.

Termometer
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 1. Termometer Air raksa -10-110 oC, 0-150oC, 0-200oC, 0-250oC, 0-360oC
2. Termometer Akohol -10-110oC, 0-50oC, 0-150oC
Fungsi : untuk mengukur suhu
19.
Penjepit logam
Bahan : logam
Ukuran : Fungsi : untuk menjepit atau memegang sesuatu yang panas, tetapi bukan untuk tabung reaksi
20.
Pembakar spiritus
Bahan : kaca jenis soda kapur dan tembaga
Ukuran : volume 100 ml
Fungsi : sebagai sumber untuk memansakan zat-zat kimia
21.

Tabung reaksi
Bahan : logam atau kaca
Ukuran : ketelitian 0,01 gr sampai 0,1 mg
Fungsi : melarutkan zat-zat padat dan mencampurkan zat-zat padat
22.
Cawan penguapan
Bahan : porselen
Ukuran : 50 ml, 75 ml, 100 ml, 125 ml
Fungsi : untuk menguapkn larutan atau mengeringkan zat padat yang basah

23.

Klem dan statif


Bahan : besi atau baja
Ukuran : diameter klem 10 mm dan panjang statif 60 cm
Fungsi : 1. Klem : untuk memegang buret yang digunakan untuk titrasi
2. Statif : untuk menegakkan buret, corong pisah dan peralatan kimia lain

24.

Erlenmeyer hisap
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 100 ml sampai 2000 ml
Fungsi : menampung cairan hasil titrasi. Dapat menahan tekanan sampai 5 atm
25.

Hot plate
Bahan : logam
Ukuran : Fungsi : 1. Untuk memanaskan suatuan larutan dalam jumlah besar
2. Untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan
26.

Spatula
Bahan : stainless steel atau alumunium
Ukuran : panjang 150 mm
Fungsi : mengambil bahan kimia yang berbentuk padatan atau butiran halus untuk mengduk
larutan
27.

Sendok porselen
Bahan : porselen
Ukuran : Fungsi : Untuk mengambil zat padat
28.

Labu bundar
Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : mulai dari 250 ml sampai 2000 ml
Fungsi : 1. Untuk memanaskan larutan dan menyimpan larutan
2. Tempat menabung hasil destilasi, evaporasi, ekstraksi dan merefuks
29.
Corong pisah
Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 125 ml, 250 ml, 500 ml
Fungsi : untuk memisahkan dua macam cairan yang tidak bercampur atau memiliki densitas
berbeda
30.

Botol pembersih
Bahan : plastic
Ukuran : 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : 1. Untuk membilas atau membersihkan alat-alat laboratorium
2. Untuk pengenceran larutan
3. Sebagai tempat penyimpanan aquadest

31.
Pipet volum
Bahan : kaca
Ukuran : 5 ml, 10 ml, dan 25 ml
Fungsi : untuk mengukur dan memindahkan larutan dengan volume tertentu secara tepat
32.

Cawan petri
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 100 x 15 mm biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml,
sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml
Fungsi : sebagai wadah menimbang dan menyimpan bahan kimia

33.
Pipet tetes
Bahan : kaca jenis soda kapur dan karet
Ukuran : panjang 150 mm, 1 ml = 20 tetes
Fungsi : untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil dengan mengukur volume yang teliti
34.
Lumpang dan alu
Bahan : porselen, kaca, atau granit
Ukuran : diameter lumping 8 cm, panjang alu 9 cm
Fungsi : untuk menghancurkan dan menghaluskan bongkahan zat padat dengan cara digerus
pakai alu
35.
Labu ukur

Bahan : kaca, sumbatnya kaca atau karet


Ukuran : 10 cm3, 25 cm3, 100 cm3, 250 cm3, 500 cm3, 1000 cm3
Fungsi : Membuat larutan dengan volume tertentu dan untuk pengenceran
36.

Gelas kimia
Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi
dalam jumlah tertentu
37.
pH meter
Bahan : plastic, besi, kawat
Ukuran : Fungsi : untuk mengukur pH suatu larutan, juga dapat digunakan sebagai voltmeter untuk
tegangan rendah
38.
Spectronic 20
Bahan : logam atau alat listrik
Ukuran : Fungsi : untuk mengukur absorbansi larutan berwarna dalam proses spektrometri
39.
Pipa U
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : Fungsi : sebagai alat elektrolisis beberapa larutan tertentu atau dalam proses jembatan
40.
Botol pembersih
Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : volume 250 ml, 500 ml, 1000 ml

Fungsi : untuk menyimpan zat hasil reaksi

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia.1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum. Depdikbud


Anwar, Chairil dkk. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta : Departemen
Pendidikan dan Kedudayaan.
Dosen-Dosen Kimia Perguruan Tinggi Wilayah Barat. 1993. Penuntun Praktikum Kimia Dasar.
ITB: Bogor
Hadiat dkk. 1998. Daftar Alat-Alat Laboratorium Beserta Penjelasan. Jakarta : Argon Karya.
Indrawati dkk. 1998. Pendayagunaan Alat Alat dan Bahan Praktikum Kimia. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

LAMPIRAN DISKUSI
Penanya : Desy Amelia (A1C310205)
Pertanyaan :- jelaskan mengapa alat alat lab menggunakan bahan bahan yang berbeda?
Apakah akan mempengaruhi hasil percobaan?

Bagaimana cara kerja spektronik?


Jawaban : - karena alat alat lab mempunyai fungsi yang berbeda beda,jadi bahan bahan
yang digunakan harus menyesuaikan terhadap fungsi alat alat lab. Tentu saja sangat
mempengaruhi,karena penggunaan alat yang tidak sesuai akan mempengaruhi hasil percobaan.
Misalnya, dalam penguapan kita tidak mungkin menggunakan alat yang terbuat dari bahan
plastik.
Cara kerja spektronik adalah :
Cara kerja Spectronic 20 :
Periksa apakah instrumen dihidupkan. Tombol kiri-tangan harus diputar searah jarum jam.
Biarkan 10 menit untuk pemanasan.
Atur panjang gelombang dengan nilai yang dikehendaki dengan menggunakan tombol di atas.
Dengan kompartemen sampel tertutup, putar tombol kiri untuk dapat membaca 0% T. Gunakan
cermin di belakang jarum untuk menghindari kesalahan paralaks.
Lap kuvet dengan tisu kering untuk menghilangkan tetes larutan atau sidik jari.
Sejajarkan tanda pada kuvet dengan garis pada wadah sampel.
Masukkan kuvet diisi dengan pelarut dalam kompartemen sampel.
Tutup penutup.
Putar tombol kanan untuk mendapatkan pembacaan 100% T.
Untuk menganalisis sampel, masukkan kuvet sampel dan membaca nilai Absorbance pada skala.
Gunakan cermin di belakang jarum untuk menghindari kesalahan paralaks.
Penanya : Sofia Indah Putri (A1C310201)
Pertanyaan : apa fungsi kran gas?
Jawaban : fungsi dari kran gas adalah untuk mengalirkan gas yang kita perlukan dalam
percobaan.
Penanya : Putri Adeyantina (A1C310216)
Pertanyaan : apa saja alat alat lab yang tahan terhadap panas?
Jawaban : alat alat lab yang tahan terhadap panas antara lain:
Gelas kimia,labu distilasi, tabung reaksi, buret, thermometer, corong Buchner,lumping dan alu
serta plat tetes.
Gelas kimia diktakan tahan terhadap panas, karena di tandai dengan pyrex.
Corong Buchner,lumping dan alu,serta plat tetes terbuat dari bahan porselen sehingga tahan
terhadap suhu tinggi/panas.

PERCOBAAN II
Judul : Pemisahan dan pemurnian
Tujuan : Mempelajari teknik cara pemisahan dan pemurnian satu atau beberapa zat dari
campuran zat.
Hari/tanggal : Sabtu/23 Oktoberi 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP UNLAM Banjarmasin
I. DASAR TEORI
Sebagian besar zat-zat di alam semesta masih bercampur dengan zat lain, khususnya zat-zat
kimia baik anorganik maupun organik. Garam dapur dari laut masih bercampur dengan garamgaram yang lainnya, logam masih bercampur dengan pengotornya dalam bijihnya, gula tebu
mash harus dipisahkan dari air tebunya dan sebagainya.
Untuk berbagai keperluan diperlukan zat murni, sehingga teknologi pemisahan dan pemurnian
mutlak di perlukan untuk memperoleh zat murni dari campurannya.
Pemisahan dan pemurnian merupakan sesuatu hal yang sangat besar manfaatnya dalam
pengembangan dan aplikasi ilmu kimia, hal ini akan terasa penggunaannya dalam analisis zat
secara kualitatif dan secara kuantitatif. Ada beberapa cara yang lazim di gunakan untuk
memisahkan campuran dari pengotornya, antara lain :
A.Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut
antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu
pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (bahan alami) tidak dapat
atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis. Misalnya saja
karena komponennya saling bercampur sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya
terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Dalam hal semacam ini, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan
atau yang mungkin paling ekonomis. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berulang-ulang, dengan
cara ini senyawa akan terekstraksi dengan lebih baik.
Teknik ekstraksi menggunakan corong pisah. Untuk menghindari adanya tekanan pelarut ketika
mengocok, sesekali keran dibuka. Seringkali pada pengocokan yang keras terbentuk emulsi
sehingga sulit terjadinya pemisahan. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan pengadukan
dengan gelas pengaduk, memutar larutan, pemusingan(setrifugasi), atau menambahkan garam.
Langkah terakhir ini memberikan manfaat ganda yaitu mengurangi kelarutan solute dan
ekstraktan dalam air. Peristiwa ini disebut efek garam(salting out).
B.KRISTALISASI DAN REKRISTALASI
Kristalisasi yaitu pemisahan zat padat dari campurannya berdasarkan kelarutan. kristalisasi
dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Larutan yang dijenuhkan akan membentuk kristal
padat. Pembentukkan kristal melalui rekristalisasi dimulai dari satu titik dan kemudian
berkembang ke segala arah atau arah tertentu.Kristalisasi merupakan proses untuk memperoleh
padatan dari larutan melalui proses penguapan.
Cara melakukan kristalisasi yaitu mula-mula molekul zat terlarut membentuk agregat dengan
molekul pelarut, lalu terjadi kisi-kisi di zat antara molekul zat terlarut yang terus tumbuh

membentuk kristal yang lebih besar di antara molekul pelarutnya. Kristal yang terbentuk disaring
vakum dari larutannya menggunakan corong buchner.
Ada dua cara dalam melakukan rekristalasasi, yaitu :
Jika pengotornya sedikit larut dalam pelarut, langkah yang harus dilakukan yaitu campuran zat
padat dengan pelarut panas di saring biasa hingga terpisahkan antara zat terlarut ( larutan )
dengan pengotornya ( tidak larut ). Kemudian mendinginkan dan menyaring zat terlarut dengan
di isap hingga terbentuk pelarut dan krisal
Jika pengotornya lebih larut dalam pelarut, maka langkah yang harus di lakukan yaitu campuran
zat padat dengan pelarut panas yang menghasilkan larutan, kemudian didinginkan dan di saring
dengan di isap hingga terbentuk pelarut dan kristal.
Apabila larutan yang akan di kristalkan ternyata berwarna, padahal kita tahu zat padatnya tak
berwarna, maka kedalam larutan panas sebelumnya di saring di tambahkan arang aktif. Tidak
semua zat warna dapat di serap dengan baik. Zat warna yang tidak terserap ini akan hilang pada
waktu pencucian dan penyaringan.
C.KROMATOGRAFI
Kromatografi merupakan cara paling modern dalam pemisahan dan pemurnian. Kromatografi
yaitu pemisahan yang didasarkan pada perbedaan migrasi senyawa. Ada beberapa cara
kromatografi, salah satunya adalah kromatografi kertas. Salah satu penggunaan kromatografi
kertas adalah pemisahan zat warna dalam tinta hitam.
Pada dasarnya, teknik kromatografi ini membutuhkan zat terlarut terdistribusi diantara dua fase,
satu diantaranya diam (fase diam), yang lainnya bergerak (fase gerak). Fase gerak membawa zat
terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat terlarut lainnya yang tereluasi lebih awal atau
lebih akhir. Umumnya zat terlarut dibawa melewati media pemisah oleh cairan atau gas yang
disebut eluen. Fase diam dapat bertindak sebagai zat penyerap atau dapat bertindak sebagai
melarutkan zat terlarut hingga terjadi partisi antara fase diam dan fase gerak.
II.ALAT DAN BAHAN
Alat alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Tabung reaksi 3 buah
Pipet tetes 1 buah
Rak tabung 1 buah
Gelas ukur 1 buah
Neraca analis 1 buah
Kaca arloji 1 buah
Cawan porselin 1 buah
Corong biasa 2 buah
Gelas kimia 2 buah
Batang pengaduk 1 buah
Hot plate 1 buah
Bahan bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :
Larutan KI 0,5molar
Kloroform ( CHCL4 )
Kertas saring 2 lembar
Aquades
Kristal ( I2 )

Garam dapur
Kertas kromatografi
CuSO4
III. PROSEDUR KERJA
Ekstraksi
Memisahkan I2 dari larutannya dengan pelarut CHCl3
Mengambil 3 tabung reaksi dan memberi label I, II, III.
Mengisi tabung I dengan 7,5 ml larutan KI dan menambahkan sebutir kristal I2, mengocok
larutan hingga larut dan mengamati warna larutannya.
Memindahkan 5 ml larutan dari tabung I ke dalam tabung II, menambahkan 2 ml Kloroform
(CHCl3) dan mengocok, mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan, mengamati warna larutan
yang terjadi. Membandingkan warna larutan bagian atas dari tabung II dengan warna larutan dari
tabung I. Mana yang lebih tua.
Memindahkan lagi separuh dari larutan bagian atas tabung II ke dalam tabung III. Menambahkan
lagi 2 ml Kloroform (CHCl3), mengocok dan mendiamkan. Mengamati warna larutan yang
terjadi, membandingkan dengan tabung II.
Menyimpulkan apa yang dapat diambil dari percobaan.
KRISTALISASI DAN REKRISTALASI
Memperoleh garam dapur bersih dari garam dapur kotor dan memurnikan CuSO4 melalui
kristalisasi dan rekristalisasi.
Melarutkan 2 gram dapur kotor dalam 10 ml air dalam becker glass (menambahkan air jika
belum larut).
Menyaring larutan garam tersebut beberapa kali dengan kertas saring (membasahi kertas saring
sebelum digunakan). Menguapkan filtratnya hingga kering.
Membandingkan kristal garam dengan garam sebelumnya, mana yang lebih bersih?
Melarutkan 5 gr CuSO4 dengan 25 ml air. Menguapkan larutan ini hingga volumenya kurang
dari 15 ml, menyaring dan mendinginkan sampai terbentuk kristal. Jika pada pendinginan ini
belum terbentuk kristal, mendiamkan selama 1 malam. Membandingkan kristal yang terbentuk
dengan kristal sebelumnya.
Kromatografi
Memisahkan komponen warna dari spidol dengan kormatografi.
Mengukur 1 cm dari kertas kromatografi, dan menotolkan spidol yang tersedia.
Menjepit ujung kertas yang lain dengan lidi.
Mencelupkan kertas sedemikian hingga totolan spidol tidak terendam air dan melakukan
kromatografi hingga pelarut mencapai ujung kertas.
Mengamati pemisahan yang terjadi.
IV. HASIL PENGAMATAN
Ekstaksi
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Tabung I
KI 0,5 M + sebutir kristal I2 Larutan KI mula-mula bening kemudian menambahkan sebutir
kristal I2 larutan berubah menjadi kuning keemasan.

2. Tabung II
5 ml larutan dari tabung I + 2 ml CHCl3 Larutan membentuk 2 lapisan.
Lapisan bawah berwarna merah muda dan lapisan atas berwarna kekuning-kuningan. Warna
larutan bagian atas tabung II lebih muda dibandingkan warna larutan tabung I.
3. Tabung III
Setengah larutan bagian atas tabung II + 2 ml CHCl3 Larutan membentuk 2 lapisan.
Lapisan atas bening dan bagian bawah berwarna merah muda lebih bening. Warna pada larutan
tabung III lebih muda dibandingkan larutan tabung II dan I.
Kristalisasi dan Rekristalisasi
Memurnikan garam dapur
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. 2 gr garam dapur kotor + 10 ml air Larutan garam kotor yang bening.
2. Menyaring larutan garam dengan kertas saring. Terbentuk filtrat yang bersih.
3. Menguapkan filtrat hingga kering. Larutan filtrat membentuk kristal yang lebih halus dan
bersih.
Memurnikan CuSO4
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. 5 gr CuSO4 + 25 ml air Serbuk CuSO4 berwarna biru tua. Larutan CuSO4 berwarna biru
muda.
2. Menguapkan hingga volume kurang dari 15 ml. Warna larutan menjadi lebih tua dari
sebelumnya yaitu menjadi biru tua.
3. Menyaring larutan CuSO4 dengan kertas saring. Terbentuk filtrat CuSO4.
4. Mendinginkan larutan. Larutan menjadi bongkahan kecil yang berwarna biru muda.
5. Membandingkan kristal yang terbentuk dengan kristal sebelumnya. Kristal berupa bongkahan
yang lebih kecil daripada kristal CuSO4 yang terbentuk sebelumnya yaitu berupa bongkahan
yang besar.
Kromatografi
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Mengukur 1 cm kertas kromatografi dan menotolkan spidol hitam pada kertas kromatografi.
Terbentuk komponen warna yaitu :
Hitam (warna awal)
Ungu
Coklat
Biru
Lintasan warna hingga 9 cm
2. Menjepit ujung kertas lain dengan lidi.
3. Mencelupkan kertas hingga totolan spidol tidak terendam air dan melakukan kromatografi
hingga pelarut mencapai ujung kertas.
4. Mengamati perubahan yang terjadi.
V. ANALISIS DATA

A. Ekstraksi
Pada percobaan mengenai ekstraksi, larutan KI ditambahkan dengan sebutir kristal I2 di
masukkan ke dalam tabung I dan mengocoknya. Setalah beberapa saat larutan menjadi berwarna
kuning keemasan. Pada percobaan 5mL lrutan tabung I di tambahkan 2mL CHCl4 yang
dicampur, kemudian di kocok dan di amati di tabung I ternyata membentuk dua lapisan yaitu
lapisan atas berwarna putih bening dan lapisan bawahnya berwarna merah muda lebih bening.
Jika di bandingkan warna larutan pada tabung I lebih tua di banding kan larutan tabung II.
Sedangkan pada percobaan tabung III, separuh dari larutan bagian atas tabung II di tambahka
2mL CHCl4, kemudian di kocok dan didiam kan ternyata warna yang terjadi pada tabung III
lebih muda dari tabung II. . Hal ini terjadi karena CHCl3 selalu ditambahkan pada tabung-tabung
reaksi yang akan diuji sedangkan pelarut yang baik untuk ekstraksi seperti CHCl3 harus
memiliki daya melarut zat terlarut lebih besar daripada pelarut semula. Jadi semakin banyak
menambahkan CHCl3 maka daya melarut zat terlarut semakin besar daripada pelarut semula
sehingga warna kekuning-kuningan akan semakin memudar.
Percobaan ini menunjukkan bahwa pemisahan campuran dengan cara ekstraksi berdasarkan
perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda, tetapi memiliki perbandingan yang
tidak sama. Dalam suatu campuran ditambahkan pelarut yang mempunyai kemampuan
melarutkan lebih besar dalam melarutkan senyawa, tetapi pelarut tidak bercampur dengan pelarut
sebelumnya.
B. Kristalisasi dan Rekristalasi
Pada percobaan mengenai kristalisasi dan rekristalisasi. Melarutkan 2 g garam dapur kotor dalam
becker gelas sehingga dihasilkan larutan yang kelihatan keruh, tetapi larutan garam tersebut
disaring terus beberapa kali sehingga di didapat larutan yang lebih bersih dari keadaan
sebelumnya, kemudian larutan diuapkan filtratnya hingga kering dan terbentuk kristal garam dan
kristal yang terbentuk lebih bersih dibandingkan dengan garam sebelumnya
Pada percobaan 5 g CuSO4 ditambah 25 ml air dan menguapkan larutan hingga volumenya
kurang dari 15 ml dan setelah disaring dan didinginkan selama satu malam terbentuk kristal yang
warnanya lebih muda dibandingkan semula. Kristal CuSO4 ini berupa bongkahan yang lebih
kecil dari sebelumnya yang berupa bongkahan yang lebih besar.
Pada percobaan air dan garam terjadi proses rekristalisasi yaitu memperoleh padatan dari larutan
melalui proses penguapan berdasarkan perbedaan titik beku komponen garam dapat dipisahkan
dengan air karena garam berupa padatan yang perbedaan titk bekunya cukup besar dengan air.
Air garam yang dipanaskan atau diuapkan terus-menerus maka air akan menguap sedikit demi
sedikit sampai larutan tepat jenuh dan dibiarkan akan terbentuk kristal garam. Kristal garam ini
tentu saja lebih bersih dari larutan sebelumnya karena mengalami proses penyaringan atau
pemurnian padatan menggunakan air tersebut.
Pada percobaan 5 g CuSO4 ditambah 25 ml air terjadi proses kristalisasi. Lerutan CuSO4 yang di
panaskan terus-menerus airnya akan menguap sedikt demi sedikit dan terbentuk kristal yang
berwarna biru. Kristal ini yang terbentuk warnanya lebih muda atau lebih bersih dari sebelumnya
karena proses pembentukan kristal lebih lama.
C. Kromatografi
Pada percobaan kromatografi ini adalah kromatografi kertas. Mengukur kertas kromatografi
sepanjang 1 cm dan menotolkan spidol hitam kemudian mencelupkan kertas kromatografi
tersebut ke dalam air hingga totolan tidak terceluk air. Pada totolan spidol hitam menghasilkan
komponen warna yaitu ungu, coklat, dan biru.
Dasar percobaan kromatografi ini adalah perbedaan fase gerak untuk membawa zat terlarut

dalam fase diam atau perbedaan daya serap pada kertas. Pada percobaan ini akan terlihat
komponen-komponen warna akan terpisah satu sama lain berdasarkan perbedaan daya serapnya
pada kertas. Ini membuktikan bahwa suatu warna mempunyai komponen-komponen warna yang
lain, tidak berupa hanya satu jenis warna saja. Jadi, warna-warna yang terurai adalah akibat dari
proses pemurnian tersebut yang merupakan komponen satu warna dan naiknya air menyebabkan
komponen penyusun warna terurai.
Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona relatif terhadap garis depan pengembang.
Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan oleh nilai-nilai Rf. Nilai Rf
didefinisikan oleh hubungan:
Rf=Jn/Jp=(9 )/(9 )= 1
VI. KESIMPULAN
Cara pemisahan dan pemurnian antara lain ektraksi, kristalisasi dan rekristalisasi, dan
kromatografi.
Ekstraksi yaitu proses pemisahan komponen zat dari suatu campuran berdasarkan perbedaan
kelarutan.
Pada percobaan ektraksi semakin banyak menambahkan CHCl3 maka daya melarut zat terlarut
semakin besar daripada pelarut semula sehingga warna ungu semakin memudar.
Pada percobaan garam ditambahkan air, terjadi proses rekristalisasi. Kristal yang terbentuk lebih
bersih dari kristal sebelumnya.
Pada rekristalasi peran air sebagai pelarut sangat penting karena syarat pelarut yang mampu
memisahkan kristal dengan mudah harus memilki titik didih yang relatif rendah.
Pada percobaan CuSO4 ditambahkan dengan air terjadi proses kristalisasi. Kristal yang terbentuk
berupa bongkahan kecil berwarna biru muda.
Kertas kromatografi di anggap sebagai fase diam dan air sebagai fase bergerak.
Pada totolan spidol hitam menghasilkan komponen warna yaitu ungu, coklat, dan biru.
VII.DAFTAR PUSTAKA
Achmad. Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Bandung: ITB.
Bettleheim & Lendersberg. 1996. Laboratory Experiment general, Organic and Biochemistry
Fourth Edition, Harcourt Inc.
Sudjaji. 1988. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Kanisius
Syahmani dan Leny. 2007. Petunjuk praktikum KimiaOrganik I. Banjarmasin: FKIP UNLAM
Syurki. 1999. Kimia Dasar. Bandung: ITB
LAMPIRAN
Sebutkan perbedaan kristalisasi dengan rekristalasi ?
Jelaskan prinsip ekstraksi ?
Pengertian destilasi ?
Jawab :
Kristalisasi adalah proses cara pembuatan menjadi kristal sedangkan rekristalasi suatu proses
dimana butir logam yang terdefomasi di gantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang
intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk di dalamnya.
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut.
Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan

material lainnya. Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari
padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena
komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan
kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut
dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit
larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya.
(Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry)Ekstrak adalah
sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia
hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan
dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi standar
baku yang ditetapkan. Proses ekstraksi bahan atau bahan obat alami dapat dilakukan berdasarkan
teori tentang penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang
semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam
cairan penyari tersebut.
Destilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang
akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginyya permintaan akan spritus. Hypathia
dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkain untuk destilasi dan Zosimus dan
Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses destilasi pada
sekitar abad ke -4. Bentuk modern destilasi pertama kali ditemukan oleh ahli ahli kimia Islam
pada masa Bani Abbasiah, terutama oleh Al razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa
yang relative murni melalui alat alembic,bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang
memungkankan rancangan destilasi skala mikro, The Hicman Stillhead dapat terwujud. Tulisan
Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu jabir menyebutkan tentang
uapmanggur yang dapat terbakar, ia juga menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang
bahkan masih banyak sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas
oleh Al Kindi (801-873).
Destilasi merupakan suatu teknik pemishan larutan yang berdasrkan pada perbedaan titik
didhnya. Destilasi terfraksi digunakan untuk larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang
tidak terlalu jauh sekitar 300 C atau lebih. Dasr pemisahan suatu campuran dengan destilasi
adalah adanya perbedaan titik didh dua cairan atau lebih yang jika campuran tersebut
dipanaskan,maka komponen yang titik didihnya yang lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan
komponen komponen secara bertahap.

Gambar 1.1 Alat dan Bahan Gambar 1.2 Hasil Ektraksi


Gambar 1.3 Gambar 1.4
Penyaringan larutangaram Membandingkan Kristal Garam

Gambar 1.5 Gambar 1.6


Memanaskan larutan CuSO4 Hasil Rekristalisasi CuSO4

Gambar 1.7 Proses Kromatografi Gambar 1.8 Hasil Kromatografi

FLOW CHART
PERCOBAAN I
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN
Ekstraksi
Tabung I
Mengisi ke dalam tabung reaksi I
Mengocok larutan
Mengamati warna larutan
Tabung II
Mengisi kedalam tabung reaksi II
Mengocok larutan
Mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan
Mengamati warna larutan
Catatan : Menbandingkan warna bagian atas tabung I dan tabung II

Mengisi kedalam tabung reaksi II


Mengocok larutan
Mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan
Mengamati warna larutan

KRISTALISASI DAN REKRISTALASI


MEMURNIKAN GARAM DAPUR
Melarutkan kedalam becker glass
Larutan garam
Menyaring dengan kertas saring

Menguapkan hingga kering


Catatan : Membandingkan kristal garam dengan sebelumnya
MEMURNIKAN CuSO4
- Melarutkan kedalam becker glass

Menguapkan larutan hinggavolume 15 ml


Menyaring dengan kertas saring
Mendinginkan

Catatan :
Mendiamkan satu malam jika belum terbentuk kristal
Membandingkan kristal dengan kristal sebelumnya
C. KROMATOGRAFI
Mengukur 1 cm dari kertas kromatografi
Menotolkan spidol pada kertas
Menjepit ujung kertas lain dengan lidi
Mencelupkan kertas hingga totolan spidol tidak terendam air
Melakukan kromatografi hingga pelarut hingga ujung kertas
Mengamati pemisahan warna

PERCOBAAN III
Judul Percobaan : Reaksi-reaksi kimia
Tujuan Percobaan :1. Mengetahui perubahan-perubahan yang menunjukkan terjadinya reaksireaksi kimia
2.Mempelajari jenis-jenis reaksi kimia
Hari/Tanggal : Sabtu/30 0ktober 2010
Tempat : Labaratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin
I. DASAR TEORI
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa ikmia yang ditandai dengan berubahnya suatu zat
menjadi zat lain .Contohnya padda pembakaran Etanol dan Oksigen berubah menjadi

karbondioksida dan uap air .perubahan itu dapat dituliskan sebagai berikut:
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Zat mula-mula disebut pereaksi dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi . Dalam reaksi
diatas ,Etanol dan Oksigen merupakan pereaksi ,sedangkan Karbondioksida dan uap air sebagai
hasil reaksi .
Reaksi kimia dialam terus berkembang dan zat-zat hasil reaksi dapat diketahui dengan
mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan tersebut antara lain:
Terjadinya perubahan warna,
Terjadinya perubahan suhu,
Terbentuknya gas,dan
Terbentuknya endapan.
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan perubahan senyawa kimia
.Senyawa kimia ataupun senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut sebagai reaktan .reaksi
kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi ,dan akan menghasilkan satu atau
lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari reaktan .
Secara klasik ,reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan electron dalam
pembentukkan dan pemutusan ikatan kimia ,walaupun pada dasarnya konsep umum reaksi kimia
juga dapat diterapkan pada tranformasi partikel-partikel elementer seperti pada reaksi Nuklir.
Reaksi kimia dapat dibagi menjadi kelompok besar ,yaitu reaksi asam basa dan reaksi redoks
.Secara garis besar terdapat perbedaan yang mendasar pada kedua jenis reaksi tersebut ,yaitu
pada reaksi redoks terjadi perubahan bilangan oksidasi (biloks),sedangkan pada reaksi asam basa
tidak ada perubahan biloks.
Ada pula dua jenis reaksi kimia biasa .jenis peertama adalah sintesis ,yakni satu jenis senyawa
dari dua jenis zat atau lebih .jenis ini dinamakan Reaksi penggabungan .
A + Z AZ
Jenis kedua disebut Reaksi Penguraian ,yakni terpecahnya satu senyawa menjadi dua zat atau
labih ,biasanya dengan memasukkan kalor.
AZ A + Z
Jenis ketiga dinamakan reaksi penggantian ,yaitu dimana satu unsur menggantikan unsure lain
dalam senyawa .Unsur yang digantikan adalah unsur yang letaknya lebih bawah dalam Deret
Elektromotif. (Deret Elektromotif : Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, AL, Zn, Fe, Cd, Ni, Sn, Pb, H, Cu,
Hg, Ag, Au).
A + BZ AZ + B
Jenis keempat adalah Reaksi Penggantian rangkap ,dimana dua zat dalam larutan bertukar
pasang antar anion.
AX + BZ AZ + BX
Jenis kelima adalah Reaksi Netralisasi,yaitu dimana dau zat yaitu asam dan basa bereaksi
membentuk garam dalam air.
HX + BOH BX + H2O
Disamping kelima jenis reaksi itu,perlu pula dikaji reaksi reduksi oksidasi (redoks).Banyak
logam bereaksi denagan asam membentuk garam dari logam tersebut dan gas hidrogen
.Beberapa logam tidak aktif dapat bereaksi dengan asam Nitrat (NHO3) ,yang terjadi bukan
hanya gas hidrogen melainkan Oksigen dan Nitrogen.
Reaksi kimia tidak dapat mengubah massa zat ,karena dalam reaksi hanya terjadi penataulangan
atom-atom zat pereaksi membentuk susunan baru dalam zat hasil reaksi .Dengan demikian ,tidak
ada atom yang hilang atau ercipta akibat berlangsungnya reaksi kimia .Keaadan ini harus

tercermin pada persamaan reaksi.


Oleh karena itu ,pada persamaan reaksi tiap zat harus diberikoofesien ,yakni bilangan bulat ynag
menyebabkan jumlah atom tiap unsure diruas kiri dan kanan persamaan reaksi sama.
II. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Pipet Tetes 2 Buah
Rak Tabung Reaksi 1 Buah
Tabung Reaksi 4 Buah
Gelas ukur berukuran 10 mL 2 Buah
Sedangkan bahan yang diperlukan adalah :
Larutan HCl 0.1 N dan 1,0 M
Larutan Al2(SO4)3 0,1 M
Larutan Asam Sulfat (H2SO4) 0,1 M
Larutan CH3COOH 0,1 M
Larutan K2CrO4 0,1 M
Larutan NH4OH 1 M
Larutan KMnO4 0,1 M
Larutan NaOH 0,1 N dan 1,0 M
Larutan K2Cr2O7 0,1 M
Larutan H2C2O4 0,1 M
Indikator PP
III. PROSEDUR KERJA
Kedalam dua tabung reaksi memasukkan masing-masing 1 mL HCl 0,1 N dan CH3COOH 0,1
M.menambahkan masing-masing dua tetes indicator PP .Mengamati apa terjadi.
Kedalam dua tabung reaksi yang lain memasukkan denagan tetep masing-masing 1 mL NaOH 1
N,menambahkan dua tetes indicator PP .Mengamati perubahan yang terjadi.
Mencampurkan masing-masing larutan dari prosedur 1 dan 2 .Mengamati perubahan terjadi.
Memasukkan kedalam dua tabung reaksi masing-masing 1 mL larutan K2Cr2O7 0,1 M.Pada
tabung 1 menambahkan HCl 1 M dan pada tabung 2 menambahkan dengan NaOH 1
M.Mengamati perubahan warna terjadi.
Kedalam tabung reaksi yang lain memasukkan masing-masing 1 mL larutan K2CrO4 0,1 M dan
memperlakukan seperti prosedur diatas(No.4).Menyimpulkan dari kedua kegiatan ersebut.
Memasukkan kedalam 1 tabung reaksi masing-masing 1 mL Al2(SO4)3 0,1 M.Menambahkan
tetes demi tetes NaOH hingga terbentuk endapan pada salah satunya menambahkan NH4OH
dengan perlakuan yang sama.
Memasukkan kedalam tabung reaksi 1 mL larutan asam oksalat (H2Cr2O4) 0,1 M dan
menambahkan 0,5 mL asam sulfat 0,1 M.Meneteskan larutan KMnO4 sambil
mengocok.Mengamati perubahan yang terjadi.

IV. HASIL PENGAMATAN


No Percobaan Hasil Pengamatan
1 Memasukkan masing-masing 1 mL HCl 0,1 N dan CH3COOH o,1 M ke dalam 2 tabung
reaksi, lalu meneteskan masing-masing 2 tetes indikator PP. Larutan HCl yang ditetesi 2 tetes
indikator PP tidak mengalami perubahan warna karena setelah diteteskan tidak mengalami
perubahan indikator PP warnanya tetap bening seperti semula.
Larutan CH3COOH yang ditetesi 2 tetes indikator PP mengalami perubahan warna, dari warna
bening menjadi putih keruh.
2 1 mL NaOH 0,1 M + 2 tetes indikator PP Mengalami perubahan warna dari warna bening
menjadi menjadi warna ungu tua, lama-kelamaan menjadi warna ungu muda.
3 (HCl+ Indikator PP) + (NaOH + Indikator PP)
(CH3COOH + Indikator PP) + (NaOH + Indikator PP) Warnanya menjadi ungu muda.
Warnanya menjadi ungu tua.

4 Masing-masing 1 mL K2CrO4 0,1 M + HCl 1 M


K2CrO4 1 mL 0,1 M + NaOH 1 M Mengalami perubahan warna, dari warna kuning berubah
menjadi warna jingga.
Tidak mengalami perubahan warna, dari warna kuning didiamkan untuk beberapa saat tidak
berubah menjadi warna yang lain.
5 1 mL K2Cr2O7 0,1 M + HCl 1 M
1 mL K2Cr2O7 0,1 M + NaOH 1 M Tidak mengalami perubahan warna (tetap berwarna jingga).
Mengalami perubahan warna, dari warna jingga menjadi warna kuning.
6 1 mL Al2(SO4)3 0,1 M + NaOH 1 M
1 mL Al2(SO4)3 0,1 M + NH4OH 1 M Terjadi endapan berwarna putih keruh.
Terjadi endapan berwarna putih keruh dan lebih keruh.
7 1 mL larutan H2C2O4 0,1 M + 0,5 mL H2SO4
H2C2O4 0,1 M + H2SO4 0,1 M + KMnO4 Tidak mengalami perubahan warna (tetap warna
putih bening).
Terjadi perubahan warna, dari putih bening menjadi ungu tua.

V. ANALISIS DATA
Pada prosedur pertama, di dalam tabung reaksi 1 mL larutan HCl 0,1 M di tambah 2 tetes
indikator PP tidak mengalami perubahan warna karena setelah diteteskan, warnanya tetap bening
seperti semula. Sedangkan pada tabung reaksi 2, 1 mL CH3COOH ditambah 2 tetes indikator PP
menghasilkan larutan yang awalnya berwarna bening menjadi putih keruh. Dilihat dari
keduanya, terjadinya perbedaan hasil larutan pada tabung 1 terdapat larutan HCl yang
merupakan asam kuat. Sedangkan pada tabung 2 terdapat CH3COOH yang merupakan basa
lemah. Diketahui bahwa indicator PP merupakan asam dioptri yang tidak berwarna yang
berfungsi untuk mengetahui apakah suatu larutan bersifat asam, basa, atau netral. Maka pada
kedua larutan tersebut dapat terlihat perbedaan yang jelas yaitu bening dan putih keruh.
Pada prosedur dua, yakni 1 mL NaOH 0,1 M + 2 tetes indikator PP menghasilkan warna ungu
tua, yang lama-kelamaan menjadi warna ungu muda pada tabung reaksi 3 dan 4. Dari percobaan
tersebut dapat diketahui bahwa NaOH merupakan basa kuat. Hal ini dapat dilihat dari hasil
warna yang menyolok, yaitu ungu tua. Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa indicator PP
merupakan penguji, pakah larutan itu asam, basa, atau netral. Dari sini dapat dianalisis bahwa
larutan yang bersifat basa lemah, basa kuat, asam lemah, dan asam kuat mempunyai perbedaan
warna, yaitu basa lemah menyolok, basa kuat kurang menyolok, asam lemah sangat keruh dan
asam kuat kurang keruh atau bening.
Pencampuran antara larutan HCl (tabung 1) dengan larutan NaOH (tabung 3) menghasilkan
warna ungu muda, sedangkan pencampuran antara larutan CH3COOH (tabung 2) dengan larutan
NaOH (tabung 4) menghasilkan warna ungu tua. 2 reaksi tersebut termasuk reaksi penetralan
yang merupakan asam kuat+basa kuat dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
NaCl + H2OHCl + NaOH

CH3COOH yang ditambah NaOH menjadi basa kuat dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
CH3COONa + H2OCH3COOH + NaOH
Garam yang dihasilkan adalah garam CH3COONa yang ditambah dengan air dan warna
larutannya menjadi lebih tua. Perubahan warna pada reaksi tersebut dipengaruhi oleh pH, asam
kuat mempunyai pH tinggi sehingga menghasilkan warna yang menyolok sedangkan yang berpH rendah menghasilkan warna yang kurang menyolok.
Pada pencampuran K2CrO4 0,1 M yang ditambah dengan larutan HCl 1 M mengalami
perubahan warna, yang awalnya berwarna kuning berubah menjadi jingga. Ini disebabkan karena
adanya penambahan biloks (bilangan oksidasi) dari K2CrO4menjadi K2Cr2O7 dengan
persamaan reaksi sebagai berikut :
K2Cr2O7 + 2 KCl + H2O2 K2CrO4 + 2 HCl
Sedangkan pencampuran K2CrO4 0,1 M yang bertambah dengan Larutan NaOH tidak terjadi
perubahan warna, tetap berwarna kuning. Dapat dianalisis bahwa NaOH tidak memberikan
pengaruh apa-apa pada reaksi tersebut.
Pencampuran K2Cr2O7 0,1 M dengan HCl 1 M menghasilkan warna jingga, sedangkan pada
pencampuran K2Cr2O7 0,1 M dengan NaOH 1 M menghasilkan warna kuning. Hal ini terjadi
karena pada reaksi ini stabil dalam suasana asam.
2 KCl + H2Cr2O7K2Cr2O7 + 2 HCl
2 KOH + 2 CrO3 + Na2OK2Cr2O7 + 2 NaOH

Dari persamaan-persamaan reaksi di atas dapat diketahui bahwa dalam suasana basa ion
dikarbonat yang berwarna jingga berubah menjadi ion kromat yang berwarna kuning.
Al2(SO4)3 2 Al(OH)3 + 3 Na2SO4+ 6 NaOH
Dari reaksi di atas aluminium sulfat + natrium hidroksida terbentuk endapan Al2(SO4)3
berwarna putih keruh. Ini menunjukkan bahwa basa kuat (NaOH) ditambah dengan aluminium
sulfat akan terjadi Al3+ bermuatan positif akan segera menarik ion-ion OH- dari NaOH
membentuk Al(OH)3 berbentuk solid. Apabila dilanjutkan dengan penambahan NaOH maka
endapan akan hilang karena senyawa natrium aluminat merupakan senyawa yang mudah larut
dalam air karena mengandung kation alkali yaitu Na+. Kemudian Al2(SO4)3 + NH4OH larutan
kembali menjadi cair namun ada sedikit endapan yang tersisia dan lebih jernih di bagian atasya.
2 AlOH3 + 3 (NH4)2SO4Al2(SO4)3 + NH4OH
Pengendapan terjadi karena ion Al3+ dari aluminium sulfat menarik ion OH- dan NH4OH
membentuk endapan AlOH3 yang berbentuk solid.
H2C2O4 + H2SO4 dicampurkan lebih dulu berwarna bening kemudian ditetesi dengan KMnO4
yang berwarna ungu, setelah larutan tersebut dikocok, larutan tidak mengalami perubahan warna.
Dan pada reaksi H2C2O4 + H2SO4 + KMnO4 menghasilkan warna ungu tua. Hal ini terjadi
karena KMnO4 terurai menjadi ion K+ dan ion Mn2+ (oksidator) H2C2O4 merupakan reduktor.
Bilangan oksidasi Mn2+ menjadi Mn+ menyebabkan warna berubah-ubah. Reaksi ini dapat
dikatakan sebagai reaksi redoks.
MnO2 + K2SO4 + CO2 + H2OH2C2O4+H2SO4+ KMnO4
VI. KESIMPULAN
Dari eksperimen tersebut kini dapat ditarik kesimpulan, yakni :
Perubahan-perubahan reaksi kimia di tandai dengan adanya perubahan warna, perubahan suhu,
terjadinya endapan, dan terbentuknya gas.
Reaksi kimia dapat digolongkan menjadi reaksi sintesis, reaksi penetralan, reaksi redoks (reduksi
oksidasi), dan reaksi pembentukan kompleks.
Reaksi redoks terjadi karena adanya peristiwa pengurangan dan penambahan bilangan oksidasi.
Reaksi penetralan dapat terjadi antara larutan yang bersifat basa dan larutan yang bersifat asam
yang membentuk garam dan air.
Pada larutan yang diteteskan dengan indikator PP tidak terjadi reaksi kimia karena warnanya
akan tetap, sedangkan pada larutan yang bersifat basa akan terjadi reaksi kimia yang ditandai
dengan terjadinya perubahan warna menjadi ungu.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Adelyra, Rara. 2010. Makalah Reaksi Kimia (online).
http://radelyrachemistry.blogspot.com/2010/12/makalah-reaksi-kimia.html
Diakses Pada Tanggal 01 Januari 2011
Ahmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Bandung: ITB
Anonim. 2007. Reaksi-Reaksi Kimia (online). http://www.scribd.com/doc/16383788/Reaksireaksi-Kimia
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010

Anonim. 2008. Asam Basa (online). http://dennifa.com.files.wordpress.com/2008/06/asam-danbasa.pdf Diakses pada Tanggal 06 November 2010
Anonim. 2008. Reaksi Kimia (online). http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi-Kimia
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010
Anonim. 2008. Reaksi Redoks (online).
http://id.wikipedia.org/wiki/redoks?wasRedirected=true
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010
Lestari, Sri. 2003. Kumpulan Rumus Kimia SMA. Jakarta: Kawan Pustaka
Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin: FKIP UNLAM
Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB

LAMPIRAN DISKUSI
Penanya : Irmayanti
Pertanyaan : Mengapa pada reaksi asam basa tidak terjadi perubahan biloks (bilangan oksidasi)?
Jawaban : Pada reaksi asam basa tidak terjadi perubahan biloks (bilangan oksidasi) karena pada
umumnya ion H+ dan ion OH- pada senyawa asam dan basa bilangan oksidasinya tidak berubah.
Begitu juga dengan unsur lainnya yang ada di dalam senyawa asam maupun basa, semuanya
memiliki bilangan oksidasi namun tidak terjadi perubahan di setiap reaksinya.
Penanya : Akhmad Gajali
Pertanyaan : Jelaskan apa yang dimaksud dengan reaksi sintesis dan reaksi penguraian? Berikan
Contoh persamaan reaksinya!
Jawaban : Reaksi sintesis merupakan suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks
terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa). Sedangkan
reaksi penguraian merupakan suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat- zat yang lebih
sederhana.
Contoh persamaan reaksinya;
Reaksi Sintesis:

2 H2O2 H2 + O2
Reaksi Penguraian:
4 Ag + O22 Ag2O
Penanya : Wardatul Ilmah
Pertanyaan : Jelaskan apa yang dimaksud dengan reaksi redoks dan reaksi asam basa? Berikan
Contoh persamaan rekasnya!
Jawaban : Reaksi Redoks (Reduksi Oksidasi) merupakan suatu reaksi tang mengalami perubahan
bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah
reaksi kimia. Sedangkan reaksi asam basa merupakan suatu reaksi dimana senyawa asam
bereaksi dengan senyawa basa membentuk garam.
Contoh persamaan reaksinya;
2 Fe + 3 CO2Reaksi Redoks: Fe2O3 + 3 CO
Reduksi
Oksidasi
CH3COONa + H2OReaksi Asam Basa: CH3COOH + NaOH
CH3COOH adalah senyawa asam (Asam Lemah)
NaOH adalah senyawa Basa ( Basa Kuat)
CH3COONa adalah senyawa garam yang bersifat Basa
H2O adalah air.

Gambar percobaan reaksi reaksi kimia

FLOWCHART
PERCOBAAN III
REAKSI REAKSI KIMIA
1.Kegiatan I
a.Tabung Reaksi c. Tabung reaksi 3
-Mengamati apa yang terjadi - mengamati apa yang terjadi
mencampurkan dengan - mencampurkan
larutan 3 dengan larutan 4
b.Tabung Reaksi 2 d. tabung reaksi 4

-Mengamati perubahan - Mengamati perubahan


yang terjadi yang terjadi
- Mencampurkan - Mencampurkan
dengan larutan 3 dengan larutan 3
2. Kegiatan II
a.Tabung Reaksi 1 b.Tabung Reaksi 2
-Mengamati perubahan - Mengamati perubahan
warna yang terjadi warna yang terjadi
c.Tabung Reaksi 3 d.Tabung Reaksi 4
- Mengamati perubahan - Mengamati perubahan
warna yang terjadi warna yang terjadi
3.Kegiatan III
Memasukkan kedalam 2 tabung reaksi
Mengamati perubahan yang terjadi
Hingga terbentuk endapan pada salah satu hilang

Membagi larutan menjadi 2


Mengamati perubahan warna
yang terjadi
4. Kegiatan IV
-Mengocok larutan
-Mengamat perubahan yang terjadi

PERCOBAAN IV
Judul Percobaan : Variasi Kontinu
Tujuan Percobaan : Untuk mempelajari stiokiometri sistem CuSO4, NaOH dan Stiokiometri
asam basa
Hari/Tanggal : Sabtu/4 Desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin
DASAR TEORI
Ilmu kimia adalah ilmu yang berlandaskan pada percobaan, setelah mempelajari beberapa bulan,
seseorang dapat menuliskan beberapa senyawa, tetapi dapatkah anda membuktikan rumus suatu
zat yang anda tulis dengan data pengamatan?
Dalam metode variasi kiontinu dilakukan sederetan pengamatan yang kuantitatif berubah-ubah
(variasi). Salah satu sifat sistem kimia dipilih untuk diperiksa, seperti massa, volume, suhu, atau
daya serap. Oleh karena kuantitas molar reaksi berlainan, perubahan harga sifat dari sistem ini
digunakan unutk meramalkan stiokiometri sistem.
Bila digambarkan grafik secara fisik yang diamati atau diukur terhadap kuantitas pereaksinya,

maka akan diperoleh suatu titik maksimum atau minimum yang sesioa dengan titik stiokiometri
sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa.
Dasar percobaan ini adalah metode job atau metode variasi kontinu. Dalam metode ini dilakukan
sederetan pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi masing-masing kuantitas molar
pereaksinya berubah-ubah (bervarias). Salah satu sifat fisika tertentu fipililh untuk diperiksa.
Perhatikan misalnya percobaan untuk sistem perak nitrat kallium kromat air dengan metode
variasi kontinu. Volume dan jumlah mol dari 0,24 M larutan AgNO3 dan 0,24 M K2CrO4 yang
digunakan untuk kesembilan percobaan.
Konsentrasi pereaksi-pereaksi dibuat sehingga pada setiap percobaan, jumlah mol pereaksi total
sama dengan 1,2 x 10-2 volume pereaksi total sama dengan 50,0 ml. Tatapi untuk deret itu
seluruhnya jumlah mol AgNO3 bervariasi dengan 10,8 x 10-3 sampai 1,2 x 10-3 sampai 10,8 x
10-3 dan jumlah mol K2CrO4 bervariasi dari 10,8 x 10-3 sampai 1,2 x 10-3.
Sesudah mengikat kuantitas-kuantitas pereaksi itu dicampur, maka endapan yang terjadi disaring
Dicuci, kemudian dikeringkan dan ditimbang massa endapan terhadap jumlah mol AgNO3.
Stiokiometri merupakan kajian tentang hubungan bobot dalam reaksi-reaksi kimia, yang berarti
mengukur undur. Topik ini merupakan dasar untuk menentukan komponen senyawa dan
campuran , dan dapat digunakan untuk memperkirakan hasil dalam pembuatan senyawa kimia.
Perhitungan ini jmerupakan hasil dalam perbuatan senyawa kimia. Perhitungan ini merupakan
dasar dari koknsep mol, dan digunakan untuk mengembangkan persamaan kimia.
Mengubah Mol ke Gram
Dalam ilmu kimia, mol adalah satuan pengukuran jumlah yang standar. Ketika kita merasakan
zat-zat tertentu, zat-zat tersebut bereaksi dengan perbandingan mol yang bulat dan sederhana,
tetapi kita tidak bisa mengatur jumlah zat-zat tersebut secara alangsung dengan neraca, karena
neraca hanya bisa dibaca dalam satuan kimia yaitu mol.
Masalahnya adalah kita membandingkan jumlah satu zat denga zat lainnya dengan menggunakan
satua kimia yaitu mol, sementara untuk bekerja dilaboratorium kita tidak bisa menggunakan mol
melainkan dengan satuan massa yaitu gram.
Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut? Caranya adalah kita harus mengubah mol ke gram.
Sesuai diferensi massa molar unsur atau senyawa, dimana satu mol unsur atom atau senyawa
diperoleh jika kita menimbang unsur atau senyawa tersebut sebesar massa atom relatif atau
massa rumus ralatifnya dalam gram. Oleh karena itu, kita memerlukan data massa molar zat
tersebut untuk bis mengubah mol zat tersebut ke gram.
Begitupun sebaliknya jika kita harus menghitung jumlah zat mol dari gram suatu zat kita juga
dapat menggunakan data massa molar.
Stiokiometri berdasarkan tiga konsep
Kekekalan Massa
Salah satu hukum dasr alam adalah hukum kekalan massa. Massa tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan. Bila hukum ini dipergunakan dalam reaksi kima, maka massa total dari produk
harus sama dengan massa total reaktan. Hubungan antara kuantitas produk dan reaktan ini sangat
penting sebab hal ini sangat penting untuk m engetahui reaktan mana yang harus ada dalam
jumlah berlebihan. Sebab tergantung pada jumlah relatif dari reaktan yang pipergunakan kadangkadang memberikan keadaan yang berlainan.
Massa Atom Relatif
Massa atom relatif dengan lambanag Ar adalah istilah modern sebagai pengganti istilah berat
alam.
Pada permulaan abad ke-19 hydrogen diginakan sebagai unsur standar. Dalton menekankan

bahwa massa atom adalah sifat yang paling utama suatu unsur Hydrogen adalah unsur yang
mempunyai atom yang paling ringan dan massanya ditentikan sebesar satu-satuan.
Menurut definisi lama:
Massa atom relatif=(Massa satu atom unsur)/(Massa satu atom Hydrogen)
Konsep Mol
Dalam ilmu kimia, satuan jumlah azt yang akan kita pakai adalah Mol. Satuan mol adalah
julah azt yang mengandung 6,02 x 1023 butir partikel. Zat apa saja akan dikatakan berjumlah
satuan mol, asalkan jumlah partikelnya 6,02 x 1023. Satu mol besi mengadung 6,02 x 1023
Molekul air, satu molekul elektron mengadung 6,02 x 1023butir elektron dsb.
Mol adalah jumlah zat suatu sistem yang mengandung sejumlah besaran elementer (atom,
molekul, dsb) sebanyak atom yang trerdapat 12 gram tepat isotop karbon -12 (12C).
Jumlah besaran elementer ini disebut tetapan Avogadro. 6,02 x 1023 merupakan bilangan
Avogadro.
Penerapan Konsep Mol Pada Gas
Perdamaan gas ideal yang terkena adalah PV = nRt dengan R adalah tetapan jumlah mol gas
pada tekanan standar 1 atm dan suhu 273 k (STP), satu mol gas menempati volume 22,414 L,
biasanya secara sederhana digunakan 22,4 L.
Penerapan Konsep Mol Pada Larutan
Larutan satu molar (M) adalah larutan yang mengandung satu mol zat terlarut dalam 1 liter
larutan.
kemolaran=mol/liter=mmol/ml
kemolaran=(konsentrasi dalam 2 per 1)/(massa molar zat terlarut)
Jumlah mol zat terlarut yang terdapat dalam sejumlah larutan dapat dinyatakan dengan:
Jumlah mol=kemolaran x volume
ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan
Gelas kimia 4 Buah
Gelas ukur 4 Buah
Batang pengaduk 2 Buah
Pipet tetes 4 Buah
Termometer alkohol 2 Buah
Termometer air raksa 2 Buah
Baskom 2 Buah
Bahan-bahan yang digunakan
Larutan NaOH
Larutan CuSO4
Larutan HCl
Air
PROSEDUR KERJA
Stiokiometri sistem CuSO4-NaOH
Memasukkan masing-masing 50 ml NaOH 0,1 M dan 10 Ml CuSO4 0,1 M ke dalam dua gelas
kimia yang berisi larutan kedalamnya dengan mencelupkan gelas kimia yang berisi larutan
kedalam air bersama-sama. Mencatat temperaturnya (temperatur awal).

Sambil mengaduk, mencampurkan kedua larutan dan mencatat suhu tertinggi yang dicapai
(temperatur akhir)
Mengulangi dengan prosedur yang sama dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan,
mencabut tempertur yang didapat dari percobaan tersebut.
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap T.
Membuat kesimpulan mengenai stiokiometri sistem diatas.
Stiokiometri sistem asam kuat-basa kuat (NaOH-HCl)
Kedalam 2 gelas kimia memasukkan masing-masing 40 ml NaOH 1 M dan 20 Ml HCl 1 M.
Menyamakan temperaturnya dan mencata sebagai temperatur awal.
Sambil mengaduk, mencampurkan kedua larutan dan mencatat suhu tertinggi yang dicapai
(temperatur akhir)
Mengulangi dengan prosedur yang sama dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan,
mencabut tempertur yang didapat dari percobaan tersebut.
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap T.
Membuat kesimpulan mengenai stiokiometri sistem diatas. Jika sistem diganti dengan NaOH dan
H2SO4 dengan konsentrasi yang sama. Memprediksikan perbandingan volume kedua larutan
yang menghasilkan titik stiokiometri.
HASIL PENGAMATAN
Stiokiometri NaOH-CuSO4
No NaOH (ml) CuSO4 (ml) Tm (Suhu Awal) Ta (Suhu Akhir) T
1
2
3
4
5
6
7
8
9 50
45
40
35
30
25
20
15
10 10
15
20
25
30
35
40
45

50 29C
29C
28,5C
29C
29C
29C
29,5C
29C
29C 28,5C
29C
29C
29C
29,5C
29C
29,5C
29C
29C - 0,5C
0C
0,5C
0C
0,5C
0C
0C
0C
0C
Stiokiometri Sistem NaOH-HCl
No NaOH (ml) CuSO4 (ml) Tm (Suhu Awal) Ta (Suhu Akhir) T
1
2
3
4
5 40
35
30
25
20 20
25
30
35
40 30C
29C
29C
29C
29C 30C
31C

32C
32C
31C 0C
2C
3C
3C
2C
ANALISIS DATA
Percobaan ini adalah untuk mempelajari stiokiometri sistem NaOH-CuSO4 dan stiokiometri
asam basa yang dilakukan dengen metode variasi kontinu. Dimana untuk melakukan sederetan
reaksi diperlukan volume larutanyang bervarias jumlahnya. Pereaksi tersebut adalah larutan
NaOH, CuSO4 dan HCl.
Berdasarkan hasil pengamatan, apabila NaOH bereaksi dengan CuSO4, maka akan menghasilkan
Na2SO4 + Cu(OH)2 sesuai dengan reaksi persamaan reaksi titik stiokiometri.
Karena volume reaksi berbeda-beda (bervariasi). Maka setiap perubahan nilai dapat dipakai
untuk meramalkan stiokiometri sistem. Untuk mendapatkan jumlah mol dapat menggunakan
rumus sebagai berikut:
Mol = Molaritas (Mol/l) x Volume (l)
NaOH CuSO4 Perbandingan
50
45
40
35
30
25
20
15
10 10
15
20
25
30
35
40
45
50 5 : 1
3:1
2:1
1,4 : 1
1:1
1 : 1,4
1:2
1:3
1:5

Dari tabel pengamatan sebelumnya dapat diketahui bahwa titik maksimum terbentuk pada saat
pencampuran NasOH sebanyak 40 ml, sedangkan CuSO4 sebanyak 20 ml. Dan sesuai dengan
reaksi tersebut, perbandingan adalah 2 : 1 yang dipenuhi pada saat pencampuran 40 ml NaOH
dengan 20 Ml CuSO4.
Jadi perbandingan mol yang sesuai dengen koefisienpada reaksi diatas. Maka massa pada reaksi
diatas dihitung sebagai berikut:
Mol NaOH = M x V = 0,1 x 0,04 = 0,004 mol
Massa NaOH = n x Mr = 0,004 x 40 = 0,16 gr
Mol CuSO4 = M x V =0,1 x 0,02 = 0,002 mol
Massa CuSO4 = n x Mr = 0,002 x 159,5 = 0,319 gr
Karena koefisien Na2SO4 dan Cu(OH)2sama dengan koefisien CuSO4 maka untuk
perbandingan nilai molnya pun sama:
Massa Na2SO4= mol x Mr = 0,002 x 142 = 0,284 gr
Massa Cu(OH)2= mol x Mr = 0,002 x 97,5 = 0,195 gr
Massa pereaksi dengan massa hasil reaksi:
Massa Pereaksi = Massa Hasil Reaksi
Massa (NaOH + CuSO4) = Massa (Na2SO4 + Cu(OH)2)
0,16 + 0,319 = 0,284 + 0,195
0,479 gr = 0,479 gr
Dari hasil perhitungan, terbukti bahwa pada massa pereaksi sama dengan massa hasil reaksi. Hal
ini berkaitan erat hubungannya dengan hukum kekekalan massa yang merupakan dasar-dasar
perhitungan dasar kimia pada ruang lingkup stiokiometri.
Dari hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa titik maksimum terbentuk pada saat pencampuran
NaOH sebanyak 40 ml, dan 30 ml sedangkan CuSO4 sebanyak 20ml dan 30 ml.

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa terjadi variasi suhu. Namun, variasi suhu yang diperoleh
ini, tidak dapat dinyatakan kebenarannya karena terjadi akibat kesalahan dalam perilaku
termometer. Sehingga suhu yang diperoleh tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan
tetapi tidak terjadi perubahan.
Percobaan kedua adalah stiokiometri sistem asam kuat basa kuat (NaOH-HCl) dengan volume
masing-masing 40 ml dan 20 ml dengan konsentrasi 1 M. Maka yang dilakukan sama dengan
percobaan pertama yaitu menyamakan temperaturnya dengan mencelupkan gelas kimia yang
berisi larutan ke dalam air bersama-sama dan diperoleh temperatur awal yaitu 30C. Setelah

dicampurkan kedua larutan menghashilkan temperatur 30C. sehingga T adalah 0C.


T = Ta-Tm
= 30C 30C
= 0C
Langkah selanjutnya yaitu melakukan perlakuan yang asma terhadap larutan NaOH dan HCl
denga volume yang bervariasi, sehigga suhu yang diperoleh (T) bervariasi pula.
Perubahan T dapat dilihat pada data pengamatan. Sehingga dapat dibuat grafik yang
menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap T sebagai koordinat.

Dari grafik diatas terlihat bahwa terjadi variasi T yang dikarenakan oleh perbedaan jumlah
volume sehingga mol yang diperoleh juga berbeda-beda. Hal inilah yang berpengaruh terhadap
perubahan temperatur.
Dari hasil pengamatan dan percobaan diperoleh persamaan reaksi NaOH dan HCl yaitu sebagai
berikut:
NaOH + HCl NaCl + H2O
Perbandingan koefisien pada persamaan reaksi diatas adalah 1 : 1, berarti perbandingan molnya
1: 1. Hal ini berarti reaksi yang berada pada titik stiokiometri adalah larutan yang memiliki
perbandingan mol 1 : 1, perbandingan mol dapat dilihat dari tabel di bawah.
NaOH HCl Perbandingan
40
35
30
25
20 20
25
30
35
40 2 : 1
1,4 : 1
1:1
1 : 1,4
1:2
Dari tabel diatas terlihat bahwa yang memiliki volume 1 : 1 adalah larutan NaOH dan HCl pada
saat volumenya 30 ml. Disinilah diperoleh titik stiokiometri yaitu pada titik maksimum dengan
T = 3 C.
Sedangkan massa yang diperoleh pada titik itu adalah sebagai berikut:

Mol NaOH = M x V = 1 x 0,03 = 0,03 mol


Massa NaOH = n x Mr = 0,03 x 40 = 1,2 gr
Mol HCl = M x V = 1x 0,03 = 0,03 mol
Massa HCl = n x Mr = 0,03 x 36,5 = 1,095 gr
Karena semua koefisien sama maka pereaksi maupun hasil reaksi sama. Perbandingan molnya
sama.
Massa NaCL = n x Mr = 0,03 x 58,5 = 1,755
Massa H2O = n x Mr = 0,03 x 18 = 0,54
Massa Pereaksi = Massa Hasil Reaksi
Massa (NaOH + HCl) = Massa (NaCl + H2O)
1,2 + 1,095 = 1,755 + 0,54
2,295 gr = 2,295 gr
Dari hasil perhitungan terbukti bahwa titik stiokiometri massa pereaksi sama dengan massa
reaksi. Hasil ini berkaitan dengan hukum kekekalan massa yang merupakan dasar-dasar
perhitungan dalam reaksi kimia pada ruang lingkup stiokiometri larutan.
KESIMPULAN
Membuktikan suatu rumus suatu zat yaitu dengan metode variasi kontinu dengan stiokiometri
CuSO4-NaOH dan stiokiometri NaOH-HCl.
Dalam metode variasi kontinu dilakukan sederetan pengamatan yang kuantitas molar totalnya
sama, tetapi masing-masing kuantitas molar pereaksinya berubah-ubah (bervariasi)
Untuk melakukan sederetan reaksi, diperlukan volume larutan yang bervariasi jjumlahnya.
Dalam percobaan ini pereaksinya adalah larutan CuSO4, NaOH dan HCl.
Volume reaksi yang berbeda-beda, maka setiap perubahan nilai dipakai untuk meramalkan
stiokiometri sistem.
Untuk mendapatkan jumlah mol digunakan rumus mol = molaritas (mol/l) x volume (l).
Massa pereaksi sama dengan massa hashil reaksi dan dari hasil pengamatan di lihat bahwa terjadi
variasi suhu.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hiska. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Prektikum Kimia. Bandung ITB
Dosen-dosen Kimia di Perguruan Tinggi Indonesia Wilayah Barat. 1994. Penuntun Praktikum
Kimia Dasar. Bandung : ITB
Tim Kimia Dasar. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar I dan II. Banjarmasin : UNLAM

LAMPIRAN

Gambar percobaan Variasi Kontinu


Mengukur larutan dalam gelas ukur. Memasukkan larutan ke dalam gelas kimia.
Menyamakan temperaturnya dengan mencampurkan kedua larutan.
memasukkan ke dalam air.
Larutan setelah dicampur. Mengukur suhu larutan setelah dicampur
FLOW CHART
PERCOBAAN IV
VARIASI KONTINU
Stiokiometri Sistem CuSO4-NaOH
Gelas Kimia I Gelas Kimia II

Catatan:
Mengulangi prosedur A dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan
Mencabut temperatur yang didapat dari percobaan tersebut
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap T
Membuat kesimpulan mengenai prosedur A
Stiokiometri sistem asam kuat-basa kuat (NaOH-HCl)
Gelas Kimia I Gelas Kimia II

Catatan :
Mengulangi prosedur B dengan komposisi volume larutan seperti tabel pengamatan
Membuat grafik yangmenghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap T sebagai
koordinat
Memberikan kesimpulan mengenai prosedur B
Mengganti sistem dengan NaOH dan H2SO4 dengan konsentran yang sama dan memprediksikan
perbandingan volume kedua larutan yang menghasilkan titik stiokiometri.

PERCOBAAN V
Judul Percobaan : Analisis Melalui pengendapan
Tujuan Percobaan :1. Mengendapkan Barium klorida dan menentukan persentase hasil dan
barium kromat.
2. Mendalami dan menggunakan hukum stoikiometri dalam reaksi kimia.
Hari/tanggal : Sabtu/ 11 Desember 2010
Tempat : laboratorium kimia FKIP Unlam Banjarmasin
DASAR TEORI
Kelarutan zat sangat beragam, ada zat yang mudah larut dan ada pula zat yang sukar larut. Pada
umumnya kelarutan bertambah pada kenaikan suhu, dan juga suatu larutan itu dipengaruhi oleh
ph larutan.
Istilah kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam
sejumlah pelarut tertentu/larutan pada suhu tertentu.
Suatu zat akan mengendap jika hasil kali konsentrasi lebih besar dari KSP (Konstanta hasil kali
kelarutan) dan dinyatakan dalam mol -1, jadi kelarutan sama dengan kemolaran dari kelarutan
jenuhnya. Dalam keadaan jenuh terdapat kesetimbangan antara zat padat tak larut dengan
larutannya.
Pada percobaan ini, larutan Barium Klorida diendapkan dengan kalium kromat,dengan reaksi :
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2KCl
Endapan Barium kromat disaring, hasil teoritis Barium kromat dihitung dari endapan yang
terbentuk,semua Barium klorida dianggap berubah menjadi hasil hasil teoritis ditentukan dan
stoikiometri reaksi.
Konsentrasi kesetimbangan antara BaCl2 dan K2CrO4 dalam larutan jenuhdapat dikaitkan

dengan kelarutan BaCrO4, yaitu sesuai dengan stoikiometri reaksi (perbandingan koefisien
reaksinya). Secara umum, hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan hasil kali kelarutan (ksp)
untuk elektrolit dipengaruhi oleh temperatur, semakin tinggi temperatur, umumnya harga ksp
semakin besar dalam konsentrasi ion ion. Untuk zat yang sukar larut maka kelarutannya kecil.
Setiap elektrolit mempunyai suatu besaran yang disebut diawal yaitu ksp atau hasil kali
kelarutan. Ksp juga dapat didefinisikan sebagai hasil kali konsentrasi ion ion suatu elektrolit
dalam larutan yang tepat jenuh. Nilai ksp untuk elektrolit sejenis, semakin besar menunjukkan
semakin mudah larut. Kelarutan (s) merupakan konsentrasi maksimum zat pelarut.
Harga ksp dapat digunakan untuk menentukan kelrutan suatu zat. Sebaliknya, kelarutan suatu zat
dapat digunakan untuk memenuhi harga ksp kelarutan maupun hasil kali kelarutan dapat dihitung
dan larutan jenuhnya.
Adanya ion sejenis dalam larutan menyebkan konsentrasi salah satu ion menjadi besar., sehingga
ion yang lain menjadi lebih kecil. Hal ini menyebabkan hasil kali kelarutan sama dengan harga
kspnya. Adanya penambahan ion sejenis (senama) pada pelarut akan memperkecil kelarutan.
Penambahan tersebut menggeser kesetimbangan. Jika keadaan larutan elektrolit yang sukar larut
ditambahkan larutan yang mempunyai ion yang sama, maka kesetimbangan akan bergeser dan
arahnya akan bertambah atau bergeser kea rah zat yang mengendap. Hal ini sesuia dengan
prinsip Chatelier,di man system pada keadaan seimbang menanggapi peningkatan satu
pereaksinya dengan cara menggeser kesetimbangan kea rah dimana pereaksi tersebut diberi aksi.
Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut dipengaruhi oleh suhu. Perbedaan kelarutan suatu zat
terhadap suhu ini menjadi dasar metode pemisahan campuran yang disebut dengan kristalisasi
fraksional. Dengan metode ini, produk yang tidak murni mula mula dilarutkan dalam sedikit
pelarut panas (biasanya adalah pelarut yang kurang melarutkan produk yang diinginkan, tetapi
banyak melarutkan pengotor). Pada saat larutan panas menjadi dingin, produk murni memisah
dari campuran dan emninggalkan pengotor. Akhirnya, Kristal produk disaring dari larutan dingin
dan dikeringkan.
Sesuai dengan azas Chatelier tentang pergeseran kesetimbangan, penambahan konsentrasi ion
akan menggeser kesetimbangan. Akibat dari pergeseran itu, maka zat yang larut menjadi
berkurang, dapat disimpulkan bahwa ion senama memperlecil kelarutan.
Bila sejumlah garam dapur dilarutkan ke dalam air dan ada sebagian yang tidak larut maka
larutan tersebut merupakan larutan jenuh. Bila ke dalam larutan jenuh NaCl ditambahkan lahi
sedikit Nacl, maka NaCl yang ditambahkan tersebut tidaj bisa melarut namun tetap sebagi
endpan Kristal NaCl. Konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuh sama dengan kelrutannya.
Besar kelrutan suatu zat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
Jenis pelarut
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mu
ah larut dalam senyawa polar. Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua asam merupakan
senyawa polar. Sehingga mudah larut dalam senyawa air yang juga merupakan senyawa polar.
Senyawa non polar akan mudah larut dalam senyawa non polar, misalnya lemak mudah larut
dalam minyak. Senyawa non polar umunya tidal larut dalam senyawa polar, misalnya NaCl tidak
larut dalam minyak tanah.
Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhu dinaikkan. Adanya panas (kalor)
mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya
jarak antara molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah
sehinnga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul molekul air. Berbeda dengan zat padat,

adanya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas air berkurang. Hal ini
disebabkan karena gas yang tersebut dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu
meningkat.
Analisis melalui pengendapan adalah suatu cara untuk menghitung persentase dari suatu zat yang
mengendap. Suatu zat akan mengendap apabila hasil kali kelarutan ion ionnya lebih besar dari
pada harga ksp (tetapan hasil kali kelrutan). Nilai ksp untuk elektrolit sejenis semakin besar
menunjukkan semakin mudah larut. Kelarutan sama dengan kemolaran dari larutan jenuhnya.
Secara umum hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan hasil ksp dinyatakan sebagai
berikut :
KSp = (n-1)n-1 Sn
Dimana n adalah jumlah ion elektrolit. Jika diketahui konsentarsinya, maka :
AxBy X Ay++ Y BxKsp AxBy = [Ay+] [Bx-]y
[Ay+] [Bx-]y = ksp AxBy
Larutan tepat jenuh (tidak terjadi endapan)
[Ay+] [Bx-]y < ksp AxBy Larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan) [Ay+] [Bx-]y > ksp AxBy
Larutan lewat jenuh (terjadi pengendapan
Adanya penambahan ion senama (sejenis) pada pelarut akan menggeser kesetimbangan ke kiri.
Kelrutan suatu elektrolit juga dipengaruhi oleh ph larutan. Keberadaan ion H+ akan mengikat
anion, dan menyebabkan lebih banyak garam yang larut.
Jika suatu endapan mempunyai hasil kali kelarutan yang rendah dan endapan tersebut terbentuk
dari larutan yang agak pekat, maka kelewat jenuh nisbinya akan tinggi. Sebaliknya, kelewat
jenuhan nisbunya rendah, maka jumlah inti yang terbebtuk juga kan rendah.
ALAT DAN BAHAN
Alat alat yang digunakan dalam percobaan adalah :
Gelas piala/gelas kimia 250 ml 2 buah
Pipet tetes 3 buah
Hot plate 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Kaca arloji 1 buah
Corong 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Gelas ukur 2 buah
Spatula 1 buah
Bahan bahan yang digunakan dalam percobaan adalah :
Serbuk/butiran BaCl2
Aquades
Larutan K2CrO4 0,2 M
Kertas saring
PROSEDUR KERJA
Menimbang kira kira 1 gr (0,8 sampai 1,2) BaCl2 dan memasukkan ke dalam gelas piala 250

ml. kemudian menambahkan 25 ml air suling, mengaduk aduk sampai larutan homogen,
sesudah itu memasukkan lagi K2CrO4 0,2 M sebanyak 25 ml, mengaduk aduk dan mengamati
endapan yang terbentuk.
Menguji larutan dengan beberapa tetes larutan K2CrO4, apakah larutan terbentuk (jika endapan
dan BaCrO4 masih terbentuk,menambahkan terus K2CrO4 sampai BaCrO4 tidak terbentuk lagi)
Memanaskan sampai mendidih, mengangkat dari api dan menyaring selagi masih panas dengan
kertas saring yang telah ditimbang massanya.
Mengambil kertas saring beserta endapannya, mengeringkan, menimbang dan mencatat
bobotnya.
Menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan menentukan juga persentase hasilnya dengan
rumus :
% hasil BaCrO4 =
HASIL PENGAMATAN
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Menimbang Bacl2 1,1297 gr
2. Memasukkan BaCl2 1,1297 gr + 25 ml aquades kedalam gelas kimia Larutan homogen
berwarna bening
3. Menambahkan larutan BaCl2 dengan K2CrO4 sebanyak 25 ml Warna larutan berubah
perlahan lahan dari warna bening menjadi kuning susu
4. Mengaduk larutan BaCrO4 dan mengamati apa yang terjadi Terbentuk endapan dari larutan
BaCrO4
5. Menambahkan terus tetes demi tetes K2CrO4 sampai tidak terbentuk lagi endapan (20 tetes)
Endapan tidak terbentuk lagi, warna larutan pada bagian atsnya berubah menjadi kuning muda
6. Menimbang kertas saring 0,5413 gr
7. Memanaskan larutan BaCrO4 sampai mendidh, kemudian mengangkat dari api dan
menyaringnya selagi panas Menghasilkan larutan berwarna bening (filtratnya) dan endapan
(residunya) di atas kertas saring yang berwarna kuning
Berat BaCl2 = 1,1297 gr
Berat kertas saring = 0,5413 gr
Berat kertas saring + endapan = 0,6944 gr
Berat endapan BaCrO4 (hasil nyata) = 0,1531 gr
Berat endapan BaCrO4 (hasil teoritis) = 1,35759 gr
Persentase hasil BaCrO4 = 11,12 %.
ANALISIS DATA
Pada percobaan ini, serbuk BaCl2 ditimbang dan didapat hasil penimbangan sebanyak 1,1 gr.
Kemudian BaCl2 tersebut dimasukkan ke dalam gelas kimia, dan untuk melarutkannya
ditambahkan aquades sebanyak 25 ml, kemudian diaduk aduk untuk menjadikan larutannya
homogen. Larutan homogen merupakan penggabungan antara2 zat atau lebih yang semua
partikelnya menyebar merata. Berdasrkan hasil dari pencampuran ini, diperoleh larutan yang
berwarna bening.
Senyawa- senyawa ion yang yang terlarut di dalam air atu aquades, akan terurau menjadi partikel

dasr pembentuknya yang berupa ion positif dan ion negative. Bila ke dalam system tersebut
ditambhakan air atau aqyades, mak serbuk BaCl2 akan segera terionisasi dan sebaliknya bila air
dalam larutan tersebut diupkan maka ion ion akan segera membentuk butiran. Hal inilah yang
menyebabkan ketika larutan BaCl2 tersebut dipanaskan membentuk endapan pada bagian
dasarnya. Dalam peristiwa ini terjadi system kesetimbangan antara zat padat dengan ion ionnya
dalam larutan.
Setelah larutan tadi homogeny, kemudian ditambahkan dengan larutan K2CrO4. Reaksi yang
terjadi menyebabkan warna larutan berubah menjadi kuning keruh dan terdapat endapan di
dasarnya. Kemudian mengujinya dengan tetesan K2CrO4 sebanyak 20 tetes sampai endapan
tidak terbentuk lagi dan larutan pada bagian atasnya berwarna kuning muda. Penambahan ion
CrO42- akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kiri dan menyebabkan bertambahnya
BaCrO4 yang mengendap. Oleh karena itu penambahan dihentikan jika endapan tidak terbentuk
lagi dan laritan bagian atas bening. Persamaan reaksinya :
BaCl2 . 2 H2O + K2CrO4 BaCrO4 + 2 KCl + 2 H2O
Endapan terjadi karena hasil kali ion ion BaCrO4 lebih besar daripada hasil kali kelarutan (ksp)
BaCrO4, sehingga menyebabkan kelebihan ion pada Ba2+ dan CrO42- akan bergabung
membentuk endapan BaCrO4. Maksudnya, ion ba2+ dari BaCl2 dan ion CrO42- dari KrCrO4
akan bergabung membentuk endapan BaCrO4 dan hasil kali konsentrasi ion ionnya tersebut
akan lebih besar jika dibandingkan dengan kspnya, hal inilah yang akan menyebabkan terjadinya
pengendapan.
[Ba2+][CrO42-] > Ksp BaCrO4
Langkah selanjutnya adalah memanaskan larutan besarta endapannya dengan menggunakan
hotplate. Setelah mendidih, larutan diangkat dan langsung disaring ketika msih panas dengan
menggunakan kertas saring. Tujuan dari penyaringan ini adalah untuk memisahkan antara larutan
(filtrat) dan endapan (residu). Sedangkan tujuan dari pemansan larutan adalah agar didapat
partikel parikel yang besar sehinnga memudahkan dalam penyaringan. Pembesarn partikel
terjadi karena terjadinya penumpukkan ion ion pada partikel besar di mana ion ion tersebut
membantu partikel partikel besar untuk mencapai kesetimbangan.
Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas dimaksudkan agar tidak ada endapan yang
tertinggal, karena apabila penyaringan dilakukan pada saat sudah dingin, akan banyak endapan
tertinggal digelas kimia. Proses penyaringan dilakukan beberapa kali sampai endapan terpisah
dari larutan. Setelah disaring, didapatkan larutan yang berwarna bening. Hal ini disebabkan
karena larutan dan endapan sudah terpisah dan penyaringan dilakukan secara sempurna. Larutan
yang didapatkan adalah larutan KCl. Sedangkan endapan yang tersaring di atas kertas saring
berwarna kuning.
Selanjutnya, kertas saring diambil beserta endapannya untuk dikeringkan selama satu malam.
Pengeringan dilakukan untuk memisahkan air, sehingga molekul molekul air yang yang terikat
pada endapan terlepas,selain itu endapannya juga menjadi lebih murni.
Endapan yang telah dikeringkan tersebut kemudian ditimbang bersama kertas saring, hasil
penimbangan didapatkan bahwa beratnya 0,6944 gr dan berat nyata endapan BaCrO4adalah
1,375 gr dan presentase hasil yang didapatkan adalah 11,12 %. Presentase hasil yang didapatkan
sangat jauh dari 100 %. Kemungkinan disebabkan adanya kesalahan pada saat penyaringan, di
mana ada endapan atau sisanya yang masih tertinggal pada gelas kimia, sehingga menyebabkan
hasil (berta nyata) yang didpatkan kurang dari berat nyata yang seharusnya.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :
Pengendapan Barium klorida didapat dari reaksi pengendapan Barium klorida dengan Kalium
kromat dan menghasilkan endapan Barium kromat dan larutan Kalium klorida
Pengendapan terjadi apabila hasil kali konsentrasi ion ion senyawanya lebih besar dari pada
hasil kali kelarutannya.
Penambahan ion CrO42- dan K2CrO4 akan menggeser kesetimbangan ke arah kiri dan
menyebabkan endapan BaCrO4 terus terbentuk.
Untuk memperoleh endapan murni BaCrO4, dilakukan penyaringan ketika larutan masih panas
agar sisa sisa endapan tidak tertinggal di dalam gelas kimia.
Hasil teoritis Barium kromat dapat dihitung berdasarkan perbandingan mol dan koefiseian pada
persamaan reaksi.
Presentase hasil Barium kromat dapat dihitung menggunakan rumus berikut :
% hasil baCrO4 = berat nyata x 100 %
berat teorits
Hasil presentase yang didapat jauh dari 100 % yaitu 11,12 %, disebabkan adanya kesalahan
praktikan pada waktu percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia.1993.Penuntun Dasar Dasar Praktikum Kimia.Jakarta :Depdikbud.
Achmad, Hiskia. 1991.Stoikiometri Energetika Kimia.Bandung:PT. Citra Aditya Bakti.
Respati.1986.Dasar Dasar Ilmu Kimia.Yogyakarta:UGM.
Rival, harizzul.1995.Asas Pemeriksaan Kimia.jakarta:UI.Press.
Sudarmo, unggul.2007.Kimia Untuk SMA Kelas XI.Surakarta:Phibetta.
Syukri,S.1999.Kimia Dasar I.bandung:ITB.
Syahmani.2010.Panduan Praktikum Kimia Dasar.Banjarmasin:FKIP Unlam.

LAMPIRAN
-Berat nyata BACrO4
Diketahui : berat kertas saring = 0,5413 gr
Berat kertas saring + endapan = o,6944 gr
Jadi, berat nyata endapan BaCrO4 adalah
= (berat kertas saring + endapan) berat kertas saring
= 0,6944 0,5413
=0,1531 gr
-Berat teoritis endapan BaCrO4
Diketahui : berat BaCl2 = 1,1297 gr
Mr BaCl2 =208,24
Mr BaCrO4 =253,34
Persamaan reaksi :
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2 KCl
-Mol BaCl2 = massa BaCl2
Mr BaCl2
= 1,1297
208,24
= 0,0054 mol
Mol BaCrO4 = koefisien BaCrO4 X mol BaCl2
koefisien BaCl2
=1/1 x 0,0054 mol
=0,0054 mol
Berat teoritis BaCrO4 = mol BACrO4 X Mr BaCrO4
= 00054 X 253,34
= 1,357 gr
-Persentase hasil BaCrO4
Diketahui : berat nyata = 0,1531 gr
berat teoritis = 1,375 gr
persentase hasil BaCrO4 = berat nyata X 100%
berat teoritis
= 0,1531 X 100 %
1,375
= 11,12 %

* Pertanyaan
Mengapa pada percobaan filtrate hasil penyaringan ada yang berwarna putih (bening) dan ada
yang berwarna kekuningan ?
Jawab :
Karena kemungkinan ada kesalahn pada saat penyaringan, dan juga pada saat pemanasan. Sudah
diangkat dari api sebelum mendidih sehingga partikel partikelnya masih kecil ( belum menjadi
besar ) dan bisa lolos melewati kertas saring. kemungkinan juga pada saat penambahan atau
penetesan K2CrO4 endapan masih terbentuk (reaksi belum mencapai kesetimbangan) sehingga
masih ada ion ion kromat yang melarut, seharusnya K2CrO4 terus diteteskan sampai endapan
tidak terbentuk lagi (sudah mencapai kesetimbangan).

Gambar Gambar Percobaan Analisis Melalui Pengendapan

FLOW CHART
PERCOBAAN V
ANALISIS MELALUI PENGENDAPAN
Menimbang
Memasukkan ke dalam gelas piala 250 ml
Menambahkan
Mengaduk aduk sampai larutan homogen

Mencampurkan
Mengaduk aduk
mengamati

menguji larutan hingga larutan dari BaCrO4 tidak terbentuk lagi


- memanaskan sampai mendidih
- mengangkat dari api
menyaring dengan kertas saring yang telah ditimbang massanya
- mengambil kertas saring dan endapan
- mengeringkan
- menimbang
-mencatat bobotnya
* menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan menentukan presentase hasilnya dengan
rumus : % hasil BaCrO4 = berat nyata X 100 %
berat teoritis
PERCOBAAN VI
Judul : Titrasi Asam Basa
Tujuan : Menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa dengan menggunakan titrast asam
basa dengan indicator dan pH meter
Hari / Tanggal : sabtu / 11 desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia PMIPA FKIP unlam Banjarmasin
I. DASAR TEORI
Teori Asam Basa Menurut Arrhenius, Bronsted- Lowry dan Lewis
Teori Asam-Basa Arrhenius
Dalam tahun 1887 Svante Arrhenius mempostulatkan bahwa bila molekul elektrolit dilarutkan
dalam air, akan terbentuk ion-ion negative dan positif. Menjelang akhir abad ke-19 definisi asam
dan basa dinyatakan dalam teori pengionan Arrhenius. Asam Arrhenius ialah zat yang melarut ke
dalam air untuk memberikan ion-ion H+, dan basa Arrhenius ialah zat yang melarut ke dalam air
untuk memberikan ion-ion OH-. ( Keenan, 1984: 408)
Asam
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+. Dengan kata lain,
pembawa sifat asam adalah ion H+. Asam Arrhenius dapat dirumuskan sebagai HxZ dan dalam
air mengalami ionisasi sebagai berikut.
HxZ xH+ (aq) + Zx- (aq)
Contoh :
Asam cuka (CH3COOH) dan asam klorida (HCl) di dalam air mengion sebagai berikut.
CH3COOH (aq) CH3COO- (aq) + H+ (aq)

HCl (aq) H+ (aq) + Cl- (aq)


Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh satu molekul asam disebut valensi asam, sedangkan
ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+ disebut ion sisa asam. Nama asam
sama dengan nama ion sisa asam dengan didahului kata asam.
Basa
Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida
(OH-). Jadi, pembawa sifat, basa adalah ion OH-. Basa Arrhenius merupakan hidroksida logam,
dapat dirumuskan sebagai M(OH)x, dan dalam air mengion sebagai berikut.
M(OH)x (aq) Mx+ (aq) + xOH- (aq)
Jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa.( Michael
Purba, 2007: 172)
Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry
Pada tahun 1923, Johanes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry dalam waktu yang bersamaan,
walaupun bekerja sendiri-sendiri, mengajukan konsep asam-basa berdasarkan pemindahan
proton (H+). Menurut bronsted dan Lowry, asam adalah spesi yang memberi proton, sedangkan
basa adalah spesi yang menerima proton pada suatu reaksi pemindahan proton.
Asam Bronsted-Lowry = donor proton
Basa Bronsted-Lowry = akseptor proton
Perhatikan beberapa contoh berikut.
HCl (benzene) + NH3 (benzene) NH4Cl (s)
Asam Basa
NH4+ (aq) + H2O (l) NH3 (aq) + H3O+ (aq)
Asam Basa
HSO4- (aq) + CO32- (aq) SO42- (aq) + HCO3- (aq)
Asam Basa
H2O (l) + NH3 (aq) NH4+ (aq) + OH- (aq)
Asam Basa
Pada contoh-contoh di atas, terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam (donor proton) dan
sebagai basa (akseptor proton). Zat atau spesi seperti itu bersifat amfiprotik.
Sifat amfiprotik dari air dapat menjelaskan sifat asam-basa suatu zat dalam air. Zat yang bersifat
asam memberi proton kepada molekul air, sedangkan zat yang bersifat basa menarik proton dari
molekul air.
Konsep asam-basa dari Bronsted dan Lowry ini lebih luas daripada konsep asam-basa Arrhenius
karena:
Konsep asam-basa daari Bronsted-Lowry tidak terbatas dalam pelarut air, tetapi juga
menjelaskan reaksi asam-basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi tanpa pelarut.
Asam dan basa dari Bronsted-Lowry tidak hanya berupa molekul tetapi dapat juga berupa kation
atau anion. Konsep asam-basa dari Bronsted dan Lowry dapat menjelaskan, misalnya, sifat asam
dari NH4Cl. Dalam hal NH4Cl, yang bersifat asam adalah ion NH4+ karena dalam air dapat
melepas proton.( Michael Purba, 2007: 195)
Teori Asam-Basa Lewis
Gilbert N. Lewis memberikan pengertian asam dan basa berdasarkan serah terima pasangan
elektron sebagai berikut.
Asam : Akseptor pasangan elektron

Basa : Donor pasangan elektron


NH3 + H+ NH4+
Jadi, pada persamaan di atas, NH3 adalah suatu basa karena memberi pasangan elektron,
sedangkan ion H+ adalah suatu asam karena menerima pasangan elektron. Semua asam - basa
Arrhenius maupun asam-basa Bronsted-Lowry memenuhi pengertian asam basa Lewis.
Konsep asam-basa Lewis dapat menjelaskan reaksi-reaksi yang bernuansa asam-basa meskipun
tidak melibatkan proton (ion H+), misalnya reaksi antara oksida basa dengan oksida asam.
Contoh :
CaO + CO2 CaCO3 ( Michael Purba, 2007: 199)
Titrasi Asam dan Basa
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan
diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis.
( Keenan, 1984: 422)
Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa
berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa
dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara
stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer
yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant,
volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Titrasi Asam Basa Menggunakan Indikator
Titrasi ini berdasarkan reaksi netralisasi asam dengan basa, pada titik ekivalen (sama tepat atau
sesuai) dengan jumlah basa yang dipakai, untuk menentukan titik ekivalen ini biasanya dipakai
suatu indkator asam basa, yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung pada pH
larutan. Macam indikator yang kita pilih harus sedemikian sehingga pH pada titik ekivalen titrasi
terdapat pada daerah perubahan warna indikator, jika pada suatu titrasi dengan indikator tertentu
terjadi perubahan warna maka titik akhir telah tercapai. Jadi, titik akhir titrasi adalah saat
timbulnya perubahan warna indikator yang dipakai. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit
dengan titik ekivalen dan selisihnya disebut kesalahan titrasi.
Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa diperlukan suatu larutan baku yaitu
suatu larutan yang diketahui konsentrasinya dan biasanya berupa larutan asam basa yang mantap
(konsentrasinya tidak berubah). Sebagai larutan baku primer dapat dipakai larutan asam oksalat.
(Tim Kimia Dasar, 26: 2010)
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein. Tabel
berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.
pH < 0 08.2 8.212.0 >12.0
Kondisi Sangat asam Asam atau mendekati netral Basa Sangat basa
Warna Jingga Tidak berwarna pink keunguan Tidak berwarna
Gambar
Titrasi Asam Basa Menggunakan pH Meter
pH meter adalah alat yang dapat digunakan untuk menentukan pH larutan sevara mudah,
sederhana dan cepat pH meter juga dapat digunakan untuk mengikuti titrasi asam basa, dalam hal

ini dapat dianggap suatu indikator tertentu. Pada dasarnya pH meter terdiri atas dua elektroda
dan satu voltmeter untuk mengukur beda potensial (antara potensial dalam elektroda pertama dan
potensial elektroda yang lain), salah satu elektroda disebut elektroda indikator yang peka
terhadap keasaman disebut elektroda referensi. Respon pada elektroda indikator menyebabkan
pergeseran pada voltmeter yang tertera terhadap skala pH. (Tim Kimia Dasar, 26: 2010)
2.3 Perubahan pH pada Titrasi Asam-Basa (Kurva Titrasi)
pH akan naik ketika suatu larutan asam ditetesi dengan larutan basa. Sebaliknya jika larutan basa
ditetesi dengan larutan asam maka pH larutan akan turun. Grafik yang menyatakan perubahan
pH pada titrasi asam dengan basa (atau sebaliknya) disebut kurva titrasi. Bentuk kurva titrasi
bergantung pada kekuatan asam dan basa yang direaksikan. Ada tiga jenis titrasi, yaitu :
Titrasi asam kuat dengan basa kuat,
Titrasi asam lemah dengan basa kuat, dan
Titrasi basa lemah dengan asam kuat.
Titrasi asam lemah dengan basa lemah atau sebaliknya, tidak dianjurkan karena reaksinya
berlangsung lambat dan tidak tuntas.
Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat diberikan pada gambar di bawah ini. Gambar tersebut
menunjukkan perubahan pH ketika larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M.
Mengalirkan basa pada asam
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kurva di atas adalah :
Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit, tetapi perubahan yang cukup drastis terjadi
sekitar titik ekivalen. Kurva memperlihatkan bahwa sedikit sebelum dan sedikit sesudah titik
ekivalen, terjadi perubahan pH dari sekitar 3 menjadi 12.
pH naik seiring dengan penambahan NaOH tetes demi tetes.
Titik ekivalen, pH larutan pada saat asam dan basa tepat habis bereaksi, adalah 7 (netral).
Untuk menunjukkan titik ekivalen dapat digunakan indikator metil merah, bromtimol biru, atau
fenolftalein. Indikator-indikator itu mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Oleh
karena perubahan warna indikator fenolftalein lebih tajam (lebih mudah diamati), maka indikator
fenolftalein lebih sering digunakan.
Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat, dalam hal ini larutan CH3COOH 0,1 M dengan
larutan NaOH 0,1 M, ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Mengalirkan alkali pada asam
Dari kurva tersebut dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Permulaan kurva menunjukkan kenaikan pH yang relatif cepat tetapi mereda seiring dengan
pembentukan larutan penyangga yang mengandung asam etanoat dan natrium etanoat.
Titik ekivalen berada di atas 7, yaitu antara 8 10.
Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih sempit, hanya sekitar 4 satuan, yaitu
dari pH 7 hingga pH 11.
Titrasi basa lemah dengan asam kuat

Perubahan pH pada penetralan basa lemah oleh asam kuat, misalnya larutan NH3 0,1 M yang
ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M, ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Mengalirkan asam pada basa
Dari kurva tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pada bagian permulaan kurva, pH menurun dengan cepat seiring dengan penambahan asam,
tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat kecuraman yang berkurang. Hal ini karena
terbentuk larutan penyangga sebagai akibat dari kelebihan amonia dan pembentukan amonium
klorida.
Titik ekivalen, pH larutan pada penetralan basa lemah oleh asam kuat, berada di bawah 7.
Lonjakan pH disekitar titik ekivalen juga lebih sempit, hanya sekitar 4 satuan, yaitu dari pH 7
hingga pH 3.
Harus diperhatikan bahwa titik ekivalen sekarang sedikit bersifat asam (sedikit lebih kecil
daripada pH 5), karena amonium klorida murni tidak netral. Karena itu, titik ekivalen tetap turun
sedikit curam pada kurva. Hal itu akan menjadi sangat penting dalam pemilihan indikator yang
tepat.
II. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan :
Buret 50 ml 1 buah
Pipet tetes 4 buah
Gelas kimia 2 buah
Statif dan klem 1 buah
Erlenmeyer 100 ml 2 buah
Gelas ukur 4 buah
pH meter tangan 1 buah
Botol semprot 1 buah
Bahan bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :
Larutan NaOH 0,1 N
Larutan CH3COOH 0,1 N
Larutan HCl 0,1 N
Larutan Asam Oksalat 0,1 N
Indikator pp (fenolftalein)
Larutan buffer pH 4 dan 7

III. PROSEDUR KERJA


Titrasi asam basa dengan menggunakan indicator
Pembuatan larutan

Membuat larutan baku primer asam oksalat ( H2C2O4. 2H2O ) 0,1 N ( Mr = 126,07 ) dan massa
ekivalen = Mr/2 = 63,035 gr dengan menimbang 6,3035 gr dan melarutkan ke dalam aquadest
pada labu ukur 1000 ml.
Membuat larutan NaOH 0,1 N sebanyak 100 ml.
Standarisasi larutan NaOH
Standarisasi larutan NaOH yaitu menentukan konsentrasi NaOH yang dibuat, sesuai dengan hasil
titrasi dengan larutan baku asam oksalat.
Buret yang bersih dibilas dengan larutan NaOH yang dipakai sebanyak 3 kali, kemudian diisi
dengan NaOH sampai batas.
Memasukkan masing-masing 10 ml asam oksalat 0,1 M yang telah ditetesi 4 tetes indikator
phenoftalein (pp) kedalam 2 labu titrasi (erlenmeyer 100 ml).
Mencatat keadaan kolom buret yang berisi NaOH sebagai volume awal NaOH. Meneteskan
NaOH ke dalam larutan asam oksalat dengan hati-hati setets demi setetes sambil menggoyanggoyangkan labu erlenmeyer sampai terjadi perubahan warna yang paling awal (warna merah
sangat muda). Mencatat volume akhir NaOH.
Mencatat jumlah NaOH yang digunakan yaitu selisih antara keadaan akhir dan keadaan awal
volume NaOH.
Melakukan kegiatan di atas sebanyak dua kali dan mengambil rata-rata jumlah NaOH yang
terpakai, kemudian menghitung konsentrasi larutan NaOH yang sebenarnya dengan rumus :
keterangan :
V = Volume
N = Normalitas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH (pada basa)
Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah distandarisasi
Mengambil 10 ml asam lemah CH3COOH 0,1 N ke dalam labu erlenmeyer 100 ml dan
menambah 4 tetes indikator pp.
Mencatat volume awal NaOH pada buret yang merupakan sisa kegiatan 2 (dua).
Meneteskan NaOH dari buret ke dalam labu erlenmeyer sampai terjadi perubahan warna paling
awal. Ketika meneteskan NaOH ke dalam labu, maka kita harus menggoyang-goyangkan labu
tersebut. Mencatat volume akhir NaOH dan menghitung volume NaOH yang terpakai.
Menghitung konsentrasi asam dan membuat kurva titrasi hubungan antara volume NaOH (absis)
versus pH larutan (ordinat).
Mengulangi kegiatan 1-3 untuk asam kuat HCl 0,1 M.
Titrasi Asam Basa Dengan Menggunakan pH Meter.
Memasukkan 20 ml HCl kedalam gelas kimia 200 ml.
Mengukur pH dengan pH meter kemudian memasukkan 2 ml NaOH dengan buret.
Mengaduk larutan kemudian mengukur pHnya, menjelang titik ekivalen basa yang ditambahkan
hanya beberapa tetes, asisiten akan menjelaskan pengerjaan yang tepat.
Mengulang kegiatan diatas untuk asam lemah CH3COOH 0,1 N.
Membuat kurva titrasi dengan mengalurkan pH terhadap volume NaOH yang ditambahkan.
Volume Penetrasi pH

Cara penulisan volume penitrasi


Skala akhir = a ml
Skala mula-mula = b ml
Volume Penetrasi = (a-b) ml
Membuat kurva titrasi pada kertas grafik dengan mengalurkan pH terhadap volum NaOH yang
ditambahkan. ( volume NaOH sebagai absis dan pH sebagai ordinat)
IV. HASIL PENGAMATAN
Titrasi asam basa dengan menggunakan indikator
Standarisasi larutan NaOH
No Perlakuan Hasil pengamatan
1 -Membilas buret dengan NaOH sebanyak 3 kali.
-Mengisi dengan NaOH sebanyak 25 ml
-Warna larutan bening
2 Memasukkan 10 ml H2C2O4. 2H2O kedalam 2 erlenmeyer ditambah dengan 2 tetes indikator
pp -Warna larutan bening
3 Meneteskan NaOH dari buret kedalam larutan asam oksalat dan menggoyang perlahan (larutan
H2C2O4. 2H2O + 2 tetes indikator pp + tetesan NaOH) -Warna larutan berubah menjadi merah
muda
4 Mencatat jumlah NaOH yang digunakan -Erlenmeyer 1 = 8 ml
-Erlenmeyer 2 = 6 ml
Rata-rata volume NaOH yang digunakan 7 ml
Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah di standarisasi.
CH3COOH
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1 Mengambil 10 ml asam lemah CH3COOH 0,1 N kedalam erlenmeyer 100 ml dan
menambahkan 2 tetes indikator pp -Warna larutan bening
2 Mengisi NaOH kedalam buret -Warna larutan bening
3 Larutan CH3COOH + 2 tetes indikator pp + tetesan larutan NaOH -Warna larutan berubah
menjadi merah muda
HCl
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1 Mengambil 10 ml asam lemah HCl 0,1 N kedalam erlenmeyer 100 ml dan menambahkan 2
tetes indikator pp -Warna larutan bening
2 Mengisi NaOH kedalam buret -Warna larutan bening
3 Larutan HCl + 2 tetes indikator pp + tetesan larutan NaOH -Warna larutan berubah menjadi
merah muda

Asam Konsentrasi asam NaOH yang dipakai


CH3COOH 1,34.10-3 N 4 ml
HCl 0,07 N 7ml
Titrasi asam basa dengan menggunakan pH-meter
HCl
Volume HCl 20 ml pH HCl 1.8
Volume NaOH yang ditambah pH percobaan
2 ml 1,9
2,5 ml 1,9
3 ml 2,0
3,5 ml 2,0
4,5 ml 2,1
5,5 ml 2,2
6,5 ml 2,1
7,5 ml 2,1
8,5 ml 2,2
9,5 ml 2,3
10,5 ml 2,4
11,5 ml 2,6
12,5 ml 3
13,5 ml 11,2
14,5 ml 11,9

CH3COOH
Volume CH3COOH 20 ml pH CH3COOH 3,6
Volume NaOH yang ditambah pH percobaan
1ml 4,4
2 ml 4,8
2,5 ml 4,9
3 ml 5,1
3,5 ml 5,2
4 ml 5,4
4,5 ml 5,5
5 ml 5,9
5,25 ml 6,3
5,5 ml 7
5,75 ml 11,1

V. ANALISIS DATA
Titrasi Asam Basa dengan menggunakan Indikator
Standarisasi larutan NaOH

Dalam praktikum laboratorium sering dilakukan standarisasi suatu larutan dari asam dan suatu
larutan dari basa yang selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis sampel-sampel asam dan
basa yang tidak diketahui. Tujuan dari standarisasi larutan adalah untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan.
Pada percobaan ini, larutan asam oksalat dicampur dengan larutan NaOH serta indikator PP.
Untuk menambahkan larutan NaOH kedalam larutan asam oksalat harus dilakukan setetes demi
setetes agar saat tercapainya titik akhir reaksi titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan
yaitu warna larutan menjadi merah muda disebabkan oleh indikator PP (phenolftalein) yang
diteteskan sebelum reaksi.
Larutan NaOH dan asam oksalat pada saat titrasi berlangsung, titik ekivalennya tercapai tidak
pada titik akhir reaksi karena terjadinya reaksi antara asam dan basa yang terhidrolisis sebagian
akibat terjadi reaksi antara asam lemah dan basa kuat.
Perbedaan titik ekivalen dengan titik akhir titrasi adalah titik ekivalen yaitu titik dimana
konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa, sedangkan titik akhir titrasi yaitu titik dimana
titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator.
Setelah melakukan standarisasi larutan NaOH, maka dengan menggunakan rumus berikut:
V1.N1 = V2.N2
Didapat konsentrasi NaOH sesuai hasil filtrasi dengn larutan baku asam oksalat yaitu 0,143 N.
Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah distandarisasi.
Titrasi NaOH terhadap CH3COOH
Pada reaksi ini, terjadi reaksi antara basa kuat (NaOH) dengan asam lemah (CH3COOH) .
Persamaan reaksi antara asam lemah dengan basa kuat sebagai berikut.
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Garam yang tersusun pada larutan ini akan terhidrolisis sebagian (hanya anion yang
terhidrolisasi). Pada titrasi asam asetat dengan NaOH titik ekivalen tidaklah tepat pada titik akhir
titrasi karena terjadi antara asam lemah dengan basa kuat, titik akhir titrasi tercapai ketika pH di
atas 7 atau daerah basa.
Hal ini terjadi karena konsentrasi OH- lebih banyak dibandingkan H+ yang dihasilkan oleh asam
asetat jumlahnya sedikit karena tergolong asam yang sukar melepaskan ion H+ sedangkan NaOH
termasuk basa kuat yang mudah melepaskan ion OH-.
[H+] = Ka. Asam
Basa
Pada percobaan ini termasuk alkalimeter karena basa kuat menitrasi asam lemah. Persamaan
reaksi yang terjadi pada percobaan adalah sebagai berikut.
CH3COOH CH3COO- + H+
CH3COONa Na+ + CH3COOCH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Pada reaksi pertama hampir semua asam asetat tidak terionisasi karena adanya pengaruh asetat
yang beras dari ion natrium asetat. Pada reaksi kedua, natrium asetat tersebut mendesak ion
asetat yang terjadi dalam reaksi pertama. Akibatnya reaksi pertama di atas bergeser kekiri
sehingga harga pH bergantung pada asam dan garamnya. Basa NaOH dalam larutannya akan
terionisasi menghasilkan OH- menurut reaksi:
NaOH Na+ + OHDengan menambahkan indikator PP ke dalam larutan CH3COOH dan menambahkan larutan
NaOH, maka larutan berubah menjadi warna pink. Hal ini terjadi karena PP secara khusus
menentukan keberadaan basa, sehingga saat dicampur dengan ion OH-, struktur kimianya

berubah, dan menentukan warna merah muda. Indikator PP dalam sistem hanya sedikit
berpengaruh pada volume kesetaraan reaksi.
Penambahan NaOH kedalam larutan CH3COOH menyebabkan bertambahnya NaOH kedalam
larutan CH3COOH menyebabkan bertambahnya ion H+ maka asam asetat akan mengion lebih
banyak sehingga perubahan pH sangat kecil tetapi setelah ekivalen, perubahan pH mendadak
naik tajam, hal ini dikarenakan oleh pH larutan yang ditentukan oleh kelebihan ion OH-.
Jadi reaksi antara CH3COOH dengan NaOH terjadi bukan hidrolisis sempurna, melainkan
hidrolisis sebagian yaitu terjadi antara asam lemah dan basa kuat.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapat bahwa jumlah rata-rata NaOH yang terpakai adalah 7 ml.
Dengan didapatnya volume rata-rata ini, maka kita dapat menghitung konsentrasi asamnya
dengan menggunakan rumus :
V1.N1 = V2.N2
Jadi konsentrasi CH3COOH adalah 1,34.10-3 N.
Titrasi NaOH dengan HCl
Pada reaksi ini terjadi terjadi reaksi asam kuat dan basa kuat :
HCl + NaOH NaCl + H2O
Ketika larutan HCl ditambahkan indikator PP dan beberapa ml NaOH, maka terjadi perubahan
warna pada larutan yaitu warnanya berubah menjadi merah muda dan tercapai titik ekivalen
karena pada penambahan NaOH ini, HCl dan NaOH habis bereaksi dan pH larutan menjadi 7,
dan ini sesuai dengan teori bahwa pereaksian larutan asam kuat dengan basa kuat menghasilkan
garam yang bersifat netral dan pH-nya 7.
Harga pH bergantung pada asam atau basa yang berlebih jumlahnya. Bila asam yang berlebih
maka pH larutan menjadi rendah, sedangkan bila basa yang berlebih pH larutan menjadi tinggi.
Titrasi antara HCl dengan NaOH tidak mengalami hidrolisis karena reaksi yang terjadi adalah
antara asam kuat dan basa kuat. Asam kuat dengan basa kuat terurai sempurna dalam larutan
berair. Oleh karena itu, pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah
asam atau basa yang bereaksi. Hal ini menyebabkan titik akhir titrasi akan hampir berimpit
dengan titik ekivalen.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapat bahwa jumlah NaOH yang terpakai untuk HCl adalah 4
ml. Dengan adanya volume ini, maka kita dapat mengetahui konsentrasi asam dengan rumus
berikut.
V1.N1 = V2.N2
Jadi konsentrasi HCl yang didapat adalah 0,07 N.
Titrasi Asam Basa dengan menggunakan PH meter
Pada percobaan ini menggunakan pH meter untuk menentukan pH larutan, pada umumnya
menggunakan pH meter lebih sulit dibandingkan titrasi dengan memakai indikator asam basa
disebabkan memudahkan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Tetapi
dengan menggunakan pH meter didapatkan nilai pH dengan ketelitian tinggi.

Perbedaan hasil perhitungan dan percobaan dengan menggunakan pH meter mungkin disebabkan
karena pengukuran pH meter yang tidak tepat atau pengaruh penambahan ion H atau OH- pada
saat penetralan sebelum pH meter ini digunakan.

Untuk titrasi asam kuat HCl, rentang pH yang diperoleh apabila diteteskan sekitar 20 tetes adalah
naik 0,1. Namun setelah titik ekivalen ketika penambahan NaOH sudah mencapai 14,5 L,
rentang pH nya mencapai + 11, saat inilah titrasi dihentikan. Pada titik ekivalen, pH larutan
mendekati normal, yaitu 7. Jadi titik ekivalen terjadi pada saat asam kuat dan basa kuat tepat
habis bereaksi (tercapai kesetimbangan). Reaksinya tidak mengalami hidrolisis, karena asam
kuat dan basa kuat terurai sempurna di dalam air.
Untuk titrasi CH3COOH dan NaOH, rentang pH yang diperoleh setiap penambahan 5 tetes
NaOH adalah naik 0,1. Namun pada saat menjelang titik ekivalen, rentang pHnya naik lumayan
besar. Titik ekivalen diperoleh pada pH > 7, karena merupakan reaksi antara asam lemah dan
basa kuat. Reaksi antara CH3COOH dan NaOH ini merupakan reaksi hidrolisis sebagian.
Rentang pH pada titik ekivalen adalah 7 < pH < 10,5. VI. KESIMPULAN Sifat asam atau basa
bisa ditunjukkan dengan angka yang dikenal sebagai pH atau pOH. Tercapainya titik titrasi
ditandai dengan berubahnya warna larutan, perubahan warna tersebut disebabkan oleh indicator
metal merah, bromtimol biru, atau phenolftalien (pp). akan tetapi phenolftalien lebih sering di
gunakan karena perubahan warna phenolftalien lebih muda diamati. Jika larutan asam ditetesi
dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik. Sebaliknya, jika larutan basa ditetesi dengan
larutan asam, maka pH larutan akan turun. Semakin besar volume larutan, maka semakin besar
pula pH dari larutan tersebut. VII.DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Hiskia. 2003. Penuntun Dasar
Dasar Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud. Ahmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar
Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud. Anonim. 2008. Indikator Asam Basa (online).
http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/SRIYANI(050679)/materi_5.html.
Diakses tanggal 29 Desember 2010. Clark, Jim. 2007. Kurva pH titrasi (online).
http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/kurva_ph_titrasi/. Diakses
tanggal 29 Desember 2010. Dosen-dosen kimia perguruan tinggi. Penuntun Praktikum Kimia
Dasar. Jakarta: HEDS. Oxtoby, David W. 1999. Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga. R.A.
Day, Underwood. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Syahmani. 2010. Panduan
Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin: FKIP Unlam. Syukri, S. 1994. Kimia Dasar 2. Bandung:
ITB. LAMPIRAN Perbandingan pH hasil percobaan dan pH hasil perhitungan Volume HCl Ph
20 ml 1,8 Volume NaOH yang ditambah pH percobaan pH perhitungan 2 ml 1,9 1,1 2,5 ml 1,9
1,11 3 ml 2,0 1,13 3,5 ml 2,0 1,15 4,5 ml 2,1 1,21 5,5 ml 2,2 1,25 6,5 ml 2,1 1,31 7,5 ml 2,1 1,35
8,5 ml 2,2 1,4 9,5 ml 2,3 1,46 10,5 ml 2,4 1,50 11,5 ml 2,6 1,58 12,5 ml 3 1,63 13,5 ml 11,2 1,72
14,5 ml 11,9 1,85 Volume CH3COOH pH 20 ml 3,6 Volume NaOH yang ditambah pH
percobaan pH perhitungan 1ml 4,4 3,72 2 ml 4,8 4,05 2,5 ml 4,9 4,16 3 ml 5,1 4,25 3,5 ml 5,2
4,33 4 ml 5,4 4,4 4,5 ml 5,5 4,47 5 ml 5,9 4,53 5,25 ml 6,3 4,55 5,5 ml 7 4,59 5,75 ml 11,1 4,61
PERHITUNGAN Titrasi HCl oleh NaOH Reaksi : HCl + NaOH NaCl + H2O Diketahui : V
HCl = 20 mL [HCl] = 0,1 M [NaOH] = 0,1 M Ditanya : a. pH mula-mula? b. pH setelah
penambahan? Penyelesaian : [H+] = M . = 0,1 . 1 = 0,1 M pH = - log [H+] = - log 0,1 = 1 1.
Penambahan 2 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2 mL = 0,2
mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,2 mmol Reaksi : 0,2 mmol 0,2 mmol 0,2
mmol 0,2 mmol Sisa : 1,8 mmol - 0,2 mmol 0,2 mmol Volume Total = 20 + 2 = 22 mL [H^+ ]=
n/V= (1,8 mmol)/(22 mL)=0,08 M pH= -log[H^+ ]= -log0,08=1,1 Jadi pH setelah
penambahan 2 mL NaOH adalah 1,1 Penambahan 2,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2
mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2,5 mL = 0,25 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol
0,25 mmol Reaksi : 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol Sisa : 1,75 mmol - 0,25 mmol
0,25 mmol Volume Total = 20 + 2,5 = 22,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,72 mmol)/(22,5 mL)=0,077 M

pH= -log[H^+ ]= -log0,077=1,11 Jadi pH setelah penambahan 2,5 mL NaOH adalah


1,11 Penambahan 3 ml NaOH Mol HC = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3 mL =
0,3 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,3 mmol Reaksi : 0,3 mmol 0,3 mmol
0,3 mmol 0,3 mmol Sisa : 1,7 mmol - 0,3 mmol 0,3 mmol Volume Total = 20 + 3 = 23 mL
[H^+ ]= n/V= (1 ,7mmol)/(23 mL)=0,074 M pH= -log[H^+ ]= -log0,074=1,13 Jadi pH
setelah penambahan 3 mL NaOH adalah 1,13 Penambahan 3,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20
mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3,5 mL = 0,35 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2
mmol 0,35 mmol Reaksi : 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol Sisa : 1,65 mmol - 0,35
mmol 0,35 mmol Volume Total = 20 + 3,5 = 23,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,65 mmol)/(23,5
mL)=0,07 M pH= -log[H^+ ]= -log0,07=1,15 Jadi pH setelah penambahan 3,5 mL
NaOH adalah 1,15 Penambahan 4,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH
= 0,1 M x 4,5 mL = 0,45 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,45 mmol Reaksi :
0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol Sisa : 1,9 mmol - 0,45 mmol 0,45 mmol Volume
Total = 20 + 4,5 = 24,5 mL [H^+ ]= n/V= 01,9mmol/(24,5 mL)= 0,063M pH= -log[H^+ ]= log 0,063=1,21 Jadi pH setelah penambahan 4,5 mL NaOH adalah 1,21
Penambahan 5,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,5 mL =
0,55 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,55 mmol Reaksi : 0,55 mmol 0,55
mmol 0,55 mmol 0,55 mmol Sisa : 1,45 mmol - 0,55 mmol 0,55 mmol Volume Total = 20 + 5,5
= 25,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,45 mmol)/(25,5 mL)=0,057 M pH= -log[H^+ ]=
-log0,057=1,25 Jadi pH setelah penambahan 5,5 mL NaOH adalah 1,25 Penambahan 6,5
ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 6,5 mL = 0,65 mmol HCl
+ NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,65 mmol Reaksi : 0,65 mmol 0,65 mmol 0,65 mmol
0,65 mmol Sisa : 1,35 mmol - 0,65 mmol 0,65 mmol Volume Total = 20 + 6,5 =26,5 mL [H^+ ]=
n/V= 1,35mmol/(26,5 mL)=0,05 M pH= -log[H^+ ]= -log0,05=1,31 Jadi pH setelah
penambahan 6,5 mL NaOH adalah 1,31 Penambahan 7,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL =
2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 7,5 mL = 0,75 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol
0,75 mmol Reaksi : 0,75 mmol 0,75 mmol 0,75 mmol 0,75 mmol Sisa : 1,25 mmol - 0,75 mmol
0,75 mmol Volume Total = 20 + 7,5 = 27,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,25 mmol)/(27,5 mL)=0,045 M
pH= -log[H^+ ]= -log0,045=1,35 Jadi pH setelah penambahan 7,5 mL NaOH adalah
1,35 Penambahan 8,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 8,5
mL = 0,85 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,85 mmol Reaksi : 0,85mmol
0,85 mmol 0,85 mmol 0,85 mmol Sisa : 1,15 mmol - 0,85 mmol 0,85 mmol Volume Total = 20
+8,5 = 28,5 mL [H^+ ]= n/V= 1,15mmol/28,5mL=0,04 M pH= -log[H^+ ]= -log0,04=1,4
Jadi pH setelah penambahan 8,5 mL NaOH adalah 1,4 Penambahan 9,5 ml NaOH Mol HCl =
0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 9,5 mL = 0,95 mmol HCl + NaOH NaCl +
H2O Awal : 2 mmol 0,95 mmol Reaksi : 0,95 mmol 0,95 mmol 0,95 mmol 0,95 mmol Sisa : 1,05
mmol - 0,95 mmol 0,95 mmol Volume Total = 20 + 9,5 = 29,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,05 mmol)/
(29,5 mL)= 0,035 M pH= -log[H^+ ]= -log0,035=1,46 Jadi pH setelah penambahan
9,5 mL NaOH adalah 1,46 Penambahan 10,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol
Mol NaOH = 0,1 M x 10,5 mL = 1,05 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 10,5
mmol Reaksi : 10,5 mmol 10,5 mmol 10,5 mmol 10,5 mmol Sisa : 0,95 mmol - 10,5 mmol 10,5
mmol Volume Total = 20 + 10,5 = 30,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,95 mmol)/(30,5 mL)=0,031 M pH=
-log[H^+ ]= -log0,031 M=1,50 Jadi pH setelah penambahan 10,5 mL NaOH adalah
1,50 Penambahan 11,5 ml NaOH Mol HC = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 11,5
mL = 1,15 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,15 mmol Reaksi : 1,15 mmol
1,15 mmol 1,15 mmol 1,15 mmol Sisa : 0,85 mmol - 1,15 mmol 1,15 mmol Volume Total = 20 +

11,5 = 31,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,85 mmol)/(31,5 mL)=0,026 M pH= -log[H^+ ]=


-log0,026=1,58 Jadi pH setelah penambahan 11,5 mL NaOH adalah 1,58 Penambahan
12,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 12,5 mL = 1,25 mmol
HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,25 mmol Reaksi : 1,25 mmol 1,25 mmol 1,25
mmol 1,25 mmol Sisa : 0,75 mmol - 1,25 mmol 1,25 mmol Volume Total = 20 + 12,5 = 32,5 mL
[H^+ ]= n/V= (0,75 mmol)/(32,5 mL)=0,023 M pH= -log[H^+ ]= -log 0,023=1,63
Jadi pH setelah penambahan 12,5 mL NaOH adalah 1,63 Penambahan 13,5 ml NaOH Mol HCl =
0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 13,5 mL = 1,35 mmol HCl + NaOH NaCl +
H2O Awal : 2 mmol 1,35 mmol Reaksi : 1,35 mmol 1,35 mmol 1,35 mmol 1,35 mmol Sisa : 0,65
mmol - 1,35 mmol 1,35 mmol Volume Total = 20 + 13,5 = 33,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,65 mmol)/
(33,5 mL)=0,019 M pH= -log[H^+ ]= -log 0,019=1,72 Jadi pH setelah penambahan
13,5 mL NaOH adalah 1,72 Penambahan 14,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol
Mol NaOH = 0,1 M x 14,5 mL = 1,45 mmol HCl + NaOH NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,45
mmol Reaksi : 1,45 mmol 1,45 mmol 1,45 mmol 1,45 mmol Sisa : 0,5 mmol - 1,45 mmol 1,45
mmol Volume Total = 20 + 14,5 = 34,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,5 mmol)/(34,5 mL)=0,014 M pH=
-log[H^+ ]= -log 0,014=1,85 Jadi pH setelah penambahan 14,5 mL NaOH adalah 1,85
Titrasi CH3COOH oleh NaOH Reaksi : CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Diketahui :
V CH3COOH = 25 mL [ CH3COOH] = 0,1 M [NaOH] = 0,1 M Ditanya : a. pH mula-mula? b.
pH setelah penambahan? Penyelesaian : [H+] = (ka.Na) = 10-5- 10-2 = 10-6 = 10-3 pH = log [H+] = - log 10-3 = 3 1. Penambahan 1 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2
mmol Mol NaOH = 0,1 M x 1 mL = 0,1 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Awal : 2 mmol 0,1 mmol Reaksi : 0,1 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol Sisa : 1,9 mmol - 0,1
mmol 0,1 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa
asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol
garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,9 mmol)/(0,1 mmol)=1,9.10^(-4) pH = - log [H+] = log 1,9 . 10-4 = 3,72 Jadi pH setelah penambahan 1 mL NaOH adalah 3,72 Penambahan 2 ml
NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2 mL = 0,2 mmol
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,2 mmol Reaksi : 0,2 mmol 0,2
mmol 0,2 mmol 0,2 mmol Sisa : 1,8 mmol - 0,2 mmol 0,2 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa
asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan
(L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,8 mmol)/(0,2
mmol)=9.10^(-5) pH = - log [H+] = - log 9 . 10-5 = 4,05 Jadi pH setelah penambahan 2 mL
NaOH adalah 4,05 Penambahan 2,5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol
NaOH = 0,1 M x 2,5 mL = 0,25 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2
mmol 0,25 mmol Reaksi : 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol Sisa : 1,75 mmol - 0,25
mmol 0,25 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa
asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol
garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,75 mmol)/(0,25 mmol)=7.10^(-5) M pH = - log [H+]
= - log 7 . 10-5 = 4,16 Jadi pH setelah penambahan 2,5 mL NaOH adalah 4,16 Penambahan 3 ml
NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3 mL = 0,3 mmol
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,3 mmol Reaksi : 0,3 mmol 0,3
mmol 0,3 mmol 0,3 mmol Sisa : 1,7 mmol - 0,3 mmol 0,3 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa
asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan
(L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,7 mmol)/(0,3
mmol)=5,6.10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 5,6 . 10-5 = 4,25 Jadi pH setelah penambahan
3 mL NaOH adalah 4,25 Penambahan 3,5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol

Mol NaOH = 0,1 M x 3,5 mL = 0,35 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal :
2 mmol 0,35 mmol Reaksi : 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol Sisa : 1,65 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol
sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/
(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,65 mmol)/(0,35 mmol)=4,7.10^(-5 ) M pH = log [H+] = - log 4,7 . 10-5 = 4,33 Jadi pH setelah penambahan 3,5 mL NaOH adalah 4,33
Penambahan 4 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 4 mL
= 0,4 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,4 mmol Reaksi : 0,4
mmol 0,4 mmol 0,4 mmol 0,4 mmol Sisa : 1,6 mmol - 0,4 mmol 0,4 mmol "[" "H" ^"+" "] = "
Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)
(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) .
(1,6 mmol)/(0,4 mmol)=4.10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 4 . 10-5 = 4,4 Jadi pH setelah
penambahan 4 mL NaOH adalah 4,4 Penambahan ,54 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2
mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 4,5 mL = 0,45 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa
+ H2O Awal : 2 mmol 0,45mmol Reaksi : 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol Sisa :
1,55 mmol - 0,45 mmol 0,45 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]=
Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol
sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,55 mmol)/(0,45 mmol)=3,4.10^(-5)
M pH = - log [H+] = - log 3,4. 10-5 = 4,47 Jadi pH setelah penambahan 4,5 mL NaOH adalah
4,47 Penambahan 5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x
5 mL = 0,5 mmol CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,5 mmol
Reaksi : 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol Sisa : 1,5 mmol - 0,5 mmol 0,5 mmol "[" "H"
^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/
((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]=
10^(-5) . (1,5 mmol)/(0,5 mmol)=3 .10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 3 . 10-5 = 4,53
Jadi pH setelah penambahan 5 mL NaOH adalah 4,53 Penambahan 5,25 ml NaOH Mol
CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,25 mL = 0,525 mmol CH3COOH
+ NaOH CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,525 mmol Reaksi : 0,525 mmol 0,525 mmol
0,525 mmol 0,525 mmol Sisa : 1,475 mmol - 0,525 mmol 0,525 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ."
[sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot
larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,475
mmol)/(0,525 mmol)=2,8 .10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,8 . 10-5 = 4,55 Jadi pH
setelah penambahan 5,25 mL NaOH adalah 4.55 Penambahan 5,5 ml NaOH Mol CH3COOH =
0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,5 mL = 0,55 mmol CH3COOH + NaOH
CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,55 mmol Reaksi : 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55
mmol Sisa : 1,45 mmol - 0,55 mmol 0,55 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam]
["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L))) ["H"
^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . 1,45mmol/(0,55
mmol)=2,6 .10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,6 . 10-5 = 4,59 Jadi pH setelah
penambahan 5,5 mL NaOH adalah 4,59 Penambahan 5,75 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x
2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,75 mL = 0,575 mmol CH3COOH + NaOH
CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,575 mmol Reaksi : 0,575 mmol 0,575 mmol 0,575 mmol
0,575 mmol Sisa : 1,425 mmol - 0,575 mmol 0,575 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/
[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)(Vtot larutan (L)))/((mol garam)(Vtot larutan (L)))
["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 10^(-5) . (1,425 mmol)/(0,575
mmol)=2,48 .10^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,48 . 10-5 = 4,61 Jadi pH setelah

penambahan 5,75 mL NaOH adalah 4,61 Gambar gambar percobaan titrasi asam basa Gambar
yang kanan berhasil, yang kiri gagal Gambar setelah titrasi dilakukan (larutan berwarna pink
sangat muda) FLOW CHART PERCOBAAN VI TITRASI ASAM BASA Titrasi Asam Basa
dengan menggunakan Indikator Pembuatan Larutan Menimbang Melarutkan ke dalam labu ukur
1000 ml Membuat larutan Standarisasi larutan NaOH Menggunakan NaOH sebagai pembilas
buret yang akan dipakai sebanyak 3 kali Mengisi buret sampai batas Labu 1 Memasukkan ke
dalam labu 1 Menggoyang-goyangkan sampai terjadi perubahan warna Mencatat jumlah NaOH
yang digunakan Labu 2 Memasukkan ke dalam labu 2 Menggoyang-goyangkan sampai terjadi
perubahan warna Mencatat jumlah NaOH yang digunakan Melakukan kegiatan di atas sebanyak
2 kali Mengambil rata-rata jumlah NaOH yang terpakai Menghitung konsentrasi larutan NaOH
dengan rumus : V1 x N1 = V2 x N2 Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan
NaOH yang telah di standarisasi Memasukkan ke dalam Erlenmeyer100 ml Memasukkan
kedalam buret Mencatat keadaan awalnya Menentukan NaOH ke dalam larutan asam lemah
Mengamati perubahan yang terjadi Menghitung konsentrasi asam dan membuat kurva titrasi
hubungan antara volume NaOH (absis) versus pH larutan (ordinat) Mengulangi kegiatan 1-3
untuk asam kuat HCl Titrasi Asam Basa dengan menggunakan pH-meter Memasukkan ke dalam
gelas kimia 100 ml Memasukkan ke dalam buret Mengukur pH dengan pH meter Mengukur pH
dengan pH meter Meneteskan NaOH ke dalam larutan HCl Mengaduk-ngaduk Mengukur pH
campuran Menambahkan hanya beberapa tetes menjelang titik ekivalen basa Mengukur pH-nya
menjelang titik ekivalen Basa yang ditambahkan hanya beberapa tetes. Membuat kurva titrasi
pada kertas grafik dengan mengalurkan pH terhadap volume NaOH yang ditambahkan (volume
NaOH sebagai absis dan pH sebagai ordinat). PERCOBAAN VII Judul : Kesetimbangan
Tujuan : 1.Mempelajari kesetimbangan Pe(SCN)3 2.Mempelajari dan mengamati pengaruh zat
lain terhadap kesetimbangan Fe(SCN)3 Hari/tanggal : Senin/20 desember 2010 Tempat :
Laboratorium kimia FKIP UNLAM Banjarmasin DASAR TEORI Secara termodinamika reaksi
kimia dapat dibagi atas 3 macam,yaitu:reaksi spontan,reaksi tak spontan dan reaksi
kesetimbangan.Ketiga macam reaksi tersebut dikaitkan dengan perubahan energi bebas yang
menyertainya.Reaksi 06 egatif untuk reaksi spontan,06 positif untuk reaksi tak spontan dan
06=0bmaka reaksi dalam kesetimbangan. Dilihat dari cara berlangsungnya,reaksi kimia dibagi
dua,yaitu: Reaksi berkesudahan (reversible),yaitu reaksi yang berlangsung satu arah (->) artinya
zat-zat hasil reaksi tidak dapat dikembalikan membentuk reaktan.
Contoh:
Fe (s) + 2 HCl (aq) FeCl2 (aq) + H2 (q)
FeCl2 yang berbentuk jika direaksikan dengan gas H2 atau sebaliknya,tidak akan membentuk
kembali menjadi logam besi (Fe) dan HCl.
2. Reaksi dapat balik (reversible), reaksi dapat berlangsung dua arah ( ).
Pada umumnya reaksi kimia adalah reaksi kesetimbangan. Kesetimbangan adalah keadaan yang
terjadi jika laju reaksi ke kanan (maju) sama dengan laju reaksi ke kiri (balik). Reaksi
kesetimbangan dapat dikenla dari sifat makroskopik yang konstan dalam system tertutup (ayau
dapat dianggap sebagi system tertutup) pada temperature tertentu. Adalah bahan bahan lain
dalam larutan dapat mengganggu kesetimbangan larutan itu sendiri, misalnya ion ion lain dan
sebagainya.
Kesetimbangan terbagi dua, yaitu kesetimbangan homogeny (hanya satu fasa). Contoh :
- Kesetimbangan Sistem gas gas
2 SO2 (g) + O2 (g) 2 SO3 (g)
- Kesetimbangan system larutan larutan

NH4 OH(aq) NH4+ (aq) + OH- (aq)


Yang kedua adalah kesetimbangan heterogen(lebih dari satu fasa).
Contoh :
-Kesetimbangan sistem pada gas-gas
CaCO- (s) + Ca2O(s) + CO2(g)
-Kesetimbangan sistem pada larutan
BaSO(s) Ba2+ + SO42- kesetimbangan system larutan padat gas
Ca (HCO3) 2 (aq) CaCO3 (s) + H2O(i) + CO2(g)
Hukum kesetimbangan (Hukum Guldberg dan Wange)
Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tetap,maka hasil kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi
dibagi dengan hasil kali konsentrasi pereaksi yang sisa dimana masing-masing konsentrasi itu
dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap.
Dalam kesetimbangan,terdapat istilah kesetimbangan dinamis.Reaksi seakan-seakan
terhenti,tetapi sebenarnya reaksi terus berjalan,hanya jumlah mol zat perliter yang diubah dengan
mol zat perliter yang terbentuk.Kesetimbangan dinamis mempunyai ciri:
1.Pada saat kesetimbangan reaksi tidak terhenti.
2.Reaksi terus berlangsung dalam dua arah ( ) dengan laju yang sama.
3.Laju reaksi maju(V1) sama dengan laju reaksi balik (V2) atau dapat di tulis V1=V2
4.Pada saat setimbang jumlah masing-masing zat tidak berubah.
Pada saat kesetimbangan,pertandingan konsentrasi hasil 1 reaksi dan pereaksi selalu tetap,pada
temperatur yang tetap,berapapun konsentrasi hasil reaksi dan pereaksi selalu tetap,pada
temperatur yang tetap,berapapun konsentrasi pereaksi yang dipakai.
Tetapan Kesetimbangan
Perbandingan antara konsentrasi hasil-hasil reaksi dengan pereaksi disebut tetapan
kesetimbangan.Tetapan kesetimbangan dapat dinyatakan dalam tetapan konsentrasi (Kc) dan
tetapan kesetimbangan tekanan (Kp) adalah perbandingan komposisi hasil reaksi dengan
pereaksi pada keadaan setimbang dalam suhu tertentu
aW +bX cY + Dz
Kc = [Y]2 [Z]4 Kp = (Py)c (P2)d
[W]a [X]b (Pw)a (Px)b
1.Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi (Kc)
Teatapan kesetimbangan konsentrasi beradasar konsentrasi zat,berlaku untuk zat-zat yang berfasa
gas dan aqurus (larutan).Dalam menentukan tetapan kesetimbangan yang perlu diperhatikan
adalah zat yang berfase solid (padat) dan liquid (cair) tidak disertakan dalam persamaan tetapan
kesetimbangan.
2.Tetapan Kesetimbangan Tekanan (Kp)
Tetapan kesetimbangan berdasar tekanan parsial,hanya berlaku untuk gas.
3.Hubungan Kc dengan Kp
Hubungan Kc dengan Kp dapat dirumuskan:
n = jumlah koefisien kanan jumlah koefisien kiri

Pergeseran Kesetimbangan
Menurut Le Chatelier :
Apabila dalam suatu sistem kesetimbangan diberi suatu aksi,masa sistem tersebut akan
mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga aksi dari luar tersebut berpengaruh sekecilkecilnya terhadap sistem.
Pada reaksi : A+B -> C+D
Kemungkinan terjadinya pergeseran :
-Dari kiri kekanan
A bereaksi dengan B membentuk C dan D,sehingga jumlah mol A dan B membentuk C dan
D,sehingga jumlah mol A dan B berkurang,sedangkan C dan D bertambah.
-Dari kanan kekiri
C dan D bereaksi membentuk A dan B,sehingga jumlah mol C dan d berkurang sedangkan A dan
B bertambah.
Pergeseran kesetimbangan terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
1.Perubahan konsentrasi
Apabila salah satu konsentrasi zat diperbesar,maka kesetimbangan mengalami pergeseran yang
berlawanan arah dengan zat tersebut.Bila konsentrasi diperkecil,kesetimbangan akan bergeser ke
arah zat tersebut.
2.Perubahan Tekanan
Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan diperbesar,maka kesetimbangan bergeser kearah
zat-zat yang mempunyai koefisien kecil.Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan
diperkecil,maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien besar.jika
jumlah koefisien reaksi kedua ruas sama besar,perubahan tekanan atau volume tidak mengeser
kesetimbangan.
3.Perubahan Volume
Apabila volume dalam sistem kesetimbangan tersebut diperbesar,maka kesetimbangan
bergeserke arah zat-zat yang mempunyai koefiseien besar.Apabila volume dalam sistem
kesetimbangan tersebut diperkecil,maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang
mempunyai koefisien kecil.Untuk perubahan tekanan dan volume,jika koefisien zat-zat di
kiri(pereaksi) dan kanan (hasil reaksi)sama,maka tidak terjadi pergeseran kestimbangan.
ALAT DAN BAHAN
Alat yang diperlukan:
gelas kimia 2 buah
pipet tetes 3 buah
tabung reaksi 6 buah
gelas ukur 10 ml 1 buah
labu ukur 25 ml 1 buah
rak tabung 1 buah
kuvet 1 buah
spectronic-20 1 buah
Bahan yang digunakan:
Larutan KSCN 0,002M

Larutan KSCN pekat (40%) 1M


Fe(NO3)2 0,2M
Butiran Na2HPO4
PROSEDUR KERJA
Memasukkan 30 ml KSCN 0,002M kedalam gelas kimia, menambahkan 10 tetes larutan
Fe(NO3)2 0,2M. Mengocok dengan baik dan mengamati warna larutan yang terjadi. Membagi
larutan ini menjadi empat bagian yang sama dan memasukkan kedalam tabung reaksi:
Tabung reaksi I sebagai pembanding
Tabung reaksi II tambahkan 1 tetes KSCN pekat
Tabung reaksi III tambahkan 3 tetes Fe(NO3)2 0,2M
Tabung reaksi IV tambahkan sebutir Na2HPO4
Menyediakan 6 tabung reaksi yang bersih dan kering, beri label I sampai VI kedalam 6 tabung
reaksi ini. Memasukkan masing-masing 5 ml KSCN 0,002M. Menambahkan kedalam tabung I
dan II, masing-masing 5 ml Fe(NO3)2 0,2M. Tabung reaksi ini digunakan sebagai standar.
Mengukur 10ml Fe(NO3)2 0,2M dan menambahkan air hingga volumenya menjadi 25 ml kocok
hingga rata. Menghitung konsentrasi larutan hasil pengenceran ini. Mengambil 5 ml larutan ini
dan memasukkan ledalam tabung reaksi III. Mengocok hingga rata.
Mengukur 10 ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dari prosedur 3 dan 4. Mengencerkan hingga 25 ml
mengocok dengan baik dan mengambil 5 ml. Kemudian memasukkan kedalam tabung reaksi IV.
Melakukan sama dengan cara dari prosedur 4 hingga tabung reaksi VI.
Menyamakan intensitas warna dari tabung III sampai dengan VI terhadap tabung II dengan cara
memasukkan tetes demi tetes larutan dari tabung I kemudian mengukur tinggi larutan dari tabung
II hingga tabung VI dan mencatatnya.
HASIL PENGAMATAN
1. Pengaruh zat lain terhadap kesetimbangan Fe(NO3)2
NO Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 Memasukkan 30 ml KSCN 0,002M + 10 tetes larutan Fe(NO3)2
Mengocok dan mengamati warna larutan
Membagi larutan menjadi 4 bagian :
Tabung I sebagai pembanding
Tabung II ditambahkan 1 tetes KSCN pekat
Tabung III ditambahkan 3 tetes Fe(NO3)2 0,2M
Tabung IV menambahkan sebutir Na2HPO4
Membandingkan warna setiap tabung reaksi dengan tabung I

Mengukur entensitas masing-masing tabung dengan spectronic-20 pada = 540 mm Warna


awalnya bening, setelah di tetesi larutan Fe(NO3)2 0,2M sebanyak 10 tetes warnanya menjadi
jingga

Warnanya tetap
Terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas berwarna jingga, dan lapisan bawah berwarna merah hati
Berwarna jingga tua
Terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah membentuk endapan
Tabung I dengan tabuna II: tabung II warnanya lebih pekat dari tabung I
Tabung I dengan tabung III: tabung III warnanya lebih tua dari tabung I
Tabung I dengan tabung IV: tabung IV membentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan
lapisan bawah membentuk endapan, sedangkan tabung I berwarna jingga
Tabung I = 19,5% T
Tabung II = 1,3% T
Tabung III = 7,0% T
Tabung IV = 60,6% T
2. Bentuk kesetimbangan Fe(NO3)2
NO Variabel yang diamati Hasil pengamatan
Member label I sampai VI, lalu memasukkan masing-masing 5ml KSCN 0,002M
Dalam tabung I dan II, masing-masing 5 ml Fe(NO3)2 0,2M Warnanya berubah menjadi jingga
kecoklatan, karena Fe(NO3)2 berwarna jingga kecoklatan
Mengukur 10ml Fe(NO3)2 0,2M, menambahkan air hingga volumenya menjadi 25 ml dan
mengocok hingga rata Karena ditambahkan air , warnanya menjadi lebih muda yaitu jingga
muda
Mengambil 5 ml larutan tersebut dan memasukkan kedalam tabung reaksi III dan mengocok

hingga rata Warnanya menjadi agak muda dibanding tabung I dan II


Mengukur 10 ml Fe(NO3)2 0,2M, dan mengencerkan hingga 25ml, lalu mengocok dengan baik
Warnanya kuning muda
Mengambil 5ml dan kemudian memasukkan kedalam tabung IV Warnanya lebih muda lagi dari
tabung I, II, dan III
Mengukur 10ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dan mengencerkan hingga 25 ml. mengocok dengan
baik Warnanya kuning sangat muda
Mengambil 5 ml dan kemudian memasukkan kedalam tabung V Warnanya lebih muda lagi dari
tabung I, II, III, dan IV
Mengukur 10ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dan mengencerkan hingga 25 ml dan mengocok dengan
baik Warnanya putih agak kekuning-kuningan
Mengambil 5 ml kemudian memasukkan kedalam tabung VI Warnanya sangat muda di banding
tabung I, II, III, IV, dan V
Membandingkan keenam tabung larutan yang terjadi Dari tabung I sampai VI, warnanya
semakin muda
Mengukur tinggi larutan hingga tabung VI Tabung I = 7,9 cm
Tabung II =8,0 cm
Tabung III = 8,1 cm
Tabung IV = 7,9 cm
Tabung V = 7,9 cm
Tabung VI = 7,8 cm
Menyamakan entensitas warna dari tabung II sampai tabung VI terhadap tabung II dengan cara
memasukkan tetes demi tetes larutan dari tabung I dan mengukur tinggi masing-masing larutan
dari tabung II sampai VI Tabung II =8,0 cm
Tabung III = 8,7 cm
Tabung IV = 9,5 cm
Tabung V = 9,8 cm
Tabung VI = 10,0 cm
ANALISIS DATA
Berdasarkan pengamatan, dapat dijelaskan pengaruh konsentrasi terhadap suatu kesetimbangan.
Tabung I digunakan sebagai pembanding campuran larutan KSCN 0,002M dan Fe(NO3)2 0,2M
dengan warna larutan jingga. Persamaan reaksinya sebagai berikut :
Fe(NO3)2 + 3KSCN Fe(SCN)3 + 3KNO3
Perubahan warna yang awalnya larutan KSCN 0,002M berwarna bening setelah di tetesi
Fe(NO3)2 sebanyak 10 tetes sehingga menghasilkan larutan yang berwarna jingga. Berdasarkan
perubahan warna tersebut dapat diketahui bahwa kecepatan reaksi pada saat awal adalah besar
(maksimum). Selanjutnya kecepatan reaksi turun sejalan dengan semakin berkurangnya Fe3+
pada Fe(NO3)2. Hal ini terjadi pergeseran kesetimbangan ( kearah produk/kekanan ) yang
berakibat bertambahnya [Fe(SCN)3 ]. Rreaksi yang menuju kekanan juga menurun. Sebaliknya,
konsentrasi [Fe(SCN)3] mulai dengan nol kemudian naik setelah [Fe(SCN)3] terbentuk. Dapat
dijelaskan suatu kecepatan reaksi kekanan dan kiri sama besar. Inilah yang termasuk sistem
kesetimbangan.
Selanjutnya membagi larutan menjadi 4 bagian yang sama, yang mana pada tabung I di gunakan

sebagai pembanding dari tabung II sampai tabung IV. Pada tabung II ditambahkan 1 tetes KSCN
pekat dengan transmitannya sebesar 1,3%. Sesuai dengan azas le chatelier maka kesetimbangan
bergeser kekanan sehingga intensitas warna pada tabung II lebih pekat dari pada tabung I. pada
tabung III larutan ditambahkan3 tetes Fe(NO3)2 0,2M menghasilkan warna jingga tua dengan
transmitan 7,0%. Pada tabung I dengan transmitannya sebesar 19,5% dan pada tabung IV larutan
ditambahkan sebutir Na2HPO4 terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan
bawah membentuk endapan dengan transmitan 60,6%. Sehingga pada pencapaian
kesetimbangan, produk (FeSCN2+) juga melakukan reaksi balik, sehingga sebagian produk
melawan pengaruh kenaikan jumlah salah satu reaktan dengan menggeser kesetimbangan kekiri
dan menyebabkan pengurangan konsentrasi produksi.
Tabung Reaksi Nilai Transmitan(%)
II 1,3%
III 7,0%
I 19,5%
IV 60,6%
Berhubungan dengan intensitas warna, jelas terlihat pergeseran kearah pereaktan, mengakibatkan
intensitas warna memudar dan menjadi bening dan nilai transmitannya bertambah. Semakin
besar nilai transmitannya maka kepekatan larutan juga akan semakin berkurang.
Pada percobaan kedua yaitu kesetimbangan Fe(NO3)2 yang dilakukan dengan cara memperbesar
volume larutan dengan menambahkan larutan Fe(NO3)2 dengan aquades, didapat bahwa
kesetimbangan konsentrasi larutan akan berkurang apabila volume larutan diperbesar. Pada
tabung I berisi 5 ml KSCN ditambahkan Fe(NO3)2 sebelum di encerkan menghasilkan warna
jingga kecoklatan. Pada pengenceran ditambahkan air kedalam 10ml Fe(NO3)2 sehingga volume
menjadi 25 ml yang warnanya lebih muda yaitu jingga muda. Hasil pengenceran kemudian
diambil 5 ml dan memasukkan kedalam tabung III yang berisi 5 ml KSCN, sehingga volume
larutan menjadi 10 ml. Proses pengenceran ini dilakukan sampai tabung VI. Semakin banyak
pengenceran yang dilakukan pada larutan yang diambil, maka warna larutan semakin memudar
( warna larutan pada tabung VI memiliki warna lebih pudar dibandingkan warna larutan pada
tabung sebelumnya). Pengenceran ini sama halnya dengan memperbesar volume da
memperkecil konsentrasi ( jarak antar partikel dalam larutan makin renggang).
Agar mendapat intensitas warna larutan yang sama dengan larutan tabung I dan II, maka
perbandingan tinggi larutan masing-masing tabung mengalami penurunan dari tabung II sampai
VI, dengan perbandingan tinggi larutan yang semakin besar pada tiap tabungnya.Sehingga
keduanya memiliki hubungan berbanding terbalik.
Selanjutnya menyamakan intensitas warna dari tabung II sampai VI dengan cara meneteskan
tetes demi tetes larutan pada tabung I. Penyamaan warna larutan ini diperlukan tetes demi tetes
larutan KSCN karena hanya memerlukan ion Fe3+ sedikit untuk menyamakan pada larutan
standar. Sehingga pada tabung II sebagai standar merupakan suatu reaktan. Sedangkan pada
tabung III sampai VI merupakan produk. Agar produk memiliki intensitas warna yang sama
dengan reaktan, dilakukan penambahan konsentrasi pada produk sehingga kesetimbangan
bergeser kekiri sehingga reaktan memperoleh keadaan setimbang.
Tabung Tinggi larutan awal Tinggi larutan setimbang
II 8,0 cm 8,0 cm

III 8,1 cm 8,7 cm


IV 7,9 cm 9,5 cm
V 7,9 cm 9,8 cm
VI 7,8 cm 10,0 cm
Dapat dilihat dari perbandingan tinggi larutan adanya perbedaan konsentrasi larutan dari tiap-tiap
tabung karena adanya pengenceran larutan Fe(NO3)2, sehingga untuk setiap tabung memerlukan
ion Fe3+ yang berbeda-beda untuk menyamakan intensitas warna terhadap tabung II sehingga
mengakibatkan perbedaan tinggi larutan antara tabung III sampai tabung VI.

KESIMPULAN
Berdasarkan perubahan warna tersebut dapat diketahui bahwa kecepatan reaksi pada saat awal
adalah besar ( maksimum). Persamaan reaksinya sebagai berikut:
Fe(NO3)2 + 3KSCN Fe(SCN)3 + 3KNO3
Pada pencapaian kesetimbangan, produk (FeSCN2+) melakukan reaksi balik, sehingga sebagai
produk melawan pengaruh kenaikan jumlah salah satu reaktan dengan menggeser kesetimbangan
kearah kiri.
Semakin banyak nilai transmitannya maka kepekatan larutan juga akan berkurang dan warna
larutan semakin bening, sebaliknya jika nilai transmitannya rendah akan menambah kepekatan
larutan.
Pengenceran sama halnya dengan memperbesar volume dan memperkecil konsentrasi (jarak
antar partikel dalam larutan makin renggang).
Perbandingan tinggi larutan menunjukkan bahwa konsentasi larutan yang berbeda-beda dan
membutuhan ion Fe3+ yang berbeda juga untuk mendapatkan kesetimbangan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-dasar Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud
Purba, Michael. 2006. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga
Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin:
FKIP-UNLAM
Tim Kimia Dasar. 2007. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar 1 & 2. Banjarmasin: FKIP-UNLAM

LAMPIRAN
Perhitungan
Konsentrasi larutan standar
Fe(NO3)2 Fe3+ + 3NO30,2M 0,2M 0,6M
Mol Fe3+ = M . V
= 0,2M . 5ml
=1mmol
KSCN K+ + SCN0,002M 0,002M 0,002M
Mol SCN- = M.V
= 0,002M . 5 ml
=0,01 mmol
Fe3+ + SCN- Fe(NO3)2
M = 1 mmol 0,01 mmol _
R = 0,01 mmol 0,01 mmol 0,01M
S = 0,99mmol _ 0,01M
Pereaksi pembatas adalah SCNVolume campuran = V Fe3+ + V SCN= 5 ml + 5 ml = 10 ml
Jadi, konsentrasi larutan standar = mol SCNV total
= 0,01 mmol
10 ml

= 0,001M
Perbandingan tinggi larutan
Tabung II = tinggi larutan standar = 8 = 1
Tinggi larutan tabung II 8
Tabung III = tinggi larutan standar = 8 = 0,92
Tinggi larutan tabung III 8,7
Tabung IV = tinggi larutan standar = 8 = 0,84
Tinggi larutan tabung IV 9,5
Tabung V = tinggi larutan standar = 8 = 0,82
Tinggi larutan tabung V 9,8
Tabung VI = tinggi larutan standar = 8 = 0,8
Tinggi larutan tabung VI 10,0
Larutan tabung II sebagai standar
Konsentrasi Fe(SCN)2+ pada saat setimbang
Tabung III = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,92 x 0,001M
= 0,00092M
= 9,2 x 10-4M
Tabung IV = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,84 x 0,001M
= 0,00084M
= 8,4 x 10-4M
Tabung V = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,84 x 0,001M
= 0,00082M
= 8,2 x 10-4M
Tabung VI = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,8 x 0,001M
= 0,0008M
= 8 x 10-4M
Konsentrasi Fe3+ awal ( pada saat pengenceran) pada saat konsentrasi larutan Fe(NO3)2 pada
saat pengenceran
Tabung II = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,2 . 10 = m2 . 10
m2 = 0,2M

Tabung III = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,2 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,08M
Tabung IV = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,08 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,032M
Tabung V = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,032 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,0128M
Tabung VI = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,0128 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,00512M
Perhitungan ini untuk mendapatkan konsentrasi [Fe3+] awal dan memperoleh konsentrasi
pengenceran Fe(NO3)2.
Perhitungan konsentrasi [Fe3+] pada keadaan setimbang dengan cara :
[Fe3+] setimbang= [Fe3+] awal [FeSCN2+]
Tabung III =
[Fe3+] setimbang= 0,08 0,00092 =0,07908M
Tabung IV =
[Fe3+] setimbang= 0,032 0,00084 =0,03116M
Tabung V =
[Fe3+] setimbang= 0,0128 0,00082 =0,01198M
Tabung VI =
[Fe3+] setimbang= 0,00512 0,0008 =0,00432M
Perhitungan konsentrasi [SCN-] pada saat setimbang dengan cara:
[SCN-] setimbang = [SCN-] awal - [FeSCN2+] setimbang
Tabung III = 0,002 0,00092 = 0,00108M
Tabung IV = 0,002 0,00084 = 0,00116M
Tabung III = 0,002 0,00082 = 0,00118M
Tabung III = 0,002 0,00080 = 0,0012M
Menghitung tetapan kesetimbangan
Tabung II
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,2 . 0,001 .0,001

= 2. 10-7M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,2 . 0,001
[SCN-] 0,001
= 0,2M
[FeSCN2+] = 0,001 = 5M
[Fe3+] [SCN-] 0,2 . 0,001
Tabung III
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,07098 . 0,00092 .0,00108
= 7,8 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,07098 . 0,00092
[SCN-] 0,00108
= 6,7 . 10-2M
[FeSCN2+] = 0,00092 = 10,77M
[Fe3+] [SCN-] 0,07098 . 0,00108
Tabung IV
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,03116 . 0,00084 .0,00116
= 3,1 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,03116. 0,00084
[SCN-] 0,00116
= 2,6 . 10-5M
[FeSCN2+] = 0,00084 = 23,24M
[Fe3+] [SCN-] 0,03116. 0,00116
Tabung V
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,01198 . 0,00082 .0,00118
= 1,1 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,01198. 0,00082
[SCN-] 0,00118
= 8,3 . 10-3M
[FeSCN2+] = 0,00082 = 58M
[Fe3+] [SCN-] 0,01198. 0,00118

Tabung VI
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,00432 . 0,0008 .0,0012
= 4 . 10-9M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,00432. 0,0008
[SCN-] 0,0012
= 2,9 . 10-3M
[FeSCN2+] = 0,0008 = 154,3M
[Fe3+] [SCN-] 0,00432. 0,0012
Catatan

Pada tabung II
[Fe3+] saat setimbang = 0,2M
[FeSCN2+] saat setimbang = perbandingan tinggi x konsentrasi larutan standar
= 1 x 0,001 = 0,001M
[SCN-] saat setimbang = [SCN-] awal - [FeSCN2+] setimbang
= 0,002 0,001 = 0,001M

Gambar gambar percobaan kesetimbangan

FLOW CHART
PERCOBAAN VII
KESETIMBANGAN
Mengocok
Mengamati warna larutan
Membagi 4 larutan dengan bagian yang sama
Memasukkan ke dalam 4 buah tabung reaksi
tabung I tabung II tabung III tabung IV
- Membandingkan warna setiap tabung reaksi dengan tabung I
- Mengukur intensitas warna masing-masing tabung dengan spectronic 20 pada = 540 nm
- Memperkirakan pergeseran kesetimbangan untuk setiap tabung reaksi

Memasukkan ke dalam 6 tabung reaksi


Member label 1 - 6

Memasukkan ke dalam tabung reaksi


mengocok
Mengambil 5 ml campuran ke tabung reaksi III
mengocok

Memasukkan ke dalam tabung reaksi


Mengocok

Mengambil 5 ml campuran ke tabung reaksi IV


mengocok
Melakukan prosedur ini hingga tabung VI
Membandingkan keenam larutan yang terjadi
Menyamakan intensitas warna dari tabung III s/d VI terhdap tabung II dengan memasukkan tetes
demi tetes larutan dari tabung I
Mengukur tinggi larutan dari tabung II hingga tabung VI
Mencatat hasilnya.

Percobaan VIII
Judul : Kimia Koloid
Tujuan : Menjelaskan sifat-sifat koloid
Hari/Tanggal : Senin/ 20 Desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin
DASAR TEORI
Larutan koloid seperti pada larutan the, kopi, dan air pada perairan rawa/gambut, bila
dibiarkandalam waktu yang lama, tidak akan tejadi proses pemisahan ataupun pengendapan.
Bahkan dengan penyaringan/filtrasi, terkecuali dengan proses membran.
Diameter dari partikel dalam larutan homogen/sejati selalu lebih kecil dari 1 m. bila ddiameter
partikel-partikel dalam larutan berkisar antara 1-100 m. system larutan disebut koloid. Dan bila
partikel-partikelnya 100 m, system larutan disebut campuran kasar atau dispersi.
Ditinjau dari jenis partikelnya, ada 3 jenis koloid:
Dispersi koloid.
Terdiri atas zat-zat yang tidak larut dalam partikel-partikel yang terdiri dari gabungan banyak
molekul.
Misal: koloid Au, As2S3 dan minyak dalam air.
Larutan Makromolekul.
Berupa larutan dari zat-zat dengan bentuk molekul yang besar hingga mempunyai ukuran koloid.
Misal: Protein, polivinil alcohol, larutan karet, atau polimer-polimer dalam pelarut organik.
Asosiasi Koloid.
Terdiri atas larutan zat-zat yang larut dengan berat molekul rendah tetapi membentuk agregatagregat.
Missal: sabun.
Dispersi koloid bersifat heterogen, terdiri atas fase terdispersi dan fase pendispersinya. Baik
terdispersi maupu pendispersinya dapat berupa zat padat, cair, dan gas hingga terbentuk 9 bentuk
system dispersi. Dari jumlah ini direduksi menjadi 8 bentuk, karena gas selalu bercampur
sempurna. Dari kedelapan jenis ini yang penting adalah bentuk sol, emilsi, dan gel.
Aerosol merupakan sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika
zat terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contohnya asap dan debu. Jika zar yang
terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair. Contohnya kabut dan awan.
Sol merupakan sistem koloid dari partikelpadat yang terdispersi dalam zat cair. Koloid jenis sol
banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industry. Contohnya: air sungai
(sol mlempung dalam air), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat.
Emulsi yaitu sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair. Syarat terjadinya emulsi
ini adalah bahwa kedua zat cair tersebut tidak saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan
kedalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air atau emulsi air dalam minyak. Contoh
emulsi minyak dalam air, yaitu: santan, susu, dan lateks. Contoh emulsi air dalam minyak, yaitu:
mayonnaise, minyak bumi, dan minyak ikan.
Gel merupakan koloid setengah kaku (antara padat dancair). Gel dapat terbentuk dari suatu sol
yang terdispersinya mengadsorbsi medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang agak padat.
Contohnya: agar-agar, lem kanji, selai gelatin, gel sabun, dan gel silika.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan:
Ph meter tangan = 1 buah
Senter baterai = 1 buah
Gelas kimia 500 ml = 2 buah
Gelas kimia 200 ml = 3 buah
Pengaduk gelas = 1 buah
Pipet tetes = 2 buah
Centrifuge = 1 buah
Tabung centrifuge = 2 buah
Gelas ukur 250 ml = 1 buah
Gelas ukur 20 ml = 1 buah
Gelas ukur 10 ml = 1 buah
Pipet volume = 1 buah
Bahan yang diperlukan:
Serbuk tanah/debu yang di ayak
Larutan / air gambut / air rawa
Tawas
Kanji 5%
HCl pekat
Akuades
Larutan buffer ph 4 dan ph 7
PROSEDUR KERJA
Koloid artificial (Buatan)
Membuat larutan koloid dengan cara: mengambil 15 gram serbuk tanah/debu, kemidian
memasukkan kedalam beaker glass 500 ml dan menambahkan 400 ml akuades, mengaduk
hingga membentuk larutan.
Memisahkan antara bagian koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan lalu memasukkan
kedalam beaker glass 500 ml. larutan ini sebagai larutan induk
Mengambil larutan (2) 200 ml, lalu memasukkan kedalam beaker glass 200 ml.
Melakukan penyinaran dengan senter baterai pada koloid tersebut. Mengamati jalannya sinar,
apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan, diteruskan sebagian atau semua sinar
diserap.
Mengukur ph larutan (4), kemudian menurunkan pHnya sebanyak 2 satuan dengan cara
menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.
Mengambil 100 ml larutan induk, memasukkan kedalam beaker glass 100 ml, lalu
menambahkan 5 gram tawas, lalu mengaduk merata, membiarkan 20 menit. Mengamati
perubahan yang terjadi.
Mengulangi langkah (5), tetapi menambahkan 15 ml kanji 5%.
Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dengan larutan koloid hingga
setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit. Mengamati perubahan yang
terjadi.
Koloid Natural (alami)

Mengambil 500 ml air gambut / air rawa yang berwarna cokelat / keruh. Larutan ini sebagai
larutan induk.
Melakukan hal yang sama pada larutan ini, seperti pada bagian A langkah 3-8.

HASIL PENGAMATAN
Koloid buatan.
No. Variebel yang diamati Hasil pengamatan
1 Mengambil 15,0178 gram serbuk tanah, memasukkan kedalam beaker glass 500 ml + 400 ml
akuades.
Larutan tanah
2 Memisahkan antara koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan, memasukkan kedalam
beaker glass 500 ml.
Larutan induk
3 Mengambil larutan (2) 200 ml dan memasukkanya kedalam beaker glass 200 ml
Larutan induk 200 ml
4 Mengamati jalannya sinar, apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan, diteruskan
sebagian atau semua sinar diserap
Sinarnya tidak menembus larutan
5 Mengukur pH larutan (4), kemudian menurunkan pHnya sebanyak 2 satuan dengan cara
menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.
Kalibrasi pH 4 = 4,5
Kalibrasi pH 7 = 7,6
pH larutan = 4,6
1 tetes HCl = 3,5
2 tetes HCl = 3,0
3 tetes HCl = 2,9
4 tetes HCl = 2,8
Perbedaan larutan yaitu pada larutan induk lebih muda dari (larutan induk + HCl).
Warna larutan lebih jernih dari sebelumnya dan terbentuk endapan (gumpalan
6 Mengambil 100 ml larutan induk, memasukkan kedalam beaker glass 100 ml, menambahkan
5 gram tawas, mengaduk hingga rata. Membiarkan 20 menit. Mengamati perubahan yang
terjadi.

7 Mengulangi langkah (5), tetapi menambahkan 5 ml kanji 5%.


Warna larutan pada bagian atas lebih jernih dari yang dibawah, dibawah terbentuk endapan atau
gumpalan.
8 Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dangan larutan koloid hingga
setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit. Mengamati perubahan yang terjadi
Warna larutan induk di centrifuge lebih bening dari sebelumnya.
Warna larutan pada campuran koloid+HCl yang dicentrifuge lebih jernih dari sebelumnya dan
lebih jernih dari larutan induk yang di centrifuge
9 Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dengan larutan induk + tawas dan
larutan induk + kanji hingga berisi masing-masing setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm
2000 15 menit. Mengamati perubahan yang terjadi.
Larutan induk yang dicampur dengan larutan kanji 5% menghasilkan larutan yang lebih bersih
daripada larutan yang dicampur dengan tawas.
Koloid Natural (alami).
No Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 Memasukkan 500 ml air gambut Larutan berwarna cokelat.
2 Mengambil air gambut 200 ml dan memasukkan kedalam beaker glass 200 ml.
Larutan berwarna cokelat.
3 Melakukan penyinaran dengan menggunakan senter pada larutan dan mengamati jalannya
sinar.
Sinarnya menembus larutan dan diteruskan.
4 Mengukur pH
Buffer pH 4
Buffer pH 7
pH air gambut
4,4
7,5
4,9
5 Menurunkan 2 satuan 2,9
6 Meneteskan 1 tetes HCl pekat.
3,4
7 Meneteskan 1 tetes HCl pekat lagi.
3,0
8 Meneteskan 1 tetes HCl pekat lagi.
2,9
9 Mengamati perubahan yang terjadi, memasukkan air gambut kedalam tabung centrifuge
Larutan yang dicampur HCl lebih jernih
10 Memasukkan air gambut + HCl pekat kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya.

11 Melakukan centrifuge pada rpm 2000 15 menit.


12 Mengamati perubahan yang terjadi.
Air gambut
Air gambut + HCl
Warna larutan jernih.
Warna larutan jernih.
13 Menambahkan tawas kedalam air gambut (larutan induk). Dan mendiamkan selama 20
menit. Mengamati Larutan menjadi keruh
14 Menambahkan kanji kedalam larutan induk. Dan mendiamkan selama 20 menit.
Mengamati.
15 Memasukkan air gambut + tawas kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya kemudian
melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit.
16 Memasukkan air gambut + kanji kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya kemudian
melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit.
17 Mengamati perubahan yang terjadi:
Air gambut + tawas
Air gambut + kanji
Larutan menjadi jernih
Larutan lebih jernih daripada larutan induk + tawas.
ANALISIS DATA
Koloid buatan
Pada prosedur pertama, yaitu mengambil 15 gram serbuk tanah, memasukkan kedalam beaker
glass 500 ml dan menambahkan 400 ml akuades, menghasilkan larutan tanah yang berendapan.
Pada prosedur kedua, yaitu memisahkan antara larutan koloid (larrutan induk)dengan
endapannya. Hal ini dimaksudkan supaya larutan tersebut mudah diamati. Kemudian mengambil
200 ml larutan tersebut dan melakukan penyinaran dengan menggunakan senter. Setelah
diamati, ternyata sinarnya tidak menembus larutan. Hal ini disebabkan jarak antara partikel tanah
dalam larutan tersebut rapat. Sehingga cahaya senter tidak dapat menembus larutan tersebut.
Prosedur selanjutnya, yakni mengukur pH larutan dengan kalibrasi pH 4 dan pH 7 terlebih
dahulu dan menghasilkan pH larutan 4,6. Selanjutnya menurunkan 2 satuan pHnya dengan cara
menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Hal ini dilakukan supaya bisa dengan mudah
mengetahui berapa HCl pekat yang dibutuhkan dalam proses ini. Dari proses ini didapat larutan
berwarna lebih muda dari sebelumnya. Hal ini dukarenakan terjadinya peristiwa penyerapan
molekul atau ion pada zat.
Prosedur selanjutnya, memasukkan tawas dan menambahkan 100 ml larutan induk kemudian
membiarkan 20 menit dan menghasilkan warna larutan lebih jernih dari sebelumnya, dan
terbentuk endapan berupa gumpalan. Hal ini disebabkan adanya peristiwa penyerapan terhadap
molekul ion pada zat sehingga air lebih jernih.
Selanjutnya mengulangi langkah (5), tetapi ditambah kanji 5% dan menghasilkan warna larutan

bagian atas lebih jernih yang disebabkan oleh adanya penyerapan molekul atau ion, pada zat
bagian bawah menghasilkan endapan yang disebabkan oleh partikel koloid yang saling
bertumbukan kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk partikel yang cukup besar,
kemudian mengendap.
Pada prosedur terakhir yaitu mengisi 2 buah tabung centrifuge dengan larutan induk + tawas dan
larutan induk + kanji hingga masing-masing berisi setengahnya.
Lalu di memasukkan larutan tersebut kedalam centrifuge dan menghasilkan larutan yang lebih
bersih disbanding larutan sebelumnya, yang disebabkan oleh penyerapan sempurna terhadap
molekul atau ion pada zat. Selain itu centrifuge juga berfungsi sebagai alat pembersih air.
Koloid natural (alami)
Pada prosedur pertama yaitu, mengambil 500 ml air gambut (air rawa) yang berwarna cokelat
dan larutan ini merupakan larutan induk.
Prosedur kedua, yaitu mengambil 200 ml larutan induk dan mengamati jalannya sina,
menghasilkan sinarnya menembus larutan dan diteruskan. Hal ini disebabkan oleh jarak antar
partikel dalam larutan terlalu jauh, sehingga cahaya dapat menembus larutan. Peristiwa ini sesuai
dengan sifat koloid yaitu Efek tyndall.
Efek tyndall tidak sama untuk setiap sinar yang mempunyai panjang gelombang berbeda. Sinar
kuning misalnya, sinar tersebut lebih sedikit dihamburkan. Itulah sebabnya lampu berwarna
kuning sering dipakai pada saat berkabut, dimana cahaya kuning lebih dapat menembus kabut
dan terlihat oleh pemakai jalan.
Pada prosedur selanjutnya, yaitu mengukur pH larutan dengan kalibrasipH 4 dan pH 7, terlebih
dahulu dan didapatkan pH larutan sebesar 4,9. Selanjutnya menurunkan 2 satuan pH nya yang
bertujuan sebagai batas (ukuran) dalam penambahan HCl. Dengan begitu kita dapat mengetahui
berapa banyak tetesan HCl yang dibutuhkan.
Selanjutnya, penambahan HCl pada air gambut dan menghasilkan larutan lebih jernih, hal ini
disebabkan oleh adanya peristiwa penyerapan molekul atau ion terhadap zat. Peristiwa ini sesuai
dengan sifat koloid yaitu adsorpsi. Adsorpsi yaitu kemampuan partikel koloid untuk menyerap
berbagai zat pada permukaannya.
Prosedur selanjutnaya, yaitu penambahan tawas pada air gambut (larutan induk) dan
menghasilkan warna larutan yang lebih jernih yang disebabkan danya peristiwa penyerapan ion
atau molekul terhadap zat. Sama dangan sebeelumnay, peristiwa ini sesuai dengan sifat koloid
adsorpsi.
Selanjutnya menambahkan kanji 5% kedalam air gambut, menghasilkan larutan keruh. Hal ini
dikarenakan kanji termasuk koloid yang fase terdipersinya padat yang disebut sol.
Prosedur terakhir memasukkan larutan tawas dan kanji kedalam tabung centrifuge hingga
setengahnya.
Lalu kedua tabung centrifuge yang telah diisi dengan larutan air rawa tersebut di centrifuge
denagn alat centrifuge pada rpm 2000 15 menit.
Dan menghasilkan larutan lebih bersih daripada sebelumnya. Hal ini disebabkan terjadinya
peristiwa penyerapan ion / molekul zat terdispersi dan ion ? molekul pendispersinya. Selain itu,
centrifuge juga berfungsi sebagai alat pembersih air.
KESIMPULAN
Pada campuran antara debu dan akuades, debu berperan sebagai fase terdispersi, dan akuades
sebagai fase pendispersinya (medium disperse).
Sinar pada larutan serbuk tanah tidak dapat menembus larutan. Hal ini disebabkan oleh jarak

antarpartikel zat terdispersinya terlalu rapat. Larutan ini disebut Suspensi.


Suspensi merupakan campuran kasar. Kedua zat suspense yang telah dicampur, lambat laun akan
mengalami sedimentasi.
Pada larutan air gambut, sinar dari senter dapat menembus larutan. Hal ini disebabkan oleh jarak
antara partikel pada larutan jauh. Larutan ini disebut koloid.
Pada saat campuran antara air gambutdan HCl pakat ditambahkan tawas, larutan ini berubah
menjadi lebih jernih. Hal ini disebabkan sifat koloid bahwa koloid bermuatan, yaitu adsorpsi.
Adsorpsi merupakan kemampuan partikel koloid untuk menyerap berbagai zat pada
permukaanya.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. PMIPA FKIP
ITB: Bandung.
Purba, Michael.2004. Kimia SMA kelas XI jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. FKIP UNLAM: Banjarmasin.

Lampiran.
Soal.
Apa peranan tawas dan kanji pada percobaan ini?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan:
Koagulan
Flok
Sol
Emulsi
Gel
Mengapa gravitasi tidak berperan dalam proses pengendapan koloid? Bagaimana dengan peranan
gaya sentrifugal?
Berikan sifat-sifat fisik dan kimia larutan koloid berdasarkan percobaan yang telah dilakukan!
Mengapa pada saat mencampurkan kanji, menggunakan air panas?
Jawaban:
Perananya yaitu sebagai pembersih air.
Yang dimaksud dengan:

koagulan yaitu penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan stabilitas sistem
koloid atau karena penggabunga partikel koloid yang berbeda muatannya.
Flok yaitu perlakuan koagulasi dalam proses pengolahan membrane bahan-bahan kimia untuk
membentuk gumpalan.
Sol yaitu sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair.
Emulsi yaitu sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zar cair lain.
Gel yaitu koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair)
Karena, partikel zat pada campuran koloid heterogen dan merupakan sistem dua fase. Jadi,
camputran kolid hamper dapat bercampur dengan sempurna. Peranan gaya sentrifugal yaitu
mampu membuang warna dan bau pada suatu larutan.
Sifat-sifat fisik dan kimia larutan koloid berdasarkan percobaan yang telah dilakukan yaitu:
Efek tyndall
Adsorpsi
Koloid Liofil
Sebab kanji termasuk sol, yaitu sisitem koloid dari partikel zat padatyang terdispersi dalam zat
cair. Dan kanji alan lebih mudah bercampur dengan air, apabila air tersebut panas.

Gambar pada saat dilakukan penyinaran

Gambar larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji


Pada percobaan koloid buatan
Gambar alat centrifuge

Gambar larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji


Pada percobaan koloid alami

FLOWCHART
PercobaanVII
Kimia Koloid
Koloid Artifisial

Memasukkan kedalam beaker glass

Memisahkan antara bagian koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan, lalu memasukkan
kedalam beaker glass 500 ml. larutan ini sebagai larutan induk.

Memasukkan ke beaker glass 200 ml


Melakukan penyinaran dengan senter baterai pada larutan koloid. Mengamati jalanya sinar,
apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan , diteruskan sebagian atau semua sinar
diserap.
Mengukur pH larutan koloid tersebut, kemudian menurunkan pH nya sebanyak 2 satuan dengan
cara menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.

Memasukkan kedalam beaker glass 100 ml


Mengaduk
Membiarkan 20 menit

Mengamati perubahan yang terjadi


Mengukur pH larutan koloid, kemudian menurunkan pHnya ebanyak 2 satuandengan cara
menambahkan 15 ml kanji 5%
Tabung Centrifuge 1 dan 2

Melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit

Mengamati perubahan yang terjadi


Koloid Natural (alami)

Memasukkan kedalam beaker glass

Tabung Centrifuge 1 dan 2

Melakukan sentrifius pada rpm 2000 15 menit


Mengamati perubahan yang terjadi.