Anda di halaman 1dari 26

6 TERMODINAMIKA KIMIA

6.1 Hakekat Termodinamika

Ilmu kimia adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam yang mengkaji tentang sifat,
struktur, tranformasi, dinamika, dan energetika dari suatu zat.
Termodinamika (thermodynamics, thermo = panas, dynamics = gerakan atau
perubahan) atau energetika kimia menyangkut perubahan energi yang menyertai proses
kimia dan proses fisika. Termodinamika dapat menjawab apakah reaksi terjadi secara
spontan atau tidak.
Beberapa istilah penting yang sangat diperlukan dalam pembahasan termodinamika
kimia ini adalah sistem (system) dan lingkungan (surrounding). Sistem adalah bagian
alam semesta yang menjadi perhatian kita. Bagian lainnya di luar sistem disebut
lingkungan. Misalnya ingin mengetahui perubahan yang terjadi pada reaksi antara NaCl
dengan larutan AgNO3; sistemnya adalah larutan yang dipelajari itu sedangkan gelas
kimia, dan segala sesuatu di sekeliling larutan adalah lingkungan. Antara sistem dan
lingkungan dapat terjadi pertukaran energi dan materi (massa). Berdasarkan pertukaran ini
ada tiga jenis sistem yaitu :
a. Sistem terbuka (open system) adalah suatu sistem yang dapat mempertukarkan energi
dan massa dengan lingkungannya.
b. Sistem tertutup (closed system) adalah sistem yang hanya dapat mempertukarkan
energi dengan lingkungannya.
c. Sistem terisolasi (isolated system) adalah suatu sistem yang tidak dapat
mempertukarkan baik energi maupun massa dengan lingkungannya. Misalnya zat
dalam botol termos yang ideal.
Perubahan dapat terjadi di dalam suatu sistem. Untuk mengetahui adanya
perubahan di dalam sistem harus diketahui dengan tepat sifat dari sistem sebelum dan
sesudah perubahan terjadi atau dengan kata lain harus diketahui keadaan dari sistem
(state of system). Keadaan sistem adalah kondisi sistem yang terdiri dari tekanan,
suhu, dan jumlah mol tiap komponen, dan bentuk fisiknya (sebagai contoh gas,
cairan, padatan, atau bentuk kristal). Besaran P,V, dan T disebut fungsi keadaan
(state functions) atau variabel keadaan (state variables) karena P, V, dan T sangat
menentukan keadaan fisik suatu sistem dan harganya tidak tergantung pada
bagaimana terjadinya sistem dengan keadaan seperti itu sebelumnya. Perubahan P, V,
Kimia Dasar Termodinamika 141
Kimia
dan T dari satu keadaan sistem satu ke keadaan lain tidak tergantung pada bagaimana
urutan perubahan itu dilakukan. Misalnya suhu sampel air berubah dari 250C ke 350C.
Perubahan suhu itu tetap walaupun pertama-tama air didinginkan menjadi 00C dan
kemudian dipanaskan menjadi 35oC, atau suhu langsung dinaikkan dari 25oC menjadi
35oC. Jadi perubahan suhu (T) hanya tergantung pada suhu pada keadaan awal dan
keadaan akhir. Hubungan antara fungsi keadaan dapat dinyatakan dalam bentuk
persamaan yang dikenal dengan persamaan keadaan (equation of state). Seperti
persamaan keadaan gas ideal, PV = nRT.
Mengubah keadaan sistem dari keadaan 1 ke keadaan 2 dapat dengan
berbagai cara. Cara-cara ini disebut proses. Beberapa proses penting dalam ilmu kimia
adalah :
a. Proses isoterm yaitu proses yang berlangsung pada suhu tetap.
b. Proses adiabatik yaitu proses di mana tidak terjadi pertukaran kalor antara sistem dan
lingkungan
c. Proses isobar adalah proses yang berlangsung pada tekanan tetap.
d. Proses isokhor adalah proses pada volum tetap.
Besaran lain yang perlu diketahui adalah :
a. Kapasitas panas (heat capacity) yaitu jumlah energi panas yang diperlukan untuk
menaikkan suhu dari zat dengan jumlah tertentu sebanyak 1oC. Satuan kapasitas panas
adalah JoC-1.
b. Panas jenis (specifik heat) adalah kapasitas panas per gram yaitu jumlah panas yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram zat sebanyak 1oC. Panas jenis air adalah
4,184 J gr-1 oC-1.
c. Kapasitas panas molar adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu dari 1
mol zat sebesar 1oC. Karena massa molar air adalah 18,0 g mol-1, maka kapasitas panas
molar air adalah 75,3 J mol-1 oC-1.
Contoh 6.1.
Berapakah kapasitas panas penangas air dalam kJ 0C-1, yang mengandung 4,00 dm3 air ?.
Panas jenis air adalah 4,184 J g-1 0C-1
Penyelesaian.
Akan dihitung jumlah energi panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu air di
dalam penangas sebesar 10C. Apabila dianggap kerapatan air adalah 1 g cm-3, maka
massa air 4000 g.

Kimia Dasar Termodinamika 142


Kimia
4,184 J 1 kJ
Jadi kapasitas panas dari penangas = 4000 g x 0
x = 16,7 kJ 0C-1.
g C 1000 J

6.2 Hukum Termodinamika 1.

Hukum termodinamika 1 menyangkut hukum kekekalan energi yang dinyatakan


dalam persamaan :
U = q + w (6.1)
di sini : U = energi-dalam (internal energy); U = perbedaan energi-dalam dari sistem
akhir dengan sistem awal; q = jumlah panas (kalor) yang diterima sistem;w = kerja yang
diberikan kepada sistem.
Persamaan 6.1 itu berarti bahwa jika suatu sistem melangsungkan perubahan yang
mengubah energi dalamnya, maka pertukaran energi itu akan merupakan jumlah kalor
yang dibebaskan atau diserap dengan kerja yang diberikan atau dilakukan kepada sistem.
Suatu contoh adalah, pemompaan ban sepeda dengan pompa tangan. Ketika ban dipompa,
klep-klep pompa menjadi panas, padahal tidak diberikan energi panas pada pompa itu, atau
q = 0. Tetapi, kerja yang dilakukan pada udara ketika dipompa adalah positif (w > 0), dan
jadi U ( = 0 + w) > 0. Oleh karenanya perubahan energi dalam adalah positif dan suhu
naik.
Energi-dalam (U) adalah energi total sistem yang terdiri dari energi kinetik
atom-atomnya, ion-ionnya, atau molekul-molekulnya dan energi potensial yang
terjadi dari kakas ikat antara partikel yang membangun sistem. Berapa besar energi
ini tidak diketahui oleh karena tidak ada cara untuk mengukur atau menghitung. Akan
tetapi secara termodinamika besarnya energi itu tidak penting, yang penting adalah
perubahan energi, U . U inilah yang dapat dialami oleh sistem dalam suatu proses.
Besarnya energi sistem ini hanya bergantung pada keadaan sistem dan tidak bergantung
pada bagaimana keadaan itu tercapai sehingga dikatakan bahwa energi ini merupakan
fungsi keadaan. Jika pada keadaan tertentu, misalnya keadaan 1, energi sistem adalah U1,
dan pada keadaan lain, misalnya keadaan 2, energinya U2, maka setiap proses yang
mengubah keadaan sistem dari keadaan 1 ke keadaan 2 disertai dengan perubahan energi
sebesar : U = U2 U1.
Panas (kalor) didefinisikan sebagai energi yang dipindahkan melalui batas-
batas sistem sebagai akibat perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan. Hal ini
dikenal sebagai hukum termodinamika ke nol Bila suhu sistem dan lingkungan sama istilah
panas tidak ada. Jumlah panas yang dipertukarkan antara sistem dan lingkungan
Kimia Dasar Termodinamika 143
Kimia
bergantung pada jalannya pertukaran itu (proses). Jadi panas (q) bukan merupakan fungsi
keadaan. Sebagai perjanjian q diberi harga positif (q > 0), jika panas masuk ke dalam
sistem, dan q negatif (q < 0) jika panas keluar dari sistem.
Kerja (w) didefinisikan sebagai setiap bentuk energi yang bukan panas, yang
dipertukarkan antara sistem dan lingkungan dalam suatu proses. Kerja merupakan
cara transfer energi . Gas mengembang karena ada perbedaan tekanan. Bila tekanan di
luar sistem (external) dan di dalam sistem (internal) sama, maka kerja tidak lagi dapat
diterapkan. Seperti panas, kerja bukan merupakan sifat atau keadaan sistem, melainkan
bergantung pada proses. Jadi kerja bukan fungsi keadaan. Sebagai perjanjian w positif ( w
> 0) jika lingkungan melakukan kerja terhadap sistem, dan w negatif ( w < 0) jika sistem
melakukan kerja pada lingkungan (misalnya pemuaian gas). Ada banyak bentuk kerja
misalnya kerja mekanik, kerja listrik, dan kerja ekspansi. Akan tetapi pada kebanyakan
proses/reaksi kimia bentuk kerja yang perlu adalah kerja yang berkaitan dengan
perubahan volum sistem yang disebut kerja-volum (volum work). Lihat Gambar 6.1.
V = A x h
F
PV = A (h)
A
P V = F h

P = F/A

P = F/A

h2 h

h1

Awal Akhir

Gambar 6.1. Kerja volum pada silinder berpiston

Kakas (F) kali jarak (h) adalah kerja (w).


w = PV (6.2)
Satuan w adalah Pa x m3 = N/m2 x m3 = Nm = joule (J)
Kerja (w) pada persamaan 6.2 itu adalah kerja yang dilakukan oleh sistem. Jadi w <
nol (negatif). Dengan adanya kerja-volum yang dilakukan sistem itu, maka
Kimia Dasar Termodinamika 144
Kimia
persamaan termodinamika 1 dapat ditulis sebagai :
U = q P V
Berdasarkan persamaan terakhir ini, untuk sistem terisolasi, di mana q = 0 dan w = 0, maka
U = 0., yang berarti sistem terisolasi merupakan sistem dengan energi tetap. Untuk reaksi
kimia yang dilakukan pada volum tetap di mana sistem yang melakukan reaksi tidak dapat
melakukan kerja-volum pada lingkungan, atau V = 0, maka U = qv, yang artinya panas
yang diterima sistem pada volum tetap sama dengan perubahan energi dalam (U) sistem
dan ini merupakan panas reaksi pada volum tetap.
Pada proses pengembangan (ekspansi) gas pada suhu tetap (hal ini dapat dilakukan
dengan menempatkan silinder gas di dalam wadah air yang suhunya dijaga tetap dengan
termostat), maka rata-rata energi kinetik molekul-mo;lekul gas tetap sama. Oleh karena
tidak ada kakas (kakas) tarik-menarik antara partikel-partikel gas ideal, maka molekul gas
tidak mempunyai energi potensial. Jadi apabila gas ideal dikembangkan pada suhu tetap,
tidak ada penambahan energi atau pengurangan energi sehingga U = 0 = q + w dan
q = -w.

6.3 Entalpi

Reaksi kimia kebanyakan tidak dilakuan pada volum tetap melainkan


dilakukan pada wadah terbuka pada tekanan tetap. Pada keadaan tekanan tetap ini
perubahan volum dapat terjadi. Sebagai contoh 2 mol H2(g) direaksikan dengan 1 mol
O2(g) menghasilkan 2 mol H2O(l) pada tekanan tetap 100 kPa (kilo pascal) dan volum
berubah dari 67 dm3 ke 0,0036 dm3 (perubahan volum dianggap = 67 dm3) . Bila
dibayangkan perubahan ini terjadi dalam silinder berpiston yang melakukan tekanan tetap
100 kPa, maka setelah reaksi sempurna, lingkungan melakukan kerja pada sistem sebesar
PV yaitu sekitar 6700 J (6,7 kJ). Namun dalam reaksi kimia tidak selalu terjadi perubahan
volum seperti itu atau belum tentu terjadi kerja-volum; misalnya pada reaksi kimia dalam
larutan. Untuk menghindari keterikatan terhadap kerja-volum tersebut, bila panas
reaksi diukur pada tekanan tetap, maka didefinisikan fungsi keadaan baru yang
disebut isi panas (heat content) atau entalpi (enthalpy, H, yang berasal dari kata Jerman
enthalen yang berarti to contain ).
Pada tekanan tetap berlaku,
U = qp P V
U2 U1 = qp P (V2 V1)
Kimia Dasar Termodinamika 145
Kimia
Ungkapan ini dapat disusun ulang menjadi
(U2 + PV2) (U1 + PV1) = qp
(U + PV)2 (U +PV)1 = qp
Hasil ini mengungkapkan bahwa kalor reaksi pada tekanan tetap, qp,, adalah sama dengan
selisih (U + PV). Besaran U + PV ini yang juga merupakan suatu fungsi keadaan, yang
disebut entalpi, H.
H = U + PV (6.3)
Jadi, H2 H1 = qp.
H = qp. (6.4)
Perubahan entalpi pada tekanan tetap dengan demikian dapat dinyatakan sebagai,
H = U + PV
Persamaan 6.4 berarti perubahan entalpi sama dengan panas yang diserap
sistem pada tekanan tetap. Jadi pada reaksi kimia H menyatakan panas (kalor)
reaksi pada tekanan tetap. Entalpi sistem merupakan fungsi keadaan, yang harganya
tidak tergantung pada jalannya perubahan tetapi hanya tergantung pada keadaan awal dan
keadaan akhir. Jadi, setiap proses atau reaksi yang dikerjakan pada tekanan tetap, akan
disertai dengan penyerapan atau pelepasan kalor yang sama dengan selisih entalpi sistem.
Pada beberapa hal perbedaan H dan U sangat kecil khususnya pada reaksi kimia
di mana reaktan dan produk semuanya berupa cairan atau padatan. Pada kondisi ini
V sangat kecil, demikian pula P
V, sehingga H = U. Bagi reaksi yang
V tidak dapat diabaikan. Apabila gas dianggap ideal , sehingga
menyangkut gas P
memenuhi persamaan keadaan, PV = nRT, maka pada suhu yang sama,
PV = [n(gas)]RT.
H = U + [n(gas)]RT (6.5)
Di sini, n(gas) = selisih mol gas hasil reaksi dan mol gas pereaksi; R = tetapan gas = 8,314
joule mol-1 K-1; T dinyatakan dalam K = 273 + t0C
Misalnya, C6H6(l) + 15/2 O2(g) 6CO2(g) + 3H2O(l),
n(gas) = 6 15/2 = -3/2.
H = U 3/2 RT

Kimia Dasar Termodinamika 146


Kimia
Secara eksperimen penentuan H pada kondisi tekanan tetap menggunakan
kalorimeter larutan seperti labu yang diisolai atau botol termos. Untuk penentuan U
dilakukan pada volum tetap (U = qV) menggunakan kalorimeter bomb (kalorimeter
ledak) (Gambar 6.2).

Pengaduk
Ke Termometer
sumber
listrik
Wadah terisolasi

Pereaksi

Bomb
dari baja
Air

Gambar 6.2. Kalorimeter Bomb


Pereaksi (misalnya H2 dan O2) dimasukkan ke dalam tempat peledakan yang terbuat dari
baja. Tempat peledakan kemudian dimasukkan ke dalam tempat terisolasi yang berisi
sejumlah air. Reaksi dilakukan dengan mengalirkan panas melalui kawat listrik dan panas
yang terjadi dari reaksi itu akan menaikkan suhu air. Melalui pengukuran suhu air sebelum
dan sesudah reaksi, dan dengan mengetahui kapasitas panas dari kalorimeter (termasuk
tempat peledakan dan air), maka jumlah energi panas yang dilepaskan oleh reaksi kimia itu
dapat ditentukan.
Contoh 6.2.
Ahli kimia mendapatkan bahwa pada pembakaran sempurna etana pada kalorimeter bomb
melepaskan energi sebesar 1554 kJ mol-1 pada 250C. Hitung perubahan entalpi pembakaran
etana itu.
Penyelesaian.
Persamaan reaksi pembakaran etana :
7
CH3-CH3(g) + O2 2CO2(g) + 3H2O(l)
2

n = mol gas hasil mol gas pereaksi = 2 4,5 = -2,5 mol


H = U + [n(gas)]RT
Kimia Dasar Termodinamika 147
Kimia
= (-1554 x 103 J mol-1) + (-2,5 mol)(8,31 J mol-1 K-1)(298 K)
= -1560 x 103 J mol-1 atau 1560 kJ mol-1
Dari contoh ini terlihat bahwa perbedaan antara H dengan U tidak sangat besar.

6.3.1 Hukum Hess


Menurut Hess, H tidak tergantung pada bagaimana reaksi tersebut
berlangsung, tetapi hanya bergantung pada keadaan awal dan akhir. Misalnya 1 mol
H2O(l) diubah menjadi 1 mol H2O(g) dengan menyerap panas 41 kJ. Persaman termokimia
perubahan itu :
H2O(l) H2O(g) H = +41kJ mol-1
H proses itu dapat diketahui dengan pertama-tama menguraikan 1 mol H2O(l) menjadi
gas H2 dan O2 dan kemudian menggabung kembali unsur-unsur itu menjadi H2O(g) pada
100oC dan 1 atm, dan penjumlahan kedua persamaan teermokimia itu akan memberikan
persamaan termokimia yang sama dengan persamaan termokimia penguapan H2O(l).
H2O(l) H2(g) + O2(g) H = +283 kJ mol-1
H2(g) + O2(g) H2O(g) H = -242 kJ mol-1
H2O(l) H2O(g) H = +41 kJ mol-1
Perubahan termokimia penguapan H2O(l) tersebut dapat dinyatakan secara grafik yang

H2(g) + O2(g) disebut diagram entalpi.(lihat


Gambar 6.3).
-1
H = +283 kJ mol Hukum Hess ini penting untuk
-1
H = -242 kJ mol menghitung H yang tidak dapat
H2O(g) ditentukan secara langsung melalui

H = +41 kJ mol-1 eksperimen seperti :

H2O(l) C(s) + O2(g) CO(g)


2C(s) + 2H2(g) + O2(g)
CH3CO2H(l)
Gambar 6.3 Diagram entalpi reaksi Contoh 6.3.
H2O(l) H2O(g)
Hitung perubahan entalpi untuk
reaksi :
2Al(s) + Fe2O3(s) 2Fe(s) + Al2O3(s), dari perubahan entalpi pembakaran Al dan Fe :
2Al(s) + 3/2 O2(g) Al2O3(s) H = -1669,8 kJ
2Fe(s) + 3/2 O2(g) Fe2O3(s) H = -824,2 kJ

Kimia Dasar Termodinamika 148


Kimia
Penyelesaian.
2Al(s) + 3/2 O2(g) Al2O3(s) H = -1669,8 kJ
Fe2O3(s) 2Fe(s) + 3/2 O2(g) H = +824,2 kJ
2Al(s) + Fe2O3(s) 2Fe(s) + Al2O3(s) H = -845,6 kJ

6.3.2 Panas Pembentukan Standar ( Standard Heat of Formation)


Semua zat berada pada keadaan standar 298 K, 1 atm dan dinyatakan dengan Hfo.
Misalnya Hfo H2O(l) = -286 kJ mol-1dan Hfo H2O(g) = -242 kJ mol-1 dan persamaan
termokimianya dapat dituliskan sebagai :
H2(g) + O2(g) H2O(l) Hfo = -286 kJ mol-1
H2(g) + O2(g) H2O(g) Hfo = -242 kJ mol-1
Untuk menghitung panas penguapan standar (Ho) H2O(l)) atau Ho reaksi penguapan
H2O(l), sebagaimana Hukum Hess, dapat dilakukan dengan menjumlahkan kedua
persamaan itu dengan terlebih dahulu membalik persamaan termokimia pembentukan
standar H2O(l) demikian pula Hfonya menjadi +286 kJ mol-1. Namun dengan tanpa
melakukan hal itu, tetapi hanya menggunakan data Hfo H2O(l) dan Hfo H2O(g), Ho
penguapan H2O(l) dapat dicari yaitu :
Ho = Hfo H2O(g) - Hfo H2O(l) = +44 kJ mol-1
Secara umum :
Ho reaksi = jumlah Hfo produk jumlah Hfo reaktan (6.6)
Hfo penting untuk menghitung panas reaksi standar berbagai macam perubahan kimia.
Pada perhitungan itu, Hfo unsur-unsur dalam bentuknya paling stabil pada 298 K, 1
atm, sama dengan nol. Misalnya Hfo Br2(l) = 0,00 kJ mol-1. Kalor Pembentukan-
Standar beberapa zat pada 25 oC dan 1 atm (kJ. mol-1) dapat dilihat pada Tabel.6.1.
Contoh 6.4.
Hitunglah H0 untuk reaksi : C2H4(g) + H2(g) C2H6(g)
Penyelesaian.
Hreaksi = (1 mol C2H6 x HfoC 2 H 6 ) (1mol C2H4 x HfoC 2 H 4 ) + (1mol H2 x HfoH 2 )

Kimia Dasar Termodinamika 149


Kimia
Tabel 61 Kalor Pembentukan Standar beberapa zat
pada 25 oC dan 1 atm ( kJ. mol-1 )
Zat H 0f Zat H 0f

Al2O3(s) -1676 HCl(g -92,3


Br2 (l) 0,00 HBr(g) -36
Br2(g +30,39 HI (g) +26
C(s) +1,88 KCl(s) -436,0
CO(g) -110 LiCl(s) -408,8
CO2 (g) -394 MgCl2 -641,8
CH4 (g) -74,9 MgCl .2H2O(s) -1280
C2 H6(g) -84,5 Mg(OH)(s) -924,7
C2H4(g) +51,9 NH3(g) -46,0
C2 H2 (g) +227 N2O(g) +81,5
C3 H8(g) -104 NO(g) +90,4
C6H6(l) +49 NO2(g) +34
CH3OH(l) -238 NaF(s) -571
HCOOH(g) -363 NaCl(s) -413
CS2(l) +89,5 NaBr(s) -360
CS2(g +117 NaI(s) -288
CCl(l) -134 Na2O2(s) -504,6
C2H5OH(l) -278 NaOH(s) -426,8
CH3CHO(g) -167 NaHCO3(s) -947,7
CH3COOH(l) -487 Na2CO3(s) -1131
CaO(s) -635,5 O3(g) +143
Ca(OH)2(s) -986,6 PbO2(s) -277
CaSO4(s) -1433 PbSO4(s) -920,1
CuO(s) -155 SO2(g) -297
Fe2O3 (s) -822,2 SO3(g) -396
H2O(l) -286 H2SO4(l) -813,8
H2O (g) -242 SiO2(s) -910,9
HF(g) -271 SiH4(g) +34
ZnO(s) -348
Zn(OH) (s -642,2

Kimia Dasar Termodinamika 150


Kimia
= 1 mol C2H6 x 84,5 kJ mol-1) (1mol C2H4 x 51,9 kJ mol-1) + 0
= -136,4 kJ mol-1.

6.3.3 Energi Ikatan (Bond Energy) dan energi ikatan rata-rata.


Energi potensial yang berupa energi ikat antara atom-atom dalam senyawa, turut
menentukan besarnya U. Energi potensial ini dapat diubah menjadi panas reaksi dengan
pemutusan atau pembentukan ikatan kima. Energi ini sebenarnya adalah U, namun
karena pada reaksi kimia PV yang turut menentukan H relatif kecil, maka kita dapat
menggunakan H sebagai pengganti U, dengan sebutan entalpi ikatan atau energi
ikatan.
Energi ikatan adalah enegi yang diperlukan untuk memutuskan satu ikatan
untuk mengasilkan pecahan-pecahan yang netral. Untuk molekul yang kompleks,
energi yang diperlukan untuk mengubah molekul-molekul gas menjadi atom-atom
gas netral disebut energi atomisasi (atomization energy) yaitu jumlah semua energi
ikatan dalam molekul. Molekul diatomik seperti, H2 O2, Cl2, mempunyai hanya satu
ikatan sehingga energi atomisasi sama dengan energi ikatan.
Penentuan energi atomisasi untuk molekul sederhana dapat dilakukan dengan
mempelajari spektra (kurva absorbansi vs ) yang dihasilkan oleh molekul apabila molekul
menyerap cahaya. Untuk molekul lebih kompleks, dilakukan dengan cara tidak langsung
yaitu menggunakan pengukuran Hfo., Misalnya akan ditentukan energi atomisasi dari CH4,
maka secara eksperimen dicari terlebih dahulu Hfo CH4(g) secara eksperimen, dan
ternyata = -749,9 kJ mol-1, dengan
persamaan termokimia :
C(s) + 2H2(g) CH4(g) Hfo = -749,9 kJ mol-1.
Kemudian disusun persamaan termokimia alternatif yaitu persamaan termokimia yang
mengubah pereaksi menjadi atom-atom gas dan pembentukan hasil reaksi dalam ujud gas
dari atom-atom gas pereaksi.
1. C(s) C(g) H10
2. 2H2(g) 4H(g) H2o
3. C(g) + 4H(g) CH4(g) H3o
H10 + H2o merupakan panas pembentukan atom-atom gas dari unsurnya dalam keadan
staandar dan harganya dapat dilihat pada Tabel 6.2.

Kimia Dasar Termodinamika 151


Kimia
Tabel 6.2. Panas pembentukan atom-atom gas
dari unsurnya dalam keadaan standar

Atom Hfo per mol Atom Hfo per mol


atom (kJ mol-1) atom (kJ mol-1)
H 218 F 79,1
Li 161 Na 108
Be 327 Si 454
B 555 Cl 121
C 715 Br 112
N 473 I 107
O 249

Menurut Hukum Hess, penjumlahan ke 3 persamaan reaksi itu akan memperoleh reaksi
pembentukan CH4(g) dengan Hfo sebesar :
Hfo = H1o + H2o + H3o
H3o dapat dinyatakan sebagai H atomisasi CH4(g) dengan harga negatif (-)
H3o = - [Hfo - (H1o + H2o )]
H atomisasi = H10 + H2o - Hfo
Harga ini merupakan jumlah total energi yang harus diserap untuk memutuskan 4 mol
ikatan C H dalam 1 mol CH4. Dengan membagi harga ini dengan 4 diperoleh energi
ikatan rata-rata (= energi disosiasi = HD) dari ikatan C H. Energi ikatan rata-rata
dapat digunakan untuk menghitung panas pembentukan dengan ketepatan yang dapat
diandalkan. Harga energi ikatan rata-rata berbagai jenis ikatan antar atom dapat dilihat
pada Tabel 6.3.
Berdasarkan energi ikatan rata-rata itu, entalpi reaksi dapat dihitung dari :
H = HD (ikatan putus) - HD (ikatan terbentuk) (6.7)
Hitungan tersebut didasarkan pada prinsip bahwa reaksi kimia terjadi dari pemutusan dan
pembentukan ikatan. Pada pemutusan ikatan diperlukan energi dan pada pembentukan
ikatan dilepaskan energi. Apabila dalam suatu reaksi energi untuk memutuskan ikatan
lebih besar daripada energi yang dilepas untuk pembentukan ikatan, maka H berharga
positif (reaksi endoterm), sebaliknya bila energi untuk memutuskan ikatan lebih kecil

Kimia Dasar Termodinamika 152


Kimia
daripada energi untuk pembentukan ikatan, maka H reaksi berharga negatif (reaksi
eksoterm).

Tabel 6.3 : Energi Ikatan Rata-rata


Energi Ikat Energi Ikat
Ikatan Ikatan
(kJ mol-1) (kJ mol-1)
HC 413 CC 348
HO 463 C=C 607
HN 391 CC 833
HF 563 NN 159
H Cl 432 N=N 418
H Br 366 NN 946
HI 299 NO 222
HH 435 N Cl 200
HS 339 OO 142
CO 356 O=O 498
CO 1076 O Cl 203
C S 225 O=S 665
C= S 477 FF 158
CF 452 Cl C 242
C Cl 351 Cl F 253
C Br 293 Br Br 193
CI 234 Br Cl 218
C=O 803 II 151
CN 293 I Cl 208
C=N 619 I Br 175
CN 879

Contoh 6.5.
Perkirakan nilai Hpembakaran metana.
Penyelesaian.
Reaksi pembakaran metana :
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)
Hpembakaran =[ ( 4 x 413) + (2 x 498) (2 x 803) + (4 x 463)]
Kimia Dasar Termodinamika 153
Kimia
= -810 kJ per mol CH4.
6.4 Proses dapatbalik (reversible) dan takdapatbalik (irreversible)

Sejumlah perubahan fisika dan kimia dapat berlangsung dalam satu arah. Kita
melihat bahwa kesetimbangan dapat dibentuk pada perubahan fase : pelelehan zat padat,
penguapan cairan, pelarutan zat terlarut (solute), dan berbagai reaksi kimia seperti
pembentukan dinitrogen tetraoksida :
2NO2(g) N2O4(g).
Pada perubahan fase : es menjadi air, pada 0oC penambahan energi menyebabkan es
meleleh, tetapi pelepasan energi membalikkan proses itu dan membekukan air.
Secara termodinamika proses dapat balik harus memenuhi 2 persyaratan.
Persyaratan pertama, proses itu dapat dibalikkan arahnya sehingga setiap keadaan antara
yang telah dilalui oleh sistem akan dilaluinya kembali dengan arah yang berlawanan.
Persyaratan kedua, proses itu harus berlangsung sedemikian lambatnya (dalam waktu yang
tidak terbatas) sehingga pada setiap saat sistem praktis berada dalam kesetimbangan; dan
ini hanya mungkin jika pada setiap tahap proses kakas penentang proses hanya berbeda tak
terhitung sedikitnya dari kakas penggerak proses. Jadi pada proses reversibel kakas
penggerak proses (dilakukan oleh sistem) setimbang dengan kakas penentang proses (dari
luar sistem) dan pada saat ini kerja yang dilakukan sistem maksimum karena apabila kakas
penentang proses dinaikkan akan mengubah arah perubahan proses.
Semua perubahan spontan tidak terjadi oleh proses reversibel dan kerja yang
dikeluarkan oleh perubahan spontan seperti itu selalu kurang daripada kerja
maksimumnya. Konsep proses reversibel penting sekali, antara lain karena proses ini
menghasilkan kerja maksimum. Pada uraian besaran termodinamika selanjutnya, hanya
akan dihubungkan dengan proses yang reversibel.

6.5 Kespontanan Reaksi Kimia

Thermodinamika dapat mengetahui apakah reaksi dapat terjadi secara spontan yaitu
terjadinya reaksi tanpa pengaruh faktor luar. Suatu contoh proses spontan adalah bola jatuh
menggelinding dari bukit. Sampai di bawah energi potensial bola tersebut menurun dan
dikatakan bola dalam keadaan lebih stabil karena energinya lebih rendah dari keadaan
sebelumnya. Jadi proses yang menurunkan energi sistem cenderung berupa proses
spontan. Proses spontan lain yang melepaska energi adalah campuran oksigen dan
hidrogen yang bereaksi membentuk air. Reaksi kimia ini disertai pelepasan panas/kalor
Kimia Dasar Termodinamika 154
Kimia
yang besar sehingga uap air yang dihasilkan tekanannya besar dan mudah meledak.
Disamping itu ada pula perubahan spontan yang terjadi dengan penyerapan energi.
Misalnya proses pelarutan. Garam amonium nitrat dilarutkan dalam air akan terjadi
penyerapan energi. Pelarutan amonium nitrat itu adalah proses spontan walaupn
endotermik. Ketika NH4NO3 larut dalam air, partikel-pertikel zat terlarur (solute)
meninggalkan bentuk kristalnya dan secara perlahan berdifusi ke dalam cairan pelarut
(solvent) menghasilkan larutan (solution). Keadaan akhir dari partikel solute menjadi lebih
tidak teratur (disordered) daripada sebelum larut. Pelarutpun keadaannya menjadi lebih tak
teratur dalam larutan karena molekul-molekul pelarut didispersikan (disebarkan) ke dalam
zat terlarut.
Dalam proses apapun ada kecenderungan alamiah menjadi keadaan naiknya
ketidak teraturan (randomness). Secara statistik dikatakan probabilitas (kementakan)
keadaan tidak teratur lebih tingi daripada keadaan teratur. Sebagai contoh, kita mempunyai
I mol gas dalam wadah sebelah kiri dan pada wadah sebelah kanan hampa. (lihat Gambar
6.4). Apabila kran penghubung kedua wadah dibuka, maka gas dalam wadah sebelah kiri

Gambar 6.4 : Gas berekspansi secara spontan,


mengisi ruang hampa.

akan secara spontan berpindah ke wadah lain yang hampa, sampai tiap wadah mengandung
jumlah molekul gas yang sama. Bila wadah berisi 2 molekul gas, maka probabilitas untuk
1
mendapatkan molekul gas hanya berada pada satu wadah adalah sebanyak .atau .
22
Secara umum probabilitas mendapatkan molekul-molekul gas hanya berada pada satu
1
wadah adalah , di mana n adalah jumlah partikel. Untuk gas sebanyak 1 mol, maka
2n
1
probabilitas gas berada pada satu wadah saja adalah 6 , 02 x 10 23
dan harga ini sangat kecil.
2
Jadi menjaga agar partikel berada pada satu wadah saja adalah suatu yang tidak mungkin.
Jadi ada 2 faktor yang berpengaruh pada kespontanan perubahan fisik dan
perubahan kimia yaitu : perubahan energi dan perubahan ketidak teraturan sistem.
Kimia Dasar Termodinamika 155
Kimia
Contoh 6.6.
Berdasarkan pengetahuan kimia anda, jelaskan reaksi di bawah ini yang berlangsung
spontan.
C(s) + O2(g) CO2(g)
2HgO(s) Hg(l) + O2(g)
Mg(s) + Cl2(g) MgCl2(s)
Penyelesaian.
Karbon terbakar karena adanya oksigen dan pembakaran itu terjadi setelah
dibangkitkan atau dinyalakan.
Peruraaian raksa(II) oksida menjadi oksigen hanya terjadi pada suhu yang tinggi.
Magnesium adalah logam yang sangat reaktif dan akan bereaksi dengan dahsyat
dengan gas klorin begitu reaksi itu dimulai.

6.5.1 Entropi
Derajat ketidak teraturan (degree of randomness) sistem dinyatakan dengan besaran
termodinamika yang disebut entropi dengan simbul S. Makin besar ketidak teraturan,
makin besar pula entropi. Sebagaimana besaran U dan H, entropi merupakan fungsi
keadaan, yang berarti bahwa besarnya perubahan entropi (S) hanya tergantung pada
entropi sistem pada keadaan awal dan entropi sistem pada keadaan akhir.
Perubahan entropi suatu sistem dapat terjadi dengan menambahkan
panas/kalor kepada sistem. Sebagai contoh, kristal karbon monooksida pada temperatur
mutlak 0K, mempunyai susunan kristal yang sempurna, di mana semua dipol C -O
mempunyai arah yang sama dan pada keadaan ini entropi dari sistem harganya minimum.
Apabila panas ditambahkan kepada kristal CO tersebut, suhunya naik di atas 0 K dan
gerakan termal (vibrasi) di dalam kisi kristal menyebabkan beberapa dipol arahnya
berlawanan daripada semula. Sebagai hasilnya susunan kristal menjadi kurang teratur atau
lebih tidak teratur dan entropi kristal jelas bertambah. Makin banyak panas/kalor
ditambahkan ke dalam sistem, makin besar ketidak teraturannya. Jadi dapat dikatakan
S) berbanding langsung dengan jumlah panas yang
bahwa perubahan entropi (
ditambahkan ke dalam sistem. Panas dalam hal ini adalah sebagai qrev yaitu jumlah
panas yang harus ditambahkan ke dalam sistem jika perubahan berlangsung secara
reversibel (dapatbalik).
S qrev (6.8)

Kimia Dasar Termodinamika 156


Kimia
Harga S juga berbanding terbalik dengan suhu pada saat panas itu
ditambahkan. Pada suhu rendah, sejumlah tertentu panas menyebabkan perubahan derajat
keteraturan yang relatif besar. Pada suhu mutlak 0 K, penambahan sedikit panas,
mengakibatkan sistem berubah dari keadaan sangat teratur menjadi tidak teratur yaitu
perubahan yang sangat substansial, dengan demikian S besar. Akan tetapi,apabila
sejumlah panas yang sama ditambahkan ke sistem pada suhu tinggi, maka sistem berubah
dari keadan ketidakteraturan tinggi ke keadaan yang sedikit lebih tidak teratur atau sistem
mengalami S yang relatif kecil. Jadi, dapat ditunjukkan bahwa perubahan entropi
akhirnya dinyatakan sebagai :
q rev
S = (6.9)
T
di mana T adalah temperatur mutlak pada saat qrev ditambahklan ke dalam sistem. qrev
dapat berupa panas penguapan , panas pembekuan. Entropi mempunyai satuan
energi
yaitu joule per kelvin (J K-1).
suhu

6.5.2 Hukum Termodinamika kedua


Satu pertnyataan dari hukum termodinamika kedua adalah bahwa pada setiap
S total > nol). Kenaikan
proses spontan selalu ada penambahan entropi alam semesta (
entropi ini karena perubahan dalam sistem dan lingkungan.
S total = Ssistem + Slingkungan (6.10)
Perubahan entropi yang terjadi dalam lingkungan adalah karena panas yang ditambahkan
ke lingkungan dibagi suhu ketika panas itu ditransfer.
q rev
Slingkungan =
T
Untuk proses pada P dan T tetap, panas yang ditambahkan ke lingkungan sama dengan
negatif dari panas yang ditambahkan ke dalam sistem, yang dinyatakan dengan Hsistem.
Jadi,
qlingkungan = Hsistem (6.11)
Perubahan entropi lingkungan dengan demikian adalah :
H sistem
Slingkungan =
T
dan perubahan entropi total alam semesta menjadi :

Kimia Dasar Termodinamika 157


Kimia
H sistem
S total = Ssistem
T
TSsistem H sistem
S total =
T
TS total = (Hsistem TSsistem)
Oleh karena perubahan yang spontan Stotal > nol, maka TStotal juga > nol. Ini berarti
bahwa besaran (Hsistem TSsistem) harus berharga negatif (< nol), sehingga (Hsistem
TSsistem) menjadi berharga positif. Jadi agar supaya perubahan berlangsung spontan
terjadi, maka ungkapan (Hsistem TSsistem) harus berharga negatif (lebih kecil dari nol).
Inilah saatnya mengenalkan fungsi keadaan termodinamika baru, yang disebut
energi bebas Gibbs (Gibbs free energy) dan disingkat G. Energi bebas Gibbs (G) ini
didefinisikan sebagai :
G = H TS (6.12)
Untuk perubahan pada P dan T tetap, ungkapan perubahan energi bebas Gibbs dapat ditulis
G = H TS (6.13)
Pada P dan T tetap, G harus negatif (lebih kecil dari nol).
Pada persamaan 6.13, dapat diketahui ada 2 faktor yang menentukan kespontanan proses
yaitu H dan S. Sistem dengan H < 0 (eksotermis) dan S > 0 kedua faktor itu
cenderung spontan dan proses akan terjadi secara spontan pada semua suhu. Sebaliknya
H > 0 (endotermis) dan S < 0, G akan selalu > 0 dan dengan demikian perubahan tifak
dapat terjadi secara spontan pada setiap suhu. Pada keadaan tertentu, di mana H dan S
keduanya positif atau keduanya negatif, maka suhu akan sangat menentukan untuk
mengontrol apakah perubahan pada sistem akan terjadi atau tidak. Pada keadaan di mana
H dan S > 0, maka agar G < 0 (proses spontan) suhu harus tinggi. Sebagai contoh
adalah pada pelelehan es, yang tidak dapat berlangsung spontan pada suhu di bawah 0oC
dan akan berlangsung spontan pada suhu di atas 0oC. Sebalikna pada keadaan di mana H
dan S < 0, G akan berharga negatif, hanya pada suhu rendah. Contohnya adalah pada
pembekuan air . Pada pembekuan air, panas harus dikeluarkan dari air untuk menghasilkan
es. Proses pembekuan air ini adalah proses eksotermis (H < 0) Di samping itu, pada
pembekuan air, molekul-molekul air meninggalkan keadaan tak teraturnya menjadi kristal
es, yang molekulnya lebih teratur dan pada keadaan ini S < 0. Agar supaya G < 0, suhu
harus rendah. Kalau suhu tinggi akan mengakibatkan harga TS lebih tinggi daripada H
dan pada pengurangan menghasilkan G > 0. Air pada 1 atmosfer membeku secara
Kimia Dasar Termodinamika 158
Kimia
spontan pada suhu di bawah 0oC. Di atas 0oC, pembekuan air tidak lagi berlangsung secara
spontan.
Contoh 6.7.
Apakah entropi reaksi di bawah ini positif atau negatif ?.
Ni(s) + 4CO(g) Ni(CO)4(g)
4Fe(s) + 3O2(g) 2Fe2O3(s)
H2(g) + S(s) H2S(g)
2NO(g) + O2(g) 2NO2(g)
Penyelesaian.
Lima molekul bergabung menjadi satu molekul. Jadi ketidakteraturan berkurang
dan S berharga negatif.
Tujuh molekul, tiga di antaranya berupa gas, menjadi hanya 2 molekul padat. Jadi
S < nol.
Dua molekul, satu di antaranya zat padat, menjadi satu molekul gas.
Ketidakteraturan bertambah dan S > nol.
Tiga molekul gas menghasilkan dua molekul gas dan dengan demikian ketidak
teraturan berkurang. Jadi S < nol.

6.5.3 Entropi Standar dan Energi Bebas Standar.


Hukum termodinamika ketiga menyatakan bahwa entropi zat kristal murni
pada 0K sama dengan nol. Karena pada 0 K kristal mempunyai keteraturan sempurna.
Oleh karena keadaan ini, maka sangat memungkinkan untuk mengukur harga mutlak
q rev
entropi yang dipunyai zat pada keadaan standarnya dengan asumsi kenaikan dari 0K
T
ke 298 K (25oC). Pada Tabel 6.4, dapat diketahui harga entropi standar bebeapa zat.
Entropi standar ini, dapat digunakan menghitung perubahan entropi standar dengan
perhitungan seperti hukum Hess.
S o reaksi = Sohasil - So pereaksi (6.14)
Dari panas pembentukan standar dan entropi standar, dapat pula dihitung energi bebas
standar pembentukan (G of ).

Contoh 6.8.
Hitunglah perubahan energi bebas standar pembentukan CO2 (g) dari unsur-unsurnya.
Hasil reaksi dan pereaksi diukur pada keadaan standar.

Kimia Dasar Termodinamika 159


Kimia
Penyelesaian.
C(s, grafit) + O2(g) CO2(g)
S of = S CO
o
2
(S Co + S Oo 2 )

Tabel 6.4. Entropi absolut pada 25oC dan 1 atm


So So
Zat Zat
J mol 1K 1 J mol 1K 1

Kimia Dasar Termodinamika 160


Kimia
Ag(s) 42, Hg (l) 77,4
Al(s) 28,3 Zn(s) 41,6
K(s) 63,6 AgBr(s) 107,1
Ba(s) 67 Mg(s) 32,5
Br2(l) 152,3 Mg(OH)2(s) 63,1
Mn(s) 31,8 MgCl (s) 89,5
Br2(g) 245,4 Al2 O3(s) 51,0
C(s,grafit 5,7 MgO(s) 26,8
N2 (g) 191,5 BaCO3 (s) 112,1
C(s,intan) 2,4 MnO2 (s) 53,1
NH3(g) 192,5 BaO(s) 70,3
Ca(s) 41,6 NaCl(s) 72,1
Na(s) 51,0 CaCl2(s) 113,8
NaF(s) 51,5 NH3 (g) 195,5
NaCl(s) 72,8 CaO (s) 39,7
NaBr(s) 83,7 NH4Cl(s) 94,6
NaI(s) 91,2 CCl4(l) 214,4
NaHCO3(s) 155 NO2 (s) 240,5
Na2CO3(s) 136 CO(g) 197,9
Cl2(g) 223 N2O(g) 220,0
Ni(s) 30,1 NO(g) 210,6
Co(s) 28,5 CO2(g 213,6
O2(g) 205,0 NiO2 (s) 38,6
Cr(s) 23, CH4(g) 186,2
Pb(s) 64,9 C2H6(g) 230
Cu(s) 33,3 C2H4(g) 220
P4(s) 177,4 C2H2(g) 220
F2(g) 202,7 C3H8(g) 269,9
S(s,rombis) 31,9 Fe2O3 (s) 90
Fe(s) 27,2 PbO2 (s) 68,6
Si(s 19 PbSO4(s) 149
SiO2(s) 41,8 PCl5(g) 352,7
H2(g) 130,6 SnCl4(l) 258,6
Sn (s) 51,5 SO2 (g) 248,5
H2O(l) 70,0 SO3(g) 256
H2O(g) 188,7 H2SO4(l) 157
HF(g) 206 HgO (s) 72,0
HCl(g) 186,7 ZnO(s) 43,5
HBr(g) 198,5 KCl (s) 82,7
HI(g) 206 ZnS(s) 57,7
I2(s) 116,1

= 213,6 (5,7 + 205,0) J mol-1 K-1


= +2,9 J mol-1 K-1
G of selanjutnya dapat ditentuan dari ungkapan : G of = H of . TS of .

Pada 298 K, G of = 394 kJ mol1 (298 K )(2,9 J mol1 K1)

Kimia Dasar Termodinamika 161


Kimia
= .394 kJ mol1 860 J mol1
= .394 kJ mol1 0,860 kJ mol1 = 395 kJ mol1
Harga energi bebas pembentukan standar beberapa zat dapat dilihat pada Tabel 6.5.

Tabel 6.5 Energi bebas pembentukan standar pada 25oC


dan 1 atmosfer.
G of G of
Zat Zat
kJ mol 1 kJ mol 1
Al2O3(s) -1577 HBr(g) -53,1
AgNO3)s) -32 HI(g) +1,30
C(s,intan) +2.9 H2O(l) -237
CO(g) -137 H2O(g) -228
CO2(g) -395 MgCl2(s) -592,5
CH4(g) -50,6 Mg(OH)2(s) -833,9
C2H6(g) -33 NH3(g) -17
C2H4(g) +68,2 N2O(g) +104
C2H2(g) +209 NO(g) +86,8
C3H8(g) -23 NO2(g) +51,9
CCl4(l) -65,3 HNO3(l) -79,9
C2H5OH(l) -175 PbO2(s) -219
CH3COOH(l) -392 PbSO2(s) -811,3
CaO(s) -604,2 SO2(g) -300
Ca(OH)(s) -896,6 SO3(g -370
CaSO4(s) -1320 H2SO4(l) -689,9
CuO(s) -127 SiO2(s) -805
Fe2O3(s) -741,0 SiH4(g) -39
HF(g) -271 ZnO(s) -318
HCl(g) -95,4
Telah diketahui bahwa Ho reaksi dapat dihitung dari panas pementukan standar.
Hukum yang sama juga dapat diterapkan untuk menghitung Go menggunakan G
pembentukan standar.
Go = G of, hasil - G o f , pereaksi (6.15)

Rangkuman.
Termodinamika (energetika kimia) membahas perubahan energi yang menyertai
proses kimia dan proses fisika. Istilah penting yang sangat diperlukan dalam pembahasan
termodinamika kimia ini adalah :
 sistem (system) : sistem terbuka, tertutup, dan terisolasi.
 lingkungan (surrounding).
 keadaan sistem (state of system) : tekanan, suhu, dan jumlah mol tiap komponen, serta
bentuk fisiknya (sebagai contoh gas, cairan, padatan, atau bentuk kristal).

Kimia Dasar Termodinamika 162


Kimia
Besaran P,V, dan T disebut fungsi keadaan (state functions) atau variabel keadaan
(state variable). Hubungan antara fungsi keadaan dapat dinyatakan dalam bentuk
persamaan yaitu persamaan keadaan (equation of state). Seperti persamaan keadaan
gas ideal, PV = nRT.
 proses : proses isoterm, proses adiabatik, proses isobar, proses isokhor,
 kapasitas panas (heat capacity), panas jenis (specifik heat), kapasitas panas molar.
Hukum termodinamika 1 : U = q + w, di sini U = perbedaan energi-dalam dari
sistem ahkir dengan sistem semula; q = jumlah panas (kalor) yang diterima sistem; w =
kerja yang diberikan kepada sistem. Energi-dalam (U) merupakan fungsi keadaan
sedangkan q dan w bukan fungsi keadaan. Pada kebanyakan proses atau reaksi kimia
bentuk kerja yang perlu adalah kerja-volum (volume work) : w = PV.
Fungsi keadaan baru yang berhubungan dengan panas reaksi pada tekanan tetap
adalah isi panas (heat content) atau entalpi (enthalpy, H).
H = U + PV
H = U + PV
H = qp. (perubahan entalpi sama dengan panas reaksi).
Perbedaan H dan U pada reaksi kimia cairan atau padatan sangat kecil, sehingga H =
U. Bagi reaksi yang menyangkut gas (dianggap gas ideal), berlaku :
H = U + [n(gas)]RT.
Panas reaksi (H), dapat ditentukan dengan berbagai cara : eksperimen (kalorimeter);
hukuim Hess (pada cara ini penulisan persamaan termokimia reaksi sangat penting), panas
pembentukan standar (H 0f ) : Ho reaksi = jumlah Hfo produk jumlah Hfo reaktan, atau

energi ikat rata-rata : H =


HD (ikatan putus) -
HD (ikatan terbentuk).
Proses reversibel terjadi apabila kakas penggerak proses (dilakukan oleh sistem)
setimbang dengan kakas penentang proses (dari luar sistem) dan pada saat ini kerja yang
dilakukan sistem berharga maksimum karena apabila kakas penentang proses dinaikkan
akan mengubah arah perubahan proses. Semua perubahan spontan tidak terjadi oleh proses
reversibel dan kerja yang dikeluarkan oleh perubahan spontan seperti itu selalu kurang
daripada kerja maksimumnya.
Kespontanan perubahan fisik dan perubahan kimia ditentukan oleh 2 faktor yaitu
perubahan energi dan perubahan ketidak teraturan sistem. Derajat ketidak teraturan sistem
q rev
dinyatakan oleh entropi (S) : S = , di sini T adalah temperatur mutlak pada saat qrev
T
Kimia Dasar Termodinamika 163
Kimia
ditambahklan ke dalam sistem. qrev dapat berupa panas penguapan (Hvap), panas
pembekuan(Hfus).
Hukum termodinamika kedua : setiap proses spontan selalu ada penambahan
entropi alam semesta (S total > nol).
S total = Ssistem + Slingkungan
H sistem
Slingkungan =
T
TS total = (Hsistem TSsistem)
Hsistem TSsistem , pada P dan T tetap, merupakan fungsi termodinamika yang disebut
perubahan energi bebas Gibbs. Jadi, G = H TS. Pada proses spontan, G harus
negatif (lebih kecil dari nol).
Hukum termodinamika ketiga : entropi zat kristal murni pada 0K sama dengan nol.
Berdasarkan hukum ini, entropi zat pada keadaan standar (250C dan 1 atm) dapat
ditentukan, sedangkan perubahan entropi standar dihitung dari :
S o reaksi = Sohasil - So pereaksi .

Dari panas pembentukan standar (H of ). dan perubahan entropi standar (S of ).,

dapat dihitung energi bebas standar pembentukan (G of ).

Go dapat dihitung menggunakan G pembentukan standar (G 0f )

Go = G of, hasil - G o f , pereaksi

Soal latihan.
1. Definisikanlah istilah berikut : proses isotermal, adiabatik, fungsi keadaan, kapasitas
panas, kapasitas panas molar, dan panas jenis.
2. Sebutkanlah perbedaan antara : (a) energi-dalam dengan entalpi (b) sistem dengan
lingkungan.
3. Nyatakan dengan kata-kata hukum termodinamika pertama dan hukum ke nol.
4. Mengapa U = sama dengan nol pada pengembangan (ekspansi) gas ideal secara
isotermal ?.
5. Jelaskan secara singkat empat (4) cara penentuan kalor reaksi.
6. Hidrogen (0,1 gram) dan oksigen (0,80 gram) ditekan menjadi 1 dm3, dan kemudian
diletakkan ke dalam air dalam kalorimeter.bomb. Sebelum reaksi, suhu air semula

Kimia Dasar Termodinamika 164


Kimia
25oC, setelah reaksi suhu naik menjadi 25,1550C. Kapasitas panas kalorimeter bomb,
air, dsbnya adalah 90,8 kJ oC-1. Berapakah U reaksi ini ?. (Jawaban : -14,1 kJ)
7. Reaksi logam seng dengan larutan asam klorida menghasilkan 1,5 mol gas hidrogen
pada 25oC dan tekanan 1 atm. Hitung kerja yang dilakukan untuk menekan atmosfer
dalam kJ. (Jawaban : w = -3,71 kJ).
8. Entalpi penguapan benzena pada 80oC adalah 30,8 kJ mol-1. Tentukan harga q, w,
dan U untuk proses : C6H6(l) C6H6(g).
(Jawaban :qP = H = 30,8 kJ mol-1; w = -2,93 kJ; U = 27,9 kJ).
9. Untuk reaksi : CaC2(s) + 2H2O(l) C2H2(g) + Ca(OH)2(s), pada 25oC harga Unya
= -128 kJ. Berapakah harga Honya ?. (Jawaban : H0 = -125,5 kJ).
10. 2 mol H2 dan 1 mol O2 pada 100oC, 1 atm direaksikan, menghasilkan 2 mol uap air
pada 100oC dan 1 atm, dan dilepaskan kalor total sebesar 484,5 kJ. Berapakah H
dan U per 1 mol H2O(g).?.(Jawaban : H = -242,2 kJ mol-1, U = -240,6 kJ mol-1)
11. Persaman termokimia pembakaran asetilena adalah :
2C2H2(g) + 5O2(g) 4CO2(g) + 2H2O(l) H1 = -2602 kJ
Reaksi pembakaran etana sebagai berikut :
2C2H6(g) + 7O2(g) 4CO2(g) + 6H2O(l) H2 = -3123 k
dan reaksi penggabungan hidrogen dan oksigen adalah :
H2(g) + O2(g) H2O(l) H3 = -286 kJ
Semua data di atas diukur pada suhu dan tekanan 25oC, 1 atm. Gunakanlah
persamaan termokimia tersebut untuk menghitung kalor reaksi hidrogenasi asetilena,
yang persamaannya :
C2H2(g) + 2H2(g) C2H6(g) pada 25oC, 1 atm. (Jawaban : H = -312 kJ)
12. Reaksi peruraian natrium bikarbonat (soda kue) adalah :
2NaHCO3(s) Na2CO3(s) + H2O(g) + CO2(g)
Hitung Ho untuk reaksi itu dengan menggunakan data H 0f .?.

(Jawaban : H0 = +128 kJ)


13. Hitung Ho dengan menggunakan data H 0f .untuk reaksi

2Na2O2(s) + H2O(l) 4NaOH(s) + O2(g).


Berapa kilojoule dibebaskan bila 25 gram Na2O2 bereaksi menurut reaksi tersebut ?.
?. (Jawaban : -126 kJ)

Kimia Dasar Termodinamika 165


Kimia
14. Pembakaran 1 mol benzena, C6H6(l) yang menghasilkan CO2(g) dan H2O(l),
membebaskan 3271 kJ pada 25oC dan 1 atm. Berapakah panas pembentukan standar
C6H6(l) dalam kJ per mol ?. (Jawaban : H 0f = +49 kJ mol-1)

15. Perkirakanlah kalor reaksi untuk reaksi :


H2C = CH2(g) + H2(g) H3C CH3(g). (Jawaban : H = -132 kJ mol-1).
16. Faktor-faktor apakah yang berpengaruh pada kespontanan suatu proses ?. Jelaskan
pengaruh faktor-faktor tersebut dan berikanlah contohnya.
17. Apakah yang dimaksud dengan proses reversibel ?.
18. Dalam menghitung S untuk sistem mengapa digunakan qrev. ?.
19. Jelaskan mengapa entropi zat murni adalah nol pada 0 K ?.
20. Apakah tanda perubahan entropi proses berikut :
a. Penguapan air
b. Endapan AgCl terbentuk dari larutan AgNO3 dan NaCl
235 235 238
c. 92 U diekstrak dari campuran 92 U dan 92 U
d. Na2CO3(aq) + HCl(aq) 2NaCl(aq) + H2O(l) + CO2(g).
21. Mengapa Go dapat digunakan untuk meramalkan apakah reaksi dapat diamati atau
tidak ?.
22. Panas peleburan air pada 0oC adalah 6,02 kJ mol-1. Panas penguapanya adalah 40,7
kJ mol-1 pada 100oC. Berapakah S pelelehan dan pendidihan 1 mol air ?. Jelaskan
mengapa Spenguapan > Spelelehan ?.
(Jawaban : Spelelehan = 0,02 kJ mol-1K-1, Spenguapan = 0,11 kJ mol-1K-1).
23. Silan, SiH4 adalah silikon, yang analog dengan penyusun gas alam yaitu metana
(CH4). Seperti metana, silan terbakar dalam udara menghasilkan padatan silika yang
analog dengan CO2 pada pembakaran metana.
SiH4(g) + 2O2(g) SiO2(s) + 2H2O(g)
Hitung Go untuk reaksi ini dalam kJ. ?. (Jawaban : G0= -1222 kJ)

Kimia Dasar Termodinamika 166


Kimia