Anda di halaman 1dari 13

Epidemiologi (TBC) | Page 1 of 13

[TBC]
EPIDEMIOLOGI 2010
STIKES BANTEN

KELOMPOK 1:
Ketua Kelompok : Sri Puspa
Sekretaris I : Annisa Mustafiet
Sekretaris II : Desy Lianingsih
Pembicara I : Yodia Pertiwi
Pembicara II : Rona Depritayani
Pembicara III : Winda Dwi Lovita
Pembicara IV : Indah octaviani
Pembicara V : Deni Kurniawan
Anggota:
Septi Anggarrani
Dewi Hariati
Sarrah Ulfa
Yanti Alpriyanti
Julia Rostiana
Lita Realita
Efha Yuliani
Dewi Kurniati
Rizky Fitria Amanda
Elizabeth E. D. B. Da’Lopez
Reny Oktaviani
Alviyanti Dyah Pratiwi
Epidemiologi (TBC) | Page 2 of 13

DAFTAR ISI

BAB I
1. DEFINISI
1.1. PENYAKIT TBC
1.2. PENYEBAB PENYAKIT TBC
1.2.1 KUMAN TBC
1.2.2 TERJADINYA TBC
1.3. CARA PENULARAN TBC
2. GEJALA TBC
2.1. GEJALA SISTEMIK/UTAMA
2.2. GEJALA KHUSUS
2.3. TANDA DAN GEJALA
3. DIAGNOSIS TBC
3.1. DIAGNOSIS PADA DEWASA
3.2. DIAGNOSIS MELALUI TEST KULIT
4. TBC PADA ANAK
5. RIWAYAT TBC
6. PENCEGAHAN TBC
6.1. TUJUAN PENCEGAHAN
6.2. PENCEGAHAN TBC
7. PEMBERANTASAN
7.1. TUJUAN PEMBERANTASAN
7.2. PEMBERANTASAN PENYAKIT TBC
8. PENGOBATAN
8.1. JENIS OBAT
8.2. PRINSIP OBAT
8.3. EFEK SAMPING OBAT
BAB II KASUS TBC
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I
Epidemiologi (TBC) | Page 3 of 13

1. DEFINISI

Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat
sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering
menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.

Insidensi TBC dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh
dunia. Demikian pula di Indonesia, Tuberkulosis / TBC merupakan masalah kesehatan,
baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun
diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang, Indonesia
menempati urutan ketiga setelah India dan China dalam hal jumlah penderita di antara
22 negara dengan masalah TBC terbesar di dunia.

Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes RI tahun 1992, menunjukkan bahwa
Tuberkulosis / TBC merupakan penyakit kedua penyebab kematian, sedangkan
pada tahun 1986 merupakan penyebab kematian keempat. Pada tahun 1999 WHO
Global Surveillance memperkirakan di Indonesia terdapat 583.000 penderita
Tuberkulosis / TBC baru pertahun dengan 262.000 BTA positif atau insidens rate kira-
kira 130 per 100.000 penduduk. Kematian akibat Tuberkulosis / TBC diperkirakan
menimpa 140.000 penduduk tiap tahun.

Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini
setiap menit muncul satu penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit muncul satu
penderita baru TBC paru yang menular. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang
meninggal akibat TBC di Indonesia.

Kenyataan mengenai penyakit TBC di Indonesia begitu mengkhawatirkan, sehingga kita


harus waspada sejak dini & mendapatkan informasi lengkap tentang penyakit TBC .

1.1. PENYAKIT TBC


Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan,
miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah
dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi
setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga
terbesar dengan masalah TBC di dunia.
Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993
menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%.
Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh
WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai
555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya
diperkirakan merupakan kasus baru.

1.2. PENYEBAB PENYAKIT TBC


Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama
Epidemiologi (TBC) | Page 4 of 13

kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk
mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit
TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

Bakteri Mikobakterium tuberkulosa

1.2.1 KUMAN TBC


Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) disebabkan oleh
kuman TBC
(Mycobacterium tuberculosis) yang sebagian kuman TBC
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh
lain.
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus
yaitu tahan
terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut
pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat
mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant,
tertidur lama selama beberapa tahun.

1.2.2 TERJADINYA TBC


Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali
dengan
kuman TBC. Percikan dahak yang terhirup sangat kecil
ukurannya,
sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier
bronkus,
dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan
menetap
disana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil
berkembang biak
dengan cara membelah diri di paru, yang mengakibatkan
Epidemiologi (TBC) | Page 5 of 13

peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa


kuman
TBC ke kelenjar limfe disekitar hilus paru dan ini disebut
sebagai
kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu.
Adanya
infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan
reaksi
tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari
banyaknya kuman
yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh
(imunitas
seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut
dapat

menghentikan perkembangan kuman TBC. Meskipun


demikian ada
beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister
atau
dormant (tidur). Kadang-kadang daya tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam
beberapa
bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita TBC.

Tuberkulosis Pasca Primer


Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah
beberapa bulan
atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya
tahan
tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi buruk.
Ciri
khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru
yang
luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

1.3. CARA PENULARAN TBC


Epidemiologi (TBC) | Page 6 of 13

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan
pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa.
Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan
tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar
getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh
organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering
terkena yaitu paru-paru.
Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan
segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya
melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat
melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi
jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk
dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto
rontgen.

1.4. FAKTOR ORANG TERKENA TBC


Daya Tahan Tubuh yang kurang
Kemampuan untuk melawan infeksi adalah kemampuan
pertahanan tubuh untuk mengatasi organisme yang menyerang.
Kemampuan tersebut tergantung pada usia yang terinfeksi.
Namun
kekebalan tubuh tidak mampu bekerja baik pada setiap usia.
Epidemiologi (TBC) | Page 7 of 13

Sistem kekebalan tubuh lemah pada saat kelahiran dan


perlahanlahan
menjadi semakin baik menjelang usia 10 tahun. Hingga usia
pubertas seorang anak kurang mampu mencegah penyebaran
melalui darah, sekalipun lambat laun kemampuan tersebut akan
meningkat sejalan dengan usia.

Tinggal berdekatan dengan orang yang terinfeksi aktif

Pekerjaan kesehatan yang merawat Pasien TB


Pasien-pasien dengan dahak yang positif pada hapusan langsung
(TB tampak di bawah mikroskop) jauh lebih menular, karena
mereka memproduksi lebih banyak TB dibandingkan dengan
mereka yang hanya positif positif pada pembiakan. Makin dekat
seseorang berada dengan pasien, makin banyak dosis TB yang
mungkin akan dihirupnya.

Gizi Buruk
Terdapat bukti sangat jelas bahwa kelaparan atau gizi buruk
mengurangi daya tahan terhadap penyakit ini. Faktor ini sangat
penting pada masyarakat miskin, baik pada orang dewasa
maupun
pada anak. Kompleks kemiskinan seluruhnya ini lebih
memudahkan TB berkembang menjadi penyakit. Namun anak
dengan status gizi yang baik tampaknya mampu mencegah
penyebaran penyakit tersebut di dalam paru itu sendiri.

Orang Berusia Lanjut atau Bayi

Pengidap Infeksi HIV/AIDS


Pengaruh infeksi HIV/AIDS mengakibatkan kerusakan luas
system daya tahan tubuh, sehingga jika terjadi infeksi seperti
tuberculosis maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah
bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang
terinfeksi
HIV meningkat, maka jumlah penderita TBC akan meningkat,
dengan demikian penularan TBC di masyarakat akan meningkat
pula.

2. GEJALA TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul
sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama
pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
2.1. GEJALA SISTEMIK/UTAMA
Epidemiologi (TBC) | Page 8 of 13

1. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan


malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
2. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
3. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
4. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
1.1. GEJALA KHUSUS
1. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi",
suara nafas melemah yang disertai sesak.
2. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
3. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
4. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
1. DIAGNOSIS TBC
1.1. DIAGNOSIS PADA DEWASA
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya
BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan
dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu
foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai
penderita TB BTA positif.
Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya
biakan.

Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain,


misalnya biakan.

Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya
kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan,
namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS :
Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.

1. Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA


negatif rontgen positif.
2. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen, penderita dapat dirujuk untuk difoto
rontgen dada.
Epidemiologi (TBC) | Page 9 of 13

1.1. DIAGNOSIS MELALUI TEST KULIT


Test kulit TBC dilakukan dilengan. Dalam waktu dua atau tiga
hari,
pada lengan anda apakah ada reaksi. Bila reaksinya “positif”, ini
berarti
anda mungkin sudah terinfeksi TBC. Kadang kala, bila seseorang
sudah terinfeksi kuman HIV dan TBC, bisa saja terjadi reaksi
“negatif”
dalam tes kulit TBC. Hal ini disebabkan sistim kekebalan tubuh
anda
tidak berfungsi benar. Petugas Kesehatan akan menyampaikan
pada seseorang tersebut tentang risiko terinfeksi TBC atau
penyakit TBC.
dan mungkin perlu tes medis atau perawatan.

2. TBC PADA ANAK


Penyakit TB ini mudah sekali menyerang pada anak-anak kecil yang
belum diimunisasi dengan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin),
karena kurangnya gizi dan karena lingkungan yang kurang sehat.
Tidak cukup untuk sekedar memahami cara bagaimana anak-anak
terinfeksi tuberkulosis atau bagaimana penyakit tersebut dapat
menyebar. Kemungkinan adanya tuberkulosis pada anak yang kurus
atau bila ditemukan:
1. Berat badan tidak naik atau turun selama lebih dari 14 minggu
(adanya grafik kenaikan berat badan akan sangat berguna).
2. Kehilangan gairah dan mungkin juga berat badan selama 2 sampai
3 bulan.
3. Salah satu dari (1) atau (2) yang dijelaskan di atas disertai dengan
mengi atau batuk yang sesekali dapat menyerupai batuk rejan.
4. Demam atau meriang selama lebih dari satu minggu tanpa
penyebab yang jelas.
5. Salah satu diantara (1), (2), (3) serta tanda adanya cairan – pekak,
pada salah satu sisi dada.
6. Perut membuncit, terutama bila teraba benjolan dan yang tetap
bertahan setelah pemberian obat cacing.
7. Diare kronis dengan buang air besar tinja keputihan yang tidak
sembuh setelah diberi obat cacing atau obat untuk giardiasis
(dengan metronidazole).
8. Jalan timpang, punggung kaku sukar membungkuk.
9. Tulang belakang membungkuk, tidak atau kaku saat berjalan.
10. Pembengkakan lutut atau pergelangan kaki, tangan, siku atau
bahkan iga atau tulang atau sendi yang manapun yang tidak
disebabkan cedera.
11. Pembengkakan kelenjar getah bening yang keras atau lembut, tidak
nyeri, terkadang dengan beberapa kelenjar getah bening kecil
didekatnya dan terkadang melekat tak teratur.
Epidemiologi (TBC) | Page 10 of 13

1. RIWAYAT TBC

10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC


Tiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah penderita TBC yang tinggi dibandingkan
tahun sebelumnya.
TBC membunuh lebih banyak kaum muda dan wanita dibandingkan penyakit menular
lainnya.
Terdapat sekitar 2 sampai 3 juta orang meninggal akibat TBC setiap tahun.
Sesungguhnya setiap kematian akibat TBC itu bisa dihindari.
Setiap detik, ada 1 orang yang meninggal akibat tertular TBC.
Setiap 4 detik, ada yang sakit akibat tertular TBC.
Setiap tahun. 1 % dari seluruh populasi di seluruh dunia terjangkit oleh penyakit TBC.
Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia ini sudah tertular oleh kuman TBC (walaupun)
belum terjangkit oleh penyakitnya.
Penderita TBC yang tidak berobat dapat menularkan pentakit kepada sekitar 10 ? 15
orang dalam jangka waktu 1 tahun.
Seperti halnya flu, kuman TBC menyebar di udara pada saat seseorang yang menderita
TBC batuk dan bersin, meludah atau berbicara.
Kuman TBC biasanya menyerang paru-paru.

2. PENCEGAHAN TBC
2.1. TUJUAN PENCEGAHAN
1. Menyembuhkan penderita
2. Mencegah kematian
3. Mencegah kekambuhan
4. Menurunkan tingkat penularan

2.2. PENCEGAHAN TBC


1. Saat batuk seharusnya menutupi mulutnya, dan apabila batuk lebih
dari 3 minggu, merasa sakit di dada dan kesukaran bernafas segera
dibawa kepuskesmas atau ke rumah sakit.
2. Saat batuk memalingkan muka agar tidak mengenai orang lain.
3. Membuang ludah di tempat yang tertutup, dan apabila ludahnya
bercampur darah segera dibawa kepuskesmas atau ke rumah sakit.
4. Mencuci peralatan makan dan minum sampai bersih setelah
digunakan oleh penderita.
5. Bayi yang baru lahir dan anak-anak kecil harus diimunisasi dengan
vaksin BCG. Karena vaksin tersebut akan memberikan perlindungan
yang amat bagus.

6. PEMBERANTASAN
6.1. TUJUAN PEMBERANTASAN
Pemberantasan penyakit TBC didasarkan untuk memutus
mata rantai
Epidemiologi (TBC) | Page 11 of 13

virulenci penularan penyakit TBC supaya tidak terjadi


prevalenci
penyakit TB yang lebih besar.

6.2. PEMBERANTASAN PENYAKIT TBC


1. Pengobatan pada penderita hingga sembuh
2. Perlakuan pada rumah penderita untuk lebih
memperhatikan factor kesehatan lingkungan dengan
menambah ventilator sebagai pengganti udara, genteng
kaca supaya sinar matahari dapat masuk, dan faktor
higiene lingkungan yang lain yang lebih baik.
3. Sterilisasi Rumah pasca Penderita.

1. PENGOBATAN
7.1. JENIS OBAT
1. Isoniasid
2. Rifampicin
3. Pirasinamid
4. Streptomicin

7.1. PRINSIP OBAT


Obat TB iberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa
jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan,
supaya semua kuman dapat dibunuh. Dosis tahap intensif
dan dosis tahap lanjutan ditelan dalam dosis tunggal,
sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang
digunakan tidak adekuat, kuman TB akan berkembang
menjadi kuman kebal. Pengobatan TB diberikan dalan 2
Tahap yaitu:
1. Tahap intensif
2. Pada tahap intensif penderita mendapat obat (minum
obat) setiap hari selama 2 - 3 bulan.
3. Tahap lanjutan
4. Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat (minum
obat) tiga kali seminggu selama 4 – 5 bulan.

7.1. EFEK SAMPING OBAT


Beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat mengkonsumsi obat
TB bervariasi mulai dari ringan hingga berat.Efek samping ringan dapat
berupa berubahnya warna urine menjadi kemerahan yang diakibatkan oleh
rifampisin. Efek samping lainnya dapat berupa nyeri sendi, tidak ada nafsu
makan, mual, kesemutan dan rasa terbakar di hati, gatal dan kemerahan di
kulit gangguan keseimbangan hingga kekuningan (ikterus). Jika pasien
merasakan hal-hal tersebut, pasien harus segera berkonsultasi dengan
dokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. fase lanjutan. Dalam
beberapa kasus pengobatan bisa berlangsung hingga delapan bulan.
Epidemiologi (TBC) | Page 12 of 13

BAB II KASUS TBC


Untuk menegakkan diagnosa TBC Paru adalah dengan memeriksa dahak
seseorang yang di duga mengidap TBC. Pemeriksan dahak di lakukan
secara SPS (Sewaktu saat kontak pertama, Pagi hari ke 2 dan Sewaktu
juga saat hari ke2) dibawah pemeriksaan mikroskopis. Hasil pemeriksaan
mikroskopis ini sangat dijaga kualitas dengan melakukan cros cek/ uji
silang lagi juga menjaga hasil pemeriksaan sedian dahak BTA.

Metode Penemuan Kasus TBC paru

Dengan cara passive promotive case finding artinya penjaringan


tersangka penderita yang dating berkunjung ke unit pelayanan kesehatan
dengan meningkatkan penyuluhan TBC kepada masyarakat.
Bila ditemukan penderita tuberculosis paru dengan sputum dahat BTA +,
maka semua orang yang kontak serumah dengan penderita harus
diperiksa. Apabila ada gejala-gejala suspek (Kecurigaan) TBC maka
harus diperiksa dahaknya.

Pengobatan Penderita TBC adalah dengan kombinasi beberapa jenis obat


dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6 – 8 bulan.
Pengobatan penderita TBC terdiri atas 3 fase

1. Fase Intensif . Obat diminum setiap hari selama 2 bulan


Epidemiologi (TBC) | Page 13 of 13

2. Fase Lanjutan . Obat diminum seminggu 3 kali.

Paduan OAT (OBat Anti Tuberkulosa) FDC

Saat ini di Provinsi Kalimantan Selatan sudah menggunakan OAT FDC.


Kemasan Obat FDC (Fixed Dose Combination) 1 tablet obat mengandung
150 mg Rifamfisin, 75 mg INH, 400 mg Pyrazinamid dan 275 mg
Ethambutol,
(Dikutip dari : Buku Saku Petugas Program TBC. Depkes RI
Diagram diagnosa TB

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kasu TBC pada NY S adalah


lingkungan yang lembab, kurangnya ventilasi dan sinar matahari, Kemudian
perilaku adalah tidak ada tempat khusus untuk dahak dan kalau batuk tidak
menutup mulut.

B. Saran

1. Perbaikan lingkungan (Pembuatan jendela, genting kaca dan


kebersihan rumah/lantai).
2. Menutup mulut waktu batuk dan tempat khusus untuk dahak dan
pembuangan dahak tidak sembarangan