Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang, pada


dasarnya memiliki empat dimensi pokok antara lain pertumbuhan,
penanggulangan kemiskinan, perubahan atau transformasi ekonomi serta
keberlanjutan pembangunan masyarakat agraris menjadi masyarakat
industri. Pertmbuhan pendapatan nasional akan membawa suatu perubahan
mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan
pertanian sebagai sektor utama ke ekonomi modern yang didominasi oleh
sektor-sektor nonprimer, khususnya industri manufaktur.

Semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi rata – rata pertahun


membuat semakin tinggi peningkatan pendapatan masyarakat perkapita,
semakin cepat perubahan struktur ekonomi, dengan asumsi bahwa faktor –
faktor penentu lain seperti tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi
mendukung proses tersebut. Transformasi struktural merupakan prasyarat
dari peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulanggan
kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada
kenyataannya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan
pertumbuhan struktur tenaga kerja yang berimbang, artinya titik balik
untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik
penggunaan tenaga kerja. Sehingga terjadi masalah – masalah yang
seringkali diperdebatkan di antaranya apakah pangsa PDB sebanding
dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana
yang berkembang lebih cepat, agroindustri atau industri manufaktur.
Apabila transformasi kurang seimbang dikuatirkan akan terjadi proses
pemiskinan dan eksploitasi sumber daya manusia pada sektor primer.

1
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan


sebagai berikut :
1. Apakah pengertian transformasi structural perekonomian Indonesia?

2. Bagaimana proses transformasi structural dan berbagai indikatornya?

3. Bagaimana analisis kebijakan transformasi structural perekonomian


Indonesia?

C. Tujuan Makalah

Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian


ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengertian dari transformasi structural


perekonomian Indonesia.

2. Untuk mengetahui proses transformasi structural dan berbagai


indikatornya.

3. Untuk menagetahui kebujakan transformasi structural perekonomian


Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TRANSFORMASI
STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA
Pengertian transformasi struktural merupakan prasyarat dari
peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan
kemiskinan, sekaligus pendukung bagi keberlanjutan pembangunan itu
sendiri.
Dalam menganalisis struktur ekonomi terdapat dua teori utama,
yaitu:
1. Teori Arthur Lewis
Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu
negara pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu perekonomian
tradisional di pedesaan yang didominasi sektor pertanian dan
perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor
utama. Di pedesaan, pertumbuhan pendudukknya tinggi sehingga
terjadi kelebihan supply tenaga kerja. Akibat over supply tenaga kerja
iini, tingkat upah menjadi sangat rendah. Sebaliknya, di perkotaan
sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Hal ini menarik
banyak tenaga kerja pindah dari sektor pertama ke sektor kedua
sehingga terjadi suatu proses migrasi dan urbanisasi. Selain itu tingkat
pendapatan di negara yang bersangkutan meningkat sehingga
masyarakat cenderung mengkonsumsi macam-macam produk industri

3
dan jasa. Hal ini menjadi motor utama pertumbuhan output di sektor-
sektor nonpertanian.
2. Teori Hollins Chenery
Teori Chenery memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan
proses perubahan ekonomi di suatu negara yang mengalami
transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin
utama pertumbuhan ekonomi.

Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi:


1. Kondisi dan struktur awal ekonomi awal dalam negeri
Suatu negera yang pada awal pembangunan ekonomi sudah
memiliki industri-industri dasar yang relatif kuat akan mengalami
proses industrialisasi yang lebih pesat.
2. Besarnya pasar dalam negeri
Pasar dalam negeri yang besar merupakan salah satu faktor insentif
bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi, termasuk industri, karena
menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi proses produksi.
3. Pola distribusi pendapatan
Merupakan faktor pendukung dari faktor pasar. Tingkat
pendapatan tidaklah berarti bagi pertumbuhan industri-industri bila
distribusinya sangat pincang.
4. Karakteristik Industrialisasi
Mencakup cara pelaksanaan atau strategi pembangunan industri
yang diterapkan, jenis industri yang diunggulkan, pola
pembangunan industri, dan insentif yang diberikan.
5. Keberadaan sumber daya alam
Ada kecenderungan bahwa negara yang kaya SDA
6. Kebijakan perdagangan luar negeri
Negara yang menerapkan kebijakan ekonomi tertutup (inward
looking policy), pola hasil industrialisasinya akan berkembang
tidak efisien dibandingkan negara-negara yang menerapkan
outward looking policy.

4
B. PROSES TRANSFORMASI PEREKONOMIAN
INDONESIA
Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru dapat
diklasifikasikan dalam empat fase besar (Hill, 1992: 204-205). Pertama,
menciptakan iklim yang baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi
yang cepat, dan memberikan kesempatan bagi investasi asing maupun
domestik. Kedua, fase terkait dengan adanya booming harga minyak
bumi tahun 1973-1981 dan ditandai dengan dibangunnya banyak
industri, meskipun tidak efisien. Pengaruh oil boom pada industrialisasi
di Indonesia adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cepat,
sehingga permintaan domestik untuk barang manufaktur meningkat. Oleh
karena itu, pemerintah mempercepat industrialisasi dengan membangun
banyak industri besar yang padat modal, seperti penyulingan minyak, gas
alam, pupuk, petrokimia, dan semen. Peristiwa Malari 1974, yang
meluncurkan sentimen nasionalis dan antimodal asing, berdampak pada
kebijakan perdagangan yang proteksionis.
Kedua fase diatas kemudian menjadi awal permasalahan struktur
dan efisiensi Yng serius pada dekade delapan puluhan. Penyebabnya
adalah pada tahun 1981 hingga 1985 harga minyak dunia terus menurun,
sehingga memaksa pemerintah menkaji ulang kebijakan industri.
Keadaan demikian merupakan fase ketiga dan diakhiri pada tahun 1985,
di mana kebijakan pemerintah yang memacu industri kemudian
membawa indonesia ke masalah pembayaran internasional. Baru pada
tahun 1985, fase keempat dimulai. Pemerintah mengubah investasi
pemerintah, campur tangan pemerintah, dan industri subtitusi impor
menjadi investasi swasta yang berorientasi pasar dan bersifat promosi
ekspor.
Pada dasawarsa 1980-an, Indonesia mulai muncul sebagai
kekuatan industri yang penting di antara negara sedang berkembang.
Industrialisasi di Indonesia berjalan dengan cepat sejak tahun 1966.
Walaupun begitu, Indonesia memang masih belum dapat dibandingkan

5
dengan Brazil, China, India, dan negara-negara industri baru lainnya.
Namun, pemerintahan Orde Baru terbukti berhasil
menumbuhkembangkan dan melakukan transformasi industri dengan
berbagai kebijakan makro yang hati-hati, memanfaatkan oil boom,
swasembada pangan lewat revolusi hijau, serta pembangunan
infrastruktur dan transportasi.

Adapun periode proses transformasi adalah sebagai berikut :


1. Periode Sampai 1966
Dalam era Soekarno sampai tahun 1966, pemerintah sangat
mengintervensi dan memilih berorientasi ke dalam (inward-looking)
dalam mengembangkan strategi industri. Fokus perhatian pemerintah
dititikberatkan pada BUMN (Badan Uasha Milik Negara) yang
bergerak dalam sektor manufaktur. BUMN didukung dengan kucuran
kredit perbankan, subsidi, dan valas. Namun, minimnya cadangan
devisa nasional menyebabkan langkanya bahan baku dan suku cadang
impor.
Banyak sekali terjadi privatisasi perusahaan domestik dan
nasionalisasi perusahaan asing. Sejarah BUMN Indonesia memang
tidak bisa dilepaskan dari hasil nasionalisasi perusahaan dan
perkebunan asing di masa Soekarno. Selama periode ini,
ketidakstabilan politik, defisit anggaran yang tak terselesaikan, inflasi
melonjak, serta campur tangan pemerintah dalam pasar yang sangat
kuat menghasilkan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi
perkembangan industri nasional.
Pada masa Soekarno, walaupun secara de facto maupun de jure
Indonesia sudah merdeka, tatanan perekonomian Indonesia masih
berbau ‘kolonial’. Pemerintah pada saat itu mengambil langkah-
langkah untuk mengambil alih sektor usaha yang dianggap strategis
melalui kebijakan untuk menasionalisasikan perusahaan-perusahaan.

6
Langkah-langkah tersebut tidak bisa dilepaskan dari paradigma
revolusi yang dicanangkan Soekarno, yaitu membangun karakter
nasional Indonesia (National Character Building). Pemikiran ilmiah
yang kemudian mewarnai semua kebijakan yang diambil pemerintah
Indonesia di bawah Soekarno, termasuk kebijakan di bidang ekonomi.
Pada akhir tahun 1952, Kabinet Wilopo mengambil keputusan
untuk menasionalisasikan perusahaan listrik swasta Belanda.
Selanjutnya, tahun 1953 misalnya, pemerintah mengambil langkah
untuk melakukan nasionalisasi De Javasche Bank (Java Bank) dan
diberi nama baru Bank Indonesia. Sebelumnya, Java Bank bertindak
sebagai pengendali peredaran uang dan kredit. Tindakan
menasionalisasikan Bank tersebut menjadi ‘penegasan’ kedaulatan
negara baru bernama Republik Indonesia. Alasannya adalah
kemandirian pengendalian peredaran uang dan kredit adalah unsur
pokok kedaulatan sebuah negara (Anspach, 1969:137;Thee,2004:42).
Selain menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, pemerintah
Indonesia pun melakukan nasionalisasi perusahaan penerbangan
Garuda Indonesia Airways. Perusahaan yang didirikan pada tahun
1950 merupakan perusahaan patungan antara Pemerintah Indonesia
dengan Perusahaan Penerbangan Belanda KLM. Kedua belah pihak
masing-masing menguasai 50% saham, sedangkan manajemennya
dikuasai oleh pihak KLM. Pemerintah Indonesia kemudian diberi opsi
untuk menguasai saham mayoritas pada 10 tahun ke depan. Pada masa
Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955), pemerintah Indonesia
mengambil alih Garuda Indonesia Airways sekaligus manajemennya.
Setelah itu, pihak KLM hanya memberikan bantuan teknis
(Anspach,1969:146;Thee,2004:43).
Pemerintah Indonesia terus berupaya mencapai kemandirian
ekonomi. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pada masa itu
antara lain membuat Rencana Urgensi Ekonomi (RUE). RUE sendiri
bertujuan mengembangkan industri manufaktur modern yang dikuasai
dan dikendalikan oleh orang Indonesia. Menurut RUE, pembangunan

7
industri hendaknya dibiayai dahulu oleh pemerintah, kemudian
diserahkan kepada pihak swasta atau melalui perusahaan patungan
antara pemerintah dan swasta. RUE kemudian gagal dilaksanakan
oleh Kabinet Nasir yang mencanangkannya. Kabinet-kabinet
selanjutnya pun menjalankan RUE dengan tersendat-sendat, sehingga
pada tahun 1956 RUE digantikan Rencana Pembangunan Lima Tahun
Pertama (1955-1960) yang disusun oleh Biro Perancang Negara di
bawah pimpinan Djuanda (Siahaan, 1996: 182; Anspach, 1969: 163;
Thee, 2004: 44).
Dalam rangka menyusun kekuatan tandingan untuk menyaingi
kepentingan ekonomi Belanda, pada tahun 1950 Pemerintah Indonesia
meluncurkan Program Benteng (Djojohadikusumo, 1986: 35).
Program dilakukan melalui pengembangan wiraswasta pribumi yang
tangguh dan menempatkannya pada sektor ekonomi yang penting,
yaitu perdagangan impor, di bawah kendali nasional. Pelaksanaan
Program Benteng dilakukan dengan memberikan lisensi impor kepada
para pengusaha pribumi. Harapannya adalah melalui program tersebut
pengusaha pribumi dapat memupuk modal dan kemudian melakukan
diversifikasi ke sektor usaha lainnya.
Walaupun terhitung berhasil dari segi pengendalian nasional
terhadap perdagangan impor yang ditandai dengan lebih dari 70%
perdagangan impor dikuasai oleh pribumi, Program Benteng
menyimpan kelemahan. Kelemahan antara lain adanya pihak-pihak
penerima lisensi yang kemudian menjual lisensinya kepada pihak
nonpribumi terutama etnis Tionghoa. Akibatnya, program justru
dimanfaatkan oleh para pemburu rente untuk mengambil keuntungan
jangka pendek.
Kelemahan di atas mendorong upaya pokok pemerintah untuk
menciptakan wirausahawan pribumi yang tangguh menjadi condong
ke kebijakan yang menasionalisasikan perusahaan-perusahaan
Belanda. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda memang
berhasil dalam memenuhi aspirasi nasionalisme bangsa Indonesia

8
untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Namun, kita tidak dapat
menyangkal bahwa saat itu pemerintah kekurangan dana untuk
membayar kompensasi dari nasionalisasinya. Kemudian, masih
kurangnya wiraswasta dan manajer nasional yang dapat mengelola
perusahaan-perusahaan tersebut menjadi masalah yang serius pula.
Pentingnya sumberdaya manusia sebenarnya sudah didasari oleh
para nasionalis moderat seperti Mohammad Hatta, Syarifuddin
Prawiranegara, serta Djuanda. Para nasionalis moderat menghendaki
agar pemerintah menjalankan kebijakan yang bertahap dan hati-hati
dalam proses transformasi ekonomi ‘kolonial’ menjadi ekonomi
nasional melalui transfer ilmu. Namun, situasi politik tidak
memungkinkan karena sikap kaku Belanda mengenai masalah Irian
Baratkemudian membuka peluang bagi para nasionalis radikal seperti
Soekarno untuk menempuh kebijakan konfrontatif dan berakhir pada
nasionalisasi perusahaan Belanda.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh para nasionalis radikal
terbukti berhasil menghapus dominasi bisnis Belanda atas ekonomi
Indonesia. Namun, berbagai masalah ekonomi lainnya kemudian
bermunculan, seperti inflasi yang tinggi akibat pembiayaan defisit
anggaran pemerintah, merajalelanya pasar devisa gelap karena
apresiasi riil (overvaluation) rupiah, dan masalah-masalah ekonomi
lainnya.
Pada periode Soekarno, Indonesia masih tergolong negara yang
tertinggal dalam hal pembangunan (least developing country).
Perekonomian mengalami stagnasi akibat inflasi yang sangat tinggi,
lalu ketidakstabilan politik membuat dunia bisnis terganggu. Investasi
di bidang industri sangat kecil dan sebagian besar tidak terselesaikan.
Lebih lanjut, kebanyakan industri hanya merupakan industri kecil dan
menengah pengolah bahan mentah, hampir tidak ada industri besar
yang modern. Investasi asing pun merupakan sesuatu yang langka.
Hal ini merupakan salah satu akibat kedekatan Indonesia dengan Uni
Soviet dan Eropa Timur.

9
2. Periode 1966-1985
Mulai tahun 1966, pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto
melakukan berbagai langkah reformasi perekonomian
(Glassburner,1971: Bab 1, 2, dan 13). Pemerintah melakukan
sejumlah kebijakan yang menguntungkan sektor manufaktur, terutama
leberalisasi perdagangan dan unifikasi nilai tukar (Poot,et al,1991).
Kemudian, prioritas utama berada pada pengembangan sektor swast,
dimana promosi banyak dilakukan untuk menarik investor asing
masuk ke Indonesia. Di sisi lain, perlakuan khusus, seperti subsidi
pada perusahaan pemerintah, mulai dihilangkan. Hasilnya adalah
barang baku dan suku cadang industri semakin mudah ditemukan, lalu
mulailah era bonanza industri.
Indonesia mencapai pertumbuhan rata-rata 6,7% per tahun selama
nyaris tiga dekade. Hampr tidak ada negara besar yang mencapai
prestasi seperti itu. Apa kemudian membuat Indonesia begitu
menonjol pada kurun waktu tersebut? Hal demikian tidak dapat
dilepaskan dari peran Presiden Soeharto dan sekelompok ekonom
yang dijuluki ‘mafia Barkeley’ dan duduk di pemerintahannya serta
peran faktor endowment dalam proses transformasi struktural pada
masa itu (Sjahrir,2006:4).
Tidak dapat dipungkiri, Soeharto adalah tokoh sentral
pemerintahan Orde Baru. Beliau adalah tokoh di balik kestabilan
politik Indonesia selama 3 dekade. Kestabilan politik kemudian
didukung konsistensi kebijakan ekonomi, paling tidak selama 20
tahun awal masa transformasi struktural (1967-1987), yang dimotori
oleh ekonom-ekonom seperti Widjojo Nitisatro, Ali Wardhana, J.B.
Sumarlin, Emil Salim, M. Sadli, Saleh Alif, dan Radius Prawiro.
Pada masa awal pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto
mewarisi masalah-masalah ekonomi yang pelik dari pemerintahan
sebelumnya. Inflasi tinggi mencapai 650%, utang luar negeri US$ 2,5
miliar (dengan kurs masa itu), tingkat pertumbuhan ekonomi relatif

10
rendah, serta masalah-masalah ekonomi lainnya. Oleh karena itu,
ekonomi Orde Baru dimulai dengan tahap rehabilitasi perekonomian
yang bertujuan terbats. Tahap tersebut mencakup upaya mengurangi
tingkat kenaikan harga sebagai yang utama, kemudian disertai upaya
memenuhi kebutuhan yang paling mendasar seperti beras bagi rakyat.
Rekontruksi ekonomi pasca-Presiden Soekarno pada masa-masa
awal Orde Baru didorong oleh dua kekuatan (Sjahrir,2006:5).
Kekuatan pertama adalah kekuatan dari sekelompok ekonom yang
dipimpin oleh Prof. Widjojo Nitisastro dan kekuatan kedua adalah
kekuatan mahasiswa. Para mahasiswa pada saat itu selain menekan
pemerintah melalui demonstrasi, melakukan pula seminar-seminar
ekonomi dan keuangan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
(FEUI) di bawah bimbingan Prof. Widjojo Nitisastro. Hasil-hasil dari
seminar inilah yang kemudian menjadi legitimasi kebijakan ekonomi
pada awal-awal pemerintahan Orde Baru. Sidang istimewa MPRS
yang menghasilkan Tap MPRS untuk rehabilitasi dan rekontruksi
ekonomi merupakan hasil seminar tersebut. Bahkan, seperti yang
dikatakan Prof. Widjojo Nitisastro bahwa dari 71 Tap MPRS yang
dibentuk, 69 Tap MPRS berasal dari pekan ceramah dan seminar
KAMI FEUI.
Namun, menyamakan antara apa yang disebut ‘mafia Barkeley’
dengan kekuatan yang sudah jadi, yang kemudian dipakai oleh
Presiden Soeharto, sama dengan menyederhanakan masalah.
Alasannya adalah sekelompok ekonom yang disebut ‘mafia Barkeley’
di bawah pmpinan Prof. Widjojo Nitisastro baru muncul dan solid
pada masa kabinet pembangunan II. Walaupun demikian, kita tidak
bisa menggeneralisasikan bahwa pada masa Orde Baru yang berkuasa
praktis dalah Presiden Soeharto dan sebagai pengelola ekonomi adalah
Prof. Widjojo Nitisastro (Sjahrir, 2006:6-7). Perlu diakui bahwa
pengaruh Prof. Widjojo sangat kuat sampai pada kabinet
Pembangunan V. Namun, pada masa kabinet Pembangunan VI
ditunjuk nama-nama baru seperti Mar’ie Muhammad sebagai Menteri

11
Keuangan dan Ginanjar Kartasasmita sebagai Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan/Ketua BAPPENAS. Dari penjelasan di
atas,dapat disimpulkan bahwa: pertama, seluruh kabinet pada masa
Presiden Soeharto ditunjuk dengan mutlak oleh Presiden Soeharto
tanpa pertimbangan apapun uang bisa menekan keputusan beliau.
Kedua, pada dua dekade pertama pemerintahan Orde Baru, peran Prof.
Widjojo Nitisastro culup kuat. Ketiga, pada dekade terakhir
pemerintahan Orde Baru peran Prof. Widjojo Nitisastro sudah mulai
melemah.
Sampai akhir Repelita III, sejarah pembangunan industri dapat
diterangkan berdasarkan tahapan Repelita. Pada Repelita I,
pembangunan industri terfokus pada industri di sektor pertanian
dengan cara mengawasi input dan proses output, industri perdagangan
internasional melalui subtitusi ekspor atau impor, industri bahan
mentah domestik, industri yang padat karya, dan industri yang terkait
pengembangan pembangunan regional. Lebih lanjut, bantuan khusus
diberikan kepada industri-industri dasar seperti pupuk, semen, kimia,
pulp dan kertas, serta tekstil. Tidak banyak perhatian diberikan untuk
pembangunan usaha kecil.
Repelita II (1974/75-1978/79) masih sama dengan Repelita I,
hanya ada perubahan prioritas. Penciptaan lapangan kerja menjadi
faktor utama, lalu diikuti pengembangan industri bahan mentah
domestik atau promosi yang berhubungan dengan pertanian dan
infrastruktur. Pada tahap ini, pemerintah memberikan perhatian lebih
pada pengusaha pribumi dari nonpribumi.
Pada Repelita III (1979/80-1983/84), tujuan pembangunan
ekonomi menjadi lebih luas. Modal, pertumbuhan, dan stabilitas
merupakan tujuan pokok pembangunan. Tujuan paling penting dalam
industri adalah melindungi pengusaha yang lemah secara ekonomi,
promosi pembangunan ekonomi, pembangunan industri yang broad
based, dan promosi ekspor yang padat karya.

12
3. Periode Penurunan Harga Minyak (1986-1996)
Pada periode Repelita IV (1984/85-1988/89), tujuan jangka
panjangnya adalah bagaimana mengembangkan sektor industri agar
setara dengan sektor pertanian. Tujuan pokok jangka menengah adlah
menciptakan lapangan kerja, promosi ekspor, subtitusi impor,
pembangunan wilayah, dan pengolahan sumber daya alam domestik.
Dalam jangka pendek, prioritasnya lebih pada industri mesin, industri
barang antara, dan industri penyedia input pertanian atau pengolahan
output pertanian. Ada pula penekanan pada pembangunan industri
skala kecil.
Sebuah instrumen kebijakan untuk mengatur pembangunan industri
disahkan. Sebaliknya, beberapa instrumen untuk investor asing dan
domestik yang berkaitan dengan daftar prioritas dipersiapkan oleh
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Kebijakan yang lain terkait dengan perdagangan internasional.
Impor dikontrol melalui tarif impor, kontrol kuantitatif impor, izin
impor, dan skema kredit impor. Untuk ekspor, ada pemberlakuan
pajak ekspor dan intensif impor. Sistem ekspor dan impor dikontrol
melalui beberapa reformasi pada tahun 1970. Nilai tukar digunakan
sebagai instrumen utama untuk menyeimbangkan dampak eksternal.
Kemudian, devaluasi dilakukan pada tahun 1971, 1978, 1983, dan
1986. Pemerintah pun mengimplementasikan domestic procurement
policy, yang kemudian diterima sebagai fokus tambahan di Repelita
IV.
Instrumen utama yang dapat memfasilitasi pembangunan industri
adalah tersedianya kredit dan sejumlah skema kredit telah
dikeluarkan. Namun, akses kredit masih menjadi masalah, khususnya
bagi perusahaan kecil dan pribumi. Beberapa program telah
dikeluarkan untuk mempromosikan industri skala kecil, di antaranya
program BIPIK yang memberikan masukan teknis dan manajerial
kepada perusahaan kecil. Lebih lanjut, ada pula KIK/KMPK, yaitu
program kredit untuk perusahaan pribumi skala kecil. Ada pula skema

13
pemesanan yang membatasi produksi komoditi khusus untuk
perusahaan kecil. Skema lainnya adalah perjanjian subkontrak antara
industri kecil dan industri besar.
Pada periode penurunan harga minyak mulai 1986, pemerintah
masih berprioritas menguatkan struktur industri. Setidaknya, ada tiga
fokus pengembangan kebijakan industri di Indonesia. Fokus pertama
adalah pengembangan industri subtitusi impor dengan pendalaman
dan pemantapan struktur industri. Fokus kedua adalah pengembangan
industri melalui penguasaan teknologi di beberapa bidang (pesawat
terbang, mesin, dan perkapalan). Terakhir, fokus ketiga adalah
pengembangan industri berorientasi ekspor.
Pokok-pokok kebijakan industrialisasi pada periode 1983 sampai
1993 diletakkan untuk menjadi arah bagi industrialisasi dengan
cakrawala pandang sampai akhir Pembangunan Jangka Panjang tahap
pertama, yaitu pada tahun 1998. Pokok-pokok kebijakan tersebut
bertumpu pada industri dengan daya saing kuat. Kebijakan mencakup
wawasan dan pola pikir dalam membangun industri nasional serta
butir-butir Kebijakan Indutri Nasional yang mencakup strategi utama,
strategi penunjang, dan langkah operasional yang perlu ditempuh.
Pola pikir dan wawasan yang melandasi sektor industri di atas sebagai
berikut (Sastrosoenarto, 2006: 25-33): pertama, perlu ditempuh
sejumlah upaya agar pembangunan industri nasional bergerak semakin
cepat dan meningkat. Upayanya diimplementasikan dengan adanya
kebijakan industri nasional yang memadai, dukungan iklim usaha
yang semakin kondusif, dan dukungan partisipasi masyarakat,
terutama dunia usaha, baik PMDN, PMA, non-PMA/PMDN, maupun
UKM. Upaya di atas bertujuan memanfaatkan peluang pasar yang
terbuka luas, baik dalam negeri maupun ekspor.
Kedua, sesuai dengan amanat GBHN pada waktu itu sektor industri
diharapkan mampu mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang,
yaitu sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian
yang tangguh. Sebagai penggerak utama, pembangunan melalui

14
ekspor nonmigas dengan peranan ekspor hasil industri yang semakin
dominan.

4. Periode Krisis dan Pemulihan (1997-2004)


Periode krisis di Indonesia berlangsung mulai tahun 1997. Krisis
tentu memberikan dampak yang cukup besar pada sektor industri.
Kebijakan yang diambil pemerintah dalam masa krisis sampai periode
pemulihan berorientasi pada inward dan outward-looking.
Sektor industri manufaktur Indonesia tumbuh jauh lebih lamban
sesudah krisis ekonomi Asia. Selama tahun 1996, sektor industri
manufaktur tumbuh hampir 12%, tetapi pada tahun 1997 tumbuh
hanya 5,3% dan tahun 1998 justru mengalami kontraksi sebanyak
-11,4% (tabel 4.1). sejak krisis ekonomi Asia sampai dengan tahun
2005, pertumbuhan sektor industri manufaktur hanya meningkat
dengan laju satu digit. Perkembangan yang tersendat-sendat ini jauh
berbeda dengan masa sebelum krisis pada saat sektor industri
manufaktur dapat tumbuh dengan dua digit. Selama kurun waktu
1994-1996, sektor industri manufaktur tumbuh dengan laju rata-rata
dua digit setahun, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kurun
waktu 1989-1993.

Pertumbuhan PDB dan Sektor Industri Manufaktur Indonesia


Tahun 1997-2005 (%)
199 1998 199 200 2001* 200 2003** 2004** 2005
7 9 0 ) 2 ) )

PDB 4,7 -13,1 0,8 4,9 3,8 4,3 4,9 4,9 5,6
Sektor
industri 5,3 -11,4 3,9 6,0 3,3 5,9 5,3 6,4 4,6
manufaktur

Industri
-2,0 3,7 6,8 -1,7 -6,2 2,5 0,6 12,9
migas
Industri 6,3 -13,1 3,5 7,0 4,9 6,4 5,4 10,6

15
nonmigas

Catatan: *) Mulai 2001 atas dasar harga konstan 2000


**) Angka sementara
Sumber Diolah dari BPS

5. Periode Pemulihan dan Pengembangan (2005-2009)


Tahun 2005 hingga 2009 adalah masa pemulihan dan
pengembangan industri setelah krisis. Revitalisasi, konsolidasi dan
restrukturisasi industri masih menjadi salah satu fokus kebijakan
industri. Sementara itu, pemerintah pun memprioritaskan
pengembangan industri berkeunggulan kompetitif dengan pendekatan
kluster (Departemen Perindustrian, 2005).
Cadangan sumber alam yang besar membuat sektor industri yang
di bangun di Indonesia berbeda dengan negara-negara tersebut. Naik
dan turunya harga minyak dunia menghasilkan efek ‘Dutch Disease’
yang sangat berlawanan dibandingkan dengan negara-negara Asia
Timur. Indonesia memiliki kesamaan dengan dua raksasa Asia, yakni
India dan China. Ketiganya tidak memiliki pengalaman industrialisasi
yang panjang dan belum memiliki sektor permodalan yang baik, tetapi
cukup sukses dalam melakukan transformasi ke industri yang bersifat
outward-looking.
Tujuan industrialisasi di Indonesia tidak hanya sekadar
pertumbuhan dan perubahan struktur, tetapi juga karena sektor ini
telah menjadi fokus dari debat-debat kebijakan selama Orede Baru
hingga SBY-JK. Debat-debat yang ada meliputi: ”Seberapa besar
peran asing diperbolehkan”, dan “Bagaimana seharusnya industri
rumah tangga dan golongan ekonomi lemah diproteksi dan
dimajukan?”, “Bagaimana hubungan dengan ekonomi internasional
diatur?”, dan “Bagaimana cara yang paling efektif untuk menciptakan
lapangan kerja?”, dan “Siapa yang harus memiliki BUMN?” (Hill,

16
1992: 206). Masalah-masalah demikian masih dan akan terus menjadi
perhatian pemerintahan Orde Baru selama industrialisasi masih
berjalan.
Dalam membahas industri di Indonesia, banyak hal penting yang
harus diperhatikan. Pertama, industri Indonesia sangat beragam.
Mulai dari industri pertambangan besar di pedalaman hingga ribuan
industri rumah tangga yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Industri
pertambangan membutuhkan tingkat investasi yang sangat besar,
tingkat teknologi tinggi, beroperasi bertahun-tahun dan berpasar
global. Sebaliknya, industri rumah tangga umumnya hanya sekadar
bermodal kurang dari 1 juta rupiah, dikelola oleh keluarga, beroperasi
musiman, menggunakan teknologi sederhana, dan hanya bersifat
lokal. Dengan kata lain, kita salah jika menyebutkan ‘sektor industri’
sebagai sesuatu yang homogen. Kedua, penting pula untuk membagi
industri Indonesia menjadi dua bagian besar, yakni: industri sektor
minyak dan gas (migas) serta industri lain di luar sektor minyak dan
gas (non migas).

C. ANALISIS KEBIJAKAN TRANSFORMASI


STRUKTURAL PEREKONOMIAN INDONESIA
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa transformasi
struktural merupakan prasyarat dari peningkatan dan kesinambungan
pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi
keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Namun pada kenyataannya
pertumbuhan ekonomi di iindonesia tidak disertai dengan perubahan
struktur tenaga kerja yang berimbang, artinya titik balik untuk aktivitas
ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenaga
kerja sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan
diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa
serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih
cepat, agroindustri atau industri manufaktur. Apabila transformasi kurang

17
seimbang dikuatirkan akan terjadi proses pemiskinan dan eksploitasi
sumber daya manusia pada sektor primer.
Dalam lingkup lebih kecil, misalnya pemerintah kabupaten, prinsip
dasar atas transformasi ekonomi masih dapat diberlakukan. Peningkatan
PDB dalam lingkup nasional dapat dilihat dari peningkatan PDRB dalam
lingkup kabupaten. PDRB merupakan indikator untuk menghitung dan
mengetahui bagaimana transformasi yang terjadi dalam kabupaten
tersebut, apakah masih terkonsentrasi pada sektor pertanian atau sudah
mulai beralih pada sektor industri dan jasa.
Transformasi struktur ekonomi ditandai dengan mulai beralihnya
konsentrasi ekonomi dari yang tadinya bertumpu pada sektor pertanian
mulai beralih pada sektor industri. Di negara maju, transformasi yang
terjadi sudah pada level dimana sektor industri mulai mengambil peran
yang mengecil digantikan oleh sektor jasa yang artinya pemerintah
berorientasi pada pelayanan publik tidak lagi pada peningkatan
penghasilan masyarakat.
Walaupun sebagaian besar penduduk di Indonesia bekerja pada
sector pertanian, namun dalam kenyataannya pembangunan di Indonesia
tidak memprioritaskan pada perdayaan petani, bahkan secara operasional
pemerintah Orde Baru menganut kebijakan industrialisasi secara membabi
buta. Kebijakaan yang ditempuh oleh pemerintah secara teoritis menganut
teori keunggulan komparatif dalam jangka panjang ( comparative
advantage in the long run ) yang dikembang kan oleh Findlay (1970:34),
yang banyak diterapakan oleh beberapa Negara dengan model role of
government-directed comparative advantage (Anggarwal dan
Agmon,1990:180). Kebijakan dilakukan melalui perlindungan produksi
dan pemberian hak monopoli atau subsidi, kemudahan kredit serta
perlindungan tarif yang berpijak dari momentum infrant industry
argument. Ukuran yang dipakai melihat besarnya perlindungan
pemerintah yakni nominal protection rate (NPR) yang dikenalkan oleh
Garcia (1997:45).

18
Kebijakan perlindungan pemerintah dalam proses industrialisasi ini
oleh Hill (1990:36) disimpulkan tidak bekerja sehingga dikatakan sebagai
pendekatan orthodoxy karena tidak konsisten dan terarah. Sector pertanian
yang banyak menyerap tenaga kerja hanya mendapatkan alokasi kredit
yang kecil, sebaliknya sector industry yang umumnya padat modal dan
sedikit menyerap tenaga kerja justru mendapatkan alokasi kredit yang
sangat besar. Akhibat kuatnya peran pemerintah dalam melindungi
industry dengan berbagai perlindungan dan fasilitas kredit tersebut,
kemudian menimbulkan adanya praktik Directly Unproductive Profit
Seeking (DUPS) yang dikemukakan oleh Bhagwati (1991:189), yakni
mencari keuntungan tanpa usaha produktif dan hanya diperoleh melalui
perlindungan dari pemerintah yang umumnya dilakukan oleh pengusaha
besar, sedangkan pengusaha kecil yang tidak mempunyai akses menjadi
tidak berdaya (Hanani, et. al, 2003:42)
Ketidakberdayaan pada sector pertanian dan perikanan, karena
pemerintah terlalu berorientasi pada sector industry padat modal yang
kurang begitu mengakar. Hal ini akan mengakhibatkan pada sub sector-
sub sector lain, yang tentu saja sector perikanan dan pertanian juga sangat
terpukul. Selain itu, apabila dilihat dari sisi investasi terlihat pula bahwa
kredit yang disalurkan berdasarkan kelompok sasaran masyarakat ternyata
(pada umumnya) jatuh ke usaha berskala besar, sedangkan kelompok
masyarakat kecil hanya mendapatkan porsi yang relative kecil.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Statistik Nasional 1996-
2000, ternyata penanaman proyek dalam negari dan asing, umumnya
banyak dilakukan pada sector industry (Badan Statistik Nasional, 1999-
2000). Demikian halnya dengan penanaman proyek berdasarkan
wilayahnya. Fakta yang lain juga menunjukan bahwa penanaman proyek
ini banyak terpusat di Jawa ( Sakernas; BPS, 1997 dan 1998). Hal ini
dapat terjadi disebabkan di Jawa keadaan infrastrukturnya jauh lebih baik
daripada di luar Jawa. Kecilnya selama ini penanaman proyek di luar
Jawa mengindikasikan bahwa pembangunan masih terpusat di Jawa.

19
1. Tuntutan Pembangunan Pertanian Di Masa Depan

Strategi pembangunan pertanian tidak bias dikaji secara terpisah,


tetapi harus diintegrasikan dengan pembangunan di sector ekonomi lain
sehingga diperlukan keseimbangan antara aliran barang, capital, dan
tenaga kerja antarberbagai sector dan daerah dalam perekonomian. Bagi
Ranis (Colman, 1994;238) contoh keseimbangan ideal yakni Taiwan dan
NICs (Newly Industrial counrty’s) Asia Timur sepanjang rangkaian
pembangunan mereka pasca 1945 melakukan pembangunan dua sisi. Satu
sisi adalah pertumnuhan keseimbangan produksi padat tenaga kerja yang
dipicu oleh pertumbuhan infrastruktur di daerah pedesaan dan sisi lain
yakni penyebaran teknolog padat tenaga kerja yang cepat untuk
memproduksi output berorientasi pasar eksternal. Apabila menerjemahkan
apa yang disampaikan oleh Ranis tersebut, maka ada beberapa hal yang
bias disimpulkan dalam pembangunan pertanian, yaitu sbb:
1. Investasi bisa dilakukan dalam proyek-proyek padat karya di
daerah pedesaan di awal pembangunan.

2. Investasi tidak terbatas pada sector pertanian tetapi juga


melingkupi sector industry kecil skala pedesaan.

Alasan yang lebih kuat untuk memberikan perhatian besar pada


pembangunan pertanian, yakni karena pertanian merupakan mata rantai
terlemah dalam rantai pembangunan di Negara-negara berkembang.
Sejalan dengan perubahan tatanan politik di Indonesia yang mengarah
pada era demokratisasi, maka maka pembangunan sector pertanian di
masa datang dihadapkan pada dua tantangan pokok sekaligus.yaitu:
a. Tantangan internal, yakni pembangunan pertanian tidak saja dituntut
untuk mengatasi masalah-masalah yang sudah ada, namun di hadapkan
pula pada tuntutan demokratisasi yang terjadi di Indonesia.

b. Tantangan eksternal, yakni pembangunan sector pertanian diharapkan


mampu untuk mengatasi era globalisasi dunia.

20
Kedua tantangan selanjutnya akan disajikan acuan dalam
mengidentifikasi masalah dan isu pembangunan sector pertanian di
Indonesia.
Dalam perumusan kebijakan pembangunan pertanian dimulai
dengan identifikasi kelemahan menejemen pembangunan pertanian yang
dilakukan sehingga dapat di identifikasi kebutuhan pembangunan untuk
mengatasi masalah tersebut. Selanjutnya, untuk mengatisipasi
pembangunan pertanian yang berorientasi pada masa datang, dilakukan
pula identifikasi masalah yang ditimbulkan karena tuntutan internal, yakni
adanya era demokratisasi di Indonesia dan globalisasi ekonomi di dunia.
Identifikasi masalah karena tuntunan demokratisasi diorientasikan pada
dua aspek kajian, yakni identifikasi masalah yang berkaitan dengan
otonomi daerah (pemberdayaan wilayah) dan identifikasi masalah yang
berkaitan dengan tuntutan pemberdayaan masyarakat, khususnya petani
kecil. Sedangkan identifikasi masalah yang berkaitan dengan globalisasi
dikaji dalam aspek adanya globalisasi usaha pertanian, liberalisasi
perdagangan, liberalisasi informasi, perubahan selera konsumen,
perubahan teknologi, tuntutan nilai social dan lingkungan. Dari
identifikasi masalah karena tuntutan internal yang disebabkan adanya
demokratisasi dan tuntutan globalisasi, akan didapatkan isu-isu
pembangunan pertanian yang berusaha mengantisipasi adanya era
demokratisasi dan globalosasi dunia.
Tujuan pembangunan pertanian saat ini adalah:

a. Meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani melalui


pengembangan system agrobisnis dan usaha agrobisnis.

b. Mengembangkan aktivitas ekonomi pedesaan melalui


pengembangan system agrobisnis dan perusahaan-perusahaan
agrobisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, dan terdesentralisasi

c. Mewujudkan system ketahanan pangan yang berbasis pada keaneka


ragaman sumber daya bahan pangan, kelembagaan dan budaya
pangan local di setiap daerah.

21
d. Meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha secara
adil melalui pengembangan system agrobisnis (Soekartawi,
1992:18)

2. Implikasi kebijakan dalam mengatasi ketimpangan-ketimpangan


ekonomi yang terjadi karena transformasi structural melalui :

a) Upaya mengatasi terjadinya penumpukan tenagakerja di sektor


pertanian yang notabene pada umumnya berada di daerah pedesaan
dapat dilakukan melalui pengembangan industri berbasis pedesaan,
dengan harapan di satu sisi mampu menyerap kelebihan
tenagakerja tersebut, dan di sisi lain mampu mendatangkan nilai
tambah bagi produk pertanian. Sehingga pada akhirnya proses
percepatan pemiskinan di sektor pertanian bisa diperlambat.

b) Pengembangan teknologi pertanian terutama pada daerah-daerah


yang kelebihan tenagakerja seyogyangya diarahkan pada inovasi
teknologi sarat tenagakerja, sehingga masalah kelebihan
tenagakerja pada daerah tersebut dapat dikurangi.

c) Perlu adanya restrukturisasi industri di Indonesia yang mengarah


kepada kesesuaian dengan kualitas dan kualifikasi tenagakerja
yang ada sekarang. Atau sebaliknya, jenis pendidikan yang harus
dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar
tenagakerja, khususnya pasar tenagakerja pada sektor
industri.Sehingga fenomena banyaknya pengangguran dengan
tingkat pendidikan sarjana bisa dikurangi.

d) Porsi jumlah dana yang dianggarkan pemerintah dalam bentuk


investasi di sector pertanian perlu ditingkatkan lagi, mengingat
transformasi tenagakerja relatif lebih respon terhadap perubahan
kesempatan kerja di sektor pertanian dibandingkan perubahan
kesempatan kerja disektor industri dan jasa.

22
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Pengertian transformasi struktural merupakan prasyarat dari peningkatan


dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan,
sekaligus pendukung bagi keberlanjutan pembangunan itu sendiri.

B. Saran

Seperti yang telah kita ketahui bahwa tingkat kemakmuran suatu


negara dilihat dari bagaimana keadaan perekonomian negara tersebut.
Oleh karena itu perekonomian Indonesia harus selalu ditingkatkan agar
kemakmuran Indonesia juga terus meningkat dan perekonomian Indonesia
tetap bisa bersaing dengan perekonomian dalam dunia internasional
khususnya dengan negara-negara maju.

23
DAFTAR PUSTAKA

Tambunan, Tulus T.H.2001.Perekonomian Indonesia.Teori dan Temuan


Empiris.Jakarta:Indonesia

Kuncoro, Mudjarad.2007.Ekonomika Industri Indonesia.CV Andika


Offset:Yogjakarta

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(2)soca.kebijakan struktur ekonomi dan


kesempatan kerja(1).pdf (diakses: kamis, 8 April 2010)

http://vinayunita.wordpress.com/2008/10/25/transformasi-struktur-
perekonomian-indonesia/. (diakses: kamis, 8 April 2010)

www.scribd.com/doc/29306651/Transfprmasi-struktural-di-negara-
maju.html.

24