Anda di halaman 1dari 14

25

Reaksi langsung (korosi kering) termasuk oksidasi di udara, reaksi dengan

uap belerang, hidrogen, hidrogen sulfida dan kandungan udara kering lainnya,

juga reaksi denganlogam cair misalnya: natrium. Reaksi demikian nyata dan lazim

pada suhu relatf tinggi. Pada korosi basah (elektrolitik), sel korosinya terdiri dari

anoda dan katoda yang saling berkontak listrik dengan suatu elektrolitik pula.

b. Pengendalian korosi dengan pelapisan logam

Berbagai barang logam dibbuat, dibentuk, dicetak, sehingga jadilah wujud

akhirnya seperti dikehedaki, baik untuk kendaraan maupun yang lainnya. Setelah

itu diperlukan tahap penyelesaian (finishing). Finishing itu bermacam-macam, ada

yang sekedar dipoles agar halus dan mengkilap, dapat pula dilapisi logam agar

sifatnya berubah, dapat dicat, atau dipernis, atau dilapisi keramik, ada pula

pelapisannya dari turunan subtratnya sendiri misalnya dalam bentuk oksidanya,

penghitaman baja, anodisasi dan sebagainya. Finishing diperlukan bagi logam-

logam yang mudah mengalami korosi, Finishing berfungsi juga seagai dekoratif.

Finishing logam merupakan bidang yang sangat luas. Beberapa proses

penting dalam finishing adalah pembersihan atau chemical treatment, anodisasi,

pelapisan logam elektroless (tanpa listrik), pelapisan/coating konversi, pelapisan

mekanis. Akan tetapi bidang-bidang finishing logam seperti keramik, metalisasi

vakum, spraying logam, hard facing, dan lain-lain karena berkaitan pula dengan

suhu tinggi dan berpengaruh tidak hanya diatas permukaan barangnya, biasanya

dikelompokkan terpisah.

c. Pengendalian Korosi Dengan Cat


26

Pengecatan adalah proses dimana cairan cat digunakan untuk membentuk

lapisan tipis yang bila telah mengering dan mengeras, akan berubah menjadi

lapisan yang sangat keras.

Tujuan utama dari pengecatan adalah untuk melindungi bagian-bagian

atau kelengkapan-kelengkapan kendaraan bermotor dan kerusakan akibat korosi

yang disebabkan oleh air, minyak dan bahan kimia dan kotoran-kotoran lainnya.

Disamping itu pengecatan juga diperlukan untuk menambah nilai estetika atau

keindahan sehingga penampilan dari kendaraan jadi menarik, indah dan pantas

untuk dipandang.

Cat terdiri dari dua komponen yaitu, komponen utama dan komponen

pembantu. Komponen utama terdiri dari unsur-unsur yang akan tetap tinggal pada

lapisan kering sesudah pengecatan, unsur-unsur tersebut adalah:

• Pigmen atau bahan pewarna. Fungsi pigmen adalah:

o sebagai bahan pengisi atau bahan penutup

o memberikan kekentalan dan sifat air yang sesuai

o untuk melindungi dari korosi

o memberi warna pada cat

• Resin, merupakan inti dari cat. Resin berupa senyawa polimerik

organik. Resin berfungsi sebagai sebagai pembentuk lapisan cat.

• Solvent dan thinner, solvent adalah bahan pelarut zat lain untuk

menjadi larutan. Dalam proses pembuatan cat, solvent digunakan


27

untuk melarutkan resin sehingga pigmen dapat bercampur dengan

mudah terhadap resin. Thinner adalah campuran dari solvent.

Digunakan untuk mencairkan cat sampai pada tingkat viskositas

yang tepat untuk digunakan. Solvent dan thinner akan menguap bila

cat dikeringkan, dan tidak tertinggal didalam lapisan.

• Aditif, adalah zat cair yang mempercepat proses pengeringan atau

memungkinkan lapisan cat kering lebih tahan terhadap lingkungan

kerja.

3.1.2 PRETREATMENT

a. Coating

Proses coating dengan menggunakan larutan phosphating atau chromating

merupakan suatu proses atau reaksi kimia pelapisan zinc phosphate terhadap

logam sebagai usaha pencegahan terhadap karat serta memperkuat ikata kimia

yang akan melapisinya pada proses selanjutnya.

Bahan kimia yang digunakan untuk proses coating atau pelapisan adalah

palbond, untuk zinc coating. Bahan kimia ini sangat cocok digunakan pada logam

yang nantinya memerlukan painting atau proses yang lebih lanjut seperti pada

part, body otomotif, furniture, home appliance, dan lain-lain.

Hasil Coating ini akan mempengaruhi dan menentukan kualitas proses

selanjutnya yaitu painting, sehingga untuk mendapatkan hasil yang optimal perlu

adanya kontrol rutin terhadap proses kerja serta bahan kimia yang digunakan.

Untuk proses coating, terbagi atas beberapa proses diantaranya:

• Degreasing
28

Fungsi degreasing adalah untuk menghilangkan oli, grease, dan

pengotor lainnya yang terdapat pada permukaan metal. Larutan

degreasing bersifat alkali, berpengaruh dan menentukan dalam main

process phosphating bahkan dalam proses painting. Untuk mendapatkan

hasil pencucian yang baik pada proses ini perlu adanya kontrol terhadap

parameter-parameter berikut:

o konsentrasi larutan

o temperatur larutan

o waktu dipping atau spraying

• Water rinse after degreasing

Water rinse setelah degreasing berfungsi untuk membersihkan

permukaan logam dari sisa-sisa larutan degreasing. Untuk mendapatkan

hasil yang baik maka diperlukan penggantian air yang melimpah (over

flow) dengan maksud untuk mengurangi kadar kontaminasi pada tangki

Water rinse.

• Surface conditioning

Proses ini berfungsi untuk mencegah kekasaran lapisan yang tidak

teratur dimana sering terjadi pada permukaan logam setelah mengalami

perlakuan oleh asam kuat. Bahan kimia yang dipaka berfungsi untuk

mengatur kondisi permukaan logam dan lapisan kristal phosphating

menjadi lebih rata, selain itu juga menjaga agar coating weight tetapdalam

standar spesifikasi. Untuk mendapatkan hasil coating yang baik, maka

perlu adanya penggantian terhadap larutan secara kontinyu.

• Phosphating
29

Proses ini merupakan proses utama dalam pre-treatment dimana

terjadi reaksi kimia antara metal dan larutan phosphat yang meghasilkan

coating anti karat. Proses ini berjalan dengan sistem dipping, permukaan

logam berwarna keabu-abuan. Oleh karena proses berjalan kimiawi maka

dalam prakteknya terdapat penambahan bahan kimia pembantu yaitu AC-

131 yang berfungsi sebagai katalis reaksi yang memberi keoptimalan

coating pada permukaan logam.

• Water rinse after phosphating

Water rinse setelah phosphating berfungsi untuk membersihkan

permukaan logam yang telah ter-coating dari sisa reaksi dalam proses

phosphating. Hasil akan lebih baik jika penggantian air dikondisikan

berlebih agar kadar kontaminasi pada tangki berkurang.

Apabila bagian atas produk masih belum bersih (proses dipping)

maka dapat dibantu dengan spraying saat produk tersebut keluar dari

tangki Water rinse.

• Demineral-ionized water rinse

Proses ini dalam pencucian terakhir pada proses pre-treatment,

berfungsi untuk mengurangi kontamiasi serta kotoran pada produk yang

telah ter-coating, sehingga lapisan tetap tahan dan kuat terhadap karat. DI

water merupakan air yang bebas dari kandungan mineral dan ion-ion lain

(asam-basa).

b. Komposisi bahan kimia

Dalam proses pre-treatment keseluruhan prosesnya sebagian besar

menggunakan bahan kimia antara lain:


30

• Degreasing, bahan kimia yang digunakan adalah fine cleaner dengan

type FC 4328A, dengan komposisi bahan kimia yang harus diberikan

adalah 100 kg.

• Water rinse, bahan kimia yang digunakan adalah air dengan

kapasitas air yang harus diberikan dalam tiap bak adalah sebanyak

4800 L.

• Surface conditioning, bahan kimia yang digunakan adalah propalene

sebanyak 20 kg dan soda ash sebanyak 1 kg.

• Phosphating, menggunakan bahan kimia palbond dengan tipe 3150

sebanyak 300 L, dan asselelator sebanyak 100 L.

• Demineralionized water rinse, menggunakan air yang bebas dari

kandungan mineral dan ion-ion asam dengan bahan kimia postiksoda

sebanyak 50 kg, dan HCL sebanyak 35 kg.

c. Peralatan dan Mesin

Mesin adalah suatu alat yang digerakkan oleh suatu kekuatan atau tenaga

yang dipergunakan untuk membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaannya.

Perlatan disebut juga tools yaitu perkakas yang digunakan untuk membantu

pekerjaan dalam proses produksi.

Dalam proses produksi, faktor yang penting dalam menentukan kelancaran

adalah masalah mesin dan peralatan. Oleh karena itu penggunaan peralatan yang

baik dan teapat sangat menunjang hasil pekerjaan yang memuaskan dan

memenuhi standar kualitas.

Perlatan serta mesin yang digunakan di PT. Krama Yudha Ratu Motor,

khususnya pada bagian pre-treatment proses painting adalah:


31

• Skid, yaitu tempat meletakkan part-part yang akan masuk ke proses

pre-tretment.

• Spray Nozzle, adalah suatu alat untuk menyemprot bahan- bahan

kimia ke bagian kendaraan.

• Filter, adalah alat yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran,

agar kotoran-kotoran tersebut tidak masuk ke dalam bak dan pipa

aliran, yang terdapat dalam bak pencampuran bahan kimia.

• Boler,adalah suatu mesin pemanas air untuk di transfer ke bagian

pre-treatment, karena di bagian pre-cleaning sampai dengan

phosphating memerlukanair yang panas agar kotoran dapat cepat

larut, dan sebagai pemanasnya adalah burner, booiler menggunakan

bahan bakar solar.

• Pompa, adalah alat yang berfungsi untuk menghisap cairan serta

larutan bahan kimia yang kemudian diteruskan ke pipa-pipa aliran.

• Overhead conveyor, adalah suatu alat yang membawa skid ke proses

pre-treatment. Alat ini bekerja secara otomatis.

d. Proses pre-treatment

Proses pre-treatment adalah proses dasar pelapisan permukaan logam

sebagai usaha pencegahan terhadap karat serta memperkuat ikatan kimia yang

akan melapisinya pada proses selanjutnya. Proses pre-treatment pada PT. Krama

Yudha Ratu Motor menggunaakan system spray dan dipping. Panjang bagian pre-

treatment (PC-8) adalah 89 m, pitch antar skid di PC-8 adalah 3.063 m.


32

Gambar 3.1 Ruang Pretreatment

Proses pre-trestment itu sendiri terbagi atas beberapa poses, diantaranya:

• Pra haging up yaitu proses dimana kendaraan harus bebas karat,

kotoran , minyak, dan penyok dengan cara:

o Air Blow seluruh bodi setiap bagiannya

o Lap dengan kain lap yang dibasahi dengan minyak tanah

seluruh bagian bodi setiap unit.

o Amplas bagian yang karat dengan amplas CW 220.


33

Gambar 3.2 Setelah Pra hanging up

• Hanging Up, adalah proses menaikkan bodi ke skid. Adapun prosesnya

adalah:

o Pasang part ke skid yang telah dihubungkan ke overhead

conveyor.

o Ikat sisi-sisi part dengan menggunakan rantai. Hal ini

mencegah part jatuh atau goyang pada saat proses pre-treatment.

o Pasang small jig bumper dan pasang bumper.

o Angkat skid dengan menggunakan overhead conveyor

untuk memulai proses.

Gambar 3.3 Hanging UP

• Pre-celaning, yaitu proses dimana kendaraan arus bebas kotoran (sisa-

sisa gram dari welding yang masih tersisa). Prosesnya antara lain:

o Pencucian awal dengan air pada temperatur ruang, air yang

digunakan adalah air biasa yang berasal dari pemanasan boiler,


34

kemudian air dari boiler tersebut dialirkan melalui pipa-pipa

yang kemudian disemprotkan oleh nosel ke seluruh bagian part.

o Selain pembersihan kotoran-kotoran dan melunakkan oli

dan minyak, air dari boiler tersebut juga dimaksudkan untuk

membersihkan kotoran agar cepat larut.

Kapasitas bak pada proses pre-cleaning adalah 4800 L, dengan

jumlah nosel yang digunakan sebanyak 90 buah. Air dalam proses ini

selalu disirkulasi denagn pompa dan ditambah jika volume

berkurang, filter yang terdapat di dalam bak selalu dibersihkan agar

cairan bahan kimia dapat mengalir dengan lancar. Suhu yan

digunakan adalah 30°-40°C, tekanan nosel yang digunakan adalah

1.3-1.5 kg/cm2 dengan lama penyemprotan 1-5 menit.

• Degreasing I dan II, suatu proses pembersihan bodi dari oli dan

minyak. Adapun prosesnya adalah:

o Seluruh cairan bahan kimia yang terdapat dalam bak yang

berupa fine cleaner sebanyak 96 kg yang telah tercampur,

kemudian dihisap oleh pompa yang diteruskan ke pipa-pipa

aliran, kemudian cairan tersebut disemprotkan melalui nosel

yang dimaksudkan untuk menghilangkan oli dan minyak yang

masih melekat ke bodi setelah dilunakkan pada pre-cleaning.

o Suhu dalam proses ini adalah : 50°-60°C.

o Didalam proses ini konsentrasi larutan setiap hari diukur

dan dilakukan perbaikan point yang diukur.


35

Kapasitas dalam bak degreasing dapat menampung sebanyak

4800 l. Pemanasan air menggunakan boiler yang disirkulasi ke alat

penukar panas (heat exchanger) untuk memanaskan larutan

degreasing. Jumlah nosel yang digunakan pada degreasing I

sebanyak 161 buah, untuk degreasng II jumlah nozel yang

digunakan sebanyak 162 buah. Tekanan nozel yang digunakan

adalah 1,3-1,5 kg/cm2.

• Water rinse I dan II, adalah pembilasan terhadap proses degreasingi.

Prosesnya adalah:

o Air yang terdapat dalam bak dihisap oleh pompa yang

kemudian diteruskan ke saluran pipa yang nantinya akan

dialirkan ke nozel, lalu oleh nozel akan disemprotkan, proses ini

bertujuan agar sisa-sisa larutan degreasing dapat larut, suhu yang

digunakan adalah suhu temperature ruang.

Kapasitas bak water rinse I dan II adalah sebanyak 1000 l untuk

tiap satu water rinse. Air selalu disirkulasi dengan pompa dan

ditambah jika volume bak berkurang. Jumlah nozel untuk Water

rinse I adalah sebanyak 36 buah, untuk water rinse II menggunakan

nozel sebanyak 54 buah,tekanan nozel yang digunakan 1,3-1,5

kg/cm2 dengan lama spray 0,5-1 menit. Suhu yang dipakai adalah

suhu temperatur ruang.

• Surface conditioning, adalah suatu proses pengkondisian atau

penyiapan permukaan logam agar proses pelapisan phosphate lebih

sempurna, prosesnya adalah:


36

o Proses surface conditioning menggunakan metode dipping

atau pencelupan dalam treatment style-nya. Tujuan dari metode

dipping ini adalah agar dapat menjangkau sela-sela atau sisi –sisi

part yang sulit terjangkau jika menggunakan sistem spray. Part

dicelupkan ke dalam bak yang berisi larutan prepalene sampai

batas waktu tertentu.

o Suhu dalam proses ini adalah <40°C.

Kapasitas bak Surface conditioning adalah sebanyak 58.000 l.

lama pencelupan adalah sekitar 20-40 detik.

• Phosphating, proses ini merupakan proses utama dalam pre-treatment

dimana terjadi reaksi kimia antara metal dan larutan phosphat yang

menghasilkan coating anti karat., prosesnya adalah:

o Proses ini berjalan dengan sistem dipping 2 stage, sehingga sisi-sisi

bodi yang sulit terjangkau dapat ter-coating dengan baik. Larutan

proses ini merupakan campuran antara palbond dan asselerator

sehingga membuat lapisan anti karat. Warna logam akan keabu-

abuan setelah mengalami proses ini.

o Suhu dalam proses ini adalah 40°-45°C.

Kapasitas bak phosphating adalah sebanyak 140.000 l. lama

pencelupan adalah sekitar 90-180 detik.

• Water rinse 3 dan 4, adalah proses pembilasan terhadap proses

phosphating. Prosesnya adalah:

o Untuk Proses water rinse 3 dan 4 ini sama dengan water rinse 1

dan 2 yaitu air dalam bak penampungan dihisap oleh pompa yang
37

diteruskan ke saluramn pipa yang kemudian disemprotkan

melalui nozel, proses ini bertujuan untuk membersihkan bodi

atau part dari sisa-sisa larutan phosphate yang tertinggal.

Kapasitas bak 5000 l. air ditambahkan setiap ada pengurangan

volume. Jumlah nozel pada water rinse 3 dan 4 sebanyak 36 buah,

tekanan nozel 1,3 -1,5 kg/cm2 dengan lama penyemprotan 20 detik.

Suhu yang digunakan adalah suhu temperatur ruang.

• Deionize water, adalah proses pembilasan dengan air deionized (air

suling) agar tidak ada ion bebas yang ikut bodi sehingga bak CED

tidak terkontaminasi, prosesnya adalah:

o Deionize water yang berupa campuran dari postiksoda dan HCL,

dihisap melalui pompa yang diteruskan ke saluran-saluran pipa,

yang kemudian diterima oleh nozel, kemudan nozel-nozel

menyemprotkan ke seluruh bagian bodi. Ai yang digunakan

adalah air yang tidak mengandung ion-ion bebas dan air yang

dingin.

Suhu yang digunakan adalah suhu temperatur ruang. Jumlah

nozel yang digunakan sebanyak 16 buah, tekanan nozel 1,3-1,5

kg/cm2 dengan lama penyemprotan sekitar 20 detik.

Seluruh proses pre-treatment dari pre-cleaning sampai dengan

phosphating, air hasil pembuangannya perlu diolah lagi dan tidak bias dibuang

langsung ke lingkungan luar, sedangkan untuk proses water rinse dan deionize

water, air hasil pembuangannya bisa langsung dibuang ke tempat yang tlah

disediakan karena tidak mengandung bahan kimia.


38

3.1 Hambatan dan Solusi Pekerjaan

Dalam kegiatan observasi di bagian pretreatment painting PT Krama

Yudha Ratu Motor, ditemukan beberapa permasalahan, diantaramya:

Proses Sebab Dampak Solusi


Degreasing Suhu Rendah Pencucian kurang bersih Setting temperatur

Suhu tinggi Oil mark Setting Temperatur

Oil content over spec Pencucian kurang bersih Remake-up


Water Rinse Cont. Tinggi Hasil pencucian kurang Drain, overflow

(Degreasing) bersih
Surface PH Rendah Terjadi Powdering, Tmbahkan chemical

conditioning permukaan phospating sesuai spec

kasar, terjadi blue color

PH Rendah Boros Pemakaian, Re make-up

larutan tidak pernah

diganti
Phosphating Suhu tinggi Drymark, powdering Setting temperatur

Suhu Rendah Yellow Mark Setting temperatur

F.A. Tinggi Yellowing Neutralize sesuai spec

F.A.. Rendah Coating tipis, blue color Additive sesuai spec


Water Rinse Cont. Tinggi Hasil Pencucian kurang overflow

(Phosphating) bersih
Tabel 3.1 Permasalaha Pretreatment painting