Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

PENETAPAN KADAR PARACETAMOL DENGAN


KLT-SPEKTRODENSITOMETRI

Oleh :

Kelompok 5

LUH PUTU ARIASIH (0808505020)


LUH GEDE LISNIAWATI (0808505021)
MADE SURYA WEDANA J.S (0808505022)
NI PUTU MARTIARI (0808505023)
A.A. DEVI PURNAMANINGRAT S. (0808505024)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2010
PENETAPAN KADAR DENGAN KLT-SPEKTRODENSITOMETRI

I. TUJUAN
- Memahami metode penetapan kadar zat aktif pada sediaan paracetamol dengan KLT-
Spektrofotodensitometer

II. DASAR TEORI

Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 101,0%
C8H9NO2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Serbuknya hablur atau serbuk
hablur putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit. Kelarutannya larut dalam 70 bagian air,
dalam 7 bagian etanol (95%)P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida. Paracetamol
memenuhi uji Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis dengan menggunakan 1 mg per
ml dalam methanol P dan fase gerak diklorometana P- methanol (4:1) (Anonim, 1995).

Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik populer dan
digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam.
Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Ia aman dalam
dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja
sering terjadi. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen,
parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat
jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut
atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. Senyawa ini
mempunyai nama kimia N-acetyl-para-aminophenol atau 4’-hidroksiasetanilid, bobot
molekul 151,16 dengan rumus empirisnya C8H9NO2. Struktur molekul dari parasetamol
adalah :

(Anonim A, -)
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan suatu metode pemisahan campuran
analit dengan cara mengelusinya melalui fase diam yang datar pada plat penyangga. KLT
termasuk dalam jenis kromatografi adsorbsi, walaupun sebenarnya mekanisme yang terjadi
adalah kombinasi antara kromatografi adsorbsi dan partisi (Widjaja dkk., 2008). Suatu
campuran zat dapat dipisahkan dengan teknik KLT berdasarkan perbedaan afinitas masing-
masing komponen terhadap fase gerak dan fase diamnya. Komponen yang telah terpisah,
besar serapannya dapat diukur dengan spektrofotodensitometer. Kadar dari sampel dapat
ditentukan dari perbandingan antara serapan sampel dan bakunya (Widjaja dan Laksmiani,
2010). Misalnya senyawa Flavonoida dan isoflavonoida yang terdapat pada tahu, tempe,
bubuk kedelai dan tauco serta Scoparia dulcis, Lindernia anagalis, dan Torenia violacea
(Aisyah, 2009)

Dalam KLT fase gerak berupa cairan. Pemisahan akan terjadi jika salah satu
komponen dari campuran diadsorpsi lebih kuat jika dibandingkan komponen yang lainnya.
Karena adsorpsi merupakan fenomena permukaan, maka derajat pemisahan dipengaruhi
oleh luas permukaan yang ada atau secara tidak langsung dipengaruhi oleh ukuran partikel
fase diam (adsorben). Walaupun demikian koefisien distribusi/partisi senyawa antara
kedua fase dalam sistem merupakan faktor kunci setiap bentuk kromatogram. Dalam
kromatografi adsorbsi koefisien distribusi dipengaruhi oleh suhu elusi dan konsentrasi
senyawa. Pada suhu tertentu, hubungan antara jumlah senyawa (analit) dalam fase diam
dan fase gerak dinamakan dalam suatu grafik isoterem distribusi. Kondisi untuk
mendapatkan pemisahan yang optimum adalah kondisi di mana harga koefisien distribusi
suatu analit adalah sama dengan satu. Empat parameter yang terpenting dalam KLT adalah
viskositas, temperatur, laju linier dari fase gerak dan ukuran dari fase diam
(Widjaja dkk., 2008).

Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan
diameter partikel antara 10-30μm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan
semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal
efisiensi dan resolusinya. Penjerap yang paling sering digunakan adalah silika dan serbuk
selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorpsi.
Kebanyakan penjerap dikontrol keajegan ukuran partikel dan luas permukaannya
(Gandjar dan Rohman, 2007).

Parameter migrasi analitik pada KLT dinyatakan dengan Rf (waktu tambat). Rf


(waktu tambat) adalah waktu yang diperlukan untuk mengelusi maksimum suatu sampel
dihitung dari titik awal penotolan. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1.
Waktu tambat dapat dihitung dengan rumus :

Rf =

Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika
menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Sebagaimana
dalam prosedur kromatografi yang lain, jika sampel yang digunakan terlalu banyak makan
akan menurunkan resolusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penotolan sampel secara
otomatis lebih dipilih daripada secara manualnterutama sampel yang akan ditotolkan lebih
dari 15 l. Penotolan sampel yang tidak tepat akan mengakibatkan bercak yang menyebar
dan puncak ganda. Untuk memperoleh reprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan
paling sedikit 0,5 l. Jika volume sampel yang akan ditotolkan lebih besar dari 2-10μl
maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antar
totolan. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase
diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending), atau karena
pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending)
(Gandjar dan Rohman, 2007).

Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT biasanya
dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secara in situ).
Densitometer dapat bekerja secara serapan atau fluoresensi. Kebanyakan densitometer
mempunyai sumber cahaya, monokromator untuk memilih panjang gelombang yang
cocok, sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder.
Pada sistem serapan dapat dilakukan dengan model pantulan atau transmisi. Pada cara
pantulan, yang diukur adalah sinar yang dipantulkan, yang dapat menggunakan sinar
tampak maupun ultraviolet. Sementara itu, cara transmisi dilakukan dengan menyinari
bercak dari satu sisi dan mengukur sinar yang diteruskan pada sisi lain. Pada kenyataannya,
hanya sinar tampak yang dapat digunakan untuk metode ini. Gangguan utama pada sistem
serapan adalah fluktuasi latar belakang (background) yang dapat dikurangi dengan
beberapa cara, misalnya dengan menggunakan alat berkas ganda, sistem transmisi dan
pantulan secara bersamaan, atau dengan sistem 2 panjang gelombang. Kurva baku dibuat
untuk setiap lempeng dan kadar senyawa dihitung seperti pada metode instrumental yang
lain. Presisi penetapan termasuk penotolan cuplikan, pengembangan kromatogram, dan
pengukuran adalah 2-5%. Sistem fluoresensi biasanya lebih disenangi jika senyawa itu
dapat dibuat berfluoresensi. Batas deteksi sistem ini lebih rendah dan kelinieran respon dan
selektifitasnya lebih tinggi. Gangguan fluktuasi latar belakang juga lebih rendah. Bercak
yang diukur dengan sistem fluoresensi, serapan ultraviolet, atau sinar tampak dapat
ditetapkan lebih teliti daripada bercak yang disemprot dengan pereaksi warna. Faktor
keseragaman pada penyemprotan merupakan hal yang sangat menentukan. Semua
pekerjaan KLT jika ditujukan untuk analisis kuantitatif harus dilakukan dengan seksama.
Alat yang digunakan untuk mengambil sampel harus terkalibrasi dengan baik. Pada saat
menotolkan sampel, kapiler harus tegak lurus dengan lempeng dan semua sampel harus
dikeluarkan dari kapiler (Gandjar dan Rohman, 2007).

Suatu ragam densitometri menggunakan kamera video untuk memindahkan


bayangan noda ke lempeng sasaran, yaitu suatu deret dua dimensi dari satuan detektor,
yang dipayar malar oleh sinar elem ktron. Suatu detektor berfungsi sebagai kapasitor dan
alir arus terkait dengan luas noda. Dasar teori terapan densitometri dalam analisis
kuantitatif lempeng lapisan tipis adalah persamaan Kubelka dan Munk. Bentuk persamaan
Kubelka-Munk dapat dinyatakan dengan :

( I − R) 2 C

2R S

Keterangan :

R = cahaya terpantul pada permukaan lempeng

ε = koefisien serapan terokan


C = kadar terokan dan

S = koefisien hambur lempeng

Persamaan ini meramalkan ketidaklurusan yang sering teramati pada pengukuran pantul.
Tetapi persamaan ini dapat diluruskan dengan pendekatan seperti menggambarkan (luas
puncak)2 versus kadar atau log luas puncak versus log kadar (Munson, 1991).

Dalam penetapan kadar, yang ditetapkan adalah absorpsi maksimum kurva


absorpsi. Jika absorpsi ini untuk penentuan kadar sangat rendah atau senyawa mula-mula
mengabsorpsi di bawah 220 nm, maka seringkali senyawa diubah dulu menjadi suatu zat
warna melalui reaksi kimia, dan absorpsi ditentukan dalam daerah sinar tampak
(kolorimetri) (Roth dan Blaschke, 1985). Berikut ini merupakan contoh penyelesaiannya :

• Persamaan Hukum Lambert-Beer

A=εcb

Keterangan :
 A = daya serap
 ε = daya serap molar (dalam mole cm-1)
 c = kadar (dalam mole liter-1)
 b = panjang jalur (dalam cm).
Mengukur daya serap pada panjang gelombang tertentu dan menyubstitusikan A, ε dan d
ke persamaan di atas untuk mendapatkan c merupakan suatu cara sederhana untuk
mengkuantitasi suatu bahan penyerap (Munson, 1991).
• Penggunaan Kurva Kalibrasi

Metode ini digunakan jika terlihat adanya penyimpangan terhadap hukum Lambert Beer
atau ketidaklurusan. Bila ε tidak diketahui dan kerokan murni analit tersedia, kurva
kalibrasi dapat dibuat (daya serap terhadap kadar). Lereng kurva tersebut adalah εd dan
bila d diketahui maka ε dapat dihitung. Terokan tunggal yang diketahui kadarnya dapat
digunakan untuk menentukan ε, tetapi hal ini kurang handal daripada penggunaan lereng
kurva kalibrasi. Selain itu kadar terokan yang tak diketahui dapat dibaca langsung dari
kurva kalibrasi dengan mencari daya serap yang tak diketahui pada kurva dan menarik
garis tegak lurus ke bawah pada sumbu kadar (Munson, 1991).

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
• Pipet kapiler
• Chamber
• Alat pemanas
• Spektrofotodensitometer
• Oven
• Plat KLT silica GF 254
• Penotol nanomat
• Lampu UV
B. Bahan :
• Larutan sampel
• Larutan baku pembanding (paracetamol 100, 200, 400, 800, 1600 ng)
• Fase gerak (metanol)
• Fase diam (silika gel)
IV. CARA KERJA

1. Disiapkan larutan baku dan sampel (sediaan parasetamol) oleh asisten

2. Ditotolkan dengan volume tertentu larutan sampel dan larutan baku pada plat KLT

3. Plat dielusi menggunakan fase gerak yang coock sampai jarak elusi sekitar 8 cm
di dalam chamber

4. Plat diambil, dikeringkan dan aktivasi pada suhu sekitar 100oC selama 30 menit

5. Serapan masing-masing komponen pada panjang gelombang tertentu ditentukan


dengan spektrofotodensitometer

V. HASIL DAN PERHITUNGAN


VI. PEMBAHASAN

Pada percobaan KLT – spektrodensitometri ini bertujuan untuk memahami


metode penetapan kadar zat aktif pada sediaan paracetamol secara kuantitatif dengan KLT-
spektrofotodensitometer. Prinsipnya adalah memisahkan suatu campuran zat dengan
menggunakan teknik KLT berdasarkan perbedaan afinitas masing-masing komponen
terhadap fase gerak dan fase diamnya. Besar serapan dapat diukur pada komponen yang
telah terpisah dengan menggunakan spektrofotodensitometer. Kadar dari sampel dapat
ditentukan dari perbandingan antara serapan sampel dan bakunya (Widjaja dan Laksmiani,
2010). Penentuan kadar paracetamol ini didahului dengan pengukuran absorbansi larutan
paracetamol yang telah diketahui kadarnya pada panjang gelombang yang sama. Jika
absorbansi suatu seri larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang
sama, dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka
suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A= ɛ.b.c. Kemudian, dilakukan
pembacaan hasil pemisahan melalui proses scanning dengan menggunakan CAMAG TLC-
SCANNER.

Pengertian dari Kromatografi Lapis tipis adalah suatu metode pemisahan campuran
analit dengan cara mengelusinya melalui fase diam yang datar pada plat penyangga
(Widjaja dkk., 2008). Fase diam yang digunakan pada percobaan kali ini adalah silica gel
GF 254 nm berukuran 10 x 10 cm, sedangkan fase geraknya berupa metanol. KLT
termasuk dalam jenis kromatografi adsorbsi, walaupun sebenarnya mekanisme yang terjadi
adalah kombinasi antara kromatografi adsorbsi dan partisi (Widjaja dkk., 2008).
Penggunaan methanol sebagai fase gerak karena metano bersifat semipolar sehingga dapat
digunakan untuk pemisahan senyawa yang menggunakan silika gel (fase diam) yang
bersifat polar.

Terdapat dua cara yang digunakan untuk analisis kuantitatif dengan KLT. Pertama,
bercak diukur langsung pada lempeng dengan menggunakan ukuran luas atau dengan
teknik densitometri. Cara kedua adalah dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar
senyawa yang terdapat dalam bercak tersebut dengan metode analisis yang lain, misalkan
dengan metode spektrofotometri. Sedangkan pada praktikum kali ini yang dikerjakan
adalah pengukuran langsung menggunakan spektrofotodensitometer (Gandjar dan
Rohman, 2007).

Penentuan kadar paracetamol dilakukan setelah memisahkan dahulu senyawa


paracetamol dari senyawa pengotornya dengan menggunakan KLT. Pertama-tama, plat
KLT harus dicuci terlebih dahulu dangan cara dielusi dengan methanol. Pada ujung plat
KLT diletakkan kertas tissue yang berfungsi untuk memperpanjang elusi dalam artian
kotoran yang telah larut dalam metanol akan terus terelusi pada kertas saring dan tidak
berhenti pada ujung plat dan agar mencegah terjadinya elusi balik. Setelah proses elusi
selesai, plat KLT diaktivasi dengan cara dikeringkan menggunakan oven dengan suhu
1200C selama 30 menit. Tujuan dilakukannya aktivasi ini adalah untuk menghilangkan
sisa-sisa air yang terdapat fase diam dan untuk memindahkan pengotor agar berada pada
ujung plat KLT, sehingga tidak mengganggu proses pemisahan (Kusmardiyani dan
Nawawi, 1992). Setelah mengaktivasi plat KLT, dilakukan penjenuhan chamber. Tujuan
dari penjenuhan chamber ini adalah untuk mengoptimalkan proses pengembangan fase
gerak. Penjenuhan chamber ini dilakukan dengan menambahkan 2 ml metanol ke dalam
chamber dan meletakkan kertas saring pada chamber, agar penguapan yang terjadi dalam
chamber merata sehingga udara di dalam chamber tetap jenuh pelarut (Kusmardiyani dan
Nawawi, 1992). Selama proses penjenuhan, chamber dalam keadaan tertutup rapat, dan
didiamkan selama 30 menit serta dijaga agar chamber tidak bergeser sehingga dapat
mencegah terjadinya ketidak jenuhan pelarut. Kondisi jenuh dalam chamber dengan uap
pelarut mencegah penguapan pelarut (Clark, 2007). Plat KLT kemudian dielusikan dalam
chamber sampai mencapai jarak rambat 9 cm. Setelah itu dilakukan penotolan sampel pada
plat KLT sebanyak 2 µm dengan penotol linomat pada dua titik di plat KLT yang berjarak
1 cm. Sampel yang ditotolkan harus memiliki ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin
karena jika sampel yang digunakan terlalu banyak akan menurunkan resolusi. Penotolan
sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak yang menyebar ke puncak ganda.
Pelebaran bercak dapat mengganggu proses scanning dengan spektrodensitometri karena
memungkinkan terjadinya himpitan puncak (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992). Selain itu,
apabila konsentrasi senyawa pada plat sangat tinggi adalah maka ketika discanning dengan
TLC-CAMAG SCANNER sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan
pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh bagian lain sampel pada jarak
yang lebih jauh sehingga fluoresensi sampel yang berkonsentrasi tinggi ini tidak seragam
dan tidak proporsional dengan konsentrasi senyawa (Gandjar dan Rohman, 2007).

Setelah penotolan sampel, plat kemudian dielusikan pada chamber yang


sebelumnya telah dijenuhkan. Selanjutnya plat dikeringkan pada oven dengan suhu 1200C
selama 10 menit, yang bertujuan untuk menguapkan sisa pelarut yang masih terdapat pada
plat sehingga tidak mengganggu proses scanning dengan spektrofotodensitometer.
Spektrofotodensitometer merupakan suatu instrumen yang dapat mengukur intensitas
radiasi yang direfleksikan dari permukaan lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau
lampu sinar tampak. Senyawa-senyawa yang mampu menyerap sinar akan dicatat sebagai
puncak (peak) dan pencatat (recorder). Sebelum menentukan puncak, harus dilakukan
pengukuran pada spektrum dengan rentang tertentu sampai diperoleh puncak dari larutan
baku paracetamol. Puncak diperoleh dengan mengukur spektrum pada gelombang 200-800
nm karena paracetamol memiliki kemampuan menyerap secara kuat di daerah 200-800 nm
pada radiasi elektromagnetik. Pada literatur, dalam larutan asam paracetamol menunjukkan
absorbansi maksimum pada λ 245 nm (Rusdiana dkk., -). Setelah praktikum dilakukan,
diperoleh data bahwa paracetamol menunjukkan absorbansi maksimum pada λ 248 nm.
Paracetamol mampu berabsorbansi karena terdiri dari inti cincin benzena, satu grup
hidroksil, dan atom nitrogen dari grup amida pada posisi para. Hal ini menyebabkan
konjugasi yang luas pada gugus-gugus yang terdapat pada paracetamol (Rusdiana dkk., -).
Intensitas absorbansi berbanding langsung dengan absorpsivitas molar, oleh karena itu
pada analisis fluorometri disarankan penggunaan panjang gelombang yang memberikan
absorpsi maksimal (Gandjar dan Rohman, 2007). Berikut ini merupakan gambar dari
spektrum parasetamol yang diukur pada panjang gelombang 200-800 nm :

248n

Kurva absorbansi larutan baku paracetamol

Setelah dilakukan praktikum, didapat hasil yang berbeda antara panjang


gelombang maksimum menurut literatur dengan panjang gelombang maksimum pada
percobaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kondisi di laboratorium saat
dilakukannya praktikum dengan kondisi laboratorium pada saat penetapan panjang
gelombang maksimum seperti yang tertera pada literatur. Selain itu penyimpanan larutan
paracetamol juga berpengaruh pada hasil percobaan yang diperoleh. Setelah didapat kurva
baku paracetamol, kemudian dilakukan pengukuran absorbansi sampel paracetamol.
Berikut ini merupakan spektrum absorbansi dari sampel paracetamol:

Sampel 1

Sampel 2

Untuk dapat memastikan senyawa yang didapat adalah memang benar-benar


paracetamol, maka harus dilakukan perbandingan antara kurva baku paracetamol dengan
kurva sampel paracetamol yang diperoleh. Dari perbandingan dua kurva di atas terlihat
bahwa kurva yang terbentuk hampir sama dengan kurva baku paracetamol sehingga dapat
dipastikan bahwa senyawa yang dibaca absorbansinya adalah memang benar paracetamol.
Kurva baku yang telah dihasilkan tersebut kemudian dibandingkan dengan membaca
absorbansi paracetamol pada berbagai konsentrasi. Setelah itu kurva absorbansi dicari
persamaan garisnya dengan menggunakan regresi linier. Dari hasil perhitungan didapatkan
persamaan regresi adalah sebagai berikut:

y = 8.512x +
194.3

y merupakan nilai AUC (absorbansi) dan x nilai C (konsentrasi paracetamol).


Persamaan ini didapat melalui perhitungan dengan menggunakan microsoft excel. Kadar
dari sampel paracetamol ditentukan dari perbandingan antara serapan sampel dan bakunya.
Dari hasil perhitungan diperoleh kadar paracetamol sampel 1 adalah ng dan kadar
paracetamol sampel 2 yaitu ng.

VII. KESIMPULAN

1. Sampel paracetamol kadarnya dapat ditentukan melalui


spektrofotodensitometri menggunakan kurva kalibrasi yang diperoleh dari
nilai AUC (absorbansi) dan nilai C (konsentrasi).
2. Persamaan garis regresi linier larutan paracetamol yaitu :
3. Kadar sampel 1 yaitu ng.
4. Kadar sampel 2 yaitu ng.
LAMPIRAN TUGAS

1. Buat spektrum (puncak absorbsi) dari masing-masing komponen sampel dan baku!
2. Tentukan serapan (luas area di bawah puncak) tiap spektrum!
3. Hitung kadar tiap komponen sampel!

JAWAB:

1. Spektrum (puncak absorpsi) sampel:


Sampel 1

Sampel 2
Spektrum (puncak absorpsi) larutan baku:
248n

2. Serapan (luas area di bawah puncak) tiap spektrum:


• AUC larutan baku 1 ( AUC1 ) = 1137

AUC larutan baku 2 ( AUC2 ) = 2196,1

AUC larutan baku 3 ( AUC3 ) = 3779,8

AUC larutan baku 4 ( AUC4 ) = 6037,9

AUC larutan baku 5 ( AUC5 ) = 14208,8

Larutan sampel

• AUC larutan sampel 1 ( AUCs1 ) = 21316,6

• AUC larutan sampel 2 ( AUCs2 ) = 21973,4

3. Kadar tiap komponen sampel:


Persamaan regresi linear larutan baku parasetamol yaitu = 10.82x + 203.4 dengan R² =
0.998.

Konsentrasi sample

Sampel 1
y = 10,82x + 203,4

AUCs1 = 10,82Cs1 + 203,4

19032,7 = 10,82Cs1 + 203,4

19032,7-203,4 = 10,82Cs1

10,82Cs1 = 18829,3

Cs1 = 1740,23 ng

Sampel 2

y = 10,82x + 203,4

AUCs2 = 10,82Cs2 + 203,4

19776,3 = 10,82Cs2 + 203,4

19776,3-203,4 = 10,82Cs2

10,82Cs2 = 19572,9

Cs2 = 1808,95 ng

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik


Indonesia.

Anonim A, -, Parasetamol
Opened at : May 16th, 2010
Available at : http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol
Aisyah, 2009, Kromatografi Lapis Tipis
Opened at : May 16th, 2010
Available at : http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/10/10/kromatografi-lapis-tipis-thin-
layer-chromatography/

Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2009. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Kusmardiyani, S. dan A. Nawawi. 1992. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Universitas Bidang
Ilmu Hayati.

Munson, J.W. 1991. Analisis Farmasi Metode Modern. Surabaya: Airlangga University
Press.
Roth, H. J. dan G. Blaschke. 1988. Analisis Farmasi. Yogyakarta: UGM Press.

Rusdiana T., F. Sjuib, dan S. Asyarie, -, Interaksi Paracetamol


Opened at : May 16th, 2010
Available at : http://www.chem-is-try.org/paracetamol.pdf

Widjaja, I N.K., K.W. Astuti, N.M.P. Susanti, dan I M.A.G. Wirasuta. 2008. Buku Ajar
Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran: Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.

Widjaja, I N.K. dan N.P.L. Laksmiani. 2010. Petunjuk Praktikum Analisis Fisiko Kimia.
Jimbaran: Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.