Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi
untuk dikembangkan dalam pencarian senyawa bioaktif. Diantara sekian
banyak spesies tumbuhan yang memiliki potensi bioaktifikasi, hanya
sebagian kecil yang diteliti secara fitokimia.
Beberapa tahun terakhir ini penggunaan bahan alam sebagai obat
tradisional mengalami peningkatan, hal ini terbukti dengan makin
banyaknya obat tradisional yang beredar dipasaran, untuk itu perlu langkah
yang tepat dalam usaha pengembangannya dengan cara mengembangkan
dan menggalakan penelitian obat tradisional, sehingga penggunaannya dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan bukan berdasarkan pada
pengalaman saja.
Penggunaan tanaman sudah diketahui efeknya dan khasiatnya tetapi
belum diketahui komponen senyawa kimianya. Jika kita menyadari bahwa
tumbuh-tumbuhan dapat mengandung beribu-ribu kandungan kimia, maka
dari itu diperlukan metode pemisahan, pemurnian, identifikasi kandungan
yang terdapat dalam tumbuhan yang sifatnya berbeda dan dalam jumlah
yang banyak itu.
Dalam bidang farmasi, mahasiswa dituntut untuk mempelajari ilmu
tumbuh-tumbuhan

seperti

fitokimia.

Fitokimia

adalah

ilmu

yang

mempelajari berbagai senyawa organik yang dibentuk dan disimpan oleh


tumbuhan, yaitu tentang struktur kimia, biosintesis, perubahan dan
metabolisme, penyebaran secara alami dan fungsi biologis dari senyawa
organik (Dewi, 2012).
Penelitian terhadap tanaman obat yang paling berkembang, terutama
pada segi fitokimianya dan pada segi farmakologinya. Hasil penelitian
tersebut tentunya lebih memantapkan pada penggunaan tumbuhan obat akan
berkhasiat maupun penggunaannya.

Dalam tumbuhan terkandung senyawa kimia yang merupakan hasil


metabolisme dari tumbuhan itu sendiri. Dari hasil penelitian banyak ahli,
tidak jarang senyawa kimia ini memiliki efek fisiologi dan farmakologi
yang bermanfaat bagi manusia. Senyawa kimia tersebut lebih dikenal
dengan

senyawa

metabolit

sekunder

yang

merupakan

hasil

dari

penyimpanan metabolit primer tumbuhan (Fajarullah, 2011).


Untuk mendapatkan senyawa tersebut dilakukan beberapa metode
salah satunya adalah menggunakan partisi cair-cair dengan ekstrak daun
jeruk (Citrus aurantifolia), daun durian (Durio zibethinus), temu putih
(Curcuma zedoaria) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii) dengan
menggunakan pelarut metanol dan n-heksan, dimana diketahui ekstrak caircair merupakan proses pemisahan zat terlarut didalam 2 macam pelarut yang
tidak saling bercampur.
I.2

Maksud dan Tujuan Percobaan

I.2.1 Maksud Percobaan


Adapun maksud dilakukannya percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan
memahami cara fraksinasi dari ekstrak temu putih (Curcuma zedoaria) dan
kayu manis (Cinnamomum burmanii) dengan menggunakan metode ekstrak
cair-cair.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu untuk memperoleh
fraksi aktif dari ekstrak temu putih (Curcuma zedoaria) dan kayu manis
(Cinnamomum burmanii) dengan menggunakan metode ekstrak cair-cair.
I.3

Prinsip Percobaan
Ekstraksi cair-cair dilakukan dengan cara pemisahan komponen kimia
diantara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur. Dimana sebagian
komponen larut pada fase pertama, dan sebagian larut pada fase kedua. Lalu
kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, dan didiamkan sampai
terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan. Yakni fase cair dan
komponen kimi yang terpisah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Tinjauan Tentang Partisi Cair-Cair

II.1.1 Definisi Partisi


Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak campur
menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan
analitis. Bahkan dimana tujuan primer bukan analitis namun preparatif,
ektraksi pelarut merupakan suatu langkah penting dalam urutan menuju ke
suatu produk murni itu dalam laboratorium organik, anorganik atau
biokimia. Meskipun kadang-kadang digunakan peralatan yang rumit
namun seringkali diperlukan hanya sebuah corong pisah. Seringkali suatu
pemisahan ekstraksi pelarut dapat diselesaikan dalam beberapa menit,
pemisahan ektraksi biasanya bersih dalam arti tak ada analog kopresipitasi
dengan suatu system yang terjadi (Underwood, 1986).
Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air sedangkansebagai
pelarut kedua adalah pelarut organik yang tidakbercampur dengan air.
Dengan demikian ion anorganik atausenyawa organik polar sebagian besar
terdapat dalam fase air,sedangkan senyawa organik non polar sebagian
besar akanterdapat dalam fase air, sedangkan senyawa organik non
polarsebagian besar akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang
dikatakan like dissolves like , yang berarti bahwa senyawa polar akan
mudah larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya (Dirjen POM, 1979).
Di antara berbagai jenis metode pemisahan, ekstraksi pelarut atau
disebut juga ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik
dan popular. Alasan utamanya adalah bahwa peemisahan ini dapat
dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Seseorang tidak
memerlukan alat yang khusus atau canggih kecuali corong pisah. Prinsip
metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan
tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, seperti benzene,
karbon tetraklorida atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat di

transfer pada jumlah yang berbeda dalam keadaan dua fase pelarut. Teknik
ini dapat digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, pemisahan
serta analisis pada semua skala kerja (Khopkar, 2008).
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu
perbedaan

kelarutannya terhadap

dua

cairan

zat

tidak

berdasarkan
saling

larut

yang berbeda (Rahayu, 2009).


II.1.2 Metode Partisi
1. Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair adalah proses pemisahan zat terlarut di dalam 2
macam zat pelarut yang tidak saling bercampur atau dengan kata lain
perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organik dan pelarut
air. Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang
dapat larut air dan ada pula senyawa yang larut dalam pelarut organik.
Satu komponen dari campuran akan memiliki kelarutan dalam kedua
lapisan tersebut (biasanya disebut fase) dan setelah beberapa waktu
dicapai keseimbangan biasanya dipersingkat oleh pencampuran kedua
fase tersebut dalam corong pisah (Tobo, 2001).
Kerap kali sebagai pelarut pertama adalah air sedangkan pelarut
kedua adalah pelarut organik yang tidak bercampur dengan air. Dengan
demikian ion organik atau senyawa organik polar sebagian besar
terdapat dalam fase air, sedangkan senyawa organik non polar sebagian
besar akan terdapat dalam fase air, sedangkan senyawa organik non
polar sebagian besar akan terdapat dalam fase organik. Hal ini yang
dikatakan like dissolves like, yang berarti bahwa senyawa polar akan
mudah larut dalam pelarut polar dan sebaliknya polar akan mudah
larut dalam pelarut polar dan sebaliknya (Dirjen POM, 1979).
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah
dilarutkan dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang
pertama, akan terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran
akan memiliki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya
disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai kesetimbangan
konsentrasi dalam kedua lapisan. Waktu yang diperlukan untuk

tercapainya kesetimbanga biasanya dipersingkat oleh pencampuran


kedua fase tersebut dalam corong pisah (Tobo, 2001).
Kelarutan senyawa yang tidak bermuatan dalam satu fase pada
suhu tertentu bergantung pada kemiripan kepolarannya dengan fase
cair, menggunakan prinsip like dissolves like. Molekul bermuatatan
yang memiliki afinitas tinggi terhadap cairan dengan sejumlah besar
ion bermuatan berlawanan dan juga dalam kasus ini menarik yang
berlawanan, misalnya senyawa asam akan lebih larut dalam fase air
yang basa dari pada yang netral atau asam. Rasio konsentrasi senyawa
dalam kedua fase disebut koefisien partisi. Senyawa yang berbeda
akan mempunyai koefisien partisi yang berbeda, sehingga jika satu
senyawa sangat polar, koefisien partisinya related ke fase polar lebih
tinggi daripada senyawa non-polar (Tobo, 2001).
Fraksinasi selanjutnya yaitu suatu senyawa hanya ada dalam satu
fase, hal ini dapat dicapai dengan ekstraksi fase awal berturut-turut
dengan fase yang berlawanan. Lebih baik menggunakan elusi
berurutan dengan volume relatif kecil dibandingan dengan satu kali
elusi keseluruhan volume (Tobo, 2001).
2. Ekstraksi Padat-Cair
Partisi padat cair adalah proses pemisahan untuk memperoleh
komponen zat terlarut dari campurannya dalam padatan dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Dapat juga didefinisikan sebagai
disperse komponen kimia dari ekstrak yang telah dikeringkan dalam
suatu pelarut yang sesuai berdasarkan kelarutan dari komponen kimia
dan zat-zat yang tidak diinginkan seperti garam-garam tidak dapat
larut. Operasi ekstraksi ini dapat dilakukan dengan pengadukan
suspense padatan did alam wadah dengan atau tanpa pemanasan (Tobo,
2001).
Pelaksanaan ekstraksi padat cair terdiri dari 2 langkah, yaitu (Tobo,
2001):
a. Kontak antara padatan dan pelarut untuk mendapatkan perpindahan
solute ke dalam pelarut
b. Pemisahan larutan yang terbentuk dan padatan sisa

II.1.3 Tujuan Partisi


Ekstraksi cair-cair bertujuan untuk memisahkan analit yang dituju dari
pengganggu dengan cara melakukan partisi sampai antar 2 pelarut yang
tidak saling campur. Salah satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang
lain adalah pelarut organik. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan
ditemukan di dalam fase air, sementara senyawa-senyawa yang bersifat
hidrofobik akan masuk pada pelarut organik, begitupula dengan ekstraksi
padat cair dan tetapi sampel yang digunakan tidak larut air (Tobo, 2001).
II.2

Tinjauan Tentang Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan
Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar,
selain

kromatografi

kertas

dan

elektroforesis.

Berbeda

debgan

kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di


dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang
seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh
lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Meskipun demikian,
kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari
kromatografi kolom (Gholib, 2007).
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya
sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif.
Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga
yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair
kinerja tinggi. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan
bergerak

sepanjang

fase

diam

karena

pengaruh

kapiler

pada

pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi


pada pengembangan secara menurun (descending) (J. Gritter, 1991).
Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih
murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan
yang digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang digunakan
lebih sederhana dan dapat dikatakan hampir semua laboratorium dapat
melaksanakan setiap saat secara cepat.

Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya


komponen dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya
suatu reaksi, menentukan efektivitas pemurnian, menentukan kondisi
yang sesuai untuk kromatografi kolom, serta memantau kromatografi
kolom, melakukan screening sampel untuk obat. Analisa kualitatif dengan
KLT dapat dilakukan untuk uji identifikasi senyawa baku. Parameter pada
KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Analisis kuantitatif
dilakukan dengan 2 cara, yaitu mengukur bercak langsung pada lengpeng
dengan menggunakan ukuran luas atau dengan teknik densitometry dan
cara berikutnya dalaha dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar
senyawa yang terdapat dalam bercak dengan metode analisis yang lain,
misalnya dengan metode spektrofotometri. Dan untuk analisis preparatif,
sampel yang ditotolkan dalam lempeng dengan lapisan yang besar lalu
dikembangkan dan dideteksi dengan cara yang non- dekstruktif. Bercak
yang mengandung analit yang dituju selanjutnya dikerok dan dilakukan
analisis lanjutan (Gholib, 2007).
II.2.1 Nilai Rf
Nilai Rf didefinisikan sebagai perbandingan jarak yang ditempuh oleh
senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak yang ditempuh
oleh pelarut sebagai fase gerak. Semakin besar nilai Rf dari sampel maka
semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat
kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di
bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa
tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan absorben polar dari plat
kromatografi lapis tipis (Handayani, 2008).
Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasi senyawa. Bila
identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama dengan nilai Rf standart dari
senyawa tersebut maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki
karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan bila nilai Rfnya berbeda,
senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda.

Namun perbedaan perlakuan percobaan kromatografi lapis tipis juga akan


mempengaruhi nilai Rf sampel yang diidentifikasi (Pameswaran, 2013).
II.2.2 Polaritas dalam KLT
Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering
dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar.
Sistem yang paling sederhana ialang sampuran 2 pelarut organik karena
daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa
sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal (Gholib, 2007).
Kemampuan suatu analit terikat pada permukaan silika gel dengan
adanya pelarut tertentu dapat dilihat sebagai penggabungan 2 interaksi
yang saling berkompetisi. Pertama, gugus polar dalam pelarut dapat
berkompetisi dengan analit untuk terikat pada permukaan silika gel.
Dengan demikian, jika pelarut yang sangat polar digunakan, pelarut akan
berinteraksi kuat dengan permukaan silika gel dan hanya menyisakan
sedikit tempat bagi analit untuk terikat pada silika gel. Akibatnya, analit
akan bergerak cepat melewati fase diam dan keluar dari kolom tanpa
pemisahan. Dengan cara yang sama, gugus polar pada pelarut dapat
berinteraksi kut dengan gugus polar dalam analit dan mencegah interaksi
analit pada permukaan silika gel. Pengaruh ini juga menyebabkan analit
dengan cepat meninggalkan fase diam. Kepolaran suatu pelarut yang dapat
digunakan untuk kromatografi dapat dievaluasi dengan memperhatikan
tetapan dielektrik dan momen dipol pelarut. Semakin besar kedua tetapan
tersebut, semakin polar pelarut tersebut. Sebagai tambahan, kemampuan
berikatan hidrogen pelarut dengan fase diam harus dipertimbangkan (Tim
Penyusun, 2010).
II.3

Uraian Tanaman (Dalimartha, 2000)


1. Temu Putih (Curcuma zedoaria)
a) Klasifikasi
Regnum
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Zingiberales

Famili
:
Genus
:
Spesies
:
b) Morfologi
Tumbuhan

Zingiberaceae
Curcuma
Curcuma zedoaria

Gambar II.3.1
Temu Putih

(Curcuma zedoaria)

ini berupa terna tahunan, tinggi mencapai 2 m,

tumbuh tidak berkelompok.Daun berbentuk lanset memanjang


berwarna merah lembayung di sepanjang tulang tengahnya.Bunga
keluar dari rimpang samping, menjulang ke atas membentuk
bongkol bunga yang besar.Mahkota bunga berwarna putih, dengan
tepi bergaris merah tipis atau kuning.Rimpang berwarna putih atau
kuning muda, rasa sangat pahit.
c) Kandungan Kimia dan Khasiat
Secara tradisioal digunakan
antifungal.Mengandung
curcumenone dan 2

senyawa

sebaagi

antimikroba

dan

cyclopropanosesquiterpene,

spirolactones, curcumanolide A dan

curcumanolide B. Pada shoots muda dari Curcuma zedoaria


mengandung

(+)-germacrone-4,5-epoxide, sebuah intermediet

kunci pada biogenesis a germacrone-type sesquiterpenoids. Di


negara Brazil, di gunakan sebagai obat penurun panas.Aktivitas ini
dikarenakan adanya senyawa yang bertanggung jawab yaitu
curcumenol.Kandungan kimia rimpang Curcuma zedoariaterdiri
dari: kurkuminoid (diarilheptanoid), minyak atsiri, polisakarida
serta golongan lain. Diarilheptanoid yang telah diketahui meliputi :
kurkumin, demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan 1,7 bis
(4-hidroksifenil)-1,4,6-heptatrien-3-on. Minyak atsiri berupa cairan
kental kuning emas mengandung: monoterpen dan sesquiterpen.
Monoterpen terdiri dari: monoterpen hidrokarbon (alfa pinen, Dkamfen), monoterpen alkohol (D-borneol), monoterpen keton (Dkamfer), monoterpen oksida (sineol). Seskuiterpen pada Curcuma
zedoaria

terdiri

dari

berbagai

golongan

dan

berdasarkan

penggolongan yang dilakukan terdiri dari: golongan bisabolen,


elema, germakran, eudesman, guaian dan golongan spironolakton.

10

Kandungan lain meliputi: etil-p-metoksisinamat, 3,7-dimetillindan5-asam karboksilat.


2. Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
a) Klasifikasi
Regnum
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Laurales
Famili
: Lauraceae
Genus
: Cinnamomum
Gambar II.3.2
Kayu Manis
Spesies
: Cinnamomum burmanii
(Cinnamomum burmanii)
b) Morfologi
Tinggi tanaman kayu manis berkisar antara 5 15 m, kulit
pohon berwarna abu-abu tua berbau khas, kayunya berwarna
merah coklat muda. Daun tunggal, kaku seperti kulit, letak
berseling, panjang tangkai daun 0,5 1,5 cm, dengan 3 buah tulang
daun yang tumbuh melengkung. Bentuk daun elips memanjang,
panjang 4 14 cm, lebar 1,5 6 cm, ujung runcing, tepi rata,
permukaan atas licin warnanya hijau, permukaan bawah bertepung
warnyanya keabu-abuan. Daun muda berwarna merah pucat.
Bunganya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna
kuning. Ukurannya kecil. Kelopak bunga berjumlah 6 helai dalam
dua rangkaian. Bunga ini tidak bertajuk bunga. Benang sarinya
besrjumlah 12 helai yang terangkai dalam empat kelompok, kotak
sarinya beruang empat. Persariann berlangsung dengan bantuan
serangga. Buahnya buah buni berbiji satu dan berdaging.
Bentuknya bulat memanjang. Warna buah muda hijau tua dan buah
tua ungu tua. Panjang buah sekitar 1,3 1,6 cm, dan diameter 0,35
0,75 cm. Panjang biji 0,84 1,32 cm dan diameter 0,59 ,68 cm.
c) Kandungan Kimia dan Khasiat
Kayu manis memiliki kandungan senyawa sinamaldehid
turunan dari senyawa fenol. Dalam dunia kedokteran diketahui
bahwa senyawa sinamaldehid memiliki sifat anti-agregasi platelet
dan sebagai vasodilasator secara in vitro. Platelet sendiri adalah
kolesterol yang menempel pada pembuluh darah dan pegumpulan

11

(agregasi) platelet pada pembuluh darah dapat menyebabkan


terjadinya aterosklerosis atau lemak mengeras pada pembuluh
aerteri. Karena memiliki kadungan senyawa sinamaldehid, maka
manfaat kayu manis adalah sangat luar biasa bagi kesehatan antara
lain untuk menurunkan resiko aterosklerosis dan stroke. Selain itu
khasiat kayu manis selama ini telah banyak digunakan untuk
mengobati kencing manis (Diabetes Militus).
II.4

Uraian Bahan
1. Alkohol (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi
: Aethanolum
Nama lain
: Etanol
RM/BM
: C2H5OH/46,07
Rumus struktur :
H H
H
C C
O H
H H
Pemerian
: Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna,
baunya khas dan menyebabkan rasa terbakar pada
lidah. Mudah menguap walaupun pada suhu rendah
Kelarutan

dan mendidih pada suhu 78.Mudah terbakar.


: Bercampur dengan air dan praktis bercampur

dengan semua pelarut organik.


Khasiat
: Sebagai disinfektan
Kegunaan
: Untuk membersihkan alat yang akan digunakan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api
2. Metanol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: Metanol

Nama lain

: Hikdroksimetan, Metil alkohol

RM/BM

: CH3OH/32,04

Rumus struktur :

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas

12

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan


jernih tidak berwarna

Kegunaan

: Sebagai pelarut

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

3. N-heksan (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: Hexane

Nama lain

: heksana, n-heksan

RM/BM

: C6H14/ 86.18 g/mol

Pemerian

: Cairan tak berwarna, dapat dibakar

Kelarutan

: Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan


cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air.

II.5

Kegunaan

: Pelarut organik

Penyimpanan

: Dalam wadah yang tertutup rapat

Prosedur Kerja
a) Ekstrak Cair-Cair
1. Ekstrak metanol ditimbang sebanyak 1 g
2. Ekstrak kemudian dilarutkan dalam 15 mL heksan dan dimasukkan
dalam corong pisah
3. Ekstrak yang tidak larut disuspensikan dengan 5 mL air dan
dimasukkan ke dalam corong pisah
4. Corong pisah dikocok hingga homogen dan didiamkan selama
beberapa saat hingga terbentuk 2 lapisan pelarut
5. Lapisan heksan kemudian ditampung dan lapisan air dimasukkan
kembali dan ditambahkan 15 mL heksan yang baru, penggantian
pelarut heksan yang baru dilakukan sebanyak 3 kali
6. Lapisan heksan yang diperoleh kemudian diuapkan, ekstrak heksan
yang diperoleh kemudian ditimbang dan sebagian dimasukkan ke
dalam vial
7. Lapisan air kemudian ditambahkan dengan pelarut n-butanol jenih
air sebanyak 15 mL di dalam corong pisah dan kemudian dikocok

13

8. Kemudian corong pisah didiamkan selama beberapa saat hingga


terbentuk 2 lapisan pelarut
9. Kemudian lapisah kedua pelarut yang terbentuk ditampung ke
dalam dua wadah yang berbeda
10. Kemudian ekstrak n-butanol diuapkan hingga terbentuk ekstrak
yang kental
11. Kemudian ekstrak kental ditimbang dan kemudian sebagian
dimasukkan ke dalam vial
12. Dilakukan identifikasi senyawa dengan menggunakan metode
kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menggunakan eluen polar
dan non-polar dengan penampak noda oleh sinar UV serta pereaksi
H2SO4

b) Kromtografi Lapis Tipis


1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diukur 4 mL pelarut etil asetat dan 2 mL pelarut metanol, lalu
dimasukkan kedalam gelas
4. Dimasukkan kertas saring pada masing-masing gelas yang berisi
pelarut hingga jenuh
5. Dilarutkan masing-masing sampel yaitu ekstrak temu putih
(Curcuma zedoaria) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii)
dengan metanol secukupnya
6. Ditotolkan sampel dengan menggunakan pipa kapiler pada
lempeng KLT
7. Dimasukkan lempeng kedalam gelas berisi pelarut, ditunggu
hingga pelarut mencapai batas lempeng bagian atas
8. Diangkat lempeng dan dibiarkan mongering diudara
9. Diamati lempeng KLT secara visual menggunakan sinar UV 366
dan 254 nm
10. Dihitung Rf pada masing-masing lempeng KLT

14

BAB III
METODE PRAKTIKUM
III.1

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum dilaksanakan pada hari kamis, 14 mei 2015 pukul 10.00
sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Farmakognosi dan
Fitokimia,

Jurusan

Farmasi,

Fakultas

Ilmu-Ilmu

Kesehatan

dan

Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo.


III.2

Alat dan Bahan

III.2.1 Alat
1. Batang pengaduk
2. Corong pisah
3. Gelas
4. Gelas kimia
5. Gelas ukur
6. Kaca arloji
7. Lempeng KLT
8. Neraca analitik
9. Pipa kapiler
10. Plat kaca
11. Sendok tanduk
12. Statif dan klem
III.2.2 Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
III.3

Alkohol 70%
Aluminium foil
Ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii)
Ekstrak temu putih (Curcuma zedoaria)
Etil asetat
Metanol
N heksan
Tissue

Cara Kerja
a) Ekstrak cair-cair
1. Ditimbang ekstrak daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan
ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) sebanyak 1 g, ekstrak
daun durian (Durio zibethinus) sebanyak 0,25 g dan ekstrak temu
putih (Curcuma zedoaria) sebanyak 0,6 g
2. Dilarutkan masing-masing ekstrak ke dalam 20 mL pelarut metanol

15

3. Dimasukkan ke dalam corong pisah


4. Ditambahkan 40 mL pelarut n heksan ke dalam ekstrak yang tidak
larut
5. Dimasukkan ke dalam corong pisah kemudian dikocok
6. Didiamkan corong pisah selama beberapa saat hingga terbentuk 2
lapisan pelarut
7. Kedua lapisan pelarut yang terbentuk ditampung ke dalam dua
wadah yang berbeda
8. Ditutup dengan aluminium foil dan kemudian diuapkan
b) Kromatografi Lapis Tipis
1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diukur 4 mL pelarut etil asetat dan 2 mL pelarut metanol, lalu
dimasukkan kedalam gelas
4. Dimasukkan kertas saring pada masing-masing gelas yang berisi
pelarut hingga jenuh
5. Dilarutkan masing-masing sampel yaitu ekstrak temu putih
(Curcuma zedoaria) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii)
dengan metanol secukupnya
6. Ditotolkan sampel dengan menggunakan pipa kapiler pada
lempeng KLT
7. Dimasukkan lempeng kedalam gelas berisi pelarut, ditunggu
hingga pelarut mencapai batas lempeng bagian atas
8. Diangkat lempeng dan dibiarkan mongering diudara
9. Diamati lempeng KLT secara visual menggunakan sinar UV 366
dan 254 nm
10. Dihitung Rf pada masing-masing lempeng KLT

16

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1

Hasil Pengamatan

IV.1.1 Proses Ekstraksi Cair-Cair

Gambar IV.1
Proses Ekstraksi Cair-Cair

IV.1.2 Perhitungan Rf
Nama Sampel
(Ekstraksi)

Eluen

Nilai Rf

Sokletasi
Temu Putih
(Curcuma

Etil Asetat dan Rf =


Metanol 4:2

zedoaria)

Rf =

Refluks
Kayu Manis

Etil Asetat dan

(Cinnamomum

Metanol 4:2

burmanii)

6
6

4,5
6
=

0,75

Gambar

17

IV.3

Pembahasan
Partisi ekstrak (ekstraksi cair-cair) adalah proses pemisahan zat terlarut
di dalam dua macam zat pelarut yang tidak saling bercampur, dengan kata
lain perbandingan konsenrasi zat terlarut dalam pelarut non polar dan
polar. Hal tersebut memungkinkan karena adanya sifat senyawa yang
dapat larut dalam pelarut polar dan ada pula yang dapat terlarut dalam
pelarut non polar. Sedangkan ekstraksi padat-cair adalah proses pemisahan
untuk memperoleh komponen zat terlarut dari campurannya dalam padatan
dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
Tujuan dilakukannya partisi yaitu untuk memisahkan komponen kimia
dari sampel berdasarkan tingkat kepolarannya. Proses partisi sebenarnya
dapat dilakukan dengan partisi cair-cair ataupun partisi padat cair, namun
pada praktikum kali ini hanya dilakukan partisi cair-cair.
Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak
saling bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak.
Ekstrak yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak daun jeruk
(Citrus aurantifolia), daun durian (Durio zibethinus), temu putih
(Curcuma zedoaria) dan kayu manis (Cinnamomum burmanii). Pelarut
yang digunakan adalah pelarut yang bersifat polar yaitu metanol dan
pelarut yang bersifat non polar yaitu n heksan.
Langkah awal yang dilakukan pada percobaan ini yaitu disiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan. Kemudian membersihkan alat dengan
menggunakan alkohol 70% agar terhindar dari mikroba dan debu yang
menempel pada alat tersebut. Selanjutnya ditimbang ekstrak daun jeruk
nipis (Citrus aurantifolia) dan ekstrak kayu manis (Cinnamomum
burmanii) sebanyak 1 g, ekstrak daun durian (Durio zibethinus) sebanyak
0,25 g dan ekstrak temu putih (Curcuma zedoaria) sebanyak 0,6 g. Sampel
yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia. Lalu
diukur pelarut metanol sebanyak 20 mL dan pelarut nheksan sebanyak 40
mL atau dengan perbandingan 4 : 2, hal tersebut memungkinkan karena
adanya sifat senyawa yang dapat larut dalam pelarut polar dan ada pula

18

senyawa yang dapat larut dalam pelarut non polar. Satu komponen dari
campuran akan memiliki kelarutan dalam kedua lapisan tersebut (biasanya
disebut fase) dan setelah beberapa waktu dicapai keseimbangan biasanya
dipersingkat oleh pencampuran kedua fase tersebut dalam corong pisah
(Tobo, 2001).
Kemudian ditambahkan pelarut yang pertama yaitu metanol sebanyak
20 mL ke dalam gelas kimia yang berisi ekstrak yang telah ditimbang.
Tujuan pelarut pertama yaitu sebagai pembawa senyawa-senyawa yang
terdapat pada ekstrak tersebut. Menurut Dirjen POM (1979) kerap kali
sebagai pelarut pertama adalah pelarut polar sedangkan pelarut kedua
adalah pelarut non polar yang tidak bercampur dengan air. Dengan
demikian senyawa organik polar sebagian besar terdapat dalam fase polar,
sedangkan senyawa organik non polar sebagian besar akan terdapat dalam
fase non polar. Hal ini yang dikatakan like dissolves like, yang berarti
bahwa senyawa polar akan mudah larut dalam pelarut polar dan sebaliknya
senyawa non polar akan mudah larut dalam pelarut non polar. Selanjutnya
diaduk menggunakan batang pengaduk hingga homogen. Setelah itu
dimasukkan kedalam corong pisah. Ekstrak yang tidak larut dilarutkan
dalam 40 mL pelarut n heksan. Lalu dimasukkan kedalam corong pisah
dan kemudian dikocok. Corong pisah didiamkan selama beberapa saat
hingga terbentuk 2 lapisan pelarut.
Dalam proses pemisahan ini, pelarut non polar yaitu n heksan akan
berada dalam fase atas sedangkan pelarut polar yaitu metanol berada
dalam fase bawah. Hal ini disebabkan karena air memiliki massa jenis
yang lebih besar dari pada n heksan. Setelah terjadi pemisahan, pelarut
tersebut dikeluarkan dari corong pisah dengan mendahulukan pelarut yang
berada dibagian bawah dan dimasukkan kedalam wadah yang berbeda.
Setelah itu pelarut yang sudah mengandung ekstrak diuapkan untuk
mendapatkan ektrak yang bersifat polar dan nonpolar yang kemudian
akan diuji dengan metode kromatografi lapis tipid (KLT) untuk

19

mengidentifikasi senyawa-senyawa yang terdapat dalam fase polar dan


dalam fase nonpolar (Watson, 2005).
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponenkomponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip kerjanya
yakni memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel
dengan pelarut yang digunakan.
Metode ini memiliki dua komponen utama, yaitu fase diam dan fase
gerak. Fase diam merupakan fase (bagian) yang tetap dan tidak bergerak
dalam sebuah sistem, sedangkan fase gerak adalah fase yang melalui
lapisan yang menyelubungi permukaan fase diam. Pada umumnya fase
diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis
sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang
digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel
dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.
Fase diam yang digunakan pada kromatografi lapis tipis di percobaan
ini yakni berupa lempeng/plat berukuran 7x1 cm yang disebut juga TLC.
TLC ini mengadung silica jel dimana merupakan bentuk dari silika
dioksida (silika). Sedangkan fase gerak yang digunakan yakni campuran
larutan etil asetat dan metanol dengan perbandinga 4:2. Perbandingan
campuran larutan etil asetat dan metanol ini bertujuan agar diperoleh
larutan etil asetat dan metanol yang mana memiliki polaritas yang sesuai
dengan yang dibutuhkan pada karakteristik sampel, mulai dari yang
polaritasnya rendah sampai polaritas yang tinggi.
Awalnya pada TLC dibuat pembatas berupa garis 0,5 cm dari bawah
dan 0,5 cm dari atas menggunakan pensil. Pembuatan batas dilakukan
dengan menggunakan pensil dikarenakan bahan pensil tidak dapat bereaksi
dengan pelarut (eluen) yang digunakan. Fungsi dari penandaan pada
lempeng yaitu untuk menunjukkan posisi awal dan posisi akhir dari
tetesan.

20

Kemudian dilarutkan ekstrak dari masing-masing sampel dengan


pelarut pertama yaitu metanol. Tujuan pelarut pertama yaitu sebagai
pembawa senyawa-senyawa yang terdapat pada ekstrak tersebut. Seperti
yang diketahui, pelarut metanol merupakan pelarut yang bersifat universal
dan banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam
karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder baik yang
bersifat polar maupun nonpolar. Lalu ditotolkan sampel yang telah
dilarutkan dalam metanol ke lempeng KLT menggunakan pipa kapiler.
Selanjutnya, lempeng ditempatkan dalam sebuah gelas (chamber) yang
berisi campuran pelarut etil asetat dan metanol dengan perbandingan 4:2,
kemudian ditutup dengan gelas penutup untuk meyakinkan bahwa kondisi
dalam gelas tersebut terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Kondisi jenuh
dalam gelas (chamber) dengan uap mencegah penguapan pelarut (Gritter,
1991).
Setelah pelarut mencapai garis batas atas, lempeng diangkat dan
dikeluarkan dari gelas (chamber). Untuk mengetahui bentuk noda pada
TLC tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Namun, harus
menggunakan bantuan sinar UV. Penyinaran sinar UV 254 nm dan 366 nm
pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan
posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan. Pada posisi bercakbercak yang timbul kemudian ditandai menggunakan pensil dan
melingkarinya. Kemudian dihitung nilai Rfnya.
Pada sampel ektraksi sokletasi nilai Rf yang dihasilkan adalah 1, hal
ini menandakan bahwa sampel tersebut mengandung senyawa yang
bersifat non polar yaitu demetoksikurkumin yang merupakan turunan dari
senyawa kurkumin karena semakin diatas bercak noda yang dihasilkan
pada lempeng KLT maka semakin non polar senyawa tersebut (Avicenna,
2009). Sedangkan pada sampel ekstraksi refluks nilai Rf yang dihasilkan
adalah 0,75, hal ini menandakan bahwa sampel tersebut mengandung
flavonoid karena menurut Mursidi (1991) senyawa flavonoid memiliki Rf

21

diantara 0,2-0,75. Adapun cara menghitung nilai Rf yaitu jarak yang


ditempuh oleh senyawa pada permukaan fase diam dibagi dengan jarak
yang ditempuh oleh pelarut sebagai fase gerak.
Lempeng KLT yang digunakan disemprot dengan asam sulfat (H 2SO4),
tujuan penggunaan H2SO4 10% pada saat penyemprotan lempeng yaitu
untuk lebih menampakkan noda pada lempeng dimana penampakan noda
setelah lempeng disemprot dengan H2SO4 ini bersifat reduktor yang dapat
memutuskan ikatan rangkap sehingga panjang gelombangnya bertambah
dan warna noda dapat dilihat pada cahaya tampak. Kemudian lempeng
tersebut dipanaskan, tujuan pemanasan lempeng KLT yaitu untuk
menghilangkan molekul-molekul air yang menempati pusat-pusat serapan
pada adsorben yang selanjutnya akan membuka pori-pori adsorben
sehingga luas permukaan spesifiknya meningkat.
Didalam kromatografi, berlaku suatu prinsip umum Like Dissolve
Like artinya polar menyukai yang polar dan non polar menyukai non
polar. Dalam hal ini, fase diam yang polar akan mengikat lebih kuat
komponen yang relatif polar, sedangkan fase diam yang non polar akan
mengikat lebih kuat komponen-komponen yang juga non polar. Hal yang
sama berlaku bagi fase gerak. Fase gerak yang polar akan melarutkan lebih
baik komponen yang juga polar, sebaliknya fase gerak yang non polar
akan melarutkan relatif lebih baik komponen yang juga non polar.

22

BAB V
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak yang dihasilkan dari proses ekstraksi sokletasi dan refluks di
fraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut
yang tidak saling bercampur atau pelarut yang bersifat non polar yaitu
etil asetat dan pelarut yang bersifat polar yaitu metanol dengan
perbandingan 4 : 2.
2. Ekstrak yang dihasilkan dari partisi cair-cair dilakukan uji Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa yang
terdapat dalam ekstrak tersebut. Nilai Rf dari ekstrak temu putih
(Curcuma zedoaria) adalah 1, hal ini menandakan bahwa sampel
tersebut

mengandung

senyawa

yang

bersifat

non polar

yaitu

demetoksikurkumin yang merupakan turunan dari senyawa kurkumin


karena semakin diatas bercak noda yang dihasilkan pada lempeng KLT
maka semakin non polar senyawa tersebut. Sedangkan nilai Rf dari
ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) adalah 0,75 yang
menandakan bahwa sampel tersebut mengandung flavonoid.
VI.2 Saran
1. Jurusan
Saran untuk jurusan yaitu sebaiknya menyediakan anggaran yang
lebih besar untuk laboratorium agar alat-alat yang ada di dalam
laboratorium lengkap dan dapat digunakan dengan maksimal oleh
praktikan.
2. Laboratorium
Saran untuk laboratorium, sebaiknya alat-alat yang ada di
laboratorium lebih diperhatikan dan dirawat lagi agar saat praktikum
bisa dipergunakan dengan baik dan maksimal tanpa ada kekurangan.
3. Praktikan

23

Saran untuk praktikan yaitu, praktikan harus teliti dalam melakukan


percobaan dan berhati-hati memakai peralatan-peralatan agar tidak tejadi
kecelakaan dalam percobaan dan tidak ribut ketika sedang melakukan
percobaan.