Anda di halaman 1dari 21

I.

TATA CARA MENDAPATKAN IDZIN PEMAKAIAN ATAU PENGGUNAAN


PESAWAT UAP.

Dalam pasal 6 ayat (1) Undang-undang Uap 1930 telah ditetapkan bahwa “adalah
dilarang untuk menjalankan atau menggunakan sesuatu pesawat uap dengan tidak
mempunyai idzin untuknya yang diberikan oleh Direktur Pembinaan Norma-norma
Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
Jadi jelas bahwa pemakaian pesawat uap tanpa idzin yang sah adalah suatu
pelanggaran dan dapat diajukan ke Pengadilan.
Untuk memperoleh idzin pemakaian dimaksud, calon pemakai berkewajiban
mengajukan Surat Permohonan (bentuk 6) kepada Direktur Direktorat Pembinaan Norma-
norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja melalui Kantor
Ditjen Banalindung setempat.
Pada surat permohonan tersebut harus disertai lampiran-lampiran yang diperlukan
a.1 :
- gambar konstruksi yang lengkap dan jelas
- sertipikat bahan
- keterangan-keterangan lain yang dibuat oleh pabrik atau instansi pemeriksa.
(Lihat Instruksi no. 4 surat No. 29/G.3/P.D. tanggal 21 Desember 1951)
Selanjutnya pegawai Pengawas keselamatan kerja dari kantor Direktoriat jenderal
pembinaan hubungan perburuhan dan perlindungan tenaga kerja setempat harus melakukan
hal-hal sebagai berikut :
Melakukan pemeriksaan dan pengujian atas pesawat uap dengan langka-langkah :
a. memeriksa surat permohonan
b. memeriksa gambar konstruksi pesawat uap
c. memeriksa sertipikat atas bahan, las-lasan dan keterangan-keterangan lainnya
yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat/inspektur Pemeriksa pembuatan.
d. Menghitung kekuatan konstruksinya.
e. Mengadakan pemeriksaan secara visual atas bagian-bagian pesawat uap dan
alat-alat perlengkapannya (appendages) serta mengadakan pengukuran-
pengukuran untuk dicocokkan dengan gambarnya.
f. Bila hal-hal tersebut pada (b) dan (c) sesuai dengan hal-hal pada (e) dan hal
pada (d) memenuhi persyaratan kemudian pesawat uapnya diuji baik dengan air
dingin maupun dengan uap dan dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas harus dibuatkan bentuk 9/9a.
Bila dari pemeriksaan maupun pengujian berhasil baik maka idzin sementara dari
pesawat uap dapat diberikan (Pasal 30 Peraturan Uap 1930).

Kedua
Mengadakan pemeriksaan atau pengecekan terhadap air yang akan dipakai untuk
pengisi pesawat uap; apakah sudah diadakan pemeriksaan atau belum.
Selanjutnya tembusan Idzin Sementara dan bentuk 9/9a dikirimkan kepada
Direktorat Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan
Kesehatan Kerja melalui Kantor Wilayah Direktoriat jenderal pembinaan hubungan
perburuhan dan perlindungan tenaga kerja setempat dengan melampirkan.
- bentuk 9/9a
- surat permohonan
- gambar konstruksinya
- sertipikat bahan
- perrhitngan-perhitungan
- keterangan-keterangan lainnya yang dipandang perlu.
Hal ini dimaksudkan untuk pembuatan Akte Idzin dari pesawat uap yang
bersangkutan.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh calon pemakai adalah sebagai berikut :
a. – membayar Retribusi sesuai dengan peraturan yang berlaku
b. – menyediakan perlengkapan atau alat-alat yang diperlukan untuk pemeriksaan atau
pengajuan (Pasal 17 Undang-undang Uap), termasuk ketelpak,
- menyediakan tenaga kerja untuk membantu pegawai Pengawas Keselamatan
Kerja yang memeriksa,
- supaya menyediakan kamar ganti pakaian atau kamar cuci dan alat-alat
pembersih diri dengan air yang cukup,
c. – memberikan penjelasan atas semua hal yang diperlukan oleh pegawai Pengawas
Keselamatan Kerja (Pasal 15 – Undang-undang Uap),
d. – Idzin Sementara atau Akte Idzin yang telah diberikan harus disimpan sebaik-
baiknya dan menyediakannya bila sewaktu-waktu diminta oleh pegawai
Pengawas Keselamatan Kerja yang berwenang.
e. – mentaati semua syarat yang diberikan oleh pegawai Pengawas Keselamatan Kerja
yang memeriksa.
Demikianlah sedikit uraian/penjelasan tentang pemakaian pesawat uap yang perlu
diketahui bersama dan selanjutnya akan ditingkatkan pada uraian tentang pemeriksaan dan
pengujian pesawat uap.

II. PEMERIKSAAN PESAWAT UAP


Sebelum membicarakan masalah/pemeriksaan maupun pengujian pesawat uap
perlu dikemukakan beberapa istilah yang dipakai dalam pedoman ini.
ISTILAH
Pesawat uap
“Pesawat uap adalah ketel uap dan alat-alat lainnya yang dengan peraturan pemerintah
ditetapkan; langsung atau tidak langsung bersambung atau disambungkan dengan suatu
ketel uap dan diperuntukkan bekerja dengan tekanan lebih besar dari tekanan udara”.

Ketel uap
Ketel uap adalah suatu pesawat uap dibuat guna menghasilkan uap yang dipergunkan
diluar pesawat.
Catatan :
Pada kebanyakan ketel uap, dalam pesawatnya masih jelas terlihat batas antara air dan uap.
Tetapi pada ketel-ketel uap khusus yang bagian-bagiannya sebagian besar terdiri dari pipa
yang umumnya berbentuk pegas sekerup (ketel uap jenis coil), tidak terlihat lagi batas
antara uap dan air, karena air yang masuk dalam pesawatnya langsung berubah menjadi
uap dan uapnya langsung dikeluarkan dari pesawatnya. Untuk ketel jenis ini perlu alat
pengaman khusus.

Pesawat uap selain ketel uap


Pesawat uap selain ketel uap adalah pesawat-pesawat uap yang tersambung atau
dihubungkan langsung maupun tidak langsung dengan ketel uap.
Dalam penggunaannya untuk suatu proses produksi tertentu, pesawat atau alat tersebut
menggunakan atau dialiri oleh uap dari ketel uap yang tekanannya lebih tinggi dari pada
tekanan udara luar.
Pesawat-pesawat dimaksud sebagaimana dijelaskan dalam pasal 2 Peraturan Uap 1930,
meliputi :
a. – Pemanas air
b. – pengering uap,
c. – Penguap,
d. – Bejana uap.
Termasuk disini adalah pipa-pipa penyalur uap yang diameter dalamnya lebih besar atau
sama dengan 450 mm.
Dewasa ini telah banyak terdapat pemanas air yang tidak sesuai dengan pemanas air
sebagaimana dimaksud dalam peraturan uap 1930, karena airnya bukan untukpengisi ketel
uap. Namun demikian pemanas air tersebut tetap harus diawasi oleh para pengawas
keselamatan kerja karena pesawat tersebut
Bertekanan dan dalam pesawat terjadi proses pembakaran.
Perlu dikemukakan disini bahwa ada pula ketel uap bekas yang dipakai untuk memanasi
air tapi dalam keadaan terbuka (Ruangan uap berhubungan dengan udara luar) sehingga tak
mungkin terjadi tekanan. Hal ini terdapat di salah satu pabrik tahu yang untuk proses
produksinya hanya membutuhkan air panas (bukan uap).
Ketel uap bekas semacam ini dianggap sebagai pemanas air tanpa tekanan dan tidak perlu
memiliki Akte Idzin.
Namun demikian syarat-syarat keselamatan kerja tetap harus diperhatikan karena adanya
air panas.
Demikianlah hal-hal yang perlu diketahui dan selanjutnya akan diuraikan tentang
pemeriksaan dan pengujian pesawat uap secara lebih terperinci.
Pemeriksaan pesawat uap dapat digolongkan dalam 3 kelompok :
A. – Pemeriksaan Pertama
B. – Pemeriksaan Berkala
C. – Pemeriksaan Khusus
A. – Pemeriksaan Pertama
Pemeriksaan Pertama adalah pemeriksaan pesawat uap dengan tujuan mencari data-data
lengkap mengenai kekuatan konstruksi dari ketel uap tersebut guna mendapatkan kepastian
apakah ketel uap tersebut mampu bekerja dengan baik pada tekanan kerja yang siinginkan.
Pemeriksaan semacam ini harus dilaksanakan terhadap :
a. – pesawat uap baru
b. – pesawat uap lama yang tak dikenal identitasnya dan akan dipakai kembali
Pemeriksaan ini didasarkan atas surat permohonan dari calon pemakai yang bertujuan
untuk mendapatkan Akte idzin atau Idzin Sementara.
Pegawai Pengawas selain memerlukan, meneliti tentang keadaan pesawat yang
bersangkutan , ia harus pula mengisi bentuk 9 atau 9a dengan maksud sebagai laporan atau
berita acara pemeriksaan atas pesawat yang bersangkutan serta menanda tangani sebagai
dasar untuk menerbitkan idzin Sementara bagi pesawat uap yang diperiksa.

A1. Pemeriksaan Pertama terhadap pemasangan Pesawat uap.


Bagi ketel-ketel uap yang bagian-bagiannya tidak terpisah (jenis package Boiler) hal
ini tidak menjadi masalah. Tetapi untuk ketel-ketel uap jenis pipa air yang pada umumnya
pada bagian-bagian tertentu harus dilas di tempat pemasangan atau pembuatan pesawat-
pesawat uap dalam negeri perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Harus mengajukan permohonan pengesahan gambar rencananya kepada
Direkur Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene
Perusahaan dan Kesehatan Kerja.
b. Juru las yang melaksanakan pengelasan harus yang telah memiliki sertipikat
yang dikeluarkan oleh Instansi berwenang dan disahkan oleh Direktorat
Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan
Kesehatan Kerja dan bagi yang dari luar negeri harus menunjukkan
sertipikat las dari Negara asalnya dengan ketentuan, baik yang dari luar
maupun dalam negeri belum dilampaui batas berlakunya. Ketentuan ini
berlaku bagi juru las listrik dan oxyacetylene (las karbit).
c. Elektroda las, yang dipakai untuk mengelas harus dari jenis yang telah
disahkan oleh Direktorat Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja &
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja dan dalam hal pemakaian
disesuaikan dengan bahan atau pelat yang akan dilas. (Lihat Surat Edaran
No. 22/U dan No. 90/U).
d. Las-lasan harus diadakan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan pada
pengesahan gambar rencananya. Pemeriksaan las-lasan pada pesawat
uapnya dilakukan secara tak merusak (NDT) dengan menggunakan X-Ray,
pesawat Ultrasonik, dye check, magnatest- magnatest dan lain-lain terhadap
:
- Seluruh las-lasan pada badan pesawat buatan dalam negeri
- Las-lasan bagian-bagian dari pesawat uap buatan luar negeri yang masih
diragukan, misalnya yang tidak ada sertipikatnya, belim dikenal pabrik
pembuatnya. Pemeriksaan las-lasan pada suatu pesawat uap dan bagian-bagian
yang dipandang perlu menurut pemeriksa berkisar antara 5% - 100% “menurut
penetapan Direktur berdasarkan keadaan las-lasan.
- Sesuai dengan ketentuan pemeriksaan tersebut perlu disertai pengujian secara
destruktip (merusak, misalnya : pemeriksaan percobaan las sejalan atau las
posisi, dll)
A2. Pemeriksaan Pesawat uap disesuaikan dengan gambar rencana dan perhitungan
kekuatan konstruksinya.
Pada pemeriksaan ini diadakan pengukuran bagian-bagian pesawat uap untuk
disesuaikan dengan gambar rencana yang telah disyahkan. (seperti halnya diameter
tebal pelat badan, pipa-pipa, dan lain-lain)
Mengenai perhitungan konstruksinya didasarkan pada gambar rencana, tekanan kerja
maximum dan sertipikat bahannya dengan menggunakan ketentuan dari Dasar-dasar
penilaian pesawat uap dan Bejana tekanan tahun 1955 dengan dibantu Grondslagen
terbitan tahun 1973, untuk hal-hal tertentu dapat dipakai grondslagen tahun 1946 (Pasal 10
ayat (2) Undang-undang Uap 1930).
Mengenai perhitungan yang dibuat oleh pabrik pembuat, untuk sementara dinilai sebagai
pembanding.
Bagi pesawat yang sama sekali tidak diketahui Riwayatnya atau tidak memiliki sertipikat
bahan, bila keadaannya memungkinkan dapat diambil pelat contoh Penyelidikan Bahan
sebagai penganti sertipikat bahan.
Yang dimaksud dengan ‘keadaan memungkinkan’ ialah :
a. bila ketel tersebut tidak terdapat bekas lobang Penyelidikan Bahan.
b. Bila terdapat lobang Penyelidikan Bahan yang disertai penjelasan maupun tidak,
pada ketel uap tidak terdapat tanda pengapkiran.
Bila dijumpai ketel uap terdapat lebih dari 2 lobang penyelidikan bahan tanpa ada
keterangan-keterangan mengenai hasil, harus diapkir karena sangat meragukan.
A3. Pemeriksaan setelah pemasangan
a. - Pemeriksaan luar
Pemeriksaan tersebut secara visual pada bagian sisi luar atau sisi api yang
meliputi :
1. Pemeriksaan sisi luar pelat badan khusus untuk ketel pipa air pemeriksaan sisi luar
pipi-pipinya.
2. Pemeriksaan las-lasan atau kelingannya.
3. Untuk ketel-ketel pipa api memeriksa rol-rolan atau las-lasan pipa api pada pelat
pipa serta sisi dalam pipa api.
4. Pemeriksaan penyangga atau fondasi dengan catatan las-lasan penyangga tidak
boleh terkena las-lasan yang penting pada ketel uap, dengan syarat :
- pemeriksaan tanggal bila diperlukan.
- pipa-pipa penyalur uap buangan dari tingkap pengaman.
- Dan lain-lain yang dianggap perlu.
b. – Pemeriksaan dalam.
Pemeriksaan secara visual pada bagian sisi air, yang meliputi pemeriksaan
terhadap :
- Keadaan sisi dalam pelat badan dan khusus untuk pipa api sisi dalam dari pipa-
pipanya.
- Keadaan sambungan las-lasan atau kelingan
- Memeriksa rol-rolan atau sambungan las-lasan pada pemasangan pipa air,
khusus untuk ketel pipa air.
- Memeriksa bagian-bagian penghubung, yang berkaitan dengan sistim
pengamannya.
- Hal-hal yang dianggap perlu.
c. – Pemeriksaan alat-alat perlengkapan
Diadakan pemeriksaan dan pengukuran-pengukuran mengenai :
- Jenis atau jumlah dan ukurannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
- Cara atau letak pemasangannya.
- Tanda-tanda batas penunjukkan yang harus ada sesuai dengan peraturan antara
lain : batas air terendah, tekanan tertinggi yang diijinkan.
Walaupun dalam peraturan belum diatur mengenai adanya uap induk, tapi pada
tiap ketel uap harus diperlengkapi dengan kerangan uap induk, kecuali sejak
perencanaan semula sesuai dengan penggunaannya tidak diperlukan keran uap
induk tersebut.
A3. Pengujian padat dengan air dingin.
a. – Persiapan untuk pemadatan
Untuk pemadatan lazimnya dipakai air dingin dan diisikan pada pesawatnya
sampai Saluran Tingkap pengaman yang berhubungan dengan pesawatnya harus diberi
plendes mati, sehingga tingkap pengaman bebas tekanan padat.
Pengertian tentang pengisian air ke dalam pesawat sampai penuh adalah air
yang diisikan harus sampai memenuhi seluruh ruang hingga airnya keluar melalui
lobang yang letaknya di bagian tertinggi dari pesawat uapnya; dengan kata lain tidak
boleh ada bantalan udara di dalam pesawat uapnya.
Tindakan lain untuk menggantikan fungsi plendes mati, dengan cara memberi pasak,
mengencangkan baut yang menekan pegas dapat merusak kedudukan tingkap maupun
melemahkan pegas oleh karena itu tidak dibenarkan untuk dilakukan.
Pengujian padat dengan air dingin ini dilakukan sebagai berikut :
a. tekanan kerja kurang atau sama dengan 5 kg maka : Tekanan pengujian = 2 x
tekanan kerja.
b. tekanan kerja lebih besar dari 5 kg, lebih kecil dari 10 kg, maka : Tekanan
Pengujian = 1,5 x tekanan kerja.
Untuk pengujian pesawat dengan air dingin harus disiapkan :
- pompa tekan yang memnuhi syarat
- tenaga pembantu (orang)
- dan lain-lain
b. – Cara pemadatan.
Pemadatan harus dilakukan secara bertahap (berangsur-angsur) kenaikan tekanan dari pada
pemadatan tersebut harus sedemikian rupa sehingga dapat memberi kesempatan
mengembangnya bagian-bagian pesawat uap itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan (Retak atau bocor akibat pengembangan bagian ketel mendadak akibat
kenaikan tekanan mendadak).
Penekanan hendaknya dilakukan secara perlahan-lahan dan kenaikan tekanannya dibuat
secara bertahap.
Pertama ditekan secara pelan-pelan sampai 10% dari tekanan kerjanya.
Tahap berikutnya ditekan secara pelan-pelan sampai 20% dari tekanan kerjanya.
Begitu seterusnya sampai mencapai tekanan pengujian (kenaikan tiap tahap 10% p kerja).
Penekanan pada tekanan pengujian dilakukan tidak terlalu lama dengan catatan cukup
untuk mengadakan pemeriksaan tentang ada tidaknya bocoran atau perubahan bentuk.
Setelah pemeriksaan tersebut selesai kenaikan tekanan diturunkan secara pelan-pelan
dengan kecepatan 5 kg/cm2/menit maximum.
A5. Percobaan dengan tekanan uap
Percobaan ini bermaksud untuk mengetahui kemampuan kerja dari tingkap pengamannya
disesuaikan dengan maksud pemakaian, dengan tidak melebihi tekanan yang diijinkan.
Percobaan ini dilakukan pada setiap :
1. penggantian tingkap-tingkap pengaman.
2. pemakaian tingkap pengaman dengan muatan pegas.
3. tingkap-tingkap pengaman yang bekerjanya diragukan.
4. penggantian jenis bahan baker
5. setiap pesawat-pesawat uap dilengkapi dengan alat-alat otomatis.
Guna menjamin keyakinan pemeriksaan dan pengujian serta keadaan konstruksi lengkap
pesawat uapnya, maka percobaan uap diperlukan pula setiap pesawat uapnya dirakit,
direparasi, dibersihkan peralatan/pengontrolannya.
a. Persiapan
Karena pada percobaan ini pada hakekatnya pesawat uap sudah mulai jalan (dipasang api
penuh dan terjadi tekanan dalam pesawatnya) maka sebelum percobaan ini dilakukan harus
ada ijin tertulis dari pegawai Pengawas Keselamatan Kerja yang memeriksa yang
menyatakan bahwa pesawat uap tersebut diijinkan untuk diadakan percobaan dengan
tekanan uap.
Pemanasan pendahuluan
Mula-mula diadakan pemanasan pendahuluan tanpa tekanan uap (hati-hati untuk ketel uap
baru terutama ketel uap pipa air yang dilas ditempat ataupun setelah direparasi); hal ini
dimaksud agar penyebaran suhu dapat merata hingga pemuaian bahanpun dapat merata
tidak ada kejutan-kejutan tegangan bahan.
Harus diingat pula bahwa udara di dalam ketel uapnya harus dibuang hingga di ruang uap
hanya terdapat uap saja (100% uap). Lazimnya untuk mudahnya, setelah udara di dalam
ruang uap habis dan tinggal uapnya, ketel uap tersebut dapat dikatakan secara continue
memproduksi uap sebab api menyala terus.
Dalam pemanasan ini suhu air harus diatur dengan kecepatan kanaikan suhu 550 C/Jam.
Lama pemanasan minimal 4 x periode pembuatan uap. (Periode pembuatan uap ialah
waktu yang diperlukan untuk membuat uap dari 0 kg/cm2 sampai p kerja yang diijinkan
secara normal)
Dengan ketentuan semua saluran uap dibuka. Khusus untuk ketel-ketel uap jenis ketel
bouiller sekurang-kurangnya 4 x 24 jam. Bagi ketel-ketel uap modern hrap mengikuti buku
petunjuk dari pabrik pembuatnya.
b. – Jalannya percobaan uap
b.1 pengopakan mula selalu dilakukan pelan-pelan, dan tidak boleh terjadi
kenaikan tekanan yang melonjak secara mendadak.
b.2 Kenaikan atau peningkatan tekanan uap harus diatur sedemikian rupa
sehingga kenaikan suhu uapnya tidak melebihi 550 C tiap jam. Untuk
melihat besarnya suhu harus dilihat dari tekanan kerjanya (lihat table uap).
Bila lebih, berarti membuat gejolak tekanannya pada waktu tingkap
bergerak naik turun. Dalam keadaaan demikian, berbahaya untuk konstruksi
ketel.
b.3. pada saat percobaan atau pengujian dengan tekanan uap, tingkap-tingkap
pengaman harus membuka tepat pada tekanan kerja yang diijinkan dan
tekanan tidak boleh naik lebih dari 10% tekanan kerja yang diijinkan dalam
waktu 15 menit.
Sedangkan pada waktu tingkap menutup, tekanan tidak boleh kurang dari
6% tekanan kerja yang diijinkan.
Pipa pembuang uap, ujung pipa harus berada di luar ruangan kerja atau
dibuang ke udara luar.
b.4. percobaan uap pada ketel-ketel uap yang berproduksi cepat dan otomatis.
Percobaan uap semacam ini sudah sukar dilaksanakan sehingga dapat
dipakai buku petunjuk dari pabrik pembuatnya sebagai pedoman cara-cara
pelaksanaan pemanasan maupun percobaan uapnya. Bagi ketel-ketel uap
dengan tekanan lebih besar daripada 70 kg/cm2, tingkap pengamannya
dapat dibebaskan dari penyetelan tingkapnya sewaktu percobaan uap harus
lebih berhati-hati.
Untuk itu tingkap pengaman tersebut haru memiliki sertipikat dan diyakini
bahwa tingkap pengaman yang dimaksudkan dapat bekerja dengan aman.
Pemeriksaan menyeluruh pada waktu percobaan uap perlu diperhatikan a.1:
batasan-batasan, lobang, pipa pengisi, blow down, pipa-pipa, tingkap-
tingkap, pompa-pompa, alat-alat pengopak termasuk peralatan lorong asap
dan sebagainya.
Penjagaan
Agar diberitahukan kepada orang-orang disekelilingnya (lingkungan pabrik) tentang akan
diadakan percobaan uap dan orang-orang yang tidak berkepentingan dilarang berada di
ruangan ketel uap dan daerah-daerah yang dianggap berbahaya.
Bagi ketel uap dengan tekanan kurang 70 kg/cm2, dapat ditunjuk sesorang yang ditugaskan
untuk menjaga keran uap induk dan membuka keran tersebut bila diperlukan.

B. Pemeriksaan Berkala
Pemeriksaan berkala adalah pemeriksaan pesawat uap untuk mendapatkan data-data
apakah ketel uap dan alat-alat mengalami kelainan atau tidak selama pemakaian dalam
jangka waktu tertentu.
Sebelum pemeriksaan ini dilakukan pemeriksa harus meneliti dahulu catatan-catatan dalam
Akte Idzinnya untuk mengetahu syarat-syarat yang telah diberikan dan sampai dimana
pelaksanaannya.
a. – Pemeriksaan lua
- Pemeriksa secara visual bagian luar atau sisi api pesawat uap dengan maksud
untuk meneliti keadaan dinding-dinding atau pelat-pelatnya, pipa-pipa,
sambungan-sambungan (las atau kelingan) rol-rolan, sambungan lasnya dan
sebagainya mungkin terjadi capuk-capuk akibat korosi maupun aus dimakan api
dan sebagainya.
- Sebelum pemeriksaan tersebut dilakukan semua abu, jelaga dan kotoran lainnya
harus dibersihkan dan dikeluarkan dari dalam pesawat uapnya sehingga dinding
pipa-pipa maupun sambungannya benar-benar bebas dari kotoran.
- Dalam pemeriksaan ini yang harus diperhatikan terutama di bagian lorong atau
dapur api maupun kamar nyala dan sebagainya.
Yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan luar ;
- adanya perubahan warna pada pelat pesawat uap termasuk bagian-bagiannya.
- Lenturan- lenturan atau perubahan-perubahan bentuk.
- Batu-batu tahan api yang retak atau rontok.
- Korosi dan erosi yang mungkin terjadi
- Kedudukan pesawat uapnya sesuai dengan bentuk aslinya.

b. Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan secara visual bagian dalam/sisi air dari pesawat uap dengan
maksud untuk meneliti keadaan dinding-dinding, pelat-pelat, pipa-pipa,
sambungan-sambungan (las atau kelingan), rol-rolan atau las-lasan pipa,
mungkin terjadi penepisan pada pelat badan dan bagian-bagian lainnya
terbentuk bersama-sama kerak-kerak ketel maupun terdapat capuk-capuk akibat
korosi.
Pada pemeriksaan ini harus diperhatikan : pipa panjang, pipa api, pipa air, baut-
baut atau batang tunjung dan penguat lainnya, mungkin terjadi bengkokan,
lenturan, putus, penipisan, retak dan lain sebagainya.
c. Pemeriksaan alat-alat perlengkapan (appendages)
- semua alat perlengkapan perlu diilepas dari pesawat uapnya dan diteliti apakah
bagian-bagiannya masih baik (tidak pecah, tidak tersumbat, ulirnya tidak rusak,
alat bagiannya baik dan sebagainya).
- Pedoman tekanan (manometer) harus ditera.
- Penggantian atas alat-alat perlengkapan harus diberitahukan kepada Pengawas
Keselamatan kerja yang memeriksa untuk diuji kebaikannya.
- Khusus untuk drop leleh timahnya harus diganti 1 tahun sekali tidak tergantung
pada pemeriksaan berkala.
Setelah diadakan revisi, service terhadap alat-alat pesawat uap, maka alat-alat
tersebut harus diletakkan secara teratur pada suatu tempat yang memungkinkan
pengawas keselamatan kerja dapat memeriksa alat-alat tersebut dengan mudah dan
teliti.
Pengujian pada pemeriksaan berkala, persiapan-persiapan maupun cara
pengujiannya seperti pada ayat 3 dan 4 paragraph II dengan ketentuan besarnya
tekanan-tekanan pengujian sama dengan PU = tekanan kerja ditambah max. 3 kg.
CATATAN : Hasil pemeriksaan dan pengujian serta syarat-syarat yang diberikan
harus ditulis dalam Akte Idzinnya dan dilaporkan pada Direktur
Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan
dan Kesehatan Kerja dengan bentuk 10.
C. PEMERIKSAAN KHUSUS
Pemeriksaan khusus disini adalah pemeriksaan yang sifatnya insidentil antara lai :
1. – Penelitian Bahan, karena ketel uap telah mencapai 35 tahu.
2. – Pemeriksaan ketel-ketel uap usia 65 tahun ke atas.
3. – Pesawat uap yang direparasi.
4. – Pelat baru atau penambal.
5. – Pemeriksaan-pemeriksaan bagian-bagian ketel uap yang tertutup salut atau
tembokan.
6. – Terbakar atau cacat.
7. – Kapalnya tenggelam (ketel uap kapal).
8. – Pemeriksaan-pemeriksaan yang ada hubungannya dengan Keselamatan kerja.
9. – Pesawat uap diawetkan atau tidak diperlukan Akte Idzin.
C.1. Penyelidikan Bahan (P.B)
a. Penyelidikan Bahan ini berlaku bagi :
- ketel uap yang telah dipakai dan telah berumur 35 tahun terhitung muali
tahun pembuatannya.
- pesawat uap yang tidak memiliki sertipikat bahan (sebagai penganti sertipikat
bahan).
- pelat-pelat atau pipa-pipa atau batang-batang tanjung atau paku-paku keeling
yang akan dipakai untuk pembuatan atau reparasi pesawat uap yang tidak
memiliki sertipikat.
- lain-lain sesuai dengan pertimbangan tehnis.
b. Ukuran bahan coba yang akan dimiliki
- Untuk ketel uap atau pesawat uap
Tempatnya tertentu sehingga tidak membuat pelemahan konstruksi dengan
diameter bersih dari pelat coba minimum 100 mm s/d lebih besar 120 mm.
Pengambilan harus dengan cara dingin dengan cara boor (lihat S.E. No.
62/U).
- Untuk pipa
Diambil contoh sepanjang 1 meter untuk jenis atau ukuran diameter.
- Untuk pelat bahan ketel uap
Diambil pada bagian kaki dan kepala menurut arah canai berukuran 200 x
200 mm untuk tiap tempat
- Untuk batang tunjang
Diambil 1 meter untuk tiap jenis atau ukuran diameter.
- Untuk paku keling
Diambil 12 untuk tiap jenis.
Prop leleh diambil 200 gram. Pengiriman ke Laboratorium Keselamatan
Kerja disertai Surat Keterangan yang berisi penjelasan pabrik pembuat prop
leleh tersebut.

C.2. Pemeriksaan Pesawat uap dengan tembokan dibongkar.


Pemeriksaan ini bermaksud untuk mengetahui keadaan bagian-bagian ketel uap
yang tertutup oleh tembok. Pemeriksaan dilakukan setelah dipakai selama 35 tahun
terhitung dari pemasangan tembokan tersebut.
Khususnya untuk ketel-ketel uap yang bekerja secara normal dan untuk ketel-ketel uap
dengan sambungan kelingan bilaman dipandang perlu sebagaian kelingannya supaya
dilepas dan diadakan pemeriksaan secara Non Destruktip Test. Pemeriksaan semacam
ini untuk yang kedua dilaksanakan tiap 30 tahun. Untuk pemeriksaan yang ketiga ada
ketentuan-ketentuan khusus mengenai cara pemeriksaannya dan ketentuan-ketentuan
tersebut akan dikeluarkan dalam waktu dekat.

C.3. Pemeriksaan ketel-ketel uap berusia 65 tahun ke atas.


Pemeriksaan ketel-ketel uap yang dimaksud ialah yang berumur 65 tahun ke atas
dimana bahan atau pelat badannya masih baik (Berdasarkan hasil Penyelidikan Bahan
LANGSUNG). Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui sampai dimana
keadaan dari bagian-bagian konstruksinya karena usianya sudah demikian tua. Disini
harus diperiksa secara menyeluruh mengenai : tebal pelat, keadaan sambungannya
(mungkin keretakan-keretakan di tempat kelingan bagian dalam) dan sebaginya.
Selain itu perlu dipikirkan pula keadaan Rondsel yang lain (bagi ketel yang terdiri dari
2 rondsel atau lebih) serta pron-pronnya.
Apakah bagian itu masih baik karena penyelidikan bahan yang menyatakan langsung
adalah dari satu rondsel tertentu.
C.4. Pemeriiksaan sebelum, sewaktu dan setelah reparasi penting pada pesawat uap.
Yang dimaksud dengan reparasi penting disini ialah suatu penggantian sebagian
dari bagian ketel uap yang utama misalnya menambah badan, pron, ganti bouilleur dan
sejenisnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam reparasi ini ialah :
- Untuk setiap reparasi penting harus diajukan terlebih dahulu permohonan rencana
reparasi kepada Direktur Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja &
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja untuk pengesahannya.
Dalam pengajuan ini dengan sendirinya dilampiri sertipikat bahan yang
diperlukan.
- Mengenai ketentuan tentang Juru las, elektroda las, pemeriksaan alat-alat
perlengkapan adalah seperti yang telah dijelaskan di muka.
- Mengenai cara pengelasan, pemeriksaan las-lasan pada bagian yang direparasi
akan ditentukan dalam pengesahannya.
Setelah reparasi selesai harus diadakan pengujian padat dengan air dingin.
Besarnya tekanan padat seperti pada pemeriksaan periodic.
Semua hasil pemeriksaan dan pengajuan harus di tulis dalam Akte Idzinnya dan
dilaporkan kepada Direktur Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja &
Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja melalui laporan bulanan bentuk 10.
C.5. Pemeriksaan Kemampuan Kerja Pesawat Uap dan Alat-alat Perlengkapannya.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui keadaan sebenarnya atas
bekerjanya pesawat uap yang bersangkutan beserta alat-alat perlengkapannya pada
keadaan yang sebenarnya.
Pemeriksaan semacam ini lazimnya dilakukan pada saat pesawat uapnya
dijalankan yaitu :
a. – antara pemeriksaan pertama dan pemeriksaan periodic, atau
b. – antara pemeriksaan periodic dengan pemeriksaan periodic berikutnya,
atau
c. Segera setelah pesawatnya dijalankan, sehabis direparasi atau diganti
sebagian dari alat-alat pengamannya (appendagesnya). Pengecekan atau
pengujian dilakukan pada semua alat perlengkapan kecuali tingkap
pengaman.
D. MUTASI PESAWAT UAP
Mutasi berlaku bagi semua pesawat uap yang telah memiliki Akte Idzin yang oleh
karena sesuatu hal mengalami perubahan sehingga tidak cocok lagi dengan apa yang
tertulis dalam Akte Idzinnya (Pasal 47 ayat (1) Peraturan Uap). Mutasi tidak berlaku
bagi ketel uap darat tetap.
Untuk menangani hal tersebut di atas perlu dilaksanakan sebagai berikut :
1. Pemakaian atau orang/perusahaan yang namanya tercantum dalam Akte
Idzin berkewajiban melaporkan secara tertulis kepada Direktur Pembinaan
Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan Kesehatan
Kerja melalui Kanditjen Binalindung dan Kanwil Ditjen Binalindung
setempat apabila terjadi perubahan pesawat uapnya sehingga tidak sesuai
lagi dengan apa yang terlis dalam buku Akte Idzinnya missal perubahan
tempat, tekanan kerja dan lain-lain.
2. Bagi pesawat uap yang memiliki Akte Idzin dan dijual, maka calon pemakai
harus mengajukan permohonan tertulis bermaterai kepada Direktur
Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja & Hygiene Perusahaan dan
Kesehatan Kerja melalui Kanditjen Binalindung dan Kanwil Ditjen
Binalindung setempat, agar Akte Idzinnya dibalik nama dengan nama
pemakai baru.
3. Calon pemakai tidak diperbolehkan menjalankan pesawat uapnya sebelum
mendapatkan ijin tertulis dari Pegawai Pengawas Keselamatan Kerja
setempat yang berwenang mengawasi pesawat uap setempat.
4. Pegawai Pengawas Keselamatan Kerja tersebut pada 3 hanya dapat
memberikan ijin tersebut pada calon pemakai setelah pesawatnya diperiksa
dan diuji dengan hasil baik.
Pemeriksaan harus dilaksanakan secara teliti dan menyeluruh baik pada
pesawat uap maupun alat perlengkapannya, hanya dalam pengujian dengan
air dingin harus mengikuti ketentuan pasal 44 ayat (1) Peraturan Uap 1930.
Dalam hal-hal tertentu Pegawai Pengawas tersebut dapat melakukan
ketentuan pasal 44 ayat (2) Peraturan uap 1930.
III. AIR PENGISI KETEL UAP

Setiap sumber air mengandung zat-zat kimia yang berbeda tergantung pada struktur
geologi yang kontak dengan air itu.
Air yang dipakai untuk proses dalam industri harus memnuhi syarat kwalitas air sesuai
dengan penggunaannya. Karena pemakaian air yang tidak memnuhi syarat dapat
merugikan industri itu sendiri.
Air pengisi ketel uap yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan kerak-kerak ketel
yang mengganggu penghantaran panas. Hal ini menyebabkan pemborosan bahan baker dan
produksi uap. Juga zat-zat tertentu dapat menyebabkan dinding ketel uap menjadi korosi,
rapuh dan lemah yang dapat mengakibatkan peledakan.
1. SYARAT-SYARAT AIR PENGISI KETEL UAP.
A. Air pengisi ketel uap yang memenuhi syarat adalah air yang tidak merusak dinding
ketel uap pada temperature tinggi dan tekanan tertentu yaitu :
a. Air itu tidak boleh membentuk kerak/endapan pada dinding ketel saluran uap
dan lain-lain.
b. Air itu tidak boleh bersifat korosif.
c. Air itu tidak boleh menimbulkan proses-proses pembusaan, proming dan carry-
over.
d. Air itu tidak boleh menyebabkan dinding ketel menjadi rapuh (“caustic
embrittlement”).
B. Syarat-syarat kwalitas air pengisi ketel uap pada berbagai tekanan(“New Engineering
Water Works Association”).
C. Definis satuan :
a. ppm = part per million = mg/1
ppm
b. epm = aquivalen per million =
berat aquivalen
c. GPG = Grains per US Gallen = GPG x 17,1 = ppm
d. Pounds per 1000 gallon = 1 b per 1000 gal x 12 = ppm
e. Gram per liter = g per liter : 1000 = ppm
2. JENIS-JENIS KERAK KETEL UAP YANG DAPAT TIMBUL DAN
MEMBAHAYAKAN
- kerak karbonat (Ca CO3)
- kerak gipsa (Ca CO4)
- kerak silikat (Ca Sio3)
- kerak analciet (Na20 A12o2 4 Sio2 H2O)
- kerak Lumpur/endapan dan lain-lain.
3. CIRI-CIRI DARI JENIS KERAK YANG TERJADI PADA KETEL UAP.
a. kerak/endapan kalsium karbonat :
- keras dan padat.
- Kristalnya halus.
- Rapuh.
- Tidak larut dalam asam.

b. Kerak/endapan silikat :
- Keras seperti porselin.
- Rapuh.
- Tidak larut dalam asam.

c. Kerak/endapan analciet :
- Keras seperti porselin.
- Kristalnya lebih halus.
- Keraknya sangat padat dan rapuh.
- Melekat kuat sekali pada logam dinding ketel/pipa.
- Mempunyai daya hantar yang rendah sekali.
- Tidak larut dalam asam.

d. Kerak/endapan besi :
- Warna coklat kehitam-hitaman.
- Larut dalam asam.
4. USAHA PENCEGAHAN TERHADAP AKIBAT-AKIBAT BURUK DARI
PEMAKAIAN AIR PADA PESAWAT UAP.
a. Usaha pencegahan terhadap timbulnya korosi :
- PH air tidak boleh terlampau rendah
- PH air harus disesuaikan dengan pemakaian atau kebutuhan tekanan kerja ; PH
serendah-rendahnya 7 dan setinggi-tingginya 10.
- Mengandung garam-garam magnesium chloride dan besi sulfat yang
disesuaikan dengan syarat kwalitas dari pengisi ketel.
- Menghindari/mengurangi gas-gas yang larut dalam air pengisi seperti Oksigen
dan karbon dioksida dan sebagainya.
- Menghindari terjadinya sirkulasi uap dan air yang kurang sempurna di dalam
ketelnya (design fault).
- Pemeliharaan ketelnya terutama bila ketelnya sedang tidak dipakai.

b. Usaha pencegahan terhadap timbulnya kerak :


- Melaksanakan pengolahan air yang baik sesuai dengan petunjuk yang diberikan
oleh Laboratorium.
- Hindari pemakaian air tanpa pengolahan lebih dahulu.
- Melaksanakan blow down secara sewaktu-waktu atau continue.
- Hindari adanya garam yang berbahaya dalam air pengisi ketelnya.

c. Usaha pencegahan terhadap timbulnya carry-over :


- Mengurangi zat-zat padat yang terlarut dalam air.
- Mengurangi gas-gas yang terlarut dalam air.
- Melaksanakan blow down.

d. Usaha pencegahan terhadap timbulnya caustic embrittlement :


- Hindari adanya rongga-rongga halus tempat las dan kelingan.
- Hindari terjadinya tegangan pada bahan ketel.
- Hindari konsentrasi larutan alkali yang terlamapu tinggi (75.000 – 500.000
ppm).
5. PEMERIKSAAN AIR PENGISI KETEL UAP.
A. Cara pengambilan contoh air.
a. Bila contoh diambil dari air sungai, air sumur, bak penampungan :
1. Botol gelas atau polythene berleher sempit dengan isi minimal 2 liter yang
telah bersih dibilas dahulu dengan air yang akan diperiksa sampai 3 kali.
2. Kemudian dicelupkan tegak lurus dengan dasar botol di atas dan mulut
botol di bawah kurang lebih 30 cm di bawah permukaan air.
3. Botol diputar sedikit sehingga leher agak ke atas dan lubang botol diarahkan
ke arah sumber aliran air, bila tidak ada aliran maka botol didorong secara
horizontal ke depan.
4. Botol harus diisi sampai penuh, lalu diangkat secepatnya ke atas dan segera
ditutup. Amankan tutupnya dengan plastic.
5. Kemudian botol diberi label yang bertuliskan :
- “Air pengisi Pesawat Uap”
- Nama Pabrik.
- Tanggal pengambilan
B. Cara pengiriman contoh air.
Pada waktu pengiriman contoh air diusahakan dalam keadaan dingin. Contoh air harus
segera dikirim ke Laboratorium untuk diperiksa.
Pengiriman harus disertai keterangan yang menerangkan.
1. Temperatur air pengisi pada saat pengambilan.
2. Sumber air yang dipakai untuk air pengisi ketel uap.
3. Umur ketel uap.
4. Tekanan kerja ketel uap.
5. Dilakukan/tidak dilakukan pengolahan/penambahan zat kimia terhadap air pengisi
ketel uap.
6. Nama (jabatan dan tanda tangan pengambil contoh air).
7. Nama, jabatan dan tanda tangan saksi.