Anda di halaman 1dari 55

1.

Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler


Andra Ariestya 04211640000005
Nur Holis 04211664000011
Rheza Fakhrezi Pratama 04211640000013
Syafri Octa F 04211640000017
Aulya Fadilla Rachman 04211640000035
Pius Anggara Butarbutar 04211640000049
Nikolas Arta Kurnia Deko 04211640000054
Dany Rahmat Akbari 04211640000060
Fekendra Jusuf 04211640000066
Parson Hamonangan Purba 04211640000099
Yoseph Lintong J.S 04211640000109
Gaftraghali Naranda 04211640000117

Departemen Teknik Sistem Perkapalan


Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Keputih, Sukolilo, Surabaya 60111

1. Pendahuluan
Boiler atau ketel uap adalah alat untuk menghasilkan uap air,yang akan digunakan untuk
pemanasan atau tenaga gerak.Bahan bakar pendidih bermacam macam dari yang paling
popular adalah batu bara dan minyak bahan bakar,sampai listrik,gas biomassa,nuklir dan
sejenisnya.Pendidih merupakan bagian terpenting dari penemuan mesin uap yang
merupakan pemicu dari revolusi industri Inggris.

Performa yang baik membuat teknologi boiler pun mulai diterapkan berbagai negara yang
terlibat pada perang dunia, seperti Jepang dan negara – negara Eropa. Penggunaan boiler
pun meluas, tidak hanya pada kapal perang, tetapi juga pada teknologi lainnya, seperti
pada industri pembangkit listrik.

2. Pemilihan Boiler
2 Boiler

Pemilihan sebuah peralatan boiler dipengaruhi oleh berbagai faktor demi menghasilkan
jumlah uap yang dibutuhkan pada suhu dan tekanan desain untuk instalasi tertentu.
Operasi yang efisien dalam membakar berbagai bahan bakar yang tersedia di bumi
merupakan sebuah persyaratan. Boiler harus pas dan strategis ketika ditempatkan di ruang
mesin yang minimum, harus dapat diakses dengan baik untuk pengoperasian, inspeksi, dan
pemeliharaan. Meskipun dengan bobot yang ringan, boiler tersebut harus cukup kuat untuk
beroperasi dengan baik di bawah kondisi laut yang buruk. Operasi atas rentang beban yang
luas, dengan perhatian minimum, dan karakteristik pengoperasian yang kompatibel dengan
otomatisasi tingkat tinggi juga diperlukan. Faktor-faktor yang digunakan baik dalam desain
thermal maupun struktural harus konservatif untuk memberikan jaminan bahwa operasi
berkelanjutan selama periode waktu yang ditempuh dapat terlaksana dengan pemeliharaan
minimum. Selanjutnya, boiler harus memenuhi aturan dan regulasi badan pengatur.

Efisiensi boiler menunjukkan hubungan antara supply energi masuk ke dalam boiler
dengan energi keluaran yang dihasilkan oleh boiler. Efisiensi pada boiler didefinisikan ke
dalam tiga cara, yaitu :
 Efisiensi pembakaran
 Efisiensi termal
 Efisiensi bahan bakar-uap air (Fuel-to-steam)

2.1 General
Pemilihan sebuah boiler dipengaruhi oleh berbagai faktor demi menghasilkan jumlah uap
yang dibutuhkan pada suhu dan tekanan desain untuk instalasi tertentu. Operasi yang
efisien dalam membakar berbagai bahan bakar yang tersedia di bumi merupakan sebuah
persyaratan. Boiler harus pas dan strategis ketika ditempatkan di ruang mesin yang
minimum, harus dapat diakses dengan baik untuk pengoperasian, inspeksi, dan
pemeliharaan. Meskipun dengan bobot yang ringan, boiler tersebut harus cukup kuat untuk
beroperasi dengan baik di bawah kondisi laut yang buruk. Operasi atas rentang beban yang
luas, dengan perhatian minimum, dan karakteristik pengoperasian yang kompatibel dengan
otomatisasi tingkat tinggi juga diperlukan. Faktor-faktor yang digunakan baik dalam desain
thermal maupun struktural harus konservatif untuk memberikan jaminan bahwa operasi
berkelanjutan selama periode waktu yang ditempuh dapat terlaksana dengan pemeliharaan
minimum. Selanjutnya, boiler harus memenuhi aturan dan regulasi badan pengatur.

Efisiensi boiler menunjukkan hubungan antara supply energi masuk ke dalam boiler
dengan energi keluaran yang dihasilkan oleh boiler. Efisiensi pada boiler didefinisikan ke
dalam tiga cara, yaitu :
 Efisiensi pembakaran
 Efisiensi termal
 Efisiensi bahan bakar-uap air

2.1.1. Efisiensi Pembakaran


Efisiensi pembakaran boiler menjelaskan kemampuan sebuah burner untuk membakar
keseluruhan bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar (furnace) boiler. Efisiensi ini
dihitung dari jumlah bahan bakar yang tidak terbakar bersamaan dengan jumlah udara sisa
pembakaran (excess air). Pembakaran dapat dikatakan efisien apabila tidak ada bahan bakar
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 3

yang tersisa di ujung keluaran ruang bakar boiler, begitu pula dengan jumlah udara sisa.

Untuk mendapatkan efisiensi pembakaran yang tinggi, pembakar (burner) dan ruang bakar
boiler harus didesain se-optimum mungkin. Perbedaan penggunaan jenis bahan bakar juga
mempengaruhi efisiensi pembakaran. Bahan bakar cair dan gas (seperti LNG dan HSD)
menghasilkan efisiensi pembakaran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahan
bakar padat seperti batubara.

Perhitungan efisiensi pembakaran boiler dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah total
energi panas yang dilepas oleh pembakaran dengan energi panas yang lolos
melewati cerobong asap (stack), dibagi dengan total energi panas.

combustion = Qin-Qlosses/Qin x 100% (1)

Dimana,
ŋcombustion : Efisiensi Pembakaran Boiler (%)
Qin : Energi panas total hasil pembakaran (Joule)
Qlosses : Energi panas lolos melewati cerobong asap (Joule)

Efisiensi pembakaran ditandai dengan terbakarnya keseluruhan bahan bakar di ruang


bakar. Parameter kontrol yang digunakan untuk memastikan keseluruhan bahan bakar
terbakar, adalah jumlah udara sisa pembakaran (excess air) yang keluar melalui cerobong
asap. Semakin banyak jumlah sisa pembakaran yang keluar melewati cerobong asap, maka
semakin kecil kemungkinan jumlah bahan bakar yang belum terbakar bisa melewati
cerobong asap. Namun, semakin banyak jumlah sisa pemabakaran yang lolos melewati
cerobong asap, jumlah energi panas yang lolos terbawa oleh udara sisa tersebut juga
semakin banyak. Maka dari itu ada angka optimum dari besaran sisa pembakaran, sehingga
didapatkan efisiensi pembakaran boiler yang paling optimal. Nilai sisa pembakaran
optimum untuk pembakaran gas alam berkisar dari 5% hingga 10%, bahan bakar cair di
angka 5% hingga 20%, dan 15% hingga 60% untuk pembakaran batubara.

2.1.2 Efisiensi Termal


Efisiensi Termal Boiler menunjukkan bagaimana performa boiler dalam hal fungsinya
sebagai penukar panas (heat exchager). Perhitungan efisiensi ini akan menunjukkan seberapa
efektif perpindahan energi panas dari proses pembakaran bahan bakar ke air. Namun,
perhitungan efisiensi ini tidak terlalu akurat karena tidak memperhitungkan kerugian
panas radiasi maupun konveksi yang tidak diserap oleh air. Selain itu, perhitungan efisiensi
termal boiler tidak bisa digunakan untuk analisa ekonomis, sebab perhitungan ini tidak
memperhatikan secara teliti jumlah bahan bakar yang dikonsumsi.

2.1.3 Efisiensi Bahan Bakar Uap Air


Satu cara yang dianggap paling efektif untuk mengetahui performa boiler secara lebih
presisi adalah dengan menghitung efisiensi bahan bakar uap air (biasa disebut dengan
efisiensi bahan bakar). Selain memperhatikan efektifitas boiler sebagai penukar panas,
perhitungan efisiensi bahan bakar boiler juga memperhatikan adanya kerugian (losses)
4 Boiler

akibat adanya perpindahan panas radiasi dan konveksi. Efisiensi bahan bakar boiler
memperhatikan dengan sangat teliti jumlah konsumsi bahan bakar yang digunakan,
sehingga sangat tepat digunakan sebagai bahan analisa ekonomis boiler. Perhitungan
efisiensi bahan bakar pada boiler dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
 Metode Langsung
 Metode Tak Langsung

A. Metode Langsung
Metode langsung, atau dikenal juga sebagai metode input-output, dilakukan dengan cara
membandingkan secara langsung energi panas yang diserap oleh air sehingga berubah fase
menjadi uap air (energi output), dengan energi panas yang dihasilkan oleh pembakaran
bahan bakar di dalam ruang bakar boiler (energi input).

fuel = Qsteam / Qfuel x 100% (1)


(2)
fuel = Q x (hg – hf) / q x GCV x 100%

Dimana,
fuel = Efisiensi bahan bakar boiler (%)
Qsteam = Energi panas total yang diserap uap air (Joule)
Qfuel = Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar
(Joule)
Q = Debit uap air keluar boiler (kg/jam)
hg = Entalpi air masuk boiler (Kcal/kg)
hf = Entalpi uap keluar boiler (Kcal/kg)
q = Debit kebutuhan bahan bakar (Kg/Jam)
GCV =Gross Calorific Value atau nilai kalor spesifik bahan bakar
(Kcal/kg)

Pada metode langsung, ada beberapa parameter yang harus diukur secara presisi agar
didapatkan hasil perhitungan yang akurat. Parameter-parameter tersebut antara lain:
 Debit air (feedwater) masuk ke boiler.
 Debit air penurun temperatur (desuperheater).
 Keseluruhan debit aliran sekunder seperti boiler pembuangan (blowdown), uap
tambahan (auxiliary steam), dan lain sebagainya.
 Tekanan dan temperatur keseluruhan aliran fluida kerja seperti air masuk, uap
pemanas temperatur (superheater) keluar, uap pemanas (reheater) masuk dan
keluar, uap bantuan (auxiliary steam), dan lain-lain.
 Debit kebutuhan bahan bakar.
 Nilai kalor (heating value) bahan bakar.
 Energi masuk lainnya.

Parameter primer dari definisi efisiensi bahan Debit dan nilai kalor bahan bakar,
bakar boiler (input-output) dihitung secara maupun debit dan karakteristik uap air,
langsung harus dihitung seakurat mungkin untuk
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 5

meminimalisir ketidaktepatan

Hanya membutuhkan sedikit perhitungan Tidak mampu menunjukkan potensi


penyebab inefisiensi

Tidak memerlukan asumsi nilai untuk kerugian Harus menggunakan metode tak-
tak terukur langsung untuk menilai tingkat
keakuratan perhitungan

Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan metode langsung

B. Metode Tak Langsung


Perhitungan efisiensi boiler tak-langsung adalah perhitungan yang tidak langsung
melibatkan komponen utama rumusan efisiensi boiler, yakni energi keluar (output) dan
energi masuuk (input), melainkan dengan jalan menghitung kerugian-kerugian (losses) yang
ada.

fuel = output/input x 100% (1)


Jika
Input + Credits = Output + Losses
Maka
fuel = input – losses + credit / input x 100 % (2)
(3)
fuel = 1 – (losses – credits) / input x 100%

Dimana,
Credits : Energi energi sekunder yang masuk ke boiler selain energi primer dan
bahan bakar
Losses : Parameter energi terbuang yang tidak terkonversi menjadi energi panas
di dalam uap air

Kelebihan Kekurangan

Perhitungan primer seperti analisa gas Membutuhkan perhitungan lebih banyak


buang dan temperatur gas buang dapat daripada metode langsung
dilakukan dengan sangat akurat

Dapat dilakukan perbaikan perhitungan Tidak otomatis memberikan data


untuk mengejar standard yang ada kapasitas dan output
ataupun untuk pemenuhan garansi

Memiliki tingkat ketidaktentuan yang Beberapa titik kerugian tidak dapat


rendah, sebab perhitungan kerugian hanya diukur sehingga nilainya harus
mencerminkan sebagian kecil saja dari total diasumsikan
konversi energi yang ada

Dapat diketahui sumber kerugian terbesar


6 Boiler

Tingkat kesalahan perhitungan relatif


rendah

Tabel 2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tak Langsung

2.2 Kebutuhan Siklus


Desain sebuah marine boiler dipengaruhi langsung oleh siklus panas yang dipilih oleh
desainer kapal. Dalam hal ini, siklus yang bekerja ada sebuah boiler dinamakan siklus
rankine, dimana siklus rankine merupakan siklus termodinamika yang mengubah panas
menjadi kerja. Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang biasanya
menggunakan air sebagai fluida yang bergerak. Siklus panas yang dipilih oleh desainer
kapal tersebut akan mempengaruhi suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh sebuah boiler.

Gambar 1. Siklus Rankine pada Boiler

Suhu dan tekanan uap yang lebih tinggi dapat mengurangi bobot dan ukuran dari propulsi
yang dibuat, atau memungkinkan daya yang lebih besar dalam ruang yang sama.

2.1.1 Perang Dunia 2


Sebagian besar kapal tempur angkatan laut beroperasi pada 600 PSIG (pound force per square
inch gauge) – 850 F sementara kapal niaga secara luas menggunakan ketel uap 450 PSIG –
750 F.

2.1.2 Paska Perang


Angkatan laut berkembang ke 1200 PSIG – 950 F dalam pembangunan kapal tempurnya.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 7

2.1.3 Akhir 1940 dan 1950an


Sejumlah besar kapal niaga menggunakan ketel uap 600 psig – 850 F dan 850 psig – 850 F.

2.1.4 1960an
Hampir semua konstruksi baru menggunakan ketel uap 850 psig – 950 F. Sebagian kapal
besar menggunakan ketel uap (beberapa dengan pemanasan ulang) 1500 psig – 950 F.
Karakteristik dari kebanyakan kapal uap komersial yang dibangun dalam beberapa tahun
terakhir menggunakan tekanan dari 850 hingga 1500 psig, dengan suhu dari 950 hingga
1000 F.

Jumlah uap yang dihasilkan oleh marine boiler berkisar dari 1.500 pon/jam pada boiler
kecil tambahan hingga lebih dari 400.000 pon/jam pada boiler propulsi utama. Uap
keluarannya sebesar 750.000 pon/jam atau lebih tiap boiler sehingga lebih praktis untuk
instalasi bertenaga besar. Dari sejarah penggunaan boiler diatas dapat diketahui bahwa
seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan akan daya yang dihasilkan oleh boiler
semakin meningkat, hal tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan tekanan dan suhu
pada boiler yang di desain atau digunakan. Jumlah uap yang dihasilkan oleh marine boiler
berkisar dari 1.500 pon/jam pada boiler kecil tambahan hingga lebih dari 400.000 pon/jam
pada boiler propulsi utama. Uap keluarannya sebesar 750.000 pon/jam atau lebih tiap boiler
sehingga lebih praktis untuk instalasi bertenaga besar.

Pada era modern ini, siklus panas dalam penggunaan boiler untuk meningkatkan suhu dan
tekanan yang mengakibatkan meningkatnya daya yang dihasilkan boiler dapat digunakan
beberapa komponen dibawah ini:

I. Pemanas (Superheater)
Superheater adalah sebuah komponen boiler yang berfungsi untuk memanaskan
kembali uap saturated, pada tekanan kerja konstan, sehingga menjadi uap
superheated. Teknologi pemanas (superheater) sudah digunakan sejak awal
penggunaan mesin uap di sekitar awal abad 20. Tujuan utamanya adalah untuk
meningkatkan energi panas yang terkandung di dalam uap, sehingga efisiensi
termal mesin akan ikut meningkat. Hingga saat ini penggunaan superheater masih
sangat populer, terutama pada boiler-boiler pipa-air besar pembangkit listrik
tenaga uap.
8 Boiler

Gambar 2. Prinsip Superheater pada boiler

II. Pemanas Kembali (Reheater)


Reheater adalah salah satu bagian boiler yang berfungsi untuk memanaskan
kembali uap air keluaran turbin uap tingkat pertama, sehingga kembali menjadi
uap superheat. Uap reheat akan kembali menyimpan energi panas untuk digunakan
pada turbin uap tingkat selanjutnya. Reheater menjadi salah satu cara untuk
meningkatkan nilai efisiensi termal Siklus Rankine.

Gambar 3. Reheater pada Boiler

III. Economizer
Boiler economizer adalah alat penukar panas yang memanaskan cairan, biasanya
air, hingga tetapi biasanya tidak melebihi titik didih cairan. Economizer dinamakan
demikian karena alat tersebut dapat memanfaatkan entalpi aliran fluida yang
panas, tetapi tidak cukup panas untuk digunakan dalam boiler, sehingga
pemulihan entalpi lebih bermanfaat dan meningkatkan efisiensi boiler. Economizer
adalah perangkat yang dipasang pada boiler yang menghemat energi dengan
menggunakan gas buang dari boiler untuk memanaskan air dingin yang
digunakan untuk mengisinya.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 9

Gambar 4. Boiler dengan Economizer

2.2 Keseimbangan Panas

Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan ratio penguapan, berkurang terhadap waktu
disebabkan buruknya pembakaran, kotornya permukaan penukar panas dan buruknya
operasi pemeliharaan boiler. Bahkan untuk boiler yang baru sekalipun, alasan seperti
buruknya kualitas bahan bakar dan kualitas air dapat mengakibatkan buruknya kinerja
boiler. Neraca panas dapat membantu dalam pengidentifikasi kehilangan panas yang dapat
ataupun tidak dapat dihindari. Uji effisiensi boiler dapat membantu dalam menemukan
penyimpangan efisiensi boiler dari efisiensi terbaik dan target area permasalahan untuk
tidakan perbaikan boiler kedepannya.

Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk terhadap energi total yang
keluar boiler dalam bentuk yang berbeda. Proses pembakaran pada boiler dapat
digambarkan pada diagram neraca energi. Diagram ini menggambarkan energi yang masuk
dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi
aliran energi panas yang hilang.
10 Boiler

Gambar 5. Diagram Neraca energi Boiler

Keseimbangan energi total yang masuk ke boiler terhadap energi yang meninggalkan boiler
dalam bentuk lain di tunjukan dalam gambar dibawah ini;

Gambar 5. Losses pada Boiler

Dapat dilihat dari gambar diatas, ketika bahan bakar masuk kedalam boiler dalam keadaan
100%. Namun yang terpakai secara efektin atau efisien dalam boiler hanya akan
menghasilkan output 73,8%. Bahan bakar yang lain berubah menjadi persenan kecil yang
keluar bersama output. Karena pada dasarnya Bahan bakar mengandung muatan carbon
yang dapat menghasilkan air maupun udara yang dipakai dalam pembakaran.

Persenan kecil-kecil tersebut bisa berupa penguapan kadar air dalam bahan bakar, adanya
kadar air dalam udara yang dipakai dalam pembakaran, gas cerobong yang kering, bahan
bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang atau fly ash, bahan bakar yang tidak terbakar
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 11

dalam abu bawah atau bottom ash, maupun radiasi dan kehilangan yang tidak terhitung.
Namun panas yang hilang dan dihasilkan jika dijumlahkan akan seimbang dengan bahan
bakar yang masuk ke boiler.

100% fuel = 12,7% panas hilang dalam gas buang kering + 8,1% panas hilang dari H2 pada
gas buang + 1,7% panas hilang karena kadar air dalam bahan bakar + 0,3% panas hilang
karena kadar air dalam udara yang dipakai untuk pembakaran + 2,4% panas hilang dalam
bahan tidak terbakar di residu + 1,0% panas hilang karena radiasi yang tidak terhitung +
73,8% panas dalam steam.

Namun kita dalam mengurangi kehilangan-kehilangan panas yang terbuang dengan


produk bersih. Tujuannya sendiri yaitu untuk meningkatkan efisiensi energi. Kehilangan
yang dapat dihindari antara lain; kehilangan pada cerobong asap atau exhaust, kehilangan
dari bahan bakar yang tidak terbakar, kehilangan dari blow down, kehilangan kondensat,
serta kehilangan konveksi radiasi.Kehilangan-kehilangan panas seperti pada gambar 5
dapat dihitung dan diperkirakan dengan;

A. Persentase kehilangan panas karena gas kering dan cerobong:

m x Cp x (Tf-Ta)
%Dry
(1) Flue = X 100
GCV fuel

Dimana; m = massa gas buangkering , Cp = Panas jenis gas buang (0,23


kkal/kg).

B. Persentase kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena


adanya H2 dalam bahan bakar:

(2)
%Steam 9 x H2 x 584 + Cp (Tf-Ta)
X 100
= GCV fuel

Dimana; H2 = persen H2 dalam 1 Kg bahan bakar, Cp = panas jenis steam


lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg).

C. Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar

M x 584 + CP x (Tf-Ta)
X 100
%Moisture fuel = GCV fuel
(3)
Dimana; Dimana, M –persen kadar air dalam 1 kg bahan bakar, Cp =
panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg).
12 Boiler

D. Persen kehilangan panas karena kadar air dalam udara

AAS x Faktor Kelembapan x Cp x (Tf-Ta)


(3) %Moisture Air = X 100
GCV fuel

Dimana; Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg),


AAS = Massa udara yang dipasok.

E. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
terbang/ fly ash

Total abu terkumpul per Kg bahan bakar


(4) terbakar x GCV abu terbang
%unburn fly ash = X 100
GCV fuel

F. Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
bawah/ bottom ash

(5) Total abu terkumpul per Kg bahan


%unburn X 100
bakar terbakar x GCV abu bawah
bottom ash =
GCV fuel

G. Persen kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain yang


tidak terhitung.

Kehilangan radiasi dan konveksi aktual sulit dikaji sebab daya emisifitas
permukaan yang beraneka ragam, kemiringan, pola aliran udara, dll. Pada boiler
yang relatif kecil, dengan kapasitas 10 MW, kehilangan radiasi dan yang tidak
terhitung dapat mencapai 1 hingga 2 persen nilai kalor kotor bahan bakar,
sementara pada boiler 500 MW nilainya 0,2 hingga 1 persen. Kehilangan dapat
diasumsikan secara tepat tergantung pada kondisi permukaan.

Berikut adalah hubungan banyaknya gas tumpuk dengan besarnya effisiensi yang
didapat dengan bahan bakar yang berbeda-beda;
Tabel 3. Gas tumpuk vs efisiensi

Target banyaknya gas cerobong Kelebihan


Bahan Bakar Effisiensi (%)
Oksigen Karbondioksida Udara (%)

Natural Gas 1-2 11,9 – 12,3 5 – 10 85,2 – 85,4

Fuel Oil 2–3 15,4 – 15,8 10 – 15 89,0 – 89,2

Coal (Stroker) 3,5 – 5 17,2 – 17,4 20 – 30 81,0 – 82,0


Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 13

Coal (Pulverized) 3 – 3,5 - 15 – 20 85,0 – 86,5

2.4. Fuels and Method of Firing


Karakteristik dari bahan bakar yang akan digunakan untuk kapal harus ditentukan dari
awal proses perancangan dari kapal tersebut. Hal ini akan memungkinkan untuk pemilihan
yang optimal terhadap peralatan yang akan digunakan untuk proses pembakaran bahan
bakar dan pembersihan boiler.Selain itu,pemilihan yang tepat untuk suhu serapan dan
material yang tepat untuk boiler supaya proses korosi dan perawatan dapat dihambat.

Mayoritas dari boiler kapal menggunakan pembakaran minyak dengan boiler gas dan batu
bara lebih sulit ditemui. Di laut,kapal tanker yang dirancang untuk membawa liquefied
natural gas (LNG) dapat menggunakan gas boil-off dari tangki gas yang dibawa untuk
menjadi bahan bakar cadangan kapal tersebut.

Boil off itu sendiri adalah gas hasil dari menguapnya liquefied natural gas pada tangki
muatan. Terjadinya boil off itu sendiri karena tangki pada kapal LNG walau didesain untuk
tetap dingin.tidak dapat mengisolasi secara sempurna terhadap panas.Gas boil-off dari
muatan dikumpulkan dan dipompa ke boiler dimana akan dibakar antara dibakar tanpa
campuran atau dicampur dengan campuran minyak bahan bakar.

Kuantitas dari gas boil-off yang tersedia dari liquified natural gas sendiri adalah fungsi dari
suhu laut, suhu dari udara sekitar,gerakan dari kapal dan juga proses loading muatan
kedalam kapal dan dapat semakin bervariasi semakin lama muatan tersebut dibawa.

Selama bertahun tahun,boiler menggunakan batu bara untuk bahan bakar yang dipompa
secara manual kedalam ruang pembakaran.Disaat minyak mulai dapat digunakan dan
relatif lebih murah serta lebih mudah pula untuk mengendalikan tenaga kerja dan polusi
udara yang dihasilkan jika dibandingkan batu bara,sehingga penggunaan batu bara sebagai
bahan bakar mulai berkurang.Banyak cara digunakan untuk menggunakan bubuk batu bara
sebagai bahan bakar,yang dimana digunakan di darat,tapi hasilnya tidak mencapai
target,karena volume dari tungku yang dibutuhkan untuk proses pembakaran ketika
membakar bubuk batu bara lebih besar untuk pemasangan dibandingkan ruangan yang
biasa disediakan untuk pemasangan marine boiler.

Selain untuk penggunaan darat, boiler dengan permukaan ruang bakar yang besar dan
ruang penyimpanan yang relatif lebih kecil sudah dibuat.Boiler ini dibuat dengan stokers
yang sudah diperbarui,pengendalian dan peralatan coal-handling.Hal ini dapat dibuktikan
dengan pengoperasian boiler secara periodik dengan keadaan ruangan tanpa awak.

Penggunaan bahan bakar minyak pada boiler sudah ada sejak 1870 namun tidak popular
sampai pada era otomotif yang membutuhkan industry minyak yang mendunia. Jika
dibandingkan dengan bahan bakar lain,minyak lebih mudah dikemas,dipindahkan dan
dimasukkan kedalam ruang pembakaran.Perawatan yang dilakukan pada mesin minyak
juga lebih mudah jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya.
14 Boiler

Dibawah ini akan dijelaskan jenis jenis bahan bakar dan metode pembakarannya pada boiler

A. Solid Fuel Firing


Solid Fuel Firing atau pembakaran bahan bakar padat merupakan metode
pembakaran untuk jenis bahan bakar padat seperti batu bara.Solid Fuel Firing itu
sendiri terbagi menjadi 2 jenis,yaitu
 Hand Firing System
 Mechanical Stroke Firing

a. Hand Firing System


Hand Firing System adalah mekanisme pembakaran dimana bahan bakar
dimasukan langsung kedalam pembakaran oleh tangan manusia.Hand
firing system ini sendiri biasa digunakan untuk boiler berukuran
kecil.Contoh dari hand firing system ini sendiri dapat ditemukan pada
kereta lokomotif lama

b. Mechanical Stroke Firing


Ketika bahan bakar,dimana di kasus ini adalah batu bara dimasukkan
kedalam tungku pembakaran menggunakan stoker mekanikal,dimana
metode ini sendiri terdiri dari 2 jenis yaitu:
i. Under Feed Mechanical Stroke Firing
Diproses ini pembakaran terjadi di grate.Udara masuk
kebawah grate dan udara cadangan diperbolehkan berada
diatas grate. Ketika batu bara terbakar,batu bara akan
terdorong oleh batu bara yang baru.Batu bara yang baru
akan didorong menuju grate dengan rams.

Gambar 6. Skema dari Under-Feed Stoker


Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 15

Pembakaran terjadi kearah bawah berlawanan dengan arah


aliran udara utama.Materi yang mudah menguap tersaring dan
akan sepenuhnya terbakar.Dimana abu ringan hasil pembakaran
dan gas sisa pembakaran akan terbang ke atmosfir bersamaan
dengan udara masuk.Abu berat hasil pembakaran akan turun
dan masuk ke penampungan.

ii. Travel Gate Stoker Solid Coal Firing


Disini,batu bara dibakar melalui chain grate yang akan terus
berjalan,dan pembakaran terjadi diperjalanan batu bara di kedua
ujung ruang pembakaran.Di akhir proses pembakaran,abu yang
lebih berat sisa pembakaran akan jatuh ke penampungan karena
gaya gravitasi,dimana grate belt akan bergerak sama dengan rotor
belit.Sedangkan abu yang lebih ringan akan terbang bersamaan
dengan udara.

c. Pulverized Fuel Firing


Untuk mendapatkan pemanasan maksimum dari batu bara, batu bara
akan di hancurkan menjadi bubuk dan dicampur dengan
udara.Campuran dari bubuk batu bara dan udara dibakar didalam ruang
pembakaran pada boiler untuk menghasilkan proses pembakaran paling
efisien. Pulverized fuel firing adalah proses paling efisien dan paling
modern untuk pembakaran boiler.
16 Boiler

Gambar 7. Skema Pulverized Coal Boiler

Karena proses penghancuran batu bara,permukaan batu bara menjadi


lebih lebar,dan hal ini membuat udara yang dibutuhkan untuk proses
pembakaran berkurang.Karena kuantitas udara yang dibutuhkan
berkurang dan bahan bakar yang dibutuhkan juga berkurang,maka heat
losses pada proses pembakaran boiler dengan metode ini juga
berkurang.Sehingga dapat lebih mudah untuk mencapai temperatur yang
diinginkan.Karena proses pembakaran menjadi lebih efisien,maka
pulverized fuel firing meningkatkan efisiensi dari steam boiler. Selain
itu,mengurus serbuk batu bara lebih mudah jika dibandingkan mengurus
bongkahan batu bara,serta lebih mudah untuk mengatur output dari boiler
dengan cara mengatur seberapa banyak bahan bakar yang masuk
kedalam ruang pembakaran.Sehingga naik turunnya muatan dari sistem
dapat lebih mudah ditemui.
Tapi, pulverized fuel firing memiliki banyak kekurangan,diantaranya
adalah:
 Harga dalam instalasi awal sangat mahal
 Harga dalam perawatan alat ini lebih mahal,karena pulverized
fuel firing dipasang terpisah dan dijalankan terpisah juga
 Temperatur tinggi dapat menyebabkan thermal loss melalui gas
buang
 Sulit dan juga mahal untuk mencari filter yang tepat untuk abu
sisa pembuangan karena ukuran partikel yang kecil
 Jumlah abu dalam gas sisa pembuangan lebih banyak dalam
sistem pulverized fuel firing
Untuk proses penghalusan sendiri memiliki langkah langkah:
Batu bara dihancurkan oleh alat penghancur menjadi berukuran 2.5 cm
atau kurang.
Batu bara yang telah dihancurkan masuk melalui alat pemisah dari
magnet untuk memisahkan muatan yang mengandung besi,jika tidak
dipisahkan,muatan yang mengandung besi akan menyebabkan percikan
api yang dapat menimbulkan kebakaran
Setelah itu batu bara yang sudah dihancurkan dan sudah dipisah
dikeringkan sebelum proses penghancuran.Tingkat kelembapan batu bara
harus kurang dari 2% setelah proses pengeringan.
Batu bara dihancurkan lagi menjadi partikel partikel abu halus di
penggilingan.Proses ini dinamakan penghancuran
Bubuk batu bara dicampur dengan udara dan dimasukkan kedalam ruang
pembakaran dalam bentuk cairan.

2.5 Efek Dari Desain Kapal dan Permesinan Lainnya Pada Desain Boiler
Seperti kita ketahui fungsi boiler adalah sebagai mesin penggerak mesin utama pada kapal,
maka dari itu dalam pemilihan boiler untuk kapal, desain dari sebuah kapal dan mesin
mesin lainnya sangatlah menentukan. Dalam pemilihan boiler ada beberapa aspek yang
harus diperhatikan seperti :
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 17

 Ruang
 Berat
 Regulasi

Dalam hal pemilihan boiler ini, owner kapal atau pemilik kapal memiliki peran penting.
Dikarenakan owner kapal atau pemilik kapal mungkin memiliki prefensi mengenai desain
boiler dan persyaratan desain yang spesifik.

Seperti diketahui prefensi ini mungkin termasuk jumlah boiler, jenis boiler dan
pengaturannya, lokasi koneksi utama, penggunaan pemanas udara economizer,
pembakaran, rasio evaporasi. Owner kapal atau pemilik kapal juga sangat memperhatikan
permasalahan biaya yang akan di keluarkan.

Permasalahan pokok dalam desain boiler adalah untuk menentukan proporsi sesuai dari
berbagai pemanasan permukaan sangat menarik untuk menggunakan panas yang
maksimum yang tersedia di (dalam) produk pembakaran. suatu disain yang sesuai akan
memenuhi biaya yang paling rendah pada siklus hidup basisnya.
Masing-masing komponen harus terintegrasi dengan unsur-unsur lain dari unit untuk
menyediakan suatu disain yang seimbang diantaranya biaya invest utama dan bahan bakar,
pemeliharaan, dan biaya operasi akan menjadi minimum selama masa penggunaan kapal.
sama sekali tidak harus keandalan atau keselamatan yang disepakati oleh pertimbangan
biaya ini.

Maka dari itu , berikut harus dipertimbangkan:

 Peralatan bahan bakar pembakaran


 Tungku perapian
 Permukaan boiler
 Superheater ( dan reheater jika digunakan)
 Economizer dan alat pemanas udara
 Attemperator ( atau kendali) dan pelengkap desuperheaters
 Sirkulasi dan sistem pemisah uap
 Wadah dan pengaturan
 Pembersihan peralatan
 Katup keamanan dan alat-alat bantu lain
 Air pengisi boiler dan perlakuan
 Dasar dan pendukung alat
 Sistem pembakaran udara
 System uptake gas duct dan stack

Pertimbangan ini memerlukan banyak langkah-langkah interrelasi. dalam banyak kasus,


sejumlah asumsi harus dilakukan untuk memulai disain. Seperti proses perhitungan
desain, asumsi harus disaring untuk mencapai ketelitian yang diinginkan didalam analisa
akhir.
18 Boiler

Langkah yang pertama adalah pemilihan dari jenis dasar ketel uap, superheater dan
economizer atau alat pemanas udara atau kedua-duanya yang digunakan. pemilihan ini
didasarkan pada bagian yang lebih penting dan bagian yang masih tersedia ruang untuk
instalasi dan kebutuhan operasi nya.

Kwantitas bahan bakar yang diperlukan adalahuntuk menentukan efisiensi generator uap
yang diinginkan, memberikan tekanan uap, temperatur, dan arus, temperature air pengisi
dan nilai pemanasan bahan bakar.

Karakteristik bahan bakar dan jumlah peralatan bahan bakar pembakaran yang tersedia
untuk dilakukan. ini adalah putaran turn sets kebutuhan udara kelebihan. kalkulasi
pembakaran dibuat kemudian untuk menentukan tiap jam jumlah corong asap gas yang
sekarang melalui/sampai unit itu.

Jalan keluar atau tumpukan suhu gas untuk mana corong asap gas harus didinginkan untuk
mencapai efisiensi yang diinginkan dan jika pengalaman menunjukkan memuaskan
atherwise atau dapat dicapai, disain dapat berproses. Jika bukan, pemilihan efisiensi yang
lain harus dibuat dan kalkulasi diulangi.

Kemudian yang akan dihitung adalah Temperatur furnace exit gas. dimana nilai nya adalah
bergantung pada radiant dan pemindahan gas/panas pemindahan kalor permukaan yang
diinstall di (dalam) dinding-dinding air, lantai, atap, and screen (radiant only) seperti halnya
theaxtent dari refractory present. berikutnya, suhu gas jatuh dan panas yang diserap oleh
screen dan superheater ditentukan.

Ukuran dan pengaturan jarak tabung dan jumlah permukaan diasumsikan pada awalnya.
ini kemudian akan dimodifikasi untuk menyediakan uap air temperatur yang diinginkan
dan tabung konservatif temperatur metal sebagaimana diperlukan. pada umumnya
beberapa layar dan superheater kombinasi diselidiki untuk menentukan solusi yang paling
hemat.

Boiler bank, economizer, dan permukaan pemanas udara merupakan ukuran untuk
menyediakan suhu gas pengambilan akhir yang diperlukan. pada setiap (menyangkut)
langkah-langkah [hanya;baru saja] menguraikan, memaraf aneka pilihan ketebalan dan jenis
material untuk tabung, serudukan/palu air, dan drum dibuat.

Dengan heating surface estabilished, kerugian draft trhough semua komponen dihitung. jika
kerugian draft melebihi kemampuan dari kemampuan fan yang diinginkan, pemindahan
kalor dan draft yang sebelumnya dihitung disesuaikan dengan mengubah tabung yang
mengatur jarak, jumlah baris menyeberang atau kedalaman atau untuk tinggi ketel uap
komponen. suatu ukuran atau nomor/jumlah pembakar minyak berbeda mungkin perlu
untuk membantu dalam mencapai suatu saldo/timbangan kebutuhan draft akhir dan
kemampuan kapabilitas kipas.

Presure drops dari uap air dan uap lewat semua komponen dari lubang masuk air pengisi
economizer kepada superheater outlet yang akan dihitung kemudian. mereka, pada
gilirannya, estabilish [adalah] ketel uap yang diperlukan dan economizer disain memaksa
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 19

dan katup aman yang ditentukan. suatu analisa peredaran kemudian adalah yang disiapkan
menggunakan heatabsorptions menentukan dari pemindahan kalor kalkulasi. dari ini, yang
sized dan jumlah tabung dan persediaan disesuaikan dengan yang akan diperlukan.

A. Ruang
Ruang pada sebuah kapal sangat menentukan untuk pemilihan boiler. Ruang yang
disediakan untuk permesinan dijaga seminimal mungkin oleh arsitek angkatan laut
karena ruang yang ditempati oleh mesin tidak menghasilkan pendapatan. Perancang
boiler biasanya diminta untuk menyesuaikan desain boiler dengan ruang yang tersedia.
Seperti besar atau kecilnya ruang muat pada steam boiler.

Untuk ketinggian boiler dapat dibatasi oleh dek atau lokasi casing mesin. Dimensi
kedalaman boiler dapat dikontrol oleh lokasi sekat, akses, atau persyaratan ruang
pembaruan tabung serta lokasi konsol kontrol, mesin utama, dll. Untuk sebagian besar
ruang yang tersedia menentukan ekonomi desain.

Pembatasan ketinggian sangat serius, karena biasanya mengharuskan peningkatan


lebar atau panjang ketel untuk mendapatkan permukaan pemanas yang dibutuhkan.
ini umumnya menghasilkan peningkatan yang nyata dalam biaya boiler, berat, dan
area basis yang diduduki.

Jadi klasifikasi dari boiler sendiri memiliki karakteristik sendiri untuk jenis jenis kapal
tertentu. Seperti kita ketahui boiler dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis
fluida,seperti:
a. Pipa Api
Prinsip kerja dari pipa api adalah proses pengapian terjadi di dalam pipa, dan
kemudian panas yang di hasilkan akan dihantarkan langsung ke dalam boiler
yang berisi air. Besar dan konstruksi boiler mempengaruhi kapasitas dan
tekanan yang di hasilkan boiler tersebut.

Boiler pipa-api sendiri masih bisa diklasifikasikan menjadi beberapa tipe:


 Boiler Haystack
20 Boiler

Gambar 8. Boiler Haystack

Boiler ini merupakan boiler dengan desain paling sederhana. Hanya


tersusun atas sebuah tungku raksasa yang ditumpangi sebuah panci
besar. Boiler yang berbentuk seperti panci ini memang dahulunya
terinspirasi oleh panci memasak. Boiler yang dikembangkan di abad 18
ini hanya mampu bekerja di tekanan maksimum 5 psi. Boiler yang saat ini
sudah sangat jarang di temui ini menjadi cikal bakal dikembangkannya
berbagai desain boiler baru hingga ditemukannya desain boiler pipa-api
modern.

 Centre-Flue Boiler
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 21

Gambar 9. Centre Flue Boiler

Pada perkembangan selanjutnya boiler mulai didesain lebih


kompleks. Boiler centre-flue menjadi awal kelahiran boiler pipa-api,
karena gas hasil pembakaran dialirkan ke dalam tanki air melalui
sebuah pipa besar sebelum dibuang ke udara luar. Pipa gas buang
(flue gas) tersebut hanya memiliki satu arah menjauh dari tungku api.
Boiler ini menjadi populer setelah digunakan sebagai mesin
lokomotif pertama. Boiler ini cukup baik disisi aliran gas buang
karena penggunaan cerobong mininya. Akan tetapi tidak terlalu
efisien jika digunakan untuk membakar terlalu banyak bahan bakar
seperti kayu atau batubara.

 Return-Flue Boiler

Gambar 10. Return-Flue Boiler


22 Boiler

Boiler return-flue menjadi pengembangan lebih lanjut dari tipe centre-


flue. Jika centre-flue menggunakan satu pipa aliran gas buang, maka pipa
gas buang pada boiler return-flue dibuat memiliki aliran balik berbentuk
huruf U. Tujuan dari desain ini adalah untuk lebih meningkatkan efisiensi
boiler. Boiler yang berkembang di awal abad 19 ini digunakan sebagai
mesin lokomotif menggantikan boiler centre-flue yang tidak terlalu
efisien.

 Boiler Huber

Gambar 11. Boiler Huber

Boiler Huber menjadi boiler pipa-api pertama yang lebih kompleks dari
beberapa jenis boiler sebelumnya. Boiler ini sudah tidak menggunakan
satu pipa besar sebagai saluran balik gas buang, namun sudah
menggunakan beberapa pipa kecil atau tube dengan tujuan untuk
memaksimalkan perpindahan panas dari gas buang ke air di dalam tanki.
Bentuk dari saluran gas buang setelah keluar dari ruang pembakaran juga
memiliki desain lebih baik. Desain tersebut membuat distribusi gas
menjadi lebih maksimal ke semua saluran pipa.

 Boiler Butterley

Gambar 12. Butterley Boiler


Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 23

Boiler Butterley merupakan pengembangan dari boiler Cornish, yang


pada awalnya bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan boiler di
Amerika Serikat bagian utara yang kaya akan batubara dengan nilai kalori
lebih rendah dari daratan selatan. Boiler ini mirip dengan desain boiler
Cornish namun dengan menghilangkan saluran gas buang di bawah tanki
air.

 Boiler Lancashire

Gambar 13. Skema Lancashire Boiler

Boiler Cornish juga memiliki turunan desain boiler pipa-api yang lain
bernama Boiler Lancashire. Jika boiler Cornish hanya memiliki satu ruang
bakar dan sekaligus satu pipa-api besar di tengah-tengah tanki air, maka
boiler Lancashire memiliki dua ruang bakar yang sekaligus dua pipa-api
di tengah-tengah tanki air. Boiler yang dikembangkan oleh William
Fairbairn di tahun 1844 ini berusaha menyesuaikan desain boiler Cornish
jika menggunakan bahan bakar batubara di area Lancashire di dataran
Inggris, yang cenderung berkarakter sulit dibakar di boiler berukuran
kecil.

 Boiler Lokomotif
24 Boiler

Gambar 14. Skema Boiler Lokomotif

Boiler Lokomotif menjadi boiler pipa-api pertama yang cukup kompleks.


Bahkan boiler ini masih sering kita jumpai hingga saat ini. Boiler yang
diberi nama sesuai dengan penggunaannya sebagai mesin penggerak
kereta api ini didesain untuk menghasilkan uap air kering (superheater).
Uap air tersebut akan langsung digunakan sebagai penggerak piston-
torak pada mesin uap yang didesain menyatu dengan sistem boiler
Lokomotif.

Boiler ini pun sudah didesain memiliki banyak pipa-pipa api berukuran
sedang yang lebih kecil dari pipa-api pada Boiler Centre-Flue dan Return-
Flue, sehingga akan memperbesar transfer energi panas dari gas
pembakaran ke air. Satu komponen penting dari Boiler Lokomotif adalah
keberadaan katup uap superheater yang berada di dalam bagian bernama
dome. Katup satu arah ini hanya akan terbuka oleh uap air superheater
pada saat mencapai tekanan tertentu. Selanjutnya uap air kering akan
masuk menjadi media penggerak piston uap.

 Boiler Scotch Marine


Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 25

Gambar 15. Skema Boiler Scotch Marine

Boiler Scotch Marine menjadi desain boiler pipa-api yang paling populer
digunakan bahkan hingga saat ini. Boiler ini pada awalnya dibuat untuk
memenuhi kebutuhan uap pada mesin-mesin kapal laut.

Bahkan kapal legendaris Titanic menggunakan total 29 boiler Scotch


Marine. Boiler Scotch Marine memiliki efisiensi tinggi. Hal ini didapat
karena desain pipa api di dalam tanki air yang sangat banyak. Gas panas
hasil pembakaran keluar dari ruang bakar yang berada di tengah-tengah
tanki air, menuju pipa-pipa api yang ada di samping ruang bakar dengan
arah aliran berlawanan.

Selanjutnya gas buang kembali mengalir ke pipa-pipa api di sisi atas


dengan arah aliran yang searah dengan arah pembakaran di ruang bakar.
Singkat cerita aliran gas pembakaran di dalam pipa-pipa api tersebut
seakan membentuk huruf S.

 Boiler Pipa Api Vertikal


26 Boiler

Gambar 16. Boiler Pipa-api vertical

Boiler pipa-api dengan yang tersusun atas pipa-pipa api vertikal disebut
sebagai boiler pipa-api vertikal. Boiler tipe ini memiliki kelebihan desain
dan proses pembuatan yang tidak terlalu rumit. Ruang bakar berada di
bawah tanki air, dengan pipa-pipa untuk saluran gas buang yang
tersusun vertikal di dalam tanki air.

 Boiler Horizontal Return Tubular


Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 27

Gambar 17. Horizontal Return Tubular

Boiler Horizontal Return Tubular mirip dengan boiler-boiler pipa api lain
yang telah kita bahas. Memiliki susunan pipa-pipa api mendatar. Yang
sedikit berbeda adalah desain penempatan ruang bakar yang tidak berada
di dalam tanki air, namun berada di bawah tanki. Pipa-pipa api yang ada
di dalam tanki hanya akan dilewati oleh gas buang panas hasil
pembakaran bahan bakar di ruang bakar tersebut.

 Admiralty-type Direct Tube Boiler


Boiler pipa-api ini tidak populer dan tidak digunakan banyak pihak sejak
kemunculannya di era kapal perang Ironclad di pertengahan abad 19.
Satu hal yang membuatnya tidak populer adalah desain pipa-api yang
terhubung langsung dengan ruang bakar sehingga sering terjadi over-heat
pada pipa tersebut.

 Immersion Fired Boiler

Gambar 18. Immersion Fired Boiler


28 Boiler

Boiler pipa-api terakhir ini memiliki satu ciri khas yang tidak dimiliki oleh
boiler-boiler pipa-api lainnya. Boiler yang dikembangkan oleh pabrikan
Sellers Manufacturing ini didesain agar tiap-tiap pipa-api yang ada di
dalam tanki air berfungsi sebagai ruang bakar sekaligus juga saluran gas
buang panas hasil pembakaran.

Sehingga boiler ini memiliki banyak burner (alat pembakar) dengan


jumlah yang sama dengan jumlah pipa-api yang ada. Dengan desain
boiler yang otomatis hanya cocok menggunakan bahan bakar cair atau gas
ini, diklaim memiliki tegangan temperatur yang relatif rendah. Boiler ini
masih dipasarkan hingga saat ini oleh pabrikan Sellers Manufacturing
selaku pemilik desain patennya.

Keuntungan dari boiler jenis ini diantaranya adalah


 Proses pemasangan mudah dan cepat, tidak membutuhkan
setting khusus.
 Investasi awal boiler ini murah
 Bentuknya lebih compact dan portable
 Tidak membutuhkan area yang besar untuk 1 HP boiler

Sedangkan kerugian kerugian dari boiler jenis ini adalah


 Tekanan operasi steam terbatas untuk tekanan rendah 18 bar
 Kapasitas steam relatif kecil (13.5 TPH) jika diabndingkan
dengan water tube
 Tempat pembakarannya sulit dijangkau untuk dibersihkan,
diperbaiki, dan diperiksa kondisinya.
 Nilai effisiensinya rendah, karena banyak energi kalor yang
terbuang langsung menuju stack
Dilihat dari penjelasan di atas, dapat di simpulkan bahwa boiler jenis fire
tube ini bisa digunakan untuk kapal kapal yang memiliki space atau
ruang muat kecil, dikarenakan kapal ini hanya memiliki karakteristik
menghasilkan kapasitas dan tekanan steam yang tidak besar.

b. Pipa Air

Boiler jenis water tube ini memiliki prinsip kerja seperti proses pengapian
terjadi diluar pipa, kemudian panas yang dihasilkan memanaskan pipa yang
berisi air dan sebelumnya air tersebut dikondisikan terlebih dahulu melalui
economizer, kemudian steam yang dihasilkan terlebih dahulu dikumpulkan di
dalam sebuah steam-drum.

Sampai tekanan dan temperatur sesuai, melalui tahap secondary superheater


dan primary superheater baru steam dilepaskan ke pipa utama distribusi.
Didalam pipa air, air yang mengalir harus dikondisikan terhadap mineral atau
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 29

kandungan lainnya yang larut di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor
utama yang harus diperhatikan terhadap tipe ini.

Keuntungan dari jenis ini adalah


 Kapasitas steam besar sampai 450 TPH
 Tekanan operasi mencapai 100 bar
 Nilai effisiensinya relatif lebih tinggi dari fire tube boiler
 Tungku mudah dijangkau untuk melakukan pemeriksaan,
pembersihan, dan perbaikan.

Sedangkan kerugian dari jenis ini adalah


 Proses Konstruksi yang lebih detail
 Investasi awal relatif lebih mahal
 Penanganan air yang masuk ke dalam sistem boiler perlu
dijaga,karena sistem boiler lebih sensitif,perlu komponen pendukung
yang membuat konstruksi dan investasi awal menjadi relatif lebih
mahal
 Karena mampu menghasilkan kapasitas dan tekanan stream yang
lebih besar,maka konstruksi membutuhkan lahan yang luas

Dilihat dari penjelas yang sudah dijelaskan dibagian atas,dapat kita simpulkan
bahwa boiler jenis fire tube bisa digunakan untuk kapal kapal yang memiliki
space atau ruang muat yang besar,dikarenakan kapal ini hanya memiliki
karakteristik yaitu menghasilkan kapasitas dan tekanan steam yang besar.

B. Berat

Dengan boiler jenis drum, berat minimum untuk efisiensi maksimum diperoleh dengan
kedalaman tungku minimum, panjang tabung maksimum, dan jumlah baris tabung
maksimum. Membatasi ketinggian dapat membatasi kapasitas karena berkurangnya
sirkulasi. Itu juga dapat mengakibatkan kemiringan tabung dan dalam jarak bebas
burner kurang dari minimum yang diperlukan untuk desain yang baik.

Berat minimum dari semua jenis boiler akan sangat bervariasi dengan kondisi desain;
peningkatan rasio evaporasi, kapasitas tempat pembakaran, atau tekanan udara
menurunkan berat boiler yang dirancang untuk keluaran uap tertentu.

Dengan tingkat penguapan tetap per kaki persegi dari permukaan penyerap panas,
berat boiler per pon uap yang dihasilkan akan lebih sedikit untuk boiler dengan output
uap yang lebih besar, karena bagian boiler tertentu tetap dalam ukuran dan berat di
atas kisaran kapasitas yang masuk akal.

Berat badan boiler sangat tergantung pada ruang juga. Umumnya semakin besar
dimensi fisik boiler untuk output yang diberikan, semakin besar bobotnya. Maka dari
itu seperti pada sebelumnya, menurut dari beratnya maka boiler jenis fire tube akan
memiliki berat yang lebih sedikit jika di bandingkan boiler jenis water tube.
30 Boiler

C. Peraturan dan Regulasi

Suatu sistem penilaian boiler ramah lingkungan telah disusun berdasarkan kriteria
utama keramahan lingkungan. Kriteria tersebut ditinjau dari sisi desain boiler maupun
dari metode pengoperasiannya. Kriteria dari sisi desain di antaranya adalah jenis
teknologi boiler dan kelengkapan peralatan tambahannya. Sedangkan kriteria dari sisi
operasi, misalnya jumlah udara lebih yang digunakan dan temperatur gas buang.

Pada sistem penilaian ini, dua kriteria terpenting adalah jenis bahan bakar dan emisi
polutan. Jenis bahan bakar sangat penting dalam penentuan keramahan lingkungan
suatu boiler, karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap emisi polutan dan gas
rumah kaca, terutama CO2. Dalam penilaian ini, emisi polutan terukur dari suatu boiler
dibandingkan dengan baku mutu lingkungan menurut Peraturan Menneg LH No. 07
Tahun 2007, sesuai dengan jenis bahan bakarnya.

Kinerja boiler dinilai dengan cara pembandingan dengan suatu nilai acuan
(benchmark) yang dianggap ideal. Penggunaan acuan tersebut dimaksudkan untuk
menjadi visi jangka panjang para pemangku kepetingan dalam pemilihan teknologi.
Pada prakteknya, keadaan ideal tersebut pada masa ini tentu masih sulit untuk dicapai,
sehingga tidak ada kewajiban untuk mencapai kondisi ideal dalam jangka waktu
singkat.

Berdasarkan hasil penilaian akhir dari kriteria tersebut, boiler akan mendapatkan
kategori ramah lingkungan (“sangat ramah”, “ramah”, “cukup ramah”, dst).
Kategorisasi ramah lingkungan tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai acuan
dalam hal pengambilan keputusan dalam investasi boiler ramah lingkungan. Sistem
penilaian ini dimaksud untuk membantu para pemangku kepentingan terutama
pemerintah, pelaku industri, dan badan finansial untuk mencapai pemahaman yang
sama dalam hal teknologi ramah lingkungan. Sistem penilaian ini dimaksud untuk
membantu para pemangku kepentingan terutama pemerintah, pelaku industri, dan
badan finansial untuk mencapai pemahaman yang sama dalam hal teknologi ramah
lingkungan. Sistem ini pun dapat membantu pelaku industri untuk melakukan
investasi ramah lingkungan dengan bantuan dana dan insentif yang tersedia dari
pemerintah melalui badan finansial.

Emisi beberapa jenis polutan dari boiler telah diatur dalam Peraturan Pemerintah
Lingkungan Hidup No. 7 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi untuk Ketel Uap,
sedangkan khusus untuk industri pulp dan kertas, baku mutu emisi diatur dalam
Keputusan Pemerintah LH No. 13 Tahun 1995. Pada Tabel 3 dan Tabel 4, disarikan
kedua peraturan baku mutu tersebut .
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 31

Gambar 19. Tabel Mutu Boiler


32 Boiler

Gambar 20. Tabel Mutu Boiler

Gap akan diberikan jika boiler menghasilkan emisi yang melebihi baku mutu.
Untuk bahan bakar biomassa, digunakan baku mutu untuk biomassa lain pada
Tabel 3. Pematuhan terhadap peraturan baku mutu harus diutamakan dalam
penilaian boiler,dimana

Gap = (emisi boiler – baku mutu emisi) x Faktor pengali

Faktor pengali yang dipilih adalah 0,2; dengan emisi dan baku mutu emisi dinyatakan
dalam mg/m3. Untuk karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon, digunakan nilai batas
sebesar 400 dan 100 mg/m3 sebagai pengganti nilai baku mutu, karena belum tersedianya
baku mutu nasional untuk CO dan hidrokarbon. Pengukuran emisi dapat dipadukan
dengan program yang telah berjalan, seperti misalnya PROPER KLH. Frekuensi
pengukuran dapat mengikuti aturan yang telah berlaku.

Limbah padat dihasilkan pada pembakaran bahan bakar padat seperti batubara dan
biomassa. Limbah padat terdiri dari mineral yang terkandung dalam bahan bakar serta
karbon yang tak terbakar. Jumlah limbah padat yang dihasilkan berupa fly ash dan bottom
ash. Fly ash adalah abu yang terbawa oleh gas buang dan tertangkap dalam penangkap abu
(electrostatic precipitator/fabric filter, apabila ada). Sedangkan bottom ash adalah abu yang
terkumpul pada bagian bawah tungku boiler.

Penalti akan dikenakan terhadap boiler yang menghasilkan abu sebagai limbah padat, dan
akan dikenakan penalti selanjutnya apabila abu mengandung karbon yang tidak terbakar.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 33

Karbon yang tidak terbakar (dinyatakan dalam % dari abu) merupakan salah satu sumber
inefisiensi.

Perhitungan gap untuk penalti adalah sebagai berikut:

Gap (abu) = abu,ton/ton x (-100)


Gap (Karbon) = konsentrasi karbon x (-10)

Pengukuran jumlah abu yang terkumpul dapat dilakukan dari inventarisasi penjualan abu
serta inventarisasi penggunaan bahan bakar. Apabila tidak dilakukan penjualan abu, maka
penimbangan jumlah abu yang dihasilkan cukup mudah untuk dilakukan oleh operator
boiler. Pengukuran kandungan karbon pada abu belum umum dilakukan di Indonesia
walaupun kandungan karbon tersebut merupakan indikator utama efsiensi pembakaran
dalam tungku boiler. Untuk kepentingan penilaian boiler, perlu dibuat suatu standar
pengambilan sampel dan metode pengukuran kandungan karbon.

2.6.Boiler Design Criteria

Masalah desain boiler mendasar adalah menentukan proporsi yang tepat dari berbagai
permukaan menyerap panas untuk menggunakan panas maksimum yang tersedia pada
produk. Desain yang tepat akan mencapai hal ini dengan biaya terendah berdasarkan life-
cycle. Masing-masing komponen harus diintegrasikan dengan unsur lain untuk memberikan
desain yang seimbang dimana biaya dan bahan bakar, pemeliharaan, dan biaya operasional
yang akan berguna di dalam kapal. Kriteria desain yang paling penting adalah dalam
bidang pembakaran, penyerapan panas, sirkulasi , dan penurunan tekanan pada boiler.
Indikator terrsebut mampu memberikan gambaran tentang kecocokan boiler pada
penggunaan tertentu.

Untuk indikator desain boiler, hal berikut ini harus diperhatikan:


1. Pembakaran (combustion)
2. Sirkulasi (circulation)
3. Penurunan Tekanan (pressure drops)
4. Duty cycle
5. Automation

2.6.1. Pembakaran

Fungsi dasar tungku boiler adalah menghasilkan jumlah panas maksimum dari jumlah
tertentu dari sebuah bahan bakar tertentu. Fungsi sekunder yang berguna adalah
menghasilkan uap di sirkuit tabung dinding tungku. Aspek teoritis pembakaran telah
diketahui selama bertahun-tahun. Namun, pencapaian pembakaran yang baik di dalam
tungku marine boiler yang relatif kecil membutuhkan pengetahuan praktis dan pengalaman.
Pembakaran lengkap dapat diperoleh asalkan cukup waktu (fungsi volume tungku),
turbulensi (disediakaan oleh geometri rakitan burner), dan suhu yang cukup tinggi untuk
memberikan pengapian.
Pembakaran dapat didefinisikan sebagai kombinasi kimia oksigen dengan unsur mudah
terbakar dalam bahan bakar. Bahan bakar umumnya hanya memiliki tiga unsur penyusun
34 Boiler

yang bersatu dengan oksigen untuk menghasilkan panas. Unsur dan senyawa, serta bobot
molekul dan konstanta pembakarannya termasuk nilai pemanasan.

Oksigen bergabung dengan unsur yang mudah terbakar dan senyawanya sesuai dengan
hukum kimia. Reaksi khas untuk bahan bakar yang mudah terbakar, berdasarkan asumsi
bahwa reaksi selesai dengan jumlah oksigen yang tepat yang diperlukan:

Karbon (CO2) C + O2 = COs + ΔQ


Hidrogen (H2O) 2H2 + O2 = 2h2O + ΔQ
Sulfur (SO3) 2S + 3O2 = 2SO3 + ΔQ

Dimana ΔQ adalah panas yang berevolusi diakibatkan oleh reaksi

Panas yang berevolusi atau panas pembakaran biasanya disebut “nilai pemanasan bahan
bakar” dan merupakan jumlah dari reaksi dari berbagai unsur penyusun untuk satu pon
bahan bakar yang dipertimbangkan. Nilai pemanasan bahan bakar dapat dihitung dari
pertimbangan teoritis atau mungkin ditentukan, untuk minyak aktual, dengan membakar
sampel dalam kalorimeter bom (wadah tertutup yang kuat untuk mengukur panas dari
pembakaran). Dalam menguji bahan bakar dengan kalorimeter bom untuk menentukan
panas yang diberikan, dua nilai dapat dilaporkan: nilai panas yang lebih tinggi (atau kotor
atau lebih tinggi) dan katup pemanas bawah atau bersih. Untuk nilai pemanasan yang lebih
tinggi, diasumsikan bahwa setiap uap air yang terbentuk dengan membakar unsur
hidrogen semuanya dikondensasi dan didinginkan sampai suhu awal di kalorimeter pada
akhir pengujian. Panas penguapannya sekitar 970 Btu/lb minyak, termasuk nilai
pemanasan yang dilaporkan. Untuk nilai pemanasan yang lebih rendah, diasumsikan
bahwa tidak ada uap air yang mengembun dan bahwa semua produk pembakaran tetap
berada dalam keadaan gas. Di negara-negara bersatu nilai pemanasan yang lebih tinggi
digunakan karena tersedia secara langsung dari penentuan kalorimeter dan karena praktik
membeli bahan bakar pada basis nilai pemanasan yang lebih tinggi. Nilai pemanasan yang
lebih rendah umumnya digunakan dalam praktek eropa.

Karakteristik bahan bakar yang akan tersedia untuk kapal dalam perdagangan biasa harus
diestali pada awal proses perancangan. Ini akan memungkinkan pemilihan peralatan yang
optimal untuk membakar bahan bakar dan membersihkan ketel. Selain itu, pemilihan suhu
dan bahan serapan yang sesuai dapat dilakukan untuk seluruh pabrik boiler sehingga dapat
mengurangi masalah korosi dan perawatan. Sebagian besar boiler laut dipecat dengan
minyak, dengan boiler kayu, gas, dan batu bara kurang umum. Penembakan kayu pada
umumnya terbatas pada pengoperasian sungai di sungai dengan banyaknya kayu di
dekatnya dan bukan merupakan bahan bakar penting yang mungkin terjadi di beberapa
daerah terpencil di dunia. Boiler berbahan bakar gas digunakan terutama pada tongkang
listrik atau bor yang diperbaiki di lokasi dan dapat dipasok dari darat. Di laut, kapal tanker
yang dirancang untuk membawa gas alam cair dapat menggunakan cairan alami dari tangki
gas kargo sebagai bahan bakar tambahan. Gas kargo ini mendidih dikumpulkan dan
dipompa ke boiler dimana dibakar bersamaan dengan minyak. Pilot pembakar minyak
mengarahkan pilot untuk memberikan stabilitas pengapian dan juga untuk menambah
irama yang ada dari gas. Kuantitas mendidih yang tersedia dari gas alam cair adalah fungsi
suhu laut dan udara ambien, gerak kapal, dan pemuatan kargo, antara lain, dan dapat
bervariasi dari hari ke hari.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 35

Boiler yang dipecat oleh tujuan telah bertahan terutama di kapal-kapal tua yang beroperasi
di danau dan sungai, dan di feri, kapal penjepit, kapal tunda, dan kapal penarik yang
beroperasi di bidang jasa pantai. Jumlah mereka terus menurun dari tahun ke tahun seiring
kenaikan biaya tenaga kerja dan pengendalian pencemaran udara diperluas. Sebagian besar
boiler laut berbahan bakar batubara menggunakan tembakan tangan atau stroker.
Penggunaan strokers, terutama tipe penyebar, memungkinkan tingkat tembakan per kaki
persegi permukaan garpu sekitar 40 sampai 50 persen lebih banyak daripada untuk
penembakan tangan. Hal ini mengakibatkan boiler yang jauh lebih campact dan lebih
ringan dari pada yang dirancang untuk penembakan tangan. Tetapi bahkan mereka jauh
lebih besar dan lebih berat daripada boiler berbahan bakar minyak yang dirancang untuk
menghasilkan uap yang sebanding. Penembakan batubara yang digerus, yang banyak
digunakan di darat, jarang digunakan di laut karena volume tungku yang diperlukan untuk
perjalanan api, tingkat pelepasan panas yang rendah, dan combusion yang memuaskan
membuat boiler tinggi. Pemuatan fly ash yang tinggi dari gas buang memperparah erosi
tabung, slaging, dan masalah emisi saham.

Minyak digunakan sebagai bahan bakar boiler pada awal tahun 1870 namun tidak
digunakan secara luas sampai usia mobil membutuhkan industri minyak dunia yang luas.
Dibandingkan dengan bahan bakar lainnya, minyak mudah dimuat di atas kapal, disimpan,
dan dimasukkan ke dalam tungku, dan percikan api membutuhkan sedikit perawatan
mahal. Sejumlah kecil abu dan kontaminan yang dikandungnya tidak memerlukan fasilitas
penanganan abu yang ekstensif yang diperlukan untuk penembakan batubara. Harus
diakui bahwa minyak bahan bakar dari sumber yang berbeda, sementara yang serupa
dengan nilai kalor, memiliki jumlah kontaminan yang bervariasi yang dapat berbahaya
dalam berbagai cara. Kontaminan utama terdiri dari garam vanadium dan sodium. Sebagai
kelas, mereka disebut abu dan kehadiran mereka harus sepenuhnya diperhitungkan oleh
perancang. Demikian pula, kandungan belerang mungkin sangat banyak dari hampir tidak
sampai 6-7% dalam minyak mentah asam. Sulfur memiliki efek yang diputuskan pada
efisiensi siklus yang dapat diperoleh tanpa korosi yang serius di economizer, pemanas
udara, dan serapan.

Senyawa vanadium dan sodium mempengaruhi disain superheater. Jika minyak yang
dibakar dalam perdagangan tertentu sangat kaya akan unsur penyusun ini, superheater
dapat dirancang dengan suhu tabung logam yang lebih rendah dari biasanya untuk
menghindari kemungkinan masalah korosi logam berat dan korosi. Penukar panas akhir
dingin yang dirancang dengan pengakuan penuh kandungan belerang yang hadir dalam
bahan bakar akan mengalami minimal korosi dan perawatan yang mahal. Sebuah boiler
yang dirancang untuk memanfaatkan bahan bakar minyak residu dengan biaya rendah
dapat selalu membakar bahan bakar yang lebih ringan jika situasinya membenarkannya.
Namun, boiler dengan permukaan pemanas yang rapat yang dirancang untuk minyak
ringan seperti bahan bakar turbin diesel atau aviaton tidak akan memuaskan pada bahan
bakar residu tidak akan memuaskan secara memuaskan pada bahan bakar residu dalam
waktu yang sangat lama. Pelepasan timah gas dan pembakar minyak dan masalah
pembakaran di tungku bisa diantisipasi.

a. Analisa Bahan Bakar


36 Boiler

Untuk tujuan desain dan komparatif, acuan bahan bakar standar adalah
bahan bakar minyak (Bunker C) yang memiliki karakteristik sebagai
berikut:

Komposisi Kimia (persen berat)

Karbon 87.75

Hidrogen 10.50

Sulfur 1.20

Oxygen 0.40

Nitrogen 0.15

Moisture -

Total 100

Tabel 3. Komposisi bahan bakar standar

Nilai pemanasan yang lebih tinggi dari bahan bakar acuan standar yang
ditentukan oleh kalorimeter bom dan dikoreksi untuk panas spesifik pada
tekanan konstan adalah 18.500 Btu per lb. Suhu dasar untuk kandungan
panas ditetapkan sebagai 100 F. Untuk perhitungan keseimbangan desain
dan panas, nilai pemanasan minyak dikoreksi untuk penambahan panas
tambahan (dalam Btu/lb) dalam memanaskan minyak sampai suhu
(diasumsikan 200 F) yang diperlukan untuk atomisasi yang benar dengan
ungkapan berikut: Penambahan panas = 0.46 ( suhu atomisasi – 100 F )
Nilai pemanasan total dari minyak referensi adalah 18.546 Btu per lb dan
digunakan untuk semua jenis atomisasi termasuk atomisasi uap.

b. Udara Bakar
Oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran dipasok oleh udara
pembakaran. Konstituen lain dari udara bertindak sebagai pengencer. Udara
atmosfir adalah campuran yang dibedakan dari senyawa kimia-oksigen,
nitrogen, dan sejumlah kecil karbon dioksida, uap air, argon, dan gas inert
lainnya. Komposisi dasar udara kering untuk tujuan pembakaran dianggap:

%Oksigen %Nitrogen
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 37

Berat 23.15 76.85

Volume 21.00 79.00

Tabel 4. Komposisi udara kering untuk pembakaran

Gas langka dimasukkan sebagai bagian dari penyusun nitrogen.

Udara diasumsikan dipasok ke forced-draft fan pada suhu 100 F,


kelembapan Barometr 40%, dan tekanan Barometric 29.92 inch Hg. Dalam
kondisi seperti itu, udara memiliki sifat fisik berikut:

Massa Jenis Udara Kering, 0.0709


lb/ft3

Kelembapan, lb/lb dari udara kering 0.0165

Kepadatan Campuran, 0.0701


lb/ft3

Spesifik
Panas

Tabel 5. Komposisi udara asumsi

Berdasarkan standar bahan bakar dan udara di atas, analisis akan


menunjukkan bahwa kuantitas udara stoikiometri atau teoritis udara
kering untuk membakar satu pon bahan bakar adalah 13.75 lb. Dari sini,
jumlah udara berikut untuk berbagai persentase kelebihan ditentukan:

Kelebihan Udara,Persen 0 5 10 15 20

Udara kering,lb 13.75 14.44 15.13 15.81 16.50

Kelembapan,lb 0.23 0.24 0.25 0.26 0.27

Udara lembab,lb 13.98 14.68 15.38 16.07 16.77

Udara 194 204 213 223 233


Kering

Udara yang Lembab 200 210 220 230 240


(40% RH)

Tabel 6. Persentase kelebihan udara

Analisis akhir dari bahan bakar yang sebenarnya ditemukan dalam


layanan bervariasi dari bahan bakar referensi standar. Gambar 2
38 Boiler

menunjukkan pengaruh variasi pada udara teoritis yang dibutuhkan


untuk pembakaran. Sebagai contoh, bahan bakar terdiri dari 87.25 C, 12.0
H2, 0.2 S, 0.4 O2 dan 0.15 N2 akan membutuhkan 3.0 persen lebih banyak
udara untuk pembakaran stoikiometri (+3.8% untuk H2 – 0.4% untuk C,
-0.4% untuk S). Untuk mengurangi hilangnya gas kering dari panas
tumpukan, berat gas buang harus dipegang minimal sesuai dengan
penyediaan cukup udara untuk benar-benar membakar bahan bakar.
Dengan mengetahui hal tersebut di atas, operator harus memperhatikan
hasilnya dengan bahan bakar minyak tertentu yang mengisi bahan bakar
dan menyesuaikan kelebihan udara untuk menghasilkan pembakaran
sempurna. Namun, dalam kebanyakan kasus, desain boiler didasarkan
pada rasio bahan bakar udara yang cukup untuk menyediakan 15%
kelebihan udara. Sementara banyak pembakar minyak dan sistem kontrol
pembakaran dapat beroperasi dengan sukses dengan udara yang kurang
berlebih, penggunaan 15% untuk tujuan perancangan menjamin
permukaan perpindahan pana yang cukup dan forced-draft fans dengan
kapasitas memadai. Untuk margin tambahan, bila tidak ada pemanas
udara yang dipasang, 20% kelebihan udara sering digunakan.

Seringkali kelebihan rasio udara atau rasio bahan bakar udara dibahas
dalam hal CO2, yang mudah diperoleh dari operasi boiler dengan
menggunakan analisis Orsat. Pembacaan orsat sebesar 14% CO 2 sesuai
dengan sekitar 15% kelebihan udara. Menunjukkan hubungan antara
CO2, O2 dan udara berlebih. Karena perhitungan perpindahan panas
dan draft didasarkan pada berat udara dan gas buang, penggunaan
terminologi “persen CO2”, yang merupakan ukuran volumetrik, sangat
penting hanya dalam membandingkan kinerja pembakar minyak. Ini
sangat berguna dimana minyak yang digunakan adalah analisis yang
sangat bervariasi dari bahan bakar referensi standar. Rasio udara berlebih,
atau rasio bahan bakar udara, juga dapat ditentukan dengan mudah
dengan menggunakan alat analisa oksigen; pembacaan oksigen 3% sesuai
dengan sekitar 15% kelebihan udara.

c. Efisiensi
Dengan proses perancangan awal, salah satu ungkapan ini dipecahkan
untuk heat input Hi, dari mana berat minyak dibakar dengan mudah
ditentukan dengan membagi dengan nilai pemanasan bahan bakar desain,
biasanya 18.546 Btu/lb. Semua kuantitas yang ditentukan didasarkan
pada laju alir per jam. Efisiensi boiler yang dibutuhkan biasanya
ditentukan oleh spesifikasi atau keseimbangan panas. Bersama dengan
tekanan uap dan suhu desain, ia menetapkan jumlah dan pengaturan
permukaan pemanas yang terpasang pada boiler dan pemanasan awal.
Tekanan uap desain dan suhu saturasi yang sesuai mengatur suhu
“tenggelam” yang efektif dari penyimpan pembangkit boiler; dan air
umpan. Dalam kasus instalasi pemanas udara, tempat cuci adalah udara
masuk ke dalamnya, biasanya 100 F. Kurva efisiensi versus beban untuk
generator uap. Perhatikan bahwa efisiensi berkurang dengan peningkatan
keluaran uap. Jumlah gas buang panas yang akan didinginkan meningkat
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 39

karena lebih banyak bahan bakar dikonsumsi untuk meningkatkan


keluaran uap. Karena ini terjadi, keefektifan jumlah tetap permukaan
pemanas dipasang menurun dan penurunan efisiensi. Biasanya ukuran
permukaan boiler untuk kapal dagang untuk memberikan efisiensi yang
diinginkan pada peringkat yang sesuai dengan “kekuatan ABS”. Efisiensi
pada tingkat maksimum atau minimum adalah fungsi dari titik desain ini
dan harus berada pada kurva efisiensi karakteristik.

Batas tertinggi praktis pada efisiensi boiler dipaksakan oleh persyaratan


untuk menjaga suhu gas serapan di atas titik embun gas buang. Ini
meminimalkan endapan belerang dan korosi ujung dinding dari penukar
panas dan saluran air. Dalam pemanasan awal, korosi menyebabkan
kebocoran dan pemadaman listrik boiler; oleh karena itu, praktik umum
untuk menjaga suhu aliran air masuk minimum sekitar 280 F, yang
menghasilkan suhu gas buang sekitar 315 sampai 320 F dan membatasi
risiko korosi. Dalam pemanasan ulang, kegagalan korosi adalah bukan
bencana; oleh karena itu, suhu tumpukan yang lebih rendah (280 F atau
kurang) praktis dan efisiensi boiler yang sesuai semakin tinggi. Siklus
efisiensi dapat ditingkatkan lebih lanjut melalui penggunaan pemanas air
umpan bertekanan tinggi untuk memasok air umpan pada suhu yang
tidak praktis dalam siklus pemanasan awal.

d. Seleksi Pembakar Minyak


Pilihan jenis dan jumlah pembakar minyak yang akan digunakan bergantung
pada perkiraan kerugian yang tersedia, dimensi tungku, dan tingkat
pembakaran boiler. Pembakar berkapasitas tinggi dan lebar biasanya dipilih
untuk sebagian besar instalasi untuk mengurangi jumlah pembakar yang
dibutuhkan dan menyederhanakan perawatan dan operasi. Biaya kontrol dan
peralatan pengaman nyala api, serta perawatannya, dengan demikian dijaga
seminimal mungkin. Ukuran dan susunan ruang mesin sering mempengaruhi
lokasi pembakaran. Sebaiknya cari pembakar yang berdekatan dengan konsol
kontrol untuk memudahkan pemantauan visual dan aksesibilitas. Pada boiler
dua drum, pembakaran bisa dipasang di dinding depan tungku, atap, atau
dinding samping. Di boiler depan, gas di tembakkan sejajar dengan boiler
bank. Kemudian membuat giliran 90 derajat untuk memasuki baris layar, dan
karena kedalaman tungku biasanya ,merupakan dimensi terpendek gas
cenderung menumpuk di dinding belakang. Konsentrasi gas yang berat
dibelakang ini tidak seimbang dengan suhu gas, dan membuat prediksi
temperatur uap dan suhu tabung pemanasan lanjut menjadi lebih sulit. Di sisi
lain, dengan atap yang menembaki gas didistribusikan secara merata di
kedalaman boiler. Karena tinggi tungku biasanya merupakan dimensi
terpanjang, ada sedikit kecenderungan untuk memusatkan gas sebelum
mereka berubah menjadi layar pemanasan lanjut.

Penembakan samping, dengan pembakar di dinding samping, memerlukan


perhatian cermat untuk detail desain. Karena gas tidak berubah sebelum
memasuki layar, panjang nyala api cenderung sangat panjang. Hal ini dapat
40 Boiler

mengakibatkan penetrasi api pada layar dan penyimpanan pemasan lanjut


dengan efek buruk pada suhu tabung pemanasan lanjut dan suhu uap.
Biasanya, setidaknya dau pembakar minyak digunakan sehingga satu burner
bisa bipesat saat membersihkan atau mengganti pelat sprayer di boiler.
Idealnya, satu pembakaran per boiler akan sangat mempermudah
pemasangan kontrol dan memungkinkan pengaturan tungku dioptimalkan.
Pada boiler yang relatif kecil, untuk mendapatkan tingkat minyak yang
dibutuhkan mungkin dengan satu pembakar. Pada boiler berkapasitas tinggi,
sejumlah besar bahan bakar dan udara yang dimasukkan ke dalam tungku
memerlukan beberapa instalasi pembakaran. Setiap pembakar ukuran
memiliki tingkat operasi minimum di bawah mana nyala api menjadi tidak
stabil dan ada risiko kehilangan pengapian. Sebagian ini adalah karakteristik
pembakar, namum sistem forced-draft, bahan bakar, dan sistem kontrol juga
memiliki pengaruh. Tingkat minimum sangat penting karena hasil yang jauh
lebih sederhana bila semua pembakar dapat dibiarkan beroperasi setiap saat.
Bila di pelabuhan atau selama kondisi manuver, kemampuan aliran minimum
minyak harus kurang dari yang dibutuhkan oleh permintaan pabrik, jika
katup pengaman yang sering muncul atau pembuangan uap harus dihindari.
Kedua tindakan ini membuang uap dan menyebabkan peningkatan
perawatan.

Pembekuan pembakaran dapat digunakan secara efektif untuk mengikuti


permintaan beban dimana pembakar dengan rentang terbatas atau arus
minimum yang diinginkan lebih tinggi dari yang diinginkan. Solid-state, sistem
logika yang dikendalikan komputer sering digunakan untuk mengurutkan
pembakaran; namun, peralatan ini bisa meningkatkan biaya secara signifikan.
Perawatan harus dilakukan dalam mengatur pembakar untuk menyediakan
bahkan distribusi udara ke masing-masing pembakar di dalam kotak angin
untuk mengoptimalkan pembakaran dengan minimum udara berlebih.
Pembersihan antara pembakar dan dinding tungku harus cukup untuk
mencegah gangguan dan pelampiasan. Volume tungku harus cukup besar
untuk menyediakan waktu yang diperlukan agar pembakaran sempurna
terjadi sebelum gas memasuki pemanasan lanjut. Pembakaran yang
memuaskan telah diperoleh pada tingkat pelepasan tungku hingga 1.500.000
Btu/ft3 di marine boiler. Setiap produsen pembakar memiliki kelonggaran yang
direkomendasikan dan bentuk nyala api dapat disesuaikan sampai batas
tertentu untuk dimodifikasi saat diperlukan. Hal ini dilakukan dengan
mengubah sudut semprotan alat penyemprot. Sudut yang lebih lebar
digunakan untuk memperpendek panjang nyala api dan menghasilkan nyala
lebat yang lebar sementara sudut yang sempit meningkatkan panjang nyala
api dan mengurangi lebar. Produsen pembakar harus selalu diberi
kesempatan untuk meninjau ulang desain tungku yang diproyeksikan
sehingga pemasangan sebaik mungkin bisa didapat. Kelonggaran pembakaran
yang sesuai umumnya. Saat menembaki minyak Bunker C, lazimnya
menggunakan jarak minimum yang ditentukan dari pengalaman. Ini mungkin
akan berkurang, mungkin sekitar enam inc, jika hasil penyulingan minyak
ditembakkan. Kedalaman tungku boiler watertube, yang ditembakkan dari
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 41

depan, biasanya dibatasi minimal enam kaki meskipun ada boiler dengan
rating tinggi yang sesuai dengan kedalaman tungku hanya lima lapis.

Pemilihan pembakar minyak juga harus kompatibel dengan jenis alat


penyemprot yang akan digunakan. Alternatif penyemprot meliputi: atomisasi
uap (campuran internal), mekanis uap (campuran eksternal), pelebur
berventilasi lebar, rotary cup, dan lain-lain. Dari jenis ini, pencampur uap
campuran internal dan alat penyemprot planger berventilasi
memiliki turndown tertinggi (sekitar 12 sampai 1) dan memberikan ukuran
partikel terkecil dan paling seragam selama rentang operasinya. Tetasan
bahan bakar yang terionisaasi dengan baik memberikan area permukaan yang
lebih banyak untuk pembakaran dan memungkinkan sedikit udara berlebih
yang akan digunakan, sehingga mengurangi draf kerugian, kebutuhan daya
kipas, dan kehilangan gas kering. Jumlah pembakar yang dipilih biasanya
menghasilkan draf kerugian-kerugian setara dengan sekitar 35 sampai 50%
dari total draf kerugian unit boiler. Rancangan kerugian pada pembakar
bervariasi dengan aliran volumetrik udara yang melewatinya. Pada aliran
udara tertentu, perubahan suhu udara akan meningkatkan atau menurunkan
draf kerugian dalam rasio perubahan temperatur absolut. Dalam merancang
boiler dengan pemanas udara adalah praktik standar untuk membatasi suhu
udara yang meninggalkan pemanas udara dan memasukkan pembakar tidak
lebih dari 600 F dan sebaiknya kurang untuk menjamin umur yang panjang
dan mencegah panas berlebih pada bagian pembakar. Jika desain awal
menghasilkan suhu udara yang berlebihan, perancang harus memasang
kembali permukaan, mungkin menambahkan pemanas awal kecil, untuk
mengurangi suhu soket udara pemanas udara ke nilai yang dapat diterima.

e. Ruang Tungku
Setelah laju pembakaran serta jumlah dan jenis pembakar minyak Agis
Mitra Mandiri, desain tanur dilakukan. Sebagai panas ot jumlah
menyerap radiasi permukaan disediakan menentukan suhu tungku
keluar gas untuk sebagian besar, pilihan dari konstruksi tungku mungkin:
dinding tahan api dan dinding air didinginkan. Awalnya tungku
semuanya sederhana bata-ruang berlapis. Sebagai suku menembak
didorong lebih tinggi dan output dari boiler ukuran tertentu meningkat,
kehidupan dinding tahan api dan biaya pemeliharaan menjadi benar-
benar tidak memuaskan. Untuk meningkatkan kehidupan tahan api, air
pendingin dalam bentuk tabung spasi disusun untuk menyerap panas
oleh radiasi langsung dari awan api. Dengan ini berarti tungku wer
menurunkan suhu dan itu mungkin untuk meningkatkan laju
pembakaran dalam tungku amplop yang diberikan [2,3]. Padam untuk
perbaikan adalah diminimalkan dan penggunaan bahan bakar kelas yang
lebih rendah menjadi mungkin.

Dengan tingkat menembak semakin meningkat, tabung jarak memberi jalan


untuk konstruksi tangen-tabung. tabung Tangent didefinisikan sebagai tabung
diatur sedemikian rupa sehingga kesenjangan antara mereka tidak melebihi ¼
42 Boiler

masuk .Tahan api dan bahan isolasi yang digunakan di belakang tabung dan,
dalam posisi ini dilindungi, mereka memiliki kehidupan yang hampir tak
terbatas. Bentuk lain dari dinding air-cooled adalah dinding dilas, seperti yang
digambarkan oleh Gbr.20, yang lazim di ketel ukuran besar. Dalam jenis
konstruksi, tabung dirakit menjadi panel oleh jarak tabung dan bar toko-las
pengisi antara mereka pada mesin las otomatis. Tabung dari panel berkumpul
adalah dari lapangan-dilas untuk nozel stub pada header waterwall dan drum
ketika unit yang didirikan di galangan kapal. Dari sudut pandang kinerja,
jenis konstruksi adalah setara dengan dinding tangen-tabung.

Untuk sejumlah tahun lantai tungku perapian telah didinginkan dengan air
atas pertolongan horisontal tabung menginstal di bawah satu peliputan
refractory. Penyejukan dengan air, walau lalaikan, disediakan hidup
ditingkatkan untuk refractory lantai. Refractory pasti perlu untuk memastikan
lama hidup dari tabung lantai sejak satu tabung horisontal tidak dapat
memaklumi panas tinggi memasuki ke atas bidang ini. Apapun uap air
membentuk di situ cenderung untuk menyelimuti permukaan, mendekati
suhu logam tabung dan pimpinan untuk awal kegagalan. Setelah pemilihan
dari jenis dengan permukaan didinginkan dengan air dipergunakan dan satu
preliminaryfurnace ukuran dan kontur telah ditaksir atas dasar angka dan
pengaturan dari pembakar meminyaki, ini kemungkinan untuk menaksir
keluar tungku perapian menggas suhu ang memanaskan batas serapan
pelepasan dan panas kecepatan-angka. Didasari pada saat desain tungku
perapian dan pembakar, panas tungku perapian melepaskan kecepatan-angka
harus terbatas pada yang akan menghasilkan di kondisi pembakaran bajik dan
satu dandang ukuran minimum

f. Temperatur gas keluar


Selama bertahun-tahun, taksiran akurat dari gas keluar tungku perapian suhu
bukan diperlukan karena akibat konservatif kecepatan-angka sejenis cemara
dan penggunaan dengan uap air pemenuhan. Unit itu yang mana hasilkan
uap air terpanaskan tinggi biasanya mempunyai beberapa baris tabung
dandang di antara superheater dan tungku perapian. Alhasil, satu kesalahan
besar pada tungku perapian terhitung meninggalkan pentas suhu gas punya
sangat kecil mempengaruhi pada saat kinerja superheaters. Di unit dengan
superheaters menempatkan dekat dengan tungku perapian, bagaimanapun,
keluar tungku perapian menggas suhu harus ditentukan dengan teliti untuk
meyakinkan satu kepuasan superheater disain. Sebagai tambahan, satu oh
penentuan akurat batas serapan panas pada tungku perapian berbagai area
waterwall perlu untuk menyediakan edaran air cukup dengan satu angka
praktis dari tabung barang persediaan dan orang bangun tidur.

Ketika menaksir suhu gas tungku perapian, paling perancang


mempergunakan rumus mendasari pada saat hukum Stefan Boltzmann, yang
status yang panas yang diserap oleh pancaran sebanding untuk perbedaan di
antara pemangkatan keempat dari suhu mutlak dari tubuh sebar dan
permukaan dahan gelap (melihat bab 2). Bagaimanapun, pada satu tungku
perapian dandang penentuan tepat dengan palang berseri( jarak rata-rata dari
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 43

gas sebar berkumpul ke sangat menarik dan tentang permukaan sebar);


desakan parsial dari produk dari pembakaran; jumlah, jenis, kuantitas, dan
panaskan isi suatu bahan bakar; sejumlah kelebihan udara; suhu dari udara
pembakaran; kehilangan panas laten; emissivity dari permukaan berbagai dan
kumpulan sebar dari gas; dan keberserian bernyala. Perancang biasanya
menghitung gas keluar tungku perapian batas serapan suhu dan panas oleh
cara masuk akal kemudian, sebagai satu pengecekan, rencanakan nilai
terhitung melawan data empiris memperoleh dari test boiler.dandang tertube,
yaitu dipecat yang berhadapan, biasanya terbatas pada sedikitnya enam foot
walaupun di situ sangat tinggi diberi peringkat dandang di jasa dengan
kedalaman tungku perapian dari hanyalah lima foot.

Pemilihan dari pembakar meminyaki juga harus yang dapat dipertukarkan


dengan jenis dari alat penyemprot dipergunakan. Alternatif alat penyemprot
termasuk: kukus pengabutan (campuran internal), mekanik uap air (campuran
eksternal), jangkauan luas yang mekanik pengisap terbuka, cangkir berputar,
dan orang lain. Dari jenis ini, campuran internal mengukus alat penyemprot
dan pengisap terbuka alat penyemprot yang punya penolakan paling tinggi
(kesana-sini 12 ke 1) dan sediakan paling kecil dan paling ukuran partikel
seragam berlalu jangkauan mereka dari operasi. Dengan sempurna mengurai
ke dalam atom rintik bahan bakar luas permukan lagi probide untuk
pembakaran dan permisi kurang udara kelebihan dipergunakan, kurang
dengan demikian rugi draft, menghembus kebutuhan kekuatan, dan gas
kering tumpukan rugi.

g. Radiant heat absorbing surface


Dalam mengevaluasi menyerap radiasi panas permukaan, bidang proyeksi
datar dinding dan bank tabung yang digunakan. Jarak dari tabung di bank
boiler berdekatan dengan tungku tidak berpengaruh pada suhu tungku, tapi
dengan Pembuluh ketel luas mendirikan sebuah persentase besar dari panas
radiasi diserap dalam tabung baris di belakang baris tungku. waterwalls
Tungku dan atap biasanya terdiri dari tabung telanjang atau ditutupi (gambar
20) dan, dengan pengecualian tabung singgung telanjang atau dinding dilas,
efektivitas dari permukaan menyerap kurang dari tubuh-hitam koefisien 1,0
dipertimbangkan untuk baris tungku boiler tabung. suhu tungku gas biasanya
tidak akurat dalam analisis awal diperkirakan sejak karakteristik desain
umum minat utama, dan perkiraan perkiraan suhu tungku gas dan tingkat
penyerapan panas dapat dibuat dengan pengetahuan tentang boiler dan
kondisi pembakaran. Jadi, dengan udara berlebih diasumsikan, kandungan
panas produk pembakaran dan suhu adiabatik dapat ditentukan. Selanjutnya,
ukuran tungku perkiraan memberikan indikasi air permukaan didinginkan
dan estimasi dapat dibuat dari efektivitas penyerapan permukaan dan suhu
tungku gas yang diharapkan. Dalam pendekatan alam ini biasanya diinginkan
untuk memperkirakan suhu tungku dan ATAS permukaan menyerap PANAS
di sisi rendah minyak menembak saat. Hal ini meningkatkan penyerapan
panas tungku diperkirakan dan menjamin margin cadangan dalam desain
akhir.
44 Boiler

Namun, dengan pembakaran batu bara adalah lebih penting untuk


memperkirakan suhu tungku gas di sisi yang tinggi untuk mencegah
kemungkinan operasi dengan suhu tungku di atas suhu deformasi abu awal.
Dalam tungku boiler, baik keluar tungku gas temperatur dan penyerapan
panas dapat diubah lumayan, untuk tingkat pembakaran yang diberikan,
dengan memvariasikan jumlah permukaan menyerap radiasi panas. Tungku
gas temperatur dan penyerapan panas juga bisa diturunkan, pada setiap laju
pembakaran, dengan meningkatkan udara berlebih, kecuali saat
mengoperasikan dengan kekurangan udara. Udara tambahan meningkatkan
berat produk pembakaran bahan bakar per pon dipecat. Hal ini mengurangi
suhu adiabatik karena ada sedikit panas tersedia per pon produk pembakaran,
dan, seperti yang ditunjukkan oleh hukum Stefan-Boltzmann, menurunkan
suhu radiasi mengurangi tingkat penyerapan panas. Secara umum, suhu
radiasi diasumsikan sama dengan sepertiga dari suhu adiabatik ditambah dua
per tiga dari suhu keluar tungku gas.

h. Tingkat Penyerapan Panas


Panas tungku Kekumalan panas radian per kaki persegi permukaan menyerap
meningkat dengan tingkat panas yang lebih besar rilis. Namun, persentase
panas dirilis, yang diserap dalam boiler oleh radiasi, menurun dengan
meningkatnya laju pembakaran, dan bervariasi dari sebanyak 50%, atau lebih,
pada tarif pembakaran yang lebih rendah untuk sekitar 15% di lebih tinggi
menembak tingkat; lihat gambar 22. Ini hasil dari fakta bahwa suhu adiabatik
tetap praktis konstan, kecuali perubahan karena variasi suhu udara berlebih
dan pembakaran udara, selama rentang seluruh operasi boiler, sedangkan
suhu gas meninggalkan tungku dan memasuki tabung meningkatkan bank
dengan laju pembakaran. Meskipun tingkat penyerapan panas tungku
mungkin konservatif, suhu keluar tungku gas dapat berlebihan terhadap suhu
fusi abu dan slagging. Hal ini berlaku khususnya di boiler batu bara dimana
suhu gas memasuki tube bank harus kurang dari suhu deformasi abu awal.
karena suhu fusi abu rendah terak minyak, mereka lulus dari tanur dalam
keadaan gas atau cair dan tidak setuju untuk mengontrol dengan mengurangi
suhu tungku yang keluar gas. Mereka harus dipertimbangkan
dalam desain superheater itu.

i. Suhu Pada Tube Metal


Dalam boiler, tingkat perpindahan panas di film air mendidih di bagian dalam
tabung mungkin sebagai Btu/ft2-hrF 20.000, namun ketika memperkirakan
suhu logam tabung, transfer rate hanya 2000 Btu/ft2-hrF biasanya
diasumsikan dalam rangka diasumsikan dalam rangka memberikan margin
terhadap perlawanan dari deposito internal mungkin untuk perpindahan
panas. demikian, dengan tingkat penyerapan panas dari 120.000 Btu/ft2-hrF,
penurunan suhu di seluruh film air adalah sekitar 60 derajat F dan, kecuali
dinding tabung yang sangat berat digunakan, gradien suhu di seluruh logam
tabung adalah sama. Akibatnya, dengan tekanan uap 600 psig (489 F
temperatur uap jenuh) dan heat input 120.000 Btu/ft2-hrF, logam suhu
permukaan luar tabung tungku biasanya tidak melebihi 620 F. dengan suhu
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 45

logam tabung 620 F, ada margin sekitar 330 derajat F antara suhu logam dan
suhu oksidasi diijinkan baja karbon. Namun, ketahanan terhadap panas yang
mengalir di skala tabung internal yang cukup dan itu adalah tuhan praktek
desain untuk memberikan toleransi bagi variasi dalam kualitas air
umpan. Dengan sirkulasi boiler yang memadai dan kualitas air umpan yang
tepat, input panas ke tungku tabung hanya dibatasi oleh suhu tabung logam,
creep panas, dan tekanan.

j. Design Limitations
Sementara tidak ada tungku khusus temperatur gas keluar yang dapat
digunakan sebagai kriteria perancangan untuk semua jenis boiler, mereka
harus cukup tinggi untuk menjaga pembakaran yang baik di semua peringkat,
termasuk pemuatan pelabuhan. Namun, pada saat yang sama mereka tidak
boleh terlalu tinggi sehingga menyebabkan suhu casing tinggi atau
pemeliharaan tungku berlebihan. Karena persyaratan yang sangat ringan dan
kompak untuk instalasi unit angkatan laut, peringkat menguapkan dalam
boiler angkatan laut tiga kali lebih besar daripada yang umum untuk instalasi
sebagian besar pedagang. Akibatnya, pintu keluar tungku temperatur gas
dalam hak penuh untuk rentang overload sekitar 28000-3050 M ketika
menembak minyak dengan sekitar udara berlebih 15%. Adiabatik, atau
teoritis, suhu nyala api sekitar 3450-3500 F dengan pembakaran minyak, 15%
udara berlebih, dan 100 udara F pembakaran. Dengan temperatur udara
pembakaran 300 t0 350 F, suhu adiabatik meningkat menjadi sekitar 3650-
3700 F.

Meskipun harga panas tungku rilis bervariasi, praktis minyak semua


pedagang fired boiler dirancang untuk tingkat panas rilis 65.000 t0 125.000 Btu
per cf volume tungku per jam pada normal-rating sekitar 15 t0 20% dari tarif
listrik pelepasan panas yang sesuai penuh angkatan laut boiler. Rilis panas per
meter persegi permukaan menyerap panas radiasi umumnya berkisar antara
200.000 sampai 250.000 Btu per jam pada desain boiler pedagang. Naval boiler
dirancang untuk peringkat empat sampai lima kali lebih besar daripada yang
digunakan untuk boiler pedagang laut. Radiant tingkat penyerapan panas
sangat bervariasi, tergantung pada laju pembakaran dan jumlah dingin (air
didinginkan) permukaan dalam tungku. Umumnya, sebuah penyerapan
panas pancaran dari 120.000 btu per meter persegi permukaan yang dingin per
jam dianggap memuaskan untuk operasi terus-menerus kelebihan boiler
pedagang dengan feedwater menguap diobati. Hal ini menghasilkan sebuah
penyerapan sekitar 100.000 btu per meter persegi permukaan yang dingin per
jam pada nilai beban penuh. Ada pedagang boiler dalam pelayanan
berkesinambungan dengan serapan radiasi panas sekitar 150.000 btu per meter
persegi permukaan yang dingin per jam, dan paling boiler angkatan laut telah
dirancang untuk penyerapan panas tingkat lingkaran 150.000 hingga 200.000
btu per kaki persegi permukaan yang dingin per jam overload rating, tapi
operasi pada peringkat ini jarang terjadi.

k. Tumpukan Tabung Boiler


46 Boiler

Susunan tumpukan tabung boiler didirikan setelah pengembangan ukuran


tungku awal. Jenis tumpukan tabung yang paling sederhana adalah boiler
yang menghasilkan uap jenuh. Biasanya dua ukuran tabung digunakan di
tumpukan berikut. Tabung di baris yang berdekatan dengan tungku
menyerap panas yang jauh lebih banyak daripada yang ada di baris lainnya
dan oleh karena itu, sebaiknya berdiameter lebih besar untuk meningkatkan
aliran air. Total masukan panas ke tabung saluran tungku adalah jumlah
perpindahan panas radiasi dan konveksi; secara umum, perpindahan panas
konveksi sekitar 5 sampai 20% dari perpindahan panas yang berseri. Ini relatif
luas dalam hasil perpindahan panas konveksi dari variasi diameter
tabung, pitchtabung, laju alir massa gas, dan perbedaan suhu antara produk
pembakaran dan permukaan tabung.

Jumlah baris tabung dipasang terutama bergantung pada sistem sirkulasi dan
suhu gas yang diinginkan meninggalkan tumpukan tabung. Suhu gas yang
meninggalkan tumpukan tabung boiler bervariasi dengan perubahan tekanan
uap, tingkat pembakaran, dan ukuran dan pengaturan tabung (pengaturan
tabung bisa berhenti atau in-line). Namun, ketebalan permukaan pemanas
boiler yang memadai harus dipasang untuk mendapatkan suhu gas keluar
yang menghasilkan efisiensi operasi ekonomis dan tidak memerlukan
tumpukan berlebih dan insulasi pembengkakan. Umumnya, suhu gas keluar
tidak boleh melebihi 750 F kecuali pemanas awal atau pemanas udara
digunakan.

Daya tahan terhadap aliran gas dapat bervariasi lumayan dengan


mengubah pitch tabung dalam arah yang tegak lurus terhadap aliran gas atau
dari perubahan lebar boiler, panjang tabung, dan jumlah baris tabung.
Tekanan boiler tipe rendah biasanya memiliki 1,5 in tabung pada baris tungku,
tapi ini meningkat menjadi 2 in di dalam boiler dengan rating lebih tinggi.
Satu in dan 1,25 in pada tabung umum terjadi di tumpukan tabung utama.
Tidak ada standard pitch untuk tabung. Namun, biasanya
menggunakan pitch tabung longitudinal minimum (arah sejajar dengan drum
dan tegak lurus terhadap aliran glasir) yang sesuai dengan praktik
manufaktur yang baik dan desain drum yang dapat diterima, kecuali jika
persyaratan draft atau jenis bahan bakar yang dipaksakan menentukan
penggunaan pitch yang lebih. Praktik manufaktur dan fabrikasi mengizinkan
penggunaan 0,5 in, ligamen logam antara 1 in atau 1,25 in pada diameter luar
tabung. Pitch melingkar atau belakang (arah sejajar dengan aliran gas) tabung
biasanya diatur untuk menjaga efisiensi ligamen melingkar atau diagonal
sama dengan, atau lebih baik daripada, efisiensi ligamen longitudinal pada
drum. Pengaturan tabung yang menggunakan pitch belakang minimum
mengurangi pinggiran drum yang dibutuhkan untuk sejumlah baris tabung
dan memungkinkan penggunaan drum uap berdiameter lebih kecil
memberikan tingkat pelepas drum uap yang memuaskan. Dengan pengaturan
seperti itu, ukuran dan berat boiler bisa dikurangi.

Saat mendesain untuk tekanan uap tinggi, sering diperlukan untuk


meningkatkan jarak tabung agar meningkatkan efisiensi ligamen dan
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 47

mengurangi ketebalan lembaran tabung drum. Jika ini tidak dilakukan,


tekanan panas yang besar dapat diatur di lembar tabung. Hal ini juga
memungkinkan untuk mempertahankan jarak tabung dekat namum
mengurangi ketebalan lembaran tabung drum dengan menggunakan tabung
dengan ujungnya diperuntukkan pada diameter yang lebih kecil. Jumlah baris
tabung yang dipasang harus dibatasi sehingga diameter drum uap yang tidak
praktis tidak diperlukan dan penyerapan panas pada tabung terakhir cukup
memadai untuk menjaga sirkulasi yang baik. Panjang tabung harus
sedemikian rupa sehingga penyerapan total per tabung tidak menghasilkan
proporsi uap yang terlalu tinggi dalam campuran uap air yang meninggalkan
ujung atas tabung. Sebagian besar marine boiler memberikan uap panas lebih
dari pemanas langsung tipe konveksi. Dalam boiler ini, tumpukan tabung
pembangkit disusun dalam dua bagian. Bagian utama antara tungku dan
pemanasan lanjut dikenal sebagai “waterscreen” dan bagian lainnya, dipasang
di luar pemanas lanjut, disebut “boiler bank” atau “generating bank”.

Ukuran dan susunan waterscreen sangat mempengaruhi desain pemanasan


lanjut. Sebuah pemanas lanjut yang terletak di dekat tungku di belakang
beberapa baris tabung pitched tubes di permukaan air memberikan
karakteristik suhu uap yang relatif datar pada rentang peringkat yang luas
karena tingkat perpindahan kalor radiasi dan konveksi cenderung saling
melengkapi. Namun, pemanasan lanjut yang terletak lebih jauh dari radiasi
tungku di balik waterscreen yang lebih dalam memiliki karakteristik suhu uap
yang meningkat tajam dengan kenaikan rating, karena efek konveksi yang
lebih besar dan pengurangan tingkat perpindahan panas radiasi.Di angkatan
laut, boiler biasanya memiliki waterscreens yang terdiri dari tiga atau empat
baris tabung dan kapal pedagang, boiler memiliki dua atau tiga
baris waterscreens di depan pemanasan lanjut. Sebagian besar perpindahan
panas di pemanasan lanjut disebabkan oleh radiasi konvensi dan dalam
tabung; namun, jarak dari screen tubes biasanya dapat dipilih untuk
memungkinkan radiasi tungku yang cukup ke pemanasan lanjut untuk
menghasilkan suhu uap yang relatif konstan pada rentang nilai yang luas.

l. Pemanas Lanjut
Pemanas lanjut harus memberikan suhu uap yang ditentukan selama masa
operasi boiler, tidak hanya selama percobaan awal atau operasi uji dan kinerja
yang diprediksi harus dijaga tetap dengan variasi minimum tingkat
pembakaran, tekanan udara, pengaturan burner, dan kelebihan udara. Desain
harus menghindari keharusan pemadaman tak terjadwal untuk pembersihan,
dll, untuk menjaga performa. Tentu saja, pemadaman boiler periodik
terjadwal diperlukan dalam jadwal operasi terorganisir dengan baik. Desain
pemanas lanjut adalah komponen tersulit dan rumit dari komponen boiler
karena komponen ini mempengaruhi banyak fitur fungsional dan mekanik
boiler. Tekanan uap yang cukup turun melalui pemanas lanjut diperlukan
untuk distribusi uap yang baik dan suhu tabung logam yang memuaskan dan
merupakan faktor penting dalam menentukan tekanan desain boiler. Tekanan
desain menentukan ketebalan tabung pemanas lanjut, yang pada gilirannya
48 Boiler

merupakan penurunan penting dan suhu logam tabung. Lokasi pemanasan


lanjut mempengaruhi ukuran dan suhu tabung logam. Hal ini juga
mempengaruhi desainwaterscreen dan tungku, terutama pada unit bersuhu
tinggi. Pengaturan lokasi dan tabung memiliki bantalan penting pada
kemungkinan slagging dan ini secara langsung mempengaruhi perawatan
dan outages.

Ada pertimbangan mendasar yang umum untuk semua jenis pemanas lanjut,
yang dirancang untuk memiliki minimal permukaan penyerap panas sehingga
dapat mengurangi biaya, ukuran, dan berat. Permukaan minimum dapat
diperoleh dengan meningkatkan koefisien perpindahan panas dan perbedaan
suhu antara produk pembakaran dan uap karena total panas yang diserap
adalah produk dari kedua faktor dan permukaan. Meningkatkan perbedaan
suhu mengambil keuntungan dari potensi suhu yang tersedia, sementara
peningkatan koefisien perpindahan panas memerlukan ketahanan yang besar
terhadap aliran gas. Keuntungan penuh harus diambil dari perbedaan suhu
tinggi, namun suhu gas masuk tidak boleh begitu tinggi sehingga
menghasilkan suhu tabung logam yang berlebihan atau korosi bakar bahan
bakar bersuhu tinggi (ini terutama masalah lokasi). Perubahan suhu uap
dengan laju pembakaran harus minimum untuk mencegah suhu yang
berlebihan selama manuver dan, sekali lagi, ini tergantung pada lokasi.
Kecepatan uap harus menyediakan distribusi uap, suhu tabung logam
minimum yang baik, dan tetesan tekanan uap yang dapat diterima, yang
kesemuanya memerlukan korelasi efek ukuran, lokasi, dan pengaturan uap
yang lewat.

2.7.2.Sirkulasi

Karakteristik sirkulasi alami dari boiler dan jenis steam drum baffling ditentukan setelah
susunan permukaan penyerap panas telah terbentuk. Umumnya, karena efek dari
penyadapan uap drum sistem peredaran darah, analisis simultan dibuat. Prosedur
perhitungan sirkulasi sebagian bersifat empiris dan sebagian teoritis. Tujuan analisis ini
membuat sistem pendorong, anak tangga, dan tabung pembangkit, yang akan memastikan
bahwa setiap tabung menerima pasokan air sesuai dengan panas.

a. Sirkulasi: tabung boiler bank dan air tanur dinding


Karakteristik sirkulasi dinding tungku dan bank tabung boiler ditentukan oleh prosedur
yang sama dan, karena rasio air-uap menurun dengan kenaikan rating, karakteristik harus
ditetapkan untuk rating contempiated maksimum. Dalam menganalisis sirkulasi boiler,
dapat diasumsikan bahwa setiap sistem yang bersirkulasi, pada dasarnya adalah tabung U.
Bagian riser tabung U adalah bagian bank tabung dimana arus uap dan air naik saat panas
diterapkan. Bagian downcomer terdiri dari tabung yang tidak dipanaskan atau bagian bank
tabung dimana penyerapan panasnya jauh lebih rendah daripada di bagian riser. Karena
perbedaan kepadatan fluida, tabung pemanas dapat bertindak sebagai pendorong untuk
bagian riser dan ada zona transisi yang pasti antara penghuni yang mengalami pendarahan
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 49

dan tabung riser, yang lokasinya sangat bervariasi dengan perubahan tingkat pembakaran
boiler.

Dalam sirkulasi boiler, dapat diasumsikan bahwa menganalisis setiap sistem sirkulasi, pada
dasarnya, tabung U Bagian riser dari tabung U adalah bagian dari bank tabung dimana
aliran uap dan air naik ke atas panas diterapkan Bagian downcomer terdiri dari tabung
yang tidak dipanaskan atau bagian bank tabung dimana penyerapan panasnya jauh lebih
rendah daripada di bagian riser. Karena perbedaan densitas fluida, dan tabung bertindak
sebagai downco untuk riser yang dipanaskan, ada zona transisi yang pasti antara sudut
bawah dan tabung riser, yang lokasinya sangat bervariasi dengan perubahan tingkat
pembakaran boiler. analogi tabung U, awalnya ada pesawat vertikal di bagian bawah
dimana tekanan yang diberikan oleh kaki air panas dan dingin sama. Saat panas diterapkan
dan air mulai mengalir, hambatan terhadap aliran ditemui. Jadi, pada bidang tekanan
hipotetis yang sama di drum air bawah, atau tajuk, tekanan yang sesuai dengan aliran air
melalui downcom ers sama dengan produk kepala air dan densitasnya dikurangi daya
tahan terhadap arus. Tekanan ini harus menyeimbangkan produk kepala air di riser dan
densitasnya ditambah resistaninya agar mengalir. Dengan menyamakan dua jumlah ini dan
memecahkan kerugian gesekan di sudut bawah, itu jelas bahwa downcomer (kerugian riksi
sama dengan produk kepala air dan perbedaan kerapatan anu pendengkur, minus riser frie.
kehilangan n kuantitas yang dikenal sebagai kepala bersih bersih 2 kepala salur.

Pada kebanyakan analisis cireulation, uap yang dihasilkan dalam tabung riser dihitung dan
aliran watersteam, kemudian ditentukan untuk berbagai rasio tim. Dalam menganalisa
karakterisasi peredaran darah, adalah lazim untuk menggambarkan secara grafis kerugian
gesekan down-camer dan butiran sirkulasi yang tersedia untuk campuran air-uap yang
diasumsikan sekarang. aliran di mana kepala yang tersedia dikurangi daya tahan mengalir
melalui baffle uap sama dengan resistansi terhadap aliran downcomer yang diperlukan
untuk menyeimbangkan sistem peredaran darah. Dari arus pada titik keseimbangan,
persentase uap dengan volume di bagian atas tabung riser dapat dihitung. Persentase uap
dengan volume di bagian atas tabung riser harus sedemikian rupa sehingga mencegah
overheating tabung. Jika jumlahnya berlebihan, sistem peredaran darah harus didesain
ulang untuk memberi tambahan tenaga pendatang, atau ukuran dan kontur pendatang
harus diubah untuk mengurangi hambatan terhadap arus.

Hal ini juga mungkin diperlukan untuk mengubah lokasi, ukuran, dan kontur tabung ketel
untuk mendistribusikan penyerapan panas dan mengurangi hambatan aliran. Dalam sistem
peredaran darah yang memuaskan, sejumlah air yang cukup harus diberikan untuk setiap
pon uap yang dihasilkan. Oleh karena itu, jika persentase uap oleh volume pada pintu
keluar tabung riser digunakan sebagai kriteria desain, maka perlu untuk memvariasikan
persentase yang diijinkan tekanan perubahan persentase uap oleh volume akan meningkat
saat tekanan berkurang karena dari volume spesifik uap yang meningkat. Basah mendidih -
biasanya dirancang untuk rasio uap air (yaitu berat air / berat uap yang melewati tabung
pembangkit tenaga listrik) berkisar antara 5,0, dan 10,0 dan unit pedagang biasanya jatuh
pada kisaran 15,0-20,0 pada tarif kelebihan beban operasi. Lower air-uap rasio yang
digunakan pada boiler angkatan laut dalam rangka untuk mengurangi ukuran boiler dan
berat dengan meminimalkan persyaratan downcomer bagian atas kolom.

b. Dipanaskan downcomers
50 Boiler

Jika peringkat menguapkan yang konservatif dan suhu gas meninggalkan boiler melakukan
ONT melebihi sekitar 750 F, beberapa baris pertama dari tabung akan berfungsi sebagai
penambah sisanya dengan menjabat sebagai downcomers dipanaskan. Seperti kenaikan
tarif pembakaran, zona suhu tinggi gas bergerak lebih jauh kembali ke bank tabung dan
tyubes tambahan karena anak tangga sementara bertindak sesuai nomor yang lebih kecil
sebagai downcomers. Jika tingkat pembakaran lebih jauh meningkat, jumlah downcomers
menjadi tidak mencukupi, sirkulasi menghalangi, dan korban tabung dapat terjadi, ketika
anakyses desain menunjukkan keadaan seperti itu, eksternal atau internal downcomers
dipanaskan harus diinstal.

c. Eksternal dan internal downcomers dipanaskan


Dengan peringkat evaporatif konservatif, downcomers eksternal yang diperlukan untuk
hanya bagian-bagian dari boiler di mana tabung tidak dapat bertindak sebagai downcomers
(baris tabung tunggal membentuk batas tungku, sebuah bank tabung dangkal dipasang
antara dua tungku, atau bank tabung melindungi superheater dari dua tungku). Jika
downcomers diperlukan untuk bank tabung utama, mereka biasanya terletak di luar bank
tabung meskipun pengaturan tersebut membutuhkan drum boiler lagi. Penggunaan
downcomers internal dipanaskan meminimalkan drum panjang dan menghilangkan tabung
di bank boiler utama, namun tidak dipanaskan internal downcomers usuallyenter steam
drum pada tingkat air yang tinggi dan mereka mungkin kehilangan air selama berat
gulungan atau pengurangan sengaja di tingkat air. Selanjutnya, penggunaan internal
downcomers tabung dipanaskan mempersulit pengaturan bank, meningkatkan perlawanan
terhadap aliran gas, dan mengurangi permukaan boiler menyerap panas. transfer panas
untuk downcomers internal dapat meminimalkan dengan pelat menggunakan, stud-tabung,
atau baffle bersirip-tabungperlindungan.

d. Drum uap membingungkan.


Uap Drum membingungkan digunakan di boiler laut yang paling sederhana dalam
konstruksi dan pengaturan. Jenis yang umum digunakan dalam boiler tipe header adalah
"penyekat vertikal," yang terletak antara pipa kering dan pembuangan tabung circulator.
Desain hanya memeriksa diperlukan bila menggunakan baffle vertikal adalah penentuan
kecepatan uap belakang dan di sekitar ujung penyekat. Kecepatan ini, berdasarkan output
maksimum uap boiler, harus kurang maka kecepatan kritis di mana uap mengambil air,
sedangkan velocitycan uap dikurangi dengan meningkatkan ukuran uap drum atau dengan
miring penyekat.Tunggal dan beberapa berlubang-plat sekat, digunakan dalam boiler
drum-jenis yang paling beroperasi pada peringkat uap konservatif; baffle ini tergantung
pada pemisahan alami uap dan air. Untuk peringkat boiler yang lebih tinggi berarti positif
dari pemisahan uap diperlukan dan sekat kompartemen-tipe yang sering digunakan.

Pemisah uap sentrifugal digunakan terutama di pedagang dinilai tinggi dan drum-jenis
boiler Angkatan Laut, mereka sangat diinginkan untuk boiler subjectedto manuver cepat,
fluktuasi tingkat permukaan air, atau konsentrasi solida yang tinggi dalam air boiler.
sentrifugal pemisah uap dapat diatur baik hirozontally maupun vertikal dalam steam
drum. Perlawanan mengalir melalui separator sentrifugal lebih besar daripada yang melalui
piring atau kompartmen tipe baffle. Hal ini akan cenderung meningkatkan kebutuhan
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 51

downcomer bagian atas kolom, atau menghalangi sirkulasi, tetapi debit bootom dari
pemisah sentrifugal yang praktis bebas uap air, dan dengan demikian kepala avaiable untuk
sirkulasi meningkat karena kepadatan air disuplai ke downcomers lebih besar daripada
yang "berbusa" air-uap campuran dikeluarkan dari berlubang-piring dan sekat
kompartemen-tipe. Aliran uap-uap air melalui drum baffles adalah seri dengan semua
sirkuit aliran dalam sistem peredaran darah. Jadi, jika mengalir melalui salah satu sirkuit
yang ditingkatkan, misalnya, oleh instalasi downcomers tambahan, aliran melalui uap baffle
juga meningkat. Hal ini menyebabkan sebuah perlawanan tambahan dalam sistem
sirkulasi Overal dengan hasil bahwa aliran dalam downcomers tidak akan meningkat
dalam proporsi langsung dengan penambahan dibuat.

e. Arrangement of steam passes


Pengaturan aliran uap harus menghasilkan penurunan tekanan yang dapat diterima dan
suhu tabung logam yang memuaskan. Perubahan jumlah uap yang lewat sangat
mempengaruhi ketahanan terhadap aliran uap dan suhu logam tabung, namun, pada
umumnya, hanya memiliki efek kecil pada laju perpindahan panas. Pengaturan arus uap
memberikan distribusi uap yang baik jika daya tahan terhadap aliran di tabung tinggi
dibandingkan dengan yang ada di tajuk. Lokasi koneksi tajuk saluran masuk dan keluar
juga mempengaruhi distribusi uap. Jumlah aliran tabung per lintasan harus kurang dari
luas aliran di inlet header untuk meminimalkan kecenderungan uap untuk memotong
tabung tertentu. Panas yang diserap pada setiap umpan uap dapat diasumsikan sebanding
dengan permukaan penyerap panas, kecuali jika ada distribusi arus gas atau pembakaran
yang tidak sesuai dengan uap bervariasi antara aliran uap. Namun, kenaikan suhu uap per
lintasan tidak sebanding dengan permukaan pemanasan, karena panas spesifik uap
pemanasan uap berkurang dengan kenaikan suhu.

Perkiraan akuran suhu uap yang masuk dan keluar dari masing-masing lintasan diperlukan
untuk menentukan daya tahan terhadap aliran dan untuk merancang dan mengatur
diafragma pada header pemanasan lanjut. Jika sejumlah besar panas diserap di masing-
masing lintasan, perbedaan suhu diafragma-diafragma cukup besar dan tekanan suhu
tinggi dipasang di header. Tekanan ini mungkin memuaskan sejauh kekuatan diperhatikan,
namun bisa menyebabkan kebocoran pada kursi tabung pemanasan lanjut. Bila perbedaan
suhu diafragma-diafragma melebihi 175 derajat, dan aliran uap tambahan tidak dapat
digunakan, biasanya menggunakan header terpisah. Meskipun pengaturan ini mengurangi
tekanan termal dan menghilangkan kebocoran kursi tabung, jalur gas yang lebar terbentuk
di persimpangan tajuk. Oleh karena itu, tabung yang berbatasan dengan jalur akan memiliki
suhu logam yang lebih tinggi daripada tabung rata-rata karena aliran gas yang lebih besar
melewati jalur tabung.

2.7.2 Penurunan Tekanan (Pressure Drop)

Aliran air, uap, udara dan gas flue akan mengalami losses pada tekanan. Desain boiler yang
baik akan memberikan angka losses yang konsisten. Losses atau penurunan tekanan yang
berlebihan pada bagian boiler dimana uap berada menyebabkan kenaikan tekanan tak tentu
pada economizer, ini akan memerlukan desain boiler menjadi lebih berat dan pipa yang
52 Boiler

lebih tebal, dan juga feed pump untuk penambahan. Dibawah adalah tempat-tempat pada
boiler yang rawan terjadi kesalahan desain yang menyebabkan penurunan tekanan.

a. Vessel Expansion

Ini berfungsi seperti peredam kejut pada mobil, air tidak dapat dikompresi dan
mengembang saat dipanaskan

Dalam sistem gravitasi terdapat tangki terbuka di loteng atau pada tingkat tinggi dan ini
naik dan turun sesuai kebutuhan, ia juga memiliki katup bola untuk mengisi sistem secara
otomatis sehingga seringkali kebocoran tidak diperhatikan sampai sangat besar.

Dalam sistem pemanas bertekanan, air yang mengembang ini harus memiliki tempat untuk
dituju, ini adalah bejana bertekanan (sering bagian dari boiler) sebuah ruangan dengan
diafragma atau balon yang diisi dengan udara. Karena air yang tidak dikompresi
memperluasnya, maka akan mengompres udara di balon / diafragma dan ketika air
mendingin, udara mengembang, mengembalikan tekanan ke tingkat semula.

Namun jika ada tusukan di balon / diafragma atau bejana tekan tidak dirawat (ada katup
ban mobil untuk meledakkannya) maka air mengembang ke ruang yang biasanya diisi oleh
balon / diafragma dan ini terlihat seperti hilangnya tekanan di boiler. Sistem ini diisi dan
waktu berikutnya air tidak dapat berkembang dan menyebabkan katup pelepas tekanan
atau PRV untuk membuka dan membuang tekanan berlebih ke limbah, sistem mendingin
dan memicu kesalahan tekanan rendah boiler karena tidak ada udara terkompresi untuk
menstabilkan tingkat tekanan.

b. Katup pelepas tekanan atau PRV

Tindakan ini untuk melindungi sistem dari tekanan berlebih dan biasanya diatur ke 3-bar,
adalah tekanan untuk naik terlalu tinggi, bisa ada kerusakan pada sistem dan ini dapat
menyebabkan komponen meledak atau bahkan menyebabkan cedera yang membuat air
mendidih keluar dari pipa meledak atau radiator. Ini sering dipicu oleh pemeliharaan yang
buruk dari bejana tekan atau terlalu mengisi ketika 'topping up', tetapi bisa saja gagal,
menyebabkan hilangnya tekanan.

c. Penukar panas

Setiap boiler harus memiliki penukar panas, itu tidak lebih teknis daripada merebus panci
yang tertutup di kompor api / pertukaran panas air. Air dipompa ke sekitar dan menjadi
sedikit lebih panas setiap kali melewati penukar panas (panci kami) sampai mencapai suhu
yang kita atur pada boiler (jika memiliki opsi) atau thermostat ruangan memberitahu boiler
bahwa area tersebut panas cukup.

Apa yang bisa terjadi adalah bahwa penukar panas bocor ke dalam ruang bakar (kompor
kita) pada boiler yang lebih tua ini cukup jelas karena air tidak memiliki tempat untuk pergi
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 53

dan seperti hob hanya akan meluap ke lantai. Namun dengan boiler kondensasi modern
(cukup banyak sesuatu yang lebih baru dari 2005) ada pipa limbah yang mengambil ini.
Pipa limbah ini biasanya mengambil uap yang mungkin Anda lihat pada hari yang dingin
dari cerobong asap seperti gas buang ketika dingin.

Diagnosis rumit kecuali perangkap kondensasi memberikan permainan jauh dengan parsial
magnetik berkarat dan pewarnaan karat coklat pada umumnya; gas jejak kami akan sering
mengkonfirmasi kebocoran ini sebagai kesalahan boiler.

d. Immersion Tanks dan penukar panas sekunder

Untuk air panas, kombinasi (atau boiler 'Combi') akan memiliki penukar panas lain, kali ini
versi air / air. Air keran dingin mengalir melalui matriks pipa-pipa kecil dan dipanaskan
oleh air dari sistem pemanas yang berjalan dalam satu set pipa kecil yang serupa, 2 sistem
tidak pernah bercampur, tetapi kedekatannya membuat air keran menjadi hangat. Ini bisa
gagal dan kemudian air pemanas berakhir di air keran panas Anda, kebocoran ini seringkali
sangat cepat.

Tangki Perendaman adalah sistem yang jauh lebih sederhana, seperti melelehkan cokelat
menggunakan mangkuk dalam panci berisi air, gulungan pipa di dalam tangki
menghangatkan air di sekitarnya, air dingin masuk ke dasar tangki dan air panas diambil
dari puncak. Pada sistem air panas gravitasi (tangki dingin besar di loteng, jangan bingung
dengan tangki pemanas kecil pada pemanasan gravitasi) suatu kesalahan akan melihat
kebocoran air ini ke dalam tangki dan tekanan turun, pada sistem bertekanan (biasanya
lebih tinggi putih silinder) kesalahan menyebabkan tekanan naik, bukan drop. Kesalahan
pada sistem bertekanan jarang terjadi, tetapi mereka memiliki PRV serupa yang dapat
gagal.

2.7.4. Duty Cycle

a. Oil Burner
Oil burner memiliki dua prinsip dasar, atomizer dan air register assembly. Automizer
digunakan untuk membenahi furnance berupa partikel-partikel. Air register digunakan
throat, air doors, vanes, impeller atau air diffuser. Atomizer dan air register menggunakan
valve, fitting dan safety coupling. Alat hubung pengaman ini didesain untuk mencegah
retak pada uap atau oli dari automizer dimana digunakan untuk membersihkan. Beberapa
jenis atomizers bahan bakar digunakan untuk didalam boiler laut. Paling umum pada boiler
yang lebih tua adalah tipe mekanis, yang beroperasi diatas berbagai tekanan minyak dari
100 sampai 300 psi di kapal dagang dan sampai 600 psi dikapal angkatan laut. Minnyak
tersebut dikabutkan didalam piring semprotan dengan menyalurkannya melalui slot
tangensial ke ruang pusaran pusat dan mengeluarkannya melalui lubang yang sesuai.
Kapasitas adalah fungsi dari diameter orifice dan jumlah slot digunakan (biasanya empat
atau enam ). Kisaran tekanan menyediakan hanya perubahan terbatas pada laju alir
( biasanya kurang dari 2: 1). Oleh karena itu tingkat pembakaran boiler dikendalikan oleh
mengubah jumlah embakaran dan ukuran pembakar piring sprayer yang digunakan. Alat
penyemprot mekanis jarak jauh digunakan pada beberapa A.S. kapal angkatan laut ini
memberikan rasio turndown 12:1. Dalam alat penyemprot ini tekanan suplai minyak
54 Boiler

bervariasi dari 100 sampai 400 psi sebagai respon terhadap permintaan uap dan bertindak
untuk posisi spring plumper. Saat pluger bergerak dalam pusaran ruang, mencakup dan
mengungkap pusaran yang diiris secara tangensial lubang dan bervariasi are slot alat
penyemprot. Kisarasn turndown yang tersedia cukup untuk memenuhi semua cara
mengukus tanpa memotong pembakaran di keluar atau mengubah ukuran kpiring sprayer.
Mekanikal uap atomizer pada dasarnya adalah yang uap jet telah ditambahkan campuran
minyak dan uap diluar meningkatkan tubulensi campuran minyak udara. Rentang ini agak
lebih besar dari pada penyemprot kalor tapi tidak sebagus pencampuran internal alat
penyemprot uap pada pembakar pencampuran internal yang khusus, uap menggetarkan
minyak dan campurannya mengembang melalui nozzle keluaran dengan kecepatan tinggi
sehingga semprotan minyak terbagi halus. Dapat dipasok sampai 300 psi dan tekanan uap
yang dibutuhkan biasanya disimpann konstan pada 125 psi.

2.7.5. Automation
Kebutuhan untuk instrument operasi dan manual atau control otomatis bervariasi dengan
ukuran dan jenis peralatan , metode pembakaran, meningkatkan kemampuan dari personil
operasi, dan tingkat otomatis yang diingkan. Untuk pengoprasian yang aman dan kinerja
yang efisien, informasi yang dibutuhkan relative ketingkat adir diboiler tabung, kinerja
burner, tekanan ua dan feedwater tersebut, suhu super heat uap, tekanan gas dan udara
yang masuk dan meninggalkan komponen utama, feedwater dan kondisi air boiler kimia
dan akumulasi particie, operasional pompa pakan, penggemar, pembakaran bahan bakar,
dan peralatan bahan bakar preparbion, hubungan udara pembakaran yang sebenarnya
melewati tungku untuk secara teoritis diperlukan untuk bahan bakar menyala, temperatue,
gas bahan bakar air, dan udara memasuki dan meningalkan bagian – bagian komponen
utama unit, feed water, uap, bahan bakar, dan arus udara.

Selama bertahun-tahun marine boiler telah dilengkapi dengan peralatan control


mengijinkan pengoprasian stabil dilaut dengan partisipasi operator kecil kecuali saat
manuver. Namun otomatis lengkap dari boiler mungkin diinginkan sehingga dengan
pengecualian memulai mereka dapat dioperasionalkan sepanjang rentang penuh dari
stanby untuk beban penuh tanpa penyesuaian manual. Untuk mencapai sepenuhnya
pengoprasian otomatis komponen control yang memadai sangat penting. Karakteristik
operasi item pokok dan tambahan peralatan yang menghasilkan uap harus benar – benar
dikenal sejak karakteristik ini mempengaruhi tingkat pengendalian ruang lingkup control
yang diperlukan dan respon yang diperoleh. Sebagai ujian misalnya, dimana burner
memiliki berbagau operasi atau kemampuan trun down sama atau lebih besar dari pada
yang dibutuhkan oleh boiler, kebutuhan ke burner urutan (atau membawa mereka keluar
dari layanan) dihilangkan. Hal ini pada giliranya menghilangkan banyak keputusan dan
fungsi – fungsi yang lain akan diperlukan suatu system manajemen burner otomatis, dan
system sederhana dapat dipilih. Derajat control yang dapat dicapai dalam rnagka naik
kecanggihan, secara manual, manual local, petunjuk diawasi remote, otomatis (non-daur
ulang), dan otomatis (daur ulang). Berbagai jenis ini pengendalian terbaik dapat
digambarkan dengan mengaitkan fungsi mereka ke pengoprasian burner. Dengan jenis
manual control, burner secara manualdibersihkan dan dinyalakan. Ini mungkin otomatis
dimodulasi tetapi dihentikan secara manual. Meskipun tidak ada fungsi operator dilakukan
secara otomatis, lebar kisaran pembakar dapat digunakan dengan control pembakaran
otomatis memudahkan pengoprasian dermaga – kedermaga tanpa partisipasi manual.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Boiler 55

Tetappi tenpa perangkat pemantauan boiler dan burner, operasi harus tetap didekat boiler
kememberikan pengawasan yang diperlukan. Dalam system manual local diawasi seperti
pada gambar 3.8 di buku marine engineering, burner adalah di bersihkan dan dinyalakan
secara manual, tetapi prosedur dan kondisi yang diawasi oleh interlocks pengaman. Semua
fungsi manual dilakukan dan diperikasa oleh operator distasiun burne selama pengprasian
normal, dan jika permintaan untuk uap berada dalam kemampuan burner, pengoprasian
boiler tanpa pengawasan tercapai. Pemantauan dan pengaman interlocks disediakan
mengubah pengoprasian jika kondisi tidak aman berkembang, dan keperjalanan boiler
burner jika perlu. Setelah keluar perjalanan operator harus mengambil tindakan koretif
yang diperlukan untuk menghapus interlocks dan daur ulang burner atau boiler. Manual
system remote diawasi pada gambar 39 di buku marine engineering , memungkinkan
burner yang akan dibersihkan dan dinyalakanoleh tombol tekan manual degerakkan remote
atau switch pemilih. Hal ini juga memberikan supervise produser oleh interlocks
pengaman. Burner adalah mekanik dan semua fungsi operasi yang dilakukan oleh
perangkat mekanis diawali dari sebuah stasiun kendali jarak jauh yang menunjukan apakah
fungsi masing – masing telah dilakukan dengan benar. System control tidak membebaskan
operator manipulasi burner. Dia harus mencurahkan perhatian penuh kepada langkah demi
langkah prosedur untuk memulai dan mengamankan pembakaran yang memakan waktu
proses. System control dapat ijustified hanya dalam instalasi dimana kemampuan turn
down dari burner tidak cocok dengan persyaratan turn down dari boiler dan dimana burner
harus dimanipulasi mencakup rentang operasi. Penerapan tidak akan memenuhi
persyaratan USCG untuk boiler otomatis.

3. Referensi
Frederick M. Steingress, Harold J. Frost and Darryl R. Walker (2003). High Pressure
Boilers (3rd ed.). American Technical Publishers. ISBN 0-8269-4300-4.
Brad B; (2002), Basics of boiler and HRSG design, Penwell Corporation,ISBN 978-0-87814-795-
3, United States of America
S.K Hajra Choudhury; Hajra Choudhury A K (1985), Elements of Workshop Technology, Media
Promotors
Roy L Harrington (2018), Marine Engineering, The Society of Naval Architects and Marine
Engineering,601 Pavonia Avenue, Jersey City, N.J 07306
Frederick M. Steingress (2001). Low Pressure Boilers (4th ed.). American Technical
Publishers. ISBN 0-8269-4417-5.