Anda di halaman 1dari 48

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

RHINITIS ALERGI

KELOMPOK 1
Anastasya Donadear (220110080001)
Sarah R.F. (220110080013)
Ayu Agustina (220110080025)
Nina Irmayani (220110080037)
Ilma Fahma N.S. (220110080049)
Rola Oktorina (220110080061)
Fitri Risma hayati (220110080073)
Silvia Junianty (220110080097)
Wimby Dea Rambadi (220110080109)
Dewi Asmalinda (220110080121)
Dewi Indriyani Utari (220110080133)
Siti Annisa Z.N (220110080145)
Anis Supi Tasripyah (220110080157)

UNIVERSITAS PADJADJAAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
JATINANGOR, APRIL 2009
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah
memberikan karunianya sehingga makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Rhinitis Alergi” ini dapat diselesaikan.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah respirasi
pada khususnya, dan untuk memberikan pengetahuan kepada calon perawat
tentang penyakit rhinitis.
Dalam pembuatan makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:
1. Irman Soemantri, S.Kp, M.kep, selaku koordinator mata kuliah
respiratory yang telah memberikan kasus yang memicu kami untuk
mencari informasi lebih banyak demi terselesaikannya pembuatan
makalah ini.
2. Restuning Widiasih, S.Kp. M. Kep. Sp. Mat, selaku fasilitator kami
yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.
3. Teman – teman SGD Kelompok 1, yang telah bekerja sama dalam
pembuatan makalah ini.
Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan
dalam penulisan, karena kesempurnaan itu hanyalah milik-Nya semata. Kami
harap para pembaca berkenan kiranya menyampaikan kritik, usul, dan saran
kepada saya sehingga karya tulis yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca kelak.

Jatinangor, April 2009

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbagai masalah kesehatan terus menerus bermunculan di Indonesia.


Akan tetapi, pemerintah belum cukup mengatasi masalah kesehatan tersebut.

Seluruh bidang pelayanan kesehatan sampai saat ini sedang mengalami


perubahan dan tidak satu pun perubahan yang berjalan lebih cepat disbanding
masalah kesehatan yang terus menerus bertambah, termasuk di bidang
keperawatan.

Hal ini memberikan suatu tantangan yang sangat menyenangkan dan nyata
bagi perawat dan mahasiswa keperawatan dalam mengahdapi masalah tersebut.

Tanggung jawab untuk mengkoordinasikan perawatan ini membutuhkan


perencanaan dan pencatatan yang dengan jelas mengidentifikasi masalah-
masalah dan inetrvensi-intervensi, juga perencanaa perawatan kesehatan jangka
pendek dan panjang untuk individu dan keluarga.

Salah satu masalah kesehatan yang sering muncul saat ini berhubungan
dengan pernafasan. Begitu banyak masalah yang muncul, utamanya karena
masalah lingkunagn yang tercemar polusi, gaya hidup masyarakat yang tidak
sehat, dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

Beberapa penyakit yang sering terjadi adalah TBC, pneumonia, berbagai


penyakit akergi karena udara, dan asma yang sering terjadi di usia kanak-kanak.

Dari masalah kesehatan tersebut, calon tenaga kesehatan, harus terus


mengkaji berbagai penyakit yang muncul untuk dapat membuat asuhan
keperawatan yang sesuai dan tepat agar masalah kesehatan secara bertahap
dapat teratasi dan derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan.

B. Identifikasi kasus
Adapun kasus pemicu dalam masalah ini adalah sebagai berikut :

Pasien A 13 tahun datang ke rumah sakit dengan diantar orang tuanya


dengan keluhan bersin yang terus menerus, rinorhea, nyeri kepala di daerah
frontal, adanya rasa gatal di hidung dan mata, lakrimasi. Orang tuanya
menyatakan bahwa hal tersebut seringkali timbul pada musim kemarau ketika
banyak debu di jalanan, pasien pun mengalami penurunan berat badan akibat
adanya anoreksia. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan : tekanan datah (100/60
nnHg), RR = 30x/m irregular, secret encer.

Pertanyaan :

1. Jelaskan oleh anda anatomi dan fisiologi pernafasan bagian atas


sesuai dengan kasus

2. Jelaskan pengaturan pernafasan dan mekanisme bersin

3. Jelaskan tentang diferensial diagnosis kasus di atas (rhinitis,


sinusitis, faringitis, tosilitis, dan laringitis)

4. Jelaskan konsep penyakit kasus di atas

5. Proses keperawatan

a. Pengkajian apa saja yang dapat dilakukan dan dihasilkan


sesuai kasus diatas

b. Pemeriksaan fisik

c. Diagnosa keperawatan dan Rencana tindakan untuk kasus


tersebut

6. Jelaskan aspek pendidikan kesehatan yang akan diberikan sesuai


kasus di atas

Dalam makalah ini kelompok kami membahas sebuah kasus mengenai


masalah gangguan pernafasan. Setelah membaca dan mengkaji kasus tersebut
dari gejala dan tanda-tanda yang dialami pasien, kami menyepakati bahwa
pasien A 13 tahun tersebut menderita penyakit rhinitis, yaitu penyakit inflamasi
atau kelainan pada hidung akibat adanya alergi.
Kami menentukan diagnosa keperawatan lalu merancang intervensi, dan
program pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kasus tersebut.

C. Tujuan

Maksud pembuatan makalah ini adalah agar kami, sebagai mahasiswa


mampu melakukan identifikasi mengenai kasus yang telah kami sepakati,
dalam hal ini kasus pasien A 13 tahun yang menderita penyakit rhinitis,
merancang rencana asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, dan evaluasi pada kasus tersebut.
Selain untuk mampu merancang asuhan keperawatan yang tepat, dalam
pembuatan makalah ini kami mampu untuk merancang program pendidikan
kesehatan yang yang terkait dengan kasus tersebut dan mengaplikasikan hasil-
hasil penelitian yang terkait dengan kasus pada masalah sistem respirasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi sistem pernapasan atas

1. Rongga Hidung (Cavum Nasi)

Hidung meliputi bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian
internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur udara. Hidung bagian
luar tertutup oleh kulit dan disupport oleh sepasang tulang hidung.

Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke


bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi
atas 2 bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara
transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior.

a. Bagian – bagian rongga hidung

1) Terdapat rambut yang berperan sebagai penapis udara


2) Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap
udara luar karena strukturnya yang berlapis
3) Sel silia yang berperan untuk melemparkan benda asing ke
luar dalam usaha untuk membersihkan jalan napas Vestibulum yang
dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi
4) Dalam rongga hidung
5) Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang
dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi
vertikal yang sempit, yang disebut septum. Masing-masing rongga
hidung dibagi menjadi 3 saluran oleh penonjolan turbinasi atau
konka dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi dengan membran
mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut
mukosa hidung. Lendir di sekresi secara terus-menerus oleh sel-sel
goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke
belakang ke nasofaring oleh gerakan silia.

Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-
paru. Jalan napas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan
serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru. Hidung
bertanggung jawab terhadap olfaktori atau penghidu karena reseptor olfaksi
terletak dalam mukosa hidung. Fungsi ini berkurang sejalan dengan
pertambahan usia.

b. Fungsi hidung

1) Dalam hal pernafasan, udara yang diinspirasi melalui rongga


hidung akan menjalani tiga proses yaitu penyaringan (filtrasi),
penghangatan, dan pelembaban. Penyaringan dilakukan oleh
membran mukosa pada rongga hidung yang sangat kaya akan
pembuluh darah dan glandula serosa yang mensekresikan mukus
cair untuk membersihkan udara sebelum masuk ke Oropharynx.
Penghangatan dilakukan oleh jaringan pembuluh darah yang sangat
kaya pada ephitel nasal dan menutupi area yang sangat luas dari
rongga hidung. Dan pelembaban dilakukan oleh concha, yaitu
suatu area penonjolan tulang yang dilapisi oleh mukosa.
2) Epithellium olfactory pada bagian medial rongga hidung
memiliki fungsi dalam penerimaan sensasi bau.
3) Rongga hidung juga berhubungan dengan pembentukkan suara-
suara fenotik dimana ia berfungsi sebagai ruang resonansi.

2. Faring

Faring adalah pipa berotot berukuran 12,5 cm yang berjalan dari dasar
tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian
tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).
Bagian sebelah atas faring dibentuk oleh badan tulang sfenoidalis dan
sebelah dalamnya berhubungan langsung dengan esophagus. Pada bagian
belakang, faring dipisahkan dari vertebra servikalis oleh jaringan
penghubung, sementara dinding depannya tidak sempurna dan
berhubungan dengan hidung, mulut, dan laring.

a. Faring dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu :

1) Nasofaring

Nasofaring adalah faring yang terletak di belakang hidung diatas


palatum yang lembut. Pada dinding posterior terdapat lintasan jaringan
limfoid yang disebut tonsil faringeal/adenoid. Jaringan ini kadang –
kadang membesar dan menutupi faring serta menyebabkan pernapasan
mulut pada anak – anak. Tubulus auditorium terbuka dari dinding lateral
nasofaring dan melalui lubang tersebut udara dibawa ke bagian tengah
telinga. Nasofaring dilapisi oleh membran mukosa bersilia yang
merupakan lanjutan dari membran yang melapisi bagian hidung

2) Orofaring

Orofaring dilapisi oleh jaringan epitel berjenjang. Orofaring terletak di


belakang mulut di bawah palatum lunak, dimana dinding lateralnya saling
berhubungan. Diantara lipatan dinding ini ada yang disebut arkus palato-
glosum yang merupakan kumpulan jaringan limfoid yang disebut tonsil
palatum. Orofaring merupakan bagian dari sitem pernafasan dan sitem
pencernaan, tetapi tidak dapat digunakan untuk menelan dan bernafasa
secara bersamaan. Saat menelan, pernapasan berhenti sebentar dan
orofaring terpisah sempurna dari nasofaring dengan terangkatnya palatum.

3) Laringofaring

Laringofaring mengelilingi mulut esophagus dan laring, yang


merupakan gerbang untuk sistem respirstorik selanjutnya. Merupakan
posisi terendah dari faring. Pada bagian bawahnya, sistem respirasi
menjadi terpisah dari sistem digestil. Makanan masuk ke bagian belakang,
oesephagus dan udara masuk ke arah depan masuk ke laring.

b. Terdapat lapisan-lapisan, yaitu :


1) Epitel Mukosa Respiratoria Yaitu epitel berderet silindris
dengan 2 tipe :
a) Dengan sel goblet. Sel-sel yang akan mensekresi
mucus/lendir yang akan menangkap bahan-bahan kotoran dari
luar
b) Sel-sel yang bercilia. Silia akan bergerak untuk mendorong
mucus keluar. Epitelnya tinggi dan bersilindris. Pembuluh
Darah Berfungsi untuk menghangatkan.
2) Lamina Propia
Terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar dan
banyak sabut-sabut elastis.
3) Tunika sub-Mukosa
Sekretnya ada yang kental ( mucous ) dan ada yang serous
(cair). Fungsinya : untuk melembabkan udara. Mengandung
jaringan ikat kendor yang mempunyai banyak jaringan limfoid,
yaitu :
a) Tonsillae Pharyngica, letaknya di belakang nasopharynx.
b) Tonsilla Palatina, terletak di perbatasan rongga mulut dan
oropharynx kiri kanan.
c) Tonsillae Lingialis, terletak pada akar lidah.
d) Tonsillae Tubaria, terletak di sekitar muara Tuba Eusthacii.
3. Laring

Laring tersusun atas 9 Cartilago ( 6 Cartilago kecil dan 3 Cartilago besar ).


Terbesar adalah Cartilago thyroid yang berbentuk seperti kapal, bagian
depannya mengalami penonjolan membentuk “adam’s apple”, dan di dalam
cartilago ini ada pita suara. Sedikit di bawah cartilago thyroid terdapat
cartilago cricoid. Laring menghubungkan Laringopharynx dengan trachea,
terletak pada garis tengah anterior dari leher pada vertebrata cervical 4 sampai
6. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.
Laring juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batuk.

a. Bagian - bagian laring

1) Kartilago tidak berpasangan

a) Kartilago Tiroid (Jakun) terletak di bagian proksinal kelenjar


tiroid. Biasanya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada
laki-laki akibat hormone yang di sekresi saat pubertas.

b) Kartilago Krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih
tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.

c) Epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian


anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglottis secara otomatis
menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan
cairan.

2) Kartilago berpasangan

a) Kartilago Aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kartilago


krikoid. Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan
berpasangan dari epithelium skuamosa bertingkat.

b) Kartilago Kornikulata melekat pada bagian ujung kartilagi


aritenoid. Kartilago Kuneiform berupa batang=batang kecil yang
membantu menopang jaringan lunak.

c) Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring


d) Pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular(pita suara
semu)yang tidak berfungsi saat produksi suara.

e) Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada
kartilago tiroid dan pada kartilago aritenoid serta kartilago krikoid.

Pembuka di antara kedua pita ini adalah glottis.

a. Mekanisme kerja glottis

1). Saat bernapas, pita suara terabduksi(tertarik membuka)oleh otot


laring, dan glotis berbentuk triangular.

2). Saat menelan, pita suara teraduksi(tertarik menutup), dan glottis


membentuk celah sempit.

3). Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran


pembukaan glottis dan derajat ketegangan pita suara yang
diperlukan untuk produksi suara.

b).Fungsi spesifik laring


1). Laring sebagai katup, menutup selama menelan untuk
mencegah aspirasi cairan atau benda padat masuk ke dalam
tracheobroncial
2). Laring sebagai katup selama batuk

4. Trakea

Trakea merupakan suatu saluran rigid yang memililiki panjang 11-12 cm


dengan diameter sekitar 2,5 cm. Terdapat pada bagian oesephagus yang
terentang mulai dari cartilago cricoid masuk ke dalam rongga thorax. Tuba
ini merentang dari laring pada area vertebra serviks ke enam sampai area
vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama.
Tersusun dari 16 – 20 cincin tulang rawan berbentuk huruf “C” yang
terbuka pada bagian belakangnya. Didalamnya mengandung pseudostratified
ciliated columnar epithelium yang memiliki sel goblet yang mensekresikan
mukus. Terdapat juga cilia yang memicu terjadinya refleks
batuk/bersin.Trakea mengalami percabangan pada carina membentuk
bronchus kiri dan kanan.

B. Fisiologi saluran pernapasan atas

1. Proses Ventilasi

Ventilasi merupakan proses untuk menggerakan gas ke dalam dan keluar


paru- paru. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang
elastis dan pernapasan yang utuh. Otot pernapasan inspirasi utama adalah
diafragma. Diafragma dipersarafi oleh saraf frenik yang keluar dari medulla
spinalis pada vertebra servical keempat.
Perpindahan O2 di atmosfer ke alveoli,dari alveoli CO2 kembali ke
atmosfer.
a. Faktor yang mempengaruhi proses oksigenasi dalam sel adalah :
1) Tekanan O2 atmosfer

2) Jalan nafas
3) Daya kembang toraks dan paru
4) Pusat nafas (Medula oblongata) yaitu kemampuan untuk
merangsang CO2 dalam darah

2. Proses Difusi

Difusi merupakan gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi


yang lebih tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Difusi gas pernapasan
terjadi di membran kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipengaruhi
oleh ketebalan membran.
Peningkatan ketebalan membrane merintangi proses kecepatan difusi
karena hal tersebut membuat gas memerlukan waktu lebih lama untuk
melewati membran tersebut.
Apabila alveoli yang berfungsi lebih sedikit maka darah permukaan
menjadi berkurang O2 alveoli berpindah ke kapiler paru, CO2 kapiler paru
berpindah ke alveoli.
b. Faktor yang mempengaruhi difusi :
1) Luas permukaan paru
2) Tebal membrane respirasi
3) Jumlah eryth/kadar Hb
4) Perbedaan tekanan dan konsentrasi gas
5) Waktu difusi
6) Afinitas gas
Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah
yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat
oleh zat warna darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke sel-
sel jaringan tubuh.
Hemoglobin yang terdapat
dalam butir darah merah atau
eritrosit ini tersusun oleh
senyawa hemin atau hematin
yang mengandung unsur besi
dan globin yang berupa
protein.
Gbr. .Pertukaran O2 dan CO2 antara alveolus
dan
Pembuluh darah yang menyelubungi
Secara sederhana, pengikatan oksigen oleh hemoglobin dapat diperlihat-
kan menurut persamaan reaksi bolak-balik berikut ini : Hb4 + O2 4 Hb O2
Reaksi di atas dipengaruhi oleh kadar O2, kadar CO2, tekanan O2 (P
O2), perbedaan kadar O2 dalam jaringan, dan kadar O2 di udara. Proses difusi
oksigen ke dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi oleh
tekanan O2 dalam udara inspirasi.
Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan
O2 nya 104 mm; menuju ke jantung. Dari jantung O2 mengalir lewat arteri
sistemik yang tekanan O2 nya 104 mmhg menuju ke jaringan tubuh yang
tekanan O2 nya 0 - 40 mmhg. Di jaringan, O2 ini akan dipergunakan. Dari
jaringan CO2 akan mengalir lewat vena sistemik ke jantung. Tekanan CO2 di
jaringan di atas 45 mm hg, lebih tinggi dibandingkan vena sistemik yang
hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis yang
tekanan O2 nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke
paru-paru lalu dilepaskan ke udara bebas.
Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mmHg dapat
mengangkut 19 cc oksigen. Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka
hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan dalam darah vena. Dengan
demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah 7 cc per
100 mm3 darah.

3. Proses Transportasi

Gas pernapasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan


tubuh. Oksigen ditransfer dari paru- paru alveoli dan kapiler jaringan tubuh.
Oksigen ditransfer dari paru- paru ke darah dan karbon dioksida ditransfer dari
darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai produk sampah. Pada tingkat
jaringan, oksigen ditransfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida
ditransfer dari jaringan ke darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan.
Transfer ini bergantung pada proses difusi.

4. Transpor O2

Sistem transportasi oksigen terdiri dari sistem paru dan sistem


kardiovaskular. Proses pengantaran ini tergantung pada jumlah oksigen yang
masuk ke paru-paru (ventilasi), aliran darah ke paru-paru dan jaringan
(perfusi), kecepatan difusi dan kapasitas membawa oksigen. Kapasitas darah
untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang larut dalam
plasma, jumlah hemoglobin dan kecenderungan hemoglobin untuk berikatan
dengan oksigen (Ahrens, 1990).
Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya
sekitar 3%. Sebagian besar oksigen ditransportasi oleh hemoglobin.
Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan karbon dioksida.
Molekul hemoglobin dicampur dengan oksigen untuk membentuk oksi
hemoglobin. Pembentukan oksi hemoglobin dengan mudah berbalik
(reversibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah,
membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen ini bisa masuk ke dalam
jaringan.

5. Pengangkutan O2

Pertukaran gas antara O2 dengan CO2 terjadi di dalam alveolus dan


jaringan tubuh, melalui proses difusi. Oksigen yang sampai di alveolus akan
berdifusi menembus selaput alveolus dan berikatan dengan haemoglobin (Hb)
dalam darah yang disebut deoksigenasi dan menghasilkan senyawa
oksihemoglobin (HbO).
Sekitar 97% oksigen dalam bentuk senyawa oksihemoglobin, hanya 2 –
3% yang larut dalam plasma darah akan dibawa oleh darah ke seluruh jaringan
tubuh, dan selanjutnya akan terjadi pelepasan oksigen secara difusi dari darah
ke jaringan tubuh.

6. Transpor CO2

Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel darah merah dan dengan


cepat di hidrasi menjadi asam karbonat(H2CO3) akibat adanya anhidrasi
karbonat. Asam karbonat kemudian berpisah menjadi ion hydrogen(H+)dan
ion bikarbonat (HCO3-). Ion hydrogen di bulfor oleh hemoglobin dan HCO3-
berdifusi dalam plasma.
Selain itu beberapa karbon dioksida yang ada dalam sel darah merah
bereaksi dengan kelompok asam amino membentuk senyawa karbamino.
Reaksi ini dapat bereaksi dengan cepat tanpa adanya enzim. Hemoglobin yang
berkurang (deoksihemoglobin) dapat bersenyawa dengan karbon dioksida
dengan lebih mudah daripada oksihemoglobin. Dengan demikian darah vena
mentrasportasi sebagian besar karbon dioksida.
a. Cara pngangkutan CO2
1) Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam
karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2).
2) Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino
hemoglobin (23% dari seluruh CO2).
3) Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3)
melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2).
Reaksinya adalah sebagai berikut: CO2 + H2O Þ H2CO3 Þ H+ +
HCO-3
Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya
gejala asidosis karena turunnya kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat
disebabkan karena keadaan Pneumoni. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi
garam basa dalam darah maka muncul gejala alkalosis.

C. Pengaturan pernafasan dan mekanisme bersin


1. Pengaturan pernafasan
a. Tiga pusat pengendalian atau pengaturan pernapasan normal yaitu:
1) Pusat Respirasi
Terletak pada formatio retikularis medula oblongata sebelah
kaudal. Pusat respirasi ini terdiri atas pusat inspirasi dan pusat
ekspirasi.
2) Pusat Apneustik
Terletak pada pons bagian bawah. Mempunyai pengaruh tonik
terhadap pusat inspirasi. Pusat apneustik ini dihambat oleh pusat
pneumotakis dan impuls aferen vagus dari reseptor paru-paru. Bila
pengaruh pneumotaksis dan vagus dihilangkan, maka terjadi
apneustik.
3) Pusat Pneumotaksis
Terletak pada pons bagian atas. Bersama-sama vagus
menghambat pusat apneustik secara periodik. Pada hiperpnea,
pusat pneumostaksis ini merangsang pusat respirasi.

Sendi dan otot kemoreseptor perifer


 Serebrum

 Pons

 Medula
oblongata
Hembusan dada
Nervus Frenikus

Diafragma
Pengaruh aktivitas pernapasan diatur secara kimia dan secara non kimia.
Secara kimia, pengaturan dipengaruhi oleh penurunan tekanan oksigen darah
arteri dan peningkatan tekanan CO2 atau konsentrasi hidrogen darah arteri.
Kondisi tersebut akan meningkatkan tingkat aktivitas pusat respirasi.
Perubahan yang berlawanan mempunyai efek penghambatan terhadap tingkat
aktivitas respirasi. Secara nonkimia, pengaturan aktivitas pernapasan secara
non kimia lainnya adalah suhu tubuh dan aktivitas fisik. Peningkatan suhu
tubuh dapat menyebabkan pernapasan menjadi cepat dan dangkal.

2. Mekanisme Bersin
Bersin terjadi lewat hidung dan mulut. Udara tersebut keluar sebagai
respon yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya
bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung. Di dalam tubuh
mempunyai sistem penolakan terhadap sesuatu yang tidak seharusnya berada
dalam tubuh seperti kehadiran bakteri, kuman, dll. Antibodi mengidentifikasi
bahwa barang yang masuk tersebut membahayakan sistem tubuh maka
terjadilah bersin. Secara refleks maka otot-otot yang ada di muka menegang,
dan jantung akan berhenti berdenyut atau berhenti berdetak untuk sekejap,
selama bersin tersebut. Setelah bersin selesai, jantung akan kembali lagi
berdenyut.
Hidung dan Mulut membran hidung Antibodi (mendeteksi
adanya bakteri)
Bersin

D. Diferensial diagnosis kasus di atas (rhinitis, sinusitis, faringitis, tosilitis,


dan laringitis)

1. Rhinitis
Rhinitis alergi adalah penyakit inflamansi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersinsetitasi dengan allergen
yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan
ulangan dengan allergen spesifik tersebut (Von Piqruet,1986).

Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its impact on Asthma) adalah
kelainan pada hidung dengan gejala bersin – bersin, rinore, rasa gatal dan
tersumbat setelah mukosa terpapar allergen yang diperantai oleh Ig E.

a. Penyebab timbulnya rhinitis

1) Rinitis alergi musiman (Hay Fever) umumnya


disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah seperti
benang sari dari tumbuhanyang menggunakan angin untuk
penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.
2) Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering
berada di rumah misalnya kutu debu rumah, debu perabot
rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang
menyengat.
b. Gejala – gejala
1) Bersin berulang-ulang sering kali pagi dan malam
hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).
2) Hidung mengeluarkan secret cair seperti air (runny
nose). Itu sebabnya penderita tidak bisa terlepas dari tisue
atau sapu tangan.
3) Terasa cairan menetes ke belakang hidung (post
nasal drip) karena hidung tersumbat.
4) Pada keadaan lanjut dapat menyebabkan gejala
hidung tersumbat serta batuk parah.
5) Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada
mata, telinga dan tenggorok.
6) Badan menjadi lemah dan tak bersemangat
7) Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian
belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun
secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata
berair, bersin-bersin dan hidung meler.
8) Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk
dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan
deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan
tidur. Jarang terjadi konjungtivitis.
9) Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah
kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat.
10) Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya
penyumbatan tuba eustakius di telinga, sehingga terjadi
gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak.
11) Bisa timbul komplikasi berupa sinusitis (infeksi
sinus) dan polip hidung.

c. Patofisiologi dan etoilogi rhinitis alergi

Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua


tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi.

1) Dua fase reaksi alergi

a) Immediate Phase Allergic Reaction. Berlangsung sejak


kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.

b) Late Phase Allergic Reaction. Reaksi yang berlangsung


pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam
setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

2) Berdasarkan cara msuknya allergen dibagi atas :

a) Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara


pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel
dari bulu binatang serta jamur
b) Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa
makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
c) Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau
tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah
d) Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan
kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau
perhiasan
d. Pengobatan
1). Terapi yang paling ideal adalah menghindari atau
meminimalkan kontak dengan allergen. Misalnya menghindari
penyebab terjadinya reaksi rinitis alergi. Contohnya menjaga
kebersihan rumah dan menghindari memakai alat atau bahan yang
mudah menyimpan debu misalnya karpet..
2). Simtomatis
(a). Medikamentosa
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamine H-
1,yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1
sel target.
(b). Operatif
Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior).
3). Imunoterapi
(a). Desensitisasi dan hiposensitisasi
Pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan
gejala yang berat dan sudah berlangsung lama.
(b). Netralisasi
Dilakukan untuk alergi makanan.Pada netralisasi,tubuh
tidak membentuk “blocking antibody”.
Komplikasi rhinitis alergi yang sering adalah
1. Polip hidung
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.
3. Sinusitis paranasal

2. Sinusitis
a. Definisi
Yang dimaksud dengan sinusitis adalah radang (proses inflamasi)
mukosa sinus paranasal (Mangunkusumo & Rifki, 2006) . Sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk
rongga di dalam tulang. bentuknya sangat bervariasi pada setiap individu.
Ada 4 pasang sinus paranasal mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila,
sinus frontal, sinus etmoid, dan sinus sphenoid. Sesuai dengan anatomi
sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi sinusitis maksila,
sinusistis etmoid, sinusitis frontal, sinusitis sfenoid.
b. Patofisiologi
Bila terjadi edema di kompleks osiometal, mukosa yang letaknya
berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan
lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi
di dalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang
diproduksi oleh mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media
yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan terus terjadi,
akan terjadi hipoksia dan retensi lendir, sehingga timbul infeksi oleh
bakteri anaerob. Selanjutnya bisa terjadi perubahan jaringan menjadi
hipertrofi, polipoid, dan kista.
1) Faktor predisposisi atau yang memperberat sinusitis adalah
sebagai berikut:
a) Obstruksi ostium sinus

Secara Fungsional di bagi menjadi 2 yaitu Inflamasi (Infeksi,


misalnya virus dan noninfeksi, misalnya rhinitis alergika) dan
Noninflamasi (Rhinitis medikamentosa dan Rhinitis pada
kehamilan).

Secara Mekanik dibagi menjadi 3 yaitu Polip atau tumor


hidung, benda asing, dan deviasi septum hidung atau hipertrofi
adenoid.

b) Gangguan pertahanan imun

Terbagi menjadi gangguan primer (defisiensi antibody dan


disfungsi netrofil) dan gangguan sekunder (kerusakan vaskular,
misalnya diabetes dan latrogenik, misalnya kemoterapi).

c) Klien mukus abnormal. Terbagi atas gangguan fungsi silia dan


mukus abnormal (fibrosis kistik)

c. Klasifikasi
Secara klinis sinusitis dapat sikategorikan sebagai sinusitis akut apabila
gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu; sinusitis
subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan; dan sinusitis
kronis apabila lebih dari 3 bulan.
Apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sinusitis akut
bila terdapat tanda-tanda radang akut; subakut bila tanda akut sudah reda
dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversible; kronis bila
perubahan histologik mukosa sudah irreversible, misalnya sudah berubah
menjadi jaringan granulasi atau polipoid.
1) Sinusitis akut
Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks
ostiometal oleh infeksi, obstruksi, alergi, atau infeksi gigi.
a) Penyebabnya
(1) Rinitis akut;

(2) Infeksi faring, misalnya faringitis, adenoiditis, tonsillitis


akut;

(3) Infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3, serta P1 dan P2
(dentogen);

(4) Berenang dan menyelam;

(5) Trauma, dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus


paranasal; dan

(6) Barotrauma, dapat menyebabkan nekrosis mukosa.

b) Gejala yang bisa timbul


(1) Gejala subjektif

Dapat dibagi menjadi dua, yaitu gejala sistemik dan gejala


lokal. Gejala sistemik seperti demam dan rasa lesu. Gejala lokal
pada hidung terdapat ingus yang kental dan berbau dan
dirasakan mengalir ke nasofaring, hidung tersumbat, nyeri di
daerah sinus yang terkena, kadang-kadang dirasakan juga di
tempat lain karena nyeri alih (referred pain).
(2) Gejala objektif
Pada pemeriksaan sinusitis akut akan tampak
pembengkakan di daerah muka. Pada rinoskopi anterior tampak
mukosa konka hiperemis, turbinat hidung membengkak dan
kemerahan. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di
nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit
akan menjadi suram dan gelap.
c) Pengobatan
Pasien dengan sinusitis akut akan mengalami perbaikan
simtomatik jika demam dan nyeri dikendalikan dengan analgetik,
antipiretik, atau seringkali dengan narkotika. Dapat juga dilakukan
terapi medikamentosa berupa antibiotika (dari golongan penisilin)
selama 10-14 hari, meskipun gejala klinik telah hilang. Diberikan
juga obat dekongestan lokal berupa tetes hidung untuk
memperlancar drainase sinus.
Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang dilakukan, kecuali
bila telah terjadi komplikasi ke daerah orbita atau intrakranial; atau
bila ada nyeri hebat karena ada sekret yang tertahan sumbatan.

2) Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut, hanya saja tanda-tanda
radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius
atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen pada
nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit
suram atau gelap.
a) Pengobatan
Untuk terapinya, mula-mula diberikan medikamentosa, bila
perlu dibantu dengan tindakan seperti diatermi dengan sinar
gelombang pendek (ultra short wave diathermy), sebanyak 5-6 kali
pada dearah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus, atau
pencucian sinus. Obat yang diberikan berupa antibiotika
berspektrum luas, atau yang sesuai dengan tes resistensi kuman,
selama 10-14 hari, analgetika, antihistamin, dan mukolitik. Dapat
diberikan juga obat-obat simtomastis berupa dekongestan lokal
(obat tetes hidung) untuk memperlancar drainase. Obat tetes hidung
hanya boleh diberikan selama 5-10 hari karena jika terlalu lama
dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa.

3) Sinusitis kronis
Berbeda dari sinusitis sebelumnya, sinusitis kronis lebih sulit
disembuhkan hanya dengan pengobatan medikamentosa, harus dicari
faktor penyebab dan faktor predisposisinya.
Awalnya, silia mengalami kerusakan menyebabkan terjadinya
perubahan mukosa hidung. Perubahan ini dapat disebabkan oleh
polusi bahan kimia, alergi, atau defisiensi imunologik. Perubahan
mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi
menjadi kronis apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna.

polusi bahan

silia rusak

gangguan perubahan
obstruksi mekanik alergi dan defisiensi

infeksi kronis

pengobatan infeksi akut


yang tak sempurna

Infeksi kemudian akan menyebabkan edema konka sehingga


drainase sekret terganggu dan dapat menyebabkan silia rusak dan
seterusnya.
a) Gejala yang mungkin timbul:
) Gejala subjekif

Sangat bervariasi dari yang ringan sampai berat, terdiri


dari:
(a)gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di
hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip);
(b) gejala faring, rasa tidak nyaman dan gatal di
tenggorokan;

(c)gejala telinga, pendengaran terganggu;

(d) adanya nyeri atau sakit kepala;

(e)gejala mata;

(f) gejala saluran napas berupa batuk dan kadang-


kadang terdapat komplikasi di paru-paru berupa
bronkitis atau asma bronkial atau bronkietas, sehingga
terjadi penyakit sinobronkitis; dan

(g) gejala saluran cerna.

(2) Gejala objektif

Tidak ditemukan adanya pembengkakan wajah. Pada


rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari
meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior
tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.
Mikroba yang ikut berperan menyebabkan infeksi adalah
kuman aerob S.aureus, S.viridans, H.influenzae, dan kuman
anaerob Peptostreptokokus dan Fusobakterium.
b) Pengobatan
Pada sinusitis kronis perlu diberikan terapi antibiotika untuk
mengatasi infeksi dan obat-obatan simtomatis lainnya. Antibiotika
diberikan sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu, dapat juga
dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari di
daerah sinus yang sakit. Tindakan lain yang dapat diberikan adalah
melakukan pembersihan sekret dari sinus yang sakit atau tindakan
lain yang dapat membantu memperbaiki drainase sekret.

3. Faringitis
a. Definisi
Faringitis adalah suatu radangan pada tenggorokkan (faring) yang
biasanya disebut juga dengan radang tenggorokkan.

b. Penyebab

Faringitis disebabkan oleh virus maupun bakteri, kebanyakan oleh


virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus,
mononukleosis atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah
streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria
gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.

c. Gejala dan tanda

Gejala faringitis yang ditimbulkan oleh bakteri maupun virus pada


umumnya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Selaput lendir
yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup
oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. selain itu
disertai demam dan pembesaran kelenjar getah bening di leher dan peningkatan
jumlah sel darah putih.

d. Jenis faringitis

Faringitis Virus Faringitis Bakteri


Biasanya tidak ditemukan Sering ditemukan nanah di
nanah di tenggorokan tenggorokan
Demam ringan atau tanpa Demam ringan sampai
demam sedang
Jumlah sel darah putih Jumlah sel darah putih
normal atau agak meningkat ringan sampai
meningkat sedang
Kelenjar getah bening Pembengkakan ringan
normal atau sedikit sampai sedang pada kelenjar
membesar getah bening
Tes apus tenggorokan
Tes apus tenggorokan
memberikan hasil positif
memberikan hasil negatif
untuk strep throat
Pada biakan di
Bakteri tumbuh pada biakan
laboratorium tidak tumbuh
di laboratorium
bakteri
e. Pengobatan
Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri
(analgetik) seperti asetaminofen, obat hisap atau berkumur dengan larutan
garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja
yang berusia dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye.
Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Penting
bagi penderita untuk meminum obat antibiotik sampai habis sesuai anjuran
dokter, agar tidak terjadi resistensi pada kuman penyebab faringitis.
Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam
rematik), jika penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika
penderita memiliki alergi terhadap penicillin bisa diganti dengan
erythromycin atau antibiotik lainnya.

4. Tonsilitis
a. Klasifikasi tonsillitis
Tonsillitis akut

Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A


STREPTOKOKUS Βhemolitikus, pneumokokus, Streptokokus viridian
dan Streptokokus piogenes. Hemofilusvinfluenzae merupakan penyebab
tonsillitis akut supiratif. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan
tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit
polimorfonuklear sehingga terbantuk detritus. Detritus ini merupakan
kumpulan leukosit, bakteri yg mati dan epitel yang terlepas. Secara
klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak
kuning.

Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis


folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk
alur-alur maka akan terjadi tonsillitis lakunaris.

a) Gejala dan tanda

Nyeri tenggorokan dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu


tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu
makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Pada pemeriksaan tampak
tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbenuk
folikel, lacuna atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar
submandibula membengkak dan nyeri tekan.

b) Pengobatan

Terapi. Antibiotika spectrum lebar atau sulfonamide, antipiretik


dan obat kumur yang mengandung desinfektan.

c) Komplikasi

Pada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut.


Komplikasi tonsillitis akut lainnya adalah abses peritonsil, abses
parafaring, sepsis, bronchitis, nepritis akut, miokarditis serta atritis.

2) Tonsillitis membranosa

a) Tonsillitis difteri

Penyebab tonsillitis difteri ialah kuman Coryne bacterium


diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran
nafas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring. Tonsillitis difteri
sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan
frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa
masih mungkin menderita penyakit ini.

(1) Gejala dan tanda

(a) Gejala umum, kenaikan suhu tubuh biasanya


subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah,
nadi lambat serta keluhan nyeri menelan.

(b) Gejala lokal, tonsil membengkak ditutupi bercak


putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu
membentuk membrane semu. Bila infeksinya brjalan terus,
lelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian
besarnyasehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck)
atau disebut juga Burgemeester’s hals.

(c) Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh


kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan
tubuh yang pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai
decompensation cordis, mengenai saraf cranial
menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot
pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria.

(2) Diagnosis

Berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat


langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membrane
semu dan didapatkan kuman Coryne bacterium diphteriae.

(3) Terapi

(a) Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa


menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000-100.000 unit tergaantung dari
umur dan beratnya penyakit.

(b) Antibiotika Penisilin atu Eritromisin 25-50 mg per kg berat


badan dibagi dalam 3 dosis selama 14 hari.

(c) Kortikosteroid 1,2 mg per kg berat badan per hari.

(d) Antipiretik untuk simtomatis.

(e) Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi.


Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu.

(4) Komplikasi

(a) Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membrane


semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda
pasien makin cepat timbul komplikasi ini.

(b) Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau


dekompensasio cordis.

(c) Kelumpuhan otot platum mole, otot mata untuk


akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan
menelan, suara parau dan kelumpuhan otot=otot pernapasan.

(d) Albuminoria sebagai akibat komplikasi ke ginjal


b) Tonsillitis septik

Penyebabnya adalah Streptokokus hemolitikus yang terdapat


dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemi.

c) Angina Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa)

Penyebabnya adalah kurangnya hygiene mulut, defisiensi


vitamin C serta kuman spirilum dan basil fusi form.

(1) Gejala

Demam sampai 39˚̊̌̊ C, nyeri kepala, badan lemah dan


kadang-kadang terdapat ganguan pencernaan. Rasa nteri di
mulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah.

(2) Pemeriksaan

Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane


putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta
prosesus alveolaris, mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar
sub mandibula membesar.

(3) Terapi

(a) Memperbaiki hygiene mulut.

(b) Antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu.

(c) Vitamin C dan vitamin B kompleks.

d) Penyakit kelainan darah

Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina


agranulositosis san infeksi mononucleosis timbul di faring atau tonsil
yang tertutup membrane semu. Kadang-kadang terdapat pendarahan
di selaput lender mulut dan faring dan pembesaran lelenjar
submandibula.

(1) Leukemia akut


Gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan di
mukosa mulut, gusi dan di bawah kulit sehingga kulit tampak
bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membrane semu
tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorokan.

(2) Angina agranulositosis

Akibat keracunan obat dari golongan amidopirin, sulfa dan


arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan
faring dan disekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga
dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna.

(3) Infeksi mononucleosis

Terjadi tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral.


Terdapat pembesaran kelenjar limfa leher ketiak dan
regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit
mononukleus dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain ialah
kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah
merah domba (reaksi Paul Bunnel)

3) Tonsillitis kronis

Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan


yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut,
pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang
tidak adekuat. Kuman penyebabnya sama dengan tonsillitis akut tetapi
kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan Gram
negative.

a) Patologi

Karena proses rdang berulang yang timbul maka selain epitel


mukosa juga jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses
penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan
mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti
ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga
menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulakan perlekatan
dengan jaringan disekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini
disertai pembesaran kelenjar limfa submandibula.

b) Gejala dan tanda

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan


yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisis oleh
detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, tenggorok
dirasakan kering dan napas berbau.

c) Terapi

Terapi local ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur


atau obat isap.

d) Komplikasi

Dapat menimbulakan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa


rhinitis kronis, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatium.
Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat
timbul endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridoksilitis,
dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.

Tonsiloktemi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau


kronik, gejala sumbatan serta kecurigaan neoplasma.

(1) Indikasi tonsilektomi

(a) Sumbatan

1. Hyperplasia tonsil dengan sumbatan jalan napas

2. Sleep apnea

3. Gangguan menelan

4. Gangguan berbicara

5. Cor pulmonale

(b) Infeksi

1. Infeksi telinga telah berulang


2. Rhinitis dan sinusitis yang kronis

3. Peritonsiler abses

4. Abses kelenjar limfa leher berulang

5. Tonsillitis kronis dengan gejala nyeri tenggorok yang


menetap

6. Tonsillitis kronis dengan napas bau

7. Tonsil sebagai fokal infeksi dari organ tubuh lainnya.

(2) Kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas

5. Laringitis

a. Definisi
Laringitis adalah peradangan pada laring yang terjadi karena banyak
sebab. Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak
menggunakan suara, pemajanan terhadap debu, bahan kimiawi, asap, dan
polutan lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran nafas atas.
Kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi yang terisolasi yang hanya
mengenai pita suara.

b. Patofisiologi
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri
mungkin sekunder. Laringitis biasanyan disertai rinitis atau nasofaring.
Awitan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan
suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada immunitas.
Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini
terjadi seiring
Dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus
yang meningkat. Laringitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan
infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan
iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mucus untuk
memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas.
Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa
menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya inflamasi pada
laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran
mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan
suhu tubuh.
c. Tanda – tanda
Laringitis akut ditandai Dengan suara serak atau tidak dapat
mengeluarkan suara sama sekali (afonia) dan batuk berat. Laringitis kronis
ditandai Dengan suara serak yang persisten. Laringitis kronis mungkin
sebagai komplikasi dari sinusitis kronis dan bronchitis kronis.

E. Konsep Penyakit rhinitis alergi

1. Definisi
Rinitis alergi adalah penyait imflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan
allergen yang sama,serta dilepaskannya mediator kimia ketika terjadi
paparan ulangan denagn allergen spesifik tersebut(Von pirquet 1986).

2. Tanda dan gejala


Bersin-bersin,rinore,rasa gatal,tersumbat,nyaeri kepala,tekanan
pasial,kongesti.

3. Macam – macam rhinitis


a). Rinitis berdasarkan sifat berlangsungnya
b). Rinitis alergi musiman;penyebabnya tepung sari,dan spora
jamur.timbulnya periodik sesuai denagn musim,pada waktu konsentrasi
alergen terbanyak di udara.
c). Rinitis alergi sepanjang tahun; penyebab yang paling sering adalah
alergen inhalan dan alergen ingestan.

4. Rinitis berdasarkan sifat berlangsungnya (WHO)


a). Intermiten(kadang-kadang);bila gejala kurang dari empat
hari/minggu atau kuarang dari empat minggu.
b). Persisten(menetap);bila gejala lebih dari empat hari/minggu atau
lebih dari empat minggu.
5. Rrinitis berdasarkan berat-ringan nya
a). Ringan. Bila tidak ditemukan gangguan tidur,gangguan aktifitas
harian,bersantai,berolahraga,belajar,bekerja dll.
b). Sedang atau berat;bila terdapat satu atau lebih dari gangguan
tersebut.
6. Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas :
a). Alergen inhalan. Alergen inhalan adalah alergen yang masuk
bersama udara pernapasan, misal debu rumah, tungau, serpihan epitel,
bulu binatang, jamur.
b). Alergen ingstan ; yang masuk ke saluran cerna,berupa
makanan.misalnya susu,telur,coklat,udang,ikan.
c). Alergen injertan ;yang masuk melalui tusukan atau
suntikan,misalnya penisilin dan sengatan lebah.
d). Alergen kontaktan;yang masuk melalui kontak kulit atau jeringan
mukosa. Misalnya bahan kosmetik,perhiasan.

7. Patofisiologi
Rinitis alergi merupakan statu penyakit imflamasi yang di awali denag
tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi.

8. Reaksi alergi

1. reaksi alergi fase cepat(immediate phase allergic reaction)


Berlasung sejak kontak langsung denagan alergen sampai satu jam
setelahnya.

Alergen

makrofag/monosit

melepas sitokinin(IL1)
pragmen pendek peptida
mengaktifkan Th0

komplek peptida MHC klsII Th1danTh2

IL3,IL4,IL5,IL13
Sel T helper(Th0)

diikat sel limfosit B

menhasilkan IgE

masuk ke jaringan diikat o/reseptor IgE

mastosit/basofil jd aktif

histamin & prostaglandin

merangsang ujung hipersekresi+permeabilitas


saraf vidianus kel.mukosa

gatal,bersin,rinorea

2. alergi fase lambat (late phase allergic reaction)

Ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel imflamasi


(eosinofil, limfosit, netrofil, basofil, mastosit), peningkatan sitokinin (IL3,
IL4, IL5) dan GMCSF dan ICAM1.
a. Ada tiga reaksi :
1). Respon primer (non spesifik) .Terjadi proses eliminasi dan
fagositosis antigen(Ag).bila tidak berhasil seluruhnya
dihilangkan,reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.
2). Respon sekunder(spesifik). Mempunyai tiga kemungkinan ialah
sistem imunitas selular atau humoral atau keduanya
dibangkitkan.bila berhasil dieliminasi maka reaksi selesai,tapi jika
Efek dari sistem imunologik maka berlanjut ke tahap tersier.
3). Respon tersier. Dapat bersifat sementara/menetap tergantung
dari daya eliminasi Ag oleh tubuh.
b. Diagnosa rinitis alergi ditegakan berdasarkan :
1). Anamnesis. Anamnesis sangat penting,karena sering kali
serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa.hampir 50% diagnosis
dapat ditegakkan dari anamnesisi saja.
2). Pemeriksaan rinoskopi anterior. Pada rinoskopi anterior tampak
mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya
sekret encer yang banyak.
3). Pemeriksaan neso endoskopi
4). Pemeriksaan sitologi hidung. Ditemukan eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukan kemungkinan alergi inhalan.
5). Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.
6). Uji kulit, alergen penyebab dapat dicari secara invivo.
c. Komplikasi-komplikasi rinitis alergi yang sering terjadi:
1). Polip hidung
2). Otitis media yang sering residif,terutama pada anak-anak
3). Sinusitis paranasal

F. Proses keperawatan
1). Pengkajian yang dapat dilakukan
Riwayat kesehatan anak mengikuti garis besar yang sama seperti riwayat
kesehatan pada orang dewasa, dengan tambahan tertentu yang disajikan.
a). Identifikasi data
Tempat tanggal lahir, nama kecil, nama depan orang tua, usia
b). Keluhan utama. Keluhan-keluhan ini merupakan pokok masalah dari
anak, orang tua, guru, di sekolah atau dari orang lain.
c). Riwayat penyakit saat ini. Bagaimana setiap anggota keluarga
merespon terhadap adanya gejala-gejala yang dialami oleh anak
d). Riwayat kesehatan dahulu
e). Riwayat kesehatan keluarga
(1). Riwayat kelahiran
(a). Prenatal – kesehatan ibu, pengobatan, penggunaan alcohol
atau obat terlarang, perdarahan vagina, penambahan berat badan,
lamanya kehamilan
(b). Natal – sifat persalinan dan kelahiran, berat badan lahir
(c). Neonatal – upaya resusitasi, sianosis, ikterik, infeksi.
(2). Riwayat pemberian makan
(a). Menyusui : Frekuansi dan lamanya menyusui, kesulitan yang
ditemukan
(b). Pemberian makanan tambahan : jenis, jumlah, frekuensi,
muntah kolik, diare, suplemen vitamin, zat besi, dan florida,
(c). Pemberian makanan padat : Kebiasaan makan – kesuakaan
atau ketidaksukaan, jenis dan jumlah makanan yang dimakan;
sikap dan respon orang tua
(3). Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
(a). Pertumbuhan fisik – berat badan, tinggi badan, dan lingkar
kepala saat lahir dan usia 1, 2, 5, dan 10 tahun.
(b). Perkembangan – usia anak ketika dapat mengangkat kepala,
berbalik, mundur, duduk, berjalan, dan berbicara.
(c). Perkembangan sosial – pola tidur siang dan malam hari, toilet
training, masalah-masalah wicara, perilaku kebiasaa, masalah-
masalah disiplin, performa sekolah, hubungan dengan orangtua,
saudara sekandun, dan teman sebaya.
f). Status kesehatan terakhir
1). Alergi, perhatian khusus pada alergi-alergi yang diamali saat masa kanak-
kanak
2). Imunisasi, termasuk tanggal diberikan dan reaksi-reaksi yang timbul
3). Uji skrining, uji penglihatan, pendengaran, kolesterol, tuberkolosis,
golongan darah, penyakit sel sabit, dan kelaian metabolisme sejak lahir

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
Berdasarkan dengan kasus yang ada, pasien A 13 tahun dengan keluhan
bersin yang terus menerus, rhinorea, nyeri kepala di daerah frontal, adanya rasa
gatal di hidung dan mata, lakrimasi. Pasien tersebut mengalami hal yang demikian
saat musim kemarau ketika banyak debu dijalanan dan ia juga mengalami
penurunan berat badan yang disebabkan adanya anoreksia. .
Sehingga kami menyimpulkan bahwa pasien A mengalami rhinitis alergi.
Karena ia mengalami bersin yang terus – menerus, sekretnya pun encer,
mengalami sakit kepala. Selain itu timbul rasa gatal pada hidung dan mata yang
disebabkan oleh H1 yang dirangsang oleh histamin sehingga timbulah rasa gatal
tersebut.
Berikut di bawah ini adalah Rencana Asuhan Keperawatan terkait dengan
kasus rhinitis.

Pengkajian
a. Penelurusan data subjektif dan objektif
Data objektif :
• Tekanan Darah ( 100/60 mmHg )
• Respiratory Rate 30x/menit irregular
• Sekret encer
Data subjektif :
• Bersin, rhinorea
• Nyeri kepala bagian frontal
• Gatal di hidung mata, lakrimasi

b. Identifikasi Data
Nama : Saudara A
TTL : -
Nama kecil : -
Nama Orang tua : -
c. Keluhan utama
Bersin terus-menerus, rhinorea, nyeri kepala di daerah frontal, adanya rasa
gatal di hidung dan mata, lakrimasi
d. Riwayat Kesehatan masa lalu
1. Riwayat kelahiran : -
2. Riwayat pemberian makan : -
3. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan : -
e. Riwayat kesehatan sekarang : Rhinitis
f. Status kesehatan terakhir
1. Alergi : -
2. Imunisasi : -
3. Uji skrining : -
g. Data-data tambahan yangperlu dikaji
1. Riwayat Keluarga : -
2. Riwayat Psikososial, meliputi :
3. Situasi Rumah dan Orang terdekat : -
4. Kehidupan sehari-hari :
5. Agama : -
6. Su :
a) Pemeriksaan fisik
(1) Pemeriksaan hidung luar
Rinoskopi anterior (inspeksi)
Pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan memakai speculum
hidung. Di belakang vestibulum dapat dilihat bagian dalam hidung. Hal
– hal yang harus diperhatikan pada rinoskopi anterior ialah :
(a) Mukosa. Dalam keadaan normal mukosa bewarna merah muda.
Pada raddang bewarna merah, sedangkan pada alergi akan
tampak pucat / kebiru – biruan (livid).
(b) Septum (palpasi). Biasanya terletak ditengah dan lurus.
Diperhatikan apakah terdapat defiasi, Krista, spina, perforasi,
hematoma, abses, dan lain – lain.
(c) Konka. Diperhatikan apakah konka besarnya normal (eutrofi),
hipertrofi, hipotrofi atau atrofi
(d) Sekret. Bila ditemukan sekret di dalam rongga hidung, harus
diperhatikan banyaknya, sifatnya (serus, mukoid, mukokurulen,
kurulen, atau bercampur darah) dan lokalisasinya (meatus
inferior), medius (superior). Adanya sekret yang encer dan
banyak.
(e) Massa. Massa yang sering ditemukan dalam rongga hidung
adalah polip dan tumor. Pada anak dapat ditemukan benda
asing.
(2) Rinoskopi Posterior (inspeksi). Adalah pemeriksaan rongga hidung
dari belakang, dengan menggunakan kaca nasofaring. Dengan
mengubah – ubah posisi kaca, kita dapat melihat koana, ujung
posterior septum, ujung posterior konka, sekret yang mengalir dari
hidung ke nasofaring (post nasal drip), torus tubarius, ostium tuba
dan fosa rosenmuller.
(3) Pemeriksaan sitologi hidung. Ditemukannya eosinofil dalam
jumlah banyak menunjukan kemungkinan alergi inhalan. Jika
basofil (5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan
jika ditemukan sel PMN menunjukan adanya infeksi bakteri.
(4) Perkusi dengan cara periksa nyeri tekan sinusitis
(5) Periksa indra penghidu.

G. Aspek pendidikan kesehatan yang akan diberikan sesuai kasus diatas

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Pentingnya menjaga lingkungan demi terjaminnya kesehatan


Tujuan institusional :

Terciptanya keluarga yang lebih mengutamakan kebersihan lingkungan.

Tujuan instruksional umum:

Terciptanya keluarga yang lebih mengutamakan kebersihan lingkungan agar


terhindar dari penyakit.

Tujuan instruksional khusus:

1. Peserta didik mengetahui pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.


2. Peserta didik mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar untuk
mencegah penyebaran kuman penyakit
3. Peserta dapat menerapkan pelaksanaan mencuci tangan yang baik dan
benar dalam kehidupan sehari – hari.
4. Peserta didik mampu menerapkan pembuangan sampah pada tempatnya
guna menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Know

• Peserta didik diharapkan mengetahui pentingnya menjaga kebersihan


lingkungan untuk mencegah tumbuh kembangnya kuman penyakit.
• Peserta didik diharapkan mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan
benar untuk mencegah penyebaran kuman penyakit.

Do

• Diharapkan peserta didik mau menerapkan materi tentang pentingnya


menjaga kebersihan lingkungan dalam bentuk nyata
• Melakukan cuci tangan setelah membuang sputum.

Show
• Diharapkan peserta didik memperhatikan penyuluhan dengan seksama.
• Peserta didik diharapkan dapat menunjukan antusiasme ketika diberikan
materi penyuluhan
• Peserta didik diharapkan dapat mengajukan pertanyaan setelah diberikan
penyuluhan

H. Penelitian terkait

Akupuntur dan rhinitis

Efek dari terapi akupuntur yang diterapkan kepada pasien dengan usia 15 –
45 tahun yang kedua kelompok umur tersebut mengalami penyakit rhinitis alergi.
Terapi akupuntur ini telah dibandingkan dengan terapi antihistamin konvensional.
tanda – tanda yang menunjukan kemajuan dan penemuan laboratorium
membuktikan bahwa kedua terapi ini baik untuk pasien rhinitis. Namun, terapi
akupuntur lebih baik dan memiliki efek yang panjang.
Subyek dari pemeriksaan psikosomatik ini adalah pasien dengan vasomotor
rhinitis (28) dan pollenosis (23) dan keduanya diberikan akupuntur atau
phonostimulation khusus. Akupunktur dilakukan setelah metode klasik dalam
phonostimulation kepada 22 orang pasien dari 29 orang. Hasil evaluasi yang
berdasarkan tes laryngological dan appraisals dianjurkan kepada pasien yang
memiliki masalah – masalah khusus. Kondisi Pollenosis tidak dapat berubah
dengan perawatan. Pada vasomotor rhinitis, factor – factor psikis sangatlah
penting. Diawal perawatan, Beberapa pasien biasanya menunjukan peningkatan
sedangkan beberapa penderita tidak menunjukan perubahan.efek ini mungkin
dapat menjadi saran untuk penelitian ini.
Tujuan proyek uji coba ini adalah untuk mengevaluasi efek langsung dari
akupunktur dibandingkan dengan kontrol placebo dua (sham akupunktur dan
paling transcutaneous stimulasi listrik saraf) dalam perawatan pasien nonallergic
rhinitis. Ketiga perawatan ini diberikan sama rata untuk pasien yang sama selama
beberapa minggu.
Ternyata Akupunktur menunjukkan peningkatan dalam ketahanan saluran
udara dalam hidung setelah perawatan pada 9 dari 13 pasien, sham akupunktur
pada 2 dari 9 pasien , dan tiruan aliran listrik di syaraf stimulasi pada 3 dari 10
pasien. Panduan pembelajaran ini mengemukakan sejumlah isu yang berhubungan
dengan efek dari akupunktur pada rhinitis nonalergi yang harus diatasi oleh
sebuah studi yang melibatkan lebih banyak pasien yang di urutkan secara acak
dalam pengobatan dan perawatan kontrol placebo dua dievaluasi dalam kaitannya
dengan kredibilitas mereka.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1) Kesimpulan
Setelah mengkaji kondisi pasien dan mempelajari macam – macam penyakit
saluran atas pernafasan, kami dapat menyimpulkan bahwa penyakit – penyakit
tersebut memiliki gejala yang hampir mirip, namun tetap terdapat perbedaan dari
masing – masing penyakit.
Pada penyakit rhinitis dapat ditemukan adanya sekret yang cair, sakit kepala,
bersin yang terus – menerus. Sedangkan pada penyakit yang lain (faringitis,
laringitis, tonsillitis, dan sinusitis), gejala – gejala tersebut tidak sepenuhnya
muncul, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien tersebut mengalami
penyakit rhinitis alergi.
Rhinitis alergi dapat muncul jika lingkungan tempat tinggal kita tidak besih,
sehingga dapat menimbulkan alergi pada hal – hal tertentu. Dengan menjaga
lingkungan, kita dapat terhindar dan meminimalisir timbulnya penyakit.
2) Saran
Kami menyarankan kepada masyarakat agar menjaga kebersihan
lingkungannya agar terhindar dari penyakit pernafasan. Selain itu, sebaiknya
sebelum makan kita mencuci tangan terlebih dahulu untuk membunuh kuman dan
penyakit sehingga memutuskan rantai penyebaran penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi.2008. konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.Jakarta:Salemba


Medika.
Cherniack. 1997. Terapi mutakhir penyakit saluran pernapasan. Jakarta: Binarupa
Aksara.

Gleadle, J.2003. At a Glance Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Erlangga

Soepardi & Iskandar. 2006. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala leher edisi ke lima. Jakarta: Gaya Baru

Soepardi, E.A.2006.Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima.Jakarta:FKUI


Watson, Roger.2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Jakarta :EGC

Doenges, M.E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


dan {endokumentasian P rawatan Pasien.Jakarta : EGC

http://arbaa-fivone.blogspot.com/2009/02/rinitis.html

.
http://www.dkk-bpp.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=125&Itemid=47

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/laringitis/

http://www.internethealthlibrary.com/Health-problems/Rhinitis%20-
%20researchAltTherapies.htm
http://medicastore.com/penyakit/782/Rinitis_Alergika_Pereneal.html

http://www.medicastore.com/index.php?mod=iklan

http://myscienceblogs.com/kids/2007/11/02/bersin-mengeluarkan-40000-butir-
penyebab-penyakit

www.klikdokter.com/illness/detail/197

www.kabarindonesia.com/berita.php?
pil=3&jd=Tips+Praktis+Mengenali+Faringitis+Bakteri&dn=20081204085825

www.surabaya-ehealth.org/content/tips-cegah-penyakit-rinitis-alergi-dan-
rinosinusitis