Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL SKRIPSI

PENGEMBANGAN BENTUK BADAN KAPAL PENANGKAP IKAN 11-12 GT DI LOHGUNG, BRONDONG, LAMONGAN

Oleh:

IIS LIYANATUL ULWIYAH


NIM. 2007.02.1.0005

JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA 2011

Proposal Skripsi

PROPOSAL SKRIPSI
Judul : Pengembangan Bentuk Badan Kapal Penangkap Ikan 1112 GT di Lohgung, Brondong, Lamongan Oleh NIM : Iis Liyanatul Ulwiyah : 2007.02.1.0005

Jurusan / Prodi : Teknik Perkapalan


Telah diseminarkan pada :

Hari Tanggal Tempat

: Kamis : 21 April 2011 : Ruang Seminar Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang Tuah Surabaya

Mengetahui / menyetujui : Dosen Pembimbing :

1. Ali Munazid, S.T., M.T. 2. Ir. Didik Hardianto, M.T.


Dosen Penguji :

1. ___________ 2. ___________

1. H. Broto Sasongko, M.Sc 2. Ir. P.Darma Adjie 3. Bagiyo Suwasono, S.T.,M.T. 4. Tri Agung K. S.T.,M.T.

1. ___________ 2. ___________ 3. ___________ 4. ___________

Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Perkapalan

Nur Yanu Nugroho, S.T., M.T.

NIK. 01147
Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

ii

Proposal Skripsi

ABSTRAK
Kapal penangkap ikan yang ada di Brondong, Lamongan dibuat oleh para pengrajin atau pembuat kapal dengan hanya mengandalkan keahlian yang didapat dari nenek moyang mereka secara turun temurun. Kapal tersebut dibuat dengan peralatan seadanya dan tidak terstruktur dengan baik. Sehingga para pengrajin kapal ini cenderung tidak mengetahui dan memperhatikan faktor keselamatan dari kapal dan awaknya, kemampuan kapal, dan geometri kapal. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana membuat kapal yang bisa mengangkut muatan sebanyakbanyaknya. Maka kapal penangkap ikan yang mereka buat cenderung memiliki Coefisien Blok besar. Ini tentu saja akan memperbesar tahanan kapal sehingga akan boros terhadap bahan bakar. Selain itu kemampuan maneuver kapal akan rendah. Apalagi setiap kali melaut ruang muat rata-rata hanya terisi (60-80)%. Pada Tugas Akhir ini akan dilakukan pengembangan bentuk badan kapal penangkap ikan 11-12 GT di Desa Lohgung, Brondong, Lamongan dengan variasi berbagai bentuk badan kapal, yaitu bentuk Parallel Equilibrium (Flat Bottom), bentuk penuh (U-Bottom), bentuk tajam (V-Bottom), berbentuk yang menyerupai huruf U dengan garis kaku dan biasa (Akatsuki), dan bentuk badan kapal yang berbentuk kurva melengkung (Round Bottom). Pengembangan dilakukan dengan cara memvariasikan bentuk asli ke berbagai bentuk tadi. Kemudian dianalisa dan dihitung ulang tahanan dan stabilitas kapal menggunakan model 3D berupa Maxsurf pro (Hull Speed Pro dan Hydromax Pro). Tugas Akhir ini dilakukan untuk mencari alternatif terbaik bagi performa kapal tanpa merubah displacement kapal tersebut, dengan harapan kapal bisa lebih efisien dan beroperasi dengan maksimal. Selain itu dengan Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ide dan desain kapal penangkap ikan yang benar-benar efisien untuk dioperasikan di daerah tersebut.

Kata kunci : Pengembangan bentuk, bentuk badan kapal, kapal penangkap ikan.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

iii

Proposal Skripsi

DAFTAR ISI

Cover..... i Lembar Pengesahan........... ii Abstrak ............................. iii Daftar Isi.... iv

BAB I.

BAB II.

BAB III.

Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah... 1.3. Tujuan .... 1.4. Batasan Masalah .... Tinjauan Pustaka.. 2.1. Perencanaan Kapal.. 2.2. Kapal Penangkap Ikan............ 2.3. Gross Tonnage (GT) 2.4. Lines Plan... 2.5. Stabilitas Kapal... 2.6. Tahanan Kapal.... 2.7. Maxsurf Pro Metodologi Penelitian...... 3.1. Flow Chart.. 3.2. Metode Pelaksanaan... 3.3. Jadwal Kegiatan..

1 1 2 2 2 4 4 5 6 7 9 10 11 12 12 13 15

Daftar Pustaka 16

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

iv

Proposal Skripsi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kapal penangkap ikan dipergunakan oleh nelayan (penangkap ikan) sebagai sarana yang membantu dalam menangkap ikan, termasuk di dalam kapal penangkap ikan tersebut juga difungsikan sebagai alat untuk menyimpan ikan, menampung dan mengangkut ikan, serta mendinginkan atau mengawetkan ikan hasil tangkapan. Bentuk badan kapal penangkap ikan di Indonesia itu memiliki ciri khas tersendiri di mana antara satu daerah memiliki bentuk berbeda dengan daerah yang lainnya. Hal ini dikarenakan para pengrajin kapal di tiap daerah membuat kapal dengan mengandalkan keahlian secara turun-temurun, artinya kapal-kapal tersebut dibangun berdasarkan pengalaman tanpa perhitunganperhitungan yang pasti sebagaimana layaknya pembuatan kapal secara modern. Pembuatan kapal secara tradisional biasanya tidak didasari pada perencanaan dan perhitungan yang jelas sehingga dalam pembuatannya selalu ada perubahan karakteristik pada bentuk kapal (Tangke, 2009), dan tentu saja kemampuan kapal saat beroperasi di laut. Contohnya yaitu kapal penangkap ikan di daerah Brondong Lamongan. Ciri khas yang dimiliki oleh kapal penangkap ikan di Brondong adalah memiliki lambung yang gemuk (Coefficient Block/ Cb besar). Nilai Cb sendiri merupakan koefisien bentuk lambung kapal yang artinya bila nilai Cb mengecil maka kapal tersebut akan bergerak cepat sedangkan kapal dengan nilai Cb yang besar atau mendekati 1,0 merupakan kapal yang bergerak dengan kecepatan yang lambat (Tangke, 2009). Pertimbangan awal mereka dalam membuat kapal adalah agar dengan cb yang besar dapat menghasilkan displacement yang besar pula sehingga muatan juga dapat lebih banyak, selain itu stabilitas kapal memang lebih baik. Akan tetapi apabila desain bentuk badan kapal tersebut dipertahankan, maka tahanan kapal yang dihasilkan oleh kapal juga akan semakin besar. Dalam praktek, air dianggap tak mampu menahan tegangan tarik. Sehingga untuk

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

mencapai kecepatan yang sama akan dibutuhkan mesin dengan daya yang lebih besar. Ini tentunya akan sangat merugikan karena semakin besar dayanya maka berpengaruh pada harga mesin yang mahal dan konsumsi bahan bakarnyapun juga ikut semakin besar. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis berkeinginan mendapatkan bentuk badan kapal penangkap ikan tradisional 11-12 GT di daerah Lohgung, Brondong, Lamongan yang optimum. Dengan dihasilkannya bentuk badan kapal yang optimum, maka diharapkan kapal penangkap ikan tradisional memiliki kapasitas muatan yang cukup besar, dengan tahanan yang kecil, stabilitas yang baik, serta olah gerak kapal yang baik pula. 1.2. Rumusan Masalah Kapal penangkap ikan (terutama kapal penangkap ikan 11-12 GT) yang ada di daerah Brondong Lamongan kebanyakan dibuat tanpa perencanaan yang baik terutama pada bagian lambung sehingga kapal tersebut tidak efisien pada saat operasional. Dari hal tersebut, rumusan masalah yang dapat diambil adalah bagaimana desain bentuk badan kapal penangkap ikan 11-12 GT di desa Lohgung, Brondong, Lamongan yang optimal agar kapal bisa memiliki performa yang baik setelah dilakukan analisa dari beberapa bentuk badan kapal di perairan Brondong. 1.3. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bentuk badan kapal penangkap ikan 11-12 GT yang optimal di daerah Brondong, Lamongan, dengan performa yang baik. 1.4. Batasan Masalah Untuk menyederhanakan pembahasan masalah yang terjadi dalam penelitian agar lebih terfokus dan terarah, maka dalam hal ini batasan masalah yang diambil adalah : 1. 2. Kapal yang digunakan adalah Kapal penangkap ikan 11-12 GT, Hasil analisa hanya berupa gambar bentuk badan 3 dimensi dan juga gambar lines plan hasil simulasi dari software.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

3.

Bahasan masalah konstruksi dan permesinan, tidak dibahas secara mendalam. Hasil tangkapan, ketahanan ikan serta analisa ekonomis juga tidak dibahas.

4.

Definisi performa kapal yang dimaksud dalam penulisan tugas akhir ini meliputi tahanan kapal dan stabilitas kapal.

5.

Perhitungan performa kapal menggunakan pendekatan teoritis yang dikerjakan dengan paket perhitungan yang telah terintegrasi pada software Maxsurf 11 yaitu : a. b. Hullspeed 11 untuk perhitungan tahanan kapal Hydromax 11 untuk perhitungan stabilitas

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perencanaan Kapal Seni dan keterampilan tangan dikembangkan selama beberapa ribu tahun tidak digantikan ilmu pengetahuan. Akan tetapi seni terbukti tidak cukup untuk menghindari bencana laut, maka kebutuhan terhadap pendekatan ilmiah dirasa perlu. Ilmu pengetahuan menyumbangkan banyak kontribusi untuk mengurangi kelemahan-kelemahan, tetapi ilmu pengetahuan tetap

memerlukan masukan-masukan pegalaman dan kebiasaan yang membawa pada sebuah keberhasilan. (Munazid, 2010) Ilmu pengetahuan menghasilkan dasar yang benar untuk perkapalan, nilai yang tepat dari kriteria-kriteria yang menentukan keberhasilan kerjanya tetap berdasarkan kebaiasaan sebelumnya yang berhasil. Ketika alat yang akurat telah dikembangkan keterampilan ditinggalkan. Pada dasarnya perancang kapal dalam merencanakan memperhitungkan keselamatan kapal, geometrik dan kemampuan kapal, meskipun hal-hal tersebut bukan keputusan yang ekslusif. Dengan keselamatan kapal, perancang kapal memperhitungkan kapal tidak tenggelam atau rusak. Perancang harus yakin kapal cukup kuat, perancang harus memikirkan awak kapal dan yang lainnya. Oleh karena itu, perencana dalam merencanakan melibatkan kompromi yang komplek mulai dari faktor keselamatan, kemampuan, sampai geometri kapal (Tawekal, dalam Munazid, 2010). Design adalah proses-proses penyusunan konsep, pencetusan ide-ide baru, visualisasi, perhitungan, penyusunan bagian-bagian, penghalusan dan penentuan detail untuk menentukan bentuk dari sebuah produk engineering (French, 1985), sedangkan menurut Evans (1959) ada 4 tahap atau langkah dalam proses design kapal meliputi yang dijelaskan pada metode Design Spiral, dimana proses ship design merupakan suatu proses iterasi (proses yang dilakukan berulang-ulang) mulai dari mission requirement sampai dengan detail design, seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.1 :

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

Gambar 2.1. Design Spiral (Evans,1959)

2.2. Kapal Penangkap Ikan Kapal ikan merupakan kapal yang dipergunakan sebagai sarana untuk menunjang operasi penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian atau eksplorasi perikanan (UU No.31, Th. 2004) Kapal ikan terdiri dari kapal penangkap ikan dan kapal bukan penangkap ikan. Dengan tipe dan jenis yang banyak sekali. Istilah dan definisi dalam perikanan tangkap yang berkembang di masyarakat nelayan sangat beraneka ragam, sehingga diperlukan adanya standar istilah dan definisi yang sama terutama dalam penamaan dan atau penyebutan kapal perikanan. Sedangkan menurut Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian, kapal penangkap ikan merupakan kapal yang dipergunakan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang memakai kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah, dan mengawetkannya. Beberapa bentuk badan kapal di bawah garis air (WL) menurut Dohri (dalam Saptunawati, 2009) terdiri atas : 1) Badan kapal berbentuk Parallel Equilirrum (Flat Bottom);

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

2) Badan kapal berbentuk penuh (U-Bottom); 3) Badan kapal berbentuk tajam (V-Bottom). Selain ketiga bentuk kapal di atas, juga terdapat bentuk badan kapal yang berbentuk seperti huruf U dengan garis kaku dan biasa (Akatsuki), (Traung, dalam Saptunawati,2009) dan bentuk badan kapal yang berbentuk kurva melengkung (Round Bottom), (Fyson, dalam Saptunawati, 2009), lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Bentuk badan kapal ikan. Sumber : (Dohri, 1983; Traung, 1960; Fyson, 1985)

2.3. Gross Tonnage (GT) Pengukuran Tonase saat ini diatur oleh International Convention on Tonnage Measurement Of Ships, 1969 dalam London Rules dan

diaplikasikan pada kapal yang dibangun setelah Juli 1982, berdasarkan konvensi ini Gross Tonnage (GT) digunakan untuk menggantikan Gross Register Tonnage (GRT). Berdasarkan ketentuan konvensi tersebut, Gross Tonnage (GT) dihitung dengan formula : GT
V

= K1 . V
= Total volume semua ruang tertutup kapal dalam m3

di mana :

K1

= 0,2 + 0,02 Log10 V

Sedangkan menurut Nomura dan Yamazaki (1977) bahwasanya perhitungan GT kapal yaitu penjumlahan antara volume ruang tertutup di atas dek (a) dengan volume seluruh ruang tertutup di bawah dek (b) kemudian dikali dengan 0,353. GT
a

= (a+b) x 0,353.
= Volume ruang tertutup di atas dek,

di mana :

= Volume ruang ertutup di bawah dek.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

Dengan kata lain GT kapal berarti kapasitas kapal yang dihubungkan dengan daya muat kapal. Dan kapasitas kapal sendiri meliputi palka ikan, kapal ruang mesin, tangki air tawar, tangki BBM, ruang akomodasi, dan lain komodasi, lain-lain, yang didesain agar cukup untuk menampung ikan, bahan bakar, air, ruang desain mesin, ruang akomodasi, dan lain-lain. lain 2.4. Lines Plan Lines Plan atau yang pada umumnya disebut dengan rencana garis merupakan gambar poton potongan dan penampang kapal yang diproyeksikan ke proyeksikan bidang diametral, bidang garis air, dan bidang tengah kapal. Gambar Rencana Garis ini menjadi pegangan utama dan dasar bagi perencana untuk melaksanakan perancangan kapal secara lengkap, mulai dari menghitung karakteristik kapal, menentukan pembagian ruangan di kapal, menentukan menentukan daya muat kapal, daya motor induk yang dibutuhkan untuk dapat menggerakkan kapal sesuai dengan kecepatan yang diinginkan, serta diinginkan, menghitung dan memeriksa kemampuan olah gerak kapal pelayarannya. Gambar lines plan terdiri dari tiga bidang datar utama yang memotong badan kapal, yaitu bidang diametral, bidang tengah kapal dan bidang garis air. Bidang diametral adalah bidang tegak memanjang yang melalui sumbu kapal (centre line). Bidang ini akan memotong kapal tepat di tengah ). at tengahtengahnya dan akan menunjukkan garis air tepi bentuk kapal apabila dipandang dari samping. Apabila dibuat bidang sejajar dengan bidang buat diametral ini, maka akan diperoleh garis garis bentuk lengkungan badan garis-garis kapal yang terlihat dari samping, yang keseluruhannya berada di dalam yang lingkup bidang pandangan samping kapal. Garis-garis ini biasanya disebut Garis garis sebagai Buttock Line. (Gambar 2.3).

Gambar 2.3. Bidang Diametral dan bidang-bidang yang sejajar dengannya bidang

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

Bidang garis air adalah bidang horizontal yang melalui permukaan air pada saat kapal muatan penuh. Bidang ini akan memotong kapal dan akan menunjukkan garis tepi bentuk kapal apabila dilihat dari atas. Apabila dibuat di bidang-bidang yang sejajar dengan bidang garis air ini, maka akan diperoleh bidang garis-garis bentuk lengkungan badan kapal yang terlihat dari atas pada tinggi garis permukaan air yang berbeda-beda yang keseluruhannnya berada di dalam berbeda beda lingkup bidang pandangan atas kapal. Garis-garis ini biasanya disebut Water ata garis Line. (Gambar 2.4). ).

Gambar 2.4. Bidang Garis air muatan penuh dan bidang-bidang yang sejajar bidang bidang dengannya

Bidang tengah kapal adalah bidang tegak melintang yang melalui pertengahan panjang LPP. Bidang ini akan memotong kapal tepat di tengah tengahtengah panjangnya dan akan menunjukkan garis tepi bentuk kapal apabila dipandang dari depan. Apabila dibuat bidang-bidang sejajar dengan bidang bidang tengah ini, maka akan diperoleh garis-garis bentuk lengkungan bad kapal garis garis badan yang terlihat dari depan, yang keseluruhannya berada dalam lingkup bidang pandangan depan kapal. Garis Garis-garis ini biasanya disebut Body Plan. (Gambar 2.5).

Gambar 2.5. Bidang Tengah dan bidang-bidang yang sejajar dengannya 5. bidang

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

Body plan menunjukkan bentuk station yang merupakan perpotongan antara permukaan lambung kapal dengan bidang yang tegak lurus dengan bidang tegak (buttock line) dan bidang garis air (water line). Pada umumnya penggambaran body plan dibagi dua sisi kiri dan sisi kanan, sisi kiri untuk setengah bagian belakang dan sisi kanan untuk setengah bagian depan. Permukaan lambung kapal yang dimaksud di atas adalah permukaan yang dibentuk oleh sisi luar gading kapal atau sisi dalam kulit, hal ini berlaku untuk kapal baja, kapal aluminium dan kapal kayu untuk kapal fibreglass/FRP permukaan molded dibentuk oleh sisi luar kulit (lambung kapal). Kapal kayu mempunyai 2 buah Rencana garis, Rencana garis sisi dalam kulit (inside planking) dan sisi luar kulit (outside planking), rencana garis sisi dalam kulit digunakan untuk membentuk gading dan bagian konstruksi lainnya sedangkan rencana garis sisi luar kulit digunakan untuk menghitung hydrostatic, stabilitas dan tahanan kapal, hal tersebut karena kulit kapal kayu lebih tebal dibanding kulit baja sedang ukuran kapal. 2.5. Stabilitas Kapal Stabilitas kapal tidak hanya berpengaruh terhadap keselamatan kapal di laut, tetapi juga berhubungan langsung dengan karakteristik operasi kapal dan kenyamanan awak kapal (Smith, 1975). Menurut (Fyson, 1985), stabilitas kapal adalah kemampuan kapal untuk kembali ke posisi semula setelah mengalami momen temporal. Momen tersebut dapat disebabkan oleh angin, gelombang, muatan di kapal dan di dek, dan lain-lain. Sesuai referensi Teori Bangunan Kapal, stabilitas ada 2 (dua) : a. Stabilitas memanjang (waktu terjadi trim) b. Stabilitas melintang (waktu terjadi olengan) Sedangkan Faktor utama yang berpengaruh terhadap stabilitas menurut Robert B. Zubaly dalam Applied Naval Architecture adalah : 1. Titik berat (Center of Gravity), yaitu titik yang merupakan titik pusat dari gaya berat kapal yang bekerja ke arah bawah 2. Tiitik apung (Center of Bouyancy), yaitu merupakan pusat dari volume displasemen dan posisi dari titik apung tergantung hanya

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

Proposal Skripsi

pada geometri dari badan kapal di bawah air dan kapal akan mengapung tegak jika buoyancy terletak pada centerline 3. Titik metasentra (Metacentra) yaitu merupakan titik semu dari batas di mana titik G tidak boleh melewati titik M sehingga stabilitas kapal bisa stabil. Menurut (Derrett, 1991), ketika kapal tidak stabil atau keseimbangan netral maka langkah yang harus dilakukan adalah menurunkan posisi titik pusat gaya berat kapal. Beberapa metode yang dapat diterapkan, antara lain: 1. Muatan pada kapal direndahkan, 2. Muatan dipenuhi di bawah pusat gaya berat kapal, 3. Muatan dipindahkan dari posisi di atas gaya berat kapal, 4. Permukaan bebas cairan di dalam kapal dipindahkan.

2.6. Tahanan Kapal Tahanan kapal (resistance) kapal pada suatu kecepatan adalah gaya fluida yang bekerja pada kapal sedemikian rupa sehingga melawan gerak kapal tersebut. Tahanan tersebut sama dengan komponen gaya fluida yang bekerja sejajar dengan sumbu gerakan kapal. Resistance merupakan istilah yang disukai dalam hidrodinamika kapal, Gambar 2.6. menunjukkan kurva tahanan untuk benda yang bergerak dari permukaan atau jauh terbenam di dalam fluida yang sempurna dan fluida yang mempunyai viskositas.

Koordinat horizontalnya adalah angka Froude.

, . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .(2.1)
Sedangkan ordinatnya adalah koefisien tahan yang didefinisikan sebagai: , . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.2) Di mana : V L g = Kecepatan = Panjang benda = Percepatan gravitasi = Massa jenis = Luas permukaan basah (permukaan yang tercelup air).

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

10

Proposal Skripsi

Gambar 2. Kurva Koefisien Tahanan (Harvald, 1992) 2.6.

2.7. Maxsurf Pro Maxsurf Pro adalah software yang digunakan untuk membuat lines plan dalam bentuk 3D, yang dapat memperlihatkan potongan station, buttock, sheer dan 3D-nya pada pandangan depan, atas, samping dan p nya pandangan perspektif. Selain digunakan untuk membuat lines plan kapal, maxsurf pro juga dapat digunakan untuk membuat bentuk 3D lain seperti: pesawat, mobil dan produk bil industri lainya. Dasar pembuatan modelnya yaitu surface yang merupakan bidang urface permukaan dan dapat dibuat menjadi berbagai bentuk model 3D dengan jalan menambah, mengurangi, dan merubah kedudukan control point. Pembuatan , lines plan ini merupakan bagian yang paling penting, karena mengg gambarkan karekteristik kapal yang akan dibuat, sehingga bagian ini harus dikuasai secara baik.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

11

Proposal Skripsi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Flow Chart Proses pengerjaan tugas akhir ini dapat digambarkan pada flow chart berikut :
MULAI

IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH

PENENTUAN TUJUAN

STUDY PUSTAKA

STUDY LAPANGAN

PENGOLAHAN DATA

PERMODELAN KAPAL 1

PERMODELAN KAPAL 2

PERMODELAN KAPAL 3

PERMODELAN KAPAL 4

PERMODELAN KAPAL 5

PEMILIHAN MODEL

APAKAH TAHANAN, dan STABILITAS, SESUAI DENGAN YANG DIINGINKAN

Tidak

ya

PENENTUAN MODEL PALING OPTIMUM

KESIMPULAN dan SARAN

SELESAI

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

12

Proposal Skripsi

3.2. Metode Pelaksanaan Adapun uraian kegiatan dari flow chart tersebut dijelaskan sebagai berikut: Study Pustaka Study Pustaka atau study literature adalah proses untuk mendapatkan bahan referensi atau informasi yang relevan sebagai penunjang bagi penulis baik berupa jurnal, paper, artikel, buku, diskusi, pengamatan lapangan maupun dari media elektronik atau internet. Study Literature yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini yaitu dengan mengumpulkan berbagai referensi baik dari buku, internet maupun dari hasil pengamatan obyek yang ada di lapangan. Di antaranya yaitu pengetahuan mengenai kapal penangkap ikan 11-12 GT di perairan Brondong terutama yang berkaitan dengan tahanan dan stabilitas kapal, serta pengembangan bentuk dan bentuk yang optimum. Study Lapangan Study lapangan adalah kegitan pengumpulan data utama lapangan, meliputi Data utama kapal yang nantinya dijadikan pedoman dalam pembuatan bentuk badan kapal. Pada tahap pengumpulan data ini, penulis melakukan wawancara terlebih dahulu dengan pihak-pihak yang bersangkutan untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kapal penangkap ikan 11-12 GT. Data-data yang diperlukan penulis dalam menganalisa, meliputi data utama kapal yang nantinya dijadikan pedoman dalam pembuatan bentuk badan kapal, gambar lines plan serta data-data yang bisa digunakan untuk membantu dalam pengerjaan tugas akhir ini. Pengolahan Data Dari hasil pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah proses pengolahan data. Pada tahap ini dibagi menjadi 5 permodelan kapal yang dilakukan untuk mendapatkan performa kapal yang optimal.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

13

Proposal Skripsi

Permodelan Kapal 1 Dalam tahap ini dilakukan pemodelan dengan menggunakan Program Maxsurf sesuai dengan gambar lines plan kapal sebelum dimodifikasi (perencanaan kapal awal) dan dilanjutkan dengan mencari tahanannya dengan mengimport gambar model tersebut ke program Hullspeed 11 dan stabilitasnya dengan mengimport ke Hydromax 11. Permodelan Kapal 2 Dalam tahap Permodelan kapal 2, proses pengerjaan keseluruhan tidak jauh berbeda dengan permodelan. Hanya saja untuk pengembangan pada tahap ini model bentuk badan kapal berbentuk Parallel Equilibrium (Flat Bottom). Permodelan ini tanpa merubah displacement. Untuk langkah pecarian tahanan, stabilitas, dan olah geraknya seperti pada tahap permodelan kapal 1. Permodelan Kapal 3 Permodelan kapal 3 tidak jauh berbeda dengan permodelan kapal 1 dan 2. Perbedaan hanya pada model bentuk badan kapalnya. Untuk pengembangan model kapal 3 berbentuk tajam (V-Bottom). Proses selanjutnya sama seperti proses pengerjaan di tahap pengambangan model kapal 1 dan 2. Permodelan Kapal 4 Permodelan kapal 4 tidak jauh berbeda dengan pengembangan model kapal 1, 2 dan 3. Perbedaan hanya pada model bentuk badan kapalnya. Untuk pengembangan model kapal 4 berbentuk kurva melengkung (Round Bottom). Proses selanjutnya sama dengan pengerjaan di tahap sebelumnya. Permodelan Kapal 5 Permodelan kapal 5 tidak jauh berbeda dengan Permodelan kapal 1, 2, 3, dan 4. Perbedaan hanya terdapat pada model bentuk badan kapalnya. Untuk pengembangan model kapal 5 berbentuk seperti huruf U dengan garis kaku dan biasa (Akatsuki). Dan proses selanjutnya seperti proses pengerjaan pada tahap permodelan sebelumnya. Pemilihan Model
Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005) 14

Proposal Skripsi

Pada tahap ini dilakukan analisa dan pembahasan. Dalam hal ini analisa yang dilakukan diperoleh dari data hasil simulasi atau permodelan kemudian diolah kembali melalui perhitungan-perhitungan yang kemudian hasilnya ditabulasikan dan dibuat grafik trend hubungan antar variable-variabel perancangan. Setelah analisa dilakukan, maka dari data hasil analisa dibuat kesimpulan untuk merangkum keseluruhan hasil penelitian. Penentuan Model Paling Optimum Penentuan model yang paling optimal dapat dilihat dari hasil analisa data pada grafik. Dengan memberikan nilai pada masing-masing batasan (constraint), maka akan ditemukan hasil yang optimal di antara beberapa Pengembangan bentuk kapal. Tapi apabila jika tidak menentukan bentuk yang optimum, maka kembali ke pengolahan data awal. Kesimpulan dan Saran Tahap selanjutnya adalah pembuatan kesimpulan dan saran yang sekaligus juga dimasukkan dalam pendokumentasian laporan hasil penelitian yang telah dilakukan (Penyusunan Laporan Tugas Akhir).

3.3. Jadwal Kegiatan


Bulan ke-1 No Kegiatan Study Pustaka Study Lapangan Pengolahan Data Permodelan Kapal 1 Permodelan Kapal 2 Permodelan Kapal 3 Permodelan Kapal 4 Permodelan Kapal 5 Analisa Hasil Data Penentuan Model Paling Optimum Penyusunan Laporan I I I I I I Bulan ke-2 I I I I I Bulan ke-3 I I I I I Bulan ke-4 I I I I I Bulan ke-5 I I I I I Bulan ke-6 I I I I I I V I I V I I V I I V I I V I I V

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

DAFTAR PUSTAKA

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

15

Proposal Skripsi

___________,Analisa Optimasi Posisi Step Hull pada Kapal Patroli FRP 36 Meter dengan Menggunakan CFD Analisis Eko Sasmito Hadi and Iksan Firman. 2008. Rancang Bangun KM Mini Purse Seine Melalui Modifikasi Lambung Kapal Tradisional Daerah Batang. Jurnal Perkapalan, Universitas Diponegoro. Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. England: Fishing News Book. Jamal. 2007. Analisa Teknis Perubahan Kecepatan kapal Akibat Perubahan Bentuk Buritan dan Diameter Propeller KM. Tarik Amex-19. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi KelautanInstitut Teknologi Sepuluh Nopember. Munazid, A. 2010. Studi Parametric Hullform Design dalam Kaitan Dengan Karakteristik Seakeeping dan Tahanan Kapal. Tugas Akhir, Pasca Sarjana Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan-Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Nomura, M and T. Yamazaki. 1977. Fishing Technique (1). Tokyo: Japan International Corporation Agency (JICA). Saptunawati, M. 2009, Stabilitas Statis Kapal Purse Seine Semangat Baru Buatan Galangan Kapal Pulau Tidung. Mayor Teknologi Dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Suhardjito, Gaguk. 2006. Desain Rencana Garis. PPNS-ITS SV. AA. Harvald,(1992), Tahanan Dan Propulsi Kapal Airlangga University Press. Tangke, Umar. 2009. Evaluasi Dan Desain Kapal Pole And Line Di Pelabuhan Dufa-Dufa Provinsi Maluku Utara. http://www.scribd.com/doc/29263647 /Umar-Tangke. Dikunjungi pada 23 Januari 2011. Yepian. 2007. Potensi Laut Indonesia. http://blog.lautku.com/2007/09/21/potensilautindonesia/. Dikunjungi pada 24 Agustus 2010. Yepian. 2007. Jenis Kapal Ikan. http://blog.lautku.com/2007/09/21/Jenis-kapalikan/. Dikunjungi pada 24 Agustus 2010.

Iis Liyanatul Ulwiyah (070210005)

16