Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Bali Pulau Seribu Pura, ungkapan ataupun istilah ini bukanlah bualan semata. Di beberapa tempat di Bali terdapat beberapa tempat persembahyangan / pura yang sangat besar dan istimewa. Masing masing pura di Bali identik dengan sejarah terbentuknya masyarakat di daerah tersebut. Banyak kalangan spiritual menjadikan Bali sebagai salah satu tempat untuk berkunjung (tirta yatra), karena aura magis dari Bali itu sendiri (mungkin salah satunya disebabkan oleh pura pura yang ada disini). Kabupaten Tabanan adalah salah satu Kabupaten dari beberapa Kabupaten / Kota yang ada di Propinsi Bali. terletak dibagian selatan Pulau Bali, Kabupaten Tabanan memiliki luas wilayah 839,33 KM yang terdiri dari daerah pegunungan dan pantai. Secara geografis wilayah Kabupaten Tabanan terletak antara 1140 54 52 bujur timur dan 80 14 30 80 3007 lintang selatan. Topografi Kabupaten Tabanan terletak diantara ketinggian 0 2.276 m dpl, dengan rincian pada ketinggian 0 500 m dpl merupakan wilayah datar dengan kemiringan 2 15 %. Sedangkan pada ketinggian 500 1.000 m dpl merupakan wilayah datar sampai miring dengan kemiringan 15 40 %. Pada daerah-daerah yang mempunyai kemiringan 2 15 % dan 15 40 % merupakan daerah yang cukup subur tempat dimana para petani melakukan kegiatan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di daerah-daerah yang mempunyai ketinggian di atas 1.000 m di atas permukaan laut dan dengan kemiringan 40 % ke atas merupakan daerah berbukit- bukit dan terjal. Berdasarkan potensi dan kondisi masyarakat Kabupaten Tabanan, asumsi Makro Ekonomi sebagai landasan kebijakan dalam penyusunan Anggaran adalah
1

tingkat pertumbuhan perekonomian Kabupaten Tabanan. Tujuan yang ingin diwujudkan adalah semakin tumbuh kembangnya industri pedesaan yang berbasis pertanian sebagai media strategi untuk memacu perekonomian masyarakat desa (petani) dengan meningkatkan nilai tambah petani melalui industri penanganan dan pengolahan pasca panen diaharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Walaupun potensi yang dimilikinya adalah potensi agraris, namun potensi wisata yang dimiliki tidak kalah dengan potensi yang dimiliki oleh kabupaten lainnya di Bali. Banyak terdapat objek wisata yang ada di Kabupaten Tabanan. Objek-objek wisata itu tersebar di seluruh wilayah Tabanan, mulai dari ujung Barat, Timur, Selatan, maupun ujung Utaranya. Salah satu objek yang terkenal adalah objek wisata Tanah Lot. Dalam hubungannya dengan pariwisata, pura pura ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik asing maupun domestik. Tidak jarang mereka takjub menyaksikan budaya dan tata cara persembahyangan umat Hindu di Bali. Salah satu pura yang ramai dikunjungi wisatawan adalah Pura Tanah Lot. Pura Tanah Lot terletak di kabupaten Tabanan, sekitar 20 km dari Denpasar. Tanah Lot dalam bahasa Bali berarti Tanah di tengah lautan, kalau kita cermati posisi Pura Tanah Lot memang menjorok ke tengah laut. Pura ini berdiri di atas bongkahan batu karang, dimana alam telah membentuknya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang sangat indah dan unik. Selain sebagai pusat spiritual bagi umat Hindu, pura Tanah Lot memiliki keistimewaan jika dibandingkan dengan pura-pura lainnya yang ada di Bali. Pura Tanah Lot sudah sejak lama terkenal karena keindahan pantainya. Selain itu, Pura Tanah Lot juga memiliki keistimewaan lain, seperti adanya ular suci. Mengingat keistimewaan-keistimewaan tersebut, maka penulis mengangkat topic Tanah Lot sebagai objek tulisan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


2

Berdasarkan latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan yang diungkapkan.


1. Dimanakah lokasi Pura Tanah Lot? 2. Bagaimanakah sejarah Pura Tanah Lot? 3. Apa sajakah keistimewaan yang ada di Pura Tanah Lot? 4. Bagaimana sistem pengelolaan Pura Tanah Lot?

5. Bagaimanakah dampak Pura Tanah Lot terhadap masyarakat sekitar?

1.3 TUJUAN PENULISAN Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang disamapaikan di atas, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai. 1. Untuk mengetahui lokasi Pura Tanah Lot. 2. Untuk mengetahui sejarah Pura Tanah Lot. 3. Untuk mengetahui keistimewaan yang ada di Pura Tanah Lot. 4. Untuk mengetahui sistem pengelolaan Pura Tanah Lot.
5. Untuk mengetahui dampak Pura Tanah Lot terhadap masyarakat sekitar.

1.4 MANFAAT PENULISAN Secara praktis, makalah ini dapat bermanfaat bagi beberapa pihak.
1. bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan acuan untuk mengenal lebih

dekat mengenai objek wisata Pura Tanah Lot.


2. bagi pemerhati pariwisata, makalah ini bisa dijadikan sebagai acuan untuk

menentukan tolok ukur wisata Pura Tanah Lot.


3. bagi masyarakat, makalah ini bisa dijadikan bahan referensi sebelum

mengunjungi Pura Tanah Lot. BAB II


3

PEMBAHASAN

2.1 LOKASI PURA TANAH LOT Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Objek ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari kawasan Kuta. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu, apabila air pasang pura ini akan kelihatan dikelilingi air laut dan satunya lagi, tepatnya di sebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak menjorok ke laut dan di atas tebing. Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah
Gambar 2.1 Peta Tanah Lot

Lot ini merupakan bagian

dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura di tengah pantai tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), biasanya para tamu akan datang pada sore hari untuk melihat melihat keindahan matahari tenggelam. 2.2 SEJARAH PURA TANAH LOT
4

Tanah Lot dalam bahasa Bali berarti Tanah di tengah lautan, kalau kita cermati posisi Pura Tanah Lot memang menjorok ke tengah laut. Pura ini berdiri di atas bongkahan batu karang, dimana alam telah membentuknya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang sangat indah dan unik. Menurut masyarakat dibawa Bali, legenda Tanah Putra Lot Patih

berasal dari segumpal tanah yang oleh Gajahmada yang terjatuh di tepi pantai. Diceritakan bahwa Patih Gajahmada
Gambar 2.2 Pura Tanah Lot

dari untuk

Kerajaan mengembara.

Majapahit putranya

memerintahkan

Sang Patih memberinya bekal sebuah tempayan yang berisi tanah. Sang Patih berpesan agar putranya menaburkan tanah dalam tempayan tersebut sesampainya ia di sebuah daratan, niscaya tempat tersebut akan menjadi kekuasaannya. Akan tetapi, sebelum sampai ke daratan tempayan tersebut terjatuh dan tanahnya tumpah di tepi pantai. Tanah itulah yang kemudian menjadi Tanah Lot yang artinya tanah di tengah laut. Selain itu, ada pula cerita versi lain yang berkembang di masyarakat. Pada masa kerajaan majapahit di jawa timur, tersebutlah seorang bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau di hormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran agama hindu dengan nama dharma yatra. Di lombok beliau disebut tuan semeru atau guru dari semeru, nama sebuah gunung di jawa timur. Pada waktu beliau datang ke bali untuk menjalankan misinya pada abad ke 15, yang berkuasa pada saat itu adalah raja dalem waturenggong yang menyambut

beliau dengan sangat hormat. Beliau mengajarkan dan menyebarkan ajaran dharma sampai ke pelosok-pelosok pulau bali dan banyak membangun tempattempat suci untuk membangun dan meningkatkan kesadaran spiritual dan memperdalam ajaran-ajaran agama hindu. Disebutkan pada saat beliau menjalankan dharma yatra di rambut siwi, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari sumber mata air tersebut, beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut gili beo ( gili artinya batu karang, beo artinya burung) jadi itu adalah sebuah batukarang besar berbentuk burung beo. Di tempat inilah beliau membangun tempat untuk bermeditasi dan melakukan pemujaan kepada dewa penguasa laut. Beliau mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk setempat, yaitu yang berada di desa beraban dimana desa tersebut di kepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut bendesa beraban sakti. Pada saat itu penduduk desa beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran dang hyang nirartha yaitu tentang agama hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. Begitu pula sebagian kecil pengikut bendesa beraban mulai meninggalkannya, dan dia menyalahkan dang hyang nirartha atas hal tersebut. Kemudian dia mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia dan memimpin mereka untuk mengusir dang hyang nirartha dari tempat tersebut. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh dang hyang nirartha, beliau melindungi diri dari serangan bendesa beraban dengan memindahkan batukarang besar tersebut tempat beliau bermeditasi ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batukarang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut. Kemudian beliau memberi nama tengah lod yang berarti tanah di tengah lautan. Akhirnya bendesa beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spritual dari dang hyang nirartha, dan dia mulai mempelajari ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh
6

orang suci tersebut, hingga menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran itu kepada para penduduknya untuk bergabung mengikuti kepercayaan tersebut. Sebelum pergi, beliau memberikan sebilah keris suci dan sakti yang dikenal dengan nama ki baru gajah kepada bendesa beraba. Saat ini keris tersebut distanakan di puri kediri yang sangat dikeramatkan oleh segenap masyarakat dan diupacarai setiap hari raya kuningan dengan berjalan kaki 11 km pulang pergi menuju pura luhur pakendungan yang berlokasi 300 meter dari pura luhur tanah lot. Upacara piodalan di pura tanah lot setiap 210 hari sekali yakni pada hari buda wage langkir sesuai penanggalan kalender Bali.

2.3 ATURAN BERKUNJUNG KE PURA TANAH LOT Seluruh pengunjung yang akan berkunjung ke obyek wisata tanah lot, dalam upaya memberikan pelayanan dan kenyamanan kunjungan, sebaiknya diperhatikan beberapa hal berikut ini.
a.

seluruh pengunjung obyek wisata tanah lot sebelum memasuki kawasan obyek wisata, harap membeli tiket masuk dan tiket parkir pada pos penjualan tiket (tiket gate) yang sudah ada.

b.

bagi para pengunjung harap tetap membawa tiket yang sudah dibeli untuk pengecekan pada saat memasuki kawasan obyek pada pos checking tiket. tiket yang sudah dibeli sudah termasuk jaminan asuransi kecelakaan pengunjung dan parkir. seluruh pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam lingkungan seluruh pura yang ada di seluruh kawasan obyek wisata tanah lot. ketika ada acara ritual keagamaan, seluruh pengunjung diharapkan tertib, mengambil jarak yang cukup dengan acara prosesi dan tidak mengganggu jalannya upacara ritual.

c.

d.

e.

f.

kawasan obyek wisata tanah lot adalah kawasan suci, maka seluruh pengunjung diharapkan berpakaian sopan, tidak berkata-kata kasar dan tidak melakukan tindakan yang tidak senonoh.

g.

kawasan obyek wisata tanah lot merupakan kawasan pantai laut selatan dengan ombak yang cukup besar. Maka para pengunjung harap berhatihati dan mematuhi tanda-tanda larangan jika bermain di kawasan pantai.

h.

kawasan obyek wisata tanah lot adalah merupakan kawasan tertib membuang sampah. seluruh satwa dan tanaman yang ada di obyek wisata tanah lot dilindungi, seluruh pengunjung diharapkan ikut menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

i.

j.

jika butuh bantuan tentang informasi dan lokasi silakan hubungi staf operasional obyek wisata tanah lot pada tourist information desk

2.4 BANGUNAN DI SEKITAR TANAH LOT Tanah lot memiliki banyak tempat menarik untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbeda dan menarik bagi pengunjung. Setiap pengunjung akan terpesona melihat langit kemerahan yang melingkupi pura ketika matahari terbenam, deburan ombak yang menghantam karang, panorama yang romantis, dan laut biru yang dalam sebagai latar belakang dari tanah lot.selain keindahan pura tanah lot, masih ada pura-pura lain yang bisa dilihat oleh pengunjung seperti pura batu bolong, pura batu mejan, dan pura enjung galuh. Sebagai tempat wisata favorit, tanah lot memberikan kenangan yang tak terlupakan diantaranya di : a. Pasar seni Objek wisata tanah lot dilengkapi dengan fasilitas berupa pasar seni bagi para pengunjung yang ingin membeli berbagai jenis
Gambar 2.2 Pasar Seni

oleh-oleh

khususnya

oleh-oleh

kesenian bali. Berbagai macam barang seperti baju, sarung/ kain topi, sandal, pernak-pernik/ perhiasan, lukisan, patung dan barang lainnya dengan style bali. b. Sunset terrace
8

Sunset terrace merupakan salah satu tempat di areal tanah lot yang menyediakan tempat yang tepat untuk menciptakan suasana yang tak terlupakan saat sunset berlangsung. Dengan keindahan panorama, anda dapat menikmati makan pagi dan makan siang yang mewah. Anda dapat bersantai dengan ditemani makanan dan minuman favorit anda sekaligus menikmati panorama pura tanah lot ketika air laut pasang. c. Batu bolong Pura batu bolong berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat pura enjung galuh, tepatnya di enjung batu bolong di mana batu yang menjorok ke laut tersebut berlubang di tengahnya. Pura batu bolong merupakan tempat untuk memuja/memohon kepada tuhan untuk kesucian. Pura batu bolong merupakan tempat yang sering digunakan untuk menggelar upacara melasti. d. Enjung galuh Pura enjung galuh berlokasi berdampingan dengan pura jero kandang, tepatnya di enjung galuh, njung yang berarti batu karang yang menjorok ke laut. Pura enjung galuh didirikan untuk memuja/memohon kepada dewi kemakmuran, yaitu dewi sri shakti-nya dewa wisnu (manifestasi tuhan sebagai dewa pelindung). e. Cultural park Surya mandala merupakan salah satu tempat yang tepat untuk pagelaran kesenian, pameran, konferensi begitu pula untuk menikmati pemandangan dan bersantai. Pagelaran kesenian yang digelar tiap hari yakni, tarian kecak dengan tiket Rp. 50.000/orang.

2.5 BEBERAPA LOKASI KUNJUNGAN 1. Air Tawar di Pura Tanah Lot

Di bawah Pura Tanah Lot mengalir sebuah sumber air yang rasanya tawar. Memang ajaib, di tepi pantai yang biasanya mempunyai air yang terasa asin, justru muncul sumber air tawar. Konon dengan menggunakan air ini untuk membasuh tangan, muka, atau rambut dapat menjadikan kita awet muda, mendapat kemakmuran, dan kesejahteraan. Ada beberapa petugas yang berpakaian putih-putih berjaga di dekat sumber air ini. Beberapa pengunjung yang terlihat penasaran dipersilahkan untuk mencoba air tawar ini. Saya pun jadi penasaran, saya ambil air tawar tersebut untuk membasuh muka, eh ternyata benar airnya tawar. Saya jadi semakin penasaran, dari mana air itu berasal, saya amati tempat di mana air itu muncul, sungguh kuasa Tuhan yang telah mengalirkan air tawar di tepi laut. Setelah selesai petugas yang berjaga di tempat itu kemudian memercikkan air, menempelkan rendaman beras ke kening, dan memberi saya bunga kamboja putih, ini merupakan kelengkapan dalam melakukan doa karena air dan beras merupakan lambang kehidupan dan kemakmuran. 2. Beberapa Pura di Tanah Lot Disamping Pura Agung Tanah Lot ada beberapa pura lain yang dibangun di area ini, seperti: Pura Luhur Penataran, Pura Jero Kandang, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Bolong, dan Pura Batu Mejan. Pura Luhur Penataran berada di sebelah kiri gerbang masuk ke pantai, sedangkan beberapa pura lainnya berada di sebelah Barat gerbang masuk. Pura-pura ini dibangun di tepi pantai. Para pengunjung tidak diizinkan masuk ke dalam pura, kecuali mereka yang ingin melakukan sembahyang. Bagi mereka yang ingin melakukan sembahyang diwajibkan memakai pakaian sembahyang. Pada hari ini pengunjung Tanah Lot sangat ramai, mungkin karena hari Seninnya libur sehingga banyak orang yang memanfaatkan liburannya untuk berkunjung ke Pulau Bali. Air laut sedang surut sehingga mempermudah pengunjung untuk mencapai Pura Tanah Lot. Kebanyakan dari pengunjung terutama pengunjung dari luar pulau hanya mengunjungi Pura Tanah Lot dan bermain di pantai sekitar pura yang tidak berpasir dan penuh dengan batu karang.

10

Mungkin karena waktu berkunjung yang sangat singkat sehingga mereka tidak bisa menikmati seluruh area wisata di Tanah Lot, padahal area wisata di Tanah Lot cukup luas. Di sebelah kanan gerbang masuk terdapat tempat dengan pepohonan rindang yang sangat cocok untuk duduk dan menikmati indahnya laut tanpa sengatan sinar matahari. Di tempat ini ada beberapa karang yang menjorok ke laut sehingga pengunjung bisa melihat laut dari jarak yang lebih dekat. Saya pun tidak bisa terlalu jauh menyusuri tepian Pantai Tanah Lot ini, karena waktu yang disediakan pemandu hanya satu jam saja. Waktu belum jam empat sore, sunset masih jauh, dengan terburu-buru saya tinggalkan Pantai Tanah Lot, karena khawatir teman-teman satu rombongan terlalu lama menunggu.

2.6 KEISTIMEWAAN TANAH LOT Dimensi naturalisme mengimajinasikan bahwa eksotisme pantai Lot adalah kekayaan dan panorama yang menggambarkan betapa alam ini penuh warna dan aneka ragam. Dimensi humanisme seolah menandakan bahwa alam menginduksi manusia untuk memanjakan diri, tenggelam dalam euforia yang ditandai dengan proyek imajiner seperti mengambil foto dengan momen istimewa dan mengambil sudut pantai yang dianggap akan mewakili representasi diri dalam imaji fotografi. Di Pantai Tanah Lot ini, ketika memasuki pintu gapura, anda akan menjumpai sebuah suara muski tradisional gamelan dan nyanyian tradisional menambah lengkap bahwa Tanah adalah humanisme kreatif yang dilengkapi hidupnya kebudayaan masyarakat Tanah Lot. Sementara itu teosentrisme adalah gerak yang diisi oleh manusia yang berkehendak untuk memuja, memberi persembahan pada tuhan dan menandai proses komunikatif metafisika orangorang Bali sekitar Pantai Lot. Tridimensi gerak Pantai Tanah Lot memberikan makna tersendiri karena tidak berdimensi tunggal sebagaimana kalau menikmati pantai-pantai yang lain di Bali. Tridimensi ini menambah aspek kebermaknaan hidup kita saat berkunjung

11

ke Tanah Lot. Pantai Tanah Lot bisa saya sebut sebagai bagian dari wisata religi juga. Selain kita mampu mengambil sisi keindahan pemandangan pantai, gelombang laut, di situ terbangun megah sebuah Pura yang berada di atas batu karang di pinggir pantai. Untuk sampai di Pura ini, perlu untuk menyeberangi air laut. Tidak terlalu masuk ke laut, tetapi jika pasang, kalau kita ingin mengunjungi Pura, maka kita terpaksa sedikit menceburkan diri dan di situ disediakan pegangan tali agar penyeberangan kita menjadi aman. Di situ kita disadarkan sakramen dan ritual umat Hindu menyadarkan bahwa makna pluralisme begitu realistis. Kalau saya memaknai, bahwa perbedaan ritual dan cara-cara beribadah umat Hindu tidak saya pandang sebagai pandangan yang bernada aneh, tetapi menyadarkan saya bahwa ketuhanan adalah budaya dan idealisme yang mengakar dalam kesatuan multikultural. Proyeksi keberagamaan telah ditanam manusia dalam segala diktum humanisme. Simbol-simbol diciptakan untuk menjadi media metafora dan dimaknai dalam keragaman konteks kebaikan, keburukan, keselamatan, kematian dan sebagainya. Keistimewaan Pantai Lot dilengkapi dengan mitologi setempat terkait dengan ular suci (holy snake). Konon ular suci Tanah Lot diyakini memiliki sejarah antropologi mitologis yang menjadi penyangga dari ancaman di Pantai kejahatan Lot, dan kerusakan. Ular suci yang ada menurut informasi Beli Made Panji, adalah jenis ular laut yang dikenal
Gambar 2.3 Ular Suci

dengan

Bungarus

candidus dengan warna cincin

melingkar hitam dan putih. Ular ini menurut dia, adalah jenis ular berbisa nomer ketiga dari jenis ular berbisa di dunia, setelah ular kobra dari India, ular derik

12

Australia. Kategorisasi ini sudah pernah diteliti oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia, UGM dan Udayana. Ular Suci, ini diyakini sebagai juru selamat Tanah Lot. Sebuah kisah, di saat ada seseorang yang berniat jahat di Tanah Lot, tiba-tiba ular ini datang menghampiri pelaku yang ingin berbuat jahat. Ular suci ini menyerang orangorang yang akan berbuat kerusakan di Tanah Lot. Keganasan ular ini terangkum sebagai juru selamat terhadap ancaman kerusakan, tetapi ia jinak dan berdiam diri ketika berada di pinggir gua batu karang Pantai Lot nan eksotik. Setiap pengunjung Pantai Lot, bahkan bisa memegang ular berbisa ini dengan tangan mereka tanpa khawatir serangan balik dari ular ini. Ular ini tidak bereaksi apa-apa. Sembari ditunggui oleh pawangnya, anda bisa memegang ular suci ini. Bagi anda yang berniat memegang ini, pawang ular ini meminta uang seikhlasnya, minimal seribu rupiah sebagai buah dari keinginan kita memegang ular ini. Hingga hari ini ular suci tanah lot belum pernah menyerang para pengunjung yang ingin menyentuhnya, padahal ular ini dikategorikan sebagai jenis ular berbisa nomer tiga di dunia. Kepercayaan lain yang menambah unsur mitologis terhadap ular suci adalah dengan menyentuh dan mengelus-elusnya, sembari itu anda dapat berdoa agar keinginan dan permohonan yang selama ini belum terkabul atau punya hajat tertentu terkait cita-cita anda. Sebuah kisah, tergantung anda percaya atau tidak, tetapi menurut Made, itulah kenyataannya. Suatu kisah, ada seorang guru dari Yogyakarta yang sudah lama tidak mempunyai anak, ketika datang di Tanah Lot dan mengelus ular ini, dia berdoa untuk segera di karuniai anak, maka dalam waktu beberapa tahun, guru ini pada akhirnya dikaruniani seorang anak. Selain itu, jika ada tanda-tanda alam atau bencana, ular laut ini menjadi pertanda dan isyarat bagi masyarakat Tanah Lot. Tanda yang dapat dikenali adalah jika masyarakat setempat melihat ada ratu atau raja ular laut yang muncul, biasanya berwarna merah, maka kemunculan ratu ular laut ini menjadi pertanda bahwa bencana telah datang. Bagi masyarakat sekitar, mereka akan berdoa
13

memberi persembahan kepada dewa-dewa agar diberi keselamatan.Cerita ini menambah auro mitologis semakin menguat dan semakin membuktikan kesucian yang melegitimasi sebutan holy snake. Kepercayaan lain yang berkembang di Tanah Lot, yakni jika anda berkunjung di pantai ini, ada dapat meminta air keramat yang diyakini bisa menambah wajah anda awet muda. Anda bisa mengambil secukupnya, buat untuk mencuci muka anda, dan setelah itu menurut informasi dari bapak Made, setelah sampai di rumah, silahkan melihat wajah anda di cermin, niscaya perubahan wajah anda bisa saja kulit wajah anda akan nampak seperti kulit bayi, mulus, hilang kerutnya dan terpancar kembali muda. Begitulah, eksotisme pantai Lot berdinamika dengan akar-akar mitologis yang menandai munculnya makna-makna kearifan lokal masyarakat di Tanah Lot. Anda boleh mempercayai atau sekedar menjadikan pengetahuan bahwa fakta antropologis Tanah Lot menandai hidupnya aktifitas dengan ragam budaya untuk memahami dinamika kemanusiaan dan munculnya diversitas spiritualitas masyarakat akan menambah bobot kesadaran kita tentang multikulturalisme.

2.7 PENGELOLAAN TANAH LOT Daya Tarik Wisata Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Obyek wisata yang popular ini sangat dikenal dikalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan keindahan alam pantai laut selatan, dengan suasana sunset, tebing-tebing dan keberadaan situs Pura Luhur Tanah Lot yang dilengkapi oleh atraksi budaya masyarakat Hindu Bali, mampu menyedot tidak kurang dari 1.7 juta wisatawan di tahun 2009 yang lalu. Dan saat ini Daya Tarik Wisata Tanah Lot ini sudah dikelola oleh sebuah manajemen yang berbasis professional di bawah suatu badan yang disebut dengan nama Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot.

14

Awalnya keberadaan Daya Tarik wisata ini bermula dengan adanya sebuah Pura yaitu Pura Tanah Lot yang unik; berdiri di atas sebongkah batu karang yang berada ditengah laut. Berdasarkan tinjauan sejarah berdirinya pura Tanah Lot ini, diperkirakan pada abad ke 15 pada masa kerajaan Majapahit yang ditulis dalam tulisan Dwijendra Tattwa. Di kisahkan Seorang Bhagawan yang bernama Danghyang Nirartha atau dikenal pula dengan nama Danghyang Dwijendra, dalam perjalanan suci beliau ke Bali menyusuri pantai Bali dari arah Barat menuju arah Timur. Di tempat-tempat persinggahan beliau ini di bangunlah Pura untuk mengenang perjalanan suci beliau seperti Pura Pulaki, Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu. Tanah Lot adalah sebuah Daya Tarik Wisata Khusus (DTWK), yang awalnya sudah dikenal sebagai obyek wisata dari tahun 1970-an. Cuma pada saat itu infrastruktur penunjang yang sangat minim dan hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal pada hari-hari libur lokal seperti hari liburan sekolah, hari raya Galungan, Kuningan atau pada saat upacara di Pura Tanah Lot. Seiring berkembangnya sektor kepariwisataan Bali, dengan mengandalkan suasana Sunsetnya yang menawan Tanah Lot mengalami peningkatan pengunjung baik dari domestik maupun mancanegara. Dan para pengunjung tidak saja berkunjung pada saat-saat liburan tetapi sudah rutin setiap hari terutama pada sore hari. Mengantisipasi Perkembangan ini Pemerintah Kabupaten Tabanan pada Tahun 1980 mempercayakan pengelolaan Tanah Lot kepada pihak Swasta, yaitu CV. Ary Jasa Wisata dengan sistem kontrak. Pengelolaan ini dimulai per 1 juni 1980 dengan harga tiket masuk pada saat itu Rp 100 per orang, dengan target pemasukan ke Pemerintah Daerah 3 Juta rupiah pertahun. Sistem kontrak ini terus berlangsung dengan mengalami perubahan target pencapaian pendapatan seiring peningkatan angka kunjungan dan peningkatan harga tiket masuk pada daya tarik wisata Tanah Lot. Situasi ini berlangsung sampai saat ketika pada awal tahun 2000, di ketahui bahwa kewajiban pihak swasta/nilai kontrak kepada Pemerintah kabupaten Tabanan pertahun menjadi Rp 380 juta pertahun. Dan pada saat itu

15

harga tiket masuk sudah Rp 3300/orang dewasa dan Rp 1800/orang untuk anakanak. Pada tahun 1999 dengan bergulirnya wacana otonomi daerah, masyarakat Beraban mencoba berjuang untuk bisa mengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Meski sebenarnya keinginan masyarakat ini bukan hal yang baru. Tetapi memang karena situasi kepemerintahan dan resim pada saat itu merupakan halangan terbesar bagi masyarakat Desa Beraban untuk mengambil alih pengelolaan. Sehingga dengan memanfaatkan moment otonomi daerah dan perubahan situasi politik pada saat itu masyarakat Beraban mencoba maju dan menawarkan sebuah konsep pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot yang baru. Situasi pada saat masa perjuangan masyarakat Desa Beraban ini, memang menciptakan situasi yang cukup panas dilapangan, dan apalagi saat itu masyarakat baru tahu bahwa perpanjangan kontrak pemerintah dengan Pihak Swasta baru saja diperpanjang sampai tahun 2011 tanpa sepengetahuan pihak Desa Adat Beraban. Situasi ini membuat situasi dimasyarakat cukup panas dan akhirnya dengan menggunakan jalur kekuatan politik dan masyarakat, akhirnya di Legislatif dibentuklah PANSUS Pengkajian Kontrak Kerja Sama Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot antara pemerintah dengan Pihak swasta. Dari perjuangan masyarakat ini akhirnya terjadi kesepakatan win-win solution; yaitu bahwa Daya Tarik Wisata Tanah Lot dikelola oleh ketiga unsur yaitu Unsur Desa Adat Beraban, unsur Swasta (CV Ary jasa Wisata) dan Pemerintah Kabupaten Tabanan. Hal ini meski tidak mampu memenuhi harapan masyarakat adat Beraban; yaitu mengelola sendiri, tetapi akhirnya ada pemahaman dan kesadaran dimasyarakat, bahwa masa Kontrak antara pihak swasta dan Pemerintah kabupaten Tabanan bisa berakibat pada aspek Hukum (PTUN). Dan disatu sisi dengan jelas dan tegas pemerintah kabupaten Tabanan mengambil strategi bahwa tidak mau dituntut oleh swasta di PTUN, tetapi keinginan Masyarakat adat Beraban harus diakomodasi. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan cukup panas maka disepakati bahwa dari 1 Juli 2000 sampai 19 April 2011, Daya Tarik Wisata Tanah Lot dikelola oleh tiga
16

komponen yaitu Desa Adat Beraban, Pihak Swasta dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dengan pola sharing profit. Kesepakatan ini akhirnya tertuang pada Surat Perjanjian Kerja Sama Pengelolaan Objek Wisata Tanah Lot No:01/HK/2000 tertanggal 30 Juni 2000. Dan terbitnya Surat Keputusan Bupati Tabanan Nomor: 644 tahun 2000 tentang Pembentukan Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot. Sampai saat ini surat Perjanjian Kerja sama Pengelolaan Objek Wisata Tanah Lot telah mengalami revisi satu kali yaitu pada tahun 2002 yaitu menjadi Surat Perjanjian Kerjasama Pergelolaan Obyek Wisata Tanah Lot Nomor: 01/HK/2002. Secara substansi pada surat perjanjian ini terjadi perubahan pada penentuan biaya Operasional. Biaya Operasional akhirnya di tentukan berdasarkan pengajuan dari Manajer Operasional untuk disepakati di Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot, yang dalam perjanjian sebelumnya (Nomor: 01/HK/2000) di tetapkan 20% dari pendapatan Kotor. Didalam Surat Keputusan Bupati ini diatur hak dari ketiga pihak (shareholder) dalam Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot. Secara spesifik pengaturan hak ini diatur dalam pasal 6 dalam Perjanjian ini yaitu: Besarnya pembagian hasil retribusi ditentukan sebagai berikut: 1. Biaya Operasional pengelola Obyek ditetapkan setiap tahun atas dasar rapat Badan pengelola. 2. Peninjauan atau perubahan atas besarnya biaya Operasional dapat dilakukan sekurangkurangnya enam bulan sekali atas dasar rapat Badan pengelola. 3. Pihak pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan memperoleh hasil sebesar 55% dari hasil kotor setelah dikurangi biaya Operasional. 4. Pihak CV.ARY JASA WISATA memperoleh hasil sebesar 15% dari hasil kotor setelah dikurangi biaya Operasional. 5. Pihak Bendesa Adat Beraban memperoleh hasil sebesar 30% dari hasil kotor setelah dikurangi biaya Operasioanal. Dan seterusnya.

17

Pada poin 3 dalam pasal ini juga di sebutkan:

Desa Adat Beraban

melaksanakan kewajiban Pemerintah Daerah untuk memberikan sumbangan kepada Pura-Pura yang terkait sebesar 5% dan Desa Adat yang terkait di Kecamatan Kediri sebesar 5%. Sedangkan Surat Keputusan Bupati Tabanan tentang Pembentukan Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot selama kurun waktu dari 30 Juni 2000 sampai saat ini telah mengalami perubahaan sebanyak 4 kali, dan terakhir menjadi Surat Keputusan Bupati Tabanan Nomor : 62 TAHUN 2007. Perubahan perubahan pada Surat Keputusan Bupati ini lebih disebabkan hal hal teknis, seperti perubahan nama dan struktur jabatan yang ada, serta perubahan job description akibat dari perubahan struktur tersebut. Perubahan-perubahan ini terjadi akibat adanya evaluasi kinerja dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi tiap tahunnya. Dan perubahan ini adalah merupakan hasil koreksi dan control manajemen Badan Pengelola Obyek Wisata Tanah Lot dalam upaya penyempurnaan.

2.8 KEBERHASILAN DAN KELEMAHAN PENGELOLAAN DAYA TARIK WISATA TANAH LOT Tanah Lot sebagai Daya Tarik Wisata di Bali saat ini memiliki angka kunjungan yang sangat tinggi. Dalam Kurun waktu 10 tahun terakhir Tanah Lot secara konsisten mampu meningkatkan angka kunjungannya, meskipun Bali dalam kurun waktu tersebut Bali diguncang oleh meledaknya bom Bali 1 dan 2, krisis global, isu penyakit flu burung, Rabies dan sebagainya. Hal ini terjadi akibat Tanah Lot mampu menunjukkan kepada wisatawan sisi keamanan yang kondusif, profesionalisme dibidang pelayanan dan didukung oleh Marcom yang kuat. Marketing Communication yang bagus ini mampu memberi kesan dan persepsi yang positif dikalangan wisatawan, sehingga mereka tidak ragu untuk datang berkunjung ke Tanah Lot. Keberhasilan Tanah Lot untuk terus meningkatkan angka kunjungannya ini secara langsung juga berhasil
18

meningkatkan pendapatan Pengelola Tanah Lot dan masyarakat yang berakses langsung maupun tidak langsung dengan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Dengan meningkatnya kunjungan ke Tanah Lot maka dengan sendirinya roda perekonomian di wilayah Desa Adat Beraban juga bergerak. Pengembangan infrastruktur Daya Tarik Wisata terus terbangun seiring meningkatnya kemampuan manajemen pengelola. Hampir setiap tahun ada program pembangunan dan perbaikan sarana prasarana penunjang kepariwisataan di Tanah Lot, seperti toilet, taman, penataan jalan setapak dan lainnya. Keberhasilan yang membanggakan adalah ketika tumbuhnya rasa memiliki dikalangan masyarakat akibat masyarakat mendapatkan dan merasakan langsung dampak ekonomi dari pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Awarenes terhadap Daya Tarik Tanah Lot ini merupakan modal yang sangat penting untuk pengembangan Daya Tarik Wisata Tanah Lot kedepannya. Dengan penerapan konsep-konsep pengelolaan yang telah dilaksanakan selama ini, pemahaman masyarakat tentang sadar wisata dan dukungan mayarakat terhadap program-program pengembangan DTW Tanah Lot terus meningkat. Komunikasi dan Koordinasi bisa berjalan dengan baik dalam upaya memajukan pengelolaan DTW Tanah Lot.

2.9

KONTRIBUSI MASYARAKAT

OBJEK

WISATA

TANAH

LOT

TERHADAP

Daya Tarik Wisata Tanah Lot merupakan Sebuah asset yang sangat berharga bagi seluruh Masyarakat, Khususnya bagi masyarakat Desa Adat Beraban. Keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot secara nyata berdampak Positif bagi perkembangan perekonomian Masyarakat setempat. Dari hasil kontribusi yang diterima Oleh Desa Adat Beraban telah mampu membebaskan masyarakat dari segala bentuk iuran pembangunan desa. Bahkan juga dari penerimaan oleh desa ini sebagian juga di kontribusikan langsung kepada masyarakat yang diberikan kepada masing masing Kepala Keluarga. Desa Adat di

19

Bali memiliki tanggung jawab biaya upacara adat yang sangat besar, namun semenjak desa Adat Beraban ikut mengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot dari tahun 2000 sampai saat ini, masyarakat tidak lagi berpikir membayar iuran untuk hal tersebut. Disisi lain dengan penerapan manajemen yang mengutamakan pelayanan yang Profesional, mampu menciptakan peluang pekerjaan baru (170 orang) bagi masyarakat dan memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas dirinya supaya mampu bersaing mendapatkan pekerjaan tersebut. Tanah Lot saat ini memiliki tidak kurang dari 460 pedagang (Kios/Arshop) yang 96% dari masyarakat lokal. Dampak langsung keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot ini memang sangat kelihatan. Ketergantungan masyarakat Desa Adat Beraban dengan keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot sangatlah tinggi. Begitu pula bahwa masih banyak bagian dari masyarakat beraban yang memiliki ketergantungan tidak langsung lainnya seperti supporting unit aspek ekonomi dari keberadaan para pedagang yang ada di Tanah Lot. Contoh: Suplier, jasa angkutan, pekerja kasar, dan lain sebagainya. Dari gambaran diatas dapat dilihat sejauh mana keeratan hubungan masyarakat dan ketergantungan masyarakat desa Adat Beraban terhadap Keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Maka dari itu seluruh pemangku kepentingan yang ada harus mampu menjaga keberlanjutan pengembangan dan pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Pengembangan Pariwisata yang berbasis Budaya masyarakat yang diusung dalam pengembangan pariwisata Bali juga menjadi acuan bagi pengembangan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Dengan Bertumpu pada Hasil Karya Budaya Masyarakat yang telah diwarisi, Tanah Lot mencoba membangun sektor pariwisata dengan memperhatikan eksistensi budaya dan lingkungan di kawasan Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Hal ini dalam upaya Tanah Lot menjaga kelestarian situs Budaya masyarakat yang ada dan kelestarian lingkungan yang ada dengan harapan Keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot ini bisa diwariskan secara turun temurun. Artinya Generasi yang akan datang mendapat akses terhadap keberadaan Situs budaya di Tanah Lot dan Lingkungan

20

Daya Tarik Wisata Tanah Lot, sama seperti yang dinikmati oleh generasi yang sekarang.

BAB III

21

PENUTUP

3.1 SIMPULAN Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Objek ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari kawasan Kuta. Tanah Lot dalam bahasa Bali berarti Tanah di tengah lautan, kalau kita cermati posisi Pura Tanah Lot memang menjorok ke tengah laut. Pura ini berdiri di atas bongkahan batu karang, dimana alam telah membentuknya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang sangat indah dan unik. Menurut legenda masyarakat Bali, Tanah Lot berasal dari segumpal tanah yang dibawa oleh Putra Patih Gajahmada yang terjatuh di tepi pantai. Diceritakan bahwa Patih Gajahmada dari Kerajaan Majapahit memerintahkan putranya untuk mengembara. Sang Patih memberinya bekal sebuah tempayan yang berisi tanah. Sang Patih berpesan agar putranya menaburkan tanah dalam tempayan tersebut sesampainya ia di sebuah daratan, niscaya tempat tersebut akan menjadi kekuasaannya. Akan tetapi, sebelum sampai ke daratan tempayan tersebut terjatuh dan tanahnya tumpah di tepi pantai. Tanah itulah yang kemudian menjadi Tanah Lot yang artinya tanah di tengah laut. Selain itu, ada pula cerita versi lain yang berkembang di masyarakat. Pada masa kerajaan majapahit di jawa timur, tersebutlah seorang bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau di hormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran agama hindu dengan nama dharma yatra. Di lombok beliau disebut tuan semeru atau guru dari semeru, nama sebuah gunung di jawa timur.
22

Dimensi naturalisme mengimajinasikan bahwa eksotisme pantai Lot adalah kekayaan dan panorama yang menggambarkan betapa alam ini penuh warna dan aneka ragam. Dimensi humanisme seolah menandakan bahwa alam menginduksi manusia untuk memanjakan diri, tenggelam dalam euforia yang ditandai dengan proyek imajiner seperti mengambil foto dengan momen istimewa dan mengambil sudut pantai yang dianggap akan mewakili representasi diri dalam imaji fotografi. Pada tahun 1999 dengan bergulirnya wacana otonomi daerah, masyarakat Beraban mencoba berjuang untuk bisa mengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot. Meski sebenarnya keinginan masyarakat ini bukan hal yang baru. Tetapi memang karena situasi kepemerintahan dan resim pada saat itu merupakan halangan terbesar bagi masyarakat Desa Beraban untuk mengambil alih pengelolaan. Sehingga dengan memanfaatkan moment otonomi daerah dan perubahan situasi politik pada saat itu masyarakat Beraban mencoba maju dan menawarkan sebuah konsep pengelolaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot yang baru. Daya Tarik Wisata Tanah Lot merupakan Sebuah asset yang sangat berharga bagi seluruh Masyarakat, Khususnya bagi masyarakat Desa Adat Beraban. Keberadaan Daya Tarik Wisata Tanah Lot secara nyata berdampak Positif bagi perkembangan perekonomian Masyarakat setempat. Dari hasil kontribusi yang diterima Oleh Desa Adat Beraban telah mampu membebaskan masyarakat dari segala bentuk iuran pembangunan desa. Bahkan juga dari penerimaan oleh desa ini sebagian juga di kontribusikan langsung kepada masyarakat yang diberikan kepada masing masing Kepala Keluarga. 3.2 SARAN Tanah Lot sebagai salah satu aset budaya dan salah satu tujuan wisatawan sudah semestinya mendapat perhatian yang lebih baik dari pemerintah daerah. Banyak hal yang harus kita jaga dan lindungi bersama di Tanah Lot. Hal ini mengingat pentingnya keberadaan Tanah Lot sebagai salah satu pura yang memiliki kedudukan penting bagi umat Hindu Bali. Tentunya peran pemerintah
23

dan masyarakat sekitar memiliki andil yang sangat besar bagi pengelolaan Tanah Lot. Hal ini penting untuk menjaga kesucian Tanah Lot sebagai pusat spiritual umat Hindu.

24