Anda di halaman 1dari 23

NAMA : SITI SALMA BT MOHD SHAHIDI NIM : 10-2007-281 KELOMPOK : A3

GANGGUAN PENCERNAAN

STRUKTUR MAKROSKOPIS

ORGAN UTAMA : 1. Mulut : Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. 2. Oesophagus : Merupakan saluran berotot yang menghubungkan faring dan lambung dimana kedua hujungya terdapat sfingter ( sfingter faringoesophagus dan sfingter gasteroesophagus).Terletak antara trachea dan corpora vertebrarum cervicaliorum. Dalam esofagus terdapat cairan (mukus) yang berguna untuk mempermudah/membantu jalannya makanan waktu menelan dan melindungi dinding dalam esofagus dari kemungkinan cedera akibat zat-zat kimia. Makanan yang tertelan mencapai lambung dalam waktu 5-15 detik. 3. Gaster : Dinding lambung : 1. Kardia ( lambung atas,berbatasan dgn kerongkongan)-Otot memanjang(luar) 2. Fundus ( lambung tengah)-Otot melingkar(tengah) 3. Pilorus ( lambung bawah,dekat duodenum)-Otot miring(dalam) Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkonan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung

berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting yaitu lender, HCL dan prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein). Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. 4. Usus kecil : Usus halus adalah saluran yang memiliki panjang 6 m. Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorpsi chyme dari lambung.. Usus halus memanjang dari pyloric sphincter lambung sampai sphincter ileocaecal, tempat bersambung dengan usus besar . Usus halus terdiri atas tiga bagian , yaitu: duodenum, jejunum, ileum. 1. Duodenum : Bagian terpendek (25cm), yang dimulai dari pyloric sphincter di perut sampai jejunum. Berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pancreas dan duodenal papilla, tempat bermuaranya pancreas dan kantung empedu. 2. Jejunum : Panjang antara 1,5 m 1,75 m. Di dalam usus ini, makanan mengalami pencernaan secara kimiawi oleh enzim yang dihasilkan dinding usus. Getah usus yang dihasilkan mengandung lendir dan berbagai macam enzim yang dapat memecah makanan menjadi lebih sederhana.

3. Ileum : Di dalam jejunum, makanan menjadi bubur yang lumat yang encer. Panjangnya antara 0,75m 3,5m terjadi penyerapan sarisari makanan. Permukaan dinding ileum dipenuhi oleh jonjot-jonjot usus/vili. Adanya jonjot usus mengakibatkan permukaan ileum menjadi semakin luas sehingga penyerapan makanan dapat berjalan dengan baik. Dinding jonjot usus halus tertutup sel epithelium yang berfungsi untuk menyerap zat hara. Terdapat sekitar 1000 mikrovili (gambar 3) dalam tiap sel. Dinding tersebut juga mengeluarkan mucus. Enzim pada mikrovili menghancurkan makanana menjadi partikel yang cukup kecil untuk diserap. Di dalam setiap jonjot terdapat pembuluh darah halus dan saluran limfa yang menyerap zat hara dari permukaan jonjot. Vena porta mengambil glukosa dan asam amino, sedangkan asam lemak dan gliserol masuk ke sel limfa. 5. Usus Besar : Usus besar terdiri dari : 1. Kolon asendens (kanan) 2. Kolon transversum 3. Kolon desendens (kiri) 4. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare. Di dalam usus besar sudah tidak terdapat penyerapan sari makanan melainkan hanya penyerapan air. Di sini terdapat bakteri pembusuk yang berguna bagi tubuh karena membusukan ampas makanan sehingga mudah dibuang menjadi kotoran. Kotoran ini keluar dari tubuh melalui anus.

6. Rektum : Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

ORGAN TAMBAHAN : 1. Pankreas : Pankraes merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu asini yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan dan pulau pancreas yang menghasilkan hormone. Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

2. Hepar : Hati atau hepar merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. 3. Kandung Empedu & Saluran Empedu : Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu pertama membantu pencernaan dan penyerapan lemak. Manakala yang kedua ialah berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan colesterol.

STRUKTUR MIKROSKOPIS

ORGAN UTAMA : 1. Mulut : 1. Labium oris Labium oris dapat dibagi dalam 3 area yaitu pertama area Cutanea yang struktur kulit tipis dengan adanya kulit yang biasa terdapat. Kedua ialah area merah bibir (area intermedia ) yang mengandungi epitelnya berlapis gepeng tidak bertanduk. Area yang ketiga ialah area oral mukosa yang mengandungi epitelnya berlapis gepeng tidak bertanduk. Pada tunika submukosa didapati kelenjar labialis yang

bersifat seromukus dan dibawah submukosa didapati otot lurik yaitu M.orbicularis oris. 2. Dent Dent ataupun gigi terdiri daripada mahkota gigi (mahkota klinis) & mahkota anatomis yg dilapisi email, akar gigi dan leher gigi/serviks. Sementum berfungsi untuk mengikat gigi pada membran periodontal Secara histologis serupa dgn tulang, terdiri dari matriks serabut kolagen kasar, mengalami kalsifikasi. Pulpa gigi terdiri dari jaringan ikat longar dengan fibroblas, kolagen, subtansi dasar, saraf dan pembuluh darah.

3.

Linguae Seluruh permukaan dorsal lidah merupakan papil-papil lidah. Epitelnya berlapis gepeng bertanduk atau tidak bertanduk. Papilla linguae di 2/3 bagian anterior lidah terdiri dari papilla filiformis, papilla fungiformis dan papilla circumvallata. Papilla filiformis dan fungiformis mrpkn projeksi jaringan ikat yang ditutup oleh epitel berlapis gepeng tanpa atau dengan lapisan tanduk.

2. Oesophagus : Terdiri dari tunika mukosa. Mempunyai epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk Tunika muskularis mukosanya hanya mempunyai satu lapis longitudinal. Pada lamina propria didapati kelenjar mukus tubulosa kompleks (kel superfisial) yg merupakan perluasan kelenjar kardia. 3. Gaster : Mengandungi epitel mukosa selapis torak tanpa sel goblet. Seluruh permukaan mukosa gaster terdapat gastric pits atau foveola gastrica. Pada lamina propria terdapat kelenjar di cardia, fundus maupun pilorus. Kelenjar ini mulai dari dasar gastric pit meluas kearah tunika muakularis mukosa. Pada kelenjar fundus terdapat 4 macam sel yaitu : 1. Chief cell Merupakan sel terbanyak Berbentuk piramid, inti di basal, oval, kromatin agak padat Pada bagian apikal sel terdapat butir-butir zymogen yang

mengandung pepsinogen 2. Parietal cell/ Oxyntic cell/ HCL cell Menghasilkan HCL dan faktor intrinsik lambung Bentuk oval/poligonal Bnyk tdp pd korpus kelenjar Inti bundar, 1-2 Sitoplasma asidofil Bentuk sel kubus atau torak rendah Sitoplasma bergranula halus pucat (mengandung musigen) Lebih pucat dari chief cell Mucigen dari epitel permukaan lebih kental dan tergolong neutral

3. Mucous Neck cell

polysacharida

4. Argentafin cell/ enterochromafin cell/ enteroendocrine cel Dpt dilihat dgn pewarnaan perak atau garam chromium (berwarna kuning kecoklatan). Di gaster terdapat beberapa sel enteroendokrin yg mensekresi serotonin, histamin, gastrin dan enteroglukagon. 4. Usus halus : Dibagi dalam 3 bagian yaitu: duodenum, jejunum dan ileum. Terdiri dari epitel selapis torak dan sel goblet. Sel torak pada bagian apikalnya terdapat brush border/mikrovili yang memperluas permukaan absorptif. Juga mengandung enzim ezim pencernaan (alkaline fosfatase, maltase, dll). Semakin ke distal semakin banyak mengandungi sel goblet. Usus halus juga mengandungi vili interstinal. Sepanjang membran mukosa terdapat glandula intestinalis (cryptus Lieberkuhn), tubulosa simpleks, yang bermuara diantara vili intestinalis. Pada dasar cryptus tdp sel paneth, di bagian apikalnya mengandung granula eosinofilia. Sel-sel cryptus menggantikan sel-sel epitel permukaan yg rusak. 1. Duodenum kelenjar Brunner, kompleks tubulosa bercabang dan mempunyai mucus. 2. Jejunum Tidak terdapat kelenjar Brunner ataupun agmina peyeri. Mempunyai sel goblet terbanyak. Terdapat agregat limfonodus atau Agmina peyeri/ Plaque Peyeri di lamina propria meluas ke Tunika submukosa. 5. Colon : Tunika mukosa tidak mengandung plica sirkularis dan vili intestinal Sel goblet banyak diantara sel epitel Ada Cryptus Lieberkuhn

3. Ileum

Sel paneth dan sel argentafin sedikit sekali Terdapat limfonodus solitarius Tunika muskularis longitudinal membentuk 3 pita longitudianal hingga taenia coli

6. Rectum : Bagian sebelah bawah, Anal Canal. Mukosa mempunyai lipatan longitudinal Rectal collumn (Anal column, Collumn of Morgagni) berakhir kira-kira inchi dari orrificium anal. Merupakan epitel selapis torak. Terdapat cryptus. Pertemuan rektum dgn anus disebut Linea Pectinata.

ORGAN TAMBAHAN : 1. Pankreas : Merupakan kel eksokrin dan endokrin Epitel duktus ekskretorius bervariasi dari torak rendah bersel goblet- kubus Duktus interklarisnya (isthmus) panjang-panjang dan epitelnya selapis gepeng Bentuk sel asinusnya lebih kecil dari sel asinus parotis

2. Hepar : Diliputi kapsula Glissoni Septa membagi hepar menjadi lobuli2 Porta hepatis berisi: pebuluh limfe, pembuluh empedu, V.Portae dan A.Hepatika Unit fungsional hepar ialah 1 lobulus Berbagai unit pada hati (lobulasi) : 1. Lobulus klasik - V. sentralis sumbunya, portal triad sudutnya

2. Lobulus portal - Portal triad sumbunya, v sentralis sudutnya 3. Asinus hati - bentuk belah ketupat, v. sentralis di kedua ujungnya, aksisnya yaitu jaringan ikat tepi lobulus klasik. FUNGSI SISTEM PENCERNAAN SERTA ORGANNYA Fungsi sistem pencernaan adalah untuk mencerna makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak dan lain-lain dan seterusnya memindahkan zat gizi atau nutrient, air, elektrolit dari makanan ke lingkungan internal tubuh. Fungsi Organ Pencernaan : 1. Mulut : Menggiling dan memecahkan makanan menjadi lebih kecil untuk membantu Mencampurkan makanan dengan saliva. Saliva mengandungi enzim amilase yang merupakan permulaan pencernaan Merangsang papil pengecap yang ada pada lidah. proses menelan.

karbohidrat di mulut.

2. Oesophagus : Saluran berotot, lurus memanjang antara faring dan gaster. Menghantar makanan ke gaster dengan adanya gerakan peristaltik oesophagus.

3. Gaster : Makanan dicerna secara mekanik dan kimiawi dengan menggunakan berbagai macam enzim. Gerakan peristaltik berjalan berulang-ulang sehingga makanan akan terus dihancurkan sehingga makanan berbentuk bubur kim. Menyimpan makanan yang masuk sampai disalurkan ke usus halus dengan kecepatan sesuai untuk pencernaan dan penyerapan optimal.

Mensekresi HCL dan pepsin yang memulakan pencernaan protein dan lipase untuk pencernaan lemak.

4. Hepar : Memproduksi protein plasma (albumin, fibrinogen, protombin, heparin) Fagositosis mikroorganisme, eritrosit dan leukosit yang dah tua. Pusat detoksifikasi zat yang beracun di dalam tubuh. Memproduksi cairan empedu. Pusat metabolisme protein, lemak dan karbohidrat.

5. Usus halus : Mencerna dan menyerap kimus yang berasal dari lambung. 1. Duodenum melakukan pencernaan kimiawi 2. Jejenum tempat menyelesaikan proses pencernaan 3. Ileum sari-sari makanan hasil pencernaan diserap oleh vili 6. Colon : Penyerapan air dan eletrolit Menyimpan feses sebelum defekasi.

7. Rectum : Saluran yang panjang yang berakhir pada anus. Untuk menyalurkan feses keluar dari tubuh.

Pencernaan Karbohidrat : Proses pencernaan pati (starch) secara sempurna dimulai di lambung yang selanjutnya akan diserap melalui pompa mekanisme yang membutuhkan energi dan perlu bantuan Carrier (Tranporting Agents). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan karbohidrat, yaitu:

1. Hormon insulin akan meningkatkan transport glukosa ke dalam jaringan sel. Berarti juga mempertinggi penyerapan glukosa dalam jaringan, akibatnya akan mempercepat perubahan glukosa menjadi glikogen dalam hati. 2. Tiamin (Vitamin B1), Piridoksin, Asam panthotenat, hormon tiroksin berperan besar di dalam penyerapan dan metabolisme karbohidrat. Karbohidrat diserap dalam usus halus dalam bentuk monosakarida, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Proses pemecahan karbohidrat dimulai di dalam mulut. Saat makanan dikunyah, kelenjar saliva, terutama kelenjar parotis, mengsekresikan enzim ptialin yang dapat menghidrolisis pati menjadi disakarida (maltosa dan isomaltosa). Akan tetapi makanan yang tertinggal didalam mulut hanya dalam waktu singkat, dan mungkin tidak lebih dari 3%-5% dari semua pati yang dimakan akan dihidrolisis menjadi maltosa dan isomaltosa pada waktu makanan ditelan. Sisanya hanya diubah menjadi senyawa antara yaitu dekstrin.Walaupun makanan tidak tinggal di mulut dalam waktu yang cukup bagi ptialin untuk menyelesaikan pemecahan pati menjadi maltosa. Kerja ptialin terus berlangsung selama 15-30 menit setelah makanan masuk ke dalam lambung, yaitu sampai isi fundus dicampur dengan sekret lambung. Kemudian aktivitas ptialin dihambat oleh asam dari sekret lambung. Ptialin pada hakekatnya tidak aktif sebagai enzim bila pH medium turun kira-kira dibawah 4,0. Walaupun demikian, sebelum makanan bercampur sempurna dengan sekret lambung, kurang lebih sebanyak 30%- 40 % pati telah diubah menjadi maltosa dan isomaltosa. Asam getah lambung, dalam arti sempit dapat menghidrolisis pati dan disakarida. Akan tetapi, secara kuantitatif reaksi ini terjadi sangat sedikit sehingga biasanya dianggap merupakan efek yang penting. Kimus memasuki usus halus melalui sphincter pilorus. Pencernaan dilanjutkan di dalam usus halus oleh amilase pankreas. Sekret pankreas, seperti saliva, mengandung -amilase dalam jumlah besar yang hampir identik dengan fungsinya dengan -amilase saliva dan mampu memecahkan pati menjadi maltosa dan isomaltosa. Oleh karena itu, segera setelah kimus dikosongkan dari lambung masuk duodenum dan bercampur dengan getah pankreas. Pati yang belum dipecahkan akan dicerna oleh amilase. Pada umumnya, pati hampir seluruhnya diubah menjadi maltosa dan isomaltosa sebelum mereka masuk ke

jejunum. Sel epitel yang membatasi usus halus mengandung empat enzim yaitu laktase, sukrase, maltase, dan isomaltase, yang masing-masing mampu memecahkan disakarida laktosa, sukrosa, maltosa, dan isomaltosa menjadi unsurunsur monosakaridanya. Enzim-enzim ini terletak pada brush border (sel yang membatasi lumen usus halus). Disakarida dicerna menjadi monosakarida pada waktu berhubungan dengan brush border tersebut. Monosakarida glukosa, galaktosa dan fruktosa kemudian diabsorpsi melalui sel-sel epitel usus halus dan diangkut oleh sistem sirkulasi darah melalui vena porta. Bila konsentrasi monosakarida di dalam usus halus atau mukosa sel cukup tinggi, absorpsi dilakukan secara pasif atau fasilitatif. Bila konsentrasi turun, absorpsi dilakukan secara aktif melawan gradien konsentrasi dengan menggunakan energi dari ATP dan ion natrium. Di hati, fruktosa dan galaktosa akan diubah menjadi glukosa karena tubuh hanya bisa memanfaatkan energi dari karbohidrat dalam bentuk glukosa. Dari hati ini, glukosa akan dikirim ke seluruh jaringan tubuh menurut kebutuhan. Sebagian glukosa disimpan di otot dan di hati sebagai cadangan yang disebut glikogen. Kapasitas pembentukan glikogen ini terbatas, kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi lemak dan ditimbun di dalam jaringan adiposa. Laktosa dipecahkan menjadi satu molekul galaktosa dan satu molekul glukosa. Sukrosa dipecahkan menjadi satu molekul fruktosa dan satu molekul glukosa. Maltosa dan isomaltosa masing-masing pecah menjadi dua molekul glukosa. Jadi, hasil akhir pencernaan karbohidrat yang diabsorpsi ke dalam darah semua berupa monosakarida. Kadar glukosa darah akan naik dalam jangka waktu 30 menit setelah makan dan secara perlahan kembali ke kadar gula normal (70-100 mg/100 ml) dalam waktu 90-180 menit. Kadar gula darah maksimal dan kecepatan untuk kembali pada kadar normal bergantung pada jenis makanan. Pencernaan Protein : Pencernaan protein dimulai di organ lambung. Sebagian protein yang ada di lambung dicerna menjadi peptida oleh enzim pepsin. Sifat setiap jenis protein ditentukan oleh jenis asam amino dalam molekul protein dan oleh susunan asamasam amino tersebut. Kelenjar gastrik mensekresikan asam klorida dalam jumlah

besar. Asam klorida ini disekresikan oleh sel parietal pada pH sekitar 0,8. Tetapi pada saat ia dicampur dengan isi lambung dan dengan sekresi dari sel kelenjar non parietal lambung, pH berkisar antara 2 atau 3, batas keasaman yang sangat menguntungkan bagi aktivitas pepsin. Pepsin biasanya hanya mengawali proses pencernaan, memecahkan protein menjadi protease, pepton dan polipeptida besar. Pemecahan protein ini merupakan suatu proses hidrolisis yang terjadi pada ikatan peptida antara asam-asam amino. Bila protein meninggalkan lambung, protein biasanya dalam bentuk proteosa, pepton, polipeptida besar, dan sekitar 15 % asam amino. Segera setelah masuk ke usus halus, hasil pemecahan parsial diserang oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan karboksipeptidase pankreas. Enzim-enzim ini mampu menghidrolisis semua hasil pemecahan parsial protein menjadi asam amino. Akan tetapi, sebagian besar hasilnya adalah dipeptida atau polipeptida kecil lainnya. Pencernaan Lemak : Lemak yang didapat dari makanan terdapat dalam 2 bentuk (dalam mulut): sebagai lemak yang telah diemulsikan (emulsified fat), dan sebagai lemak yang belum diemulsikan (unemulsified fat).

Sejumlah kecil trigliserida rantai pendek yang berasal dari lemak mentega dicernakan di dalam lambung oleh lipase lambung (Tributirase). Akan tetapi, jumlah yang dicerna demikian kecil sehingga tidak penting. Pada hakekatnya, semua pencernaan lemak terjadi di dalam usus halus. Langkah pertama pencernaan lemak adalah proses emulsifikasi lemak, yaitu memecahkan butir-butir lemak menjadi ukuran-ukuran kecil sehingga enzim-enzim pencernaan yang larut dalam air dapat bekerja pada permukaan butiran. Proses ini dicapai dengan pengaruh empedu yang disekresikan oleh hati yang tidak mengandung enzim pencernaan. Pada waktu lemak memasuki usus halus, hormon kolesistokinin memberi isyarat kepada kantung empedu untuk mengeluarkan cairan mepedu. Cairan empedu berperan sebagai bahan emulsi. Cairan empedu terdapat sebagai asam empedu dan garam empedu. Tetapi empedu mengandung sejumlah besar garam-garam empedu terutama dalam bentuk garam natrium terionisasi yang sangat penting dalam proses emulsifikasi lemak. Pencernaan selanjutnya yang terjadi di dalam usus halus yaitu

lemak yang sudah teremulsi dihidrolisis oleh enzim lipase pankreas dalam getah pankreas dan lipase usus. Hasil akhir pencernaan lemak antara lain asam lemak dan gliserol (40-50%), monogliserida (40-50%), dan digliserida atau trigliserida (1020%). Absorpsi lipid terutama terjadi dalam jejunum, bagian tengah usus halus. Hasil pencernaan lipid (gliserol, asam lemak rantai pendek, asam lemak rantai sedang, asam lemak rantai panjang, monogliserida, trigliserida, kolesterol, dan fosfolipid) diabsorpsi ke dalam membran mukosa usus halus dengan cara difusi pasif. Sebagian besar hasil pencernaan lemak berupa monogliserida dan asam lemak rantai panjang (C12 atau lebih) contoh asam stearat (C18) ditambah misel (garamgaram empedu yang membentuk gumpalan) berada di lumen usus halus berdifusi melalui mikrovilli ke dalam sel epitel usus halus. Setelah masuk ke dalam sel epithel, monogliserida dicerna menjadi gliserol dan asam lemak oleh lipase sel epithel. Kemudian asam lemak bebas diubah kembali oleh retikulum endoplasma menjadi trigliserida. Setelah terbentuk, trigliserida berkumpul dalam butiran, bersama kolesterol yang diabsorpsi, fosfolipid yang diabsorpsi, dan posfolipid yang baru disintesis. Masing-masing zat tersebut diliputi oleh selubung protein yang disintesis oleh retikulum endoplasma. Lipoprotein yang mengangkut lipid terutama trigliserida dari saluran cerna ke dalam tubuh ini dinamakan kilomikron. Kilomikron diabsorpsi dari sel epithel pada villus ke dalam lakteal villi. Kilomikron masuk ke dalam sistem limfe melalui pembuluh limfatik melewati ductus thoraxicus di sepanjang tulang belakang masuk ke dalam vena besar di tengkuk dan seterusnya masuk ke dalam aliran darah. Antara 80-90% semua lemak yang diabsorpsi dari usus ditransport ke darah melalui limfe toraks dalam bentuk kilomikron. Trigliserida dan lipid besar lainnya (kolesterol dan fosfolipida) yang terbentuk di dalam usus halus dikemas untuk diabsorpsi secara aktif dan ditransportasi oleh darah. MEKANISME PENCERNAAN MEKANIK DAN KIMIAWI 1. Mulut Pencernaan mekanik :

Di dalam mulut, makanan dikunyah sampai hancur. Proses penghancuran makanan tersebut dibantu enzim yang terdapat di dalam air ludah. Makanan yang telah hancur kemudian turun dari kerongkongan menuju lambung. Pencernaan kimiawi : Enzim amilase pada mulut membantu pencernaan karbohidrat 2. Oesophagus Pencernaan mekanik : Esofagus atau kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui esofagus dengan menggunakan proses peristaltik.Dalam kerongkongan terjadi peristaltic, yakni kontraksi otot yang sangat kuat. Dengan kontraksi itulah makanan sampai ke lambung. 3. Gaster Pencernaan mekanik : Pada fungsi motorik, makanan disimpan, sedikit demi sedikit dicerna dan bergerak ke usus. Faktor saraf dan hormonal mempengaruhi proses pengosongan lambung. Pencernaan kimiawi : Dalam gaster atau lambung, makanan dicerna selama 3-5 jam. Selama proses tersebut, makanan dilarutkan dengan bantuan enzim. Enzim dalam lambung memecah protein dan karbohidrat. Di lambung, molekul yang larut lemak seperti alkohol dan aspirin di absorbsi. Pada fungsi sekreasi dan pencernaan, enzim-enzim di lambung akan mencernakan protein, karbohidrat, dan lemak-lemak. Sekresi hormonal memungkinkan terjadinya penyerapan zat-zat makanan. Dan sekresi mukus membentuk pelindung bagi lambung dan pelumasan agar makanan mudah digerakkan. Sesudah itu makanan dihantar dari lambung ke usus halus lewat usus duodenum yang melanjutkan proses pencernaan karbohidrat, lemak, dan proteinprotein 4. Usus halus : Pencernaan mekanik :

Mencampurkan kimus dengan getah pencernaan dan mendorong kimus secara perlahan. Pencernaan kimiawi : Di usus halus proses pencernaan makanan dilanjutkan, dan disertai proses penyerapan zat-zat gizi dan air. Karbohidrat dalam bentuk monosakarida diabsorpsi oleh usus halus. Glukosa dan galaktosa dengan transport aktif manakala fruktosa dengan difusi fasilitatif. Sebagian besar protein diabsorpsi dalam bentuk asam amino, proses ini terjadi sebagian besar dalam jejenum. Asam amino (transport aktif) melewati sel epitel pada villi. Asam amino keluar dari sel epitel (difusi) ke kapiler darah. Sebagian besar protein diabsorpsi dalam bentuk asam amino, proses ini terjadi sebagian besar dalam jejenum. Asam amino (transport aktif) melewati sel epitel pada villi. Asam amino keluar dari sel epitel (difusi) ke kapiler darah. 5. Usus besar : Sisa makanan tinggal di usus besar selama 12-48 jam sebelum dikeluarkan sebagai fases melalui anus. Di usus besar, masih terjadi penyerapan air dan mineral. PEMERIKSAAN FISIK Abdomen dibahagikan menjadi beberapa bagian dengan suatu garis imaginer yang melewati umbilicus ditengah dan dari kiri ke kanan menjadi kuadran atas kanan,kuadrat atas kiri,kuadran bawah kanan dan kuadran bawah kiri. Sistem lain membagi abdomen menjadi sembilan bagian dengan tiga bagian yang ditengah ialah daerah epigastrik,umbilical, dan hipogastrik. Inspeksi Kulit Jaringan perut, Striae, Pelebaran Vena (Sirhosis hepatic/Obstruksi Vena Kava Inferior) Umbilukus Perhatikan contour dan lokasi dan adanya inflamasi atau penonjolan a. Hernia Umbilikalis suatu penonjolan pada bagian lemah dari cincin umbilicus.Sering dijumpai pad anak-anak 1-2 tahun

b. c. d.

Hernia insisional penonjolan melali bekas luka operasi Hernia epigastrik penonjolan kecil pada garis tengah melalui defek pada linea alba, timbul antara Processus Xyphoideus dan umbilikus. Diastasis recti pemisahan antara kedua otot rektus abdominalis melalui celah tersebut membentuk celah di garis tengah ketika pasien menaikkan kepala dan bahunya. Sering terjadi pada kehamilan yang sering, obesitas dan penyakit paru kronis.

e.

Lipoma tumor jinak jaringan lemak biasanya timbul pada daerah subkutan dihampir semua bagian tubuh.

Bentuk atau contour dari abdomen a. Lemak kebanyakan lemak di perut adalah penyebab utama dari menonjolnya abdomen. b. Tumor tumor yang besar dan solid biasanya berasal dari rongga pelvis, dull bila diperkusi. Udara yang mengisi usus terdorong ke perifer. Penyebab tersering tersalah adalah tumor ovarium dan mioma uteri. c. Udara distensi abdomen karena adanya udara yang terlokalisasi atau menyeluruh, menyebabkan bunyi timpani bila dilakukan perkusi. Distensi ringan dapat disebabkan oleh beberapa jenis makanan. d. Kehamilan adanya massa pelvis pada wanita e. Asites cairan asites selalu mencari tempat paling bawah abdomen , menimbulkan penonjolan yang dull bila diperkusi. Asimetrisitas dapat disebabkan pembesaran organ atau massa di dalam rongga abdomen. Massa yang terdeteksi akibat tumor ovarium atau tumor uterus. Peristalsis gerakan peristalsis meninggi apabila ada obstruksi usus. Pulsasi a. Pulsasi normal aorta abdominalis. Peningkatan pulsasi disebabkan oleh aneurisma aorta atau peningkatan pulse pressure.

b. Palpasi ringan : utuk identifikasi kekakuan dinding abdomen, resistensi otot dan beberapa organ dan massa yang terletak superfisial Palpasi dalam : untuk menemukan adanya massa abdominal. c. Perkusi : dapat membantu adanya udara yang berlebihan di dalam rongga abdomen dan untuk mengidentifikasi adanya massa yang solid atau cair. Pemeriksaan khusus Shifting dullnes : Pada pasien asites dullness, batas antara daerah timpani dan dullness berpindah ke sisi miringnya pasien dan timpani akan bergerak ke atas. Pemeriksaan gelombang cairan / undulasi : ketuk dan goyangkan dengan dorongan salah satu sisi abdomen dengan ujung jari anda dan rasakan adanya impuls transmisi gelombang cairan pada telapak tangan pada sisi lainnya. d. Auskultasi : untuk mendengar bunyi usus. Bunyi bruit menunjukkan kemungkinan adanya penyakit oklusi vaskuler atau hipervaskularisasi. Pemeriksaan Khusus Organ 1. Hati perkusi dan palpasi 2. Limpa Perkusi dan palpasi 3. Ginjal mendeteksi pembesaran ginjal dengan palpasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Radiologi : Pemeriksaan Kerongkongan 1. Pemeriksaan barium. Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati kerongkongan dipantau

melalui fluoroskopi (teknik rontgen berkesinambungan yang memungkinkan barium diamati atau difilmkan). Dengan fluoroskopi, dokter bisa melihat kontraksi dan kelainan anatomi kerongkongan (misalnya penyumbatan atau ulkus). Gambaran ini seringkali direkam pada sebuah film atau kaset video. Selain cairan barium, bisa juga digunakan makanan yang dilapisi oleh barium, sehingga bisa ditentukan lokasi penyumbatan atau bagian kerongkongan yang tidak berkontraksi secara normal. Cairan barium yang ditelan bersamaan dengan makanan yang dilapisi oleh barium bisa menunjukkan kelainan seperti: - selaput kerongkongan (dimana sebagian kerongkongan tersumbat oleh jaringan fibrosa) - divertikulum Zenker (kantong kerongkongan) - erosi dan ulkus kerongkongan - varises kerongkongan - tumor. 2. Manometri. Manometri adalah suatu pemeriksaan dimana sebuah tabung dengan alat pengukur tekanan dimasukkan ke dalam kerongkongan. Dengan alat ini (alatnya disebut manometer) dokter bisa menentukan apakah kontraksi kerongkongan dapat mendorong makanan secara normal atau tidak. 3. Pengukuran pH kerongkongan. Mengukur keasaman kerongkongan bisa dilakukan pada saat manometri. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah terjadi refluks asam atau tidak. 4. Uji Bernstein (Tes Perfusi Asam Kerongkongan). Pada pemeriksaan ini sejumlah kecil asam dimasukkan ke dalam kerongkongan melalui sebuah selang nasogastrik. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan karena iritasi kerongkongan oleh asam dan merupakan cara yang baik untuk menentukan adanya peradangan kerongkongan (esofagitis).

Rontgen Foto polos perut merupakan foto rontgen standar untuk perut, yang tidak memerlukan persiapan khusus dari penderita. Sinar X biasanya digunakan untuk menunjukkan: - suatu penyumbatan - kelumpuhan saluran pencernaan - pola udara abnormal di dalam rongga perut - pembesaran organ (misalnya hati, ginjal, limpa) USG Perut USG menggunakan gelombang udara untuk menghasilkan gambaran dari organorgan dalam. USG bisa menunjukkan ukuran dan bentuk berbagai organ (misalnya hati dan pankreas) dan juga bisa menunjukkan daerah abnormal di dalamnya. USG juga dapat menunjukkan adanya cairan. Tetapi USG bukan alat yang baik untuk menentukan permukaan saluran pencernaan, sehingga tidak digunakan untuk melihat tumor dan penyebab perdarahan di lambung, usus halus atau usus besar. USG merupakan prosedur yang tidak menimbulkan nyeri dan tidak memiliki resiko. Pemeriksa menekan sebuah alat kecil di dinding perut dan mengarahkan gelombang suara ke berbagai bagian perut dengan menggerakkan alat tersebut. Gambaran dari organ dalam bisa dilihat pada layar monitor dan bisa dicetak atau direkam dalam filem video. 2. Laboratotorium : Pemeriksaan Darah Samar Perdarahan di dalam saluran pencernaan dapat disebabkan baik oleh iritasi ringan maupun kanker yang serius. Bila perdarahannya banyak, bisa terjadi muntah darah, dalam tinja terdapat darah segar atau mengeluarkan tinja berwarna kehitaman (melena). Jumlah darah yang terlalu sedikit sehingga tidak tampak atau tidak merubah penampilan tinja, bisa diketahui secara kimia; dan hal ini bisa merupakan petunjuk awal dari adanya ulkus, kanker dan kelainan lainnya. Pada pemeriksaan colok dubur, dokter mengambil sejumlah kecil tinja . Contoh ini diletakkan pada

secarik kertas saring yang mengandung zat kimia. Setelah ditambahkan bahan kimia lainnya, warna tinja akan berubah bila terdapat darah.

DAFTAR PUSTAKA : 1. Bahan Kuliah BLOK 9 SISTEM DIGESTIVE 1 FK UKRIDA 2008 2. Sistem Pencernaan - http://bio-um.blogspot.com/2007/04/sistempencernaan.html 3. Pemeriksaan Diagnostik untuk Saluran Pencernaan http://www.medicastore.com 4. Sistem Pencernaan Makanan Pada Manusia - http://www.dikmenum.go.id 5. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN Edisi 11 GUYTON & HALL 2006