Anda di halaman 1dari 27

Makalah Skill Lab

Pewarisan Kelainan Genetik Oleh Autosom dan Gonosom

Disusun Oleh: Leonirma Tengguna 10 2009 197 A2

Januari 2010

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul Pewarisan Kelainan Genetik Oleh Autosom dan Gonosom ini berisikan pembahasan skenario kasus yang diberikan dalam proses pembelajaran terarah dan mandiri keempat (skill lab). Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai pewarisan kelainan genetik dari orang tua kepada keturunannya. Adapun kelainan genetika dapat diwariskan oleh dua jenis kromosom yaitu autosom dan gonosom. Keduanya memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu, makalah ini juga berisikan penganalisaan keturunan dengan diagram Pedigree. Dari diagram Pedigree, dapat diketahui kemungkinan kondisi keturunan yang dihasilkan. Akhir kata, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi pembaca.

Jakarta, 4 Februari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....... Daftar Isi . 1.1. 1.2. 1.3. Latar Belakang Masalah Tujuan Manfaat

i ii

Bab I. Pendahuluan . 1

Bab II. Isi . 2

2.1. Identifikasi Istilah 2.2. Rumusan Masalah 2.3. Analisis Masalah 2.4. Hipotesis 2.5. Sasaran Pembelajaran 2.5.1. Hukum Mendel .. 2 2.5.2. Pewarisan Sifat Autosomal pada Manusia 3 2.5.2.1. Pewarisan Sifat Autosomal Dominan 2.5.2.2. Pewarisan Sifat Autosomal Resesif 2.5.3. Pewarisan Sifat Gonosom . 14 2.5.3.1. Pewarisan Gen Tertaut Kromosom X
2.5.3.2.

Pewarisan Gen Tertaut Kromosom Y

2.5.4. Persilangan Buta Warna Pada Skenario 18


Bab III. Penutup 20 3.1. Kesimpulan Daftar Pustaka .. 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Saat seorang anak dilahirkan, anak tersebut akan mewariskan berbagai sifat dan karakter dari kedua orang tuanya. Selama makhluk hidup berkembang biak, sifat-sifat dari nenek moyang akan terus diturunkan dari generasi ke generasi. Sifat-sifat tersebut tidak dapat menghilang karena terdapat di dalam gen. Pada skenario PBL keempat, diceritakan bahwa Andi terkejut saat menyadari dirinya tidak dapat membedakan lampu merah hijau di perempatan jalan. Ternyata ibunya pun mengalami hal yang sama. Saat ini Andi kuatir apakah anaknya kelak juga akan menderita hal yang sama. Untuk mengetahui kemungkinan keturunan yang dihasilkan Andi, perlu dibuat diagram Pedigree. Dengan diagram Pedigree, dapat diketahui besar persentase apakah keturunan tersebut normal, carrier (pembawa), atau mengidap buta warna. Makalah ini berisikan penjelasan mengenai kelainan-kelainan yang diwariskan oleh berbagai macam gen, yaitu autosom dan gonosom. Adapun penurunan sifat dari kedua gen tersebut dibagi lagi menjadi pewarisan berdasarkan gen dominan dan resesif. Selain itu, makalah ini juga berisi diagram Pedigree mengenai kemungkinan keturunan yang dihasilkan Andi. 1.2. Tujuan Untuk mengetahui berbagai kelainan yang diturunkan secara genetik serta mengetahui kemungkinan keturunan yang dihasilkan dengan diagram Pedigree. 1.3. Manfaat Bertambahnya wawasan pembaca mengenai pewarisan kelainan yang tertaut pada gen tertentu dan mengetahui manfaat diagram Pedigree

BAB II ISI

2.1. Identifikasi Istilah Tidak ada istilah yang tidak dapat dimengerti. 2.2. Rumusan Masalah Pewarisan gen buta warna. 2.3. Analisis Masalah

2.4. Hipotesis Pewarisan sifat genetik dipengaruhi oleh autosom dan genosom sesuai Hukum Mendel. 2.5. Sasaran Pembelajaran 2.5.1. Hukum Mendel Pewarisan genetik adalah pewarisan karakter atau sifat-sifat genetis dari orang tua kepada keturunannya. Dari sifat-sifat yang dimiliki orang tua, dapat diketahui karakter yang akan diwariskan kepada anak-anaknya. Selama berabadabad telah dilakukan penelitian mengenai pewarisan genetik. Adapun peneliti pertama yang berhasilkan mengemukakan rumus pasti mengenai pewarisan genetika adalah Johan Gregor Mendel. Mendel berhasil menemukan dua hukum

pewarisan genetik. Kedua hukum tersebut dikenal sebagai Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II. Bunyi Hukum Mendel I yaitu dua anggota dari pasangan gen yang terpisah (segregasi) masing-masing ke dalam gamet, maka setengah gamet membawa satu anggota dari pasangan gen, dan setengah gamet lainnya membawa satu anggota dari pasangan gen yang lainnya. Sedangkan bunyi Hukum Mendel II yaitu selama proses pembentukan gamet, segregasi pada alel-alel dalam satu gen adalah berdiri sendiri dari proses segregasi alel-alel dari gen lainnya. Kedua hukum ini dijadikan dasar dalam pewarisan sifat genetik. 2.5.2. Pewarisan Sifat Autosomal pada Manusia Sifat autosomal merupakan sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom. Pada manusia, laki-laki dan perempuan memiliki jumlah autosom yang sama. Adapun sifat autosomal dapat diturunkan baik secara dominan maupun resesif. Keduanya memiliki ciri khas pewarisan tersendiri. 2.5.2.1. Pewarisan Sifat Autosomal Dominan Dalam kriteria penurunan autosom dominan, sifat heterozigot muncul pada setiap generasi tanpa selang. Bagi orang tua yang menderita kelainan pada autosom dominan, maka kelainan tersebut akan diwariskan ke setengah dari jumlah anak. Sedangkan orang tua yang bukan merupakan penderita (normal) tidak akan mewariskan sifat tersebut kepada anaknya. Pewarisan sifat ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Adapun berbagai kelainan yang diwariskan secara autosom dominan yaitu:
1. Kemampuan mengecap phenylcarbamida (PTC).

Pheniltiocarbamida atau phenilthiouracyl merupakan suatu zat kimia yang mudah larut dalam air. Bagi penderita kelainan PTC, zat ini akan terasa pahit bila dicicipi sehingga mereka disebut sebagai taster. Sedangkan bagi orang normal, zat ini tidak memiliki rasa (tawar) sehingga mereka disebut nontaster. Pada penderita, gen yang dimiliki adalah TT atau Tt. Sedangkan pada orang normal, gen yang dimiliki adalah tt.

2. Dentinogenesis Imperfekta (gigi opalesen).

Dentinogenesis Imperfecta (DI) merupakan gangguan pembentukan dentin yang bersifat herediter, di mana terjadi anomali pada struktur dentin. Gangguan ini menyebabkan kerusakan matriks predentin yang menyebabkan dentin sirkumpulpa tidak terbentuk dan tidak teratur. Ciri khas kelainan ini yaitu dentin berwarna putih seperti air susu (opalesen). Adapun penyebab dari kelainan ini adalah gen dominan DD atau Dd. Dentinogenesis Imperfekta merupakan kelainan yang jarang ditemukan dengan perbandingan 1:8000. Apabila gigi penderita dirontgen, akan tampak bahwa gigi penderita seputih susu, email normal, tetapi ruang-ruang pulpa dan saluran-saluran akar pada kebanyakan gigi terhapus dengan dentin abnormal. Terdapat penambahan perbatasan pada hubungan antara mahkota dengan akar-akar gigi molar. 3. Achondroplasia. Achondroplasia merupakan suatu kelainan epifisis yaitu adanya penulangan pada kartilago sehingga anggota tubuh menjadi pendek. Kelainan ini dapat ditemukan dalam satu kasus dari setiap 50.000 orang. Penyebab kelainan ini adalah alel B dominan. Gen BB merupakan gen yang bersifat letal sehingga penderita achondroplasia dari gen ini akan meninggal pada masa kanak-kanak. Para penderita achondroplasia yang bertahan hidup adalah mereka yang memiliki gen Bb. Tinggi badan rata-rata penderita achondroplasia adalah 131 cm untuk lelaki dewasa dan 124 cm untuk perempuan dewasa. Karakteristik fitur achondroplasia adalah lengan dan kaki pendek (terutama lengan atas dan paha), gerak terbatas pada siku, kepala besar (macrocephaly) serta dahi menonjol. Masalah kesehatan yang ditemui pada penderita pernafasan melambat atau berhenti untuk periode singkat (apnea), obesitas, serta infeksi telinga. Pada masa dewasa, penderita biasanya mengalami kebungkukan (lordosis) serta nyeri punggung yang menjadi penyebab kesulitan berjalan.

4. Polidaktili (jari lebih).

Polidaktili adalah suatu kelainan yang diwariskan oleh gen autosomal dominan P, yaitu orang yang mempunyai tambahan jari pada satu atau dua tangan atau pada kakinya. Yang umum dijumpai adalah terdapatnya jari tambahan pada satu atau kedua tangan. Tempatnya jari tambahan itu berbeda-beda, ada yang terdapat di dekat ibu jari dan ada pula yang terdapat di dekat jari kelingking. Gen penyebab polidaktili tidak bersifat letal. Pada orang normal, gen yang dimiliki adalah gen homozigotik resesif (pp). 5. Penyakit Huntington. Huntington merupakan suatu penyakit degeneratif yang menyerang sistem saraf. Penyakit ini disebabkan oleh suatu alel dominan A yang mematikan serta tidak memiliki pengaruh fenotipik nyata sampai individu yang bersangkutan berusia kira-kira 35 hingga 45 tahun. Begitu perusakan sistem saraf dimulai, tidak ada jalan untuk memulihkannya dan berakibat fatal. Setiap anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki alel untuk penyakit Huntington memiliki peluang 50% untuk mewarisi alel dan kelainan tersebut. Adapun alel dari penyakit ini terletak di suatu lokus di dekat ujung kromosom 4. 6. Penyakit Alzheimer Penyakit alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang disebabkan oleh gen autosomal dominan. Penyakit ini dapat timbul pada semua umur. Secara epidemiologi, penyakit Alzheimer terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang dari 58 tahun (early onset) dan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun (late onset). Dasar kelainan patologi penyakit alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dengan penurunan daya ingat secara progresif. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.

7. Sindrom Marfan. Sindrom Marfan adalah kelainan autosom dominan yang terjadi pada jaringan ikat. Jaringan ikat merupakan protein yang menyokong kulit, tulang, pembuluh darah serta organ lainnya. Salah satu bagian dari jaringan ikat adalah protein fibrillin. Timbulnya sindrom Marfan disebabkan adanya kelainan pada protein fibrilin. Adapun kelainan ini dapat terjadi dari stadium ringan sampai berat serta memiliki gejala bervariasi. Penderita sindrom Marfan seringkali memiliki tubuh yang sangat tinggi serta kurus. Sebagian besar penderita sindrom Marfan memiliki jantung dan pembuluh darah yang bermasalah, seperti aorta yang lemah atau bocornya katup jantung. Selain itu, kemungkinan mereka juga memiliki masalah dengan tulang, mata, kulit, sistem syaraf dan paru-paru.
8. Familial Hiperkolesterolemia

Familial hiperkolesterolemia adalah suatu kelainan dimana seseorang memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi (LDL atau Low Density Lipoprotein) sedari lahir. Kelainan ini dapat menyebabkan serangan jantung pada usia dini. Familial hiperkolesterolemia disebabkan oleh rusaknya gen pada kromosom 19. Hal ini mengakibatkan tubuh tidak dapat menghapus kolesterol LDL dari aliran darah sehingga penderita mengalami aterosklerosis pada usia dini. Kelainan ini diwariskan melalui gen autosom dominan. Penderita homozigot dominan memiliki resiko yang lebih tinggi daripada penderita heterozigot. Kadar kolesterol pada penderita homozigot dominan dapat melebihi 600mg/dL dimana keadaan demikian sangat meningkatkan risiko serangan jantung dan penyakit jantung.
9. Anonychia.

Anonychia adalah suatu kelainan di mana kuku dari beberapa jari tangan atau kaki tidak ada atau tidak baik tumbuhnya. Penyebab dari kelainan ini adalah adanya gen An pada kromosom.

10. Neurofibromatosis (Penyakit Recklinghausen)

Neurofibromatosis adalah kelainan genetik pada sistem saraf. Kelainan ini umumnya mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel saraf. Akibatnya, timbul tumor pada saraf tersebut. Neurofibromatosis disebabkan oleh pewarisan pada autosom dominan atau terjadinya mutasi pada gen. Tidak ada pengobatan medis untuk penderita kelainan ini. Adapun perawatan medis lebih difokuskan pada pengontrolan gejala. Untuk pengobatan lebih lanjut dapat mencakup operasi untuk mengangkat tumor, terapi radiasi serta obatobatan. Terdapat tiga jenis neurofibriomatosis, antara lain:
Tipe 1 (NF1) menyebabkan perubahan kulit dan cacat tulang. Kelainan

tipe ini umumnya sudah diderita sejak lahir.


Tipe

(Qxg2)

menyebabkan

gangguan

pendengaran,

telinga

berdenging dan rendahnya keseimbangan tubuh. Kelainan tipe ini umumnya muncul pada masa remaja.
Schwannomatosis menyebabkan rasa sakit yang hebat. Kelainan tipe ini

adalah jenis yang paling langka. 11. Brakidaktili Brakidaktili adalah suatu kelainan genetik di mana jari tangan atau kaki memendek karena memendeknya ruas-ruas tulang jari. Penderita brakidaktili memiliki gen dalam keadaan heterozigot (Bb). Gen homozigot dominan (BB) merupakan gen letal yang menyebabkan kematian pada masa embrio. Individu dengan gen homozigot resesif (bb) merupakan individu normal. 12. Retinal Aplasia Retinal aplasia adalah suatu kelainan yang menyebabkan orang lahir dalam keadaan buta. Penyebab dari kelainan ini adalah gen dominan Ra. 13. Katarak. Katarak adalah suatu penyakit mata yang menyebabkan orang menjadi buta. Kelainan ini disebabkan oleh gen dominan K.

14. Daun telinga yang bebas. Daun telinga yang bebas (artinya tidak tumbuh melekat) dan bentuk meruncing dari pangkal tumbuhnya rambut di dahi (Widows Peak) juga ditentukan oleh gen dominan pada autosom. 15. Warna rambut. Warna rambut disebabkan adanya pigmen melanin. Jika pigmen melanin terdapat dalam jumlah besar, maka rambut berwarna coklat tua sampai hitam. Apabila melanin berjumlah sedikit, maka rambut berwarna putih atau pirang. Orang dengan rambut coklat tua atau hitam memiliki gen BB atau Bb, sedangkan orang dengan rambut putih memiliki gen bb. 16. Berbagai karakter fisiologis. Lekuk pipit, lekuk di dagu, tumbuhnya rambut yang tebal di tangan, lengan, dan dada, serta kemampuan untuk membengkokkan ibu jari dengan sudut yang tajam merupakan sifat-sifat yang diturunkan oleh gen dominan. 2.5.2.2. Pewarisan Sifat Autosomal Resesif Ribuan kelainan genetik diketahui diwariskan sebagai sifat resesif sederhana. Kelainan-kelainan ini memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda mulai dari sifat yang relatif tidak berbahaya, seperti albinisme sampai ke keadaan yang mengancam kehidupan, seperti fibrosis sistik. Suatu penyakit yang diwariskan secara resesif muncul hanya dalam individu homozigot resesif. Individu heterozigot yang secara fenotipe normal disebut carrier karena mereka dapat saja mewariskan alel resesif tersebut kepada keturunannya. Adapun berbagai kelainan yang diwariskan secara autosom resesif antara lain: 1. Albinisme Albinisme merupakan suatu kelainan genetik yang diturunkan melalui autosom resesif aa, di mana melanin hanya memproduksi sedikit atau tidak

sama sekali warna (pigmen) di kulit, rambut, dan mata. Terdapat dua jenis albinisme, yaitu:

Albinisme tipe 1. Kelainan ini disebabkan oleh gangguan produksi Albinisme tipe 2. Kelainan ini adalah disebabkan kerusakan pada

pigmen pada melanin.

gen P. Penderita tipe ini memiliki sedikit warna saat lahir. Tipe albinisme yang paling parah adalah Oculocutaneous albinisme. Penderita kelainan ini memiliki warna putih atau merah muda pada rambut, kulit, dan iris, serta memiliki masalah penglihatan. Albinisme jenis lain, yang disebut albinisme okular tipe 1 (OA1), hanya mempengaruhi mata. Pengidap kelainan ini memiliki kulit dan mata yang masih dalam batas normal. Akan tetapi, pada pemeriksaan mata akan ditemukan tidak adanya pewarnaan di bagian belakang mata (retina). Selain tipe-tipe tersebut, terdapat satu lagi tipe albinisme yang disebabkan oleh satu gen. albinisme tipe ini disebut Hermansky-Pudlak syndrome (HPS). Kelainan ini muncul bersamaan dengan gangguan perdarahan, penyakit paru-paru dan usus.
2. Fenilketonuria (PKU)

Fenilketonuria adalah kelainan yang disebabkan penurunan autosom resesif pp, di mana kadar fenilalanin meningkat dalam darah. Fenilalanin adalah asam amino yang ditemukan dalam protein dan dalam beberapa pemanis buatan. Bila PKU tidak diobati, kadar fenilalanin dapat bertambah sampai ke tingkat yang berbahaya di dalam tubuh sehingga menyebabkan keterbelakangan mental dan masalah kesehatan serius lainnya. Bayi yang terlahir dengan PKU memiliki risiko keterbelakangan mental karena mereka terpapar kadar fenilalanin yang sangat tinggi sebelum dilahirkan. Bayi tersebut kemungkinan memiliki berat badan rendah dan tumbuh lebih lambat daripada anak-anak seusianya. Selain itu, masalah medis yang muncul adalah gangguan pada jantung, ukuran kepala yang kecil (mikrosefalus), serta memiliki tingkah laku yang bermasalah.

3. Bisu tuli Bisu tuli adalah kelainan genetik di mana penderita tidak dapat mendengar atau berbicara. Penyebab dari kelainan ini adalah adanya gen resesif dd atau ee pada autosom. Gen pada penderita bisu tuli adalah DDee, Ddee, ddEE, atau ddEe. Sedangkan pada orang normal, gen yang dimiliki adalah DDEE atau DdEe. 4. Alkaptonuria Alkaptonuria adalah kelainan genetik di mana urin berwarna hitam saat terkena udara. Ochronosis (suatu penumpukan pigmen gelap di jaringan ikat seperti tulang rawan dan kulit) juga merupakan karakteristik dari gangguan ini. Pigmentasi biru kehitaman pada urin ini biasanya terjadi pada usia lebih dari 30 tahun. Penderita alkaptonuria biasanya menderita radang sendi (terutama di tulang belakang) yang dimulai pada awal masa dewasa. Selain itu, penderita alkaptonuria seringkali memiliki masalah pada jantung, batu ginjal, dan batu prostat. Kelainan ini disebabkan adanya mutasi pada gen HGD. Gen HGD berfungsi untuk memproduksi enzim homogentisate oksidase yang memecah asam amino fenilalanin dan tirosin. Mutasi pada gen HGD merusak peran enzim dalam proses ini. Akibatnya, asam homogentisat yang diproduksi oleh fenilalanin dan tirosin yang rusak terakumulasi dalam tubuh. Kadar asam homogentisat dan senyawa terkait yang berlebihan ditampung pada jaringan penghubung sehingga tulang rawan dan kulit menjadi lebih gelap. Seiring waktu, penumpukan zat tersebut pada persendian menyebabkan arthritis. Selain itu, asam homogentisat juga diekskresikan dalam urin sehingga urin menjadi gelap ketika terkena udara.
5. Kretinisme (Hipotiroidisme Kongenital)

Hipotiroidisme kongenital adalah suatu kelainan yang ditemukan sedari bayi baru lahir yang disebabkan oleh hilangnya sebagian atau seluruh fungsi tiroid (hipotiroidisme). Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang memproduksi yodium berisi hormon pengatur pertumbuhan, perkembangan otak, dan metabolisme

tubuh. Kelainan tersebut terjadi apabila kelenjar tiroid gagal untuk berfungsi dengan baik. Jika tidak diobati, hipotiroidisme kongenital dapat menyebabkan keterbelakangan mental dan pertumbuhan yang tidak normal. Di Amerika Serikat dan banyak negara lain, semua bayi yang baru lahir dites hipotiroidisme kongenital. Jika pengobatan dimulai pada bulan pertama setelah kelahiran, bayi biasanya berkembang secara normal. Sebagian besar kasus hipotiroidisme kongenital adalah sporadis, artinya kelainan ini terjadi pada orang yang tidak memiliki silsilah kretinisme di keluarganya. 6. Penyakit Tay-Sachs Penyakit Tay-Sachs disebabkan oleh suatu enzim disfungsional yang gagal menguraikan lipid tertentu pada otak. Gejala dari penyakit ini biasanya terlihat beberapa bulan setelah lahir. Bayi mulai mengalami sesak napas, kebutaan, dan degenerasi kinerja motorik dan mental. Bahkan dengan perawatan medis yang terbaik, anak-anak dengan penyakit Tay-Sachs biasanya meninggal pada usia 4. Penyakit Tay-Sachs paling sering terjadi pada orang Jahudi Ashkenazik yang leluhurnya tinggal di Eropa Tengah. Dalam populasi tersebut, frekuensi penyakit Tay-Sachs ini ditemukan adalah satu dari setiap 3600 orang.
7. Fibrosis Sistik (Cystic Fibrosis / CF)

Fibrosis Sistik adalah kelainan pewarisan pada lendir dan kelenjar keringat. Kelainan ini menyerang paru-paru, pankreas, hati, usus, sinus dan organ-organ kelamin. CF menyebabkan lendir menjadi kental dan lengket. Banyaknya lendir pada paru-paru menyebabkan masalah pernapasan dan memudahkan bakteri untuk tumbuh. Akibatnya, terjadi infeksi berulang berulang dan kerusakan paru-paru. Kelainan ini dapat diderita sedari lahir, atau baru muncul saat seseorang beranjak remaja atau memasuki tahap dewasa muda. Meskipun tidak ada obat untuk CF, perawatannya telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sampai tahun 1980-an, sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak dan

remaja. Kini, dengan meningkatkan perawatan, para penderita CF rata-rata dapat hidup lebih dari 35 tahun. 8. Anemia Sel Sabit Anemia sel sabit disebabkan oleh substitusi suatu asam amino tunggal dalam protein hemoglobin berisi sel-sel darah merah. Ketika kandungan oksigen darah individu yang diserang itu rendah (pada tempat-tempat tinggi atau pada waktu mengalami ketegangan fisik), hemoglobin sel sabit akan mengubah selsel darah merah menjadi bentuk sabit (Eritrosit berbentuk bulan sabit ini mengalami hemolisis sehingga menyebabkan anemia berat yang dikenal sebagia anemia sel sabit. Gen sel sabit adalah salah satu contoh dari suatu gen yang bertahan dan menyebar di dalam populasi yang berasal dari penduduk kulit hitam Afrika. Keuntungan dari gen ini adalah dapat memberikan resistensi terhadap satu jenis malaria. Kelainan-kelainan yang disebabkan oleh anemia sel sabit antara lain nekrosis tulang mandibula, osteomilitis, osteitis dan sindrom Gardner's. Kelainan-kelainan ini disebabkan oleh terhambatnya aliran darah ke jaringan yang disebabkan eritrosit berbentuk sickle cell. Gambaran radiografi pada daerah yang mengalami kelainan-kelainan menunjukkan adanya area radiolusen dan radiopak. 9. Thalasemia Thalasemia adalah kelainan darah bawaan (keturunan) yang menyebabkan sel darah merah (eritrosit) mengalami hemolisis. Penyakit ini banyak terdapat di negara-negara di sekitar laut tengah. Thalasemia merupakan kelainan genetik yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak ada sama sekali sintesis rantai Hemoglobin, sehingga hanya mempunyai sedikit kemampuan untuk mengikat oksigen. Adapun thalasemia dibedakan atas: a. Thalasemia Thalasemia sering dijumpai pada penduduk Asia, terutama disebabkan adanya delesi (tidak adanya) gen . Pada individu normal, terdapat 4 gen dalam sepasang kromosom, yaitu 2 gen kromosom paternal (berasal dari

ayah). Delesi dapat terjadi pada 1 gen sampai 4 gen. Banyaknya delesi gen menentukan derajat keparahan pasien yaitu: Pada delesi 1 gen (disebut Thalasemia 2) hanya berpengaruh sedikit terhadap kelainan fungsi darah. Pada delesi 2 gen (disebut Thalasemia 1) berakibat anemia ringan. Pada delesi 3 gen (disebut HbH disease) berakibat anemia berat. Pada delesi 4 gen berakibat fatal pada bayi. b. Thalasemia Thalasemia yang heterozigotik mengakibatkan anemia ringan dan biasanya tidak memerlukan pengobatan. Dalam keadaan homozigotik, terjadi anemia berat dan memerlukan transfuse darah. Pada Thalasemia o yang homozigotik, sama sekali tidak ditemukan adanya HbA. Sedangkan pada thalasemia + yang homozigotik, HbA ditemukan dalam jumlah sedikit sekali. c. Thalasemia Pada Thalasemia atau Thalasemia F, terjadi penekanan produksi rantai pada Thalasemia . Dalam keadaan heterozigotik, ditemukan HbA dalam jumlah sedikit dan banyak HbF. Pada keadaan homozigotik, hanya ditemukan HbF saja dan penderita mengalami anemia yang agak berat. Thalasemia ditentukan oleh gen dominan Th. Orang normal memiliki genotip thth. Bayi homozigotik dominan ThTh (Thalasemia mayor) menderita anemia berat sehingga berakibat fatal. Individu heterozigotik Thth (Thalasemia minor) menderita anemia tidak berat sehingga dapat bertahan hidup. 10. Freidreichs Ataxia Friedreich's ataxia adalah kelainan pewarisan yang merusak sistem saraf. Kelainan ini menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang dan saraf yang mengendalikan gerakan otot pada lengan dan kaki. Biasanya, gejala

kelainan ini dimulai dari usia 5 sampai 15 tahun. Gejala utama adalah ataksia, yaitu sulit untuk mengkoordinasi gerakan. Sedangkan gejala yang lebih spesifik antara lain: kesulitan berjalan, otot melemah, gangguan pada gerakan mata, skoliosis, dan jantung berdebar-debar. Penderita Friedreich's ataksia biasanya memerlukan kursi roda 15 sampai 20 tahun setelah gejala pertama kali muncul. 2.5.3. Pewarisan Sifat Gonosom Gonosom adalah gen yang berada di dalam kromosom seks. Terdapat dua jenis kromosom sex, yaitu kromosom X dan Y. Pada kromosom X, terdapat dua jenis pewarisan yaitu pewarisan terpaut kromosom X resesif dan dominan. Sedangkan pada kromosom Y, hanya terdapat satu jenis pewarisan. 2.5.3.1. Pewarisan Gen Tertaut Kromosom X (Pewarisan gen tertaut kromosom X terdiri dari dua jenis, yaitu pewarisan terpaut kromosom X resesif dan dominan. Penderita pria akan selalu menunjukkan fenotipe dari kelainan ini dan mewariskan kelainan tersebut kepada semua keturunan perempuannya, tetapi tidak pada anak laki-lakinya. Pada perempuan carrier dari kromosom X yang mengandung gen resesif, gejala fenotipe tidak akan tampak. Akan tetapi, ia akan mewariskan gen dengan perbandingan yang sama untuk semua keturunannya. A. Pewarisan Gen Tertaut Kromosom X Resesif 1. Buta Warna Merah dan Hijau Buta warna adalah suatu kelainan pada persepsi warna. Kelainan ini menyebabkan perbedaan dalam melihat warna sesungguhnya, mulai dari kesulitan untuk membedakan beberapa jenis warna sampai pada ketidakmampuan total untuk mendeteksi warna. Kondisi ini dibagi menjadi tiga kategori utama: buta warna merah-hijau, buta warna biru-kuning, dan buta warna total. Buta warna merah-hijau adalah jenis paling umum di masyarakat. Penderita kelainan ini memiliki kesulitan dalam membedakan antara warna merah dan hijau. Mereka melihat warna-warna ini secara berbeda dari kebanyakan orang

dan mungkin mengalami masalah penamaan warna yang berbeda. Penderita buta warna jenis ini lebih banyak terdapat pada laki-laki daripada perempuan. Buta warna merah-hijau diwariskan oleh pautan kromosom X dominan. Pada laki-laki (yang hanya memiliki satu kromosom X), cukup satu salinan mengubah gen tiap sel untuk menyebabkan kelainan ini. Pada wanita (yang memiliki dua kromosom X), mutasi harus terdapat di kedua salinan dari gen untuk menyebabkan gangguan ini. Ciri khas dari pautan jenis ini adalah pewarisan hanya bias dilakukan oleh ibu. 2. Hemofilia Hemofilia adalah kelainan genetik di mana terjadi gangguan pada proses pembekuan darah. Penderita hemofilia sering mengalami perdarahan yang berkepanjangan. Dalam kasus hemofilia yang parah, perdarahan hebat terjadi setelah cedera ringan atau tidak ada cedera sama sekali (perdarahan spontan). Terjadinya komplikasi serius disebabkan oleh perdarahan ke dalam sendi, otot, otak, atau organ internal lainnya. Terdapat dua jenis hemofilia yaitu hemofilia A (dikenal sebagai hemofilia klasik) dan hemofilia B (dikenal sebagai penyakit Natal). Meskipun keduanya memiliki gejala yang sama, tetapi mutasi terjadi pada gen yang berbeda. Penderita hemofilia B yang langka (hemofilia B Leiden) mengalami perdarahan yang berlebihan pada masa anak-anak, tetapi berkurang setelah pubertas. Selain itu, terdapat jenis hemofilia langka lainnya yang tidak disebabkan oleh pewarisan mutasi gen. Gejala yang tampak adalah perdarahan pada kulit, otot, atau jaringan lunak lain. Biasanya kelainan ini terjadi pada usia dewasa. Hemofilia A dan hemofilia B merupakan pewarisan dari kromosom X resesif. Kelainan yang disebabkan oleh kromosom X resesif menyerang laki-laki lebih sering daripada perempuan. Ciri khas dari pewarisan kromosom X adalah ayah tidak dapat menurunkan sifat-sifat tersebut kepada anak perempuannya. Seorang wanita yang memiliki satu salinan pengubah gen dalam tiap sel (disebut carrier) dapat mewariskan gen tersebut untuk anak-anaknya, tetapi

biasanya tidak mengalami gangguan. Namun, dalam suatu kasus ditemukan sekitar 10% wanita carrier akan mengalami masalah perdarahan ringan.
3. Distrofi Otot (Duchenne and Becker Muscular Dystrophy)

Distrofi otot adalah kelainan genetik di mana terjadi kelemahan otot yang progresif (atrofi). Distrofi otot jenis Duchenne dan Becker menyebabkan gangguan pada otot rangka dan otot jantung. Kondisi ini terjadi lebih sering pada laki-laki daripada perempuan. Distrofi otot Duchenne dan Becker memiliki gejala yang serupa dan disebabkan oleh mutasi pada gen yang sama. Adapun perbedaannya terdapat dalam tingkat keparahan, usia onset, dan peningkatan kelemahan otot. Pada penderita distrofi otot Duchenne, kelemahan otot cenderung muncul pada anak usia dini. Anak-anak pengidap kelainan ini mengalami penundaan perkembangan motorik, seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Pada masa remaja, penderita akan membutuhkan kursi roda. Adapun penyebab dari kelainan ini yaitu tidak adanya satu protein otot yang penting yang disebut distrofin. Berbeda dengan Distrofi otot Becker. Gejala distrofi otot Becker biasanya lebih ringan dan menunjukkan berbagai macam variasi. Pada kebanyakan kasus, kelemahan otot baru terlihat jelas di masa kanak-kanak atau remaja dan memiliki peningkatan yang jauh lebih lambat daripada distofi otot Duchenne. A. Pewarisan Gen Tertaut Kromosom X Dominan
1. Sindrom Fragile X

Sindrom Fragile X adalah kondisi genetik yang menyebabkan kelainan pada pertumbuhan individu, yaitu ketidakmampuan belajar dan gangguan kognitif. Biasanya, laki-laki lebih rentan terhadap kelainan ini daripada perempuan. Penderita sindrom Fragile X biasanya berperilaku hiperaktif dan memiliki kecemasan yang berlebihan. Mereka juga memiliki kesulitan untuk terfokus pada suatu hal. Seiring waktu, penderita laki-laki memiliki karakteristik fisik yang

khas, yaitu wajah yang panjang, telinga besar, menonjolnya rahang dan dahi, jari yang sangat fleksibel, dan testikel yang membesar setelah pubertas.

2. Sindrom Rett

Sindrom Rett adalah gangguan perkembangan otak yang terjadi hampir secara eksklusif pada anak perempuan. Setelah usia 6 sampai 18 bulan dengan perkembangan yang tampak normal, anak-anak dengan sindrom Rett akan memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dan berbahasa, belajar, koordinasi tubuh, dan berbagai gangguan pada fungsi otak lainnya. Pada awal masa kanak-kanak, penderita perempuan kehilangan pengetahuan akan penggunaan tangan mereka dengan meremas tangan berulangulang, membuat gerakan mencuci, atau bertepuk tangan. Mereka memiliki ukuran kepala kecil (mikrosefalus) dan cenderung tumbuh lebih lambat dari anak-anak seusianya. Selain itu, gejala lain yang timbul yaitu kelainan pernapasan, kejang, lengkungan abnormal pada tulang belakang (skoliosis), dan gangguan tidur. Lebih dari 99 persen kasus sindroma Rett klasik terjadi pada orang yang dalam keluarganya tidak terdapat sejarah dari kelainan ini. Sebagian besar dari kelainan pada kasus ini merupakan hasil dari mutasi baru pada gen.
2.5.3.2.

Pewarisan Gen Tertaut Kromosom Y

Gen yang tertaut pada kromosom Y disebut gen holandrik. Gen ini merupakan gen tertaut kelamin sempurna yang sangat langka. Kelainan pada gen holandrik diwariskan dari ayah kepada semua anak laki-lakinya, tetapi tidak pernah diwariskan kepada anak perempuannya. Adapun kelainan diwariskan oleh kromosom Y antara lain:
1. Hairy Pinnae (Hypertrichosis)

Hypertrichosis adalah pertumbuhan rambut yang berlebihan (tidak normal) pada seorang individu. Hypertrichosis berbeda dengan hirsutisme, yaitu pertumbuhan rambut berlebihan pada wanita yang mengikuti pola distribusi pada laki-laki. Hypertrichosis dapat menjalar ke seluruh tubuh atau terisolasi

pada suatu bagian kecil. Kemunculan Hypertrichosis dapat diperoleh sedari lahir atau beberapa waktu saat individu tersebut memasuki masa pertumbuhan. Hypertrichosis merupakan kelainan genetik yang disebabkan mutasi spontan pada gen yang terpaut kromosom Y. Pada penderita Hypertrichosis lanuginosa akan diperoleh hasil diagnosis berupa kanker dalam berbagai bentuk. Rambut yang tumbuh meliputi rambut panjang dan halus seperti sutra serta terdapat pada wajah, hidung, dan kelopak mata (area yang biasanya tidak berambut). Sampai kini, belum diketahui mengapa kanker menyebabkan pertumbuhan rambut yang berlebihan ini. Penyebab lain yang mungkin memicu hypertrichosis antara lain: gangguan metabolisme seperti porfiria cutanea tarda, pemakaian obat-obatan atau bahan kimia, serta Anorexia nervosa.
2. Sindaktili (Webbed Toes)

Sindaktili merupakan kelainan genetik di mana terjadi perlekatan antar jari tangan atau kaki. Perlekatan biasanya terjadi hanya pada kulit, tetapi dalam kasus yang langka melibatkan penggabungan (fusi) dari tulang. Sindaktili mungkin ditemukan selama pemeriksaan bayi atau anak. Bentuk yang paling umum adalah perlekatan antara jari kedua dan ketiga. Sindaktili juga dapat terjadi bersamaan dengan cacat lahir pada tengkorak, wajah, dan tulang.
3. Antigen HY

Antigen H-Y adalah protein membran plasma spesifik yang ditemukan hanya pada pria yang secara langsung membentuk testes dari gonad. Pada wanita tidak terdapat SRY, sehingga tidak ada antigen H-Y, sehingga jaringan gonad baru mulai berkembang setelah 9 minggu kehamilan membentuk ovarium.

2.5.4. Persilangan Buta Warna Pada Skenario Pada skenario PBL keempat, diceritakan bahwa Andi terkejut saat menyadari dirinya tidak dapat membedakan lampu merah hijau di perempatan

jalan. Ternyata ibunya pun mengalami hal yang sama. Saat ini Andi kuatir apakah anaknya kelak juga akan menderita hal yang sama. Dari skenario tersebut, dapat dibuat diagram Pedigree mengenai kemungkinan pewarisan buta warna, yakni sebagai berikut:
1. Ayah Andi normal sedangkan ibunya merupakan penderita buta warna,

maka: P: XY XcbXcb

F1:

XcbY

XcbX

F1 : Keturunan yang dihasilkan dari persilangan ini yaitu 50% pria penderita buta warna dan 50% perempuan carrier. Dari diagram ini dapat disimpulkan bahwa Andi termasuk ke dalam pria penderita buta warna.
2. Andi yang merupakan penderita buta warna menikah dengan seorang

perempuan. Dalam kasus ini, terdapat tiga kemungkinan yaitu perempuan yang dinikahinya adalah seorang normal, carrier buta warna, atau penderita buta warna. Adapun diagram persilangannya adalah sebagai berikut: Andi menikah dengan seorang perempuan normal.

F1:

XcbY

XX

F2:

XY

XcbX

F2: Keturunan yang dihasilkan dari persilangan ini yaitu 50% pria normal dan 50% perempuan carrier. Andi menikah dengan seorang perempuan carrier buta warna.

F1:

XcbY

XcbX

F2:

XcbY

XY

XcbX

XcbXcb

F2: Keturunan yang dihasilkan dari persilangan ini yaitu 25% pria penderita buta warna, 25% pria norma, 25% perempuan carrier, dan 25% perempuan penderita buta warna. Dari diagram ini dapat disimpulkan bahwa Andi termasuk ke dalam pria penderita buta warna. Andi menikah dengan seorang perempuan buta warna. XcbY XcbXcb

F1:

F2:

XY

XcbXcb

F2: Keturunan yang dihasilkan dari persilangan ini yaitu 50% pria normal dan 50% perempuan penderita buta warna.

BAB III PENUTUP

1.1. Kesimpulan Dari pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kelainan genetik dapat diturunkan oleh dua jenis kromosom, yaitu autosom (kromosom tubuh) dan gonosom (kromosom seks). Dari masing-masing kromosom ini, pewarisan sifat dapat dibagi lagi menjadi dominan dan resesif. Keseluruhannya memiliki ciri khas pewarisan masing-masing. Selain itu, besar kemungkinan pewarisan sifat kepada keturunan juga dapat diketahui dengan diagram Pedigree. Dari skenario yang ada, dapat dihitung kemungkinan kondisi keturunan, yaitu apakah keturunan tersebut normal, carrier, atau penderita buta warna.

DAFTAR PUSTAKA

Genetic Home Reference. Genetic inheritance. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari http://ghr.nlm.nih.gov/glossary=geneticinheritance, 7 Februari 2010. Nugraha ZS. Genetika dasar. Edisi 2008-9. Diunduh dari

http://medicine.uii.ac.id/upload/Blok-Biomedis-2008-2009-GenetikaDasar-Kedokteran-UII.pdf, 7 Februari 2010. Yendriwati. Dentinogenesis imperfekta. Edisi 2004. Diunduh dari

http://library.usu.ac.id/download/fkg/fkg-yendriwati.pdf, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Achondroplasia. Dipublikasian pada 31 Januari 2010. Diunduh dari http://ghr.nlm.nih.gov/condition=achondroplasia, 7 Februari 2010. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. Mendel dan ide tentang gen. Dalam: Biologi. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga;2002.h269-73. Medline Plus. Marfan syndrome. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/marfansyndrome.html, 7 Februari 2010. Medline Plus. Familial hypercholesterolemia. Diunduh dari: http://www.nlm. nih.gov/medlineplus/ency/article/000392.htm, 7 Februari 2010. Medline Plus. Neurofibromatosis. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/neurofibromatosis.html, 7 Februari 2010.

Genetic Home Reference. Albinism. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001479.htm, 7 Februari 2010. Genetics Home Reference. Phenylketonuria. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=phenylketonuria, 7 Februari 2010. Genetics Home Reference. Alkaptonuria. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=alkaptonuria, 7 Februari 2010. Genetics Home Reference. Congenitalhypothyroidism. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition= congenitalhypothyroidism, 7 Februari 2010. Medline Plus. Tay sachs disease. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/taysachsdisease.html, 7 Februari 2010. Medline Plus. Cystic fibrosis. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/

medlineplus/cysticfibrosis.html, 7 Februari 2010. Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Gambaran radiografi rongga mulut pada penderita sickle cell anemia. Diunduh pada: http://library.usu.ac.id/ index.php/component/journals/index.php? option=com_journal_review&id=3003&task=view, 7 Februari 2010. Medline Plus. Freidreichs Ataxia. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/friedreichsataxia.html, 7 Februari 2010.

National Institution of Neurological and Stroke. Freidreichs Ataxia. Diunduh dari: http://www.ninds.nih.gov/disorders/friedreichs_ataxia/detail_friedreichs_ ataxia.htm, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Color vision deficiency. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=colorvision deficiency, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Hemophilia. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=hemophilia, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Duchenne and becker muscular dystrophy.

Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/ condition=duchenneandbeckermusculardystrophy, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Fragile X syndrome. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=fragilexsyndrome, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Rett syndrome. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/condition=rettsyndrome, 7 Februari 2010. DermNet NZ. Hypertrichosis. Dipublikasikan pada 24 Desember 2007. Diunduh pada: http://dermnetnz.info/hair-nails-sweat/pdf/hypertrichosis-dermnetnz.pdf, 7 Februari 2010. Genetic Home Reference. Syndactyly. Dipublikasikan pada 31 Januari 2010. Diunduh pada: http://ghr.nlm.nih.gov/glossary=syndactyly, 7 Februari 2010. Medline Plus. Webbing of the fingers and toes. Diunduh pada:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003289.htm, 7 Februari 2010.