Anda di halaman 1dari 10

Pendahuluan Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu penjualan produk antar negara tanpa pajak

ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya, perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda. Perdagangan Internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas.1 Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar. Negara-negara membentuk sebuah bentuk kerjasama internasional, baik regional, bilateral maupun multilateral agar hambatan-hambatan dalam perdangangan dapat diatasi dan negara tersebut dapat memajukan perekonomian negaranya.2 Disini kita akan membicarakan kerjasama ekonomi regional, kerjasama yang ada memberikan peluang dan tantangan bagi bisnis internasional, dalam hal ini peningkatan penguatan blok-blok perdagangan. Negara-negara berupaya mengintegrasikan perekonomiannya guna membuka pasar baru bagi perusahaan mereka. Daerah perdagangan bebas, mendorong negara-negara untuk mengurangi hambatan perdagangan. Tetapi disini suatu negara berhak membuat kebijakan negaranya untuk negara bukan anggota. Akibatnya sering terjadi pembelokanpembelokan. Misalnya, Kanada memberlakukan tarif impor yang tinggi kepada suatu negara yang ingin mengekspor barangnya ke Kanada, sementara Amerika Serikat (AS) hanya memberlakukan sedikit hambatan saja. Maka negara pengekspor tadi mengalihkan ekspornya yang semula ingin di ekspor ke Kanada dialihkan ke AS kemudian dari AS akan di eksport lagi ke Kanada. Sehingga diperlukan dalam suatu lembaga yang dapat menghilangkan dari pembelokan-pembelokan tersebut.

1 2

Graham, L. John dan Philip R. Cateora. 2007. Pemasaran Internasional. Jakarta: Salemba empat. Yurni. Ilmu Bisnis. docstoc.com (14 Agustus 2009). Melalui http://www.docstoc.com/docs/9912727/ilmu-bisnis/ diakses pada 17 November 2011.

Perspektif Neo-liberalisme Neo-liberalism dalam dunia akademik lebih sering mengacu pada neo-liberal institutionalism. Neo-Liberalisme bergerak dengan mengindahkan interdependensi kompleks antara negara. Sehubungan dengan munculnya aktor-aktor lain selain negara, neo-liberal mematahkan konsep neo-realisme yang tidak mengakui adanya hubungan kerjasama antar-negara. Konsep dasar neo-liberal adalah integrasi dan kooperasi internasional. Konsep ini justru dimulai di negara-negara barat dan berkembang, mengingat adanya kegiatan lintas batas yang mutual antar-negara. Ini merupakan konsep dari liberalisme-sosiologikal yang merupakan salah satu pola baru neo-liberal. Liberalisme-interdependensial juga muncul dengan konsep dimana telah tedapat interdependesi komplek antar-negara, tidak hanya di bidang pencarian power, dan militer saja, tapi meluas ke aspek lain seperti ekonomi, khususnya pada korporasi bisnis dan kerjasamanya. Interdependensi kompleks ini juga merupakan potret situasi yang secara radikal jauh berbeda dari apa yang diyakini kaum realis selama ini. Dalam kebijakan, neo-liberalism diidentifikasi sebagai upaya mempromosikan kapitalisme, nilai-nilai dan lembaga demokratis Barat. Neoliberalisme komersial, setuju dengan perdagangan bebas dan ekonomi pasar atau kapitalis sebagai jalan untuk menuju perdamaian dan kemakmuran. Pandangan ini dikemukakan oleh lembaga keuangan global, Negara dengan perdagangan besar dan kerjasama internasional. Neoliberalisme orthodox diperkenalkan oleh Thomas Friedmann (2005) yang menyatakan bahwa perdagangan bebas, hak kepemilikan pribadi dan pasar bebas akan memungkinkan untuk membuat menjadi lebih kaya, inovatif, dan menciptakan dunia yang toleran.3 Neoliberalisme dikembangkan dalam upaya untuk merespon tentang bagaimana menjelaskan bentukbentuk cooperation di dalam dunia yang anarki. Sehingga dalam sistem internasionalnya, paham neoliberalisme tidak menganggap bahwa suatu mekanisme pelaksanaan yang bersifat eksternal tidak terlalu tampak. Oleh karena itu, setiap perjanjian harus memaksa tiap individu untuk melakukan perjanjian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa setiap negara harus menghindari kemungkinan berbuat curang. Dalam neoliberalisme negara dianggap sebagai aktor yang sangat penting. Karena jika negara sebagai institusi tidak dianggap penting sebagai aktor, maka kerjasama antarnegara akan sulit tercapai.4
3

Baylis, John, 2001, The Globalization of World Politics: An introduction to International Relations, Oxford University Press, New York. Hlm : 131. 4 Dinar Prisca Putri. Menilik Pemikiran Liberalisme dan Neo-liberalisme. blogspot.com (Maret 2010). Melalui http://dinarprisca.blogspot.com/2010/03/menilik-pemikiran-liberalisme-dan.html diakses pada 17 November 2011.

Rezim Internasional Rezim internasional berkembang pesat sejak perang dunia kedua. Sampai saat ini pun rezim sudah meliputi hampir seluruh aspek hubungan internasional yang membutuhkan koordinasi antar state, mulai dari isu pertahanan (misalnya pembatasan pengembangan senjata atau pertahanan kolektif), perdagangan, keuangan dan investasi, informasi dan komunikasi, hak asasi manusia, dan lingkungan; merupakan contoh dari sekian banyak urusan dalam sebuah rezim internasional. Dalam masa globalisasi saat ini, borderless world sudah menjadi hilang, sehingga negara-negara mulai membuka diri dan bekerja sama. Negara-negara yang tergabung dalam organisasi regional, walaupun sudah tidak ada batas antara mereka, namun tetap saja harus ada pembatasan kedaulatan negaranya untuk menghasilkan suatu kebijakan organisasi tersebut. Dengan kedaulatan negara yang tidak dapat diberikan sepenuhnya dalam suatu organisasi internasional, maka dibuatlah batasan dalam organisasi internasional tersebut untuk negara anggotanya, yaitu dalam rezim internasional. Rezim internasional ini menjadi suatu aturan untuk membatasi kepentingan negara-negara. Stephen Haggard dan Beth A. Simmons (1987) mengatakan bahwa rezim internasional muncul sebagai fokus penting dari riset empiris dan debat teoritis di dalam hubungan internasional.5 Definisi rezim dapat pula dikutip dari Donald Puchala dan Raymond Hopkins yang berargumen bahwa sebuah rezim ada di dalam setiap issue area hubungan internasional dimana terdapat keteraturan perilaku, seperti prinsip-prinsip, norma-norma atau aturan-aturan harus ada untuk dipertanggungjawabkan. Seperti yang dikutip di bawah ini :
a regime exists in every substantive isue-area in international relations Wherever there is regularity in behavior, some kinds of principles, norms or rules must exist to account for it. (Puchala, 1982: 356).

Menurut Stephen D. Krasner, rezim internasional adalah suatu tatanan yang berisi kumpulan prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan, baik bersifat eksplisit maupun implisit, yang berkaitan dengan ekspektasi atau pengharapan aktoraktor dan memuat kepentingan aktor itu sendiri dalam hubungan Internasional.6 Sedangkan rezim menurut Robert O. Keohane merupakan suatu perangkat peraturan pemerintah yang meliputi jaringan-jaringan peraturan, norma-norma dan cara-cara yang mengatur serta mengawasi dampaknya. Norma dalam konteks tersebut adalah nilai-nilai yang didalamnya terkandung fakta tepercaya, penyebab dan rectitude (keadilan/ kejujuran). Sedangkan yang dimaksud dengan nilai-nilai adalah perilaku
5 6

Haggard & Simmons, 1987.p. 201. Archer, Clive. 2001. International Organization : Third Edition. New York : Routledge. Hal 109

standar yang terbentuk karena adanya kewajiban dan keharusan. Peraturan sendiri mengandung anjuran untuk bertindak secara spesifik yang sifatnya membatasi. Sedangkan decision-making procedure (prosedur membuat keputusan) merupakan praktek berlaku untuk membuat dan mengimplementasikan pilihan kelompok.7 Kaum liberal berpendapat bahwa negara-negara sebenarnya sangatlah mempertimbangkan untuk memperoleh keuntungan absolut. Pada akhirnya ketika mereka memutuskan untuk melakukan bekerjasama atau tidak, negara-negara tersebut akan mengevaluasi apa manfaat yang dapat diterima oleh mereka daripada memikirkan apa keuntungan yang dapat mereka berikan secara relatif terhadap yang lain. Oleh karena itu, pertimbangan utama bagi negara-negara seperti itu adalah bagaimana mereka mendapatkan keuntungan paling maksimal dan rezim sebagai alat yang efektif untuk menjamin keberlangsungan keuntungan seperti itu. SEJARAH NAFTA NAFTA atau North American Free Trade Agreement (Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara), adalah kesepakatan tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, yang dilaksanakan pada 1 Januari 1994.8 Pada hakikatnya, kesepakatan ini muncul sejak tahun 1988, masa Kanada dan AS menandatangani Canada-United States Free Trade Agreement. Tak lama kemudian, pemerintah Amerika memulai negosiasi dengan pemerintah Meksiko dalam menjalin kerjasama ekonomi, diikuti dengan peran serta Kanada untuk memperoleh keuntungan bersama. Persetujuan tersebut timbul karena tak lepas dari permasalahan ekonomi itu sendiri, Kanada sedang mengalami kemerosotan ekonomi yang menimbulkan banyaknya pengangguran dan memidahkan investasinya ke AS.9 NAFTA sebagai bentuk kerjasama internasional yang menjadi jalan menurut kaum neo-liberal dalam rangka mencapai kepentingan bersama dalam pembangunan ekonomi. NAFTA berisi normanorma dan aturan yang berlaku bagi negara yang mengikuti perjanjian ini dalam kerjasama ekonominya. NAFTA ditandatangani oleh Kanada, Meksiko dan AS pada masa pemerintahan Presiden George Bush Senior dan akhirnya diterapkan meskipun

Keohane (dalam Krasner, S. 1982. Internastional Regime. Ithaca : Cornell University Press. p.2)

_____. NAFTA dan Permasalahan yang ditimbulkannya. wordpress.com (12 Juni 2009). Melalui http://kopiitudashat.wordpress.com/2009/06/12/nafta-dan-permasalahan-yang-ditimbulkannya/ diakses pada Kamis, 17 November 2011. 9 Gracia. Problematika NAFTA. blogspot.com (22 Mei 2009). Melalui http://theamazinggrace.blogspot.com/2009/05/problematika-nafta.html diakses pada 17 November 2011.

ditentang keras oleh Bill Clinton dari kubu Demokrat.10 Sebelum NAFTA resmi didirikan, muncul beberapa gejolak yang pada akhirnya menghasilkan kontrakdiksi dalam perumusannya. Ketika Presiden Bush merencanakan perjanjian tersebut lalu disahkan oleh pemerintahan Bill Clinton, milioner Texas Roos Perot dan politikus Pat Buchanan menentang pembentukan NAFTA. Para penentang NAFTA lainnya mengkritik bahwa perdagangan bebas yang disepakati pihak Amerika Utara dapat memicu tingginya angka pengangguran karena biaya tenaga kerja yang begitu rendah dan deregulasi pasar yang tidak sepenuhnya menyeimbangkan tarif hidup masyarakat. Sementara itu, para pecinta lingkungan pun tidak setuju dengan adanya NAFTA karena ketidakseimbangan keadaan alam dari setiap negara anggota yang dapat menyebabkan polusi yang berkepanjangan. Pembentukan NAFTA ini bertujuan untuk membentuk zona perdagangan yang secara berkala dapat mengurangi hambatan dan memungkinkan pergerakan bebas barang, jasa, modal, dan tenaga kerja di kawasan Amerika Utara. NAFTA disebutsebut sebagai zona free trade area terbesar kedua sedunia, setelah European Economic Area dengan 365 juta konsumen di AS, Kanada dan Meksiko.11 Selain itu tujuan lain dari pembentukan NAFTA antara lain adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja melalui usaha menghilangkan berbagai hambatan perdagangan, menciptakan iklim untuk mendorong persaingan yang adil, meningkatkan peluang investasi, memberikan perlindungan terhadap hak milik intelektual, dan menciptakan prosedur yang efektif dalam penyelesaian perselisihan perdagangan antara ketiga negara anggotanya. Salah satu kemudahan yang diperoleh dari NAFTA adalah penghapusan semua batas-batas nontarif bagi perdagangan sektor pertanian antara Amerika dan Meksiko. Ketentuan-ketentuan agrikultural Amerika-Kanada [FTA (Free Trade Agreement)] berdampak sejak 1989 digabungkan dengan NAFTA. Dengan ketentuan ini semua tarif pada perdagangan sektor pertanian antara Kanada dan Amerika dicakup oleh tariff-rate quotas (TRQs) dihapus sejak 1 Januari 1998. Adapun beberapa ketentuan NAFTA yang telah disetujui, di antaranya : 1. Protection for Import-Sensitive Crop : Perlindungan terhadap hasil sensitif import. 2. Sanitary and Phytosanitary Measures : Ukuran untuk melindung makhluk hidup dari penyakit binatang atau tanaman, zat tambahan makanan atau terkena kontaminasi. 3. Eksport Subsidies : subsidi eksport terhadap setiap negara anggota NAFTA
10

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=13834&Itemid=47 diakses pada 17 November 2011. 11 Ibid. wordpress.com (12 Juni 2009).

4. Internal Support : dukungan internal NAFTA terhadap perekonomian AS, Kanada, Meksiko 5. Grade and Quality Standard : Amerika dan Meksiko setuju bahwa Amerika dan Meksiko menggunakan suatu ukuran mengenai klasifikasi ( angka dan prodeuk domestik) 6. Rules of Origin : peraturan tetang originalitas produk antar negara NAFTA 7. Bulk Commodities : Seluruh komoditas pangan dan produk olahan seperti jus jeruk dan keju dibebaskan dari ketentuan de minimis, memperbolehkan sampai 7 persen produk asal non-NAFTA 8. Citrus : Seluruh jus-jus tunggal (segar, beku, terkonsentrasi, rekonstitusi dan fortified) harus terbuat dari 100 persen buah-buahan yang berasal dari NAFTA. 9. Dairy Product : Hanya susu yang berasal dari Amerika atau Meksiko yang digunakan untuk membuat krim, mentega, yogurt, es krim, dan minuman susu lainnya. 10.Vegetable Oil : Seperti pembuatan margarin dan hydrogenated. 11.Sugar : Seluruh pengolahan gula mengambil tempat di teritori NAFTA. 12.Peanut Products : Meksiko harus memproduksikan kacang untuk diekspor ke Amerika. Walaupun berhasil menggerakkan roda perekonomian dengan arus investasi yang besar, NAFTA dapat dikatakan masih belum terlepas dari problem besar yang masih menjadi kendala hingga saat ini. Arus barang yang bebas dari free trade nya regionalisme menimbulkan masalah baru yaitu tentang rendahnya upah buruh, minimnya jaminan keselamatan kerja dan diskriminasi gender serta eksploitasi pekerja di bawah umur. Untuk mencegah pembelokan ini diatur dalan perjanjian NAFTA agar suatu barang impor dari negara lain terlebih dahulu harus menjalani proses. Pengaruh Amerika Serikat dalam NAFTA Sebagaimana yang telah diketahui sebelumnya NAFTA merupakan sebuah integrasi ekonomi tiga negara Amerika Utara yaitu Kanada, Amerika Serikat dan Meksiko dalam bentuk perdagangan bebas. Dari keanggotaan tiga negara ini maka terlihat jelas bagaimana perbedaan yang cukup mencolok antara ketiga negara baik itu dari segi ekonomi dan industri sendiri maupun dari segi teknologi dan aspek-aspek lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan dalam pengaplikasian NAFTA bagi negara-negara anggotanya. Amerika Serikat tampil sebagai negara hegemon

karena memiliki banyak kelebihan dibanding dua negara lainnya. Maka tidak heran jika Amerika Serikat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berjalannya NAFTA. Hal ini terlihat dari kebijakan-kebijakan atau ketentuan-ketentuan yang ada dalam NAFTA sendiri dimana dinilai lebih menguntungkan Amerika Serikat dibandingkan dua negara anggota lainnya. Ketentuan tersebut antara lain12 : (1) Perlindungan terhadap hasil sensitif import. (2) Ukuran sanitasi. (3) Subsidi Eksport. (4) Dukungan Internal. (5) Angka dan Standar Kualitas. Kebijakan-kebijakan diatas lebih berpihak pada Amerika Serikat dan memberikan keuntungan pada Amerika Serikat. Ketentuan seperti ukuran sanitasi dan angka standar kualitas contohnya adalah merupakan ketentuan yang berpihak pada Amerika Serikat. Dimana Amerika Serikat lebih unggul dari segi teknologi dibandingkan dua negara lainnya yang menyebabkan Amerika Serikat dengan mudah mampu memenuhi ukuran sanitasi dan standar kualitas yang diterapkan sedangkan dua negara lainnya memiliki kesulitan untuk memenuhinya. Hal ini tentu saja menguntungkan Amerika Serikat karena dengan begitu produk-produk AS dapat dipasarkan secara luas di tiga negara namun produk-produk dari Kanada dan Meksiko harus terbentur dengan standar sanitasi dan kualitas yang telah ditentukan. Keuntungan yang diperoleh oleh AS ini dapat terlihat dari kenaikan nilai ekspor pertanian pada Meksiko dan Kanada meningkat 48 persen sejak tahun fiskal 19921998. Kemudian pada tahun fiskal selanjutnya, ekspor makanan dan pangan AS ke dua negara Amerika lainnya meningkat dari 881 juta dollar menjadi 5,9 milyar dollar. Peningkatan yang sangat signifikan bagi AS namun tidak bagi Meksiko yang harus mengimbangi neraca perdagangannya lebih berat lagi. Saat ini, AS menjadi pemain utama dalam pasar pangan di Meksiko yang menguasai lebih dari 75 persen pasar impor. Apa yang terjadi pada Kanada juga tidak jauh berbeda dengan Meksiko, dibawah payung NAFTA, ekspor AS bertambah lebih dari 89 persen sejak 1990 hingga 1998. Perdagangan sektor pangan dikuasai oleh AS lebih dari tiga perempat penjualan total di Kanada.13 Tidak hanya dari segi ekspor impor barang, hal lainnya seperti ketenagakerjaan juga menjadi permasalahan dalam pemberlakuan NAFTA. Pada awalnya masalah ketenagakerjaan menjadi sebuah perdebatan mengenai NAFTA bahkan di internal Amerika Serikat sendiri. Banyak pihak yang beranggapan bahwa dengan adanya pasar bebas yang terjadi antara tiga negara ini maka akan mengancam nasib tenaga kerja
12

____. Kontradiksi Realita dan Normatif dalam NAFTA. blogspot.com (23 April 2010). Melalui http://chocolitius.blogspot.com/2010/04/kontradiksi-realita-dan-normatif-dalam.html diakses pada 17 November 2011. 13 Ibid. blogspot.com (23 April 2010).

AS sendiri karena para pemilik modal dan pengusaha akan lebih memilih tenaga kerja yang lebih murah untuk memangkas biaya produksi. Sehingga tenaga kerja yang ada di AS dengan standar gaji yang lebih tinggi dibanding dua negara lainnya terutama Meksiko akan kehilangan lapangan pekerjaan. Seharusnya hal ini menjadi peluang bagi negara berkembang seperti Meksiko untuk memajukan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Namun fenomena ini pun menjadi dilematis dikarenakan pada pelaksanaannya dilapangan ternyata gaji pekerja atau buruh di Meksiko menjadi sangat rendah sekali dan hal ini tentu saja tidak menguntungkan pekerja Meksiko melainkan menguntungkan pengusaha-pengusaha dan pemilik perusahaan mulitinasional yang notabene pada umumnya berasal dari Amerika Serikat. Lembaga riset yang berbasis di Wahington DC AS, mengeluarkan hasil penelitiannya pada bulan Desember 2003 lalu. Penelitian ini menyebutkan bahwa setelah 10 tahun, NAFTA gagal menyerap pertumbuhan pasar tenaga kerja di Meksiko dan ribuan petani Meksiko juga tidak diuntungkan. Studi itu menemukan bahwa NAFTA yang diberlakukan sejak 1 Januari 1994 lebih menjadi bencana dibandingkan dengan terciptanya keuntungan seperti yang diucapkan oleh proponennya sepuluh tahun lalu. Blok perdagangan itu tidak membantu memperbaiki ekonomi Meksiko untuk bisa menyerap tenaga kerja. Sekitar 500 ribu angkatan kerja memang terserap di sektor manufaktur selama tahun 1994-2002. Tetapi di sektor pertanian, dimana 20 persen penduduk Meksiko bekerja, 1,3 juta orang kehilangan pekerjaan dalam sepuluh tahun terakhir. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sektor pertanian Meksiko menjadi sektor yang paling dirugikan dari blok perdagangan ini. Seperti membanjirnya jagung-jagung impor dari Amerika telah menekan harga jagung lokal di Meksiko. NAFTA juga gagal menghasilkan keuntungan pada sektor lingkungan sementara petani yang kehilangan pendapatannya karena kolapsnya harga komoditas pertanian. Pada bulan Desember lalu, sebuah lembaga non pemerintah Public Citizens juga mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa NAFTA telah berakibat buruk. Public Citizen mengatakan bahwa sejak 1994, NAFTA telah memotong tarif produk pertanian Meksiko 99 persen. Ini menghasilkan lonjakan banjir jagung impor dari AS sebesar 15 kali lipat di Meksiko. Demikian juga, impor daging sapi dari Amerika melonjak 2 kali lipat dan impor produk peternakan dari AS berlipat tiga kali lebih besar sebelum NAFTA diberlakukan. Petani Meksiko menjadi tidak kompetitif menghadapi banjir produk pertanian dari Amerika Serikat. Pada saat yang sama, beberapa aturan yang melindungi petani dan sektor pertanian diubah, dihilangkannya subsidi bahan bakar, pupuk, bunga kredit dan jaminan harga dasar. Akibatnya, produksi jagung yang

merupakan makanan pokok masyarakat Meksiko terganggu, dan mulai tergantung produk pangan impor. Pada tahun 1996, pemerintah Meksiko melaporkan bahwa satu dari lima anak Meksiko menderita kurang gizi. Ratusan ribu orang Meksiko terpaksa menjadi pekerja ilegal di AS. Bahkan lebih dari 1600 orang Meksiko meninggal selama dalam pelarian menuju AS. Sebagian besar masyarakat Meksiko merasa bahwa kerugian yang ditimbulkan lebih besar, sementara keuntungan yang diperoleh hanya berpusat pada sekelompok orang, yang notabene para pendukung NAFTA yaitu para teknokrat dan perusahaan mulitnasional, demikian pendapat Carlos Heredia, seorang ekonom dan juga mantan deputy direktur di kementrian keuangan Meksico. Heredia menambahkan bahwa kalau ada yang berpendapat bahwa NAFTA memang menguntungkan, mungkin itu merujuk pada keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan multinasional milik AS yang beroperasi di Meksiko. Sehingga kalau terjadi peningkatan perdagangan maka kata Heredia, yang sebenarnya terjadi adalah perdagangan intra perusahaan antara perusahaan anak di Meksiko dengan perusahaan induk di AS, seperti Detroit. Dalam pandangan Heredia, masyarakat pekerja dan kaum miskin di Meksiko tidak mendapatkan keuntungan tersebut karena sebenarnya keuntungan itu sangat terkonsentrasi. Berlawanan dengan teori ekonomi, dimana ketika perdagangan bebas diberlakukan, konsumen akan mendapat keuntungan dari meningkatnya persaingan yaitu harga yang lebih murah. Harga barang justru meningkat setelah NAFTA diberlakukan. Harga makanan meningkat 257 persen selama NAFTA, harga bahan pangan pokok yaitu jagung untuk membuat tortilla meningkat sekitar 50 persen di Meksiko City, harga itu menjadi lebih tinggi di daerah pedesaan.14 Kesimpulan NAFTA yang merupakan sebagai perjanjian perdagangan bebas di wilayah Amerika Utara, menjadi wadah bagi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko untuk bekerjasama dalam rangka pembangunan ekonomi diantara keduanya. NAFTA yang bertujuan untuk menciptakan perdagangan bebas yang adil diantara negara anggotanya, dengan menghilangkan adanya hambatan tarif yang menghalangi perdagangan antar negara tersebut. NAFTA yang seharusnya dapat menguntungkan bagi semua negara anggotanya ini, ternyata pada pelaksanaannya ini tidaklah semua diuntungkan dalam sistem ini. Amerika Serikat sebagai negara yang hegemon dan
14

Hafsah Salim. Free Trade Merupakan Perlindungan Hak Masyarakat. opensubscriber.com (27 November 2006), Melalui http://www.opensubscriber.com/message/zamanku@yahoogroups.com/5454245.html diakses pada 17 November 2011.

memiliki kekuasaan yang lebih dibanding kedua negara anggota lainnya. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan dalam NAFTA pun lebih condong kepada kepentingan negara AS. NAFTA menjadi alat bagi AS dalam rangka mencapai national interestnya.

10