Anda di halaman 1dari 56

1

MODEL DESA KONSERVASI

(MDK)
Desa konservasi adalah sebuah pendekatan model konservasi yang memberi peluang kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi untuk terlibat aktif dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi. Model ini juga memberi peluang kepada masyarakat untuk mendapat akses yang aman untuk pemanfaatan kawasan sehingga dapat menjamin komitmen jangka panjang mereka untuk mendukung konservasi kawasan hutan. Model akses pemanfaatan ini dapat berbeda-beda dari satu kawasan ke kawasan lain tergantung pada kesepakatan dengan pihak yang berwenang dalam pengelolaan kawasan.

KONSERVASI
Konservasi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resources (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana). Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut : 1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary). 2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982). 3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat

dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968). 4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980). Menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang. Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya. Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu : 1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK) a. Penetapan wilayah PSPK. b. Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK. c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK. d. Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK. e. Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK. 2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan ekssitu konservasi). 3. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.

b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).

Sumber: Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam, DEPARTEMEN KEHUTANAN, 2008.

KAWASAN KONSERVASI
Kawasan konservasi dalam arti yang luas, yaitu kawasan dimana konservasi sumberdaya alam hayati dilakukan. Di dalam peraturan perundang-undangan Indonesia yang ada, tidak memuat definisi mengenai kawasan konservasi secara jelas.
Pengertian kawasan konservasi yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam(PHKA), Departemen Kehutanan adalah kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, taman buru dan hutan lindung . Sementara itu istilah-istilah yang lebih dikenal adalah kawasan lindung . Menurut ketentuan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ada beberapa kawasan konservasi, yaitu : 1. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, yang mencakup a. Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. b. Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. 2. Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, yang mencakup : a. Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. b. Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. c. Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan

bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi alam.

1. Taman Nasional
Kriteria Penetapan Kawasan Taman Nasional (TN) adalah sebagai berikut : 1. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; 2. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; 3. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh; 4. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; 5. Merupakan kawasan yang dapat dibagi kedalam Zona Inti, Zona Pemanfaatan, Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri. Pengelolaan taman nasional dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Ekonomi, dapat dikembangkan sebagai kawasan yang mempunyai nilai ekonomis, sebagai contoh potensi terumbu karang merupakan sumber yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi sehingga membantu meningkatkan pendapatan bagi nelayan, penduduk pesisir bahkan devisa negara. 2. Ekologi, dapat menjaga keseimbangan kehidupan baik biotik maupun abiotik di daratan maupun perairan. 3. Estetika, memiliki keindahan sebagai obyek wisata alam yang dikembangkan sebagai usaha pariwisata alam / bahari. 4. Pendidikan dan Penelitian, merupakan obyek dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian. 5. Jaminan Masa Depan, keanekaragaman sumber daya alam kawasan konservasi baik di darat maupun di perairan memiliki jaminan untuk dimanfaatkan secara batasan bagi kehidupan yang lebih baik untuk generasi kini dan yang akan datang. Kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasionali kelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya.

Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Pengelolaan Taman nasional didasarkan atas sistem zonasi, yang dapat dibagi atas : Zona inti, Zona pemanfaatan Zona rimba; dan atau yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Kriteria zona inti, yaitu : mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya mewakili formasi biota tertentu dan atau unitunit penyusunnya mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan atau tidak atau belum diganggu manusia mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Kriteria zona pemanfaatan, yaitu : mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. Kriteria zona rimba, yaitu : kawasan yang ditetapkan mampu mendukung upaya perkembangan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Upaya pengawetan kawasan taman nasional dilaksanakan sesuai dengan sistem zonasi pengelolaannya: 1. Upaya pengawetan pada zona inti dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : perlindungan dan pengamanan inventarisasi potensi kawasan penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan. 2. Upaya pengawetan pada zona pemanfaatan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : perlindungan dan pengamanan inventarisasi potensi kawasan penelitian dan pengembangan dalam menunjang pariwisata alam 3. Upaya pengawetan pada zona rimba dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : perlindungan dan pengamanan inventarisasi potensi kawasan penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan pembinaan habitat dan populasi satwa. Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan : 1. Pembinaan padang rumput 2. Pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa 3. Penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohonpohon sumber makanan satwa

4. Penjarangan populasi satwa 5. Penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau 6. Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan taman nasional adalah : 1. Merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem 2. Merusak keindahan dan gejala alam 3. Mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan 4.Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang. Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melakukan kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah : a. Memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan b. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, menangkap, berburu, menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya alam ke dan dari dalam kawasan.Taman nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem zonasinya : Pemanfaatan Zona inti : 1. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 2. Ilmu pengetahuan 3. Pendidikan 4. Kegiatan penunjang budidaya Pemanfaatan zona pemanfaatan : 1. Pariwisata alam dan rekreasi 2. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 3. Pendidikan dan atau 4. Kegiatan penunjang budidaya Pemanfaatan zona rimba : 1. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 2. ilmu pengetahuan 3. pendidikan 4. kegiatan penunjang budidaya 5. wisata alam terbatas. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam.

2. Cagar Alam
Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Adapun Kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam : 1. Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem; 2. Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya; 3. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia; 4. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami; 5. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi; dan atau 6. Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Pemerintah bertugas mengelola kawasan cagar alam. Suatu kawasan cagar alam dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan cagar alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pengawetan kawasan cagar alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. Perlindungan dan pengamanan kawasan 2. Inventarisasi potensi kawasan 3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan. Beberapa kegiatan dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan cagar alam adalah : 1. melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan 2. memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan 3. memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan 4. menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau 5. mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa. Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti :

memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan. Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk: 1. Penelitian dan pengembangan 2. Ilmu pengetahuan 3. Pendidikan 4. Kegiatan penunjang budidaya.

3. Suaka Margasatwa
Kawasan suaka margasatwa, adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan suaka margasatwa: 1. Merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya; 2. Merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah; 3. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi; 4. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan atau 5. Mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. Pemerintah bertugas mengelola kawasan suaka margasatwa. Suatu kawasan suaka margasatwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan suaka margasatwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pengawetan kawasan suaka margasatwa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. perlindungan dan pengamanan kawasan 2. inventarisasi potensi kawasan 3. penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan. 4. pembinaan habitat dan populasi satwa Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan : 1. Pembinaan padang rumput 2. Pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa

10

3. 4. 5. 6.

Penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohonpohon sumber makanan satwa Penjarangan populasi satwa Penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.

Beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan suaka margasatwa alam adalah : 1. Melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan 2. Memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan3. memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan 4. Menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau 5. Mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti : 1. Memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau 2. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan. Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan 1. ilmu pengetahuan 2. pendidikan 3. wisata alam terbatas 4. kegiatan penunjang budidaya. Kegiatan penelitian di atas, meliputi : Penelitian dasar, penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya.Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

4. Taman Wisata Alam


Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan taman wisata alam:

11

1. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala alam serta formasi geologi yang menarik; 2. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi dan daya atarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam; 3. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. Kawasan taman wisata alam dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman wisata alamdikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman wisata alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pengawetan kawasan taman wisata alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. Perlindungan dan pengamanan 2. Inventarisasi potensi kawasan 3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pelestarian potensi 4. Pembinaan habitat dan populasi satwa. Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan : 1. Pembinaan padang rumput 2. Pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa 3. Penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohonpohon sumber makanan satwa 4. Penjarangan populasi satwa 5. Penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau 6. Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan taman wisata alam adalah : 1. berburu, menebang pohon, mengangkut kayu dan satwa atau bagianbagiannya di dalam dan ke luar kawasan, serta memusnahkan sumberdaya alam di dalam kawasan 2. melakukan kegiatan usaha yang menimbulkan pencemaran kawasan 3. melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang. Sesuai dengan fungsinya, taman wisata alam dapat dimanfaatkan untuk : 1. Pariwisata alam dan rekreasi 2. Penelitian dan pengembangan (kegiatan pendidikan dapat berupa karya wisata, widya wisata, dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian

12

serta peragaan dokumentasi tentang potensi kawasan wisata alam tersebut). 3. Pendidikan 4. Kegiatan penunjang budaya.

5. Taman Hutan Raya


Kawasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Adapun kriteria penunjukkan dan penetaan sebagai kawasan taman hutan raya : 1. Merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya sudah berubah; 2. Memiliki keindahan alam dan atau gejala alam; dan 3. Mempunyai luas yang cukup yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi tumbuhan dan atau satwa baik jenis asli dan atau bukan asli. Kawasan taman hutan raya dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman wisata alam dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman hutan raya sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pengawetan kawasan taman hutan raya dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. Perlindungan dan pengamanan 2. Inventarisasi potensi kawasan 3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pengelolaan 4. Pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan atau satwa. Pembinaan dan pengembangan bertujuan untuk koleksi. Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan taman hutan raya adalah : 1. Merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem 2. Merusak keindahan dan gejala alam 3. Mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan 4. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang.

13

Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melakukan kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah : 1. memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan 2. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, menangkap, berburu, menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya alam ke dan dari dalam kawasan. Sesuai dengan fungsinya, taman hutan raya dapat dimanfaatkan untuk : 1. Penelitian dan pengembangan (kegiatan penelitian meliputi penelitian dasar dan penelitian untuk menunjang pengelolaan kawasan tersebut). 2. Ilmu pengetahuan 3. Pendidikan 4. Kegiatan penunjang budidaya 5. Pariwisata alam dan rekreasi 6. Pelestarian budaya.

6. Taman Buru
Taman buru adalah suatu kawasan yang didalamnya terdapat potensi satwa buru, yang diperuntukan untuk rekreasi berburu. Taman buru adalah suatu kawasan yang didalamnya terdapat potensi satwa buru, yang diperuntukan untuk rekreasi berburu.

14

MODEL DESA KONSERVASI (MDK) Desa yang dijadikan contoh dalam upaya PEMBERDAYAAN Masyarakat di dalam / sekitar kawasan konservasi Dengan memfungsikan kelembagaan lokal Bertujuan menciptakan dan meningkatkan kapasitas masyarakat, mengurangi ketergantungan terhadap Kawasan Konservasi dan berdampak positif terhadap perlindungan, pengawetan serta pemanfaatan kawasan konservasi Didukung oleh semua pemangku kepentingan yang terkait.

RUANG LINGKUP MDK 1. Pemberdayaan Masyarakat Setempat 2. Penataan Ruang/Wilayah Pedesaan Berbasis Konservasi 3. Pengembangan Ekonomi Pedesaan Yang Berbasis Konservasi.

1. Pemberdayaan Masyarakat Sembilan tahapan dalam pemberdayaan masyarakat: 1. Membangun Kesepahaman dengan pihak terkait 2. Membangun/mengembangkan kelembagaan di tingkat desa. 3. Menyiapkan fasilitator/pendamping. 4. Pelatihan PRA perangkat desa 5. Melaksanakan PRA di lokasi desa dan sekitarnya 6. Peningkatan kapasitas SDM (masyarakat) / pelatihan ketrampilan produktif. 7. Pengembangan kegiatan usaha ekonomi produktif masyarakat. 8. Membangun kemitraan dan jejaring usaha produktif. 9. Monitoring dan evaluasi.

15

2.

Penataan ruang / Wilayah Pedesaan

3. Pengembangan Ekonomi Pedesaan

16

KRITERIA MDK
Desa yang berlokasi di sekitar/ di dalam kawasan konservasi Masyarakat mempunyai ketergantungan dengan KK Desa yang masyarakat nya miskin dan pendapatan rendah Desa yang mempunyai potensi SDA yang dapat dikembangkan di kawasan konservasi Desa yang dapat dijadikan contoh bagi desa lain Desa yang masyarakatnya berpendidikan rendah Bentuk kegiatan semaksimal mungkin berhubungan satu-sama lain. Bentuk kegiatan semaksimal mungkin berhubungan dengan program kehutanan.

Kriteria Keberhasilan MDK


Terbentuknya lembaga masyarakat sebagai wadah penyusunan perencanaan desa partisipatif Berjalannya peran pendampingan Terjadi interaksi positif antar kelompok & antar desa Meningkatnya kesejahteraan & pendapatan masyarakat desa di sekitar dan di dalam kawasan konservasi Berkurangnya gangguan terhadap KK Meningkatnya peran & fungsi KK Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap KSDAH & Energi Tertatanya dengan rapi aktivitas masyarakat. Meningkatnya kesehatan masyarakat dengan lingkungan pedesaan yang asri.

17

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA HUTAN


Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dimanapun meraka tinggal telah menjadi perhatian pemerintah. Termasuk bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan dan di sekitar kawasan konservasi. Menurut Dirjen PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam), esensi permasalahan selama ini adalah keberpihakan kepada masyarakat yang sebetulnya lebih layak mengelola. Sehingga diperlukan peraturan yang dapat mengakomodir dan memperjelas status masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi. Program pemberdayaan merupakan program lintas sector, sehingga masukkan dari beberapa sector yang telibat sangat diperlukan. Kebijakan pemerintah diharapkan dapat menyikapi beberapa keterlanjuran namun tetap mengacu pada prinsip kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ada tiga keterlanjuran yang seharusnya dapat disikapi bersama dalam permenhut tersebut. Keterlanjuran keberadaan masyarakat, keterlanjuran ekosistem buatan dan keterlanjuran dalam pemanfaatan hasil hutan yang bersifat ekspoitatif dan ekstraktif. Kebijakan pemerintah pada prinsipnya akan menyasar pada masyarakat yang sudah turun temurun tinggal di kawasan konservasi (baik di dalam maupun di sekitar kawasan), termasuk masyarakat adat dan segala kearifan lokal yang mereka miliki. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengingatkan bahwa pemberdayaan atau kebijakan apapun hendaknya tidak memperhatikan hak azasi masyarakat adat. Masyarakat lokal harus diberikan kebebasan untuk dapat menentukan nasib sendiri, mempertahankan tanah, wilayah, sumberdaya alam, budaya dan kekayaan intelektual yang mereka miliki serta apa pun model pemberdayaan dan bentuk-bentuk pembangunan harus sesuai dengan karakteristik masyarakat di wilayah tersebut. Wilayah konservasi tidak dapat lepas dari zona penyangga (buffer zone). Keberadaan zona ini akan menentukan kelestarian dan terjaganya ekologi di wilayah konservasi. Zona penyangga merupakan objek utama dari kebijakan pemerintah. Pemberdayaan masyarakat seyogyanya menjadi satu kesatuan sistem dalam pengelolaan termasuk didalamnya secara teknis, sosial ekonomi dan budaya. Pemberdayaan bukan hanya sebagai proyek, namun harus memperhatikan berbagai aspek. Apa yang dimaksud dengan pemberdayaan? Siapa saja yang akan diberdayakan? Dimana wilayahnya? Bagaimana caranya? Bagaimana membangun kelembagaan? Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana proses evaluasi yang akan dilakukan? . Pemberdayaan dapat dimaknai secara beragam, tergantung dari sisi dan latar belakang realitas yang dihadapi oleh kelompok masyarakat atau individu. Namun pengertian yang paling mudah dipahami adalah bahwa pemberdayaan

18

berasal dari kata daya yang berarti mampu atau mempunyai kemampuan dalam hal ekonomi, politik dan tentu saja mampu mandiri dalam tatanan kehidupan sosial. Pemberdayaan di wilayah pedesaan dan di perkotaan pada umumnya mempunyai kesamaan, yakni peningkatan ekonomi, pendidikan, akses warga dan hubungan-hubungan yang menghasilkan perilaku politik. Konsep pemberdayaan yang telah dimutakhirkan oleh pemerintah adalah pemberdayaan melalui nilai-nilai universal kemanusiaan yang luntur untuk dibangkitkan kembali. Tujuan dari pemberdayaan ini adalah perubahan sikap dan perilaku menjadi lebih baik. Aktualisasinya masih tetap memakai konsep kesadaran dan kemauan dari dalam masyarakat itu sendiri, kemudian lebih dikenal dengan participatory rural appraisal (PRA). Belum berhasilnya upaya pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah, seperti penyediaan kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, pembangunan pertanian, pemberian dana bergulir, pembangunan sarana dan prasarana umum dan pendampingan , dikarenakan kebijakan program yang selama ini dilakukan merupakan kebijakan dari pemerintah pusat (top down). Kebijakan seperti ini mempunyai kelemahan yang perlu dikoreksi, seperti: (1) Pemberdayaan yang berindikasi KKN (2) Masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi makro (3) Kebijakan yang terpusat (4) Lebih bersifat karikatif (5) Memposisikan masyarakat sebagai obyek (6) Cara pandang kemiskinan yang diorientasikan pada ekonomi (7) Bersifat sektoral (8) Kurang terintegrasi (9) Tidak berkelanjutan atau mengesampingkan daya dukung lingkungan. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal penting dalam memajukan masyarakat desa dalam pemberdayaan: 1. Fasilitasi untuk meningkatkan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat desa melalui kegiatan forum rembuk diskusi reguler yang dilakukan secara keliling antar desa (rural rountable disscussion) dengan pemahaman belajar dari pengalaman untuk menjadikan daur program pemberdayaan. 2. Fasilitasi pemetaan partisipatif oleh masyarakat desa sebagai dasar penggalian kebutuhan, permasalahan, potensi sumber daya alam, dan masyarakat desa. 3. Memfasilitasi penggalangan dan penggunaan sumber dana untuk skala kebutuhan prioritas dan perekonomian desa yang dituangkan dalam PERDes dan APBDes baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain. 4. Fasilitasi pemahaman dan kemitraan pemerintah desa, BPD dan masyarakat adalah mitra dan sekaligus agen perubahan yang

19

5.

6. 7. 8.

mampu menyusun dan merencanakan APBDes yang akan dituangkan dalam Alokasi Dana Desa (ADD). Memfasilitasi dan menumbuhkan fasilitator dari desa itu sendiri sebagai agen perubahan dari dalam (PRA) yang memotivasi kegiatan belajar dan karakteristik desa untuk menemukan pola ekonominya sendiri. Memfasilitasi kaum perempuan untuk lebih terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan dan perkembangan pedesaan. Membuat media warga sebagai sarana akuntabilitas dan transparansi dalam berkegiatan dan penggunaan anggaran desa. Memanfaatkan potensi desa, mengelola secara berkesinambungan, dan ramah lingkungan.

Geliat Kelompok Tani Mahoni Tani Makmur dari Desa Wonoharjo Kec. Rowokele Kebumen dalam menanam dan memelihara dengan baik pohon Mahoninya sebagai salah satu kegiatan Hutan Rakyat Mahoni.

Sumber: http://pitnal.wordpress.com/ Ngelmu Jor Klowor yang jadi kebiasaan Petani dalam menangani pohon Mahoninya tentunya ada yang menjadi penyebabnya. Walaupun untuk segelintir orang tetap memelihara pohon Mahoninya dengan baik dan penuh keuletan seperti tanaman lainnya. Sementara itu, Pohon Mahoni yang besarbesar dengan mudahnya dilipat menjadi beberapa lembar uang Ratusan ribu rupiah. Padahal pohon besar itu yang menanam adalah Bapaknya, atau seringkali justru Kakek/Mbah-nya dulu sewaktu muda.

20

Forum Pacitan Sehat Hutan mempunyai jasa yang sangat besar bagi kelangsungan makhluk hidup terutama manusia. Salah satu jasa hutan adalah mengambil karbon dioksida dari udara dan menggantinya dengan oksigen yang diperlukan makhluk lain. Maka hutan disebut paru-paru dunia. Jadi, jika terlalu banyak hutan yang rusak, tidak akan ada cukup oksigen untuk pernapasan.

Sumber: http://forumpacitansehat.blogspot.com/2011/02/forum-pacitansehat-adakan-gerakan.html Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan, yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu Forum Pacitan Sehat pada hari Senin (31/1/11) melaksanakan kegiatan di kawasan titik Pantau Desa Donorojo, Dusun Jajar tepatnya di gubuk Druju, Kecamatan Donorojo, mengadakan kegiatan pelestarian hutan / penanaman pohon bersama kelompok tani dusun Jajar Desa Donorojo Kecamatan Donorojo yang dihadiri oleh berbagai Tokoh Masyarakat, Kantor Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan sebagai Tim Pembina Kabupaten, Hutbun, Tim Penggerak PKK Kabupaten, Bappeda, Forum Pacitan Sehat, Radio Suara Pacitan, RGPA, Muspika Donorojo, Puskesmas Donorojo serta Perangkat Desa Donorojo.

21

Pendampingan Kelompok Tani Konservasi Plasma Nutfah


Pada tahun 2008 Kanopi Indonesia mendapat kesempatan untuk mendampingi kelompok tani konservasi dalam berproses. Kelompok tersebut berada di desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman dan dibentuk oleh PPLH Regional Jawa. Pada awal pembentukannya kelompok tani ini dibentuk untuk mengalihkan aktifitas masyarakat dari yang sebelumnya perumput dan pengambil kayu/pembuat arang menjadi pembudidaya tanaman hias. Perubahan perilaku masyarakat tersebut tidaklah mudah, meskipun semua infrastruktur telah dipersiapkan dari penyediaan bibit tanaman, tempat dan bangunan, hingga kepada pemasarannya, namun budidaya tanaman hias bukanlah hal yang mudah. Bagi masyarakat yang belum biasa melakukan, terdapat kesulitan besar untuk merawat tanaman hias yang memiliki kekhususan cara-hidup masing-masing. Pada awalnya sebagian besar masyarakat merasa gagal dan justru terbebani oleh kegiatan budidaya tersebut. Akibatnya semangat kerja turun drastis dan kelompok tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Oleh karena itu diperlukan pendampingan, terutama untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat.

Sumber: http://kanopi-indonesia.org/?p=217 Dari pelaksanaan pendampingan yang dilakukan, masyarakat kemudian menyusun kembali kerangka kerja dan pembagian tugasnya, rekomitment dan bahkan kemudian membentuk kelompok yang secara inisiatif sendiri didaftarkan sebagai salah satu kelompok tani di wilayah desa Glagaharjo dengan nama Kelompok Tani Konservasi Plasma Nutfah Merapi Sekar Makmur. Dari pihak desa bahkan kemudian terdapat komitmen untuk menyediakan lahan seluas 10 Ha tanpa sewa bagi kelompok untuk berkegiatan.

22

Kelompok tani hutan Pak Mukidi: Teras dan Erosi


Membuat lahan pertanian menjadi lebih baik pasti menjadi harapan semua orang, terutama petani pemilik dan/atau penggarap lahan. Bagi para pecinta lingkungan juga tertarik pada masalah ini, karena dengan lahan yang baik akan dapat mengurangi erosi dan tanah longsor. Petani Pak Mukidi memulai menata lahan kebun yang sudah ditanami kopi, sengon dan jabon; serta bantaran sungai yang telah ditanami kaliandra, mahoni dan suren. Walaupun lahan pertanian yang dimilikinya tidak begitu luas, tetapi ia mulai berbenah menata lahan agar supaya erosinya tidak semakin tinggi. Tidak hanya penataan teras, semua tanaman dalam lahan usahanya diperlakukan secara budidaya organik. Bagi pak Mukidi, tindakan perbaikan lahan tidak ada kata terlambat, sebenarnya lahan sudah ada terasnya namun belum sempurna.

Sumber: http://mukidi.wordpress.com/page/2/ Biasanya Pak Mukidi hari minggu pagi berangkat ke kebun dengan satu tenaga kerja, sekalian memberikan pengertian tentang fungsi teras, yaitu menghambat lajunya air runoff dan sudah pasti akan mengurangi erosi. Walaupun dalam lahan juga agak sulit memulai karena tanaman sudah tumbuh baik dan untuk membuat saluran air maka harus memindah beberapa tanaman dan harus hati-hati juga supaya tidak rusak akarnya. Memang lama untuk penataan lahan, namun diyakini bahwa hal ini dapat dilakukan secara bertahap. Kalau penataan lahan ini sudah jadi, akan memberikan contoh bagi lahan yang ada disekitarnya. Niat besar memang harus dimulai dari yang kecil, dan memang harus berfikir dan bekerja keras. Dengan kerja keras akan bisa menyelamatkan lahan dan tentunya nanti akan memberikan hasil yang luar biasa.

23

PROFIL MDK
Model Desa Konservasi Berbasis Rehabilitasi Hutan & Lahan Partisipatif Desa Sukatani di Kabupaten Cianjur terletak di kawasan penyangga Taman nasional Gunung Gede-Pangrango (TnGP). Sekitar 11.057 jiwa memadati desa seluas 35.770 hektar. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh tani dan pekerja, sebagian kecil adalah petani pemilik lahan dan pedagang. Dari 25,5 hektar lahan desa, hampir separohnya adalah hutan. Komoditas utama desa ini adalah sayuran seperti wortel, bawang daun, brokoli, kubis dan cabe. Selain itu, masyarakat juga berternak ayam, kambing dan sapi. Dari sisi pendidikan, lebih dari 50% penduduk Desa Sukatani pernah atau menamatkan pendidikan dasar, 10,43% yang pernah sekolah hingga tingkat menengah dan hanya 2% yang melanjutkan ke pendidikan tinggi. Model Desa Konservasi dengan fokus pada rehabilitasi hutan dan lahan partisipatif di Desa Sukatani adalah upaya untuk mengurangi tekanan laju pertumbuhan penduduk terhadap sumber daya alam di kawasan TnGP seperti luasan hutan berkurang, mata air berkurang, tanah longsor serta lemahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Kelompok Tani Puspa lestari adalah sebuah kelembagaan lokal yang dibentuk oleh para penggarap lahan milik bekas Program PhBm Perum Perhutani 2006 untuk memperbaiki kondisi lahan dan hutan kritis di daerah penyangga kawasan TnGP dan DaS Cikundul. Selama 2006-2008, Desa model Konservasi Sukatani bersama para pemangku kepentingan di Kabupaten Cianjur dan Propinsi Jawa Barat berhasil melakukan: 1. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 10 hektar di wilayah perluasan Kawasan TnGP; 2. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 50 hektar; 3. Membuat persemaian untuk 5.000 bibit pohon endemik; 4. Menanam 16,000 pohon di seluruh desa; 5. Pengembangan budidaya jamur, tanaman hias dan ternak kelinci; 6. Kampanye lingkungan dan pengembangan pembiayaan alternatif bagi program RhlP kepada pendaki Gunung Gede-Pangrango; 7. Penguatan kapasitas kelompok.
Kontak: Denu S. Kelompok Tani Puspa lestari Kampung Gunung Putri RT 02/07 Desa Sukatani Kec. Pacet-Cianjur 081806013768 Usep Suparman Raptor Conservation Society Jl. Raya Cibodas-Cimacan-Cipanas-Cianjur, depan mess TnGP 08569087504 suparman@yahoo.com

24

Model Desa Konservasi Berbasis Pengembangan Ekonomi


Desa Kebon Peteuy di Kabupaten Cianjur terletak di kawasan penyangga Taman nasional Gede-Pangrango (TnGP). Sekitar 7.472 jiwa mendiami desa seluas 1.018,250 hektar. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan buruh tani. luasan hutan di Kebon Peteuy adalah 199 hektar, sedangkan lahan desa hanya 141 hektar. Para petani Kebon Peteuy sebagian besar bertanam tomat, buncis, cabe dan singkong. Ternak unggas dan domba mendominasi usaha ternak Kebon Peteuy. namun, pendapatan bulanan petani dan buruh tani hanya berkisar Rp. 300.000 per bulan. Separoh jumlah penduduk desa ini hanya tamat SD, sebagian kecil sekolah hingga tingkat menengah dan yang melanjutkan ke pendidikan tinggi kurang dari 0,5%. Model Desa Konservasi dengan fokus pada rehabilitasi hutan dan lahan partisipatif di Desa Kebon Peteuy berupaya mengurangi tekanan laju pertumbuhan penduduk terhadap sumber daya alam di kawasan TnGP seperti hutan gundul, kekeringan, tanah longsor dan tidak subur, sulit mencari mata pencaharian serta meningkatnya angka kemiskinan. Forum masyarakat Peduli lingkungan (maRPElIn) adalah organisasi lokal yang mengembangkan model desa konservasi di Kebon Peteuy. Selama 20062008, berkat dukungan para pemangku kepentingan di Kabupaten Cianjur dan Propinsi Jawa Barat, maRPElIn berhasil melakukan: 1. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis seluas 10 hektar di wilayah perluasan Kawasan TnGP; 2. Pengembangan persemaian pohon endemik dan tanaman mPTS; 3. Budidaya jamur sebanyak 1.000 log; 4. Budidaya stekes teh sepanjang 200 meter; 5. Peternakan domba sebanyak 15 ekor; 6. Pembuatan irigasi desa sepanjang 200 meter; 7. Perbaikan jalan lintas desa dan jalan dusun sepanjang 800 meter; 8. Penyediaan sarana air bersih sepanjang 500 meter. Kontak: Wawan Sutisna Forum masyarakat Peduli lingkungan Kampung Barukusumah Desa Kebon Peuteuy Kec. Gekbrong Cianjur 081563717803 Usep Suparman Raptor Conservation Society Jl. Raya Cibodas-Cimacan-Cipanas-Cianjur, Depan mess TnGP 08569087504 u_suparman@yahoo.com

25

Model Desa Konservasi: 98 hektar lahan untuk Mata Air Batu Karut
Desa Cisarua di Kabupaten Sukabumi terletak di kawasan penyangga Taman nasional Gunung Gede Pangrango (TnGGP). Sekitar 6.940 jiwa tinggal di desa seluas 767.448 hektar, yang separohnya adalah tanah ladang. Sebagian besar penduduk Cisarua adalah buruh tani. Komoditas utama desa ini adalah jagung, cabe dan singkong serta rumput untuk pakan ternak sapi. Model Desa Konservasi dengan fokus pada rehabilitasi lahan daerah tangkapan air beberapa sub DaS Cimuncang-Cimandiri hulu dan perlindungan mata air Batu Karut di Cisarua adalah upaya mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya air di kawasan TnGGP seperti alih guna lahan tangkapan air menjadi lahan pertanian satu musim dan penggunaan lahan yang bermasalah karena 90% lahan sudah dibeli orang dari luar desa. Saat ini, warga Cisarua yang tergabung dalam Kelompok Tani Kencana Wangi melakukan sekolah lapangan dalam upaya menindaklanjuti hal-hal berikut demi mengembalikan fungsi daerah tangkapan air di Cisarua: 1. Kelompok Tani Kencana Wangi menjadi motor penggerak rehabilitasi lahan; 2. Penyediaan lahan seluas total 98 hektar dari berbagai pihak di Cisarua untuk rehabilitasi lahan; 3. Penyediaan 20.000 bibit pohon untuk rehabilitasi lahan; 4. Pembuatan kesepakatan dan peraturan desa.

Kontak: Pian Desa Cisarua RT.01 RW.02 Goalpara, Kec. Sukaraja, Sukabumi 085624153262

26

Model Desa Konservasi: Pengembangan Ekonomi

Desa

Wisata

untuk

Desa Cinagara di Kabupaten Sukabumi terletak di kawasan penyangga budidaya Taman nasional Gunung Gede Pangrango (TnGGP). Sekitar 9.438 jiwa tinggal di lahan seluas 497 hektar. Sebagian besar masyarakat desa ini adalah buruh tani dan wiraswasta. Selain itu, mereka juga memelihara ikan air tawar. Para petani banyak menanam buncis dan berternak domba untuk tambahannya. Model Desa Konservasi dengan fokus pada pengembangan budidaya ikan air deras dan pengembangan air Terjun Cikaracak di Kampung Cibeling sebagai daerah wisata yang menarik adalah upaya mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya alam di kawasan TnGGP seperti berkurangnya hutan dan volume air serta berkurangnya pendapatan rata-rata warga setempat. Saat ini, warga Cinagara yang tergabung dalam Kelompok Tani Sari mekar berusaha menindaklanjuti hal-hal berikut agar kelestarian hutan sejalan dengan perbaikan ekonomi mereka : 1. Rehabilitasi dan konservasi lahan melalui persemaian, penanaman, perawatan dan pola tanam ramah lingkungan.; 2. Pelatihan pembuatan pupuk organik; 3. Budidaya ikan dan tanaman buah produktif dan organik; 4. Peternakan kelinci dan domba; 5. Perbaikan sarana air bersih dan sanitasi serta saluran pembuangan air; 6. Pengembangan wisata alam air Terjun Cikaracak. Kontak: Aman abdurrahman Kampung Cibeling RT.03 RW.06, Desa Cinagara, Kec. Caringin, Kab. Bogor

27

Model Desa Konservasi melalui Penanaman Pohon Endemik


Desa Cihanyawar di Kabupaten Sukabumi terletak di kawasan penyangga budi daya Taman nasional Gunung Gede Pangrango (TnGGP). Sekitar 4.779 jiwa tinggal di desa seluas 934 hektar. Sekitar 40% dari luas desa adalah lahan perkebunan, yang menjadi sumber kehidupan bagi 50% petani dan buruh tani setempat. Komoditas utama desa ini adalah ubi jalar, talas, singkong, serta sayuran. Banyak warga Cihanyawar juga hidup dari ternak unggas, kambing dan domba. namun, hanya 14% dari penduduk setempat yang menikmati pendidikan dasar dan kurang dari 2% meneruskan pendidikan ke tingkat menengah dan tinggi. Model Desa Konservasi dengan fokus pada rehabilitasi lahan menggunakan pohon endemik seperti rasamala dan puspa serta budidaya tanaman obat adalah upaya mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya lahan dan hutan di kawasan TnGGP, seperti hutan gundul, volume air berkurang, tanah tidak subur, erosi, serta tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. Saat ini, warga Cihanyawar yang tergabung dalam kelompok tani Cilondondong Jaya berupaya menindaklanjuti hal-hal berikut agar kelestarian hutan sejalan dengan perbaikan ekonomi mereka: 1. Rehabilitasi lahan seluas 30 hektar di lahan perluasan TnGGP dengan 15.000 pohon rasamala, puspa dan manglit; 2. Kesepakatan antara TnGGP dan Cilondondong Jaya untuk menggarap lahan di kawasan TnGGP selama 3 tahun; 3. Komitmen untuk mengembangkan usaha ternak kambing 4. Budidaya tanaman obat kumis kucing. Kontak: Cece Rahman anggota Kelompok Tani Cilondong Jaya Kampung Cilondong, Desa Cihanyawar Kecamatan nagrak Sukabumi 087877813887 hilman Wahyudi Yayasan amerta Jl. Pangeran hidayatulloh no 142 Cianjur 43251 Tel. (0263) 283049 085720331821

28

Model Desa Konservasi melalui Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Ekonomi


Desa Purwabakti di Kabupaten Bogor terletak di kawasan penyangga budidaya Taman nasional Gunung halimun Salak (TnGhS). Sekitar 9.000 jiwa tinggal di lahan seluas 600. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani di kawasan TnGhS. Sekitar 280 hektar lahan taman nasional tersebut dipakai warga untuk bercocok tanam durian dan alpukat serta rimpang kapulaga. Model Desa Konservasi dengan fokus pada rehabilitasi lahan menggunakan pohon endemik adalah upaya mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya lahan dan hutan di kawasan TnGhS, seperti pembakaran hutan, volume mata air berkurang dan lahan garapan makin sempit. Saat ini, warga Purwabakti yang sudah mengikuti kegiatan sekolah lapangan membentuk Kelompok Tani hutan lestari alam yang memiliki beberapa rencana aksi untuk melestarikan alam dan memperbaiki kondisi ekonomi mereka: 1. merehabilitasi lahan kritis menggunakan pohon endemik; 2. Budidaya lele, ternak kelinci dan domba; 3. menanam pohon sengon di luar kawasan TnGhS; Kontak: Supriyatna Kampung Cisalada, RT.03 RW.02, Desa Purwabakti, Kec. Pamijahan, Kab. Bogor 081519760623

29

Cianten sendiri terdiri dari dua desa yaitu Purwabakti dan Purwasari. Masing-masing desa memiliki beberapa kampung yang tersebar di area perkebunan teh. Selain udaranya yang sejuk, penduduk disini pun sangat ramah terhadap pendatang. Tak jarang senyum dan sapaan hangat kita dapatkan ketika berkunjung kesini. Warga sangat senang sekali apabila pengunjung datang sekadar bertamu di rumah mereka. Sumber: http://egykurniawan.blogspot.com/2011/07/keindahancianten-bogor-desa-di-tengah.html

30

TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO (TNGGP) 1. Inisiatif Model Desa Konservasi Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNGGP pada umumnya adalah masyarakat desa hutan yang mayoritas sebagai petani, sehingga tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya lahan cukup tinggi. Hal ini mengakibatkan masyarakat di sekitar daerah penyangga kawasan konservasi memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk digarap menjadi lahan budidaya pertanian. Tingginya tingkat ketergantungan masyarakat desa hutan terhadap sumberdaya lahan telah mengakibatkan persoalan-persoalan yang dapat mengancam kelestarian kawasan konservasi. Sebagian besar kebutuhan masyarakat dipenuhi dari hutan, seperti pangan, obat-obatan, bahan kontruksi rumah dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Masyarakat desa hutan menganggap hutan adalah sumber mata pencaharian. Beberapa kegiatan pencaharian yang bergantung pada hutan adalah mencari kayu bakar, buahbuahan, bahan bangunan dan jenis tumbuhan dan satwa yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehariharinya. Bagi masyarakat desa hutan, hutan juga merupakan sumber lahan atau cadangan lahan di masa depan. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan pentingnya hutan menjadikan timbulnya permasalahan antara masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dengan pengelola kawasan hutan sendiri, sehingga menimbulkan konflik di lapangan. Upaya-upaya tersebut perlu ada beberapa solusi yang cukup terarah dan terpadu, sehingga tingkat kertegantungan masyarakat desa hutan terhadap sumber daya hutan bisa dihentikan dengan melakukan upaya pemanfaatan sumber daya hutan yang bisa dikembangkan dan dibudidayakan oleh masyarakat itu sendiri. Pemerintah berkepentingan terhadap kelestarian hutan guna menjaga ekosistem yang sekaligus mengatur hidoorologis, sehingga semua kehidupan baik yang ada di dalam dan di luar kawasan hutan dapat berjalan dengan baik. Disisi lain masyarakat membutuhkan ruang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara wajar. Peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan TNGGP adalah pengelolaan potensi sumber daya alam dan ekosistemnya yang dilakukan bersama antara pengelola dengan masyarakat sekitar kawasan mengikuti pola berbasiskan lahan dan berbasiskan bukan lahan dengan memperhatikan kelestarian ekologi, kelestarian sosial, ekonomi dan budaya sehingga manfaat yang diperoleh dapat diwujudkan secara optimal dan proposional. Bertitik tolak dari kepentingan di atas, ditempuh kebijaksanaan bahwa pengelolaan kawasan konservasi diperlukan partisipasi dan

31

keterlibatan aktif dari masyarakat, yang diwadahi dalam program Model Desa Konservasi, sekaligus dimaksudkan agar hutan tetap lestari dan masyarakat terpenuhi kesejahteraannya. Dalam rangka optimalisasi fungsi kawasan tersebut dan bahwa TNGGP merupakan bagian pembangunan regional, maka pada tahun 2006 mengembangkan program pengembangan model desa konservasi di daerah penyangga yang akan menggambarkan keharmonisan antara dua kepentingan yang berbeda, yaitu pemukiman dan kawasan konservasi dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa ada pihak yang dirugikan. Pengembangan desa konservasi dimaksud dalam hal ini adalah terfokus pada aspek sosial ekonomi dan teknis yang menekankan kepada konsep pemberdayaan masyarakat, artinya segala upaya yang bertujuan untuk terus meningkatkan keberdayaan masyarakat di sekitar hutan konservasi, untuk memperbaiki kesejahteraannya dan meningkatkan partisipasi mereka dalam segala kegiatan yang mendukung kelestarian konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan. Pemilihan lokasi desa yang akan dijadikan sebagai target pengembangan desa model, berupa pemilihan lokasi desa yang ada di daerah penyangga yang tingkat ancaman dan gangguan cukup tinggi, tingkat perekonomian masyarakat masih rendah di bandingkan dengan desa lainnya, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya hutan cukup tinggi, dan adanya kearifan dan budaya lokal di tingkat masyarakat. Berdasarkan kriteris tersebut, pengembangan awal MDK di lakukan pada 2 desa, yaitu Desa Kebon Peuteuy, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur dan Desa Sukamaju, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi. Desa Kebun Peuteuy mempunyai luasan 1.018,250 Ha. Beberapa hal yang dapat diupayakan di Desa Kebon Peuteuy berdasarkan data sekunder TNGGP adalah: 1. Membuat sentra pembibitan stek teh (Kerjasama dengan Dinas Pertanian dan PTPN VIII). 2. Membuat pabrik semi teknis dalam proses pembuatan teh rakyat dan membantu memasarkannya (Ekbang Kab. Cianjur). 3. Membuat rencana penyusunan: Tea Walk dan Crosscountry pada poin-poin tertentu dipamerkan potensi daerah tersebut (Jambu Batu, Ayam Pelung, Pisang dan Manisan Pala) yang kemudian dilanjutkan dengan design jalan setapak, disain shelter, gazebo, plaza. 4. Pemanfaatan dan pengolahan buah pala menjadi manisan. 5. Masyarakat Potensial dan berminat untuk membudidayakan belut, rata-rata kepemilikan pekarangan cukup luas dan belum dimanfaatkan secara optimal.

32

6. Peningkatan budidaya jamur bantuan TNGGP, kuliner, sampai proses, peningkatan keterampilan masyarakat (LSM dan pemda). 7. Diversifikasi budidaya jamur : shitake dan merang pada lokasi yang sama. Pada saat ini, kegiatan MDK yang dilakukan pada desa ini adalah kegiatan berbasis lahan dan tidak berbasis lahan. Kegiatan yang berbasis lahan yang ditanam pada areal kawasan hutan adalah penanaman tanaman endemik seperti rasa mala dan puspa. Sedang kegiatan yang tidak berbasis lahan adalah pengembangan budi daya jamur. Sedang keinginan masyarakat untuk menanami dengan tanaman NTFP belum diperbolehkan. Desa Sukamaju mempunyai luasan 346,615 Ha. Beberapa hal yang dapat diupayakan di Desa Sukamaju berdasarkan data TNGGP adalah : 1. Di Desa Sukamaju, khususnya di Dusun Tangsel, dapat diupayakan kegiatan usaha pembuatan saos tomat. 2. Selanjutnya di Desa Sukamaju juga dimungkinkan dikembangkan unit usaha pembuatan keripik pisang. Sampai saat ini, perkembangan MDK di Desa Sukamaju hampir sama dengan di Desa Kebun Peutey, yakni berbasis lahan dan tidak berbasis lahan. Pada MDK yang berbasis lahan, penanaman dilakukan dengan tanaman endemik rasamala dan puspa, hanya masyarakat sudah boleh menanami tanaman NTFP pada kawasan hutan sepanjang masuk 15 meter. 2. Karakteristik Desa Untuk melihat secara langsung potret pelaksanaan MDK pada level desa, dilakukan pemilihan desa model secara random yang dijadikan unit analisis. Desa yang dipilih adalah Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Desa Cinagara di Kabupaten Sukabumi terletak di kawasan penyangga budidaya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sekitar 9.438 jiwa tinggal di lahan seluas 497 hektar. Sebagian besar masyarakat desa ini adalah buruh tani dan wiraswasta. Selain itu, mereka juga memelihara ikan air tawar. Para petani banyak menanam buncis dan berternak domba untuk tambahannya. Menurut masyarakat, inisiatif dari TNGGP dalam rangka pemberdayaan masyarakat mulai sekitar tahun 1988-1989. Pada saat itu, TNGGP mengadakan program bantuan ternak dan bibit aren yang diberikan kepada masyarakat. Masyarakat di suruh menanam dan merawat, dari pekerjaan itu masyarakat di beri upah. Penanaman pohon

33

aren dimaksudkan untuk pengembangan potensi gula. Kalau masyarakat menyadari akan tujuan penanaman pohon aren tersebut dan tanaman aren itu tumbuh bagus ke depan, maka rencananya akan dikembangkan pabrik gula aren. Akan tetapi penanaman itu gagal karena masyarakat membutuhkan lahannya untuk ditanami dengan sayuran. Lalu kemudian, jika tanaman aren sudah besar, dibawahnya akan ditanami dengan tanaman kapulaga seperti jahe Pemberdayaan Masyarakat pada MDK di Desa Cinagara mulai dilakukan pada tahun 2007 dengan fokus pada pemanfaatan yang berbasis bukan lahan dan pengembangan wisata. Desa Cigara mempunyai potensi pada pengembangan budidaya ikan air deras dan pengembangan wisata Air Terjun Cikaracak di Kampung Cibeling sebagai daerah wisata yang menarik. Hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya alam di kawasan TNGGP seperti berkurangnya hutan dan volume air serta berkurangnya pendapatan rata-rata warga setempat. 2.1. Persepsi Masyarakat tentang Model Desa Konservasi Masyarakat Desa Cinagara percaya bahwa MDK merupakan salah satu model pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di kawasan TNGGP. Menurut mereka, MDK adalah upaya untuk menggali potensi yang ada, terutama yang ada di kawasan. Apa saja potensi yang sudah ada lalu dikembangkan dan dibangkitkan lagi. Potensi yang ada tersebut dapat dikembangkan oleh masyarakat, kerjasama dengan TNGGP seperti penanaman anggrek pada zona pemanfaatan, lahan di zona pemanfaatan untuk lahan pertanian mencukupi kebutuhan seharihari. Masyarakat desa mempunyai motto Leuweng Ijo, Masyarakat Ngijo artinya hutannya hijau dan masyarakat dapat mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Masyarakat percaya bahwa MDK bisa meningkatkan pendapatan dengan pembagian tata ruang pemanfaatan di zona pemanfaatan. Masyarakat juga percaya jika MDK dapat dilaksanakan melalui kolaborasi dan kerjasama dengan TNGGP, lingkungan bisa diselamatkan seperti wisata, sumber air, penyelamatan flora fauna dan lain sebagainya. Secara organisasi, masyarakat percaya kepada kepengurusan kelompok dimana setiap anggota patuh terhadap aturan-aturan main yang ada dalam kelompok. Pengurus dan anggota kelompok bersepakat membuat aturan rumah tangga yang mengatur tentang kepengurusan, pengambilan keputusan, hak dan kewajiban anggota dan lain sebagainya. Melalui kelompok, pengurus menjalin hubungan dan komunikasi dengan pihak luar seperti pengelola taman nasional dan LSM. Bahkan sampai sekarang, kelompok mempunyai kepercayaan yang tinggi

34

terhadap LSM RCS (Raptor Conservation Society) yang mendampingi mereka. Masyarakat merasa bahwa keterlibatan LSM dalam pengelolaan MDK sangat berpengaruh terhadap perubahan pola pikir kelompok untuk menuju lebih baik. 2.2. Norma Sosial, Budaya, dan Tradisi Dalam pengelolaan MDK, masyarakat Cinagara tidak menganut pada norma, budaya, atau tradisi apapun. Semua dikelola berdasarkan kebutuhan masyarakat karena memang masih belum ada kesepakatan apapun dengan pengelola TNGGP untuk mengelola MDK. Yang ada hanya aturan tertulis berupa Peraturan Desa tentang pengembangan Model Desa Konservasi Berbasis Wisata. Akan tetapi, perdes ini belum cukup kuat untuk menjamin kelompok dapat mengelola wisata air terjun cikaracak karena belum adanya kesepakatan dengan pengelola TNGGP. Oleh karena itu, masyarakat tidak mempunyai kepatuhan terhadap peraturan desa yang ada. Tetapi masyarakat mempunyai kepatuhan terhadap kesepakatan-kesepakatan hasil rapat kelompok dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap perbedaan pendapat dalam pertemuan-pertemuan kelompok. Masyarakat miskin yang tidak mempunyai lahan garapan mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengelola lahan dalam kawasan. Bahkan mereka telah masuk cukup lama, meskipun itu bukan dalam skema MDK karena MDK yang dikembangkan di Desa Cinagara tidak berbasis lahan. 2.3. Keterikatan dan Jaringan Sosial Beberapa keterikatan dan jaringan sosial yang ada di Desa Cinagara dalam mengembangkan MDK adalah: Keterikatan dan jaringan sosial yang terjadi dalam kelompok atau desa lebih banyak karena keterikatan asal daerah dimana mereka berasal dari satu daerah. Masyarakat membentuk kelompok dengan nama Kelompok Masyarakat Peduli Hutan (KMPH). KMPH merupakan wadah komunikasi masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian dan perkebunan di kawasan konservasi TNGGP dan sekaligus untuk mendukung terwujudnya model desa konservasi di kawasan penyangga TNGGP. Keterikatan dan jaringan sosial dengan instansi lain seperti taman nasional belum pernah ada ikatan yang formal. Ikatan yang sangat erat justru terjadi dengan LSM pendamping. Masyarakat merasa bahwa LSM sangat membantu dalam proses-proses pengembangan MDK dan menyadarkan masyarakat.

35

Keterikatan kelompok dengan kelompok lain di luar komunitas cukup rendah. Ini dibuktikan dengan adanya hubungan kurang harmonis dengan salah satu kelompok lain beda desa. Produktivitas, Keadilan, dan Kelestarian Untuk Eksistensi MDK Masyarakat Cinagara yang ingin mengelola lahan di kawasan, memang sudah membentuk kelompok dengan nama Kelompok Masyarakat Peduli Hutan. Akan tetapi, belum ada peran dan tanggung jawab yang bisa dimainkan oleh kelompok karena belum adanya negosiasi untuk kesepakatan mengelola lahan dan wisata dengan TNGGP. Dukungan yang didapatkan kelompok hanya dari LSM melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan. TNGGP belum pernah memberikan bantuan atau dukungan kepada kelompok kecuali hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan LSM. Apalagi dukungan tepat guna dalam pengelolaan MDK Untuk perencanaan dalam MDK, kelompok belum mempunyai perencanaan apapun karena MDK yang dilakukan belum masuk dalam kawasan. Masyarakat yang mengelola kawasan masih bersifat individu-individu yang membutuhkan lahan untuk masuk kawasan. Hal ini memang disebabkan karena MDK sendiri belum dilaksanakan secara utuh, dimana belum ada negoisasi pun dengan TNGGP tentang bagaimana pola pemanfaatan lahan di MDK pada kawasan konservasi, apalagi sampai pada tahap kesepakatan. Sehingga MDK pun kelihatan tidak berkembang kecuali hanya kegiatan-kegiatan kecil sehari-hari diluar kawasan atau lahan milik dan lahan hak guna usaha (HGU). Keterlibatan perempuan dalam kelompok sangat kurang, tetapi sangat berperan dan aktif dalam menggarap lahan. Kelompok miskin di desa ini mendapat prioritas untuk mengelola lahan di kawasan meskipun secara individual. Hal ini disebabkan kelompok miskin sudah tidak mempunyai alternatif lain selain lahan di kawasan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, walaupun harus dijangkau dengan jalan kaki pada jarak 5-7 km. Partisipasi anggota terhadap pengambilan keputusan kelompok cukup tinggi. Ini dibuktikan bahwa setiap pengambilan keputusan kelompok dilakukan dengan musyawarah dalam pertemuan rutin kelompok tiap bulan. 2.5. Insentif Untuk Pengembangan MDK Insentif untuk pengembangan MDK terkait dengan harapan, peluang, apa yang dibutuhkan, komitmen masyarakat, dan tantangan yang dihadapi. Dengan MDK, masyarakat berharap dapat mengelola 2.4.

36

lahan di kawasan konservasi terutama pada zona pemanfaatan. Hal ini disebabkan karena kebutuhan masyarakat akan lahan cukup tinggi. Selain itu, masyarakat berharap bahwa proses-proses inisiatif awal MDK yang dilakukan oleh LSM ini dapat dilanjutkan oleh pihak TNGGP terutama oleh para penyuluh yang diberikan pelatihan tentang MDK. Peluang masyarakat dalam pengembangan MDK yang berbasis lahan cukup rendah, yang disebabkan karena belum pernah ada negoisasi antara masyarakat dengan pihak TNGGP. Bahkan pemahaman TNGGP terhadap MDK sangat bertolak belakang, dimana pengelola TNGGP beranggapan bahwa MDK diartikan masyarakat tetap harus keluar dari kawasan dan jangan memanfaatkan lahan hutan. Padahal jika masyarakat diberi peluang dan ada negosiasi dalam pengembangan MDK, masyarakat mempunyai komitmen untuk ikut menjaga kawasan hutan. 3. Proses Implementasi MDK Proses deliberative mencoba untuk melihat proses-proses kebijakan MDK dengan versi masyarakat, dimana lebih mengedepankan musyawarah. Proses-proses ini terkait dengan karakteristik para pihak yang terlibat dalam perencanaan dan implementasi MDK. Proses implementasi MDK boleh dikatakan belum berjalan karena belum ada negoisasi dan kesepakatan apa pun mengenai implementasi MDK. Dengan demikian, belum ada pembagian tanggung jawab dan bentuk hubungan apa pun perihal kerjasama dalam implementasi MDK. Masing-masing pihak masih berjalan menurut logika berpikir sendiri dimana masih terjadi ketidaksepahaman dalam memahami persoalan MDK. TNGGP masih condong ke PAM Swakarsa (pada pengamanan hutan) sedang MDK kurang mendapat perhatian. Bagi masyarakat, MDK telah menjadi proses pembelajaran untuk berubah sikap dan pikiran untuk meningkatkan kesadaran. Masyarakat yang dulunya menebang kayu menjadi tidak menebang lagi, bisa menyusun perencanaan di tingkat kampung, dan menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas. 4. Kendala Implementasi MDK Belum ada political will dari pihak TNGGP terkait percepatan implementasi MDK. Sering berubahnya pimpinan di TNGGP juga menjadi kendala mengenai implementasi MDK. Hal ini terkait dengan berubah-rubahnya kebijakan TNGGP tentang dukungan MDK seiring dengan berubahnya pimpinan TNGGP. Ada yang kepala taman nasional yang progresif dan mendukung TNGGP, ada juga kepala taman nasional yang tidak mendukung MDK, sehingga menghambat proses MDK yang berjalan.

37

Belum ada negoisasi dan koordinasi antara masyarakat dengan TNGGP mengenai MDK dalam memanfaatkan zona pemanfaatan dengan perencanaan yang disetujui oleh kedua belah pihak. MDK tidak difasilitasi oleh TNGGP untuk memberdayakan masyarakat tetapi lebih banyak dilakukan oleh LSM TNGGP menghimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di dalam kawasan tanpa ada kebijakan kolaboratif dan solusi, padahal masyarakat sudah mengelola kawasan tersebut sejak lama, yakni ketika masih dikelola oleh perhutani TNGGP sendiri belum punya konsep untuk implementasi MDK dalam zona pemanfaatan. MDK masih dipahami oleh TNGGP sebagai upaya pemberdayaan masyarakat agar mereka tidak mengelola kawasan lagi dan keluar secara perlahanlahan dengan sendirinya. Padahal masyarakat sudah mengelola lahan sejak lama, mulai dari kegiatan land clearing sampai sekarang. Sehingga jika masyarakat diminta untuk keluar kawasan, masyarakat meminta ganti rugi dari upaya-upaya pembersihan lahan. Masih terjadi tarik menarik kepentingan dan pertentangan antara TNGGP dengan Perum Perhutani terhadap areal-areal kawasan experhutani yang sekarang merupakan perluasan dari kawasan TNGGP. Padahal kawasan ex-perhutani tersebut berada pada zona pemanfaatan yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

38

TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI


1. Inisiatif Model Desa Konservasi Hingga sekarang belum ada desa yang sudah ditetapkan sebagai Model Desa Konservasi (MDK). Pada awalnya pihak TNGM melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada beberapa desa di wilayah Kabupaten Sleman namun respon warga kurang positif. Sehingga fokus pemberdayaan masyarakat dalam MDK diarahkan ke wilayah Kabupaten Boyolali terutama di Kecamatan Selo dan Kecamatan Cepogo yang masyarakatnya dinilai lebih kooperatif. Jumlah kelompok/lembaga dalam MDK yang ada merupakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Paguyuban Rukun Santoso terdiri atas 13 kelompok tani dari 13 dusun di Desa Wonodoyo. Di Dusun Pedut Kulon, Desa Wonodoyo ada Kelompok Tani Serba Usaha Merapi Pimpinan Bapak Muhammad Sumardi. Kelompok baru ini memang tidak terdaftar dalam Gapoktan tetapi mempunyai posisi yang cukup baik dalam kerangka hubungan masyarakat dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Beberapa kegiatan percontohan seperti konsentrat pakan ternak, biogas, silase, pupuk padat dan pupuk cair organik yang difasilitasi TNGM dilakukan dalam kerjasama dengan kelompok ini. Implementasi di Desa Wonodyo dan Desa Lencoh dilaksanakan pada tahun 2007 dengan bentuk atau ragam MDK berupa pengelolaan wisata dan konservasi DAS dan sumber mata air. 2. Karakteristik Desa Ada 2 desa yang coba dilihat pengembangan MDK nya berdasarkan informasi dari Pihak Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), yaitu Desa Wonodoyo Kecamatan Cepogo dan Desa Lencoh Kecatamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Desa Wonodoyo Secara umum, mata pencaharian penduduk di kawasan kaki TNGM merupakan masyarakat yang menyandarkan perekonomiannya di sektor pertanian dan peternakan dan masih menggantungkan hidupnya pada kawasan hutan Gunung Merapi untuk mengambil makanan ternak, kayu bakar dan manfaat lainnya. Berdasarkan hasil sosialiasi yang dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Merapi di desa Wonodoyo pada tahun 2008, bahwa kawasan TNGM perlu dijaga kelestariannya karena memiliki nilai penting bagi masyarakat di sekitarnya. Nilai penting tersebut adalah: 1) Memiliki lebih dari 1000 jenis tumbuhan, termasuk 75 anggrek langka, memiliki jenis mamalia kecil dan besar dan 147 jenis burung.

39

2) Merupakan daerah tangkapan air dan sumber air bagi sungaisungai yang mengalir ke wilayah DIY dan Jawa Tengah serta sumber mata air yang airnya dimanfaatkan oleh masyarakat 2 provinsi dan 4 kabupaten 3) Merupakan gunung aktif dan merupakan hutan tropikal pegunungan yang menyimpan potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata alam baik keunikan dan keanekaragaman hayatinya, puncak gunung, air terjun dan panorama indah lainnya. Tanaman pertanian yang banyak diusahakan adalah jenis tanaman hortikultura (sayur-sayuran) Sebagian besar lahan milik penduduk berada pada ketinggian antara 500 700 m di atas permukaan laut, dengan luas kepemilikan ratarata antara 0,25 0,5 ha. Hasil pertanian yang paling banyak adalah sayur-sayuran. Produksi sayuran dijual ke pasar-pasar lokal hingga keluar Boyolali seperti Solo, Salatiga, Magelang, Yogyakarta dan Semarang. Produk pertanian antara lain: kubis, wortel, selada, dan lainnya sedang ternak utama adalah sapi. Desa Lencoh Masyarakat Desa Lencoh merupakan komunitas agraris yang masih memiliki cultur mistis yang sangat erat hubungannya dengan Gunung Merapi. Setiap tahunnya pasti ada waktu-waktu di mana masyarakat melakukan ritual yang bertujuan untuk meminta keselamatan berkah dari Yang Maha Kuasa. Ritual umunya dilakukan dengan menyajikan beberapa makanan sederhana (sesaji) yang kemudian di taruh di Puncak Merapi. Kehidupan mereka bergantung pada pertanian dan peternakan. Pada sektor pertanian, beberapa hal yang dilakukan adalah pengolahan lahan pertanian, aktivitas jual beli hasil panen di pasar serta berbagai aktivitas lainnya. Hasil pertanian seperti kubis, kol wortel dll merupakan komoditas utama pertanian di Lencoh. Tidak juga ketinggalan tanaman Adas yang dapat dimanfaatkan semua bagiannya mulai dari daun, bunga, ranting dan akar. Selain pertanian, masyarakat Desa Lencoh juga mengandalkan sektor peternakan sebagai alternatif penyangga kehidupan mereka. Ratarata warga masyarakat Desa Lencoh memiliki 1 hingga 2 ekor sapi perah yang sayangnya tidak dimanfaatkan diambil susunya. Mereka menyatakan bahwa pemanfaatan susu sapi untuk dijual telah dilakukan, namun karena kendala pasar dan biaya operasinal pengelolaan, akhirnya para peternak hanya angon lalu dijual di pasar hewan.

40

Beberapa sektor lain yang meramaikan roda perekonomian di Lencoh adalah perdagangan dan bisnis pariwisata. Walaupun hanya digeluti oleh sebagian kecil warga masyarakat, namun sektor ini memegang peranan yang cukup penting dalam menggerakkan perekonomian Desa Lencoh. Masyarakat desa Lencoh memiliki keterikatan yang yang tinggi dengan Gunung Merapi. Hal ini tampak dari perilaku dan budaya yang berkembang dalam komunitas sosial mereka. Salah satu ritual yang menggambarkan betapa masyarakat Desa Lencoh sangat terikat dan menghormati Gunung Merapi yang lazim mereka sebut Mbah Petruk, adalah upacara sesajen yang diadakan secara berkala dan insidental yang ditujukan untuk meminta keselamatan. Pengaruh Gunung Merapi yang sangat dominan juga tampak dalam kehidupan sehari masyarakat Lencoh. Masyarakat Desa Lencoh hanya memahami dan merasakan manfaat langsung berupa aliran air bersih, pencukupan kebutuhan dapur, pakan ternak dan kebutuhan lain yang sifatnya kasat mata. Manfaat yang dilakukan masyarakat Desa Lencoh terhadap Gunung Merapi adalah mencari rumput. Walau tidak semua masyarakat selalu mencari di hutan lindung, bisa dipastikan hampir sebagian besar warga desa yang memiliki ternak pernah bahkan sering melakukannya. Hasil yang mereka peroleh umunya hanya cukup untuk kebutuhan pakan 1-2 ekor sapi. Selain mencari rumput, masyarakat Desa Lencoh juga mencari kayu dan ranting untuk kebutuhan kayu bakar. Sama halnya dengan ketika mereka mencari rumput untuk pakan ternak, pada pagi dini hari warga masyarakat yang berkepentingan akan mulai mendaki Merapi. Saat menuruni Merapi, mereka telah membawa seikat kayu dan ranting. Adapun tipe kayu yang diambil adalah yang sudah kering atau pohon yang telah tumbang. Adapun pemanfatan lain yang dilakukan masyarakat Desa Lencoh adalah mengambil beberapa jenis tanaman untuk dijadikan sebagai bahan makanan dan obatobatan. Pemanfaatan ini dilakukan pada jenis tumbuhan dan satwa yang spesifik, dalam artian telah diketahui dan dirasakan manfaatnya. Banyaknya seresah yang terdapat dilantai hutan dimanfaatkan masyarakat untuk campuran pembuatan pupuk kompos. Masyarakat desa Lencoh memanfaatkan hampir semua jenis seresah, baik yang masih utuh maupun sudah membusuk. Sangat sering dijumpai beberapa warga yang menuruni gunung merapi dengan sekeranjang penuh seresah yang telah membusuk untuk kemudian diolah lebih lanjut di tempat yang telah mereka siapkan. Umumnya tempat pembuatan pupuk kompos ini terletak tidak jauh dari ladang atau lokasi pengambilan seresah. Pemanfaatan terhadap sumberdaya alam di Merapi tidak hanya terbatas pada komponen ekosistem yang berwujud barang, akan tetapi juga pemanfaatan lansekap yang memang sangat menarik. Banyak warga

41

yang memanfaatkan lansekap selo untuk dijual kepada wisata. Warga berinisiatif menjadi guide bagi para wisatawan, khususnya para pendaki yang pada waktu-waktu tertentu selalu berdatangan menuju puncak Merapi. 2.1. Persepsi Masyarakat tentang Model Desa Konservasi Masyarakat Desa Wonodoyo dan Lencoh telah mengikuti sosialisasi dan beberapa fasilitasi pelatihan. Masyarakat kedua desa tersebut sebenarnya belum paham apa yang disebut model desa konservasi. Menurut mereka, apabila model desa tersebut diterapkan seharusnya pihak balai taman nasional melakukan fasilitasi yang intensif dan pendampingan masyarakat desa. Selama ini masyarakat desa belum menerima fasilitasi dan pendampingan dari pihak balai, kecuali hanya pelatihan pembuatan fermentasi pakan ternak dan budidaya jamur tiram. Tindaklanjut pelatihan pembuatan fermentasi pakan ternak pernah dilakukan oleh kelompok masyarakat desa yang dimotori oleh pemerintah desa. Namun saat ini kegiatan tersebut terhenti. Kendalanya adalah masalah bahan baku tetes tebu sebagai bahan fermentasinya. Sedangkan budidaya jamur tiram terkendala keseriusan masyarakat desa. Mereka belum sepenuhnya tertarik melakukan budidaya jamur. Mereka menghabiskan waktu sehari-hari untuk mengurus ternak sapi dan bercocok tanam sayuran di lahan milik. Beberapa kepercayaan hasil pengamatan langsung di lapangan mengenai persepsi masyarakat terhadap implementasi MDK adalah : Masyarakat percaya bahwa MDK merupakan salah satu model yang bisa diterapkan di kawasan TN/Konservasi tergantung bukti komitmen pemberdayaan masyarakat yang bisa ditunjukkan TNGM Masyarakat percaya bahwa MDK bisa meningkatkan pendapatan. Hal ini di dasarkan pada kegiatan yang sudah dilakukan TNGM dimana masyarakat melihat peluang peningkatan pendapatan. Masyarakat percaya bahwa MDK bisa menyelamatkan lingkungan seperti kawasan wisata, sumber air, penyelamatan flora fauna dan lain sebagainya. Berdasar sosialisasi TNGM tentang pentingnya penyelamatan hutan untuk sumber air sudah mulai muncul kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi kayu bakar dari hutan. Masyarakat lebih percaya pada kelompok level lokal dibanding lembaga ditingkat desa yang menangani MDK karena kelompok lokal dianggap bisa mewadahi aspirasi anggota dan mewujudkan kesejahteraan bersama.

42

Masyarakat percaya pada sesama anggota masyarakat dalam kelompok melaksanakan kegiatan pengelolaan MDK. Hal ini didasarkan pada budaya komunikasi masyarakat desa yang cukup terbuka bisa dianggap sebagai bukti dari kepercayaan kepada sesama anggota masyarakat. Masyarakat percaya pada norma dan aturan yang disepakati dalam pengelolaan MDK. Norma yang berasal dari tradisi masih dipatuhi dan dijalankan warga. Contoh; jika ada warga yang mendirikan rumah maka itu dianggap sebagai pekerjaan warga satu dusun sehingga semua warga ikut membantu hingga pembangunan rumah selesai. Warga yang tidak berpartisipasi mendapatkan sanksi sosial jika suatu saat ia ingin membangun rumah tidak ada warga yang membantu. Masyarakat percaya untuk menjalin hubungan sosial dengan kelompok lain di luar kelompok/lembaga MDK, yang dibuktikan dengan hubungan yang baik dengan semua pihak selama ini. Masyarakat percaya untuk bekerja sama dengan pihak luar seperti TNGM dan LSM dalam pengelolaan MDK 2.2. Norma Sosial, Budaya, dan Tradisi Masyarakat desa memiliki norma social yang turun temurun. Mereka meyakini bahwa keberadaan Gunung Merapi mempengaruhi sumber penghidupan masyarakat sekitarnya. Kearifan telah diberikan terhadap semua kegiatan masyarakat desa. Mereka tidak berani merusak kawasan taman nasional. Bentuk kearifan masyarakat adalah melakukan upacara sesaji di puncak Gunung Merapi. Kegiatan masyarakat di dalam kawasan dibatasi pada kegiatan perumputan dan mengambil kayu bakar. Untuk bercocok tanam, mereka mengelola lahan milik. Bentuk budaya dan tradisi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah upacara adat Sadranan dan bentuk norma atau aturan tertulis maupun tidak tertulis yang dipatuhi masyarakat dalam pengelolaan MDK berupa aturan adat/tradisi adat. 2.3. Keterikatan dan Jaringan Sosial yang ada Keterkaitan dan jaringan sosial yang ada di masyarakat dalam mengelola MDK adalah: Bentuk jaringan sosial masyarakat dalam kawasan TN/Konservasi dalam suatu kelompok di dasarkan pada kekerabatan dan tetangga dalam satu daerah Bentuk jaringan sosial masyarakat dengan masyarakat lain di luar komunitasnya, juga berupa kekerabatan dan Tetangga. Masyarakat Desa Wonodoyo yang terbagi dalam beberapa

43

dusun saling berkunjung dalam tradisi Sadranan tiap tahun yang jadwalnya diatur secara bergilir antara masing-masing dusun. Sehingga bisa dikatakan jika di Dusun Pedhut Kulon ada sadranan maka seluruh warga desa terlibat juga dalam kegiatan itu. Ditambah lagi dengan pengunjung dari luar desa yang berniat mengikuti kegiatan sadranan untuk kegiatan wisata. Begitu juga pada Desa lencoh, yang juga saling berkunjun pada dusun tetangga. Bentuk jaringan sosial masyarakat dengan instansi luar seperti taman nasional dan LSM bersifat formal, yakni antara penguasa lahan dengan pengguna lahan. Keterlibatan LSM pendamping bisa diterima masyarakat sepanjang bermanfaat dan bisa memberikan input pengembangan ekonomi. Tercatat LSM Paguyuban Sabuk Gunung (PASAG) Merapi pernah beraktivitas di Desa Wonodoyo. Warga juga pernah menerima pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dari LSM. Keterbukaan jaringan social kelompok/lembaga MDK dengan kelompok lain di luar komunitas: bersifat terbuka dan temporal.

2.4. Produktivitas, Keadilan, dan Kelestarian Untuk Eksistensi MDK Beberapa hasil pengamatan lapangan terkait dengan produktifitas, keadilan, dan kelestarian untuk mendukung eksistensi MDK adalah: Produktivitas Bentuk peran dan tanggung jawab kelompok/lembaga MDK dalam kawasan TN/konservasi berupa pengelolaan kawasan wisata; pengembangan desa bio energy; dan diversifikasi pakan ternak Bentuk dukungan dan peran aktif TNGM dalam kegiatan/lembaga MDK adalah sosialisasi dan penyuluhan; pelatihan-pelatihan; pembuatan demplot Dukungan dana dari pihak luar (LSM,Pemda,Pemdes) untuk menjalankan rencana kerja kelompok/lembaga MDK adalah ada berupa Bantuan bibit sengon dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Boyolali, Bantuan 10.000 bibit jambu batu dari Dishutbun Klaten, bantuan bibit buah dari Dishutbun Boyolali, dan bantuan Bibit Suren dari Program Gerhan tahun 2008

44

Perencanaan kelompok/lembaga dalam pengelolaan MDK masih belum ada Dukungan teknologi tepat guna dalam pengelolaan MDK yakni ada, dalam bentuk mesin pencanah pakan ternak Keadilan Perempuan belum ikut berperan aktif dalam kegiatan kelompok/lembaga MDK: Kelompok miskin atau masyarakat tidak punya lahan ikut dilibatkan dalam pengelolaan MDK Tingkat partisipasi yang rendah dari masyarakat dalam pengembilan keputusan kelompok/lembaga MDK Proporsi bagi hasil pengelolaan MDK bagi kelompok miskin belum ada Dengan MDK dapat mengurangi kerentanan dan dampaknya terhadap mata pencaharian masyarakat adalah berkurang. Faktor kerentanan utama adalah kondisi ekonomi yang memaksa warga memilih kayu bakar sebagai sumber energi. Dengan alternatif energi biogas dan peningkatan pendapatan dari pertanian dan peternakan bisa mengurangi kerentanan sekaligus menambah alternatif mata pencaharian masyarakat. Kelestarian Masyarakat terlibat dalam penyusunan rencana kerja kelompok/lembaga MDK Ada peningkatan kapasitas masyarakat dan kelompok/ lembaga MDK melalui pelatihan-pelatihan Ada kebersamaan dalam masyarakat untuk melakukan aksi kolektif pengelolaan MDK Kemampuan masyarakat dan kelompok/lembaga MDK dalam menyelesaikan konflik-konflik masih rendah Kemampuan kelompok/lembaga MDK dalam pengelolaan asset-aset bersama masih rendah 2.5. Insentif Untuk Pengembangan MDK Beberapa insentif yang diperlukan dalam pengembangan MDK adalah: Adanya harapan masyarakat dalam pengembangan MDK berupa Pendampingan atau pemberdayaan ekonomi dan Pembuatan pabrik konsentrat pakan ternak sapi Adanya peluang masyarakat dalam pengembangan MDK untuk Menjadi pemandu wisata, Menjadi penderes getah

45

pinus, Mengambil pakan ternak dari kawasan TNGM, dan Mengembangkan perikanan darat. Untuk itu, hal-hal yang dibutuhkan masyarakat untuk mengembangkan MDK adalah Pengembangan atraksi wisata buatan seperti kolam renang, flying fox, gardu pandang; Alat pengaman untuk wisatawan yang menyukai trekking dan alat standar evakuasi wisatawan; Training pemandu wisata; dan Training perikanan. Komitmen masyarakat jika kebutuhan itu terpenuhi adalah tekanan terhadap kawasan TNGM sangat berkurang Tantangan dalam pengembangan MDK menurut masyarakat adalah komitmen para pihak (pemda dan TNGM) dalam MDK dan Pengenalan teknologi baru seperti: biogas, konsentrat pakan ternak, budidaya jamur yang masih memerlukan waktu untuk bisa memasyarakat karena kendala teknis dan biaya. Biogas butuh biaya tinggi untuk instalasi awal, mesin pembuat konsentrat juga cukup mahal, panenan jamur belum bisa diawetkan sehingga harus dijual dalam keadaan basah. 2. Proses Deliberative Implementasi MDK Proses ini sebenarnya bermaksud untuk mencari tingkat kepentingan dan saling ketergantung pada pihak-pihak terkait. Akan tetapi proses ini belum bisa dilihat secara nyata karena MDK masih belum dilakukan pada TNGM. MDK di TNGM masih pada tahap inisiasi awal yang didorong. Akan tetapi, dari proses awal berupa sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan, beberapa hasil temuan di lapangan adalah: Tingkat kepentingan. Kepentingan masing-masing pihak dari pelaksanaan MDK adalah: - Kepentingan Taman Nasional: mengurangi tekanan/intervensi masyarakat terhadap kawasan TN sampai pada titik terkecil masyarakat tidak dapat mengakses kawasan. - Kepentingan mayarakat: masyarakat dapat memanfaatkan kawasan TN untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. - `Kepentingan pemda: masyarakat dapat berdaya dengan potensi local yang ada Saling ketergantungan. Sikap saling ketergantungan masingmasing pihak adalah: - TNGM-masyarakat: keamanan Taman Nasional sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat sekitar kawasan

46

Masyarakat-TNGM: masyarakat sangat bergantung pada kawasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya Pemda-kawasan TN: kelestarian kawasan mempengaruhi ketersediaan air dan lingkungan wilayah pemda Masyarakat-pemda: fasilitasi pemda diharapkan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat

4. Kendala Implementasi MDK Beberapa kendala yang muncul dalam implementasi MDK adalah: Kebijakan. MDK masih merupakan benda asing yang kurang dipahami oleh petugas Balai TNGM, pemda setempat dan masyarakat. Rata-rata responden kurang bisa merespon pertanyaan seputar istilah MDK dan kebijakannya. Kegiatan yang bisa dipahami dan diterima masyarakat adalah yang berkaitan langsung dengan kegiatan pertanian dan peningkatan taraf ekonomi. Kebijakan dan penetapan MDK dalam hal ini dianggap cukup tersosialisasi jika sudah dipahami oleh elit desa, elit kelompok tani, pemda dan pihak TNGM sebagai inisiator. Pemahaman petugas lapangan. Petugas lapangan dari tingkat seksi sampai resort bisa dipastikan tidak terlalu ambil pusing dengan istilah. Mereka lebih berfokus pada pelaksanaan tugas dari atasan. Pemahaman masyarakat tentang MDK. Meskipun tidak paham, masyarakat cukup kooperatif menanggapi inisiatif TNGM sepanjang itu tidak merugikan. Dalam kasus Desa Wonodoyo, masyarakat cukup memiliki kesadaran lingkungan yang terbukti dengan aksi penolakan tambang pasir di yang melibatkan 5000 warga Desa Wonodoyo.

47

TAMAN NASIONAL SEMBILANG


Taman Nasional Sembilang (TN) merupakan sebagian kawasan hutan mangrove terluas yang tersisa di sepanjang pantai timur pulau Sumatera yang perlu di lestarikan keberadaanya untuk keseimbangan ekosistem di dunia.Didasarkan pada rekomendasi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (No 522/5459/BAPPEDA-IV/1998 ditunjuk sebagai TAMAN NASIONAL dengan SK Menteri Kehutanan No. 76/Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan, yang didalamnya tercantum penunjukan kawasan Sembilang menjadi Taman Nasional. Berdasarkan surat Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) No. 22/5128/I tanggal 23 Oktober 2001 TN Sembilang ditetapkan Menteri Kehutanan No. 95/Kpts-II/2003 tanggal 19 Maret 2003 seluas 202.896,31 hektar termasuk kawasan perairannya. Waru Laut ((Thespesia populnea)

Sumber: http://duniasangpemuda.blogspot.com/2011/01/taman-nasionalsembilang.html

Menurut wilayah administrasi pemerintahan TN Sembilang berada di kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumsel, secara geografis TN sembilang berada diantara 138 - 225 LS dan 10412 10455 BT.Sebelah Barat Laut Taman Nasional Sembilang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Berbak yang berada di Provinsi Jambi Kawasan TN Sembilang merupakan penggabungan antara kawasan Hutan Suaka Alam (HSA) Sungai Sembilang, Hutan Suaka Alam (HSA) Sungai

48

Sembilang II, Hutan Suaka Alam (HSA) Pulau Alang Gantang, Hutan Suaka Alam (HSA) Terusan dalam, Hutan Lindung (HL) Sungai Sembilang ,dan kawasan perairan di sekitarnya seluas 17.827 ha.

1. Inisiatif Model Desa Konservasi (MDK) Meskipun kegiatan konservasi hutan bersama masyarakat tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh masalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dalam aspek ekonomi, namun permasalahan kesejahteraan ekonomi rakyat di sekitar kawasan konservasi dapat menjadi faktor pendukung penting bagi keberlanjutan konservasi hutan. Gagasan Model Desa Konservasi menghendaki adanya desa-desa penyangga di sekitar wilayah hutan konservasi yang secara ekonomi dapat hidup seiring dalam pola ekologis secara berkelanjutan. Desa Tabala Jaya merupakan salah satu yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Sembilang di kabupaten Banyuasin. Desa yang berpenduduk 364 KK (200 rumah tangga) tersebut diharapkan dapat menjadi desa penyangga yang mendukung bagi keberlanjutan hutan konservasi di pesisir pantai tersebut. Pemerintah telah menetapkan wilayah hutan rawa gambut, rawa air tawar, dan hutan riparian (tepi sungai) di Propinsi Sumatera Selatan tersebut berdasarkan SK Menteri Kehutanan, SK No. 76/Kpts-II/2001. Luas areal hutan konservasi yang masuk dalam wilayah taman nasional Sembilang mencapai 205.750 hektar. Tabala Jaya lahir dan terbentuk sebagai desa bermula dari pemukinan penduduk yang merupakan peserta program transmigrasi pada tahun 1986/87. Berbeda dengan desa tetangganya, yang khusus dari masyarakat Tabala Jaya adalah bahwa mereka merupakan peserta program transmigrasi swakarsa atau selain biaya perjalanan dari daerah asalnya dilakukan atas biaya sendiri, mereka juga tidak mendapatkan jatah hidup jadup pada awal pembentukan pemukiman transmigrasi. Pola penguasaan lahan dalam masyarakat Tabala Jaya yang cenderung bercirikan pertanian menetap, cenderung tidak mengganggu areal konservasi dari aspek lahan. Masalah yang saat ini muncul tentang tata batas dengan hutan konservasi cenderung berasal dari faktor di luar desa, yakni dalam pengukuran tata batas yang oleh pengelola Taman Nasional Sembilang diklaim sebagai wilayah hutan konservasi. Sementara dari dokumen tentang wilayah desa yang telah ditetapkan jauh-jauh hari, wilayah desa ada yang masuk dalam wilayah taman nasional. Oleh karena itu penyelesaian terhadap masalah tata batas perlu diupayakan segera

49

sebelum masalah tersebut berkembang menjadi lebih rumit di kemudian hari. Letak geografis yang relatif terpencil membuat desa Tabala Jaya relatif tertutup dari dunia luar. Hal ini membuat tingkat harga kebutuhan barang-barang yang harus didatangkan dari daerah lain menjadi relatif tinggi. Sebagai contoh harga semen di daerah itu mencapai Rp 68 ribu sementara di Palembang hanya berharga Rp 40 ribu. Keterisolasian wilayah juga membuat pasar menjadi cenderung bersifat monopolistik, dimana satu atau dua orang yang memiliki akses langsung terhadap dunia luar akan cenderung memiliki kekuasaan dalam penentuan harga Kerjasama dalam bidang ekonomi dalam wadah koperasi atau yang sejenis di masyarakat Tabala Jaya termasuk rendah. Hal ini terungkap pada saat diskusi bersama masyarakat ketika tidak ada kelembagaan ekonomi yang mampu menjadi wadah bagi kerjasama ekonomi antar anggota-anggota masyarakat. Beberapa pengurus dari programprogram pemerintah seperti Pokmas IDT, koperasi simpanpinjam, kelompok tani, dan lain-lain, seolah tidak melihat urgensi pentingnya organisasi tersebut bagi mereka. Hal ini antara lain karena organisasi atau kelembagaan tersebut selama ini lebih banyak dikembangkan secara top-down, sehingga kurang mampu menjadi wahana bagi pengembangan aspirasi ekonomi masyarakat setempat. Selama ini kelembagaan tersebut hanya berfungsi sebagai sarana untuk menyalurkan bantuan-bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan modal atau pupuk, serta bantuan lainnya (listrik tenaga surya). Masyarakat tidak diajak secara aktif dalam menjalankan kegiatan kelompok termasuk dalam menyalurkan bantuan-bantuan (yang biasanya terbatas) yang selama ini ada. Manajemen yang cenderung tertutup dari para pengemban program dan pengurus kelompok serta tidak melibatkan partisipasi seluruh anggota kelompok pada gilirannya membuat organisasi tidak dapat berfungsi. Hal-hal inilah yang cenderung membuat masyarakat menjadi tidak percaya lagi kepada kelembagaan kerjasama ekonomi di desanya. 2. Karakteristik Desa Pada saat ini, pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan sebagai MDK di Desa Tabala Jaya merupakan pola pemanfaatan berbasis bukan lahan. Inisiatif MDK di mulai tahun 2007 yang diawali dengan sosialisasi MDK oleh Tim Taman Nasional Sembilang dengan tahapan 1) mempertemukan para pihak di desa, 2) Diklat fasilitator Tim TNS untuk kajian PRA bekerja sama dengan LSM SSNP, 3) Praktek aplikasi kajian PRA di lokasi, 4) Penentuan skala prioritas dari hasil PRA, dan 5) Penyusunan RPJM tingkat desa.

50

Untuk penguatan kapasitas kelembagaan terhadap kelompok di desa Tabala Jaya, dilakukan pelatihan-pelatihan dengan materi Pelatihan dinamika kelompok, Pelatihan pengelolaan keuangan, Pelatihan partisipasi gender, dan Pemberian bantuan pada Gapoktan (sekitar 30 jt) untuk pembuatan pakan ikan. 2.1. Persepsi Masyarakat tentang Model Desa Konservasi Persepsi masyarakat desa Tabala Jaya yang umumnya warga transmigran terhadap kawasan hutan sangat positip. Menurut warga fungsi hutan disadari sebagai kawasan yang melindungi asset-asset produksi lahan pertanian dan tambak dari bencana alam, seperti angin puting beliung, abrasi air laut dan sebagainya. Hal ini dikarenakan desa mereka berada di daerah pasang surut. Secara ekonomi, sumber penghidupan warga desa tidak tergantung langsung dengan kawasan konservasi, namun manfaat jasa lingkungan dari kawasan konservasi sangat diperlukan bagi menyangga kehidupan warga desa. Oleh karena itu, masyarakat desa Tabala Jaya percaya bahwa MDK bisa diterapkan di desanya karena keyakinan bahwa dengan MDK dapat meningkatkan pendapatan dari asset-asset produksi lahan karena adanya perlindungan lingkungan dari kawasan hutan di TNS. Namun di sisi lain, umumnya tidak percaya jika pengembangan MDK diserahkan pada kelompok yang sudah ada (Gapoktan). Hal ini dikarenakan ketidakpercayaan warga terhadap pengurus Gapoktan yang sudah ada, disamping itu antara kelompok satu dengan yang lain tidak terjalin komunikasi yang baik. Terlebih lagi belum adanya norma dan aturan yang menjadi kesepakatan warga dalam menjalankan organisasi Gapoktan maupun kelompok lain yang ada. Meskipun kepercayaan terhadap kelompok tidak ada, para warga masih punya kepercayaan yang kuat terhadap peran dan kerjasama dengan pihak-pihak luar, seperti TNS maupun LSM pendamping. 2.2. Norma Sosial, Budaya, dan Tradisi Ditilik dari sejarah pembentukan desa yang berawal dari program transmigrasi pada tahun 1986/1987, penduduk desa Tabala Jaya merupakan campuran warga dari 3 daerah di Jawa. Asal daerah itu adalah Lamogan, Banjarnegara dan Karawang. Selain itu ada warga transmigrasi lokal yang berasal dari desa-desa trans di sekitarnya dan Lampung. Dengan keberagaman daerah asal tersebut, maka tradisi dan norma yang tumbuh sangat beragam sesuai dengan tradisi yang dibawa dari daerah asal. Norma dan tradisi yang masih dipertahankan adalah tradisi-tradisi yang berhubungan langsung dengan ritual atau kebiasaan dalam pengerjaan lahan-lahan pertanian, tambak dan pekarangan. Sehingga tradisi dan norma khusus yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya hutan tidak begitu kuat.

51

Dengan kondisi seperti ini, maka menjadi hal yang wajar jika warga desa tidak memiliki norma, budaya dan tradisi yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hutan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Akibatnya antar warga desa maupun antar kelompok tidak ada kepatuhan dan toleransi terhadap aturan-aturan yang disepakati maupun toleransi terhadap perbedaan pendapat. Karena warga lebih mementingkan kepentingan pribadi (rumah tangga) dalam mencukupi kebutuhan maupun meningkatkan pendapatan. Sehingga terkesan belum ada energi sosial untuk bersama-sama memikirkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara kolektif. 2.3. Keterikatan dan Jaringan Sosial Ikatan jaringan sosial masyarakat desa Tabala Jaya didasari pada sentimen asal daerah sehingga ikatan emosional antar warga lebih kuat jika dibandingkan dengan ikatan sosial dengan komunitas warga di luar daerah. Dengan kondisi seperti ini, menyebabkan tingkat ketidakcocokan antara komunitas di masyarakat agak tinggi. Meskipun, jaringan sosal warga masyarakat dengan komunitas lain yang tidak luas namun potensi keterbukaan warga untuk membangun jaringan sosial dengan komunitas lain sangat terbuka. Hal ini ditandai dengan sikap warga yang terbuka terhadap kehadiran pihakpihak luar termasuk petugas TNS dalam melakukan komunikasi untuk inisiasi awal gagasan MDK. Ditilik dari catatan proses inisiasi gagasan MDK di desa Tabala Jaya oleh TNS menggambarkan bagaimana antusiasme warga dalam mensikapi gagasan MDK dilihat dari tingkat partisipasi warga dalam setiap pertemuan-pertemuan yang difasilitasi oleh TNS. Tingginya tingkat partisipasi ini memberikan bukti bahwa meskipun ikatan sosial warga yang masih terbatas tidak menjadi penghalang ketika warga masyarakat diajak bicara tentang pentingnya manfaat lingkungan dan sumberdaya hutan sebagai penyangga kehidupan warga dalam melindungi aset-aset produksi yang ada. Produktivitas, Keadilan, dan Kelestarian Untuk Eksistensi MDK Gagasan MDK yang dipahami oleh warga desa belum sepenuhnya dipahami secara lengkap. Kondisi ini bisa dikatakan wajar mengingat proses dan dukungan fasilitasi dari TNS baru pada tahap sosialisasi dan penyuluhan. Meskipun sudah ada dukungan dana untuk kegiatan kelompok, namun karena masih ada persoalan internal di tingkat kelompok dengan warga masyarakat maka optimalisasi pemanfaatan dana ini belum menunjukkan hasil yang seperti diharapkan. Dengan melihat kondisi seperti ini, maka untuk mendorong tingkat produktifitas dan kelestarian gagasan MDK harus 2.4.

52

mempertimbangan beberapa faktor, agar eksistensi MDK yang akan diimplementasikan dapat berjalan dengan baik. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dilakukan penyempurnaan antara lain : Lemahnya soliditas kelompok. Indikator faktor ini ditandai dengan : (a) rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan kelompok; (b) belum adanya kebersamaan masyarakat untuk melakukan aksi kolektif dalam pengelolaan sumberdaya; (c) rendahnya kemampuan masyarakat dalam penyelesaian konflik; (d) belum adanya perencanaan kelompok dalam pengelolaan MDK; (e) rendahnya kemampuan kelompok dalam pengelolaan asset bersama. Minimnya dukungan atau intervensi teknologi tepat guna untuk memperkecil tingkat kerentanan dan dampak sumber mata pencaharian jika konsep MDK diterapkan

2.5. Insentif Untuk Pengembangan MDK Insentif yang diharapkan untuk pengembangan MDK bagi masyarakat lebih bertumpu pada persoalan infrastruktur yang bisa memberikan akses pemasaran terhadap hasil produksi pertanian dan tambak serta upaya-upaya untuk memberikan nilai tambah. Menurut masyarakat insentif yang diharapkan dari pihak TNS maupun dari pihak pemda, antara lain: Tersedianya sarana pasar atau tempat pelelangan ikan untuk menjaga kestabilan harga ikan. Penyediaan bibit ikan yang lebih mudah. Penggunaan teknologi tepat guna untuk memberikan nilai tambah pada hasil pertanian yang melimpah (kelapa). Pembentukan koperasi kelompok. Kontinyuitas pembinaan dan penyuluhan dari dinas-dinas teknis terkait sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan bagi TNS, insentif yang diperlukan dalam bentuk infrastruktur adalah : Tersedianya Posko TN sebagai tempat untuk pemantauan sekaligus tempat komunikasi antara masyarakat dengan petugas TN di lapangan. Tersedianya sarana-sarana pengamatan keragaman hayati yang bisa menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi generasi muda warga desa/masyarakat untuk membentuk kesadaran sejak dini.

53

3. Proses Implementasi MDK Proses deliberative implementasi MDK di TNS agak terlalu awal untuk dievaluasi prosesnya. Mengingat keberadaan TNS itu sendiri baru berjalan 2 tahun sejak 2006 dan inisiatif MDK baru dimulai tahun 2007. Ditilik dari gagasan MDK di TNS proses awal implementasi dapat dirunut dari berbagai indikator deliberative, sebagai berikut : Karakteristik keragaman kepentingan para pihak terhadap kawasan konservasi TNS dapat dipetakan dalam 3 pihak utama, yaitu Pemprov Sumatera Selatan, TNS dan masyarakat. Masing pihak-pihak berkepentingan terhadap kawasan konservasi dengan perimbangan dan kepentingan masing-masing, tetapi semuanya mempunyai kesamaan yaitu pelestarian dan perlindungan kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan. Hal ini mengakibatkan semua pihak saling tergantung satu sama lain. Bagi pemprov yang mendorong lahirnya TNS melalui kebijakan daerah dalam bentuk surat rekomendasi dan permohonan penetapan kawasan oleh Gubernur. Keinginan pemprov dalam penetapan ini sesuai dengan renstra pembangunan jangka panjang untuk melindungi beberapa daerah aliran sungai penting yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Sumatera Selatan. Namun setelah ada penetapan kawasan oleh Menhut, peran pemprov dalam rencana pengembangan kawasan maupun pemberdayaan masyarakat belum terlihat secara nyata. Kepentingan pemprov dan pemda baru sebatas menjadikan TNS sebagai ikon daerah. Hal ini memberi kesan bahwa dengan turunnya ijin penetapan kawasan, yang berperan utama pengembangan kawasan adalah tanggung jawab TNS. Padahal TNS belum didukung sistem organisasi dan manajemen yang mapan. Bagi TNS, tugas dan tanggungjawab pengelolaan kawasan konservasi menjadi kepentingan utama. Tercapainya kondisi kawasan TNS sebagai pusat pendidikan konservasi hutan mangrove basah dan pusat riset ekosistem mangrove satu-satunya di dunia, merupakan citacita dan tujuan yang akan diperjuangkan. Oleh karena itu, upaya pengelolaan kawasan TNS di kelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu : o Pengelolaan konservasi kawasan yang mencakup persoalan tata batas, tata ruang mikro, dan penyelesaian konflik. Semua kegiatannya bertumpu pada upaya-upaya perlindungan dan pengamanan hutan dengan pembentukan pam swakarsa dan peringatan dini kebakaran hutan. o Pengelolaan konservasi ekosistem yang mencakup pengelolaan keragaman hayati (bio-diversity), penangkaran flora dan fauna endemik, jasa lingkungan, serta riset dan pendidikan lingkungan. Semua kegiatan bertumpu pada

54

pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi dan peluang usaha masyarakat, pengembangan pariwisata alam dan sebagainya. Bagi masyarakat, keberadaan kawasan TNS secara tidak langsung memberikan perlindungan lingkungan terhadap sistem produksi yang berbasis lahan (pertanian dan tambak). Meskipun kepentingan ini bersifat tidak langsung berhubungan dengan lahan di kawasan koservasi, namun masih ada persoalan-persoalan tata batas yang belum selesai. Munculnya masalah tata batas sebagai akibat perbedaan pemetaan antara data yang dikeluarkan oleh Dinas PU pada saat mempersiapkan infrastruktur pemukiman bagi warga transmigran serta pengesahan batas lahan dengan kawasan oleh Camat setempat yang dikeluarkan pada tahun 2003. Namun setelah ditetapkan sebagai kawasan TNS, ada titik koordinat yang berbeda antara hasil pengesahan Camat dengan hasil dari TNS berdasarkan peta planologi Dephut. 2. Proses dialog para pihak dalam implementasi MDK. Perbedaan kepentingan para pihak terhadap kawasan TNS, lebih dominan pada masalah tata batas yang berpotensi menjadi konflik. Untuk menangani masalah ini, maka konsep yang dirancang oleh TNS adalah memetakan zona rehabilitasi. Yaitu kawasan TNS yang dijadikan zonazona yang berada pada kawasan rawan (zona merah) untuk dilakukan upaya rekayasa sosial (social enginering) dan pemberdayaan (empowering). Skema dan design pengelolaan zona rehabilitasi dilakukan dengan membangun kesepahaman antara TNS dengan pihak terkait (masyarakat, pemda, dan perusahaan) untuk menjalin terjadinya akses informasi dan komunikasi secara terbuka. Pada tahun 2007, dimulai proses dialog antara TNS, masyarakat, Perguruan Tinggi, LSM dan swasta. Out put dari proses dialog awal berupa dokumen tentang : Identifikasi dan pemetaan zona inti, zona penyangga dan zona rehabilitasi. Profil umum para pihak yang terlibat terhadap akses dan pemanfaatan TNS. Pemetaan potensi konflik Penyusunan RPTN TNS. Dilihat dari hasil pengamatan studi, terlihat bahwa TNS sangat berperan dalam melakukan inisiasi dialog para pihak, sedangkan posisi para pihak lainnya lebih bersifat menunggu. Apalagi di tingkat masyarakat yang belum begitu memahami dan mengerti tentang persoalan zonasi, MDK dan sebagainya.

55

4. Kendala Implementasi MDK Kendala utama dalam implementasi MDK di lapangan, adalah : 1. Belum adanya standar kegiatan dalam penyusunan anggaran (DIPA) di TN. Setiap tahapan dalam melakukan kegiatan pemberdayaan dan implementasi MDK belum ditunjang dengan petunjuk teknis yang sesuai dengan aturan mekanisme keuangan dan pelaporan. Beberapa kondisi yang seringkali menjadi faktor penghambat dalam setiap tahap kegiatan adalah belum adanya standar kegiatan, standar pekerjaan, standar pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan. Penyelesaian sementara terhadap faktor semacam ini sangat tergantung pada improvisasi Kepala Balai TN dalam mendorong implementasi MDK di lapangan. 2. Kebijakan tentang MDK masih belum sepenuhnya dipahami oleh petugas TNS. Dari personil yang ada, penanganan implementasi MDK hanya dilakukan oleh Kepala Balai TN dibantu seorang petugas bagian Humas dan tenaga penyuluh yang masih baru. Sehingga pemahaman tentang MDK masih perlu diupayakan secara terus menerus. 3. Pemahaman masyarakat tentang konsep MDK yang masih terbatas. Namun demikian tingkat partisipasi yang tinggi dapat menjadi modal dalam implementasi MDK melalui beberapa pendekatan yang bisa dilakukan melalui penguatan kelembagaan.

56

DAFTAR PUSTAKA BTNKS. 2007., Balai Taman Nasional Kerinci Sebelat. www.phka.go.id/kerinci_sebelat Dephut.2007, KawasanKonservasi. PHPAWWW.Dephut.go.id/phka/ kawasan_konservasi Marsono. 2004, Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Pengelolaan Kawasan KOnservasi. Bigr Publishing kerja sama dengan Sekolah Tinggi Tehnik Lingkungan YLH, Jogjakarta Imatetani. 2010. Inovasi Lingkungan Hidup Berbasis Pertanian Kehutanan (htm) (dalam Bahasa Indonesia). Rilis pers. Diakses pada 22 Juli 2010.
y

de Foresta dkk. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan: Agroforest khas Indonesia, sebuah sumbangan masyarakat. ICRAF, Bogor.