Anda di halaman 1dari 2

PEMANFAATAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DALAM IDENTIFIKASI PEMALSUAN JAMU DAN ANALISIS SIDIK RAGAM EKSTRAK A.

Tujuan

Mengidentifikasi zat pengotor atau zat sintetik dalam jamu. Mendeteksi kemungkinan adanya pemalsuan.

A. Pendahuluan Kemanjuran suatu produk jamu akan meningkatkan keberhasilan produk jamu dalam pemasarannya. Penambahan bahan sintetik merupakan salah satu upaya meningkatkan kemanjuran suatu produk jamu. Obat obat analgetik perifer, antipiretik, vitamin B komplek dan kortikosteroid sering ditambahkan pada jamu pegel linu, obat kuat atau penambah nafsu makan. Penambahan bahan sintetik ke dalam sediaan jamu termasuk salah satu bentuk pemalsuan jamu. Penambahan bahan sintetik ke dalam jamu tidak dapat dibenarkan karena ditinjau dari aspek posologi dan penandaan kemungkinan besar sudah tidak sesuai lagi. Penambahan bahan sintetik dalam bahan jamu, merupakan salah satu bentuk penipuan karena apabila pasien langsung membeli sediaan obat yang mengandung bahan sintetik tersebut kemungkinana akan mendapatkannya dengan harga yang lebih murah. Salah satu metode untuk mendeteksi adanya bahan kimia obat dalam produk jamu adalah dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). KLT dilakukan pada lapisan adsorben yang dilekatkan pada suatu plat inert atau kaca. Prinsip dasar KLT adalah pemisahan yang berdasarkan perbedaan laju migrasi masing-masing molekul senyawa diantara fase diam dan fase gerak yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adsorpsi /partisi fase diam, kelarutan dalam cairan partisi dan pelarut pembilas, serta polaritas dari cairan partisi dan pelarut. B. Bahan dan Alat Etil asetat Bahan : Jamu Jamu simulasi Pembanding kimia: parasetamol, antalgin, dexametason Metanol C. Cara Kerja a. Penyiapan bejana pengembang 1 bungkus 1 bungkus Alat : Plat KLT Bejana KLT Pipa kapiler Gelas ukur 10 ml, 100 ml Beker glas 25 ml Batang pengaduk Pipet tetes Kertas saring seluas bejanaKLT 1 buah 1 buah 5 buah 1 buah 5 buah 1 buah 1 lembar

1. Menyiapkan bejana KLT yang bersih dari lemak, lalu dililitkan kertas saring dibagian dalam

dinding bejana
2. Larutan eluen dituangkan kedalam bejana sampai ketinggian kira-kira 1cm 3. Bejana ditutup dan dibiarkan beberapa saat untuk penjenuhan (kertas saring sebagai indikator)

b. Penyiapan larutan uji dan pembanding


1. Serbuk jamu ditimbang 0,5 mg kemudian dilarutkan dalam 5 ml metanol 2. Larutan uji parasetamol dan antalgin disiapkan, sampel simplisia mengandung pengotor juga

disiapkan, semuanya dilarutkan didalam metanol. c. Penotolan pada lempeng silika


1. Lempeng silika yang telah diaktifkan, ditandai pada posisi 2 cm dari tepi bawah lempeng sebagai

tempat awal penotolan


2. Larutan jamu yang diuji, larutan pembanding dan sampel simplisia ditotolkan pada plat

menggunakan pipa kaca dengan jarak antar totolan 1,5-2 cm.


3. Dikeringkan

d. Pengembangan dan penentuan harga Rf bercak


1. Plat KLT yang telah ditotoli dimasukkan ke dalam bejana KLT yang telah jenuh dengan larutan

pengembang/eluen, biarkan dielusi oleh larutan eluen.


2. Pengembangan dapat dihentikan ketika pelarut sudah mencapai lebih dari plat 3. Batas pelarut pada plat ditandai. 4. lempeng diangkat kemudian dikeringkan 5. setelah kering, periksa bercak dibawah sinar UV 6. Rf dihitung, dilakukan identifikasi dan analisa atas hasilnya.