Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Logam adalah salah satu unsur yang paling berlimpah di kerak bumi,
karena dia logam terdapat luas di kerak bumi sebagai mineral yang tersimpan di
bebatuan, dan juga terdapat di perairan sebagai mineral yang terlarut.
Perbandingan sifat dan ciri dari logam ini terlihat jelas pada perbandingan sifat
pereduksi suatu logam dapat dipengaruhi oleh letaknya dalam sistem periodik.
Logam yang memiliki jari-jari lebih besar, umumnya bersifat lebih reaktif, sebab
kemampuannya untuk melepaskan elektron pada kulit terluar lebih mudah.
Perbandingan sifat pereduksi suatu logam dapat dipengaruhi oleh letaknya
dalam sistem periodik. Logam yang memiliki jari-jari lebih besar, umumnya
bersifat lebih reaktif, sebab kemampuannya untuk melepaskan elektron pada kulit
terluar lebih mudah.
Logam umumnya bersifat sebagai reduktor, sebab dapat dioksidasi.
Logam-logam yang berada dalam golongan utama dalam sistem periodik,
umumnya merupakan pereduksi kuat. Sedangkan pada logam-logam yang berada
pada golongan transisi, memiliki sifat pereduksi yang relatif lebih rendah dari
logam golongan utama.
Oleh karena kecenderungan sifat logam inilah, maka dilakukan suatu
percobaan untuk mengamati secara nyata reaksi reduksi oksidasi dan kereaktifan
beberapa logam. Dengan begitu, dapat dijadikan sebagai acuan mengenai sifat-
sifat logam apakah telah sesuai dengan teori yang ada atau tidak.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan mempelajari sifat
reduksi oksidasi bahan kimia dan kereaktifan logam alkali dan alkali tanah.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah :
1. Mengetahui sifat reduksi oksidasi logam aluminium, besi, tembaga, dan seng
terhadap iodin.
2. Mengetahui sifat kereaktifan logam natrium, kalsium, dan magnesium
terhadap air.

1.3 Prinsip Percobaan
1.3.1 Daya Reduksi Logam terhadap Iodin
Sifat reduksi oksidasi logam ditentukan dengan mereaksikan serbuk Al,
Fe, Cu dan Zn dengan serbuk iodin menggunakan katalis air. Sifat reduksi
oksidasi ini dilakukan dengan mencampurkan logam tersebut dicawan petri
dengan mereduksikannya terlebih dahulu dalam keadaan kering, kemudian
dicampurkan akuades untuk mempercepat reaksi.
1.3.2 Kereaktifan Logam Alkali
Kereaktifan logam alkali ditentukan dengan mereaksikan logam natrium
dengan air yang diberi perlakuan (kertas saring diletakkan pada permukaan air
dalam cawan petri), kemudian ditambahkan indikator PP untuk menentukan
kebasaannya.
1.3.3 Kereaktifan Logam Alkali Tanah
Kereaktifan logam alkali tanah ditentukan dengan mereaksikan logam
magnesium dan logam kalsium dengan air dalam tabung reaksi yang diberi
perlakuan dengan cara pemanasan. Untuk melihat hasil reaksi dari logam alkali
dan alkali tanah maka ditambahkan indikator PP.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suatu tinjauan tabel periodik menggambarkan bahwa terdiri dari dua sub-
golongan , A dan B. Golongan IA terdiri dari litium ,natrium, kalium, rubidium,
kalsium, dan golongan lainnya IB. Golongan IB disebut juga golongan logam sub-
golongan logam peralihan pada deretan panjang yang terdiri dari: tembaga, perak
dan emas. Logam sub-golongan IA dikenal sebagai logam alkali karena oksida
dan hidroksida logam ini dapat bereaksi dengan air membentuk alkali. Logam
alkai ini menempati tempat sesudah golongan gas mulia. Litium menempati
tempat sesudah helium, natrium sesudah neon, kalium sesudah argon dan
seterusnya ( Sjahrul, 2010).
Natrium dan kalium melimpah di litosfer (2,6 dan 2,4 % masing-masing).
Terdapat sejumlah besar kandungan garam batuan, NaCl, dan karnalit, KCL
MgCl
2
.6H
2
O, yang dihasilkan dari penguapan air laut dalam jangka waktu
geologis (Cotton dan Wilkinson, 1989).
Natrium dan senyawannya sangat penting. Logamnya, sebagai aliasi Na-
Pb, dipakai untuk membuat tetraalkil-Pb, dan banyak kegunaan indusri yang lain.
Hidroksida, karbonat, sulfat, tripolifosfat, dan silikatnya merupakan satu diantara
50 bahan kimia industri yang penting dengan produksi di Amerika Serikat untuk
tahun 1972 sebesar masing-masing satu sampai sepuluh juta ton. Bila Na
+
maupun
K
+
penting secara fisiologis dalam hewan dan tanaman; sel-sel dapat membedakan
Na
+
dan K
+
mungkin dengan beberapa jenis mekanisme penggolongannya (Cotton
dan Wilkinson, 1989).
Kalsium , stronsium dan barium dalam keadaan uap memberikan suatu
warna khas pada nyala api. Kejadian ini dijelaskan atas dasar eksitasi elektron.
Energi yang telah digunakan untuk menguapkan unsur ini menyebabkan elektron
mengalami eksitasi ke tingkatan energi yang lebih tinggi. Selanjutnya elektron
tersebut kembali ke tingkatan energi mula-mula seraya melepaskan energi
tambahan dalam bentuk cahaya ( Sjahrul, 2010).
Kalsium klorida adalah suatu zat hidroskopis yang dapat membentuk
sejumlah besar hidrat, seraya stronsium klorida membentuk heksahidrat ( Sjahrul,
2010).
Kalsium sulfat adalah larut baik dalam air, seraya stronsium dan barium
sulfat sukar larut dalam air. Kalsium dan stronsium kromat adalah larut dalam
larutan asam asetat seraya barium kromat adalah tidak larut ( Sjahrul, 2010).
Garam-garam kalsium tersebar sangat luas di alam sebagai batu kapur atau
mamer, CaCO
3
dan dolomit, MgCO
3
. CaCO
3
, juga terdapat sebagai gips,
CaSO
4
.2H
2
O ( Sjahrul, 2010).
Hanya logam yang akan diproduksi pada skala yang sangat besar adalah
magnesium: dolomit, CaMg(CO
3
)
2
, terurai oleh panas untuk campuran oksida-
oksida, dan ini dapat dikurangi dengan adanya ferosilikon dalam pembuluh nikel,
reaksi efektif menjadi representend oleh aquation tersebut (Sharpe, 1996).
Aluminium adalah unsur logam yang biasa dijumpai dalam kerak bumi
dan terdapat dalam batuan seperti felspar dan mika. Kandungan yang mudah
diperoleh adalah oksida terhidrat seperti bauksit, Al
2
O
3
.nH
2
O, dan kryolit,
Na
3
AlF
6
. Logam aluminium mempunyai banyak kegunaan dan beberapa
garamnya seperti sulfat (kira-kira 10
8
kg, USA,1972) dibuat dalam skala besar
(Cotton dan Wilkinson, 1989).
Aluminium adalah logam putih, yang liat dan dapat ditempa: bubuknya
berwarna abu-abu. Ia melebur pada 659 C. Bila terkena udara udara, objek-objek
aluminium terosidasi pada permukaannya, tetapi lapisan oksida ini melindungi
objek dari oksida lebih lanjut. Asam klorida encer dengan mudah melarutkan
logam ini, pelarutan lebih lambat dalam asam sulfat encer atau asam sitrat encer.
Proses pelarutan dapat dipercepat dengan menambahkan sedikit merkerium(II)
klorida pada campuran. Asam klorida pekat juga melarutkan aluminium dengan
membebaskan belerang dioksida. Asam nitrat pekat membuat logam menjadi pasif
( Svehla, 1979).
Tembaga adalah logam merah-muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat.
Ia melebur pada 1038
o
C. Karena potensial elektroda standarnya positif, (+0,34 V
untuk pasangan Cu/Cu
2+
), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat
encer,meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ada dua deret
senyawa tembaga. senyawa-senyawa tembaga(I) diturunkan dari tembaga(I)
oksida Cu
2
O yang merah, dan mengandung ion tembaga(I), Cu
+
. Senyawa-
senyawa ini tak berwarna, kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air,
perilakunya mirip perilaku senyawa perak(I). Mereka mudah dioksidasikan
menjadi senyawa tembaga(II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida,
CuO, hitam. garam-garam tembaga(II) umumnya berwarna biru, baik dalam
bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan-air , warna ini benar-benar khas hanya
untuk ion tetraakuokuprat (II) saja (Svehla, 1979).
Besi yang murni adalah logam berwarna putih-perak, yang kukuh dan liat.
Ia melebur pada 1535
o
C. Jarang terdapat besi komersial yang murni. Biasanya
besi mengandung sejumlah kecil karbida, silisida, fosfida, dan sulfida dari besi,
serta sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam
kekuatan struktur besi. Besi dapat dimagnitkan asam klorida encer atau pekat dan
asam sulfat encer melarutkan besi, pada mana dihasilkan garam-garam besi(II)
dan gas hidrogen (Svehla, 1979).
Besi adalah zat terlarut dalam air yang sangat tidak diinginkan yang
diperlukan untuk keperluan rumah tangga, karena dapat menimbulkan berkas
karat pada pakaian dan porselain, dan menimbulkan rasa yang tidak enak pada air
minum pada konsentrasi yang kira-kira melebihi 0,31 mg/l. Sifat-sifat kimia dan
biologi dari besi sangat rumit dan telah banyak menjadi subjek bahan penelitian.
Bidang yang sangat menarik dalam kimia perairan dari besi adalah sifat redoks,
pembuatan kompleks, metabolisme oleh mikroorganisme, dan pertukaran dari besi
antara fase larutan dan fase padat yang mengandung besi karbonat, hidroksida dan
sulfida ( Saeni, 1989).
Zink adalah logam yang putih-kebiruan, logam ini cukup mudah ditempa
dan liat pada suhu 110-150 C. Zink melebur pada 410 C dan mendidih pada
906 C. Logamnya yang murni, melarutkan lambat sekali dalam asam dan dalam
alkali, adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang
dihasilkan oleh penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini,
mempercepat reaksi. Ini menjelaskan larutnya zink-zink komersial ( Svela, 1979).
Sifat elektrokimia korosi dapat diilustrasikan oleh kerusakan Zink (seng)
akibat asam klorida (HCl). Ketika zink ditaruh dalam larutan HCl, maka akan
terjadi reaksi dimana gas hidrogen akan terbentuk dan Zink akan terlarut,
membentuk larutan Zink klorida. Persamaannya adalah :
Zn + 2HCl ZnCl
2
+ H
2

Ion klorida bukan merupakan unsur yang ikut bereaksi maka persamaannya dapat
kita tuliskan :
Zn + 2H
+
Zn
2+
+ H
2

Dengan melihat persamaan reaksi kimia di atas maka dapat disimpulkan
bahwa Zink dioksidasi menjadi ion Zink dan ion hidrogen direduksi menjadi
hidrogen ( Henki dkk, 2002).













BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akuades, serbuk logam
aluminium, serbuk logam besi, serbuk logam seng, serbuk logam tembaga, serbuk
iodin, logam natrium, kalsium, magnesium, indikator phenolpthalein (PP), tissue
roll, dan kertas saring.

3.2 Alat
Alat yang diguanakan dalam percobaan ini adalah cawan petri, pipet tetes,
sendok tanduk, batang pengaduk, tabung reaksi, penjepit tabung, rak tabung,
pinset, korek api, dan gelas kimia.

3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Percobaan Daya Reduksi Logam atas Iodin
Disiapkan cawan petri, lalu dimasukkan sekitar setengah sendok serbuk
aluminium. Dicampurkan dengan sekitar satu sendok iodin padat. Campuran
diaduk dengan batang pengaduk dalam keadaan kering sampai campuran merata.
Ditambahkan air ke campuran dengan menggunakan pipet tetes. Diamati
kejadian-kejadian yang terjadi. Percobaan diulangi dengan menggunakan serbuk
logam besi, tembaga dan seng, dan dicatat perubahan yang terjadi.

3.3.2 Percobaan Logam Alkali Tanah
Disiapkan 2 tabung reaksi, diisikan masing-masing 5 mL akuades.
Dimasukkan sekeping logam Ca dan Mg pada masing-masing tabung, diamati
yang terjadi. Kedua tabung dipanaskan perlahan sambil digoyangkan agar panas
merata. Diamati perubahan yang terjadi. Ditambahkan indikator PP pada masing-
masing tabung, diamati.

3.3.3 Percobaan Logam Natrium
Disiapkan cawan petri, dan diisikan air secukupnya. Diletakkan potongan
kertas saring di atas permukaan air. Diambil sepotong kecil logam natrium yang
disimpan dalam minyak tanah, dikeringkan dengan tissue. Logam natrium
diletakkan menggunakan pinset ke atas kertas saring dalam cawan petri. Diamati
yang terjadi. Ditambahkan indikator PP, diamati.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
A. Tabel Pengamatan Daya Reduksi Logam atas Iodin
No Logam Setelah
dicampurkan
Setelah
ditambahkan
air
Reaksi hebat
(H), sedang
(S), lemah (L)
Warna
Uap
1 Aluminium Tidak
bereaksi
Tidak
bereaksi
- -
2 Besi Tidak
bereaksi
Tidak
bereaksi
- -
3 Seng Tidak
bereaksi
Tidak
bereaksi
- -
4. Tembaga Tidak
bereaksi
Tidak
bereaksi
- -

B. Tabel Pengamatan Kereaktifan Logam Alkali Tanah
No Logam Timbul
gelembung
gas
Setelah
dipanaskan
timbul gas
Reaksi hebat
(H), sedang
(S), lemah (L)
Warna
larutan
1 Kalsium - S Ungu
2 Magnesium - L Ungu
Pekat


C. Tabel Pengamatan Kereaktifan Logam Natrium
No Logam Setelah
Perlakuan
Reaksi hebat
(H), sedang
(S), lemah (L)
Warna
larutan
1 Natrium Timbul nyala
api
H Merah
muda

4.2 Reaksi
1. Reaksi Logam Al, Fe, Zn dan Cu dengan Iodin
2Al
(s)
+ 4 I
2(s)
H
2
O 2AlI
3(aq)
+ I
2(g)
+ H
2
O
Fe
(s)
+ 2 I
2(s)
H
2
O FeI
2(aq)
+ I
2(g)
+ H
2
O
Zn
(s)
+ 2 I
2(s)
H
2
O ZnI
2(aq)
+ I
2(g)
+ H
2
O
Cu
(s)
+ 2 I
2(s)
H
2
O CuI
2(aq)
+ I
2(g)
+ H
2
O
2. Reaksi Logam Alkali Tanah dengan Akuades
Mg
(s)
+ 2H
2
O
(l)
Mg(OH)
2(aq)
+ H
2(g)

Ca
(s)
+ 2H
2
O
(l)
Ca(OH)
2(aq)
+ H
2(g)

3. Reaksi Logam Alkali dengan Akuades
2Na
(s)
+ 2H
2
O
(l)
2NaOH
(aq)
+ H
2(g)


4.4 Pembahasan
Percobaan daya reduksi logam atas iodin ini menggunakan beberapa
logam antara lain aluminium, besi, dan seng, untuk mengamati kecenderungan
sifat pereduksi logam-logam tersebut. Untuk mereaksikan logam-logam tersebut
dengan iodin, maka dalam pengerjaannya campuran logam dan padatan iodin
diberikan air. Tujuan penambahan air disini ialah untuk mempercepat jalannya
reaksi, dimana jika kedua zat masih dalam bentuk padatan, kerapatannya masih
sangat tinggi, sehingga kereakifannya sangat kecil. Dibutuhkan air untuk
mengurangi kerapatan molekul iodin, sehingga lebih mudah bereaksi dengan
logam. Adapun perbandingan jumlah logam dan iodin yang digunakan ialah iodin
sekitar dua kali lebih banyak dari logam yang digunakan. Hal ini disebabkan
karena iodin memiliki massa molekul lebih besar yaitu 126,904 g/mol
dibandingkan dengan logam yang massa atomnya tidak lebih dari 70 g/mol.
Sehingga, dalam reaksinya, dibutuhkan lebih banyak massa iodin dibandingkan
dengan logam.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan bahwa aluminium, besi dan
seng tidak menunjukkan perubahan setelah ditambahkan dengan iodin dapat
diartikan tidak bereaksi. Berbanding terbalik dengan teori yang menyatakan
bahwa kemampuan pereduksi logam aluminium, besi, seng dan tembaga
berdasarkan deret volta memberikan urutan sebagai berikut :
Al > Zn > Fe
Dimana semakin ke kanan unsur dalam deret volta, maka sifat pereduksinya akan
semakin lemah. Pada percobaan ditandai dengan warna ungu pada uap yang
dihasilkan ketika bereaksi.
Percobaan kereaktifan logam alkali dan alkali tanah terhadap air diperoleh
bahwa pada magnesium dan kalsium dilakukan pemanasan setelah logam tersebut
dicampurkan dengan air dalam tabung reaksi. Tujuan pemanasan ini ialah untuk
mempercepat jalannya reaksi, dimana pemanasan akan meningkatkan gerak
partikel dalam campuran, sehingga momentum tumbukan antara partikel yang
bereaksi akan semakin besar.
Khusus untuk logam natrium, perlu diketahui bahwa logam ini sangat
reaktif terhadap air, bahkan uap air yang terdapat di udara sekalipun. Oleh sebab
itu, dalam penyimpannnya, natrium disimpan dalam minyak tanah, agar tidak
terjadi kontak langsung antara logam dengan uap air di udara. Hal ini disebabkan
uap air tidak dapat menembus minyak tanah karena perbedaan kepolaran (air
bersifat polar, sedangkan minyak adalah nonpolar). Untuk mengamati reaksi
antara logam natrium dengan air, dilakukan cara yang berbeda dengan logam
kalsium dan magnesium. Logam natrium cukup diletakkan di atas kertas saring
yang berada pada permukaan air, agar natrium tidak langsung bereaksi dengan air
dalam jumlah banyak. Alasan yang sama juga mendasari perlakuan dimana logam
natrium diambil dengan menggunakan pinset, sebab dikhawatirkan adanya titik air
pada tangan atau sarung tangan yang digunakan.
Percobaan kereaktifan logam alkali dan alkali tanah terhadap air, setelah
direaksikan, maka hasil reaksi ditambahkan indikator PP. Perlu diketahui bahwa
indikator PP merupakan senyawaan organik yang dapat melepaskan H
+
dalam air
dengan reaksi kesetimbangan:
HIn + H
2
O In
-
+ H
3
O
+

Dimana dalam kesetimbangan ini, molekul HIn merupakan molekul yang tidak
berwarna, sedangkan In
-
memberikan warna merah dalam larutannya. Oleh sebab
itu, jika terjadi pergeseran kesetimbangan menuju ke pembentukan In
-
, maka
larutan tersebut akan berwarna merah. Pergeseran kesetimbangan ini dapat terjadi
dengan penambahan larutan yang mengandung ion OH
-
:
HIn + OH
-
In
-
+ H
2
O
Penambahan indikator phenolphthalein dalam hasil reaksi dapat memberikan
penjelasan mengenai kereaktifan logam, dimana semakin kuat warna merah yang
terbentuk setelah penambahan indikator, berarti semakin banyak ion OH
-
yang
telah terbentuk, yang menunjukkan semakin reaktifnya logam tersebut.
Hasil pengamatan kereaktifan logam alkali dan alkali tanah ialah diketahui
kereaktifan logam natrium, magnesium dan kalsium terhadap air dapat diurutkan
sebagai berikut :
Na > Ca > Mg
Dimana natrium bereaksi sangat kuat dengan air, sehingga menghasilkan nyala
api, sedangkan kalsium membutukan pemanasan terlebih dahulu untuk dapat
bereaksi dengan air, dan memberikan warna merah dengan indikator PP. Adapun
pada logam magnesium, meskipun telah dipanaskan, namun hanya memberikan
sedikit sekali warna merah dengan indikator PP. Hal tersebut menandakan, masih
sangat kurangnya basa yang terbentuk dari reaksi tersebut.
Berdasarkan teori kereaktifan logam alkali dan alkali tanah dengan air,
dalam sistem periodik, semakin ke bawah dan semakin ke kiri letak unsur, maka
sifafnya akan semakin reaktif. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran jari-jari atomnya,
dimana semakin besar jari-jari suatu atom, maka kereaktifannya akan semakin
besar. Sehingga, jika mengurutkan kereaktifan logam natrium, magnesium dan
kalsium, berdasarkan teori ini maka urutannya ialah :
Na > Ca > Mg



















BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sifat pereduksi logam terhadap iodin tidak bereaksi, sehingga dapat dikatakan
percobaan ini tidak berhasil. Sedangkan pada teori jauh berbanding terbalik
dengan percobaan yang telah dilakukan.
2. Kereaktifan logam alkali dan alkali tanah dari yang paling reaktif ke yang
paling kurang reaktif ialah Na, Ca, dan Mg.

5.2 Saran
Saran pada percobaan ini yaitu :
a. Untuk laboratorium agar dapat menyediakan pereaksi dan bahan yang lebih
baik, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan dalam hasil
percobaan.
b. Untuk praktikum agar sebaiknya logam alkali dan alkali tanah yang
dipraktikkan tidak hanya logam natrium, magnesium, dan kalsium saja, tetapi
logamlogam lainnya juga sehingga menambah lebih banyak pengetahuan
kita.



DAFTAR PUSTAKA

Ashadi, Henki W., Sulistyoweni W., dan Gusniani, Irma, 2002, Pengaruh Unsur -
Unsur Kimia Korosif Terhadap Laju Korosi Tulangan Beton : Ii. Di Dalam
Lumpur Rawa, Jurnal Korosi, (online), No. 2, ( Vol. 6), Halaman 71-74.

Cotton, Albert F dan Wilkinson, Geoffrey, 1989, Kimia Organik Dasar,
diterjemahkan oleh Sahati Suharto, Universitas Indonesia, Jakarta.

Saeni, M. S., 1989, Kimia Lingkungan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sharpe, Alan G., 1996, Inorganic Chemistry, Longman Scientific and Technical,
New York.
Sjahrul, M., 2010, Dasar-Dasar Kimia Anorganik, PT. Umitoha Ukhuwah
Grafika, Makassar.
Svehla, G., 1979, Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Makro dan Semimikro,
diterjemahkan oleh Ir. L. Setiono dan Dr. A. Hadyana Pudjaatmaka,
PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.












LEMBAR PENGESAHAN


















Makassar, 20 Maret 2012
Asisten Praktikan




Nurfika Ramdani Ibtisamatul Aminah
H311 09 253 H311 10 901
LAMPIRAN
BAGAN KERJA
A. Daya reduksi logam atas iodin



- Dimasukkan ke dalam cawan petri yang
bersih dan kering
- Dicampurkan dengan iodin padat
- Diaduk dengan batang pengaduk sampai
campuran merata
- Ditambahkan air dengan menggunakan pipet
tetes
- Diamati reaksi yang terjadi







logam Al
Hasil
logam Zn Logam Fe Logam Cu
B. Sifat reaksi logam alkali dengan air



- Diambil menggunakan pinset dan dikeringkan dengan kertas tissu
- Diletakkan di atas kertas saring dalam cawan petri yang berisi air
- Diamati reaksi yang terjadi
- Ditambahkan larutan indikator fenol ftalein (PP)
- Diamati warna larutan yang terbentuk


C. Sifat reaksi logam alkali tanah dengan air




- Dimasukkan ke dalam sebuah tabung reaksi
- Ditambahkan 5 mL akuades
- Diamati yang terjadi pada tabung reaksi
- Tabung reaksi dipanaskan di atas nyala
pembakar sambil digoyang-goyang agar
panas merata
- Diamati perubahan dalam tabung reaksi
- Ditambahkan larutan indikator PP
- Diamati warna larutan yang terbentuk


Logam Natrium
(Na)
Hasil
Logam Mg
Hasil
Logam Ca