Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH

KELOMPOK:7 Immanuel A.P.M Samuel T.W Yohanes T Frans Jeremia Gabriel W.S

Fujinkai
Pada jaman Pendudukan Bala Tentara Jepang (1942-1945), penjajah Jepang melarang semua bentuk organisasi, termasuk organisasi perempuan dan membubarkannya. Kemudian dibentuk organisasi-organisasi baru dengan dalih sebagai propaganda untuk kepentingan dan kemakmuran bangsa-bangsa Asia Timur Raya. Untuk organisasi perempuan yang dibentuk oleh para isteri pegawai di daerah-daerah, dan diketuai oleh isteri masing-masing kepala daerah, dan disebut Fujinkai Pengerahan tenaga untuk berperang tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tetapi berlaku juga untuk kaum wanita Indonesia. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas. Mereka juga diberikan latihanlatihan dasar militer dengan tugas untuk membantu Jepang dalam perang.

Menghadapi Sekutu. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan makanan untuk kepentingan perang. Ketika Putera akhirnya dilebur dalam organisasi baru Jawa HOKOKAI (Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa), maka Fujinkai dijadikan bagian wanitanya dengan cabang-cabang didaerah-daerah. Kegiatan Fujinkai dibatasi hanya pada urusan-urusan kewanitaan:jugun lanfu (wanita yang di pekerjakan untuk memenuhi kebutuhan "seks" para serdadu jepang, peningkatan ketrampilan

domestik selain kegiatan menghibur tentara yang sakit dan kursus butahuruf. Bagi para wanita yang mempunnyai wawasan luas, pembatasan ini merisaukan dan mereka tidak ikut masuk Fujinkai. Kenyataan ini menjadikan adanya dua jenis orientasi di kalangan aktivis wanita yaitu mereka yang berkoperasi dengan pemerintah Balatentara Dai Nippon dan yang non-koperatif serta memilih bergerak diam-diam dibawah tanah. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943 dan
beranggotakan wanita yang berusia 15 tahun keatas. Tugas fujinkai adalah memperkuat pertahanan dalam penyediaan makanan dan mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan dan hewan ternak.

Masuknya Jepang ke Indonesia tahun 1942 telah menguras habis hampir seluruh sumber daya alam dan manusia Indonesia. Tidak terkecuali bagi Jogja. Tenaga pria dikerahkan sebagai cadangan tenaga prajurit perang, bantuan tempur dan teknis, logistic, kurir, penyelamatan korban perang, dan lain-lain. Tidak ketinggalan pula tenaga wanita pun dikerahkan. Gadis-gadis dikerahkan dalam perkumpulan perempuan yang disebut fujinkai. Mereka ini ditugaskan di garis belakang untuk mengelola dapur umum, merawat korban perang, menanam pohon kapas, jarak, dan padi serta berbagai pekerjaan yang erat kaitannya dengan kegiatan kaum wanita. Mereka juga dilatih baris-berbaris. Bahkan juga bermain senjata seperti pedang dan bambu runcing. Organisasi ini dilibatkan dalam kegiatan semi militer. Organisasi fujinkai di Jogja pernah dipimpin oleh BRA Hadikusumo dan dibantu oleh BRA Kusdarinah dengan penasihat GKR Dewi dan Ny. Prawironegoro. Organisasi perempuan ini didirikan di beberapa kecamatan di dalam kota seperti Kecamatan Keraton, Paku Alaman, dan Tugu. Gadis-gadis dalam fujinkai ini diberi pelajaran tentang kesehatan, rumah tangga, kerajinan, dan olah raga. Mereka diterjunkan ke desa-desa untuk meringankan beban ekonomi masyarakat dengan melatih kerajinan tangan, meningkatkan produksi pertanian, industri rumah tangga, dan lain-lain.

Gambar di samping memperlihatkan bagaimana gadis-gadis yang masuk dalam organisasi fujinkai itu berlatih baris-berbaris. Pelatihan itu sendiri dimulai pada awal Agustus 1944. Rasanya memang agak lucu melihat gadis-gadis latihan baris-berbaris dengan pakaian tradisional Jawa mereka. Kebaya dan jarit tampaknya kurang klop dipakai untuk latihan semacam itu. Akan tetapi di tahun-tahun 40-an hal semacam itu bukan merupakan pemandangan yang aneh. Hal itu lumrah dan biasa-biasa saja. Apa yang dapat Anda bayangkan jika para gadis dalam pakaian seperti harus berlari kencang karena kejaran musuh ? Mungkinkah mereka akan dapat bergerak dengan bebas dan lincah ? Tentu bagi kita sekarang hal demikian sulit dibayangkan. Tampak bahwa latihan yang dilakukan oleh para gadis itu dilakukan dengan penuh semangat dan sepenuh hati. Barangkali di masa itu mereka tidak atau belum sadar bahwa mereka didayagunakan oleh Jepang untuk kepentingan atau keuntungan Jepang. Akan tetapi di balik itu ada hikmah juga bahwa mereka menjadi memperoleh pengalaman baru yang mungkin pada waktu berikutnya justru memajukan hidup mereka. Memajukan kehidupan negaranya.

Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Organisasi ini bertugas untuk mengerahkan tenaga perempuan turut serta dalam memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib. Dana wajib dapat berupa perhiasan, bahan makanan, hewan ternak ataupun keperluan-keperluan lainnya yang digunakan untuk perang.
Organisasi ini menghimpun kaum wanita untuk diberi latihan-latihan militer.

Selesai