Anda di halaman 1dari 3

Amitriptilin Amitriptilin adalah obat antidepresan trisiklik dengan struktur amin tersier.

Secara struktural, amitriptilin mirip dengan antipsikotik seperti thiothixene. Secara klinis, amitriptilin juga digunakan untuk mengatasi depresi, nyeri akibat neuropati, ADHD, enuresis fungsional pada anak, gangguan panik, gangguan fobik, dan untuk mengendalikan beberapa gangguan makan. Amitriptilin diakui oleh FDA pada tahun 1961. Mekanisme aksi Mekanisme yang tepat dari antidepresan trisiklik belum sepenuhnya diketahui, namun diyakini bahwa efek paling penting adalah penurunan ambilan kembali norepinefrin dan serotonin. Amitriptilin dimetabolisme menjadi nortriptilin, yang bertanggungjawab pada kebanyakan penghambatan ambilan kembali norepinefrin setelah pemberian amitriptilin. Nortriptilin juga melakukan aktivitas antidepresan. Metabolit hidroksi tambahan juga terlihat aktif. Down-regulation dari reseptor beta limbik yang diakibatkan oleh neurotransmitter sinaptik ini meningkat 5-7 hari setelah dosis terapetik tercapai. Farmakokinetik: Amitriptilin diserap dengan baik di saluran pencernaan, namun respon individual pasien dapat beragam. Puncak konsentrasi plasma diperoleh dalam 2 hingga 12 jam dari oral maupun injeksi IM. Antidepresan trisiklik berikatan dengan protein tinggi (sebagian besar pada alpha1-acid glycoprotein) pada plasma dan jaringan. Karena antidepresan trisiklik merupakan obat long-acting, dosis tunggal sudah cukup untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Amitriptilin dimetabolisme di hati menjadi nortriptilin, yang merupakan zat lipofilik dan dapat melewati blood-brain barrier. Amitriptilin dan nortriptilin didistribusikan ke paru-paru, jantung, otak, dan hati. Nortriptilin diketahui dapat melewati plasenta dan juga didistribusikan ke kelenjar susu. Keduanya juga melewati sirkulasi enterohepatik. Metabolit lipofilik seperti nortriptilin, kebanyakan diabsorbsi dan kemudian dimetabolisme. Antara 25-50% dari dosis tunggal diekskresikan di urin sebagai metabolit aktif dalam 24 jam. Sejumlah kecil ekskresi terdapat pada feses. Waktu paruh Waktu paruh bervariasi antara 10-50 jam untuk amitriptilin dan 20-100 jam untuk nortriptilin. Indikasi

Selain untuk depresi, amitriptilin juga dapat diberikan pada pasien dengan: Gangguan cemas, insomnia, sakit kepala, dan sindrom nyeri kronis (seperti fibromyalgia dan nyeri neuropatik). Kontraindikasi Glaukoma sudut terbuka, riwayat prolongasi QTc, riwayat infark miokard, gagal jantung. Efek samping Sistem saraf pusat: letargi, sedasi. EENT: pandangan kabur, dry eyes, mulut kering. CV: aritmia, hipotensi, perubahan EKG. Saluran cerna: konstipasi, hepatitis, ileus paralitik, nafsu makan, peningkatan berat badan. Genitourinary: retensi urin, libido. Kulit: fotosensitif. Endokrin: perubahan kadar gula darah, ginekomastia. Interaksi obat Amitriptilin dapat dipengaruhi oleh obat yang menggunakan enzim 2D6 sitokrom P450, termasuk antidepresan lain, fenotiazin, carbamazepine, dan antiaritmia kelas 1C; ketika digunakan bersamaan dengan amitriptilin, penurunan dosis dari salah satu atau kedua obat perlu dilakukan. Obat lainnya yang menghambat aktivitas enzim tersebut, yakni cimetidine, quinidine, amiodarone, dan ritonavir, dapat menyebabkan peningkatan efek dari amitriptilin. Penggunaan yang bersamaan dengan antidepresan SSRI dapat menyebabkan peningkatan toksisitas dan seharusnya dihindari (fluoxetine harus dihentikan 5 minggu sebelum memulai pengobatan dengan amitriptilin). Penggunaan yang bersamaan dengan clonidine dapat menyebabkan krisis hipertensi dan seharusnya dihindari juga. Penggunaan bersamaan dengan levodopa dapat menyebabkan penundaan maupun penurunan absorbsi levodopa maupun hipertensi. Kadar di dalam darah dan efeknya juga dapat menurun dengan penggunaan yang bersamaan dengan rifamycins (rifampin, rifapentine, dan rifabutin). Penggunaan yang bersamaan dengan moxifloxacin dapat meningkatkan risiko efek samping terhadap sistem kardiovaskuler. Dapat juga terjadi peningkatan depresi sistem saraf pusat bila digunakan bersamaan dengan depresan sistem saraf pusat seperti alkohol, antihistamin, clonidine, opioids, dan sedatif/hipnotik. Barbiturat dapat mengubah efek serta kadarnya dalam darah. Efek samping adrenergik dan antikolinergik dapat meningkat bila digunakan bersamaan dengan agen antikolinergik lainnya. Fenotiazin maupun kontrasepsi oral dapat meningkatkan kadar amitriptilin dalam darah dan dapat

menyebabkan toksisitas. Nikotin dapat meningkatkan metabolisme dan mengubah efek obat. Dosis: Per Oral (dewasa): 75 mg/hari dengan dosis terpisah; dapat ditingkatkan hingga 150 mg/hari atau 50100 mg pada malam hari; may by 2550 mg up to 150 mg (pasien yang dirawat dapat dimulai dengan dosis 100 mg/hari, hingga 300 mg/hari). Per oral (geriatri dan remaja): 10 mg 3 kali sehari, dan 20 mg pada malam hari atau 25 mg pada dosis inisial, ditingkatkan perlahan hingga 100 mg/hari sebagai dosis tunggal maupun dosis terpisah.