Anda di halaman 1dari 23

Financial Management

BAB I PENDAHULUAN

1. 1.

Latar Belakang Gainesboro Corporation didirikan pada tahun 1923 di Concord, New

Hampsire oleh James Gaines dan David Scarboro. Awalnya, Gainesboro memproduksi bagian mesin antara lain metal press, dies dan molds. Di tahun 1975, perusahaan telah mengembangkan sebuah reputasi sebagai sebuah produsen inovatif untuk mesin indutri dan peralatan mesin. Awal 1980, Gainesboro memasuki lahan baru dalam bidang computer-aided design dan computer-aided manufacturing (CAD/CAM). Dalam perkembangannya, perusahaan melakukan merger dengan sebuah perusahaan software kecil dan mengembangkan sebuah line software dan peralatan CAD yang mengijinkan engineer untuk merancang bagian spesifikasi pada sebuah komputer. Pada akhir 2004, penjualan peralatan CAD/CAM telah mendapai 45%. Presses, dies dan mold mencatatkan penjualan 40% dan machine tools memperoleh penjualan 15%. Karena kebanyak perusahaan press dan mold adalah skala kecil lokal atau regional. Gainesboro adalah industry leader. Dalam dekade 1990, Gainesboro membantu membuat standar untuk CAD/CAM, tetapi perusahaan besar asing masuk dengan agresif dedalam CAD/CAM dan mendapatkan kenaikan penjualan. Di akhir 1990 atau awal 2000, keahlian teknologi dan kapitalisme spekulasi yang agresif telah mendorong memasuki perusahaan CAD/CAM yang sangat khusus/spesifik. Gainesboro tertinggal dalam kompetisi pengembangan software yang user-friendly dan integrasi desain dan manufakturnya.

Dividend & Other Payouts

Financial Management

1. 2.

Rumusan Masalah Karena kalah dalam persaingan produk, revenue perusahaan turun dari $911

juta pada 1998 menjadi $757 juta pada 2004. Untuk mengatasi penurunan revenue dan meningkatkan profit margin yang rendah, Gainesboro mengambil dua langkah pendekatan : a. Memperbesar share anggaran research dan development untuk CAD/CAM dalam usaha untuk mengembalikan kepemimpinan pasar b. Melakukan restrukturisasi besar. Di tahun 2002, perusahaan menjual dua line bisnis yang tidak menguntungkan dengan revenue $51 juta, menjual dua plant, mengurangi 5 sewa fasilitas dan mengurangi personel. Total biaya restrukturisasi adalah $65 juta. Pada tahun 2004, restrukturisasi kedua dilakukan dengan mengubah strategi manufaktur, pemfokusan kembali pendekatan marketing dan penjualan dan mengadopsi prosedur administrasi yang memungkinkan untuk pengurangan fasilitas dan staf. Gainesboro menetapkan corporate objective adalah restrukturisasi dan pengusaan teknologi terkini. Pertama dan terutama, managemen menginginkan dan mengharapkan perusahaan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (average annual compound rate) sebesar 15%. Dalam upaya mencapai tujuan pertumbuhan ini, managemen mengusulkan sebuah strategi yang berdasarkan tiga point utama, yaitu : a. Perubahan substansi pencampuran produk. CAD/CAM dan produk turunannya akan mendapat 75% penjualan, sedangkan sisanya sebanyak 25% untuk penjualan press dan molds. b. Perusahan akan melakukan ekspansi pada pasar internasional dengan harapan untuk mencapai setengah penjulan dan keuntungan di tahun 2011. c. Korporasi mempunyai kebencian penggunaan pinjaman/hutang sejak awal. Managemen mempercayai bahwa hanya menggunakan sejumlah kecil

Dividend & Other Payouts

Financial Management

pinjaman, terutama untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Akan tetapi ratio debt-to-equity yang dikutip adalah 40%. Managemen senior menyadari bahwa equity secara umum lebih mahal (costly) daripada hutang, tetapi sebuah kepuasan besar bagi perusahaan dapat melakukan sesuatu berdasarkan cara dan keinginannya.

Dividend Policy Sebelum 1999, histori deviden dan harga saham menunjukkan pertumbuhan yang mantab. Tetapi, permasalahan Gainesboro pada awal 2000 telah mengambil biaya pada earning. Akibatnya deviden turun kembali pada tahun 2003 menjadi $0.25 per lembar saham, nilai terendah sejak 1990. Pada 2004, board of director mengumumkan payout sebesar $0.25 per lembar saham, meskipun melaporkan earning loss per lembar saham terbesar dalam sejarah perusahaan dengan akibat harus meminjam untuk membayar deviden. Pada dua kuarter pertama 2005, direktur tidak mengumumkan deviden, tetapi melalui surat kepada shareholder dinyatakan bahwa direktor menyatakan untuk melanjutkan annual payout sebelumnya pada 2005. Pada Agustus 2005, terdapat tiga pilihan kebijakan deviden yang mungkin diputuskan : d. Zero-Dividend Payout e. 40% Dividend Payout ($0.20 per saham) f. Residual Devident Payout Buyback Saham Managemen harus memutuskan penggunaan dana perusahaan untuk membayar deviden kepada shareholder atau buyback saham

Dividend & Other Payouts

Financial Management

1. 3.

Tujuan Berdasarkan latar berlakang dan rumusan masalah tersebut diatas, beberapa

hal yang ingin didapatkan adalah sebagai berikut : 1.Memberikan rekomendasi kebijakan deviden Gainesboro sesuai dengan alternatif pilihan 2.Memberikan alternatif pembiayan (funding) atas strategi Gainesboro untuk mencapai goal 3.Memberikan analisa atas rencana buyback saham yang akan dilakukan Gainesboro.

Dividend & Other Payouts

Financial Management

BAB II TELAAH PUSTAKA

2.1.

Pengertian Deviden Deviden merupakan hak pemegang saham biasa (common stock) untuk

mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Jika perusahaan memutuskan untuk membagi keuntungan dalam dividen , semua pemegang saham biasa mendapatkan haknya yang sama. Pembagian dividen untuk saham biasa dapat dilakukan jika perusahaan sudah membayar dividen untuk saham preferen (Jogiyanto, 1998: p.58). Hanafi (2004 :p.361) menyatakan bahwa deviden merupakan kompensasi yang diterima oleh pemegang saham, di samping capital gain. Deviden ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Dividen ditentukan berdasarkan dalam rapat umum anggota pemegang saham dan jenis pembayarannya tergantung lepada kebijakan pemimpin. Kebijakan deviden merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran deviden menentukan jumlah laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran deviden. Alokasi penentuan laba sebagai laba ditahan dan pembayaran deviden merupakan aspek utama dalam kebijakan deviden (Wachowicz ,1997: p.496). Kebijakan deviden menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan laba tersebut bisa dibagi sebagai deviden atau laba yang ditahan untuk diinvestasikan kembali (Husnan,1996: p.381). Dengan demikian dimungkinkan membagi laba sebagai deviden dan pada saat yang sama menerbitkan saham baru. Kebijakan deviden bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara pengunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para

Dividend & Other Payouts

Financial Management

pemegang saham sebagai deviden atau untuk digunakan didalam perusahaan, yang berarti laba tersebut harus ditahan didalam perusahaan (Riyanto, 2001: p.265). Laba ditahan (retained earning) merupakan salah satu dari sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Sedangkan deviden merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham atau equity investors. Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut di satu pihak dan juga dapat membayarkan deviden kepada para pemegang saham di lain pihak, tetapi kedua tujuan tersebut selalu bertentangan. Sebab kalau makin tinggi tingkat deviden yang dibayarkan, berarti semakin sedikit laba yang ditahan, dan sebagai akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam pendapatan dan harga sahamnya. Kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar dari pendapatan yang tersedia untuk pembayaran deviden adalah semakin kecil. Persentase dari pendapatan yang akan di bayarkan kepada pemegang saham sebagai cash devidend disebut devidend payout ratio. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin tingginya devidend payout ratio yang ditetapkan oleh perusahaan berarti makin kecil dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali di dalam perusahaan yang ini berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan (Riyanto 2001: p.266). 2.2. Teori Kebijakan Dividen Kebijakan dividen adalah keputusan mengenai apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi pada masa yang akan datang. Dalam kebijakan dividen, terdapat trade off dan merupakan pilihan yang tidak mudah antara membagikan laba sebagai dividen atau menahan untuk diinvestasikan kembali.

Dividend & Other Payouts

Financial Management

Apabila perusahaan memilih membagikan laba sebagai dividen maka tingkat pertumbuhan akan berkurang dan akan berdampak negatif terhadap harga saham. Di sisi lain, apabila perusahaan tidak membagikan dividen maka pasar akan melihat sebagai sinyal negatif atas prospek perusahaan. Peningkatan dividen memberikan sinyal perubahan yang menguntungkan pada harapan manajer dan penurunan dividen menunjukkan pandangan pesimis prospek perusahaan di masa yang akan datang (Aharony dan Swary, 1980 dalam Sartono dan Prasetyanta, 2005). Menurut teori Arbitrage Pricing Theory (APT), investor dalam mencari keuntungan tidak perlu melakukan portofolio optimal. Investor tinggal mengamati perubahan harga dan mencari faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan itu, baik yang berasal dari faktor makro maupun faktor khas (unique factors) dalam perusahaan atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan faktor fundamental. Dalam teori investasi pada pasar uang dan pasar modal, investor akan melakukan pembelian saham atau menjual saham bergantung pada apakah return saham lebih besar hasilnya dibandingkan dengan deposito atau bunga obligasi. Jadi penilaian layak tidaknya investor memegang saham akan dilihat apakah return (perubahan harga saham) lebih menguntungkan. Faktor fundamental merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi perusahaan (emiten) yang meliputi kondisi manajemen, organisasi, sumber daya manusia, dan kondisi keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan ditunjukkan dalam laporan keuangan perusahaan yang meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan).

Dividend & Other Payouts

Financial Management

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam analisis fundamental yaitu pendekatan nilai sekarang (present value approach) dengan basis suku bunga dan pendekatan rasio PER (P/E ratio approach). Pendekatan nilai sekarang disebut juga sebagai metode kapitalisasi laba (capitalization of income method) karena merupakan proses kapitalisasi nilai-nilai masa depan yang didiskontokan menjadi nilai sekarang. Jika investor percaya bahwa nilai dari perusahaan tergantung dari prospek perusahaan tersebut di masa datang dan prospek ini merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas di masa depan, maka nilai perusahaan tersebut dapat ditentukan dengan mendiskontokan nilai-nilai arus kas (cash flow) di masa depan menjadi nilai sekarang (Jogiyanto,1998, p.70). Analisis fundamental merupakan analisis yang digunakan untuk mencoba memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan (1) meng-estimate nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang, dan (2) menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham. Model ini sering disebut sebagai share price forecasting model. Dalam model peramalan ini, langkah yang penting adalah mengidentifikasi faktor-faktor fundamental (seperti penjualan, pertumbuhan penjualan, biaya, dividend payout ratio, dan sebagainya) yang diperkirakan akan mempengaruhi harga saham. Jika kemampuan perusahaan semakin meningkat (misalnya menghasilkan laba yang meningkat), maka harga saham akan meningkat pula. Dengan kata lain, profitabilitas akan mempengaruhi harga saham. (Suad Husnan, 1998: p.315). Analisis fundamental berlandaskan atas kepercayaan bahwa nilai suatu saham sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Jika prospek suatu perusahaan publik sangat kuat dan baik, maka harga saham perusahaan tersebut diperkirakan akan menggambarkan kekuatan dan harganya akan meningkat. Namun harus diperhatikan bahwa nilai dari suatu efek

Dividend & Other Payouts

Financial Management

ekuitas tidak hanya ditentukan oleh tingkat kembalian yang dijanjikan tetapi juga tingkat risiko yang terkandung di dalamnya (Suad Husnan, 1998). Analisis fundamental pada dasarnya adalah melakukan analisis historis atas kekuatan keuangan dari suatu perusahaan yang sering disebut sebagai company analysis. Data yang digunakan adalah data historis, artinya data yang telah terjadi dan mencerminkan keadaan keuangan yang sebenarnya pada saat analisis. Dalam company analysis, para pemodal atau investor akan mempelajari laporan keuangan perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, mengidentifikasi kecenderungan atau pertumbuhan yang mungkin ada, mengevaluasi efisiensi operasional dan memahami sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan tersebut (Suad Husnan, 1998). Hal yang penting dan biasanya menjadi pusat perhatian investor maupun ara analis keuangan (financial analyst) dalam menganalisis data historis adalah: posisi keuntungan kompetitif perusahaan, profit margin dan pertumbuhan laba perusahaan, likuiditas aktiva perusahaan terutama berhubungan dengan kemampuan keuangan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tingkat leverage (penggunaan dana pinjaman) terhadap shareholders equity, dan komposisi dan pertumbuhan operasional penjualan perusahaan (Ang, 1997 : p.18.2) Beberapa teori yang berkaitan dengan dividend payout ratio dan asumsi asumsi yang mendasarinya antara lain : Dividen tidak relevan Menurut Modigliani dan Miller (1961) dalam Saxena (1999), dividen payout ratio tidak mempunyai pengaruh pada harga saham perusahaan atau biaya modalnya. Modigliani dan Miller menyatakan bahwa dividen payout ratio adalah tidak relevan, selanjutnya nilai perusahaan

Dividend & Other Payouts

Financial Management

ditentukan oleh earning power dari asset perusahaan. Sementara itu keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Untuk membuktikan teorinya, Modigliani dan Miller

mengemukakan berbagai asumsi sebagai berikut:: a. b. c. d. e. Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan preusan Tidak ada biaya emisi atau flotation cost dan biaya transaksi Kebijakan penganggaran modal perusahaan independen terhadap dividen payout ratio Investor dan manajer mempunyai informasi yang sama tentang kesempatan investasi di masa yang akan datang. Distribusi pendapatan di antara dividen dan laba ditahan tidak berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor. Bird in the hand theory Sementara itu, menurut Gordon dan Litner (1956) dalam Saxena (1999) tingkat keuntungan yang disyaratkan akan naik apabila pembagian dividen dikurangi, karena investor lebih yakin terhadap penerimaan dividen daripada kenaikan nilai modal (capital gain) yang akan dihasilkan dari laba yang ditahan. Modigliani dan Miller (1961) berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja apakah menerima dividen saat ini atau menerima capital gain di masa yang akan datang. Dengan kata lain, tingkat keuntungan yang disyaratkan tidak dipengaruhi oleh dividen payout ratio. Pendapat Gordon dan Litner (1956) dalam Saxena (1999) oleh Modigliani dan Miller (1961) diberi nama bird in the hand fallacy. Gordon

Dividend & Other Payouts

10

Financial Management

dan Litner (1956) dalam Saxena (1999) beranggapan investor memandang bahwa satu burung di tangan lebih berharga daripada seribu burng di udara. Sementara Modigliani dan Miller berpendapat bahwa tidak semua investor berkepentingan untuk menginvestasikan kembali dividen mereka di perusahaan yang sama dengan memiliki risiko yang sama. Oleh sebab itu, tingkat risiko pendapatan mereka di masa yang akan datang bukannya ditentukan oleh dividen payout ratio tetapi ditentukan oleh tingkat risiko investasi baru. Tax preference theory Jika capital gain dikenakan pajak dengan tarif lebih rendah daripada pajak atas dividen, maka saham yang memiliki pertumbuhan tinggi menjadi lebih menarik. Tetapi sebaliknya jika capital gain dikenai pajak yang sama dengan pendapatan atas dividen , maka keuntungan capital gain menjadi berkurang. Namun demikian pajak atas dividen karena pajak atas capital gain baru dibayar setelah saham dijual, sementara pajak atas dividen harus dibayar setiap tahun setelah pembayaran dividen . Selain itu periode investasi juga mempengaruhi pendapatan investor. Jika investor hanya membeli saham untuk jangka waktu satu tahun, maka tidak ada bedanya antara pajak atas capital gain dan pajak atas dividen . Jadi investor akan meminta tingkat keuntungan setelah pajak yang lebih tinggi terhadap saham yang memiliki dividen yield yang tinggi daripada saham dengan dividen yield yang rendah. Oleh karena itu, teori ini menyarankan bahwa perusahaan sebaiknya menentukan dividen payout ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan dividen (Litzenberger dan Ramaswamy, 1979 dalam Saxena , 1999). Pecking Order Hypothesis (POH) pertama kali diperkenalkan oleh Meyrs dan Majluf (1984). Berdasarkan POH, perusahaan lebih mengutamakan dana internal daripada dana eksternal dalam aktivitas pendanaan. Kecukupan dana

Dividend & Other Payouts

11

Financial Management

internal dapat dilihat dari besarnya laba, laba ditahan, atau arus kas. Apabila dana eksternal dibutuhkan, maka perusahaan lebih mengutamakan penggunaan utang daripada ekuitas. Ide dasar POH sangat sederhana, yaitu perusahaan membutuhkan dana eksternal hanya apabila dana internal tidak cukup dan sumber dana eksternal yang lebih diutamakan adalah utang daripada emisi saham. Myer dan Majluf (1984) menyatakan bahwa asimetri informasi

menyebabkan perusahaan lebih mengutamakan dana internal daripada dana eksternal karena asimetri informasi tersebut menyebabkan pendanaan eksternal terlalu mahal bagi perusahaan. Myers dan Majluf (1984) berpendapat bahwa perusahaan tergantung pada internal funds karena ingin memaksimumkan kekayaan pemegang saham yang sudah ada. Penjualan saham baru bukan kepentingan dari pemegang saham yang sudah ada tetapi hanya akan mengakibatkan penurunan nilai saham yang sudah ada. Perusahaan akan memilih hutang dibanding external equity, apabila memerlukan dana eksternal. Dengan penerbitan hutang bebas risiko (risk free debt) tidak punya dampak terhadap nilai saham yang sudah ada ataupun dengan penerbitan hutang yang berisiko mempunyai pengaruh lebih sedikit terhadap nilai saham yang sudah ada dibandingkan dengan menerbitkan saham baru. Hipotesis Pecking Order menurut Myers (1984). didasarkan pada empat asumsi, yaitu: a. b. c. dividen policy bersifat konstan (sticky), lebih baik dana internal dibanding eksternal, bila menggunakan dana eksternal pilih surat berharga bebas

risiko,jika diperlukan banyak dana eksternal maka memilih urutan surat berharga dari risk free debt, risky debt, convertible security, saham preferen, common stock.

Dividend & Other Payouts

12

Financial Management

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004) dalam PSAK No. 23 merumuskan dividen sebagai distribusi laba kepada pemegang saham sesuai dengan proporsi mereka dari jenis modal tertentu. Laba bersih perusahaan akan berdampak berupa peningkatan saldo laba (retained earnings) perusahaan. Apabila saldo laba didistribusikan kepada pemegang saham maka saldo laba akan berkurang sebesar nilai yang didistribusikan tersebut.

BAB III PROBLEM SOLVING

3. 1.

Perbedaan Pandangan pada Kebijakan Deviden

Dividend & Other Payouts

13

Financial Management

Jumlah deviden yang dibayarkan oleh Gainesboro menurun secara tajam dari 66.5% pada 1978 menjadi 20.7% pada 1998. Alasan dibalik perubahan ini adalah kecenderungan perusahaan milik publik ke arah karakteristik tidak membayarkan deviden (Fama & French 2001). Perusahaan mempunyai target jangka panjang dalam pembayaran deviden. Manager cenderung untuk menjadi peningkatan rasio pembayaran deviden yang stabil untuk menghindari efek perubahan temporer pada earning. Pasar sangat sensitif terhadap pemotongan deviden. Kebijakan deviden adalah tidak relevan karena efek total pembayaran deviden dan capital loss adalah 0. Investor dapat menghasilkan dana dengan menjual saham yang mempunyai peningkatan nilai jika perusahaan tidak membayarkan deviden. Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap semua proyek yang menawarkan NPV positif dan membayar dengan deviden hanya menjadi dana yang tidak terpakai (Miller & Modiglani, 1961).

3.2.

Analisis Alternatif Kebijakan Deviden Gainesboro Pada Agustus 2005, terdapat tiga pilihan kebijakan deviden yang mungkin

diputuskan : Zero-dividend payout PRO Perusahaan dalam kondisi pertumbuhan dan memebutuhkan untuk investasi (re-invest) semua earning untuk penerapan tujuan ekspansi Kebijakan sero deviden akan memecahkan kembali masalah kebutuhan cash perusahaan karena tidak memerlukan untuk melakukan pinjaman Tujuh dari delapan perusahaan CAD/CAM tidak membayarkan deviden meskipun semua mengharapkan pertumbuhan bisnis yang signifikan. Sebaliknya, industri elektrikal dan peralatan manufaktur telah membayar sampai 3.1 yield on share. Kebijakan zero divident payout
Dividend & Other Payouts 14

Financial Management

akan membantu brand image perusahaan agar dilihat oleh investor sebagai sebuah perusahaan software/hardware berteknologi tinggi daripada sebagai manufaktur tradisional sesuai dengan goal perusahaan. KONTRA Manager akan kehilangan kredibilitasnya karena merekaa telah menjanjikan penggantian kembali pembayaran deviden selama tahun berjalan Banyak investor akan kecewa dengan perubahan kebijakan deviden dan mungkin akan melakukan short selling yang menyebabkan penurunan harga saham. Pasar mungkin menganggap ini sebagai sebuah tanda negatif yang memperkuat pendapat bahwa perusahaan mengalami masalah

40% dividend payout ($0.20/saham) PRO Investor akan menginterpretasikan sebagai sebuah tanda positif bahwa perusahaan telah berjalan dengan baik dan mengatasi kesulitannya. Perusahaan masih dibawah batas debt-to-equity ratio sebesar 40% (Exhibit 1). Kredibilitas manager akan meningkat karena mereka dapat dipercaya dengan janji pengumuman awal tentang pembayaran deviden. KONTRA Perusahaan akan memerlukan peningkatan dana. Dewan anggota tidak menghargai adanya sebuah perubahan mendadak peningkatan utang meskipun dalam batas yang ditetapkan. Prediksi pertumbuhan 15% adalah pendekatan yang sangat optimis dan melewati batas fleksibilitas. Seandainya tidak sesuai dengan prediksi, perusahaan akan menghadapi masalah yang serius.

Dividend & Other Payouts

15

Financial Management

Payout ratio akan sama dengan kebijakan deviden perusahaan tradisional lainnya (tidak berteknologi tinggi) yang membahayakan image perusahaan.

Mereka akan kehilangan dari pajak deviden.

Residual-Dividend payout PRO Perusahaan akan memaksimalkan nilainya dengan menerima semua proyek dengan NPV positif. Perusahaan tidak akan mengalami permasalahan likuiditas dan tidak perlu meningkatkan equity-to-debt ratio. KONTRA Kebijakan deviden ini tidak jelas dan mengakibatkan sedikit atau tidak ada investor yang tertarik. Investor lebih memilih untuk investasi dana mereka dimana return yang stabil menjadi jaminan. Image perusahaan akan rusak. Kebijakan ini akan menunjukkan kepada investor bahwa perusahaan dalam tahan dan kondisi tidak aman.

3.3.

Pendanaan (Funding) Sebuah perusahaan akan memilih untuk membiayai aktifitasnya baik dengan

hutang atau modal sendiri. Dua pandangan utama tentang cara perusahaan seharusnya mengatur struktur modalnya. Pandangan tradisional mendukung pendapat bahwa hutang adalah lebih murah daripada modal sendiri karena modal sendiri lebih beresiko.

Dividend & Other Payouts

16

Financial Management

Market value sebuah perusahaan adalah sama dengan hutang ditambah modal sendiri yang mengandung arti bahwa biaya modal dapat diturunkan dengan subtitusi hutang dengan modal sendiri. Ketika ratio D/E terlalu tinggi, baik shareholder dan pemberi pinjaman akan memerlukan return tambahan sebagai kompensasi atas kenaikan risiko. Pandangan ini menyatakan bahwa ada sebuah titik dimana biaya modal dapat diturunkan dengan pencampuran hutang/modal sendiri yang akan mencapai struktur modal optimal (Atrill, 2003). Sebaliknya, MM memberikan pandangan yang berbeda. MM menyangkal bahwa perbedaan antara hutang dan modal sendiri hanya pada pajak (taxation) dan memberikan hasil bahwa perusahaan seharusnya membiayai hanya dengan hutang untuk biaya modal yang lebih rendah.

Dampak Kepada Shareholder Borrowing (Hutang) Agency Theory: meskipun hal ini lebih murah, shareholder sanagat tidak suka (peka) untuk meningkatkan secara besar ketergantungan perusahaan terhadap pinjaman hutang dan lebih suka untuk menggunakan sumbernya sendiri. Meskipun tidak efisien, perilaku ini sangat kuat pada level managemen.

Mengeluarkan Saham Baru Shareholder cenderung tidak menyukai pelepasan saham baru karena mereka kehilangan kendali atas perusahaan sebagai akibat kenaikan jumlah investor. Investor baru mungkin memaksakan kondisi menggunakan hak pilih mereka untuk mengubah kebijaksanaan, dan lain lain. Menurunkan Investasi

Dividend & Other Payouts

17

Financial Management

Investasi saat ini akan membantu pertumbuhan perusahaan baik volume maupun value. Hal ini berarti bahwa tidak ada kelompok shareholder yang akan mendukung penurunan investasi.

Dampak Kepada Perusahaan Borrowing (Hutang) Perusahaan akan tertarik untuk meningkatkan jumlah pinjaman hutang karena lebih murah daripada pinjaman modal sendiri. Baik pandangan tradisional dan MM mendukung tingkat yang lebih rendah untuk rasio debt/equity. Meskipun demikian, dalam kasus tertentu, hal ini tidak benar karena penggunaan pinjaman untuk membayar shareholder akan dipertimbangkan sebagai sebuah aktivitas berrisiko oleh bank dan akan meminta tingkat bunga yang lebih tinggi. Mengeluarkan Saham Baru Keuntungan pengeluaran saham baru adalah sebuah cara pendanaan yang termasuk langkah pembagian sebagasi sebuah penyerap kejutan. Hal ini berarti bahwa jika terjadi kerugian, perusahaan mampu untuk menurukan pembayaran deviden kapanpun. Saham juga tidak mempunyai tanggal pemenuhan untuk membayar yang akan membantu cash flow perusahaan. Sebaliknyam pelepasan saham akan membawa dua tipe biaya tambahan. Biaya administrasi dan legal dan tambahan premium akan diminta oleh investor karena mereka mereka akan terakhir menerima likuidasi jika terjadi kebangkrutan (Arnold, 2007). Menurunkan Investasi

Dividend & Other Payouts

18

Financial Management

Perusahaan

sangat

tergantung

pada

peningkatan

aplikasi

sistem,

improvement sistem dan ekspansi internasional, sehingga pengurangan investasi akan berakibat fatal terhadap penjualan dan market share perusahaan karena peningkatan kompetisi di sektor tersebut.

Raksi Shareholder Terhadap Pembayaran Deviden Semua shareholder akan menghargai berita tentang pembagian deviden. Beberapa dari mereka adalah pencari income yang tetap (Exhibit 4) dan yang lain mungkin menggunakannya untuk investasi lagi pada perusahaan dengan membeli saham. Investor luar mungkin melihat hal ini sebagai sebuah tanda positif bahwa perusahaan berjalan dengan baik dan hasilnya harga saham akan meningkat. Dua efek (buyback saham dan kenaikan harga) mungkin tidak sebanding. Dan juga, hal ini dapat dilihat sebagai sebuah janji perusahaan untuk membayar deviden secara teratur dan investor yang menyukai return non-volatile pada aset mereka akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan. Pemberi pinjaman tidak menganggap hal ini aman untuk menyediakan dana bagi sebuah perusahaan yang akan menggunakannya untuk membayar para shareholdernya. Sebagai hasilnya, mereka akan meminta tingkat bunga yang lebih tinggi untuk dibayarkan (Arnold, 2007). Sebaliknya, hal ini adalah tanda bahwa penjualan saham diambil sebagai sebuah tanda positif dari investor dan dapat meningkatkan harga market share kedepan.

Repurchase Saham Shareholder akan lebih menyukai buyback karena dengan cara ini baik melihat kenaikan harga saham mereka dalam nilai (jika tidak melakukan penjualan)

Dividend & Other Payouts

19

Financial Management

dan perusahaan dapat menikmati return yang diperoleh dari perbedaan positif pada pembelian murah saham dan penjualan tinggi. Seperti disebutkan sebelumnya, pemberi pinjaman tidak akan membiayai pembelian kembali saham untuk kesejahteraan shareholder, jika tidak biaya lebih tinggi dibayarkan untuk pinjaman karena mereka melihat perusahaan sebagai risiko dan sebuah usaha dari bagian memberi tanda positif dengan menipu pasar karena pembelian kembali saham adalah karakteristik perusahaan dengan jumlah cash yang surplus. Biaya yang lebih tinggi ini dapat mengurangi manfaat penurunan biaya modal hutang (Breadly er all, 2006).

BAB IV KESIMPULAN

Dividend & Other Payouts

20

Financial Management

Rekomendasi Pembayaran Deviden Rekomendasi pertama akan menyatakan pembayaran deviden agar meningkatkan kepercayaan diri pada perusahaan yang telah melemah dalam beberapa tahun terakhir. Pembayaran 40% kelihatan terlalu berisiko karena menurunkan fleksibilitas dan akan menyebabkan perusahan menderita kerugian terus menerus sampai 2011. Karena perusahaan mengharapkan tingkat pertumbuhan 15% maka pembayaran adalam antara 30-50%. Pernyataan deviden 30% akan memecahkan semua masalah. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan diri perusahaan dan akan tetap menghilangkan fleksibilitas jika pasar tidak berjalan sesuai perkiraan. Perhitungan kembali untuk pembayaran deviden 30% dapat menjadi menguntungkan baik pada 2009 atau 2011 dengan mengurangi kerugian $53.69 juta (Lihat Appendix 1). Saat ini, perusahaan dapat terus meningkatkan pembayaran deviden pada slow rate hingga mencapai 40% jika prediksi benar. Semua shareholder akan menghargai berita tentang pembagian deviden. Beberapa dari mereka adalah pencari income yang tetap (Exhibit 4) dan yang lain mungkin menggunakannya untuk investasi lagi pada perusahaan dengan membeli saham. Investor luar mungkin melihat hal ini sebagai sebuah tanda positif bahwa perusahaan berjalan dengan baik dan hasilnya harga saham akan meningkat. Appendix 1. 2005 Net Income 18.10 2006 40.00 2007 2008 57.50 72.80 2009 91.30 2010 2011 98.00 160.00 20052011 537.80

Dividend & Other Payouts

21

Financial Management

Excess Cash Dividend Excess cash after dividend

-22.70 5.43 -28.13

-7.30 12.00 -19.30

4.20 11.50 17.25 21.84 -13.05 -10.34

29.40 27.39 2.01

27.20 77.60 29.40 48.00 -2.20 29.60

120.00 161.31 -41.41

Ket : Deviden dihitung sebagai 30% of income.

Pembiayaan (Financing) Perusahaan akan mampu untuk meminjam hanya pada tingkat tinggi dari bank jika pembiayaan digunakan untuk pembayaran deviden. Sebaliknya, shareholder boleh tidak menyetujui pelepasan saham biasa karena mereka akan kehilangan kendali atas perusahaan. Untuk mengatasi masalah ini, CEO dapat mengusulkan pelepasan saham baru dengan dua kategori. Untuk menghindari pelemahan kekuasaan, saham akan ditawarkan kepada shareholder existing (right issues). Jika existing shareholder tidak mampu dan tidak ingin untuk meningkatkan jumlah yang diperlukan, langkah kedua, saham akan dilepas kepada investor eksternal. Saham ini berupa saham istimewa untuk mencegah risiko equity (membuat jenis pembiayaan ini lebih mahal) and menahan satu atau beberapa fitur sesuai dengan biaya mereka : Tidak ada hak voting. Hal ini bentuk umum saham istimewa (Arnold 2007) dan mencegah masalah pelemahan kekuasaan. Reedemable (dapat diselamatkan). Perusahaan menyukai untuk mempunyai pilihan untuk buyback sahamnya jika dan ketika tidak memerlukan dana ini untuk waktu lama.

Dividend & Other Payouts

22

Financial Management

Karena perusahaan mendapat peringkat A oleh Value Line, biaya pelepasan akan paling mungkin lebih murah daripada kebanyakan kompetitor. Pelepasan saham baru akan juga meningkatkan rasio debt-to-equity meninggalkan terbukanya kesempatan untuk mengambil pinjaman untuk tujuan ekspansi pada masa yang akan datang.

Dividend & Other Payouts

23