Anda di halaman 1dari 7

2.4 Manifestasi Klinis Sinar matahari sangat diperlukan dalam berbagai kebutuhan manusia.

Paparan terhadap sinar matahari dapat berakibat buruk dalam jangka waktu tertentu. Sunburn merupakan reaksi normal kulit terhadap sinar matahari dengan terdapatnya erythema. Tingkat keparahan reaksi kulit terhadap matahari tergantung pada intensitas paparannya. Jumlah minimal gelombang sinar dapat menginduksi erythema pada kulit yang dinamakan minimal erythema dose (MED). Sinar UV matahari dibagi menjadi 3 : UVA, 320 sampai 400 nm; UVB, 280 sampai 320 nm; UVC, 200 sampai 280 nm. UVB menyebabkan lebih banyak kerusakan pada lapisan basal daripada UVA, tetapi penggabungan paparan UVA dengan UVB dapat menyebabkan kerusakan kulit yang sama parahnya. Gejala awal yang ditemui adalah kemerahan pada kulit atau erythema. 1 Manifestasi klinis yang paling sering tampak pada kasus sunburn adalah : 2

Erythema muncul tiga sampai dua belas jam setelah paparan yang diikuti oleh tenderness. Blistering dapat dijumpai pada kasus yang parah. Ketidaknyamanan ditemui pada kasus erythema muncul pada bagian extermitas dan wajah. Erythema terjadi akibat adanya vasodilatasi vascular sebagai respon pasca terkena sinar matahari.

Bengkak pada kulit disertai rasa nyeri bila disentuh Merupakan peradangan pada kulit sebagai respon utama kekebalan tubuh terhadap infeksi dan iritasi. Sistem kekebalan melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi. Pembesaran diameter pembuluh darah, disertai peningkatan aliran darah ke daerah infeksi yang mengakibatkan kulit tampak lebam kemerahan.

Demam, mual, dan muntah Demam merupakan kenaikan suhu tubuh sebagai adanya repon inflamasi terhadap rusaknya sel akibat terbakar sinar matahari. Mual dan muntah merupakan gejala umum dari berbagai penyakit, tidak spesifik, namun dapat membuktikan jika tubuh tidak dalam kondisi yang sehat.

Tachycardia, dan hipotensi.

Tachycardia merupakan gangguan pada denyut jantung yang lebih cepat dari biasanya. Sedangkan hipotensi atau tekanan darah rendah berarti kondisi kurangnya hantaran oksigen dan nutrisi ke dalam sel-sel tubuh.

Deskuamasi terjadi seminggu setelah sunburn pada area yang terdapat blistering maupun tidak, kemudian nantinya disertai dengan pergantian kulit baru.

Manifestasi klinis pasien sunburn jika ditangani dengan tepat maka akan sembuh dalam 4-7 hari yang terjadi bersamaan dengan pengelupasan kulit. Namun jika terjadi exposure terhadap paparan UV yang berkelanjutan maka akan ditemui :
1. Reaksi awal ditemui pada 2-8 minggu setelah exposure berakibat pada bagian basal

epidermis yang akan migrasi ke atas epidermis. Hal ini menyebabkan penurunan kepadatan sel. Reaksi sekunder inflamasi adalah erythema bagian epidermis.

.
2. Pada minggu ke 4-6 terjadi degenerasi epidermis yang disebabkan oleh proliferasi sel

sebagai adaptasi terhadap migrasinya sel basal ke atas yang nantinya akan menimbulkan koloni. Jika jumlah koloninya membanyak maka akan terjadi erythema dengan skuama lembab

Gambarx. A.erythema dengan skuama basah. B. penyembuhan erythema skuama basah

3. Setelah 6 minggu kulit akan berubah menjadi warna kehitaman dapat pula disertai

dengan adanya nekrosis pada kulit. Hal ini timbul karena adanya pertumbuhan dari lesi lama terhadap dinding pembuluh darah di dermis atau lemak subkutan.

Kedalaman terbakarnya kulit akibat sinar UV dapat menimbulkan manifestasi klinis yang berbeda. Tergolong dalam apabila terjadi kerusakan 2 lapis pada kulit. Terbakarnya kulit dapat diklasifikasikan menjadi 4 tipe, yaitu :3
1. Superficial burn merupakan terbakarnya kulit pada lapisan terluar epidermis. Tidak

terdapat perubahan fungsi barier dan tidak termasuk pada terbakarnya kulit secara signifikan. Pada tipe ini akan mengalami penyembuhan dengan sendirinya tanpa scar dalam waktu seminggu. Pada penderita biasanya merasa perih pada kulitnya

2. Partial-thickness burn Superficial partial-thickness burn melibatkan lapisan epidermis dan sebagian dermis. Pembuluh darah kecil mengalami kerusakan yang menghasilkan kebocoran plasma

dengan jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan terjadinya blister pada kulit. Penyembuhan terjadi 1-2 minggu tanpa adanya scar.

Deep partial-thickness burn melibatkan kerusakan paling banyak pada lapisan dermis dengan sedikit sel epidermis sisa yang hidup. Reepitelisasi lambat membutuhkan waktu berbulan-bulan. Blister tidak selalu terbentuk karena jaringan yang mati sangat tebal dan menutupi dermis yang hidup (eschar). Luka akan terlihat putih dan kering, aliran darah melemah yang membuat luka mudah terinfeksi serta berubah menjadi full-thickness injury. Penyembuhan terjadi paling cepat 4-10 minggu atau lebih.

3. Full-thickness burn melibatkan kerusakan pada kedua lapis epidermis dan dermis

tidak meninggalkan sedikitpun sel epidermis yang hidup. Awalnya avascular yang terbakar menjadi warna putih seperti lilin, jika luka bakar meluas ke lapisan adiposa karena kontak yang berkepanjangan dari sumber paparan maka tampilan berwarna cokelat kasar sampai kehitaman akan terlihat bersamaan dengan koagulasi permukaan vena. Penderita akan merasa sait, perih, dan nyeri pada area kulit yang terpapar.

4. Subdermal burn merupakan kerusakan kedua lapisan yang meluas hingga ke bawah

jaringan termasuk lemak, tendon, otot, dan tulang. Luka tampak hangus, kering, coklat atau putih. Biasanya terdapat pada extermitas dengan gerak terbatas, jari tangan, dan kaki.

2.5 Diagnosis Diagnosis sunburn dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapat riwayat adanya paparan sinar matahari atau aktivitas diluar rumah, adanya erythema setelah paparan 3 sampai 12 jam, nyeri, kemungkinan adanya demam, menggigil, malaise, mual atau muntah pada kasus yang berat, adanya blister, erythema yang sembuh lebih dari 4-7 hari biasanya disertai dengan scaling dan pengelupasan, dan riwayat mengonsumsi obat-obatan yang menginduksi fotosensitifitas.4 Dengan pemeriksaan fisik, ditemukan adanya respon iflamasi yang muncul 12-24 jam setelah paparan. Secara klinis dapat dilihat dengan adanya erythema, hangat (warmth), tenderness,

edema, blister (pada kasus yang berat), tanda superficial partial-thickness atau deep partialthickness (pada derajat dua), dan demam dapat terjadi pada kasus yang berat.4 1.6 Tata Laksana Paparan sinar matahari sangat sulit untuk dihindari meskipun kita tahu jika sinar matahari dapat merusak kulit. Penatalaksanan awal yang dapat dilakukan terhadap paparan sinar matahari adalah:
1. Menggunakan Sun Protection Factor (SPF) atau tabir surya. Material kimia yang

dikandung SPF adalah avobenzone atau benzophenone yang akan memantulkan sinar UVA dan UVB. (Amstrong. 2006. The Burning Facts. USA : EPA). Langkah ini baik digunakan sebelum terpapar sinar matahari, karena SPF akan melindungi permukaan kulit, tidak efektif digunakan jika setelah terjadi paparan terhadap kulit.
2. Menghindari paparan sinar matahari dari pukul 10 pagi hingga 4 sore untuk

mengurangi paparan UVB yang dapat merusak kulit. Jika bepergian gunakan payung.
3. Mencegah dengan pemakaian pakaian. Menggunakan topi bertepi lebar, baju lengan

panjang dan celana panjang untuk menutupi tubuh dari sinar UV. Pakaian berwarna gelap memeberikan perlindungan tambahan. Sedangkan pada orang yang telah mengalami paparan dan menunjukkan perubahan klinis pada kulitnya dapat dilakukan :
1. Untuk menghilangkan erythema pada kulit yang merupakan suatu reaksi inflamasi

dengan melibatkan prostaglandin dapat diberikan Aspirin dan nonsteroidal antiinflamatory drugs (NSAIDs) seperti indomethacin. Untuk erythema yang ringan dapat digunakan steroid topical dengan pentensi medium digunakan 6 jam setelah paparan.
2. Moisturizing krim, lidah buaya, dan dipenhydramine dapat meringankan gejala dan

mempercepat penyembuhan. Pada kasus yang parah, analgesic narkotik dapat diindikasikan untuk menghilangkan rasa sakit.
3. Kedalaman dari permukaan kulit yang terbakar sinar matahari menentukan proses

penyembuhan. Penyembuhan luka membutuhkan energy yang lebih banyak agar dapat mengkatabolisme luka. Oleh karena itu pemberian nutrisi sangat dibutuhkan seperti telur dan kacang-kacangan serta menghindari infeksi akan mempercepat penyembuhan kulit.

Pada pengobatan sunburn, antihistamin dan anastesi local tidak memiliki efek yang berpengaruh. Obat-obatan ini harus dihindari oleh klinisi karena beresiko menyebabkan alergi kontak dermatitis (4nya) Penanganan untuk manifestasi klinis berdasarkan terbakarnya kulit dapat dilakukan sebagai berikut : 3 Pada superficial burn diberikan moisturizers untuk mengobati permukaan kulit Partial-thickness burn yang terbagi menjadi dua yaitu yang superficial dan deep. Penanganan untuk superficial dengan membersihkan debris dari epidermis dan permukaan luka. Tidak dibutuhkan antibiotic topical, namun salep bacitracin digunakan secara umum sebagai moisture luka dan control terhadap bakteri gram negative. Area terbuka dibersihkan dengan cairan chlorhexidine setiap harinya untuk melepaskan krusta dan exudates. Krim silver sulfadiazine tidak digunakan karena menghambat proses penyembuhan. Penanganan untuk deep dengan menghilangkan eschar menggunakan antibiotic topical. Eksisi dan grafting dipilih karena ketebalan scar ketika luka dalam proses penyembuhan. Antimikroba dominan yang digunakan untuk deep partialthickness adalah agen yang mengandung silver dalam bentuk krim agar membrane dapat meresapi krim tersebut untuk menutupi permukaan luka. Krim harus digunakan kembali satu kali setiap hari. Luka yang lembab butuh proses penyembuhan dengan balutan kasa kering dengan krim silver.

Full-thickness penangannya berupa bedah pada daerah debris dan penutupan luka dengan skin graft. Sebelum operasi perencanaan pengobatan luka dengan krim perak berbasih antibiotic atau berpakaian tertutup.

Subdermal burn memerlukan amputasi pada area yang terlibat.