Anda di halaman 1dari 21

Pemangkasan Pemeliharaan Pada Tanaman Kakao

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel pemangkasan tanaman kakao beberapa waktu yang lalu. Setelah membahas jenis-jenis pemangkasan yaitu, pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan produksi. Maka pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai jenis pemangkasan yang kedua yaitu pemangkasan pemeliharaan tanaman kakao.

Tujuan dari pemangkasan pemeliharaan adalah untuk memelihara agar kerangka tanaman kakao yang sudah baik tetap bisa dipertahankan dan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan. Adapun waktu yang paling ideal untuk melakukan pemangkasan pemeliharaan adalah setelah selesai pemangkasan bentuk sampai saat tanaman berproduksi dan sebaiknya dilaksanakan pada bulan Januari/Februari dan Juli/Agustus. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan untuk membuang tunas air (wiwilan, chupon) yang dilakukan sebulan sekali atau dua kali tergantung musim. Kalau musim hujan malah dianjurkan 2 kali perminggu. Dengan adanya pemangkasan yang baik maka akan diperoleh panen kakao yang maksimal dan mengurangi terserangnya hama penyakit tanaman kakao. Semoga informasi ini bermanfaat.

Penyakit Kanker Batang Pada Tanaman Kakao

Bila kita mendengar penyakit kanker pada manusia mungkin tidak asing lagi. Tapi saya yakin bila sahabat semua mendengar kalau pada tanaman kakao juga ada istilahnya penyakit kanker yang menyerang batang kakao pasti timbul tanda tanya. Penyakit kanker batang pada tanaman kakao disebabkan oleh sejenis patogen yang menyerang batang kakao atau sering disebut jugaPhytophthora Palmivora (Butl.) Butl, sama seperti patogen pada penyakit busuk buah kakao.

Gejala Serangan @ Kulit batang agak berlekuk dan berwarna lebih gelap atau kehitam-hitaman. @ Sering terdapat cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. @ Jika lapisan kulit luar dibersihkan maka tampak lapisan dibawahnya membusuk dan berwarna merah anggur. Penyebaran @ Penyebaran penyakit kanker batang hampir sama dengan penyebaran penyakit busuk buah.

@ Penyakit kanker batang dapat terjadi karena patogen yang menginfeksi buah menjalar melalui tungkai buah mencapai batang. @ Penyakit berkembang pada kebun yang mempunyai kelembaban dan curah hujan yang tinggi atau sering tergenang air. Pengendalian @ Kulit batang yang membusuk dikupas sampai batas kulit yang sehat. @ Luka kupasan selanjutnya dioles dengan fungisida yang mengandung tembaga seperti Nordox atau sejenisnya dengan konsentrasi 5% formulasi. @ Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman harus dipotong atau dibongkar. Semoga bermanfaat.

Penyakit Jamur Upas Pada Tanaman Kakao

Begitu banyak jenis jamur merugikan yang menyerang tanaman kakao, salah satunya adalah jamur upas atau dalam bahasa latinnya Corticium Salmonicolor B. et Br, Upasia Salmonicolor (B. et Br) Tjokr. Jenis jamur ini merupakan penyakit utama yang menyerang tanaman kakao dan dialami hampir oleh semua petani kakao. Penyebab utama penyakit ini adalah kebersihan kebun yang kurang serta minimnya pemangkasan.

Gejala Serangan @ Inspeksi pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang dan ranting. @ Jamur mula-mula membentuk miselium tipis mengkilat seperti sutera atau perak, sangat mirip dengan sarang laba-laba. Pada fase ini jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. @ Jamur kemudian membentuk kerak yang berwarna merah jambu seperti warna ikan salem, kerak tersebut terdiri atas lapisan basidia, kulit cabang dibawah kerak menjadi busuk. @ Jamur akan berkembang terus dan akan membentuk piknidia yang berwarna merah tua dan biasanya terdapat pada sisi yang lebih kering. @ Pada bagian ujung dari cabang yang sakit, daun-daun layu mendadak dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun sudah kering. Penyebaran @ Jamur upas dipencarkan oleh basidiospora yang terbawa oleh angin. @ Jamur ini bersifat polifag, dengan beberapa tanaman inang antara lain, karet, kopi, teh, kina dan beberapa tanaman keras lainnya. Tanaman penaung Tephrosia Candida dapat sebagai sumber infeksi karena sangat peka terhadap jamur upas. @ Kelembaban yang tinggi sangat membantu perkembangan penyakit. Pengendalian @ Memotong cabang/ranting yang terserang jamur pada bagian yang masih sehat, kemudian dibakar atau dipendam. @ Membersihkan miselium pada gejala awal yang menempel pada cabang yang sakit, kemudian dioles dengan fungisida misalnya Tridemorf (Calixin RM) atau tembaga konsentrasi 10% (Nordox, Cupravit, dll).

@ Menghilangkan dan memusnahkan sumber infeksi yang terdapat di dalam maupun di luar kebun. Semoga bermanfaat.

Pengembangan Semut Hitam

Semut hitam atau disebut juga Dolichoderus Thoracicus merupakan agen hayati pengendali hama kakao dan sudah digunakan sejak dulu oleh para petani sebagai alternatif untuk pengendalian hama kakao. Jika populasi semut tinggi, maka kerusakan atau kehilangan hasil akibat hama (Hellopeltis, hama pengerek buah kakao/PBK) dapat berkurang.

Untuk menjaga kerugian dibawah ambang kerugian ekonomis (5%) diperlukan populasi semut setidaknya sebanyak 50% dari total buah. Cara Pembiakan Semut Hitam @ Pembebasan areal dari semut antagonis yang menganggu semut Dolichoderus Thoracicus. @ Penyediaan kutu putih, Cataenococus Hispidus sebagai makanan semut. @ Penyediaan sarang semut yang cukup, terbuat dari serasah daun kakao atau daun kelapa. @ Sebaiknya diatur minimal satu sarang untuk setiap pohon. @ Jika semut tidak tersedia maka perlu dilakukan pemindahan sarang dari areal yang banyak semutnya. Semoga bermanfaat.

Penyakit VSD Pada Tanaman Kakao

Penyakit VSD (Vascular Streak Dieback), Oncobasidium Theobromae Talbot & Keane merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini menyerang daun dan batang, cabang/ranting kakao sehingga perkembangan tanaman kakao terganggu dan tidak produktif lagi.

Gejala Serangan @ Daun menguning dengan bercak-bercak hijua. @ Pada sayatan bekas duduk daun yang sakit tampak tiga noktah berwarna coklat kehitaman. @ Garis-garis coklat pada jaringan kayu. @ Lentisel dari ranting sakit membesar @ Nekrosis diantara tulang daun seperti gejala kekurangan unsur Ca.

Penyebaran @ Penyakit menyebar melalui basidiospora yang diterbangkan oleh angin pada malam hari. @ Perkembangan penyakit sangat dibantu oleh kelembaban atau curah hujan yang tinggi dan suhu yang dingin di malam hari. Pengendalian @ Pemangkasan sanitasi, yaitu memotong ranting sakit sampai pada batas gejala garis coklat pada xilem, ditambah 30-50 cm dibawahnya. @ Eradikasi, yaitu pembongkaran tanaman yang terserang berat. @ Penanaman hibrida yang tahan, misalnya DR 1 x Sca 6, DR 1 x Sca 12, ICS 6 x Sca 6. Semoga bermanfaat.

Penyakit Antraknose Colletotrichum Pada Tanaman Kakao

Penyakit Antraknose Colletotrichum, Colletotrichum Gloeosporioides Penz. Sacc, menyerang tanaman kakao akibat sanitasi yang kurang. Kebersihan kebun kakao sangat menentukan tingkat serangan penyakit pada tanaman kakao, untuk itu petani harus sangat peduli dengan sanitasi kebun sehingga penyakit tidak berkembangbiak dan merugikan petani itu sendiri serta kebun disekelilingnya.

Gejala Serangan @ Pada daun: bintik-bintik coklat pada daun muda, bercak coklat yang tidak beraturan. Infeksi pada daun muda dapat menyebabkan gugur daun. @ Pada ranting: ranting gundul berbentuk seperti tulang ikan, sering berlanjut dengan mati ranting. @ Pada buah: bintik-bintik coklat pada buah muda yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (Antraknose), buah muda yang terserang menjadi layu, kering dan berkeriput. Serangan pada buah tua bisa menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya. Penyebaran @ Penyakit tersebar melalui konidia yang terbawa atau terpercik air hujan pada saat hujan turun. @ Penyakit berkembang pada curah hujan yang tinggi atau suhu yang tinggi karena kurang naungan. Pengendalian Pengendalian penyakit secara terpadu dengan: @ Perbaikan kondisi tanaman, yaitu dengan pemupukan ekstra. @ Perbaikan kondisi lingkungan, yaitu dengan memberikan pohon penaung secukupnya. @ Sanitasi, yaitu dengan menghilangkan ranting-ranting yang telah kering dan buah-buah busuk. @ Penyemprotan fungisida, yaitu untuk melindungi flush yang tumbuh, dengan fungisida berbahan aktif Mankozeb (misal Dithane M 45) 0,5% formulasi, Prokloras (Sportak 450 EC) 0,1% formulasi, atau Karbendasim (Derosal) 0,2% formulasi. @ Eradikasi, yaitu membongkar tanaman yang terserang berat. @ Penanaman klon yang tahan, misal Sca 6, Sca 12 atau hibridanya.

Sanitasi Kebun Kakao

Sanitasi atau pembersihan adalah tindakan pembersihan areal perkebunan kakao dari segala sampah seperti ranting, cabang dan daun serta bahan lain yang tidak diinginkan. Bahan lain disini adalah sisasisa kulit buah hasil panen termasuk juga buah kakao yang terserang hama penyakit. Disamping itu dilakukan juga pembersihan terhadap gulma atau rumput, biasanya pada tanaman kakao yang telah menghasilkan atau tajuk tanaman kakao yang sudah besar tidak mampu memberi ruang terhadap rumput atau gulma untuk tumbuh. Tujuan dari sanitasi kebun kakao adalah untuk: 1. Membersihkan kebun kakao agar terlihat bersih dan enak dipandang. 2. Mengendalikan hama kakao, jika kotor maka hama menjadi sarang bagi hama untuk berkembang biak. 3. Mengumpulkan sampah kakao untuk dijadikan pupuk kompos, seperti daun dan kulit buah sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kompos. Beberapa cara sanitasi kebun kakao: @ Menanam kulit buah kakao yang sudah dipanen ke dalam tanah. @ Memasukkan kulit-kulit buah kakao ke dalam kantong plastik besar dan mengikatnya kuat dan dibuang ketempat sampah. @ Menutup kulit-kulit buah sisa panen dengan plastik lembaran lebar (terpal) yang tidak bocor kemudian bagian tengahnya ditimbun dengan tanah. Tujuannya adalah agar larva yang masih terbawa pada kulitkulit buah sisa panen tersebut tidak berkembang biak dan mati. Cara ini sangat ampuh untuk memutuskan siklus hidup hama penggerek buah kakao (PBK) . @ Memanen atau memetik buah-buah kakao yang terserang penyakit seperti buah yang busuk, buah yang hitam dan kering atau buah-buah yang terserang hama lain, kemudian ditempatkan pada tempattempat tertentu dan dimusnahkan. Semoga bermanfaat.

Penyakit Busuk Buah Pada Tanaman Kakao

Berbicara mengenai kakao tidak ada habis -habisnya. Seperti rasa coklat yang enak dan nikmat membuat semua orang ketagihan. Setelah membahas masalah hama penyakit pada tanaman kakao, khususnya mengenai hama pada tanaman kakao, berikutnya saya ingin berbagi informasi dengan sahabat semua mengenai beberapa penyakit utama pada tanaman kakao.

Saya awali dengan penyakit busuk buah, phytophthora palmivora (Butl.) Butl. Jenis penyakit ini hampir dialami oleh semua petani kakao kita. Untuk lebih jelasnya, saya akan sampaikan bagaimana gejala serangan, penyebaran serta pengendaliannya.

Gejala Serangan Buah kakao yang terserang berbecak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyebaran @ Penyakit disebarkan melalui sporangium atau klamidospora yang terbawa atau terpercik air hujan. @ Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan didalam tanah dengan membentuk klamidospora. @ Penyakit berkembang dengan sangat cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi. Pengendalian Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan cara-cara sebagai berikut: @ Sanitasi kebun, yaitu memetik semua buah busuk, kemudian ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman 30 cm. @ Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan, sehingga kelembaban didalam kebun tidak tinggi. @ Kimiawi, yaitu dengan cara penyemprotan buah-buah sehat secara preventif dengan fungisida berbahan aktif tembaga (Cupravit, Vitigran Blue, Cobox, Nordox dll). Konsentrasi formulasi 0.3%, selang waktu dua minggu. @ Penanaman klon yang tahan penyakit, misalnya klon DRC 16, Sca 6, Sca 12, ICS 6, dan hibrida DR1 x Sca 12, DRC 16 x Sca 6, DRC 16 x Sca 12. Semoga bermanfaat.

4 Hal Yang Perlu Dihindari Pada Pemangkasan Tanaman Kakao

Setelah membahas mengenai jenis pemangkasan pada tanaman kakao yaitu, pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan produksi. berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dihindari dalam melakukan pemangkasan. 4 hal ini perlu dihindari sehingga tidak terjadi salah pemangkasan (kesalahan pemotongan cabang/ranting) sehingga tanaman kakao menjadi tidak produktif. @ Hindari pemotongan cabang yang lebih besar (diameter lebih dari 2,5 cm) karena akan beresiko menyebabkan cabang mati. Jika terpaksa harus memotong, maka bekas potongan harus ditutupi dengan cairan fungisida. @ Jangan biarkan tajuk kakao terlalu terbuka, karena dapat menyebabkan kulit batang menjadi retak, bantalan bunga kering dan sel/jaringan pada jorket dan cabang menjadi mati. @ Jangan melakukan pemangkasan pada saat tanaman kakao sedang berbunga banyak atau ketika buah sebagian besar masih berukuran kecil, karena dapat menyebabkan keguguran pada bunga/buah yang kecil.

@ Sebelum melakukan pemangkasan perlu dipertimbangkan dengan matang bagian tanaman (ranting/cabang) yang akan dipangkas, karena ranting dan cabang merupakan aset bagi tanaman untuk memperoduksi buah. Semoga bermanfaat.

Pemangkasan Produksi Pada Tanaman Kakao

Untuk tanaman kakao, melakukan pemangkasan berarti usaha untuk meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Pemangkasan tanaman kakao merupakan kegiatan pemotongan/pembuangan bagian tanaman berupa cabang, ranting dan daun yang tidak kita inginkan bagi pertumbuhan tanaman sehingga akan mempercepat terbentuknya buah. Setelah membahas jenis pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan. Jenis pemangkasan selanjutnya adalah pemangkasan produksi.

Dan ini juga merupakan bagian yang terpenting yang harus dilakukan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

Pemangkasan produksi pada tanaman kakao bertujuan untuk mengatur agar penyebaran daun produkstif merata dan menekan serangan hama penyakit. Pemangkasan produksi dianjurkan untuk dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret atau April dilakukan pemangkasan ringan dan pada bulan Oktober atau November dilakukan pemangkasan berat. Cara melakukan pemangkasan produksi ini adalah dengan memotong cabang atau batang yang tingginya diatas 3,5 sampai 4 meter, mengurangi tajuk yang terlalu rimbun dan memotong cabang yang masuk ke tajuk tanaman tetangganya. Semoga bermanfaat.

Antara Kebun Kakao Dan Hutan Kakao

Kita sering kali kita mendengar istilah hutan kakao dari para petani kita. Aneh memang kedengarannya karena kakao merupakan tanaman budidaya yang bagi petani merupakan tempat mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Istilah ini ditujukan bagi para petani kakao yang tidak mau peduli dengan kebun/lahan kakao mereka.

Lahan kakao mereka dibiarkan terlantar apa adanya tanpa perawatan khusus dan mereka hanya datang pada waktu musim panen tiba. Kebun kakao jauh dari sanitasi, tidak ada perawatan, tidak ada asupan pupuk untuk pertumbuhan dan yang lebih parahnya menjadi tempat sarangnya hama penyakit sehingga sangat merugikan petani di sekitarnya. Sementara lahan tersebut merupakan milik mereka sendiri, berbeda dengan hutan yang notabene nya adalah milik bersama. Kondisi ini masih ditemui di beberapa lahan petani kita. Sewajarnyalah alam akan memberikan manfaat sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Terlepas dari alasan ketiadaan biaya untuk perawatan, kondisi ini tetap tidak bisa dibenarkan. Sebut saja tidak ada biaya untuk beli pupuk, tapi sebenarnya petani bisa membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk. Untuk itu bila petani kita ingin kebun/lahan kakaonya bisa menghasilkan dan menjadi penopang hidupnya maka sewajarnyalah petani kita peduli akan kebun kakao mereka.

Keuntungan Sistem Budidaya Kakao Organik

Gerakan pertanian organik terus berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan produk organik. Begitu juga halnya dengan kakao organik. Bagi para konsumen coklat (makanan/minuman dari kakao), coklat yang dibuat dari kakao organik menjadi incaran dan paling diminati. Harga beli coklat yang berasal dari kakao organik juga lebih tinggi daripada coklat biasa.

Berikut ini saya ingin berbagi informasi dengan teman-teman semua mengenai keuntungan budidaya kakao secara organik. Sistem budidaya yang ramah lingkungan. Inti dari pertanian organik adalah suatu pertanian yang ramah lingkungan dan tidak merusak alam, makanya dalam pertanian organik, pemakaian asupan berupa bahan-bahan kimia tidak diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada pemikiran pemakaian bahan-bahan kimia tersebuat akan merusak tanaman itu sendiri, kontaminasi tanah yang intinya akan berbahaya bagi lingkungan. Sistem pertanian organik juga tidak membenarkan adanya pembukaan lahan baru dengan membakar hutan ataupun di daerah hutan yang dilindungi. Biaya produksi yang relatif lebih murah. Dengan sistem budidaya organik, petani tidak perlu lagi membeli pupuk ataupun pestisida, herbisida atau asupan lainnya. Semua asupan itu bisa dibuat sendiri oleh petani dengan biaya yang relatif lebih murah, sebut saja untuk pupuk. Petani bisa memanfaatkan kotoran hewan sebagai bahan utama untuk membuat pupuk. Tidak merusak kesehatan.

Penggunaan asupan kimia pada tanaman kakao secara tidak langsung akan menghasilkan buah kakao yang juga mengandung bahan kimia sehingga akan merugikan kesehatan bila kita mengkonsumsinya, begitu juga halnya dengan tanaman yang lain. Penggunaan alat semprot dengan kandungan bahan kimia juga bisa merugikan kesehatan, karena pada umunya para petani sangat tidak peduli dengan keselamatan kerja. Seperti penggunaan sarung tangan ataupun masker. Panen maksimal. Sistem budidaya kakao organik sudah pasti akan menghasilkan panen yang maksimal karena tanaman akan akan diperlakukan secara alami tanpa bahan kimia. Tanaman kakao akan jauh lebih sehat, berumur panjang dan tahan terhadap hama penyakit. Harga beli yang lebih tinggi. Produk-produk makanan ataupun minuman yang terbuat dari bahan alami (organik) sangat disukai oleh konsumen karena lebih menyehatkan tubuh. Karena itu harganya juga lebih tinggi daripada produk biasa.

Inilah gambaran secara umum keuntungan sistem budidaya kakao secara organik. Semoga bermanfaat.

Hama Tikus Pada Tanaman Kakao

Melanjutkan artikel saya mengenai hama penyakit tanaman kakao, berikut ini saya akan berbagi informasi dengan teman-teman semua mengenai hama utama tanaman kakao yaitu hama tikus. Tikus menyerang hampir semua jenis tanaman, sebut saja yang sering kita dengar hama tikus sawah. Tanaman kakao juga tidak luput dari serangan binatang penganggu ini. Berikut pembahasan mengenai biologi, gejala serangan dan pengendaliannya.

Biologi @ Tikus dewasa umur 1,5 bulan dapat berkembang biak dan menghasilkan anak rata-rata 8-12 ekor dengan masa kehamilan 21 hari. Setelah 3 minggu, anak tikus memisahkan diri dari induknya dan mencari makan sendiri. Seekor tikus dapat melahirkan empat kali dalam setahun. Gejala Serangan @ Tikus menyerang buah kakao dengan cara memakan bijinya pertanaman terutama pada malam hari. @ Gejala serangan tikus adalah keratan pada buah berbentuk bulat, biasanya awal serangan dimulai pada pangkal buah. Akibat serangan tikus buah kakao menjadi kering dan bijinya habis dimakan sehingga tidak dapat dipanen. Pengendalian @ Kultur teknis, dengan sanitasi kebun. @ Biologi, dengan melepaskan predator burung hantu, Tyto Alba. @ Kimiawi, dengan memberikan umpan beracun, Rodentisida.

Pemangkasan Bentuk Pada Tanaman Kakao

Setelah postingan sebelumnya mengenai pemangkasan tanaman kakao. Dan sesuai dengan janji saya untuk membahas secara detail dari setiap jenis pemangkasan, maka postingan saya kali ini akan berbagi informasi dengan teman-teman semuanya khususnya para petani kakao mengenai jenis pemangkasan yang pertama yaitu pemangkasan bentuk tanaman kakao. Pemangkasan bentuk merupakan salah satu jenis pemangkasan tanaman kakao dengan sasaran utamanya "cabang primer". Tujuan dari pemangkasan bentuk ini adalah untuk memperoleh bentuk frame atau kerangka yang baik, kuat dan seimbang. Pemangkasan bentuk dilakukan pada saat tanaman kakao masih muda yang telah membentuk cabang primer (jorket), yaitu umur tanaman sekitar 10-18 bulan, tergantung dari pertumbuhan tanaman itu sendiri. Cara melakukan pemangkasan bentuk : 1. Cabang yang dibentuk adalah cabang yang tumbuh dari jorket pada ketinggian 1-2 meter. 2. Cabang primer yang tumbuh hendaknya dipilih sebanyak 3-4 cabang untuk dipelihara yang letaknya simetris, yaitu mengarah utara-selatan dan timur barat. 3. Cabang-cabang yang tumbuh terlalu dekat dengan jorket (40-60 cm) dibuang, cabangcabang sekunder berikutnya diatur dengan jarak yang sama. 4. Cabang-cabang tersier dan cabang kipas diatur jaraknya 15-25 cm dan selang seling. 5. Cabang-cabang yang sakit dan yang mati/kering dibuang. Semoga informasi ini bermanfaat.

10 Ciri Tanaman Kakao Ideal

Bagi para petani kakao mempunyai tanaman kakao yang ideal adalah hal yang sangat di idamkan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap mutu dan produktifitas kakao yang dihasilkan. Dengan mempunyai tanaman kakao yang ideal maka mutu dan produksi kakao bisa meningkat. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat tanaman kakao menjadi ideal, khususnya pemangkasan. Semua aspek budidaya harus diperhatikan dari mulai persiapan lahan, jarak tanam,

pemupukan, sanitasi, pengendalian hama penyakit sampai penangganan pasca panen merupakan rangkaian hal yang harus menjadi perhatian dalam membuat tanaman kakao ideal.

Untuk itu saya akan berbagi informasi dengan teman-teman semua khususnya para petani kakao mengenai ciri-ciri tanaman kakao yang ideal. Tanaman kakao yang ideal 1. Memiliki tinggi jorget sekitar 120-160 cm dengan cabang primer 3-4 cabang, letaknya simetris dan arahnya ke atas membentuk sudut 45 derajat. 2. Tajuk tanaman berbentuk seperti payung dengan jorget terlindung dari sinar matahari langsung sehingga tidak pecah. 3. Tidak terdapat percabangan dengan jarak 40-60 cm dari jorget dan 15-25 cm dari pangkal cabang sekunder. Sistem percabangan tersier selang seling mengarah ke atas, tidak ada yang menggantung. 4. Penyebaran daun merata, seluruh ruang tajuk terisi daun dengan kedudukan mendekati vertikal pada bagian atas dan semakin mendatar pada bagian bawah, mempunyai jumlah daun 750-1200 helai/perpohon pada umur 3-4 tahun. 5. Tidak terjadi tumpang tindih daun / cabang antara satu pohon dengan pohon yang lain disekitarnya, lebar tajuk sesuai dengan jarak tanam dan ketinggian pohon 3-3,5 meter. 6. Daun-daun yang tidak produktif tidak ada, demikian juga dengan ranting atau cabang yang sakit/rusak. 7. Sinar matahari mampu menerobos tajuk tanaman sehingga nampak penyebaran bercakbercak sinar matahari dengan luas sekitar 5-10% dari luas naungan dan penyebaran merata. 8. Suasana di dalam kebun tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. 9. Pertumbuhan batang kakao sama rata antara yang ditanam di pinggir kebun dengan yang ditanam di tengah kebun. 10. Bunga dan buah tumbuh merata dibagian batang pohon dan cabang-cabangnya serta tanaman yang berbuah merata disemua penjuru kebun. Semoga bermanfaat.

Hama Ulat Kilan Pada Tanaman Kakao

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan serangan ulat bulu yang semakin mewabah dan menyebar dengan cepat di beberapa tempat di Indonesia khususnya dipulau Jawa. Tanaman kakao juga tidak luput dari serangan binatang berkaki banyak ini. tetapi serangan yang disebabkan oleh sejenis ulat ini telah lama menyerang kakao petani dan sudah sering dialami oleh petani kakao kita.

Serangan ulat ini yang dikategorikan sebagai salah satu hama utama tanaman kakao dapat menyebabkan menurunnya mutu dan produktifitas kakao petani. Hama ini disebabkan oleh serangan sejenis ulat yang biasanya disebut hama ulat kilan (Hyposidra talaca walk).

Untuk lebih memahami mengenai hama yang satu ini berikut informasi tentang identifikasi hama, gejala dan pengendalian terhadap Hama Ulat Kilan. Biologi @ Imago H. talaca berwarna coklat keabu-abuan yang aktif pada malam hari. @ Kupu-kupu betina meletakkan telur pada permukaan batang lamtoro/tanaman lain (tanaman inang) secara berkelompok sebanyak 500-700 butir. Telur berbentuk bulat dan berwarna hijau muda. @ Lama stadium telur 5 - 6 hari, larva (ulat) 12 -18 hari. @ Larva instar terakhir biasanya masuk ke dalam tanah yang gembur untuk menjadi pupa, lama stadium pupa 7 - 8 hari. Gejala Serangan @ H. talaca menyerang daun yang masih muda. Serangan berat mengakibatkan daun berlubang dan pucuk tanaman gundul, biasanya tinggal tulang daun saja. Pengendalian @ Kimiawi, menggunakan insektisida sintetik, antara lain : deltametrin (Decis 2,5 EC), sihalotrin (Matador 25 EC), sipermetrin (Sherpha 50EC) dll dengan konsentrasi formulasi 0,025 - 0,05 %. @ Pestisida nabati, yaitu ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) yang mengandung senyawaazadiratchtin yang bersifat antifeeding dan gustatory repellent. Sumber : Pedoman Teknis Kakao. Semoga bermanfaat.

Perbaikan Mutu Kakao Melalui Fermentasi

Fermentasi kakao bukanlah sesuatu hal yang baru dan sangat dianjurkan untuk meningkatkan mutu biji kakao. Walaupun tidak semua petani melakukan fermentasi kakao, hal ini dikarenakan belum adanya perbedaan harga kakao biasa dengan kakao yang sudah difermentasi.

Sudah banyak artikel yang menuliskan masalah fermentasi kakao. Bagi yang belum mengerti atau belum mengetahui masalah fermentasi kakao, berikut saya akan berbagi informasi mengenai fermentasi kakao dan mudah-mudahan bisa bermanfaat. Fermentasi kakao adalah suatu proses pemeraman biji kakao dimana terjadinya penguraian zat yang terdapat di dalam biji kakao yang menghasilkan aroma khas kakao dan perubahan warna biji kakao. Fermentasi kakao merupakan tahapan penting dalam penanganan pasca panen untuk mempersiapkan biji kakao basah menjadi biji kakao kering yang bermutu tinggi dan layak dikonsumsi. Proses fermentasi kakao akan menghasilkan kakao dengan citarasa, aroma dan warna yang khas akibat terjadinya perubahan fisik biji kakao secara kimiawi dan biologi di dalam biji kakao, penguraian senyawa polifenol, protein dan gula oleh enzim sehingga menghasilkan aroma, rasa dan warna yang khas. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses fermentasi adalah; wadah fermentasi, aerasi (sirkulasi udara), pembalikan, aktivitas mikroba dan penguraian kandungan pulp. Penguraian kandungan pulp itu

sendiri sangat ditentukan oleh lamanya pemeraman buah kakao setelah di petik (Dianjurkan setelah buah kakao dipetik untuk diperam selama lebih kurang 3 hari sebelum dilakukan fermentasi). Adapun wadah yang sering digunakan untuk proses fermentasi adalah; keranjang rotan dan kotak kayu. Berikut tahapan yang harus dilakukan dalam fermentasi biji kakao. Persiapan biji kakao basah dan pastikan sudah dipisahkan dari kotoran dan plasentanya. Untuk wadah yang menggunakan keranjang, lapisi sekeliling keranjang dengan daun pisang/plastik dan tutup dengan daun pisang/plastik dan biarkan dasar keranjang tanpa dilapisi daun pisang/plastik. Untuk wadah kota kayu pastikan adanya sirkulasi udara dengan membuat lubang-lubang ventilasi pada dasar kotak dan dindingnya. Lakukan proses pembalikan setiap 28 jam dan pastikan suhu fermentasi sekitar 45 derajat celsius dan tutup kembali. Proses fermentasi akan berlangsung selama 5-6 hari. Bila proses fermentasi dilakukan dengan benar dapat dilihat pada beberapa aspek berikut; Pulp sebagian sudah terlepas dari biji kakao. Berbau asam dan pH menurun. Kenaikan suhu fermentasi setelah 2 hari proses fermentasi dan perlahan-lahan menurun pada hari berikutnya. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat.

Kesesuaian Lahan Budidaya Kakao

Di daerah asalnya, Amerika Selatan, tanaman kakao merupakan tanaman kecil yang tumbuh di bawah naungan hutan hujan tropis sehingga terbiasa hidup dibawah lindungan pohon-pohon besar. Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan tempat yang cukup ideal bagi pertumbuhan tanaman kakao.

Hanya saja, tetap harus memperhatikan kondisi tanah dan iklimnya sehingga lahan yang digunakan untuk areal penanaman benar-benar sesuai dengan lingkungan tumbuhnya. Kesesuaian lahan merupakan ukuran kecocokan suatu lahan untuk digunakan, termasuk untuk budidaya kakao. Secara umum sifat dan karakteristik kesesuaian lahan untuk budidaya kakao sangat dipengaruhi oleh iklim dan tanah. Iklim. Iklim merupakan salah satu faktor lingkungan yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan dan keberhasilan budidaya kakao. Tanaman kakao dapat tumbuh ideal pada garis lintang 10 derajat LS - 10 derajat LU dan pada ketinggian 0 - 600 m di atas permukaan laut. Untuk pertumbuhan yang optimal tanaman kakao membutuhkan suhu minimum 18-21 derajat Celsius dan maksimum 30-32 derajat Celsius. Perubahan suhu yang terlalu ekstrim bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman kakao. Disamping itu curah hujan dan kelembaban ikut menentukan dalam budidaya kakao. Curah hujan 1.500 - 2.500 mm/tahun, kelembaban yang tinggi dan konstan diatas 80% merupakan lingkungan yang dikehendaki tanaman kakao untuk bisa tumbuh dengan

baik. Sebagai tanaman yang hidup dibawah naungan pohon besar, perlu diperhatikan keberadaan angin di areal budidaya tanaman kakao serta intensitas cahaya matahari. Angin yang bertiup kencang bisa merusak tanaman kakao, hal ini karena tanaman kakao tergolong jenis tanaman yang rentan terhadap dorongan angin kencang. Tanah. Tanaman kakao termasuk tanaman yang tidak rewel terhadap jenis tanah tempat tumbuhnya. Namun yang terpenting adalah tanah tersebut memiliki sifat fisik dan kimia tanah yang baik. Sifat fisik tanah yang baik apabila mampu menahan air dengan baik, dalam hal ini memiliki aerasi dan drainase tanah yang baik. Tanah yang cocok untuk tanaman kakao adalah tanah yang bertekstur geluh lempung (clay loam) yang merupakan perpaduan antara 50% pasir, 10-20% debu dan 30-40% lempung berpasir. Tekstur tanah ini dianggap memiliki kemampuan menahan air yang tinggi dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Sifat kimia tanah membutuhkan tanah yang kaya akan bahan-bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah, menahan air dan sebagai sumber hara serta memiliki pH sekitar netral yaitu 6,0 - 7,0.

Semoga bermanfaat.

Hama Kepik Penghisap Buah Kakao

Bila ada teman-teman yang mengunjungi kebun kakao dan menemukan buah kakao seperti gambar disamping, itu berarti buah kakao sudah terkena hama kepik penghisap buah kakao yang juga merupakan salah satu hama utama tanaman kakao. Postingan ini merupakan postingan ke dua mengenai hama penyakit tanaman kakao. Hama ini disebabkan oleh sejenis serangga yang dalam bahasa latinnya disebut Helopeltis spp,Pseudodoniella typica dan Amblypelta Theobromae. Ketiga jenis serangga ini menyerang buah kakao sehingga buah kakao yang terserang tampak bercakbercak cekung berwarna coklat kehitaman. Biologi Helopeltis spp @ Helopeltis spp dewasa bentuknya mirip dengan walang sangit, panjang tubuh lebih kurang 1 cm. Bagian tengah tubuhnya berwarna merah tua, terdapat embelan tegak lurus berbentuk jarum pentul dari bagian belakang berwarna berwarna hitam atau kehijauan dengan garis-garis putih. @ Telur berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan dalam jaringan kulit buah, tunas dan tangkai buah. Pada ujung telur terdapat dua embelan berbentuk benang yang panjangnya lebih kurang 0,5 mm, yang menyembul keluar jaringan. Lama stadium telur 6-7 hari, stadium nimpa 10-11 hari. Perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa 21-24 hari. Seekor serangga dewasa mampu bertelur hingga 200 butir. @ Tanaman inang berjumlah 24 jenis, diantaranya jambu biji, jambu mete, teh, lantoro, apokat, mangga, ubi jalar, Glirisidia dan Moghania sp. @ Species Helopeltis di Irian Jaya adalah H. claviper. @ Masa perkembangan 17-20 hari, serangga dewasa dapat berumur maksimum 46 hari. Daerah sebar 0-1670 m dpl.

Pseudodoniella spp @ Pseudodoniella spp merupakan hama utama tanaman kakao di Irian Jaya dan Papua Nugini. Ada tiga species yaitu: P. typica, P. pasifica dan P. laensis. @ Panjang tubuh 8 mm, lebar 4 mm. @ Ciri khas adalah adanya gelembung di bagian punggungnya (dorsal). @ P. pasifica dan P. laensis berwarna orange dengan dua bercak warna coklat di bagian dada (thorax). P. typica tubuhnya berwarna coklat gelap. @ Masa perkembangan serangga P. typica 24-28 hari, telur 14 hari, nimfa 10-14 hari, serangga dewasa 11 hari. Amblypelta spp @ Ada dua species hama kakao yaitu A. theobromae yang paling merusak, dan A. cocophaga. @ Daerah sebar di Irian Jaya, PNG, Kepulauan Salomon, Vanuatu, New Caledonia dan Australia. @ Daur hidup A. theobromae sekitar 6 minggu. Gejala Serangan @ Perbedaan gejala serangan ketiga species penghisap buah kakao tersebut adalah : Helopeltis spp, ukuran bercak relatif kecil, diameter 2-3 mm dan letaknya cenderung di ujung buah. Bercak seranganPseudodoniella spp sama dengan Helopeltis spp, tetapi distribusinya terpusat pada bagian buah yang terlindung, misalnya pangkal dan bagian yang menempel pada batang. Ukuran bercak seranganAmblypelta spp lebih besar dan lebih dalam dari Helopeltis spp dan Pseudodoniella spp dengan distribusi merata di seluruh permukaan buah. @ Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman. @ Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati (die back), ranting mengering dan meranggas. @ Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Pengendalian @ Cara yang efektif dan efisien sampai dengan saat ini adalah dengan menggunakan insektisida pada areal yang terbatas dan didasarkan atas pengamatan yang dikenal Sistem Peringatan Dini (SPD). Pengamatan dilakukan terhadap adanya serangga atau tusukan baru Helopeltis spp. Penyemprotan secara terbatas (spot spraying) dilakukan apabila tingkat serangan Helopeltis spp < 15%. @ Jika tingkat serangan > 15% penyemprotan dilakukan secara menyeluruh (blanket spraying). @ Keberhasilan pengendalian secara SPD ditentukan oleh faktor-faktor: organisasi, ketrampilan dan kedisiplinan tenaga pengamat, penyemprot dan pengawas. @ Biologis, menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracichus) dan penyemprotan B. bassiana dosis 25-50 gr spora/ha atau 2-5 kg biakan padat/ha dengan volume semprot 500 liter/ha. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa, diletakan diatas jorket. @ Pengendalian secara biologis tidak dapat digabungkan dengan cara kimiawi. Sumber : Pedoman Teknis Kakao. Semoga bermanfaat.

BUDIDAYA TANAMAN KAKAO


JAN

29
Post Info

PPL

0 komentar Permalink

PENDAHULUAN Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.

PT. Natural Nusantara berusaha membantu petani kakao agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan 1. Persiapan Lahan konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

- Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya - Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan - Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlahdikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1 : 3)

2. Pembibitan - Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur - Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok - Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segeradikecambahkan - Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari - Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan - Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag - Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP / SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag - Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50% - Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm

- Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak - Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari - Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan - Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) dosis sesuai dengan umur bibit, umur 1 bulan : 1 gr/bibit, 2 bulan ; 2 gr/bibit, 3 bulan : 3 gr/bibit, 4 bulan : 4 gr/bibit. Pemupukan dengan cara ditugal - Siramkan POC NASA dengan dosis 0,5 - 1 tutup/pohon diencerkan dengan air secukupnya atau semprotkan dengan dosis 4 tutup/tangki setiap 2-4 minggu sekali - Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50% sampai umur 4 bulan - Amati hama & penyakit pada pembibitan, antara lain ; rayap, kepik daun, ulat jengkal, ulat punggung putih, dan ulat api. Jika terserang hama tersebut semprot dengan PESTONA dosis 6-8 tutup/tangki atau Natural BVR dosis 30 gr/tangki. Jika ada serangan penyakit jamur Phytopthora dan Cortisium sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk kandang selama + 1 minggu pada masing-masing pohon

3. Penanaman a. Pengajiran - Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 - 100 cm - Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya - Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama

b. Lubang Tanam - Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan - Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang

c. Tanam Bibit - Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun - Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa - Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanamsetelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan - Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)

4. Pemeliharaan Tanaman a. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon b.Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali. Dosis pupuk lihat dalam tabel disamping ini :

Catatan: Akan lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk +

200 tanaman. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

5. Pengendalian Hama & Penyakit a. Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae ), menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja.Pengendalian dengan PESTONA dosis 5 10 cc / liter.

b. Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ), ada bulu-bulu gatalpada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapatpada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklatkehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosadan Carcelia spp, semprot PESTONA.

c. Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge), serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkankokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari padaPloneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.

d. Kutu - kutuan ( Pseudococcus lilacinus ), kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati. Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau PESTONA.

e. Helopeltis antonii, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buahyang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupaitanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercakbercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya danbuah kecil kering lalu mati. Pengendalian dilakukan dengan PESTONA dosis 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke17 dilakukan terhadap nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan buah terserang.

f. Cacao Mot ( Ngengat Buah ), Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae).Buah muda terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapatmengembang dan lengket. Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka(kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveriabassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan PESTONA.

g. Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora), gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak

kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati. Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan Natural GLIO.

h. Jamur Upas ( Upasia salmonicolor ), menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terserang dengan Natural GLIO+HORMONIK, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar. Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

6. Pemangkasan - Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu : - Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris. - Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok ataucabangnya. - Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau. Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding.

7. Panen Saat petik persiapkan rorak-rorak dan koordinasi pemetikan. Pemetikan dilakukanterhadap buah yang masak tetapi jangan terlalu masak. Potong tangkai buah denganmenyisakan 1/3 bagian tangkai buah. Pemetikan sampai pangkal buah akan merusakbantalan bunga sehingga pembentukan bunga terganggu dan jika hal ini dilakukanterus menerus, maka produksi buah akan menurun. Buah yang dipetik umur 5,5 - 6 bulan dari berbunga, warna kuning atau merah. Buah yang telah dipetik dimasukkandalam karung dan dikumpulkan dekat rorak. Pemetikan dilakukan pada pagi hari danpemecahan siang hari. Pemecahan buah dengan memukulkan pada batu hinggapecah. Kemudian biji dikeluarkan dan dimasukkan dalam karung, sedang kulitdimasukkan dalam rorak yang tersedia.

8. Pengolahan Hasil Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao. Bertujuan mempermudah menghilangkan pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapatkan aroma dan cita rasa yang enak. Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan agar tidak terserang jamur dengan sinar matahari langsung (7-9 hari) atau dengan kompor pemanas suhu 60-700C (60-100 jam). Kadar air yang baik kurang dari 6 %. Sortasi, untuk mendapatkan ukuran tertentu dari biji kakao sesuai permintaan. Syarat mutu biji kakao adalah tidak terfermentasi maksimal 3 %, kadar air maksimal 7%, serangan hama penyakit maksimal 3 % dan bebas kotoran.

4 Tahapan Proses Pengolahan Biji Kakao Menjadi Coklat

Siapa yang tidak kenal dengan produk makanan dan minuman yang satu ini, coklat. Makanan dan minuman yang dihasilkan dari tanaman kakao ini menjadi primadona hampir semua golongan usia. Jangankan anak-anak, orang dewasapun menjadikan makanan dan minuman ini sebagai favorit mereka.

Secara umum proses pengolahan biji kakao menjadi coklat melalui beberapa tahapan proses. Berikut ini saya akan berbagi informasi dengan sahabat semua bagaimana proses pengolahan biji kakao menjadi coklat. 14 Tahapan proses ini merupakan tahapan umum dalam pengolahan biji kakao menjadi coklat. Langkah 1. Biji kakao dibersihkan untuk menghilangkan semua bahan yang asing. Langkah 2. Biji kakao selanjutnya akan dipanggang/disangrai untuk membawa keluar rasa coklat dan warna biji (roasted). Suhu, waktu dan tingkat kelembaban pada saat penyangraian (roasted) tergantung pada jenis biji yang digunakan dan jenis cokelat atau produk yang akan dihasilkan. Langkah 3. Sebuah mesin penampi (winnowing machine) akan digunakan untuk memisahkan kulit biji dan biji kakao. Langkah 4. Biji kakao kemudian akan mengalami proses alkalisasi, biasanya menggunakan kalium karbonat, untuk mengembangkan rasa dan warna. Langkah 5. Setelah di alkalisasi, biji kakao kemudian memasuki proses penggilingan untuk membuat cocoa liquor (kakao partikel tersuspensi dalam cocoa butter). Suhu dan tingkat penggilingan bervariasi sesuai dengan jenis mesin penggilingan yang digunakan dan produk yang akan dihasilkan. Langkah 6. Setelah biji kakao menjadi cocoa liquor, biasanya produsen akan menambahkan bahan pencampur, seperti kacang untuk menambah citra rasa coklat. Umumnya menggunakan lebih dari satu jenis kacang dalam produk mereka, yang dicampur bersama-sama dengan formula yang dibutuhkan. Langkah 7. Tahapan selanjunya adalah mengekstrak the cocoa liquor dengan cara dipress/ditekan untuk mendapatkan lemak coklat (cocoa butter) dan kakao dengan massa padat yang disebut cocoa presscake. Persentasi lemak kakao yang dipress disesuaikan dengan keinginan produsen sehingga komposisi lemak coklat (cocoa butter) dan cocoa presscake berbeda-beda. Langkah 8. Pengolahan sekarang menjadi dua arah yang berbeda. Lemak coklat akan digunakan dalam pembuatan coklat. Sementara cocoa presscake akan dihaluskan menjadi coklat dalam bentuk bubuk. Langkah 9. Lemak coklat (cocoa butter) selanjutnya akan digunakan untuk memproduksi coklat melalui penambahan cocoa liquor. Bahan-bahan lain seperti gula, susu, pengemulsi agen dan cocoa butter ditambahkan dan dicampur. Proporsi bahan akan berbeda tergantung pada jenis cokelat yang dibuat.

Langkah 10. Campuran kemudian mengalami proses pemurnian sampai pasta yang halus terbentuk (refining). Refining bertujuan meningkatkan tekstur dari coklat. Langkah 11. Proses selanjutnya, conching, untuk mengembangkan lebih lanjut rasa dan tekstur coklat. Conching adalah proses menguleni atau smoothing. Kecepatan, durasi dan suhu conching akan mempengaruhi rasa. Sebuah alternatif untuk conching adalah proses pengemulsi menggunakan mesin yang bekerja seperti pengocok telur. Langkah 12. Campuran ini kemudian melewati pemanasan, pendinginan dan proses pemanasan kembali. Hal ini mencegah perubahan warna dan lemak coklat dalam produk tersebut. Hal ini untuk mencegah perubahan warna dan melelehnya coklat dalam produk. Langkah 13. Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam cetakan atau digunakan untuk pengisi enrobing dan didinginkan di ruang pendingin. Langkah 14. Cokelat ini kemudian dikemas untuk distribusi ke outlet ritel. Inilah 14 tahapan pengolahan biji kakao menjadi coklat secara umum. Semoga bermanfaat.