Anda di halaman 1dari 21

Behavioral Accounting

Assumptions About Human Behavior : A historical Perspective and Research Method


BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG Akuntansi memiliki tujuan memberikan informasi kepada pihak pihak yang berkepentingan. Akuntansi merupakan media komunikasi, dalam pelaporan hal tertentu seperti sumber daya alam biasanya dilaporkan secara sukarela kecuali pembuat laporan keuangan menyakini bahwa si penerima informasi akan berperilaku sebagaimana yang idinginkan sebagai tujuan pelaporan. Dalam organisasi manajer biasanya memiliki hak untuk mengharuskan bawahannya melaporkan aspek aspek yang harus dilaporkan dalam kinerja mereka. Setiap orang yang terlibat dalam penyusunan laporan akuntansi perlu memahami dampak yang mungkin ditimbulkan dari persyaratan pelaporan terhadap perusahaan. Pembuat laporan akuntansi dapat dengan sengaja melaporkan informasi palsu , informasi yang tidak akurat. Guna memastikan keandalan dari informasi akuntansi yang dilaporkan adalah fungsi penting dari audit keuangan, persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku pelapor dalam beberapa cara. Antisipasi penggunaan informasi dilakukan oleh pembuat informasi untuk mencari tahu reaksi yang akan terjadi dari penerima informasi atas informasi tersebut, sehingga dampak negative dari informasi dapat diminimalisir. Kadangkala penerima informasi atau user informasi menyatakan dengan jelas keinginannya atau mereka kepada si pembuat informasi. Hal ini dapat dijadikan masukan untuk pembuat informasi sebelum membuat laporan, misalnya mengenai laba, pertumbuhan jangka panjang, citra perusahaan, dan sebagainya. Jika

pengguna informasi tidak memperhatikan atau mengevaluasi informasi yang diterima, sehingga dapat terjadi bias informasi tersebut dimana menjadi tidak relevan.

BAB II PEMBAHASAN

FEODALISME DAN KAPITALISME Semua sistem ekonomi digolongkan oleh hubungan sosial dasar antara siapa yang menjalankan kekuasaan dan siapa yang mematuhinya dan antara siapa yang mempunyai faktor-faktor produksi dan siapa yang tidak. Penelitian mengenai perkembangan historis tentang hubungan sosial tersebut akan memberikan gagasan kepada kita mengenai asumsi-asumsi yang mendasari perilaku manusia yang dapat digolongkan kedalam bisnis, ekonomi dan akuntansi. Sistem Feodal Pada akhir abad ke-15 aturan politik, sosial dan ekonomi di Eropa telah menjadi sangat tertutup. Dikenal sebagai feodalisme, aturan sosial-ekonomi tersebut ditetapkan sebagai seperangkat hubungan sosial berdasarkan status yang diperoleh dari lahir (berdasarkan keturunan). Di pertengahan Eropa, seorang lakilaki adalah budak atau a lord, pedagang atau anggota dari serikat pekerja. Posisinya dalam struktur sosial bergantung pada keluarga dimana ia dilahirkan, daripada pernikahan. Tanah dan pekerja bukan obyek yang diperdagangkan, keduanya were communized di Eropa pertengahan. Kepemilikan tanah diberikan oleh a lord kepada ahli warisnya dan perdagangan real-estate sangat jarang dilakukan. Budak

adalah bagian dari tanah, mereka memiliki hak untuk hidup di tanah tersebut dan bekerja disana. Serikat pekerja adalah kumpulan dari pekerja yang mempunyai keahlian. The Guild systempusat dari produksi industrialjuga steeped in tradition. Seorang laki-laki menjadi tukang kayu atau glassblower karena itu adalah pekerjaan yang dilakukan ayahnya. Pemilik memilih guild government mereka sendiri dan menentukan aturan kerja mereka sendiri. Mereka menentukan tarif sewa, standar output, dan lingkungan kerja. Mereka mengatur social conduct dan diharapkan anggota serikat pekerja dapat melaksanakannya dengan cara yang tepat dan terlibat dalam civic affairs. The Guild of The Middle Ages ingin menjaga keteraturan dalam hidup, sehingga mereka mengatur perilaku saat bekerja dan pada komunitas. Untuk menjaga status quo, serikat pekerja menghindari inovasi dan perubahan teknologi. Mereka bekerja untuk mencegah terbentuknya monopoli dengan saling berbagi teknik dan teknologi. Mereka menghindari persaingan dengan membatasi keanggotaan serikat pekerja dan kenaikan pangkat dari apprentice menjadi journeyman kemudian menjadi pemilik. Serikat pekerja mengatur syarat penjualan dan menginginkan anggota mereka untuk mengikuti syarat tersebut. Advertising adalah sesuatu yang dilarang. Anggota serikat pekerja, yang memiliki factorfaktor produksi, berharap untuk mendapatkan kebanggaan dari pekerjaan mereka. Gagasannya adalah lebih untuk menjaga posisi yang telah dimiliki daripada meningkatkannya. Disana tidak ada batasan yang jelas antara kehidupan sosial dan ekonomi. People did not "make a living"the work was an end in itself. The Rise of Industrial Society Mesin uap, yang ditemukan oleh James Watt pada tahun 1776, dapat dijadikan tanda dimulainya revolusi industri dan kemunduran dari the guilds. Pada masa ini muncul sistem pabrik, sebagai perlawanan terhadap industri rumah

tangga dimana orang-orang bekerja dirumah. Mesin uap dimanfaatkan sebagai sumber energi, yang memungkinkan sumber energi dapat dibangun dimanapun karena menggunakan inanimate energy dan dapat dipindahkan. Sebelum mesin uap; angin, air dan hewan digunakan sebagai sumber tenaga. Pabrik menggunakan banyak pekerja untuk mengoperasikan mesin yang dijalankan dengan inanimate power. Setiap pekerja mempunyai peranan masingmasing dalam proses produksi. Pebrik mengandalkan pada ketersediaan wage laborsa free labor class tidak dikenal pada Eropa pertengahan. Ketersediaan tenaga kerja ini berkembang sepanjang waktu sebagai hasil dari kejadian ekonomi lainnya. Salah satu kejadian paling penting adalah enclosure movement di Inggris. Permintaan wol menyebabkan perkembangan peternakan domba, yang

menghasilkan pemagaran tanah untuk kebutuhan merumput bagi hewan tersebut. Pemagaran tersebut menyebabkan banyak budak, yang sebelumnya mengerjakan tanah itu, meninggalkan tanah menuju kota. Perpindahan ini menimbulkan impoverished working class yang tidak mempunyai apa-apa hanya tenaga mereka. Migrasi sangat besar menuju kota juga menyebabkan keruntuhan sistem serikat pekerja karena banyaknya pekerja yang bersaing dengan guilds. Jadi, the enclosure movement mengubah budak yang bertahan di tanah menjadi petani dan budak yang meninggalkan tanah menjadi pekerja yang bebas, mobile, dan propertyless yang merampas kekuatan yang telah dibentuk oleh pemilik melalui serikat pekerja. Lebih lanjut, terhadap enclosure movement mengubah pandangan tentang penggunaan tanahdengan adanya industrial society tanah diterima menjadi obyek yang dapat diperdagangkan. Sampai waktu terjadi Revlosi Prancis tahun 1789, landed estate (tanah, bangunan, peralatan dan budak) menjadi sumber kehormatan sosial. Proses dimana landed estate berubah dari common land menjadi prvate land membutuhkan waktu yang lama. Hal itu menimbulkan ide baru: "that land, as property, could be owned; In medieval Europe, land was held but never owned".

Perubahan utama lain adalah munculnya masyarakat kelas menengah yang baru. Merchants now stood between producers and consumers. Munculnya kelas entrepreneurial ini juga dibutuhkan dalam perkembangan kapitalisme. Kapitalisme dan Feodalisme Ada beberapa perbedaan mendasar antara sistem kapitalis dan feodal, antara lain:

Feodalisme

Kapitalisme

Menitikberatkan pada tradisi Menolak inovasi Aktivitas ekonomi dilakukan segera begitu ada keinginan

Lebih modern Mendorong terjadinya inovasi Aktivitas perencanaan usaha dan penggunaan teknologi sangat penting

Ada tingkatan kelas sosial yang dalam bermasyarakat sangat berpengaruh kehidupan

Tingkatan mempengaruhi dalam opportunities

kelas

tidak

kesuksesan bermasyarakat;

menitikberatkan pada equal of

Factory life dan disiplin yang ketat merupakan hal yang baru bagi karyawan, yang menjunjung tradisi dimana mereka tidak lebih dari seorang budak. Pekerja sangat tidak menyukai sistem yang baru tersebut, karena gaji yang rendah dan kondisi pekerjaan yang tidak ramah. Pandangan keperilakuan mengingatkan pada munculnya capitalist spirit. Ini adalah gagasan dimana seseorang pada akhirnya harus mendapat keuntungan dari apa yang dimilikinya dan harus rasional sesuai dengan kapitalisme. Sistem nilai menjawab pertanyaan yang tidak mempunyai penjelasan yang rasional: Why

do people work so hard when they have so much? Max Weber menganalisa tendensi tersebut dan menyimpulkan bahwa ideologi dan nilai kapitalis bersumber pada Protestantism. Nilai yang dibawa pada awal Calvinism membentuk pandangan dunia bahwa entrepreneurial middle class mengawali kapitalisme. The Protestant Ethic and The Values of Capitalism Semua aturan ekonomi dan sosial bergantung pada hubungan sosial yang sesuai dan pada shared set of beliefs and sentiments . Penghematan, disiplin dan rasionalitas merupakan kumpulan nilai yang "virtuous" dan disebut Weber sebagai etos kapitalisme. Perkembangan kapitalisme membutuhkan enterprisers yang termotivasi untuk bekerja keras, Disiplin hemat, diri menghimpun penting. modal, Disiplin dan diri mengembangkan bisnisnya. sangat

membutuhkan dukungan budaya yang general dan sangat penting untuk diberikan pada kelas pekerja. Pada akhirnya, sekolah dibangun dalam rangka menyiapkan orang untuk bekerja. Nilai-nilai sekolah ditekankan pada respek terhadap tanggung jawab, disiplin, ketepatan waktu, patriotisme, dan lain sebagainya. Nilai ini adalah bagian dari Protestant Ethic. Dengan Protestant Ethic Weber mengartikan bahwa driving force yang mendorong manusia, dengan dasar pelayanan kepada Tuhan, untuk bekerja keras dan rajin, menjadi sederhana, hemat dan suka berinvestasi. Itu adalah penjelasan Weber untuk kondisi psikologis (seperti ideologi, nilai, rasional, dan lain-lain) yang memungkinkan perkembangan kapitalisme. Itu meliputi nilai-nilai, berdasarkan pada teologi John Calvin dan Martin Luther, yang telah diadaptasi berdasarkan kondisi ekonomi yang ada. Aplikasi ide dan kepercayaan ini membawa manusia untuk berperilaku dengan cara yang bisa menyebabkan perkembangan kapitalisme. Protestant Ethic menyumbang perkembangan kapitalisme dengan

memberikan motivasi untuk bekerja dan berwirausaha. Ia juga menyediakan tipe

orang yang dibutuhkan dalam kapitalisme; jujur, sederhana, impersonal dan rasional. Perspektif pada Pekerja Calvinist menggambarkan work noble, but workers as lacking virtue . Jika pekerja telah merasa virtuous, maka itu adalah tanda-tanda kesuksesan. Pada awal industrialists, disukung oleh filosofi Social Dawinism, believed workers menjadi inferior karena mereka tetap berjuang untuk bertahan. Pergerakan manajemen ilmiah, berhubungan dengan works of Frederick Taylor pada awal 1900-an menggambarkan pekerja sebagai seorang yang malas dan hanya tertarik dengan economic rewards. Pada tahun 1920-an pekerja diperlihatkan sebagai bundle of traits that could be understood through extensive testing . Pergerakan hubungan manusia pada tahun 1930-an, sebagai hasil kerja dari Elton Mayo, menghargai pekerja sebagai human beings, tetapi tetap memperlakukan mereka sebagai faktor biaya. Asumsi mengenai Perilaku Manusia Teori tentang ekonomi dan manajemen klasik mengasumsikan bahwa tujuan utama dalam aktivitas bisnis adalah maksimalisasi laba dan anggota organisasi termotivasi oleh faktor ekonomi. Dengan demikian, teori mengasumsikan bahwa manajer memasukkan perilaku sosial dalam rangka proses maksimalisasi pendapatan dan minimalisasi biaya. Teori organisasi modern mengemukakan perbedaan seperangkat asumsi tentang tujuan bisnis perusahaan dan perilaku anggota organisasi. Pertama, tidak ada keberatan tujuan, seperti maksimalisasi laba. Dalam beberapa kasus terdapat konflik kepentingan dalam organisasi itu sendiri dalam proses penentuan tujuan organisasi. Kedua, teori modern memandang bahwa perilaku manusia sangatlah komplek. Selain motivasi utama adalah insentif ekonomi, saat ini orang melihatnya sebagai motivasi gabungan antara sosial, psikologi, dan pengendalian ekonomi dan kebutuhan.

METODE RISET

APA YANG DIMAKSUD DENGAN RISET Pengamatan terhadap fakta, identifikasi atas masalah, dan usaha untuk menjawab masalah dengan menggunakan pengetahuan merupakan esensi dari kegiatan riset. Oleh karena itu, riset dapat disebut sebagai suatu usaha yang sistematis untuk mengatur dan menyelediki masalah-masalah,serta menjawab pertanyaan yang muncul, yang terkait dengan fakta, fenomena, atau gejala dari masalah tersebut. Riset dimulai dengan suatu pertanyaan karena menghendaki suatu deskripsi yang jelas terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Hal ini sering disebut sebagai suatu rencana untuk menjawab pertanyaan.

TUJUAN RISET Terdapat lima tujuan spesifik dari suatu riset: 1. Menggambarkan fenomena, 2. Menemukan hubungan, 3. Menjelaskan fenomena, 4. Memprediksi kejadian-kejadian di masa yang akan datang, dan

5. Melihat pengaruh satu atau lebih faktor terhadap satu atau lebih kejadian. Kejadian-kejadian dapat dijelaskan dengan cara mengumpulkan dan mengklasifikasikan informasi. Hal ini biasanya merupakan langkah pertama dalam suatu penyelidikan khusus. Kadang kala, suatu perencanaan terhadap riset akan dilihat hanya berdasarkan pada penjelasan informasi.

PENGEMBANGAN DESAIN Langkah pertama dan paling penting dalam riset perilaku adalah masalah definisi. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan metode yang dipilih, data serta jenis gambaran sampel pada dasarnya tergantung pada bagaimana sebenarnya masalah dipersepsikan, kerangka pertanyaan riset, dan desain informasi studi yang dikumpulkan. a. Menentukan Lingkup Pengembangan Lingkup pengembangan biasanya terbatas terhadap satu atau dua pertanyaan. Hal ini dilakukan karena berbagai alasan. Alasan biasanya adalah karena untuk menyelediki setiap aspek dari suatu masalah bukanlah apa yang diinginkan, tidak praktis, atau tidak mungkin. Keterbatasan utama dari ruang lingkup perencanaan adalah pada aspek dana yang tersedia. Desain pengembanganlain juga harus sejalan dengan penentuan lingkungan riset. Aspek lain dari suatu desain adalah menemukan populasi, menspesifikasikan informasi yang dibutuhkan, memilih dan mengumpulkan data serta metode, serta anggaran. Langkah selanjutnya dalam proses riset adalah mengidentifikasikan jenis informasi yang harus dikumpulkan. Arah riset seharusnya mempertimbangkan manfaat dan kerugian dari sumber data primer maupun sekunder.

b. Data Primer dan Data Sekunder Sumber data riset merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Sumber data riset terdiri atas sumber data primer dan sumber data primer. Data primer merupakan sumber data riset yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama. Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan riset. Data primer dapat berupa pendapat subjek riset (orang) baik secara individu maupun kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian, atau kegiatan, dan hasil pengujian. Manfaat utama dari data primer adalah bahwa unsur-unsur kebohongan tertutup terhadap sumber fenomena. Oleh karena itu, data primer lebih mencerminkan kebenaran yang dilihat. Bagaimana pun, untuk memperoleh data primer akan menghabiskan dana yang relatif lebih banyak dan menyita waktu yang relatif lebih lama. Data sekunder merupakan sumber data riset yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder pada umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip baik yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Manfaat dari data sekunder adalah lebih meminimalkan biaya dan waktu, mengklasifikasikan permasalahan-permasalahan, menciptakan tolak ukur untuk mengevaluasi data primer, dan memenuhi kesenjangan-kesenjangan informasi.

VALIDITAS DAN KEANDALAN Terdapat dua hal penting yang berhubungan dengan perencanaan riset perilaku, yang pertama adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal yang salah (validitas) dan yang kedua adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal tidak representatif (keandalan).

1. Validitas Ada beberapa jenis validitas. Validitas isi (content validity) mengacu pada bagaimana sebaiknya peneliti menggambarkan dimensi-dimensi dan konsep atau masalah-masalah yang ingin diukur, khususnya yang berkaitan dengan tingkat ukuran yang diberikan untuk menutupi rentang terhadap arti maupun terhadap suatu konsep. Validitas isi merupakan pokok pertimbangan untuk setiap pertanyaan yang diajukan dan diukur dalam istilah-istilah yang berhubungan dengan relevansi terhadap konsep yang diukur. Kriteria yang berkaitan dengan validitas ditentukan dengan

membandingkan antara konsep yang diukur dan suatu kriteria eksternal atau asumsi yang diketahui untuk mengukur konsep yang akan diteliti. Ada dua jenis kriteria yang berhubungan dengan validitas, yaitu validitas prediktif (predictive validity) dan validitas konkuren (concurrent validity). Validitas prediktif adalah validitas yang berkaitan dengan apakah suatu pengujian atau pengukuran dapat secara akurat memprediksi perilaku. Validitas prediktif mengharuskan adanya suatu kriteria atau indikator eksternal terhadap apa yang harus diprediksi. Validitas konkuren adalah validitas yang berkaitan dengan hubungan antara alat ukur dan kriteria sekarang atau masa lalu. Oleh karena itu, berbeda dengan validitas prediktif yang merupakan ukuran untuk memprediksi perilaku yang dihasilkan pada waktu yang sama sebagai ukuran eksternal terhadap perilaku, pengujian validitas konkuren membantu seorang peneliti untuk membedakan individu-individu berdasarkan beberapa kriteria. Validitas konstruksi (construct validity) adalah validitas yang

berdasarkan pada suatu pertimbangan apakah hasil dari pengukuran tersebut sesuai dengan teori. Validitas konstruksi sangat bermanfaat untuk mengukur fenomena yang tidak memiliki kriteria eksternal.

2. Reliabilitas Suatu instrumen alat ukur yang andal akan menghasilkan alat ukur yang stabil di setiap waktu. Aspek lain dari keandalan adalah akurasi dari instrumen pengukuran.

METODE PENGUMPULAN DATA Ada dua metode yang melatarbelakangi hal ini: 1) para peneliti tidak memahami apa yang dikerjakan oleh orang-orang tersebut dan mengapa mereka kelihatannya melibatkan perilaku, dan 2) karena ukuran sampel kecil, sehingga sangat berisiko menggeneralisasikan hasil terhadap populasi. 1. Survei Dalam survei tidak ada interaksi langsung antara seorang peneliti dengan responden. Data dikumpulkan dengan cara mengirimkan surat elektronik (e-mail), menelepon, atau memberikan serangkaian pertanyaan. Ada manfaat dan kerugian yang berhubungan dengan setiap teknik ini. Survei melalui surat setidaknya lebih mahal. Ada kalanya pengumpulan data riset pada kondisi tertentu mungkin tidak memerlukan kehadiran peneliti. Pertanyaan peneliti dan jawaban responden dapat dikemukakan secara tertulis melalui kuesioner. Teknik ini memberikan tanggung jawab kepada responden untuk membaca dan menjawab pertanyaan. Kuesioner dapat didistribusikan dengan berbagai cara, antara lain: disampaikan langsung oleh peneliti, dikirim bersama-sama dengan pengiriman paket atau majalah, diletakkan di tempat

yang ramai dikunjungi orang, dikirim melalui faks, atau menggunakan teknologi komputer. 2. Observasi Observasi merupakan proses pencatatan pola perilaku manusia, sesuatu hal, atau kejadian yang sistematis tanpa adanya pertanyaan maupun komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Kelebihan metode observasi dibandingkan dengan metode survei adalah bahwa data yang dikumpulkan umumnya tidak terdistorsi, lebih akurat, dan lebih bebas dari bias pihak responden. Metode observasi dapat menghasilkan data lebih rinci mengenai fenomena yang diteliti (perilaku, subjek, atau kejadian) dibandingkan dengan metode survei. Mmetode observasi, meskipun demikian, tidaklah bebas dari kesalahan. Pengamat kemungkinan memberikan catatan tambahan yang bersifat subjektif (observer bias), seperti halnya bias yang terjadi karena peran pewawancara dalam metode survei.

MEMILIH RESPONDEN Langkah pertama dalam memilih responden adalah dengan cara menentukan populasi. Setelah populasi ditentukan, peneliti menentukan sensus atau suatu sampel. Sensus adalah kegiatan untuk mencari seluruh informasi yang dikumpulkan dari setiap elemen dalam populasi. Sampel merupakan kumpulan informasi dan merupakan bagian dari populasi. Suatu sensus akan tepat ketika: 1) populasinya kecil dan biaya pengumpulan data tidak melebihi biaya pengambilan sampel secara signifikan, 2) penting untuk mengetahui setiap unsur dalam populasi, dan 3) risiko dalam perbaikan secara keseluruhan sangat besar.

1. Sampling Probabilitas dan Nonprobabilitas

Ada dua jenis desain sampling, yaitu sampling probabilitas (probability sampling) dan sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling). Sampling probabilitas menggunakan beberapa bentuk dari sampling acak; sementara sampling nonprobabilitas tidak menggunakan sampling acak. Dalam sampling probabilitas, setiap elemen dalam populasi probabilitasnya yang dipilih telah diketahui. Ada beberapa jenis sampling probabilitas: acak, sistematis, terstratifikasi, kelompok, dan sebagainya. Sampling nonprobabilitas adalah ketika probabilitas yang dipilih tidak diketahui. Dengan sampling probabilitas, sampling error dapat ditaksir secara matematis karena probabilitas yang dipilih diketahui. Hal ini memberikan kepada para peneliti suatu pengukuran yang objektif terhadap sampel yang representatif. Mengetahui probabilitas yang dipilih juga membuat para peneliti mampu menghitung ukuran sampel yang tepat. Sampling probabilitas digunakan ketika sampel yang representatif adalah penting.

INSTRUMEN RISET Pengembangan kuesioner atau pencarian instrumen merupakan langkah lain yang penting dalam proses riset. Kuesioner harus sesuai dengan responden dan didesain secara menarik sehingga responden merasa tertarik untuk menjawab kuesioner tersebut, yang pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan tingkat respons, validitas, dan keandalan data. Menjamin Kerja Sama Responden Desain kuesioner yang baik sangat bermanfaat jika responden tidak bersikap kooperatif terhadap para peneliti yang menghendaki informasi. Rendahnya tingkat kerja sama atau tingkat respons menciptakan kesulitan bagi para peneliti untuk mrelakukan generalisasi sampel terhadap populasi. Jika hal ini terjadi, maka pertanyaan selanjutnya mengacu pada apakah responden mempunyai sikap yang berbeda jika desain kuesionernya berbeda.

Ada beberapa teknik yang dapat menghasilkan tingkat respons yang tinggi. Pertama, sebelum wawancara dengan seorang responden, peneliti seharusnya mengirimkan surat yang menjelaskan tujuan umum dari wawancara tersebut dan responden dapat menghubungi mereka melalui telepon untuk membuat suatu janji wawancara. Pada hari wawancara, para peneliti seharusnya datang tepat pada waktunya dan mengucapkan terima kasih atas kerja sama responden. Pada saat yang sama, sebelum melakukan wawancara melalui telepon, adalah sangat bermanfaat untuk mengirimkan kepada responden sebuah surat yang memperkenalkan tim riset, menjelaskan dasar dari riset tersebut, dan meminta kerja sama saat menelepon. Akan lebih membantu jika peneliti menawarkan insentif dalam bentuk uang tunai atau bentuk-bentuk lainnya. Untuk seluruh metode di atas yang melibatkan kuesioner, surat, telepon, atau wawancara pribadi, adalah penting untuk melakukan pengujian sebelumnya (pilot test). Tujuannya adalah agar peneliti dapat memperbaiki kalimat pertanyaan yang disusun dengan buruk atau pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Menjamin Validitas dan Keandalan Jawaban Hanya informasi-informasi yang esensial yang seharusnya diharapkan dari responden. Para peneliti seharusnya menentukan dasar dari keinginan informasi dan memilih suatu format pertanyaan yang akan menyediakan informasi dengan sedikit pembatasan terhadap responden. Pertanyaan-pertanyaan dapat bersifat terbuka (open-ended) atau sudah ditentukan kemungkinan-kemungkinan jawabannya (closed-ended).

ANALISIS DATA DAN PERSIAPAN LAPORAN Analisis data dilakukan setelah peneliti mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam riset. Peneliti biasanya melakukan beberapa tahap persiapan data untuk memudahkan proses analisis data. Pemanfaatan berbagai alat analisis

sangat bergantung pada jenis riset dan jenis data yang diperoleh. Ketersediaan alat analisis memberikan gambaran bahwa satu alat analisis dengan alat analisis lainnya dapat dengan saling bergantian dimanfaatkan dan kadang kala hanya satu alat analisis yang dapat digunakan. Sebagai tahap akhir, dari suatu riset adalah penyusunan laporan riset. Laporan riset secara umum berisi tentang hal-hal yang terkait dengan apa saja yang dilakukan oleh peneliti, sejak tahap persiapan riset hingga interpretasi dan penyimpulan hasil analisis. Belum ada bentuk baku dari suatu laporan riset. Bentuk atau format laporan riset sangatlah dipengaruhi oleh keinginan si peneliti, hal-hal yang perlu dilaporkan, serta permintaan dari para sponsor riset.

PENYAJIAN KASUS AKUNTANSI KEPERILAKUAN KASUS HP: Laporan Keuangan Autonomy Corp. Dinilai Aneh (http://web.bisnis.com/kasus-hp-laporan-keuangan-autonomy-corp-dinilai-aneh) BISNIS.CO,JAKARTA--Perusahaan elektronik Hewlett-Packard Co.

dituding mengabaikan keanehan dalam laporan keuangan Autonomy Corp., perusahaan pengembang software yang diakuisisinya pada 2011, yang akhirnya berujung pada keputusan mengurangi nilai perusahaan yang berbasis di Inggris itu. Seperti diberitakan Bloomberg, Sabtu (4/5), para investor Hewlett-Packard mengatakan dewan komisaris dan direksi tidak melakukan due diligence teknis. Selain itu, kuasa hukum para investor Joseph Cotchett menyatakan petinggi perusahaan produsen laptop serta printer tersebut telah sengaja menyajikan

informasi yang salah kepada investor untuk menyembunyikan kekeliruan mereka. Tuduhan itu diserahkan ke pengadilan federal di San Fransisco. Autonomy diduga melakukan beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan keuangan mereka. Hewlett-Packard, yang lebih dikenal dengan HP, membeli Autonomy dengan nilai US$10,3 miliar. Namun, pada November 2012 HP mengumumkan mereka bakal melakukan writedown, atau menarik kembali, US$8,8 miliar dari total harga pembelian. Lebih dari US$5 miliar di antaranya terkait dengan anomali pada laporan keuangan Autonomy. "HP bergantung pada laporan keuangan yang sudah diaudit serta presentasi dari manajemen Autonomy untuk melihat kondisi finansial perusahaan itu," ujar juru bicara HP Michael Thacker. Dia menambahkan berbagai informasi keuangan perusahaan ternyata telah dimanipulasi oleh oknum karyawan sebelum akuisisi terjadi, dengan tujuan menyesatkan investor dan pembeli potensial lainnya.

Skandal Penipuan Korporasi Terbesar Jepang oleh Olympus


(http://finance.detik.com/read/2011/11/08/153440/1763010/4/skandal-penipuankorporasi-terbesar-jepang-oleh-olympus) Tokyo - Olympus, produsen kamera asal Jepang mengaku telah menyembunyikan kerugian investasi di perusahaan sekuritas selama puluhan tahun atau sejak era 1980-an. Selama ini, Olympus menutupi kerugiannya dengan menyelewengkan dana akuisisi. Pengumuman ini merupakan buntut dari tuntutan mantan CEO Olympus Michael Woodford yang dipecat pada 14 Oktober silam. Woodford meminta perusahaan yang berumur 92 tahun ini menjelaskan transaksi mencurigakan sebesar US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 11 triliun.

Presiden Direktur Olympus Shuichi Takayama menuding Tsuyoshi Kikukawa, yang mundur dari jabatan Presiden dan Komisaris Olympus pada 26 Oktober lalu, sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sementara Wakil Presiden Direktur Hisashi Mori dan auditor internal Hideo Yamada bertanggung jawab sebagai pihak yang menutup-nutupi. Keduanya menyatakan siap jika dituntut hukuman pidana. "Saya benar-benar tidak mengetahui kebenaran tentang semua ini," kata Takayama, yang mengaku tidak mengetahui kasus ini sejak jabatan Presiden Direktur diserahkan oleh Kikukawa kepadanya, dalam jumpa pers bersama sekitar 200 wartawan, dikutip dari Reuters, Selasa (8/11/2011). Pihak Olympus menemukan sejumlah dana mencurigakan terkait akuisisi produsen peralatan medis asal Inggris, Gyrus, pada tahun 2008 lalu senilai US$ 2,2 miliar (Rp 18,7 triliun), yang juga melibatkan biaya penasihat US 687 juta (Rp 5,83 triliun) dan pembayaran kepada tiga perusahaan investasi lokal US$ 773 juta (Rp 6,57 triliun). Dana-dana tersebut ternyata digunakan untuk menutupi kerugian investasi di masa lalu tersebut. Hal itu terlihat sangat gamblang ketika dalam beberapa bulan kemudian, pembayaran kepada tiga perusahaan investasi lokal itu dihapus dari buku. Kasus ini dipastikan akan menyeret Olympus, beserta para direksi dan akuntannya kena tuntutan pidana untuk pasal manipulasi laporan keuangan dari para pemegang sahamnya. Banyak analis yang kini mempertanyakan masa depan perusahaan yang dibentuk pada 1919 sebagai produsen mikroskop itu. "Ini sangat serius. Olympus sudah mengaku mengisi data palsu (di laporan keuangan) untuk menutupi kerugian selama 20 tahun. Semua pihak yang terlibat selama 20 tahun harus ikut bertanggung jawab," kata Ryosuke Okazaki, Kepala Investasi ITC Investment Partners. "Ada kemungkinan terburuk saham Olympus bisa dikeluarkan dari bursa. Masa depan perusahaan ini menjadi sangat suram," jelas Okazaki.

Pengumuman yang mengejutkan ini juga membuat saham Olympus jatuh 29% ke posisi terendahnya dalam 16 tahun terakhir. Perusahaan ini sudah kehilangan 70% nilai pasarnya, setara Rp 5,1 triliun, sejak ditinggal Woodford, yang terus mempertanyakan investasi bodong tersebut. Pihak Olympus mengaku masih akan menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut sebelum menyatakan apakah ada pihak lain yang ikut terlibat. Mori sudah dipecat pada hari yang sama, sementara auditor internal sudah meminta pengunduran diri. Kasus yang menimpa Olympus ini langsung menjadi perhatian media lokal karena merupakan skandal penipuan perusahaan terbesar di Jepang sejak serangkaian skandal broker di era 1990-an, salah satunya adalah broker terbesar keempat di Jepang, Yamaichi Securities pada 1997. Olympus mengaku menyelewengkan sejumlah dana akuisisi tersebut dengan disalurkan ke banyak perusahaan investasi supaya tidak mudah terdekteksi. Praktik yang lazim dilakukan perusahaan-perusahaan Jepang setelah krisis ekonomi Jepang tahun 1990 lalu. Nippon Life Insurance, salah satu pemegang saham terbesar di Olympus, mendesak produsen kamera itu lebih transparan dalam membeberkan kasus tersebut. Tahun 2011 baru saja berlalu dan kita menyongsong tahun 2012 dengan harapan baru. Selama 2011, selain krisis Eropa, pasar keuangan dunia juga diwarnai dengan perbuatan tidak terpuji atau skandal (fraud) oleh para pelaku pasar. Bursa New York diguncang oleh skandal keuangan yang dilakukan oleh MF Global, sebuah perusahaan perantara perdagangan efek atau security brokerage. MF Global dilaporkan mempergunakan US$ 700 juta uang nasabah tanpa izin untuk menutup kewajibannya sendiri. Sementara itu, di Bursa Tokyo terjadi skandal manipulasi laporan keuangan yang melibatkan Olympus, produsen kamera elektronik terkemuka di dunia. Eksekutif Olympus dituduh selama bertahun-tahun telah menyembunyikan kerugian transaksi derivatif senilai US$ 1,5 miliar melalui rekayasa laporan keuangan.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Sebagaimana dipahami bersama, masalah pokok dari proses akuntansi adalah implikasi komunikasi informasi mengenai keuangan dan menajemen. Namum bukan hanya pihak pelapor informasi saja yang memiliki harapan, pihak penerima informasi juga memiliki harapannya sendiri lewat perilaku ditunjukkan

pada informasi tersebut. Kedua belah pihak masing masing memiliki perilaku berbeda terhadap informasi yang sama. Dengan demikian, untuk mencapai efektivitas komuniikasi pihak penerima informasi harus menyadari perilaku dari pihak pengirim informasi karena pihak pengirim informasi dapat bertindak disfungsional terhadap informasi, oleh karena itu bentuk laporan yang menjadi bagia dari rangkaian komunikasi perlu ditinjau mana kala membawa dampak negative bagi proses komunikasi informasi.

DAFTAR PUSTAKA