Anda di halaman 1dari 28

IDENTIFIKASI DENTAL FORENSIK Pengantar Identifikasi individu dapat diperkuat oleh beberapa metode yang berbeda.

Termasuk identifikasi visual, barang pribadi, tato, bekas luka, anatomi struktur, peralatan medis, dan implan, serta sidik jari, DNA, dan perbandingan gigi. Molina membagi metode identifikasi visual, situasional, karakteristik eksternal, karakteristik internal, radiografi, dan antropologi, dan mencatat bahwa DNA, sidik jari, dan gigi perbandingan dianggap sebagai metode ilmiah identifikasi. Walaupun metode visual identifikasi umum digunakan, seharusnya dapat digunakan dengan hati-hati. "Identifikasi Visual adalah salah satu bentuk yang paling dapat diandalkan identifikasi dan dapat menjadi sebuah kesalahan. Wajah dan karakteristik lain dapat berubah karena trauma, pembengkakan, fragmentasi, dan dekomposisi. Tentu saja warna rambut, warna kulit, dan petunjuk fisik lainnya dapat digunakan, tetapi tidak boleh digunakan tersendiri untuk mengkonfirmasi identifika ketika perubahan bentuk terjadi. Dalam kasus tersebut, pemeriksa medis kebanyakan tidak akan memberitahukan kartu identitas karena dapat menimbulkan trauma emosional yang signifikan untuk anggota keluarga. Hal ini juga dapat menyebabkan kesalahan identifikasi setiap individu.

Laporan Kasus : kesalahan identifikasi / Keterlambatan Identifikasi Pada 26 April 2006 Whitney Cerak, Laura Van Ryn dan tujuh orang lainnya terlibat dalam kecelakaan mobil di Indiana. Lima orang tewas dalam kecelakaan itu . Orang tua s Cerak diberitahu oleh pihak berwenang bahwa putri mereka meninggal dalam kecelakaan itu. Keluarga Van Ryn cemas menunggu di sisi tempat tidur Laura. Setelah lima minggu

pemeriksaan intensif baru ditemukan bahwa yang berada di rumah sakit tersebut bukanlah Laura Van Ryn. Whitney Cerak masih hidup dan keluarga Cerak baru sadar ketika Laura Van Ryn pemakaman tertutup peti, dengan beberapa ribu pelayat berada dipemakaman tersebut.

Whitney Cerak masih hidup dan keluarga Cerak telah sadar terkubur Laura Van Ryn setelah pemakaman tertutup peti yang menarik beberapa ribu pelayat. Menurut pemeriksa mayat setempat, kesalahan terjadi di TKP. Barang-barang pribadi berserakan di seluruh lokasi kecelakaan dan kedua gadis memiliki raut wajah yang sama, rambut pirang, dan berat badan yang sama. Di lokasi kecelakaan, Nomor identifikasi Laura Van Ryn itu telah dikaitkan dengan orang yang diangkut ke rumah sakit. Gadis yang dirawat di rumah sakit memiliki trauma wajah yang cukup besar dan pembengkakan. Van Ryn anggota keluarga tidak dapat mengenali orang yang mereka pikir adalah Laura dan tidak menyadari nya-sampai beberapa minggu setelah kecelakaan. Mereka begitu melibatkan emosinya sehingga mereka tidak punya alasan untuk meragukan identitas gadis tersebut. Tidak ada teknik identifikasi ilmiah yang digunakan. DNA, sidik jari, atau perbandingan dental record tidak digunakan untuk memastikan identitas dari setiap orang yang terlibat dalam kecelakaan itu. Setelah kesalahan menjadi jelas, perbandingan dental record menegaskan identitas kedua gadis. The Ryn Van dan keluarga Cerak, termasuk Whitney Cerak, dibenarkan pada buku 2008 rentetan peristiwa dan dampak peristiwa tersebut di keluarga.

9.1.1 Sidik Jari Identifikasi sidik jari adalah teknik identifikasi forensik yang sering digunakan dan efisien, tetapi kadang-kadang terjadi kesulitan untuk merekam sidik jari korban postmortem dari tubuh membusuk atau terbakar. Tubuh yang tersisa yang terendam dalam air tawar dapat terurai dengan cepat, bergantung pada suhu air, dan mungkin akan menghalangi rekaman dari sidik jari postmortem. Tentunya tidak memungkinkan untuk merekam sidik jari dari decedents skeletonized. Selama sidik jari menjadi sebuah alat identifikasi yang berguna dalam kasus tertentu, orang yang bersangkutan harus mempunyai sidik jari antemortem pada berkas. Namun masih

ada segmen penting dari populasi Amerika Serikat yang tidak memiliki rekam sidik jari antemortem. Sumber menambahkan bahwa diperkirakan sekitar satu dari enam orang di negara ini memiliki catatan sidik jari pada file dalam Sistem Identifikasi Sidik Jari Otomatis Terpadu (IAFIS). Sebaliknya, lima dari setiap enam tidak memiliki sidik jari pada file. Bagi mereka analisis sidik jari individu dan perbandingan akan menjadi tidak produktif. Sidik jari postmortem dikumpulkan sebisa mungkin, namun perbandingan tergantung pada keberadaan catatan sidik jari sebelumnya.

9.1.2 Barang-barang Pribadi Barang pribadi seperti surat izin mengemudi, foto, kunci mobil, atau barang monogram seringkali menjadi petunjuk yang berguna dalam meneliti identitas orang yang meninggal ini. hal tersebut harus digunakan dengan hati-hati, bagaimanapun, dan tidak boleh menjadi penentu tunggal dalam proses mengidentifikasi. Misalnya, setelah kematian pemilik kendaraan bermotor yang terbakar, bisa ditentukan bahwa kendaraan ini terdaftar untuk orang yang sama namanya tercantum pada SIM yang ditemukan di TKP dapat menjadi petunjuk yang sangat berharga. Namun demikian, kasus-kasus yang terdokumentasi di mana kematian semacam itu telah digunakan untuk tujuan berbagai macam kecurangan. Nama pada item pakaian merupakan petunjuk tetapi tidak untuk mengidentifikasi. Setelah kasus World Trade Center pada tahun 2001, petugas pemadam kebakaran yang tewas ditemukan mengenakan mantel pemilih petugas pemadam kebakaran lainnya . Identifikasi kesalahan bisa saja dibuat dari mencoba untuk membuat identifikasi positif menggunakan barang-barang pribadi saja.

9.1.3 Tato dan Bekas Luka

Tato dan bekas luka memberikan petunjuk untuk identifikasi forensik. Guratan bisa didapat dari trauma sebelumnya atau intervensi bedah dan dapat diselidiki lebih lanjut oleh ahli patologi. Tato, jika cukup unik, dapat digunakan sebagai pengidentifikasi individu atau mungkin menunjukkan individu yang berasal dari kelompok tertentu atau geng.

9.1.4 DNA dan Bukti DNA Analisis bukti DNA untuk identifikasi telah menjadi teknik forensik yang digunakan secara luas dan dianggap oleh banyak orang sebagai standar terbaik.

Kemampuan peneliti forensik untuk mendapatkan sampel DNA antemortem bahkan setelah kematian seseorang adalah keuntungan yang berbeda untuk analisis DNA. Sebuah swab dari kerabat dekat, darah yang disimpan, atau bahan dari sikat rambut orang yang meninggal atau sikat gigi dapat memberikan materi perbandingan yang memadai. DNA profil decedents dapat dibandingkan dengan berbagai database (lihat Bab 7). Ada keterbatasan untuk semua bentuk identifikasi, dan untuk DNA keterbatasan utama adalah waktu yang dibutuhkan dan biaya yang terlibat, yang dengan cepat dapat melebihi batas yang menantang bagi pemeriksa medis anggaran koroner.Analisis DNA juga telah menjadi alat yang berharga yang digunakan dalam hubungannya dengan identifikasi analisisbitemark(lihat Bab 14). Dengan

menyediakan efisien, akurat, danidentifikasi manusia yang efektif biaya, dokter gigi forensik memainkan peran penting investigasi kematian.

9.2

History of Dental Identification Kejadian identifikasi individu dari gigi yang paling tua yang diketahui dilaporkan

oleh sejarahwan Roma, Cassius Dio.Aggripina the Younger, istri dari raja Cassius dan ibu dari Raja Nero, menyuruh orang untuk membunuh Lollia Paulina.Pada tulisannya Dio menulis dia tidak mengenali kepala wanita tersebut ketika kepala tersebut dibawa kepadanya,

dia langsung membuka mulutnya dengan kedua tangannya dan menginspeksi giginya, yang memiliki beberapa keunikan.Informasi tambahan mengenai sejarah dan perkembangan dental identification dapat ditemukan di Chapter 2. 9.3 Filosofi dan Hukum Dasar untuk Identifikasi Dental Konfirmasi identitas jenazah memiliki beberapa tujuan penting. Ketertutupan akan sebuah tragedi atau kejadian yang tak terduga akan memberikan kedamaian kepada anggota keluarga di saat berduka. Meskipun konfirmasi kematian mungkin mengerikan, namun itu akan sangat mengarahkan kemungkinan resolusi dari waktu yang sulit bagi anggota keluarga. Untuk masalah hak waris rumah, sertifikat kematian biasanya dibutuhkan.Sertifikat kematian tidak hanya dapat diisukan saja tanpa konfirmasi identitas.Pembayaran dari polis asuransi juga memerlukan verifikasi kematian.Penyebab dan cara kematian juga merupakan item yang sangat penting untuk informasi perusahaan asuransi dan keluarga korban.Kematian yang disebabkan kecelakaan atau klausa yang menghalangi pembayaran karena kematian yang disebabkan bunuh diri, peperangan, atau tindakan yang berbahaya diputuskan melalui pengadilan hukum. Pada beberapa kasus kematian, identifikasi dari korban meninggal sering mengalami kesulitan.Pada situasi ini harus diberikan perhatian yang besar untuk mengkorelasikan seluruh bagian-bagian tubuh korban meninggal dengan tepat.Identifikasi bisa memberikan hasil fragmen teridentifikasi yang fragmen tidak diketahui bisa dibandingkan. Walaupun tidak ada data DNA antemortem yang tersedia untuk korban tersebut, fragmen dengan profil DNA yang sama bisa dihubungkan. Kombinasi penggunaan identifikasi menggunakan DNA dan perbandingan gigi geligi dapat membantu memastikan bahwa semua fragmen yang memungkinkan berhubungan dapat dikembalikan ke keluarga korban untuk dilakukan

pemakaman yang layak.Lihat chapter 16 untuk informasi tambahan mengenai aspek legalitas dari forensik identifikasi gigi. 9.4. Langkah identifikasi gigi 9.4.1 Pemeriksaan Postmortem Ketahanan gigi manusia meliputi kemampuan gigi untuk bertahan dari penguraian walaupun adanya perubahan suhu. Gigi menjadi salah satu bukti dan metode untuk proses identifikasi. Mekanisme dari proses ini membandingkan bagian-bagian yang tidak diketahui dari orang-orang yang dikenal. Daya tahan dan ketahanan gigi manusia membuat proses ini mungkin dilakukan. Dokumen, dokumen, dokumen harus menjadi mantra bagi penguji bahan forensik. Berikut daftar langkah bijaksana pemeriksaan yang mencakup fotografi, radiografi gigi, rencana perawatan gigi, sebuah timodontologistforensik atauforensikgigi yang dapat membuat dental record postmortem yang akurat. Fotografi dari sebuah spesimen dapat memberikan kemampuan untuk melihat ciri khusus tanpa harus meninjau kamar mayat.Foto-foto ini harus diambil untukmemungkinkan orientasi foto-foto closeup dari struktur gigi.Foto dokumentasi ini sangat berharga dalam kasus karena dapat membuktikan, di mana penangananspesimen dapat menyebabkan degradasi lebih lanjut dari sisa-sisa jenazah yang mudah rusak. Iniyang sering terjadi pada struktur gigi yang telah menjadi keringatau carbonizeddari panas yang ekstrim. Evaluasi yang akurat dan rinci dari data postmortem akan memberikan hasil yang baik untuk dibandungkan dengan data antemortem. tidak Perhatianterhadap dan detailpada perlu untuk

pemeriksaanpostmortemmenghalangikesalahan

teridentifikasi

mengulangi langkah-langkah untuk mendapatkan data antemortem yang akurat. Dalam situasi yang berkaitan dengan specimen yang tidak siap diidentifikasi seperti struktur wajah manusia, gigi yang tertinggal dapat ditempatkan dengan bantuan radiograf

luas.fasilitas radiograf ini memperlihatkan radioopak untuk membantu menemukan sisa gigi dalam specimen atau kantung jenazah. Saat ditemukan , pemeriksa dapat terbantu dalam menemukan struktur yang dia inginkan, termasuk gigi, prostetik, dan potongan struktur maksila dan mandibula. Setelahsemua bahandentalyang adaditemukan, odontologisforensikharus

mengambilradiografigigidalam upayauntuk menyamakan dan memenuhi angulasi pada datarekam medikgigiantemortem. Ketika sumber dan

jenisradiografitidakdiketahuidalamproses ini, direkomendasikan untuk memperoleh semua serial radiografi. Rangkaianfilmharus mencakupradiografiperiapikalposterior dan anterior serta bitewing radiografi.Jikaspesimenterfragmentasi, yang diperlukan pengaturanklinis.

radiografertersebutharusmempertimbangkanpenempatanfilm danangulasikepalatabungyang biasanyadiperolehdalam

Untukkenyamanandalammenangkap gambarpemeriksajuga menemukan itu sangat membantu untukmerontgengigi maksilla danmandibula secaraterpisah dengan

proyeksibitewingradiografi.Jikapemeriksamengambilgambartetapterfragmentasi, yang harus dilakukan untuk memastikan bahwaproyeksi geometritetapdipertahankanadalah dengan menempatkanfilm atausensordigitalpada aspeklingualdarispesimen.Sekali lagi, mengikuti aturan dengan hati-hati sangatlah penting, karenapemeriksamungkin tidak memiliki kesempatan keduauntuk menyelesaikanpemeriksaanradiografi.Perlu memperhatikan setiap detailnya,dan setiapgambar yang tidakmemadaiharusdiambil kembalisampai tersedia informasiradiografiyang lengkapuntuk perbandingandataantemortem.Jikatersedia

radiografidigital, pemeriksaakan dapat mengambil ulang gambar dengan mudah karena kebutuhan untukmemprosesfilmdihilangkandangambarlangsungdapat dilihat.

Tambahanrinciantentangteknikradiografiforensik gigi dapatditemukandalam Bab10. Catatanpostmortem, baikdigitalatau tertulis, harus dicatat dalam bentuk

yangakanmembantu dalamproses perbandingan. Catatan postmortem iniharus menjadiformat yang merekamdan menampilkanfitur-fituryang relevandarigigi geligiuntukmenunjukkan kehilangan gigidanpermukaan gigi yang telah direstorasi(Tabel 9.1).

9.4.2 Antemortem Examination Ketika seorang agen investigasi menentukan bahwa identifikasi gigi geligi mungkin diperlukan, agen ini berusaha untuk mencari dan mendapatkan catatan gigi geligi.Tindakan ini, mengamankan catatan gigi antemortem, merupakan langkah penting dalam identifikasi gigi, dan kualitas dari catatan-catatan ini benar-benar tergantung pada praktek dokter gigi

yang menjaga keakuratan dari status gigi pasien mereka.Kebanyakan dokter gigi forensik menganggap bahwa rekonstruksi catatan antemortem ini merupakan langkah yang paling menantang dan memakan waktu dalam identifikasi gigi. Dokter gigi diwajibkan oleh hukum, pada hampir semua yurisdiksi, untuk menjaga rekam medik pasien mereka yang asli.Ini menempatkan praktisi kesehatan gigi pada posisi yang tidak nyaman ketika diminta untuk mengeluarkan rekam medik gigi yang asli sebagai perbandingan dan keperluan untuk identifikasi gigi.Hampir semua dokter gigi cemas dalam membantu tetapi prihatin dengan penanganan rekam medik tentang kesehatan pasien mereka yang sebenar- benarnya. Sebagai tambahan dari peraturan negara berkenaan dengan penyimpanan dokumen, sejak tahun 2003, Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA) dan yang mendampinginya yaitu Simplifikasi Administrasi (AS) menetapkan privasi dan keamanan data kesehatan, merupakan suatu informasi yang dilindungi. HIPAA dan peraturan negara lainnya yang berhubungan dengan dental memberikan pengecualian dalam hal penggunaan dokumen asli dengan tujuan untuk mengidentifikasi korban meninggal. Penyelidik harus diberikan pendidikan terlebih dahulu untuk menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku dan secara sopan meminta dokter gigi atau staf klinik gigi dapat memberikan dokumen rekam medis dental yang asli, termasuk catatan keuangan, dokumen tertulis, riwayat medis dan dental, serta semua data radiografi yang asli. Dengan kemampuan untuk memahami dental chart, duplikasi dokumen asli dapat dilakukan dengan relatif lebih mudah.Duplikasi dokumen ini bermanfaat agar salinan digital dokumen tersedia pada dental office dan investigator forensik, sehingga waktu pengerjaan di dental office tanpa dokumen asli dapat diminimalisasi.Setelah dokumen diduplikasi dan dokumen asli dikembalikan ke dental office, konsultasi melalui telefon dapat dilakukan agar dokter gigi dapat mengklarifikasi berbagai catatan dan hal-hal yang ganjil. Selama proses pengumpulan material antemortem, dokter gigi langganan juga harus ditanyakan berkaitan dengan apakah ada model gigi atau restorasi yang mungkin dapat berguna dalam proses identifikasi.

Tabel 9.1 Data Gigi Postmortem

ID# ________________ Nama Agen___________________________________________

Tanggal _________ Jenis Kelamain _________ Ras __________ Perkiraan Umur _______

Univ # 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

FDI 32 48 # 18 Kode WinID 17 Kode Primer Kode Sekunder 16 M = Mesial A = Annotation A 15 55 O = Occlusal B = Deciduous B 14 54 D = Distal C = Crown C 13 53 F = Facial E = Resin D 12 52 L = Lingual G = Gold E 11 51 I = Incisal H = Porcelain F 21 61 U = Unerupted N = Non-Precious G 22 62 V = Virgin P = Pontik H 23 63 X = Missing R = Root Canal I 24 64 J = Missing Cr MPM S = Silver Amalgam J 25 65 / = No Data T = Denture Tooth 26 Z = Temporary 27 28 38 Komentar 37 _____________________________________ 36 _____________________________________ K 35 75 _____________________________________ L 34 74 _____________________________________ M 33 73 _____________________________________ N 32 72 _____________________________________ O 31 71 _____________________________________ P 41 81 _____________________________________ Q 42 82 _____________________________________ R 43 83 _____________________________________ S 44 84 _____________________________________ _____________________________________ T 45 85 46 47 Evaluasi yang cermat pada material asli akan mempermudah pembuatan catatan status mulut

Kode

Deskripsi

pasien yang akurat pada saat kunjungan terakhir ke dokter gigi. Penting untuk meninjau semua catatan tertulis dan radiografi dan untuk memberikan perhatian terutama untuk catatan prosedural

yang terbaru, kuitansi perawatan pasien, dan radiograf. Perawatan gigi biasanya dilakukan setelah pemeriksaan radiograf dan pemeriksaan klinis terakhir. Rekaman antemortem forensik harus dicatat dalam format secara akurat menggambarkan status terakhir yang diketahui dari status dental pasien (Tabel 9.2)

Perbandingan Setelah rekaman postmortem dan antemortem selesai, proses perbandingan dapat dilaksanakan. Meskipun hal ini biasa dilakukan secara manual untuk identifikasi individu, pada peristiwa mematikan skala besar, program komputer akan sangat berguna untuk pencarian dan perbandingan rekaman antemortem dan postmortem. WinID3 adalah program komputer yang biasa digunakan di Amerika Utara yang akan membantu dokter gigi forensik atau investigasi forensik untuk menegakkan dan mempertahankan database antemortem dan postmortem. WinID dikembangkan oleh Dr. Jim McGivney sebagai perluasan dan peningkatan dari versi Windows sebelumnya program DOS-based CAPMI dikembangkan oleh Lorton et al. WinID3 mengoperasikan beberap mode untuk mencari database untuk mencocokkan data-datanya. Dalam hal ini membandingkan data antemortem atau postmortem dengan data antemortem atau postmortem yang tidak sesuai database, dengan menghasilkan pencocokan yang mungkin dan dikaitkan untuk perbandingan visual selanjutnya. Hasil pencarian ditampilkan dalam lima table yang berbeda yaitu most dental hits, least dental mismatches, most restoration hits, mostidentifier matches, dan fuzzy dental logic. Setelah memilih catatan untuk perbandingan, pemeriksa dapat melihat setiap catatan data secara spesifik dan memperlihatkan pengidentifikasi kasus, odontogram, dan fotograf/radiograf yang disertakan. WinID3 telah dipasangkandengan radiografik intraoral digital untuk memproduksi sistem yang efektif dan efisien untuk kecelakaan yang menyebabkan banyak kematian menggunakan fitur software pengelolaan gambar yang lebih canggih.

Entah perbandingan awal dibuat secara manual maupun dengan bantuan computer, catatan perbandingan visual harus dibuat oleh dokter gigi forensik. Terminologi kesimpulan dari hasil perbandingan dan proses korelasi harus mengikuti guidelines dari American Board of Forensic Odontology (ABFO). Informasi mengenai guidelines dapat didapatkan dari www.abfo.org dan pada the American Board of Forensic Odontology Diplomates Reference Manual. Dokter gigi forensik dapat mengarahkan dokter dan koroner dengan membandingkan gigi geligi korban dengan foto antemortem yang memperlihatkan giginya. Teknik ini disarankan oleh Dr. R. Souviron, yang telah lama menggunakan sesuatu yang ia namakan smiley-face photographs untuk membandingkan dengan jasad yang tidak teridentifikasi. Metode grin line menggunakan Adobe Photoshop telah dikembangkan, dievaluasi, dan dimanfaatkan. Metode ini dan kegunaanya telah dipresentasikan pada Odontology Section of the American Academy of Forensic Sciences.Metode ini tidak berdiri sendiri tetapi digunakan sebagai penghubung dengan informasi lainnya untuk membantu dokter forensik dan bagian koroner untuk identifikasi.

9.5. Metode Statistik dan Matematik Kebanyakan dokter gigi menemukan bahwa gigi setiap orang berbeda. Bahkan kembar identik sekalipun, kemiripan profil DNA tidak sama dengan gambaran fenotip. Hal ini terlihat pada fitur anatomis, termasu sidik jari dan gigi. Pemeriksa forensik telah mempertimbangkan kemungkinana matematis dari geligi seorang individu memiliki kombinasi unik gigi yang masih ada atau sudah hilang, gigi yang direstorasi atau tidak.Jumlah kemungkinan kombinasi yang berbeda pada sampling matematis tipe ini sangat besar.Satu yang paling terkenal adalah yang diselesaikan oleh Dr. Soren Keiser-Nielsen, dokter gigi forensik dari Denmark. Pada abstrak untuk paper Keiser-Nielsen memperingatkan bahwa dental

expert tidak dapat mendasari identifikasi dari jasad yang tidak dikenal pada frekuensi relatif dari kejadian tiap fitur gigi, hal ini potensial diskriminasi. Lebih baik, dia membuat evaluasi kuantitatif dan kualitatif dari kombinasi fitur yang terlibat. Ketertarikan Dr. Keiser-Nielsen diawali oleh diterimanya analisis sidik jari di pengadilan di seluruh dunia berdasarkan keakuratan dan kebenarannya. Meskipun standardnya bermacam-maca di yuridikasi yang berbeda pada saat it, kebanyakan, pada saat duabelas karakteristik sidik jari sesuai pada perbandingan antemortem dan postmortem, harus diyankinkan bahwa material didapat dari orang yang sama. Keiser-Nielsen mencari cara untu mengembangkan aplikasi parallel untuk identifikais dari gigi geligi. Scara spesifik, dia mengukur kemungkinan dua orang memiliki kombinasi gigi yang masih ada dan hilang dan juga direstorasi atau tidak. Masalah yang paling mendasar, keberadaan atau ketiadaan gigi, rumus matematikanya adalahFor the most fundamental problem, that of the presence or absence of teeth,Km,x=(M/1)( M-1/2)( M-2/3)x M-(X-1)/X, dimana biasanya M adalah gigi yang dipertimbangkan, biasanya 32, dan X adalah jumlah gigi. Kalkulasi yang sama dapat ditemukan pada fitur lain, misalnya, jumlah restorasi. Diaplikasikan terhadap gigi geligi manusia, Keiser-Nielsen mengusulkandiskriminasi yang lebih besar yang dapat terdiri menggunakan kombinasi berbagai fitur.Jika satu gigi hilang atau ada dan direstorasi atau tidak, rumusnya melibatkan kalkulasi kombinasi memungkinkan untuk gigi hilang, lalu mengalikan jumlah demi jumlah yang ditentukan dari kalkulasi jumlah kemungkinan kombinasi dari gigi yang direstorasi dan masih ada. Menggunakan contoh Keiser-Nielsen pada empat gigi hilang dari seorang dan menyisakan duapuluhdelapan gigi terestorasi, rumusnya adalah: Untuk empat gigi hilang K32,4=32x31x30x29=35,960, menunjukkan jumlah kemungkinan dari 1x2x3X4 kombinasi berbeda untuk empat gigi hilang. Untuk empat gigi direstorasi pada sisa duapuluhdelapan gigi, K32,4=28x27x26x25=20,9475, 1X2X3X4

menunjukkan jumlah yang kombinasi gigi direstorasi yang berbeda dari duapuluhdelapan gigi. Lalu dengan mengalikan keduanya, 35,960x20,9475=736,281,000, Keiser-Nielsen mengkalkulasi jumlah kemungkinan kombinasi dari seorang dengan empat gigi hilang dan empat gigi yang diestorasi adalah 736,281,000. Dengan kata lain, kemungkinan adanya dua orang memiliki empat gigi hilang yang sama dan empat gigi telah direstorasi (tidak menyertakan permukaan yang direstorasi) adalah 1 banding 736 juta, lebih dari dua kalinya jumlah penduduk yang hidup di Amerika Serikat (Juli 2008).

Tabel 9.3 dibawah berdasarkan hasil matemaitika Keiser-Nielsen

untuk kombinasi

memungkinkan dari gigi yang memperlihatkan atau tidak memperlihatkan ciri, seperti gigi yang hilang vs atau ada atau restorasi vs tidak direstorasi Dengan kata lain, apabila disana ada 32 gigi yang ada, dan x menunjukan jumlah gigi yang pernah dikestraksi atau ditambal, lalu table memberikan kemungkinan kejadian dan kemungkinan bahwa adanya duplikasi. Perhitungan ini mengasumsikan bahwa masing masing gigi memiliki kemungkinan untuk hilang atau ditambal.

Tabel 9.3 Kombinasi-Kombinasi yang Memungkinkan.Gigi yang Menunjukkan Sifat yang Menonjol atau Gigi yang tidak Menunjukkan Sifat yang Menonjol. Jumlah gigi yang meunjukkan sifat yang menonjol 1 1 2 3 32 496 4,960 Kombinasi yang memungkinkan Jumlah gigi yang tidak menunjukkan sifat yang meonjol 32 31 30 29

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

35,960 201,376 906,192 3,365,856 10,518,300 28,048,800 64,512,240 129,024,480 225,792,840 347,373,600 471,435,600 565,722,720 601,080,390 565,722,720 471,435,600 347,373,600 225,792,840 129,024,480 64,512,240 28,048,800 10,518,300 3,365,856 906,192 201,376 35,960 4,960 496 32 1

28 27 26 25 24 23 22 21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Jika pada suatu tubuh yang diperiksa didapat tujuh gigi hilang (antemortem, bukan peri atau postmortem) dan enam belas gigi ditambal, maka kemungkinan dua orang mempunyai susunan yang sama dari sifat (karakter) gigi yang ditemukan akan menjadi : K 32,7 =
( )

Dikali dengan K 32,16 =


( )

3,365,856 x 601,080,390 = 2,023,150,037,163,840

Kemudian kemungkinannya adalah 1 dalam 2x 105, ukuran tersebut lebih dari populasi dunia diperkirakan oleh Haub dengan perkiraan 106 juta. Kieser-Nielsen menyarankan mengambil analisis lebih lanjut, dengan memperhatikan perbedaan kombinasi restorasi dalam setiap permukaan dari lima permukaan yang mungkit direstorasi pada setiap gigi. Dalam bentuk lain seperti perawatan endodontik dan tipe-tipe dari material restorasi yang digunakan juga diperhatikan, jumlah kemungkina-kemungkina dari kombinasi tersebut menjadi sangat besar. Keiser-Nielsen juga mengusulkan bahwa data identifikasi forensik odontologi harus dapat dihitung, seperti analisis sidik jari, dan dokter gigi forensik harus mengikuti standar yang sama. Dia mengusulkan bahwa dua belas poin dari standar persamaan tercatat sebelum menetapkan kepastian identifikasi. Drs. Soren Keiser-Nielsen dan Riedar Sognnaes adalah praktisi berdedikasi dan visionaris.Kontribusi mereka untuk forensik odontologi cukup, dan mungkin tidak tertandingi oleh dokter gigi forensik lainnya. Dalam usaha yang tulus untuk membangun dan meningkatkan dasar ilmiah dan matematika untuk identifikasi forensik gigi, mereka membuat asumsi yang gagal dipertimbangkan secara hati-hati sifat gigi yang mereka analisa untuk kesimpulan statistik mereka. Mereka beranggapan bahwa karakteristik ini terjadi secara independen dan bahwa nilai yang

dihasilkan dapat dilipatgandakan (multiplied) untuk menghasilkan frekuansi yang diharapkan. Pada koran 2003 membahas konklusi statistik Keiser-Neilsen dan Sognnaes, Adamsmenyatakan, "jenispenilaian statistik inimenunjukkan bahwa semua dariberbagai kombinasigigi yanghilangdan ditambal terjadi secara acak dan mereka memiliki kemungkinan yang sama dalam populasi, sebuah asumsi yang tidak valid. "Dialebih lanjut menyatakan," argumenstatistikjenis inimengenai kemungkinan jumlahkombinasigigihilangdanditambal terutamaditekankan olehKeiser-Nielsen

danSognnaesuntuk tujuanforensik; sayangnya,jenisstatistikyangtidak benarditerapkan, menyesatkan, dan harus dihindari. Steadman et al. 2006 menyatakan karena karakteristik gigi setiap individual tidak sama (misalnya kemungkinan untuk memiliki restorasi pada gigi molar tidak sama dengan kemungkinan memiliki restorasi gigi kaninus), pola gigi didapat dari kehilangan gigi, tambalan, dan gigi tanpa restorasi bukanlah suatu kejadian yang acak. Jika kasusnya seperti ini, semua kemungkinan pola gigi akan berlaku dalam populasi, sebuah trend yang jelas tidak valid. Asumsi bahwa perawatan dental dan kehilangan gigi dalam mulut terjadi secara random tidaklah benar. Jika asumsi tersebut benar, maka insisivus sentral rahang atas akan hilang dengan frekuensi yang sama seperti molar pertama atau molar ketiga dan restorasi dental akan terlihat pada permukaan fasial dari gigi insisivus sesering pada permukaan oklusal gigi molar. Selain itu, restorasi interproksimal akan terlihat dengan frekuensi yang tidak dipengaruhi oleh restorasi oklusal pada gigi yang sama. Asumsi ini jelas tidak mungkin dalam kedokteran gigi klinis. Karena tidak diragukan lagi, sangat memungkinkan untuk mengembangkan analisis statistik yang menganggap semua variabel yang terlibat dalam memprediksi frekuensi aspek-aspek dental, metodenya akan sangat kompleks. Mungkin saja metode yang lebih baik sudah ditemukan. POW/MIA Accounting Command/Central Identification Laboratory, Hawaii

(JAPAC/CILHI) dikembangkan untuk mempertanggungjawabkan orang-orang Amerika yang hilang selama konflik AS di masa lalu. CILHI telah mengembangkan sebuah program untuk membantu

dalam pola penilaian kondisi gigi dan perawatannya.Program yang disebut OdontoSearch ini, dijelaskan dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Adams pada tahun 2003. Penggunaan OdontoSearch memungkinkan para peneliti untuk memasukkan pola gigi, kemudian program ini memberikan sebuah nilai frekuensi untuk pola tersebut dalam database. Program ini tersedia secara online tanpa biaya. Dalam analisis odontosearch probabilitas karakteristik gigi kejadiannya dihitung menggunakan rumus yang mirip dengan rumus Keiser-Neilsen, yaitu nCr=
( )

. Dalam rumus ini n

merupakan ukuran seluruh sample atau jumlah gigi yang diduga dan r merupakan jumlah kejadian dengan ciri-ciri yang telah dipertimbangkan. Dalam kasus dimana 28 gigi yang dipertimbangkan dan adanya 5 gigi yang hilang rumusnya murniyang menjadi
28

C5

98,280.

tidak

sepertipendekatanmatematika

ditawarkan

olehmetodesebelumnya,

datadiodontosearchmenganalisisfrekuensikejadian untuk gigi dan kesamaan perawatan gigi pada suatu populasi. Menurut CILHI, program ini bekerja dengan cara membandingkan individu dari kesaman kehilangan gigi, tambalan gigi, dan gigi dengan karies yang besar. Program ini merepresentasikan sampel pada populasi di Amerika.Metodologi dan rasio yang berada di belakang program odontosearch 2.0 ini sangat mirip dengan prosedur perbandingan DNA dari mitokondria. Dua database telah dibuat: satu mencerminkan populasi militer AS dimana data dikumpulkan dari tahun 1994-2000 dan lainnya mencerminkan penduduk sipil AS, data dikumpulkan dari tahun 1998-2004. Saat mencari database ini untuk kombinasi tertentu dari karakteristik gigi, pengguna dapat memilih salah satu atau kedua database untuk perbandingan. Program OdontoSearch online menggunakan sistem penomoran universal dan tidak mempertimbangkan molar ketiga. Database ini dan protokol pencarian mempertimbangkan dua puluh delapan gigi dewasa saja dan tidak mempertimbangkan gigi apapun yang berada distal dari molar kedua.Pencarian dapat dilakukan dengan pemilihan salah satu atau kedua database dan memasukkan kombinasi informasi gigi yang diinginkan untuk dua puluh delapan gigi. Dalam pencarian rinci informasi ini dapat mencakup kombinasi dari permukaan yang direstorasi seperti M, D, F, dan L untuk restorasi anterior, M, O, D, F, dan L untuk gigi yang direstorasi posterior, MDFL dan MODFL, masing-masing, untuk anterior

dan posterior mahkota, dan X untuk hilang dan V untuk gigi unrestored atau virgin. Jika pencarian generik yang diinginkan, R dipilih untuk gigi yang memiliki jenis restorasi apapun daripada menggunakan permukaan tertentu.Masuknya percobaan data dalam bidang ini menghasilkan bagi pengguna kemungkinan dari kombinasi spesifik dari coding yang ada dalam database yang diberikan. Untuk menerapkan teknik ini, kekuatan sebuah kecocokan dianggap sebagai fungsi dari frekuensi di mana pola gigi yang diberikan diamati dalam database referensi : , Di mana X adalah

jumlah total kecocokan pola dan N adalah ukuran sampel dari himpunan data. Jika tidak ada kecocokan yang ditemukan, X = 0, dan pola yang diamati adalah unik dalam database. Karena pola yang dipertanyakan tersebut diketahui ada pada setidaknya satu orang (Individu kasus), jumlah kecocokan (X) dan ukuran sampel (N) bertambah satu.Membalikan frekuensi ini memberikan kemungkinan rasio identifikasi.Dengan memanfaatkan nilai probabilitas yang diturunkan secara empirik ini, kecocokan bisa diukur dengan cara yang mudah dipertahankan di pengadilan hukum. 9.6 Pedoman dan Standar ABFO Pada tahun 1994, American Board of Forensic Odontology menetapkan pedoman dan standar untuk identifikasi gigi. Pedoman ini telah dipublikasikan dalam Journal of American Dental Association dan tersedia secara online di website ABFO. Pedoman memberikan informasi spesifik dan rinci, diuraikan di bawah ini: I. Pengumpulan dan pemeliharaan bukti postmortem gigi A. Sisaprosedur pemeriksaan B. Fotografi C. Reseksi rahang D. Teknik untuk diseksi /reseksi E. Catatan postmortem gigi 1. Pemeriksaan gigi 2. Deskripsi naratif dan nomenklatur 3. Teraan gigi (dental impression) 4. Radiologi gigi II. Sumber data antemortem A. Lembaga lokal B. Lembaga negara C. Lembaga Federal D. Sumber International E. Peserta Asuransi

F. Sumber-sumber lain III. Perbandingan bukti antemortem dan postmortem A. Fitur Gigi yang berguna dalam identifikasi IV. Kategori dan terminologi untuk identifikasi tubuh B. Identifikasi Positif (Positive identification) C. Kemungkinan Identifikasi (Possible identification) D. Kurangnya bukti (Insufficient evidence) E. Pengecualian/Eksklusi (Exclusion)

9.7 Kemajuan Teknologi dan Ilmiah Kemajuan dalam teknologi bidang kedokteran gigi dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktik klinis telah menyebabkan banyak perubahan dalam perawatan pasien. Hal ini termasuk komputer hardware dan software, intra oral fotografi dan videografi, radiografi digital, teknologi laser intraoral, implan gigi, porselen berkekuatan tinggi, teknologi bonding agent, perubahan berkelanjutan dalam resin estetik. Kemajuan yang sama dalam teknologi kedokteran gigi juga dapat berguna dalam identifikasi gigi. Flint dkk. Melakukan studi percobaan untuk mengetahui kemampuan program komputer untuk membandingkan gambaran radiografi gigi sebagai metode identifikasi gigi.Program ini memungkinkan perbandingan gambaran radiografi yang diambil dari proyeksi geometri yang berbeda. Di dalam studinya, gambaran radiografi yang memanjang digunakan untuk menguji kemampuan dari program untuk mengidentifikasi gambar pada individu yang sama dengan benar. Melihat aspek tersebut, gambaran radiografi klinis dari pasien digunakan untuk menguji lebih jauh kemampuan indentifikasi gambaran radiografi dari individu yang sama. Dengan studi tersebut, para penguji menemukan perbedaan tingkat ambang batas dari program tersbut untuk mengidentifikasi gambaran radiografi dengan benar pada pasien yang sama ketika mengevaluasi area-area anatomi berbeda di dalam mulut.Penulis menunjukkan kedua metode perbandingan gambar intraoral ini objektif dan bisa diandalkan.

Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya di bab ini, terdapat permintaan yang sangat besar untuk restorasi estetik pada lingkungan dental belakangan ini. Penempatan sering restorasi resin estetik pada gigi anterior dan posterior yang lebih lanjut dapat mempersulit kemampuan untuk membuat identifikasi dental positif karena kemungkinan pemeriksa forensik tidak dapat mengidentifikasi restorasi resin secara klinis maupun secara radiografi. Digunakanight-induced fluorescence (QLF) dalamidentifikasiresinkompositdentalpada gigi yangdiekstraksi.Selanjutnya mereka meneliti beberapakesulitan yang dihadapidalampemeriksaan post mortem, termasuk pewarnaan pada restorasi gigi.Gigi yang sebelumnya sudah di ekstraksi atau sudah di restorasi dapat dimanfaatkan.Restorasi resinditempatkan disetengah darispesimengigi, sementara

gigilainnyatetaptidak direstorasi.Foto dan gambar digitalQLFdiambildarispesimen baik padakondisi basah atau kering.Pemeriksagigi tersebutdiminta untukmengevaluasigambar untukmenentukan apakahgigitersebut sudah direstorasi atau belum.Hasilpenelitian menunjukkanpeningkatan yang signifikan dalamkemampuanpemeriksauntuk mengidentifikasipermukaan restorasiketika metode QLFdikembangkan. Hermansonetal. telah menunjukkankegunaandarisinar lightdarispektrumUVadalah metode

UVdalamvisualisasiresingigi.Evaluasimenggunakanvisible kualitatifyang dapat digunakanuntuk

melokalisasitambalanresinestetikaataupitdanfissure

sealantsyang mungkintidak terdeteksipada pemeriksaanklinis. Bushetal. menyelidikikemampuan untukmengidentifikasirestoratif resingigi secara

spesifikdenganformulasimereka.Formulasiprodusen resin gigiberbedasehubungan dengan ukuran partikelfillerdankomposisi unsur.Melaluimikroskop elektronscanningdan dispersif

energispektroskopi x-ray, studi inimenunjukkanbahwamake upbahanresingigiberpotensi sebagai bantuan dalamkasusidentifikasigigi.Dengan mengevaluasi resin dental, maka investigator dapat menentukan walaupun dalam keadaan suhu panas yang ekstrim, komposisi dari elemen tersebut relatif tidak berubah.Data dari studi ini digunakan untuk menginisiasi pembuatan database yang

digunakan untuk identifikasi restorasi resin pada gigi melalui analisis elemen pada restorasi di gigi. Para peneliti yang sama mengadakan studi tambahan untuk menunjukkan kegunaan dari identifikasi resin dental dan pembuatan database identifikasi resin dental menggunakan xray fluorosence (XRF) portable.Penelitian ini menggunakan lagi evaluasi komposisi unsur dari resin restoratif gigi dan kemampuan mereka untuk menahan kondisi panas yang tinggi. menggunakan XRF, para penguji memeriksa resin yang ditempatkan di mayat baik sebelum dan sesudah penempatan mayat di krematorium. dalam kedua situasi penelitian menunjukkan kemampuan untuk mengidentifikasi resin yang berbeda sesuai dengan mereknya. Penelitian ini lebih lanjut memperkuat kegunaan ilmu gigi forensik dalam kemampuannya untuk membantu dalam identifikasi tetap bahkan setelah terpapar kondisi ekstrim. Jenis pemeriksaan dapat diharapkan menjadi lebih penting dan lebih berguna sebagai penempatan estetik resin terus berkembang.jika dentits estetika melakukan pekerjaan mereka dengan baik. deteksi visual dan radiografi bahan-bahan dapat menyajikan sebuah tantangan untuk dokter gigi forensik. Bahan gigi lain yang umumnya tidak dianggap melampaui penampilan radiografi dalam pemeriksaan postmortem gigi adalah bahan pengisi saluran akar. Bonavilla et al. meneliti kegunaan dari jenis bahan dalam identifikasi menggunakan mikroskop elektron scanning dan energi-dispersif x-ray spektroskopi (SEM / EDS), seperti yang tercantum dalam studi resin awal di atas. Penelitian ini melaporkan bahwa 40 juta tambalan endodontik selesai di Amerika Serikat setiap tahunnya. Hal ini memberikan kemungkinan besar yang postmortem examina-tions akan menghasilkan penemuan jenis perawatan gigi sebelumnya. Dalam cara yang sama seperti penelitian sebelumnya, bahan-bahan dievaluasi baik pra-dan postcremation. Ada kemungkinan yang muncul pada kelompok penelitian ini mendapatkan kecenderungan membakar barang, tetapi penelitian ini memiliki penerapan yang bermanfaat dan

praktiknya.Identifikasi dental yang paling sulit adalah apabila melibatkan bagian yang telah terbakar, dan pada kasus yang ekstrim, kremasi. Penelitian mencatat bahwa bahan pengisi endodontic, gutta percha, silver points, root canal sealer, dan endodontic files dapat didentifikasi dengan pencahayaan atau temperature yang tinggi hingga komposisi elemennya teranalisis. Pembelajaran awal ini mengizinkan pengembangan database dari dental resin.Langkah selanjutnya adalah untuk mengembangkan sebuah maksud dimana analisis elemen dan determinasi label dapat ditentukan di lapangan/ lokasi dengan portable unit.Penelitian ini mengombinasikan antara penggunaan scanning electron microscopy and energy-dispersive x-ray spectroscopy (SEM/EDS) di laboratorium dengan perangkat lunak Spectral Library Identification and Classification Explorer (SLICE). SLICE adalah aplikasi yang menyimpan, memeriksa, dan membandingkan x-ray spectra dari EDS. Blind test dilakukan pada pemeriksaan dental resin dalam usaha menentukan mutu dari resin tersebut. Penerapan teknologi pada aplikasi dental ini belum diketahui secara pasti tapi terbukti sukses setelah pembuatan dental resin database untuk tipe dental material ini.Penelitian jenis ini dilanjutkan untuk memperluas kemungkinan dalam kontribusi yang dapat dibuat dalam investigasi yang melibatkan sisa-sisa gigi. Radiografi tiga dimensi (3D) di kedokteran gigi penggunaannya telah meningkat sejak dipublikasikan pertama kalinya pada Forensic Dentistry edisi pertama.Penggunaan radiografi 3D memiliki aplikasi yang potensial pada odontology forensic.Kemajuan di teknologi computer telah membawa kita ke perkembangan hardware dan software yang dapat membuat model 3D dari objek yang telah dipindai.Objek-objek tersebut bisa berbentuk sebuah gigi, atau beberapa gigi, atau bahkan satu model dental penuh.Suatu pemindai yang dikembangkan ole 3M, Lava Chairside Oral Scanner dan sistem foto intraoral lainnya dalam tipe ini sudah digunakan untuk membuat model 3D yang akurat untuk digunakan sebagain fabrikasi tidak langsung dari protesa dental cekat.Tidaklah sulit untuk memimpikan bahwa komponen yang sama atau turunan nya dapat digunakan untuk membuat

pengamatan 3D dari kasus postmortem untuk membandingkan dengan pengamatan 3D antomortem yang terarsipkan, menuju identifikasi dental positif. Teknologi yang sama ini bisa menjadi berguna untuk analisis bekas gigitan (lihat bab 14). Keuntungan ini dan lainnya dalam teknologi denral dan forensik digabungkn dengan praktek klinik optimal yang menekankan pencatatan yang cermat, termasuk mencatat material spesifik dental yang digunakan untuk kebutuhan pasien, akan menjadi alat yang berguna bagi dokter gigi forensik, memfasilitasi identifikasi dan kembalinya yang tercinta kepada keluarganya.

9.8. 10 Tips Dan Hal Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Identifikasi Gigi 1. Anda tidak dapat membongkar tambalan. Disini mungkin terlihat, jika dalam suatu kasus pasca kematian gigi tidak memiliki tambalan, semua catatan pada data sebelum kematian menunjukan restorasi pada gigi yang sama dapat dieleminasi. Mungkin ada tambalan yang diberikan setelah data antemorten terbaru, namun dapat dilihat dari gigi lawan yang tidak kunjung sembuh. Harus dipertimbangkan apabila terjadi kesalahan dalam peminjaman data sebelum kematian. 2. Gigidiekstraksitidak bahwagigihilangdan bisatumbuh dalam kembali. Jikaantemortemradiograf gigi nya menunjukkan masih ada,

postmortemradiograf

dalamodontologistforensikdapat mengecualikanpostmortemrecord. 3. Sebuahtubuh tanpacatatangigiantemortemtidak dapatdiidentifikasi olehsarana dental. Seperti dalamsemua metodeidentifikasi, informasi postmortemharusdibandingkan

denganinformasiantemortemdari seorang individu yang telah dikenal.Tidak semuamayat yang tak dikenalpada akhirnyaakan diidentifikasi. 4. Rekam antemortem tanpa tubuh sama dengan tidak ada identitas. Ratusan rekam gigi ada pada database orang hilang, termasuk database NCIC di Washington DC. Meskipun spesifikasi tubuh dari individu tertentu ditemukan dan data dapat dibandungkan, identifikasi tidak dapat dilakukan.

5. Kualitas dari data gigi antemortem adalah bagian penting untuk identifikasi. Selama catatan tersebut dinuat oleh manusia, kesalah pasti mungkin terjadi. Dr. Jim McGivney, pencipta WinID, mencirikan kesalahan yang sering terjadi seperti flips, flops, dan slides. Flips sering terjadi jika dokter gigi atau perawat salah dalam melakukan pencatatan sehingga yang tercatat pada gigi kontralateralnya ataupun gigi lain pada lengkung gigi tersebut. Flops terjadi jika permukaan restorasi tertukar, misal MO menjadi DO. Slides terjadi jika suatu gigi telah dicabut dan gigi sebelahnya mengalami mesial drifting. Dengan meningkatnya penggunaan radiografi digital telah menurunkan insidensi kehilangan foto radigrafi. Pada radiografi digital juga langsung mencatat tanggal pengambilan foto pada setipa file. Data ini langsung tercatat pada gambarannya. Hal ini mendorong dokter gigi untuk melakukan pencatatan yang lengkap dan akurat sehingga dapat digunakan untuk identifkasi serta melindungi dikter gigi pada tindakan legal yang telah dilakukan. 6. Semakin tua data antemortem, semakin berpotensi menyebabkan inkonsistensi. Ketika memeriksa data antemortem radiografi pada pasien yang sedang melakukan perawatan sementara, dokter gigi forensik harus ingat, mungkin perawatan tambahan telah selesai dilakukan.Mengabaikan kemungkinan itu dapat menyebabkan perbedaan data yang ada tersebut, namun sebetulnya dapat dijelaskan. Maka dari itu, setiap prosedur praktik harus dicatat untuk medapatkan data perawatan pasien yang terakhir. 7. Kemajuan ilmu pengetahuan dental material telah merubah metodologi identifikasi gigi. Kemajuan teknologi di bidang dental resin seiring dengan peningkatan restorasi estetik telah menyulitkan beberapa perbandingan forensik. Penggunaan amalgam telah digantikan dengan peninggatan pemakaian berbagai variasi komposit resin. Teknik dental, termasuk microdentistry dan pemakaian resin yang mengalir, telah membuat pemeriksaan postmortem menjadi lebih sulit. Gambaran radiologi dari variasi dental resin dan beberapa jenis lainnya cenderung radiolusen. Gambaran radiolusen ini menyerupai gambaran kerusakan gigi pada radiografi. Seorang dokter

gigi forensik harus bisa melihat dengan lebih baik restorasi pada postmortem dibandingkan dengan pemeriksaan sebelunya, bahkan ketika terjadi perubahan warna gigi pada geligi anterior. Teknologi yang dapat membantu identifikasi komposit resin telah dibahas di topic sebelumnya. 8. Sesuatu yang tidak selalu mereka perlihatkan. Permukaan restorasi gigi mungkin terlihat lebih luas di pemeriksaan postmortem daripada yang tercatat dalam data antemortem untuk gigi tertentu. Dokter gigi forensik yang menganggap ini sebagai ketidakcocokkan dapat membuat kesalahan lupa bahwa tambahan perawatan gigi untuk gigi itu bisa muncul setelah catatan antemortem terakhir masuk. Beberapa permukaan restorasi amalgam mungkin telah diganti dengan mahkota penuh oleh dokter gigi yang berbeda. Ini adalah umum terjadi dalam kasus forensik. Kejadian-kejadian ini dapat diberi label sebagai ketidakcocokan yang dapat dijelaskan atau progresi logis dan tidak perlu alasan untuk mengecualikan catatan dalam proses perbandingan jika informasi lain menunjukkan dua catatan individu yang sama.Ketika memeriksa radiografi antemortem, perawatan harus diambil untuk memastikan bahwa sinar-x berorientasi dengan benar. Jika sinar-x antemortem duplikat dan tidak diberi label sebagai L atau R dan lokasi film tidak dapat ditentukan, maka dokter gigi forensik harus meminta informasi tambahan dari dokter yang mengirimkan, paling sering film asli. Film asli harus selalu diperoleh dan diperiksa karena duplikat film sangat sering keliru berorientasi. (Lihat BAB 10) 9. Satu pertentangan yang tidak dapat dijelaskan lebih penting dibandingkan banyaknya konsistensi. Bukti mengenai gigi sangat bermanfaat untuk keduanya baik untuk identifikasi dan eksklusi. Bahkan jika lima restorasi konsisten antara data antemortem dan data postmortem, tingkat keraguan yang signifikan harus tinggi jika satu hal pengecualian yang menjadi catatan tidak dapat dijelaskan. Sebagai contoh, jika data antemortem menunjukkan suatu mahkota penuh pada gigi tertentu dan data postmortem menunjukkan suatu occlusal amalgam pada gigi yang sama, hasil dari perbandingan termasuk eksklusi. Satu pertentangan yang tidak dapat dijelaskan cenderung termasuk ke eksklusi.

10. Anda hanya bisa mendapatkan satu kesempatan untuk mendapatkan informasi yang akurat dari data postmortem gigi. Perhatian dalam pemeriksaan detail postmortem adalah wajib. Setelah tubuh terlepas, mungkin dimakamkan atau dikremasi sebelum ditemukan data record, tidak akan memadai hanya akan mendapatkan gambaran standar. Menggali untuk memperbaiki informasi yang seharusnya diperoleh sangat membingungkan. Mencoba untuk mendapatkan informasi yang sama pun dari kremasi mungkin mustahil.

9.9.Kesimpulan Pemeriksaan dental postmortem kadang-kadang tidak sesuai tetapi selalu butuh latihan. Rekonstruksi yang tepat dari data antemortem sama pentingnya dalam proses identifikasi. Dengan memperhatikan detail, identifikasi gigi dapat dilakukan seluruhnya dalam jangka waktu pendek dan pada harga yang masuk akal ketika dibandingkan dengan identifikasi yang lainnya. Dalam beberapa instansi, forensik dentistry dapat menemukan kegunaannya sebagai teknologi baru yang dapat dipertimbangkan dalam proses perbandingan. Dengan perkembangan ilmu identifikasi yang lain, metode yang baru dapat menjadi metode yang lebih istimewa. Usaha yang kooperatif dari tim identifikasi dapat melakukan proses identifikasi secara efisien dan tepat.