Anda di halaman 1dari 8

I.

Judul : PENENTUAN KOEFISIEN DISTRIBUSI

II. Tujuan Percobaan Menentukan koefisien distribusi zat terlarut (NaOH) dalam system n-Heksan Air

berdasarkan ekstraksi pelarut.

III. Tinjauan Pustaka

Ekstraksi campuran-campuran merupakan suatu teknik dimana suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang pada hakikatnya tidak tercampurkan dengan yang pertama, dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fasa tidak tercampurkan a dan b, hukum distribusi (atau partisi) Nernst menyatakan bahwa asal keadaan molekulnya sama dalam kedua cairan dan temperatur adalah konstan:

KD = Dimana KD adalah sebuah tetapan, yang dikenal sebagai koefisien distribusi (atau koefisien partisi) (Basset, 1994). Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak dapat campur, maka pada suatu temperatur yang konstan untuk setiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi yang konstan antara kedua pelarut itu, dan angka banding distribusi ini tidak tergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur (Anonim, 2011). Hukum ini dalam bentuk yang sederhana, tidak berlaku bila spesi yang didistribusikan itu mengalami disosiasi atau asosiasi dalam salah satu fasa tersebut. Pada penerapan praktis ekstraksi pelarut ini, terutama kalau kita perhatikan fraksi zat terlarut total dalam fasa yang satu atau yang lainnya, tidak peduli bagaimanapun cara-cara disosiasi, asosiasi atau interaksinya dengan spesi-spesi lain yang terlarut. Untuk memudahkan, diperkenalkan istilah angka banding distribusi D (atau koefisien ekstraksi E). D = Dimana lambang CA menyatakan konsentrasi A dalam semua bentuknya seperti yang ditetapkan secara analitis (Basset, 1994). Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak dapat campur menawarkan banyak kemungkinan yang menarik untuk pemisahan analitis. Bila suatu zat terlarut membagi diri antara

dua cairan yang tidak dapat campur, ada suatu hubungan yang pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam dua fasa pada kesetimbangan. Suatu zat terlarut akan membagi dirinya antara dua zairan yang tidak dapat campur. Sedemikian rupa sehingga angka banding konsentrasai pada kesetimbangan adalah konstanta pada temperatur tertentu (Underwood, 1998). Ekstraksi meliputi distribusi zat terlarut diantara dua pelarut yang tidak dapat campur. Pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CHCl3, eter atau pentana. Garam anorganik, asam-asam dan basa-basa yang dapat larut dalam air bisa dipisahkan dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari pelarut yang kurang polar. Ekstraksi lebih efisien bila

dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Anonim, 2011). Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi bertahap, ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah ini tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan (Hadisoebroto, 1990). Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut sedikit-sedikit. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut:

Wn = ( Dimana :

)n . W

Wn = W gram zat terlarut yang tersisa setelah n kali ekstraksi W = W gram zat terlarut mula-mula

V

= V ml larutan fasa 1

D

= angka banding distribusi

S = S ml pelarut lain fasa 2 yang tidak saling bercampur dengan fasa 1 n = n kali ekstraksi Ini memperlihatkan bahwa ekstraksi sempurna jika S kecil dan n besar. Jadi hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif besar dan jumlah pelarut yang kecil (Hadisoebroto, 1990).

IV.

Alat dan Bahan

3.1

Alat

1.

Labu takar 25 mL

2.

Corong pisah 50 mL

3.

Buret 50 mL

4.

Erlenmeyer 100 mL

5.

Corong kaca

6.

Statif dan klem

7.

Gelas ukur 25 mL

8.

Botol semprot

9.

Gelas kimia 50 mL

1.

Heksan

2.

NaOH padat

3.

Indicator pp

4.

Larutan HCl 0,1 N

5.

akuades

V.

Prosedur Kerja

1.

Membuat 50 mL larutan NaOH 0,1 N (dari NaOH padat)

2.

Mengambil larutan NaOH 0,1 N sebanyak 12,5 mL, memasukkan ke dalam corong

pemisah 150 mL.

3. Menambahkan 12,5 mL larutan n-Heksan, mengocok kuat dan membiarkan cairan

terpisah

4. Setelah kedua cairan terpisah, membiarkan selama 20-30 menit

5. Memisahkan kembali kedua cairan dengan cara membuka cepat corong pemisah.

6. Mengambil fraksi NaOH dalam air, menitrasi dengan HCl 0,1 N dengan menggunakan

indikator pp. menghitung konsentrasi NaOH yang terdapat dalam larutan (a).

7. Mengambil 2,5 mL NaOH 0,1 N, menitrasi dengan HCl 0,1 N, menghitung konsentrasi

NaOH dalam larutan awal (b)

8.

Menentukan konsentrasi koefisien distribusi (Kd) berdasarkan :

Kd =

atau

Kd =

VI.

Hasil Pengamatan

N V K
N
V
K

o

o

e

.

l

t

u

e

m

r

a

T

n

it

g

a

a

r

n

(

H

C

l)

1

2

N

.

m

a

L

O

2

H

.

1

,

0

7

,

m

1

L

N

d

a

l

a

m

l

a

r

u

t

a

n

a

w

a

l

(

p

e

m

b

a

n

d

i

n

g

)

N

a

O

H

d

a

l

a

m

a

ir

VII.

Analisa Data

v Konsentrasi awal NaOH

N. NaOH x V. NaOH = N HCl x V HCl

v

N

N NaOH =

= 0,08 N (b)

Konsentrasi NaOH dalam air

NaOH x V NaOH = N HCl x V HCl

N NaOH =

= = 0,068 N (a)

v

= N NaOH awal N NaOH dalam air =0,08 N 0,068 N = -0,012 N

Konsentrasi NaOH dalam fasa organic (n-Heksan)

Kd =

atau

Kd =

=

=

= 0,1765

= 0,1765

VIII. Pembahasan Berdasarkan hokum Nernts, jika suatu larutan (dalam air) mengandung zat organic A yang tidak bercampur dengan air, maka zat A akan terdistribusi baik ke dalam lapisan air (fase air) dan lapisan organic (fase organic). Dimana pada saat terjadi kesetimbangan, perbandingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fase itu dinyatakan sebagai nilai koefisien distribusi (KD) dengan perbandingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua fase organic-air tersebut adalah pada temperature tetap. Adapun perlakuan dari percobaan ini yaitu pertama, mengambil larutan NaOH 0,1 N sebanyak 12,5 mL lalu memasukkan ke dalam corong pisah dan kemudian menambahkan dengan 12,5 mL larutan heksan serta mengocoknya dengan kuat hingga cairan terpisah. Tujuan dari pengocokkan ini yaitu agar kedua cairan tersebut dapat bercampur secara sempurna sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan cairan tersebut. Setelah terpisah, larutan tersebut didiamkan selama 25 menit agar larutan membentuk dua lapisan. Terbentuknya dua lapisan pada larutan dikarenakan adanya perbedaan berat jenis dari kedua pelarut yang digunakan. Dimana pada lapisan bagian bawah merupakan larutan NaOH dalam air, sedangkan untuk lapisan bagian atas merupakan larutan n-heksan. Menurut Anonim (2011), menyatakan bahwa larutan heksan memiliki berat jenis yaitu 0,68 gr/cm3 lebih

rendah dibandingkan dengan berat jenis air yaitu 1 gr/cm3 sehingga larutan n-heksan berada padalapisan bagian atas dan larutan NaOH dalam air berada pada lapisan bagian bawah. Selanjutnya yaitu menitrasi larutan NaOH dengan menggunakan larutan HCl 0,1 N yang sebelumnya telah ditetesi larutan indicator pp. titrasi ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar massa total NaOH 0,1 N yang akan terdistribusi pada pelarut organic dan air. Adapun konsentrasi NaOH yang terdapat dalam air yaitu 0,068 N. Perlakuan berikutnya yaitu menitrasi larutan NaOH dalam fase air dengan menggunakan HCl yang bertujuan untuk mengetahui konsentrasi NaOH dalam larutan awal. Adapun konsentrasi NaOH awal yang diperoleh yaitu 0,08 N. Berdasarkan konsentrasi NaOH awal dan konsentrasi NaOH dalam fase air dapat diketahui nilai koefisien distribusi sebesar 0,1765. Menurut Anonim (2011) NaOH lebih banyak terdistribusi dalam air dibandingkan dalam larutan n-heksan. Hal ini dikarenakan harga koefisien distribusinya lebih kecil (<1). Adapun perbedaan volume HCl yang digunakan dalam proses menitrasi yaitu disebabkan karena NaOH pada fase air suadah terdistribusi dengan larutan n-heksan, sehingga untuk menetralkan NaOH tersebut maka diperlukan HCl yang lebih banyak lagi.

IX.

Penutup

9.1

Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1.

Koefisien distribusi merupakan perbandingan konsentrasi solute didalam dua pelarut

yang berbeda pada suhu tetap.

2. Koefisien distribusi NaOH yang diperoleh pada saat percobaan yaitu 0,1765. Hal ini

menunjukkan bahwa NaOH lebih banyk terdistribusi dalam fase air dibandingkan dalam n- heksana karena koefisien distribusinya lebih kecil (<1).

9.2 Saran

Diharapkan untuk lebih saling berkerja sama lagi, agar percobaan ini dapat berjalan dengan lancar.

Daftar pustaka

Anonim, 2011, EKSTRAKSI , http://annisanfushie.wordpress.com diakses pada tanggal 18 April 2012. Basset, J. dkk., 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hadisoebroto, D.N, 1990. Dasar-Dasar Analisis dan Pemisahan Kimia , Bandung, ITB.

Underwood, A. L dan Day A. R., 1998, Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.