Anda di halaman 1dari 6

LARINGITIS AKUT PADA ANAK

Oleh: Mulki Rakhmawati Rak !a" Nilla"##a a $% G99121030 G9912103&

Pem'im'i"# ( % Su(a ma") S*% T+T,KL-K.

K/PANIT/RAAN KLINIK ILMU P/N0AKIT T+T,KL 1AKULTAS K/DOKT/RAN UNS2RSUD DR% MO/$ARDI SURAKARTA 2013

La i"#iti3 Akut Pa(a A"ak


4 5u* 6i al De7i"i3i Sindrom croup merupakan kumpulan penyakit dengan keterkaitan anatomi dan etiologi yang bervariasi, dan secara klinis dicirikan dengan gejala, sebagai berikut : serak, batuk kering, stridor, dan sesak dengan derajat yang berbeda-beda. Ketika etiologi sindrom ini berasal dari infeksi virus, maka sindrom ini dikenal sebagai croup viral. Etiologi dari sindrom ini adalah trakeitis bakterial dan difteri. Penyakit ini dapat dikelompokkan berdasarkan derajat terkenanya saluran pernafasan akibat infeksi virus. ila penyakit ini hanya berbatas pada laring dan gejala yang paling tampak adalah serak dan batuk kering, penyakit ini disebut laryngitis. !ika inflamasi pada laring dan trakea, penyakit ini disebut laringotrakeitis. "aringotrakeitis inilah yang memiliki karaketristik sindrom croup. !ika penyakit inni juga menyerang bronkiolus, penyakit ini disebut laringotrakeobronkitis. #al ini akan menambah $aktu ekspirasi dan mengi. /ti5l5#i (a" /*i(emi5l5#i "aringotrakeobronkitis menjadi penyebab tersering penyakit obstruksi pernafasan atas pada anak. Penyakit ini menimbulkan stridor %&'( kasus stridor) dan menyebabkan *+( kasus penyakit saluran pernafasan pada anak. Etiologi croup viral masih belum diketahui pasti. ,ugaan agen penyebab adalah virus parainfluen-a %tipe *, ., /), influen-a 0 dan , dan virus sinsitial respiratori %1S2). 3roup viral terjadi pada anak berusia *-4 tahun dengan puncak insidensi berusia *5 bulan. "aki-laki lebih sering disbanding $anita. ,alam rentang usia ini, anak-anak akan lebih sering mengalami croup setelah anak-anak terinfeksi agen-agen infeksius tersebut. #al ini karena telah timbul serangan virus saluran pernafasan. Pada orang de$asa, imunitas local mencegah infeksi hanya sampai nasofaring. 6alaupun kasus penyakit ini lebih sering dialami pada musim panas dan dingin, croup viral dapat terjadi kapan pun sepanjang tahun. Pat5#e"e3i3 7nfeksi virus terjadi di nasofaring kemudian menyebar menembus epitel respiratorik dari laring, trakea, dan percabangan bronkoalveolar. Pemeriksaan fisik akan didapati temuan yang berbeda sesuai dengan derajat lesi epitelium respiratorik yang terjadi. 8emuan yang didapati adalah inflamasi difusa, eritem dan edema dinding trakea, serta kelainan gerak pita suara. 9ukosa daerah subglotik bersifat sedikit adheren sehingga dapat menimbulkan bentukan: formasi edema yang signifikan dan berpotensi mengganggu saluran pernafasan. Pada anak ; * tahun, edema setebal *mm pada daerah subglotis dapat mengurangi diameter trakea sebanyak +'(.

0liran udara secara signifikan berkurang akibat edema daerah subglotis dari trakea %bagian tersempit dari saluran pernafasan atas anak-anak). #al inilah yang menciptakan bunyi stridor inspiratorik. Gam'a a" Kli"i3 <ejala pertama pada penyakit ini adalah rinorea jernih, faringitis, batuk ringan, dan demam summer-sumer. <ejala pada saluran pernafsan atas terjadi *.-=5 jam sesudahnya. <ejala sindrom croup ini dicirikan dengan tanda gagal nafas progresif dan peningkatan suhu tubuh. <ejala-gejala ini membaik dalam /-> hari. Pada kasus yang lebih berat, terjadi peningkatan frekuensi jantung dan respirasi, retraksi klavikula, sternal, dan diafragma, nafas cping hidung, sianosis, agitasi psikomotorik, dan bahkan sulit tidur. 0nak-anak yang pernah menjalani manipulasi saluran pernafasan atas %pembedahan atau intubasi) atau pun penyakit local membutuhkan pendekatan diagnosis yang lebih hati-hati dan cermat. Sebagian besar anak-anak yang mengalami laringotrakeitis menderita gejala ringan yang tidak sampai menimbulkan obstruksi saluran pernafasan progresif. 8erdapat beberapa system penilaian guna mengevaluasi tingkat keparahan obstruksi jalan nafas. System penilaian ini didasarkan pada temuan klinis yang meliputi tingkat kesadaran, sianosis, stridor, keluhan pernafasan, dan retraksi %8abel *). 0nak yang berusia di ba$ah 4 tahun, dengan stridor saat beristirahat atau perubahan tingkat kesadaran, dan yang mengalami hiperkapnia merupakan risiko potensial untuk mengalami gagal nafas. Pulse o?ymetry harus dilakukan pada semua anak yang mengalami stridor. 6alaupun demikian, saturasi oksigen normal dapat menimbulkan interpretasi palsu akan adanya risiko rendah timbulnya penyakit ini. #ipoksia secara uum mengindikasikan bah$a penyakit sudah berada di tahap lanjutan dan terjadi gagal nafas iminen. 8anda Stridor 1etraksi @dara masuk 6arna 8abel *. Penilaian Klinis untuk Pendekatan <ejala Stridor ' * . / 8idak ada 0gitasi 1ingan saat erat istirahat istirahat 8idak ada 1ingan Sedang erat Aormal Aormal 9enurun Sangat menurun Aormal Aormal Sianotik saat Sianotik agitasi istirahat Aormal 0gitasi dengan 0gitasi "etargi rangsangan

saat

saat

"evel kesadaran 7nterpretasi : Ailai total ;4 B ringan, >-5 B sedang, C5 berat

Dia#"53i3 ,iagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis. 8emuan sederhana pada foto Dray servikal dengan penyempitan subglotis trakea %tanda ujung pensil atau menara gereja) tidak memiliki arti bermakna. #al ini dikarenakan gambaran tersebut dapat terliht pada anak sehat dan menjadi variasi penyempitan anatomis dari daerah subglotis. "ebih lanjut lagi, +'( anak dengan croup viral memiliki gambaran D-ray normal. Pemeriksaan radiology berguna dalam menentukan dan mendiagnosis sindrom croup akibat etiologi lainnya. 3ontohnya pada aspirasi benda asing ataupun kasus croup dengan outcome atipikal. 8eknik isolasi virus penyebab secara imunologis berguna dalam mencari etiologi penyakit ini atau protocol klinis. Pemeriksaan radiologis tidak termasuk ke dalam asesmen laboratorium a$al. Pe"#5'ata" 8ujuan pengobatan penyakit ini adalah menjaga patensi saluran pernafasan. Ne'uli3a3i Penggunaan nebulisasi dengan salin atau udara yang kelembabannya dapat diatur, $alaupun menjadi sebuah kebiasaan tidak terbukti efikasinya. Aebulisasi harus dihentikan ketika anak lebih agitasi akibat dari tindakan ini. #al ini disebabkan karena turbulensi di dalam saluran pernafasan tidak membuat nyaman. 0nak-anak harus diposisikan dalam lingkungan yang nyaman, di pangkuan ibu saat dilakukan nebulisasi. Aebulisasi harus diberikan saat terjadi hipoksemia %sebagai sumber oksigen'. K5 tik53te 5i( 8erdapat banyak bukti akan perbaikan klinis ketika diberikan kortikosteroid. Pemberian ini akan mengurangi tingkat keparahan penyakit, kebutuhan mondok, mengurangi $aktu yang harus dihabiskan di 7<,, mengurangi kebutuhan 73@, dan kebutuhan yang berhubungan dengan obat lain %epinefrin). ,e?amethasone telah dipelajari sebagai glukokortikoid potensial dan memiliki $aktu kerja yang panjang %lebih dari =5 jam). Ebat ini dapat diberikan oral atau parenteral, dosis tunggal dengan rentang '.*+ F '.4 mg:kg . udesonide inhalasi mengurangi keparahan gejala croup ketika dibandingkan dengan plasebo, dan mirip dengan de?amethasone pada kasus croup ringan sampai sedang pada .mg dosis inhalasi. /*i"e7 i" Ebat ini bekerja dengan menstimulasi reseptor alfa adrenergic, lalu terjadi konstriksi kapiler arteri. Epinefrin inhalasi memiliki efek yang dramatis pada gejala croup, mengurangi stridor dan gejala gagal nafas. Karena efek kerja obat singkat %. jam), pasien bias kembali pada ketidaknyamanan pernafasan ketika kerja obat habis. Kriteria terlepas obat ini, termasuk : tidak adanya stridor saat istirahat, aliran udara masuk normal, $arna normal, kesadaran normal, dan penggunaan de?amethasone sebelumnya. 7ndikasi epinefrin, termasuk G croup sedang sampai berat dan anak yang telah mengalami manipulasi air$ay sebelumnya. ,osis inhalasinya adalah +ml oplosan isomer epinefrin % *:*''')

I"tu'a3i Sebagian besar anak tidak membutuhkan intubasi setelah pemakaian de?amethasone dan epinefrin. 9anipulasi air$ay ini sulit karena air$aynya sulitG ada kesulitan anatomis pada grup usia ini, agitasi anak-anak, dan risiko obstruksi total air$ay. 7ni kesepakatan umum, $alaupun prosedur ini harus dilaksanakan bila pasien mengalami obstruksi air$ay imminen, tapi harus pada lingkungan dan protokol yang terkontrol dengan baik , dilakukan oleh seorang professional. ,iameter kanul yang digunakan harus '.+mm lebih kecil dari ukuran kanul untuk anak seusianya. M5"(5k 9emutuskan untuk mondok atau tidaknya anak dengan croup adalah pekerjaan yang sulit. Pada umumnya, anak yang mondok G *) toksemia .) dehidrasi atau tidak mampu mencerna makanan /) stridor dan retraksi yang bermakna saat istirahat =) tidak respon dengan epinefrin atau klinis memburuk .-/ jam setelah masuk rumah sakit. +) tidak ada orang tua yang mampu mera$at. Dia#"53i3 8a"(i"# ,engan paparan vaksin #.influen-a tipe , kasus infeksi supraglottis dapat sangat dikurangi. Supragolotitis adalah diagnosis banding untuk infeksi obstruksi saluran nafas atas. Ebstruksi menyebabkan stridor dan ketidaknyamanan bernafas, tapi supraglotitis tidak ada serak dan batuk kering, yang khas pada keterlibatan pita suara dan trakea. ,iagnosis banding lain adalah edema angioneurotik, aspirasi benda asing, trakeitis bacterial, abses retrofaringeal dan peritonsilar. 4 5u* 3*a3m5(i9 anyak yang telah menulis perbedaan croup spasmodic dari croup viral, tapi perbedaan tersebut tidak berguna bagia dokter klinis. 3roup spasmodic berbeda dari croup viral karena menyebabkan edema non inflammatory jaringan subglottis, yang artinya tidak ada keterlibatan virus pada epitel. Pada pemeriksaan endoskopi laring, mukosa spasmodik croup pucat, dan memerah pada viral croup. Edema pada spasmodic croup tidak diketahui. Kecurigaannya adalah spasmodic croup terjadi lebih karena reaksi alergi dari antigen virus daripada langsung dari infeksi virusnya. 3roup spasmodic terjadi pada anak suai / bulan hingga / tahun. 0nak berada pada kondisi umum yang baik dan menunjukkan gejala common cold. Ketika malam, anak bangun dengan sesak yang tiba'tiba, serak, batuk kering, dan stridor insipiratorik. 8idak ada demam dan anak menjadi lebih tenang setelah dilakukan nebulisasi. eberapa anak menunjukkan beberapa episode croup. ,eskripsi croup spasmodic lebih konsisten disbanding episode croup viral. 8erdapat laporan lebih dari / episode pada /'( pasien, + episode pada *>( pasien, dan lebih dari & episode pada 4( pasien. !ika resolusinya tidak spontan, pengobatan untuk croup viral dapat digunakan. #al ini dibutuhkan pada sedikit kasus. 8idak ada indikasi penggunaan antihistamin, anti

inflamasi nonhormonal, atau inhalasi dengan vasokonstriksi.