Anda di halaman 1dari 16

1

PERUBAHAN PSIKOLOGI PADA IBU NIFAS

Disusun Oleh: Dian Eka Putri

AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG 2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Segala puji bagi Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Tanda Bahaya Kala IV Persalinan.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari harapan sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat orang-orang yang berkecimpung di dunia kesehatan. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, Januari 2014

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang


Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yabg telah cukup bulan atau hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain. Dengan bantuan atau tanpa bantuan. (mochtar.2002). dengan adanya proses persalinan maka ada beberapa tanda-tanda bahaya kala IV (nifas). Setelh persalinan ibu-ibu diharapkan tidak mengalami bahaya kala IV.

1. Rumusan masalah
Karena kurangnya pengetahuan tentang pentingnya masa nifas, maka kami mengangkat beberapa masalah.yaitu : factor-faktor yg menyebabkan predisposisi infeksi pada masa nifas factor terjadi nya infeksi pada masa n ifas. Keadaan abnormal pada rahim. Keadaan abnormal pada payudara. Keadaan abnormal secara fisikologis.

2. Tujuan
Agar ibu bisa mengetahui hal-hal apa saja yang harus di perhatikan pada kala IV/masa nifas. Dan dapat mengenali tanda bahaya yang bisa terjadi pada masa nifas. Serta dapat mengantisipasi tanda bahaya yang terjadi pada kala IV.

3. Manfaat
Dengan mengetahui pengertian, gejala, tanda, penyebab dan dampak dari tanda bahaya kala IV persalinan diharapkan bidan dapat memberikan asuhan kebidanan yang tepat diterapkan pada persalinan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses fisiologik dimana uterus mengeluarkan atau berupaya mengeluarkan janin dan plasenta setelah masa kehamilan 20 minggu atau lebih dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan.23

2. Pembagian Persalinan
Menurut cara persalinan dibagi menjadi : 2.1. Persalinan biasa atau normal (eutosia) adalah proses kelahiran janin pada kehamilan cukup bulan (aterm, 37-42 minggu), pada janin letak memanjang, presentasi belakang kepala yang disusul dengan pengeluaran plasenta dan seluruh proses kelahiran itu berakhir dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa

tindakan/pertolongan buatan dan tanpa komplikasi.24 2.2. Persalinan abnormal adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat maupun melalui dinding perut dengan operasi caesarea.25

3. Faktor-Faktor Dalam Persalinan


Ada beberapa faktor yang berperan dalam persalinan yaitu :

3.1. Tenaga atau Kekuatan (power) ; his (kontraksi uterus), kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma pelvis, ketegangan, kontraksi ligamentum rotundum, efektivitas kekuatan mendorong dan lama persalinan. 3.2. Janin (passanger) ; letak janin, posisi janin, presentasi janin dan letak plasenta. 3.3. Kejiwaan (psyche) ; persiapan fisik untuk melahirkan, pengalaman persalinan, dukungan orang terdekat dan intregitas emosional.

4. Tanda Persalinan 4.1. Tanda Permulaan Persalinan


Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut : a. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat, karena kepala janin baru masuk pintu atas panggul menjelang persalinan. b. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri menurun. c. Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin. d. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus (false labor pains). e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

BAB III PEMBAHASAN

A. Infeksi Masa Nifas

Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya

makin

meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.

Gambaran Klinis Infeksi Umum dapat dalam bentuk : Infeksi Lokal Pembengkakan luka episiotomi. Perubahan warna lokal. Pengeluaran lochia bercampur nanah. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri. Temperatur badan dapat meningkat. Infeksi General

Tampak Sakit dan Lemah Temperatur meningkat diatas 39 oC. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma. Terjadi gangguan involusi uterus. Lochia : berbau, bernanah serta kotor.

B. Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas a. Persalinan berlangsung lama sampai terjadi Persalinan Terlantar b. Tindakan Operasi Persalinan c. Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah. d. Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam. e. Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu

perdarahan

antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan,

malnutrisi, kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.

C. Terjadinya Infeksi Masa Nifas a. Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang steril b. Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial). c. Hubungan seks menjelang persalinan.

d. Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam,terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeksi).

D. Keadaan abnormal pada rahim Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :

Sub involusi uteri.

Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri. Pendarahan masa nifas sekunder.

Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya. Flegmansia alba dolens.

Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :

a. Terjadi pembengkakan pada tungkai. b. Berwarna putih. c. Terasa sangat nyeri. d. Tampak bendungan pembuluh darah. e. Temperatur badan dapat meningkat

10

E. Keadaan abnormal pada payudara Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah : a. Bendungan ASI Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat. b.Mastitis dan Abses Mamae Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

Keadaan abnormal pada psikologis 1. Psikologi Pada Masa Nifas


Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan. Pada 0 3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari. Pada 3 -10 hari setelah melahirkan, Postpartum blues biasanya muncul biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya

11

dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya. Pada 1 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.

2. Depresi Pada Masa Nifas


Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.

Penatalaksanaan Perubahan Psikologi Pada Ibu


Penatalaksanaan disini adalah cara mengatasi gangguan psikologis pada nifas dengan post partum blues. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini yaitu :

12

1. Dengan cara pendekatan komunikasi teraupetik Tujuan dari komunikasi teraupetik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : a. b. c. d. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi. Dapat memahami dirinya Dapat mendukungtindakan konstruksi. Peningkatan support mental/dukungan keluarga dalam mengatasi gangguan

psikologisyang berhubungan dengan masa nifas dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akanmengalami fase-fase, sebagai berikut : a. Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampaihari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu focus perhatian ibu hanya pada dirinya sendiri, pengalaman selama proses persalinan sering berulang-ulang diceritakannya. lingkungannya. b. Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah persalinan. Padafase ini ibu merasa khawatir akan ketidak mampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalammerawat bayi. Pada fase ini ibu karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percayadiri.c. Fase letting go, merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawatdiri dan bayinya sudah meningkat Hal ini membuatcenderung ibu menjadi pasif terhadap

13

Pencegahan
Post partum blues dapat dicegah dengan cara : 1) Anjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalumemperhatikan si ibu. 2) Menu makanan yang seimbang. 3) Olah raga secara teratur . 4) Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. 5) Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami.

14

BAB IV PENUTUP

1. Kesimpulan
masa nifas adalah pulih kembali,mulai dari partus selesai sampai alat-alat kandungan kembali sebelum hamil ,lamanya 6-8 minggu masa nifas ( puerperium ) dimulai setelah kelahiran plasenta danberakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 mingg Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk memantau kondisi ibu.Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masaN nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.Infeksi

Saran
Pada proses persalinan, terapi komunikasi diberikan agar dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan

15

diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.

16

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur penelitian (suatu pendekatan praktis). Jakarta: PT. Rineka Cipta. Ayu, I. C. M., Bagus, I. G. F. M., & Bagus, I. G. M. (2009). Patologi obstetric (untuk mahasiswa kebidanan). Jakarta: EGC. Dahro, Ahmad. 2011. Hal 85. Psikologi Kebidanan. Bandar Lampung : Salemba Medika.