Anda di halaman 1dari 12

Nama : Muhammad Rafiquddin Ahsan NIM : 20100530099 Pendahuluan

Bagaimana rasanya membesarkan anak kulit putih?. Sementara anakmu sendiri di rumah dijaga oleh orang lain?

Kalimat tersebut diatas adalah salah satu potongan percakapan antara Aibileen dengan Skeeter dalam scene pertama film The Help. Film ini mengisahkan keadaan Amerika, tepatnya kota Jackson pada masa dimana orang kulit hitam belum memiliki kesamaan hak asasi. Para wanita kulit hitam bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga orang kulit putih. Aibileen adalah seorang wanita kulit hitam yang menjadi pembantu dirumah Elizabeth Leefolt, majikannya. Dan Skeeter adalah seorang penulis pada sebuah koran yang juga mencoba membuat buku yang mengisahkan sudut pandang orang kulit hitam pada saat itu. kulit putih yang memiliki pandangan berbeda dengan kulit putih lainnya, khususnya dengan Hilly. Seorang wanita kulit putih yang berpengaruh dalam membentuk sudut pandang teman-temannya para wanita kulit putih. Secara garis besar, film ini mengisahkan bagaimana orang kulit hitam menjalani hidupnya dalam dunia rasis dimana Aibileen dan orang negro lainnya kelompok yang termarginalkan. harus menjadi

Aibileen, Minny sahabatnya dan orang kulit hitam atau negro lainnya tentu memiliki

self image atau rasa bagaimana harusnya dirinya diperlakukan oleh orang lain. Yang sangat
berbeda dengan Hilly serta kulit putih lainnya. Sehingga bagaimana menangani suatu konflikpun akan berbeda.

Face negotiation theory, merupakan suatu teori yang mengkaji face atau sebuah
kiasan untuk public self-image. Suatu pendekatan yang menarik untuk melihat Aibileen dan/atau Hilly dalam membangun dan menunjukkan face mereka.

Standpoint theory. A standpoint adalah sebuah tempat di mana kita memandang dunia
di sekitar kita. Hal ini akan menarik untuk melihat bagaimana Aibileen sebagai representasi orang kulit hitam melihat dunia dari posisi rendah atau ditempatkan dalam posisi rendah oleh struktur yang berlaku.

Muted group theory. Teori yang berkembang melalui faham feminisme. Dimana
wanita merupakan kaum yang terbungkam oleh struktur sosial yang secara langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa pria lebih berkuasa atau lebih berdaya. Dalam hal ini saya menggunakan konsep muted group atau kelompok terbungkam bukan pada pendekatannya akan faham feminisme namun terbungkamnya kaum negro atau kulit hitam terhadap kaum kulit putih dalam film ini. Analisis atau bentuk perwujudan ketiga teori diatas dalam film The Help akan ditunjukkan lebih jelas dalam sub bab pembahasan berikut.

Pembahasan

Face Negotiation Theory Teori ini mencoba menjelaskan tenang bagaimana perbedaan-perbedaan budaya dan bagaimana cara mereka dalam merespons konflik. Ting Toomey berasumsi bahwa setiap orang dalam setiap budaya sebenarnya selalu menegosiasikan face. Face adalah istilah kiasan untuk public self-image, yaitu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh oran lain. Sedangkan

facework berhubungan dengan pesan-pesan verbal dan nonverbal spesifik yang membantu
memelihara dan memulihkan face loss (kehilangan muka), dan untuk menegakkan dan serta menghormati face lain. Teori ini menyatakan bahwa facework dari budaya individualistic sangat berbeda dengan facework budaya kolektivistik. Artinya, jika facework-nya berbeda, maka cara menangani konfliknya juga berbeda. Ting Toomey menawarkan rantai kausal dua langkah dengan face maintenance

sebagai rantai penjelasan antara budaya dan gaya penanganan konflik. Type of culture Type of maintenance Type of conflict management Berdasarkan karya M. Afzalur Rahim, Ting-Toomey mengidentifikasikan 5 respons yang berbeda pada berbagai situasi bardasarkan perbedaan kebutuhan, kepentingan, atau tujuan, yaitu: Avoiding, yaitu menghindari diskusi dengan kelompok tentang perbedaan yang kita miliki.

Obliging, yaitu menyampaikan harapan atau keinginan kepada kelompok, tetapi menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kelompok. Compromising, yaitu mengadakan give-and-take atau saling bertukar pikiran agar kompromi bisa diciptakan. Dominating, yaitu teguh dalam mempertahankan pendapat pribadi demi kepentingan pribadi. Integrating, yaitu saling bertukar informasi yang akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Dalam perkembangannya Ting-Toomey memperkenalkan konsep independent dan

interdependent dengan mengacu pada derajat di mana orang akan merasa dirinya adalah manusia otonom atau terhubung dengan orang lain. Markus dan Kitayama menyebutnya dengan self-construal atau self-image. Karenanya kemudian Ting-Toomey merevisi teori face-negotiation-nya menjadi: Type of culture Type of self-construal Type of face-maintenance Type of conflict management Sehingga analisis teori ini dalam film The Help dimana Aibileen sebagai peran utama adalah sebagai berikut; 1. Type of culture Seperti disinggung dalam pendahuluan di atas type of culture dalam film The

Help adalah budaya rasis pada masa lalu Amerika. Dimana Aibileen sebagai orang
kulit hitam atau ras yang dimarginalkan atau disudutkan. Budaya dimana penempatan orang kulit hitam dan kulit putih diatur jelas dalam undang-undang maupun struktur sosial yang intinya adalah ras kulit putih memiliki kasta lebih tinggi daripada ras kulit hitam.

2.

Type of self-construal Berdasarkan type of culture seperti dijelaskan diatas. Sehingga sebagai negro atau orang kulit hitam Aibileen harus menerima kodratnya sebagai pembantu rumah tangga dan sebagai orang yang dimarginalkan.

3. Type of face-maintenance Dalam tahap ini Aibileen setelah dia menyadari statusnya dalam struktur sosial yang berlaku, maka dia harus memelihara bagaimana facework yang harus dia lakukan. Yaitu dengan mematuhi norma-norma yang berlaku seperti dilarang berbicara lancang dihadapan orang kulit putih dan/atau majikannya, dan lain lain. Namun yang cukup ditunjukkan dalam film ini yaitu harus menerima bahwasanya dilarang menggunakan toilet yang juga digunakan oleh orang kulit putih.

4. Type of conflict management Tahap dimana Aibileen mengelola konflik. Idealnya tipe yang digunakan oleh orang dalam posisi Aibileen adalah avoiding atau lebih cenderung menghindar. Namun beberapa peristiwa yang mengejutka dalam film ini memaksa Aibileen untuk mengambil sikap yang cukup berani tidak sekedar untuk menjaga face individu tapi untuk kelompoknya, dengan cara mengutarakannya dalam buku yang hendak ditulis Skeeter.

Standpoint Theory

Dalam teori ini, Harding dan Wood menyatakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia kita, yaitu dengan memulai penyelidikan kita dari standpoint kaum wanita dan kelompok-kelompok marginal lain. A standpoint adalah sebuah tempat di mana kita memandang dunia di sekitar kita. Apapun tempat yang menguntungkan itu, lokasinya cenderung memfokuskan perhatian kita pada beberapa fitur dalam bentangan alam dan sosial dengan mengaburkan fitur-fitur lainnya. A standpoint memiliki makna yang sama dengan istilah viewpoint, perspective, outlook, atau position. Dengan catatan bahwa istilah-istilah ini digunakan dalam tempat dan waktu khusus, tetapi semuanya berhubungan dengan perilaku dan nilai-nilai. Standpoint kita mempengaruhi worldview kita. Dalam film The Help terlihat tempat-tempat yang dijelaskan dalam teori diatas dengan sangat jelas. Hilly sebagai representasi kulit putih memandang dunianya atau struktur sosial lingkungannya pada tempat yang tinggi. Dimana sebagai orang kulit putih adalah wajar bahwa dia sudah seharusnya dihargai dan dihormati terkhusus dalam hubungannya dengan kulit hitam. Namun tidak dengan Skeeter. Meskipun dia termasuk dalam ras kulit putih, namun dia mencoba untuk mengangkat ras kulit hitam dari struktur tersebut meski hanya terbatas dalam upayanya untuk mengungkapkan apa yang dirasakan orang kulit hitam khususnya para pembantu rumah tangga melalui buku yang ditulisnya yang berjudul The Help. Dan sudah barang tentu untuk Aibileen, yang mana sebagai tokoh utama. Memandang dari tempat yang rendah. Menyadari bahwa sebagai kulit hitam, ia harus menjaani hidupnya sebagai pembantu rumah tangga dan sebagai orang yang termarginalkan dan meskipun hal tersebut menyakiti hatinya. Namun sebagai orang yang berada di bawah dia tidak berdaya apa-apa.

Meskipun demikian seperti yang diungkapakan oleh Wood. Dia menawarkan dua penejalasan. Pertama, orang-orang dengan status subordinat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengerti perspektif dari orang-orang dengan kekuasaan lebih. Alasan yang kedua, yaitu karena kelompok-kelompok ini biasanya dipinggirkan, maka mereka punya sedikit alasan untuk mempertahankan status quo. Dari alasan yang pertama. Hal tersebut persis ditunjukkan dalam film ini. Dimana Aibileen sebagai orang kulit hitam jauh lebih memahami watak kulit putih. Aibileen memahami bagaimana Leeflot majikannya seharusnya belum siap memiliki anak. Dan lebih dari itu berdasarkan konflik yang ditunjukkan dalam film tersebut, yaitu ketika Hilly sudah benar-benar keterlaluan dalam memperlakukan kulit hitam. Aibileen memahami benar bahwa dia perlu untuk melakukan sesuatu. Yang akhirnya ia menyetujui permintaan Skeeter untuk menjadi salah satu objek dalam bukunya.

Muted Group Theory Cheris Kramarae menyatakan bahwa bahasa adalah konstruksi kaum pria. Menurutnya, bahasa dalam budaya tertentu tidak memperlakukan setiap orang secara setara, dan tidak semua orang berkontribusi secara berimbang terhadap penciptaan bahasa tersebut.

Wanita (dan kelompok yang tersubordinasi lainnya) tidak sebebas dan memiliki akses yang luas sebagaimana kaum pria dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana mereka menginginkannya, karena kata-kata dan nornma-norma yang digunakan pada dasarnya dibentuk oleh kelompok dominan, yaitu kaum pria itu sendiri. Namun berdasarkan pernyataan dari Shirley Ardener bahwa muted group theory tidak selamanya menggambarkan bahwa yang dimaksud dengan terbungkam selalu berarti tidak bersuara. Kelompok yang terbungkam tidak berarti mereka tidak bersuara sama sekali atau terdiam. Yang menjadi fokus utama teori ini adalah bahwa apakah seseorang atau suatu kelompok dapat menyuarakan apa yang mereka inginkan, kapan, di mana, sekehendak mereka, ataukah mereka harus mengubah pemikiran atau apa-apa yang hendak mereka suarakan tadi asalkan mereka tetap dapat diterima di lingkungan sosial. Ketika seseorang mengubah apa-apa yang mereka ingin katakan hanya agar tidak merasa dikucilkan oleh lingkungan sosialnya, maka orang tersebut termasuk ke dalam kelompok yang terbungkam. Oleh karenanya saya lebih menunjuk kelompok terbungkam tersebut bukan pada wanita dalam perspektif feminis, melainkan pada orang kulit hitam terhadap orang kulit putih. Dimana seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, dalam film The Help dimana baik struktur undang-undang yang berlaku saat itu;

tak boleh ada wanita kulit putih mengasuh anak di ruangan dimana ada pria negro didalamnya. Tidak boleh saling bertukar buku antara sekolah kulit putih dan hitam, tapi boleh dipakai kulit hitam setelah kulit putih memakainya. Juru pangkas negro tidak boleh melayani wanita kulit putih. Apabila ada selebaran yang mempublikasikan atau mengedarkan tulisan yang meminta publik menerima atau menuntut persamaan hak antara kulit putih dan hitam maka di ancam hukuman penjara.

Kalimat bercetak miring diatas adalah cuplikan undang-undang yang disebutkan dalam film tersebut (berdasarkan subtitle bahasa Indonesia). Serta struktur sosial yang ada saat itu. Sehingga rasa takut dan waspada selalu menyelimuti orang kulit hitam.

Penutup Refleksi komunikasi multikultur dalam film The Help yang dijelaskan dalam teoriteori diatas terhadap realita di Indonesia. Indonesia memang tidak memiliki konflik yang begitu kentara terkhusus dalam kaitannya dengan rasisme layaknya Amerika pada waktu itu. Namun face negotiation tetap menjadi bahasan tersendiri yang selalu ada dan muncul di Indonesia pada khususnya. Seperti dalam dunia politik Indonesia, setiap tokoh yang hendak mencalonkan sebagai capres atau caleg bahkan sampai pada yang kini telah menikmati kursi jabatan perlu memperhatikan face mereka. Karena realita di indonesia bukanlah orang cendekia dan pahlawan bangsa yang akan memimpin, namun realitanya mereka yang mampu memainkan citra dimata warga negaralah yang berkuasa.

Standpoint di Indonesia. Dalam hubungan ajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa.


Bagaimana dosen memandang pada tempat yang lebih tinggi, sehingga memiliki kekuasaan dan/atau kekuatan lebih dibandingkan mahasiswa. Begitu pula hubungan antara direktur dengan karyawannya, orang perkotaan yang notabenenya lebih kaya dengan orang pedesaan dan presiden dengan orang di bawah kolong jembatan. Dan sebagainya. Sebagai negara demokrasi, konsep muted group memang tidak sesuai diterapkan di negara ini. Namun jika kita renungkan sebenarnya kita sebagai warga negara khususnya warga pedesaan yang notabenenya rendah pendidikan sehingga buta akan struktur sosial politik yang berjalan adalah warga yang terbungkam tersebut. Sembako naik mereka hanya bisa meratapi nasib, dimintai suara dalam pemilihan namun hanya diarahkan melalui media massa yang didalangi tokoh kepentingan.

Daftar Pustaka E.M. Griffin's. 2000. A First Look at Communication Theory Fifth Edition.