Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 3 BLOK PEDIATRI

NORMALKAH ANAKKU?

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 11 Aulia Khoirunnisa Hera Amalia U Johanna Tania Naila Shofwati P Ratna Oktaviani Sani Widya F G0011044 G0011106 G0011122 G0011146 G0011164 G0011190 Rika Ernawati Bayu Prasetyo Maestro Rahmandika Wahyu Pamungkas Selvia Anggraeni G0011172 G0011050 G0011130 G0011208 G0011194

TUTOR: RATIH PUSPITA FEBRINASARI, dr., M.Sc

PROGAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar, jumlah atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu. Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh). Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. (Soetjiningsih, 2012; Tanuwijaya, 2003). Perkembangan anak dinyatakan terlambat apabila pada skrining terdapat keterlambatan pada salah satu atau beberapa dari aspek perkembangan (motorik kasar, motorik halus, berbicara, perilaku sosial). Pada skenario 3 blok pediatri ini, kita dituntut untuk dapat menegakkan diagnosis dini kelainan tumbuh kembang pada anak dan dapat memberikan penanganan yang efektif. Berikut skenario tersebut : Normalkah anakku? Seorang anak berusia 2,5 tahun di gendong sang ibu mendatangi poliklinik umum untuk berkonsultasi dengan dokter. Anak tersebut belum bisa merangkak apalagi berjalan, dan sampai saat ini belum sepatah katapun bisa diucapkannya, hanya merengek dan kadang terdiam.Berdasarkan hasil pemeriksaan Denver II oleh dokter didapatkan adanya keterlambatan di semua domain perkembangan.

BAB II DISKUSI DAN STUDI PUSTAKA

Langkah 1

: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah

dalam skenario. 1. Denver II : adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R), merupakan salah satu metode skrining perkembangan untuk mengetahui sedini mungkin penyimpangan perkembangan yang terjadi pada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. 2. Domain perkembangan : dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu: (a) Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis, misalnya pertumbuhan otak, otot, tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan

berkurangnya kekuatan otot-otot. (b) Perkembangan kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir, kemampuan berbahasa yang terjadi melalui proses belajar. (c) Perkembangan psikososial berkaitan dengan perubahanperubahan emosi dan identitas pribadi individu, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan keluarga, teman-teman dan guru-gurunya. Langkah 2 : Menentukan/ mendefinisikan permasalahan.

1. Seorang anak berusia 2,5 tahun di gendongan sang ibu mendatangi poliklinik umum utnuk berkonsultasi dengan dokter. 2. Anak belum bisa merangkak,berjalan dan berbicara sepatah katapun. 3. Anak hanya bisa merengek dan kadang terdiam. 4. Hasil pemeriksaan Denver II didapatkan adanya keterlambatan di semua domain perkembangan.

Langkah 3

: Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan sementara

mengenai permasalahan (tersebut dalam langkah 2). 1. Bagaimana tahapan tumbuh kembang anak usia 0 tahun sampai remaja? 2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak? 3. Apa saja yang menyebabkan gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada anak? 4. Bagaimana cara melakukan penilaian tumbuh kembang anak? 5. Bagaimana kriteria rentang usia pada anak?

6. Apa saja kelainan tumbuh kembang pada anak? 7. Bagaimana terapi dan tatalaksana yang harus dilakukan pada anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang? TAHAPAN TUMBUH KEMBANG NORMAL PADA ANAK-ANAK Aspek-aspek perkembangan anak: 1. Perkembangan motorik/ gerakan Motorik: keseluruhan gerakan yang dapat diamati pada makhluk hidup Perkembangan motorik berlangsung dari kepala ke ujung-ujung anggota badan Mula-mula gerakan global, berkembang menjadi terarah dan khas Pada bayi, perkembangan motorik penting karena menjadi gambaran taraf perkembangan intelegensinya Tahapan perkembangan motorik: 0 6 minggu 3 bulan 4 bulan 5 bulan 6 bulan 7 bulan 8 bulan 9-10 bulan 10-11 bulan 12-15 bulan 18 bulan 24 bulan : menyusu : menoleh ke kanan/ kiri : mengangkat kepala dan bahu bila ditengkurapkan : menguasai gerak tangan : tengkurap sendiri : duduk bersandar : duduk sendiri : merangkak : berdiri berpegangan : berjalan berpegangan : jalan sendiri : lari dengan langkah kaku : naik turun tangga, melompat pada objek yang rendah

2. Perkembangan bicara/ bahasa Melalui periode: a. Pra lingual Periode satu kata: 0-12 bulan b. Lingual awal Periode kalimat 2 kata: 1-2 tahun c. Periode diferensiasi

Periode kalimat 3 kata Diferensiasi dan kecakapan verbal bertambah, bertambah umur 2 tahun Tahapan perkembangan bicara/ bahasa: a. Tingkat permulaan Bayi menangis b. 3-4 bulan Suara raban: suara di tenggorokan seperti berkumur-kumur, menyatakan perasaan senang c. > 4 bulan Mengoceh dengan ouw...ouw d. 8-9 bulan Meniru suara, suara sendiri diulang-ulang, belum ada maksud tertentu e. 1-1 tahun Kata-kata pertama dengan maksud tertentu f. 1 - 2 tahun 2 s/d 3 kata, kehausan akan nama, ini apa itu apa, jika anak bertanya harus dijawab g. 2-2 tahun Menyebut nama dengan istilah sendiri, misal kucing dipanggil meong h. 3 tahun Bentuk kalimat makin sempurna, kata tanya: mengapa, dari mana, anak tidak boleh dibohongi, semakin cerdas anak semakin banyak tanya 3. Perkembangan inteligensi Definisi menurut Georgr d. Stoddard Bentuk kemampuan untuk memahami masalah yang bercirikan: Mengandung kesukaran Kompleks Abstrak Ekonomis Diarahkan pada suatu tujuan yang jelas Mempunyai nilai sosial Membangkitkan kreativitas

Definisi menurut D. weschler:

Inteligensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu , berfikir rasional dan menghadapi lingkungan dengan efektif Reflek pada bayi: a. Reflek menghisap b. Reflek genggam/ grasp reflex; s/d 16-24 minggu Setiap kali telapak tangan disentuh langsung dipegang dengan kencang c. Reflek berjalan/ stepping reflex; s/d 4-5 bulan Kalau bayi diangkat, solah-olah akan menapak d. Moro reflex s/d 4 bulan Gerakan memeluk bila terkejut e. Reflek Babinski Reflek jari kaki memisah dan kaki diangkat bila telapak kaki disentuh Perkembangan kecerdasan: 0 4 minggu : reflek-reflek : bereaksi terhadap suara, mengenal wajah orang

6-10 minggu : tersenyum spontan 3-4 bulan 5 bulan 6 bulan 7 bulan 8 bulan 9 bulan 10 bulan 12 bulan 13-14 bulan 15 bulan 18 bulan 24 bulan 2 tahun 3 tahun : meraih benda : mencoba meraih benda jauh : mengambil mainan dari meja, menepuk : memasukkan benda ke mulut : memindahkan benda dari 1 tangan ke tangan yang lain : menarik badan ke atas : menjepit dengan ibu jari : bertepuk tangan menunjukkan keinginan : menyusun 2 balok : minum dari cangkir sendiri : menyusun 3 balok : membuat garis lurus : mengenal 2-3 warna : menggambar lingkaran

4. Perkembangan sosial Mencakup 3 aspek

a. Kognisi sosial Dilatih dengan tata krama, adat, norma, sejauh manaanak mempunyai pengertian akan tingkah laku orang lain. b. Kecakapan dalam bergaul dengan orang lain Hal ini perlu dilatih oleh lingkungan sejak dini mengenai tata krama, aturan. Misal: dalam bermain dan bergaul sehari-hari perlu tahu milik sendiri dan milik orang lain. c. Kemampuan anak berhubungan dengan nilai-nilai sosial Berfikir dan bertindak atas dasar pemilikan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG A. Faktor Genetik Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, dan suku bangsa. Potensi genetik yang bermutu hendaknya berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal B. Faktor Lingkungan 1. Faktor Lingkungan Pranatal a. Gizi ibu pada waktu hamil Gizi ibu yang buruk sebelum atau selama masa kehamilan menyebabkan bayi BBLR, lahir mati, maupun cacat bawaan. Selain itu, dapat juga menyebabkan hambatan perumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir, mudah terkena infeksi, abortus, dsb. b. Mekanis Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula dengan posisi janin pada uterus dapat mengakibatkan talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atatu kranio tabes. c. Toksin/ zat kimia Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin,

methadion, obat-obat antikanker, dsb. Dapat menyebabkan kelainan bawaan. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat/ peminum alkohol kronis sering melahirkan bayi BBLR, bayi lahir mati, cacat, atau retardasi mental. Keracunan logam berat dapat menyebabkan mikrosefali dan palsi serebralis. d. Endokrin Hormon somatotropin (growth hormone) disekresi oleh kelenjar hipofisis janin sekitar minggu ke-9 dan produksinya terus meningkat sampai minggu ke-20, selanjutnya menetap sampai lahir. Hormon plasenta Hormon tiroid (TRH, TSH, T3, dan T4) sudah diproduksi oleh janin sejak minggu ke-12. Pengaturan oleh hipofisis sudah terjadi pada minggu ke-13. Kadar hormon ini makin meningkat sampai minggu ke24, lalu konstan. Insulin mulai diproduksi oleh janin pada minggu ke-11, lalu meningkat sampai bulan ke-6 dan kemudian konstan. e. Radiasi Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otek, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. f. Infeksi g. Stres h. Imunitas Rhesus atau ABO inkompabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati. i. Anoksia embrio Menurunnya oksigenasi janin menyebabkan bayi BBLR. 2. Faktor Lingkungan Postnatal a. Lingkungan biologis 1) Ras/ suku bangsa 2) Jenis kelamin 3) Umur 4) Gizi 5) Perawatan kesehatan

6) Kepekaan terhadap penyakit 7) Penyakit kronis 8) Fungsi metabolism 9) Hormon b. Faktor fisik 1) Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah 2) Sanitasi 3) Keadaan rumah 4) Radiasi c. Faktor psikososial 1) Stimulasi 2) Motivasi belajar 3) Ganjaran/ hukuman yang wajar 4) Kelompok sebaya 5) Stres 6) Sekolah 7) Cinta dan kasih sayang 8) Kualitas interaksi anak-orang tua d. Faktor keluarga dan adat istiadat 1) Pekerjaan/ pendapatan keluarga 2) Pendidikan orang tua 3) Jumlah saudara Jumlah anak dan jarak anak memengaruhi terpenuhinya kebutuhan anak. 4) Jenis kelamin dalam keluarga Pada masyarakat tradisional, wanita mempunyai status yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. 5) Stabilitas rumah tangga 6) Kepribadian orang tua 7) Adat istiadat dan norma 8) Agama 9) Urbanisasi 10) Kehidupan politik dalam masyarakat (Soetjiningsih, 2012)

KEBUTUHAN DASAR ANAK Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu asuh, asih dan asah(Soetjiningsih, 2012). 1. Asuh (kebutuhan fisik-biomedis) Yang termasuk kebutuhan asuh adalah : a. Nutrisi yang mencukupi dan seimbang. Pemberian nutrisi yang mencukupi pada anak harus sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu anak hanya diberikan ASI saja sampai berumur 4-6 bulan. Sejak berumur enam bulan, sudah waktunya anak diberikan makanan tambahan atau makanan pendamping ASI. Pemberian makanan tambahan ini penting untuk melatih kebiasaan makan yang baik dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang mulai meningkat pada masa bayi dan prasekolah, karena pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi adalah sangat pesat, terutama pertumbuhan otak. b. Perawatan kesehatan dasar. Untuk mencapai keadaan kesehatan anak yang optimal diperlukan beberapa upaya, misalnya imunisasi, kontrol ke Puskesmas/Posyandu secara berkala atau diperiksakan segera ke dokter apabila anak sakit. Dengan upaya tersebut, keadaan kesehatan anak dapat dipantau secara dini, sehingga bila ada kelainan maka anak segera mendapatkan penanganan yang benar. c. Pakaian. Anak perlu mendapatkan pakaian yang bersih dan nyaman dipakai. Karena aktivitas anak lebih banyak, hendaknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat. d. Perumahan. Dengan memberikan tempat tinggal yang layak maka hal tersebut akan membantu anak untuk bertumbuh kembang secara optimal. Tempat tinggal yang layak tidak berarti rumah yang berukuran besar, tetapi bagaimana upaya orang tua untuk mengatur rumah menjadi sehat, cukup ventilasi serta terjaga kebersihan dan kerapiannya, tanpa memperdulikan berapapun ukurannya.

e. Higienis diri dan lingkungan. Kebersihan badan dan lingkungan yang terjaga berarti sudah mengurangi risiko tertularnya berbagai penyakit. Selain itu, lingkungan yang bersih akan memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas bermain secara aman. f. Kesegaran jasmani (olahraga dan rekreasi). Aktivitas olahraga dan rekreasi digunakan untuk melatih kekuatan otot-otot tubuh dan membuang sisa metabolisme. Selain itu juga membantu

meningkatkan motorik anak dan aspek perkembangan lainnya. Aktivitas olahraga dan rekreasi bagi anak merupakan aktivitas bermain yang menyenangkan. 2. Asih (kebutuhan emosi dan kasih sayang) Pemenuhan kebutuhan emosi dan kasih sayang dapat dimulai sedini mungkin. Bahkan sejak anak berada dalam kandungan, perlu diupayakan kontak psikologis antara ibu dan anak, misalnya dengan mengajak berbicara atau mengelusnya. Setelah lahir, upaya tersebut dapat dilakukan dengan

mendekapkan bayi ke dada ibu segera setelah lahir. Ikatan emosi dan kasih sayang yang erat antara ibu/orang tua dengan anak sangatlah penting karena berguna untuk menentukan perilaku anak dikemudian hari, merangsang perkembangan otak anak serta merangsang perhatian anak tehadap dunia luar. Oleh karena itu, kebutuhan asih ini meliputi : a. Kasih sayang orang tua. Orang tua yang harmonis akan mendidik dan membimbing anak dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang tidak berarti memanjakan atau tidak pernah memarahi, tetapi bagaimana orang tua menciptakan hubungan yang hangat dengan anak sehingga anak merasa aman dan senang. b. Rasa aman. Adanya interaksi yang harmonis antara orang tua dan anak akan memberikan rasa aman bagi anak untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. c. Harga diri. Setiap anak ingin diakui keberadaan dan keinginannya. Apabila anak diacuhkan, maka hal ini dapat menyebabkan frustasi pada anak. d. Dukungan atau dorongan.

Dalam melakukan aktivitas, anak perlu memperoleh dukungan dari lingkungannya. Apabila orang tua sering melarang aktivitas yang dilakukan, maka hal tersebut dapat menyebabkan anak merasa ragu-ragu dalam melakukan setiap aktivitasnya. Selain itu, orang tua perlu memberikan dukungan agar anak dapat mengatasi stressor atau masalah yang dihadapi. e. Mandiri. Agar anak menjadi pribadi yang mandiri, maka sejak awal anak harus dilatih untuk tidak selalu tergantung pada lingkungannya. Dalam melatih anak untuk mandiri tentunya harus menyesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan anak. f. Rasa memiliki. Anak perlu dilatih untuk mempunyai rasa memiliki terhadap barang-barang yang dimilikinya, sehingga anak tersebut mempunyai rasa tanggung jawab untuk memelihara barang-barangnya. g. Kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan dan pengalaman. Anak perlu diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan sifat-sifat bawaannya. Tidak pada tempatnya jika orang tua memaksakan keinginannya untuk dilakukan oleh anak tanpa memperhatikan kemauan anak. 3. Asah (kebutuhan stimulasi mental) Stimulasi adalah adanya perangsangan dari lingkungan luar anak, yang berupa latihan atau bermain. Stimulasi merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak yang banyak mendapatkan stimulasi yang terarah akan cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang mendapatkan stimulasi. Pemberian stimulasi ini sudah dapat dilakukan sejak masa kehamilan, dan juga setelah lahir dengan cara menyusui anak sedini mungkin. Asah merupakan kebutuhan untuk perkembangan mental psikososial anak yang dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan(Soetjiningsih, 2012). GANGGUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku. 1. Gangguan Pertumbuhan Fisik

Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak. Menurut Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih dari 120% kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan, apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak mengalami kurang gizi, menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal. Lingkar kepala juga menjadi salah satu parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada anak yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan variasi normal. Sedangkan apabila lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal. Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003). Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan tuli sensorineural. Menurut Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang terjadi selama kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan ketulian adalah infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media. 2. Gangguan perkembangan motorik Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia. Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu

didasari adanya penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik. 3. Gangguan perkembangan bahasa Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan anak. Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan perilaku (Widyastuti, 2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran,intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003). 4. Gangguan Emosi dan Perilaku Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah kelainan neurobiologis yang menunjukkan gangguan komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab. Terdapat 3 pola gangguan pertumbuhan, yaitu: a. Tipe I Berat badan lebih tertekan daripada tinggi badan, lingkaran kepala tidak terganggu pertumbuhannya.

Umumnya karena masukan kalori tidakcukup, pengeluaran kalori yang berlebihan, masukan kalori yang berlebihan, atau ketidakmampuan tubuh perifer menggunakan kalori. Kebanyakan kasus merupakan akibat dari kegagalan pada penyampaian (delivery) ke jaringan yang dituju.

Kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor kemiskinan, kesenjangan hubungan pengasuh dan anak, pola makan yang abnormal atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.

b. Tipe II. Ditandai oleh tubuh kecil yang proporsional, lingkaran kepala dalam batas normal. Berkaitan dengan faktor genetik pada perawakan pendek, endokrinopati, pertumbuhan lambat konstitusional, penyakit jantung atau ginjal, displasia tulang. c. Tipe III Ditandai oleh ketiga parameter (tinggi, berat dan lingkaran kepala) di bawah normal Tipe ini berkaitan dengan Susunan Syaraf Pusat yang abnormal, defek pada kromosom, dan gangguan perinatal (Irwanto, 2006). PEMERIKSAAN DENVER II Definisi Salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Test ini bukan test diagnostic atau test IQ. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan mengikuti proses perkembangan anak. 2. Untuk mengatasi secara dini bila ditemukan kelainan perkembangan. Manfaat 1. Untuk mengetahui tahap perkembangan yang telah dicapai anak. 2. Untuk menemukan adanya keterlambatan perkembangan anak sedini mungkin. 3. Untuk meningkatkan kesadaran orang tua atau pengasuh anak untuk berusaha menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan. Tahapan

1. Tahap pertama, dilakukan pada usia: 0-6 tahun. a. 3-6 bulan b. 9-12 bulan c. 18-24 bulan d. 3 tahun e. 4 tahun f. 5 tahun 2. Tahap kedua, dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. Aspekyangdinilai Ada 125 tugas perkembangan yang dinilai, yang dikelompokkan menjadi 4 sektor, yaitu: 1. Sektor personal sosial Yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. 2. Sektor gerakan motorik halus Yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh tertentu yang dilakukan otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 3. Sektor bahasa Yaitu kemampuan untuk memberikan reflek terhadap suara, mengikuti perintah, dan berbicara spontan. 4. Sektor gerakan motorik kasar Yaitu aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan otot-otot besar. Skoring 1. Passed atau lulus (P/L): anak melakukan uji coba dengan baik, atau ibu/ pengasuh anak memberi laporan tepat/ dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukannya. 2. Failure atau gagal (F/G): anak tidak dapat melakukan uji coba dengan baik atau ibu/ pengasuh anak memberi laporan (tepat) bahwa anak tidak dapat melakukannya dengan baik. 3. Refuse atau menolak (R/M): anak menolak untuk melakukan uji coba.

4. No opportunity (tidak ada kesempatan): anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan uji coba karena ada hambatan. Skor ini hanya boleh dipakai pada uji coba dengan tanda R. Interpretasi Penilaian Individual 1. Lebih (advanced) Bilamana seorang anak lewat pada uji coba yang terletak di kanan garis umur, dinyatakan perkembangan anak lebih pada uji coba tersebut. P 2. Normal Bila seorang anak gagal atau menolak melakukan tugas perkembangan di sebelah kanan garis umur dikategorikan sebagai normal. F R

Demikian juga bila anak lulus (P), gagal (F) atau menolak (R) pada tugas perkembangan di mana garis umur terletak antara persentil 25 dan 75, maka dikategorokan sebagai normal. P 3. Caution/ peringatan Bila seorang anak gagal (F) atau menolak tugas perkembangan, di mana garis umur terletak pada atau antara persentil 75 dan 90. F R 4. Delay/ keterlambatan Bila seorang anak gagal (F) atau menolak (R) melakukan uji coba yang terletak lengkap di sebelah kiri garis umur. F 5. No opportunity/ tidak ada kesempatan R R F F R

Pada tugas perkembangan yang berdasarkan laporan, orang tua melaporkan bahwa anaknya tidak ada kesempatan untuk melakukan tugas perkembangan tersebut. Hasil ini tidak dimasukkan dalam mengambil kesimpulan. NO Kesimpulan 1. Abnormal Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih. Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 2. Meragukan Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih. Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 3. Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. 4. Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. NO

KRITERIA USIA ANAK Tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi menjadi dua, yaitu masa pranatal danmasa postnatal.Setiap masa tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan dalam anatomi,fisiologi, biokimia, dan karakternya.

Masa pranatal adalah masa kehidupan janin di dalam kandungan.Masa ini dibagimenjadi dua periode, yaitu masa embrio dan masa fetus.Masa embrio adalah masa sejakkonsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak umur 9minggu sampai kelahiran. Masa postnatal atau masa setelah lahir terdiri dari lima periode. Periode pertamaadalah masa neonatal dimana bayi berusia 0 - 28 hari dilanjutkan masa bayi yaitu sampaiusia 2 tahun. Masa prasekolah adalah masa anak berusia 2 6 tahun. Sampai denganmasa ini, anak laki-laki dan perempuan belum terdapat perbedaan, namun ketika masukdalam masa selanjutnya yaitu masa sekolah atau masa pubertas, perempuan berusia 6 10tahun, sedangkan laki-laki berusia 8 - 12 tahun. Anak perempuan memasuki masaadolensensi atau masa remaja lebih awal dibanding anak laki-laki, yaitu pada usia 10 tahundan berakhir lebih cepat pada usia 18 tahun. Anak laki-laki memulai masa pubertas padausia 12 tahun dan berakhir pada usia 20 tahun (Tanuwijaya, 2003). Langkah4 :Menginventarisasi permasalahan-permasalahan secara sistematis

dan pernyataan sementara mengenai permasalahan-permasalahan pada langkah 3. Keluhan pada anak di skenario Definisi tumbuh kembang

Tahapan tumbuh kembang

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang Skrining penilaian tumbuh dan kembang Jenis-jenis gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak Penatalaksanaan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak

Langkah 5

: Merumuskan tujuan pembelajaran.

1. Apa saja kelainan tumbuh kembang pada anak? 2. Bagaimana terapi dan tatalaksana yang harus dilakukan pada anak yang mengalami kelainan tumbuh kembang? Langkah 6 kelompok. Langkah 7 : Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru : Mengumpulkan informasi tambahan di luar waktu diskusi

yang diperoleh. 1. Apa saja kelainan tumbuh kembang pada anak? 2. Bagaimana terapi dan tatalaksana yang harus dilakukan pada anak yang mengalami kelainan tumbuh kembang? KELAINAN TUMBUH KEMBANG ANAK 1. Gangguan perkembangan bicara 70 % anak dengan keterlambatan bicara dari anak cerebral palsy (CP), tapi tidak semua anak CP terlambat bicara. a. Speech delayed: keterlambatan bicara Perlu dilakukan screening pendengaran apakah tuli atau tidak tuli (kurang stimulasi, dll). Karena ada anak yang tidak bicara karena tuli sehingga tidak mampu menangkap stimulasi. Sering pada kasus Retardasi Mental, Cerebral Palsy, Autism Pemeriksaan: Neuro, THT, psikologi Contoh: 17 bulan belum bisa kata tunggal, 36 bulan belum bisa 3 kata

b. Speech disorder: gangguan bicara/ kacau Meliputi: Kesalahan artikulasi (ucapan tidak dipahami) Contoh: baby talk, lisping (ngomong cepat/ bergumam, tidak jelas) Gangguan fonasi/ bunyi Misal: suara hidung (bindeng), suara serak dan kering, pada anak dengan kelainan bentuk mulut (sumbing) Ganguan ritme Bisa karena trauma psikologis, anak dimarahi

Contoh: stuttering (gagap) di awal, tengah, akhir 2. Gangguan intelektual a. Retardasi Mental Faktor Penyebab: Masa pranatal: ibu terkena infeksi TORCH, trauma, sakit jiwa, gizi kurang, dll Masa kelahiran: prematur, BBLR, alat (vac, forceps) Masa post natal: penyakit, trauma, gizi kurang, dll

Klasifikasi: Retardasi mental ringan (debil): IQ= 50-70 Umur mental setara anak 6-12 tahun waktu sudah tua, dapat disekolahkan di SLB C. Retardasi mental sedang (imbisil): IQ= 26-49 Umur mental setara anak 3-5 tahun, tidak bisa disekolahkan, tapi bisa dilatih untuk satu keterampilan tertentu (kencing dan mandi sendiri). Retardasi mental berat (idiot): IQ= 0-2 Umur mental setara anak 0-3 tahun, tidak bisa apa-apa, mudah terkena infeksi sehingga biasanya tidak hidup lama, terus menerus seperti bayi, tidak bisa berjalan.

b. Lambat belajar Anak dengan lambat belajar mengalami kesulitasn belajar di sekolah: Kesulitan belajar membaca khas Kesulitan berhitung khas Kesulitan konsentrasi (tidak dapat menyelesaikan tugas tapi tidak hiperaktif) (Murti, 2005) GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROLOGIS

GPN lebih sering terlihat sebelum anak berumur 2,5 tahun, karena terdapat keluhan bayi/anak terlambat dalam mencapai milestonenya (patokan perkembangan), misalnya bayi/anak belum bisa bicara atau berjalan. Secara garis besar faktor-faktor penyebab GPN dapat dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Faktor prenatal Sepeti defek gen/kromosom, kesehatan ibu selama hamil, keadaan gizi, emosional ibu. Penyakit menahun pada ibu hamil seperti: tuberculosis, hipertensi, diabetes mellitus, anemia. Termasuk penggunaan narkotika, alcohol, merokok, usaha menggugurkan janin. Infeksi virus pada ibu hamil seperti:

cytomegalovirus, toxoplasmosis. Anoksia dalam kehamilan, terkena radiasi sinar X, plasenta previa. Penggunaan obat-obat yang dapat menimbulkan efek teratogenesis. Efek teratogenesis adalah defek anatomi, pertumbuhan pada janin yang meliputi: Defek struktur/fungsi organ janin Pertumbuhan janin terhambat Kematian janin Kegagalan implantasi dan pertumbuhan embrio Gangguan neurologic: obat yang mempengaruhi mielinisasi jaringan saraf, efek karsinogenesis pada neonatal/anak Abnormalitas atau retardasi mental Obat-obat yang dapat menimbulkan efek teratogenesis, yaitu: Metotreksat, siklofosfamid, fenitoin, barbiturate, benzodiazepine, warfarin: defek SSP ACE inhibitor: gagal ginjal Danazol/obat androgenic: maskulinisasi pada janin perempuan Talidomid: defek organ interna Tertrasiklin: defek pertumbuhan gigi dan tulang NSAID: konstriksi duktus arteriosus, enterokolitis (Prawirohardjo, 2009) 2. Faktor perinatal Keadaan perinatal yang berkaitan dengan GPN seperti: asfiksia, trauma lahir, hipoglikemia dengan glukosa darah <45 mg/dl, bayi BBLR <2500 gram, infeksi,

hiperbilirubinemia terutama bila bilirubin indirek melewati sawar darah otak sehingga terjadi ensefalopati biliaris (kernicterus). 3. Faktor pascanatal Infeksi (meningitis, ensefalitis, meningoensefalitis, infeksi bagian tubuh lain yang menahun), trauma kapitis, tumor otak, gangguan pembuluh darah otak, epilepsy, kelainan tulang tengkorak (kraniosinostosis), gangguan endokrin dan metabolic, keadaan social ekonomi rendah, malnutrisi. http://eprints.undip.ac.id/29394/3/Bab_2.pdf GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF Kelompok gangguan ini ditandai dengan kelainan kualitatif dalam interaksi social yang timbal balik dan dalam pola komunikasi, serta minat dan aktivitas yang terbatas, stereotipik, berulang.Kelainan kualitatif ini menunjukkan gambaran yang pervasive dari fungsi-fungsi individu dalam semua situasi, meskipun dapat berbeda dalam derajat keparahan. Autisme Masa Kanak Kelainan/hendaya perkembangan muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan cirri kelainan fungsi dalam tiga bidang: interaksi social, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang. Hendaya interaksi social yang timbal balik berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat sosio-emosional, kurangnya modulasi terhadap perilaku, buruk dalam menggunakan isyarat social, integrasi lemah dalam perilaku social, komunikatif. Hendaya komunikasi berbentuk kurangnya penggunaan keterampilan bahasa, permainan imaginative, keserasian buruk, buruknya keluwesan dalam bahasa ekspresif dan kreativitas dan fantasi terhadap ungkapan verbal atau nonverbal, variasi irama. Pola perilaku , minat dan kegiatan yang terbatas, berulang dan streotipik. Kecenderungan bersikap kaku. Seemua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam autisme, tetapi tiga perempat kasus secara signifikan terdapat retardasi mental. Sindrom Rett

Terjadi pada usia 7-24 bulan. Pola perkembangan awal yang tampak normal, diikuti dengan kehilangan keterampilan tangan dan berbicara, motor

kemunduran/perlambatan deterioration. Gejala khas adalah

pertumbuhan

kepala.Bersifat

progressive

kehilangan

kemampuan

gerakan

tangan

yang

bertujuan.gerakan mencuci tangan yang stereotipik, membasahi tangan dengan ludah, hambatan dalam mengunyah makanan, gangguan pengaturan buang air. Anak tetap dapat senyum social, menatap seseorang dengan kosong Cara berdiri dan berjalan cenderung melebar (broad based), otot hipotonik, ataksia, skoliosis maupun kifoskoliosis. Atrofi spinal dan disabilitas motorik berat saat remaja. Serangan epileptic mendadak. Gangguan Disintegrasi Masa Kanak Perkembangan normal sampai usia 2 tahun. terjadi regresi berat dalam kemampuan berbahasa, bermain, interaksi social, perilaku adaptif, hilangnya pengendalian buang air, kemerosotan pengendalian motorik. Hilangnya secara menyeluruh perhatian/minat terhadap lingkungan, hendaya interaksi social,

komunikasi seperti dengan autism. Sindrom Asperger Tidak adanya hambatan/keterlambatan umum dalam perkembangan bahasa atau kognitif, adanya defisiensi kualitatif interaksi social timbale balik, adanya pola perilaku, perhatian dan aktivitas yang terbatas berulang dan stereotipik. Autisme Depdiknas menyatakan bahwa autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut gangguan komunikasi, interaksi sosial dan imajinasi yang biasanya muncul pada usia 1- 3 tahun. Seorang anak dapat dikatakan termasuk autisme, bila ia memiliki hambatan perkembangan di tiga aspek yaitu hambatan dalam interaksi sosial emosional, dalam komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas disertai gerakan gerakan berulang tanpa tujuan, gejala gejala tersebut sudah terlihat sebelum usia 3 tahun (http://www.kemdiknas.go.id/autisme.html)

Gejala autisme

Usia

Interaksi Sosial

0 6 1. Bayi tampak selalu tenang (jarang menangis) bulan 2. Terlalu sensitif, cepat terganggu 3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi 4. Tidak babbling (mengoceh) 5. Tidak ditemukan senyuman sosial diatas 10 minggu 6. Tidak ada kontak mata diatas umur 3 tahun 7. Perkembangan motor kasar / halus sering tampak normal 6 12 1. Bayi tampak selalu tenang (jarang menangis) bulan 2. Terlalu sensitif, cepat terganggu 3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi 4. Sulit bila digendong 5. Tidak babbling (mengoceh) 6. Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan 7. Tidak ditemukannya senyuman sosial 8. Tidak ada kontak mata 9. Perkembangan motor kasar / halus sering tampak normal 1 2 1. Kaku bila digendong tahun 2. Tidak mau bermain permainann sedeerhana (cilukba) 3. Tidak mengeluarkan kata, tidak tertarik pada boneka 4. Memperhatikan tangannya sendiri 5. Terdapat keterlambatan dan perkembagan motor kasaar 6. Mungkin tidak dapat menerima makanan cair 2 3 1. Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain tahun 2. Melihat orang sebagai benda 3. Kontak mata terabtaas 4. Tertarik pada benda tertentu 5. Kaku bila digendong 4 5 1. Sering didapatkan echolalia (membeo) tahun 2. Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) 3. Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah 4. Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) 5. Tempramen tantrum atau agresif

Retardasi Mental American Association on Mental Deficiency (AAMD) membuat definisi retardasi mental yang kemudian direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal penting yang merupakan kata kunci dalam definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial, dan masa perkembangan.Penurunan fungsi intelektual secara umum menurut definisi Rick Heber diukur berdasarkan tes intelegensia standar paling sedikit satu deviasi standar (1 SD) di bawah rata-rata.Periode perkembangan mental menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai umur 16 tahun.Gangguan adaptasi sosial dalam definisi ini dihubungkan dengan adanya penurunan fungsi intelektual.Menurut definisi ini tidak ada kriteria bahwa retardasi mental tidak dapat diperbaiki seperti definisi retardasi mental sebelumnya. a. Retardasi mental ringan Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik (educable). Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari dan untuk wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri secara independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit lebih lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada pekerjaan akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan menulis. Dalam konteks sosiokultural yang memerlukan sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka mengalami gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau mengasuh anak, atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi budaya. b. Retardasi mental sedang Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih (trainable). Pada kelompok ini anak mengalami keterlambatan

perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta pencapaian akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri sendiri dan ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan beberapa diantaranya membutuhkan

pengawasan sepanjang hidupnya. Kemajuan di sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasardasar membaca, menulis dan berhitung. c. Retardasi mental berat Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam hal gambaran klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang bermakna atau adanya defisit neurologis. d. Retardasi mental sangat berat Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas kemampuannya dalam mengerti dan menuruti permintaan atau instruksi. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer. TatalaksanaRetardasi Mental : a. Tatalaksana Medis Obat-obat yang sering digunakan dalam pengobatan retardasi mental adalah terutama untuk menekan gejala-gejala hiperkinetik. Metilfenidat (ritalin) dapat memperbaiki keseimbangan emosi dan fungsi kognitif. Imipramin, dekstroamfetamin, klorpromazin, flufenazin, fluoksetin kadang-kadang

dipergunakan oleh psikiatri anak. Untuk menaikkan kemampuan belajar pada umumnya diberikan tioridazin (melleril), metilfenidat, amfetamin, asam glutamat, gamma aminobutyric acid (GABA). b. Rumah Sakit/Panti Khusus Penempatan di panti-panti khusus perlu dipertimbangkan atas dasar: kedudukan sosial keluarga, sikap dan perasaan orangtua terhadap anak, derajat retardasi mental, pandangan orangtua mengenai prognosis anak, fasilitas perawatan dalam masyarakat, dan fasilitas untuk membimbing orangtua dan sosialisasi anak. Kerugian penempatan di panti khusus bagi anak retardasi mental adalah kurangnya stimulasi mental karena kurangnya kontak dengan orang lain dan kurangnya variasi lingkungan yang memberika kebutuhan dasar bagi anak. c. Psikoterapi Psikoterapi dapat diberikan kepada anak retardasi mental maupun kepada orangtua anak tersebut. Walaupun tidak dapat menyembuhkan retardasi mental

tetapi dengan psikoterapi dan obat-obatan dapat diusahakan perubahan sikap, tingkah laku dan adaptasi sosialnya. d. Konseling Tujuan konseling dalam bidang retardasi mental ini adalah menentukan ada atau tidaknya retardasi mental dan derajat retardasi mentalnya, evaluasi mengenai sistem kekeluargaan dan pengaruh retardasi mental pada keluarga, kemungkinan penempatan di panti khusus, konseling pranikah dan pranatal. e. Pendidikan Pendidikan yang penting disini bukan hanya asal sekolah, namun bagaimana mendapatkan pendidikan yang cocok bagi anak yang terbelakang ini. Terdapat empat macam tipe pendidikan untuk retardasi mental. Kelas khusus sebagai tambahan dari sekolah biasa Sekolah luar biasa C Panti khusus Pusat latihan kerja (sheltered workshop) (Sularyo, 2000).

Cerebral palsy (CP) Cerebral palsy (CP) adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Gangguan neurologik ini menyebabkan cacat menetap.Cerebral palsy terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada otak yang sedang tumbuh (belum matang). Otak dianggap matang kirakira pada usia 4 tahun, sedangkan menurut The American Academy for Cerebral Palsy batas kematangan otak adalah 5 tahun. Adapula beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa kematangan otak terjadi pada usia 8 9 tahun. PenatalaksanaanCP : Perawatan pada anak CP memerlukan pengertian dan kerja sama yang baik dari pihak orang tua/keluarga penderita. Hal ini akan tercapai dengan baik jika diorganisasi terpadu pada satu pusat klinik khusus. Cerebral palsy yang dikelola tenaga tenaga dari pelbagai multidisipliner ( misal: dokter anak, neurologis, ahli bedah ortopedi, bedah saraf, THT, guru luar biasa) a. Obat obatan

1. Obat anti spastisitas Biasanya indikasi pembarian obat obatan anti spastisitas pada penderita C.P. karena : Spastisitas penderita sangat hebat yang disertai rasa nyeri sehingga mengganggu program rehabilitasi. Keadaan hiperefleksi yang sangant mengganggu fungsi motorik (misalnya: ada klonus kaki yang hebat) Kontraksi pleksi pada tungkai yang progresif. Spasitisitas penderita yang mempersulit perawatan.

2. Obat psikotropik 3. Antikonvulsan b. Tindakan ortopedi Salah satu indikasi dilakukan tindakan ortopedi jika sudah terjadi

deformitas akibat proses spasme otot atau telah terjadi kontraktur pada otot dan tendon. Dalam hal ini harus dipertimbangkan secara matang beberapa factor sebelum melakukan tindakan bedah. c. Fisioterapi Fisioterapi merupakan salah satu terapi dasar bagi penderita C.P fisioterapi yang cepat dilaksanakan pada penderita yang masih muda pada tahap dini manfaatnya jauh lebih nyata jika dibandingkan dengan penderita yang lebih lambat. Satu hal yang perlu ditekan kan pada orang tua didalam membantu pelaksanaan fisioterpi sang anak berada dirumah. Prognosis : Di negara yang telah maju misalnya inggris dan skandinvia terdapat 20-25% penderita cerebral palsy sebagai buruh penuh dan 30-50% tinggal di institute cerebral palsy. Prognosis penderita dengan gejala motorik yang ringan adalah baik, makin banyak gejala penyertanya dan makin berat gejala motoriknya, makin buruk prognosisnya (Soetjiningsih, 2012). TATALAKSANA PENILAIAN TUMBUH KEMBANG 1. Anamnesa : keluhan orangtua dan riwayat tumbuh kembang (lisan dan tertulis/ kuesioner skrining perkembangan anak). 2. Pemeriksaan :

a. Observasi dan pemeriksaan (bentuk mukan, tubuh , tindak tanduk anak, hubungan anak dengan orang tuanya/ pengasuhnya, sikap anak terhadap pemeriksa). b. Pengukuran anthropometri : Rutin : tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lingkaran lengan. Atas indikasi : lingkaran dada, panjang lengan (armspan), panjang tungkai, tenal kulit (skinfold). 3. Penilaian pertumbuhan. Plot pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan stansar yang dipakai 4. Penialain maturiatas a. Pertumbuhan pubertas (Tanner): Anak perempuan ( payudara, haid, rambut pubis) Anak laki-laki (testis, penis, rambut pubis) Umur tulan (bone age) 5. Penilaian perkembangan : Skrinning dengan instru,em Denver II, Munchen, Bayley, Stanford binner atau lainnya. Pilihlah tes yang paling dikuasai pemeriksa. 6. Pemeriksaan lain yang diperlukan atas indikasi : a. Radiologi : umur tulang (Bone Age), Foto tengkorak, CT Scan/ MRI. b. Laboratorium : darah (umum atau hormonal) urine tergantung penyakit atau kelainan organik yang mendasari. c. Fungsi pendengatan (TDD) d. Fungsi penglihayan (TLD), Funduskopi, lapang pandang e. Pemeriksaan potot (EMG) 7. Klasifikasi / diagnosis kerja : Setelah dilakukan skrinning kemudian perlu ditetapka apakah anak termasuk kategori normal atau menyimpang (teralambat atau terlalu cepat dibandingkan dengan standar ) 8. Rujukan Menetapkan indikasi rujukan : dirujuk kemana danpersiapan apa saja yang diperlukan. Perlu dipersiapkan pada intervensi/tindkan infasif : information of consent kemudian disusul informed consent(Soetjiningsih, 2012).

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Tumbuh kembang pada anak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor bawaan (genetik) dan lingkungan. Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menghambatnya. 2. Perkembangan anak pada fase awal terbagi menjadi 4 aspek kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar, motorik halus dan penglihatan, berbicara dan bahasa, serta sosial emosi dan perilaku. Jika terjadi kekurangan pada salah satu aspek kemampuan tersebut dapat mempengaruhi perkembangan aspek yang lain. 3. Penilaian tumbuh kembang anak dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan, melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. B. Saran 1. Pentingnya ibu dalam ekologi anak, sebagai para genetik faktor, yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan perkembangan psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang postnatal dan perkembangan kepribadian anak. Juga pentingnya menyusui dalam tumbuh kembang anak. 2. Pemantauan perkembangan anak sangat penting, karena dengan

pemantauan yang baik maka dapat dilakukan deteksi dini kelainan perkembangan. Sehingga intervensi dini dapat dilakukan dan tumbuh kembang anak dapat lebih optimal sesuai dengan kemampuan genetiknya. 3. Untuk mahasiswa dalam melaksanakan diskusi tutorial diharapkan selalu aktif dalam berdiskusi dan terus belajar, karena ilmu hanya bisa didapat dengan belajar dan diharapkan lebih banyak menginput materi yang mendukung kasus dalam diskusi tutorial sehingga diskusi tutorial dapat

berjalan dengan lacar dan kerelevanan info yang disampaikan juga harus diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

Irwanto,

dkk.

2006.

Penyimpangan

Tumbuh

Kembang

Anak.

http://old.pediatrik.com/pkb/061022022956-57x6138.pdf (diakses pada 12 Maret 2014) Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya Murti S. 2005. Psikologi Perkembangan Anak. Surakarta: SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Moewardi Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Hlm: 935-944 Soetjiningsih. 2003. Perkembangan Anak dan Permasalahannya. Jakarta: EGC Soetjiningsih. 2012. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Sularyo, Titi Sunarwati. 2000. Retardasi Mental. Sari Pediatri. Vol 2 (3): 170-177 Tanuwijaya, S. 2003. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC Veskarisyanti, Galih A. 2008. Terapi Autis Paling Efektif Dan Hemat Untuk Autisme, Hiperaaktif, Dan Retardasi Mental. Yogyakarta, Pustaka Anggrek. Widyastuti, D, dan Widyani, R. 2001. Panduan Perkembangan Anak 0 Sampai 1 Tahun. Jakarta: Puspa Swara