Anda di halaman 1dari 97

REFERENSI ARTIKEL

TELAAH MARAH DITINJAU DARI SEGI


PSIKONEUROIMUNOLOGI

DISUSUN OLEH :
Ida Bagus Ananta W
G99142090
Egtheastraqita C G99141091
Mugi Tri Sutikno G99141092
Wahyu Pamungkas
G99141093
Bima Kusuma Jati G99151038

Andyka Prima P G99151039


Safitri Dwi M
G99151040
Norma Mukti B
G99151041
Desvian Adi N
G99151042

PEMBIMBING
Istar Yuliadi,dr., M.Si., FIAS

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Tuhan


Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan refrat yang
berjudul : Telaah Marah dari Segi Psikoneuroimunologi.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan
refrat ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa
bimbingan

maupun

nasihat,

oleh

karena

itu

penulis

mengucapkan terima kasih kepada:


1 Prof. Em. Ibrahim Nuhriawangsa, dr., Sp.KJ (K)
2 Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)
3 Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ (K)
4 Prof. Dr. Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)
5 Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ (K)
6 Yusvick M. Hadim, dr., Sp.KJ
7 Djoko Suwito, dr., Sp.KJ
8 I.G.B. Indro Nugroho, dr., Sp.KJ
9 Gst. Ayu Maharatih, dr., Sp.KJ (K)
10 Machmuroch, Dra., MS
11 Debree Septiawan, dr., Sp.KJ, M.Kes
12 Istar Yuliadi, dr., M.Si., FIAS
13 Rochmaningtyas HS, dr., Sp.KJ, M.Kes

Penulis

menyadari

bahwa

referat

ini

masih

belum

sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan


saran dari semua pihak untuk perbaikan referat ini. Semoga
referat ini bermanfaat bagi kita semua.
November 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................. ii
DAFTAR ISI......................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................iv
DAFTAR ISTILAH...............................................................................v
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................4
A. Definisi Marah..............................................................................4
B. Emosi.............................................................................................7
C. Pendekatan Emosi Dilihat Dari Sisi Budaya............................ 8
D. Teori Dasar Marah.......................................................................11
1 Teori Perkembangan Freud....................................................11
2 Teori Erik Erikson...................................................................21
3 Teori Kepribadian Jean Piaget................................................ 27
4 Teori Hubungan Kepribadian Dengan Marah.........................31
5 Teori Hubungan Kognisi Dengan Marah................................. 37
6 Teori Hubungan Pengalaman Seksual Dengan Marah............ 41
E. Mekanisme Marah.......................................................................43
1 Teori Psikoneuroimunologi.....................................................43
2

Teori Neurologis.....................................................................54

F. Manifestasi Marah.......................................................................57
1 Waktu yang Tepat untuk Marah.............................................60
2 Manfaat Marah......................................................................61
G. Anger Management.....................................................................62
1. Teori Coping...................................................64
2. Manajemen Marah.........................................71
BAB III PENUTUP ..............................................................................76
A SIMPULAN ...............................................................................76

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................77

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.

Jalur HPA Axis


Hubungan Antara Psikis dan Sistem Neuroendokrin
Konektivitas
Analisis
Fungsional
Selama
Reappraisal, Analytical Rumination, dan Angry

Gambar 4.

Rumination
Model Mediasi

DAFTAR ISTILAH

AC-O

: Anger Control - Out

ACTH

: Adenocorticotropin Hormone
5

AM
ANS

: Anger Management
: Autonomic Nervous System

AVP

: Arginin Vasopressin

BBAQ

: Brief Anger- Agression Questionaire

BOLD

: Blood Oxygen Level Dependent

CBT

: Cognitive Behaviour Therapy

CNS

: Central Nervous System

CR

: Cognitive Restructuring

CRF

: Corticotropin Releasing Factor

DACC

: Dorsal Anterior Cingulate Cortex

DLPFC

: Dorsal Altteral Prefrontral Cortex

EQ

: Emotional Quotient

GABA

: Gamma Aminobutynic Acid

HPA

: Hipothalamio-pituitary-adrenal

IFN

: Interveron

IL

: Interleukin

MAOA: Monoamine Oxiase A


MRI

: Magnetic Resonance Imaging

PNI

: Psikoneuroimunologi

PVN

: Paraventricular Nucleus

RAS

: Renun Angiotensin System

SAM

: Sumphatetic Adrenal Medullary

STAXI

: State- Trait Anger Expression Inventory

TNF

: Tumor Necrosis Factor

BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang unik. Segala kemampuan diberikan Tuhan
kepada manusia, baik kemampuan positif maupun kemampuan negatif, salah satu
kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah emosi. Ada tiga emosi
dasar yang dimiliki manusia sejak bayi hingga wafat yaitu emosi marah, senang
dan takut. Manifestasi masing-masing emosi tersebut berbeda-beda tergantung
dengan usianya, tahap perkembangan dan situasi serta kondisi saat emosi tersebut
muncul (Yadi, 2006: 13).
Setiap orang pernah merasakan marah. Menurut Harry Mills (2005),
kemarahan bukan emosi yang dilahirkan dan bukan sesuatu yang dipelajari pada
sebagian besar perilaku. Fenomena marah menjadi bagian penting yang
membentuk respon emosional perilaku tindakan yang kurang baik. Apalagi di
tengah masa serba krisis seperti ini, dimana semakin banyaknya pengangguran,
kenaikan harga barang yang meresahkan dan tuntutan pemenuhan kebutuhan
hidup yang semakin tinggi.
Adakalanya pula seseorang menjadi marah di dalam situasi yang
membuatnya merasa terancam atau dapat merugikan dirinya sendiri, ditambah lagi
saat ini banyak moralitas yang tidak baik, orang-orang yang sering melakukan
perbuatan buruk, atau sering berbuat kejahatan biasanya akan membuat orang
tersebut mudah marah. Hal itupun merupakan reaksi yang wajar. Akan tetapi
marah akan menjadi negatif dan tidak sehat, apabila seseorang itu menjadi tidak
sabar sehingga bersikap impulsif dan melakukan agresivitas (Bhave & Saini,
2009; Reilly & Shopshire, 2002).
Mengekspresikan marah, bukan berarti seseorang harus menjadi
agresivitas. Justru faktanya, dengan mengekspresikan marah dapat mencegah
terjadinya agresivitas dan membuat orang lain menjadi meminta maaf (Izard
dalam Thomas, 2001). Maksudnya dengan mengekspresikan marah secara positif,
dapat membuat orang lain menjadi tersadar akan kesalahannya dan dapat
membantu seseorang pula agar bisa bertahan dalam mengatasi permasalahannya

di berbagai situasi (Averil & Novaco dalam Bhave & Saini, 2009). Sebagai contoh
dalam hal kepemimpinan yang dimiliki seorang Ahok, Gubernur DKI Jakarta,
pemimpin dalam meyakinkan masyarakat untuk mengikuti aturan-aturan yang
telah ditetapkan dengan cara marah yang tegas, dan cara yang dilakukan Ahok ini
terbukti berhasil dalam mengatur warga Jakarta. Salah satu kejadian marah yang
dimuat dalam portal berita nasional pada tanggal 4 September 2014. Saat itu Ahok
meluapkan kemarahan karena kecewa dengan kartu virtual account produksi
Bank DKI, Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono yang duduk di
hadapannya terlihat pucat. Ia tertunduk, mengangguk, dan akan memperbaiki
menjadi lebih baik (Wijayanti, 2014).
Dalam hal ini antara marah dan agresivitas, jelas berbeda. Dimana marah
merupakan

emosi,

sedangkan

agresivitas

adalah

perilaku

yang

dapat

menyebabkan kerugian bagi orang lain atau merusak barang dan kekerasan lisan
(Reilly & Shopshire, 2002).
Semua orang pernah mengalami marah, namun setiap orang akan menjadi
penentu bagi dirinya sendiri dalam mengekspresikan marahnya. Cara seseorang
dalam mengekspresikan marahnya bisa digolongkan menjadi tiga: (1) agresivitas
ke orang lain (directed toward others) yaitu ekspresi marah yang merusak dengan
cara negatif sehingga mengakibatkan timbulnya agresivitas secara fisik dan lisan,
seperti berteriak, menjerit, memukul, menghancurkan barang, melempar buku
atau kursi; (2) mengarah ke dalam diri (directed inward) atau ditekan (supressed),
akibatnya juga dapat merusak pada diri seseorang, karena dapat meningkatkan
risiko tekanan darah tinggi, depresi, bunuh diri, penyakit pernapasan, membuat
seseorang menjadi lebih banyak merokok, minum alkohol, gagal di sekolah dan
sebagainya; (3) mengontrol dengan baik (well controlled) yaitu dengan
mengekspresikan marah secara positif (Bhave & Saini, 2009).
Mengekspresikan marah secara positif atau terkontrol merupakan emosi
yang menyehatkan dan menjadi tujuan setiap orang. Sebenarnya marah
merupakan tanda atau alarm yang akan mengalir ke otak, bahwa ada sesuatu yang
salah, sehingga akan memberikan energi pada tubuh berupa adrenalin untuk
memperbaiki situasi yang terjadi. Saat keadaan marah terjadi, seseorang dapat

memilih tiga cara primitif yang mendasar sekali untuk dilakukan yaitu: (1) dengan
mempersiapkan segala sesuatu yang nantinya dapat mengancam; (2) langsung
berjuang menghadapinya; dan (3) mencoba lari untuk menghindarinya (Bhave &
Saini, 2009; Provenzana, 2004).
Ketika kita mengelola kemarahan dengan baik, ia meminta kita untuk
membuat perubahan positif dalam hidup dan situasi kita. Pengendalian emosi
marah (Anger management) dengan tindakan yang mengatur pikiran, perasaan,
nafsu marah dengan cara yang tepat dan positif serta dapat diterima secara sosial,
sehingga dapat mencegah sesuatu yang buruk terjadi baik pada diri sendiri
maupun orang lain. Seseorang tidak bisa melepaskan atau menghindari sesuatu
atau orang lain yang membuat mereka marah, juga tidak bisa mengubahnya, tapi
seseorang tersebut dapat belajar untuk mengontrol reaksi yang akan diberikan
terhadap hal-hal tersebut (Holloway, 2003).
Penelitian tentang marah sudah banyak dilakukan dan para ahli sepakat
bahwa marah akan menjadi masalah bila frekuensi, kekuatan dan lamanya marah
begitu tinggi atau dikelola tidak efektif. Intervensi psikoedukasi seperti anger
management training (AMT) bukanlah terapi, melainkan dapat menghasilkan
potensi

untuk

perubahan

perilaku

dengan

meningkatkan

pengetahuan,

menyediakan perspektif baru, memberikan klien kesempatan untuk belajar, serta


berlatih dengan cara khusus dan strategis (Anderson, et al. dalam Thomas, 2001).
Oleh karena itu, menarik diulas kembali melalui berbagai referensi artikel
terkhusus tentang marah dan pengendalian marah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Marah
Menurut American Psychological Association (2015), marah adalah
emosi yang ditandai dengan antagonisme terhadap seseorang atau sesuatu
yang dirasakan telah sengaja melakukan kesalahan. Kemarahan adalah respon
alami dan sebagian besar otomatis untuk rasa sakit suatu bentuk atau yang
lainnya (fisik atau emosional). Kemarahan bisa terjadi ketika orang tidak
merasa baik, merasa ditolak, merasa terancam, atau mengalami beberapa
kerugian.
Kemarahan adalah emosi yang normal dengan berbagai intensitas, dari
iritasi ringan dan frustrasi mengamuk.Ini adalah reaksi terhadap ancaman
untuk diri kita sendiri, orang yang kita cintai, property kita, citra diri kita,
atau beberapa bagian dari identitas kita.Kemarahan adalah lonceng peringatan
yang memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang salah. Berikut adalah istilah
tentang marah, yaitu:
1. Sering dikenal sebagai "flight or fight" respon.
2. Pengalaman kognitif kemarahan, atau bagaimana kita memandang dan
berpikir tentang apa yang membuat kita marah. Sebagai contoh, kita
mungkin berpikir sesuatu yang terjadi pada kita adalah salah, tidak
adil, dan tidak layak.
3. Perilaku, atau cara kita mengekspresikan kemarahan kita. Ada berbagai
macam perilaku untuk memberikan sinyal kemarahan. Kita mungkin
terlihat dan terdengar marah, berubah menjadi merah, meningkatkan
volume suara kita, bungkam, membanting pintu, atau memberi sinyal
kepada orang lain bahwa kita marah. Kita juga mungkin menyatakan
bahwa kita marah dan mengapa, meminta waktu menyendiri, meminta
maaf, atau meminta sesuatu untuk berubah.

Setiap orang pernah mengalami kemarahan, dan itu bisa menjadi


sehat.Hal ini dapat memotivasi kita untuk berdiri untuk diri kita sendiri dan
ketidakadilan yang benar.Ketika kita mengelola kemarahan dengan baik, ia
meminta kita untuk membuat perubahan positif dalam hidup dan situasi kita.
Kemarahan yang tidak terarah dengan baik adalah kontraproduktif dan
bisa tidak sehat.Ketika kemarahan terlalu kuat, di luar kendali, salah arah, dan
terlalu agresif, dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk dan
pemecahan masalah, menciptakan masalah dengan hubungan dan kerja, dan
bahkan dapat mempengaruhi kesehatan kita. (American Psychological
Association, 2015)
B. Emosi
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu tidak lepas dari
hubungan sosial dengan orang lain. Berbagai kejadian (event) yang terjadi
memunculkan emosi dalam setiap individu, dari emosi tersebut kemudian
individu dapat menentukan sikap dan pikiran sehingga mampu bertindak
sesuai dengan dirinya (Lewis & Jones, 2000). Seperti putus dengan pacar
pada remaja memunculkan emosi sedih sehingga berperilaku menarik diri
atau murung.
Menurut Goleman (dalam Sundari, 2005) pada prinsipnya emosi dasar
meliputi takut, marah, sedih dan senang. Perkembangan emosi yang lain
merupakan hasil campuran diantara emosi-emosi dasar tersebut. Sedangkan
marah

sendiri merupakan reaksi

terhadap

sesuatu hambatan yang

menyebabkan gagalnya suatu usaha atau perbuatan. Marah yang timbul


seringkali diiringi oleh berbagai ekspresi perilaku.
Banyak dari anak, remaja bahkan orang dewasa sulit mengungkapkan
secara lisan tentang marah yang dirasakan. Mereka mungkin sadar setiap kali
mereka mengekspresikan marah dengan perilaku yang kurang bisa diterima
secara sosial, namun mereka tidak mampu mencegahnya untuk terjadi. Hal ini
disebut sebagai emotionally illiterate atau kebutaan emosi yang diiringi
dengan kurangnya kemampuan untuk memahami perasaan dan kurang

mampu memahami bagaimana mengekspresikan marah yang dapat diterima


secara norma sosial (Duffy, 2012)
Lebih lanjut Duffy (2012) menambahkan bahwa marah adalah sesuatu
yang sangat normal dan merupakan perasaan yang sehat. Namun sangatlah
penting untuk membedakan antara marah, agresif dan kekerasan yang sering
kali disama artikan. Marah merupakan perasaan atau emosi sedangkan agresif
dan kekerasan adalah perilaku yang dalam hal ini sering kali tidak diijinkan
oleh norma dan muncul sesuai dengan kemampuan mengontrol marah.
Dalam penelitian Cautin dkk (2001) terhadap 92 remaja menunjukkan
bahwa marah mempunyai peran yang sangat penting bagi timbulnya depresi
dan menjadi salah satu faktor yang menyumbangkan resiko bunuh diri bagi
remaja. Mereka menggolongkan ekspresi marah yaitu diinternalisasi atau
dipendam sendiri dan dieksternalisasi atau diekspresikan pada lingkungannya.
Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang menginternalisasi marahnya
mempunyai kecenderungan terhadap depresi dan terlebih lagi mengarah pada
kemungkinan bunuh diri. Sedangkan remaja yang mengekspresikan marahnya
secara eksternal mempunyai kecenderungan terhadap penyalahgunaan obat
dan alkohol.
Meskipun meningkatnya kemampuan kognitif dan kesadaran dari
remaja dapat mempersiapkan mereka untuk dapat mengatasi stres dan
fluktuasi emosional secara lebih efektif, banyak remaja yang tidak dapat
mengelola emosinya secara lebih efektif. Sebagai akibatnya, mereka rentan
untuk mengalami depresi, kemarahan (anger), kurang mampu meregulasi
emosinya, yang selanjutnya dapat memicu munculnya berbagai masalah
seperti kesulitan akademis, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja, atau
gangguan makan (Santrock, 2007).
Perilaku yang dapat merugikan seperti melakukan tindakan agresif
hingga bunuh diri pada remaja menunjukkan adanya ketidakmampuan dalam
mengelola marah atau anger management yang rendah. Hal ini terlihat saat
emosi, terutama emosi marah yang dirasakan oleh remaja tidak mampu
terwujud sebagai perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat.

Remaja akhir mempunyai tugas perkembangan yang tidak mudah,


yakni ingin menemukan kenyamanan dalam berperilaku yang ditandai dengan
keinginan untuk didengarkan dan dimengerti sebagai individu yang mandiri
(Ericson dalam Crain tahun 1992). Ketika keinginannya sering berbenturan
dengan

norma

sosial

dan

keinginan

lingkungannya

maka

sering

memunculkan emosi yang kurang nyaman seperti marah dan sedih. Namun
hal itu sesungguhnya bisa diarahkan pada kegiatan yang positif seperti
olahraga atau musik. Tentu saja hal itu tidak mudah jika seorang remaja tidak
mempunyaimanajemen

marah

yang

baik.

Sehingga

dapat

mengekspresikannya secara wajar dan positif seperti mengungkapkan pada


objek marah dengan komunikasi yang efektif.
Uraian diatas menunjukkan bahwa banyak sekali masalah yang dapat
ditimbulkan karena kurangnya kemampuan seseorang terutama remaja untuk
mengatur ekspresi marahnya, sehingga untuk membantu remaja mengontrol
ekspresi marah yang dirasakan, seorang peneliti pernah menggunakan satu
teknik terapi yaitu terapi kelompok. Terapi kelompok dipilih karena terapi ini
memberikan wadah bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan, menggali
keraguan yang ada dalam diri serta menyedari masalah mereka dengan
berbagi dengan sesama peserta.
Dalam masyarakat luas, banyak berkembang pemikiran yang salah
mengenai

marah,

salah

satunya

adalah

bahwa

cara

seseorang

mengekspresikan marah merupakan hasil dari keturunan (heredity) yang


diturunkan oleh orang tua dan hal itu tidak bisa diubah. Salah satu jenis terapi
yang

bisa

digunakan

adalah

pendekatan

cognitive-behavior

yang

mengedepankan bahwa proses berpikir dan emosi berpengaruh pada perilaku


yang muncul (apakah sesuai harapan sosial atau tidak). Ketika ada suatu
peristiwa maka pikiran dan emosi akan merespon dan menentukan perilaku
apa yang akan ia munculkan (Beck dalam Duffy, 2012). Ekspresi marah
merupakan perilaku yang dipelajari, sehingga ekspresi marah yang baik juga
bisa dipelajari (Reilly & Shopshire, 2002).

Kebanyakan perilaku seseorang merupakan hasil dari pembelajaran,


yakni dengan memperhatikan orang lain, terutama orang-orang yang
berpengaruh. Orang-orang tersebut adalah orang tua, anggota keluarga yang
lain dan teman. Jika seorang anak memperhatikan orang tuanya
mengekspresikan marah dengan perilaku agresif, seperti mencaci-maki dan
tindak kekerasan, sangat mungkin bahwa anak tersebut akan melakukan hal
yang sama ketika mengekspresikan marah karena ia telah belajar perilaku
yang demikian. Untungnya, perilakuini dapat diubah dengan cara
mempelajari perilaku baru dalam mengekspresikan marah, sehingga tidak
perlu lagi mengekspresikan marah dengan cara-cara agresif dan juga keras
(Reilly & Shopshire, 2002).
C. Pendekatan Emosi Dilihat Dari Sisi Budaya
Manusia secara universal lahir dengan emosi sama,
namun budaya mempengaruhi sejumlah aspek emosi. Cara
budaya mempengaruhi persepsi dan interpretasi emosi
merupakan suatu aturan cultural, sesuatu yang dipelajari,
yang

membentuk

bagaimana

orang

di

suatu

budaya

memandang dan menginterpretasi ekspresi-ekspresi emosi


orang lain. Seperti aturan pengungkapan,aturan dekode di
pelajari pada masa-masa awal kehidupan, dan di pelajari
sedemikian baik sehingga kita tidak benar-benar menyadari
pengaruhnya.

Dengan

demikian,

aturan

dekode

adalah

seperti saringan budaya yang mempengaruhi bagaimana kita


menangkap ekspresi orang lain.
Menurut psikologi Amerika, emosi mengandung makna
personal yang amat kental, barangkali karena psikologi
Amerika memandang perasaan batin (inner feeling) yang
subjektif sebagai karakteristik utama yang mendefisinikan
emosi. Ekspresi wajah dari emosi merupakan aspek ekspresi
emosi yang paling banyak dikaji, dan penelitian lintas-budaya
8

mengenai ekspresi wajah inilah yang menjadi pendorong


utama kajian-kajian emosi di psikologi Amerika. Dengan
demikian, meskipun ekspresi wajah universal itu secara
biologis bersifat bawaan sebagai prototype raut wajah pada
semua orang, budaya punya pengaruh besar pada ekspresi
emosi lewat aturan-aturan pengungkapan yang di pelajari
secara kultural. Karena kebanyakan interaksi antar-manusia
pada hakekatnya bersifat sosial, Kita harus memahami
bahwa perbedaan kultural dalam aturan pengungkapan ini
berlaku dalam kebanyakan, atau bahkan setiap kesempatan.
Orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda dapat,
dan memang, mengekspresikan emosi secara berbeda.
Budaya juga mempengaruhi pelabelan emosi.
Ada yang dinamakan cultural differences in emotion
antecedents yakni jenis-jenis antecedent yang sama secara
umum membawa jenis emosi yang sama secara lintas
budaya. Namun, perbedaan budaya tetap ada pada berbagai
kejadian antecedent yang membawa emosi. Contohnya
adalah

kematian

pada

satu

budaya

diartikan

sebagai

kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai, tetapi pada


budaya lain diartikan sebagai kebahagiaan karena dipandang
merupakan tujuan spiritual tertinggi. Ada juga yang disebut
cultural differences in emotion appraisal seperti di Amerika,
atribut kesedihan dimunculkan pada orang lain, sedangkan di
Jepang ditampilkan pada diri sendiri. Selain itu di Amerika
juga lebih mengatribusi penyebab kegembiraan, ketakutan,
dan

malu

pada

orang

lain,

sedangkan

orang

Jepang

memandangnya sebagai kesempatan atau takdir.


Cara satu budaya memahami dan mendefinisikan
emosi tidak selalu sama dengan budaya lain. Juga tidak

semua budaya mempunyai kata emosi misalnya suku Tahiti


tidak mempunyai kata emosi. Jadi emosi dipahami secara
berbeda. Di negara AS emosi dipandang sebagai suatu yang
unik, yang tidak dapat dilihat tetapi dapat dibagi. Budaya lain
yang menganggap emosi di luar tubuh (seperti dalam
hubungan sosial dengan orang lain), adalah berbeda dengan
budaya individualisme Amerika yang sangat personal.
Pada dasarnya sebagian kelompok yang terdiri dari
berbagai kalangan masyarakat mempunyai kebudayaannya
masing-masing

serta

berbeda

antara

satu

kebudayaan

dengan kebudayaan yang lain. Sebagian dari kelompok


masyarakat tersebut memiliki sebuah kepercayaan luhur
yang meyakini bahwa kebudayaan yang mereka miliki
merupakan

kebudayaan

yang

adiluhung.

Kebudayaan

adiluhung diartikan sebagai kebudayaan yang bernilai tinggi,


luhur, menjadi pedoman hidup, dan tidak boleh diabaikan
apalagi ditentang (Rahyono, 2009).
Di

Indonesia

sendiri

terdapat

begitu

banyak

kebudayaan dan etnis yang tentunya banyak pula perbedaan


stereotip emosinya. Budaya yang berbeda menghasilkan
konsep diri yang berbeda pada anggota anggotanya yang
kemudian

mempengaruhi

semua

aspek-aspek

lain

dari

perilaku individu. Juga menambahkan bahwa kekhasan suatu


budaya dapat dilihat dari proses marah yang terjadi pada
masyarakatnya karena setiap budaya memiliki nilai-nilai
budaya dan aturan yang khas tentang cara individu dalam
budaya tersebut menghayati suatu stimulus yang memicu
munculnya

kemarahan,

dan

cara

mengekspresikan

kemarahannya (Matsumoto dan Juang, 2004 dalam David,

10

Stephen F, 2008 21st Century Psychology: A Reference


Handbook. United States of America:Sage Publication Ltd).
Pemahaman melalui unsur kebudayaan sebagaimana
yang telah kita ketahui, kebudayaan selain memiliki tujuh
unsur kebudayaan juga mempunyai tiga aspek kebudayaan,
yakni: (1) kebudayaan sebagai tata kelakukan manusia; (2)
kebudayaan sebagai kelakukan manusia; dan (3) kebudayaan
sebagai hasil kelakukan manusia. Berdasarkan pemahaman
ilmu tersebut, pembahasan mengenai sikap atau cara orang
Jawa dalam menyampaikan kemarahannya menempatkan diri
pada aspek pertama dari aspek kebudayaan tersebut.
Selanjutnya,

secara

kongkrit

kelakukan kebudayaan

tersebut

pandangan,

hukum,

aturan,

sebagainya,

yang

akan

berupa

aspek tata
cita-cita,

kepercayaan,

mendorong,

norma,

sikap

dan

mengarahkan, dan

mengendalikan kelakukan pendukungnya.


Secara

teoritis,

pandangan

hidup

masyarakat

khususnya masyarakat Jawa, dalam menyampaikan suatu


tindakan kekecewaan seperti mengungkapkan rasa marah
cenderung

lebih

terkonsep

rapi

dibandingkan

dengan

masyarakat lainnya, proses penyampaian yang dilakukan


secara

halus

dan

bersifat

tidak

langsung

dalam

mengungkapkan kemarahan. (Franz Magnis Suseno, 1988 :


46).

Sehingga

dalam

kalangan

tertentu

bisa

saja

menganggap bahwa sikap yang disampaikan tersebut bukan


bentuk rasa marah. Proses penyampain yang dilakukan
secara halus dan bersifat tidak langsung, ternyata membuka
satu pemahaman baru mengenai sikap orang Jawa dalam
mengungkapkan kemarahan. Disebutkan juga bahwa sistem
emosi yang dimiliki manusia pada dasarnya terbentuk

11

berdasarkan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Masyarakat


atau kelomopok-kelompok tersebut dalam hal ini masyarakat
Jawa, memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa kebudayaan
yang mereka anut merupakan kebudayaan adiluhung yang
direpresentasikan kedalam berbagai macam bentuk hasil
kebudayaan.
Dapat disimpulkan emosi memberi warna pada hidup. Pengalaman
emosional juga dapat menjadi motivator bagi perilaku. Ekspresi emosi juga
penting dalam komunikasi dan memainkan peran dalam interaksi sosial.
Tidak semua budaya di dunia memiliki kata yang merepresentasikan konsep
emosi dan konsep emosi yang ditunjukkannya pun tidak setara. Orang dari
budaya yang berbeda, juga berbeda dalam mengkategorikan atau melabeli
emosi. Budaya memiliki pengaruh yang besar pada bagaimana orang
mengalami emosi. Kebudayaan memiliki peran yang sangat penting dalam
membentuk emosi manusia begitu pula pendekatan yang harus dilakukan
juga sangat bergantung pada budaya masing masing.
D. Teori Dasar marah
1. Teori Perkembangan Freud
a.

Pandangan Teori Perkembangan Psikoanalisis menurut Freuds


Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki
tiga

tingkat

kesadaran,

yakni

sadar

(conscious),

prasadar

(preconscious), dan taksadar(unconscious). Topografi atau peta


kesadaran

ini

dipakai

untuk

mendiskripsi

unsur

kewaspadaan(awareness) dalan setiapmental event seperti berfikir dan


berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan
hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada tahun 1923
Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego, dan
superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi
melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi

12

atau tujuannya. Tiga elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah


sebagai berikut:
1) Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati
pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari
kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang
masuk

kekesadaran

(consciousness).

Isi

daerah

sadar

itu

merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau


cue-external. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu
yang singkat di daerah conscious, dan segera tertekan ke daerah
perconscious

atau

unconscious,

begitu

orang

memindah

perhatiannya ke yang lain.


2) Prasadar (Preconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat
kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi
preconscious

berasal

dari

conscious

dan

clanunconscious.

Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi


kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah
prasadar. Di sisi lain, isi materi daerah taksadar dapat muncul ke
daerah prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa
timbul akibat kemunculan materi taksadar, materi itu akan ditekan
kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di
daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik,
seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan
diri.
3) Taksadar(Unconscious)
Taksadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur
kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari
jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa
ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah

13

kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan


drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman
traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh
kesadaran

dipindah

ke

daerah

taksadar.

Isi

atau

materi

ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan


terus

dalam

ketidaksadaran,

pengaruhnya

dalam

mengatur

tingkahlaku sangat kuat namun tetap tidak disadari.


Model perkembangan psikoanalisis dasar, yang terus-menerus
dimodifikasi oleh Freud selama 50 tahun terakhir hidupnya, terdiri atas
tiga komponen pokok: (1) satu komponen dinamik atau ekonomik yang
menggambarkan pikiran manusia sebagai sistem energi yang cair; (2)
satu komponen struktural atau topografik berupa sebuah sistem yang
memiliki tiga struktur psikologis berbeda tetapi saling berhubungan
dalam menghasilkan perilaku; dan (3) satu komponen sekuensial
(urutan) atau tahapan yang memastikan langkah maju dari satu tahap
perkembangan menuju tahap lainnya, yang terpusat pada daerah-daerah
tubuh yang sensitif, tugas-tugas perkembangan, dan konflik-konflik
psikologis tertentu.
b.

Komponen Struktural
1) Id (Das Es)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari
id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id
berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting,
impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah
unconscious, mewakili subjektivitas yang tidak pemah disadari
sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk
mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan
sistem dari struktur kepribadian lainnya.

14

Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure


principle),

yaitu:

berusaha

memperoleh

kenikmatan

dan

menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang


relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah
tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan.
Jadi ketika ada stimuli yang memicu energi untuk bekerja timbul
tegangan energi id beroperasi dengan prinsip kenikmatan;
berusaha

mengurangi

atau

menghilangkan

tegangan

itu;

mengembalikan din ke tingkat energi yang rendah. Pleasure


principle diproses dengan dua cara, tindakan refleks (reflex
actions) dan proses primer (primaryprocess). Tindakan refleks
adalah

reaksi

otomatis

yang

dibawa

sejak

lahir

seperti

mengejapkan mata dipakai untuk menangani pemuasan rangsang


sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer
adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat
mengurangi
menangani

atau

menghilangkan

stimulus

kompleks,

tegangan
seperti

dipakai

bayi

yang

untuk
lapar

membayangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk


gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan, disebut
pemenuhan hasrat (nosh fullment), misalnya mimpi, lamunan, dan
halusinasi psikotik.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu
membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar
memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan
benar-salah, tidak tabu moral. Jadi harus dikembangkan jalan
memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan
tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral.
Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan ego.
2)

Ego (Das Ich)

15

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita


sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality
principle), yaituusaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id
dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda
kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat
memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu dikerjakan melalui
proses sekunder (secondary process), yakni berfikir realistik
menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan
objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita
(reality testing ; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana
yang telah dipikirkan secara realistik). Dari cara kerjanya dapat
dipahami sebagian besar daerah operasi ego berada di daerah
kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi di daerah
prasadar dan daerah taksadar.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang
memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang
akan direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai
dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan
bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya
peluang yangresikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai
eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus
juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembangmencapai kesempurnaan dan superego. Ego sesungguhnya bekerja
untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki energi
sendiri akan memperoleh enegi dari Id.
3)

Superego (Das Ueber Ich)


Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian,
yang

beroperasi

memakai

prinsip

idealistik

(idealistic

principle),sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip

16

realistik dari Ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego
dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superego
beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego,
dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id)
sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak
realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip

idealistik

mempunyai

dua

subprinsip,

yakni

consciencedan ego-ideal. Superego pada hakekatnya merupakan


elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang
tua mengenai standar sosial, yang diajarkan kepada anak melalui
berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkahlaku yang dilarang,
dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak
menjadi suara hati (conscience),yang berisi apa saja yang tidak
boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang
tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego ideal,
yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses
mengembangkan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima
standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection).
Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol
orang tua.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan,
menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah
dilakukan maupun baru dalam fikiran. Super-ego juga seperti ego
dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi
merintangi pemenuhannya. Paling tidak, ada 3 fungsi superego; (1)
mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan
tujuan-tujuan moralistik, (2) merintangi impuls id, terutama impuls
seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai
masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.

17

Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian


yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam
sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsipprinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama
sebagai tim di bawah arahan ego. Baru kalau timbul konflik
diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkah laku
abnormal.

c.Komponen Sekuensial
Bagian ketiga dan terakhir dari model Freud adalah komponen
tahapan atau komponen sekuensial (sequential or stage component).
Bagian ini menekankan pola atau gerak maju organisme melalui
tahapan-tahapan perkembangan yang berbeda dan semakin lama
semakin adaptif. Menurut Freud, pintu pertama menuju kematangan
adalah tahapan perkembangan genital, dimana terbentuk hubungan
yang berarti berlangsung terus menerus.

d.

Komponen Dinamik
Semangat (atau arah) perkembangan ilmiah dan intelektual pada

akhir abad ke-19 terpusat di sekitar kajian tentang energi dan Freud
menerapkan konsep energi tersebut terhadap perilaku manusia. Ia
menyebut energi ini sebagai energi psikis (psychic energy) atau energi
yang mengoperasikan berbagai komponen sistem psikologis.
Freud berpendapat bahwa insting (instincts) atau dorongandorongan psikologis yang muncul tanpa dipelajari adalah sumber utama
energi psikis. Insting memiliki dua ciri khas yang sangat penting,
yakni: ciri konservatif (pelestarian) dan ciri repetitif (perulangan).
Maksudnya, insting selalu menggunakan sesedikit mungkin jumlah
18

energi yang di perlukan untuk melaksanakan aktivitas tertentu dan


kemudian mengembalikan organisme kepada keadaannya yang semula,
dan hal itu terjadi secara berulang-ulang. Dalam sistem Freud, insting
bertindak sebagai perangsang pikiran mendorong individu untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Insting juga bisa dipandang
sebagai gambaran psikologis dari proses biologis yang berlangsung.

e.Teori Freud Sebagai Teori Psikoseksual


Menurut Freud, para bayi terlahir dengan kemampuan untuk
merasakan kenikmatan apabila terjadi kontak kulit, dan para bayi itu
memiliki semacam ketegangan di permukaan kulit mereka yang perlu
diredakan melalui kontak kulit secara langsung dengan orang lain.
Freud menyerupakan kenikmatan ini dengan rangsangan seksual tetapi
ia memberi catatan bahwa hal ini berbeda secara kualitatif dari tipe
rangsangan seksual yang dialami oleh orang dewasa karena kejadian
yang dialami bayi ini lebih bersifat umum dan belum terdiferensiasi.
Freud menyebut kemampuan untuk mengalami kenikmatan ini dan
kebutuhan untuk meredakannya dengan nama seksualitas bayi, yang
berbeda dari seksualitas orang dewasa.
Pandangan mengenai seksualitas bayi dan anak-anak ini memicu
protes luas orang-orang menentang Freud pada masa-masa akhir era
Victorian dan awal abad ke-20. Tetapi Freud dan para pengikutnya,
yang mendasarkan pendirian mereka pada pengalaman-pengalaman
klinis, bersikukuh pada teori tersebut. Mereka tetap berpegang pada
pandangan bahwa kornponen-komponen psikologis-eksperiensial saling
terkait dengan disertai pergantian zona-zona erogen secara biologis
melalui urutan (sekuen) tertentu. Dengan demikian tahapan-tahapan
perkembangan ini disebut sebagai tahapan-tahapan psikoseksual
(psychosexual stages). Teori Freud. memandang bahwa tahapan-

19

tahapan ini bersifat urniversal, berlaku pada sernua anak-anak dimana


saja.
Menurut Freud, kemunculan setiap tahapan psikoseksual dan
sebagian bentuk perilaku yang terjadi di setiap tahapan dikendalikan
oleh faktor-faktor genetik atau kematangan sedangkan isi tahapantahapan tersebut berbeda-beda bergantung pada kultur tempat terjadinya
perkembangan. Sekali lagi ini memperlihatkan contoh mengenai
pentingnya interaksi antara kekuatan keturunan dan kekuatan
lingkungan bagi proses perkembangan.
Freud berpendapat bahwa dalam perkembangan manusia terdapat
dua hal pokok yaitu: (1) bahwa tahun-tahun awal kehidupan memegang
peranan penting bagi pembentukan kepribadian; dan (2) bahwa
perkembangan manusia meliputi tahap-tahap psikoseksual seperti
berikut ini, yaitu:
1) Tahap oral ( sejak lahir hingga 1tahun )
Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah
makan. Dua macam aktivitas oral ini, yaitu menelan makanan dan
mengigit, merupakan prototipe bagi banyak ciri karakter yang
berkembang di kemudian hari. Karena tahap oral ini berlangsung
pada saat bayi sama sekali tergantung pada ibunya untuk
memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi
dari perasaan yang tidak menyenangkan, maka timbul perasaanperasaan tergantung pada masa ini. Frued berpendapat bahwa
simtom ketergantungan yang paling ekstrem adalah keinginan
kembali ke dalam rahim.
2) Tahap anal ( usia 1-3 tahun )
Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan menumpuk
di ujung bawah dari usus dan secara refleks akan dilepaskan keluar
apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu.
Pada umur dua tahun anak mendapatkan pengalaman pertama yang
menentukan tentang pengaturan atas suatu impuls instingtual oleh

20

pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini dapat mempunyai


pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan
nilai-nilai khusus. Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang
jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.
3) Tahap phalik ( usia 3-5 tahun)
Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang menjadi
pusat dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif
berkaitan dengan mulai berfungsinya organ-organ genetikal.
Kenikmatan masturbasi serta kehidupan fantasi anak yang
menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya
kompleks

Oedipus.

Freud

memandang

keberhasilan

mengidentifikasikan kompleks Oedipus sebagai salah satu temuan


besarnya.
Freud mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren
adalah biseksual, setiap jenis tertarik pada anggota sejenis maupun
pada anggota lawan jenis. Asumsi tentang biseksualitas ini
disokong oleh penelitian terhadap kelenjar-kelenjar endokrin yang
secara agak konklusif menunjukkan bahwa baik hormon seks
perempuan terdapat pada masing-masing jenis. Timbul dan
berkembangnya

kompleks

Oedipus

dan

kompleks

kastrasi

merupakan peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan


meninggalkan serangkaian bekas dalam kepribadian.
4) Tahap laten ( usia 5 awal pubertas)
Masa ini adlah periode tertahannya dorongan-dorongan seks
agresif. Selama masa ini anak mengembangkan kemampuannya
bersublimasi ( seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain
olah raga, dan kegiatan lainya). Tahapan latensi ini antara usia 6-12
tahun (masa sekolah dasar)
5) Tahap genital/kelamin ( masa remaja)
Kateksis-kateksis

dari

masa-masa

pragenital

bersifat

narsisistik. Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan

21

dari stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orangorang lain dikateksis hanya karena membantu memberikan bentukbentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi anak. Selama masa
adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini disalurkan ke
pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.
Kateksis-kateksis pada tahap-tahap oral, anal, dan phalik lebur
dan di sistensiskan dengan impuls-impuls genital. Fungsi biologis
pokok dari tahap genital tujuan ini dengan memberikan stabilitas
dan keamanan sampai batas tertentu.
2. Teori Erik Erikson
a.
Struktur Kepribadian
Erikson (Alwisol, 2009:85-88) menyatakan bahwa struktur
kepribadian manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Ego Kreatif
Ego kreatif adalah ego yang dapat menemukan pemecahan
kreativitas atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Apabila
menemukan hambatan atau konflik pada suatu fase, ego tidak
menyerah tetapi bereaksi dengan menggunakan kombinasi antara
kesiapan batin dan kesempatan yang disediakan lingkungan. Ego
yg sempurna memiliki 3 dimensi, yaitu faktualisasi, universalitas
dan aktualitas.
a) Faktualisasi adalah kumpulan sumber data dan fakta serta
metode yang dapat dicocokkan atau diverifikasi dengan metode
yang sedang digunakan pada suatu peristiwa. Dalam hal ini,
ego berisikan kumpulan hasil interaksi individu dengan
lingkungannya yang dikemas dalam bentuk data dan fakta.
b) Universalitas adalah dimensi yang mirip dengan prinsip realita
yang dikemukakan oleh Freud. Dimensi ini berkaitan dengan
sens of reality yang menggabungkan pandangan semesta/alam
dengan sesuatu yang dianggap konkrit dan praktis.
c) Aktualitas adalah metode baru yang digunakan oleh individu
untuk berhubungan dengan orang lain demi mencapai tujuan

22

bersama. Dalam hal ini, ego merupakan realitas masa kini yang
berusaha

mengembangankan

cara

baru

untuk

dapat

memecahkan masalah yang dihadapi, menjadi lebih efektif,


progresif, dan prospektif.
Erikson (Alwisol, 2009:86) berpendapat bahwa sebagian ego
yang ada pada individu bersifat tak sadar, mengorganisir
pengalaman yang terjadi pada masa lalu dan pengalaman yang
akan terjadi pada masa mendatang. Dalam hal ini, Erikson
menemukan tiga aspek yang saling berhubungan, yaitu body ego,
ego ideal dan ego identity, yang umumnya akan mengalami
perkembangan pesat pada masa dewasa meskipun ketiga aspek
tersebut terjadi pada setiap fase kehidupan.
a) Body ego merupakan suatu pengalam individu terkait dengan
tubuh atau fisiknya sendiri. Individu cenderung akan melihat
fisiknya berbeda dengan fisik tubuh orang lain.
b) Ego ideal merupakan suatu gambaran terkait dengan konsep
diri yang sempurna. Individu cenderung akan berimajinasi
untuk memiliki konsep ego yang lebih ideal dibanding dengan
orang lain.
c) Ego identity merupakan gambaran yang dimiliki individu
terkait dengan diri yang melakukan peran sosial pada
lingkungan tertentu.
2) Ego Otonomi Fungsional
Ego otonomi fungsional adalah ego yang berfokus pada
penyesuaian ego terhadap realita. Contohnya yaitu hubungan ibu
dan anak. Meskipun Erikson sependapat dengan Freud mengenai
hubungan ibu dan anak mampu memengaruhi serta menjadi hal
terpenting dari perkembangan kepribadian anak, tetapi Erikson
tidak membatasi teori teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha
memuaskan kebutuhan id oleh ego. Erikson (Alwisol, 2009:86)

23

menganggap bahwa proses pemberian makanan pada bayi


merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan lingkungan
sosialnya.
Lapar adalah menifestasi biologis, dan konsekuensinya akan
menimbulkan kesan terhadap dunia luar bayi ketika mendapat
pemuasan id yang dilakukan oleh ibu. Bayi belajar untuk
mengantisipasi interaksi dalam bentuk basic trust pada saat diberi
makan oleh ibunya. Basic trust yang dimaksud yaitu suatu
kepercayaan dasar anak yang memandang kontak dengan manusia
dan dunia luar adalah hal yang sangat menyenangkan karena pada
masa lalu (bayi) hubungan tersebut menimbulkan rasa aman dan
menyenangkan terhadap dirinya.
3) Pengaruh Masyarakat
Pengaruh masyarakat adalah pembentuk bagian tersebesar ego,
mesikipun kapasitas yang dibawa sejak lahir oleh individu juga
penting dalam perkembangan kepribadian. Erikson mengemukakan
faktor yang memengaruhi kepribadian yang berbeda dengan Freud.
Meskipun Freud menyatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh
biologikal, Erikson memandang kepribadian dipengaruhi oleh
faktor

sosial

dan

historikal.

Erikson

(Alwisol,

2009:88)

menyatakan bahwa potensi yang dimiliki individu adalah ego yang


muncul bersama kelahiran dan harus ditegakkan dalam lingkungan
budaya. Anak yang diasuh dalam budaya masyakarat berbeda,
cenderung akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilainilai dan kebutuhan budaya sendiri.
b.

Dinamika Kepribadian
Feist dan Feist (2008, 215-217) menyatakan bahwa perwujudan

dinamika kepribadian adalah hasil interaksi antara kebutuhan biologis


yang mendasar dan pengungkapannya melalui tindakan-tindakan

24

sosial. Hal ini berarti bahwa perkembangan kehidupan individu dari


bayi hingga dewasa umumnya dipengaruhi oleh hasil interaksi sosial
dengan individu lainnya sehingga membuat individu menjadi matang
baik secara fisik maupun secara psikologis. Erikson (Alwisol, 2009:87)
menyatakan bahwa ego adalah sumber kesadaran diri indvidu. Ego
mengembangkan perasaan yang berkelanjutan diri antara masa lalu
dengan masa yang akan datang selama proses penyesuaian diri dengan
realita.
Friedman dan Schustack (2006, 156) mengemukakan bahwa ego
berkembang mengikuti tahap epigenik, artinya tiap bagian dari ego
berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentang waktu
tertentu. Menurutnya, semua yg berkembang mempunyai rencana
dasar, dan dari perencanaan ini muncul bagian-bagian, masing-masing
bagian mempunya waktu khusus utk menjadi pusat perkembangan,
sampai semua bagian muncul untuk membentuk keseluruhan fungsi.
c.Tahap Perkembangan
Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang
saling berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap bergantung
pada hasil tahapan sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap
krisis ego adalah pentingnya bagi individu untuk dapat tumbuh secara
optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan yang berbeda untuk
mengatasi

tiap

tuntutan

penyesuaian

dari

masyarakat

(Berk,

2003).Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial


menurut Erik Erikson (Berk, 2003):
1) Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)
Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan
pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan
anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk
dapat mempercayai dan mengembangkan asa (hope). Jika krisis
ego ini tidak pernah terselesaikan, individu tersebut akan

25

mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya dengan orang


lain sepanjang hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa orang
lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya.
2) Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki
kontrol atas tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya,
mengajarkannya untuk mengontrol keinginan atau impulsimpulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Mereka
melatih kehendak, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa
belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa
banyak kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi,
inilah resolusi yang diharapkan. Alwisol (2009:93) melanjutkan
bahwa apabila anak tidak berhasil melewati fase ini, maka anak
tidak akan memiliki inisiatif yang dibutuhkan pada tahap
berikutnya dan akan mengalami hambatan terus-menerus pada
tahap selanjutnya.
3) Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan
dan melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari
tahapan ini akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau
membuat keputusan karena takut berbuat salah. Anak memiliki
rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan
harapan-harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil melewati
masa ini dengan baik, maka keterampilan ego yang diperoleh
adalah memiliki tujuan dalam hidupnya.
4) Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh
kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya
tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini
akan menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah dan
bangga akan prestasi yang diperoleh. Keterampilan ego yang
diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu

26

untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa


yang diraih teman-teman sebaya akan merasa inferior.
5) Tahap V : Identity versus Identity Confusion (12-20 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa
biologis

seperti

orang

dewasa

sehingga

tampak

adanya

kontraindikasi bahwa di lain pihak anak dianggap dewasa tetapi di


sisi lain dianggap belum dewasa. Tahap ini merupakan masa
stansarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual,
umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber perlindungan
dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran kelompok atau
teman sebaya tinggi. Apabila anak tidak sukses pada fase ini, maka
akan membuat anak mengalami krisis identitas, begitupun
sebaliknya.
6) Tahap VI: Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda, 20-30
tahun)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara
berinteraksi

dengan

orang

lain

secara

lebih

mendalam.

Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial yang kuat akan


menciptakan rasa kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis
ini, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah cinta.
7) Tahap VII: Generativity versus Stagnation (masa dewasa
menengah, 30-65 tahun)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia
sebagai balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya,
juga melakukan sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan
generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk memiliki
pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini
tidak berharga dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi
krisis pada masa ini maka ketrampilan ego yang dimiliki adalah
perhatian, sedangkan bila individu tidak sukses melewatinya maka
akan merasa bahwa hidupnya tidak berarti.
8) Tahap VIII: Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir, 65
tahun ke atas)

27

Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat


kembali masa lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas.
Refleksi ke masa lalu itu terasa menyenangkan dan pencarian saat
ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar
selama bertahun-tahun. Apabila individu sukses melewati faase ini
maka akan timbul perasaan puas akan diri, sedangkan apabila
mengalami

kegagalan

dalam

melewati

tahapan

ini

akan

menyebabkan munculnya rasa putus asa.


3. Teori Kepribadian Piaget
Piaget menyatakan bahwa interaksi dari kematangan
organisme

dan

pengaruh

lingkungan,

keduanya

berpengaruh terhadap perkembangan kognitif seseorang.


Perkembangan kognitif sendiri mempunyai empat aspek,
yaitu:

1)

kematangan,

sebagai

hasil

perkembangan

susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal


balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi sosial,
yaitu

pengaruh-pengaruh

yang

diperoleh

dalam

hubungannya dengan lingkungan social, dan 4) ekullibrasi,


yaitu adanya kemampuan atau system mengatur dalam
diri

organisme

keseimbangan

agar
dan

mampu

mempertahankan

penyesuaian

diri

terhadap

lingkungannya (Santrock, 2002).


Empat

periode

perkembangan

kepribadian

dan

kognitif menurut Jean Piaget (1896-1980), yaitu :


a.
b.
c.
d.

Periode
Periode
Periode
Periode

sensorik-motorik ( 0 2 tahun )
pra-operasional (2 7 tahun )
operasional konkret ( 7 11 tahun )
opersional formal ( 11 dewasa )

Perlu

diingat,

sebelum

tuntasnya

suatu

tahap,

seseorang tidak dapat berlanjut (melompat) ke tahap


berikutnya,

atau

mengalami

berikutnya.

Proses

dalam

gangguan
setiap

dalam

tahap

tahap

melibatkan

28

pengaruh lingkungan yang cukup besar, hal itu dapat


mempengaruhi lamanya seseorang berada dalam tahap
tersebut. Bisa saja seorang anak akan mengalami tahap
praoperasional lebih lama dari pada anak yang lainnya
sehingga umur bukanlah patokan utama (Boeree, 2008).
a. Tahap Sensorik-Motorik ( 0-2 tahun )
Bayi beranjak dari tindakan refleks naruliah sejak
kelahiran hingga permulaan pemikiran simbolis. Bayi
membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan
mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor
dan tindakan fisik. Di usia antara 1 sampai 4 bulan,
seorang bayi mengandalkan reaksi sirkular primer,
tindakan atau gerakan yang ia buat sebagai respon
dari tindakan sebelumnya dengan bentuk yang sama
(Santrock, 2002).
Di usia 4 sampai 12 bulan, bayi beralih pada
rekasi sirkular sekunder, yang berisi tindakan-tindakan
yang berusaha terlibat dengan lingkungan sekitar. Dia
akan

berusaha

meniup-niup

boneka

bebeknya.

Kejadian ini sangat menyenangkannya, lalu dia akan


mengulanginya lagi dan lagi.
Selanjutnya, di usia 12 sampai 24 bulan, anakanak mempergunakan sirkular tersier. Reksi ini masih
berisi

lingkaran

mempertahankan

hal-hal

yang

menarik, akan tetapi dengan variasi yang relative


lebih tetap (Boeree, 2008).
Ketika

seorang

bayi

berusia

satu

setengah

tahun, maka dia sedang mengalami perkembangan


representasi
mempertahankan

mental,
citraan

yaitu
dalam

kemampuan
pikirannya

untuk

29

jangka waktu yang lebih lama daripada sekedar


periode

pengalaman

langsung

ketika

mencerap

sesuatu yang ada di depannya.


b. Tahap Pra-Operasional ( 2 - 7 tahun )
Pada

tahap

pra-operasional,

anak

mulai

melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambargambar;

kata-kata

dan

gambar-gambar

ini

mencerminkan meningkatnya pemikiran simbolis dan


melampaui hubungan informasi sensor dan tindakan
fisik. Di tahap ini, dia telah memilki representasirepresentasi mental dan memiliki pertimbangan yang
lebih baik (Santrock, 2002).
Simbol adalah sesuatu yang mempresentasikan
sesuatu yang lain. Sebuah gambar, sebuah kata yang
tertulis atau kata yang diucapkan akan dipahami
sebagai representasi dari sesuatu yang lain. Seiring
dengan

kemampuan

mempergunakan

simbol

ini,

pemahaman tentang masa lalu dan masa yang akan


datang pun semakin jelas. Perlu diingat bahwa pada
tahap

ini,

anak-anak

bersifat

sangat

egosentris,

artinya dia cenderung hanya melihat sesuatu dari satu


sudut

pandang,

yaitu

sudut

pandangnya

sendiri

(Boeree, 2008).
c. Tahap Oprasional Konkret ( 7 11 tahun )
Kata

oprasi merujuk pada cara kerja

prinsip-prinsip

logika

yang

kita

gunakan

atau
dalam

memecahkan sebuah persoalan. Pada tahap ini anak


dapat berfikir seara logis tentang peristiwa yang
konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam
bentuk-bentuk yang berbeda (Santrock, 2002).

30

Saat berusia 6 atau 7 tahun, sebagian besar


anak

telah

memiliki

kemampuan

untuk

mempertahankan ingatan tentang ukuran, panjang


atau

jumlah

benda

cair.

Maksud

ingatan

yang

dipertahankan disini adalah gagasan bahwa satu


kuantitas akan tetap sama walaupun penampakan
luarnya terlihat berubah (Boeree, 2008).
Diusia 7 atau 8 tahun, seorang anak akan
mengembangkan

kemampuan

mempertahankan

ingatan tentang substansi. Diusia 9 atau 10 tahun,


kemampuan

terkahir

dalam

mempertahankan

kemampuan mulai diasah yaitu ingatan tentang ruang.


Dalam tahap ini seorang anak juga belajar melakukan
pemilahan (classification) dan pengurutan (seriation)
(Boeree, 2008).Proses-proses penting selama tahapan
operasional konkrit yang terjadi adalah :
1) Pengurutan
Pengurutan

merupakan

kemampuan

untuk

mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau


ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda
ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda
yang paling besar ke yang paling kecil.
2) Klasifikasi
Klasifikasi

merupakan

kemampuan

untuk

memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian


benda

menurut

tampilannya,

karakteristik

lain,

termasuk

serangkaian

benda-benda

ukurannya,
gagasan

dapat

atau

bahwa

menyertakan

benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.


3) Decentering

31

Anak
aspek

mulai

dari

mempertimbangkan

suatu

permasalahan

beberapa

untuk

bisa

memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan


lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih
sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4) Reversibility
Anak mulai memahami bahwa jumlah atau
benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat
menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, dan 8-4
akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5) Konservasi
Anak memahami bahwa kuantitas, panjang,
atau

jumlah

benda-benda

tidak

berhubungan

dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau


benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak
diberi cangkir berisi air, mereka akan tahu bila air
dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda,
air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi
cangkir sebelumnya.
6) Penghilangan sifat Egosentrisme
Kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut
pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut
berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh,
Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu
meninggalkan

ruangan,

kemudian

Ujang

memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu


baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap
operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan
tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak

32

walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah


dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
d. Tahap Oprasional Formal ( 11 tahun - dewasa )
Anak telah memasuki masa remaja dan berfikir
dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih
idealis. Pada tahap sebelumnya, anak-anak yang
berada dalam tahap oprasi konkret masih mengalami
kesulitan menerapkan kemampuan logika yang baru
dikuasainya terhadap peristiwa-peristiwa yang abstrak
atau tidak konkret. Di tahap operasional formal,
seorang anak semakin memiliki kemampuan untuk
berpikir seperti orang dewasa. Tahap ini mencakup
kematangan
menggunakannya

prinsip-prinsip
untuk

logika

menyelesaikan

dan

persoalan-

persoalan abstrak. Kita sering menyebutnya dengan


pemikiran hipotetik (Boeree, 2008).
4. Teori Hubungan Kepribadian Dengan Marah
Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang
memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa
kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari
lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan
juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut
kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat
psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
a.

Tipe Kepribadian
Dalam ilmu psikologi, dikenal teori 4 tipe kepribadian. Teori ini
dikenalkan pertama kali oleh Galen, seorang ahli fisiologi yang hidup
pada abad ke-2 Masehi. Walaupun tipe ini dianggap kuno, tetapi masih
digunakan oleh psikolog-psikolog di jaman modern ini. Tipe-tipe

33

tersebut adalah Kholeris, Sanguinis, Melankolis dan Plegmatis. Dari 4


tipe kepribadin ini, tiap orang mempunyai kombinasi dari dua
kepribadian. Umumnya salah satunya lebih dominan, kadang juga
keduanya seimbang. Bila hanya 1 dari tipe kepribadian, maka dapat
dikatakan tipe kepribadian sejati. Misalnya Sanguinis sejati. Sanguin
dan koleris bisa berkombinasi secara alami karena keduanya
ekstrovert, optimis dan terus terang. Kombinasi ini menghasilkan
individu.
1) Kholeris
Kekuatan: Tipe ini berbakat menjadi pemimpin. Suka berprestasi
dan mengorganisasikan. Hidupnya berorientasi pada tujuan, aktif
dan dinamis.. Berkemauan keras dan tidak mudah putus asa. Tidak
menyukai air mata dan emosi. Bebas dan mandiri. Dalam bekerja,
suka yang serba teratur dan mencari pemecahan praktis. Mau
melakukan

tugas

yang

sulit

dan

suka

ditantang.

Bisa

mendelagasikan pekerjaan dan mau bekerja untuk kegiatan


kelompok . Bergerak cepat untuk

bertindak sehingga unggul

dalam keadaan darurat.


Kelemahan: Orang bertipe koleris terlalu bersemangat, suka
memerintah dan tidak sabaran, keras kepala dan kaku. Menyukai
kontroversi dan pertengkaran, tidak mau menyerah kalau kalah.
Tidak simpatik/kurang peka terhadap perasaan orang lain. Suka
merasa benar sendiri. Mendominasi orang lain Dalam bekerja,
termasuk pecandu kerja, menuntut loyalitas dan penghargaan
bawahan. Bisa kasar atau taktis. Mngharapkan pengakuan atas
prestasinya.
2) Sanguinis
Kekuatan: Kepribadian yang menyenangkan, ceria, supel, suka
bicara dan bercerita. Punya selera humor yang baik. Emosional dan
demonstratif. Antusias dan ekspresif. Optimis, Penuh rasa ingin
tahu. Berhati tulus, tidak menyimpan dendam dan cepat meminta

34

maaf. Menyukai kegiatan spontan. Dalam bekerja, mengajukan diri


secara sukarela untuk bekerja, mengilhami orang lain untuk
bergabung dan dapat mempesona orang lain untuk bekerja.
Kelemahan: Mendominasi percakapan dan suka membesarbesarkan, egoistis, suka mengeluh, kekanak-kanakan, tidak pernah
dewasa. Mudah marah/emosional. Sensitif terhadap yang dikatakan
orang tentang dirinya. Melupakan kewajiban. Keyakinan cepat
luntur, tidak disiplin, mudah teralihkan perhatiannya. Benci
sendirian. Tidak tetap/mudah berubah dan pelupa. Pandai berdalih.
Suka mencari perhatian, sorotan dan kasih sayang, dukungan dan
penerimaan orang di sekelilingnya. Memutuskan dengan perasaan.
3) Melankolis (Perfeksionis)
Kekuatan: Perfeksionis, standar tinggi. Cenderung diam dan
pemikir sehingga membutuhkan ruang dan ketenangan supaya bisa
berpikir dan melakukan sesuatu. Serius dan bertujuan. Analitis.
Berbakat dan kreatif. Berfilsafat dan puitis. Bijaksana, Idealis.
Menghargai keindahan. Sensitif kepada orang lain. Berteman
dengan hati-hati. Puas ada di belakang layar. Menghindari
perhatian. Setia dan mengabdi. Mau mendengarkan keluhan dan
mudah terharu. Dalam bekerja: suka keteraturan. Serba tertib dan
hati-hati. Rapi dalam perencanaan, hemat.
Kelemahan: Mengingat yang negatif dan menikmati sakit hati.
Citra diri rendah dan merendahkan diri sendiri. Standar suka terlalu
tinggi. Sangat memerlukan persetujuan. Mementingkan diri
sendiri. Terlalu instropektif. Tertekan karena ketidaksempurnaan.
Tidak aman secara sosial. Menarik diri dan menjauh. Suka
mengkritik orang lain. Tidak menyukai yang menentang.
Mencurigai orang lain, pendendam. Tidak mudah memaafkan
danpenuh kontradiksi. Dalam kerjaan : suka memilih pekerjaan
sulit. suka ragu-ragu danmelewatkan banyak waktu.

35

4) Phlegmatis
Kekuatan: Kadang tipe ini dipandang sebagai orang yang lamban.
Sebenarnya bukan karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia
lebih cerdas dari yang lain. Mudah bergaul dan santai. Mudah
diajak rukun dan menyenangkan. Tenang, teguh, sabar dan
seimbang. Hidup konsisten. Tidak banyak cakap tetapi bijaksana.
Simpatik dan baik hati. Menyembunyikan emosi. Hidupnya penuh
tujuan. Tidak suka mempersoalkan hal sepele. Punya banyak akal
dan bisa mengucapkan kata-kata yang tepat di saat yang tepat.
Pendengar yang baik, memiliki rasa humor yang tajam. Suka
mengawasi orang lain. Berbelas kasihan dan peduli. Dalam
bekerja: cakap dan mantap, dapat menengahimasalah. Menghindari
pertikaian. Menemukan cara yang mudah. Baik dibawah tekanan.
Kelemahan: Terlalu pemalu dan tidak banyak bicara. Tidak suka
keramaian. Suka takut dan kawatir. Mementingkan diri sendiri dan
suka merasa benar sendiri. Tidak antusias. Suka menilai orang lain.
Suka menunda-nunda sesuatu. Kurang disiplin dan motivasi diri.
Malas dan tidak peduli. Membuat orang lain merosot semangatnya.
Lebih suka menonton. Tidak suka tantangan/resiko. Terlalu suka
kompromi. Perlu waktu untuk menerima perubahan. Tidak suka
didesak-desak.
Kemudian

Ernst

Kretschmer

(1888-1964)

dalam

bukunya

"Physique and Character" membagi kepribadian atau tempramen atas 4


tipe:
1) Tipe astenik.
Tipe ini mempunyai ciri kurus, lurus, tubuh lemah, sulit
bertumbuh, dan cenderungkepada schizophrenia.
2) Tipe atletis.

36

Ciri-ciri tipe ini, orangnya tinggi, besar, dadanya bidang, kekar,


dan postur tubuhyang meruncing ke bawah. Secara kejiwaan, orang
ini mempunyai potensischizothymic.
3) Tipe piknik.
Tubuhnya cenderung melebar, lembut, gemuk bulat dan berlemak.
Kretschmermengidentifikasikan tipe dengan cycloid atau manicdepressive, suatu temperamenyang berubah-ubah, kadang senang,
kadang murung.
4) Tipe displastik. Tipe yang lain dari ketiga tipe di atas.
William Sheldon yang menulis buku "The Varieties of
Temperament" (1942), juga memberi perhatian kepada bentuk
tubuh.Ia memusatkan perhatian pada penelitiannya tentang
meticulous yang disebutnya sebagai somatotyping. Sikap dan
tingkah lakunya diduga menyesuaikan diri dengan bentuk
tubuhnya. Ia membagi tipekepribadian menjadi tiga bagian:
a) Endomorphy.
Dari segi fisik, pencernaannya baik, namun otot-ototnya lemah.
Karena itu tubuhnya cenderung gemuk. Tipe ini lamban, senang
memanjakan tubuhnya, suka makan (apalagi kalau bersama kawankawan), orangnya mudah dan sangat bersahabat, dan merasa puas
selalu.
b) Mesontorphy.
Orang tipe ini memiliki tubuh yang kekar, langkahnya tegap,
senang menguasai karena memang dia punya kekuatan, suka
terhadap hal-hal yang beresiko berbahaya. Ia mempunyai arah
yang tegas dan jelas, punya keberanian untuk bertempur. Sifat
ekstrovertnya sangat menonjol.
c) Ectomorphy.
Tipe ini ditandai dengan ketenangan. Postur tubuh dan gerak yang
kaku. Perasaannya sangat peka. Sifatnya sangat tertutup.
Pada tahun 1971, C.G. Jung menulis sebuah buku yang berjudul
"Psychological Types". Ia membagi kepribadian itu atas introvert dan
extrovert. Kedua tipe itu ditandai dengan sikap seseorang terhadap
37

obyek. Seorang yang introvert pada dasarnya selalu ingin melarikan


diri dari obyek, seakan-akan obyek itu harus dicegah agar tidak
menguasainya. Sebaliknya, orang yang ekstrovert mempunyai sikap
yang positif terhadap obyek. Dialah yang menguasai obyek itu.
Kelihatannya pembagian Jung itu terlalu sederhana. Tetapi sebetulnya
Jung mengklasifikasikan kedua tipe itu ke dalam delapan subtipe,
sehingga terkesan rumit. Tipe tersebut adalah :
1) Tipe pemikir ekstrovert.
Setiap aktivitas orang tipe ini tidak lepas dari kesimpulankesimpulan yang bersifat intelektual yang didasarkan pada data
obyektif.
2) Tipe perasa ekstrovert.
Orang ini sebelum bertindak, perasaannya itu harus pas dulu. Jung
memasukkan kaum wanita ke dalam tipe ini.
3) Tipe sensasi ekstrovert.
Bagi dia, segala sesuatu harus benar dan berorientasi pada
kesenangan yang konkrit, tidak berlebihan, hukum itu harus
dipatuhi. Orang tipe ini tidak mementingkan diri sendiri, dan rela
berkorban demi kepentingan orang lain.
4) Tipe intuitif ekstrovert.
Orang ini tidak akan ditemukan dalam dunia yang memiliki nilai
realitas yang dapat diterima. Ia tidak puas dengan apa yang ada. Ia
selalu menyelidiki sesuatu dan berbuat sesuatu yang baru.
5) Tipe pemikir introvert.
Orang ini terlalu membatasi diri dengan pikiran dan pendapatnya
sendiri. Ia bisa berpikir kritis, tetapi sering subyektif.
6) Tipe perasa introvert.
Orangnya tenang, sulit didekati, sukar mengerti dan kurang
tanggap terhadap perasaan orang lain.
7) Tipe sensasi introvert.
Dia selalu berorientasi pada peristiwa-peristiwa yang terjadi, dan
bukan pada penilaian yang masuk akal.
8) Tipe intuitif introvert.
Tipe ini sangat senang dengan hal-hal yang berbau mistik, bahkan
ia bisa menjadi peramal atau seniman yang aneh.

38

Pembagian Jung ini disempurnakan lebih lanjut oleh Isabel Briggs


Myers dalam bukunya "Gifts Differing". Dia membagi ke delapan tipe
Jung menjadi dua sub tipe yang menyangkut penilaian dan
pemahaman. Dialah yang menemukan tipe Myers.
5. Teori Hubungan Kognitif dan Marah
a. Proses Kognitif
Kognitif/kognisi adalah proses yang meliputi memori,
perhatian, bahasa, problem solving, dan perencanaan.
Hubungan antara emosi dengan kognisi telah menjadi
hal yang menarik para psikolog untuk diselidiki lebih
lanjut. Selama lebih dari dua dekade, para psikolog
mempercayai adanya hubungan antara emosi dengan
kognisi (Artini dkk, 2013).
Intelegensi emosional adalah suatu kemampuan
seseorang untuk mengidentifikasi emosi yang dialami
oleh diri sendiri dan orang lain dengan akurat, atau
kemampuan mengekspresikan emosi dengan tepat, dan
kemampuan mengatur emosi pada diri sendiri dan
orang lain (Chaplin, 1981).
Orang yang memiliki intelegensi emosional (EQ) yang
tinggi

mampu

menggunakan

emosi

mereka

untuk

meningkatkan motivasi mereka, menstimulasi pemikiran


yang kreatif, dan mengembangkan empati terhadap
orang lain. Orang-orang yang memiliki intelegensi emosi
yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam
mengidentifikasi

emosi

pada

diri

mereka

sendiri

(Goleman, 2009).
b.

Kognitif dan Emosi


Hal yang dapat didiskusikan adalah mengeai studi-

studi tentang penelitian interaksi antara kognisi dan


emosi

yang

dikenal

dengan

cognitive

emotion
39

regulation

(Ochsner

pengaturan

dan

informasi

Gross,

yang

2008).

disebut

Strategi
cognitive

reappraisal, yang meliputi proses memikirkan kembali,


muncul berdasarkan pada interaksi antara prefrontal
dan

daerah

cingulate

yang

sering

terlibat

pada

pengontrolan kognitif dan sistem seperti amygdala dan


insula yang terlibat pada peresponan stimuli. Cognitive
reappraisal yang mengatur dan mengurangi emosi
dapat menekan aktivitas amygdala sehingga emosi
menjadi

berkurang.

Lebih

jauh

lagi,

perubahan

pengalaman emosi dan respon autonomic mungkin


berkorelasi dengan seiring naik atau turunnya prefrontal
dan/atau aktivitas amygdala (Yingxu Wang,2007).
Beberapa contoh pengaruh emosi dan proses kognitif
adalah:
1) Pengaruh emosi terhadap pemilihan dan
penggalianinformasi
2) Pengaruh emosi terhadap memori
3) Pengaruh emosi terhadap proses transformasi
informasi
4) Pengaruh emosi terhadap kinerja
5) Pengaruh emosi terhadap kreativitas pemecahan
masalah
6) Pengaruh emosi terhadap pembuatan keputusan
c. Emosi dan Persepsi
Meningkatnya aktivasi penglihatan ketika melihat
stimuli emosi berbanding lurus dengan meningkatnya
perilaku pada beberapa tugas visual. Contoh, wajah
marah, senang dan stimuli emosi lainnya terdeteksi
dengan cepat dibandingkan dengan stimuli yang netral
(Eastwood et al., 2001).
d.

Emosi dan Memori

40

Emosi dapat mempengaruhi dalam pembentukan


dan mengingat kejadian masa lampau, yang ditemukan
pada manusia dan hewan. Dibandingkan hal-hal yang
bersifat netral, manusia lebih baik dalam hal mengingat
informasi dengan melibatkan emosinya. Contohnya halhal yang bisa membantu ingatan adalah cerita, film,
gambar, dan untaian kata-kata yang melibatkan emosi
(Luiz, 2009).
Sebagai contoh, penelitian dengan subyek penelitian
yang diperlihatkan dua video, yang satu berisi konten
netral dan yang lainnya

berisi konten emosional.

Meskipun kedua tipe video tersebut diambil dari sumber


dan level pemahaman yang sama, subjek mengingat
lebih baik dari video yang berisi konten emosional
dibandingkan dengan yang netral setelah dilakukan tes
kurang lebih 3 minggu setelah

subjek melihat video

tersebut (Cahill et al., 1996).


Hal-hal

yang

menyebabkan

emosional,

daya

simpan

termasuk

marah

akan

memori

semakin

kuat

terhadap hal tersebut (Luiz, 2009).


e.

Behavioral Inhibition
Salah satu dimensi yang penting dalam kognisi

meliputi behavioral inhibition (hambatan perilaku), yaitu


proses yang diperlukan untuk membatalkan tindakan
yang ingin dilakukan. Respon ini dipercaya dikontrol
pada daerah di prefrontal cortex (e.g., dorsolateral
prefrontal cortex, anterior cingulate cortex, dan inferior
frontal cortex) (Aron et al., 2004). Respon ini sering
diistilahkan sebagai go/no-go stimulus. Jika subjek
diminta

untuk

mengesekusi

respon

motorik

maka

41

menunjukkan stimulus go. Dan ketika menahan respon


maka menunjukkan stimulus no-go (Goldstein et al.,
2007).
Respon emosi dapat saling terpengaruh dengan
fungsi kognisi bagian ini. Hal inilah yang menimbulkan
reaksi dari rangsangan emosi yang didapatkan. Salah
satunya adalah respon marah terhadap rangsangan,
apakah seseorang akan meneruskan berbuat sesuatu
atau tidak (Luiz, 2009).
f.

Emosi Marah dalam Mengambil keputusan


Suasana

hati

pengambilan
tentang

sangat

keputusan.

suasana

ditemukan

hati

bahwa

berpengaruh

terhadap

Dalam

sebuah

penelitian

dalam

proses

berusaha,

seseorang

yang

mengalami

kecemasan, stress, depresi, dan marah akan cenderung


lemah dalam berusaha karena tindakan yang dilakukan
dapat bersifat irasional (Goleman, 2009).
Pada aspek pemilihan informasi, orang yang dalam
keadaan bahagia cenderung mengingat informasi yang
berisikan hal-hal yang menenangkan, begitu pula ketika
seseorang yang dalam keadaan sedih lebih cenderung
mengingat

informasi

yang

mengandung

kesedihan

daripada kesenangan. Bila dikaitkan dengan emosi


marah dalam mengambil keputusan, seseorang yang
sedang marah bila dihadapkan dengan suatu masalah
maka

emosinya

akan

mempengaruhi

tindakannya

(Sternberg, 2008).
Ada beberapa teori mengenai emosi dalam proses
kognisi yang terkait dengan emosi marah dengan
pengambilan keputuisan (Suharman, 2005):

42

1) Teori Skema
Teori

ini

berpandangan

bahwa

orang

yang

mengalami emosi/suasana hati tertentu memiliki


suatu pola kerja yang digenerelasikan yang disebut
skema yang serupa dengan suasana hati tersebut.
Contoh, orang-orang yang sedih biasanya menerima
dan mengingat pengalaman yang negatif, episode
duka, dan cenderung mengintrepretasi dunia dari
prespektif yang negative. Skema sedih membuat
individu lebih siap mengingat kembali pengetahuan
dan pengalaman yang menyedihkan.
2) Teori Arousal
Arousal adalah keadaan emosi seseorang yang
berkitan dengan semangat, termotivasi, gairah dll.
Emosi-emosi

seperti

kinerja

seseorang

kognitif

misalnya

keputuasn

dan

ini

sangat

mempengaruhi

menyelesaikan
mengingat,

memecahkan

tugas-tugas

belajar,

membuat

masalah

(Chaplin,

1981).
Yerkes dan Dodson menghasilkan sebuah prinsip
umum (Yerkes Dodson), isinya adalah:
a) Hubungan antara tingkat tekanan, semangat atau
keadaan termotivasi dalam bentuk kurva U
terbalik. Kinerja yang optimal dapat terjadi apabila
semangat (arousal) berada pada tingkat yang
sedang atau moderat.
b) Tingkat optimal dari
berhubungan

secara

semangat
terbalik

atau

gairah

dengan

tingkat

kesulitan tugas.
3) Tingkat Arousal

43

Apabila seseorang berada pada tingkat arousal


atau semangat yang sangat tinggi, atau sebaliknya
sangat rendah, ia cendeerung menunjukkan kinerja
yang kurang efektif. Kognisi manusia tidak selalu
bersifat rasional karena melibatkan banyak bias
dalam

persepsi

dan

dalam

ingatan

manusia

(Sternberg, 2008). Sebaliknya, emosi juga tidak


selalu bersifat rasional, emosi dapat menyatukan
manusia, mengatur jalannya sebuah hubungan dan
memotivasi orang dalam mencapai suatu sasaran.
Tanpa kemampuan merasakan emosi, manusia akan
mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan
atau

dalam

merencanakan

masa

depannya

(Suharnan, 2005).
6. Teori Hubungan Pengalaman Seksual Dengan Marah
Pengalaman stress yang negatif atau tidak disukai dihubungkan dengan
kerusakan terhadap otak dan perilaku. Stress yang tidak disukai dan
trauma ini merupakan faktor predisposisi mayor terhadap perkembangan
psikopatologi. Hippokampus secara khusus, sensitif terhadap stress yang
tidak disukai, merespon dengan mengurangi adult neurogenesis,
kempleksitas dendrit dan kekenyalan sinap. Stress negatif meningkatkan
kecemasan, yang mekanismenya dihubungkan dengan hippokampus.
Peningkatan kadar glukokortikoid telah dikaitkan dengan dampak-dampak
di atas (Leuner et al, 2010).
Blocking stress memicu peningkatan kadar kortikosteron yang dapat
mecegah dampak kerusakan pada adult neurogenesis, kompleksitas
dendrit dan kecemasan. Hal tersebut bisa terjadi pada pengalaman stress
yang menguntungkan seperti proses learning, berlari, latihan fisik, dan
pengalaman seksual. Meskipun bukti tentang peningkatan hormon stress

44

dengan struktur kekenyalan yang terganggu, fungsi hippokampus, latihan


fisik meningkatkan kadar glukokortikoid, tetapi secara umum bermanfaat
terhadap kesehatan. Berlari meningkatkan kadar glukokortikoid pada tikus
dan manusia, yang secara berlawanan ternyata menguatkan kekenyalan
struktur, termasuk adult neurogenesis, densitas dendrit dan kompleksitas
dendrit pada hippokampus. Lebih jauh latihan fisik mengurangi
kecemasan dan memperbaiki fungsi learning dan memori pada
hippokampus. Berlari juga meningkatkan aliran darah ke otak,
memperbaiki kekuatan kardiovaskuler dan memicu angiogenesis, semua
faktor-faktor tersebut yang dapat memicu perbaikan perkembangan saraf
dan akhirnya meningkatkan fungsi otak.Pengalaman seksusal juga
meningkatkan kadar glukokortikoid dalam darah. Pengalaman seksual
yang akut meningkatkan proliferasi sel pada gyrus dentate pada tikus
dewasa. Pengalaman seksual yang kronik meningkatkan proliferasi sel di
gyrus dentate dan adult neurogenesis di gyrus dentate. Pembelajaran juga
menunjukan dapat meningkatkan kadar glukokortikoid dan beberapa
penelitian menunjukan latihan pada hal pembelajaran meningkatkan adult
neurogenesis. (Leuner et al, 2010)
Banyak penelitian telah mengkaitkan neurogenesis dengan regulasi
kecemasan dan umpan balik respon stress. Manipulasi penelitian
dihubungkan dengan berkurangnya jumlah neuron baru pada gyrus dentate
yang berhubungan dengan meningkatnya perilaku cemas. Demikian juga,
adult neurogenesis yang berkurang dikaitkan dengan modulasi yang
terganggu dari HPA axis-kadar kortikosteron , menunjukkan pengembalian
yang terlambat ke awal mula setelah stress pada tikus dengan sedikit saraf
yang baru. Lebih jauh lagi ternyata neurogenesis yang berkurang dikaitkan
dengan respon terganggu dari HPA axis pada dexamethasone suppresion
test. Dengan demikian, penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa
neuron baru berperan penting tidak hanya pada fungsi kognitif pada

45

hippokampus, tetapi juga pada kecemasan dan fungsi regulasi stress


(Timothy Schoenfeld danElizabeth Gould, 2011).
Sehingga bisa disimpulkan bahwa, pengalaman seksual yang kurang
secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku seperti kecemasan dan
juga mempengaruhi fungsi regulasi stress pada HPA axis, dimana HPA
axis ini berperan terhadap anger management.

E. Mekanisme marah
1. Teori Psikoneuroimunologi
Psikoneuroimunologi

(PNI)

merupakan

pembelajaran

tentang

interaksi antara proses psikologis, sistem saraf, dan kekebalan tubuh. PNI
mengambil pendekatan anterdisiplin menggabungkan antara psikologi,
neuroscience,

imunologi,

fisiologi,

anatomi,

farmakologi,

biologi

molekuler, psikiatri, dan endokrinologi (Michael, 2005). Penelitian oleh


Candace (1985) seorang neurofarmakologis mengungkapkan bahwa
terdapat reseptor neuropeptida spesifik pada permukaan sel enchepalon
dan sel-sel terkait imun (Pert, 2005). Penemuan tersebut menunjukkan
bahwa neuropeptida dan neurotransmitter selain bertindak pada psikis juga
bertindak

langsung

pada

sistem

kekebalan

tubuh.

Hal

tersebut

menunjukkan bahwa kondisi psikis seperti stres, emosi, dan kondisi psikis
lain memiliki efek langsung pada sistem imun tubuh (Price, 2006).
Terdapat peningkatan dalam hubungan antara stress psikologi dan
berbagai macam kondisi kesehatan. Suatu bukti mengesankan adanya
hubungan antara sistem imun, sistem limbik, sistem saraf pusat (central
nervous system) dan sistem endokrin, di mana sistem ini dapat dipengaruhi
oleh

faktor

sosial

dan

psikologi.

Pada

1964,

Solomon

dkk

mempublikasikan sebuah artikel berjudul Emotion, Immunity and


Disease: A Speculative Theoretical Integration yang menjadi dasar
perkembangan penelitian tentang psikoneuroimunologi (Ho, et al., 2010).
a

Proses Kerja Psikoneuroimunologi

46

Gambar1. Jalur HPAAxis (Arder, 2000).


Menurut Cohen (2001), hubungan otak dengan psikis dan endokrin
terjadi melalui (1) sel di aksis hypothalamo-pituitary-adrenal (HPA),
yang melibatkan hormon sitokin, dan (2) sel yang terdapat di jalur
automic nerve system (ANS). Sistem saraf pusat (otak) mempengaruhi
sistem endokrin melalui kelenjar pituitari, yang nantinya akan
mengontrol sekresi hormon dan akan berpengaruh pada modulasi
sistem imun. Sekresi hormon tersebut akibat adanya reseptor sel imun
yang berikatan dengan molekul HPA dan menyebabkan perubahan
jumlah, fungsi, dan distribusi sel imun. Sedangkan, pengaruh langsung
dari sistem saraf otonom (ANS) diperankan oleh kelenjar timus, limpa,
dan sumsum tulang (Arder, 2000).

47

Gambar
2.
Hubungan

antara Psikis

dan Sistem

Neuroendokrin
HPA axis terdiri atas rangkaian aktivitas hormon yang terlibat
dalam respon stres, yang terdiri dari corticotropin releasing hormone
(CRH), hormon yang diproduksi oleh hipotalamus; adenocorticotropic
hormon (ACTH), hormon yang dihasilkan oleh lobus anterior hipofisis
dan kortisol, hormon perifer yang dikeluarkan oleh cortex adrenal
(Arder, 2000; Cohen, 2001; Wingenfeld dan Wolf, 2011).
Pelepasan CRH dipicu oleh berbagai stresor baik psikologis
maupun fisiologis (lapar, inflamasi). Stresor juga menstimulir pelepasan
arginine vasopressine (AVP) oleh neuron paraventricular nucleus
(PVN) hipotalamus. Nucleus paraventrikular hipotalamus adalah
penggerak utama dari respon glukokortikoid terhadap stres. Stimulasi
saraf neurosekretori hipofisiotropik di medial parvoselular PVN
menginisiasi aktivasi HPA axis. Selanjutnya corticotropin releasing
hormone (CRH) dan arginine vasopressine (AVP) dilepaskan dari
terminal saraf neurosekretori di eminentia median dan diangkut ke
hipofisis anterior melalui sistem pembuluh darah portal dari tangkai
hipofiseal. CRH dan vasopressin bertindak sinergis untuk merangsang

48

sekresi ACTH yang tersimpan dari sel corticotrope. ACTH diangkut


oleh darah ke korteks adrenal kelenjar adrenal, di mana ia cepat
merangsang

biosintesis

kortikosteroid

dari

kolesterol

untuk

memproduksi kortisol (Arder, 2000; Cohen, 2001; Wingenfeld dan


Wolf, 2011).
Pelepasan kortisol secara simultan memiliki efek, termasuk
diantaranya peningkatan glukosa darah untuk mempertahankan regulasi
metabolisme. Pelepasan kortisol yang terus menerus akan menimbulkan
umpan balik negative pada hipotalamus maupun glandula hipofisis
anterior untuk menghentikan produksi CRH dan ACTH. Fungsi
kortisol secara umum adalah sebagai pengatur metabolisme glukosa,
regulasi tekanan darah, respon inflamasi, dan berperan dalam sistem
imun. Peningkatan kortisol dalam jumlah sedikit memiliki beberapa
efek positif seperti pemaksimalan fungsi memori, peningkatan sistem
imun,

menurunkan

sensitivitas

terhadap

sakit,

membantu

menyeimbangkan dan mempertahankan homeostasis dalam tubuh. Akan


tetapi, paparan kortisol yang terlalu lama dan konsentrasi yang terlalu
tinggi akan menimbulkan efek negatif seperti penurunan fungsi
kognitif, penekanan fungsi glandula tiroid, ketidakseimbangan gula
darah, penurunan kepadatan tulang dan massa otot, serta penurunan
respon inflamasi dan sistem imun (Arder, 2000; Cohen, 2001;
Wingenfeld dan Wolf, 2011).
b

Hubungan Psikoneuroimmunologi dengan Kondisi Afektif


Otak, sistem imunitas, dan sistem endokrin adalah sistem adaptif
utama tubuh. Dua jalur utama yang terlibat dalam interaksi tersebut
adalah hipotalamus-hipofisis-adrenal axis (HPA axis) dan sistem saraf
simpatik (SAM axis). HPA axis merespon tekanan fisik dan mental
untuk mempertahankan homeostasis sebagai salah satu cara untuk
mengontrol tingkat kortisol tubuh. Disregulasi HPA axis akan berakibat
ke berbagai penyakit akibat stres. Aktivitas HPA axis berhubungan

49

secara intrinsik dengan sitokin. Telah diketahui bahwa sitokin inflamasi


mampu merangsang hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan sekresi
kortisol. Sebaliknya glukokortikoid akan menghambat sintesis sitokin
proinflamasi (Price, 2006).
Dalam sebuah studi epidemiologis, semua penyebab morbiditas
akan bertambah berat ketika diikuti dengan stresor berat. Teori
menyatakan bahwa peristiwa stres memicu respon afektif yang akan
menstimulus sistem saraf simpatik dan perubahan endokrin. Hal
tersebut berpotensi untuk menggangu fungsi sistem imun. Stres diduga
mempengaruhi fungsi afektif tubuh akibat manifestasi emosional dan
tingkah laku seperti gelisah, takut, marah ketegangan, kesedihan, serta
perubahan fisiologis seperti denyut jantung, tekanan darah, dan
berkeringat. Para peneliti juga menyatakan bahwa perubahan-perubahan
tersebut memiliki efek positif ketika dalam batas-batas tertentu.
Sebaliknya, ketika kondisi tersebut tidak stabil dan berlangsung secara
kontinyu akan berakibat negatif (Chrousos, 2005).
Stres psikologi mengaktivasi SAM aksis yang mengatur denyut
jantung dan pelepasan katekolamin serta HPA aksis yang mengatur
pelepasan kortikosteroid dari kelenjar adrenal. Pada stres psikologi
akut, katekolamin secara dominan mempengaruhi sirkulasi sel NK (Ho,
et al., 2010).
Pada stress psikologi ringan, CD62L sel NK dengan L-selectin
(CD62 ligand) menempel lemah ke sel endotel yang mengekspresikan
reseptor molekul adhesi. Pada stres psikologi berat, L-selectin dari sel
NK tidak berperan menggerakkan dan CD62 sel NK akan ditahan di
tepi pembuluh darah atau jaringan di luar pembuluh darah. CD62 sel
NK tanpa L-selectin akan dimobilisasi. Konsentrasi molekul adhesi
seperti ICAM 1 dan CD11a akan meningkat pada stres psikologi berat.
Peningkatan konsentrasi molekul adhesi menyebabkan CD62 sel NK
menghentikan gerakannya dan menempel pada tempat berkumpulnya
molekul adhesi. Disfungsi endotel juga menyebabkan perekrutan dan

50

penempelan limfosit T dan platelet. Aktivasi sel T pada gilirannya


menghasilkan sitokin proinflamasi, seperti faktor nekrosis tumor-alfa
(TNF alfa), interleukin (IL)-1 dan IL-6 yang menstimulasi makrofag
dan sel endotel pembuluh darah untuk meningkatkan proses inflamasi.
Pada akhirnya hal ini akan merangsang kondisi atherosclerosis dini di
mana makrofag dan sel imunokompeten lainnya menyebabkan
inflamasi lokal dan pembentukan plak. Pembentukan trombus lokal
menrunkan neurotransmiter serotonin. Disregulasi kadar serotonin
dalam tubuh mengakibatkan perubahan afek.
Selain itu, sebuah stresor psikologi akut meningkatkan sitokin
proinflamasi, termasuk sel mononuklear ekspresi gen IL-1B dan plasma
interleukin 6 (IL-6). Sitokin tersebut mempengaruhi otak dan
menimbulkan perasaan malas, sakit dan lemah. Ketika terjadi inflamasi,
sirkulasi sel-sel imunokompeten mengalami peningkatan. Makrofag dan
sel glial (mikroglia dan astrosit) akan memicu sekresi sitokin
proinflamasi. Molekul sitokin proinflamasi termasuk IL-1, IL-2, IL-6,
IL-12, IFN-Gamma dan TNF-alfa selain meningkatkan sekresi hormon
stres juga dapat mempengaruhi pertumbuhan sel otak dan fungsi sel
saraf (Covelli, 2005). Selain penyakit autoimun, hipersensitivitas dan
infeksi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sel-sel imunokompeten
mengalami penurunan selama stres dan depresi (Elenkov, 2005).
Terdapat bukti yang nyata bahwa depresi dan kecemasan
meningkatkan produksi sitokin proinflamasi termasuk IL-6. Di samping
itu, gejala depresi dapat menyebabkan disregulasi imunitas dan
menimbulkan

konsekuensi

kesehatan.

Misalnya,

gejala

depresi

berkaitan dengan rendahnya jumlah limfosit T CD8 dan tingginya


rekurensi HSV-2 genital dalam 6 bulan. Gejala depresi pada pasien HIV
positif berhubungan dengan rendahnya CD4, tingginya jumlah sel B
dan meningkatnya marker aktivasi imun (HLA-DR) bahkan bila
perilaku kesehatan dan stadium penyakit terkontrol (Kiecolt-Glaser, et

51

al., 2002). Hormon kortisol merupakan tolak ukur untuk mengetahui


kondisi seseorang apakah jiwanya stres, depresi atau tidak.
Pada keadaan stres, terdapat substansi yang menyerupai beta
carboline yaitu antagonis GABA yang menyebabkan penurunan jumlah
reseptor

GABA.

Berkurangnya

reseptor

GABA

menyebabkan

berkurangnya hambatan terhadap kecemasan dan memudahkan reaksi


stres. Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam kondisi tenang,
senang, optimistis, penuh mengakibatkan sintesis

GABA dan

pengaturan sekresi antagonis GABA serta kortisol dalam batas normal


(Fawzy IF, 2005).
Telah diketahui bahwa susunan syaraf pusat mentransmisikan
informasi neurologi menjadi respon biologi dan fisiologis melalui
berbagai hormon, neuropeptida, dan neurotransmitter. Susunan tersebut
terbukti merupakan alur yang sangat berperan dalam reaksi emosional,
depresi, manik, dan stres (Carr DB and Gaudas LC, 2009).
Berbagai kondisi emosional baik possitif maupun stres dapat
menyebakan terjadinya aktivitas HPA. Aktivitas HPA tersebut dapat
berasal

dari

jalur

neurotransmiter

persyarafan

yang

berbeda.

biasa
Aktivitas

yang

diperantai

tersebut

juga

oleh
bisa

mengakibatkan terjadinya perubahan suasana emosional menjadi positif


maupun negatif, yaitu tenang, manik, optimis, cemas, susah, depresi,
dan stres. Hal serupa juga terjadi dalam dinamika rangsangan psikis
yang ditransmisikan melalui sistem limbik dan korteks frontal,
sedangkan respon stres biologis terjadi lewat RAS. Rangsangan stres
yang tiba di hipotalamus akan menyebabkan sekresi CRF yang berperan
sentral dalam reaksi stres.
Sekresi

CRF

oleh

neuron

hipotalamus

bergantung

pada

keseimbangan antara kondisi yang merangsang dan kondisi yang


menghambat sintesis dan sekresi. Neurotransmiter yang diketahui
meningkatkan sekresi CRF adalah asetilkolin dan serotonin. Sebaliknya
GABA bersifat menghambat sekresi CRF (Dunn AJ, 2005).

52

Berikut adalah penjelasan masing-masing neurotransmitter yang


berpengaruh terhadap kondisi afektif seseorang. (1) Serotonin (5hidroxytryptamine) adalah suatu neurotransmitter inhibitor yang
disintesis di neuron serotonergic di sistem saraf pusat dan sel
enterochromaffin di sistem gastrointestinal. Di sistem saraf pusat,
serotonin

dinyatakan

mempunyai

fungsi

penting

sebagai

neurotransmitter dalam regulasi marah, nafsu makan, suhu tubuh,


mood, seksualitas dan tidur. Level yang rendah dari serotonin
berhubungan dengan terjadinya agresifitas, ansietas, depresi, gangguan
makan, impulsifitas, iritabilitas dan gangguan tidur. (Nutripath.com.au ,
Extensive

Neurotransmitter

Profile).

(2)Dopamine

adalah

neurotransmitter excitator dan inhibitor yang disintesis di banyak area


otak. Dopamine adalah precursor untuk adrenaline dan noradrenaline.
Dopamine juga berfungsi sebagai hormon ketika ia dikeluarkan dari
hypothalamus, menghambat produksi prolactin dari kelenjar pituitary.
Di sistem saraf pusat, dopamine terlibat dalam regulasi rasa senang,
memory, kontrol motorik, tidur, mood, atensi dan kemampuan belajar.
Kadar Dopamine yang rendah

berhubungan dengan hilangnya

kepuasan, penarikan diri dari kehidupan sosial, apatis, berkurangnya


motivasi dan atensi. Dalam bentuk yang lain, kadar dopamine yang
rendah juga berhubungan dengan gangguan kontrol motorik, seperti
pada penyakit Parkinson. Sedangkan dopamine dalam kadar yang tinggi
berhubungan dengan agresifitas, schizophrenia, hiperaktivitas dan
sindrom Tourette. (Nutripath.com.au , Extensive Neurotransmitter
Profile). (3) Noradrenaline (norepinephineprine) dan adrenaline
(epinephrine) adalah neurotransmitter excitator dan juga sebagai
hormon. Neurotransmitter ini berperan penting pada respon fight &
flight, yang mana dalam respon ini akan terjadi peningkatan denyut
jantung, memicu pelepasan glukosa ke seluruh tubuh untuk energi dan
meningkatan aliran darah ke otot. Kondisi adrenaline dan noradrenaline
yang rendah menyebabkan penurunan mood, energi, fokus, motivasi

53

dan memory. Sedangkan dalam kadar yang tinggi, neurotransmitter ini


berhubungan
hiperaktivitas,

dengan
mania,

agresifitas,
stress

dan

ansietas,
supresi

kelabilan
sistem

emosi,
imun.

(Nutripath.com.au , Extensive Neurotransmitter Profile)


c

Hubungan Marah dengan Psikoneuroimunologi


Dalam beberapa teori, marah adalah hasil adaptasi yang salah
dalam proses coping terhadap stressor, sehingga menimbulkan
konflik/masalah

yang

lebih

besar

dan

ketidaknyamanan

personal/pribadi. Konsep yang dipakai pada masa sekarang, konsep


marah lebih difokuskan pada mekanisme adaptif dalam menghadapi
tujuan yang terhambat dan perasaan terancam. Marah yang sehat dan
marah yang tidak sehat dibedakan dari sisi sejauh mana keberhasilan
emosi dalam memenuhi kebutuhan dasar dari seorang pribadi. Sebagai
contoh, jika seseorang memberikan perkataan yang bijak sebagai
ekspresi marah untuk merespon rekan kerjanya yang berkata tidak
sopan sehingga bisa mengatasi masalah yang ada, maka hal ini adalah
marah yang sehat. Sedangkan jika seseorang itu memukul rekan
kerjanya yang berkata tidak sopan itu sehingga membahayakan rekan
tersebut, maka ini adalah marah yang tidak sehat. (Lench, 2004)
Banyak penelitian yang telah mengungkapkan bahwa kemarahan
bisa mempengaruhi kondisi tubuh kita baik secara fisiologis maupun
psikologis. Penelitian mengungkapkan bahwa sebelum marah itu
mempengaruhi banyak bagian lain dari tubuh kita, maka otak adalah
yang terpengaruh pertama kali. Otak berfungsi sebagai internal alarm
system. Otak memberikan sinyal ke bagian lain tubuh ketika kita
merasakan senang, sedih, marah, nyeri dan lain sebagainya. Sistem ini
juga memacu pelepasan adrenalin yang menyebabkan peningkatan
kewaspadaan dan responsibilitas tubuh. Hal ini menyebabkan
penyebaran glukosa ke dalam aliran darah dan otot sehingga
memberikan kemampuan untuk merespon lebih cepat, berlari lebih

54

cepat dan pengambilan keputusan yang lebih cepat. (Hendrick et al,


2013)
Otak memproses semua stress emosional. Ketika otak menerima
rangsang/stresstor berupa hal-hal yang mengancam/membahayakan,
jutaaan serabut syaraf otak merangsang pelepasan hormon stress,
adrenalin dan noradrenalin. Hormon ini membantu tubuh untuk
mengontrol denyut jantung dan tekanan darah. Pelepasan hormon ini
juga membantu pankreas untuk mengatur keseimbangan gula darah.
(Hendrick et al, 2013)
Penelitian yang diadakan oleh Hotchkiss Brain Institute di Calgary
menemukan bahwa kemarahan mempengaruhi otak melalui jalur
mekanisme neuron di hypothalamus sebagai pusat respon stress.
Kemarahan menyebabkan pelepasan neurotransmitter otak, yaitu
katekolamin ke tubuh sehingga menimbulkan efek ledakan energi
dalam beberapa menit. Mekanisme ini juga menimbulkan efek lain
dalam tubuh, seperti peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan
darah dan juga pernafasan. (Hendrick et al, 2013)
Menurut Addotta (2006) kemarahan berasal dari amygdala. Kita
memiliki

sepasang

amygdala

yang

terletah

di

atas

hypothalamus.Amygdala tersusun dari beberapa persyarafan yang


menghubungkan dengan berbagai bagian dari otak, seperti neocortex
dan visual cortex. Ketika amygdala menginisiasi kemarahan, prefrontal
cortex bisa menghasilkan perilaku kekerasan. Studi dari Society for
Neuroscience University of California (2007) memberikan pandangan
baru tentang apa yang terjadi pada otak para remaja dewasa yang
sedang dalam kemarahan dan agresifitas ketika mereka merasa
terancam. Studi ini menunjukkan bahwa perilaku agresif berhubungan
dengan respon hiperaktif dalam amygdala dan penurunan aktivitas di
prefrontal cortex otak. (Hendrick et al, 2013)
Science News (2007) memberikan gambaran yang terjadi pada
seorang wanita yang mengalami operasi pengangkatan amygdala untuk

55

mengontrol kejang epilepsi. Dalam masa penyembuhan, ditemukan


bahwa memang pengangkatan

amygdala bisa mengatasi masalah

kejang. Akan tetapi, di sisi lain ditemukan bahwa dengan pengangkatan


amygdala menimbulkan kehilangan kemampuan untuk menerima sinyal
rasa marah dan ketakutan. Beberapa studi yang dilakukan pada wanita
yang mengalami pengangkatan amygdala menunjukkan bahwa pasien
mengalami kesulitan untuk mengerti perubahan intonasi seperti yang
diekspresikan oleh orang yang sedang marah dan takut. Sedangkan
pasien masih mampu mengenali dan mengerti ekspresi dari sedih,
senang, jijik dan terkejut. (Hendrick et al, 2013)
Amygdala adalah perespon yang sempurna terhadap ancaman
(stressor). Amygdala menjadi pemeran utama dalam proses emosional
dan sosial. Amygdala membuat kita mampu bereaksi terhadap ancaman
sebelum reaksi dari prefrontal cortex, yang bertanggung jawab dalam
hal berpikir dan pertimbangan. Dengan kata lain, amygdala membuat
otak berekasi lebih cepat terhadap ancaman atau ketakutan sebelum
prefrontal cortex menyadari segala konsekuensinya. Orang-orang tabah,
yang mampu dengan cepat melakukan recovery dari stress, berarti
prefrontal

cortex

mereka

mampu

menenangkan

amygdala

(merupakan bagian otak pusat emosi, yang akan merangsang pelepasan


cortisol/hormon stress ketika terjadi peristiwa emosional). (Hendrick et
al, 2013)
Pada beberapa orang, bisa timbul marah dengan cepat dan
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menurunkan tensi
marahnya. Di sisi lain, iritasi (emosional) yang kecil bisa membuat
beberapa orang tertentu meledak kemarahannya. Fakta sains dan medis
menunjukkan bahwa neurotransmitter otak, yaitu serotonin berperan
dalam regulasi marah dan agresi. Ditemukan bahwa pada orang-orang
yang sedang berperilaku agresif, kadar serotonin yang lebih rendah
dibanding dengan orang yang berperilaku non-agresif. Defisiensi
serotonin berhubungan dengan perilaku agresif yang patologis dalam

56

bentuk kekerasan, tetapi bukan pada perilaku agresif normal yang


digunakan hewan dan manusia untuk beradaptasi dalam bertahan hidup.
(Hendrick et al, 2013)
2. Teori Neurologis
Perilaku

marah

dapat

disebabkan

faktor

lingkungan/eksternal yang kuat. Meskipun dipengaruhi oleh


lingkungan, beberapa bukti penelitian menyatakan adanya
faktor genetik yang berkaitan dengan kecenderungan
agresivitas, yaitu adanya varian alel monoamin oxidase A
(MAOA), yang mengkode monoamine oxidase A, suatu
enzim yang memecah neurotransmitter, seperti serotonin,
menjadi senyawa molekul dirinya (Buckholtz dan MeyerLindenberg, 2008).Produk gen Monoamine Oxidase A
(MAOA)

dipercaya

berperan

dalam

mengatur

metabolismeenzimatikneurotransmitterserotonin,
dopamine,

dan

norepinephrine,

memodulasiregulasi

sehingga

emosidanfungsi

otaksecara

umum.Kepercayaan sekarang ini, individudengangenotipe


MAOA

fungsional

aktivitaspadaamigdala,

rendahmenunjukkan

hipokampus,

daninsula

dalam

menanggapiparadigmaemosinegatif.
Penelitianneuroimaging
Lawrence

Murphy,

(2003)

Nimmo-Smith,

&

menunjukkan

bahwarangsanganterkaitkemarahanmelibatkancorticolimbi
cdengan emosinegatif (yaitu daerahkorteks prefrontal,
amygdala,

hipokampus,

insula,

danthalamus).

Pada

pencitraan amygdala teraktivasi dengan paparan wajah


saat marah.

Hal

ini

menunjukkan adanya

hubungan

aktivitas enzimatis MAOA terhadap amigdala. Alia-Klein et


57

al. (2007), menunjukkan bahwa perilaku dan blood oxygen


level-dependent (BOLD) terpengaruh saat terjadi paparan
marah.
Hasil penelitian menunjukkan adanya kemungkinan
resiko agresivitas dari pengontrolan marah yang kurang.
Perilaku

agresif

tidak

selalau

diterjemahkan

sebagai

tindakan atau perilaku kekerasan. Namun, agresif sebagai


tindakan
fenomena

yang
yang

menyakiti
menjadi

orang

lain

perhatian

dapat

dalam

menjadi

komunitas.

Pengaruh genotip MAOA yang rendah dapat menjadi fator


resiko agresivitas, namun hal tersebut juga didukung
karena adanya faktor eksternal seperti pengalaman tidak
menyenangkan di saat kecil, yang menyebabkan adanya
interaksi gen-lingkungan. Individu dengan alel genotip
MAOA rendah diperkirakan terdapat pada 40% populasi
pria, yang menunjukkan adanya perilaku agresif (Alia-klein
et al., 2009).
a Mechanisms

underlying

the

MAOA-aggression

link

Reactive
Sejumlah
rendahnya

penelitian

fungsional

menyatakan

gen

MAOA

bahwa

memiliki

tinggi-

hubungan

terhadap respon dari tubuh. Gen MAOA fungsional rendah


memiliki

reaktivitas

marah

yang

lebih

tinggi

dan

digambarkan pada respon talamus, amigdala kiri dan


thalamus posterior, sedangkan pada MAOA fungsional
tinggi lebih pada respon insula kiri dan AHF kanan, serta
menekan thalamus secara bilateral (Alia-klein et al., 2009).

58

Individu dengan genotipe MAOA fungsional rendah


membentuk reaksi neurologis dengan reaktivitas emosional
yang tinggi dan gangguan penghambatan. Genotipe MAOA
fungsional rendah mengurangi level monoamine oxidase A
yang akan menjadikan disregulasi serotonin pusat lebih
besar.

Kadar

mempengaruhi
memproduksi

serotonin
daerah
dan

yang

meningkat

rangsangan

mengatur

respon

neurologis
afektif

akan
yang

terhadap

rangsangan sosial untuk berperilaku yang tidak teratur dan


labil (Cases et al., 1995). Ekspresi varian alel MAOA yang
rendah berkaitan dengan hiperreaktivitas dari amygdala
dan hiporeaktivitas dari dorsal lateral prefrontal cortex
(DLPFC) selama emosi terbangkitkan. Efek dari genotipe
fungsional MAOA terhadap pengendalian marah juga terjadi
pada dorsal anterior cingulate cortex (dACC), yaitu daerah
syaraf yang terlibat dalam menanggapi kejadian yang
ditandai dengan dampak negatif (Denson et al., 2014).
Hingga

saat

ini

penelitian

yang

menerangkan

mengenai genotipe fungsional rendah MAOA memiliki


kaitan dengan agresivitas yang lebih besar. Jika mengacu
pada penelitian sebelumnya mengenai hubungan MAOAagresif, gen MAOA meningkatkan perilaku agresif jika ada
pemaparan atau pancingan negatif dari

luar seperti

provokasi dan penolakan sosial (Chester et al, 2015).


Gambaran MRI terhadap respon stimulus marah

59

60

Sumber : Fabiansson, 2011


Gambar3 : Konektivitas Analisis Fungsional Selama
Reappraisal, Analytical Rumination, dan Angry Rumination.
Ketiga gambaran pencitraan tersebut menunjukkan (A)
hubungan positif yang signifikan antara gyrus frontalis
inferior (BA 44) dan amygdala selama analytical rumination
dan angry rumination; (B) hubungan positif yang signifikan
antara gyrus frontalis inferior (BA 45) dan thalamus lateralis
posterior selama analytical rumination; (C) hubungan positi
yang signifikan antara gyrus frontalis inferior (BA 45) dan
thalamus lateralis ventral selama analytical rumination dan
angry rumination.

61

F. Manifestasi Marah
Fungsi umum dari agresif terbagi menjadi dua, yaitu
khususnya sebagai kompetisisosial danpemangsa/predator.
Kompetisi sosialmelibatkanindividu sejenis, yang berjuang
untukakses ke sumber daya(misalnya makanan, wilayah,
peringkatsosial,

dll).

Bentukagresiberhubungan

denganrangsanganfisiologisyang

tinggi,

dan

mencakupkomunikasi sosial (Tulogdi et al., 2015)


Koping

individu

merupakan

konseptualisasi

upaya

perilaku individu intrapsikis untuk menanganituntutaninternal


dan eksternalyang menantangatau melampaui batas dirinya.

Gambar4. Model Mediasi


Koping individu berkaitan dengan stres, marah, dan
agresivitas verbal. Respon marah dan stres dapat memivu
adanya agresivitas verbal. Pada

ketiga

aspek

tersebut

diperlukan adanya coping sebagai moderator agar perilaku


agresif

tidak

menjadi

buruk.

(Bodenmann,

Meuwly,

&

Bradbury, 2010)

62

Marah dan permusuhan menjadi perhatian khusus yang


berkaitan

dengan

perilaku

individu.

Permusuhan

dideskripsikan sebagai perilaku atu kognitif negatif yang


diarahkan kepada orang lain, sedangkan marah merupakan
keadaan emosionalyang terdiri dariperasaanyang bervariasi
pada

intensitas

mulai

dari

iritasiringan

ataujengkeluntukkemarahanintens,
agresivitassebagaipola
dalamberteriak,

dan

perilakuverbal

atau

intimidasiatauserangan

fisikterwujud

fisik

(Bucharest,

2010).
Pengukuran

temperamen

dan

marah

yang

paling

banyak digunakan adalah:

Mengukur tingkat komponen kegiatan, yaitu : seberapa cepat

atau kuat aktivitas seseorang.


Kemudahan untuk tersinggung/merasa

kejadian negatif.
Tingkat ketenganan,

menjadi tenang setelah terganggu.


Tingkat ketakutan terhadap stimulus yang tidak biasa.
Sosiabilitas, yaitu kemampuan penerimaan terhadap stimulus

yaitu

seberapa

terganggu
mudah

oleh

seseorang

sosial.(Hasan, 2006)
Menurut Hasan (2006), temperamen dibagi menjadi
tiga, yaitu:

Temperamen muda, yaitu mereka yang memiliki pembawaan


sikap

positf,

mudah

bergaul,

terbuka,

dan

mudah

menyesuaikan diri dengan situasi baru.


Temperamen sulit, yaitu mereka yang mudah tersinggung
dan memiliki kebiasaan yang tidak teratur, mudah aktif.
Reaksi yang ditampakkan sangat keras terhadap perubahan
rutinitas, dan lambat dalam beradaptasi pada lingkungan
baru.

63

Temperamen lambat panas, yaitu mereka yang kurang aktif,


dengan emosi yang berubah-ubah, dan lambat beradaptasi
terhadap lungkungan baru.
Marah mempengaruhi kinerja tubuh melalui otak yang
dirangsang oleh sikap agresivitas. Saat keadaan marah
terjadi

peningkatan

adrenalin

yang

menyebabkan

peningkatan kesadaran dan kewaspadaan. Respon yang


diberikan tubuh akan lebih cepat, dan pergerakan tubuh juga
lebih cepat, seperti berjalan, berbicara, dan mengambil
keputusan. Penelitian di Hotchkiss Brain Institute di Calgary
mengemukakan, salah satu cara pengaruh dari marah
terhadap otak adalah mengurangi neuron di hipotalamus
sebagai pengendali terhadap respon stres. Saat marah, otototot akan menegang, aliran darah lebih cepat, pernapasan
lenih cepat, peningkatan denyut jantung, ekskresi keringat,
dan sebagainya (Wigati, 2013).
Kontrol
Masalah

atau

pengelolaan

kekerasan

marah

merupakan

sangat

masalah

penting.

bersama

di

masyarakat, yang pada mulanya merupakan keterbatasan


individu

dalam

mengontrol

kemarahan.

Pengaturankemarahanterdiridariinteraksi kognitif, afektif, dan


prosesrelasionalyang
manusiadapat

berpengaruh

membangunmakna

terhadapbagaimana
katarelasi

(Murphy,

Nimmo-Smith, & Lawrence, 2003).


Pengendalian marah, selain genetik, dapat dipengaruhi
oleh adanya trauma, depresi, adanya kontak sosial yang
kurang

baik

seperti

masalah

keluarga,

isolasi

sosial,

kehilangan pekerjaan, dan sebagainya (Hart, Ann, Fann,


Maiuro, & Vaccaro, 2014).

64

Pengukuran marah dapat dilakukan dengan: 1) StateTrait Anger Expression Inventory (STAXI-2), yaitu kuesioner
yang berisi 57-item yang menilai sifat marah; 2) Skala Anger
Control-Out

(AC-O),

yang

mengukurseberapa

seringseseorangmengontrolekspresidarikemarahan

mereka;

3) BriefAnger-Aggression Questionnaire (BAAQ) (Alia-klein et


al., 2009; Deffenbacher, 2010).
1. Waktu yang tepat untuk marah
Aspek asertivitas memegang peranan penting dalam
hal marah. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk
mengungkapkan pikirkan, perasaan, dan keinginan kepada
orang

lain

secara

langsung,

dilakukan

dengan

jujur,

terbuka, mengekspresikannya dengan tegas, bebas, dan


tetap menghargai orang lain. Pengungkapan emosi marah
merupakan upaya mengkomunikasikan status perasaan
ketika dalam kondisi marah, mengungkapkan kepada orang
lain dan menentukan bagaimana pereasaan orang lain
(Falentina, 2012).
Orang yang cerdas emosinya adalah orang yang mampu mengelola
emosinya dalam posisi seimbang dengan pikirannya, ia mampu
mempertimbangkan secara cermat untung ruginya sebelum berbuat
sesuatu. Aristoteles, dalam The Nicomacean Ethies, memberi pelajaran
bahwa orang menjadi marah itu mudah, tetapi marah dengan orang lain
yang tepat, waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat, maksud yang
jelas itulah yang sangat sulit. Berbagai layanan konseling seperti yang
sudah diselenggarakan di sekolah, dimaksudkan agar para siswa mampu
mengatasi masalah yang dihadapinya secara mandiri, terutama masalah
emosinya sendiri, baik yang bersifat pribadi maupun dalam kapasitasnya
sebagai makhluk sosial. Sehingga untuk menentukan waktu yang tepat

65

untuk marah ini kita harus senantiasa mengasah diri dan meningkatkan
kepekaan.
2. Manfaat marah
Otak merupakan pusat kontrol untuk tubuh kita (Addotta, 2006).
Kemarahan berasal dari bagian dari tubuh kita dikenal sebagai amigdala.
Dalam

jurnal

tersebut dijelaskan bagaimana kemarahan berdampak

terhadap tubuh. Rata-rata detak jantung seseorang adalah 80 kali


permenit. Namun, marah dapat meningkatkan detak jantung sampai 180
kali

permenit.

Kemarahan

juga

memberikan

dampak

terhadap

peningkatan tekanan darah dari 120/80 mmHg meningkat menjadi


220/130 mmHg atau bahkan lebih tinggi dari itu.
Sejumlah

penelitian

telah

dilakukan

bagaimana

kemarahan

mempengaruhi fisiologis dan psikologis. Studi ini mengungkapkan


bahwa sebelum kemarahan mempengaruhi setiap bagian dari tubuh, ia
mempengaruhi otak kita terlebih dahulu. Otak adalah sistem alarm
internal. Sinyal ini dikirimkan ke seluruh tubuh kita saat kita bahagia,
sedih, marah, sakit, dan lain-lain. Sistem alarm di dalam otak kita
memicu

pelepasan

adrenalin

yang

menyebabkan

kita

untuk

meningkatkan kesadaran dan cepat tanggap.


Hal ini menyebabkan glukosa menyembur melalui aliran darah
dan

otot memberikan kemampuan

berjalan

lebih

cepat,

untuk

merespon

lebih

cepat,

dan membuat keputusan lebih cepat. Otak

memproses semua stres emosional. Ketika indera mengenali adanya


ancaman atau bahaya, jutaan serabut saraf di dalam otak kita
melepaskan bahan kimia ke seluruh tubuh untuk setiap organ. Ketika
seseorang

mengalami

adrenalin

dan

sistem

kemarahan
kelenjar

otak
lain

memerintahkan
dalam

tubuh

kelenjar
untuk

mensekresi/melepaskan hormon stres, adrenalin dan noradrenalin.


Hormon ini membantu tubuh mengontrol detak jantung dan tekanan

66

darah. Pelepasan bahan kimia ini juga membantu mengatur pankreas


yang mengontrol keseimbangan gula dalam darah (Boerma, 2007).
Marah

adalah

suatu

pola

perilaku

yang

dirancang

untuk

mengingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam


mereka. Kontak fisik jarang terjadi tanpa ekspresi kemarahan paling
tidak oleh salah seorang partisipan (Morris, 1967: 55). Meskipun
sebagian besar pelaku menjelaskan bahwa rasa marah timbul karena
"apa yang telah terjadi pada mereka", ahli psikologi menunjukkan
bahwa orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan
karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian
diri dan penilaian objektif (Raymond, 2000).
G. Anger Management
Setiap orang pernah merasakan marah karena marah
itu adalah reaksi yang normal dan alami. Seseorang juga
mungkin

akan

kebutuhan,

marah

keinginan

ketika
dan

sedang
tujuannya

frustrasi
tidak

karena
tercapai.

Adakalanya seseorang menjadi marah di dalam situasi yang


membuatnya merasa terancam atau dapat merugikan dirinya
sendiri, hal itupun merupakan reaksi yang wajar. Akan tetapi
marah harus dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Seseorang yang mengekspresikan marah akan berada
dalam dua kemungkinan yakni depresi atau agresi. Depresi
apabila orang tersebut memilih untuk menyimpan atau
memendam marahnya. Ini berbahaya karena bisa saja
marahnya akan menjadi bom waktu pada suatu saat.
Namun

ketika

orang

tersebut

memilih

untuk

mengekspresikan atau meluapkan marahnya maka akan


mengarah pada agresi. Agresi yang tidak terkendali juga akan
membahayakan orang lain maupun lingkungannya. Adapun
sikap yang paling baik adalah berada di antara depresi dan
67

agresi yakni orang bisa mengendalikan marahnya tanpa


harus menimbulkan kerusakan pada diri, orang lain dan
lingkungannya.
Salah satu intervensi psikososial yang sangat disarankan yaitu dengan
mengontrol marah atau disebut juga dengan anger management karena
merupakan cara terbaik dalam mengekspresikan marah secara positif Anger
management bertujuan untuk menghindari konsekuensi negatif, akibat dari
ekspresi marah yang tidak sesuai. Secara ekstrim, marah memungkinkan
sekali dapat mengarah pada kekerasan atau agresivitas secara fisik. Akibatnya
yang terjadi setelah itu, seseorang bisa saja akan ditangkap atau dipenjara,
mengalami luka fisik, membalas dendam, kehilangan orang yang disayang,
merasa bersalah, menjadi malu atau menyesal (Reilly & Shopshire, 2002).
Terapi kelompok berbasis cognitive-behavior menjadi sangat efektif
untuk mengatasi gangguan ekspresi marah, karena dalam terapi ini anggota
kelompok mempelajari strategi dan teknik untuk membantu mengatur
kemarahan, mengekspresikan marah dengan jalan alternatif, mengubah sikap
permusuhan, dan mencegah perilaku agresi seperti makian verbal dan
kekerasan (Reilly & Shopshire, 2002). Tujuan-tujuan tersebut dilakukan
dengan mengubah pemikiran (cognition) mengenai marah dan juga
mempelajari perilaku (behavior) yang baru untuk mengekspresikan marah.
Penanganancognitive behavior therapy (CBT) telah ditemukan
sebagai tretmen yang efektif, sebagai treatmen yang dibatasi waktu (timelimited treatment) untuk mengatasi masalah marah (Beck & Fernandes;
Deffenbacher; Trafate dalam Reilly & Shopshire, 2002). Teori belajar sosial
sering kali digunakan sebagai dasar penyusunan manual terapi kelompok
berbasis CBT untuk mengatasi masalah dengan kemarahan atau anger
management (Deffenbacher dalam Reilly & Shopshire, 2002).
Dalam terapi kelompok, remaja juga diberi kesempatan untuk
bertanya tentang nilai- nilai yang mereka pahami sehingga jika tidak sesuai
dengan teman-temannya dapat di ubah dengan pemahaman yang benar akan
nilai. Partisipan mampu belajar berkomunikasi dengan daik dan mendapat

68

kesempatan untuk meniru perilaku leader sebagai model (Correy, 2012).


Terapi kelompok juga efektif dikarenakan dalam terapi ini anggotanya
mempunyai masalah yang sama sehingga dapat saling mendukung (Nevid,
Rathus, Greene, 2005). Terapi ini mencakup beberapa karakteristik
diantaranya, (1) Intervensi relaksasi, targetnya yaitu komponen emosi dan
fisiologi dari marah, (2) Intervensi kognitif, targetnya yaitu proses kognitif
seperti pandangan mengenai permusuhan dan atribusi, keyakinan yang
irasional(irrational beliefs), dan pemikiran yang menghasut, (3) Intervensi
keterampilan komunikaasi, targetnya yaitu mengurangi keasesrtivitasan dan
keterampilan

resolusi

konflik,

(4)

Intervensi

kombinasi,

yaitu

menggabungkan dua atau lebih intervensi CBT dengan target respon yang
bermacam (Deffenbacher dalam Reilly & Shopshire, 2002).
1. Teori Coping Management
Menurut Lazarus & Folkman (dalam Sarafino, 2006) coping
adalah suatu proses
kesenjangan

dimana

persepsi

individu

mencoba

untuk

mengatur

antara tuntutan situasi yang menekan dengan

kemampuan mereka dalam memenuhi tuntutan tersebut. Menurut Taylor


(2009) coping didefenisikan
digunakan untuk

sebagai

pikiran

dan

perilaku yang

mengatur tuntutan internal maupun eksternal dari

situasi yang menekan. Menurut Baron & Byrne (dalam Sarafino, 2006)
menyatakan bahwa coping adalah respon individu untuk mengatasi
masalah, respon tersebut sesuai dengan apa

yang dirasakan

dan

dipikirkan untuk mengontrol, mentolerir dan mengurangi efek negatif


dari situasi yang dihadapi. Menurut Stone & Neale (dalam Taylor,
2009)) coping meliputi segala usaha yang disadari untuk menghadapi
tuntutan yang penuh dengan tekanan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan cara menghadapi stres dan
bereaksi terhadap tekanan yang berfungsi untuk mencoba memecahkan
masalah dengan mengatur keadaan penuh stres secara dimanis dengan

69

menggunakan sumber- sumber daya mereka sebagai respon menghadapi


situasi yang mengancam. (Prayascitta, 2010)
a. Strategi Coping
Menurut MacArthur

&

MacArthur

(1999) mendefinisikan

strategi coping sebagai upaya-upaya khusus, baik behavioral maupun


psikologis, yang digunakan orang untuk menguasai, mentoleransi,
mengurangi, atau meminimalkan dampak kejadian yang menimbulkan
stres. Lebih lanjut, strategi coping merupakan upaya yang dilakukan
oleh individu untuk mengelola tuntutan eksternal dan internal yang
dihasilkan dari sumber stres. Dodds (1993) mengemukakan bahwa
pada esensinya, strategi coping adalah strategi yang digunakan
individu untuk melakukan penyesuaian antara sumber-sumber yang
dimilikinya dengan tuntutan yang dibebankan lingkungan kepadanya.
Secara spesifik, sumber-sumber yang memfasilitasi coping itu
mencakup sumber-sumber personal (yaitu karakteristik pribadi yang
relatif stabil seperti self-esteem atau keterampilan sosial) dan sumbersumber lingkungan seperti dukungan sosial dan

keluarga atau

sumber finansial (Harrington & Mcdermott, 1993). Friedman (1998)


mengatakan bahwa strategi coping merupakan perilaku atau proses
untuk adaptasi dalam menghadapi tekanan atau ancaman.
b. Bentuk-Bentuk dan Indikator dari Coping Stress
1) Problem Focus Coping
Problem focus coping adalah usaha nyata berupa perilaku
individu untuk mengatasi masalah, tekanan dan tantangan, dengan
mengubah

kesulitan

hubungan

dengan

lingkungan

yang

memerlukan adaptasi atau dapat disebut pula perubahan eksternal


(Lazarus dalam Effendi, 1999). Strategi ini membawa pengaruh
pada individu, yaitu perubahan atau pertambahan pengetahuan
individu tentang masalah yang dihadapinya berikut dampakdampak dari masalah tersebut, sehingga individu mengetahui
masalah

dan

konsekuensi

yang

dihadapinya.

Problem focus coping merupakan respon yang berusaha


70

memodifikasi

sumber

stres

dengan

menghadapi

situasi

sebenarnya (Pramadi, 2003). Problemfocus coping merupakan


coping stress yang orientasi utamanya adalah mencari dan
menghadapi pokok permasalahan dengan cara mempelajari
strategi atau keterampilan-kererampilan baru dalam rangka
mengurangi stresor yang dihadapi dan dirasakan. Lebih lanjut
menurut Lazarus (dalam Hapsari, 2002) coping stress yang
berpusat pada masalah, individu mengatasi stres dengan
mempelajari cara- cara atau keterampilan-keterampilan baru.
Individu cenderung menggunakan strategi ini bila dirinya yakin
akan dapat mengubah situasi.
Menurut Lazarus (dalam Aldwin dan Revenson 1987)
indikator yang menunjukkan strategi yang berorientasi pada
problem focus coping yaitu:
a. Instrumental action (tindakan secara langsung). Individu
melakukan usaha dan merencanakan langkah-langkah yang
mengarah pada penyelesaian masalah secara langsung serta
menyusun rencana untuk bertindak dan melaksanakannya.
b. Cautiousness (kehati-hatian). Individu berfikir, meninjau, dan
mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah,
berhati-hati dalam merumuskan masalah, meminta pendapat
orang lain dan mengevaluasi strategi yang pernah diterapkan
sebelumnya.
c. Negotiation Individu melakukan beberapa usaha untuk
membicarakan serta mencari cara penyelesaian dengan orang lain
yang terlibat di dalamnya dengan harapan masalah dapat
terselesaikan. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengubah
pikiran dan pendapat seseorang, melakukan perundingan atau
kompromi untuk mendapatkan sesuatu yang positif dari situasi.
Bentuk-bentuk problem focus coping menurut Lazarus (dalam
Effendi, 1999) yaitu preparing focus coping, agression or attack,
avoidance, dan apathy orinaction.

71

Lebih lanjut menurut Aldwin dan Revenson (1987) problem


focuscoping meliputi tindakan instrumental yaitu tindakan yang
ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta
menyusun rencana-rencana yang dilakukan. Sedangkan negosiasi
yaitu usaha yang ditujukan kepada orang lain yang terlibat atau
menjadi penyebab masalah yang sedang dihadapinya. Indikatorindikator problem focus coping yang peneliti gunakan adalah dari
Lazarus (dalam Aldwin dan Revenson 1987) yaitu instrumental
action,cautiousness, negotiation.
2) Emotion focus coping
Emotion focus coping adalah upaya untuk mencari dan
memperoleh rasa nyaman dan memperkecil tekanan yang
dirasakan, yang diarahkan untuk mengubah faktor dalam diri
sendiri dalam cara memandang atau mengartikan situasi
lingkungan, yang memerlukan adaptasi yang disebut pula
perubahan internal. Emotion focus coping berusaha untuk
mengurangi, meniadakan tekanan, untuk mengurangi beban
pikiran individu, tetapi tidak pada kesulitan yang sebenarnya
(Lazarus dalam Effendi, 1999).
Emotion focus coping lebih sesuai dilakukan oleh subjek
yang memiliki usia berkisar antara 17 sampai 20 tahun karena
mereka belum mencapai tahap perkembangan yang matang untuk
bisa menggunakan problem focus coping (Tanumidjojo, 2004).
Menurut Pramadi (2003) Emotion focus coping merupakan respon
yang mengendalikan penyebab stressyang berhubungan dengan
emosi dan usaha memelihara keseimbangan yang efektif. Perilaku
koping yang berpusat pada emosi yang digunakan untuk mengatur
respon emosional terhadap stres. Sementara emotion focus coping
menurut Hapsari (2002) merupakan pelarian dari masalah yaitu
individu menghindari masalah dengan cara berkhayal atau
membayangkan

seandainyadia

berada

pada

situasi

yang

menyenangkan.

72

Menurut Lazarus dkk (dalam Aldwin dan Revenson 1987)


indikator yang menunjukkan strategi yang berorientasi pada
emotion focus coping yaitu:
a. Escapism (Pelarian diri dari masalah). Usaha yang dilakukan
individu untuk menghindari masalah dengan cara berkhayal atau
membayangkan hasil yang akan terjadi atau mengkhayalkan
seandainya ia berada dalam situasi yang lebih baik dari situasi
yang

dialaminya

sekarang.

Cara

yang

dilakukan

untuk

menghindari masalah dengan tidur lebih banyak, minum


minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan
menolak kehadiran orang lain.
b. Minimalization (meringankan beban masalah). Usaha yang
dilakukan individu untuk menghindari masalah dengan cara
menolak memikirkan masalah dan menganggap seakan-akan
masalah tersebut tidak ada dan menekan masalah menjadi
seringan mungkin.
c. Self blame (menyalahkan diri sendiri). Perasaan menyesal,
menghukum dan menyalahkan diri sendiri atas tekanan masalah
yang terjadi atau strategi lainnya yang bersifat pasif dan
intropunitif yang ditujukan ke dalam diri sendiri. d. Seeking
meaning (mencari arti). Usaha individu untuk mencari makna
atau mencari hikmah dari kegagalan yang dialami dan melihat
hal- hal lain yang penting dalam kehidupan. Bentuk-bentuk
Emotion focus coping oleh Lazarus (dalam Effendi, 1999) yaitu,
identifikasi,

represi,

denial,

proyeksi,

reaksi

formasi,

displacement, rasionalisasi. Carver (dalam Hapsari, 2002)


membagi aspek-aspek coping stress menjadi empat pertama
keaktifan diri yaitu suatu tindakan untuk mencoba menghilangkan
atau mengelabuhi penyebab stress atau memperbaiki akibatnya
dengan cara bertindak langsung, religiusitas yaitu sikap individu
untuk menenangkan dan menyelesaikan masalah-masalah secara
keagamaan.
73

Lebih lanjut Ebata (dalam Herdiansyah, 2007) menjelaskan


macam-macam strategi coping stress, yaitu strategi mendekat
(approach strategy) adalah suatu usaha atau cara kognitif untuk
memahami sumber penyebab kecemasan dan berusaha untuk
menghadapi masalah penyebab kecemasan tersebut beserta
konsekuensinya secara langsung dan strategi menghindar
(avoidance strategy) adalah meminimalisasi sumber penyebab,
kemudian memunculkan usaha dalam bentuk tingkah laku untuk
menarik atau menghindarkan diri dari sumber penyebab tersebut.
Indikator-indikator emotion focus coping yang peneliti gunakan
adalah dari Lazarus (dalam Aldwin dan Revenson 1987) adalah
escapism,minimalization, self blame, dan seeking meaning.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Coping Stress
1) Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan sama-sama menggunakan kedua
bentuk koping yaitu problem focus coping dan emotion focus
coping. Menurut Billings dan Moos (dalam Pramadi, 2003),
wanita lebih cenderung berorientasi pada emosi sedangkan pria
lebih berorientasi pada masalah. Secara umum respon coping
stress antara pria dan wanita hampir sama, tetapi wanita lebih
lemah atau lebih sering menggunakan penyaluran emosi
daripada pria (Hapsari, 2002).
2) Tingkat Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seesorang akan semakin
tinggi pula kompleksitas kognitifnya, demikian pula sebaliknya.
Oleh karenanya seseorang yang berpendidikan tinggi akan lebih
realistis dan aktif dalam memecahkan masalah.
3) Perkembangan Usia
Struktur psikologis seseorang dan sumber-sumber untuk
melakukan coping akan berubah menurut perkembangan usia
dan akan membedakan seseorang dalam merespons tekanan.
74

Menurut Garmezy (dalam Hapsari, 2002) coping stress akan


berbeda untuk setiap tingkat usia. Pada usia muda akan
menggunakan problem focus coping sedangkan pada usia yang
lebih tua akan menggunakan emotion focus coping. Hal ini
disebabkan pada orang yang lebih tua memiliki anggapan bahwa
dirinya tidak mampu melakukan perubahan terhadap masalah
yang dihadapi sehingga akan bereaksi dengan mengatur
emosinya daripada pemecahan masalah.
4) Status Sosial Ekonomi
Seseorang dengan status sosial ekonomi rendah akan
menampilkan koping yang kurang aktif, kurang realistis, dan
lebih fatal atau menampilkan respon menolak, dibandingkan
dengan seseorang yang status ekonominya lebih tinggi. Menurut
Tanumidjojo

(2004)

copingstress

antara

bagaimana

subjek

faktor-faktor
lain
berpikir

yang

perkembangan
dan

mempengaruhi
kognitif,

memahami

yaitu

kondisinya,

kemudian kematangan usia yaitu bagaimana subjek mengelola


emosi, pikiran, dan perilakunya saat menghadapi masalah. Hal
lainnya adalah urutan kelahiran yaitu posisi subjek diantara
saudara-saudaranya yang berpengaruh terhadap karakteristik
subjek dalam menilai dirinya sendiri, serta moral yaitu
bagaimana subjek memandang aturan tentang masalah yang
sedang dihadapi, Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress adalah jenis
kelamin, tingkat pendidikan, perkembangan usia, konteks
lingkungan dan sumber individual serta status sosial ekonomi.
Sementara faktor-faktor lain yang mempengaruhi coping stress
adalah perkembangan kognitif, kematangan usia, urutan
kelahiran, moral, pola asuh orang tua, peran orang tua, habit,
religi, nilai dan pemahaman subjek tentang masalah yang
dihadapi.

75

2. Manajemen marah
Pengendalian emosi marah (Anger management) adalah suatu
tindakan yang mengatur pikiran, perasaan, nafsu marah dengan cara yang
tepat dan positif serta dapat diterima secara sosial, sehingga dapat
mencegah sesuatu yang buruk terjadi baik pada diri sendiri maupun
orang lain. Seseorang tidak bisa melepaskan atau menghindari sesuatu
atau orang lain yang membuat mereka marah, juga tidak bisa
mengubahnya, tapi seseorang tersebut dapat belajar untuk mengontrol
reaksi yang akan diberikan terhadap hal-hal tersebut (Holloway, 2003).
Menurut American Psychological Association (Bast, 2011) ada beberapa
cara untuk mengendalikan emosi marah pada saat berada dalam situasi
yang tidak menyenangkan, yaitu:
a. Relaksasi
Melakukan relaksasi sederhana, bernafas dengan dalam namun
santai, dapat membantu menenangkan perasaan marah. Melakukan
relaksasi ini dapat dilakukan dengan menarik nafas dalam-dalam dari
diafragma, bayangkan nafas datang dari dalam diri. Perlahan-lahan
ulangi kata atau frase menenangkan seperti, "santai" atau "tenang
saja", terus ulangi sambil mengambil nafas yang dalam. Selain itu
dapat juga dilakukan dengan cara memvisualisasikan pengalaman
santai dari memori atau imajinasi, yoga dan kegiatan serupa juga
dapat

mengendurkan

otot

dan

menenangkan

diri.

Dengan

mempraktekkan teknik tersebut sehari-hari maka jika kita berada


dalam situasi tegang atau marah kita juga dapat menggunakan teknik
ini. Berikut ini adalah macam-macam teknik relaksasi menurut
Miltenberger (2004), yaitu, Relaksasi otot progresif (Progressive
muscle relaxation), Pernafasan (Diaphragmatic Breathing), Meditasi
(Attention-focusing Exercises), Relaksasi Perilaku (Behavioral
relaxation Training).
b. Cognitive Restructuring

76

Sederhananya, cognitive restructuring berarti mengubah cara


berpikir. Bila sedang marah, pikiran bisa terlalu dramatis. Ketika ada
sesuatu yang tidak beres, seseorang mungkin mengatakan pada
dirinya, "Semuanya hancur!", dengan cognitive restructuring,
seseorang dapat mengganti pikiran-pikiran negatif dengan yang lebih
masuk akal atau positif. Mungkin seseorang dapat mengatakan
kepada diri sendiri sebagai gantinya, "Ini membuat frustrasi, tapi itu
bukan akhir dari dunia.". Salah satu strategi untuk melakukan
cognitive restructuring adalah dengan menghindari kata-kata seperti
"tidak pernah" atau "selalu" ketika berbicara tentang diri sendiri atau
orang lain.
c. Problem Solving
Kadang-kadang kemarahan dan frustrasi adalah hasil dari
masalah yang sangat nyata dan tak terhindarkan dalam hidup kita.
Kemarahan dapat menjadi respon, sehat dan alami dari kesulitan ini.
Beberapa orang memiliki keyakinan budaya bahwa setiap masalah
ada solusinya. Keyakinan yang menambah frustrasi mereka ketika
mereka tahu bahwa hal ini tidak selalu benar. Jika tidak dapat
menemukan solusi, fokus pada bagaimana menangani dan
menghadapi masalah dengan membuat rencana dan memeriksa
kemajuan sepanjang jalan menggunakan panduan untuk manajemen
pengorganisasian atau waktu jika diperlukan. Berikan yang terbaik,
tapi tidak menghukum diri sendiri jika tidak menemukan jawaban
dengan segera akan membantu menemukan solusi.
d. Komunikasi yang lebih baik
Orang yang marah cenderung untuk menarik kesimpulan yang
terlalu megada-ada. Jika seseorang berada dalam diskusi panas, hal
yang tepat adalah mendengarkan dengan cermat apa yang dikatakan
orang lain, kemudian mengambil waktu sebelum menjawab. Selain
itu dengan tidak langsung mengatakan hal pertama yang ada dalam
pikiran juga harus dilakukan. Menurut Uripni, dkk (2003), ada dua

77

jenis

komunikasi,

yaitu

komunikasi

verbal

dan

nonverbal.

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa


sebagai alat sehingga komunikasi verbal ini sama artinya dengan
komunikasi kebahasaan. Sedangkan komunikasi nonverbal adalah
komunikasi yang tidak meggunakan bahasa lisan maupun tulisan,
tetapi menggunakan bahasa kial, bahasa gambar, dan bahasa tubuh.
e. Humor
Humor identik dengan segala sesuatu yang lucu, yang
membuat orang tertawa. Dalam Ensiklopedia Indonesia, seperti yang
dinyatakan oleh Setiawan (Rahmanadji, 2007), humor itu kualitas
untuk menghimbau rasa geli atau lucu, karena keganjilannya atau
ketidakpantasannya yang menggelikan, paduan antara rasa kelucuan
yang halus di dalam diri manusia dan kesadaran hidup yang iba
dengan sikap simpatik. Humor dibagi menjadi dua macam, yaitu
humor verbal dan humor konseptual. Humor verbal adalah humor
yang memakai aspek bahasa, baik secara lisan maupun tulisan untuk
memberikan efek lucu terhadap sesuatu. Sedangkan humor
konseptual adalah humor yang melibatkan konsep atau ide yang
dianggap

lucu

tanpa

menggunakan

aspek

bahasa

untuk

menyampaikan kesan lucu (Jensen,2009).


Ada beberapa terapi yang dapat digunakan sebagai salah satu teknik
mengelola emosi seseorang, yaitu:
a. Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah pendekatan pemberian bantuan yang
bertujuan mengubah suasana hati (mood) dan perilaku dengan
mempengaruhi pola berpikirnya. Bentuk dari terapi kognitif berupa
catatan harian pemikiran disfungsional. Pada dasarnya terapi
kognitif bertujuan untuk:
1) Mengenali kejadian yang menyebabkan reaksi yang berupa
amarah.

78

2) Mengenali dan memonitor distorsi-distorsi kognitif yang


muncul dalam suatu peristiwa atau kejadian. Kemudian
berusaha mencari kebenarannya, yaitu dengan cara mencari
hubungan antara kognisi dan afeksi.
3) Mengubah cara berpikir dalam

menginterpretasi

dan

mengevaluasi suatu kejadian dengan cara-cara yang lebih sehat.


Distorsi kognitif bersifat otomatis dan tidak disadari, maka
dalam terapi kognitif seseorang diajak untuk mengevaluasi
kembali

cara

berpikirnya

dalam

menginterpretasi

dan

mengevaluasi suatu kejadian. Jadi seseorang dilatih untuk


mengenali dan menguji apakah cara berpikirnya terhadap suatu
kejadian benar dan realistis. Ada beberapa bentuk distorsi
kognitif yang biasanya dialami oleh individu, yaitu:
4) Over generalization (terlalu menggeneralisasi)
Mengambil kesimpulan umum dari satu atau sedikit kejadian.
Kesimpulan ini kemudian diterapkan secara luas pada kondisi
yang sama atau tidak sama. Contoh: seorang suami yang
memanggil istrinya untuk membawakan obat dari lantai bawah
ke lantai atas tetapi tidak dijawab. Lalu ia mengambil
kesimpulan bahwa istrinya tidak mempedulikan dia lagi.
5) Pembesaran (magnification)
Melebih-lebihkan arti atau pentingnya sesuatu hal. Biasanya
terjadi bila melihat kesalahan diri sendiri atau kesalahan orang
lain. Contoh: suatu kali ada seseorang yang melupakan
janjinya, lalu temannya menganggap bahwa ia telah melakukan
suatu kesalahan besar yang tidak dapat dimaafkan.
6) In Exact Labeling (memberi cap secara keliru)
Memberi cap pribadi atau menciptakan suatu gambaran diri
yang negatif dan didasarkan pada kesalahan diri sendiri. Ini
merupakan suatu bentuk ekstrem dari overgeneralisasi.
Pernyataan Harus Mencoba menggerakkan diri sendiri atau
orang lain dengan pernyataan harus serta seharusnya tidak,
seolah-olah diri sendiri atau orang lain harus bertindak sesuai daftar
aturan yang tidak fleksibel.
79

b. Assertivity
Asertivitas adalah perilaku interpersonal yang mengandung
pengungkapan pikiran dan perasaan secara jujur dan relatif
langsung yang dilakukan dengan mempertimbangkan perasaan dan
kesejahteraan orang lain. Seseorang dapat dikatakan berperilaku
asertif jika ia mempertahankan dirinya sendiri, mengekspresikan
perasaan yang sebenarnya, dan tidak membiarkan orang lain
mengambil keuntungan dari dirinya. Pada saat yang bersamaan, ia
juga

mempertimbangkan

bagaimana

perasaan

orang

lain.

Keuntungan berperilaku asertif, yaitu mendapatkan apa yang


diinginkan dan biasanya tanpa membuat orang lain marah.

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Marah adalah emosi yang ditandai dengan antagonisme terhadap
seseorang atau sesuatu yang dirasakan telah sengaja melakukan kesalahan.

80

2. Fakta sains dan medis menunjukkan bahwa neurotransmitter otak, yaitu


serotonin berperan dalam regulasi marah dan agresi.
3. Produk gen Monoamine Oxidase A (MAOA) dipercaya
berperan

dalam

mengatur

metabolismeenzimatikneurotransmitterserotonin, dopamin,
dan

norepinephrine,

sehingga

memodulasiregulasi

emosidanfungsi otaksecara umum.


4. Pengaruh genotip MAOA yang rendah dapat menjadi faktor
resiko agresivitas.

81

DAFTAR PUSTAKA
A.J Dunn. 2005. Interaction Between The Nervous System and Immune System In
Psychoneuroimmunology. New York: Raven Press. hh.31,719-721.
Addotta, K (2006). Anger!www.kipaddotta.com/mental-health/anger.html diakses
pada Oktober 2015
Ader R (2000). On the development of psychoimmunoneurology. Eur Journal of
Pharmacol, 405
Alia-Klein N, Goldstein RZ, Tomasi D, Zhang L, Fagin-Jones S, Telang F, et al.
What is in a word? No versus Yes differentially engage the lateral
orbitofrontal cortex. Emotion 2007;7:649659. [PubMed: 17683220]
Alia-klein, N., Goldstein, R. Z., Tomasi, D., Woicik, P. A., Moeller, S. J.,
Williams, B., Volkow, N. D., et al. (2009). Neural Mechanisms of Anger
Regulation as a Function of Genetic Risk for Violence. National Instituites
of Health, 9(3), 385396. doi:10.1037/a0015904.Neural
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (edisi revisi). Malang: UMM Press.Feist,
J.
Artini, N. P. J., dkk, 2013, Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis
Proyek Terhadap Kecerdasan Emosional Siswa, e-Journal
Program Pascasarjana : Universitas Pendidikan Ganesha
Aron AR, Robbins TW, Poldrack RA. 2004. Inhibition and the right
inferior frontal cortex. Trends Cogn Sci 8:170-177.
Bast, Mary R. (2011). Controlling Anger - Before It Controls You (On-Line).
Diambil dari http://www.apa.org.
Berk, L. (2003). Child Development. Berlin: Pearson Education, Inc.
Bhave, Swati. Y., & Saini, Sunil. (2009). Anger Management. New Delhi: SAGE
publications India Pvt Ltd.
82

Blake, Christie S., & Hamrin, Vanya. (2007).

Current Approaches to the

Assessment and Management of Anger and Aggression in Youth: A


Review.Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursing; Nov; 20, 4;
Proquest pg 209.
Bodenmann, G., Meuwly, N., & Bradbury, T. N. (2010). Stress , anger , and verbal
aggression in intimate relationships: Moderating effects of individual and
dyadic coping. Journal of Social and Personal Relationships, 27(3), 408
424. doi:10.1177/0265407510361616
Boerma, C (2007). Physiology of anger. http://healthmad.com/mentalhealth/physiology-of-anger/ diakses pada Oktober 2015
Boeree,

C.

George.

2008.

Personality

Theories:

Melacak

Kepribadian Anda Bersama Psikologi Dunia. Jogjakarta:


Prismasophie

Bucharest, P. (2010). Anger and health risk behaviors. Journal of Medicine and
Life, 3(4), 372375.
Buckholtz JW, Meyer-Lindenberg A. MAOA and the neurogenetic architecture of
human aggression. Trends Neurosci 2008;31(3):1209.
Cahill L, Haier RJ, Fallon J, Alkire MT, Tang C, Keator D, Wu J,
McGaugh JL. 1996. Amygdala activity at encoding correlated
with long-term, free recall of emotional information. Proc
Natl Acad Sci U S A 93:8016-8021.
Chaplin J.P. 1981. Kamus Lengkap PSIKOLOGI. Terjemah. Jakarta:
Rajawali Press.
Carr DB and Gaudas LC. 2009. Acute Pain. Lancet. Hh. 2052-2058.

83

Cases O, Seif I, Grimsby J, Gaspar P, Chen K, Pournin S, et al. Aggressive


behavior and altered amounts of brain serotonin and norepinephrine in mice
lacking MAOA. Science 1995;268(5218):17636.
Cautin, Robin L., Overholser, James C. & Goetz Patricia. 2001. Assesment of
Mode of Anger Expression In Adolescent Psychiatric Inpatients. Proquest
Chester, D. S., Dewall, C. N., Derefinko, K. J., Estus, S., Peters, J. R., Lynam, D.
R., & Jiang, Y. (2015). Monoamine oxidase A ( MAOA ) genotype predicts
greater aggression through impulsive reactivity to negative affect.
Behavioural
Brain
Research,
283(2015),
97101.
doi:10.1016/j.bbr.2015.01.034
Chrousos GP and Gold PW. 2002. The Concepts of Stress And Stress System
Disorders. Overview of Physical And Behavioral Homeostasis. JAMA. 267.
1244-52.
Cohen N, Kinney KS (2001). Exploring the phylogenetic history of neuralimmune system interaction. In psychoneuroimmunology 3rd ed, edited by
Robert Ader, David LF, Nicholas Cohen, volume 1, pp: 21-54.
Correy, Gerald. 2012. Theory and Practice of Group Counseling Eighth Edition.
Belmonth CA: Brooks/ Cole.
David, Stephen F (2008). 21st Century Psychology: A Reference
Handbook. United States of America:Sage Publication Ltd
Deffenbacher, J. L. (2010). Cognitive-Behavioral Conceptualization and
Treatment of Anger. Cognitive and Behavioral Practice, 18(2), 212221.
doi:10.1016/j.cbpra.2009.12.004
Denson TF, Dobson-Stone C, Ronay R, von Hippel W, Schira MM. A functional
polymorphism of the MAOA gene is associated with neu- ral responses to
induced anger control. J Cogn Neurosci 2014;26(7): 141827.
Dodds, A. (1993). Rehabilitating blind and visually impaired people: A
psychological approach.

84

Duffy, Joe. 2012. Managing Anger and Aggression : Practical Guidance for
Schools. South Eastern Education and Library Board: Psychology/ Behavior
Support Section.
Eastwood JD, Smilek D, Merikle PM. 2001. Differential attentional
guidance by unattended faces expressing positive and
negative emotion. Percept Psychophys 63:1004-1013.
Elenkov IJ, Iezzoni DG, Daly A, Harris AG, and Chrousos GP. 2005. Cytokine
Dysregulation,
Inflammation
And
Well
being.
Neuroimmunomodulation.12(5):255-69.

Fabiansson, E. C., Denson, T. F., Moulds, M. L., Grisham, J. R., & Schira, M. M.
(2011). NeuroImage Don t look back in anger: Neural correlates of
reappraisal , analytical rumination , and angry rumination during recall of an
anger-inducing autobiographical memory. NeuroImage, 59(2012), 2974
2981. doi:10.1016/j.neuroimage.2011.09.078
Falentina, Febie Ola (2012) Asertivitas Terhadap Pengungkapan Emosi Marah
Pada Remaja. Riau : UIN Suaka
Fawzy IF. 2005. Behavior and Immunity. In Comprehensive Texbooks of
Psychiatry VI, Baltimore Tokyo: William and Wilkins.
Feist, J. & Feist, G. (2008). Theories of Personality (Edisi keenam). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Friedman, M. Marilyn. (1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.
Jakarta : EGC.
Friedman, H. S. & Schuctack M. W. (2006). Kepribadian: Teori klasik dan riset
modern (edisi ketiga). Jakarta: Erlangga.
Goldstein M, Brendel G, Tuescher O, Pan H, Epstein J, Beutel M,
Yang Y, Thomas K, Levy K, Silverman M, Clarkin J, Posner M,
Kernberg O, Stern E, Silbersweig D. 2007. Neural substrates
85

of the interaction of emotional stimulus processing and


motor inhibitory control: an emotional linguistic go/no-go
fMRI study. Neuroimage 36:1026-1040.
Goleman, Daniel. 2009. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama

Harrington, R. G. & Mcdermott, D. 1993. A Model for the Interpretation of


Hart, T., Ann, J., Fann, J. R., Maiuro, R. D., & Vaccaro, M. J. (2014). Anger selfmanagement in chronic traumatic brain injury: protocol for a psychoeducational treatment with a structurally equivalent control and an
evaluation of treatment enactment. Contemporary Clinical Trials, 40(2015),
180192. doi:10.1016/j.cct.2014.12.005
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Hendricks L, Bore S, Aslinia D, and Morriss G. 2013. The Effects of Anger on the
Brain and Body. National Forum Journal Of Counseling And Addiction
Volume 2
Ho, RCM, Neo, LF, Chua, ANC, Cheak, AAC, Mak, A. 2010. Research on
Psychoneuroimmunology: Does Stress Influence Immunity and Cause
Coronary Artery Disease? Ann Acad Med Singapore (39): 191-196.Lench,
Heather C. (2004).

Anger Management: Diagnostic Differences and

Treatment Implications. Journal of Social and Clinical Psychology; Aug;


23, 4; Proquest pg. 512.
Holloway, B. W. (2003). Stat Fact: the Clinical Pocket Reference For Nurses.F.A
Philadelphia: Davis Company.
Holloway, B. W. (2003). Stat Fact: the Clinical Pocket Reference For Nurses.F.A
Philadelphia: Davis Company.

86

Jensen, K. E. (2009). Humor. Denmark: Modern World.


Lench, Heather C. 2004. Anger Management: Diagnostic Differences And
Treatment Implications. Journal Of Social And Clinical Psychology, Vol. 23,
No. 4, Pp. 512-531
Leuner et al.(2010). Sexual Experience Promotes Adult Neurogenesis in the
Hippocampus Despite an Initial Elevation in Stress Hormones. Plos One.
London: Chapman & Hall.Dunbar Berthenya. (2004). Anger Management: A
Holistic Approach. Journal of the American Psychiatric Nurses Association,
Vol. 10, No.1.
Luiz, Pessoa. 2009. Scholarpedia,cognition and emotion dalam
http://www.scholarpedia.org/article/Cognition_and_emotion
(diakses November 2015)
MacArthur, J.D., and MacArthur, C.T. (1999). Coping Strategies. UCSF.
(Online): http://www.macses.ucsf.edu/research/psychosocial/coping.php
Miltenberger, R. G. (2004). Behavior modification principle and procedures.
Wadsworth: USA.
Morris, Desmond (1967). Primate Ethology. London: Weidenfeld & Nicolson
Publishers.
Murphy FC, Nimmo-Smith I, Lawrence AD. Functional neuroanatomy of
emotions: A meta-analysis. Cognitive Affective Behavior Neuroscience
2003;3:207233.
Ochsner KN, Gross JJ. 2008. Cognitive emotion regulation. Curr
Dir Psych Sci 17:153-158.
Personality Assessments of Individuals with Visual Impairments. The Journal of
Rehabilitation, 59 (4).

87

Prayascitta, Putri. 2010. Hubungan Antara Coping Stress Dan Dukungan


SosialDengan Motivasi Belajar Remaja Yang OrangtuanyaBercerai.
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran UNS:2010
Price SA and Wilson LM. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Jilid II, 6thed. EGC: Jakarta.
Rahmanadji, D. (2007). Sejarah, Teori, Jenis, Dan Fungsi Humor. Jurnal Bahasa
Dan Seni Volume 35, Nomor 2: 213-221.
Rahyono, F.X (2009) Kearifan Budaya Dalam Kata, Cetakan
Pertama. Wedatama Widya Sastra: Jakarta.
Raymond, W. Novaco (2000). Anger. Encyclopedia of Psychology. Oxford
University Press.
Reilly, P.M.; Shopshire, M.S.; Durazzo, T.C.; and Campbell, T.A. (2002). Anger
Management for Substance Abuse and Mental Health Clients: Participant
Workbook. Rockville, MD: Center for Substance Abuse Treatment.
Reilly, Patrick M., & Shopshire, Michael S. (2002). Anger Management for
substanceabuse and mental health clients. USA: US. Department of Health
and Human Services (DHHS).
Riley, Patrick M. & Shopshire, Michael S. 2002. Anger Management for
Substance Abuse and Mental Health Clients: A Cognitive Behavior
Theraphy Manual. Washington: U.S. Department of Health and Human
Service.
Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development.
Santrock, John W. 2007. Remaja. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J.W. 2002. Life Span Development-Perkembangan Masa
Hidup Jilid 1. Jakarta
Sarafino, E.P. (2006). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. Fifth
Edition. USA: John Wiley & Sons.

88

Sociology, (Online), 36 (141): 163-170, (http://www.search.proquest.com),


diakses pada 10 November 2012.
Sternberg, Robrt J. 2008. Psikologi Kognitif. Edisi Keempat.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suharnan, MS. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi
Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta: Rineka Citra.
Suseno , Franz Magnis (1997) Javanese Ethics and World-View
(The Javanese Idea Of The Good Life). Jakarta : PT
Gramedia Pustaka utama
Taylor, S.E., Peplau, L.A., Sears, D.O., (2009) . Psikologi Sosial (edisi ke dua
belas). Jakarta :Kencana Prenada Media Group
Thomas, Sandra P. (2001). Teaching Healthy Anger Management. Perspective in
Psychiatric Care Vol.37, No.2, April-June; 37,2; Proquest pg. 41.
Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications. International Education
and Publisher
Timothy Schoenfeld dan Elizabeth Gould (2011). Stress, Stress Hormones, and
Adult Neurogenesis. Exp Neurol, 233(1): 1221.
Tulogdi, A., Biro, L., Barsvari, B., Stankovic, M., Haller, J., & Toth, M. (2015).
Neural mechanisms of predatory aggression in rats Implications for
abnormal intraspecific aggression. Behavioural Brain Research, 283(2015),
108115. doi:10.1016/j.bbr.2015.01.030
Uripni, C. L., Sujianto, U., & Indrawati, T. (2003). Komunikasi Kebidanan. Buku
Kedokteran EGC: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan RI.
Wigati, Indah. 2013. Teori Kompensasi Marah dalam Perspektif Psikologi Islam.
Tadib Vol. 28 No. 02. Palembang : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN
Raden Fatah

89

Wingenfield K, Wolf OT (2011). HPA Axis Alterations in Mental Disorders:


Impact on Memory and its Relevance for Therapeutic Interventions. CNS
Neuroscience and Therapeutics, 17: 714-22
Yingxu Wang.2007.On the Cognitive Processes of Human
Perception

with

Emotions,

Motivations,

and

Attitudes.Journal of Cognitive Informatics and Natural


Intelligence, University of Calgary, Canada

90