Anda di halaman 1dari 22

Referensi Artikel

ASPEK REHABILITASI MEDIK


Stefanus Bramantyo W (G99142089)
Ida
Bagus Ananta
W (G99142090)
PADA
DEEP
VEIN
THROMBOSIS
Egtheastraqita Chitivema (G99142091)
Mugi Tri Sutikno (G99142092)
Wahyu Pamungkas (G99142093)

Pembimbing
Dr. dr. Hj. Noer Rachma, Sp.KFR

PENDAHULUAN
Kelainan
pembuluh
darah
Kelainan aliran
darah
Kelainan
komponen
pembekuan
darah

Lepas

Trombosis

Emboli

PENDAULUAN

PENDAHULUAN
FAKTOR RESIKO

ETIOLOGI
Thrombus dapat terbentuk di dalam vena tubuh,jika:
Kerusakan terjadi pada lapisan dalam pembuluh darah itu. Kerusakan
ini mungkin akibat dari luka yang disebabkan oleh fisik, kimia, atau
faktor biologi. Faktor-faktor tersebut termasuk pembedahan, cedera
serius, peradangan, dan respon imun.

Aliran darah yang lamban. Kurangnya gerak bisa


menyebabkan memperlambat aliran darah. Hal ini
dapat terjadi setelah operasi, jika Anda sakit dan di
tempat tidur untuk waktu yang lama, atau jika Anda
sedang bepergian untuk waktu yang lama.

Darah lebih tebal atau lebih cepat membeku dari biasanya.


Mewarisi kondisi tertentu (seperti faktor V Leiden) darah yang
meningkatkan kecenderungan untuk membeku. Ini juga berlaku
untuk pengobatan dengan terapi hormon atau kontrol pil KB. 1

DEFINISI
Thrombosis vena dalam atau deep vein
thrombosis
(DVT)
adalah
terbentuknya
thrombus pada vena profunda terutama pada
tungkai bawah. Thrombus yang terbentuk adalah
thrombus merah karena terdiri dari fibrin dan sel
darah merah, komponen thrombosit hanya
sedikit. Thrombus merah lebih mudah lepas
sehingga menimbulkan emboli terutama emboli
paru.1

FAKTOR RESIKO
Usia > 40 tahun
Imobilitas lama
Obesitas
Kelainan neurologi. Tungkai yang mengalami paresis cenderung
mengalami trombosis.
Penyakit jantung. Payah jantung akibat infark miokard 25%
disertai trombosis vena dalam.
Kehamilan dan masa post partum
Kontrasepsi oral
Keganasan. Penderita dengan keganasan mempunyai
kemungkinan 20% terkena trombosis.
Pembedahan. Pembedahan ortopedi, terutama sendi femur atau
lutut (disertai 35-50% DVT), operasi abdomen (15%), operasi
urologi (7-35%), operasi ginekologi (7-27%)
Thrombophilia herediter.1

TANDA DAN GEJALA

Wells skor
1.
2.

Kanker aktif (pengobatan dalam terakhir 6 bulan atau paliatif) - 1 poin


Pembengkakan betis >3cm dibandingkan dengan daerah lainnya (diukur
10 cm di bawah tuberositas tibialis) - 1 poin
3. Vena kollateral superfisial (non-varises) - 1 poin
4. Pitting edem (terbatas pada kaki) - 1 poin
5. Pembengkakan seluruh kaki- 1 poin
6. Nyeri yang terlokalisir sepanjang distribusi vena dalam-1 point
7. Kelumpuhan, kelumpuhan, atau immobilisasi ekstremitas bawah -1
point
8. Terbaring di tempat tidur> 3 hari, atau operasi besar yang memerlukan
anestesi regional atau umum di masa lalu 4 minggu-1 point
9. Sebelumnya didiagnosa DVT-1 poin.
10. Diagnosis alternatif setidaknya mungkin sebagai DVT - Kurangi 2 poin.2
Interpretasi:
Skor 2 atau lebih tinggi kemungkinan deep vein thrombosis. Pertimbangkan pencitraan
pembuluh darah kaki.
Skor kurang dari 2 bukan deep vein thrombosis. Pertimbangkan tes darah seperti ddimer test untuk lebih mengesampingkan deep vein thrombosis. 2

Patogenesis DVT

Patogenesis

DIAGNOSIS
anamnesis, gejala dan tanda yang
ditemukan pada pemeriksaan fisik serta
ditemukannya faktor resiko (Bates, 2004).
Tanda dan gejala DVT antara lain edema,
nyeri dan perubahan warna kulit
(phlegmasia
alba
dolens/milk
leg,
phlegmasia cerulea dolens/blue leg) (JCS
Guidelines, 2011).

DVT Manifestations

When clot is in formative stage, may


notice no symptoms
Usually profound tenderness; affected
extremity may be larger (unilateral
edema)
Dull aching esp when walking: Most
common
Severe pain, esp when walking
Cyanosis of extremity
Slightly elevated temp
General malaise
Homans sign pain calf muscles
contract

TERAPI
FARMAKOLOGI
-HEPARIN (iv)
-WARFARIN(po)
Non farmakologi
-Terapi konservatif
-Terapi bedah:
TROMBEKTOMI

Conservative Therapy:
DVT

Anticoagulants may be prescribed for severe


cases
Strict bedrest until symptoms of tenderness &
edema resolve
Legs elevated, knees slightly flexed, above
heart level to promote venous return &
discourage venous pooling
TEDs or pneumatic compression devices

Rehabilitasi Medis Pasien DVT

Pencegahan

Simpulan dan saran


Simpulan
Deep vein thrombosis (DVT) merupakan kelainan akibat adanya trombus yang
menghalangi aliran balik pada vena profunda yang bisa disebabkan karena adanya
trauma, genetik (gangguan faktor koagulasi) ataupun posisi stasis yang lama sehingga
membuat aliran balik vena menjadi lebih lambat.
Penanganan yang salah pada DVT bisa menyebabkan komplikasi di organ lain seperti
paru dan bisa menyebabkan kematian.
Penanganan pada DVT tidak hanya mencakup aspek farmakoterapi, tetapi bisa
dilakukan penanganan bidang rehabilitasi medik dengan menggunakan beberapa
manuver posisi dan beberapa latihan.
DVT bisa dicegah dengan beberapa cara.
Saran
Sebaiknya tenaga kesehatan yang mengetahui pasien dengan faktor resiko terjadinya
DVT dilakukan ptindakan pencegahan baik aspek farmakologi maupun rehabilitasi
medik.
Penanganan pada pasien DVT sebaliknya juga melibatkan aspek rehabilitasi medik,
selain aspek farmakoterapi.

Daftar Pustaka
1. Bakta IM. 2006. Hematologi Klinik Ringkas.
Jakarta: Peneribit Buku Kedokteran EGC
2. Sukrisman L. 2006. Trombosis Vena Dalam
dan Emboli Paru. Dalam : Aru W, dkk, editors,
Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi keempat,
Jakarta: Penerbit FK UI.