Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KULIAH OBAT ASLI INDONESIA

KATEGORI OBAT TRADISIONAL


PEMBIMBING NASHRUL WATHAN, S. Farm, Apt














Oleh:
Zakiah
J1E111017







PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012
Kategori Obat Tradisional
Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa kita telah terkenal pandai
meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan
bahan-bahan alamiah lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai
penyakit. Ramuan-ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap
sehat, mencegah penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran meracik
bahan-bahan itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu
generasi ke generasi berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang.
Jamu dan obat tradisional, sampai saat ini belum dikembangkan secara optimal.
Produksi jamu dan obat-obatan tradisional lebih banyak diproduksi oleh homeindustry.
Hanya sebagian kecil jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara masal
melalui industri jamu dan obat tradisional di pabrik-pabrik. Untuk meningkatkan kualitas,
mutu, dan produk jamu serta obat-obatan yang dihasilkan oleh masyarakat kita, diperlukan
kerjasama seluruh pihak yang terkait.Kerjasama itu dimaksudkan agar jamu dan obat
tradisional yang dihasilkan dapat bersaing, baik di pasar regional maupun global.
Beredarnya jamu dan obat-obatan yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan
Obatdan Makanan, akan merugikan konsumen. Di samping itu, secara ekonomi,
beredarnya obat-obatan seperti itu justru akan merusak citra obat tradisional. Citra yang
rusak akhirnya akan memukul produksi dan pemasaran obat-obatan tradisional, di dalam
maupun di luar negeri. Pemerintah, terus berupaya melakukan pengawasan demi
meningkatkan keamanan, mutu, dan manfaat obat tradisional. Hal ini dilakukan agar
masyarakat terlindung dari obat tradisional yang dapat menimbulkan efek yang tidak
diinginkan.
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
(Dirjen POM) yang kemudian beralih menjadi Badan POM mempunyai tanggung jawab
dalam peredaran di masyarakat. Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan
menjadi 2 kelompok, yaitu Obat Tradisional atau jamu dan Fitomarmaka. Namun, dengan
semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang
membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu
membuat jamu dalam bentuk ekstrak, namun sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis
ini belum diiringi dengan penelitian sampai dengan uji klinik. Dengan keadaan tersebut

Gambar 1. Logo untuk Kelompok
Jamu

maka obat tradisional sebenarnya dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak
(Herbal), dan fitofarmaka.
1. Jamu (Empirical Based Herbal Medicine)
Jamu adalah obat tradisional yang
disediakan secara tradisional, misalnya dalam
bentuk serbuk seduhan, pil dan cairan yang
berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi
penyusun jamu tersebut serta digunakan secara
tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat
dengan mengacu pada resep peninggalan
leluhur yang disusun dari berbagai tanaman
obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar
antara 5 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak empiris. Jamu yang telah
digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin
ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk
tujuan kesehatan tertentu. Jamu digunakan untuk pengobatan sendiri (Tidak
memerlukan izin produksi ( sesuai Permenkes no.246/Menkes/per/V/1990)), terdiri
atas:
a. Jamu Racikan
b. Jamu Gendong
Seperti halnya dengan obat tradisional hasil TOGA standar yang dibutuhkan
adalah kebenaran tanaman yang digunakan dan kebersihan proses pembuatannya,
harus ada izin produksi dan izin edar yaitu jamu yang diproduksi dan diedarkan oleh:
1) Industri Obat Tradisional (IOT)
2) Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT)
Standar yang harus dipenuhi adalah standar mutu dan keamanan, sedangkan untuk
proses pembuatannya harus sesuai dengan ketentuan CPOTB terutama untuk IOT.
2. Bahan Ekstrak Alami (Scientific Based Herbal Medicine / Herbal)
Bahan ektrak alami adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau
penyarian bahan alami yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.
Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan
berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan

Gambar 2. Logo untuk kelompok
Obat Herbal Terstandar



Gambar 3. Logo untuk kelompok
Fitofarmaka

maupun keterampilan pembuatan ekstrak. Selain
proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini
pada umumnya telah ditunjang dengan
pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian
pre-klinik seperti standar kandungan bahan
berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman
obat standar pembuatan obat tradisional yang
higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.
3. Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)
Fitofarmaka merupakan bentuk obat
tradisional dari bahan alam yang dapat
disejajarkan dengan obat modern karena proses
pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang
dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik
pada manusia. Oleh karena itu, dalam
pembuatannya memerlukan tenaga ahli dan biaya
yang besar ditunjang dengan peralatan
berteknologi modern.
1. Fitofarmaka dapat digunakan pada Pelayanan
Kesehatan Formal. Berbagai Uji
Laboratorium merupakan persyaratan mutlak yang harus dilakukan untuk sediaan
fitofarmaka, beberapa uji yang harus dilakukan antara lain penapisan fitokimia
untuk mengetahui jenis kandungan senyawa pada tanaman tersebut.
2. Uji Toksisitas untuk mengetahui keamanan bila dikonsumsi untuk pengobatan.
3. Uji Farmakologi eksperimental terhadap binatang percobaan.
4. Uji Klinis untuk memastikan efek Farmakologi, keamanan dan manfaat klinis
untuk pencegahan, pengobatan penyakit atau gejala penyakit.
Pada jamu belum dilakukan uji apapun, komposisi jamu diperoleh dari informasi
turun-temurun nenek moyang kita yang membuktikan bahwa jamu tersebut berkhasiat
menyembuhkan suatu penyakit. Pada OHT telah dilakukan standarisasi bahan baku
produk (mis: ekstrak tumbuhan atau simplisia) serta telah dilakukan uji praklinik (uji pada
hewan) dan terbukti berkhasiat dan aman uji pada hewan. Pada fitofarmaka sudah
dilakukan standarisasi bahan baku produk serta telah dilakukan uji klinik (uji pada
manusia, uji lanjutan setelah uji pada hewan berkhasiat dan aman), yang membuktikan
keamanan dan khasiatnya.

Sumber Perolehan Obat Tradisional
Obat tradisional dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai pembuat atau yang
memproduksi obat tradisional, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Obat tradisional buatan sendiri
Obat tradisional jenis ini merupakan akar dari pengembangan obat tradisional
di Indonesia saat ini. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita mempunyai kemampuan
untuk menyediakan ramuan obat tradisional yang digunakan untuk keperluan keluarga.
Cara ini kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah dalam bentuk program
TOGA. Dengan adanya program TOGA diharapkan masyarakat mampu menyediakan
baik bahan maupun sediaan jamu yang dapat dimanfaatkan dalam upaya menunjang
kesehatan keluarga.
Program TOGA lebih mengarah kepada self care untuk menjaga kesehatan
anggota keluarga serta penaganan penyakit ringan yang dialami oleh anggota keluarga.
Porgram TOGA bertujuan untuk menyediakan obat dalam rangka penaganan
kesehatan sendiri. Dengan kemampuan pengetahuan serta pendidikan masyarakat yang
bervariasi, program ini mengajarkan pengetahuan peracikan jamu serta penggunannya
secara sederhana tetapi aman untuk dikonsumsi. Sumber tanaman diharapkan
disediakan oleh masyarakat sendiri, baik secara individu, keluarga, maupun kolektif
dalam suatu lingkungan masyarakat. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahan baku
dibeli dari pasar tradisional yang banyak menjual jamu yang pada umumnya juga
merupakan bahan untuk keperluan bumbu dapur masakan asli Indonesia. Pelaksanaan
program TOGA diharapkan melibatkan peran aktif seluruh anggota masyarakat yang
dapat terwakili oleh ibu rumah tangga, dibimbing dan dibina oleh puskesmas
setempat.
2. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu / Herbalist
Bentuk jamu pada umumnya sejenis jamu gendong, namun lebih mempunyai
kekhususan untuk pengobatan penyakit atau keluhan kesehatan tertentu. Peracik
sejenis ini tampaknya sudah semakin berkurang jumlahnya dan kalah bersaing dengan
industri yang mampu menyediakan jamu dalam bentuk yang lebih praktis. Tabib lokal/
pengobat Herbal/ Battra, masih dapat kita jumpai meskipun jumlahnya tidak banyak.
Mereka melaksanakan praktek pengobatan dengan menyediakan ramuan dengan bahan
alami yang berasal dari bahan lokal. Ilmu pengobatan alternatif ini diperoleh dengan
cara bekerja sambil belajar kepada pengobat yang telah praktek. Dibeberapa kota,
telah dapat dijumpai pendidikan pengobatan berupa kursus yang telah dikelola dengan
baik dan diselenggarakan oleh pengobat tertentu. Pada umumnya, selain pemberian
ramuan, para pengobat juga mengkombinasikannya dengan tehnik lain seperti metoda
spiritual/agama atau supranatural (Pengobatan alternatif).
Sinshe adalah pengobat tradisional yang berasal dari etnis Tionghoa yang
melayani pengobatan menggunakan ramuan obat tradisional bersumber dari
pengetahuan negara asal mereka, yaitu Cina. Pada umumnya mereka menggunakan
bahan-bahan yang berasal dari Cina meskipun tidak jarang mereka juga mencampur
dengan bahan lokal yang sejenis dengan yang mereka jumpai di Cina. Obat tradisional
Cina berkembang dengan baikdan banyak diimport ke Indonesia untuk memenuhi
kebutuhan obat yang dikonsumsi, tidak saja oleh pasien etnis Cina tetapi juga banyak
dikonsumsi oleh warga pribumi. Kemudahan memperoleh bahan baku obat tradisional
Cina dapat dapat dilihat banyaknya toko obat Cina yang menyediakan sediaan jadi
maupun menerima peracikan resep dari sinshe. Selain memberikan obat tradisional
yang disediakan oleh toko obat, sinshe pada umumnya mengkombinasikan ramuan
dengan tehnik lain seperti pijatan, akupresur,atau akupuntur.
3. Obat tradisional buatan industri.
Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan RI, industri obat tradisional
dapat dikelompokan menjadi industri kecil dan industri besar berdasarkan modal yang
harus mereka miliki. Dengan semakin maraknya obat tradisional, tampaknya industri
farmasi mulai tertarik untuk memproduksi obat tradisional. Tetapi, pada umumnya
yang berbentuk sediaan berupa ekstrak bahan alam atau fitofarmaka. Sedangkan
industri jamu lebih condong untuk memproduksi bentuk jamu yang sederhana
meskipun akhir-akhir ini cukup banyak industri besar yang memproduksi jamu dalam
bentuk modern (tablet, kapsul, sirup dan lain-lain) dan bahkan fitofarmaka.