Anda di halaman 1dari 20

KOPERASI SYARIAH DALAM SISTEM

PERKOPERASIAN DI INDONESIA

A. PENDAHULUAN
Koperasi dengan sistem syariah disebut dengan masyarakat atau
syirkah adalah keikutsertaan dua orang atau lebih dalam suatu usaha tertentu
dengan sejumlah modal yang telah ditetapkan bedasarkan perjanjian untuk
bersama sama menjalankan suatu usaha pembagian keuntungan dan
kerugian dalam bagian yang ditentukan
Perjanjian musyakarah merupakan perjanjian antara dua orang atau
lebih untuk mendirikan suatu usaha, yang mana modal usaha itu adalah
merupakan modal bersama melalui penyertaan modal oleh masing masing
pihak, dengan kata lain serikat usaha ini mempunyai tujuan ekonomis
(mencari keuntungan) namun tetap bedasarkan kepada prisip prisip
syariah. Prinsip prinsip inilah yang digunakan dalam menjalankan
koperasi berdasarkan prisip syariah.
Di Indonesia, koperasi sudah berdiri lama berdiri, bahkan sejak isme
Belanda.
Saat ini, unit usaha yang paling banyak mendapat julukan adalak
koperasi. Julukan itu begitu mulia, Soko Guru Perekonomian Indobnesia,
Tulanng Punggung Ekonomi Rakyat, dan lain lain. Secara
konstitusional, badan usaha yang disebutkan secara eksplisit dalam
penjelasan UUD 1945, hanya koperasi seperti yang disebutkan : Bangun
perusahaan yang sesuai dengan itu ialah Koperasi, demikian dinyatakan
UUD 1945.
Keberadaan koperasi di Indonesia saat ini sudah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, akan tetapi
undang-undang tersebut hanya mengatur tentang koperasi konvensional.
B. KOPERASI SYARIAH
Salah satu lembaga keuangan non-bank dalam ekonomi Islam adalah
berbentuk koperasi. Sebagian ulama menyebut koperasi dengan syirkah
taawuniyah (persekutuan tolong menolong), yaitu suatu perjanjian kerja sama
antara dua orang atau lebih, yang satu pihak menyediakan modal usaha,
sedangkan pihak lain melakukan usaha atas dasar profit sharing (membagi
untung) menurut perjanjian, sehingga dalam koperasi ini terdapat unsur
mudharabah karena satu pihak memiliki modal dan pihak lain melakukan
usaha atas modal tersebut.
Koperasi Syariah adalah badan usaha yang tidak jauh berbeda dengan
koperasi konvensional, hanya terdapat beberapa penyesuaian. Penyesuaian
itu misalnya berupa landasan koperasi syariah yang harus sesuai dengan Al-
Quran dan Sunnah dengan dijiwai semangat saling menolong (taawun)
dan saling menguatkan (takafful).
Koperasi syariah menegakkan prinsip-prinsip Islam seperti:
1. Meyakini bahwa kekayaan adalah amanah Allah yang tidak dapat di-
miliki siapa pun secara mutlak.
2. Kebebasan muamalah diberikan kepada manusia sepanjang masih
bersesuaian dengan syariat Islam.
3. Manusia merupakan khalifah Allah dan pemakmur bumi.
4. Menjunjung fungsi keadilan dan menolak semua bentuk ribawi dan
pemusatan sumber daya ekonomi pada segelintir orang.
Oleh karena tidak mengenal bentuk ribawi, maka bunga atas modal
tidak ada dalam koperasi syariah. Konsep bunga diganti dengan sistem bagi
hasil. Demikian pula dalam hal kebersamaan, dalam koperasi syariah
bukanlah diartikan sebagai demokrasi dengan satu orang satu suara, namun
kebersamaan harus diterjemahkan sebagai musyawarah.
Dilihat dari keberadaan simpanan pokok, wajib, dan sukarela, pada
dasarnya koperasi syariah dapat didirikan atas dasar prinsip syirkah
mufawadhah dan syirkatul inan.
Syirkah mufawadhah adalah perkongsian antara dua orang atau lebih,
dengan masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (simpanan pokok
dan wajib) yang sama. Sedangkan simpanan sukarela tergantung pada
masing-masing anggota.
Syirkatul inan adalah perkongsian antara dua orang atau lebih dengan
kontribusi dana dari masing-masing anggota kongsi bervariasi. Dana itu
dikembangkan bersama-sama dan pembagian keuntungannya berdasarkan
kesepakatan bersama.
Tujuan koperasi syariah adalah untuk memberikan pelayanan kepada
anggota dan bukan untuk mencari keuntungan. Akan tetapi perlu diperhati-
kan dan diwaspadai dalam pelaksanaannya, bahwa penjualan barang-
barang atas biaya akan bisa mendorong anggotanya untuk membeli banyak
barang dari koperasi dengan harga koperasi lalu kemudian menjualnya di
luar koperasi dengan harga pasar, di samping bahwa koperasi itu sendiri
perlu mendapat surplus dari usahanya yang dapat digunakan bagi
pemupukan modalnya.
Hingga sekarang, koperasi masih dianggap sebagai lembaga yang
paling tepat untuk menghimpun kegiatan petani, pedagang kecil, pengrajin,
nelayan, bahkan juga dapat dipakai instrumen peningkatan kesejahteraan
kaum buruh, karyawan, dan pegawai. Sebagian besar pengusaha Indonesia
adalah pengusaha kecil dan lembaga yang ada berbentuk koperasi. Koperasi
syariah merupakan bentuk koperasi yang kegiatan operasionalnya dilakukan
berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

C. KARAKTERISTIK KOPERASI SYARIAH
Menurut Mahmud Syaltut yang dikutip oleh Suhrawardi K. Lubis, ada
empat jenis koperasi, yaitu:
1) Syirkah abdan, ialah syirkah (kerja sama) antara dua orang atau lebih
untuk melakukan suatu usaha/pekerjaan, yang hasilnya/upahnya
dibagi antara mereka menurut perjanjian. Misalnya usaha konfeksi,
bangunan, dan sebagainya. Abu Hanifah dan Malik membolehkan
syirkah ini, sedangkan Syafii melarang.
2) Syirkah mufawadhah, ialah kerja sama antara dua orang atau lebih
untuk melakukan suatu usaha dengan modal uang atau jasa dengan
syarat sama modalnya, agamanya, mempunyai wewenang melakukan
perbuatan hukum. Jumhur ulama melarang syirkah mufawadhah ini,
kecuali Abu Hanifah yang membolehkan.
3) Syirkah wujuh, ialah kerja sama antara dua orang atau lebih untuk
membeli sesuatu tanpa modal uang tetapi hanya berdasarkan keper-
cayaan para pengusaha dengan perjanjian profit sharing (keuntungan
dibagi di antara mereka sesuai dengan bagian masing-masing), ulama
Hanafiah dan Hambali membolehkan syirkah ini, sedangkan Ulama
Syafii dan Malik melarang, karena menurut mereka syirkah hanya
boleh dengan uang atau pekerjaan, sedangkan uang dan pekerjaan
tidak terdapat dalam syirkah ini.
4) Syirkah inan, ialah kerja sama antara dua orang atau lebih dalam
permodalan untuk melakukan suatu bisnis atas dasar profit and loss
sharing (membagi untung dan rugi) sesuai dengan jumlah modal
masing-masing. Syirkah jenis ini disepakati oleh ulama tentang
bolehnya
Pelaksanaaan Syirkah (kemitraan usaha) mengandung makna tidak
ada pihak yang bertanggung jawab atas pihak-pihak lain kecuali jika dalam
hal tersebut tanggung jawab telah diterimanya atas dasar usaha bersama
dengan melalui izin dari semua pihak yang terkait.
Di dalam musyarakah (pembagian hasil), pertanggungjawaban
keuangan dari pihak yang menyediakan modal akan dibatasi sesuai dengan
jumlah yang telah disediakannya kecuali apabila nasabah telah
meningkatkan tanggung jawabnya melalui perizinan mitra kerja, atas
namanya sendiri meminjam atau membeli dengan kredit.
Ketika melakukan perjanjian musyarakah, ada jangka waktu yang
harus dipenuhi. Jangka waktu dalam usaha juga dapat ditentukan dalam
perjanjian.
1. Setiap pihak boleh mengakhiri perjanjian syirkah atau musyarakah
kapan saja. Jika jumlah pihak yang melakukan perjanjian tersebut
lebih dari dua, maka pihak-pihak yang masih tetap melanjutkan
perjanjian bisa meneruskan kesepakatan yang disetujuinya.
2. Perjanjian syirkah atau musyarakah dapat juga diakhiri karena suatu
batas waktu tertentu.
3. Perjanjian syirkah atau musyarakah berakhir dengan kematian salah
seorang dari pihak-pihak tersebut, kemudian persetujuan dapat
t

dianjurkan oleh pihak-pihak yang masih ada apabila perjanjian l
tersebut melibatkan lebih dari dua pihak.
Sebagian besar dari ketentuan-ketentuan di atas telah disepakati di
kalangan keempat ahli fikih Islam. Meskipun dalam beberapa hal ada
perbedaan-perbedaan dalam rinciannya atau bahkan dalam prinsip dasarnya.
Salah satu karateristik dari koperasi syariah adalah adanya sifat tolong
menolong. Hal ini berarti koperasi tidak semata-mata bertujuan mencari
laba. Hal ini berbeda dengan tujuan Perseroan Terbatas atau badan hukum
lain yang umumnya bertujuan untuk memperoleh laba.
Bila ada keuntungan dan kerugian dibagi rata sesuai dengan besarnya
modal yang ditanam, karena dalam perekonomian Islam tetap saja
mengakui adanya untung dan rugi. Meskipun dalam syirkah taawuniyah
ba unsur mudharabah, tapi pada dasarnya di dalam koperasi terdapat
pembagian untung dan pembagian kerugian".
Di dalam Al-Qur'an Surat al-Maaidah ayat (2) Allah SWT., berfirman
yang artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebijakan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
permusuhan".
Berdasarkan pada ayat di atas kiranya dapat dipahami bahwa tolong-
menolong dalam kebajikan dan dalam ketakwaan dianjurkan oleh Allah,
maka koperasi sebagai salah satu bentuk tolong-menolong, keija sama dan
saling menutupi kebutuhan, dan tolong-menolong kebajikan adalah salah
satu wasilah untuk mencapai ketakwaan yang sempurna.
Di dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Imam Ahmad dari Anas bin Malik RA. Berkata bahwa Rasullulah SAW.,
bersabda: Tolonglah saudaramu yang menganiaya dan yang dianiaya,
sahabat bertanya: ya Rasullulah aku dapat menolong orang yang dianiaya,
tapi bagaimana menolong orang yang menganiaya? Rasul menjawab: kamu
tahan dan mencegahnya dari menganiaya itulah arti menolong daripada-
nya".
Bila hadis tersebut dapat dipahami lebih jauh (luas), maka dapat
dipahami bahwa umat Islam dianjurkan untuk menolong orang-orang yang
ekonominya lemah (miskin) dengan cara berkoperasi dan menolong orang-
orang kaya jangan sampai mengisap darah orang-orang miskin, seperti
dengan cara mempermainkan harga, menimbun barang, membungakan uang
dan dengan cara yang lain-lainnya. Hal ini berpengaruh pada pendirian
koperasi, sehingga disebutkan: koperasi yang dibentuk atas dasar kerelaan
adalah sah, mendirikan koperasi dibolehkan menurut agama Islam tanpa ada
keragu-raguan apa pun mengenai halnya, selama koperasi tidak melakukan
riba atau penghasilan haram
Tolong-menolong adalah perbuatan yang terpuji menurut agama
Islam, salah satu bentuk tolong-menolong adalah mendirikan koperasi,
maka mendirikan dan menjadi anggota koperasi adalah merupakan salah
satu perbuatan terpuji menurut agama Islam.

D. KEDUDUKAN HUKUM KOPERASI SYARIAH DI INDONESIA
Ketentuan tentang hukum koperasi dalam Islam, sebagian ulama
menganggap koperasi (syirkah taawuniyah) sebagai akad mudharabah,
yaitu: "Suatu perjanjian kerja sama antara dua orang atau lebih, yang satu
menyediakan modal usaha, sedangkan yang lainnya melakukan usaha atas
dasar profit sharing (membagi keuntungan) menurut perjanjian
Koperasi banyak melakukan usaha untuk membantu pengusaha kecil.
Hal yang sama dilakukan oleh koperasi syariah. Bantuan ini untuk meng-
hindarkan pengusaha mikro dari jeratan rentenir. Kementerian Koperasi
kembali menyediakan dana bergulir sebesar Rp 15 miliar untuk koperasi
yang menggunakan prinsip islami. Dana sebesar itu berasal dari APBN
2005 dan diperuntukkan bagi 300 koperasi syariah di 26 provinsi di
Indonesia.
Adanya pengerahan dana bagi pedagang mikro merupakan bantuan
kepada masyarakat miskin terutama yang terjerat rentenir.
Pedagang kecil atau pengusaha mikro di pelosok daerah juga
pinggiran ibu kota banyak terjerat rentenir dengan bunga berlipat ganda.
Dengan bantuan modal kerja diharapkan masyarakat bisa terbebas dari
jeratan rentenir dan sebaliknya mengikuti transaksi keuangan sesuai
syariah. Dari dana bergulir ini, setiap anggota koperasi syariah bisa
memperoleh dana modal maksimal Rp 2.000.000,- modal yang disertakan
pada setiap koperasi masing-masing Rp 50.000.000,-.
Data pada Kementerian Koperasi menunjukkan bahwa koperasi
syariah berjumlah 2.700-an. Koperasi ini berasal dari Baitul Maal Wat
Tamwil (BMT) yang memilih badan hukum koperasi syariah. Masa program
dana bergulir ini sepuluh tahun. Program dana bergulir untuk koperasi
syariah ini sebetulnya bukan yang pertama.
Pada tahun 2002 Kementerian Koperasi sudah mulai melakukan
percobaan dengan mengalokasikan dana Rp 1,3 miliar untuk 26 koperasi
syariah. Kemudian, pada tahun 2004 kembali mengalokasikan dana
dengan jumlah lebih besar atau mencapai Rp 5 miliar untuk seratus
koperasi di 18 provinsi. Dari hasil percobaan, tahun ini Kementerian
Koperasi meningkatkan dana bergulir bagi koperasi syariah menjadi Rp
15 miliar dengan jangkauan 300 koperasi di 26 provinsi. Dana bergulir
ini tentu akan berkembang. Setelah 10 tahun, akan dikaji berapa besar
perkembangan dana dan berapa banyak usaha kecil yang terbantu dari
program ini.
Dari uraian di atas, koperasi syariah sebenarnya sudah mulai dikenal
dan dilaksanakan di masyarakat. Pemerintah juga telah memberi perhatian
pada perkembangan koperasi syariah dengan adanya dana yang diper-
hitungkan untuk membiayai operasional koperasi syariah. Hanya sayangnya
meskipun koperasi syariah telah dilakukan dalam sistem perekonomian di
Indonesia, koperasi syariah ini sama sekali belum memiliki kekuatan
hukum, karena belum ada peraturan perundang-undangan yang
mengaturnya.
Ketentuan khusus mengenai kedudukan koperasi syariah belum ada
dibentuk. Namun akan dibuat peraturan yang setingkat peraturan
pelaksanaan dari Undang-undang Koperasi (UU No. 25 Tahun 1992). Pada
undang-undang tersebut ada pengakuan jasa koperasi dengan sistem
konvensional dan koperasi dengan sistem bagi hasil. Ini mengakomodasi
koperasi yang menjalankan prinsip syariah.
Kegiatan yang dilakukan oleh koperasi syariah merupakan peijanjian
yang dibentuk atas dasar kerelaan, dan itu merupakan hal yang sah menurut
agama Islam. Koperasi syariah merupakan perwujudan dari nilai-nilai ke-
bersamaan antar-anggota dan hal ini juga dapat dilihat pada asas keke-
luargaan pada koperasi yang diatur pada Pasal 2 UU No. 25 tahun 1992
tentang perkoperasiaan.
Pasal 3 UU No. 25 tahun 1992 tentang Koperasi menyatakan tujuan
koperasi adalah, untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya
dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan pereko-
nomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan
makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Selama ini praktisi koperasi masih awam dengan akad-akad islami.
Dengan pedoman ini semua memiliki pegangan dan dasar hukum positif.
Tinggal mensosialisasikan dan mempraktikkannya. Untuk menyusun
pedoman praktik jasa keuangan koperasi syariah ini, Kementerian Koperasi
melibatkan pakar ekonomi syariah. Dengan begitu, pedoman yang disusun
bisa dipraktikkan dalam praktik jasa keuangan sehari-hari.
Di Indonesia, lembaga keuangan bank memiliki pilihan dapat
berbentuk koperasi atau Perseroan Terbatas atau Perusahaan Daerah (PT/
PD). Oleh karena itu, di samping harus mengikuti kaidah umum menaati
prinsip-prinsip syariah juga mengikuti aturan yang berlaku bagi koperasi
atau PT/PD. Implementasinya tentunya prinsip-prinsip syariah sedapat
mungkin dimasukkan ke dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga
(AD/ART) lembaga keuangan tersebut. Saat ini lembaga keuangan syariah
yang berbadan hukum koperasi antara lain Bank Perkreditan Rakyat
Syariah, Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dan Kopontren (Koperasi Pondok
Pesantren).
Kedudukan koperasi syariah sehubungan dengan tidak diaturnya
dalam UU No. 25 Tahun 1992 tentang koperasi masih merujuk kepada UU
No. 25 Tahun 1992 tersebut sambil menunggu peraturan baru yang khusus
mencantumkan adanya prinsip syariah dalam kegiatan koperasi.

E. PELAKSANAAN KEGIATAN KOPERASI SYARIAH
Pelaksanaan kegiatan koperasi syariah menggunakan prinsip profit-
sharing atau bagi-bagi keuntungan dan risiko yang jelas merupakan ajaran
sistem ekonomi syariah dan sistem ekonomi Pancasila sebenarnya sudah
diterapkan di sejumlah negara maju (welfare state) yang merasa bahwa
penerapan prinsip profit-sharing dan employee participation (partisipasi
buruh/ karyawan) lebih menjamin ketenteraman dan ketenangan usaha dan
tentu saja menjamin keberlanjutan suatu usaha.
Meskipun pengertian economic democracyjelas lebih luas dari
industrial democracy namun keduanya bisa diterapkan sebagai asas atau
style" manajemen satu perusahaan yang jika dilaksanakan dengan disiplin
tinggi akan menghasilkan kepuasan semua pihak (stakeholders) yang
terlibat dalam perusahaan.
Prinsip employee particiption, yaitu partisipasi buruh/karyawan dalam
pengambilan keputusan perusahaan sangat erat kaitannya dengan asas
profit-sharing. Adanya partisipasi buruh/karyawan dalam decision-making
perusahaan berarti bu ruh Aaryawan ikut bertanggung jawab atas diraihnya
keuntungan atau terjadinya kerugian
Hal yang cukup penting dari koperasi adalah bahwa mereka mem-
bangun sistem manajemen terbuka dan dikontrol oleh anggota dan para
pekerjanya. Azas mereka dalam membangun koperasi adalah capital share
atau berbagi modal (uang, gedung, peralatan kantor, tenaga, pikiran, dan
sebagainya) untuk mewujudkan satu tujuan yaitu membangun kesejahteraan
bersama dalam kolektif. Kesadaran anggota untuk membayar iuran
dibentuk oleh tujuan tersebut. Dan agar setiap anggota tahu seluk beluk
koperasi, bila seseorang berminat masuk menjadi anggota koperasi dia
harus terlibat dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan koperasi tersebut
dalam tenggang waktu tertentu. Dengan demikian, keterlibatan seseorang di
dalam koperasi bukan semata-mata untuk membeli saham dan menantikan
pembagian deviden saja.
Karena berhak menentukan pemanfaatan modal, maka pemodal akan
menyerap risiko kegagalan investasi sebesar modal yang diserahkan
tersebut. Pengambilan keputusan operasional pada dasarnya sepenuhnya
wewenang eksekutif namun pemilik modal memiliki hak untuk melakukan
pengawasan.
Apabila dalam menjalankan operasional eksekutif melalaikan
kewajibannya (tidak hati-hati) dan hal tersebut berakibat pada kergian maka
kerugian tersebut menjadi tanggung jawab eksekutif. Yang membedakan
antara koperasi, perusahaan dengan lembaga keuangan syariah terletak pada
kewajiban pada seluruh pihak yang melakukan musyawarah untuk menaati
prinsip-prinsip syariah.
Berdasarkan relasi di atas, koperasi di Barat menempatkan diri sebagai
kompetitor sistem produksi kapitalistik (buruh-majikan). Yang membe-
dakan hubungan produksi kooperatif (membership) dari yang kapitalistik
adalah pada koperasi surplus value (dividen) dibagikan ke seluruh anggota,
sedangkan di kapitalistik surplus value diambil oleh majikan.
Untuk koperasi syariah, pelaksanaan kegiatannya terdiri atas dua
akad. Pertama, akad antara Bank Indonesia dan Bank Muamalah Indonesia
(BMI), yaitu akad mudharabah dengan nisab 62,5% untuk pemilik dana
(BI) dan 37,5% untuk pelaksana (BMI). Akad mudharabah adalah
mudharabah muqayyadah, yaitu: Mensyaratkan jenis usaha yang akan
dibiayai dan juga mensyaratkan BMI tidak boleh membiayai unit usaha
yang profit margin-nya diperkirakan di bawah 16% per tahun. Kedua, akad
antara BMI dengan koperasi yaitu akad mudharabah, tergantung pada jenis
bisnisnya. Salah satu contoh yang menggunakan akad mudharabah untuk
bisnis sembako.
Pendanaan kredit program ini berasal dari Bank Indonesia, namun
seluruh risikonya ditanggung BMI. Hal ini disebabkan BMI sebagai
pelaksana secara langsung menjalankan bisnis yang telah disebutkan
tersebut, tetapi menunjuk pihak lain (koperasi) untuk menjalankan. Merujuk
pada pendapat Ibnu Rusyid dalam kitab Bidayatul Mujtahid, maka:
pelaksana pertama harus menanggung risikonya.
Katakanlah koperasi X memerlukan modal kerja untuk bisnis semba-
konya sekitar Rp 350.000.000,-. Uang ini akan digunakan untuk berbisnis
tiga jenis komoditas, yaitu beras 202,5 ton, minyak goreng 28,8 ton, dan
gula 176,3 ton. Katakan pula harga beli beras Rp 2.500 per kilogram,
minyak goreng Rp 4.300 per kilogram, dan gula Rp 2.500 per kilogram.
Setiap jenis komoditas tentunya mempunyai profit margin yang berbeda,
yaitu beras 15%, minyak goreng 25%, dan gula 11%.
Akad antara BMI dan koperasi X adalah mudharabah muqayyadah,
yaitu mensyaratkan bahwa koperasi X tidak boleh menjual komoditas yang
dibiayai lebih rendah daripada propit margin yang telah ditentukan. Meski-
pun demikian, koperasi X boleh saja mengubah komposisi volume peng-
adaan setiap komoditas dengan sepengetahuan BMI. Bila ini dilakukan,
dalam akad mudharabah muqayyadah disyaratkan bahwa koperasi X tidak
boleh mengubah komposisi tersebut yang dapat mengakibatkan rata-rata
tertimbang profit margin setelah perubahan komposisi volume itu lebih
kecil dari rata-rata tertimbang profit margin sebelum dilakukan perubahan.
Selanjutnya BMI akan berbagi hasil dengan Bank Indonesia. Dengan
profit margin 16% setahun yang diperoleh BMI dengan nisbah 62,5% untuk
Bank Indonesia, maka bagian Bank Indonesia adalah 10% dalam setahun.
Transaksi yang baru saja dipaparkan antara BMI dan koperasi dapat pula
menggunakan akad mudharabah. Bedanya, volume dan profit margin-nya
tentukan di awal. Misalnya BMI menjual sekian ton beras, sekian ton
minyak, sekian ton gula dengan harga tertentu. Katakanlah BMI membeli
komoditas tersebut sebesar Rp 350.000.000,- dan menjualnya senilai Rp
406.000.000,-, maka koperasi akan membayarnya secara cicilan selama
setahun dengan akad ini tidak ada unsur kewajiban koperasi yang sifatnya
akan diubah.
Salah satu bentuk koperasi syariah yang ada saat ini adalah Inkopon-
tren. Inkopontren adalah singkatan dari induk Koperasi Pondok Pesantren.
Ia merupakan Badan Hukum Koperasi Sekunder yang didirikan secara
resmi pada tanggal 7 Desember 1994 berdasarkan Keputusan Menteri dan
Pembinaan Pengusaha Kecil Republik Indonesia Nomor 003/BH/M.I/ 1994
tentang Pengesahan Akta Pendirian Koperasi.
Gagasan awal pendirian Inkopontren terjadi dalam sebuah rembukan
pada tanggal 9 November 1994 di Jakarta. Di antara yang hadir dalam
rembukan tersebut dan juga sekaligus sebagai pendiri Inkopontren adalah
KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ., KH. Abdul Wahid Zaini, Dr. Juhaya
S. Praja, KH. Noerhadi Albarsani, MA., dan Dr. KH. Manarul Hidayat.
Kelima orang ini mewakili peserta yang lain sepakat untuk mendirikan
Kopontren dan mengusulkannya kepada Menteri Koperasi dan Pembinaan
Usaha Kecil, yang kemudian disetujui pendirian Inkopontren pada tanggal 7
Desember 1994.
Fungsi utama dari Inkopontren adalah untuk membangun dan me-
ngembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota (Puskopontren dan
kopontren) dan masyarakat umum guna meningkatkan kesejahteraan
ekonomi sosial. Atas dasar fungsi itu, maka Inkopontren kemudian berperan
sebagai berikut:
1. Secara efektif meningkatkan dan mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat.
2. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan ketahan-
an ekonomi nasional dan koperasi sebagai soko gurunya.
3. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian
nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas keke-
luargaan dan demokrasi ekonomi.
Mengenai usaha yang akan dilakukan Inkopontren dalam pember-
dayaan ekonomi (Islam), khususnya di lingkungan pesantren, dapat dilihat
secara rinci dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Program
Kerja Inkopontren. Dalam anggaran dasar Inkopontren Pasal 3 Ayat (4)
disebutkan bahwa yang menjadi bidang usaha Inkopontren adalah: Menja-
lankan usaha di bidang jasa, mendirikan dan menjalankan usaha di bidang
percetakan dan penerbitan, menjalankan usaha perdagangan antara bidang
percetakan dan penerbitan, menjalankan usaha perdagangan antara pulau,
daerah dan lokal serta ekspor dan impor, menjalankan usaha bidang
konstruksi listrik, air minum, gas, telepon dan usaha-usaha lainnya di
bidang teknik sipil, elektro, mesin, dan lainnya dalam arti seluas-luasnya.
Menjalankan usaha dalam bidang industri dalam arti seluas-luasnya
mengadakan kemitraan antarkoperasi, BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
dan swasta dalam menjalankan kegiatan usaha dengan prinsip saling
menguntungkan.
Selain menjalankan usaha sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 Ayat
(2) Anggaran Dasar Inkopontren di atas, Inkopontren sebagaimana termuat
dalam anggaran rumah tangga Inkopontren juga menjalankan usaha:
1. Melaksanakan usaha pembinaan dan pengembangan anggota yang
meliputi Puskopontren maupun kopontren dalam aspek kelembagaan,
sumber daya manusia, permodalan, dan aspek pemasaran.
2. Melaksanakan pemetaan potensi utama ekonomi pesantren.
3. Ikut membantu pembangunan sosial, ekonomi, dan pendidikan di
daerah.
4. Memberikan penghargaan kepada mereka yang beijasa dalam
meminta dan mengembangkan Puskopontren maupun kopontren.
Menjalankan usahanya, hingga saat ini Inkopontren telah mendorong
instansi yang terkait atau membuat sendiri beberapa kesepakatan berupa
Memorandum of Understanding (MoU) dengan beberapa instansi lain.
Berdasarkan penelitian 303 perusahaan di Inggris, alasan perusahaan
mengadakan aturan pembagian laba dan pemilikan saham oleh buruh/
karyawan ada 5, yaitu:
1. Komitmen moral (moral commitment);
2. Penahan staf (staff rtention);
3. Keterlibatan buruh/karyawan (employee involvement) ;
4. perbaikan kinerja hubungan industrial (improved industrial relations
performance);
5. Perlindungan dan pengambilalihan oleh perusahaan lain (protection
against takeover).
Salah satu ciri dari pelaksanaan koperasi syariah adalah adanya
pemberlakuan sistem profit sharing (bagi hasil). Prinsip profit sharing atau
bagi-bagi keuntungan dan risiko yang jelas merupakan ajaran Sistem
Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Pancasila sebenarnya sudah
diterapkan di sejumlah negara maju (welfare state) yang merasa bahwa
penerapan prinsip profit sharing dan employee participation lebih menjamin
ketenteraman dan ketenangan usaha dan tentu saja menjamin keber-
lanjutan suatu usaha.
Adapun yang menjadi tujuan dari didirikannya koperasi syariah
adalah untuk menciptakan kesejahteraan anggota dan masyarakat umum,
dan ikut membangun terciptanya tatanan perekonomian nasional guna ter-
wujudnya masyarakat maju, adil, dan makmur yang diridai Allah SWT.
Tujuan ini merupakan umum. Yang kemudian dapat diperinci men-
jadikan koperasi syariah sebagai kekuatan ekonomi yang efektif sehingga
menjadi aset nasional yang mampu mengembangkan pertumbuhan ekonomi
di satu pihak, serta menjadi alat demokrasi ekonomi di pihak lain.

F. PENUTUP
Kedudukan koperasi syariah dalam sistem perkoperasian di Indonesia
adalah lembaga yang diakui bentuknya. Koperasi merupakan salah satu
badan hukum yang diatur dalam perundang-undangan, namun khusus
mengenai koperasi syariah sama sekali belum ada peraturan pelaksaan.
Ketentuan yang direncanakan adalah pengajuan perundang-undangan yang
setingkat dengan peraturan pelaksana Undang-Undang Nomor 25 Tahun
1992 tentang koperasi yang mengatur tentang sistem syariah pada program
keija koperasi.
DAFTAR PUSTAKA

M. Nejatullah Siddiq', Kemitraan Usaha dan bagi Hasil dalam Hukum Islam,
Dana Bhakti Prima Jasa, Yogyakarta, 2001.
Edi Cahyono Diponogoro, Melalui http://www.sajadah.net/comments.
php?id:230-0-l-0-c, Bekerja dan Maju dalam Bisnis Koperasi: Reformasi
Menuju Demokrasi Ekonomi.
Martin Manurung, Perkoperasian di Indonesia, Masalah Peluang, dan
Tantangannya di Masa Depan, dalam Kumpulan Makalah Sistem Ekonomi,
FE UI, Jakarta, 1998.
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Membahas Ekonomi Islam, RajaGrafindo
Persada, Jakarta 2002.
Prajudi, Koperasi Syariah, melalui http://www.fatimah.org/artikel/ koperasi.htm
Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2000.
http://www-mail-archive.eom/jamaah@arroyyan.com/msg0035/html, Koperasi
Syariah dan Lembaga Ekonomi Syariah.
http://www.republika.co.id/Korandetail.asp/id = 188440&kat- id=256&kat-
id=256&kat-idl=82kat-id2, Koperasi Syariah Dapat Dana Bergulir.
Mubyarto, Demokrasi Ekonomi dan Demokrasi Industrial, Jurnal Ekonomi
Kerakyatan, 2003.
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Gema Insani
Press, Jakarta, 2001.
Baihaqi Abdul Majid, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Pedesaan Melalui BMT
dan Koperasi Syariah, melalui ekonomi rakyat.org/edisi-17/ artikeL3.htm
A. Djazuli dan Yadi Janwari, Lembaga-lembaga Perekonomian Umat (Sebuah
Pengenalan), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2002.